~
PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARI UNGKUNGAN HIDUP 2011I
ISBN 978-602-19161-0-0 Kearlfan Lokal Dalam Pemanfaatan Sumberdaya Kelautan Dan PerikananDl Era Otonoml Daerah Atlk Krustlyatl
Fakultas Hukum Universitas Surabaya Surabaya
[email protected] ABSTRAK
Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungani adalah upaya mewujudkan Indonesia yang aman, damai, adil, demokratis dan sejahtera. Hal ini dapat tercapal apabila negara mampu merespons perkembangan lingkungan strategis baik yang mencakup aspek global, regional
dan
nasional dengan tetap memperhatikan kearifan lokal. Dalam kaltannya dengan pengelolaan wllayah I aut lahirnya UU no 45 tahun 2009 yang merupakan penyempumaan dari Undang-undang no. 31 tahun 2004 tentang perikanan mempunyai dimenasi lokal karena memperhatikan aspek otonomi daerah, memilild dimensi global karena mengakomodir ketentuan-ketentuan dalam UNCLOS 1982. Akan tetapl implementasi UU tersebut menlmbulkan banyak persoalan, selain faktor substansinya maka persoalan sarana, prasarana dan budaya masyarakat yang merupakan kendala. Artinya pengelolaan perikanan dl Indonesia tidak memperhatikan '"Sustainable use and conservation of resources", yang berakibat adanya ecologicolloss, economic resources/ass, social and cultural loss.Kata kuncl : Sumber daya kelautan dan perikanan, otonomi daerah PENDAHULUAN
01 era otonomi daerah dengan berlakunya Undang-undang No 32 tahun 2004 daerah mempunyai kewenangan dalam mengelola sumber daya alam di wilayahnya, termasuk sumber daya kelautan dan perikanan. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam pasall8 sebagai berikut;
1. Daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya
di
wilayah laut;2. Daerah mendapatkan bagi hasll atas pengelolaan sumber daya alam dl bawah dasar dan /atau di dasar I aut sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
3. Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut; b. Pengaturan administratif;
c. Pengaturan tata ruang;
d. Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah;
e. lkut serta dalam pemeliharaan keamanan; f. lkut serta dalam pertahanan kedaulatan negara.
4. Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling jauh 12 mil diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenanngan provinsi untuk Kabupaten/Kota (Ayat 5,6,7 dapat dibaca dalam Undang-undang No.32 Tahun 2004)
Oalam kaitannya dengan pengelolaan wilayah !aut yang menjadl kewenangan daerah ditetapkan bahwa wilayah taut daerah Propinsi adalah sejauh 12 millaut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau kearah perairan kepulauan, sedangkan wilayah laut Kabupaten dan atau Kota ditetapkan 4 millaut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan a tau ke arah perairan kepulauan.
lmplementasi kebijakan otonomi daerah di wilayah !aut ini memang menimbulkan polemik di berbagai kalangan. Artinya ada yang menilai positip karena daerah dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan dan pemanfaatan wilayah laut, sebaliknya ada juga yang beranggapan bahwa kewenangan daerah di bidang kelautan ini dapat menimbulkan konflik baik vertikal maupun
• PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARt UNGKUNGAN HIDUP 2011
I
ISBN 978-602-19161..0.0horizontal. Kedua anggapan tersebut tentu tergantung dart slsl mana melihatnya, karena bila daerah sudah mempunyal kemampuan untuk mengelola bldang kelautan maka kesempatan ltu juga harus diberikan. Seballknya apabila suatu daerah belum mampu untuk mengelola sumber daya taut, maka bmampuan daerah tersebut harus senantfasa diberdayakan.
Sebenamya tfmbulnya konftlk horizontal tersebut disebabkan adanya Jarangan nelayan suatu
daerah
untuk menangkap lkan dlluar wilayahnya. Dengan demildan persoalan lnl bukan disebabkan oleh kebljakan otonoml daerah yang· merupabn aspek vertfkal, tetapl leblh banyak cisebabkan oleh perbedaan lnterpretasl terhadap kebijakan otonoml daerah di wllayah laut. Pemerintah Daerah dan pelaku otonoml belum mempunyai pemahaman yang sama tentang kebijakan otonoml daerah dalam rangka pengelolaan wllayah Jaut. Darl sini nampak bahwa dalam rangka otonoml daerah pengelolaan wilayah taut seringkall hanya dlmaknai secara partial, artinya hahya dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan ·PAD saja tanpa memperhatlkan aspek yang lain, sehingga menyebabkan timbulnya persoalan baru, dl antaranya adalah konflik antar nelayan.Negara Republlk Indonesia yang berdaulat setain mempunyal )umlah penduduk yang cukup besar,juga memilikl suatu kesatuan peralran yang luas pula., dengan pulau-pulau besar kecil bertebaran darl Sabang sam pal Merauke. Sltuasi dan kondisi tersebut membutuhkan perangkat aturan hukum yang bermanfaat bagl pengelolaan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan.Salah satu produk hukum
yang
penting adalah disahkannya Undang-Undang nomor 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.Salah satu pertlmbangan adanya perubahan Undang-undang tersebut adalah bahwa Undang-undang nomor 31 Tahun 2004 belum sepenuhnya mampu mengantisipasi perkembangan teknologi dan kebutuhan hukum dalam rangka pengeloaan dan pemanfaatan potensl sumber daya ikan.Selain itu Undang-undang nomor 45 Tahun 2009 juga memperhatikan prlnsip-prinsip yang diatur dalam IJNUOS
1982
khususnya mengenal ZEE dan laut lepas sebagalmana dinyatakan dalam pasal 1 butir 21 dan 22Undang-undang nomor 45 Tahun 2009.
-Apabila ditarik · kebelakang, maka Hukum Laut lnternasional telah mengalami dua kali pembaharuan sejak dibentuknya pada tahun 1958 dl Jenewa. Amandemen pertama dilakukan pada tahun 1960, dan mengalami kegagalan karena tidak ada kesepakatan dari pihak yang berunding terutama dalam permasalahan batas maksimal laut teritorial suatu negara. Pada akhir konperensi, sebuah gabungan proposal antara Kanada dan Amerika Serikat mencari kompromi yang sesuai yaitu 6
mil untuk
laut teritorial dan 6 millagi untuk aktivitas perikanan. (Mangone GJ., 1981: 33).Oleh karena kegagalan mencapai kesepakatan yang diinglnkan, maka Konferensi I dan II tersebut telah meninggalkan beberapa masalah yang belum sempat dlselesaikan an tara lain: (Starke, 1989: 254).
a. Batas laut teritorial;
b. Hak llntas damai atas kapal perang melalui Selat-Selat yang merupakan jalan maritim internasional dan meliputi seluruh bagian perairan teritoral;
c.
Hak lintas taut, udara di perairan Kepulauan;d. Masalah perlindungan dan konservasi terhadap species untuk alasan fungsi ilmiah dan pariwisata.
Setelah mengalami jatuh bangun dalam kurun waktu Jebih dari dua dasa warsa, dunia internasional menanda tangani Konvensi Hukum laut yang dikenal dengan UNClOS 1982. Materi yang terpenting adalah diakuinya asas Negara Kepulauan, sehingga seluruh NKRI menjadi satu kesatuan yang utuh tanpa harus tercabik-cabik oleh kantong-kantong laut lepas di dalamnya.
Pemerintah Indonesia meratiflkasi UNUOS 1982 melalui Undang-undang nomor 17 tahun 1985, sehingga UNCLOS 1982 menjadi hukum positip di Indonesia. Secara definitip UNCLOS 1982 berlaku secara internasional sejak tanggal16 November 1994 setelah pendepositan Piagam Ratifikasi atau aksesi
le
60
. Berdasarkan
UNCLOS 1982 maka NKRI menjadi negara kepulauan terbesar (archipelagic state) terbesar di dunia yang memiliki kurang Jebih 17.499 pulau, dengan luas lautnya mencapai 5,8 juta kilometer dan garls pantai sepanjang kurang lebih 81.000 km. Oleh sebab itu tidak berlebihan bila dinyatakan bahwa UNClOS 1982 sebagai sabuk perekat NKRI. (Soenaryo, 2006: 1).Berdasarkan hal-hal tersebut diatas problematik mendasar adalah: Bagaimanakah kendala-kendala dalam rangka pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan dengan berbasis pada kearifan lokal sesudah berlakunya Undang-undang nomor 45 tahun 2009 yang pada dasarnya mengadopsi UNCLOS 1982?
~
PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARI UNGKUNGAN HIDUP 2011I
ISBN 978-602-19161-0-0~
PEMBAHASAN
Pengelolaan
Sumber Daya Kelautan Dalam Kattannya Denpn
Otonoml DaerahPada hakikatnya pembangunan sumber daya laut khususnya perikanan merupakan kegiatan
yang
dlarahkan untuk menlngkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat nelayan melalul pengeolaan dan pemanfaatan smber daya hayatl perlkanan dengan faktor produksl berupa sumber daya manusla, teknologi dan permodalan. Adanya keterbatasan sumber daya alam maka dltuntut perencanaan, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam secara efektlf, efislen, terpadu dan berwawasan lingkungan. Prinsip prinslp penggalian yang bertanggung jawab sebagalmana diatur dalam Code of Conduct for Responsible Fisheries harusnya mejadl acuan yang dlpertimbangkan dengan matang. Hal inl disebabkan sumber daya ikan selalu bergerak dalam kehldupannya tanpa mengenal batas negara, sehingga pengelolaan perikanan oleh suatu negara tidak akan efiSien apabila negara lainnya yang menangkap sumber daya ikan tersebut tldak pedull dengan pengelolaan perikanan dan mengabaikan Code of Conduct for Responsible Fisheries terse but.Secara khusus dl Indonesia terjadl peningkatan pembangunan perikanan, yang ditandal dengan menlngkatnya ekspor balk dari segl kuantltas maupun kualitasnya. Pembangunan perikanan yang
cepat
inl ditandai dengan tumbuhnya perikanan •trawf" di Selat malaka. Berkat pengaruh negara tetangga Malysia yang kemudlan menjalar ke laut Jawa dan Samudra India khususnya di beberapa daerah Pantai Selatan Pulau Jawa. Di tempat lain, perikanan trawl dengan kapal yang jauh lebih besar berkembang dl Laut Arafura dalam rangka pelaksanaan joint venture dengan Jepang.Sehubungan dengan hal tersebut, maka konsep pembangunan yang dilaksanakan sekarang, tidak cukup hanya mempertimbangkan perbandingan biava keuntungan atau cost benefit ratio,· atau mekanisme pasar saja, tetapi juga harus mempertimbangkan ongkos--o~kos sosial yang timbul atau social cost (Daud Silalahi, 1992, 17). Untuk tujuan inilah maka diperlukar: peranan dan kesadaran masyarakat khususnya masyarakat nelayankesadara. Masalah kesadaran hukum pada dasarnya adalah masalah nilai-nilai yang ada dalam diri manusia tentang keserasian antara ketertiban dengan ketentraman yang dikehendakl atau yang sepantasnya. Untuk itu dibutuhkan indikator antara lain: (Soerjono Soekanto; 1982:17 dan 159).
1. Pengetahuan tentang peraturan-peraturan hukum (law awareness); 2. Pengetahuan tentang lsi peraturan hukum {low acquaintance); 3. Sikap terhadap peraturan hukum (/ego/ attitude);
4. Pola-pola berkelakuan hukum (legal behaviour)
lndikator - indikator tersebut, juga dapat dipakai untuk melihat kesadaran masyarakat nelayan terhadap persoalan lingkungan hidup khususnya pelestarian lingkungan laut. Artinya apakah para nelayan mempunyai kearifan lokal dalam mengambil perikanan dengan tetap memperhatikan hal-hal yang tidak merusak lingkungan. Artinya pengembangan lingkungan sangat bertumpu pada manusia baik sebagai makhluk individu maupun sosial. un,tuk itu perlu dikembangkan beberapa sikap hidup antara fai memelihara lingkungan sosial dan kepentingan lingkungan alam dan bersikap horizon tronsgeneretaion dengan tetap memperhatikan kepentingan generasi mendatang.
Undang-undang no 45 tahun 2009 yang merupakan penyempurnaan dari Undang-undang no 31 tahun 2004 mengisyaratkan dan memberi batasan bahwa pengelolaan perikanan adalah semua upaya yang merupakan proses terintegrasi baik proses pengumpulan informasi, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, implementasi penegakan hukum terhadap peraturan perundang-undangan di bidang perikanan yang dilakukan oleh pemerintah dan instansi lain yang terkait. Kegiatan ini dimaksudkan agar tercapai kelangsungan produktivitas sumber daya perairan.
Kendala-Kendala Dalam Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Berbasls Kearlfan Lokal 1. 11/egal Fishing dan Tronsitshipment
Sebagaimana diketahui bahwa sumber daya alam yang dimiliki oleh bangsa Indonesia baik di darat maupun taut ada yang bersifat ,renewable dan ada pula yang tidak. Persoalan yang penting adalah bahwa pengelolaan sumber daya alam tersebut harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, sehingga dapat memberi manfaat yag sebesar-besarnya bagi pembangunan dan kesejahteraan rakyat, balk masa kini maupun mendatang. Ungkungan hldup mempunyai fungsi
~
PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARI UNGKUNGAN HIDUP 2011 jlSBN 978-602·19161-G-0penyanaa kehidupan, oleh karena itu pengelolaan dan pembangunannya harus dlarahkan untuk
mempertahankan keselmba,.an yang dinamis melalul berbagal usaha perflndu~n dan rehabiUtasi
Artinya pembangunan perlu dllaksanakan dengan menglndahkan keseraslan antara
penc:apaian sasaran. pembangunan sektoral, regional dan llngkungan hidup yang bersifat jangka
panjang. (Niniek Supaml, 1997:31)
Membangun masa depan ya,. mantap dart segl llngkungan memerlukan ketajaman visi.
Momentum masa depan akan menjadl hari perayaan sejumlah prestasl dan tidak sekedar
firmament menyesall kesempatan mencapal-masyarakat yang sehat secara ekolc)gl.s. Untuk maksud
inl sangat ditentukan oleh apreslatif masyarakat terhadap Jingkungan. Traglsnya pencemaran/dan
atau perusakan lingkungan tampak tak kenai komproml dan kerap meluas tlada hentl, melanda
blosfer dengan rentan kompleksitas konsekuensl yang problematlk. (Suparto Wljaya, 1999:2).
Dalam kaitannya dengan .sumber daya perikanan nampak bahwa kerugian negara akibat adanya illegal fishing semakln meningkat dari tahun ke tahun.(setahun mencapal 30 triliun). Selama 3 tahun terakhir jumlah yang berhasil dlamankan adalah 2 trillyun, sedangkan kapal penangkap ikan yang selama lnl melakukan illegal fishing memilikl kapasltas angkut 100- 200 ton yang nllalnya mencapai 1,2 milyar. (Supriyanto Khafid, 2007: 17) Setiap hasll penangkapan ikan oleh kapal yang berljin harus dibawa dulu ke daratan Indonesia tidak lasi dilakukan transaksl langsung di laut. Sedangkan jumlah kapal yang melakukan Illegal fishing di sekltar peralran Papua saja (perairan
Samudra Paslfik baglan Utara) sampai peralran Papua Nugini ber]umlah 10 buah.
Apabila persoalan illegal fishing tidak secara nyata dieliminir, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi sorotan dari masyarakat internasional yang pada gilirannya dapat diembargo oleh importir produk ikan Indonesia. Selain illegal fishing masalah lain yang juga harus diperhatikan adalah transit
shipment, artlnya kapallndonesia menangkap ikan di wilayah Indonesia, kemudlan hasil tangkapan itu dijual kepada kapal asing, padahal seharusnya hasil tangkapan itu dijual kepada kapal asing padahal seharusnya hasil tangkapan itu dijual ke tempat pelelangan ikan.
2. Konflik Kepentingan antar nelayan
Sewaktu kapal-kapal ikan masih menggunakan layar dan alat-alat perikanan yang sederhana, nelayan pada umumnya brtpendapat bahwa ikan tidak akan habis, karena ikan merupakan sumber
daya yang mampu berkembang biak sehingga mampu mengimbangi tekanan penangkapan. Namun
dengan kemajuan jaman kapal-kapal penangkap ikan semakin modern dan dilengkapi alat-alat
penangkapan yang canggih dan mampu mendeteksi pergerakan ikan, sehlngga penangkapan ikan
menjadi lebih eflsien. Apalagi apabila jumlah kapal penangkap ikan bertambah banyak, dan tidak
dilengkapi dengan alat kontrol maka tekanan terhadap sumber daya perkanan juga semakin
meningkat (Purwito, 2004 :469). Hal inilah yang mendorong perlunya dlbuat aturan pengelolaan
sumber daya perikanan secara internasional (Code of conduct for responsible fisheries CCRF) pada taahun 1995.
