1 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Abstract, Issues relating to the environment is a global issue that demands attention from various sectors including education . Sullivan in Bezzina (2006 ) states that the environmental crisis is a social issue and not a matter of merely natural . Environmental education has a very important role in addressing environmental problems that arise at this time . Although the policy published by the government of West Java, but at the level of implementation required a learning model which could be a reference to the teacher in implementing the learning of Environmental Education in Early Childhood Education. The method used in this study is Research and Development with the following phases:
preliminary study include literature studies , field surveys and preparation of the initial product . The development phase includes limited testing and trials as well as broader validation phase . Result shows that Environmental Education in Early Childhood education is still not optimal . Learning model is developed with the model based on Contextual Inquiry process . Implementation of Contextual Inquiry-based learning model in the Learning Environment Education in Early Childhood Education can improve children's learning outcomes , especially in the sphere of competence of knowledge , attitudes and skills which refers to the Local Content Curriculum Environmental Education. . Keywords : Environmental Education, Early childhood Education, Curriculum
Abstrak, masalah-masalah yang berhubungan dengan lingkungan merupakan isu global yang menuntut perhatian dari berbagai sektor termasuk pendidikan. Sullivan di Bezzina ( 2006) menyatakan bahwa krisis lingkungan merupakan masalah sosial dan bukan semata- mata sesuatu yang alami. Pendidikan Lingkungan Hidup memiliki peran yang sangat penting dalam menangani masalah lingkungan yang muncul saat ini. Meskipun kebijakan diterbitkan oleh pemerintah Jawa Barat, tetapi pada tingkat implementasi diperlukan model pembelajaran yang dapat menjadi acuan untuk guru dalam melaksanakan pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup pada Pendidikan Anak Usia Dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian dan Pengembangan dengan tahap-tahap berikut: studi pendahuluan meliputi studi literatur, survei lapangan dan penyusunan produk awal. Tahap pengembangan termasuk pengujian terbatas dan uji coba serta tahap validasi yang lebih luas. Hasil menunjukkan bahwa Pendidikan Lingkungan Hidup pada Pendidikan Anak Usia Dini masih belum optimal. Sebuah model pembelajaran dikembangkan dengan model yang didasarkan pada proses inkuiri kontekstual. Penerapan model pembelajaran berbasis inkuiri kontekstual pada Pendidikan Lingkungan Hidup pada Pendidikan Anak Usia Dini dapat meningkatkan hasil belajar anak-anak, terutama pada ranah kompetensi pengetahuan, sikap dan keterampilan yang mengacu pada Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup.
Kata Kunci: Pendidikan Lingkungan Hidup, Pendidikan Anak Usia Dini, kurikulum
A. PENDAHULUAN
Lingkungan hidup adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
manusia. Sepanjang hidupnya manusia sangat tergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya. Perubahan yang
Oleh : Heny Djoehaeni Email : [email protected] PGPAUD Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia
▸ Baca selengkapnya: kd pendidikan lingkungan hidup kelas 6
(2)2 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
terjadi pada lingkungan akan berpengaruh secara langsung pada kualitas kehidupan manusia.
Pengelolaan lingkungan yang buruk timbul sebagai akibat dari kurangnya kesadaran manusia dalam memelihara lingkungan, ketidakpedulian, dan kurangnya pemahaman tentang pelestarian lingkungan sekitarnya memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kehidupan mereka.
Permasalahan lingkungan yang tejadi terkait dengan meningkatnya suhu bumi sebagai dampak dari kemajuan pada sektor industri.
Permasalahan lainnya adalah jumlah penduduk di muka bumi semakin
padat. Data statistik
(www.statistik.ptkpt.net) menyatakan bahwa jumlah penduduk di dunia sampai tahun 2012 adalah sekitar 7 milyar orang. Indonesia menempati urutan ke empat negara dengan jumlah penduduk terbanyak setelah Republik Rakyat China, India dan Amerika.
Bertambahnya populasi penduduk berdampak pada semakin sempitnya lahan hijau, berkurangnya cadangan air dan sumber energi lainnya serta meningkatnya produksi limbah.
Kinsella (2008) menyatakan bahwa saat ini kita menjadi semakin khawatir
tentang pemanasan global, perubahan iklim dan kesejahteraan planet ini dan habitat untuk generasi masa depan.
Isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan merupakan isu global yang menuntut perhatian dari berbagai sektor termasuk pendidikan. Sullivan dalam Bezzina (2006) menyatakan bahwa krisis lingkungan merupakan masalah sosial dan bukan masalah alamiah semata.
Pendidikan lingkungan memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang timbul saat ini. Sebagaimana dikemukakan oleh Seefeldt (1989) bahwa saat ini kebutuhan akan pendidikan lingkungan sangatlah kritis.
Permasalahan lingkungan serta sumber alam yang semakin berkurang, menjadi satu pemikiran yang mengarah pada perhatian dan kepedulian akan pendidikan lingkungan.
Sehubungan dengan peran guru,
Lang (2007) mengungkapkan bahwa
guru harus mempersiapkan siswa untuk
belajar dalam lingkungan dan menggali
lebih dalam. Selanjutnya, Lang (2007)
berpendapat bahwa belajar mengenai
lingkungan mengharuskan siswa untuk
mengembangkan kemampuan dalam
melihat, menginterpretasi,
3 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
memecahkan masalah dan membangun teori, serta pelaporan dan mengambil tindakan atas informasi yang dihasilkan dari belajar.
Pengembangan kesadaran lingkungan hidup semakin penting untuk terus disosialisasikan kepada semua elemen masyarakat yang memiliki tanggung jawab dalam mempertahankan dan melestarikan lingkungan demi keberlanjutan yang relevan dengan alam. Dalam hal ini, perlu bimbingan tentang kepedulian lingkungan melalui lembaga yang namanya sekolah. Hal ini dimaksudkan agar anak usia sekolah memiliki kesadaran akan pentingnya aspek lingkungan dalam mempertahankan kehidupan saat ini dan di masa depan karena pendidikan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat, termasuk pemerintah dan lembaga pendidikan.
Pendidikan lingkungan hidup yang ditanamkan awal diharapkan akan mengembangkan sikap positif dan terhadap kelestarian lingkungan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sutrisno dkk (2005) bahwa pengenalan alam sekitar melalui pendidikan lingkungan sejak dini kepada anak merupakan
langkah awal bagi anak dalam menghargai lingkungan.
Dalam Undang Undang Republik Indonesia No. 23 tahun 1997 (UU RI No 23 tahun 1997) tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dinyatakan bahwa Pendidikan Lingkungan Hidup diartikan sebagai upaya mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran masyarakat tentang nilai- nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.
Pemerintah memiliki tanggapan
yang positif terkait pendidikan
lingkungan hidup, dengan
diterbitkannya kebijakan tentang
Pengembangan Kesadaran Lingkungan
Hidup (PKLH) yang dilaksanakan di
berbagai institusi pendidikan. Di
Provinsi Jawa Barat, kesadaran
pelatihan lingkungan yang dilakukan di
sekolah diatur dengan Peraturan
Gubernur Jawa Barat Nomor 25 Tahun
2007 tentang Pedoman Muatan Lokal
4 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup. Implikasi dari Peraturan Gubernur tersebut adalah bahwa setiap sekolah diharapkan untuk mempersiapkan muatan lokal pendidikan lingkungan. Peraturan Gubernur tersebut ditindaklanjuti di Kota Bandung dengan terbitnya Peraturan Walikota Bandung Nomor 031 tahun 2007 tentang Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup Kota Bandung.
Pada bagian awal Peraturan Walikota Bandung Nomor 031 tahun 2007 tentang Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup Kota Bandung, dinyatakan bahwa
“Lingkungan hidup di Kota Bandung saat ini menuntut perhatian kita semua karena kondisinya yang semakin kritis dan memprihatinkan. Oleh jarena itu, upaya peningkatan kualitas lingkungan perkotaan melalui Penanaman Sejuta Pohon serta menambah Ruang Terbuka Hijau harus terus kita lakukan bersama- sama secara konsisten dan
berkesinambungan. Demi
meningkatkan derajat hidup masyarakat Kota Bandung, maka upaya-upaya tersebut harus dilakukan oleh semua lapisan masyarakat dalam rangka pelestarian lingkungan hidup di
Kota Bandung”. Pernyataan tersebut memperlihatkan kepedulian pemerintah Kota Bandung untuk terlibat secara langsung dalam upaya pelestarian serta penataan lingkungan hidup dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Pada tataran formal terbitlah Kurikulum muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup yang bisa dijadikan acuan oleh semua lembaga pendidikan.
Meskipun peraturan mengenai pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup telah lahir, namun pada tataran implementasi masih belum ada pedoman yang bisa menjadi acuan bagi guru dalam melaksanakan pendidikan lingkungan hidup pada jenjang pendidikan anak usia dini. Di lain pihak, pendidikan anak usia dini dipandang sebagai tempat yang tepat untuk memulai belajar tentang lingkungan.
Pendidikan anak usia dini
merupakan dasar untuk pengembangan
karakter individu dalam hidupnya di
masa depan. Banyak ahli menyatakan
bahwa pendidikan di usia dini
merupakan tahapan yang sangat
fundamental bagi pengembangan dan
pendidikan selanjutnya. Victorian
Environmental Education Council
(1992) menyatakan bahwa pengalaman
5 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
belajar yang terjadi pada usia dini akan menjadi dasar untuk pengalaman belajar berikutnya.
Beberapa kualitas mendasar dari pentingnya pendidikan lingkungan seperti kreativitas, kerjasama, pemeliharaan lingkungan penghargaan terhadap bahan yang digunakan kembali serta pemahaman akan keterkaitan dalam kehidupan di muka bumi dapat dikembangkan secara signifikan sejak usia dini.
Beberapa penelitian mengungkap pentingnya pendidikan lingkungan hidup, seperti yang dinyatakan Chen&Cheng dalam penelitiannya (2008) bahwa Pendidikan Lingkungan merupakan alat yang sangat penting dalam menyediakan pengetahuan, sikap positif terhadap lingkungan serta membangun keterampilan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas lingkungan. Sehubungan dengan keterbatasan sumber dana serta semakin meningkatnya tantangan terkait kondisi lingkungan maka perlu disediakan program pendidikan lingkungan yang efektif. Dengan demikian, akan sangat penting bagi orang tua, guru serta orang dewasa lainnya untuk mengenali masa usia dini serta menerapkan strategi yang tepat
untuk membantu anak memiliki kesadaran yang tinggi terkait dengan pelestarian lingkungan hidup.
Meskipun peraturan mengenai pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup telah lahir, namun pada tataran implementasi masih belum ada pedoman yang bisa menjadi acuan bagi guru dalam melaksanakan pendidikan lingkungan hidup pada jenjang pendidikan anak usia dini. Untuk itu perlu dilakukan sebuah penelitian pengembangan yang akan menghasilkan sebuah model pembelajaran yang bisa menjadi pedoman bagi guru dalam melaksanakan Pendidikan Lingkungan Hidup pada Pendidikan Anak Usia Dini yang dalam penelitian ini dilakukan di Taman Kanak kanak. Artikel ini membahas hasil studi pendahuluan yang merupakan tahap awal dari penelitian pengembangan yang dimaksudkan.
Rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
“Bagaimana implementasi Pendidikan
Lingkungan Hidup di TK Se
Kecamatan Sukasari? Secara lebih
khusus, rumusan masalah yang
diajukan adalah:
6 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
1. Bagaimana kondisi objektif proses pembelajaran pendidikan lingkungan hidup pada pendidikan anak usia dini saat ini?
2. Bagaimanakah model pembelajaran pendidikan lingkungan hidup untuk meningkatkan kompetensi anak usia dini?
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui kondisi objektif proses pembelajaran pendidikan lingkungan hidup pada pendidikan anak usia dini saat ini
2. Menemukan model
pembelajaran pendidikan lingkungan hidup untuk meningkatkan kompetensi anak usia dini
3. Manfaat dan Signifikansi Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan beberapa dalil, prinsip serta rambu-rambu
pengembangan
pembelajaran pendidikan
lingkungan hidup untuk mengoptimalkan
pengetahuan, sikap dan keterampilan anak usia dini dalam aspek lingkungan hidup.
b. Manfaat Praktis
Pengembangan model pembelajaran pendidikan lingkungan hidup untuk meningkatkan kompetensi anak usia dini memiliki manfaat sebagai berikut:
1) Menyediakan
pengalaman belajar yang berharga bagi anak terkait dengan pendidikan lingkungan hidup yang berorientasi pada karakteristik dan kebutuhan anak didik.
2) Sebagai bahan acuan untuk menyusun program perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
Pendidikan Lingkungan
Hidup di lembaga
Pendidikan Anak Usia
Dini dalam upaya
menanamkan kepedulian
serta kesadaran akan
7 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
pemeliharaan
lingkungan sejak usia dini.
3) Memberi masukan terkait implementasi Program Pendidikan Lingkungan hidup yang dilaksanakan pada jenjang pendidikan anak usia dini sehingga dapat memperkaya regulasi yang telah ada sebelumnya.
1. Landasan Teori a. Kajian Pembelajaran
Pembelajaran diartikan sebagai proses interaksi antara guru dengan siswa dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendapat lain dikemukakan oleh Oemar Hamalik (1995:55) bahwa
“pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran”
Sedangkan Sanjaya (2009) menyatakan bahwa istilah
pembelajaran itu menunjukkan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru. Sementara Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2009)
menyatakan bahwa
pembelajaran merupakan akumulasi dari konsep mengajar dan konsep mengajar.
Penekanannya terletak pada perpaduan antar keduanya, yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek didik.
Dari pendapat yang dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran penekanannya pada kegiatan belajar siswa yang telah dirancang oleh guru melalui usaha yang terencana melalui prosedur atau metode tertentu agar terjadi proses perubahan perilaku secara komprehensif.
b. Kajian Teori Belajar
Teori belajar yang
digunakan untuk
mengembangkan model pembelajaran ini adalah teori belajar konstruktivisme.
Konstruktivisme adalah teori
8 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
tentang struktur pengetahuan.
Kamii dan DeVries seperti dikutip dalam Branscome (2003) menyatakan bahwa konstruktivisme adalah teori pengetahuan yang menekankan peran masing-masing orang dalam membangun pengetahuan sendiri daripada menyerap langsung dari lingkungan.
Fokus pada anak-anak adalah dalam penciptaan pengetahuan bukan pada pengulangan atas apa yang orang lain anggap pengetahuan penting.
Konstruktivis itu sendiri berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Piaget yang menunjukkan bahwa pada dasarnya anak secara aktif menafsirkan pengalaman mereka di dunia fisik dan sosial dan untuk membangun pengetahuan, kecerdasan dan moralitas mereka sendiri. Anak- anak membangun pengetahuan mereka sendiri karena mereka memiliki begitu banyak ide yang tidak benar-benar pernah mengajar mereka. Dalam perspektif pandangan konstruktivistik kematangan
dan pengalaman lingkungan memainkan peran penting dalam proses pembelajaran.
Menurut pandangan ini, pengetahuan pada dasarnya dibangun oleh anak-anak melalui interaksi dengan lingkungan.
Branscome (2003) juga menyebutkan bahwa ketika seseorang membangun pengetahuan mereka, mereka biasanya sampai pada tahap tidak setuju atau tidak sejalan dengan pikiran orang lain, umumnya dengan orang-orang yang lebih berpengalaman.
Konstruktivis memberikan dukungan yang kuat terhadap perubahan paradigma berpikir seseorang setelah yang bersangkutan
mempertimbangkan pendapat dan gagasan dari orang lain.
Penerimaan terhadap pemikiran yang telah diberubah atau diperbaiki tersebut akan
menyediakan banyak
kesempatan bagi pebelajar untuk menambah pengetahuan serta memperbaiki pemikiran
mereka. Pemahaman
9 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
konstruktivis digagas oleh dua psikolog yaitu Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Pada dasarnya telah memahami asumsi konstruktivis bahwa anak-anak aktif pembangun pengetahuan.
Anak-anak membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman. Pengetahuan diperoleh oleh anak-anak secara aktif membangun mereka sendiri melalui interaksi dengan lingkungan. Menurut pemahaman ini anak bukan individu yang pasif, yang hanya mendapatkan pengetahuan dari orang lain. Anak-anak adalah makhluk belajar aktif yang dapat-menciptakan dan membangun pengetahuannya sendiri. Rogoff (1990).
Berdasarkan asumsi
sebelumnya tampak bahwa pendekatan ini menekankan pentingnya keterlibatan anak dalam proses pembelajaran.
Untuk itu, guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, dan hangat melalui bermain dan berinteraksi dengan lingkungan sehingga mendorong partisipasi
aktif anak-anak. Pendekatan ini juga berkaitan dengan unsur variasi individu dan bunga yang dimiliki oleh anak.
Sehubungan dengan proses perkembangan , Piaget (Roopnaire & Johnson: 1993)
menjelaskan bahwa
perkembangan anak terjadi melalui urutan yang universal dan setiap tahap pembangunan di tandai dengan karakteristik tertentu dalam cara berpikir dan melakukan. Pada dasarnya proses pengembangan berpikir bergeser dari cara berpikir konkret ke berpikir abstrak.
Sementara itu, pandangan Lev Vigotsky bahwa konteks sosial sangat penting dalam proses pembelajaran seorang anak. Pengalaman interaksi sosial sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir anak-anak. Interaksi antara anak dan lingkungan sosial mereka akan menciptakan bentuk-bentuk baru aktivitas mental yang tinggi. Dalam hal ini menurut Vigotsky bahwa
untuk memahami
perkembangan individu anak.
10 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
Rogoff (1990)
menyebutkan bahwa dalam pandangan Vygotsky, keahlian dalam penggunaan alat-alat budaya merupakan pusat peran interaksi sosial, dan interaksi dengan rekan-rekan pakar dapat mirip dengan yang dengan orang dewasa dalam memandu perkembangan kognitif anak- anak muda. Piaget dan Vigotsky sama menekankan pentingnya kegiatan bermain sebagai sarana untuk pendidikan anak-anak, terutama yang berkaitan dengan perkembangan pemikiran kapasitas. Kreativitas adalah penting untuk dikembangkan terutama pada anak usia dini.
Anak-anak yang digunakan untuk membuat atau menciptakan sesuatu untuk mendapatkan digunakan juga
untuk mencari dan
mengeksplorasi ide-ide baru sehingga mereka akan lebih dapat diandalkan ketika berhadapan dengan isu-isu yang harus diselesaikan. Interaksi dilakukan anak dengan lingkungan sekitarnya baik orang dewasa dan anak-anak,
dapat memberikan bekal yang cukup berharga bagi anak, karena dapat membantu mengembangkan keterampilan bahasa, untuk berkomunikasi dan bersosialisasi. Dan yang tidak kalah penting adalah melalui interaksi anak-anak akan belajar untuk memahami perasaan orang, menghormati pendapat mereka, sehingga secara tidak langsung juga melatih anak-anak untuk mengekspresikan emosi.
Dunia anak dunia bermain.
Bermain untuk anak-anak juga belajar. kesempatan luas yang diberikan kepada anak-anak untuk bermain, secara tidak langsung telah membuka peluang bagi mereka untuk belajar. Kegiatan belajar di paket dalam bentuk bermain akan membuat mereka bahagia dan tanpa di mengetahui bahwa mereka telah mengembangkan potensi yang dimiliki sebelumnya. Belajar akan bermakna bagi anak jika memiliki kepentingan dan kebutuhan mereka terpenuhi.
Anak-anak akan merasa lebih
11 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
senang untuk belajar sesuatu yang menarik baginya atau sesuai dengan kebutuhan mereka.
c. Kajian Pendidikan Lingkungan Hidup
Stapp (1979) menyatakan bahwa pendidikan lingkungan hidup adalah proses yang
bertujuan untuk
mengembangkan penduduk dunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan secara utuh serta permasalahan yang
berhubungan dengan
lingkungan, dan yang memiliki pengetahuan, sikap, motivasi, komitmen dan keterampilan untuk bekerja secara individu dan bersama-sama terhadap solusi dari permasalahan saat ini dan pencegahan atas datangnya permasalahan yang baru.
Senada dengan hal tersebut, Eco Schools Program. (1998) menyatakan bahwa pada dasarnya, program pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah bertujuan untuk membawa perubahan dalam sikap siswa dan nilai-nilai sebagai manusia
dalam berinteraksi dengan semua komponen lingkungan.
Ketika sekolah mendirikan program suara lingkungan praktis, siswa akan dapat berpartisipasi aktif dalam meningkatkan kualitas lingkungan sekolah. Dalam sebagian besar kasus ini, hasil yang terbaik akan didapatkan jika dilakukan dengan dukungan dan kerjasama masyarakat, termasuk departemen pemerintah dan lembaga non-pemerintah.
Ketika siswa melihat bahwa mereka memberi kontribusi yang realistis terhadap lingkungan, mereka belajar lebih bertujuan, motivasi mereka meningkat dan harga diri mereka dibangkitkan.
Kinsella (2008) menyatakan
bahwa di masyarakat hari ini kita
menjadi semakin khawatir
tentang pemanasan global,
perubahan iklim dan
kesejahteraan planet ini dan
habitat untuk generasi masa
depan. Sebagai orangtua dan
pengasuh, kita sering khawatir
tentang masa depan anak-anak
12 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
kita, dan banyak dari kita merasa kita bisa melakukan lebih dalam kehidupan sehari-hari kita untuk berkontribusi pada solusi bukan penyebab masalah lingkungan yang ditimbulkan. Di bagian lain Kinsella (2008) juga menyebutkan bahwa rumah kita dan masyarakat adalah tempat di mana kita membesarkan anak- anak kita, sehingga masuk akal untuk ingin menjaga rumah kita aman dan sehat bagi mereka untuk tumbuh dan belajar. Kita tahu bahwa anak-anak belajar dari hubungan dengan keluarga mereka, pengasuh dan lingkungan, sehingga, melalui apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dapat mulai melibatkan anak- anak dalam belajar tentang merawat dunia di sekitar mereka.
2. Metodologi
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian dan pengembangan (Research and Development), dengan prosedur penelitian merujuk pada Brog dan Gall (1983:772) yaitu : (1).
Melakukan studi pendahuluan, (2) membuat perencanaan, (3) mengembangkan produk awal, (4)
melakukan uji lapangan awal, (5) merevisi produk utama, (6) melakukan uji lapangan utama, (7) merevisi produk operasional, (8) melakukan uji lapangan operasional, (9) merevisi produk akhir dan (10) melakukan desiminasi.
Sukmadinata (2005)
menyederhanakan langkah-langkah pelaksanaan penelitian pengembangan tersebut menjadi tiga langkah, yakni:
1. Studi pendahuluan yang meliputi tiga kegiatan yaitu studi literatur/kepustakaan, survai lapangan dan penyusunan produk awal/draft model.
2. Tahap pengembangan, meliputi dua kegiatan yaitu uji coba terbatas dan uji coba lebih luas 3. Tahap eksperimen, untuk
menguji kebaikan produk yang dihasilkan.
Hasil penelitian yang disampaikan merupakan bagian dari penelitian dan pengembangan, yakni tahap studi pendahuluan dan tahap pengembangan.
Tahap studi pendahuluan dilakukan
dengan teknik survey dengan
menggunakan angket yang disebarkan
pada 37 orang guru dari 20 TK yang
berada di Kecamatan Sukasari Kota
13 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
Bandung. Sementara tahap pengembangan meliputi uji coba terbatas yang dilaksanakan di TK Labschool Universitas Pendidikan Indonesia, serta uji coba lebih luas yang dilaksanakan di TK Aisyiah 11, TK Puspa Mekar dan TK Al Inayah.
B. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian terkait dengan kondisi objektif pendidikan lingkungan hidup yang diterapkan saat ini menunjukkan bahwa pada umumnya guru mengenal Pendidikan Lingkungan Hidup,serta memandang Pendidikan Lingkungan Hidup dapat membentuk anak menjadi pribadi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Pada umumnya guru memandang Pendidikan lingkungan Hidup sangat penting dan menganggap model pembelajaran apapun bisa digunakan untuk pembelajaran Pendidikan lingkungan Hidup. Terkait dengan situasi pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lingkungan pada anak, pada umumnya guru mengharapkan adanya keterlibatan langsung anak dengan lingkungan sekitar. Terkait dengan kendala yang dihadapi dalam pembelajaran Pendidikan lingkungan Hidup, pada umumnya guru
menyatakan tidak adanya model pembelajaran yang bisa dijadikan acuan oleh guru, merupakan hambatan utama.
Hasil penelitian terkait perangkat pengembangan kurikulum, pada umumnya guru memiliki acuan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran. Pada umumnya guru menggunakan Permendiknas No 58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini sebagai acuan dalam menentukan tema pembelajaran, strategi, media serta penilaian yang dilaksanakan dalam pembelajaran Pendidikan lingkungan Hidup. Terkait pengembangan perencanaan, semua guru mengembangkan perencanaan semester, mingguan dan harian.
Mereka menganggap perencanaan pembelajaran sangat penting serta berniat mengembangkan perangkat pengembangan kurikulum dalam bentuk program semester, mingguan dan harian untuk kepentingan pembelajaran Pendidikan lingkungan Hidup.
Hasil penelitian terkait dengan
implementasi pembelajaran Pendidikan
Lingkungan Hidup, pada umumnya
pedoman yang dijadikan acuan dalam
merumuskan tujuan serta
14 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
mengembangkan materi pembelajaran adalah kompetensi dasar, standar kompetensi serta indikator hasil belajar yang tertuang dalam kurikulum.
Namun demikian pada umumnya guru mengembangkan tema yang sesuai dengan kebutuhan dan minat anak.
Terkait dengan respon peserta didik, pada umumnya guru menyatakan bahwa anak aktif menjawab serta mengajukan pertanyaan. Organisasi kelas yang paling sering dipilih adalah klasikal. Metode yang paling sering dipilih adalah tanya jawab, bercakap- cakap serta penugasan. Sumber belajar yang paling sering digunakan adalah pemanfaatan lingkungan sekitar serta buku cerita, gambar seri serta alat permainan manipulatif. Pada umumnya guru melaporkan perkembangan anak didik sebanyak 1 kali seriap semester, Teknik yang digunakan dalam melaporkan adalah lisan dan tulisan.
Pada umumnya guru siap menerima inovasi baru terkait dengan model pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup.
Hasil penelitian pada tahap pengembangan yakni uji coba terbatas menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran pendidikan lingkungan hidup dengan menggunakan model
Contextual Teaching Learning (CTL) yang difokuskan pada proses inquiry membantu meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan anak TK terkait dengan lingkungan hidup.
Demikian pula pada tahap uji coba lebih luas yang dilaksanakan pada 3 TK menunjukan peningkatan Pengetahuan, sikap dan keterampilan anak TK setelah implementasi model pembelajaran pendidikan lingkungan hidup dengan menggunakan model Contextual Teaching Learning (CTL)
Berdasarkan pemaparan hasil penelitian, tampak bahwa Pendidikan lingkungan Hidup sudah dikenal bahkan diterapkan di sekolah masing- masing, hanya guru menghadapi kendala karena belum adanya model pembelajaran yang bisa dijadikan acuan.
Kurikulum yang dijadikan acuan
dalam pembelajaran Pendidikan
Lingkungan Hidup adalah
permendikans No 59 tahun 2009. Guru
sama sekali tidak menggunakan
kurikulum muatan lokal tentang
Pendidikan Lingkungan Hidup sebagai
acuan penunjang. Sehingga hasil
belajar anak pun tidak terkait dengan
Pendidikan Lingkungan hidup secara
langsung. Terkait dengan pemilihan
15 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
strategi dan organisasi kelas, nampaknya guru masih merasa nyaman menggunakan strategi yang bersifat teacher oriented, dengan organisani siswa dalam bentuk klasikal. Hal ini tentu saja kurang relevan dengan karakteristik dan kebutuhan anak serta persepsi mengenai bagaimana anak belajar. Seperti yang diungkapkan oleh (Masitoh:2003) bahwa anak membangun pengetahuannya sendiri karena mereka memiliki begitu banyak gagasan yang sesungguhnya tidak pernah diajarkan kepada mereka.
Senada dengan hal tersebut Coughlin (2000) mengungkapkan bahwa, para konstruktivis meyakini bahwa pembelajaran terjadi pada saat anak berusaha memahami dunia di sekeliling mereka. Pembelajaran merupakan sebuah proses interaktif yang melibatkan teman, orang dewasa dan lingkungan. Dalam pandangan konstruktivistik anak dipandang sebagai pebelajar yang aktif, yang membangun pemahamannya sendiri.
Terkait dengan pemilihan sumber belajar, pada umumnya guru memilih lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Hal ini dirasa tepat, mengingat lingkungan sekitar bersifat kaya dan mampu menghadirkan pengalaman
belajar yang bermakna terutama jika dikaitkan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup. Seperti yang diungkapkan oleh Sutrisno dkk (2005) bahwa pengenalan alam sekitar melalui pendidikan lingkungan sejak dini kepada anak merupakan langkah awal bagi anak dalam menghargai lingkungan.
Selanjutnya. Sutrisno (2005) mengungkapkan bahwa Kepedulian terhadap lingkungan dapat ditumbuhkembangkan pada diri anak sejak usia dini. Untuk itu cara yang paling mendatangkan hasil yang relatif cepat dan memuaskan adalah dengan secara sadar mendidik anak untuk mencintai lingkungan.
Pada bagian lain, Sutrisno (2005) menyatakan bahwa melalui interaksi langsung dengan lingkungan alam sekitar akan timbul akan timbul dalam diri anak-anak penghayatan baru tentang keterkaitan ekologis.
Cakrawala penghayatan terhadap keterkaitan ekologis ini akan lebih mendalam dan meluas manakala didukung oleh praksis pendidikan lingkungan yang terencana dan berkesinambungan.
Berkaitan dengan lingkup
pendidikan lingkungan hidup, Sutrisno
16 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
(2005) mengungkapkan empat prinsip utama yang bisa dijadikan pedoman dalam menuntun tindakan yang selaras dengan lingkungan hidup, yaitu:
1. Mengurangi limbah yang ada dan hemat terhadap barang- barang yang tersedia
2. Pemakaian ulang 3. Pendauran ulang
4. Penanaman kembali dalam rangkamenjaga kelestarian alam
Penerapan keempat prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan dukungan dari orang dewasa di sekitar anak yang akan menjadi fasilitator bagi anak dalam upaya memahami dan mencintai lingkungan hidup. Keberhasilan pendidikan lingkungan hidup bagi anak usia dini seyogyanya dilaksanakan melalui proses pembelajaran yang terpadu, adanya unsur teladan dari guru serta kesempatan bagi anak untuk melakukan tindakan nyata terkait dengan pendidikan lingkungan.
Pembelajaran yang bermakna bagi anak adalah pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.
Pendidikan Lingkungan Hidup yang disampaikan kepada anak akan bermakna jika dikaitkan dengan
konteks dimana anak berada. Hal ini sejalan dengan pendapat Adisenjaya (file.upi.edu) bahwa Pendidikan Lingkungan Hidup dapat diajarkan dengan menerapkan pendekatan kontektual.
Dengan demikian model pembelajaran yang dikembangkan dalam Pendidikan Lingkungan Hidup bagai anak usia dini adalah Model Pembelajaran Kontekstual berbasis proses inquiry. Model ini dipandang tepat mengingat pembelajaran bagi anak usia dini akan lebih bermakna jika dilakukan melalui kegiatan yng dekat dengan kehidupan anak sehari-hari, serta dilaksanakan melalui pengalaman langsung.
Pendekatan CTL adalah pendekatan belajar yang memfasilitasi siswa untuk mencari, mengolah serta menemukan pengalaman belajar yang bersifat lebih kongkrit serta terkait dengan kehidupan nyata
Penerapan pendekatan kontekstual (CTL) dalam kelas langkahnya adalah sebagai berikut:
(Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran: 2009)
1. Mengembangkan pemikiran
bahwa siswa akan belajar lebih
bermakna dengan cara bekerja
17 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri
pengetahuan dan
keterampilannya.
2. Melaksanakan kegiatan inkuiri (dengan siklus observasi, bertanya, berhipotesis, pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan).
3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan- pertanyaan
4. Menciptakan masyarakat belajar seperti melalui kegiatan kelompok, berdiskusi tanya jawab dan sebagainya.
5. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Bisa melalui ilustrasi, model bahkan media yang sebenarnya.
6. Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
7. Melakukan penilaian secara objektif yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada siswa.
Langkah-langkah pembelajarn yang dilaksanakan dalam pendekatan kontekstual ini
kemudian diselaraskan dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan sehari-hari yang meliputi kegiatan pembukaan, inti, istirahat dan penutup.
C. SIMPULAN
Pendidikan lingkungan memiliki
peranan yang sangat penting dalam
mengatasi permasalahan lingkungan
yang timbul saat ini. Pendidikan
lingkungan yang ditanamkan awal
diharapkan akan mengembangkan
sikap positif terhadap kelestarian
lingkungan Hasil penelitian pada tahap
studi pendahuluan menunjukkan bahwa
Pendidikan Lingkungan hidup yang
dilaksanakan di Taman Kanak-kanak
masih belum optimal. Guru masih
terjebak pada kegiatan pembelajaran
yang bersifat teacher centre. Partisipasi
anak masih terbatas. Sedangkan
pendidikan lingkungan hidup akan
lebih bermakna jika dilaksanakan
dengan pendekatan kontekstual yang
lebih real dan konkrit, sesuai dengan
karakteristik anak usia dini. Selain itu
kurikulum muatan lokal tentang
Pendidikan Lingkungan belum menjadi
rujukan bagi guru dalam
pelaksaanaanya. Pada tataran
implementasi masih terdapat berbagai
kendala diantaranya belum adanya satu
18 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
model pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup yang bisa menjadi acuan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan lingkungan yang lebih baik. Hasil studi pendahuluan tersebut menjadi masukan bagi pengembangan model pembelajaran Pendidikan Lingkungan hidup yang bisa menjadi acuan bagi guru.
D. DAFTAR PUSTAKA
Bezzina, C., Pace, Paul. (2006). School improvement, school effectiveness or scholl development. London: Trentham Books Limited.
Branscome, A., Kathryn, Castle., Dorsey, Anne G., Surbeck, Elaine., Taylor, Janet B. (2003).
Early Childhood Curriculum. A constructivist perspective.
Boston: Houghton Mifflin Company.
Borg, W. R., and Gall, M.D. (1983).
Educational Research. An Introduction (Second ed.). New York: Longman.
Carol, S. (1989). Social Studies for the Preschool-Primary Children (Third Edition ed.). Ohio: Merrill Publishing Company.
Chen, Judith., Cheng, Hsuan (2008).
Children, Teachers and Nature:
An Analysis of An Environmental Education Program (Disertasi).
University of Florida.
Council, V. E. E. (1992). Learning to
care for our
environmental:Victoria's
Environmental Education Strategy. Melbourne: Victorian Educational Environmental Council
Coughlin, Pamela. (2000).
Menciptakan Kelas yang Berpusat pada Anak.
Terjemahan: Kenny Dewi Juwita.
Washington D.C. Children’s Resources International.
Hamalik, Oemar (1995) Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Kurikulum Taman Kanak-Kanak.
Pedoman Pengembangan
Program Pembelajaran Di
Taman Kanak-Kanak (2010)
Jakarta: Kementerian Pendidikan
Nasional. Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah. Direktorat
Pembinaan TK dan SD.
19 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini
Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Pelayanan Profesional (2004) Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Lang, J. (2007). Little Books of Big Ideas: How to Succeed with Education for Sustainability.
Carlton South Victoria:
Curriculum Corporation.
Masitoh, Ocih, Heny, DJ. (2003) Pendekatan Belajar Aktif di Taman Kanak-Kanak, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Kependidikan
Preuss, P., Duke, Geoff., Rogers, Judy.
(1998). Environment. Melbourne:
Cambridge University Press.
Rogoff, B. (1990). Apprenticeship in Thinking. Cognitive Development in Social Context. New York:
Oxford University Press.
Sanjaya, Wina (2009) Kurikulum dan Pembelajaran. Teori dan Praktek Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.
Shallcross, T., Robinson, John., Pace, Paul., Wals Arjen. (2006).
Creating Sustainable
Environment in Our School.
London: Trentham Book Limited.
Sugiyono (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &D.
Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, Nana Syaodih (2005) Metode Penelitian Pendidikan.
Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia dan Remaja Rosdakarya.
Sutrisno., Harjono, Hary Soedarto (2005) Pengenalan Lingkungan Alam Sekitar Sebagai Sumber Belajar Anak Usia Dini. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2009) Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.
Tyler, Ralph W. (1949) Basic
Principles of Curriculum and
20 Model Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Pendidikan Anak Usia Dini