• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR CIPTA KARYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VII RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR CIPTA KARYA"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-1

BAB VII

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR CIPTA KARYA

7.1 Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman 7.1.1 Kondisi Eksisting

Peraturan dan regulasi yang terkait dengan pengembangan permukiman di Kota Depok masih sangat terbatas yaitu sebagaimana disajikan pada tabel 7.1

Tabel 7.1

Peraturan Daerah / Peraturan Bupati / Keputusan Bupati terkait Pengembangan Permukiman

No Perda / Perbup / Peraturan lainnya Keterangan

No Peraturan Prihal Tahun

1 Keputusan Bupati Muara Enim No : 348 / KPTS . CKTR – IV / 2013

Lokasi Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh

2013 Mengatur tentang Lokasi Perumahan dan Permukiman Kumuh di Kabupaten Muara Enim

Permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat. Beberapa ciri-ciri daerah kumuh ini antara lain :

1. Dihuni oleh penduduk yang padat dan berjubel, baik karena pertumbuhan penduduk akibat kelahiran maupun karena adanya urbanisasi

2. Dihuni oleh warga yang berpenghasilan rendah dan tidak tetap, atau berproduksi subsisten yang hidup di bawah garis kemiskinan

3. Rumah – rumah yang ada di daerah ini merupakan rumah darurat yang terbuat dari bahan-bahan berkas dan tidak layak

4. Kondisi kesehatan dan sanitasi yang rendah, biasnya ditandai oleh lingkungan fisik yang jorok dan mudah tersebar penyakit menular

(2)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-2

6. Pertumbuhannya yang tidak terencana sehingga penampilan fisiknya pun tidak teratur dan tidak terurus, jalan sempit, halaman tidak ada

7. Kuatnya gaya hidup “pedesaan” yang masih tradisional. Secara sosial terisolasi dari permukiman lapisan masyarakat lainnya

8. Ditempati secara ilegal atau status hukum tanah yang tidak jelas (bermasalah) 9. Biasanya ditandai olah banyaknya perilaku menyimpang dan tindak kriminal

Untuk menetapkan lokasi kawasan permukiman kumuh digunakan kriteria – kriteria yang di

dikelompokan kedalam kriteria :

Kriteria Vitalitas Non Ekonomi

Kriteria Vitalitas Non Ekonomi dipertimbangkan sebagai penentuan penilaian kawasan kumuh dengan indikasi terhadap penanganan peremajaan kawasan kumuh yang dapat memberikan tingkat kelyakan kawasan permukiman tersebut apakah masih layak sebagai kawasan permukiman atau sudah tidak sesuai lagi. Krtieria ini terdiri atas variabel sebagai berikut :

a. Kesesuaian pemanfaatan ruang kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota atau RDTK, dipandang perlu sebagai legalitas kawasan dalam ruang kota

b. Fisik bangunan perumahan permukiman dalam kawasan kumuh memiliki indikasi terhadap penanganan kawasan permukiman kumuh dalam hal kelayakan suatu hunian berdasarkan intensitas bangunan yang terdapat didalamnya

c. Kondisi Kependudukan dalam kawasan permukiman kumuh yang dinilai, mempunyai indikasi terhadap penanganan kawasan permukiman kumuh berdasarkan kerapatan dan kepadatan penduduk

(3)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-3 Kriteria Vitalitas Ekonomi

Kriteria Vitalitas Ekonomi dinilai mempunyai kepentingan atas dasar sasaran program penanganan kawasan permukiman kumuh sesuai gerakan city without slum sebagaimana menjadi komitmen dalam Hari Habitat Internasional. Oleh karena kriteria ini akan dalam kaitannya dengan indikasi pengelolaan kawasan sehingga peubah penilai untuk kriteria meliputi :

a. Tingkat kepentingan kawasan dalam letak kedudukannya pada wilayah kota, apakah kawasan itu strategis atau kurang strategis

b. Fungsi kawasan dalam peruntukan ruang kota, dimana keterkaitan dengan faktor ekonomi memberikan keterkaitan pada investor untuk dapat menangani kawasan kumuh yanga ada. Kawasan yang termasuk dalam kelompok ini adalah pusat-pusat aktivitas bisnis dan perdagangan seperti pasar, terminal/stasiun, pertokoan, atau fungsi lainnya.

c. Jarak jangkau kawasan terhadap tempat mata pencaharian penduduk kawasan permukiman kumuh

Kriteria Status Tanah

Kriteria status tanah sebagai mana tertuang dalam Inpres No. 5 tahun 1990 tentang Peremajaan Permukiman Kumuh adalah merupakan hal penting untuk kelancaran dan kemudahan pengelolaannya. Kemudahan pengurusan masalah status tanah menjadikan jaminan terhadap ketertarikan investasi dalam suatu kawasan perkotaan. Perubahan penilaian dari kriteria ini meliputi :

a. Status pemilikan lahan kawasan perumahan permukiman b. Status sertifikat tanah yang ada

(4)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-4 Kriteria Kondisi Prasarana dan Sarana

Kriteria Kondisi Prasarana dan Sarana yang mempengaruhi suatu kawasan permukiman menjadi kumuh, paling tidak terdiri atas :

a. Kondisi Jalan b. Drainase c. Air Bersih d. Air Limbah

Kriteria Komitmen Pemerintah Setempat

Komitmen pemerintah daerah (kabupaten/kota/provinsi) dinilai mempunyai andil sangat besar untuk terselenggaranya penanganan kawasan permukiman kumuh ini mempunyai indikasi bahwa pemerintah daerah menginginkan adanya keteraturan pembangunan khususnya kawasan yang ada di daerahnya.

Perubah penilai dari kriteria ini akan meliputi :

a. Keinginan pemerintah untuk penyelenggaraan penanganan kawasan kumuh dengan indikasi penyediaan dana dan mekanisme kelembagaan penanganannya

b. Ketersediaan perangkat dalam penanganan, seperti halnya rencana penanganan (grand scenario) kawasan, rencana induk (master plan) kawasan dan lainnya

Kriteria Prioritas Penanganan

Untuk menentukan lokasi prioritas penanganan, selanjutnya digunakan kriteria lokasi kawasan permukiman kumuh yang diindikasikan memiliki pengaruh terhadap (bagian) kawasan perkotaan metropolitan sekaligus sebagai kawasan permukiman penyangga. Kriteria ini akan menghasilkan lokasi kawasan permukiman kumuh yang prioritas ditangani

(5)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-5

karena letaknya yang berdekatan dengan kawasan perkotaan. Penentuan kriteria ini menggunakan variabel berikunya :

a. Kedekatan lokasi kawasan permukiman kumuh dengan pusat kota metropolitan

b. Kedekatan lokasi kawasan permukiman kumuh dengan kawasan pusat pertumbuhan bagian kota metropolitan

c. Kedekatan lokasi kawasan permukiman kumuh dengan kawasan lain (perbatasan) bagian kota metropolitan

d. Kedekatan lokasi kawasan kumuh dengan letak ibukota daerah yang besangkutan

Permukiman Tradisional

Permukiman tradisional merupakan manifestasi dari nilai sosial budaya masyarakat yang erat kaitannya dengan nilai sosial budaya penghuninya, yang dalam prosesnya penyusunannya menggunakan dasar norma-norma tradisi (Rapoport). Permukiman tradisional sering direpresentasikan sebagai tempat yang masih memegang nilai-nilai adat dan budaya yang berhubungan dengan nilai kepercayaan atau agama yang bersifat khusus atau unik pada suatu masyarakat tertentu yang berakar dari tempat tertentu pula di luar determinasi sejarah (Sasongko 2005).

Yang dimaksud dengan kawasan permukiman tradisional adalah kawasan yang mempunyai kriteria sebagai berikut :

a. Lingkungan permukiman yang memiliki/terdiri dari bangunan-bangunan tradisional (kedaerahan), bersejarah, perdagangan, kelompok industri rumah tanggayang mempunyai ciri khas tertentu

b. Secara sosial budaya perlu untuk revive (pernah hidup dan dikenal) c. Secara ekonomi, pernah dan punya potensi untuk dikembangkan

(6)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-6

Manfaat pengaturan Rencana Tindak Penanganan Kawasan Permukiman Tradisional dalam rangka penyelenggaraan pelestarian, penegndalian, pengembangan dan pembangunan daerah perencanaan untuk memberikan informasi kepada generasi penerus bahwa para pendahulu anak bangsa telah membangunperadaban yang maju dan memberikan informasi sejarah masa lampau untuk memberikan arah masa yang akan datang.

Di Kabupaten Muara Enim, terdapat beberapa lokasi yang termasuk kategori kawasan permukiman tradisonal. Salah satunya adalah di desa Pulau Panggung Kecamatan Semendo Darat Laut. Desa itu masih menunjukkan karakter permukiman tradisional dengan masih banyaknya rumah tradisional, selain itu pola permukimannya juga masih menunjukkan karakter pola permukiman tradisional. Beberapa desa di sekitarnya juga bisa dikategorikan sebagai identifikasi dan pendataan, supaya perkampungan tradisional ini bisa tetap dilestarikan.