Dalam kaitannya dengan hubungan antar nelayan yang berdampak pada conflict of interest
disebabkan adanya kesalah pahaman penafsiran tentang kewenangan pengelolaan wilayah iaut sebagaimana diatur dalam Undang-undang no 32 tahun 2004. Artinya kewenangan pengelolaan tersebut bukan berarti kepemilikan dan pengkaplingan wilayah laut oleh masing-masing daerah dengan menggunakan alat penangkapan ikan yang bcrlainan. Adanya konflik tersebut dapat
mengganggu dan bahkan menghambat pembangunan, khususnya pembangunan perikanan dalam
rangka pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut yang berwawasan lingkungan. (Muzammil
Syafli, 2006;3).
Dengan mengetahui persoalan tersebut, Pemerintah Daerah sebagai pemegang hak dan
kewenangan dalam penge.lolaan dan pemanfaatan laut harus berusaha semaksimal mungkin baik preventif (mencegah konflik antar nelayan di daerah) maupun represif sehingga kasus-kasus yang timbul di daerah akibat adanya konflik antar nelayan dapat diatasi dan ditangani secara cepat dan
akurat.
3. Ketidaksiapan lnstitusional
Berdasarkan pada persoalan yang terjadi di masyarakat khususnya penangkapan ikan yang tidak memperhatikan kearifan lokal, serta adanya konflik antar nelayan yang disebabkan adanya
perbedaan penafsiran tentang pengelolaan wilayah laut oleh daerah maka faktor ketidak siapan
~
PROSJDING SEMINAR NASIONAL HARI UNGKUNGAN HIDUP 2011I
ISBN 978-602-19161.0.0 instltuslonal juga harus dlpertimbangkan. Hallni dapat dlsebabkan oleh kurangnya semangatserta
koordinasi antar instansi dan tidak ada vested interest yang mendukung. J<enyataan tersebutdapat
dilihat darl ketldak slapan daerah dalam menghadapl otonoml daerah khususnya para aparatur pelaksana. Selain sebagai pelaksana, malta aparatur daerah juga dituntut dapat merumusbn sendiri kebijakan-kebijakan yang menyangkut penyelenggaraan pemerlntahan dan pembangunan masyarakat dl daerahnya.KESJMPULAN DAN SARAN
1. Pengembangan lingkungan hidup bertumpu pada diri manusla sehingga harus dimulal
dar!
pengembangan budaya, slstem nllai dan sikap hidup manusia sebagai individu, lnsan sosial dan makhluk Tuhan yang memillki kemampuan mengembangkan lingkungan. hidup.2. Strategi dan kebijakan Pemerintah melalul instrumen hukum tidak boleh bersifat sentralistik, sektoral dan represif, karena bila hal inl dilakukan tidak dapat memberikan perlindungan bag! kelestarian dan keberfanjutan fungsi sumber daya alam. Apabila hal ini terus berlanjut dapat mengakibatkan 'ecological loss, economic resourcesloss, social and cultural loss, serta the politico/ of legal pluralism ignoronce. • Singkatnya strategi yang dilakukan haruslah *pro poor, pro job don pro growth."
3. Pemerintah Daerah (Pemerintah Propinsl dan Pemerintah Kabupaten/Kota) harus mempunyal kewenangan yang memungkinkan mereka dapat menghasilkan "Public Goods"', dan "'Public Regulations"', yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, baik kebutuhan dasar maupun pengembangan sektor unggulan. Hal inl penting agar tujuan otonoml yang meliputl penlngkatan kesejahteraan, penlngkatan daya salng, serta peningkatan pelaya-nan publik dapat tercapal. Secara lebih khusus dalam sektor perika-nan tidak ada lagi "'ego sektorol"' antara pemerlntah Propinsl dan Pemerintah Kabupaten, yang ber-dampak adanya konflik vertikal maupun horizontal.
SARAN
1. Pada tataran kualitas SDM, diperlukan adanya peningkatan kualitas terhadap aparatur negara dan pemberdayaan masyarakat nelayan mengingat adanya perubahan masyarakat yang berdampak pada tuntutan pelayanan publik yang baik.
2. Pada tataran sarana dan pra-sarana, diperlukan perbaikan terhadap kebijakan anggaran yang berkaitan dengan upaya penegakan hukum di laut. Hal ini diperlukan agar terjadi peningkatan kuantitas dan kualitas armada kapallaut dengan keleng-kapan pendukungnya agar dapat mengikutl situasi yang berubah.
3. Pada tataran pengawasan penangkapan ikan perlu segera dilakukan kelembagaan pengawasan
yang
berbasis pada masyarakat sebagaimana diama-natkan dalam UU Perikanan. Hal ini merupakan upaya untuk mengatasi konflik antar nelayan daerah yang berkaitan dengan perebutan lahan tangkap maupun kecemburuan hasil tangkap.4. Pembangunan sumber daya kelautan dan perikanan harus dilakukan secara sistematis, terencana dan terarah melalui pendekatan interdisipliner dan multi-disipliner, meliputi aspek budaya, manajerial, etika, moral dan hukum. Upaya penanggulangan dilaksanakan dengan komitmen dan kemauan politik yang kuat melalui mekanisme penegakan hukum yang tegas, konsisten dan maju, balk dilakukan secara mandiri maupun melalui kerja-sama internasional.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Etty R., Januari-Maret 2003, Kebijakan Dan Strategi Pembangunan Kelau-tan dan Perikanan Dalam Mengisi Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, No 1 Tahun XXXIII
Code of Conduct for Responsible Fisheries, FAO, Rome, 1995.
