BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Perkembangan program KB Nasional dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di dunia internasional. Pada kurun waktu 1970 hingga 1990-an, keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia sangat ditentukan pada aspek demografis semata yaitu pengendalian angka kelahiran. Namun pasca ditandatanganinya Internasional Conference on Population and Development (ICPD) tahun 1994, telah terjadi pergeseran paradigma yang cukup signifikan dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) yaitu dari pendekatan demografis menjadi mengedepankan aspek hak-hak asasi manusia. Disamping itu pula Indonesia merupakan salah satu dari beberapa negara berkembang yang menyepakati tujuan-pembangunan Global dalam Millennium Development Goals (MDGs) yang telah diratifikasi pada tahun 2000.
Program Keluarga Berencana (KB) memiliki makna yang sangat strategis, komprehensif dan fundamental dalam upaya mewujudkan masyarakat Indonesia sejahtera yang tidak terpisahkan dengan program pendidikan kesehatan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera yang kemudian di revisi menjadi Undang –ndang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyebutkan bahwa, Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Saat ini jumlah penduduk Indonesia diatas proyeksi, hasil sensus penduduk (SP) tahun 2010 menunjukan jumlah penduduk Indonesia sekitar 237,6 juta jiwa, melebihi 3,4 juta dari proyeksi sebesar 234,2 juta jiwa. Demikian juga angka laju pertumbuhan penduduk (LPP) periode 2000-2010 sebesar 1,49 %, yang diharapkan ditahun 2014 LPP menurun menjadi 1,1%. Oleh sebab itu perkembangan kependudukan dan pengembangan keluarga harus mendapat perhatian khusus dalam kerangka pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Terpenuhinya informasi yang seimbang penyuluhan dan konseling kepada masyarakat (ibu hamil, PUS) dapat membantu program peningkatan kesehatan reproduksi terutama pelayanan kehamilan yang aman bebas resiko tinggi ( making
Pregnancy safer) dengan pelayanan KB yang aman dan berkualitas (patient safety). Saat ini peserta KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) berdasarkan SDKI mulai menurun dari 14,6% (2002/03) menjadi 10,9% (2007), peserta KB MKJP diharapkan meningkat menjadi 27,5 % ditahun 2014. Penurunan peserta KB MKJP ini dipengaruhi oleh faktor penerimaan (image) terhadap kontrasepsi tersebut, selain itu dari sisi penyedia pelayanan, MKJP membutuhkan tenaga yang kompenten, sarana dan prasarana penunjang pelayanan yang memadai.
Dalam mendukung program MKJP tersebut, pemerintah maupun swasta mengupayakan program pelayanan kesehatan reproduksi telah dilaksanakan di Rumah Sakit sejak tahun 1995 termasuk pelayanan KB, dalam hal ini Rumah Sakit sebagai tingkat rujukan primer, sekunder, tersier mempunyai kewajiban menyediakan pelayanan KIE dan konseling KB yang diarahkan pada terciptanya peserta KB mantap (MOW/MOP), penanganan efek samping, komplikasi, kegagalan KB, penanganan rujukan KB yang meliputi pelimpahan kasus, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, penelitian dan pengembangan KB serta pembinaan medis pelayanan KB untuk fasilitas pelayanan dasar.
Mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor. 41 tahun 2007 tentang organisasi perangkat daerah yang mengamanatkan rumpun kelembagaan pemberdayaan perempuan dan program KB, maka Pemerintah Daerah wajib memberikan dukungan terhadap program KB termasuk KB di Rumah Sakit. Pelayanan KB jalur swasta adalah pelayanan KB yang dilakukan oleh sarana pelayanan swasta baik yang berbentuk perorangan maupun berbentuk institusi meliputi DPS, BPS, RS swasta, BP swasta , Klinik perusahaan swasta, apotik rujukan, Balkesmas.
Sesuai dengan kebijaksanaan menuju kemandirian program, maka pada tahun pertama Repelita V, mulai dicanangkan kegiatan KB Mandiri. Bagi masyarakat yang mampu keikutsertaan mereka dalam program KB dipenuhi melalui pelayanan Rumah sakit swasta, dokter swasta. Mereka diharapkan membayar biaya pelayanan dan membeli alat kontrasepsinya. Sementara itu bagi masyarakat yang kurang mampu, alat kontrasepsinya masih diberikan secara cuma-cuma melalui program KB sedang mereka membayar pelayanannya. Jumlah peserta KB yang telah mandiri diperkirakan telah mencapai sekitar 20% dari seluruh peserta KB pada tahun keempat Repelita V.
pelayanan PKBRS, selain melayani pasien intern juga melayani rujukan bidan, mitra kerja perusahaan, asuransi yang meliputi pelayanan KB, konseling KB, penanganan komplikasi, kegagalan KB peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan untuk meningkatkan aksebilitas untuk pemberian kontrasepsi mantap dan berkualitas.
1.2 TUJUAN
1.2.1 Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan, kesadaran peserta KB, dan meningkatnya kulitas layanan KB di Rumah Sakit.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran Pasangan Usia Subur (PUS) mengenai pemilihan alat kontrasepsi.
b. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu pasca persalinan dan pasca keguguran untuk pemilihan program KB yang tepat dan aman. c. Meningkatkan pengetahuan ibu yang mengalami kegagalan dan
komplikasi kontrasepsi untuk melakukan pemasangan KB ulang yang tepat dan aman.
d. Terwujudnya tatalaksana pelayanan KB di rumah sakit dengan sistem palayanan rujukan KB termasuk Komunikasi informed Edukasi (KIE) e. Tersedianya fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan guna
mendukung pelayanan KB
f. Terselenggaranya koordinasi dan kerjasama dalam penyelenggaraan pelayanan KB.
1.3 SASARAN
Sasaran Pelayanan KB di Rumah Sakit Ibu dan Anak Budi Asih Serang a. Pasangan Usia Subur ( PUS)
b. Ibu pasca persalinan dan pasca keguguran
c. Ibu yang mengalami kegagalan dan komplikasi kontrasepsi d. Ibu yang tidak ingin punya anak lagi
1.4 RUANG LINGKUP
Pelayanan KB di Rumah sakit Ibu dan Anak Budi Asih meliputi semua jenis pelayanan kontrasepsi kecuali implant, penanganan efek samping, komplikasi, kegagalan dan penanganan dengan masalah kesehatan reproduksi lain sesuai dengan fasilitas yang tersedia di Rumah Sakit Ibu dan Anak Budi Asih.
BAB II
PROFIL RSIA BUDI ASIH SERANG 2.1 GAMBARAN RSIA BUDI ASIH
2.1.1 Sejarah RSIA Budi Asih
2.1.2 Letak Geografis RSIA Budi Asih 2.1.3 Visi,misi dan motto RSIA Budi Asih Moto
“ Melayani dengan iklas” Visi
“ Menjadi Rumah Sakit Rujukan dan anak-anak di wilayah serang dan sekitarnya”
Misi
a. Mengembangkan Gedung Rumah Sakit sesuai master plan dan melengkapi fasilitas-fasilitas yang sesuai sehingga memberikan rasa aman dan nyaman
c. Meningkatkan pelayanan rumah sakit dengan memperhatikan promotif dan edukatif
2.1.4 Profil SDM RSIA Budi Asih 2.1.4.1 Jumlah Pegawai
Sumber Daya manusia/ ketenagaan yang ada di RSIA Budi Asih sudah memadai baik tenaga struktural maupun tenaga fungsional, peningkatan kualitas SDM selalu di upayakan melalui kegiatan pelatihan baik yang diselenggarakan di dalam rumah sakit maupun di luar rumah sakit. Adapaun jumlah seluruh tenaga yang terdapat di RSIA Budi Asih adalah sebagai berikut:
Tabel
Jumlah Tenaga SDM di RSIA Budi Asih Tahun 2012
No Ketenagaan Jumlah
1 S2 Manajemen Rumah Sakit 1
2 Dokter Umum 1
3 Apoteker 2
4 Sarjana Kebidanan 1
5 Sarjana Keperawatan 2
6 Sarjana Kesehatan masyarakat 1
7 Sarjana Ekonomi 7 8 Sarjana Lainnya 1 9 D3 Kebidanan 25 10 D3 Keperawatan 35 11 D3 Radiografer 4 12 D3 farmasi 4 13 D3 Perawat Gigi 2 14 D3 Gizi 2 15 D3 Analis Kesehatan 6 16 D3 asisten Apoteker 4 17 D3 Rekam Medis 2 18 SPK 2 19 SMA 68
20 SMK Farmasi 6
Total 171
Tabel
Nama Dokter yang ada di RSIA Budi Asih
No Ketenagaan Jumlah
1 dr. R. Irawan Moeslimin, SpOG Ahli Kandungan dan Kebidanan 2 dr. H. RM. Syafei, SpOG Ahli Kandungan dan Kebidanan 3 dr. Liana Herlinda, SpOG Ahli Kandungan dan Kebidanan 4 dr. Hushat P, SpOG Ahli Kandungan dan Kebidanan 5 dr. Sari Lestari, SpOG Ahli Kandungan dan Kebidanan 6 dr. Rr Niken Pudji Pangestu, SpOG Ahli Kandungan dan Kebidanan 7 dr. Rachmat Sadeli, SpA Ahli Kesehatan Anak 8 dr. R. Meliala, SpA Ahli Kesehatan Anak 9 dr. Irham Zuhdi, SpA Ahli Kesehatan Anak 10 dr. Argo Pribadi, SpA Ahli Kesehatan Anak 11 dr. Dini Ardiani, SpA Ahli Kesehatan Anak 12 dr.Shelvy Herwati, SpA Ahli Kesehatan Anak 13 dr. Aryana M, SpPD Ahli penyakit Dalam 14 dr. Suryadi, SpJP Ahli Jantung dan Pembuluh Darah 15 dr. Eko Hadi Waluyojati, SpM Ahli Mata
16 dr. Hazwar A.R, SpM Alhi Mata
17 dr. Ilham Priharto, SpHT Ahli THT
18 dr. Yose Rizal , SpHT Ahli THT
19 dr. H. Supriyono, SpB Ahli Bedah
20 dr. Suka Basuki, SpB Ahli Bedah
21 dr. Heri Setiawan, SpOT Ahli Ortophedi
22 dr. Perwita Sari, SpS Ahli Syaraf
23 dr. Tri Agus Yuarsa, Sp.P, Mkes Ahli paru
24 drg. Hj Anne Rufaida Ahli Gigi
25 drg. Viana Pramushinta Ahli Gigi
26 drg. M Irawan Ahli Gigi
27 drg. Asih Ahli Gigi
28 dr. HR. Asep Hidayat, S.MARS Akupuntur 29 dr. Kesuma Mulya, SpRad Ahli Radiologi 30 dr. Leonardus SpPK Ahli Patologi Klinik
2.1.4.2 Unit Pelayanan RSIA Budi Asih Tabel
Unit Pelayanan RSIA Budi Asih No Unit Pelayanan
a. Obygin b. Kesehatan Anak c. Penyakit Dalam d. Penyakit Jantung e. Mata f. THT g. Bedah Umum h. Bedah Tulang i. Penyakit Syaraf j. Paru –paru k. Gigi dan mulut l. Akupuntur m. Klinik Bidan n. Klinik Gizi
3 Instalasi Gawat Darurat
4 Pelayanan Tindakan Medis ( Kamar Operasi) 5 Instalasi Rawat Inap
6 Pelayanan Mobil Ambulance 7 Penunjang Medik :
a. USG b. EKG
c. Neonatal Phototerapy d. Apotek Instalasi farmasi e. Konsultasi Gizi f. Laboratorium Klinik g. Radiologi h. Fisioterapi i. Spirometri j. Laparoskopy 8. Pelayanan Darah 9. Pelayanan Non Medis : 10 Kantin
11 Mushola
2.1.4.3 Kunjungan Pasien Rawat Jalan Dan Rawat Inap Tabel
Jenis Kunjungan Rawat Jalan di Poliklinik RSIA Budi Asih No Jenis
kunjungan
Bulan
Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov Des
2 Obgyn 1087 993 1086 982 984 970 985 862 944 1003 945 905 3 Gigi 191 149 175 148 165 180 170 111 177 155 129 107 4 Penyakit Dalam 31 24 30 40 28 20 21 18 22 14 23 17 5 THT 63 37 73 45 39 25 30 35 75 44 57 39 6 Bedah 33 15 14 18 23 34 18 11 11 11 21 16 7 Mata 39 20 32 24 17 9 14 17 29 43 36 26 8 Jantung 0 1 0 0 0 3 2 0 0 0 0 1 9 Syaraf 0 0 0 1 0 0 0 1 1 2 1 3 10 Orthopedi 0 0 0 0 3 4 3 5 3 1 11 4 11 Umum dan kecantikan 15 9 25 7 4 7 11 10 11 12 16 6 12 Paru 0 0 0 0 0 0 0 1 12 24 13 9 13 Umum dan akupuntur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 14 Poli Bidan 31 19 22 27 24 22 23 19 9 6 15 17 Total 2662 2533 2970 2573 2370 2408 2311 2088 2477 2428 2290 2213 Tabel
Jenis Kunjungan Rawat Inap di Poliklinik RSIA Budi Asih
Tahun 2012
No Jenis kunjungan
Bulan
Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov
1 Pasien Anak 197 182 211 211 194 180 172 146 209 192 151 2 Pasien Dewasa 178 164 176 171 186 184 183 146 184 153 163 3 Pasien bayi Perina 15 25 24 13 23 14 22 17 24 13 16 4 Pasien Bayi Sehat 61 64 66 56 77 76 73 79 74 66 70 Total 451 435 477 451 480 454 450 388 491 424 400 Grafik
Tabel
10 Penyakit Terbanyak di RSIA Budi Asih Tahun 2012
No Nama Penyakit Jumlah
1 ISPA 939 2 GE 651 3 Partus Spontan 321 4 Thypoid 239 5 Dispepsia 123 6 Bronhopeneu 109 7 Tonsil Faringitis 104 8 DHF 95 9 Febris 74 10 SC 64 Grafik
10 Penyakit Terbanyak di RSIA Budi Asih Tahun 2012
2.2 PROFIL PKBRS (Pelayanan Keluarga Berencana Rumah Sakit) RSIA Budiasih 2.2.1 Struktur Organisasi
DR. HR. ASEP HIDAYAT, S,MARS DIREKTUR
2.2.2 Visi & Misi PKBRS RSIA Budiasih Visi :
Menjadi poliklinik pilihan dengan memberikan pelayanan KB yang terbaik Misi :
Memberikan pelayanan KB yang cepat, tepat, ramah dan informative kepada pasien.
KABID YANWAT PKBRS KABID YANJANGMED
PENUNJANG MEDIS Medis RADIOLOGI LABORATO RIUM FARMASI PJ PROMOSI PJ ADMINISTRASI PELAYANAN MEDIS OPERASIONAL ALOKON OBAT POLI KB OPERATIF
2.2.3 Alur pasien dalam pelayanan KB di RSIA BUDI ASIH
Alur pelayanan KB termasuk di dalam alur pelayanan di RSIA Budi Asih. Adapun operasional pelayanan KB adalah sebagai berikut:
ALUR PELAYANAN KB BAGI PASIEN DI RSIA BUDIASIH
ALUR PASIEN TINDAKAN OPERASI MOW DI RSIA BUDIASIH
PASIEN DATANG SENDIRI/ RUJUKAN
UGD Rawat Jalan
Rawat jalan Poli Bidan
Konseling Setuju Ya tida k Inform Concent Pemeriksaan Penunjang Setuju Ya tida k Dilakukan Tindakan KB
Pamantauan Medis dan Nasehat Pasca Tindakan Administrasi Pulang Ruang Operasi/kamar bersalin Ruang Pemulihan Ruang Perawatan
2.3 KEGIATAN RSIA BUDI ASIH YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAYANAN KB
Menurut Depkes tahun 2008, Prevalensi KB berdasarkan hasil mini survey peserta aktif tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi KB di Indonesia adalah 66,2%. Cara KB yang dominan dipakai adalah suntikan (34%), pil (17%) IUD (7%), implan (4%), MOW (2,6%), MOP (0,3%) Kondom (0,6 %).
Mencari informasi terlebih dahulu tentang cara-cara KB adalah tindakan yang sangat bijak namun seringkali dalam memutuskan sesuatu tidak berdasarkan informasi yang lengkap, akurat dan benar. Data memperlihatkan bahwa pemilihan dan penggunaan kontrasepsi oleh pasangan suami istri sering kali tidak di dasarkan pada pilihan yang rasional, serta tidak mempertimbangkan efektifitas dan efisiensinya.
RUANG PERAWATAN
ANAMNESAURAN
KONSELING KB MKJPURAN
PASIEN SETUJUURAN
MENGISI DAN MENANDATANGANI SURAT PERSETUJUAN TINDAKANURAN
TINDAKAN OPERASI MOWURAN
RUANG PEMULIHANURAN
RUANG PERAWATAN
Pada umunya, setiap pasangan yang menggunakan kontrasepsi dilandasi keinginan yang jelas, menunda kelahiran anak pertama menjarangkan anak atau membatasi jumlah anak yang diinginkan. Pilihan yang didasarkan informasi yang lengkap tersebut pada akhirnya akan menghasilkan pilihan metode kontrasepsi yang bersifat rasional (BKKBN, 2007)
Memilih metode atau alat kontrasepsi bukan merupakan hal yang mudah karena efek samping yang berdampak terhadap tubuh tidak akan diketahui selama belum menggunakannya. Selain itu tidak ada metode atau alat kontrasepsi yang selalu tepat bagi semua orang karena situasi dan kondisi tubuh dari setiap individu selalu berbeda, sehingga perlunya pengetahuan yang luas dan tepat mengenai kekurangan dan kelebihan dari masing-masing metode atau alat kontrasepsi yang kemudian disesuaikan dengan kondisi tubuh pengguna.
Berdasarkan data BKKBN (2009), angka komplikasi berat akibat penggunaan kontrasepsi pada wanita diseluruh indonesia terbilang tinggi seperti Metode kontrasepsi suntik telah menjadi bagian gerakan KB Nasional serta peminatnya makin bertambah. Dari 61,4% pengguna metode kontrasepsi diBanten, sebanyak 31,6% menggunakan suntik. Sedangkan yang memakai pil hanya 13,2%, IUD 4,8%, implant 2,8%, kondom 1,3%. Sisanya vasektomi dan tubektomi. Jadi pengguna metode kontrasepsi suntik mengalami peningkatan dari 27,8% pada tahun 2003 menjadi 31,6 pada tahun 2007.
Adapaun kegiatan RSIA Budi Asih yang berhubungan dengan pelayanan KB adalah sebagai berikut:
a. Konseling
Konseling dilaksanakan di poli kebidanan dan penyakit kandungan, VK (kamar bersalin), ruang rawat inap. Kegiatan ini diselenggarakan untuk upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran pasien terhadap program KB, dan membatu pasien untuk menentukan jenis kontrasepsi yang akan digunakan.
Dalam kegiatan konseling diharapkan peserta KB:
pengguna yang tepat dan aman, menjelaskan jenis-jenis kontrasepsi yang tersedia di RSIA Budi Asih,
- membantu para calon peserta KB untuk memutuskan metode atau jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhannya. Dan menjelaskan keunggulan maupun konsekuensi metode KB pilihannya.
- Membantu peserta KB memberikan informasi mengenai penyesuaian diri terhadap kondisi barunya(setalah menggunakan alat kontrasepsi), bila mengalami berbagai masalah
- Menginformasikan rujukan pelayanan kontrasepsi
b. Pelayanan KB non Kontap ( IUD, suntik, pil, kondom di poli kebidanan, ruang bersalin (VK), dan Ruang rawat inap dewasa
c. Pelayanan Kontap (kontasepsi mantap)
OK (kamar operasi) untuk MOW (Metode Operasi Wanita) baik pasca operasi SC maupun pasca keguguran maupun masa interval
2.4 JENIS PELAYANAN KB DI RSIA BUDIASIH
Pelayanan KB di RSIA Budi Asih selalu berupaya memberikan pelayanan seoptimal mungkin yang didukung tenaga ahli dan sarana dan prasarana yang memadai.
Adapun pelayanan KB yang dilaksanakan:
Pelayanan KB yang dilaksanakan mencakup semua jenis alat/ obat kontrasepsi baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Pemasangan dan pencabutan alokon metode kontrasepsi jangka panjang serta KB pasca persalinan dan pasca keguguran.
Penanganan efek samping. Penanganan Komplikasi KB
Penanganan Kegagalan KB dan kesalahan reproduksi.
Pendidikan dan konseling keluarga mengenai KB serta penyuluhan dan edukasi kepada para calon peserta KB
Mengadakan penyuluhan /edukasi pada peserta asuransi dan dokter/bidan rujukan
Mengembangkan sistem rujukan bidan-bidan , dokter praktek umum sebagai tempat rujukan untuk pelaksanaan KB dengan penyulit.
2.5 TENAGA MEDIS PELAYANAN KB
Tenaga Ksehatan RSIA Budi Asih Kota Serang dalam pelayanan KB
2.6 FASILITAS /SARANA PELAYANAN KB a) Ruangan terdiri dari
- Ruangan konsultasi : - Ruang tindakan : - Ruang konseling : b) Sarana Pnunjang lainnya:
- Laboratorium - Instalasi radiologi - Apotik
- Fisioterapi
c) Peralatan untuk kegiatan di poli KB: - Ginekologi Bed
- IUD KIT - Tensi meter - Stetoskop - Peralatan suntik
- Peralatan dan obat secukupnya untuk pelayanan IUD dan PIL
2.7 INOVASI TERKAIT DENGAN PELAYANAN KB DI DALAM DAN DILUAR RUMAH SAKIT
Rumah Sakit Ibu dan Anak Budi Asih memiliki beberapa kemitraan terutama dengan BKKBN mengenai pelaksanaan Program MOW menggunakan laparoskopy, adapun kemitraan lainnya yaitu dengan bidan praktek, klinik bersalin, maupun dengan perusahaan-perusahaan atau asuransi- asuransi yang bekerja sama dengan RSIA Budi Asih.
No Nama Pelatihan
1 dr R. Irawan Moeslimin, SpOG CTU
2 dr. H. RM Syafe’i, SpOG CTU
3 dr. Liana Herlinda, SpOG CTU
4 dr Hushat P, SpOG CTU
5 dr. Rr Niken Pudji Pangestu, SpOG CTU
6 Yurniati Johan, S,ST CTU
7 Novi Farikhah, Amd.Keb Pelatihan IUD dan CTU, ABPK 8 Yulita Sarmiyati, Amd.Keb Pelatihan IUD dan CTU, ABPK
9 Siti hadijah, Amd.Keb ABPK
10 Talia Puji Astuti Amd.Keb ABPK 11 Ika handayani, Amd.Keb ABPK
Inovasi kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan KB lainnya yang diselenggarakan RSIA Budi Asih adalah menyediakan Toples Kondom, dan menyediakan Ruang Pojok Asi.
2.8 DATA PELAYANAN KB RSIA BUDI ASIH TAHUN 2012 Hasil cakupan pelayanan KB d RSIA Budi Aseh Serang
Tabel
Cakupan pelayanan KB di PKBRS RSIA Budi Asih Kota Serang Tahun 2012
No Bulan
Jumlah Kontrasepsi MOP MOW Implant Suntik Pil Kondom
IUD Pencambutan Pemasangan 1 Januari 1 - 18 - - - -2 Februari - 1 - 15 - - 1 10 3 Maret - 1 - 16 1 - - 3 4 April - - - 16 7 - - 3 5 Mei - - - 12 2 3 6 Juni - - - 9 12 - - 3 7 Juli - 17 - 7 2 - - 7 8 Agustus - 1 - 16 4 - - 10 9 September - 1 - 10 5 - 7 6 10 Oktober - - - 8 1 - - 12 11 November - - - 13 - - 4 12 Desember - - - 10 2 - - 7 Gambar
Cakupan pelayanan KB di PKBRS RSIA Budi Asih Kota Serang Tahun 2012
-Tabel
Tindakan /Persalinan di Ruang VK di RSIA Budi Asih Kota Serang Tahun 2012
N0 Tindakan Persalinan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Bulan Jul Agust Sept Okt Nov Des 1 Persalinan Spontan 20 19 36 19 27 21 25 39 34 20 25 35 2 Persalinan Induksi 10 19 20 9 16 25 14 11 15 14 17 12
3 VE 0 0 0 0 0 0 0 2 5 2 1 1
4 Curettage 26 11 11 11 12 19 29 27 27 24 25 11
Tahun 2012
Tabel
Tindakan /Persalinan di Ruang OK di RSIA Budi Asih Kota Serang Tahun 2012
N0 Tindakan Persalinan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Bulan Jul Agust Sept Okt Nov Des
1 SC 27 19 17 22 34 30 27 23 22 23 19 33
2 SC + MOW 3 5 1 5 2 1 11 1 4 3 7 5
3 SC + IUD 3 4 1 1 2 0 0 3 0 0 1 2
4 SC + Laparatomi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
KESIMPULAN DAN SARAN 3.1 Kesimpulan
Program KB yang dilaksanakan RSIA Budi Asih Serang diharapkan selalu mengalami peningkatan baik dalam jumlah peserta KB maupun tindakan atau pelayanan yang diberikan semakin optimal. Mengupayakan sarana dan prasarana yang belum tersedia di RSIA Budi Asih. Metode Kontrasepsi jangka Panjang (MKJP) untuk jumlah akseptor KB pasca persalinan post SC + MOW mencapai 74% dan Post SC + IUD mencapai 26%
3.2 Saran
Adapun saran yang perlu ditindaklanjuti untuk kemajuan pelayanan KB di RSIA Budiasih adalah :
a. Meningkatkan inovasi guna mencapai cakupan KB 100% :
Pelaksanaan KIE senam hamil, KIE pasca persalinan dengan memasukkan program penyuluhan kesehatan tentang KB
Menjalin kemitraan dengan rekanan perusahaan maupun asuransi dan adanya program edukasi dengan menyelenggarakan seminar untuk para karyawan perusahaan rekanan
Pembentukan tim PKBRS yang disahkan melalui SK direktur
b. Mengikutsertakan SDM RSIA Budiasih dalam program pelatihan KB yang diselenggarakan baik oleh instansi pemerintah seperti dinas kesehatan dan BKKBN provinsi maupun instansi lain yang terkait.