(7)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-7 7.1.2 Sasaran Program

Tabel 7.2

Matriks Sasaran Program Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman

No Uraian Sasaran Program Total Luas Kawasan

Sasaran Program

Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V I PROGRAM UMUM

1 Pebentukan POKJA RP3KP

2 Penyusunan RP3KP

3 Sosialisasi RP3KP

4 Peningkatan kapasitas kelembagaan dalam pembangunan

dan pengembangan perumahan dan kawasan permukiman

II PENGEMBANGAN PERMUKIMAN FORMAL

1 Peningkatan kerjasama dengan pihak swasta untuk pengembangan rumah

2 Peningkatan fasiltas kepemilikan rumah

3 Peningkatan dan pembangunan PSU

4 Pembangunan fasiltas penunjang

5 Penyediaan ruang terbuka dan ruang bermain anak

III PENGEMBANGAN PERMUKIMAN UNTUK MBR

1 Peningkatan kerjasama dengan pihak swasta untuk pengembangan rumah murah bagi MBR

2 Kerjasama dengan Bank untuk akses kredit bagi MBR

3 Pembangunan PSU

4 Pembangunan fasiltas penunjang

5 Penyediaan ruang terbuka dan ruang bermain anak

IV PENGEMBANGAN KASIBA LISIBA

1 Perencanaan Kasiba

(8)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-8

3 Perencanaan PSU Kasiba

4 Perencanaan Lisiba

5 Perencanaan Lisiba berdiri sendiri

6 Pemilihan pengelola Lisiba

7 Pebangunan PSU

8 Pembangunan rumah

V PENATAAN PERMUKIMAN KUMUH

1 Identifikasi kawasan permukiman kumuh

2 Penyusunan Profil Kawasan Kumuh

3 Penyusunan DED Kawasan Kumuh

4 Pembangunan PSU

5 Peningkatan PSU di kawasan kumuh

6 Perbaikan rumah tidak layak huni

7 Penyusunan Rencana Relokasi (new site development) atau urban renewal

8 Pembangunan PSU lokasi baru

9 Pembangunan rumah/rusunawa

10 Pembangunan fasilitas penunjang

11 Penyediaan ruang terbuka dan ruang bermain anak

VI PENATAAN PERMUKIMAN TRADISONAL

1 Identifikasi kawasan permukiman tradisional

2 Penyusunan RTBL kawasan permukiman tradisonal

3 Penyusunan DED kawasan permukiman tradisonal

4 Pembangunan PSU

5 Perbaikan bangunan rumah tradisional

VII PENGEMBANGAN JARINGAN PRASARANA

1 Jaringan jalan

 Peningkatan jalan kolektor

 Peningkatan jalan lokal

(9)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-9

 Pembangunan halte

2 Jaringan drainase

 Pemeliharaan sungai

 Peningkatan dan pembangunan saluran drainase sekunder

 Pembangunan saluran drainase tersier

3 Penyediaan air bersih / air minum

 Peningkatan kapasitas WTP di kawasan permukiman perkotaan (SPAM IKK)

 Pengembangan jaringan distribusi air bersih

 Pembuatan WTP skala lingkungan pada permukiman perdesaan

 Peningkatan pengelolaan air bersih untuk mengurangi tingkat kebocoran

4 Pengolahan air limbah

 Pembuatan bangunan pengolahan limbah komunal di kawasan padat

 Pengembangan program sanitasi masyarakat

 Pemberian bantuan jamban keluarga

5 Pengelolaan persampahan  Pembuatan TPS

 Penyediaan gerobag sampah  Penyediaan tempat sampah  Penyediaan truk angkutan sampah 6 Jaringan listrik

 Pengembangan jaringan listrik tegangan tinggi

 Pengembangan jaringan listrik tegangan menengah

 Pengembangan jaringan litrik tegangan rendah

(10)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-10

 Pengembangan jaringan kabel

 Penataan dan pengembangan BTS

VIII PENGEMBANGAN FASILTAS UMUM DAN FASILITAS PENUNJANG

1 Pendidikan

 Peningkatan dan pembangunan sarana pendidikan TK

 Peningkatan dan pembangunan sarana pendidikan SMP

 Peningkatan dan pembangunan sarana pendidikan SMU/SMK

 Peningkatan sarana pendidikan tinggi

2 Kesehatan

 Peningkatan dan pembangunan Puskesmas pembantu

 Peningkatan Puskesmas rawat inap

 Peningkatan Puskesmas

3 Peribadatan

 Peningkatan dan pembangunan masjid dan mushola

 Peningkatan sarana peribadatan lainnya

4 Perdagangan

 Perencanaan pusat perdagangan skala lingkungan di kawasan permukiman

 Pembangunan pasar lingkungan

 Pembangunan pertokoan

 Peningkatan pasar inpres

5 Olahraga dan Rekreasi

 Peningkatan dan pembangunan gedung olah raga (GOR)

 Pembangunan sarana dan olah raga skala kecamatan 6 Ruang Terbuka

(11)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-11  Pembangunan taman dan ruang terbuka skala

kecamatan

 Pembangunan ruang/taman bermain anak

 Mewajibkan tiap pengambang menyediakan taman dan ruang bermain anak

7.1.3 Usulan Kebutuhan Program

Tabel 7.3

Matriks Usulan Program Pengembangan Kawasan Permukiman Kabupaten Muara Enim

No Kegiatan Pengembangan Kawasan Permukiman Sasaran

Rencana Program Ket Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V 1 Pembinaan dan Pengawasan Pengembangan Kawasan

Permukiman Perkotaan

Pembangunan PSD Permukiman Perdesaan Potensial Ds. Pulau Panggung Kec. SDL

RP3KP-KP Kab. Muara Enim Kel. Muara Enim

Kec. Muara Enim

Kegiatan Penataan Kawasan Kumuh Kel. Tungkal Kec.

Muara Enim

Kegiatan Penataan Kawasan Kumuh Ds. Tanjung Jati Kec.

Muara Enim

Kegiatan Penataan Kawasan Kumuh Kel. Muara Enim

Kec. Muara Enim

Kegiatan Penataan Kawasan Kumuh Ds. Kota Padang

Kec. SDL

2 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perdesaan

(12)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-12 Pengembangan Sarana dan Prasarana KWS Agropolitan Ds. Swarna Dwipa

Kec. SDT

√ Pengembangan Sarana dan Prasarana KWS Agropolitan Ds. Segamit Kec.

SDU

√ Pengembangan Sarana & Prasarana KWS Agropolitan Ds. Guci Kec. Ujan

Mas

√ Pengembangan Sarana & Prasarana KWS Agropolitan Ds. Aur Duri Kec.

Rambang Dangku

Tabel 7.4

Matriks Usulan Pembiayaan Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman Kabupaten Muara Enim

No Out Put Uraian Paket Lokasi Vol Satuan Sumber Pendanaan x Rp. 1.000

APBN APBD Prov. APBD Kab./Kota SPPIP RPKPP Kesiapan Lahan DED Dhana Sharing RPM PHLN 1 Pembinaan dan Pengawasan Pengembangan Kawasan Permukiman Pembangunan PSD Permukiman Perdesaan Potensial Ds. Pulau Panggung Kec. SDL 28 HA 17.500.000 2010 2014 2014 2017 Tahun 2017 17.500.000 2 Pembinaan dan Pengawasan Pengembangan Kawasan Permukiman RP3KP-KP Kab. Muara Enim Kel. Muara Enim Kec. Muara Enim 1 Kab / Kota 800.000 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perdesaan Pengembangan Sarana dan Prasarana KWS Agropolitan Ds. Swarna Dwipa Kec. SDT 2 HA 3.000.000 750.000 500.000 2010 2011 2016 2016 2017 Ds. Segamit Kec. SDU 2 HA 3.000.000 750.000 500.000 2010 2011 2016 2016 2017 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Kegiatan Penataan Kawasan Kumuh Kel. Tungkal Kec. Muara 1 HA 5.000.000 50.000 200.000 2010 2011 2016 2016 2017

(13)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-13 Perkotaan Enim Tahun 2018 11.800.000 1.550.000 1.200.000 3 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perkotaan Kegiatan Penataan Kawasan Kumuh Ds. Tanjung Jati Kec. Muara Enim 1 HA 5.500.000 250.000 200.000 2010 2011 2018 2018 2019 Tahun 2019 5.500.000 250.000 200.000 4 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perdesaan Pengembangan Sarana & Prasarana KWS Agropolitan Ds. Guci Kec. Muara Enim 1 HA 2.000.000 300.000 300.000 2010 2011 2018 2018 2020 Tahun 2020 2.000.000 300.000 300.000 5 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Pekotaan Kegiatan Penataan Kawasan Kumuh Kel. Muara Enim Kec. Muara Enim 124 HA 5.000.000 500.000 200.000 Ds. Kota Padang Kec. SDT 1 HA 2.650.000 500.000 Pengembangan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perdesaan Pengembangan Sarana & Prasarana KWS Agropolitan Ds. Aur Duri Kec. Rambang Dangku 1 HA 3.000.000 500.000 400.000 Tahun 2021 10.650.000 1.000.000 1.100.000

(14)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-14 7.2 Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan

7.2.1 Kondisi Eksisting

Tabel 7.5 Pengaturan IMB Pasal dan Ayat Norma Pengaturan

Dalam Ranperda

Penjelasan

Pasal 92 Pengaturan Retribusi IMB Pengaturan retribusi IMB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 ayat (6) meliputi:

a. jenis kegiatan dan obyek yang dikenakan retribusi; b. penghitungan besarnya retribusi IMB;

c. indeks penghitungan besarnya retribusi IMB; d. harga satuan (tarif) retribusi IMB.

Pasal 101 ayat 2 Penundaan IMB Penundaan penerbitan IMB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali untuk jangka waktu tidak lebih dari 2 (dua) bulan terhitung sejak penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 102 Ayat 1,2,3,4,5,6

Penolakan IMB 1. Surat penolakan permohonan IMB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) harus sudah diterima pemohon dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari setelah surat penolakan dikeluarkan bupati.

2. Pemohon dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari setelah menerima surat penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan keberatan kepada bupati.

3. Bupati dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari setelah menerima keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memberikan jawaban tertulis terhadap keberatan pemohon.

4. Jika pemohon tidak melakukan hak sebagaimana maksud pada ayat (2) pemohon dianggap menerima surat penolakan tersebut.

5. Jika bupati tidak melakukan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bupati dianggap menerima alasan keberatan pemohon sehingga bupati harus menerbitkan IMB.

Pemohon dapat melakukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara apabila bupati tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (5).

(15)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-15

Tabel 7.6

Pengaturan Pendataan BG Pasal dan Ayat Norma Pengaturan

Dalam Ranperda

Penjelasan

Pasal 117 Ayat 1,2,3,4,5

Pendataan BG 1. Bupati wajib melakukan pendataan Bangunan Gedung untuk keperluan tertib administrasi pembangunan dan tertib administrasi Pemanfaatan Bangunan Gedung. 2. Pendataan Bangunan Gedung sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) meliputi Bangunan Gedung baru dan Bangunan Gedung yang telah ada.

3. Khusus pendataan Bangunan Gedung baru, dilakukan bersamaan dengan proses IMB, proses SLF dan proses sertifikasi kepemilikan Bangunan Gedung.

4. Bupati wajib menyimpan secara tertib data Bangunan Gedung sebagai arsip Pemerintah Daerah.

5. Pendataan Bangunan Gedung fungsi khusus dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan berkoordinasi dengan Pemerintah.

Tabel 7.7 Pengaturan SLF Pasal dan Ayat Norma Pengaturan

Dalam Ranperda

Penjelasan

Pasal 116 ayat 1- ayat 6

Tata Cara Penerbitan SLF

1) Penerbitan SLF Bangunan Gedung dilakukan atas dasar permintaan pemilik/Pengguna Bangunan Gedung untuk Bangunan Gedung yang telah selesai pelaksanaan konstruksinya atau untuk perpanjangan SLF Bangunan Gedung yang telah pernah memperoleh SLF.

2) SLF Bangunan Gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dengan mengikuti prinsip pelayanan prima dan tanpa pungutan biaya.

3) SLF Bangunan Gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah terpenuhinya persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi dan Klasifikasi Bangunan Gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 9. 4) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada

ayat (1):

5) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut:

6) Data hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dicatat dalam daftar simak, disimpulkan dalam surat pernyataan pemeriksaan kelaikan fungsi Bangunan Gedung atau rekomendasi pada pemeriksaan pertama dan Pemeriksaan Berkala.

Pasal 123 Tata Perpanjangan SLF 1) Perpanjangan SLF Bangunan Gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 124 diberlakukan untuk Bangunan Gedung yang telah dimanfaatkan dan masa berlaku SLF-nya telah habis.

2) Ketentuan masa berlaku SLF sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yaitu:

3) Pengurusan perpanjangan SLF Bangunan Gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat 60 (enam puluh) hari kalender sebelum berkhirnya masa berlaku SLF dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(16)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-16 4) Pengurusan perpanjangan SLF dilakukan setelah pemilik/

pengguna/pengelola Bangunan Gedung memiliki hasil pemeriksaan/kelaikan fungsi Bangunan Gedung berupa: 5) Permohonan perpanjangan SLF diajukan oleh pemilik/

pengguna/pengelola Bangunan Gedung dengan dilampiri dokumen:

6) Pemerintah Daerah menerbitkan SLF paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (5).

7) SLF disampaikan kepada pemohon selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal penerbitan perpanjang

Pasal 124 Tata Cara

Perpanjangan

Tata cara perpanjangan SLF diatur lebih lanjut dalam peraturan bupati.

Tabel 7.8 Pengaturan TABG Pasal dan Ayat Norma Pengaturan

Dalam Ranperda

Penjelasan

Pasal 139 Ayat 1,2

Pembentukan TABG 1. TABG dibentuk dan ditetapkan oleh Bupati Muara Enim. 2. TABG sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sudah

ditetapkan oleh Bupati selambatlambatnya 6 (enam) bulan setelah peraturan daerah ini dinyatakan berlaku efektif. Pasal 140 Ayat

1 sd 6

Keanggotaan TABG 1. Susunan keanggotaan TABG 2. Unsur keanggotaan

3. Keterwakilan unsur-unsur asosiasi profesi, perguruan tinggi, dan masyarakat ahli termasuk masyarakat adat, minimum sama dengan keterwakilan unsur-unsur instansi Pemerintah Kab. Muara Enim

4. Keanggotaan TABG tidak bersifat tetap.

5. Setiap unsur diwakili oleh 1 (satu) orang sebagai anggota. 6. Nama-nama anggota TABG diusulkan oleh asosiasi

profesi, perguruan tinggi dan masyarakat ahli termasuk masyarakat adat yang disimpan dalam database daftar anggota TABG

Pasal 141 Ayat 1 sd 3

Tugas dan Fungsi 1. Tugas TABG 2. Fungsi TABG

3. Tugas selain tugas pokok Pasal 142 Ayat

1,2

Masa Kerja 1. Masa kerja TABG ditetapkan 1 (satu) tahun anggaran. 2. Masa kerja TABG dapat diperpanjang

sebanyak-banyaknya 2 (dua) kali masa kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 143 Ayat 1,2,3,4

Pembiayaan TABG 1. Biaya pengelolaan database dan operasional anggota TABG dibebankan pada APBD Pemerintah Kab. Muara Enim

2. Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

b. Biaya pengelolaan database. c. Biaya operasional TABG

3. Pelaksanaan pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengikuti peraturan perundang-undangan.

4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Bupati Muara Enim.

(17)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-17

Tabel 7.9

Kajian penyelenggaraan, Kondisi Eksisting dan Permasalahan

KEGIATAN KAJIAN BERDASAR UU, PP, Permen KONDISI

EKSISITING PERMASALAHAN PEMBANGUNAN: PROSES PERENCANAAN TEKNIS DAN PROSES PELAKSANAAN KONSTRUKSI Proses Perencanaan  Persyaratan Tata bangunan

 Peruntukan dan intensitas

 Arsitektur Bangunan gedung

 Pengendalian dampak Lingkungan

 RTBL

 Persyaratan Keandalan bangunan gedung

 Keselamatan + Kebakaran

 kesehatan

 kenyamanan

 Kemudahan (fasilitas dan

aksesibilitas) Belum ada Perda Belum mempunyai perda menyangkut proses perencanaan shg pelaksanaan di lapangan memiliki kendala dalam hal pemantauan thd proses perencanaan

Proses Perencanaan Bangunan gedung Adat

 Kearifan Lokal

 Kaidah tradisional

 keahlian bidang bangunan gedung/ rumah adat

 pemanfaatan unsur/idiom

tradisional bangunan gedung baru

 Persyaratan  administratif  teknis Belum ada Perda Belum mempunyai perda menyangkut proses perencanaan menyangkut bangunan adatdan bagaimana penetapan rumah adat

Proses Perencanaan Bangunan Gedung Semi Permanen dan Bangunan Gedung Darurat  Bangunan gedung semi permanen

 Bangunan gedung darurat

Persyaratan Belum ada Perda Belum mempunyai perda menyangkut proses perencanaan mengenai BG semi permanen dan bg darurat

Proses Perencanaan Bangunan Gedung di Lokasi Berpotensi Bencana Alam

 di Lokasi Pantai

 di Lokasi jalur Gempa bumi

 di Lokasi sekitar gunung berapi

 di Lokasi banjir

 di Lokasi tanah Longsor

Belum ada Perda Belum mempunyai perda menyangkut proses perencanaan BG di lokasi berpotensi bencana alam

Proses Pelaksanaan konstruksi Pemeriksaan oleh Pemda

Pengawasan Pelaksanaan konstruksi

Penyedia jasa pengawasan/MK

Belum ada Perda Belum mempunyai perda menyangkut proses pelaksanaan konstruksi

Penyelesaian Konstruksi Bangunan Gedung

 Pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung

 Proses tata cara penerbitan SLF bangunan gedung (tidak ada retribusi dalam pemberian SLF)

 Penggolongan bangunan gedung tatacara penerbitan SLF bangunan gedung Belum ada Perda Belum mempunyai perda menyangkut proses SLF sehingga tidak melalulan proses

pemeriksaan kelaikan fungsi secara khusus

(18)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-18 KEGIATAN KAJIAN BERDASAR UU, PP, Permen KONDISI

EKSISITING PERMASALAHAN PEMANFAATAN: PEMELIHARAAN, PERAWATAN, PEMERIKSAAN SECARA BERKALA, PERPANJANGAN SERTIFIKAT LAIK FUNGSI, DAN PENGAWASAN PEMANFAATAN BANGUNAN GEDUNG. Pemeliharaan

 Pemeliharaan bangunan gedung harus dilakukan oleh pemilik dan/ pengguna bangunan gedung dan dapat menggunakan penyedia jasa pemeliharaan bangunan gedungyang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

 Dlm hal pemeliharaan menggunakan

penyedia jasa pemeliharaan,

pengadaan jasa pemeliharaaan dilakukan melalui pelelangan,

pemilihan langsung atau

penunjukkan langsung Belum banyak pengalaman mengingat usia otonami daerah yang relatif belum genap dua tahun. Pelaksanaan di lapangan, pemeliharaan BG merupakan tanggung jawab pemilik dan pengguna BG Belum mempunyai perda menyangkut proses pemeliharaan gedung  Perawatan

 Perawatan bangunan gedung dapat dilakukan oleh pemilik dan / pengguna bangunan gedung dan dapat menggunakan penyedia jasa perawatan bangunan gedung yang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

 Dalam hal perawatan menggunakan penyedia jasa pemeliharaan, maka

pengadaan jasa pemeliharaaan dilakukan melalui pelelangan,

pemilihan langsung atau

penunjukkan langsung.

 Hubungan kerja antar antara penyedia jasa perawatan bangunan gd dan pemilik /pengguna bangunan

gedung harus dilaksanakan

berdasarkan ikatan kerja tertentu yang dituangkan dalam perjanjian tertulis sesuai dengan perundangan yang berlaku.

 Perbaikan dan atau pergantian dalam kegiatan perawatan bangunan gedung dalam tingkat kerusakan sedang dan berat dilakukan setelah dokumen rencana teknis perawatan bangunan disetujui oleh pemerintah pusat.

 Persetujuan rencana teknis

perawatan bangunan gedung

tertentu dan memiliki kompleksitas teknis tinggi dilakukan setelah mendapat pertimbangan TABG.

 Hasil kegiatan perawatan bangunan gedung dituangkan dlm laporan perawatan yang digunakan untuk pertimbangan penetapan SLF yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

Belum banyak pengalaman mengingat usia otonami daerah yang relatif belum genap dua tahun. Pelaksanaan di lapangan, perawatan BG merupakan tanggung jawab pemilik dan pengguna BG Belum mempunyai perda menyangkut proses perawatan gedung

(19)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-19 KEGIATAN KAJIAN BERDASAR UU, PP, Permen KONDISI

EKSISITING PERMASALAHAN Pemeriksaan secara berkala

 Pemeriksaan berkala bangunan gedung dilakukan oleh pemilikdan / pengguna bangunan gedung dan dpt

menggunakan penyedia jasa

pengkajian teknis bangunan gedung yang memiliki sertifikat yang sesuai dg peraturan perundang-undangan

 Pemeriksaan secara berkala bangunan gedung dilakukan untuk seluruh atau sebagian bangunan bangunan gedung, komponen bahan bangunan, dan / atau prasarana dan sarana dalam rangka pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung guna memperoleh perpanjangan SLF

 Dalam hal pemeriksaan secara berkala menggunakan penyedia jasa pengkajian teknis bangunan gedung, maka pengadaan jasa pengkajian teknis bangunan gedung dilakukan melalui pelelangan pemilihan

langsung atau penunjukkan

langsung.

 Hubungan kerja antar antara penyedia jasa pengkajian teknis bangunan gd dan pemilik /pengguna

bangunan gedung harus

dilaksanakan berdasarkan ikatan kerja tertentu yang dituangkan dalam perjanjian tertulis sesuai dengan perundangan yang berlaku.

 Pengkajian teknis bangunan gedung dilakukan berdasarkanh Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan dokumen ikatan kerja

 Dalam hal belum terdapat penyedia jasa pengkajian teknis, maka pengkajian teknis dilakukan oleh pemerintah. Belum banyak pengalaman mengingat usia otonami daerah yang relatif belum genap dua tahun. Pelaksanaan di lapangan, pemeriksaan berkala BG merupakan tanggung jawab pemilik dan pengguna BG. Belum mempunyai perda menyangkut proses pemeriksaan berkala bangunan gedung

Proses tata cara perpanjangan SLF

bangunan gedung.

 Perpanjangan SLF bangunan

gedung pada masa pemanfaatan diterbitkan oleh pemerintah pusat

 Perpanjangan SLF pada masa pemanfaatan diterbitkan berdasarkan hasil pemeriksaan kelaikan fungsi

bangunan gedung terhadap

pemenuhan persyaratan teknis dan fungsi bangunan sesuai dengan IMB

 Masa berlaku perpanjangan SLF untuk rumah tinggal tunggal dan rumah tinggal deret jangka waktu 20 tahun, dan jangka waktu 5 tahun untuk bangunan gedung lainnya.

 Pemilik dan / atau pengguna bangunan gedung wajib mengajukan permohonan perpanjangan SLF kepada pemerintah pusat paling lambat 60 hari kalender sebelum masa berlaku SLF berakhir

 SLF bangunan gedung diberikan

Belum banyak pengalaman mengingat usia otonami daerah yang relatif belum genap dua tahun.

Masih merupakan hal baru bagi daerah

(20)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-20 KEGIATAN KAJIAN BERDASAR UU, PP, Permen KONDISI

EKSISITING PERMASALAHAN

atas dasar permintaan pemilik bangunan untuk seluruh atau sebagian bangunan gedung sesuai dengan hasil pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung.

 Pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung dilakuikan oleh penyedia jasa pengkajian teknis bangunan gedung.

Pengawasan dan Pemanfaatan

bangunan gedung

Pengawasan terhadap pemanfaatan bangunan gedung dilakukan oleh pemerintah dan / atau pemerintah daerah pada saat pengajuan

perpanjangan SLF dan / atau adanya laporan dari masyarakat

Belum banyak pengalaman mengingat usia otonami daerah yang relatif belum genap dua tahun. Belum mempunyai perda menyangkut proses pengawasan dan pemanfaatan BG PELESTARIAN: MELIPUTI KEGIATAN PENETAPAN DAN PEMANFAATAN TERMASUK PERAWATAN DAN PEMUGARAN SERTA KEGIATAN PENGAWASANNYA

 pendaftaran bangunan gedung yang dilindungi dan dilestarikan

 penetapan sebagai sebagai bangunan yang dilindungi dan dilestarikan

 pemanfaatan

Pemanfaatan bangunan gedung yang dilindungi dan dilestarikan harus sesuai dengan kaidah pelestarian dan klasifikasi bangunan gedung yang dilindungi. (Peraturan Pemerintah R.I No.36/2005 : pasal 87) Belum banyak pengalaman mengingat usia otonami daerah yang relatif belum genap dua tahun. Belum mempunyai perda terkait proses

pelestarian BG PEMBONGKARAN: MELIPUTI PENETAPAN PEMBONGKARAN DAN PELAKSANAAN PEMBONGKARAN SERTA PENGAWASAN PEMBONGKARAN Perencanaan pembongkaran  Proses tata cara pembongkaran

 Rencana teknis pembongkaran

penyedia jasa pembongkaran

. Kegiatan perencanaan pembongkaran belum ada pedomannya sehingga belum pernah dilakukan secara terstruktur Belum mempunyai perda menyangkut proses perencanaan pembongkaran dan teknis nya Penetapan Pembongkaran

 Bangunan gedung dapat dibongkar apabila tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki

 Bangunan gedung dapat dibongkar apabila dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan gedung dan / atau lingkungannya

 Bangunan gedung dapat dibongkar apabila : tidak memiliki izin mendirikan

bangunan dan Pemerintah

menetapkan bangunan tersebut untuk dibongkar dengan surat penetapan pembongkaran

 Pemerintah dan / atau pemda mengidentifikasi bangunan gedung yang akan ditetapkan untuk dibongkar berdasarkan hasil pemeriksaan dan /atau laporan dari masyarakat

 Berdasarkan hasil identifikasi seperti tersebut di atas, pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung wajib

melakukan pengkajian teknis

Kegiatan penetapan pembongkaran belum ada pedomannya sehingga belum pernah dilakukan secara terstrukt ur Belum mempunyai perda menyangkut proses penetapan pembongkaran dan teknis nya

(21)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-21 KEGIATAN KAJIAN BERDASAR UU, PP, Permen KONDISI

EKSISITING PERMASALAHAN

bangunan gedung dan menyampaikan hasilnya kepada Pemerintah daerah, kecuali bangunan fungsi khusus kepada Pemerintah

 Apabila hasil pengkajian teknis bangunan gedung memenuhi kriteria sebagaimana yang dimaksud di atas,

maka pemerintah menetapkan

bangunan gedung tersebut untuk dibongkar dengan surat penetapan

 Isi surat penetapan pembongkaran memuat batas waktu pembongkaran, prosedur pembongkaran dan ancaman sanksi.

Pelaksanaan Pembongkaran

 Dalam hal pemilik dan / atau pengguna bangunan gedung tidak melaksanakan pembongkaran dalam batas waktu yang ditentukan, maka pembongkaran dilakukan oleh Pemerintah yang dapat

menunjuk penyedia jasa

pembongkaran bangunan gedung atas biaya pemilik

 Pemilik bangunan dapat mengajukan

pembongkaran bangunan gedung

dengan memberikan pemberitahuan tertulis kepada pemerintah daerah, kecuali bangunan gedung fungsi khusus kepada pemerintah, disertai laporan terakhir hasil pemeriksaan berkala

 Dalam hal pemilik bangunan gedung bukan pemilik tanah, maka usulan

pembongkaran harus mendapat

persetujuan pemilik tanah

Pelaksanaan pembongkaran

bangunan gedung harus memenuhi prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) Kegiatan pelaksanaan pembongkaran belum ada pedomannya sehingga belum pernah dilakukan secara terstruktur Belum mempunyai perda menyangkut proses pelaksanaan pembongkaran dan teknis nya Pengawasan  Pengawasan pelaksanaan

pembongkaran bangunan gedung

dilakukan oleh penyedia jasa pengawasan yang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan perundang-undangan

 Hasil pengawasan pelaksanaan

pembongkaran bangunan gedung

dilaporkan secara berkala kepada pemerintah

 Pemerintah melakukan pengawasan secara berkala atas kesesuaian laporan pelaksanaan pembongkaran dengan rencana teknis pembongkaran

. Kegiatan pengawasan pembongkaran belum ada pedomannya sehingga belum pernah dilakukan secara terstruktur Belum mempunyai perda menyangkut proses pengawasan pembongkaran dan teknis nya

PENYELENGGARAAN BANGUNAN GEDUNG PASCABENCANA

Perencanaan Teknis

 Dokumen Rencana Teknis

 Proses tata cara penerbitan IMB

 Penggolongan bangunan gedung

 tata cara penerbitan IMB

 Dokumen IMB Perda hanya membahas mengenai Pembentukan Organisasi dan tata kerja badan penanggulangan

bencana

Belum mempunyai perda menyangkut proses perencanaan

(22)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-22 KEGIATAN KAJIAN BERDASAR UU, PP, Permen KONDISI

EKSISITING PERMASALAHAN REHABILITASI PASCABENCANA

Rumah tinggal satu lantai tahan gempa

 alternatif konstruksi

 persyaratan pokok

 dokumen rencana teknis

 proses tata cara penerbitan IMB

 proses tata cara penerbitan SLF bangunan gedung Perda hanya membahas mengenai Pembentukan Organisasi dan tata kerja badan penanggulangan

bencana

Belum mempunyai perda menyangkut proses perencanaan

(23)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-23 7.2.2 Sasaran Program

Tabel 7.10

Matriks Sasaran Program Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan

No Uraian Sasaran Program Sasaran Penanganan

Sasaran Program

2017 2018 2019 2020 2021 1 Penataan Orientasi Kawasan

- Pembuatan Gerbang Kota sebagai batas dan ciri kawasan √ √

- Pembuatan jalur hijau pengarah √ √ √

- Penataan orientasi masa bangunan dan skyline kawasan √ √ √ √

- Pengaturan ukuran dan letak signage √

2 Pengaturan fungsi bangunan

- Pengaturan fungsi bangunan √ √ √ √ √

- Pengaturan sektor informal dan kegiatan temporer

3 Penataan Bangunan dan Kapling

- Pengaturan GSB √ √ √ √ √

- Pengaturan KDB √ √ √ √ √

- Pengaturan KLB √ √ √ √ √

- Pengaturan Ketinggian Bangunan √ √ √ √ √

- Pengaturan Jarak Bebas √ √ √ √ √

- Pengaturan Sempadan Samping dan Belakang √ √ √ √ √

- Pengaturan Masa Bangunan √ √ √ √ √

- Pengaturan Tipologi dan Arsitektur Bangunan √ √ √ √ √

4 Peningkatan Sistem Transportasi Darat

- Perencanaan dan Perbaikan Jalur Pedestrian √

- Peningkatan mode transportasi darat beserta fasiltas pemberhentiannya

- Penataan rute/jalur, tempat pemberhentian dan pangkalan moda transportasi

√ √

- Penyediaan street furniture √

- Penyediaan lahan parkir √

(24)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-24

- Penempatan pipa distribusi pada jalur pedestrian √ √ √

- Perluasan jaringan perpipaan √ √ √ √ √

6 Penataan Jaringan Drainase yang Terpadu yang Antisipatif Terhadap Bahaya Banjir

- Pengadaan Saluran Drainase √ √ √

- Perbaikan dan Perawatan Saluran Drainase Kota Maupun Lingkungan

7 Peningkatan Pengelolaan Limbah dan Peran Serta Masyarakat Swasta

- Penambahan Sarana Penyedotan Lumpur Tinja - Sosialisasi Kesehatan dan Lingkungan

- Dorongan kepada Masyarakat untuk Membangun Pengolahan Limbah secara Swadaya

- Pembangunan IPAL Terpadu

8 Perencanaan Titik Hidran untuk Mencegah Bahaya Kebakaran

- Penyediaan Hidran Kota

- Penyediaan Hidran di Fasilitas Umum dan Ruang-ruang Publik

- Penyediaan Hidran di Wilayah Lingkungan dengan Kepadatan Tinggi Maupun Rendah

√ √ √ √ √

9 Pengadaan Kemudahan Sarana Telekomunikasi Umum

- Penyediaan Telepon Umum di Ruang-ruang Publik √ √ √ √ √

- Penempatan Fasilitas Jasa Telepon di Pusat Keramaian √ √ √

- Penempatan Telepon Umum dengan Halte √ √

10 Pengelolaan Sampah

- Sosialisasi Konsep Penanganan Sampah (3R) - Penyediaan Peralatan Pengumpulan (waste bin)

- Penyediaan Peralatan Pengangkutan √ √

- Penyediaan Bak Sampah

11 Peningkatan Pengadaan Penerangan Tempat Umum

- Pemerataan Penerangan Jalan √

(25)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-25

12 Peningkatan Jalur Hijau

- Penyediaan Jalur Hijau pada Jalur Pedestrian √ √ √ √ √

- Penyediaan Jalur Hijau pada Jalur Jalan √ √ √ √ √

- Penyediaan Jalur Hijau pada Halaman Bangunan √ √ √ √ √

- Perencanaan dan Pembangunan Sarana Hijau Kota √ √ √ √

7.2.3 Usulan Kegiatan Program

Tabel 7.11

Matriks Usulan Kebutuhan Program Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan

No Kegiatan Penataan Bangunan Dan Lingkungan Satuan

Rencana Program Ket Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V 1 Revitalisasi dan Pengembangan Kawasan Tematik

Perkotaan

- Penataan Taman dalam Kota Muara Enim 1 KWS √

- Penambahan Sarana dan Prasarana Taman (P2KH) Rumah Tumbuh

1 KWS √

- Pembangunan Ruang Terbuka Hijau Islamic Center (P2KH)

1 KWS √

- Pembangunan Sarana dan Prasarana Kolam Retensi 1 KWS √

- Kegiatan Festival Hijau 1 KWS √

- Pembibitan Bunga 1 KWS √

- Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Kota Hijau 1 KWS √

- Pemeliharaan taman / tugu dan Gapura dalam Kota Muara Enim

1 KWS √

- Pembangunan Taman Out Bond 1 KWS √

- Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (P2KH) 1 KWS √

(26)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-26

- Sosialisasi Perda Bangunan Gedung 1 KWS √

- Kegiatan Festival Hijau 1 KWS √

- Pembibitan Bunga 1 KWS √

- Pembuatan Agro Park 1 KWS √

- Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Kota Hijau 1 KWS √

- Pemeliharaan Taman / Tugu dan Gapura dalam Kota Muara Enim

1 KWS √

- Pembangunan Penataan Kota Hijau 1 KWS √

- Penataan Taman dalam Kota Muara Enim 1 KWS √

2 Penataan Bangunan dan Lingkungan Strategis

- RTBL Kawasan Strategis Nasional 1 KWS √

- Penyusunan Desain dan DED Kawasan Strategis Nasional Kawasan Tanjung Enim

1 KWS √

- Penataan Bangunan Kawasan Strategis Nasional Kawasan Tanjung Enim

(27)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-27 Tabel 7.12

Matriks Usulan Pembiayaan Sektor Pengembangan Penataan Bangunan dan Lingkungan

No Out Put Uraian Paket Lokasi Vol Satuan Sumber Pendanaan x Rp. 1.000

APBN APBD Prov. APBD Kab./Kota RTBL Kesiapan Lahan DED Dhana Sharing RPM PHLN 1 Revitalisasi dan Pengembangan Kawasan Tematik Perkotaan

Penataan Taman dalam Kota Muara Enim

Kel. Pasar 1 Kec.

Muara Enim 1 KWS 2.000.000 2017 TOTAL 2017 2.000.000 2 Revitalisasi dan Pengembangan Kawasan Tematik Perkotaan 1. Penambahan Sarana dan Prasarana Taman (P2KH) Rumah Tumbuh

Kel. Pasar 1 Kec.

Muara Enim 1 KWS 2.000.000 2018

2. Pembangunan Ruang Terbuka Hijau Islamic Center (P2KH)

Ds. Kepur Kec.

Muara Enim 1 KWS 5.000.000 2018

3. Pembangunan Sarana dan Prasarana Kolam Retensi

Kel. Pasar 1 Kec.

Muara Enim 1 KWS 10.000.000 2018

- Pembuatan Pedestrian Kel. Pasar 1 Kec.

Muara Enim 1 KWS 5.000.000 2018

4. Kegiatan Festival Hijau Kel. Pasar 1 Kec.

Muara Enim 1 KWS 150.000 2018

5. Pembibitan Bunga Kel. Pasar 1 Kec.

Muara Enim 1 KWS 200.000 2018

6. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Kota Hijau

Kel. Pasar 1 Kec.

Muara Enim 1 KWS 100.000 2018

7. Pemeliharaan taman / tugu dan Gapura dalam Kota Muara Enim

Kel. Pasar 1 Kec.

Muara Enim 1 KWS 200.000 2018

8. Pembangunan Taman Out Bond

Kel. Air Lintang

Kec. Muara Enim 1 KWS 3.000.000 2018

TOTAL 2018 7.150.000 13.000.000 5.500.000 3 Revitalisasi dan Pengembangan Kawasan Tematik Perkotaan 1. Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (P2KH) Ds. Kepur Kec. Muara Enim 1 KWS 5.000.000 2019

2. Penataan Taman dalam Kota Muara Enim

Kel. Pasar 1 Kec.

Muara Enim 1 KWS 2.000.000 2019

3. Sosialisasi Perda Bangunan Gedung

Kel. Muara Enim

Kec. Muara Enim 1 KWS 150.000 2019

4. Kegiatan Festival Hijau Kel. Muara Enim

(28)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-28

5. Pembibitan Bunga Kel. Air Lintang

Kec. Muara Enim 1 KWS 200.000 2019

6. Pembuatan Agro Park Kel. Air Lintang

Kec. Muara Enim 1 KWS 5.000.000 2019

7. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Kota Hijau

Kel. Air Lintang

Kec. Muara Enim 1 KWS 100.000 2019

8. Pemeliharaan Taman / Tugu dan Gapura dalam Kota Muara Enim

Kel. Air Lintang

Kec. Muara Enim 1 KWS 200.000 2019

TOTAL 2019 5.000.000 5.000.000 2.850.000 4 Revitalisasi dan Pengembangan Kawasan Tematik Perkotaan 1. Pembangunan Penataan Kota Hijau Ds. Kepur Kec. Muara Enim 1 KWS 2.500.000 2020

2. Penataan Taman dalam Kota Muara Enim

Kel. Pasar 1 Kec.

Muara Enim 1 KWS 450.000 2020 Penyelenggaraan Penataan Bangunan dan Lingkungan 3. RTBL Kawasan Strategis Nasional

Kel. Muara Enim

Kec. Muara Enim 2500 M

2

1.000.000 2020

4. Penyusunan Desain dan DED Kawasan Strategis Nasional Kawasan Tanjung Enim Kel. Tanjung Enim Kec. Lawang Kidul 5000 M 2 500.000 2020 TOTAL 2020 4.450.000 Penyelenggaraan Penataan Bangunan dan Lingkungan Penataan Bangunan Kawasan Strategis Nasional Kawasan Tanjung Enim Kel. Tanjung Enim Kec. Lawang Kidul 5000 M 2 5.000.000 2021 TOTAL 2021 5.000.000 TOTAL 21.600.000 18.000.000 10.850.000

(29)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-29 7.3 Sektor Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)

7.3.1 Kondisi Eksisting 1. Aspek Tekins

1.1 SPAM Ibukota Kabupaten A. Cabang Muara Enim a) Unit Air Baku

Kota Muara Enim diapit oleh 2 sungai besar, sebelah Barat Kota Muara Enim dialiri Sungai Lematang dimana hulu Sungai Lematang berada di Kabupaten Lahat, sedangkan di tengah kota dialiri Sungai Enim dimana Hulu Sungai Enim berada di Kabupaten Oku. Kapasitas Sungai Lematang pada musim kemarau yaitu 10-20 m3/detik, sedangkan Sungai Enim pada musim kemarau yaitu 60-65 m3 / detik.

Sumber air baku unit Talang Jawa yang dipergunakan adalah air permukaan yang diambil dari Sungai Lematang. Intake yang dipakai pada sistem ini adalah Intake Sumuran. Debit pengambilan air baku sementara ini sebanyak 60 l/dt, jarak intake ke IPAL sekitar 800 m dengan menggunakan pipa GIP berdiameter 200 mm, sedangkan water meter induk untuk air baku tidak ada. Sistem pengaliran air baku dengan sistem pemompaan dimana pompa yang digunakan adalah pompa centrifugal sebanyak 2 unit dengan kapasitas 60 l/dt dn head 50 m dan 1 unit dengan kapasitas 40 l/dt dan head 40 m.

Sedangkan unit Pelita Sari sumber air baku yang digunakan adalah air baku permukaan yang diambil dari Sungai Enim. Intake yang dipakai pada sistem ini adalah intake sumuran. Debit pengambilan air baku ini sebanyak 50 l/dt.

(30)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-30 Sistem pengaliran air baku dengan sistem pemompaan dimana pompa yang digunakan adalah pompa Submersible sebanyak 1 unit dengan kapasitas 30 l/dt dan head 70 m dan pompa centrifugal kapasitas 50 l/dt dan head 75 m.

b) Unit Produksi

Unit produksi yang ada di Kabupaten Muara Enim adalah:

- IPA Talang Jawa dengan kapasitas 60 liter/detik melayani Kecamatan Muara Enim

- IPA Pelita Sari kapasitas 50 liter/detik melayani Kota Enim

Sistem distribusi dan pelayanan menggunakan sistem perpompaan dengan menggunakan pompa centrifugal. Air didistribusikan dari reservoir yang ada di sekitar IPA, pendistribusian air minum dilakukan rata-rata selama 24

jam/hari. Reservoir yang ada di Muara Enim terdiri dari : - Lokasi IPA Talang Jawa kapasitas reservoir 2 x 320 m3 - Lokasi Pelita Sari kapasitas reservoir 1x 320 m3

c) Distribusi dan Pelayanan

Distribusi di Muara Enim dari kedua unit produksi menggunakan pompa distribusi dengan jenis centrifugal dengan masing-masing tekanan pompa yaitu antara 40-50 m dan dilengkapi dengan hydrophore namun tidak difungsikan. Wilayah pelayanan air minum yang ada saat ini di Kecamatan Muara Enim mencakup 9 Kelurahan seperti tersaji pada tabel 7.13

(31)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-31

Tabel 7.13

Dimensi Jaringan Pipa Distribusi Muara Enim

Diameter (mm) Jenis Pipa Jumlah DCIP ACP GIP PVC

250 - 220 - 1.100 1.320 200 - 4.340 - 1.000 5.340 150 - 4.378 - 4.800 9.178 100 - - - 22.481 22.481 75 - - - 18.931 18.931 60 - - - - - 50 - - - 25.780 25.780 40 - - - - - Total - - 74.092 83.030

Sumber : PDAM Muara Enim 2014

Instalasi Pompa Distribusi Talang Jawa

1. Pompa distribusi I (centrifugal), KW=22/30 HP, Q=30 l/dt, H=50 m 2. Pompa distribusi II (centrifugal), KW=22/30 HP, Q=30 l/dt, H=50 m 3. Pompa distribusi III (centrifugal), KW=55 HP, Q=60 l/dt, H=50 m 4. Pompa distribusi IV (centrifugal), KW=15/20 HP, Q=30 l/dt, H=50 m 5. Pompa distribusi V (centrifugal), KW=55/75 HP, Q=60 l/dt, H=50 m 6. Pompa distribusi VI (centrifugal), KW=22/30 HP, Q=30 l/dt, H=50 m Instalasi Pompa Distribusi Karang Asem

1. Pompa distribusi I, KW=18,5/25 HP, Q=20 l/dt, H=50 m 2. Pompa distribusi II, KW=18,5/30 HP, Q=20 l/dt, H=50 m 3. Pompa distribusi III, KW=45/60 HP, Q=40 l/dt, H=40 m

Wilayah pelayanan air minum yang ada saat ini di Kecamatan Muara Enim mencakup 9 kelurahan, yaitu:

1. Kelurahan Muara Enim I 2. Kelurahan Muara Enim II 3. Kelurahan Muara Enim III 4. Kelurahan Air Lintang

(32)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-32 5. Kelurahan Tungkal Muara Enim

6. Kelurahan Muara Enim 7. Desa Lubuk Empelas 8. Desa Tanjung Jati 9. Desa Muara Lawai

Mengenai jumlah pelanggan di cabang Muara Enim dapat dilihat pada tabel 7.14

Tabel 7.14

Jumlah Pelanggan Cabang Muara Enim

No Jenis Pelayanan Jumlah

Pelanggan SL

Jumlah Kubikasi m3

1 Hidran Umum 52 2.619

2 Kamar Mandi dan WC Umum 3 183

3 Tempat Ibadah 49 1.423

4 Panti Asuhan/Yayasan 8 696

5 Sekolah Negeri 57 2.166

6 Rumah Sakit Pemerintah 9 4.147

7 Instansi Pemerintak Tk. Kecamatan 16 220

8 Rumah Selain RSS 6.776 127.758

9 Niaga Kecil 329 7.856

10 Instansi Pemerintah dan ABRI Tk. Kabupaten 78 6.894

11 Industri dan Niaga Besar 10 455

Total 7.387 154.417

Sumber : PDAM Muara Enim 2014

B. Cabang Tanjung Enim a) Unit Air Baku

Sumber air baku instalasi Talang Gabus yang digunakan adalah air permukaan yang diambil dari Sungai Enim. Intake yang dipakai pada sistem ini adalah intake sumuran. Debit pengambilan air baku sementara ini sebanyak 40 l/dt, jarak dari intake ke IPA sekitar 350 m dengan menggunakan pipa Steel berdiameter 350 mm sedangkan water meter induk diameter 200 mm untuk air baku ada namun sudah tidak berfungsi

(33)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-33 lagi. Sistem pengaliran air baku dengan menggunakan pemompaan dimana pompa yang digunakan adalah pompa Submersibel sebanyak 2 unit dengan kapasitas 40 l/dt dan heada 25 m dan pompa submersibel kapasitas 20 l/dt dan head 20 m.

Sumber air baku instalasi Karang Asem yang digunakan adalah air permukaan yang diambil dari Sungai Enim. Intake yang dipakai pada sistem ini adalah intake sumuran. Debit pengambilan air baku sementara ini sebanyak 40 l/dt, jarak dari intake ke IPA sekitar 600 m dengan menggunakan pipa Steel berdiameter 250 mm sedangkan water meter induk diameter sudah tidak berfungsi lagi.

Sistem pengaliran air baku dengan menggunakan pemompaan dimana pompa yang digunakan adalah pompa Centrifugal sebanyak 2 unit dengan kapasitas 40 l/dt dan

heada 60 m dan pompa submersibel kapasitas 30 l/dt dan head 75 m.

b) Unit Produksi

Unit produksi yang terdapat di Tanjung Enim adalah:

- IPA Talang Gabus dengan kapasitas 2x20 liter/detik dan melayani wilayah Kota Tanjung Enim

- IPA Karang Asem dengan kapasitas 40 liter/detik dan melayani wilayah Kota Tanjung Enim

Sistem distribusi dan pelayanan menggunakan sistem perpompaan dengan menggunakan pompa centrifugal. Air didistribusikan dari reservoir yang ada di sekitar IPA pendistribusian air minum dilakukan rata-rata selama 24 jam/hari. Reservoir yang ada di Tanjung Enim terdiri dari :

(34)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-34 - IPA Talang Jawa kapasitas reservoir 2 x 30 m3

- IPA Pelita Sari kapasitas reservoir 1 x 30 m3 - Unit distribusi dan pelayanan

c) Distribusi dan Pelayanan

Distribusi di Muara Enim dari kedua unit produksi menggunakan pompa distribusi dengan jenis centrifugal, dengan masing-masing tekanan yaitu 40-50 meter, dan dilengkapi dengan hydropore namun tidak difungsikan.

Instalasi Pompa Distribusi Karang Asem

1. Pompa distribusi I (sentrifugal), KW=30 HP, Q=40 l/dt, H= 60 m

2. Pompa distribusi II (centrifugal cadangan), KW=15 HP, Q=40 l/dt, H=60 m

Wilayah pelayanan air minum di Kecamatan Tanjung Enim (Lawang Kidul) meliputi 5 kelurahan dan desa yaitu:

1. Kelurahan Pasar Tanjung Enim 2. Kelurahan Tanjung Enim

3. Kelurahan Tanjung Enim Selatan 4. Desa Lingga

5. Desa Tegal Rejo

Mengenai jumlah pelanggan di cabang Tanjung Enim dapat dilihat pada tabel 7.14

(35)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-35 Tabel 7.15

Jumlah Pelanggan Cabang Tanjung Enim

No Jenis Pelayanan Jumlah

Pelanggan SL Jumlah Kubikasi m3 1 Hidran Umum 18 872 2 Tempat Ibadah 41 1.183 3 Sekolah Negeri 23 1.334

4 Rumah Sakit Pemerintah 2 17

5 Instansi Pemerintak Tk. Kecamatan 17 380

6 Rumah Selain RSS 5.658 107.216

7 Niaga Kecil 149 4.400

8 Instansi Pemerintah dan ABRI Tk. Kabupaten 1 1.518

9 Industri dan Niaga Besar 4 37

Total 7.5.913 116.956

(36)
(37)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-37 1.2 SPAM Ibukota Kecamatan

A. IKK Ujan Mas a) Unit Air Baku

Unit IKK Ujan Mas terdapat di Kecamatan Ujan Mas. Sumber air baku yang digunakan adalah air permukaan yang diambil dari Sungai Lematang. Intake yang dipakai pada sistem ini adalah intake jembatan. Debit pengolahan air baku sementara ini sebanyak 15 l/dt, jarak dari intake ke IPA sekitar 280 m dengan menggunakan pipa GIP berdiameter 150 mm, sedangkan water meter induk untuk air baku tidak ada. Sistem pengaliran air baku dengan sistem pemompaan dimana pompa yang digunakan adalah pompa submersible sebanyak 1 unit dengan kapasitas 44 l/dt dan head 26 m.

b) Unit Produksi

Instalasi pengolahan yang terdapat di unit IKK Ujan Mas ini terdapat 1 unit IPA beton dengan kapasitas 10 l/dt yang dibangun pada tahun 2002, IPA ini masih beroperasi dengan baik. Kapasitas produksi rata-rata adalah 15 l/dt dengan jam operasi selama 12 jam/hari. IPA ini dioperasikan melebihi kapasitas untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam pelayanan air minum, sedangkan ketersediaan sumber daya yang ada berasal dari PLN sebesar 41,5 KVA.

c) Unit Produksi dan Pelayanan

Sistem distribusi dan pelayanan menggunakan sistem pemompaan dengan menggunakan pompa centrifugal kapasitas 10 l/dt dengan head 40 m sebanyak 2 unit. Air didistribusikan dari reservoir yang ada di sekitar IPA dengan kapasitas tamping sebesar 150 m3, pendistribusian air

(38)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-38 minum dilakukan rata-rata 12 jam/hari. Pipa jaringan distribusi terdiri dari beberapa jenis pipa diantaranya piap PVC diameter 150 mm sepanjang 5000 m, pipa PVC diameter 100 mm sepanjang 7000 m dan pipa PVC diameter 50 mm sepanjang 8000 m.

Daerah pelayanan unit IKK Ujan Mas pada saat ini telah melayani beberapa desa yang terdapat di kecamatan Ujan Mas diantaranya adalah Desa Ujan Mas Baru dan Desa Ujan Mas Lama. Jumlah pelanggan saat ini sebanyak 871 SL. Adapun daerah yang masih potensial untuk pengembangan pelayanan air minum di IKK Ujan Mas terdapat beberapa desa yang dapat dilayani yaitu Desa Ulak Bandung dan Desa Guci. Sedangkan untuk desa Pinang Bari sudah terpasang pipa PVCdiameter 150 mm sepanjang 2400 m, pipa PVC 100 mm sepanjang 3600 m dan pipa 50 mm sepanjang 4800 m namun pipa ini belum dioperasikan. Jumlah pelanggan IKK Ujan Mas Tersaji pada Tabel 7.15

Tabel 7.16

Jumlah Pelanggan IKK Ujan Mas

No Jenis Pelayanan Jumlah Pelanggan SL Jumlah Kubikasi m3

1 Hidran Umum 4 68

2 Tempat Ibadah 1 20

3 Rumah Sakit Sederhana 860 13.366

4 Sekolah Negeri 2 108

5 Instansi Pemerintah Tk. Kecamatan 3 44

6 Niaga Kecil 1 3

Total 871 13.609

Sumber : PDAM Muara Enim 2014

B. IKK Gunung Megang a) Unit Air Baku

Unit IKK Gunung Megang terdapat di Kecamatan Gunung Megang. Sumber air baku yang digunakan adalah air permukaan yang diambil dari

(39)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-39 sungai Lengi. Intake yang dipakai pada sistem ini adalah intake jembatan. Debit pengambilan air baku sementara ini sebanyak 10 l/dt, jarak dari intake ke IPA sekitar 350 m dengan menggunakan pipa PVC berdiameter 150 mm, sedangkan water meter induk untuk air baku tidak ada. Sistem pengaliran air baku dengan sistem pemompaan dimana poma yang digunakan adalah pompa submersible sebanyak 1 unit dengan kapasitas 20 l/dt dan heada 60 m.

b) Unit Produksi

Instalasi pengolahan yang ter dapat di unit IKK gunung Megang ada 2 unit IPA, IPA yang pertama adalah IPA beton dengan kapasitas 10 l/dt yang dibangun pada tahun 2002, IPA ini masih beroperasi dengan baik. IPA yang kedua adalah IPA paket baja dengan kapasitas 10 l/dt yang dibangun pada tahun 2006 namun IPA ini sudah tidak dioperasikan lagi karena mengalami kerusakan yang cukup berat akibat keropos dan sudah tidak dapat dioperasikan lagi. Kapasitas produksi rata-rata adalah 10 l/dt dengan jam operasi selama 8 jam/hari. Sedangkan ketersediaan sumber daya yang ada berasal dari PLN dengan kapasitas terpasang 41,5 KVA. c) Unit Distribusi dan Pelayanan

Sistem distribusi dan pelayanan menggunakan sistem pemompaan dengan menggunakan pompa centrifugal kapasitas 10 l/dt dengan head 35 m sebanyak 2 unit. Air didistribusikan dari reservoir yang ada di sekitar IPA dengan kapasitas tamping sebesar 100 m3, pendistribusian air minum dilakukan rata-rat selama 6 jam/hari. Pipa jaringan distribusi terdiri dari beberapa jenis diameter pipa, diantaranya pipa PVC diameter 150

(40)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-40 mm sepanjang 1500 m, pipa PVC diameter 100 mm sepanjang 2000 m dan pipa PVC diameter 75 mm sepanjang 1000 m.

Daerah pelayanan unit IKK Gunung Megang terdapat di Desa Gunung Megang Dalam dan Desa Gunung Megang Luar, jumlah pelanggan saat ini sebanyak 408 SL. Adapun daerah yang masih potensial untuk pengembangan pelayanan air minum di IKK Gunung Megang terdapat beberapa desa yang dapat dilayani yanitu Desa Gunung Megang Luar sedangkan untuk daerah lain diharapkan melakukan peremajaan pipa karena pipa yang lama sudah terlalu kecil untuk pelayanan saat ini. Jumlah pelanggan IKK Gunung Megang tersaji pada tabel 7.16

Tabel 7.17

Jumlah Pelanggan IKK Gunung Megang

No Jenis Pelayanan Jumlah Pelanggan SL Jumlah Kubikasi m3

1 Hidran Umum 2 52

2 Tempat Ibadah 7 141

3 Rumah Sakit Sederhana 389 5.749

4 Sekolah Negeri 5 153

5 Rumah Sakit Pemerintah 2 30

6 Instansi Pemerintah Tk. Kecamatan 2 19

7 Niaga Kecil 1 15

Total 408 6.159

Sumber : PDAM Muara Enim 2014

C. IKK Tebat Agung a) Unit Air Baku

Unit IKK Tebat Agung terdapat di Kecamatan Rambang Dangku. Sumber air baku yang digunakan adalah air permukaan yang diambil dari sungai Niru dab Bere. Intake yang dipakai pada sistem intake ini adalah intake sumuran sedalam 6 m. Debit pengambilan air baku sementara ini sebanyak 7 l/dt, jarak dari intake ke IPA sekitar 400 m dengan

(41)

RPIJM Bidang Cipta Karya Kab. Muara Enim 2017 – 2021 VII-41 menggunakan pipa GIP berdiameter 150 mm, sedangkan water meter induk untuk air baku tidak tersedia. Sistem pengaliran air baku dengan sistem pemompaan dimana pompa yang digunakan adalah pompa head submersible sebanyak 2 unit dengan kapasitas 5,5 l/dt dan head 50 m. b) Unit Produksi

Instalasi pengolahan yang terdapat di unit IKK Tebat Agung terdapat 2 unit IPA, IPA yang pertama adalah IPA Beton dengan kapasitas 10 l/dt yang dibangun pada tahun 1993, namun saying IPA ini sudah tidak dioperasikan lagi karena mengalami kerusakan yang cukup berat sehingga sudah tidak bisa dioperasikan lagi. IPA yang kedua adalah IPA Paket Baja dengan kapasitas 10 l/dt yang dibangun pada tahun 2008, IPA ini masih beroperasi dengan baik. Kapasitas produksi rata-rata adalah 6,9 l/dt dengan jam operasi selama 11 jam/hari. Sedangkan ketersediaan sumber daya yang ada berasal dari PLN dengan kapasitas terpasang adalah 41,5 Kva.

c) Unit Distribusi dan Pelayanan

Sistem distribusi dan pelayanan menggunakan sistem pemompaan dengan menggunakan pompa centrifugal kapasitas 10 l/dt dengan head 50 m dan pompa centrifugal kapasitas 15 l/dt dengan head 50 m. Air didistribusikan dari reservoir yang ada di sekitar IPA dengan kapasitas tamping sebesar 175 m3, pendistribusian air minum dilakukan ratarata selama 8 jam/hari.

Pipa jaringan distribusi terdiri dari beberapa jenis diameter pipa, diantaranya diantaranya pipa PVC diameter 200 mm sepanjang 300 m, pipa PVC diameter 150 mm sepanjang 10000 m, pipa PVC diameter 100

Gambar

Tabel 7.5  Pengaturan IMB
Tabel 7.7  Pengaturan SLF
Tabel 7.8  Pengaturan TABG
Diagram Sistem Sanitasi pengelolaan air limbah domestik

Referensi

Dokumen terkait

Sistem pemilihan Kepala Desa yang dilakukan oleh masyarakat di Pekon Way Jambu Labuhan Krui Kecamatan Pesisir Selatan Kabupaten Pesisir Barat pemilihan Kepala Desa

Dalam kegiatan pengembangan BUM Desa Mitra Usaha Mulya tidak lepas dari peran dari masyrakat sebagai pemanfaat dari kegiatan program pemberdayaan masyarakat desa,

Kajian ini juga mengkaji kesan kaedah PBM dalam talian berbantukan persembahan masalah berbentuk grafik (PBM-G) dan kesan kaedah PBM dalam talian berbantukan

Dapat merasakan kepuasan atas pelayanan, dan kenyamanan karena diterapkannya konsep E-CRM, sehingga menciptakan atau menambah minat membaca; (2) pengguna layanan

Bupati/Walikota sudah membentuk lembaga yang menangani rehabilitasi hutan dan lahan (misalnya Dinas yang mengurusi kehutanan atau Kelompok Kerja RHL), maka lembaga ini

besaran pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan hasil Kerjasama Pemanfaatan atas barang milik daerah ditetapkan dari hasil perhitungan Tim yang dibentuk

Abstrak — Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh penerapan e-modul berbasis metode pembelajaran problem based learning pada mata pelajaran pemrograman

Pengiriman ikan bawal putih ke pabrik oleh pedagang pengumpul tidak harus melalui pedagang besar, namun untuk pengiriman ke pabrik sesuai dengan kecocokan harga