Fakrullah, Zudan Arif, Agustus 2003 Arah Politik Hukum Pengem-bangan Kawa-san Pereko-nomian Terpadu Dalam Era Otonomi Daerah,Legality, Volume 11, No 1
~
.
PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARI UNGKUNGAN HIDUP 2011
-
IISBN
978-602-191614-0•
Fagothey, Austin, 1972, Rights and Re~son Ethics In Theory and Practice, The CV Mosby Com-pany, St
louise · · ·
Martosubroto, Purwlto; April '2004, Per-kembangan Pengelolaan Per-lkanan · Global, Jurnal Hukum
lntemasiona~, ·Fakultas Hukum Universitas lndonesla,Voll Mangone G. J., 1982, Law for The world Ocea.r:t. University of calcuta
Starke J.G.,1989, Introduction to In-ternational
Law,
Tenth Edition, Butterworths Sunaryo, 2006, Peranan TNJ Al Oalam Menanggulangl 11lllegal Ashing", Makalah Oalam Seminar Nasional, Kerja sama Antara Fak Hukum Ubaya Dengan Departemen Kelautan Republik Indonesia, Surabaya
Silalahl, Daud, 1992, Hukum Ungkungan Dalam Sistem Pene-gakan Hukum llngkungan Indonesia, Alumni,· Bandu!'lg
Soekanto, Soerjono, 1982, Kesa-daran Hukum dan Kepatuhan Hukum, Rajawali, Jakarta,
Syafi'J, Muzammil,
2006
Problematika Sengketa Antar Daerah Sehubungan Dengan Pegelo-laan Dan Pemanfaatan laut Berdasarkan Undang-undang No 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, Seminar, Kerja-sama antara Fak Hukum Ubaya dengan Departemen Kelautan Dan Perikanan Republik Indo-nesia, Surabaya· Suparni, Niniek, 1992, Pelestarian, Pengelolaan Dan
Penegaka~
Hukum llngkungan, Sinar Grafika, JakartaSuparto Wijaya, 1999, Penyelesaian Sengketa lingkungan, Airlangga University, Surabaya UU No. 45 Tahun 2009
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kearifan Lobi
ISBN : 978-602-19161-0-0
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL HARI LINGKUNGAN HIDUP 2011
PENGELOLAAN SUMBERDAYAALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP
BERBASIS KEARIFAN LOKAL
KERJASAMA
:
PPLH
-
LPPM UNSOED
DENGAN
IKA TAN AHU UNGKUNGAN HIDUP INDONESIA
PUSAT PENELITIAN LINGKUNGAN HIDUP
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
--
.
Copyright@ 2011 Pusat Peoelitiao Liogkuogao Hidup
Hak Cipta dilindungi Undang-undang.Editor
Disain Halaman Depan
: M. H. Sastranegara, W. Lestari, Bambang Hartoyo, Bagananda. : Teguh A. Rahmanto
Pelaksana Seminar
Hari Lingkungan Hidup 2011
Purwokerto :
Jl.
dr. Soepamo
,
Karangwangkal- Purwokerto 53123
ISBN: 978-601-19161-0-0Pusat Penelitian Lingkungan Hidup-Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARILINGKUNGAN HIDUP 2011
I ISBN 978-602-19161-<Hl
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah kami panjatl<an kehadirat Allah SWT. Karena atas karunia dan hidayah_Nya dapat menyelesaikan Prosiding Seminar Nasional tentang "Pengelolaan
Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup berbasis Kearifan Lokal". Seminar tersebut sengaja diselenggarakan dalam upaya memperingati Hari Lingkungan Hldup tahun 2011. Oleh karena itu makalah-makalah yang ada dalam prosiding ini adalah makalah yang terkait dengan pemecahan masalah-masalah dalam lingkungan hidup balk yang terkait dengan lingkungan hidup strategis, konservasi maupun pemberdayaan masyarakatnya.
Prosiding ini adalah kumpulan makalah yang telah mengalami penyaringan serta teah dipresentasikan dalam seminar dimaksud di atas. Hasil presentasi dan diskusi dalam seminar
telah dimasukan sebagai perbaikan terhadap makalah-makalah tersebut disamping itu, makalah-makalah tersebut telah direview oleh reviewer yang sebidang. Dengan demikian, prosiding ini diharapakan akan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan serta dapat memberikan manfaat dalam pengembangan keilmuan maupun dalam tataran implementasi kebijakan pengelolaan, pengembangan maupun konservasi sumberdaya alam.
Dengan selesainya Prosiding ini, kami atas nama Panitia mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu, memotivasi maupun mendukung kesuksesan pelaksanakan seminar dan penyusunan Prosiding ini. Demikian juga kepada seluruh pemakalah yang telah menyumbangkan pemlkirannya dalam pelaksanaa seminar dan penyusunan Prosiding ini kami mengucapkan terima kasih. Semoga amal baik yang telah Bapak/lbu berikan kami mendapat imbalan yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Purwokerto, November 2011 Ketua Panltia,
PROSIOING SEMINAR NASIONAL HARI LINGKUNGAN HIDUP 2011
I
ISBN 978-602-19161-G-0KEYNOTE SPEECH
PENINGKATAN MUTU PENGELOL.AAN LINGKUNGAN HIOUP MELALUI REAKTUALISASI KEARIFAN
LOKAL DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Prof Dr. Imam Santosa, M.Si .. ... 2
KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARI LINGKUNGAN HIDUP 2011
I
ISBN 978-602-19161...0-0PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM RAMAH LINGKUNGAN
PENGARUH PEMANFAATAN LIMBAH SERBUK GERGAJI DAN LIMBAH SEKAM PADI PADA PROSES PEMBUATAN SEMEN TERHADAP KUALITAS SEMEN
Gathot Heri Sudibyo ...•....•....•.•...•...•...•...•... 2
KAJIAN PENGOlAHAN LIM BAH JENGKOK TEMBAKAU PABRIK ROKOK SEBAGAI PUP UK ORGANIK
Abu Talkah ...•...•...••...•... ... ... ...•..•...•... 9 ALTERNATIF POlA PENGANGKUTAN DAN POTENSJ PENGOMPOSAN DAlAM SISTEM PENGELOlAAN SAMPAH TERPADU KOTA BANDUNG
Allen Kurniawan dan Arief Sabdo Yuwono ... .... ...•... 17
BIOPROSES LEACHATE MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR SEBAGAI KONTRIBUSI PERTANIAN
RAMAH LINGKUNGAN
Eko Dewan to, Sri Lestari dan Slamet Priyanto ....... ...•.•...•... 26
FITOREMIDIASI TIMBAL (Pb) PADA LEACHATE TPA GUNUNG TUGEL OLEH ECENG GONOOK
(Eichhornia crassipes)
Slamet Santoso, Sri Lestari, dan S/amet Priyanto .......................•.......•.............. 30 ISOLASI DAN KARAKTERISASI JAMUR INDIGENOUS PENDEKOLORISASI LIMBAH WARNA BATIK
TUUS
Rotna Stia Dewi dan Sri Lestari .•...•• .•..••.. ..•. ... ....•. •. ... . ... .... .. ...•.. ....•.. .... ... ...•..•.. ...•... .... ..•...•• 34
DEGRADASI SENYAWA ORGANIK PADA LIM BAH
'
BATIK TULIS OLEH JAMUR INDIGENOUS.
Sri Lestari dan Ratno . Stia Dewi ..•...•••.•••... . :.... .. .. . .... .•... .... .••.•.. ... ...•.. . ..••....•... ... .. . ...•••.• 39
EFEK PENAMBAHAN GARAM DAPUR PADA PENGOlAHAN LIM BAH ZAT WARNA INDUSTRI BATIK
DENGAN METODE ELEKTROUSIS MENGGUNAKAN ELEKTRODA PlATINUM
Rlyanto ... 43
PEMANFAATAN LIMBAH TAHU SEBAGAI BIOGAS PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR UMBAH
(I PAL) Dl DESA SOKARAJA TENGAH KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS
Hendri Was/to dan Catur Hadlk
Setyowati...
...
.
...
...
....
...
.
...
....
..
....
..
.
52STRATEGI REDUKSI EMISI GAS RUMAH KACA TlNGKAT . KABUPATEN/KOTA MELALUI
IDENTtFIKASI DAN KARAKTERISASI SUMBER EMISI
Arief Sabdo Yuwono ...... ~.. ... 57
PENGAWASAN PENGENDALIAN RADIASI UNGKUNGAN Dl KAWASAN INSTALASI NUKLIR
Ulin lndrayanf ~ ... ~~ ... ~ ... : ... , ••• :...... 65
STATUS KUALITAS PERAIRAN WADUK SERBAGUNA PB SOEDIRMAN DAN STRATEGI PENGELOLAANNYA BAGI BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG
Endong Wldyastutl, Much. Sri Saeni, Daniel Djokosetlyonta, Hortrisari Hordjomldjojo ... 71.
DAYA DUKUNG PERAIRAN WADUK PB SOEDIRMAN KAITANNYA DENGAN BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG
PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARI UNGKUNGAN HIDUP 2011
I
ISBN 978-602-19161-0-0PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM RAMAH
LINGKUNGAN
KUALITAS AIR WADUK PENJALIN Dl KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES
Yogi Pomungkos, M. H. Sostronegoro, D. N. Wibowo ... ... 84
PERTUMBUHAN POPULASI DAN PRODUKSI Chiarella sp. PADA BERBAGAI KONSENTRASI
NITROGEN DALAM MEDIA MIQUEL ALLEN DENGAN KEPADATAN AWAL BERBEDA
Jimpit Supangatl, Sorwanto, /lo/qysni lnson...... ...... 91
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK PJSTIA STRATIOTES DAN Eichornla crossipes DENGAN
KONSENTRASI BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN POPULASI SPIRULINA Pt.ATENSIS PADA
KULTUR SKALA LABORATORIUM
Christioni don Hexo Apriliono Hidoyoh ... 101
SKRINING BAKTERI SIMBION LAMUN Enhalus sp., Tholassia sp. DAN Syringodium sp. SEBAGAI
ANTIFOULING BAKTERI PEMBENTUK BIOFILM
Bintang Marhaeni, Ocky Kama Radjosa, Agus Sobdono............ ... 108
KEMAMPUAN Escherichia coli DENGAN BERAT BIOMASSA YANG BERBEDA DALAM MENYERAP
SENG (Zn)
Slamet Priyanto dan IDSAP Peromiarti ...... 113
• 0
KESEIMBANGAN NUTRIEN (NITROGEN DAN FOSFOR) Dl WADUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
AIR (PLTA) MRICA BANJARNEGARA TERKAIT DENGAN PERUBAHAN MUSIM
Agatha Sih Piranti, Sudormodji, Agus Moryono, dan Suworno Hodisusonto ... 119
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK MISEUUM Gonodermo lucldum ISOLAT CIANJUR YANG
DITUMBUHKAN PADA MEDIUM DENGAN SUMBER KARBON BERBEDA TERHADAP Salmonella
typhi
Nita Komorioh, Nuniek Ina Rotnaningtyas, Hortiwi Dlostutl.................................. 123
KARAKTERISASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI METANOGENIK YANG ~RUBAT OALAM
BIODEGRADASI LIM BAH CAIR TAHU
lko Oksl Susilowoti, Oedjijono, Sri Lestori ... :.: ............ ::... 130
PEMANFMTAN LIMBAH PffiRNAKAN PUYUH SEBAGAI PUPUK MEDIA KULTUR UNTUK
PRODUKSI EPHIPIUM Daphnia Sp.
Diona R~no Utorlni SR don Nuroino Andriyoni ... :·....................... 140 kAJIAN NUTRISIIKAN DENGAN BAHAN BAKU YANG RAMAH UNGKUNGAN
Hoyoti Sat!propto don Komarlyoh ... ... 147
EFEK PEMUASAAN SECARA PERIODIK TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN BAWAJ. AIR TAWAR
(Colossomo mocropomum)
S. Sukmoningrum, I. Sulistyo don P. H. T]ahjo,
5.
....
...
.
..
....
...
....
..
..
....
... ...
.
...
153INDEKS HEPATOSOMATIK DAN NILAJ ENERGI ORGAN HATI KArtANNYA DENGAN .FASE
REPRODUKSIIKAN SlOAT (Anguilla bicolor McClelland) ''
Fer/ Retnowoti, Fo'rfda Nur Rochmowati ban Untung susllo ... : ... :': ....... ......
:
.:
~
.
161 '~
PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARI UNGKUNGAN HIDUP 2011I
ISBN 978-602-19161-0-0~
PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM RAMAH LINGKUNGAN
EFEK PERBEDAAN STRATEGI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP FAKTOR KONDISI, EFISIENSI PAKAN DAN RETENSI ENERGIIKAN GURAMI Osphronemus gouramy
la
c.
Untung Susl/o dan Forida Nur Rachmawati ....... ... .. ...•...•... 166
PEMANFAATAN DAUN SIRIH (Piper betle l.) PADA BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy c
Lac.} YANG TERSE RANG SAPROLEGNIASIS
Yogi Rinekso W, Marhendro S, Endong Ariyani S ...•...•.. 172 SUSTAINABLE USES OF NATURAL RESOURCES: MUGILIDAE IN ESTUARY OF OWARAS,
KARAWANG
Ruliyani, W. Lestari dan lndarmawan............................... 180
PENGARUH WAKTU PENGERAMAN TERHADAP DAYA TETAS TELUR UDANG Macrobrachium idea
DALAM KONDJSI LABORATORIUM
Kusbiyanto, Elly Tuti Winami, A. Endang Pulungsari ... ...... ...•...••... 185
PERAN OROK-OROK (Crotalaria juncea) SEBAGAI AMELIORAN KESUBURAN TANAH PADA PERTANAMAN JAGUNG (Zeo mays L)
Titin Sumarni ...•...•... ...•...•.•.•...•...•...•.•...•. 189
PENGARUH AMELIORAN BAHAN ORGANIK TERHADAP KESUBURAN TANAH GAMBUT,
PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN HARA TANAMAN UDAH BUAYA
Agus Hari)'anti ..... •... ... ... .... ... ... ...••.•...•..•.••...••••.. 196
KAJIAN FINANSIAL APUKASI RAKITAN TEKNOLOGI PRODUKSI PADI ORGANIK BERBASIS PUP UK ORGANIK CAIR DAN PEST1SIDA NABATI
Suyono dan Tarjoka ...•...•...•...•...•... ,... 207
BUDIDAYA PAOI SA WAH RAMAH LINGKUNGAN MELALUI PEMANFAATAN JERAMI PADI
Sakhidfn ..... :... 214
PRODUKSI TUBUH BUAH JAMUR SHIITAKE (Ltmtinula modes) PADA BEBERAPA JENIS KAYU DENGAN PENGURANGAN KANDUNGAN EKSTRAKTIF KAYU
Nuraenl Ekowati, Rfno Sri Kasiomdari, Nursamsi Pusposendjojo, dan CJ. Saegihordja ...... 219
EFEKT1VITAS KOMBINASI EKSTRAK BUAH MENGKUDU (Marinda dtrifolio) DAN SELENIUM SULFIDA TERHADAP PENGHAMBATAN PERTUMBUHAN KOLONI Pltyrosparum o.vale
Aristi lntan Soraya, IDSAP Peramlarti, R. Busona Boenjomin............................ 226
PERTUMBUHAN DAN HASIL PAD I SA WAH PADA BERBAGAI TARAF PEMUPUKAN NITROGEN DAN.
DOSIS PUPUK KANDANG . .
Achmad Iqbal and Khovid Faozi ... :... ·234
PEMANFAATAN SUSU KAVA PROTEIN KECAMBAH KEDELAI UNTUK MENURUNKAN INOEKS ATHEROGENIK PLASMA WANiirA SINDROM METABOLIK
PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARILINGKUNGAN HIDUP 2011
I
ISBN 978-602-19161-0-0PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM RAMAH LINGKUNGAN
PERBANDINGAN POLA PENGEMBANGAN SAPI POTONG Dl WILAYAH DATARAN TINGGI DENGAN WILAYAH DATARAN RENDAH KABUPATEN PEMALANG JAWA TENGAH
Doso Sorwanto, Caribu Hadi Prayitno, Bam bang Suryotomo ...•... ...•... 245
POTENSI LEBAH LOKAL DALAM PENINGKATAN PRODUKSI BUAH STRAWBERRY(Fragaria
x
ananassa)
Imam Widhiono dan Edy Trisudanto................................ 250
KADAR C-REACTIVE PROTEIN PENDERITA DIABETES MEUTUS TlPE-2 YANG DISUPLEMENTASI
SUSU KAVA PROTEIN KECAMBAH KEDELAI
Hery Winarsidan Agus Purwanto ...•....• 256
ANTIPROLIVERAnVE EFFECT AND APOPTOSIS INDUCTION IN HUMAN CEU UNES 8\'' METANOC.
EXTRACT FROM Bruguiera gymnorhiza STEAM BARKS
Warsinah, Sismindari and Ratna Asmah Susidarti.................. ... .. ...•... .. 261
PENGARUH CATECHIN DALAM TEH HIJAU TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN DAN ERITROSIT
PADA INDIVIDU TERPAPAR PLUMBUM (Pb)
Hemayanti, Sukarti.M, A.H. Sadewa, 8.Hariono, dan Subagus Wahyuono ... : ... 265
KERAGAMAN DAN POTENSI PEMANFAATAN PLANKTON DARI TAMAN WISATA ALAM TELAGA WARNA, KECAMATAN CISARUA, BOGOR
lnggit Winarni, Susi Sulistiana, dan Diki... .... ... ... 269
UJI MIKROBIOLOGI KANDUNGAN Escherichia coli DENGAN TOTAL BAKTERI PADA MAKANAN
DAN MINUMAN 01 KANTIN JURUSAN KEOOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Adityo Nugroho, IDSAP Periamiorti, Aflfah ... 275
ANALISIS FENETJK
BEBERAPA VARIETAS KEDELAI Glycine max(L) Merr BERDASARKAN
KARAKTER MORFOLOGI DAN ANATOMI
Wiwik Hera11110ti dan Yayu Widio11110ti ... 284
PEMANFAATAN SUMBERDAYA LOKAL BIOCHAR SEKAM PADI DAN BIOMASA TUMBUHAN UAR
CROMOLAENA ODORATA UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN PADI (Oryza sativa L.)
Agusalim Masulili ...•..•...•...•••... ... 287
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT MELALUI SILVIKULTUR INTENSIF
Aditya Hani ... .•..•.• .•••••.••. .••••••• .••.••. ... ... .•••••.••.... ..•... ••••••.. ••.• .•••••••••.•.. ... •... 294 RAPID SENSING OF METHANE USING Sn02 METAL OxiDE SEMIKONDUKTOR SENSORS
PROSIDING SEMINAR NASIONAL HARI LINGKUNGAN HIDUP 2011
I
ISBN 978-602-19161-0-0POSTER
PROTOTIPE SISTEM PENDINGIN AIR TANPA FREON UNTUK SISTEM IRIGASI HIDROPONIK
Agus Margiwiyatno dan Arief Sudarmaji ...•... ... 2
VARIASI KOMUNITAS MAKROINVERTEBRATA PADA WILAYAH BERBATU 01 SUNGAI KARST,
SULAWESI SELATAN
Lukman, D. S. Said, Triyanto, dan H. Solihah .............................. ................ :..... 3
PENGARUH PEMBERIAN KOMPOS KULIT BUAH KOPI TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KOPI
ARABIKA (COFFEA ARABICA L.) KULTIVAR ANDUNGSARI
Merry Antra/ina, Endang Kantikowati, Tien Turmuktini dan Dewi Mayasari .... 4
PENGARUH CENDAWAN MIKORIZA ARBUKSULA (CMA) TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KOPI
ARABIKA {Coffea arabica /.) KULTIVAR ANDUNGSARI
Merry Antra/ina, Endang Kantikowati, Tien Turmuktini dan Guruh Mahardika ...•... .. 5
STUDI PENDAHULUAN PENGGUNAAN ARTEMISIA VULGARIS (ASTERACEAE) SEBAGAI
INSEKTISIDA NABATI TERHADAP ULAT HEORTIA VITESSOIDES MOORE.
R.S. Purwantoro...................... .... ...•... 6
JENIS-JENIS MYRTACEAE (JAMBU-JAMBUAN) BERDAUN WANGI KOLEKSI KEBUN RAYA BOGOR
Sri Hartini ..•...•...•...•...•...••...•.... 7
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT KABUPATEN KATINGAN, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
DAl.AM MELESTARIKAN BUAH-BUAHAN LOKAL KALIMANTAN Dl KEBUN RAYA KATINGAN
Sudarmono .••... ~... 8
EVALUASI KONDISI UNGKUNGAN WILAYAH PESISIR DAN MUARA UNTUK KEGIATAN BUDIDAYA
KRUSTASE DAN IKAN 01 KABUPATEN BANGKA DAN BELITUNG
Sulastri, Sri luwano dan Rahmi
Dina...
...
...
9APLIKASI MOL RUMEN KAMBING PADA TANAMAN JAGUNG Dl DESA PANDANSARI LOR
KECAMATAN JABUNG KAB. MALANG
Ahmad Yusut Budi Prasetya dan Lily Agustina ....•...•...•...•.... 10
APLIKASI MOL BONGGOL PISANG PADA PERTUMBUHAN PADIINPARI 6
Suyadi, Yogi Sugito, Husni Tamrin Sebayang, dan Lily Agustina •...•..•...•.•.... 11
APLIKASI PUPUK HAYATI DAN PENGURANGAN DOSIS PUPUK NPK TERHADAP PERSEDIAAN AIR
DAN PRODUKSI KEDELAI Dl TANAH ULTISOL
Beganonda •....••..••...•..•...••. .••..•••..••...•..•..•.•...••••...•••... ..•.•...•...•..•.•...• 12
PENGELOLAAN EKONOMI SUMBERDAYA l.AUT DALAM RANGKA PENINGKATAN
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT