• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KEPEMIMPINAN DAN EKSTRAKURIKULER PRAMUKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KEPEMIMPINAN DAN EKSTRAKURIKULER PRAMUKA"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

26 BAB II

KEPEMIMPINAN DAN EKSTRAKURIKULER PRAMUKA

A. KEPEMIMPINAN

1. Pengertian Kepemimpinan

Kata kepemimpinan merupakan terjemahan dari kata Leadership berasal dari bahasa Inggris. Terjemahan kata leadership yang paling sesuai dalam bahasa Indonesia adalah kepemimpinan. Leadership memiliki arti luas, yaitu meliputi ilmu tentang kepemimpinan, teknik kepemimpinan seni kepemimpinan, ciri kepemimpinan, serta sejarah kepemimpinan.1

Leadership memiliki kata dasar „leader‟, yang berarti pemimpin. Kata „pemimpin‟ di dalam bahasa Indonesia memiliki banyak arti, misalnya pimpinan, ketua, atau komandan. Namun, dalam arti yang lebih dalam, pemimpin yang dimaksudkan di dalam „leadership‟ harus diartikan sebagai seseorang yang memimpin sebuah organisasi atau institusi dan terlibat di dalamnya. Pemimpin di sini bukan berarti pemimpin insidentil, misalnya orang yang (sekali saja) membantu serombongan anak menyeberang jalan, Master of Ceremony (MC), atau seseorang yang mendadak didaulat untuk memimpin doa.2

1Tikno Lensufiie, Leadership untuk Profesional dan Mahasiswa (Jakarta: Erlangga

Group,),hlm. 2.

2

(2)

Berikut pengertian kepemimpinan dari beberapa ahi :

a. Menurut Stephen P Robbins dalam bukunya Hadari Nawawi yang berjudul Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian (tujuan). Pendapat ini memandang semua anggota kelompok atau organisasi sebagai satu kesatuan, sehngga kepemimpinan diberi makna sebagai kemampuan mempengaruhi semua anggota kelompok atau organisasi agar bersedia melakukan kegiatan atau bekerja untuk mencapai tujuan kelompok atau organisasi.3

b. James A.F. Stoner dan Charles Wankel berpendapat kepemimpinan adalah kemampuan dan ketrampilan mengarahkan, merupakan faktor (aktivitas) penting dalam efektivitas pemimpin.4

c. Ordway Tead memberikan rumusan “Leadership is the activity influencing people to coorperate some good which they come of find desirable”. Kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama guna mencapai tujuan tertentu yang diinginkan.5

3Hadari Nawawi, Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi (Jakarta: Gajah Mada

Universty Pers, 2006),hlm. 20.

4Ibid, hlm. 18.

5 Veithzal Rivai, dkk, Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Organisasi (Jakarta: PT

(3)

d. Menurut Kimball Young dalam bukunya Kartini Kartono yang berjudul Pemimpin dan Kepemimpinan menyatakan bahwa kepemimpinan adalah bentuk dominasi didasari kemampuan pribadi, yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu berdasarkan akseptansi atau penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus.6 e. Menurut Jacobs & Jacques dalam bukunya Gary Yukl yang

berjudul Kepemimpinan Dalam Organisasi menyatakan bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.7

f. Menurut Jhon Piffner dalam bukunya Veithzal Rivai yang berjudul Pemimpin Dan Kepemimpinan Dalam Organisasi, kepemimpinan merupakan seni dalam mengkoordinasikan dan mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki.8

g. Menurut Purwanto dalam bukunya Veithzal Rivai yang berjudul Pemimpin Dan Kepemimpinan Dalam Organisasi bahwa kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian

6

Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1998), hlm.50.

7Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, (Jakarta: Prenhallindo, 1998), hlm. 2. 8

(4)

kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk di dalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.9

Dalam Islam, kepemimpinan sering dikenal dengan perkataan khalifah yang bermakna “wakil”, sesuai firman Allah Swt. Dalam surah Al-Baqarah (2) : 30 :



























































Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".10

Mustafa al-Maraghi, mengatakan khalifah adalah wakil Tuhan di muka bumi (khalifah fil ardli) Rasyid Ridla al Manar, menyatakan khalifah adalah sosok manusia yang dibekali kelebihan akal, pikiran dan pengetahuan untuk

9Ibid, hlm. 4-5. 10

(5)

mengatur.Istilah atau perkataan khalifah ini, mulai popular digunakan setelah Rasulullah Saw.wafat. Dalam istilah yang lain, kepemimpinan juga terkandung dalam pengertian “Imam”, yang berarti pemuka agama dan pemimpin spiritual yang diteladani dan dilaksanakan fatwanya. Ada juga istilah “amir”, pemimpin yang memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk mengatur masyarakat.11

Dengan demikian, kepemimpinan adalah suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk memengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi, sehingga dalam suatu organisasi kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.12

Menurut Hadari Nawawi dalam bukunya yang berjudul Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi bahwa unsur-unsur kepemimpinan diantaranya adalah sebagai berikut:

a. pemimpin atau orang yang mempengaruhi.

b. orang yang dipimpin sebagai pihak yang dipengaruhi.

11Veithzal Rivai, dkk, Op. Cit., hlm. 9-10. 12

(6)

c. interaksi atau kegiatan atau usaha dan proses mempengaruhi.

d. tujuan yang hendak dicapai dalam proses mempengaruhi.

e. perilaku atau kegiatan yang dilakukan sebagai hasil mempengaruhi.13

Di dalam struktur kepemimpinan, pemimpin tidak dapat berdiri sendiri. Pemimpin adalah salah satu komponen di dalam kepemimpinan. Artinya, ada komponen-komponen lain di dalam sebuah struktur kepemimpinan, yaitu :

a. Pemimpin

b. Kemampuan menggerakkan c. Pengikut

d. Tujuan yang baik e. Organisasi

Kepemimpinan

Organisasi

13

Hadari Nawawi, Op. Cit., hlm. 29.

Kemampuan Menggerakkan

Pemimpin

Pengikut

(7)

Analisis relasi unsur-unsur kepemimpinan di atas dapat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum tentang efektivitas kepemimpinan terjadi pada sebuah komunitas.Indikator-indikator efektivitas kepemimpinan didapat dari unsur-unsur kepemimpinan itu.14

2. Sifat – Sifat Kepemimpinan

Menurut Ordway Tead dalam bukunya Kartini Kartono yang berjudul Pemimpin dan Kepemimpinan mengemukakan 10 sifat kepemimpinan yaitu :15

a. Energi jasmaniah dan mental (physical and nervous energy)

Hampir setiap pribadi pemimpin memiliki tenaga jasmani dan rohani yang luar biasa, yaitu mempunyai daya tahan, keuletan, atau tenaga yang istimewa yang tampaknya seperti tidak akan pernah habis. Hal ini ditambah dengan kekuatan-kekuatan mental berupa semangat juang, motivasi kerja, disiplin, kesabaran, Ausdauer (keuletan), katahanan batin, dan kemauan yang luar biasa untuk mengatasi semua permasalahan yang dihadapi.

b. Kesadaran akan tujuan dan arah ( A sense of purpose and direction) Ia memiliki keyakinan yang teguh akan kebenaran dan kegunaan dari semua perilaku yang dikerjakan.

14Tikno lensufiie, Op. Cit., hlm. 3. 15

(8)

c. Antusiasme (enthusiasm; semangat, kegairahan, kegembiraan yang besar)

Pekerjaan yang dilakukan dan tujuan yang akan dicapai itu harus sehat, berarti, bernilai, memberikan harapan-harapan yang menyenangkan, memberikan sukses, dan menimbulkan semangat serta esprit de corp.

d. Keramahan dan kecintaan (Friendliness and affection)

Affection itu berarti kesayangan, kasih saying, cinta, simpati yang tulus, disertai kesediaan berkorban bagi pribadi-pribadi yang disayangi.

e. Integritas (integrity, keutuhan, kejujuran, ketulusan hati)

Pemimpin itu bersifat terbuka, merasa utuh bersatu, sejiwa, dan seperasaan dengan anak buahnya, bahkan senasib sepenanggungan dalam satu perjuangan.

f. Penguasaan teknis

Setiap pemimpin harus memiliki satu atau beberapa kemahiran teknis tertentu, agar ia mempunyai kewibawaan dan kekuasaan untuk memimpin kelompoknya.

g. Ketegasan dan mengambl keputusan (decisiveness)

Pemimpin yang berhasil itu pasti dapat mengambil keputusan secara tepat, tegas, dan cepat sebagai hasil dari kearifan dan pengalamannya.

(9)

h. Kecerdasan (intelligencea)

Kecerdasan yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin itu merupakan kemampuan untuk melihat dan memahami dengan baik, mengerti sebab akibat kejadian, menemukan hal-hal yang krusial dan cepat menemukan cara penyelesaiannya dalam waktu singkat.

i. Keterampilan mengajar (teaching skill)

Pemimpin yang baik itu adalah seorang guru pula yang mampu menuntun, mendidik, mengarahkan, mendorong (memotivir), dan menggerakkan anak buahnya untuk berbuat sesuatu.

j. Kepercayaan

Keberhasilan pemimpin itu pada umumnya selalu didukung oleh kepercayaan anak buahnya. Yaitu kepercayaan bahwa para anggota pasti dipimpin dengan baik, dipengaruhi secara positif, dan diarahkan pada sasaran-sasaran yang benar.

Menurut Kruse dalam bukunya Mulyadi yang berjudul Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Mengembangkan Budaya Mutu menyatakan: perilaku pemimpin meliputi disiplin diri, tujuan, pencapaian, tanggung jawab, pengetahuan, jenjang dan keteladanan memberikan pengaruh besar dalam meningkatkan kinerja seorang pemimpin dalam mengelola organisasi.16

16Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Mengembangkan Budaya Mutu,

(10)

3. Fungsi Kepemimpinan

Menurut William A. Cohen dalam bukunya Gatot Suradji yang berjudul Ilmu dan Seni Kepemimpinan menjelaskan bahwa kepemimpinan itu seni mempengaruhi orang lain untuk melakukan unjuk kerja maksimum guna menyelesaikan suatu tugas mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan suatu proyek.17

Fungsi kepemimpinan adalah memandu, menuntun, membimbing, membangun,memberi ataumembangunkan motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan komunikasi yang baik, memberikan supervisi atau pengawasan yang efisien dan membawa para pengikutnya kepada sasaran yang ingin dituju sesuai dengan ketentuan waktu dan perencanaan.18

Selanjutnya secara operasional dapat dibedakan dalam lima fungsi pokok kepemimpinan yaitu :

a. Fungsi instruksi

Fungsi ini bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan di mana perintah itu dikerjakan agar keputusan dilaksanakan secara efektif. Kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan untuk menggerakkan dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.

17 Gatot Suradji dan Engelbertus Martono, Ilmu dan Seni Kepemimpinan (Bandung :

Pustaka Reka Cipta, 2014), hlm. 64.

18

(11)

b. Fungsi konsultasi

Fungsi ini bersifat komunkasi dua arah.Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan. Biasanya pemimpin akan meminta pertimbangan terhadap atau berkonsultasi kepada orang-orang yang dipimpinnya, yang dinilai memiliki berbagai bahan informasi yang diperlukan untuk menetapkan keputusan. Tahap berikutnya konsultasi terhadap bawahan dalam rangka mengharapkan feedback untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan. Dengan menjalankan fungsi konsultatif, diharapkan apa yang diputuskan oleh pimpinan akan mendapatkan dukungan dan lebih mudah menginstruksikannya, sehingga kepemimpinan berlangsung efektif.

c. Fungsi partisipasi

Dalam menjalankan fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilaksanakan secara terkendali dan terarah, berupa kerjasama dengan tidak mencampuri dan mengambil tugas pokok orang lain. Keikutsertaan pemimpin tetap dalam fungsi sebagai pemimpin bukan sebagai pelaksana.

d. Fungsi delegasi

Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang untuk membuat keputusan, baik melalui persetujuan dari

(12)

pimpinan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan.Fungsi delegasi pada dasarnya kepercayaan.Para penerima delegasi adalah orang-orang yang diyakni merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip, persepsi dan aspirasi.

e. Fungsi pengendalian

Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses atau efektif mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal.Fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi dan pengawasan.19

Dalam kepemimpinan faktor pemimpin tidak dapat dilepaskan dari faktor orang yang dipimpin. Keduanya saling tergantung sehingga yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lain.20

Seseorang dapat menjalankan fungsi kepemimpinan apabila memenuhi beberapa persyaratan, sebagai berikut :

a. Memiliki kecerdasan atau intelegensi yang cukup baik

Seorang pemimpin harus mampu menganalisa masalah yang dihadapi organisasinya.Kemampuan itu memungkinkan seorang pemimpin mengarahkan pemikiran anggotanya dalam menyusun perencanaan dan menetapkan keputusan yang tepat dalam mewujudkan beban tugas organisasinya.

b. Percaya diri sendiri dan bersifat membership.

Seorang pemimpin harus selalu yakin bahwa dengan kemampuan yang dimilikinya setiap beban kerjanya akan dapat diwujudkan.

19 Musfirotun Yusuf, Manajemen Pendidikan (Pekalongan : STAIN Pekalongan Press,

2012), hlm. 105-106.

20Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung,

(13)

c. Cakap bergaul dan ramah tamah

Seorang pemimpin harus diterima oleh anggota kelompoknya, untuk itu seorang pemimpin hanya akan efektif menjalankan kepemimpinannya bilamana mampu dan cakap bergaul dengan orang lain.

d. Kreatif, penuh inisiatif dan memiliki hasrat atau kemauan untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik.

Seorang pemimpin harus mampu memprakarsai suatu kegiatan secra kreatif.

e. Organisatoris yang berpengaruh dan berwibawa

Seorang pemimpin harus mampu mengelola kerjasama sekelompok manusia sebagai suatu organisasi dengan pembagian satuan kerja dan penempatan setiap personal secara tepat dan berdaya guna.

f. Memiliki keaslian atau ketrampilan dalam bidangnya.

Untuk mewujudkan kerja sesuai dengan sifat dan jenis organisasi yang mengemban misi tertentu, selalu diperlukan personal yang memiliki ketrampilan atau keahlian yang berbeda antar satu oraganisasi dengan organisasi yang lain.

g. Suka menolong, memberi petunjuk dan dapat menghukum secara konsekuan dan bijaksana.

Seorang pemimpin harus selalu berusaha membantu atau menolong orang-orang yang dipimpinnya apabila menghadapi kesulitan., baik kesulitan dalam bidang kerja maupun kesulitan pribadi.

h. Memiliki keseimbangan atau kesetabilan emonsional dan bersifat bebas.

Seorang pemimpin harus mampu mengendalikan emosinya dan selalu berusaha mempergunakan pemikiran yang rasional dan logisdalam mengahadapi masalah dan dalam mengambil suatu keputusan.

i. Memiliki semangat pengabdian dan kesetiaan yang tinggi.

Seorang pemimpin selalu bekerja dan berbuat untuk kepentingan organisasi atau seorang organisasi yang menjadi anggota kelompoknya.

j. Berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab.

Seseorang pemimpin selalu menjadi contoh atau patokan dan suri teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

k. Jujur, rendah hati, sederhana dan dapat dipercaya.

Sikap jujur, rendah hati dan sederhana dalam setiap perbuatan akan menimbulkan kepercayaan orang lain.

l. Bijaksana dan selalu berlaku adil.

Seorang pemimpin harus bijaksana dan adil dalam membagi pekerjaan dan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berkenaan dengan perseorangan atau kelompok-kelompok kecil di dalam organisasi.

(14)

m. Disiplin

Seorang pemimpin harus berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menegakkan dsiplin kerja, disiplin waktu dan dalam mentaati peraturan yang telah ditetapkan di dalam organisasi atau lembaga yang dipimpinnya.

n. Berpengetahuan dan berpandangan luas

Seorang pemimpin harus selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan bidang kerjanya agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat dan kemajjuan ilmu pengetahuan serta tehnologi. o. Sehat jasmani dan rohani.

Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap perwujudan kepemimpinan yang efektif.21

4. Tipe dan Gaya Kepemimpinan

Setiap pemimpin berbeda-beda cara berperilaku guna mempengaruhi anak buah. Perilaku yang berbeda itu tercermin dari sikap tindakan melakukan pekerjaan. Misalnya, cara pemimpin memerintah rapat, membuat keputusan, dan atau cara-cara lain. Sikap berperilaku itu adalah aspek-aspek gaya kepemimpinan.

Gaya artinya sikap, gerakan, tingkah laku,gerak gerik yang bagus,kekuatan dan kesanggupan untuk berbuat baik.Sedangkan gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau pola perilaku dan strategi yang disukai danditerapkan oleh seorang pemimpin.22

Adapun tipe-tipe kepemimpinan yang pokok, atau dapat juga disebut ekstrem, ada tiga yaitu :

21Ibid, hlm. 84-90. 22

(15)

a. Kepemimpinan yang otokratis

Dalam kepemimpinan yang otokratis, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota-anggota kelompoknya.Baginya, memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok.Kekuasaan pemimpin yang otokratis hanya dibatasi oleh undang-undang. Penafsirannya sebagai pemimpin tidak lain adalah menunjukkan dan memberikan perintah. Kewajiban bawahan atau anggota-anggotanya hanyalah mengikuti dan menjalankan, tidak boleh membantah ataupun mengajukan saran.

Akibat-akibat negatif dalam kepemimpinan ini dibidang pendidikan adalah:

1) Guru menjadi penurut yang tidak mau dan tidak mampu berinisiatif dan takut mengambil keputusan.

2) Guru dan murid dipaksa bekerja keras, patuh dan mekanis dengan diliputi perasaan takut dan ketegangan karena terus menerus dibayangi dengan ancaman hukuman.

3) Sekolah menjadi statis.

Kepemimpinan otokratis bertolak dari asumsi bahwa manusia adalah obyek yang dapat diatur menurut kehendak pemimpin sebagai penguasa, sebagaimana boneka atau robot yang

(16)

harus selalu siap menjalankan instruksi tanpa bertanya dan membantah.23

b. Kepemimpinan Laissez Faire

Dalam tipe kepemimpinan macam ini, sebenarnya pemimpin tidak memberi pimpinan.Tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya.Pemimpin yang termasuk tipe ini tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan anggota-anggotanya. Pembagian tugas dan kerjasama diserahkan kepada anggota-anggota kelompoknya., tanpa petunjuk atau saran-saran dari pimpinan kekuasaan dan tanggung jawab bersimpang siur berserakan diantara anggota-anggota kelompoknya, tidak merata. Dengan demikian mudah terjadi kekacauan dan bentrok-bentrokan.

Di dalam tipe kepemimpinan ini, biasanya tidak ada organisasi. Segala kegiatan dilakukan tanpa rencana dan tanpa pengawasan dari pemimpin.24

c. Kepemimpinan yang demokratis

Pemimpin yang bertipe demokratis, menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai diktator, melainkan sebagai pemimpin ditengah-tengah anggota kelompoknya. Hubungan dengan anggota-anggota kelompoknya bukan sebagai majikan terhadap bawahannya, melainkan sebagai saudara tua diantara teman-teman sekerjanya atau sebagai kakak terhadap saudara-saudaranya. Pemimpin

23 Musfirotun Yusuf, Administrasi Pendidikan , (Pekalongan: STAIN Press, 2003), hlm.

97-98.

24

(17)

yang demokratis selalu berusaha untuk mencapai tujuan bersama. Dalam tindakan-tindakan dan usaha-usahanya, ia selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya, dan mempertimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya.25

Untuk mencapai kepemimpinan yang demokratis, aktivitas pemimpin harus :

1) Meningkatkan interaksi kelompok dan perencanaan kooperatif. 2) Menciptakan iklim yang sehat untuk perkembangan individual dan

memecahkan pemimpin-pemimpin yang potensial.

Konsep kepemimpinan yang demokratis harus dapat dibuktikan kepemimpinannya dengan arah tindakan dimana:

1) Kebebasan pemikiran seseorang atau kelompok menghasilkan tindakan yang bertangung jawab.

2) Orang-orang memakai kecakapannya dengan efektif dalam menyelesaikan masalah-masalah.

3) Perbedaan penilaian dari kepercayaan dapat memanfaatkan perbedaan itu untuk lebih mendekati kebenaran.

4) Motivasi perasaan dan sentimen orang-orang mendorong dan mengarahkan kepada pemecahan masalah-masalah.

25 Musfirotun Yusuf, Manajemen Pendidikan, (Pekalongan: STAIN Press, 2012), hlm.

(18)

5) Kelompok-kelompok dapat mencari pertimbangan antara kepentingan kelompok dan kepentingan umum.26

Menurut Kartini Kartono, terdapat 8 (delapan) tipe kepemimpinan antara lain:27

a. Tipe kharismatis

Tipe kepemimpinan kharismatis ini memiliki kekuatan energy, daya tarik, dan wibawa yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya.

b. Tipe Paternalistis dan maternalistis

Yaitu tipe kepemimpinan yang kebapakan atau keibuan, dengan siafat-sifat antara lain sebagai berikut: 1) menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak atau belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, 2) bersikap terlalu melindungi, 3) jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, 4) hamper tidak pernah memberikan kesempatan bawahannya untuk berinisiatif, 5) bersikap maha tahu dan maha benar.

c. Tipe Militeristis

Tipe ini sifatnya sok kemiliter-militeran. Hanya gaya luar saja yang mencontoh gaya militer. Tetapi jika dilihat lebih

26 Hendiyat Soetopo, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara,

2000), hlm. 11.

27

(19)

seksama, tipe ini mirip sekali dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat pemimpin militeris antara lain : 1) lebih banyak menggunakan sistem perintah terhadap bawahannya, keras sangat otoriter, kaku, seringkali kurang bijaksana, 2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, 3) menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual, 4) menuntut adanya disiplin keras, 5) tidak menghendaki saran, usul, sugesti, 6) komunikasi hanya berlangsung searah saja.

d. Tipe otokratis atau otoritatif

Kepemimpinan otokratis itu mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi.Pemimpinnya selalu mau berperan sebagai peran tunggal pada a one-man show.Dia berambisi sekali untuk merajai situasi.Setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya.Anak buah tidak pernah diberi informasi mendetail engenai rencana dan tindakan yang harus dilakukan.Semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi pemimpin sendiri.

e. Tipe Laissez Faire

Pada tipe kepemimpinan laissez faire ini sang pemimpin praktis tidak memimpin; dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semau sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikitpun dalam kegiatan kelompoknya.Semua pekerjaan dan

(20)

tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri.Dia merupakan pemimpin simbol, dan biasanya tidak memiliki ketrampilan teknis.Sebab duduknya sebagai pemimpin diperolehnya melalui penyogokan, suapan atau berkat sistem nepotisme.Dia tidak mempunyai kewibawaan dan tidak bisa mengontrol anak buahnya. Tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, dan tidak berdaya sama sekali menciptakan suasana kerja kooperatif. Sehingga organisasi yang dipimpinnya menjadi kacau balau dan morat-marit.

f. Tipe populistis

Kepemimpinan populistis adalah kepemimpnan yang dapat membangunkan solidaritas rakyat, misalnya Sukarno dengan ideologi marhaenismenya, yang menekankan masalah kesatuan nasional.Tipe kepemimpinan ini berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisional.Juga kurang mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan dari pihak luar.

g. Tipe Administratif

Kepemimpinan tipe administratif adalah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif.Sedang para pemimpinnya sendiri dari teknokrat dan administrator yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan.Dengan demikian dapat dibangun system administrasi dan birokrasi yang efisien untuk memerintah.

(21)

h. Tipe Demokratis

Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia, dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya.Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri pribadi) dengan kerjasama yang baik. Kekuatan kepemimpinan demokratis ini bukan terletak pada “person atau individu pemimpin” akan tetapi kekuatan justru terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.

B. Ekstrakurikuler Kepramukaan 1. Pengertian ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler pada dasarnya bersal dari rangkaian tiga kata yaitu : kegiatan, ekstra, dan kurikuler. Kata ekstrakurikuler berasal dari kata ekstra dan kurikuler.Ekstra berasal dari kata Extra (Inggris) yang artinya tambahan.Kurikuler berasal dari kata Curriculum (Inggris) yang artinya rencana pelajaran.Jika keduanya digabungkan “Ekstrakurikuler” berarti di luar rencana pelajaran.28

Menurut bahasa, kata ekstra mempunyai arti tambahan di luar yang resmi.Sedangkan kata kurikuler, mempunyai arti bersangkutan dengan

28 John .Echols dan Hasan Shadily, Kamus Bahasa Inggris Indonesia, (Jakarta :

(22)

kurikulum.29Sehingga kegiatan ekstrakurikuler dapat diartikan sebagai kegiatan tambahan di luar yang berkaitan dengan kurikulum.

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan diluar kelas dan diluar jam pelajaran untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki peserta didik baik berkaitan dengan aplikasi ilmu pengetahuan yang didapatkannya maupun dalam pengertian khusus untuk membimbing peserta didik dalam mengembangkan potensi dan bakat yang ada dalam dirinya melalui kegiatan-kegiatan yang wajib maupun pilihan.30

Menurut Dewa Ketut Sukardi bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh para siswa di luar jam pelajaran biasa, termasuk pada saat liburan sekolah, yang betujuan untuk memberikan pengayaan kepada peserta didik dalam artian memperluas pengetahuan peserta didik dengan cara mengaitkan pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lainnya.31 Ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran (tatap muka), baik dilaksanakan di sekolah maupun di luar sekolah, dengan maksud untuk lebih memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimilikinya dari berbagai bidang studi.32

29

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 223.

30

Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Panduan Ektrakurikuler

Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Departemen Agama RI, 2005), hal 9.

31Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan Karir Di Sekolah Sekolah, (Jakarta: Galia Indonesia,

1987), hlm. 243.

32Moh.Uzer Usman dan Lilis Setyowati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar,

(23)

Jadi kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan di luar jam sekolah yang telah ditentukan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk lebih mengaitkan pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikuler dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.Kegiatan ini disamping dilaksanakan di sekolah, dapat juga dilaksanakan di luar sekolah guna memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan atau kemampuan meningkatkan nilai sikap dalam rangka penerapan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran dan kurikulum sekolah.

Secara umum kegiatan ekstrakurikuler dapat meningkatkan keterampilan interpersonal siswa.Melalui kegiatan ekstrakurikuler siswa menjalin hubungan interpersonal dengan teman sebaya anggota ekstrakurikuler yang diikuti, senior, dan pembina ekstrakurikuler.Bagi siswa yang memiliki kompetensi interpersonal rendah, pola kegiatan dan materi yang diajarkan dalam kegiatan ekstrakurikuler dapat meningkatkan penerimaan sosial dan popularitas, menurunkan alienasi sosial, mengembangkan identitas sosial dan menurunkan perilaku antisosial.33

Pada hakekatnya tujuan kegiatan ekstrakurikuler yang ingin dicapai adalah untuk kepentingan siswa. Dengan kata lain, kegiatan ektrakurikuler memiliki nilai-nilai pendidikan bagi siswa dalam upaya

33 Suparno, Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi, (Yogyakarta: Kanisius, 2002),

(24)

pembinaan manusia seutuhnya. Salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang dapat meningkatkan kepemimpinan yakni ekstrakurikuler kepramukaan.

2. Kepramukaan

a. Pengertian Pramuka

Istilah kepramukaan berasal dari kata pramuka yang merupakan kepamjangan dari “Praja Muda Karana”, berarti rakyat muda yang suka berkarya. Akar kata ini mendapat awalan ke-dan akhiran –an, sehingga menjadi kata kepramukaan yang artinya suatu proses dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan bagi anak dan pemuda di bawah tanggung jawab orang dewasa.34

Kepramukaan merupakan salah satu proses pendidikan luar lingkungan sekolah dan di luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alamterbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak.35

Menurut Lord Baden-Powell (terjemahan) kepramukaan itu bukanlah suatu ilmu yang harus dipelajari dengan tekun, bukan pula merupakan ajaran-ajaran dan naskah-naskah dari suatu buku. Bukan! Kepramukaan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka, tempat orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama,

34 W. J. S. Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,

1976), hlm. 230.

35Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Jawa Tengah,Pedoman Pembina Pramuka Mahir

(25)

mengadakan pengembaraan bagaikan kakak beradik, membina kesehatan dan kebahagiaan, keterampilan dan kesediaan untuk memberipertolongan bagi yang membutuhkannya. Kepramukaan adalah suatu permainan yang mengandung pendidikan yang dapat memberikan sumbangan positif terhadap Negara dengan penyemaian benih-benih calon pemimpin yang patriotis.36

Sedangkan pengertian kepramukaan berdasarkan AD/ART Gerakan Pramuka Bab III pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan,yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur.37

Sementara itu, The World Organization of The Scout Movement (WOSM) menyatakan bahwa kepramukaan adalah:

- Pendidikan sepanjang hayat, yang artinya:

Kepramukaan merupakan pelengkap pendidikan sekolah dan pendidikan dalam keluarga, mengisi kebutuhan peserta didik yang tidak terpenuhi oleh kedua pendidikan tersebut. Kepramukaan mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki

36Andri Bob Sunardi. Boyman : Ragam Latih Pramuka (Bandung: CV.Nuansa

Muda,2006), hlm. 3.

37 Gerakan Pramuka, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, (Jakarta: Kwarnas

(26)

peserta didik, minat untuk melakukan penjelajahan/penelitian, penemuan dan keinginan untuk tahu.

- Kegiatan kaum muda, yang artinya:

Kepramukaan adalah suatu gerakan.Suatu prses, suatu aktivitas yang dinamis dan selalu bergerak maju. Kepramukaaan sebagai proses pendidikan dalam bentuk kegiatan bagi remaja dan pemuda itu dimanapun dan kapanpun selau berubah sesuai dengan kepentingannya, kebutuhan dan kondisi setempat.

- Rekreasi yang edukatif, yang artinya :

Kepramukaan bukan sekedar rekreasi.Dengan rekreasi itu, peserta didik mengembangkan kemantapan mental, fisik, pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, dan rasa social dan spiritual.

- Terbuka bagi siapapun, yang artinya:

Sesuai dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan yang ditetapkan oleh penemu kepramukaan Lor Baden Powell, kepramukaan itu terbuka untuk siapapun dengan tidak memandang suku, agama, ras dan golongan.

- Tantangan bagi orang dewasa, yang artinya:

Dalam kepramukaan orang dewasa tidak hanya memperoleh kesempatan untuk beribadah atau memberikan pengabdian membantu kaum muda, tetapi juga menghadapi tantangan dalam membina interaksi dan saling pengertian dengan

(27)

kaum muda, serta dalam memahami kaum muda. Dalam pengabdiannya orang dewasa (Pembina) akan memperoleh pelatihan dan pengalaman yang sangat berharga yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya potensi yang dimilikinya. - Kesukarelaan, yang artinya:

Kesukarelaan merupakan ketentuan konstitusional keanggotaan organisasi gerakan pramuka di seluruh dunia. Gerakan pramuka yang keanggotaannya tidak berdasarkan kesukarelaan bukanlah organisasi Gerakan Pramuka dan tidak bisa menjadi anggota The World Organization of The Scout Movement (WOSM). Seseorang menjadi anggota organisasi Gerakan Pramuka berupa Kode Kehormatan Pramuka Tri Satya dan Dasa Darma serta secara sukarela mengucapkan Tri Satya dan mengamalkannya.

- Non politik dan non pemerintah, yang artinya:

Gerakan pramuka sebagai oraganisasi pendidikan, tidak dan harus tidak menjadi bagian atau mewakili partai poltik atau organisasi apapun termasuk pemerintah dan instansinya.Naum para pramuka didorong untuk memberikan pengabdian yang konstruktif kepada masyarakat, bangsa, dan negara.Setiap pramuka disiapkan untuk menjadi warga Negara yang bermoral tinggi, sehat mental fisiknya dan mengabdikan dirinya bagi masyarakat, bangsa dan negara.

(28)

- Metode, yang artinya :

Kepramukaan merupakan cara pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia, akhlak, budi pekerti kaum muda, yang dilaksanakan dengan metode kepramukaan.

- Norma hidup, yang artinya :

Kepramukaan sebagai proses pendidikan, merupakan norma hidup yang mengandung nilai spiritual. Norma hidup yang menekankan pada upaya mengutamakan nilai spiritual dalam kehidupan dan penghidupan di atas kehidupan materal.

- Nilai sosial

Mendorong peserta didik untuk melibatkan diri dalam pembangunan masyarakat, menghormati dan menghargai orang lain dan integritas alam seisinya. Dengan kepramukaan mempromosikan kerukunan dan kedamaian local maupun internasional, serta memupuk saling pengertian dalam kerjasama. - Nilai pribadi

Membina dan mengembangkan rasa tanggungjawab pribadi serta membangkitkan hasrat peserta didik untuk bersikap dan bertindak laku yang bertanggungjawab.38

38

(29)

b. Sejarah Kepramukaan

Mempelajari sejarah kepramukaan tidak lepas dari riwayat hidup pendiri Geraka Pramuka Sedunia, Lord Robert Boden Powell. Hal ini disebabkan karena pegalaman hidup beliaulah yang mengilhami untuk mengeluarkan gagasannya mengenai pengaruh pada adpembinaan para remaja di Negeri Inggris. Boden Powell lahir pada tanggal 22 Pebruari 1857 di London, nama sesungguhnya Robert Stephenson Smyth (tetapi para pandu biasa memanggilnya Boden Powell). Ayahnya seorang Profesor Geometry di Universitas Oxford, bernama Boden Powell, yang meninggal ketika Stephenson masih kecil.39

Sejarah kepramukaan dunia disebutkan bahwa pada awal tahun 1908, Boden Powell selalu menulis cerita pengalamannya sebagai bungkus acara latihan kepramukaan yang dirintisnya.Kumpulan tulisannya itu kemudian terbit sebagai buku “Scouting for Boys”. Buku ini cepat tersebar ke seluruh negeri Inggris, bahkan ke Negara-negara lainnya.Dan berdiri dimana-mana organisasi kepramukaan (yang semula hanya untuk anak laki-laki berusia penggalang) yang disebut Boy Scout. Kemudian disusul berdirinya organisasi kepramukaan putri yang diberi nama Girl Guidesatas bantuan Agnes, adik perempuan Boden Powell dan diteruskan oleh Ny.Boden Powell.40

39 Andri Bob Sunardi, Op. Cit,.hlm. 15. 40

(30)

Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga yang disebut Cub (anak srigala) dengan buku The Juggle Book, berisi cerita tentang Mowgil anak didikan rimba (anak yang dipelihara di hutan oleh induk srigala) karangan Rudyard Kipling sebagai cerita pembungkus Cub tersebut. Tahun 1918 Boden Powell membentuk Rover Scout (pramuka usia penegak) untuk menampung mereka yang sudah lewat 17 tahun tetapi masih senang dan giat dibidang kepramukaan. Tahun 1922 Boden Powell menerbitkan buku Rovering to Success (mengembara menuju bahagia) yang berisi petunjukbagi para pramuka penegak dalam mengahadapi hidupnya agar mencapai kebahagiaan. Buku itu menggambarkan seorang pemuda yang harus mengayun sampannya sendiri menuju kepantai bahagia, di hadapannya terhadap karang-karang berbahaya, yaitu : karang-karang perjudian, karang-karang wanita, karang-karang minuman keras dan merokok, karang mementingkan diri sendiri dan mengorbankan orang lain (munafik), dan karang tidak ber-Tuhan.41Jadi dari semula Boden Powell telah mengajarkan bahwa untuk bisa meraih keberhasilan, para pemuda harus bisa menahan diri dari berbagai macam tantangan dan rintangan untuk menghindari rintangan berbentuk karang kehidupan atau perbuatan atau kebiasaan yang kurang baik.

Pada tahun 1920 diselenggarakan jambore sedunia, diarea Olympia, London. Boden Powell telah mengundang pramuka dari 27

41

(31)

negara, dan pada saat itu Boden Powell diangkat sebagai bapak pandu sedunia (Chief Scout of the World). Pada tahun yang sama,dibentuk Dewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro sekretariatnya berada di London, inggris. Pada tahun 1958 Biro Kepramukaan sedunia (putera) dipindahkan dari London ke Ottawa di Kanada. Tanggal 1 mei 1968 Biro kepramukaan Sedunia(putera) dipindahkan lagi ke Geneva,di Swiss. Sejak tahun 1920 sampai 1965 Kepala Biro Kepramukaan Sedunia dipegang berturut-turut oleh Hubert Martin (Inggris), colonel J.S. Wilson (Inggris),Mayjen D.C. Spray (Canada). Tahun 1965 D.C. Spry diganti R.T Lund, dan sejak 1 Mei 1968 dipegang oleh DR. Laszio Nagy sebagai Sekjen. Biro Kepramukaan Sedunia (Putera) hanya mempunyai 40 orang tenaga staf yang ada d Geneva dan 5 Kantor Kawasan, yaitu di Costaria, Mesir, Pilipina, Swiss, dan Nigeria. Biro Kepramukaan Sedunia (Puteri) sampai sekarang tetap berada di London dan juga mempunyai kantor di 5 Kawasan, yaitu Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.42

Kepanduan masuk di Indonesia (pada waktu itu masih Hindia Belanda, karena Negara kita sedang dijajah orang Belanda) pertama-tama dibawa oleh orang Belanda.Organisasinya bernama Nederland Indische Padvinders Vereniging (NIPV) yang artinya adalah Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda.Kemudian berdiri organisasi-organisasi kepanduan yang bercirkan nasionalisme, dan organisasi kepanduan

42

(32)

nasional yang pertama didirikan adalah pada tahun 1916, Javaanse Padvinders Organisatie (JPO) atas prakarsa Sultan Pangeran Mangkunegara VII di Surakarta. Pendiri JPO ini membuat para remaja dan pemuda di daerah lain tertarik mendirikan organisasi kepanduan. Yang memang pada waktu itu bisa dianggap sebagai salah satu perjuangan dalam usahanya mencapai kemerdekaan.

Tonggak kebangkitan bangsa Indonesi adalah berdirinya organisasi Boedi Oetomo, 20 Mei 1908. Lalu peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang menjiwai Gerakan Kepanduan Nasional kita semakin bergerak maju (merupakan semangat Nasionalisme). Kemudian setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 berdiri kembali organisasi-organisasi kepanduan hngga mencapai jumlah lebih dari 100 organisasi yang tergabung ke dalam 3 federasi, yaitu:

- IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia, (13-09-1951),

- POPPINDO (Persatuan Organisas Pandu Puteri, tahun 1954), dan

- PKPI (Perserikatan Kepanduan Puteri Indonesia).

Kemudian terjadi peristiwa penting lainnya adalah Jambore Nasional Kepanduan Pertama pada masa Pandu (sebelum jadi pramuka), yaitu diselenggarakan di Pasar Minggu.Jakarta pada tahun 1955 (diselenggarakan oleh PINDO).Ketiga federasi tersebut bergabung menjadi satu dalam PERKINDO (Persatuan Kepaduan Indonesia), sekitar 60 Organisasi dengan 500.000 anggota

(33)

pandu.Akhirnya, disadari bahwa banyaknya organisasi kurang baik untuk Persatuan Bangsa, maka Pemerintah mengeluarkan KEPPRES No. 238/61Tentang Gerakan Pramuka, sebagai dukungan pemerintah terhadap organisasi kepanduan di Indonesia.Keppres tersebut di atas ditandatangani oleh Perdana Menteri RI saat itu, Ir. H. Juanda (Presiden Soekarno sedang mengadakan dukungan kenegaraan ke Negara Jepang).

Gerakan Pramuka bukan badan pemerintah, semua organisasi kepaduan melebur diri masuk menjadi anggota Gerakan Pramuka, kecuali organisasi-organsasi kepanduan yang berhaluan kiri/komunis.Mulailah Gerakan Pramuka berkembang menjadi organisasi yang disegani.Kemudian sampai saat ini telah diselenggarakan beberapa kali Jambore Nasional (Jamnas).43

c. Tujuan dan Fungsi Ekstrakurikuler Pramuka

Tujuan gerakan pramuka adalah mendidik dan membina kaum muda Indonesia guna mengembangkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga menjadi :

a. Manusia berwatak, berkepribadian, dan berbudi pekerti luhur, yang:

1) Tinggi moral, spiritual, kuat mental, sosial, intelektual, emosional, dan fisiknya;

(34)

2) Tinggi kecerdasan dan mutu keterampilannya; 3) Kuat dan sehat jasmaninya.

b. Warga Negara Republik Indonesia yang berjiwa pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan Negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan, baik lokal, nasional, maupun internasional.44

Sedangkan gerakan pramuka berfungsi sebagai lembaga luar sekolah dan di luar sekolah serta sebagai wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda dengan menerapkan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan serta sistem among, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa serta masyarakat Indonesia.45

Dapat juga dikatakan bahwa fungsi kepramukaan adalah:

1) Sebagai kegiatan menarik (game) yang mengandung pendidikan bagi anak-anak, remaja dan pemuda.

Jadi, semua kegiatan yang didelenggarakan tidak boleh bersifat hura-hura semata, tetapi harus direncanakan, diorganisir sebelumnya dan harus dapat dievaluasi.

44 Gerakan Pramuka, Bahan Serahan KMD, (Jakarta: Kwarnas, 2010), hlm. 15. 45

(35)

2) Sebagai pengabdian bagi orang dewasa.

Setiap orang dewasa yang mengabdikan diri dalam pembinaan generasi muda di gerakan pramuka harus dijiwai dengan semangat pengabdian yang tinggi dan harus selalu mencari inovasi baru yang dapat digunakan sebagai bahan membina yang nantinya dapat bermanfaat bagi orang lain dewasa itu sendiri maupun peserta didiknya.

Disamping itu setiap orang dewasa yang menghendaki hasil didikannya berhasil secara maksimal dan memuaskan, maka ia harus bisa menempatkan diri secara tepat dihadapan peserta didiknya (artinya di gerakan pramuka harus bisa menjadi seorang kakak yang baik dan pantas menjadi tauladan bagi adik-adiknya bukan mencampur adukkan posisinya yang ganda sebagai Guru dan Pembina).

3) Sebagai alat untuk mencapai tujuan bagi masyarakat dan organisasi.

Setiap kegiatan dan materi yang diberikan di gerakan pramuka bukanlah menjadi tujuan utama, tetapi semua itu hanya sekedar alat untuk mencapai tujuan. Jadi, setiap kegiatan dan materi di gerakan pramuka harus disesuaikan dengan keinginan,

(36)

minat, kebutuhan, situasi dan kondisi masyrakat atau organisasi yang menyelenggarakan kegiatan kepramukaan.46

d. Tingkatan dalam Pramuka 1. Kesiagaan

Siaga adalah anggota muda Gerakan Pramuka yang berusia 7 sampai 10 tahun. Satuan digugus depan sebagai tempat berhimpunnya pramuka siaga dsebut Perindukan Siaga. Perindukan idealnya terdiri atas 18-24 pramuka siaga yang dibagi ke dalam 3-4 kelompok disebut Barung.Barung yang ideal terdiri atas 6 pramuka siaga.Perindukan siaga dipimpin oleh pembina perindukan siaga disingkat pembina siaga dibantu oleh pembantu pembina siaga.Untuk melaksanakan tugas di tingkat prindukan, dipilih pemimpin barung utama yang dipanggil sulung dan dipilih dari para pemimpin barung.Posisi pemimpin barung utama tidak permanen, dapat berganti setelah beberapa kali latihan.Halini dimaksudkan untuk memberi kesempatan lebih banyak bagi anggota barung berlatih menjadi memimpin.47

Didalam kegiatan siaga dibentuk Dewan Siaga (Dewan Satuan Siaga) untuk memenuhi hak anak dan melatih

46 Arwan Hardiyanto, Jalur Alternatif Mengikuti Jejak Tapak Anak Sang Pandu, (Klaten:

Kurnia Abadi Offset), hlm. 17.

47

(37)

kepemimpinan pramuka siaga.Ketua Dewan Siaga adalah Pemimpin Barung Utama atau Sulung.

Dewan Siaga bertugas :

- Memilih dan membahas kegiatan yang diusulkan Pembina

- Mengatur kegiatan perindukan

- Menjalankan keputusan-keputusan yang diambil Dewan, termasuk pemberian penghargaan.48

2. Kepenggalangan

Penggalang adalah anggota muda Gerakan Pramuka yang berusia 10-15 tahun.Untuk pendidikan kepemimpinan dan mengikutsertakan dalam pengambilan keputusan para pramuka penggalang, dibentuk Dewan Pasukan Penggalang, disingkat Dewan Penggalang, yang terdiri atas Pemimpin Regu Utama (Pratama), para Pemimpin Regu, Wakil Pemimpin Regu, Pembina Penggalang dan Para Pembantu Pembina Penggalang. Pasukan Penggalang idealnya terdiri atas 3 sampai 4 Regu dengan jumlah anggota Regu 6 sampai dengan 8 penggalang. Dewan Penggalang bertugas:

- Mengurus dan mengatur program kegiatan-kegiatan Pasukan Penggalang

- Mengevaluasi program kegiatan

48

(38)

- Mendukung regu dalam kegiatan mengintegrasikan anggota baru

- Menyelenggarakan pemilihan Pemimpin Regu dan Wakil Pemimpin Regu

- Merekrut anggota regu baru

- Menyiapkan materi yang akan dibahas dalam Dewan Majelis Penggalang.49

3. Kepenegakan

Penegak adalah anggota muda Gerakan Pramuka yang berusia 16-20 tahun dan setiap sangga beranggotakan 4-8 Pramuka Penegak. Untuk mengembangkan kepemimpinan dan mengikutsertakan dalam pengambian keputusan bagi Pramuka Penegak, dibentuk Dewan Ambalan Penegak, disingkat Dewan Penegak yang dipimpin seorang ketua disebut Pradana dengan susunan sebagai berkut :

a. Seorang ketua yang disebut Pradana.

b. Seorang pemangku adat (penjaga kode etik ambalan) c. Seorang kerani (sekretaris)

d. Seorang bendahara e. Beberapa orang anggota

Dewan tersebut dipilih dari para Pemimpin dan Wakil Pemimpin Sangga. Dewan Penegak bertugas :

49

(39)

- Menyusun perencanaan, pemrograman, pelaksana program dan mengadakan penilaian atas pelaksanaan kegiatan.

- Menjalankan dan mengamalkan semua keputusan dewan.

- Mengadministrasikan semua kegiatan satuan. - Keputusan Dewan dibuat secara demokratis.50 4. Kepandegaan

Pandega adalah anggota muda Gerakan Pramuka yang berusia 21-25 tahun, yang disebut Senior Rover. Untuk mengembangkan kepemimpinan di Racana dibentuk Dewan Racana Pandega disingkat Dewan Pandega yang dipimpin seorang ketua, dengan susunan sebagai berikut :

a. Seorang ketua

b. Seorang pemangku adat c. Seorang sekretaris d. Seorang bendahara e. Beberapa anggota. 50 Ibid, hlm. 47-49.

(40)

Dewan Pandega dipilih oleh anggota Racana.

Tugas Dewan Pandega adalah :

- Merancang kegiatan

- Mengurus dan mengatur kegatan - Mengevaaluasi pelaksanaan kegiatan - Merekrut anggota baru

- Mencari/ mengidentifikasi sumber dana untuk disampaikan kepada Pembina Gudep

- Mengelola dana untuk menjalankan program kegiatan - Melaporkan pelaksanaan kegiatan kepada Pembina

Gudep.51

51

Referensi

Dokumen terkait

Pada satuan kerja yang mengelola sumber daya manusia biasanya terdapat sekelompok pegawai yang tugas utamanya adalah melakukan rekrutmen. Mereka adalah tenaga spesialis

Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.. Struktur organisasi

Proses penempatan merupakan suatu proses yang sangat menentukan dalam mendapatkan karyawan yang kompeten yang dibutuhkan organisasi atau instansi, karena penempatan yang tepat

Menurut Gordon dalam Silalahi (2011:189) menjelaskan pengertian pembagian kerja, sebagai berikut : “Pembagian kerja adalah kegiatan mengurai pekerjaan dalam

Organisasi merupakan suatu bentuk kerja sama sekelompok manusia atau orang di bidang tertentu untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Etzioni.1969). Lebih lanjut Etzioni,

Menurut Suryadi Prawirosentono (dalam Widodo, 2005: 78) kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai

mencapai tujuan tersebut maka suatu organisasi memerlukan pemimpin atau manjer yang mampu mengelola sumber daya manusia yang ada di dalam organisasi yaitu karyawan untuk

Rivai 2014, gaya kepemimpinan adalah sekumpulan startegi yang digunakan seorang pemimpin untuk memengaruhi para karyawan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa