• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Disusun oleh: Melyani Yanuaria Ngamal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Disusun oleh: Melyani Yanuaria Ngamal"

Copied!
199
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KETERAMPILAN MENGAJAR DAN

KOMPETENSI KEPRIBADIAN TERHADAP KESIAPAN

MENGAJAR MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi salah satu syarat Memperoleh Gerlar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi

Disusun oleh:

Melyani Yanuaria Ngamal 141334024

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2018

(2)
(3)
(4)

PERSEMBAHAN

Dengan segala puja dan puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa dan atas dukungan dan do’a dari orang-orang tercinta, akhirnya skripsi ini dapat dirampungkan dengan baik dan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, dengan rasa bangga dan bahagia saya khaturkan rasa syukur dan terimakasih saya kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus, karena atas izin dan karunianyalah maka skripsi ini dapat dibuat dan selesai pada waktunya. Puji syukur yang tak terhingga pada Tuhan penguasa alam yang telah mendengarkan dan mengabulkan segala do’a.

2. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan Waktu dalam memberikan bimbingan, dan sabar melihat wajah saya setiap hari, serta membuat saya menghabiskan kertas berrim-rim.

3. Kedua orang tua ku Bapak (Ubaldus Ngamal) dan Ibunda ku (Rovinames) Tercinta yang tak pernah lelah membesarkan saya dengan penuh kasih sayang, serta memberikan dukungan moril dan materil, perjuangan, motivasi dan pengorbanan dalam hidup ini. Terima kasih buat Papa dan Mama. 4. Terima kasih buat Alm. Bapak (Klemes Balang) dan Ibu (Vita D) yang telah

memberikan do’a, dukungan, motivasi dan pengorbanannya, serta semangat buat saya dengan tak pernah lelah mendidik saya untuk selalu mencari ilmu, belajar, ibadah, dan berdo’a.

5. Kakak saya (adelhid Man Balang) dan Adik saya (Kristianus Balang) yang selalu memberikan dudukungan semangat dan selalu mengisi hari-hariku

(5)

dengan canda tawa dan kasih sayangnya. Terima kasih buat Kaka dan adikku.

6. Kakek dan nenek, Om dan tanta serta kakak dan adik-adik tercinta yang selalu memberikan semangat, dukungan, motivasi, dan do’a kepada saya. 7. Terkasih (Servinus Daniel Lorang) yang selalu menemani dan membantu

dalam kelancaran skripsi ini, menyemangati, memberi motivasi, dan dukungan, do’a serta rasa sayang dan cintanya yang begitu indah buatku. Terimakasih telah memberikan semangat dan dukungan untuk menyelesaikan tugas akhir ini.

Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk kalian semua, akhir kata saya persembahkan skripsi ini untuk kalian semua, orang-orang yang saya sayangi. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang. Aamiinn

(6)

MOTTO

“Pendidikan bukanlah suatu proses untuk mengisi wadah yang kosong, akan tetapi pendidikan adalah suatu proses menyalakan api pikiran”

(W.B. Yeats)

“Kemajuan bukan semata-mata perbaikan dari masa silam, kemajuan adalah bergerak maju menuju masa depan”

(Kahli Gibran)

Yakin membuat segalanya menjadi mungkin

(7)
(8)
(9)

ABSTRAK

PENGARUH KETERAMPILAN MENGAJAR DAN

KOMPETENSI KEPRIBADIAN TERHADAP KESIAPAN

MENGAJAR MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

Melyani Yanuaria Ngamal Universitas Sanata Dharma

2018

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh keterampilan mengajar terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2014, (2) pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2014, dan (3) pengaruh keterampilan mengajar dan kompetensi kepribadian secara bersama-sama terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2014.

Penelitian ini adalah penelitian ex-post facto dengan subjek mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2014 yang berjumlah 110 mahasiswa. Data yang dikumpulkan dengan angket, dan dokumentasi. Uji validitas instrumen menggunakan rumus korelasi Product

Moment dan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha Croncbach. Data

dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda.

Hasil penelitian ini adalah: (1) terdapat pengaruh positif dan signifikan antara keterampilan mengajar terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2014, dengan nilai F = 181,008 dan nilai = 0,626, (2) terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kompetensi kepribadian terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2014, dengan nilai F = 80,435 dan nilai , (3) terdapat pengaruh positif dan signifikan antara keterampilan mengajar dan kompetensi kepribadian secara bersama-sama terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2014, dengan nilai F = 123,604 dan nilai = 0,698

Kata Kunci: Keterampilan mengajar, Kompetensi kepribadian, dan kesiapan mengajar.

(10)

ABSTRACT

THE EFFECT OF TEACHING SKILLS AND PERSONALITY

COMPETENE TO THE READINESS OF TEACHING

THE STUDENTS OF ECONOMICS EDUCATION STUDY

PROGRAM OF SANATA DHARMA UNIVERSITY

YOGYAKARTA

Melyani Yanuaria Ngamal Sanata Dharma University

2018

The purpose of this research is to know: (1) the influence of teaching skill to the readiness of teaching the students of Economics Education study program of Sanata Dharma University Yogyakarta 2014 batch, (2) the influence of personality competence to the readiness of teaching the students of Economics Education study program of Sanata Dharma University Yogyakarta 2014 batch, and (3) teaching and personality competence simultaneously towards the readiness of teaching the students Economics Education study program of Sanata Dharma University Yogyakarta 2014 batch.

This research is an ex-post facto research. The subject of this research were 110 students of Economics Education study program of Sanata Dharma University Yogyakarta 2014 batch. Data were collected by questionnaire, and documentation. Instrument validity tests were Product Moment correlation formula and reliability test using Alpha Croncbach formula. Data were analyzed by applying multiple linear regression analysis.

The results of this research are: (1) there is positive and significant influence between teaching skill and readiness to teach student of Economics Education study program of Sanata Dharma University Yogyakarta 2014 batch, with value F = 181,008 and value = 0,626, (2) there is positive and significant influence between the competence of personality and the readiness of teaching the students of Economics Education study program of Sanata Dharma University Yogyakarta 2014 batch, with the value of F = 80.435 and the value of = 0.427, (3) there is a positive and significant influence between teaching skills and personality competencies together towards the readiness of teaching the student of Economics Education study program of Sanata Dharma University Yogyakarta 2014 batch, with value F = 123,604 and value = 0,698.

(11)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan yang maha kasih kerena skripsi ini telah selesai pada waktunya. Skripsi ini ditulis dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan PS Pendidikan Ekonomi. Penulis menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini mendapat masukan, kritik dan saran dari berbagai pihak. Utuk itu penulis mengucapakn terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta; 2. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua PS Pendidikan

Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta;

3. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan Waktu dalm memberikan bimbingan, memberikan kririk, dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini;

4. Staf pengajar PS Pendidikan Ekonomi yang telah memberikan tambahan pengetahuan dalam proses perkuliahan.;

5. Orang tua atas doa yang telah memberikan, dukungan, bantuan dan kasih sayangnya selama ini;

6. Seluruh mahasiswa angkatan 2014 (Kristina Rohayati Ratu) yang telah memberikan masukan selama proses diskusi dalam mata kuliah seminar Proposal Penelitian dan kerjasama yang baik selama ini;

(12)
(13)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... viii

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT ... x

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Identifikasi Masalah ... 6 C. Pembatasan Masalah ... 7 D. Rumusan Masalah ... 7 E. Tujuan Penelitian ... 8 F. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 10

A. Keterampilan Mengajar ... 10

1. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran ... 11

2. Keterampilan Menjelaskan... 16

(14)

4. Keterampilan Memberikan Penguatan ... 22

5. Keterampilan Mengelolah kelas ... 25

6. Keterampilan Mengadakan Variasi ... 27

7. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil ... 28

8. Keterampilan Mengajar perorangan dan Kelompok Kecil ... 30

B. Kompetensi Kepribadian ... 32

1. Kompetensi ... 32

2. Kepribadian ... 34

3. Kompetensi Kepribadian ... 39

C. Kesiapan Mengajar... 41

1. Pengertian Kesiapan Mengajar ... 42

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Mengajar ... 47

3. Indikator Kesiapan Mengajar ... 51

D. Kerangka Berpikir ... 55

E. Hipotesis ... 61

BAB III METODE PENELITIAN ... 62

A. Jenis Penelitian ... 62

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 63

C. Subjek dan Objek Penelitian ... 63

D. Populasi Sampel dan Teknik Sampling Penelitian ... 63

E. Variabel Penelitian ... 65

F. Operasional Variabel ... 66

G. Teknik Pengumpulan Data ... 67

H. Teknik Pengujian Instrumen ... 68

I. Uji Coba Instrumen ... 70

1. Uji Validitas ... 71

2. Uji Reliabilitas ... 76

J. Teknik Analisis Data ... 78

1. Pengujian Prasyarat Analisis ... 78

(15)

BAB IV GAMBARAN UMUM ... 86

A. Sejarah Program Studi Pendidikan Ekonomi ... 86

B. Visi dan Misi Program Studi Pendidikan Ekonomi ... 88

C. Tujuan Program Studi Pendidikan Ekonomi ... 89

D. Struktur Organisasi Prodi Pendidikan Ekonomi ... 90

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 93

A. Deskripsi Data Penelitian ... 93

B. Hasil Uji Prasyarat Analisis ... 104

1. Uji Normalitas ... 104

2. Uji Linearitas ... 105

3. Uji Multikolinearitas ... 107

C. Pengujian Hipotesis ... 109

1. Uji Hipotesis Pertama ... 109

2. Uji Hipotesis Kedua ... 112

3. Uji Hipotesis Ketiga ... 115

D. Pembahasan ... 119 BAB VI PENUTUP ... 126 A. Kesimpilan ... 126 B. Keterbatasan Penelitia ... 127 C. Saran ... 128 DAFTAR PUSTAKA ... 130

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Jumlah Responden Populasi ... 64

Tabel 3.2. Jumlah Responden sampel ... 65

Tabel 3.3. Penilaian Instrumen Skala Bertingkat ... 69

Tabel 3.4. Kisi-kisi Kuesioner variabel Keterampilan Mengajar ... 69

Tabel 3.5. Kisi-kisi Kuesioner variabel Kompetensi kepribadian ... 70

Tabel 3.6. Kisi-kisi Kuesioner variabel Kesiapan Mengajar ... 70

Tabel 3.7. Hasil Validitas Keterampilan Menganjar ... 72

Tabel 3.8. Hasil Validitas Keterampilan Mengajar ... 73

Tabel 3.9. Hasil Validitas Kompetensi Kepribadian ... 74

Tabel 3.10. Hasil Validitas Kesiapan Mengajar ... 75

Tabel 3.11. Hasil Validitas Kesiapan Mengajar ... 76

Tabel 3.12. Interprestasi Terhadap Koefisien korelasi... 77

Tabel 3.13. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ... 78

Tabel 5.1. Rangkuman Hasil Analisis Deskriptif Statistik ... 93

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Variabel Keterampilan Mengajar ... 95

Tabel 5.3. Distribusi Kecenderungan Variabel Keterampilan Mengajar .. 96

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Variabel Kompetensi Kepribadian ... 98

Tabel 5.5. Distribusi Kecenderungan Variabel Kompetensi Kepribadian. 100 Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Variabel kesiapan Mengajar ... 102

Tabel 5.7. Distribusi Kecenderungan Variabel Kesiapan Mengajar ... 103

Tabel 5.8. Uji Normalitas ... 105

Tabel 5.9. Hasil Uji Linearitas Keterampilan Mengajar dan Kesiapan Mengajar ... 106

Tabel 5.10. Hasil Uji Linearitas Kompetensi Kepribadian dan Kesiapan Mengajar ... 107

Tabel 5.11. Hasil Uji Multikolinearitas... 108

Tabel 5.12. Uji F Keterampilan Mengajar ... 110

Tabel 5.13. Korelasi Regresi Sederhana Keterampilan Mengajar ... 111

(17)

Tabel 5.15. Uji F Kompetensi Kepribadian ... 113

Tabel 5.16. Korelasi Regresi Sederhana Kompetensi Kepribadian ... 114

Tabel 5.17. Koefisien Determinasi Kompetensi Kepribadian ... 115

Tabel 5.18. Persamaan Regresi Ganda ... 116

Tabel 5.19. Koefisien Determinasi... 117

(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Paradigma Kerangka pikir ... 61 Gambar 4.1. Struktur Organisasi Program Studi Pendidikan

Ekonomi ... 90 Gambar 5.1. Pie Chart Distribusi Kecenderungan Variabel Keterampilan Mengajar ... 97 Gambar 5.2. Pie Chart Distribusi Kecenderungan Variabel Kompetensi

Kepribadian ... 100 Gambar 5.3. Pie Chart Distribusi Kecenderungan Variabel Kesiapan

(19)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Koesioner Penelitian ... 134

Lampiran 2. Surat Ijin Penelitian ... 140

Lampiran 3. Data Penelitian ... 141

Lampiran 4. Hasil uji validitas Instrumen ... 156

Lampiran 5. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ... 159

Lampiran 6. Data Responden ... 162

Lampiran 7. Hasil Analisis Deskriptif ... 163

Lampiran 8. Perhitungan Distribusi Frekuensi ... 168

Lampiran 9. Hasil Uji Normalitas ... 170

Lampiran 10. Hasil Uji Linearitas ... 171

Lampiran 11. Hasil Uji Multikolinearitas ... 172

Lampiran 12. Hasil Uji Analisis Regresi Sederhana 1 ... 173

Lampiran 13. Hasil Uji Analisis Regresi Sederhana 2 ... 174

Lampiran 14. Hasil Uji Analisis Regresi Ganda ... 175

(20)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan merupakan proses menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Dunia pendidikan tidak lepas dari figur seorang guru. Guru merupakan komponen paling menentukan dalam pendidikan. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal di sekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik. Dengan kata lain, guru merupakan ujung tombak dari kualitas pendidikan yang bertumpu pada kualitas proses belajar-mengajar (PBM).

Guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan yang harus mendapat perhatian sentral, pertama, dan utama. Figur yang satu ini akan senantiasa menjadi sorotan strategis ketika berbicara masalah pendidikan, karena guru selalu terkait

(21)

dengan komponen manapun dalam sistem pendidikan. Guru memegang peran utama dalam membangun pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal disekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkulitas. Dengan kata lain, perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula. Menurut Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, menyebutkan bahwa “Guru sebagai unsur pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan”. Tugas guru tersebut menggambarkan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Universitas Sanata Dharma (USD) sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) diharapkan mampu menyiapkan guru-guru yang kompeten di bidangnya. Mahasiswa Program Studi Kependidikan, salah satunya Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi dan Pendidikan Akuntansi) USD Yogyakarta, sebagai calon guru harus mendapatkan bekal yang memadai agar siap terjun ke dunia kerja. Mahasiswa harus menguasai kompetensi guru karena guru memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mencapai tujuan

(22)

pendidikan. Salah satu cara untuk mencapai kompetensi tersebut adalah dengan meningkatkan keterampilan mengajar.

Keterampilan mengajar merupakan salah satu hal yang harus dimiliki oleh guru maupun calon guru. Keterampilan mengajar menjadi sangat penting karena dapat membantu tugas guru dalam proses belajar-mengajar. Keterampilan dasar mengajar pada dasarnya adalah merupakan bentuk perilaku (kemampuan) atau keterampilan yang bersifat khusus dan mendasar yang harus dimiliki guru sebagai modal dasar untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajaran secara professional. Dengan dikuasainya keterampilan mengajar maka guru akan mudah melaksanakan perannya sebagai pengelola pembelajaran dan memudahkan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan.

Berdasarkan pengalaman yang dapat dilihat pada saat micro teaching, keterampilan mengajar mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi dan Pendidikan Akuntansi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta masih kurang. Hal ini terlihat dari masih ada mahasiswa yang kurang menguasai keterampilan mengajar. Sebagian besar mahasiswa hanya melakukan apersepsi sederhana, yaitu sekedar menanyakan apa materi dan tugas sebelumnya, belum sampai kepada membuat kaitan, bagaimana sebab akibat atau hubungan dengan materi selanjutnya dan pentingnya mempelajari materi yang akan dipelajari.

Selain memiliki dan menguasai keterampilan mengajar, peningkatan kesiapan mengajar mahasiswa calon guru juga harus didukung dengan

(23)

pembentukan kompetensi kepribadian calon guru. Kompetensi kepribadian calon guru merupakan kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan bijaksana, berwibawa, berakhlak mulia, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, mengevaluasi kinerja sendiri, dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. Mahasiswa yang telah menempuh dan memahami mata kuliah keguruan, maka akan senantiasa untuk mengembangkan kompetensi kepribadian calon guru, baik mulai dari cara berpenampilan, gaya bicara, etika, tingkah laku dan perbuatannya. kompetensi kepribadian akan sangat membantu upaya pengembangan karakter peserta didik. Dengan menampilkan sebagai sosok yang bisa digugu (didengar nasehatnya) dan ditiru (dikuti), secara psikologis anak cenderung merasa yakin dengan apa yang sedang diajarkan guru. Akan tetapi upaya untuk menyiapkan mahasiswa calon guru tidaklah mudah. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Ekonomi dan Pendidikan Akuntansi yang kurang memahami mata kuliah keguruan dan pentingnya kompetensi kepribadian profesi guru, cenderung kurang maksimal dalam mengembangkan dan mengaplikasikan kompetensinya.

Guru adalah panutan bagi peserta didik, tetapi mahasiswa sebagai calon guru masih belum sepenuhnya memiliki kepribadian calon guru dan sikap mahasiswa masih belum mencerminkan pribadi seorang guru. Hal ini terlihat dari ketidakteladanan mahasiswa, rata-rata 3 sampai 4 mahasiswa masih sering terlambat masuk kuliah, membolos, dan terlambat mengumpulkan tugas kuliah. Kebiasaan buruk mahasiswa seperti malas

(24)

membaca buku, menyepelekan atau menganggap remeh tugas. Mahasiswa masih sering copy paste materi dari internet dan melakukan tindakan yang tidak jujur seperti plagiat atau menjiplak tugas teman.

Sebagai upaya dalam meningkatkan keterampilan mengajar dan kompetensi kepribadian maka diperlukannya kesiapan mengajar mahasiswa calon guru, baik secara teoritis maupun praktis melalui mata kuliah teori serta praktik micro teaching. Setelah melalui proses perkuliahan dan pelatihan, diharapkan mahasiswa calon guru memiliki kesiapan mengajar. kesiapan mengajar adalah suatu titik kematangan atau keadaan yang diperlukan untuk melakukan sesuatu kegiatan mengorganisasi lingkungan dengan baik yang menetapkan guru sebagai fasilitator untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dan kegiatan tersebut terikat oleh suatu tujuan tertentu. Dengan demikian kesiapan guru pada dasarnya adalah tindakan nyata dari guru atau praktik guru melaksanakan pengajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efektif dan efisien. Dengan perkataan lain strategi mengajar adalah politik atau taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan praktik mengajar.

Namun kesiapan mengajar mahasiswa sebagai calon guru relatif masih rendah hal ini terlihat pada saat micro teaching. Pada saat inti pelajaran, masih banyak mahasiswa belum menguasai materi sehingga terpaku pada buku, lembar contekan atau hanya terpaku pada power point (PPT) saja. Hal tersebut mengakibatkan mahasiswa hanya duduk dan berdiri di depan kelas saja, mahasiswa kurang memperhatikan peserta didik yang pasif. Ketika ada

(25)

banyak peserta didik yang ingin menjawab pertanyaan, mahasiswa tidak memberi kesempatan kepada yang lain dan kurang memberi kata-kata penguatan untuk peserta didik yang sudah menjawab pertanyaan. Rendahnya kesiapan mengajar mahasiswa ditandai juga dari pengumpulan RPP yang tidak tepat, mahasiswa harus merevisi atau membuat RPP berulang-ulang. Masalah tersebut menyebabkan mahasiswa tidak mampu mengaktualisasikan diri dan mengembangkan keterampilan mengajar dan kompetensi kepribadian calon guru di lingkungan sekolah sebagai tempat praktik mengajar.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Keterampilan Mengajar dan

Kompetensi Kepribadian Terhadap Kesiapan Mengajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi dan Pendidikan Akuntansi USD Yogyakarta”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi masalah yang muncul dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mahasiswa kurang maksimal dalam mengembangkan keterampilan mengajar.

2. Mahasiswa sebagai calon guru masih belum sepenuhnya mencerminkan pribadi seorang guru.

(26)

3. Kurangnya kesiapan mengajar mahasiswa dalam merencanakan proses belajar mengajar (PBM).

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi, maka perlu adanya pembatasan masalah. Penelitian ini dibatasi pada kesiapan mengajar mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang relatif rendah. Agar pembahasan masalah lebih fokus, maka faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan mengajar dipilih dua faktor, yaitu keterampilan mengajar dan kompetensi kepribadian calon guru.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.

1. Apakah ada pengaruh keterampilan mengajar terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta?

2. Apakah ada pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta?

3. Apakah ada pengaruh keterampilan mengajar dan kompetensi kepribadian secara bersama-sama terhadap kesiapan mengajar

(27)

mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk.

1. Mengetahui signifikansi pengaruh keterampilan mengajar terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Mengetahui signifikansi pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Mengetahui signifikansi pengaruh keterampilan mengajar dan kompetensi kepribadian secara bersama-sama terhadap kesiapan mengajar mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

(28)

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat baik secara teoritis maupun praktis.

1. Secara Teoritis

Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat menambah ilmu pengetahuan, wawasan dan dapat dijadikan bahan rujukan untuk penelitian yang sejenis pada masa mendatang dan bahan informasi bagi penelitian selanjutnya.

2. Secara Praktis

a. Bagi Universitas

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan bacaan penelitian bidang pendidikan khususnya tentang hubungan antara keterampilan mengajar dan kompetensi kepribadian guru terhadap kesiapan mengajar.

b. Bagi Mahasiswa FKIP

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi mahasiswa, bahwa meningkatkan keterampilan mengajar dan memperbaiki kepribadian merupakan hal yang harus dilakukan bagi seorang calon guru.

c. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat digunakan sebagai wahana latihan untuk menulis karya ilmiah.

(29)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Keterampilan Mengajar

Guru merupakan suatu tenaga profesional yang berada dalam lingkungan kependidikan, hal ini menuntut guru untuk selalu mengembangkan dan meningkatkan pengetahuannya. Disamping itu untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara profesional guru harus menguasai berbagai macam keterampilan mengajar secara teori maupun praktik. Oleh karena itu mahasiswa Pendidikan Ekonomi harus menguasai keterampilan dasar mengajar. Menurut E. Mulyasa (2009:70-92), Hasibuan dan Moedjiono (2012:59-91), dan Moh. Uzer Usman (2013:74-108), keterampilan mengajar terdiri dari 8 (delapan) keterampilan yaitu: (1) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, (2) keterampilan menjelaskan, (3) keterampilan bertanya. (4) keterampilan memberi penguatan, (5) keterampilan mengolah kelas, (6) keterampilan mengadakan variasi, (7) keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, (8) keterampilan mengajar perorangan dan kelompok kecil.

Untuk lebih jelasnya tentang beberapa konsep keterampilan mengajar, maka berikut ini akan diuraikan dari bentuk-bentuk keterampilan mengajar yang harus dikuasai oleh guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar yaitu sebagai berikut.

(30)

1. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran

Keterampilan membuka dan menutup pelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk mempersiapkan mental dan menimbulkan perharian siswa. Hal ini dimaksud agar peserta didik terpusat pada apa yang akan dipelajari. Namun demikian guru, dalam pembelajaran guru sering tidak melakukan usaha membuka dan menutup pelajaran tersebut. Setelah melakukan tugas rutin seperti menenangkan kelas, mengisi daftar hadir peserta didik, dan meminta peserta didik menyiapkan alat-alat pelajaran, guru langsung masuk pada Kegiatan Pembelajaran inti pelajaran. Misalnya guru berkata: “anak-anak hari ini pak guru akan menjelaskan macam-macam bangun ruang, coba kalian buka Buku paket pelajaran Matematika pada halaman 60... ” demikian juga setelah pelajaran usai, guru tidak melakukan usaha menutup pelajaran. Ia langsung berkata: ”anak-anak, waktu sudah berakhir, kalian tutup semua buku pelajaran dan pelajaran ini akan kita lanjutkan pada minggu yang akan datang, selamat pagi anak-anak”.

Kegiatan mengajar seperti contoh di atas menunjukkan proses pembelajaran yang kurang efektif, sebab tidak didahului dengan kegiatan membuka pelajaran dan diakhiri dengan menutup pelajaran. Proses pembelajaran yang demikian itu dapat mengakibatkan: (1) mental peserta didik tidak siap menerima pelajaran, (2) perhatian peserta didik belum terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari, dan (3)

(31)

pelajaran sukar dipahami, tidak bermakna dan membosankan. Disamping itu dengan diakhirinya pelajaran secara “paksa” tersebut akan dapat mengakibatkan: (1) peserta didik tidak memahami pengetahuan yang telah dipelajari secara utuh dan menyeluruh, dan (2) dalam mengajar guru tidak dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mengajar. Mengingat pentingnya fungsi membuka dan menutup pelajaran tersebut dalam proses pembelajaran, maka guru dan calon guru perlu menguasai kompetensi cara membuka dan menutup pelajaran dengan baik.

Menurut H.M. Sulthon (2009:29), membuka pelajaran disini diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana kesiapan mental maupun dapat menimbulkan perhatian peserta didik agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Kegiatan membuka pelajaran tidak saja harus dilakukan guru pada awal jam pelajaran, akan tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan pelajaran. Menurut E. Mulyasa (2009:84), “membuka pelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan pra kondisi bagi peserta didik agar mental dan perhatian peserta didik secara optimal terpusat pada pelajaran yang akan disajikan”. Dengan kata lain, membuka pelajaran ialah mempersiapkan mental dan perhatian peserta didik agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.

Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2012:73), “membuka pelajaran diartikan dengan perbuatan guru untuk menciptakan suasana

(32)

siap mental dan menimbulkan perhatian peserta didik agar terpusat pada apa yang akan dipelajari”. Kegiatan ini akan menimbulkan kesiapan dan perhatian pada diri peserta didik untuk fokus pada pelajaran yang akan dipelajari. Moh. Uzer Usman (2013:91) mengungkapkan bahwa membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi bagi peserta didik agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan kondisi bagi peserta didik agar fisik, mental, perhatian terpusat dan menimbulkan perhatian peserta didik.

Keterampilan membuka pelajaran merupakan kemampuan guru melakukan usaha menciptakan kondisi atau suasana siap mental maupun perhatian peserta didik terpusat pada apa yang dipelajarinya, sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Saat pembukaan guru melakukan penyampaian tujuan pembelajaran, kompetensi, hasil yang akan dicapai serta membuat kaitan antara materi pelajaran sebelumnya dengan yang akan dipelajari. Kegiatan membuka pelajaran dimaksudkan untuk menyiapkan mental peserta didik agar ikut terlibat memasuki persoalan yang akan dibahas dan memicu minat serta pemusatan perhatian siswa pada materi pelajaran yang akan dibicarakan dalam kegiatan pembelajaran.

(33)

Sedangkan menutup pelajaran yaitu setelah kegiatan inti berakhir. Usaha menutup pelajaran tersebut dimaksudkan untuk

memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru antara lain adalah merangkum kembali atau menyuruh siswa membuat ringkasan dan mengadakan evaluasi tentang materi pelajaran yang baru diberikan. Menurut H.M. Sulthon (2009:29), menutup pelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran. Upaya menutup pelajaran tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang pengalaman pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Menurut E. Mulyasa (2009:84), menutup pelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guru untuk mengetahui pencapaian tujuan dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah dipelajari. Dalam menutup pelajaran mengakhiri pembelajaran dengan mengemukakan kembali pokok-pokok pelajaran untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik atas apa yang baru saja dipelajari serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2012:73), menutup pelajaran adalah kegiatan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Maksudnya adalah setelah kegiatan inti peserta didik perlu diberi

(34)

gambaran secara menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari guna mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar-mengajar. Menurut Moh. Uzer Usman (2013:92), menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar-mengajar. Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh peserta didik, mengetahui pencapaian tujuan dan pemahaman peserta didik serta tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar-mengajar.

Belajar merupakan proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan menuju kesempurnaan, sehingga akhir suatu pelajaran bukan berarti benar-benar selesai. Guru harus dapat menutup pelajaran dengan baik agar pada pertemuan berikutnya dapat diterima dan berlangsung dengan baik. Kegiatan yang dapat dilakukan seperti membuat kesimpulan atau garis besar pelajaran bersama dengan peserta didik, menjelaskan kembali apa yang menurut peserta didik belum jelas, memberi saran-saran, pertanyaan menguji, tugas, dan pada akhirnya berdoa bersama dan mengucapkan salam dan “sampai bertemu minggu depan”.

Menurut E. Mulyasa (2009:85-89), keterampilan mengajar membuka pelajaran dan menutup pelajaran memiliki dua komponen. a. Membuka pelajaran

(35)

Awal pelajaran atau awal setiap penggal kegiatan dalam inti pelajaran guru harus melakukan kegiatan membuka pelajaran. Komponen ketrampilan membuka pelajaran adalah menarik minat peserta didik, membangkitkan motivasi, memberikan acuan, membuat kaitan.

b. Menutup pelajaran

Menjelang akhir pelajaran atau akhir setiap penggal kegiatan guru harus melakukan penutupan pelajaran agar siswa memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok materi. Komponen keterampilan menutup pelajaran adalah meninjau kembali dan Mengevaluasi dan tindak lanjut

Dengan keterampilan membuka dan menutup pelajaran, peserta didik akan termotivasi untuk belajar dan mengetahui sejauh mana pemahaman mereka.

2. Keterampilan Menjelaskan

Dalam melakukan kegiatan pembelajaran, baik dengan menggunakan pendekatan pembelajaran tradisional, maupun modern, Menurut H.M Sulthon (2009:35), keterampilan menjelaskan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dari kegiatan pembelajaran guru karena sebagian besar percakapan pembelajaran yang mempunyai pengaruh besar terhadap pemahaman peserta didik. Ada kecenderungan, bahwa dalam pola interaksi belajar mengajar di

(36)

dalam kelas, guru lebih mendominasi pembicaraan. Tujuan yang ingin dicapai untuk mendapat respon dan umpan balik (feed back) siswa mengenai tingkat pemahamannya serta untuk mengatasi kesalahpahaman mereka. Dilain pihak, guru mempunyai pengaruh atau dapat mempengaruhi siswa melalui penjelasan dan perkataan yang disampaikannya, sehingga terkadang siswa menuruti apa yang disampaikan oleh guru, dengan kata lain siswa mempercayai bahwa penjelasan dari guru itu benar, misalnya dalam memberikan fakta, ide atau pendapat. Oleh karena itu, penjelasan guru haruslah tidak rancu di mana bisa mengakibatkan salah pengertian bagi siswa. Hal ini haruslah dibenahi untuk ditingkatkan keefektifannya agar tercapai hasil yang optimal dari penjelasan dan pembicaraan guru sehingga bermakna bagi siswa. Hasibuan dan Moedjiono (2012:70) menjelaskan berarti menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematis dengan tujuan menunjukkan hubungan. Menjelaskan adalah menyajikan informasi lisan yang diinformasikan secara sistematis dengan tujuan menunjukkan hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui.

E. Mulyasa (2009:80), menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang sesuatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. Mengingat sebagian besar pembelajaran menuntut guru untuk memberikan penjelasan yang

(37)

harus sesuai dengan konsep dan topik serta kompetensi dasar, latar belakang dan tingkat kemampuan peserta didik. Moh. Uzer Usman (2013:88) menyatakan bahwa, menjelaskan dalam pengajaran ialah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui. Kemampuan guru dalam mengenal atau menganalisis tingkat pemahaman siswa sangat dibutuhkan dan sangat penting dalam proses memberikan penjelasan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan urutan penjelasan suatu topik-topik (alur pelajaran) agar saat menyampaikan informasi dapat dengan mudah dipahami oleh peserta didik.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diartikan keterampilan menjelaskan merupakan kemampuan guru untuk menjabarkan lebih detail memberikan informasi sedemikian rupa yang dapat dilakukan dengan cara memberikan contoh-contoh yang relevan atau memberikan sebab akibat agar terjadi kejelasan dan peserta didik lebih memahami apa yang sedang dipelajarinya. Secara garis besar Hasibuan dan Moedjiono (2012:71) menyebutkan dua komponen keterampilan.

a. Merencanakan penjelasan

Perlu diperhatikan isi pesan yang akan disampaikan dan penerima pesan (peserta didik dengan segala kesiapannya).

(38)

b. Menyajikan penjelasan: 1) Mejelasan;

2) penggunaan contoh dan ilustrasi; 3) memberikan penekanan;

4) pengorganisasian ;

5) balikan (umpan balik atau respon).

Untuk dapat menjelaskan suatu hal dengan jelas, maka guru di tuntut untuk menguasai materi yang lengkap, kemampuan menganalisis pokok persoalan yang di bahas, menyampaikan informasi secara sistematis atau runtut agar peserta didik dapat menerima informasi secara detail dengan mudah.

3. Keterampilan Bertanya

Dalam proses pembelajaran, pertanyaan yang diajukan guru memiliki tujuan utama agar peserta didik dapat belajar berfikir, mengoreksi dan memperoleh pengetahuan serta meningkatkan kemampuan berfikir, partisipasi dan mendorong peserta didik agar lebih berinisiatif sendiri. Keterampilan bertanya dasar merupakan keterampilan dasar mengajar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan, sedangkan keterampilan bertanya lanjutan merupakan lanjutan dari keterampilan bertanya dasar, dan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik,

(39)

memperbesar partisipasi mereka dan mendorong mereka agar dapat mengambil inisiatif sendiri.

Pertanyaan yang mengandung problem solving akan cenderung dapat meningkatan cara berfikir peserta didik dibandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat faktual oleh karena itu seorang guru hendaknya berusaha memahami dan menguasai penggunaan keterampilan bertanya. Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2012:62), bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respons dari seseorang yang dikenali. Pertanyaan yang diajukan berisi informasi yang relevan berupa stimulus yang mendorong kemampuan berpikir peserta didik.

Brown (1991:116) mengemukakan bahwa bertanya adalah setiap pertanyaan yang mengkaji atau menciptakan pada diri peserta didik. Pertanyaan yang diajukan guru bukanlah sebuah pertanyaan yang tidak ada hubungannya atau tidak berguna bagi peserta didik akan tetapi pertanyaan yang memiliki arti, bermanfaat, memiliki tujuan sehingga menghasilkan pengaruh yang positif bagi kemajuan peserta didik. Keterampilan ini juga berguna untuk meningkatkan partisipasi peserta didik. Guru perlu menunjukkan sikap yang menyenangkan, hangat dan antusias pada saat mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban dari peserta didik. Menurut Sardiman (2014:215-217) ada 7 (tujuh) teknik dalam menyampaikan pertanyaan di depan kelas.

(40)

a. Pertanyaan awal ditujukan kepada seluruh kelas agar semua peserta didik turut berfikir.

b. Setiap anak diberi kesempatan yang sama untuk menjawab. c. Beri waktu yang cukup untuk berfikir sebelum menjawab. d. Hendaknya suasana jangan tegang.

e. Alihkan pertanyaan kepada peserta didik yang lain apabila ada peserta didik yang tidak dapat menjawab pertanyaan agar anak tersebut tidak malu dan tidak membuang-buang waktu.

f. Pertanyaan yang diajukan hendaknya mengenai pokok-pokok yang penting.

g. Satu dua pertanyaan dapat ditujukkan kepada peserta didik yang tidak memperhatikan. Hal ini untuk menarik perhatian kelas dan melatih disiplin.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengajar bertanya merupakan sejumlah pertanyaan yang secara logis dan relevan diajukan guru kepada siswa di dalam kelas. Keterampilan bertanya ini sangat diperlukan oleh guru di dalam proses belajar mengajar. Pertanyaan yang disajikan guru diarahkan dan ditujukan pada pelajaran yang memiliki informasi yang relevan dengan materi pelajaran, untuk membantu siswa mencapai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan.

(41)

4. Keterampilan Memberi Penguatan

Pada umumnya penghargaan memberi pengaruh positif terhadap kehidupan manusia, karena dapat mendorong dan memperbaiki tingkah laku seseorang serta meningkatkan usahanya. Semua penghargaan ini tidak berwujud materi, melainkan dalam bentuk kata-kata, senyuman, anggukan, dan sentuhan. Penguatan itu sendiri adalah respons terhadap satu tingkah laku positif yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Dalam praktek sehari-hari banyak ditemukan guru hanya memberikan komentar negatif dari pada positif. Hal demikian dapat mengganggu upaya pencapaian tujuan pembelajaran yang dilakukan. Oleh karena itu penguasaan teori dan praktek keterampilan memberi penguatan dalam kegiatan pembelajaran penting sekali untuk memiliki guru atau calon guru agar ia nantinya dapat mengembangkan kegiatan pembelajaran dengan baik dan efektif.

Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2012:58), memberikan penguatan diartikan dengan tingkah laku guru dalam merespons secara positif suatu tingkah laku tertentu peserta didik yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali. Penguatan (penghargaan) mempunyai pengaruh positif bagi peserta didik, yaitu mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang baik. Menurut E. Mulyasa (2009:77), penguatan (reinforcement) merupakan respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya

(42)

kembali perilaku tersebut. Dengan memberikan respons diharapkanpeserta didik semakin bersemangat dan antusias untuk lebih membina tingkah laku yang positif dan mengulang kembali perbuatan positif yang sudah dilakukannya.

Moh. Uzer Usman (2013:80) mengungkapkan mengenai pengertian penguatan, yaitu: Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, baik verbal maupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi si penerima (peserta didik) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa penguatan merupakan salah satu bentuk penciptaan suasana belajar yang menyenangkan. Reinforcement diberikan pada siswa dengan tujuan utama agar frekuensi tingka laku positif siswa dapat meningkat dan lebih giat berpartisipasi dalam interaksi dalam proses belajar-mengajar.

Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2012:59), memberi penguatan memiliki 6 komponen.

a. Penguatan verbal

Diutarakan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru. Seperti pujian, penghargaan, persetujuan, dan

(43)

sebagainya, misalnya: “pintar sekali”, “bagus”, “betul”, “baik”, “tepat”, “saya sangat menghargai pendapatmu”.

b. Penguatan gestural

Diberikan dalam gerakan mimik, gerakan wajah atau anggota badan, misalnya mengangkat alis, tersenyum, tepuk tangan, menaikkan ibu jari tanda “jempolan”.

c. Penguatan dengan cara mendekati peserta didik

Dikerjakan dengan cara mendekati peserta didik untuk menyatakan perhatian guru terhadap pekerjaan, tingkah laku, atau penampilan peserta didik, misalnya guru berdiri di samping peserta didik.

d. Penguatan dengan sentuhan

Dinyatakan dengan menepuk pundak peserta didik, menjabat tangan atau mengangkat tangan peserta didik.

e. Penguatan dengan memberikan kegiatan yang menyenangkan Dapat berupa meminta peserta didik untuk memimpin kegiatan,

menjelaskan kepada teman-temannya atau membantu temannya bila dia selesai mengerjakan pekerjaan terlebih dahulu dengan tepat.

f. Penguatan berupa tanda atau benda

Bentuk penguatan ini antara lain: komentar tertulis pada buku pekerjaan, permen, lencana dan sebagainya.

(44)

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian penguatan dapat dilakukan dengan verbal, non verbal atau hadiah. Penguatan dapat meningkatkan motivasi dan perhatian peserta didik serta membuat peserta didik terpacu untuk berbuat positif dan merasa dihargai.

5. Keterampilan Mengelola Kelas

Terkadang kondisi kelas menjadi ramai, sebagai seorang guru harus dapat menangani hal tersebut. Guru harus dapat mengelola kelas agar tercipta kondisi belajar-mengajar yang optimal. Menurut E. Mulyasa (2009:91), “pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran”. Menurut Moh. Uzer Usman (2013:97), “pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan dan memelihara organisasi kelas agar tercapai kondisi yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar-mengajar”. Dengan kata lain kegiatan ini merupakan usaha untuk menciptakan kondisi belajar yang optimal. Yang termasuk dalam mengembalikan kondisi misalnya penghentian tingkah laku peserta didik (menegur peserta didik) yang menyeleweng.

Hasibuan dan Moedjiono (2012:82) mengemukakan bahwa, keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk

(45)

menciptakan dan memelihara serta mempertahankan suasana belajar yang optimal dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul. Dikemukakan juga komponen-komponen keterampilan mengelola kelas.

a. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal. Keterampilan tersebut meliputi:

1) menunjukkan sikap tanggap; 2) memberi perhatian;

3) memusatkan perhatian kelompok; 4) memberikan petunjuk yang jelas; 5) menegur;

6) memberi penguatan.

b. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal. Dalam hal ini guru dapat melakukan remidial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Keterampilan tersebut meliputi:

a) memodifikasi tingkah laku; b) pengelolaan kelompok;

c) menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.

Dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengelola kelas merupakan upaya yang dilakukan guru tetap menjaga kondisi belajar

(46)

mengajar yang kondusif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan harapan yang ingin dicapai. Guru harus pandai mengendalikan tingkah laku peserta didik serta membina hubungan interpersonal yang baik. Dengan pengelolaan kelas yang baik dapat membantu merdorong peserta didik untuk tetap mengembangkan tingkah lakunya sesuai tujuan pembelajaran, menghentikan tingkah lakunya yang menyimpang dan menjadikan pembelajaran yang efektif, kondusif dan optimal.

6. Keterampilan Mengadakan Variasi

Proses belajar-mengajar tidak hanya berjalan satu kali tetapi berulang kali karena merupakan proses yang panjang hingga peserta didik menguasai seluruh kompetensi yang diharapkan. Keterampilan mengadakan variasi merupakan salah satu proses pembelajaran untuk mengatasi kejenuhan atau kebosanan yang dialami peserta didik, baik variasi dalam cara mengajar atau media belajar. Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2012:64), “menggunakan variasi diartikan sebagai perbuatan guru dalam konteks proses belajar-mengajar yang bertujuan mengatasi kebosanan peserta didik, sehingga dalam situasi belajar peserta didik senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiasan, serta berperan serta secara aktif”. Perbuatan tersebut diantaranya adalah variasi dalam gaya mengajar, media, dan pola interaksi dan kegiatan peserta didik.

(47)

Moh. Uzer Usman (2013:84) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan mengadakan variasi adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar-mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan peserta didik sehingga dalam situasi belajar-mengajar peserta didik senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi. Menurut E. Mulyasa (2009:78), variasi dalam pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar peseta didik, serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan. Perubahan-perubahan tersebut dapat dilakukan dengan variasi media dan sumber belajar, metode mengajar, strategi belajar, atau gaya mengajar.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa variasi merupakan perubahan dalam proses kegiatan pembelajaran yang ditunjukan untuk mengatasi kebosanan peserta didik dan meningkatkan semangat peserta didik dalam belajar sehingga siswa dapat aktif dan turut berpartisipasi dalam pembelajaran.

7. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil

Kegiatan diskusi sangat diperlukan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berpikir dan berkomunikasi peserta didik. Kegiatan diskusi memungkinkan peserta didik untuk mengatasi konsep-konsep materi untuk memecahkan suatu masalah melalui proses berpikir kritis, percaya diri, berani berpendapat serta mampu

(48)

berinteraksi dengan teman dan lingkuan sosial. Menurut E. Mulyasa (2009:89), diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah. Diskusi kelompok merupakan salah satu strategi yang memungkinkan peserta didik memecahkan suatu masalah melalui suatu proses yang memberikan kesempatan untuk berfikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif.

Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2012:88-89), diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur dengan melibatkan sekelompok peserta didik dalam interaksi tatap muka kooperatif yang optimal dengan tujuan berbagai informasi atau pengalaman, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah. Keterampilan ini menuntut guru untuk dapat membuat peserta didik berpartisipasi aktif dengan mengemukakan pendapat, bertukar informasi dan pengalaman, saling menghargai dan berlatih bersikap positif. Moh. Uzer Usman (2013:94) mengemukakan bahwa diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok kecil peserta didik dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, dan pemecahan masalah. Diskusi tersebut berlangsung secara terbuka tanpa tekanan akan tetapi tetap harus menaati peraturan yang telah ditetapkan sebelumnya.

(49)

Ada beberapa komponen keterampilan membimbing diskusi menurut E. Mulyasa (2009:90-91) adalah sebagai berikut.

a. Memusatkan perhatian peserta didik pada tujuan dan topik diskusi. b. Memperjelas masalah maupun usulan atau pendapat.

c. Menganalisis pandangan atau pendapat peserta didik. d. Meningkatkan usulan peserta didik.

e. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi. f. Menutup diskusi.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil adalah strategi yang memungkinkan peserta didik menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui proses yang memberi kesempatan untuk berfikir, berinteraksi sosial, dan berlatih bersikap positif.

8. Keterampilan Mengajar Perorangan Dan Kelompok Kecil

Pembelajaran berkelompok maupun perorangan akan sangat membantu guru dalam menentukan sejauh mana pengetahuan setiap peserta didik. Guru dapat membentuk hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik, maupun antar peserta didik agar apa yang disampaikan bisa diserap dan diterima ileh peserta didik. Moh. Uzer Usman (2013:102) menyatakan bahwa secara fisik bentuk pengajaran perorangan dan kelompok kecil ialah bila jumlah peserta didik yang dihadapi oleh guru terbatas, yaitu berkisar 3-8 orang untuk

(50)

kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Hal ini bukan berarti bahwa guru hanya menghadapi satu kelompok atau seorang peserta didik saja sepanjang waktu belajar. Guru menghadapi banyak peserta didik yang terdiri dari beberapa kelompok dan dapat bertatap muka baik secara perseorangan maupun secara kelompok. Dalam kegiatan ini guru sebagai organisator dan sumber informasi bagi peserta didik serta memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Walaupun peserta didik belajar bebas dalam pengajaran kelompok kecil dan perorangan, tetapi tetap terjalin hubungan dengan guru dan guru memberi bantuan secukupnya secara perorangan dan tujuan, cara, materi dan alat yang sudah ditentukan oleh guru. Pada kelompok kecil, peserta didik belajar secara berkelompok sehingga terjalin hubungan yang akrab antar peserta didik dalam suatu kelompok kecil dan guru memberikan bantuan secukupnya untuk kebutuhan kelompok.

Komponen dalam keterampilan mengajar perorangan dan kelompok kecil diuraikan sebagai berikut:

a. keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi; b. keterampilan mengorganisasi;

c. keterampilan membimbing dan memudahkan belajar;

d. keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

(51)

Pada pengajaran ini guru menjadi organisator, mengatur dan memonitor kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir.

B. Kompetensi Kepribadian 1. Kompetensi

Kompetensi dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa Inggris, menurut Departemen Pendidikan Nasional (2008:719) competence berarti kecakapan atau kemampuan. Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia kompetensi adalah suatu kewenangan atau kekuasaan untuk menentukan suatu hal. Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, pasal 1 sub 10, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Kompetensi adalah kumpulan pengetahuan, perilaku, dan keterampilan yang harus dimiliki guru untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan. Kompetensi diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan belajar mandiri dengan memanfaatkan sumber belajar. Menurut Jejen Musfah (2011:28), kompetensi merupakan tugas khusus yang berarti hanya dapat dilakukan oleh orang-orang spesial/tertentu. Artinya, tidak bisa semberangan orang dapat melakukan tugas tersebut. Wolf (1995:41) mengungkapkan, “competencies refer only tovery specific practical activities.” Yang

(52)

berarti kompetensi merupakan tugas khusus yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang spesial/tertentu Pemaknaan ini sejalan dengan istilah tugas profesi (profesional).

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan kemampuan seseorang yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap, yang dapat diwujudkan dalam hasil kerja nyata yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Ketiga aspek kemampuan ini saling terkait dan memengaruhi satu sama lain. Kondisi fisik dan mental serta spiritual seseorang besar pengaruhnya terhadap produktivitas kerja seseorang, maka tiga aspek ini harus dijaga pula sesuai standar yang disepakati. Guru diharapkan dapat menjalankan tugasnya secara profesional dengan memiliki dan menguasai keempat kompetensi tersebut. Kompetensi yang harus dimiliki pendidik itu sungguh sangat ideal sebagaimana tergambar dalam peraturan pemerintah tersebut. Karena itu, guru harus selalu belajar dengan tekun di sela-sela menjalankan tugasnya.

Moh. Uzer Usman(2010:9), Kompetensi adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi dan kemampuan seorang, baik yang kualitatif maupun kuantitatif. Kompetensi juga berarti sebagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Menurut Syaiful Sagala (2008:23), kompetensi merupakan peleburan dari pengetahuan (daya pikir), sikap, dan keterampilan yang diwujudkan dalam bentuk

(53)

perbuatan. Menjadi guru profesional bukan pekerjaan yang mudah untuk tidak mengatakannya sulit, apalagi di tengah kondisi mutu guru yang sangat buruk dalam setiap aspeknya. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, perkembangan baru terhadap pandangan belajar-mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar-mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal

2. Kepribadian

a. Pengertian Kepribadian

Guru merupakan profesi yang mulia di mata masyarakat. Apapun yang diajarkan kepada peserta didik haruslah menjadi sikap dan cara hidupnya. Ungkapan yang sering dikemukakan bahwa guru bisa digugu dan ditiru. Maksud dari digugu adalah apa yang diucapkan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan perilaku guru bisa ditiru atau diteladani. Oleh karena itu, guru harus memiliki kepribadian layaknya seorang guru. Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, pasal 1 sub 10, kepribadian adalah susunan yang dinamis dalam diri individu yang terdiri dari sistem psiko-fisik yang menentukan

(54)

penyesuaian individu tersebut secara unik dengan lingkungannya. Muhammad Utsman Najati (2005:240) mengemukakan bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dari perawatan fisik dan psikis dalam diri individu yang membentuk karakternya yang unik dalam penyesuaiannya dengan lingkungannya.

Nana Syaodih (2005:135), mengungkapkan bahwa kepribadian merupakan kesatupaduan antara aspek psikis dan aspek fisik. Menurut pendapat tersebut, kesatupaduan antara aspek psikis dan aspek fisik lebih dari sekedar penjumlahan ciri-ciri atau sifat-sifat yang menonjol atau yang sering diperlihatkan kepada orang lain, sebab dalam kesatupaduan terdapat hubungan fungsional yang saling mempengaruhi. Baharuddin (2009:208) mengungkapkan bahwa kepribadian mencakup berbagai aspek dari sifat-sifat fisik dan psikis setiap individu sehingga kepribadian mengandung pengertian yang luas dan sangat kompleks. Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa belum ada satu pun definisi yang benar-benar dapat diterima oleh semua pihak. Berikut diungkapkan inti dari beberapa rumusan definisi kepribadian para ahli psikologi menurut Baharuddin:

a. kepribadian merupakan suatu kebulatan yang terdiri dari aspek-aspek fisik dan psikis;

b. kepribadian seseorang bersifat dinamis dalam hubungannya dengan lingkungan;

(55)

c. kepribadian seseorang adalah khas, berbeda dari orang lain; d. kepribadian berkembang dengan dipengaruhi oleh faktor-faktor

yang berasal dari dalam dan luar.

Berdasarkan rumusan-rumusan tersebut dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem fisik dan psikis individu yang khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Djaali (2012:3) menjelaskan maksud dari organisasi yang dinamis, “organisasi yang dinamis adalah kepribadian itu dapat berubah-ubah dan antar berbagai komponen kepribadian (sistem psikofisik seperti kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, emosi, perasaan, dan motif) memiliki hubungan yang erat”. Hubungan tersebut terorganisir sedemikian rupa secara bersama-sama mempengaruhi pola perilaku (sikap) dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Terdapat banyak aspek di dalam kepribadian, maka kepribadian seseorang masih dapat dikembangkan dan dirubah melalui suatu proses. Oleh karena itu kepribadian Mahasiswa calon guru masih dapat dibentuk dan dikembangkan.

b. Faktor Penentu Perubahan Kepribadian

Kepribadian yang dimiliki oleh seseorang tidak terjadi secara spontan, begitu pula pada perubahan kepribadian. Perubahan kepribadian merupakan hasil pematangan, pengalaman, tekanan dari lingkungan sosial budaya dan faktor-faktor dalam diri

(56)

seseorang. Berikut beberapa faktor penentu perubahan kepribadian menurut pendapat Djaali (2012: 13-15).

a. Faktor Internal

Beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yang berasal dari dari dalam diri yaitu: (1) Inteligensi (kecerdasan), (2) Kondisi fisik (kesehatan), (3) Daya tarik (kharisma), (4) Perubahan fisik (usia)

b. Faktor Eksternal

Beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yang berasal dari dari luar diri yaitu: (1) Keluarga, (2) Sosial (masyarakat), (3) Budaya.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut dijelaskan secara runtut. a. Faktor Internal

1) Inteligensi (kecerdasan)

Semakin tinggi inteligensinya akan semakin berhati-hati dalam bertindak, ia akan berfikir terlebih dahulu sebelum berbuat dan memfikirkan apa risiko dari perbuatannya.

2) Kondisi fisik (kesehatan)

Kondisi fisik yang dimaksud adalah kelelahan, malnutrisi, gangguan fisik, penyakit menahun, dan gangguan kelenjar yang dapat membuat gelisah, pemarah, hiperaktif, curiga dan sebagainya.

(57)

3) Daya tarik (kharisma)

Orang yang memiliki daya tarik (kharisma) biasanya memiliki lebih banyak karakteristik kepribadian yang diinginkan yang akan memperkuat sikap sosial yang menguntungkan.

4) Perubahan fisik (usia)

Peningkatan kematangan (usia) seseorang biasanya akan mengubahnya menjadi lebih bijak dalam bersikap.

b. Faktor Eksternal 1) Keluarga

Keluarga merupakan sendi-sendi dasar kepribadian sebab waktu terbanyak adalah bersama keluarga. Pengalaman awal semasa kecil pun di dalam lingkup keluarga.

2) Sosial (masyarakat)

Seorang yang diterima dalam kelompok sosialnya akan dapat mengembangkan rasa percaya diri dan kepandaiannya.

3) Budaya

Seseorang mengalami tekanan untuk mengembangkan kepribadian yang sesuai dengan standar yang ditentukan budayanya.

Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan bahwa banyak faktor yang menentukan perubahan kepribadian baik dari dalam diri maupun dari luar individu. Kepribadian dapat ditumbuhkan dan

(58)

dikembangkan ke arah yang positif, demikian juga kepribadian profesi guru, akan tetapi dibutuhkan waktu dan proses yang panjang untuk membentuk kepribadian profesi guru. Hal ini berarti Mahasiswa bisa belajar untuk mengubah dan mengembangkan kepribadiannya ke arah yang lebih baik, meski tetap harus disadari bahwa tidak mungkin mengubah segalanya dalam kepribadian Mahasiswa itu sendiri.

3. Kompetensi Kepribadian

Tugas guru dalam pembelajaran tidak terbatas pada penyampaian materi pembelajaran, tetapi lebih dari itu, guru harus membentuk kompetensi dan pribadi peserta didik. Guru tidak hanya dituntut untuk mampu memaknai pembelajaran, tetapi yang paling penting adalah bagaimana guru menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan kompetensi dan memperbaikan kualitas pribadi peserta didik. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kompetensi kepribadian profesi guru yang memadai.

Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan bahwa “kompetensi kepribadian profesi guru adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia”. Untuk kepentingan tersebut, pribadi guru sangat berperan dalam

(59)

membentuk pribadi peserta didik. Guru harus mampu menjadi contoh atau panutan bagi peserta didik.

Ada lima indikator yang menunjukan keberhasilan guru dalam bidang kompetensi kepribadian.

a. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.

b. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

c. Menampilkan diri sebagai sebagai pribadi yang mantap, stabil dewasa, arif dan berwibawa.

d. Menunjukan etos kerja tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru dan rasa percaya diri.

e. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Adapun menurut E. Mulyasa (2008) mengemukakan 4 (empat) komponen kompetensi kepribadian profesi guru sebagai berikut:

a. kepribadian yang mantap, stabil, dan dewasa; b. disiplin, arif, dan berwibawa;

c. menjadi teladan bagi peserta didik; d. berakhlak mulia.

Guru yang memiliki kompetensi kepribadian guru akan sangat membantu pengembangan karakter peserta didik. Dengan menampilkan sosok yang bisa didengar (dipercaya) dan ditiru, peserta didik akan mempercayai apa yang diajarkan oleh gurunya.

Gambar

Gambar 2.1. Paradigma Kerangka pikir .....................................................
Tabel 3.5  Kisi-kisi kuesioner
Tabel 5.8  Uji Normalitas
Tabel 5.14  Koefisien Determinasi
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kompetensi dosen secara parsial terhadap kepuasan mahasiswa Pendidikan Ekonomi

(3)Terdapat Pengaruh positif dan signifikan Interaksi Teman Sebaya dan Metode Mengajar Dosen secara bersama-sama terhadap Motivasi Belajar mahasiswa Pendidikan Akuntansi angkatan

Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara persepsi siswa mengenai keterampilan mengajar guru terhadap hasil belajar peserta didik mata pelajaran akidah akhlak

Hasil penelitian diperoleh bahwa keterampilan mengajar guru dan kesiapan belajar siswa memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa,

Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan Terhadap Motivasi Berwirausaha Dan Keterampilan Berwirausaha Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.. Universitas

Hasil penelitian diperoleh bahwa keterampilan mengajar guru dan kesiapan belajar siswa memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh positif dan signifikan Kepribadian terhadap Minat Berwirausaha Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas

Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa 1 pendidikan kewirausahan memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap minat berwirausaha pada mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas