• Tidak ada hasil yang ditemukan

FUNGSI SOSIAL TANAH. Agus Surono

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FUNGSI SOSIAL TANAH. Agus Surono"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

FUNGSI SOSIAL TANAH

Agus Surono

UNIVERSITAS AL-AZHAR INDONESIA FAKULTAS HUKUM

(2)

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) Agus Surono

FUNGSI SOSIAL TANAH Agus Surono

Cet. 1 - Jakarta : Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia, 2013 viii + 106 hlm. B5

(3)

Untuk yang tercinta

Orang tuaku : Bapak Slamet Surani dan Ibu Nafiah Istriku Sonyendah R.

(4)

KATA PENGANTAR

Maha besar Allah SWT atas segala rahmat dan ijinNya, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan buku ini. Buku ini merupakan hasil penelitian dan kajian yang mendalam tentang Fungsi Sosial Tanah di beberapa daerah. Semoga lahirnya buku ini dapat menjadi salah satu bahan bacaan bagi pengembangan ilmu hukum, khususnya Hukum Pertanahan/ Agraria.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dalam penyelesaian buku ini.

Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada Ayahanda H. Slamet Surani yang selalu memanjatkan doa buat penulis dalam shalatnya dan secara khusus kepada Almarhumah Hj. Nafiah yang dengan tulus dan ikhlas semasa hidupnya selalu memperjuangkan pendidikan buat putera-puterinya, dan tidak henti-hentinya memanjatkan doa, penulis menghaturkan sembah sujud dan terimakasih yang sedalam-dalamnya. Semoga Allah senantiasa meridloi apa yang yang sudah Bapak dan Ibu upayakan dan ihtiarkan.

Kepada Mertua yang sudah penulis anggap sebagai orang tua sendiri, H. Soemarsono (Almarhum) yang telah banyak mendorong dan berdoa semasa hidupnya, serta Ibu Hj. Sri Suparsih yang senantiasa memberikan doa kepada penulis dan keluarga, penulis hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya.

Akhirnya ucapan terima kasih atas pengertian, dukungan dan doa penulis sampaikan kepada Istri tercinta Sonyendah Retnaningsih, SH.,

(5)

MH., yang saat ini juga sedang menempuh pendidikan S3 di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, serta anak-anak tercinta M. Rizqi Alfarizi Ramadhan dan M. Ridho Bayu Prakoso, yang senantiasa memberi dorongan semangat dan mengerti atas kesibukan penulis dalam menjalani profesinya sebagai dosen dan praktisi hukum ini.

Harapan penulis semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi kepentingan pengembangan Ilmu Hukum secara umum maupun kepentingan pengembangan Ilmu Hukum Agraria di Indonesia khususnya. Penulis menyadari, bahwa masih banyak kekurangan disana-sini serta masih jauh untuk kategori sempurna, mengingat segala keterbatasan pada kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karenanya, segala kritik dan saran yang positif senantiasa penulis harapkan.

Jakarta, April 2013 Agus Surono

(6)

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan ... 3

C. Maksud dan Tujuan ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB 2 KERANGKA TEORITIK A. Teori Negara Kesejahteraan (Welfare State) ... 5

B. Teori Keadilan ... 9

C. Teori Hukum Pembangunan ... 10

D. Ruang Lingkup ... 14

BAB 3 METODE PENELITIAN A. Kerangka Pikir Kajian ... 15

B. Pendekatan Penelitian ... 16

C. Metode Pengumpulan Data ... 16

D. Analisis Data ... 32

BAB 4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambarn Umum Lokasi Penelitian ... 33

BAB 5 HASIL OLAHAN DATA SEMENTARA YANG SUDAH SELESAI DIOLEH ... 93

(7)

BAB 6 PENUTUP

A. Kesimpulan ... 101 B. Saran ... 102

(8)
(9)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang diperuntukkan bagi kesejahteraan bangsa Indonesia. Tanah selain mempunyai dimensi fisik dan lintas sektoral, juga mempunyai dimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertanahan dan keamanan. Setiap dimensi tersebut potensial memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

Pengelolaan pertanahan haruslah sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana yang tertuang dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945. UUD 1945 memberikan dasar bagi lahirnya kewenangan Negara yang disebut dengan hak menguasai Negara. Hak menguasai Negara dimaksud diatur dalam Pasal 2 ayat (2) UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau lebih sering disebut dengan UUPA yaitu kewenangan: a. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan runag angkasa tersebut, b. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan bumi, air dan ruang angkasa, dan c. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air, dan ruang angkasa. Ketiga kewenangan tersebut, merupakan landasan untuk mewujudkan

cita-1

Bab

(10)

kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Republik Indonesia.

Tanah sebagaimana disebutkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh Negara untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Lebih lanjut hak menguasai Negara dijabarkan dalam UU Nomor 5 Tahun 1960 dan Undang-Undang lain seperti UU Nomor 11 Tahun 1967 dan UU Nomor 5 Tahun 1967, Hak menguasai Negara dijabarkan menjadi:

a. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa;

b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa;

c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.

Berdasarkan hak menguasai Negara inilah bersumber wewenang Negara untuk mengelola bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun kenyataannya pengelolaan tanah telah menimbulkan berbagai masalah. Tujuan “untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” masih jauh dari yang diharapkan. Kebijakan pembangunan yang menitikberatkan pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan ketimpangan pemilikan penguasaan tanah. Tanah dalam Republik ini sebagian besar dikuasai oleh pengusaha-pengusaha konglomerasi. Demikian juga telah terjadi secara besar-besaran peralihan fungsi tanah pertanian dan non pertanian.

Salah satu perspektif yang mendasar dari pengelolaan pertanahan bahwa semua hak atas tanah memiliki fungsi sosial (Pasal 6 UUPA), pengelolaan pertanahan pada prinsipnya merupakan urusan Pemerintah. Oleh karena itu, fungsi sosial hak atas tanah dapat dituangkan dalam bentuk kebijakan (Policy), pengaturan (regulatory), pengendalian dan pengawasan (compliance), dan pelayanan (service). Dalam melaksanakan misi-misi sosial tersebut pemerintah mempertimbangkan ketersediaan tanah, untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder), keadilan bagi seluruh rakyat, kepastian dan perlindungan hukum bagi pemegang hak atas tanah, dan berkesinambungan dalam pelayanan, ketersediaan dan ekosistem.

(11)

Meskipun konsepsi tentang pengelolaan pertanahan yang mempunyai fungsi sosial telah tertuang dalam UUPA, namun demikian mengenai fungsi sosial hak atas tanah masih belum dapat dijabarkan secara jelas dalam kebijakan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan, serta pelayanan dalam bidang pertanahan. Oleh sebab itu diperlukan suatu kajian yang menyeluruh tentang pengembangan kebijakan terhadap fungsi sosial hak atas tanah.

Untuk menangani dan membenahi persoalan pertanahan yang berkaitan dengan tanah adat tersebut di atas tentu diperlukan pemikiran-pemikiran dari banyak pihak, baik bersifat akademisi maupun praktisi yang diharapkan nantinya dapat membantu pimpinan merumuskan kebijakan pertanahan dalam bentuk kegiatan beruapa penelitian mengenai kebijakan di bidang pertanahan khususnya mengenai kebijakan fungsi sosial tanah dengan sasasran utama bagaimana merumuskannya dalam wilayah masyarakat hukum adat/ulayat dapat member kontribusi maksimal bagi keinginan politik pemerintah yaitu “tanah untuk kesejahteraan rakyat.”

vMelalui penilitian ini akan dapat menghasilkan sebuah rekomendasi yang nantinya akan dituangkan dalam bentuk kebijakan di bidang pertanahan khususnya mengenai kebijakan fungsi sosial tanah agar mampu memberikan kontribusi yang nyata untuk mensejahterakan masyarakat adat khususnya dan masyarakat pada umumnya terutama terhadap kesempatan mereka untuk memanfaatkan tanah secara optimal.

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan tersebut di atas harus mampu menjawab beberapa permasalahan yang dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Bagaimana pola kebijakan fungsi sosial tanah untuk kepentingan masyarakat

menurut UUPA?

2. Bagaimanakah kontribusi fungsi sosial tanah terhadap kesejahteraan masyarakat?

3. Bagaimanakah konsep kebijakan fungsi sosial tanah yang efektif dan ideal bagi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat?

(12)

C. Maksud dan Tujuan

Maksud penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk memperoleh masukan-masukan dalam kaitannya terhadap masalah kebijakan fungsi sosial tanah yang telah dilaksanakan di berbagai daerah yang dijadikan sebagai sampel penelitian guna menghasilkan rumusan kebijakan secara nasional berkaitan dengan fungsi sosial tanah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Adapun yang menjadi tujuan kajian ini secara lebih khusus harus mampu menjawab beberapa permasalahan yang dikemukakan tersebut di atas yang meliputi:

1. Untuk mengkaji dan menganalisis tentang pola kebijakan fungsi sosial tanah untuk kepentingan masyarakat menurut UUPA.

2. Untuk mengkaji dan menganalisis tentang kontribusi kebijakan fungsi sosial tanah terhadap kesejahteraan masyarakat.

3. Untuk mengkaji dan menganalisis tentang konsep kebijakan fungsi sosial tanah yang efektif dan ideal bagi masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat dan memberikan kontribusi pemikiran:

Pertama, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan upaya mengembangkan ilmu pengetahuan hukum khususnya yang berkaitan dengan kebijakan fungsi sosial tanah.

Kedua, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman oleh instansi BPN khususnya dalam memberikan masukan terhadap kebijakan yang akan diambil oleh BPN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan fungsi sosial tanah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

(13)

2

Bab

Bab

KERANGKA TEORITIK

Penelitian ini hakekatnya adalah dalam rangka mencari dan menemukan alternatif kebijakan pemerintah dalam kaitannya dengan kebijakan fungsi sosial tanah. Secara khusus akan dicermati tentang kebijakan fungsi sosial tanah yang dapat diterapkan secara nasional di beberapa daerah dengan disesuaikan dengan kondisi di daerah masing-masing.

Upaya untuk melakukan penelitian tentang “Kebijakan Fungsi Sosial Tanah” menggunakan beberapa teori yang akan dipakai sebagai alat analisis penelitian. Beberapa teori tersebut diantaranya teori Negara Kesejahteraan (welfare state), teori Keadilan yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham dan John Rawls, teori hukum pembangunan dari Mochtar Kusumaatmadja.

A. Teori Negara Kesejahteraan (Welfare State)

Kerangka pemikiran yang dipergunakan dalam penelitian ini, digunakan untuk dapat menjawab 3 (tiga) identifikasi masalah yang telah ditetapkan.

(14)

Pilihan berfikir yuridis dari salah satu teori tentang tujuan negara adalah Negara Kesejahteraan (Welfare State). Konsep negara hukum yang semula merupakan liberal berubah ke negara hukum yang menyelenggarakan kesejahteraan rakyat.1

Menurut konsep Negara Kesejahteraan, tujuan negara adalah untuk kesejahteraan umum. Negara dipandang hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan bersama kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat negara tersebut.2

Selain konsep negara berdasar atas hukum (biasa disebut negara hukum), juga dikenal konsep negara kesejahteraan (welfare state), yakni suatu konsep yang menempatkan peran negara dalam setiap aspek kehidupan rakyatnya demi terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat3. Sehubungan dengan

konsep negara kesejahteraan tersebut, maka negara yang menganut konsep negara kesejahteraan dapat mengemban 4 (empat) fungsi4 yaitu:

1. The State as provider (negara sebagai pelayan) 2. The State as regulator (negara sebagai pengatur)

3. The State as enterpreneur (negara sebagai wirausaha), and 4. The State as umpire (negara sebagai wasit).

Merujuk pada fungsi negara yang menganut konsep negara kesejahteraan sebagaimana telah dikemukakan di atas, menyebabkan negara memegang peranan penting. Guna memenuhi fungsinya sebagai pelayan dan sebagai regulator, maka negara terlibat dan diberi kewenangan untuk membuat peraturan dalam kaitannya dengan fungsi sosial tanah, sehingga terwujud kesejahteraan rakyat sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 33 ayat (3). Oleh sebab itu,peranan pemerintah dalam mendorong masyarakat agar lebih berdaya dalam ikut mengelola dan memanfaatkan tanah menjadi suatu hal yang sangat penting. Negara mempunyai peran penting dalam mengatur 1 Kusnardi dan Bintan R. Saragih, Ilmu Negara, Gaya Media Pratama, Jakarta, 2000, hlm. 133.

2 CST Kansil dan Christine ST. Kansil, Hukum Tata Negara Republik Indonesia (1), Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hlm. 20.

3 Mustamin Dg. Matutu, ”Selayang Pandang (tentang) Perkembangan Tipe-Tipe Negara Modem, ”Pidato Lustrum ke IV Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Hasanuddin Ujung Pandang, 1972. hlm. 15.

(15)

penguasaan, penggunaan, pemilikan dan pemanfaatan tanah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Instrumen penting yang dapat digunakan oleh negara dalam menyelenggarakan fungsi reguleren termasuk dalam bidang agrarian khususnya terhadap tanah adalah undang-undang, dan ini merupakan aplikasi dari asas legalitas dalam konsep negara berdasar atas hukum.

Teori Negara Kesejahteraan sangat mendukung suatu pola kebijakan fungsi sosial tanah, sehingga akan mendukung terwujudnya kesejahteraan umum dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Konsep Negara Kesejahteraan dalam UUD 1945 pertama kali diadop oleh Muhamad Hatta, 5 yang dapat dikemukakan berdasarkan ketentuan Pasal 33

yang berbunyi:

(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi

dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pasal ini diatur dalam Undang-Undang.

Kebijakan fungsi sosial tanah di Indonesia, mengacu pada ideologi penguasaan dan pemanfaatan sebagaimana tercermin dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi sebagai berikut:

(16)

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyatnya”.

Berdasarkan ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa negara menguasai kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, namun penguasaan ini dibatasi yaitu harus dipergunakan untuk sebesarnya-besarnya kemakmuran rakyat.6

Campur tangan Pemerintah tersebut di atas menunjukkan bahwa Indonesia menganut konsep negara kesejahteraan (Welfare State), sebagaimana dicetuskan oleh Beveridge.7 Selanjutnya, dalam perkembangannya karena keterlibatan

pemerintah dalam melaksanakan fungsi-fungsinya dalam membuat regulasi dan mengawasi berbagai aktivitas di masyarakat, timbul berbagai permasalahan yang terjadi antara pemerintah dengan masyarakat di lapangan. Hal tersebut digambarkan oleh Tocqueville seringkali menimbulkan konflik termasuk juga di dalamnya konflik tenurial di suatu negara. Ia mengemukakan bahwa: “Conflict, however bounded; controversy, however regulated-these are features

not incidental but essential to the operation of the political system”.8

Tujuan hukum dapat dikaji melalui tiga sudut pandang, masing-masing:

Pertama, dari sudut pandang ilmu hukum positif normatif atau yuridis dogmatik, dimana tujuan hukum dititikberatkan pada segi kepastian hukumnya. Kedua, dari sudut pandang filsafat hukum, dimana tujuan hukum dititikberatkan pada segi keadilan. Ketiga, dari sudut pandang sosiologi hukum, tujuan hukum dititikberatkan pada segi kemanfaatannya.9

6 Muchsan, Hukum Administrasi Negara dan Peradilan, Administrasi Negara di Indonesia, (Jakarta: Liberti, 2003), hlm.9.

7 Beveridge seorang anggota Parlemen Inggris dalam reportnya yang mengandung suatu program sosial, dengan perincian antara lain tentang meratakan pendapatan masyarakat, usulan kesejahteraan sosial, peluang kerja, pengawasan upah oleh Pemerintah dan usaha di bidang pendidikan. Muchtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan, (Bandung: PT. Alumni, 2002), hlm.82.

8 Tocqueville’s seperti dikutip Gianfranco Poggi, The Development of the Modern State, (New York: Stanford University Press, 1978), hlm. 111.

(17)

B. Teori Keadilan

Disamping teori Negara Kesejahteraan, dipergunakan juga sebagai pisau analisis adalah teori keadilan. Menurut ajaran utilitis dengan tujuan kemanfaatannya, yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham. Menurut pandangan ini, tujuan hukum semata-mata adalah memberikan kemanfaatan atau kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi sebanyak-banyaknya warga masyarakat. Penangannya didasarkan pada filsafah sosial bahwa setiap warga masyarakat mencari kebahagiaan, dan hukum merupakan salah satu alatnya. Doktrin utilitis ini mennjurkan ‘the greathes happiness principle’ (prinsip kebahagiaan yang semaksimal mungkin). Tegasnya, menurut teori ini masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang mencoba memperbesar kebahagiaan dan memperkecil ketidakbahagiaan atau masyarakat yang mencoba memberi kebahagiaan yang sebesar mungkin kepada rakyat pada umumnya dan agar ketidakbahagiaan diusahakan sedikit mungkin dirasakan oleh rakyat pada umumnya.10

Selain pandangan teori keadilan sebagaimana yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham, dapat dikemukakan teori keadilan yang dikemukakan oleh John Rawls. Menurut John Rawls, semua teori keadilan merupakan teori tentang cara untuk menentukan kepentingan-kepentingan yang berbeda dari semua warga masyarakat. Menurut konsep teori keadilan utilitaris, cara yang adil mempersatukan kepentingan-kepentingan manusia yang berbeda adalah dengan selalu mencoba memperbesar kebahagiaan.

Menurut Rawls, bagaimanapun juga cara yang adil untuk mempersatukan berbagai kepentingan yang berbeda adalah melalui keseimbangan kepentingan-kepentingan tersebut tanpa memberikan perhatian istimewa terhadap kepentingan itu sendiri. Teori ini sering disebut ’justice as fairness ‘(keadilan sebagai kejujuran). Jadi yang pokok adalah prinsip keadilan mana yang paling fair, itulah yang harus dipedomani. Terdapat dua prinsip dasar keadilan. Prinsip yang pertama, disebut kebebasan yang menyatakan bahwa setiap orang

(18)

berhak mempunyai kebebasan yang terbesar asal ia tidak menyakiti orang lain. Tegasnya, menurut prinsip kebebasan ini, setiap orang harus diberi kebebasan memilih menjadi pejabat kebebasan berbicara dan berfikir kebebasan memiliki kekayaan, kebebasan dari penangkapan tanpa alasan dan sebagainya.11

Prinsip keadilan yang kedua yang akan disetujui oleh semua orang yang fair adalah bahwa ketidaksamaan sosial dan ekonomi harus menolong seluruh masyarakat dan para pejabat tinggi harus terbuka bagi semuanya. Tegasnya, ketidaksamaan sosial dan ekonomi dianggap tidak adil kecuali jika ketidaksamaan ini menolong seluruh masyarakat.12

Teori keadilan ini sangat relevan untuk menjawab bagaimana seharusnya kebijakan fungsi sosial tanah dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara adil. Karena esensi hak masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya agrarian khususnya terhadap tanah adalah adanya perlakuan yang adil untuk memanfaatkan dan mengelola tanah secara arif bijaksana dan berkesinambungan untuk kepentingan masyarakat banyak dan kepentingan generasi yang akan datang.

C. Teori Hukum Pembangunan

Friedman mengemukakan bahwa suatu sistem hukum terdiri dari tiga unsur13: “Hukum sebagai suatu sistem pada pokoknya mempunyai 3 (elemen),

yaitu (a) struktur system hukum (structure of legal system) yang terdiri dari lembaga pembuat undang-undang (legislative), institusi pengadilan dengan strukturnya lembaga kejaksaan dan badan kepolisian negara, yang berfungsi sebagai aparat penegak hukum; (b) subtansi sistem hukum (substance of legal) yang berupa norma-norma hukum, peraturan-peraturan hukum, termasuk pola-pola perilaku masyarakat yang berada di balik sistem hukum; dan (c) budaya 11 Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, Teori Keadilan Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan

Kesejahteraan Sosial Dalam Negara, (yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 181 dan 203. 12 Ibid.

(19)

hukum masyarakat (legal culture) seperti nilai-nilai, ide-ide, harapan-harapan dan kepercayaan-kepercayaan yang terwujud dalam perilaku masyarakat dalam mempersepsikan hukum”.

Pendapat serupa juga dikemukakan dalam teori hukum pembangunan dari Muchtar Kusumaatmadja. Berdasarkan kenyataan kemasyarakatan dan situasi kultural di Indonesia serta kebutuhan riil masyarakat Indonesia, Muchtar Kusumaatmadja merumuskan landasan atau kerangka teoritis bagi pembangunan hukum nasional dengan mengakomodasikan pandangan tentang hukum dari

Eugen Ehrlich dan teori hukum Roscou Pound, dan mengolahnya menjadi

suatu konsep hukum yang memandang hukum sebagai sarana pembaharuan, disamping sarana untuk menjamin ketertiban dan kepastian hukum.14

Untuk memberikan landasan teoritis dalam memerankan hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat serta membangun tatanan hukum nasional yang akan mampu menjalankan peranan tersebut, Muchtar Kusumaatmadja mengajukan konsepsi hukum yang tidak saja merupakan keseluruhan azas-azas dan kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat melainkan meliputi pula lembaga-lembaga (institutions) dan proses-proses yang mewujudkan berlakunya kaidah-kaidah itu dalam kenyataan.15

Dengan konsepsi hukum tersebut, tampak bahwa Muchtar memandang tatanan hukum itu sebagai suatu sistem yang tersusun atas 3 (tiga) komponen (sub sistem) yaitu:16

a. Azas-azas dan kaidah hukum; b. Kelembagaan hukum;

c. Proses perwujudan hukum.

(20)

Menurut Muchtar Kusumaatmadja, hukum merupakan sarana pembaharuan masyarakat didasarkan atas anggapan bahwa adanya keteraturan atau ketertiban dalam usaha pembangunan atau pembaharuan itu merupakan sesuatu yang diinginkan atau bahkan dipandang (mutlak) perlu.17

Anggapan lain yang terkandung dalam konsepsi hukum sebagai sarana pembangunan adalah bahwa hukum dalam arti kaidah atau peraturan hukum memang bias berfungsi sebagai alat (pengatur) atau sarana pembangunan dalam arti merupakan arah kegiatan rumusan kearah yang dikehendaki oleh pembangunan atau pembaharuan.18

Kedua fungsi tersebut diharapkan dapat dilakukan oleh hukum disamping fungsinya yang tradisional yakni untuk menjamin adanya kepastian dan ketertiban.19

Perubahan maupun ketertiban atau keteraturan merupakan tujuan kembar dari masyarakat yang sedang membangun, hukum menjadi suatu alat (sarana) yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan.20

Peranan hukum dalam pembangunan dimaksudkan agar pembangunan tersebut dapat dicapai sesuai dengan yang telah ditetapkan. Hal ini berarti bahwa diperlukan seperangkat produk hukum baik berwujud perundang-undangan maupun keputusan badan-badan peradilan yang mampu menunjang pembangunan.21

Dalam tataran pelaksanaan kebijakan pola fungsi sosial tanah harus dapat dijabarkan lebih detail dan lebih lanjut dalam berbagai peraturan perundang-perundangan.

Dalam kaitannya dengan pengurusan sumber daya agrarian khususnya yang berkaitan dengan fungsi sosial tanah perlu adanya good lands governance.22

17 Muchtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan, (Bandung: PT. Alumni, 2002), hlm. 89.

18 Ibid. 19 Ibid. 20 Ibid, hlm. 89.

21 Otje Salman dan Anthon F. Susanto, Beberapa Aspek Sosiologi Hukum, (Bandung: PT. Alumni, 2004), hlm. 65.

(21)

Adapun syarat good lands governance antara lain: Pertama, adanya transparansi hukum, kebijakan dan pelaksanaan; Kedua, tersedianya mekanisme yang “legitimate” dalam proses akuntabilitas publik; Ketiga, adanya mekanisme perencanaan, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi yang partisipatif; Keempat, adanya mekanisme demokratis dalam memperkuat daerah; Kelima, memperbaiki birokrasi pusat yang tidak efektif dan efisien untuk perbaikan kinerja melalui pengembangan institusi yang mengarah kepada peningkatan pelayanan publik.23

Untuk menghindarkan perbedaan penafsiran terhadap istilah-istilah yang dipergunakan dalam penulisan disertasi ini, berikut ini definisi operasional dari istilah-istilah tersebut.

1. Tanah adalah permukaan bumi, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA.

2. Hukum Tanah adalah bidang hukum yang mengatur hak-hak penguasaan atas tanah: hak bangsa, hak menguasai dari Negara, hak ulayat, hak pengelolaan, wakaf dan hak-hak atas tanah lainnya.

3. Fungsi tanah adalah sebagai salah satu sumber daya alam utama, yang selain mempunyai nilai batiniah yang mendalam bagi rakyat Indonesia, juga berfungsi sangat strategis dalam memenuhi kebutuhan Negara nasional maupun dalam hubungannya dengan dunia Internasional.

4. Hak bangsa adalah hubungan hukum antara bangsa Indonesia dengan semua tanah di seluruh wilayah Negara sebagai tanah bersama, yang disesuaikan dengan perkembangan keadaan serta kebutuhan tanah nasional dan masyarakat dewasa ini dan masa mendatang.

5. Pembagian Kewenangan adalah pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam hubungan wewenang, keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya menimbulkan hubungan administrasi dan kewilayahan antar susunan pemerintahan.24

(22)

E. Ruang Lingkup

Ruang lingkup kegiatan penelitian ini dapat dibedakan kedalam materi penelitian dan wilayah penelitian yang dijadikan sebagai sampel terutama daerah-daerah yang masih eksis dalam kaitannya dengan masalah fungsi sosial tanah.

1. Materi Kegiatan Penelitian

Materi kegiatan difokuskan pada eksplorasi mengenai kebijakan fungsi sosial tanah dan kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat, serta mengkaji bahan-bahan untuk menyusun rumusan konsep pengembangan kebijakan tentang fungsi sosial tanah ideal pada masa yang akan datang.

2. Wilayah Penelitian

Wilayah penelitian difokuskan di 6 (enam) daerah/provinsi sebagai sampel yang mempunyai masyarakat hukum adat/ulayat cukup kuat yang dipilih secara purposive random sampling, yaitu Provinsi Sumatera Utara; Provinsi Riau, Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Bali, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Gorontalo. Dari Masing-masing provinsi tersebut dipilih 2 kabupaten/kota dengan menggunakan metode pusposive random sampling.

(23)

3

Bab

Bab

METODE PENELITIAN

A. Kerangka Pikir Kajian

Dalam bab ini akan dijelaskan pendekatan dan metodologi yang akan dijalankan oleh Konsultan dalam menangani Pekerjaan Penelitian Tentang Kebijakan Fungsi Sosial Tanah, yang secara garis besar tahapan pekerjaan sesuai yang tercantum dalam kerangka acuan kerja adalah tahap persiapan perencanaan/ perancangan, penyusunan gambar pra rencana, penyusunan pengembangan perencanaan, pembuatan perhitungan biaya kerja, rancangan detail, persiapan pelelangan, pelelangan, evaluasi dan negosiasi, pengawasan berkala, dan tentunya dalam setiap langkah yang akan diambil tetap mengadakan asistensi/ diskusi dengan Pengguna Jasa.

Selanjutnya dalam bab ini akan diuraikan tentang metodologi yang akan digunakan konsultan dalam setiap rangkaian kegiatan pekerjaan sehingga dalam waktu yang relatif singkat yaitu 4 (empat) bulan, seluruh rangkaian pekerjaan dapat dilaksanakan dengan hasil yang sesuai dengan tujuan pekerjaan

(24)

B. Pendekatan Penelitian

Dalam melaksanakan “ Penelitian Kebijakan Fungsi Sosial Tanah”, diperlukan pendekatan yuridis empiris/yuridis sosiologis. Pendekatan yuridis dilakukan untuk memahami pengaturan fungsi sosial tanah dan juga untuk mengetahui sinkronisasi dan kontradiksi terhadap aturan-aturan yang berkaitan dengan masalah kebijakan yang terkait dengan fungsi sosial tanah dalam kerangka hukum tanah nasional. Pendekatan sosiologis digunakan untuk mengidentifikasi hukum yang nyata-nyata berlaku (secara implicit berlaku) dalam masyarakat berkaitan dengan masalah fungsi sosial tanah. Penelitian ini juga didukung dengan pendekatan historis (sejarah) untuk mengungkap dan menjelaskan lembaga hukum yang terkait dengan masalah fungsi sosial tanah.1

Agar proses pelaksanaan penelitian dapat mencapai tujuan yang akan dicapai maka diperlukan enam langkah proses berpikir sistemik. Langkah-langkah proses ini merupakan panduan umum saja yang meliputi:

1. Identifikasi kondisi yang ada;

2. Identifikasi kebutuhan dan kondisi yang diinginkan; 3. Identifikasi permasalahan;

4. Analisis;

5. Penyusunan alternatif usulan kebijakan;

6. Memperkirakan dampak implementasi kebijakan.

C. Metode Pengumpulan Data

1. Metodologi Pengumpulan Data Sekunder

1 Jufrina Rizal, dalam Hermayulis, “Penerapan Hukum Pertanahan dan Pengaruhnya Terhadap Keberadaan Pada Sistem Kekerabatan Patrilinial di Sumatera Barat”, (Disertasi Doktor Universitas Indonesia, Jakarta,

(25)

Pengumpulan data sekunder dilakukan guna mengumpulkan Literatur yang berkaitan dengan kebijakan, peraturan dan perundangan terkait di bidang fungsi social tanah. Atau bisa juga diperoleh berdasarkan hasil studi sebelumnya untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dari kondisi yang terkait dengan perumahan dan permukiman, termasuk permasalahan, kebutuhan maupun harapan yang diinginkan .

Pengumpulan data melalui data sekunder ini dikatagorikan sebagai penelitian sekunder, dimana penelitian sekunder merupakan pendekatan penelitian yang menggunakan data-data yang telah ada, selanjutnya dilakukan proses analisa dan interpretasi terhadap data-data tersebut sesuai dengan tujuan penelitian. Sebelum melaksanakan pengumpulan data sekunder tim studi harus benar-benar memahami sampai sejauh mana data-data sekunder ini dapat digunakan, untuk itu keuntungan dan kerugian penelitian sekunder berikut harus diketahui.

Metodologi umum dalam penelitian sekunder a. Mencari dan mengumpulkan data.

b. Membuat agar unit pengukuran yang digunakan dapat dibandingkan (comparable).

c. Mengevaluasi data/ dokumen. d. Menentukan kelengkapan data. e. Melakukan analisa data.

Studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan. kepada subjek penelitian. Dokumen yang diteliti dapat berupa berbagai macam, tidak hanya dokumen resmi. Dokumen dapat dibedakan menjadi dokumen primer, jika dokumen ini ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa; dan dokumen sekunder, jika

(26)

ini. Dokumen dapat berupa buku harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat, catatan kasus (case records) dalam pekerjaan sosial, dan dokumen lainnya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa dokumen-dokumen ini ditulis tidak untuk tujuan penelitian sehingga penggunaannya memerlukan kecermatan.

Kegiatan studi literatur mengacu sumber-sumber yang meliputi :

a. Inventarisasi landasan hukum, peraturan dan perundang-undangan serta kebijakan fungsi social tanah;

b. Data terkait dengan kondisi/situasi dan permasalahan-permasalahan yang terjadi di lapangan yang terkait dengan fungsi social tanah;

c. Data mengenai kondisi yang ada terkait dengan tugas dan tanggung jawab Pemerintah dan masyarakat dalam kegiatan kebijakan fungsi sosial tanah;

d. Kondisi yang terjadi di lapangan tentang masalah yang berkaitan dengan fungsi social tanah saat ini;

e. Data dan informasi mengenai aspek teknologis, administratif pertanahan, sosiologis dan ekonomis, terkait dengan kebijakan fungsi social tanah yang dilaksanakan saat ini.

Hasil deskripsi ringkas dari studi data sekunder tersebut selanjutnya diasistensikan untuk mendapat masukan dari pengguna jasa guna penyempurnaan langkah kerja lebih lanjut. Setelah dibahas dibuatlah

(27)

superimpossed untuk masing-masing permasalahan yang dihadapi guna dilakukan verifikasi lapangan dengan penelitian primer (survai primer). Hasil dari penelitian sekunder yang masih berupa data akan dituangkan dalam laporan antara.

2. Metode Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan data dikakukan dengan cara wawancara ataupun kuesioner dengan nara sumber dari masyarakat, instansi pemerintahan terkait dan juga dari kalangan akademisi. Adapun kuesioner yang disebarkan untuk mendapatkan data lapangan yang memadai menggunakan beberapa model yaitu berupa pertanayaan yang akan dianalisis secara kualitatif dan juga kuantitatif. Secara rinci kedua jenis kuesioner tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Kuesioner Kajian Dengan Analisis Kuantitatif Matrik Pengumpulan Data

No Rumusan Masalah Pengembangan Rumusan

Pengembangan

Indikator Paremeter Ukur Item Pernyataan

1 Tanah mempunyai dimensi

Ipoleksosekhankamnas,

Rumusan Fungsi Sosial dari perspektif

Ideologis Wawasan Nusantara NKRI 1. Rumusan fungsi sosial HAT seharusnya tetap dalam kontek NKRI 2. Rumusan fungsi sosial HAT seharusnya memperhatikan nilai-nilai kebangsaan Pancasila Ideologi Bangsa

Indonesia Falsafah hidup bangsa Indonesia Politik Demokrasi Pancasila Demokrasi yang

berdasarkan Pancasila dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia

(28)

Ekonomi Ekonomi Kerakyatan Peningkatan kesejahteraan rakyat Kemajuan teknologi Meningkatkan

produksi nasional 2 Bagaimana rumusan

fungsi sosial hak atas tanah dalam pengembangan kebijakan, pengaturan, pelayanan serta pengendalian dan pengawasan yang diperlukan dalam mengatur fungsi sosial hak atas tanah?

Rumusan Fungsi Sosial HAT Fungsi sosial HAT merupakan kebijakan dasar empat prinsip pengelolaan pertanahan, yaitu HAT harus berkontribusi secara nyata untuk bangsa dan negara Indonesia Perwujudan yang konkrit mengenai empat prinsip pertanahan dalam setiap kebijakan A. Pengembangan Kebijakan Pertanahan 1. meningkatkan kesejahteraan rakyat dan melahirkan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat Menciptakan lapangan kerja Mengurangi kemiskinan Memperkuat ketahanan pangan 2. meningkatkan tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan dalam kaitannya dengan pemanfatan, penggunaan, penguasaan, dan pemilikan tanah, Negara dapat memberikan macam-macam hak atas tanah kepada orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain serta Badan-badan Hukum

tiap warga negara Indonesia baik laki-laki maupun wanita mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh suatu hak atas tanah

Adanya persamaan prosedur dalam setiap pemberian hak atas tanah bagi pemohon hak laki-laki dan perempuan Adanya persyaratan cakap menurut hukum bagi setiap pemohon hak laki-laki dan perempuan Pemberian

hak atas tanah dengan mencegah penguasaan atas kehidupan dan pekerjaan orang lain yang melampaui batas

(29)

3. menjamin kebelanjutan sistem kemasyarakat an, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan memberikan akses seluas-luasnya pada generasi akan datang pada sumber-sumber ekonomi masyarakat dan tanah Setiap orang, Badan Hukum dan Instansi yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah wajib memelihara tanah, menambah kesuburan dan mencegah kerusakannya (Kewajiban) Pemberian/ Penetapan SK HAT seharusnya mencantumkan kewajiban memelihara tanah, menambah kesuburan dan mencegah kerusakannya Setiap jenis Sertipikat HAT seharusnya mencantumkan kewajiban memelihara tanah, menambah kesuburan dan mencegah kerusakannya Memberikan sanksi

yang layak bagi setiap pelanggaran lingkungan hidup Setiap pelanggaran kewajiban untuk memelihara tanah diberikan sanksi yang tegas dan memaksa Pembangunan yamg berkelanjutan utk meningkatkan ekonomi rakyat Setiap pemberian hak atas tanah selalu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat 4. menciptakan tatanan kehidupan bersama secara harmonis dengan mengatasi berbagai sengketa dan konflik pertanahan di seluruh tanah air dan menata sistem pengelolaan yang tidak lagi melahirkan sengketa dan konflik di kemudian hari. Memberikan aturan yang standar di setiap daerah mengenai pengelolaan tanah untuk mencegah konflik dan sengketa tanah B. Pengembangan Pengaturan Pertanahan 1. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut,.

Adanya aturan mengenai sistem kelola tanah yang standar di setiap propinsi

(30)

Adanya aturan mengenai sistem pemeliharaan tahnah yang standar di setiap propinsi 2. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa,

Adanya aturan mengenai syarat-syarat kepada tiap warga negara dalam memperoleh hak atas tanah 3. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa

Adanya aturan mengenai hubungan-hubungan hukum yang timbul dalam setiap perbuatan hukum yang berkaitan dengan tanah C. Pelayanan Pertanahan Memberikan pelayanan administrasi di bidang pertanahan dengan baik dan transparan

Adanya prosedur yang mudah dan standar dalam pengurusan administrasi pertanahan D. Pengawasan dan Pengendalian Adanya prosedur pengawasan yang standar di setiap daerah Adanya buku panduan mengenai prosedur pengawasan secara nasonal Adanya prosedur tentang pengendalian tanah agar dapat memperbaiki dan menjaga kualitas lingkungan hidup Adanya buku panduan mengenai pengendalian tanah agar sejalan dengan kelestarian lingkungan hidup

(31)

2 Apa saja indikator batasan fungsi sosial hak atas tanah bagi negara dalam mengatur dan menyelenggarakan peruntukan,

penggunaan, persediaan dan pemanfaatan atas tanah?

Indikator Batasan Fungsi Sosial HAT dalam mengatur dan menyelenggarakan

Adanya fungsi sosial dan kepentingan umum yang melekat di setiap pemberian hak atas tanah

Fungsi sosial dan kepentingan umum harus diprioritaskan demi kepentingan bersama A. Peruntukan Tanah Mengatur setiap

peruntukkan tanah agar sesuai dengan tata ruang di setiap daerah

Adanya panduan bagi peruntukkan tanah sesuai dengan kondisi daerah masing-masing B. Penggunaan Tanah Mengatur penggunaan tanah agar sesuai dengan tata guna tanah

Menata kembali struktur penggunaan tanah yang lebih adil bagi masyarakat C. Persediaan Tanah Mengatur persediaan

tanah agar terjadi keseimbangan lingkungan hidup Memberikan aturan yang standar mengenai persediaan tanah di setiap daerah D. Pemanfaatan Tanah Mengatur pemanfaatan tanah sebaik mungkin dan mencegah kerusakan lingkungan Memberikan aturan yang konkrit dan standar dalam pemanfaatan tanah secara nasional

PETUNJUK PENGISIAN

Mohon Bapak/Ibu/Saudara untuk memberikan tanda silang (X) pada kolom yang telah disediakan sesuai dengan pendapat atau pilihan Bapak/Ibu/Sdr.

Keterangan Pilihan Jawaban

1 = STS (Sangat tidak Setuju) 3 = CS (Cukup Setuju) 5 = SS (Sangat Setuju)

(32)

PERNYATAAN MENGENAI FAKTOR FAKTOR YANG MENENTUKAN PERCEPATAN PENDAFTARAN DAN

SERTIPIKASI TANAH PERTAMA KALI

No Item-Item Pernyataan Yang Mempercepat PILIHAN JAWABAN

A Tanah mempunyai dimensi Ipoleksosekhankamnas

1. Rumusan Fungsi Sosial Tanah

STS TS CS S SS 1. Rumusan fungsi sosial tanah harus memasukkan aspek ideologi,

politik, sosial, ekonomi. 1 2 3 4 5 2. Rumusan fungsi sosial HAT seharusnya tetap dalam kontek NKRI dan

memperhatikan nilai-nilai kebangsaan 1 2 3 4 5 3.

Rumusan fungsi sosial HAT harus memenuhi dimensi wawasan nusantara, Pancasila, demokrasi Pancasila, sosial kebidayaan, demokrasi ekonomi, teknologi

1 2 3 4 5 2. Rumusan fungsi sosial HAT dalam Pengembangan Kebijakan

Pertanahan .

Fungsi sosial HAT merupakan kebijakan dasar empat prinsip pengelolaan pertanahan, yaitu HAT harus berkontribusi secara nyata untuk bangsa dan negara Indonesia.

1 2 3 4 5 Pengembangan kebijakan pertanahan harus mampu meningkatkan

kesejahteraan rakyat dan melahirkan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat melalui program penciptaan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan.

1 2 3 4 5 Kebijakan pertanahan harus dapat meningkatkan tatanan kehidupan

bersama yang lebih berkeadilan dalam kaitannya dengan pemanfatan, penggunaan, penguasaan, dan pemilikan tanah, kepada orang-orang (Laki-laki atau perempuan), baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain serta Badan-badan Hukum dengan mencegah kepemilikan yang melampaui batas.

1 2 3 4 5 Kebijakan pertanahan harus mampu menjamin kebelanjutan sistem

kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan memberikan akses seluas-luasnya pada generasi akan datang pada sumber-sumber ekonomi masyarakat dan tanah

1 2 3 4 5 Setiap orang, Badan Hukum dan Instansi yang mempunyai hubungan

hukum dengan tanah wajib memelihara tanah, menambah kesuburan dan mencegah kerusakannya

(Kewajiban)

1 2 3 4 5 Pemberian/Penetapan SK HAT seharusnya mencantumkan

kewajiban memelihara tanah, menambah kesuburan dan mencegah kerusakannya.

1 2 3 4 5 Setiap jenis Sertipikat HAT seharusnya mencantumkan kewajiban

memelihara tanah, menambah kesuburan dan mencegah kerusakannya.

1 2 3 4 5 Setiap pelanggaran kewajiban untuk memelihara tanah diberikan

sanksi yang tegas dan memaksa. 1 2 3 4 5 Kebijakan pertanahan harus menciptakan tatanan kehidupan

bersama secara harmonis dengan mengatasi berbagai sengketa dan konflik pertanahan di seluruh tanah air dan menata sistem pengelolaan yang tidak lagi melahirkan sengketa dan konflik di kemudian hari, melalui standar peraturan perundangan di daerah.

1 2 3 4 5 B. Pengembangan Pengaturan Pertanahan

(33)

Pengembangan pengaturan pertanahan dilakukan dengan mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut

1 2 3 4 5 Pengembangan pengaturan pertanahan dilakukan melalui adanya

aturan mengenai sistem kelola tanah dan sistem pemeliharaan tanah yang standar di setiap propinsi

1 2 3 4 5 Salah satu bentuk pengembangan pengaturan pertanahan yaitu

dengan menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa, dengan adanya aturan mengenai hubungan-hubungan hukum yang timbul dalam setiap perbuatan hukum yang berkaitan dengan tanah.

1 2 3 4 5 C. Pelayanan Pertanahan

Pelayanan pertanahan dilakukan dengan memberikan pelayanan

administrasi di bidang pertanahan dengan baik dan transparan 1 2 3 4 5 Pelayanan administrasi pertanahan yang baik dan transparan dapat

diukur melalui adanya prosedur yang mudah dan standar dalam pengurusan administrasi pertanahan

1 2 3 4 5 D. Pengawasan dan Pengendalian

Pengawasan dan pengendalian pertanahan dapat diukur dengan adanya prosedur pengawasan yang standar di setiap daerah dan adanya prosedur tentang pengendalian tanah agar dapat memperbaiki dan menjaga kualitas lingkungan hidup

1 2 3 4 5 Agar pengendalian dan pengawasan pertanahan dapat dilaksanakan

dengan baik ada buku panduan mengenai prosedur pengawasan secara nasonal dan buku panduan mengenai pengendalian tanah agar sejalan dengan kelestarian lingkungan hidup

1 2 3 4 5 E. Indikator Batasan Fungsi Sosial HAT dalam mengatur dan

menyelenggarakan

Indikator Batasan Fungsi Sosial HAT ditentukan oleh adanya fungsi

sosial dan kepentingan umum yang melekat dalam pemberian HAT 1 2 3 4 5 1. Peruntukan Tanah

Dalam mengatur setiap peruntukkan tanah agar sesuai dengan tata

ruang di setiap daerah. 1 2 3 4 5 Agar peruntukan tanah sesuai dengan tata ruang di daerah harus

ada panduan bagi peruntukkan tanah sesuai dengan kondisi daerah masing-masing

1 2 3 4 5 2. Penggunaan Tanah

Dalam mengatur penggunaan tanah harus sesuai dengan tata guna

tanah 1 2 3 4 5 Penggunaan tanah yang sesuai dengan tataa guna tanah harus

mampu menata kembali struktur penggunaan tanah yang lebih adil bagi masyarakat.

1 2 3 4 5 3. Persediaan Tanah

Dalam mengatur persediaan tanah harus diperhatikan adanya

keseimbangan lingkungan hidup 1 2 3 4 5 Agar persediaan tanah dapat menjaga keseimbangan lingkungan

hidup maka diperlukan aturan yang standar mengenai persediaan tanah di setiap daerah.

1 2 3 4 5 4. Pemanfaatan Tanah

Dalam mengatur tentang pemanfaatan tanah harusdapat dilaksanakan

sebaik mungkin dan mencegah kerusakan lingkungan 1 2 3 4 5 Agar pemanfaatan tanah dapat dilaksanakan sebaik mungkin dan

dapat mencegah kerusakan lingkungan harus ada aturan yang konkrit dan standar dalam pemanfaatan tanah secara nasional

(34)

b. Kuesioner Dengan Metode Analisis Kualitatif

Format metode kuesioner dengan metode analisis kualitatif dalam penelitian kebijakan fungsi social tanah, dapat diuraikan sesuai format sebagai berikut: DAFTAR PERTANYAAN 1. Identitas a. Nama : b. Jenis Kelamin : c. Pekerjaan : d. Umur : e. Institusi : f. Alamat : 2. Daftar Pertanyaan :

a. Apa yang diketahui tentang fungsi sosial tanah?

... ... ... ... ... b. Permasalahan apa yang terjadi yang berkaitan dengan masalah

fungsi sosial tanah? Apakah karena belum adanya kebijakan yang jelas ataukah karena implementasi terhadap kebijakan pemerintah?

(35)

... ... ... c. Apakah kebijakan fungsi sosial tanah yang selama ini ada sudah

memberikan perlindungan untuk mensejahterakan masyarakat? ... ... ... ... ... d. Apabila pada poin c Bapak/Ibu menjawab sudah atau belum,

mohon dapat dijelaskan alasan-alasan untuk masing-masing jawaban tersebut? ... ... ... ... ... e. Bagaimanakah seharusnya strategi kebijakan fungsi sosial tanah

yang baik agar dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat? Apakah strategi yang dilakukan oleh pemerintah tersebut terkait dengan beberapa faktor di bawah ini seperti :

a) Membuat kebijakan baru

(36)

atau peraturan lainnya

f. Fungsi sosial hak atas tanah dapat dituangkan dalam bentuk-bentuk di bawah ini:

a) kebijakan (Policy) b) pengaturan (regulatory)

c) pengendalian dan pengawasan (compliance) d) dan pelayanan (service)

Mana diantara bentuk-bentuk tersebut yang sangat menentukan agar fungsi sosial tanah dapat memberikan jaminan perlindungan untuk mensejahterakan masyarakat?

... ... ... ... ... g. Apabila menurut Bapak/Ibu/Saudara bentuk-bentuk tersebut

selain sebagaimana disebutkan dalam poin f, maka sebutkan dan berikan penjelasannya mengapa demikian?

... ... ... ... ... h. Dalam melaksanakan misi-misi social tanah tersebut

pemerintah mempertimbangkan ketersediaan tanah, untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan

(37)

(stakeholder). Apakah di wilayah kerja Bapak/Ibu/Saudara faktor ketersediaan tanah untuk melaksanakan misi social tanah sudah cukup memadai ataukah tidak?

... ... ... ... ... i. Apabila pada poin h, Bapak/Ibu/Saudara menjawab belum

maka kira-kira berapa luas tanah yang seharusnya diperlukan dalam rangka melaksanakan misi sosial terhadap tanah bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat?

... ... ... ... ... j. Kebijakan fungsi sosial tanah yang harus memperhatikan

beberapa aspek seperti aspek budaya, sosial dan juga aspek karakteristik potensi tanah. Menurut Bapak/Ibu/Saudara, diantara ketiga aspek tersebut mana yang paling menonjol dalam kaitannya dengan kebijakan fungsi sosial tanah dan mohon dijelaskan alasannya?

... ...

(38)

... ... k. Bagaimanakah peran masyarakat dalam menyelesaikan

permasalahan yang berkaitan dengan fungsi sosial tanah? Apakah melalui penyampaian usulan kepada pemerintah daerah ataukah melalui cara lainnya?

... ... ... ... ... l. Bagaimanakah peran Pemerintah Daerah dalam mengatasi

terhadap permasalahan fungsi sosial tanah di wilayah kerja Bapak/Ibu/saudara? ... ... ... ... ... m. Apakah terdapat Perda yang mengatur tentang fungsi social

tanah di daerah kerja Bapak/Ibu/saudara?

... ... ... ... ...

(39)

n. Bagaimana sebaiknya kebijakan yang harus dilakukan oleh Pemerintah ke depan untuk mengatasi masalah fungsi sosial tanah? ... ... ... ... ...

3. Responden dan Nara Sumber

Responden yang akan diambil dalam survey adalah masyarakat, instansi pemerintahan terkait dan stake holder terkait, dimana sample akan diambil baik dari pusat maupun dari daerah yang telah ditentukan. Dimana daerah yang akan diambil samplenya adalah :

• Provinsi Sumatera Utara; • Provinsi Riau

• Provinsi Kalimantan Selatan • Provinsi Bali

• Provinsi Jawa Timur • Provinsi Gorontalo

Penentuan kota definitif akan didiskusikan lebih lanjut dengan pengguna jasa, dimana usulan awal dari konsultan adalah mengusulkan lokasi-lokasi.

(40)

D. Analisa Data

Analisis data sekunder dilakukan terhadap peraturan perundang-undangan yang mempunyai korelasi dengan kebijakan fungsi sosial tanah. Dengan demikian akan dapat diketahui sinkronisasi dan kontradiksi terhadap peraturan yang terkait dengan kebijakan fungsi sosial tanah dan bagaimana aplikasinya di lapangan.

Sedangkan untuk data primer yang telah terkumpul melalui observasi dan wawancara yang mendalam itu disaring terlebih dahulu, baru kemudian dianalisis akan dianalisis dengan menggunakan untuk mendiskripsikan terhadap masalah yang diteliti. Selanjutnya terhadap data sekunder dan primer, juga dilakukan analisa data secara deskriptif evaluatif dari studi kebijakan/peraturan dan hasil survey serta masukan atau pendapat pakar instansi terkait dengan kebijakan fungsi sosial tanah. Hasil analisis data tersebut dibahas dengan bantuan teori-teori yang relevan untuk mengantar pada kegiatan penyusunan model kebijakan yang efektif.

(41)

4

Bab

Bab

GAMBARAN UMUM LOKASI

PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Provinsi Sumatera Utara

Lambang Peta Lokasi

Koordinat 1°-4° LU 98°–100° BT

Dasar hukum UU 10/1948, UU 24/1956

Tanggal penting 15 April 1948

Ibu kota Medan

Gubernur Syamsul Arifin

Luas 72.981,23 km²

(42)

Kota 8

Kecamatan 325

Kelurahan/Desa 5.456

Suku Batak (41,95%), Jawa (32.62%) Nias (6.36%), Melayu (4,92%), Minangkabau (2,66%), Banjar (0.97%), Lain-lain (9,72%) [1]

Agama Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Parmalim,

Konghucu

Bahasa Indonesia, Batak, bahasa Karo, bahasa Pakpak,

bahasa Simalungun, bahasa Angkola, bahasa Padang Lawas, bahasa Mandailing, Nias, Melayu, Jawa

Zona waktu WIB

Sumatera Utara adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau

Sumatera, berbatasan dengan Aceh di sebelah utara dan dengan Sumatera Barat serta Riau di sebelah selatan. Provinsi ini terutama merupakan kampung halaman suku bangsa Batak, yang hidup di pegunungan dan suku bangsa Melayu yang hidup di daerah pesisir timur. Selain itu juga ada suku bangsa Nias di pesisir Barat Sumatera, Mandailing, Jawa dan Tionghoa.

a. Geografi

Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1° - 4° Lintang Utara dan 98° - 100° Bujur Timur, Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 71.680 km².

Sumatra Utara pada dasarnya dapat dibagi atas: 1. Pesisir Timur

2. Pegunungan Bukit Barisan. 3. Pesisir Barat.

4. Kepulauan Nias.

(43)

pesat perkembangannya karena persyaratan infrastruktur yang relatif lebih lengkap daripada wilayah lainnya. Wilayah pesisir timur juga merupakan wilayah yang relatif padat konsentrasi penduduknya dibandingkan wilayah lainnya. Di daerah tengah provinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan. Di pegunungan ini ada beberapa dataran tinggi yang merupakan kantong-kantong konsentrasi penduduk. Daerah di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir juga menjadi tempat tinggal penduduk yang menggantungkan hidupnya kepada danau ini. Pesisir barat biasa dikenal sebagai daerah Tapanuli. Terdapat 419 pulau di propisi Sumatera Utara. Pulau-pulau terluar adalah pulau Simuk (kepulauan Nias), dan pulau Berhala di selat Malaka.

Kepulauan Nias terdiri dari pulau Nias sebagai pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Kepulauan Nias terletak di lepas pantai pesisir barat di Samudera Hindia. Pusat pemerintahan terletak di [[Gunung Sitoli. Kepulauan Batu terdiri dari 51 pulau dengan 4 pulau besar: Sibuasi, Pini, Tanahbala, Tanahmasa. Pusat pemerintahan di Pulautelo di pulau Sibuasi. Kepulauan Batu terletak di tenggara kepulauan Nias. Pulau-pulau lain di Sumatera Utara: Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaia, Batumakalele, Lego, Masa, Bau, Simaleh, Makole, Jake, dan Sigata, Wunga.

Di Sumatera Utara saat ini terdapat dua taman nasional, yakni Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Batang Gadis. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan, Nomor 44 Tahun 2005, luas hutan di Sumatera Utara saat ini 3.742.120 hektar (ha). Yang terdiri dari Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam seluas 477.070 ha, Hutan Lindung 1.297.330 ha, Hutan Produksi Terbatas 879.270 ha, Hutan Produksi Tetap 1.035.690 ha dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi seluas 52.760 ha.

(44)

akibat perambahan dan pembalakan liar. Sejauh ini, sudah 206.000 ha lebih hutan di Sumut telah mengalami perubahan fungsi. Telah berubah menjadi lahan perkebunan, transmigrasi. Dari luas tersebut, sebanyak 163.000 ha untuk areal perkebunan dan 42.900 ha untuk areal transmigrasi.

b. Pemerintahan

Daftar kabupaten/kota di Sumatera Utara

No. Kabupaten/Kota Ibu kota

1 Kabupaten Asahan Kisaran

2 Kabupaten Batu Bara Limapuluh

3 Kabupaten Dairi Sidikalang

4 Kabupaten Deli Serdang Lubuk Pakam 5 Kabupaten Humbang Hasundutan Dolok Sanggul

6 Kabupaten Karo Kabanjahe

7 Kabupaten Labuhanbatu Rantau Prapat 8 Kabupaten Labuhanbatu Selatan Kota Pinang 9 Kabupaten Labuhanbatu Utara Aek Kanopan

10 Kabupaten Langkat Stabat

11 Kabupaten Mandailing Natal Panyabungan

12 Kabupaten Nias Gunung Sitoli

13 Kabupaten Nias Barat Lahomi

14 Kabupaten Nias Selatan Teluk Dalam

15 Kabupaten Nias Utara Lotu

16 Kabupaten Padang Lawas Sibuhuan 17 Kabupaten Padang Lawas Utara Gunung Tua 18 Kabupaten Pakpak Bharat Salak

19 Kabupaten Samosir Pangururan

20 Kabupaten Serdang Bedagai Sei Rampah

21 Kabupaten Simalungun Raya

22 Kabupaten Tapanuli Selatan Sipirok 23 Kabupaten Tapanuli Tengah Pandan 24 Kabupaten Tapanuli Utara Tarutung

(45)

25 Kabupaten Toba Samosir Balige

26 Kota Binjai Binjai Kota

27 Kota Gunung Sitoli

-28 Kota Medan

-29 Kota Padang Sidempuan

-30 Kota Pematangsiantar

-31 Kota Sibolga

-32 Kota Tanjung Balai

-33 Kota Tebing Tinggi

-Pusat pemerintahan Sumatera Utara terletak di kota Medan. Sebelumnya, Sumatera Utara termasuk ke dalam Provinsi Sumatra sesaat Indonesia merdeka pada tahun 1945. Tahun 1950. Provinsi Sumatera Utara dibentuk meliputi sebagian Aceh. Tahun 1956, Aceh dipisahkan menjadi Daerah Otonom dari Provinsi Sumatera Utara. Sumatera Utara dibagi kepada 25 kabupaten, 7 kota (dahulu kotamadya), 325 kecamatan, dan 5.456 kelurahan/desa.

Pemekaran daerah

Dengan dimekarkannya kembali Kabupaten Tapanuli Selatan, maka provinsi ini memiliki kabupaten baru, yaitu Kabupaten Padang Lawas yang beribukota di Sibuhuan dengan dasar hukum UURI No. 38/2007 dan Kabupaten Padang Lawas Utara yang beribukota di Gunung Tua dengan dasar hukum UURI No. 37/2007. Pulau Nias diwacanakan akan dimekarkan kembali, yaitu dengan membentuk Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat, dan Kota Gunung Sitoli.

(46)

c. Demografi | Ekonomi | KBI | Wisata

Provinsi Sumatera Utara berada di bagian barat Indonesia dan, secara geografis terletak antara 1” - 4” Lintang Utara dan 98” - 100” Bujur Timur. Daerah ini berbatasan dengan :

- Sebelah Utara : Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam - Sebelah Timur : Negara Malaysia di Selat Malaka - Sebelah Selatan : Provinsi Riau dan Sumatera Barat - Sebelah Barat : Samudera Hindia

Luas Sumatera Utara secara keseluruhan mencapai 181.680,68 km2 yang terdiri dari lautan dengan luas 110.000 km2 atau sekitar 60,5% dan daratan yang mencapai 71.680,68 km2 atau sekitar 39,5%, sebagian besar berada di daratan Pulau Sumatera dan sebagian kecil berada di Pulau Nias, pulau-pulau Batu serta beberapa pulau kecil, baik di bagian barat maupun bagian timur pantai pulau Sumatera.

Secara administratif, di tahun 2005, Provinsi Sumatera Utara memiliki 25 Kabupaten/Kota yang terdiri dari 18 Kabupaten dan 7 Kota. Jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2000, sebelum bergulirnya pelaksanaan otonomi daerah, di Provinsi Sumatera Utara hanya terdapat 13 kabupaten dan 6 kota. Dan pada bulan Desember 2006, telah terbentuk Kabupaten Batubara sebagai pemekaran dari Kabupaten Asahan, sehingga jumlah kabupaten/kota di Sumatera Utara menjadi 19 kabupaten dan 7 kota.

Didalam perjalanannya, otonomi daefrah yang bergulir sejak 1 Januari 2001, yang ditujukan pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pelaksanaan pembangunan yang bersifat bottom up, ditandai dengan munculnya keinginan untuk membentuk satuan-satuan wilayah administrasi tertentu. Sepanjang tahun 2004-2006, jumlah

(47)

kecamatan bertambah sebanyak 30 kecamatan dari 331 kecamatan menjadi 361 Kecamatan dan jumlah desa/kelurahan bertambah sebanyak 129 desa/kelurahan dari 5.497 desa/kelurahan menjadi 5.626 desa/kelurahan.

Sedangkan Iklim di Sumatera Utara secara umum beriklim tropis, dengan musim kemarau sekitar bulan Juni – September dan musim hujan sekitar bulan November – Maret. Begitu pula dengan potensi daerahnya yang memiliki daerah pertanian dengan lumbung padi terbesar di Kabupaten Deli Serdang. Memiliki daerah perkebunan yang sangat luas, yaitu kebun Kelapa Sawit dan kebun Karet serta memiliki beberapa industri besar, sedang dan industri rumah tangga. Industri yang tergolong besar adalah pabrik peleburan aluminium yang terletak di Kuala Tanjung daerah Kabupaten Asahan. Industri besar lainnya antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang memanfaatkan air terjun Sigura-gura dari sungai Asahan.

d. Kesejahteraan Rakyat

Sumatera Utara merupakan Provinsi keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hasil sensus penduduk 2000, jumlah penduduk Sumatera Utara 11.506.808 jiwa, terdiri dari 5.750.315 penduduk laki-laki dan 5.756.493 penduduk perempuan. Pada Juni 2005, jumlah penduduk diperkirakan 12.326.678 jiwa dengan 6.165.071 penduduk laki-laki dan 6.161.607 penduduk perempuan. Laju pertumbuhan penduduk pada kurun waktu tahun 2000-2005 sebesar 1,37% per tahun. Tahun 2006 jumlah penduduk diperkirakan menjadi 12.643.494 jiwa dengan 6.324.505 laki-laki dan 6.318.989 perempuan.

(48)

Utara yang tinggal di pedesaan sebesar 54,15% dan yang tinggal di daerah perkotaan sebesar 45,85%. Pencapaian pembangunan manusia Sumatera Utara tahun 2005 lebih baik dibandingkan tahun 2004, tercermin dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Nilai IPM Sumatera Utara pada tahun 2005 sebesar 72, pada tahun 2004 angka tersebut 71,4 atau meningkat sebesar 0,6 poin. Meningkatnya IPM di tahun 2005 tersebut didukung oleh adanya peningkatan angka harapan hidup yang mencapai 68,7 tahun, rata-rata lama sekolah mencapai 8,5 tahun,angka melek huruf mencapai 97 persen, dan rata-rata pengeluaran riel per kapita mencapai Rp. 618.000,-. Sementara pada tahun 2004, angka harapan hidup Sumatera Utara adalah 68,2 tahun, rata-rata lama sekolah mencapai 8,4 tahun,angka melek huruf mencapai 96,6 persen, dan rata-rata pengeluaran riel per kapita mencapai Rp. 616.000,-. Diperkirakan IPM tahun 2006 akan mencapai 72,7 (target RPJM tahun 2008).

Angka kelahiran total (Total Fertility Rate = TFR) dan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate = IMR) cenderung turun. Tahun 2006 TFR sebesar 2,579 dan IMR sebesar 28,2. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2005,dengan TFR sebesar 2,627 dan IMR sebesar 29,6. Tingkat pengangguran terbuka (TPT), berdasarkan Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan BPS pada bulan Februari 2006,masih berada pada kisaran 14,83 persen (847.579 jiwa). Tingkat pengangguran ini jauh lebih tinggi dibandingan dengan periode Februari 2005 dimana TPT hanya sebesar 10,98 persen (636.980 jiwa). Pada bulan Agustus 2006, TPT menurun menjadi 11,51 persen (632.049 jiwa).

Berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi (Susenas),jumlah penduduk mikin di tahun 2006 sebesar 15,66 persen (1.979.702 jiwa) lebih tinggi dari kondisi tahun 2005 yang mencapai 14,28 persen atau sebanyak 1.760.228 jiwa. Dalam upaya untuk mengurangi jumlah

(49)

penduduk miskin, selama 2006, pemerintah telah menyalurkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada 944.972 rumah tangga miskin di Sumatera Utara, dan hingga akhir 2006, seluruh rumah tangga miskin penerima BLT telah menerima pencairan dananya hingga tahap ke 4. Dari catatan BPS, Sumatera Utara termasuk satu dari tujuh provinsi yang telah menyelesaikan pencairan dana BLT sampai tahap 4 (realisasi 100 persen)

2. Provinsi Riau

Lambang Peta Lokasi

Koordinat 1°15´ LS - 4°45´ LU dan 100°03´- 109°19´ BT.

Dasar hukum

Tanggal penting 9 Agustus1957 (hari jadi)

Ibu kota Pekanbaru

Gubernur Rusli Zainal

Luas 111.228,65 km2 Penduduk 5.308.702 jiwa (2003) Kepadatan Kabupaten 10 Kota 2 Kecamatan Kelurahan/Desa

Suku Melayu (37,74%), Jawa (25,05%), Minangkabau

(11,26%), Batak (7,31%), Banjar (3,78%), Tionghoa

(3,72%), Bugis (2,27%), Lain-lain (6,94%) [1]

Agama Islam (88%), Protestan (1%), Katolik (5%), Buddha

(6%), Hindu (0,2%)

Bahasa Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia

Zona waktu WIB

(50)

Riau adalah sebuah provinsi di Indonesia. Provinsi ini terletak di

Pulau Sumatra dan beribukotakan Pekanbaru. Provinsi Riau di sebelah utara berbatasan dengan Kepulauan Riau dan Selat Melaka; di sebelah selatan dengan Provinsi Jambi dan Selat Berhala; di sebelah timur berbatasan dengan Laut Cina Selatan (Provinsi Kepulauan Riau), dan di sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Sumatera Utara.

a. Arti lambang

Mata rantai tak terputus sejumlah 45 butir, membentuk tameng. Memberi arti persatuan dan kesatuan bangsa yang telah diprokalamasikan sejak tahun 1945. Di dalamnya berisi padi, kapas, gelombang laut, keris dan lancang kuning, jenis kapal layar yang khas daerah Riau. Padi kapas melambangkan kesejahteraan rakyat, lancang kuning mengandung arti semangat rakyat Riau dengan hasil laut yang melimpah. Gelombang 5 lapis melambangkan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Dan Keris Berhulu, kepala burung Serindit adalah kepahlawanan rakyat Riau berdasarkan kebijaksanaan dan kebenaran

b. Geografi

Luas wilayah Provinsi Riau adalah 111.228,65 kilometer persegi (luas sesudah pemekaran Provinsi Kepulauan Riau) yang terdiri dari pulau-pulau dan laut-laut. Keberadaannya membentang dari lereng Bukit Barisan sampai Laut Cina Selatan, terletak antara 1°15´ Lintang Selatan sampai 4°45´ Lintang Utara atau antara 100°03´-109°19´ Bujur Timur Greenwich dan 6°50´-1°45´ Bujur Barat Jakarta.

(51)

rata-yang dipengaruhi oleh musim kemarau serta musim hujan. Rata-rata hujan per tahun sekitar 160 hari. Menurut catatan Stasiun Metereologi Simpang Tiga, suhu udara rata-rata di Kota Pekanbaru menunjukkan optimum pada 27,6 ° Celsius dalam interval 23,4-33,4° Celsius. Kejadian kabut tercatat terjadi sebanyak 39 kali dan selama Agustus rata-rata mencapai 6 kali sebagai bulan terbanyak terjadinya kejadian.

c. Sumber daya alam

Riau kaya akan sumber daya alam, baik kekayaan yang terkandung di perut bumi, berupa minyak dan gas bumi, emas, dll. maupun kekayaan hutan dan perkebunannya, belum lagi kekayaan sungai dan lautnya. Seiring otonomi daerah, kekayaan tersebut bertahap mulai disalurkan secara penuh ke daerah (tidak sepenuhnya diberikan ke pusat) lagi. Aturan baru dari pemerintahan reformasi, memberi batasan dan aturan tegas mengenai kewajiban penanam modal, pemanfaatan sumber daya dan bagi hasil dengan lingkungan sekitar.

d. Demografi

• Suku bangsa: Suku Melayu, Suku Jawa, Suku Minangkabau, Suku Batak, Suku Banjar, Suku Tionghoa, Suku Bugis, Suku Sunda.

• Bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu, Bahasa Minangkabau.

• Agama: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu

(52)

e. Pendidikan

Riau mempunyai beberapa perguruan tinggi, di antaranya Universitas Riau [1], Universitas Islam Riau, Universitas Islam Negri SUSKA (Sultan Syarif Kasim), Universitas Lancang Kuning, Universitas Muhammadiyah Riau . Selain itu juga terdapat Politeknik Caltex Riau [2], dan Lembaga pendidikan dan pelatihan.

f. Pemerintahan

Kabupaten dan Kota

No. Kabupaten/Kota Ibu kota

1 Kabupaten Bengkalis Bengkalis

2 Kabupaten Indragiri Hilir Tembilahan

3 Kabupaten Indragiri Hulu Rengat

4 Kabupaten Kampar Bangkinang

5 Kabupaten Kuantan Singingi Teluk Kuantan

6 Kabupaten Pelalawan Pangkalan Kerinci

7 Kabupaten Rokan Hilir Ujung TanjungBagan Siapi-api (de juree), (de facto)

8 Kabupaten Rokan Hulu Pasir Pengaraian

9 Kabupaten Siak Siak Sri Indrapura

10 Kabupaten Kepulauan Meranti Selatpanjang

11 Kota Pekanbaru

(53)

-PROFIL PROVINSI RIAU

g. Sejarah Provinsi Riau

Pembentukan Provinsi Riau ditetapkan dengan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957, yang kemudian diundangkan dalam Undang-undang Nomor 61 tahun 1958. Sama halnya dengan Provinsi lain yang ada di Indoensia, untuk berdirinya Provinsi Riau memakan waktu dan perjuangan yang cukup panjang, yaitu hampir 6 tahun (17 Nopember 1952 s/d 5 Maret 1958). Dalam Undang-undang pembentukan daerah swatantra tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau, Jo Lembaran Negara No 75 tahun 1957, daerah swatantra Tingkat I Riau meliputi wilayah daerah swatantra tingkat II, yaitu Bengkalis, Kampar, Indragiri, Kepulauan Riau dan Kotapraja Pekanbaru.

Kota Pekanbaru ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Riau pada tanggal 20 Januari 1959 melalui Surat Keputusan dengan No. Des.52/1/44-25, sementara realisasi pemindahan pemerintahan dari

Referensi

Dokumen terkait

Adanya perbedaan pada keuntungan yang diperoleh pemborong jika membawa duku dari Kabupaten Muara Enim dibandingkan Kabupaten OKI dan OKU disebab- kan adanya variasi

Motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian – bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot kecil, seperti keterampilan jari jemari tangan dan gerakan

Beberapa keunggulan sistem ini adalah berbasis web dan terintegrasi dengan basisdata yang sesuai dengan arsitektur basis data terintegrasi IPB, melengkapi kebutuhan

Pergerakan seperti ini adalah Pola Penerusan harga dimana harga bergerak sempit dengan garis atas (resistance) dan garis bawah (support), Pola channels yang naik

Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Pemeriksaan Pajak, Penagihan Pajak, Norma Moral dan Kebijakan Sunset Policy terhadap Peningkatan

Dari hasil uji deskriptif lingkungan kerja fisik diketahui bahwa nilai variabel 3,68 yang berarti pada kriteria tinggi, yang menunjukan bahwa penerangan yang

[r]