• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSTRUKSIA JURNAL VOLUME 4 NOMER 2 JUNI 2013 ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSTRUKSIA JURNAL VOLUME 4 NOMER 2 JUNI 2013 ISSN"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL

KONSTRUKSIA

VOLUME 4 NOMER 2

JUNI 2013

ISSN 2086 - 7352

STUDI ANALISIS LENTUR PADA BALOK TUMPUAN YANG MENGALAMI PENGEROPOSAN BETON

Arief Eko Supriyadi / Nadia

METODA MIKASA-WILSON DALAM ANALISIS PEMAMPATAN SEKUNDER TANAH GAMBUT

Tanjung Rahayu

ANALISIS BEKISTING METODE SEMI SISTEM DAN METODE SISTEM PADA BANGUNAN GEDUNG

Abdul Muiz / Trijeti

TEKNOLOGI ”REAL TIME TRAFFIC INFORMATION SYSTEM” UNTUK MENGATASI KEMACETAN LALU LINTAS DI JALAN TOL DALAM KOTA JAKARTA

Rusmadi Suyuti

PREDIKSI NILAI KEKAKUAN LENTUR PADA BALOK BETON BERTULANG

Yamin Susanto

POLA HUBUNGAN ANTARA KINERJA BIAYA PROYEK DAN DAMPAK PENYIMPANGAN BIAYA PROYEK DENGAN PENDEKATAN INDIKATOR COST OVERRUN PADA PENGELOLAAN SUB KONTRAKTOR

Achirwan / Yusuf Latief / Ismeth Abidin

ANALISIS KONSTRUKSI GABLE DENGAN RAFTER MENGGUNAKAN PROFIL BAJA HONEYCOMB DAN TRUSS

Ihsanuddin / Haryo Koco

ANALISIS PRODUKTIVITAS ALAT BERAT PADA PROYEK PEMBANGUNAN PABRIK KRAKATAU POSCO ZONE IV DI CILEGON

Dwi Novi Setiawati / Andi Maddeppungeng TEKNIK SIPIL – UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

(2)

JURNAL

KONSTRUKSIA

REDAKSI

Penanggung Jawab : Ir. Aripurnomo Kartohardjono, DMS, Dipl.TRE. Pemimpin Redaksi : Ir. Haryo Koco Buwono, MT.

Mitra Bestari : Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, MSc., PHD. DR. Ir. Rusmadi Suyuti, ME.

DR. Ir. Saihul Anwar, M.Eng. DR. Ir. Sarwono Hardjomuljadi

Staf Redaksi : Ir. Nadia, MT.

Ir. Trijeti, MT.

Ir. Iskandar Zulkarnaen Andika Setiawan Farid Aulia Seksi Umum : Ir. Saifullah

Imam Susandi

Disain Kreatif : Ir. Haryo Koco Buwono, MT.

Administrator Web : Riyadi, ST

Terbit : Per Semester – Juni dan Desember ( Dua Kali Setahun ) Alamat Redaksi : Jurnal Konstruksia Jurusan Teknik Sipil

Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat.10510

Ilustrasi cover diambil dari:

(3)

Jurnal Konstruksia | Volume 4 Nomor 2 | Juni 2013 ISSN 2086-7352

JURNAL

KONSTRUKSIA

V o l u m e 4 N o m o r 2 J u n i 2 0 1 3

Diterbitkan oleh: Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

(4)

JURNAL

KONSTRUKSIA

V o l u m e 4 N o m o r 2 J u n i 2 0 1 3

PENGANTAR REDAKSI

Dengan mengucap syukur yang mendalam seiring terbitnya JURNAL KONSTRUKSIA volume 4 Nomer 2 di bulan Juni 2013 ini. Pada penerbitan sebelumnya, telah menerima berbagai macam masukan dan kritikan yang bersifat membangun, dengan harapan akan membuat Jurnal ini menjadi semakin baik. Salah satunya, Jurnal terbitan ini, mencoba menjalin networking dengan berbagai Institusi.

Pada edisi ini sangat variatif, baik tema maupun peminatan dalam Teknik Sipil. Tema Mekanika Tanah, Manajemen Konstruksi, Stuktur Gedung dan Manajemen Transportasi disajikan dari dalam konteks kekinian dan menarik untuk dikembangkan menjadi artikel-artikel ilmiah lain yang membangun. Salah Satu Judul yang menarik pada Jurnal ini adalah: PREDIKSI NILAI KEKAKUAN LENTUR PADA BALOK BETON BERTULANG yang disajikan oleh Yamin Susanto. Menariknya adalah menyajikan metoda membuat analisis resiko terhadap prediksi lentur struktur.

Penerbitan yang telah tujuh perioda ini tentunya tidak lepas dari peran serta banyak pihak. Semoga Jurnal ini salah satu tonggak untuk dapat terakreditasi. Aamiin

Jakarta, Juni 2013

(5)

Jurnal Konstruksia | Volume 4 Nomor 2 | Juni 2013 ISSN 2086-7352

JURNAL

KONSTRUKSIA

V o l u m e 4 N o m o r 1 D e s e m b e r 2 0 1 2

DAFTAR ISI

Redaksi Pengantar Redaksi Daftar Isi

STUDI ANALISIS LENTUR PADA BALOK TUMPUAN YANG MENGALAMI

PENGEROPOSAN BETON ……….…..……… 1 – 11 METODA MIKASA-WILSON DALAM ANALISIS PEMAMPATAN SEKUNDER

TANAH GAMBUT DI JAMBI ……… 13 – 24

ANALISIS BEKISTING METODE SEMI SISTEM DAN METODE SISTEM

PADA BANGUNAN GEDUNG ….…………..……… 25 – 38

TEKNOLOGI ”REAL TIME TRAFFIC INFORMATION SYSTEM” UNTUK MENGA-

TASI KEMACETAN LALU LINTAS DI JALAN TOL DALAM KOTA JAKARTA ... 39 – 44 PREDIKSI NILAI KEKAKUAN LENTUR PADA BALOK BETON BERTULANG …. 45 – 57 POLA HUBUNGAN ANTARA KINERJA BIAYA PROYEK DAN DAMPAK

PENYIMPANGAN BIAYA PROYEK DENGAN PENDEKATAN INDIKATOR COST

OVERRUN PADA PENGELOLAAN SUB KONTRAKTOR ……… 59 – 73

ANALISIS KONSTRUKSI GABLE DENGAN RAFTER MENGGUNAKAN

PROFIL BAJA HONEYCOMB DAN TRUSS ……… 75 – 87 ANALISIS PRODUKTIVITAS ALAT BERAT PADA PROYEK PEMBANGUNAN

PABRIK KRAKATAU POSCO ZONE IV DI CILEGON ……… 89 – 102 Halaman Advertising

(6)

STUDI ANALISIS LENTUR PADA BALOK TUMPUAN YANG MENGALAMI PENGEROPOSAN BETON

Arief Eko Supriyadi YARSI Divisi Pembangunan

N a d i a

Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta Email : [email protected]

ABSTRAK : Penggunaan beton sebagai bahan bangunan semakin meningkat, karena sifatnya yang

mudah dibentuk dan memliki kuat tekan tinggi. Masalah yang sering terjadi dan berpengaruh pada beton adalah adanya keropos yang dapat menyebabkan turunnya kuat lentur balok beton. Keropos sangat dipengaruhi oleh Pelaksanaan pekerjan Pengecoran. Supaya keropos beton pada balok bisa di minimalisir perlu di perhatikan metode pelaksanaan pekerjaan pengecoran. Keropos pada beton dapat ditanggulangi dengan pelaksanaan pekerjaan grouting. Dalam penelitian ini dianalisa kuat lentur beton yang dihasilkan perbaikan keropos menggunakan Sika Grout (215) New dan Sikaclim, dibandingkan dengan beton dalam kondisi normal dan dengan beton dalam kondisi keropos. Target mutu beton yang ingin di capai adalah Kuat Tekan K 225, dan target slump adalah 6 ± 2cm. Dari hasil penelitian didapatkan Tergangan lentur rata-rata beton untuk benda uji balok dalam keadaan normal adalah adalah sebesar 0,483 Mpa,Sedangkan untuk benda uji balok dalam keadaan keropos didapat Tegangan lentur rata-rata 0,400 Mpa dan untuk benda uji balok dalam keadaan perbaikan dengan Grouting Tegangan lentur yang didapat adalah 0,433 Mpa. Untuk perbandingan Tegangan lentur antara benda uji balok dalam akibat keropos terhadap benda uji dalam kondisi normal mengalami penurunan sebesar 17,24 %, sedangkan dengan kondisi perbaikan dengan grouting terhadap benda uji balok dalam kondisi normal mengalami penurunan sebesar 10,34 % dan untuk benda uji balok dengan perbaikan grouting terhadap benda uji balok mengalami peningkatan sebesar 6,9 %.

Kata kunci : Beton,Kuat lentur, keropos, Grouting, SNI 03-4431-1997

ABSTRACT: The use of concrete as a building material is increasing, because it iseasily shaped and

possess high compressive strength. The problem that often occurs and the effect on concrete is a porous can cause a drop in flexural strength of concrete beams. Brittle is strongly influenced by the implementation of jobs Foundry. So porous concrete beams can be minimized to note the method implementation foundry work. Porous concrete can be overcome by the implementation of the grouting work. In this study analyzed the resulting flexural strength of concrete repair using Sika Grout loss (215) New and Sikaclim, compared with concrete under normal conditions and under conditions of porous concrete. Target concrete quality that you want to achieve is Strong Press K 225, and the target slump was 6 ± 2cm. From the results of research in getting the average bending stress to the concrete beam specimens are normally amounted to 0,483 Mpa, while for beam specimen under bending stress obtained porous state average of 0,400 Mpa and for specimen beam in a state of repair Grouting bending stress obtained was 0,433 Mpa. For comparison between the bending stress in the beam specimen to specimen due to loss under normal conditions has decreased by 17.24%, while the state of repair by grouting the beam specimen under normal conditions has decreased by 10.34% and for the beam specimen with improved grouting the beam specimen increased by 6.9 %.

(7)

Jurnal Konstruksia Volume 4 Nomer 2 Juni 2012

Keywords: Concrete, Strong pliable, porous, Grouting, SNI 03-4431-1997

LATAR BELAKANG

Teknik yang diperlukan pada saat pengecoran beton bergantung pada elemen struktur beton yang akan digunakan ,misalnya untuk kolom, balok, dinding, slab, pondasi, bendung beton atau sambungan suatu beton yang beda waktu pelaksanaan pengecorannya. Beton harus selalu dicor dengan lapisan-lapisan horizontal dan setiap lapisan dipadatkan dengan vibrator berfrekuensi tinggi.

Pada waktu pelaksanaan pekerjaan pengecoran biasa terjadi pemadatan yang kurang sempurna, sehingga campuran beton akan menjadi tidak homogen. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya rongga-rongga didalam beton yang menyebabkan beton menjadi keropos Pada pengecoran struktur balok, keropos sering diakibatkan oleh:

1. Pemadatan pada waktu pengecoran yang tidak maksimal

2. Jarak waktu pencampuran dan pencetakan / pengecoran beton cukup lama.

Pada struktur balok, keropos ini dapat terjadi dibeberapa tempat, salah satunya adalah di tumpuan. Untuk itu akan diteliti, bagaimana pengaruh keropos pada tumpuan balok beton ini terhadap kuat lenturnya. Dan apakah grouting dapat menyelesaikan masalahnya (dapat kembali kuat lenturnya seperti balok beton yang tidak keropos)

IDENTIFIKASI MASALAH DAN PERUMUSAN MASALAH

Pelaksanaan pengecoran beton pada struktur balok, merupakan pekerjaan yang mudah tetapi perlu kecepatan, ketepatan, ketelitian dan kehati-hatian. Hal ini disebabkan oleh waktu setting atau kekerasan beton yang relative cepat. Waktu yang singkat inilah yang banyak menyebabkan kekeroposan beton akibat pengecoran. Keropos pada beton, merupakan perlemahan struktur yang dalam hal ini dapat mengurangi kekakuan / kekuatan beton itu sendiri, sehingga akan mempengaruhi kuat lenturnya. Cara-cara umum yang dilakukan untuk mengisi rongga-rongga pada beton yang keropos adalah dengan grouting. Namun apakah grouting ini dapat mengembalikan fungsi beton itu sendiri jika dibandingkan dengan beton tanpa keropos? Dengan demikian terdapat beberapa hal yang perlu siteliti, yaitu sebagai berikut:

Berapa besar kuat lenturnya, jika pada beton tidak terjadi keropos, beton keropos pada tumpuan, dan beton keropos setelah di grouting?

BATASAN MASALAH

1. Mutu beton K225 (Fc 19,3 Mpa).

2. Semen yang digunakan adalah semen portland biasa type l merk Semen Gresik.

3. Agregat kasar yang digunakan adalah batu pecah (split) dengan diameter maksimum 20 mm ex Rumpin.

4. Agregat halus berupa pasir alam ex Bangka yang menembus ayakan 4,8 mm.

5. Air yang digunakan berasal dari PDAM.. 6. Benda uji berbentuk balok dengan

ukuran 15 cm x 15 cm x 60 cm sebanyak 12 buah.

(8)

7. Semen grouting yang digunakan adalah merk Sika Grout 215.

8. Semen grouting digunakan merk Sika Cim.

9. Besaran keropos yang direncanakan 5% dari volume balok beton.

10. Umur pengujian uji kuat lentur beton adalah 28 hari.

11. Metode pengujian kuat lentur menggunakan SNI 03-4431-1997 dengan nama Metode Pengujian Kuat Lentur Dengan Dua Tititk Pembebanan. 12. Grouting dilaksanakan setelah bekisting

dibuka.

MAKSUD DAN TUJUAN

1. Untuk mengetahui pengaruh keropos diposisi tumpuan balok terhadap kuat lentur.

2. Untuk meng-evaluasi kuat lentur balok yang keropos maupun yang sudah digrouting.

HIPOTESIS

1. Kuat lentur balok yang mengalami keropos diperkirakan lebih rendah 5 % apabila dibandingkan dengan Kuat lentur pada balok yang tidak mengalami keropos (kondisi normal). 2. Kuat lentur balok yang di grouting

diperkirakan lebih tinggi 2% apabila dibandingkan dengan Kuat lentur pada balok yang tidak mengalami keropos (kondisi normal).

3. Kuat lentur balok yang mengalami keropos diperkirakan lebih rendah 3 % apabila dibandingkan dengan Kuat Lentur pada balok yang sudah mengalami perbaikan grouting.

LANDASAN TEORI Beton

Beton adalah campuran semen portland, agregat halus, agregat kasar dan air dengan atau tanpa bahan tambah membentuk massa padat.

Beton dibentuk oleh pengerasan campuran semen, air, agregat halus, agregat kasar (batu pecah atau kerikil), udara dan kadang-kadang campuran tambahan lainnya. Campuran yang masih plastis ini dicor kedalam acuan dan dirawat untuk mempercepat reaksi hidrasi, yang menyebabkan pengerasan beton.Bahan yang terbentuk ini mempunyai kekuatan tekan yang tinggi dan ketahanan tarik yang rendah , atau kira-kira kekuatan tariknya 0,1 kali kekuatan terhadap tekan.

MATERIAL PENYUSUN BETON Semen

Semen mengandung unsur silikat (silicates) dan kapur (lime). Semen ini bila dicampur dengan air (hydration) akan membentuk massa yang mengeras. Beton yang dibuat dengan semen portland umumnya membutuhkan waktu 14 hari untuk mencapai kekuatan yang cukup, agar acuan dapat dibongkar dan agar beban-beban mati dalam kontruksi dapat dipikul. Kekuatan dari beton yang optimum dicapai dalam waktu minimal 28 hari . Bahan baku pembentuk semen adalah: 1. Kapur (CaO) – dari batu kapur. 2. Silika (SiO₄) – dari lempung. 3. Alumina (Al₂O₃) – dari lempung.

Agregat

Agregat merupakan komponen beton yang paling berperan dalam menentukan kekuatan / kekerasan beton.. Pada beton biasanya terdapat sekitar 60% sampai 80% volume agregat. Agregat ini bergradasi sedemikian rupa sehingga seluruh massa

(9)

Jurnal Konstruksia Volume 4 Nomer 2 Juni 2013

beton dapat berfungsi sebagai benda yang utuh, homogen, dan rapat, dimana agregat yang berukuran kecil berfungsi sebagai pengisi celah yang ada diantara agregat yang berukuran besar.

Dua jenis agregat adalah:

1. Agregat kasar (kerikil, batu pecah, atau pecahan-pecahan dari blast furnace), Agregat kasar adalah agregat dengan butiran-butiran tertinggal di atas ayakan dengan lubang berdiameter 4,8 mm, tetapi lolos ayakan dengan lubang berdiameter 40mm.

2. Agregat halus (pasir alami dan buatan).⁽⁸⁾ Agregat halus adalah agregat yang butirannya menembus ayakan dengan lubang berdiameter 4,8 mm.

Karena agregat biasanya menempati sekitar 75% dari total beton, maka sifat-sifat agregat ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku dari beton yang sudah mengeras. Sifat agregat bukan hanya mempengaruhi sifat beton, akan tetapi juga mempengaruhi ketahanan (durbility) dari beton.

Air

Air yang bersih dan tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, zat organik atau bahan lain yang dapat merusak beton atau tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. Sifat-Sifat Beton

Sifat-sifat beton perlu diketahui untuk mendapatkan mutu beton yang diharapkan sesuai tuntutan konstruksi dan umur bangunan yang bersangkutan. Pada saat segar atau sesaat setelah dicetak, beton bersifat plastis dan mudah dibentuk.

Sedang pada saat keras, beton memiliki kekuatan yang cukup untuk menerima beban. Sifat beton segar yang baik sangat mempengaruhi kemudahan pengerjaan sehingga menghasilkan beton dengan berkualitas baik.

Lentur Pada Balok Beton.

Beban beban yang bekerja pada struktur ,baik yang berupa grafitasi, maupun beban-beban lain ,seperti beban-beban angin, beban-beban karena susut dan beban karena perubahan temperatur ,menyebabkan adanya lentur dan deformasi pada elemen struktur. Lentur pada balok merupakan akibat dari adanya regangan yang timbul karena adanya beban luar. Apabila bebannya bertambah, maka pada balok terjadi deformasi dan regangan tambahan yang mengakibatkan timbulnya atau bertambahnya retak lentur disepanjang bentang balok. Bila bebannya semakin bertambah, pada akhirnya dapat terjadi keruntuhan elemen struktur, yaitu pada saat beban luarnya mencapai kapasitas elemen. Taraf pembebanan demikian disebut keadaan limit dari keruntuhan pada lentur. Karena itulah perencana harus mendesain penampang balok sedemikian rupa sehingga tidak terjadi retak yang berlebihan pada saat beban bekerja, dan masih mempunyai keamanan yang cukup dan kekuatan cadangan untuk menahan beban dan tegangan tanpa mengalami keruntuhan.

Jika suatu balok terbuat dari material yang elastis linier, isotropis, dan homogen, maka tegangan lentur maksimumnya dapat diperoleh dengan rumus lentur balok, yaitu f=Mc/I. Pada keadaan beban batas, balok beton bertulang bukanlah material yang homogen, juga tidak elastis sehingga rumus

(10)

lentur balok tersebut tidak dapat digunakan untuk menghitung tegangannya. Untuk memperhitungkan kemampuan dan kapasitas dukung komponen struktur beton terlentur (balok plat,dinding dan sebagainya), sifat utama bahwa bahan beton kurang mampu menahan tegangan tarik akan menjadi dasar pertimbangan. Pada saat beton struktur bekerja menahan beban – beban yang dipikulnya, salah satu tegangan yang terjadi adalah tegangan tarik akibat lenturan pada serat tepi bawah Pada balok dengan tumpuan sederhana. Hampir semua balok yang langsing mengalami tegangan akibat lentur. Kekuatan lentur merupakan kekuatan beton dalam menahan lentur yang umumnya terjadi pada balok struktur. Kuat lentur dapat diteliti dengan membebani balok pada tengah-tengah bentang atau pada tiap sepertiga bentang dengan beban titik. Beban ditingkatkan sampai kondisi balok mengalami keruntuhan lentur, dimana retak utama yang terjadi terletak pada sekitar tengah-tengah bentang.

Besarnya momen akibat gaya pada saat runtuh ini merupakan kekuatan maksimal balok beton dalam menahan lentur. Kuat lentur beton adalah kemampuan balok beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, sampai benda uji patah. Satuan dinyatakan dalam gaya per satuan luas (MPa)

Rumus-rumus perhitungan yang digunakan dalam metode pengujian kuat lentur beton adalah sebagai berikut:

1. Untuk pengujian dimana patahnya benda uji ada di luar pusat (diluar daerah 1/3 jarak titik perletakan) di

bagian tarik dari beton, maka kuat lentur beton dihitung menurut persamaan :

2. Untuk pengujian dimana patahnya benda uji ada di luar pusat (diluar daerah 1/3 jarak titik perletakan) di bagian tarik beton, dan jarak antara titik pusat dan titik patah kurang dari 5% dari panjang titik perletakan maka kuat lentur beton dihitung menurut persamaan :

Dimana :

σ = Kuat Lentur benda uji (MPa)

P = Beban yang menyebabkan terbelahnya balok

L = Jarak (bentang) antara dua garis perletakan (mm)

b = Lebar tampang lintang patah arah horizontal (mm)

d = Lebar tampang lintang patah arah vertikal (mm)

a = Jarak rata-rata antara tampang lintang patah dan tumpuan luar yang terdekat, diukur pada 4 tempat pada sisi titik dari bentang (m).

Gambar 1. Uji Lentur dengan Dua Titik Pembebanan

(11)

Jurnal Konstruksia Volume 4 Nomer 2 Juni 2013

Gambar 2 Garis-garis perletakan dan pembebanan

Grout

Grout adalah slurry semen yang diinjeksikan ke dalam retak–retak, pipa-pipa, dan lubang lubang lainnya. Atau disamping bangunan beton sebagai pelindung yang tidak tembus air. Dapat dipakai pasir bila volumenya besar. Admixture mineral, seperti abu terbang dan bentonite, sering dipakai untuk menambah kecairan. Admixture kimiawi ditambahkan untuk mengurangi kadar air, menambah daya lekat dan mengendalikan waktu pengikatan. Admixture juga bisa ditambahkan untuk melawan susut.

Penerapan grout yang penting misalnya pada metode prepacke agregat.

Bahan – Bahan Campuran

Yang termasuk bahan campuran yang lain adalah

a. Bahan pengikat (bonding admixture).

b. Bahan pengisi (grouting admixture).

c. Bahan untuk mempercepat pengikatan (quick setting admixture).

d. Bahan pembentuk gas (gas forming agent).

Bonding Admixture

Umumnya emulsi air dan material organik seperti karet, polyvinyl klorida, polyvinyl acetat, acrylics, dan dan butadiene-styrene copolymer. Mereka ditambahkan kedalam campuran semen atau dikuaskan pada permukaan beton lama untuk menambah kekuatan lekatan antara beton lama dan baru. Umumnya ditambahkan dalam proporsi 5 -20 % berat semen, jumlah tergantung kondisi dilapangan dan jenis bahannya. Dapat menyebabkan beberapa pertambahan kandungan udara.

1. Jenis non - reemulsifiable adalah tahan terhadap air, lebih cocok untuk penerapan eksterior, dan dipakai di mana ada kelengasan. Hasil optimum hanya sebaik permukaan yang dilapisi. Permukaan harus bersih, kering, baik (sound), bebas dari kotoran, debu, cat dan oli.

2. Kegunaan dari bonding admixture adalah untuk meningkatkan daya lekat pasta semen, mortar dan beton.

Komposisi :

Polyvinyl acetate (PVA)

Styrene butadine (SDR) atau acrylic.

Grouting Admixture

Digunakan untuk mencegah terjadinya susut dan menunda set. Karenanya digunakan untuk menstabilkan fondasi, mengisi retak dan sambungan. Menyemen sumur minyak, megisi lubang (cores) dan tembok bata, grout pada tendon dan baut-baut angker dan prepalaced-agregate, menutup lubang-lubang angker pada fondasi, memperbaiki retak-retak dan

(12)

keropos, mengisi tendon baja pada beton pratekan.

Grouting admixture tidak dapat susut dan mempunyai kekuatan yang tinggi. Bentuknya encer sehingga mudah di injeksikan kedalam beton. Tidak mengandung klorida sehingga dapat dipakai pada beton bertulang, dan tidak menimbulkan korosi pada baja tulangan. Hanya saja harganya jauh lebih mahal dari pada semen portland biasa (10 kali lipat).

Komposisi :

a. Material seperti gel, clays, pregelatine starch, methyl cellulose yang berfungsi untuk mencegah kecepatan hilangnya air dan grouting admixtures.

b. Betonite clays : berfungsi untuk mengurangi slurry density.

c. Material seperti barite dan iron filings yang berfungsi meningkatkan berat jenis.

d. Natural gums ditambahkan untuk mencegah susut dari grouting tersebut. Pekerjaan grouting yang sangat cocok untuk daerah perbaikan yang sulit. Jenis kerusakan ini timbul karena pengerjaan beton yang kurang baik, agregat terlalu kasar, kurangnya butiran halus yang termasuk semen, faktor air semen tidak tepat, pemadatan yang tidak sempurna karena rapatnya tulangan, pasta semen keluar dari cetakan yang tidak rapat dan lain-lainnya. Kerusakan semacam ini biasanya disebabkan oleh cetakan (bekisting) yang tidak rapi atau rapat. Hal ini menyebabkan pasta semen mengalir keluar, yang mengakibatkan beton keropos. Dengan menginjeksi bahan grouting yang relatif cair ke dalam cetakan, ikatan antara tulangan dan beton kembali seperti

semula dan betonpun dianggap masif. Tekanan injeksi beton untuk perbaikan retakan dan grouting untuk perbaikan dimensi beton .

Pengujian Hipotesis

Hipotesis pada dasarnya merupakan suatu proporsi atau anggapan yang mungkin benar, dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan/pemecahan persoalan ataupun untuk dasar penelitian lebih lanjut. Anggapan/asumsi sebagai suatu hipotesis juga merupakan data, akan tetapi karena kemungkinan bisa salah, apabila akan digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan harus diuji terlebih dahulu dengan menggunakan data hasil observasi.⁽¹³⁾

Distribusi t

Distribusi t selain digunakan untuk menguji suatu hipotesis juga untuk membuat pendugaan (interval estimate). Biasanya, distribusi t digunakan untuk menguji hipotesis mengenai nilai parameter, paling banyak 2 populasi (lebih dari 2, harus digunakan F), dan dari sample yang kecil (small sample size), misalnya n < 100, bahkan seringkali n ≤ 30. Untuk n yang cukup besar ( n ≥ 100, atau mungkin cukup n >30) dapat digunakan distribusi normal, maksudnya tabel normal dapat digunakan sebagai pengganti tabel t.

HASIL PENELITIAN

Pengujian Berat Jenis SSD Agregat Kasar (Kerikil)

Dari hasil pemeriksaan berat isi agregat kasar yang dilakukan didapatkan nilai berat jenis agregat kasar. Nilai BJ agregat kasar tersebut adalah 2,635.

(13)

Jurnal Konstruksia Volume 4 Nomer 2 Juni 2013

Pengujian Berat Jenis SSD Agregat Halus (Pasir)

Dari hasil pemeriksaan berat isi agregat halus yang dilakukan didapatkan nilai berat jenis agregat halus. Nilai BJ agregat halus tersebut adalah 2,51

Hasil pengujian kuat tekan yang telah di konversi ke 28 hari dengan factor pembagi 0,65; Nilai rata – rata hasil kuat tekan adalah 25,295 N/mm2

Pengujian Benda Uji

Setelah umur 28 hari benda uji diangkat dari bak perendaman dan didiamkan

selama 24 jam untuk selanjutnya dilaksanakan pengujian kuat lentur .

Hasil pengujian Kuat Lentur

Pengujian kuat Lentur yang akan dilaksanakan:

a. Kuat Lentur untuk benda uji dalam kondisi Normal

b. Kuat Lentur untuk benda uji dalam kondisi Keropos

c. Kuat Lentur untuk benda uji dalam kondisi keropos sudah perbaikan dengan menggunakan sika grout.

Hasil Tes Kuat lentur Benda Uji Kondisi Normal

Benda

uji Tgl pembuatan Tgl pengetesan

Hasil pengetesan A1 20/11/2012 20/12/2012 7 A2 20/11/2012 20/12/2012 7,5 A3 20/11/2012 20/12/2012 7 A4 20/11/2012 20/12/2012 7.5

(14)

Hasil Tes Kuat Lentur Benda Uji kondisi Keropos

Hasil Tes Kuat Lentur Benda Uji kondisi perbaikan dengan grouting

Benda Uji Tgl pembuatan Tgl Grouting Tgl pengetesan Hasil Test

C1 23/11/2012 20/12/2012 27/12/2012 7

C2 23/11/2012 20/12/2012 27/12/2012 6,5

C3 23/11/2012 20/12/2012 27/12/2012 6,5

C4 23/11/2012 20/12/2012 27/12/2012 6,5

Sumber : Hasil Pengujian di Laboratorium Teknik Sipil UMJ

ANALISIS DATA

Hasil Kuat Lentur Balok Beton Kondisi Normal

NO P (KN) L (mm) b (mm) d (mm) σP (KN/mm2) σP (MPa) 1 3.5 450 150 150 0.00047 0.466667 2 3.75 450 150 150 0.00050 0.500000 3 3.5 450 150 150 0.00047 0.466667 4 3.75 450 150 150 0.00050 0.500000 Rata-rata 0.483 Benda uji Tgl pembuatan Tgl pengetesan Hasil pengetesan B1 29/11/2012 27/12/2012 6 B2 29/11/2012 27/12/2012 6 B3 29/11/2012 27/12/2012 6 B4 29/11/2012 27/12/2012 6,5

(15)

Jurnal Konstruksia Volume 4 Nomer 2 Juni 2013

Hasil Kuat Lentur Balok Beton Kondisi Keropos

NO P (KN) L (mm) b (mm) d (mm) σP (KN/mm2) σP (MPa)

1 3 450 150 150 0.00040 0.400

2 3 450 150 150 0.00040 0.400

3 3 450 150 150 0.00040 0.400

Rata-rata 0.400

Hasil Kuat Lentur Balok Beton Kondisi Perbaikan dengan Grouting

NO P (KN) L (mm) b (mm) d (mm) σP (KN/mm2) σP (MPa)

2 3.25 450 150 150 0.00043 0.433

3 3.25 450 150 150 0.00043 0.433

4 3.25 450 150 150 0.00043 0.433

Rata-rata 0.433

Gambar Grafik perbandingan benda uji

Kondisi keropos = 0,400 X 100 = 82,76% 0,483 Kondisi grouting= 0,433 X 100 = 89,66% 0,483 Kondisi normal= 0,483 X 100 = 100 % 0,483

(16)

KESIMPULAN

Dari Hasil Penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Kondisi Tegangan Lentur akibat terjadi Keropos Beton pada tumpuan mengalami penurunan 17,24 % terhadap Tegangan Lentur akibat beton kondisi Normal.

2. Kondisi Tegangan Lentur akibat beton Kondisi perbaikan dengan grouting mengalami penurunan 10,34 % terhadap Tegangan Lentur akibat beton kondisi Normal.

3. Kondisi Tegangan Lentur akibat beton Kondisi perbaikan dengan grouting mengalami peningkatan 6,9 % terhadap tegangan Lentur akibat beton kondisi Keropos.

4. Kondisi yang mengalami keropos dan sudah mengalami perbaikan dengan grouting tetap hasil tegangan lenturnya lebih rendah terhadap beton kondisi normal.

.

DAFTAR PUSTAKA

(1) ASTM C 33-03, Standart specification for concrete agregat 2003.

(2) BADAN STANDARISASI NASIONAL, SNI 03-4154-1996, Metode Pengujian Kuat Lentar Beton dengan Balok Uji Sederhana yang Dibebani Terpusat Langsung.

(3) BADAN STANDARISASI NASIONAL, SNI 03 – 6821 - 2002, SPESIFIKASI AGREGAT RINGAN

BATU CETAK BETON PASANGAN DINDING.

(3) CHU-KIA WANG, CHARLES G. SALMON, BINSAR HARIANDJA, DISAIN BETON BERTULANG, Jilid 2, edisi keempat, Penerbit Erlangga, th 1989

(4) CHU-KIA WANG, CHARLES G. SALMON, BINSAR HARIANDJA, DISAIN BETON BERTULANG, Penerbit Erlangga Jilid 1, edisi keempat, th 1993

(5) DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM, SNI 03-2834-2002, Tata cara pembuatan rencana beton normal. YAYASAN LPMB BANDUNG

(6) DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM, SK-SNI T – 15 -1991-03, TATA CARA PERHITUNGAN STRUKTUR BETON UNTUK BANGUNAN GEDUNG. YAYASAN LPMB BANDUNG

(7) DR Edward G.Nawy,P.E, BETON BERTULANG SUATU PENDEKATAN DASAR. Penerbit PT ERESCO BANDUNG, th 1990

(8) PBI 71, Peraturan Beton Bertulang Indonesia, Departemen Pekerjaan Umum 1971.

(9) Prof.DR. Sudjana M.A., M. Sc, METODA STATISTIKA, Edisi ke 6, Penerbit TARSITO BANDUNG, th 1996.

(10) J. SUPRANTO , M A. STATISTIK TEORI DAN APLIKASI, Edisi kelima, jilid 2, Penerbit ERLANGGA, th 1992 Sika Product Catalogue, 3rd Edition @ 2012.

(17)

Metoda Mikasa-Wilson Dalam Analisis Pemampatan Sekunder Tanah Gambut di Jambi (Tanjung)

METODA MIKASA-WILSON DALAM ANALISIS PEMAMPATAN SEKUNDER TANAH GAMBUT DI JAMBI

Tanjung Rahayu

Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta Email: [email protected]

ABSTRAK : Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari perilaku pemampatan sekunder pada tanah

gambut Jambi dengan melakukan percobaan konsolidasi dan analisa data. Percobaan konsolidasi dilakukan di laboratorium dengan menggunakan alat uji oedometer digital dan analisis data dilakukan dengan menggunakan metoda Mikasa-Wilson. Tahapan pembebanan pada percobaan konsolidasi dilakukan dengan rasio penambahan beban sebesar 1, dengan beban awal 0,05 kg/cm2 dan beban akhir

6,4 kg/cm2. Tiap tahapan beban diberikan selama 24 jam, kecuali untuk dua tahap beban di sekitar

tekanan prakonsolidasi yaitu 0,4 kg/cm2 dan 0,8 kg/cm2, beban diberikan selama 7 x 24 jam. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa kurva pemampatan tanah gambut Jambi dengan metoda Mikasa-Wilson menunjukkan bahwa nilai parameter c membesar dengan meningkatnya beban di atas tekanan prakonsolidasi. Hasil analisis data dengan metoda Mikasa-Wilson, memberikan nilai regangan didapat di laboratorium untuk waktu percobaan 24 jam dan 7x24 jam.

Kata Kunci : tanah gambut, konsolidasi sekunder, Mikasa-Wilson

ABSTRACT: This study was conducted to study the behavior of secondary compression on peat soil

consolidation Jambi to conduct experiments and data analysis. Consolidation experiments conducted in the laboratory using a digital oedometer test equipment and data analysis was performed by using the method of Mikasa-Wilson. Stages of loading on consolidation experiments carried out with the addition of load ratio of 1, with an initial load of 0.05 kg/cm2 and 6.4 kg/cm2 load end. Each phase of the load is given for 24 hours, except for a two-stage load around the preconsolidation pressure of 0.4 kg/cm2 and 0.8 kg/cm2, the burden administered for 7 x 24 hours. The results showed that the peat soil compression curves Jambi with Mikasa-Wilson method shows that the value of the parameter c enlarged with increasing load on the preconsolidation pressure. Results of data analysis methods Mikasa-Wilson, gave strain values obtained in the laboratory for 24 hours and the time trial 7x24 hours.

Keywords: peat, secondary consolidation, Mikasa-Wilson LATAR BELAKANG

Gambut yang lebih dikenal dengan nama peat, adalah campuran dari fragmen-fragmen material organik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang telah membusuk dan menjadi fosil. Tanah gambut mempunyai sifat yang tidak menguntungkan bagi konstruksi bangunan sipil, sebab mempunyai kadar air yang tinggi, daya dukung rendah, dan

kemampatan tinggi. Oleh sebab itu, tanah gambut termasuk tanah yang kurang baik untuk suatu konstruksi bangunan sipil. Penelitian mengenai tanah gambut masih jarang dilakukan di Indonesia sehingga pengetahuan tentang tanah gambut sangat terbatas. Keadaan seperti ini tidak boleh terjadi, sebab lahan gambut di Indonesia sangat luas. Lahan gambut terbesar

(18)

terdapat di pulau Kalimantan, Sumatera, dan Irian Jaya.

Perilaku tanah gambut, misalnya konsolidasi, berbeda dengan perilaku tanah lainnya. Dengan demikian, analisis-analisis pada tanah lain seperti lempung tidak dapat digunakan begitu saja pada tanah gambut. Pada tanah lempung, penurunan tanah tidak akan terjadi setelah konsolidasi sekunder selesai atau proses disipasi tekanan air pori selesai. Pada tanah gambut, penurunan masih dapat terjadi setelah disipasi tekanan air pori selesai karena adanya pemampatan pada butiran-butiran tanah.

Untuk mendapatkan metoda yang benar dan tepat pada pelaksanaan konstruksi teknik sipil di atas tanah gambut, harus dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik dan perilaku tanah gambut. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dalam pelaksanaan rekayasa sipil pada tanah gambut.

IDENTIFIKASI MASALAH

1) Bagaimana bentuk kurva pemampatan tanah gambut Jambi?

2) Metoda apa yang cocok untuk menganalisis pemampatan tanah gambut Jambi?

TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku pemampatan sekunder pada tanah gambut dengan melakukan analisis-analisis terhadap data-data yang diperoleh dari percobaan di laboratorium. Analisis dilakukan dengan menggunakan metoda Gibson-Lo dan metoda Mikasa-Wilson. Dari analisis-analisis tersebut akan diperoleh : 1) Bentuk kurva pemampatan tanah

gambut Jambi?

2) Kurva hubungan antara penurunan - waktu, angka pori – waktu, regangan – waktu, regangan – log waktu, dan kecepatan perubahan angka pori – waktu.

3) Parameter-parameter model reologi a, b, , b1, 1, c, dan .

4) Metoda yang cocok untuk menganalisis pemampatan tanah gambut Jambi

TINJAUAN PUSTAKA

1. Karakteristik Tanah Gambut

Tanah gambut adalah tanah yang terbentuk dari campuran fragmen-fragmen material organik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang telah membusuk dan menjadi fosil. Menurut ASTM D2607-69, istilah gambut hanya berhubungan dengan bahan organik yang berasal dari proses geologi selain batubara, dibentuk dari tumbuhan yang telah mati, berada di dalam air, dan hampir tidak ada udara di dalamnya, terjadi di rawa-rawa, dan mempunyai kadar abu tidak lebih dari 25 % berat keringnya.

Parameter-parameter tanah yang dapat memberi gambaran fisik dari tanah gambut adalah :

a. Kadar air

Tanah gambut mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk menyerap dan menyimpan air.

b. Angka pori

Angka pori untuk tanah gambut sangat besar, yaitu berkisar 5 – 15. Bahkan pernah ada tanah gambut berserat yang mempunyai angka pori 25 (Hanrahan,1954).

c. Berat jenis

Berat jenis tanah gambut lebih besar dari 1. Menurut MacFarlene (1969), nilai berat jenis rata-rata adalah 1,5 atau 1,6.

d. Berat volume

Berat volume tanah gambuat sangat rendah. Untuk gambut yang mempunyai kandungan organik tinggi dan terendam air, berat volumenya kira-kira sama dengan berat volume air (MacFarlene, 1969). Hasil studi dari beberapa peneliti yang dirangkum oleh

(19)

Metoda Mikasa-Wilson Dalam Analisis Pemampatan Sekunder Tanah Gambut di Jambi (Tanjung) MacFarlene menunjunkkan bahwa

nilai berat volume tanah gambut berkisar antara 0,9 – 1,25 t/m3.

e. Susut

Apabila tanah gambut dikeringkan maka tanah tersebut akan menyusust dan menjadi keras. Menurut Colley (1950), penyusutan yang terjadi dapat mencapai 50 % dari volume awal. Tanah gambut yang telah mengalami penyusutan tidak akan mampu untuk menyerap air seperti pada kondisi awal. Volume air yang dapat diserap kembali hanya berkisar antara 33 – 55 % dari volume air semula (Feustel dan Byers,1930).

f. Koefisien permeabilitas

Nilai koefisien permeabilitas tanah gambut berkisar antara 10-6 – 10-3

cm/dt (Colley, 1950, dan Miyakawa, 1960). Untuk tanah gambut berserat (fibrous peat), koefisien permeabilitas arah horisontal lebih besar daripada arah vertikal.

g. Keasaman (acidity)

Air gambut (peaty water) yang pada umumnya bebas dari air laut mempunyai pH antara 4 – 7 (Lea, 1960). Tingkat keasaman tanah gambut berfluktuasi tergantung pada musim dan cuaca. Nilai pH tertinggi terjadi setelah hujan lebat yang diikuti dengan musim panas yang kering.

h. Kadar abu dan kadar organik

Kadar abu tanah gambut dapat ditentukan dengan cara memasukkan tanah gambut (yang telah dikeringkan pada temperatur 105oC) ke dalam oven pada

temperatur 440oC (metoda C) atau

temperatur 750oC (metoda D)

sampai contoh tanah tanah menjadi abu (ASTM D 2974-87).

2. Konsolidasi dan Pemampatan Tanah Gambut

Terzaghi (1943) menyatakan bahwa konsolidasi adalah proses

berkurangnya kadar air pada lapisan tanah jenuh tanpa penggantian tempat air oleh udara. Holtz dan Kovacs menyatakan jika tanah lempung menerima beban, karena permeabilitasnya yang kecil, maka pemampatannya ditentukan dari kecepatan keluarnya air dari pori-pori tanah. Proses ini dinamakan konsolidasi dengan respons tegangan-regangan-waktu.

Proses berkurangnya volume dalam konsolidasi dapat disebabkan karena : a. deformasi partikel-partikel tanah

(bending)

b. perubahan jarak antar partikel c. keluarnya air dan udara dari

pori-pori tanah

Konsolidasi tanah dapat dibagi menjadi konsolidasi primer dan konsolidasi sekunder, dimana konsolidasi sekunder terjadi setelah proses konsolidasi primer selesai. Pertambahan beban pada tanah, pertama kali akan diterima oleh air sehingga menimbulkan kenaikan tekanan air pori (excess pore pressure). Pada konsolidasi primer, tekanan air pori akan berkurang akibat keluarnya air dari pori-pori tanah, kemudian dilanjutkan dengan konsolidasi sekunder dengan tekanan air pori konstan. Pada tanah inorganik, konsolidasi primer merupakan komponen terbesar dari penurunan total (settlement), sedangkan pada tanah organik konsolidasi sekunder merupakan komponen terbesar.

Pemampatan tanah gambut dapat diamati dengan melihat kurva regangan terhadap log waktu. Komponen-komponen pemampatan tanah gambut terdiri dari :

a. regangan seketika (instantaneous strain, i)

Terjadi dengan segera setelah beban diberikan karena tertekannya rongga udara.

(20)

b. Regangan primer (primary strain, p)

Terjadi pada waktu yang relatif singkat sampai waktu tp dengan

kecepatan pemampatan yang tinggi karena disipasi tekanan air pori. c. Regangan sekunder (secondary

strain,s)

Terjadi pada waktu yang relatif lama sampai waktu ts dengan

kecepatan pemampatan yang lebih rendah akibat pemampatan butiran tanah.

d. Regangan tersier (tertiery strain,t)

Terjadi secara terus-menerus sampai seluruh proses pemampatan berakhir.

Teori konsolidasi Terzaghi umumnya digunakan untuk memperkirakan pemampatan tanah, namun teori ini tidak dapat digunakan pada tanah gambut karena:

a. Koefisien permeabilitas berkurang dengan cepat

Pemampatan awal sangat cepat terjadi dan kofisien permeabiltas berkurang, sedangkan teori konsolidasi Terzaghi digunakan pada tanah yang mempunyai koefisien permeabilitas konstan. b. Daya mampat tinggi

Pemampatan serat terjadi karena butiran tanah memampat, sedangkan pada teori konsolidasi Terzaghi butiran tanah tidak termampatkan.

3. Metoda Mikasa – Wilson

Metoda Mikasa menganalisis perilaku pemampatan sekunder berdasarkan percobaan oedometer dan analisis untuk menentukan titik akhir rangkak (creep) menggunakan metoda Wilson.

3.1. Koefisien konsolidasi sekunder

Koefisien perubahan volume mv

diasumsikan terdiri dari mvp akibat

konsolidasi primer dan mvs akibat

konsolidasi sekunder.

dimana :

= waktu dari awal pembebanan sampai berakhirnya konsolidasi primer

= waktu sampai konsolidasi sekunder berhenti

= koefisien perubahan volume akibat konsolidasi sekunder sampai suatu waktu t

Gambar 1. Koefisien perubahan volume Jika diasumsikan proses penurunan keseluruhan termasuk konsolidasi sekunder dianggap cv dan proses

penurunan untuk konsolidasi primer cvp, hasilnya adalah:

(26a) (26b) dimana :

= koefisien permeabilitas pada konsolidasi primer

= koefisien permeabilitas dalam proses penurunan keseluruhan

Karena sulit untuk memahami perubahan koefisien permeabilitas sejalan waktu secara numerik, diambil

(21)

Metoda Mikasa-Wilson Dalam Analisis Pemampatan Sekunder Tanah Gambut di Jambi (Tanjung) ks untuk koefisien permeabilitas pada

konsolidasi sekunder dan k untuk koefisien permeabilitas pada proses keseluruhan.

(27) sehingga

(28) Dianggap adalah koefisien

permeabilitas sebelum konsolidasi dimulai, adalah koefisien permeabilitas pada akhir konsolidasi, dan . Dengan mensubstitusi , akan diperoleh persamaan berikut :

(29)

3.1. Penentuan titik akhir konsolidasi sekunder

Jika besarnya perubahan angka pori akibat konsolidasi primer dinyatakan dengan , akibat konsolidasi sekunder , dan angka pori pada tahap konsolidasi sekunder berakhir , maka rasio konsolidasi sekunder adalah

(30) Diasumsikan S adalah kemiringan garis konsolidasi sekunder dalam hubungan U – log t. (31)

Substitusi persamaan, maka :

(32) (33)

Jika nilai dapat ditentukan, maka titik akhir konsolidasi sekunder dapat diketahui. Nilai dapat ditentukan tanpa menunggu sampai konsolidasi sekunder selesai pada percobaan konsolidasi dengan menggunakan

metoda Wilson,dkk. Besarnya perubahan angka pori di waktu tertentu pada tahap konsolidasi sekunder adalah :

(34) dimana :

c = nilai saat t = 1 menit

 = kemiringan garis lurus pada tahap konsolidasi sekunder

dalam kurva

yang didapat dari percobaan konsolidasi

Pada kasus , nilai dapat ditentukan dengan persamaan berikut:

Penentuan titik akhir konsolidasi sekunder dapat dicari dari persamaan dengan mv dan cv yang lebih akurat,

namun metoda ini tidak dapat digunakan untuk kasus . Dari substitusi persamaan akan diperoleh persamaan berikut :

(36)

Dengan demikian, koefisien perubahan volume dan koefisien konsolidasi yang meliputi konsolidasi sekunder dapat dinyatakan sebagai berikut :

(22)

dimana :

= pertambahan tegangan aksial efektif

dan pada persamaan (39), diasumsikan

METODE PENELITIAN Benda Uji

Benda uji untuk percobaan konsolidasi ini diambil dari Jambi. Contoh gambut yang digunakan adalah contoh tanah tidak terganggu (undisturb sample). Contoh tanah diambil pada kedalaman 1 m dengan tabung berdiameter 7 cm dan panjang 60 cm. Tanah gambut yang telah masuk ke dalam tabung dilapisi oleh aluminium foil dan lilin agar tidak merubah kondisi asli. Benda uji yang masih berada di dalam tabung dikeluarkan dengan alat pendorong vertikal secara perlahan-lahan dan langsung dimasukkan ke dalam cincin percobaan. Benda uji yang digunakan dalam percobaan berdiameter 6 cm dan tinggi 2 cm.

Prosedur penelitian di laboratorium

Kegiatan percobaan dilakukan di Balai Geoteknik, Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan, Ujungberung, Bandung. Jenis kegiatan yang dilaksanakan adalah :

1. Percobaan berat jenis berdasarkan ASTM D 854

2. Percobaan kadar air berdasarkan ASTM D 2974

3. Percobaan konsolidasi dengan oedometer berdasarkan ASTM D 2435 : a) Test 1

Memberikan beban secara bertahap dengan waktu pembebanan 24 jam untuk beban :

0,05kg/cm ;0,1 kg/cm ;0,2 kg/cm ; 0,4 kg/cm2 ;0,8 kg/cm2;1,6 kg/cm2 ;

3,2 kg/cm2;6,4 kg/cm2 ;

Jumlah benda uji adalah 1 buah. b) Test 2

Memberikan beban secara bertahap dengan :

- waktu pembebanan 24 jam untuk beban

0,05kg/cm2;0,1kg/cm2;0,2kg/cm2;

1,6 kg/cm2;3,2 kg/cm2;6,4 kg/cm2

- waktu pembebanan 24 jam untuk beban

0,4 kg/cm2 dan 0,8 kg/cm2;

Jumlah benda uji adalah 1 buah.

Peralatan percobaan konsolidasi

Peralatan yang digunakan untuk melakukan percobaan konsolidasi tanah gambut adalah oedometer yang disambungkan dengan amplifier dan seperangkat komputer. Dengan adanya amplifier dan komputer tersebut, maka pembacaan penurunan akan lebih baik dan dapat direkam secara otomatis oleh komputer.

Sistem ini terdiri dari : 1. Perangkat keras

a) mesin percobaan : alat

konsolidasi yaitu oedometer pembebanan

b) alat pengukur : amplifier pengukur linier

c) komputer : komputer dan layar monitor untuk pengukuran dan pemrosesan data

(23)

Metoda Mikasa-Wilson Dalam Analisis Pemampatan Sekunder Tanah Gambut di Jambi (Tanjung)

Gambar 2. Skema perangkat keras

Gambar 3. Skema amplifier pada percobaan konsolidasi

Amplifier pada percobaan konsolidasi terdiri dari :

a) penghitung (counter), berfungsi untuk menghitung jumlah sinyal yang terdeteksi oleh alat sensor b) layar LCD (LCD display), berfungsi

untuk menunjukkan besarnya deformasi

c) interface, berfungsi untuk mengubah jumlah sinyal yang terdeteksi oleh alat sensor menjadi suatu besaran yang dapat direkam oleh komputer

.

Gambar 4. Contoh layar LCD 2. Perangkat lunak

a) pengukuran b) pemrosesan data

c) perekaman dalam disket

Gambar 5. Skema aliran data

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Sifat fisik yang dimiliki oleh tanah gambut Jambi adalah :

1) kadar air : 271,9 %

2) berat volume: 1,08 t/m3

3) berat jenis : 1,67 4) angka pori : 4,7571

Hasil percobaan konsolidasi dengan metoda Mikasa-Wilson

Kurva yang diperlukan untuk menganalisis data dengan metoda Mikasa-Wilson adalah

kurva . Dari kurva

tersebut akan diperoleh nilai  yaitu besarnya kemiringan garis pemampatan sekunder. CH 1 1.15 CH 2 0.23 CH 3 0.55 CH 4 0.05 Counter interface display komput er Amplifier konsolidasi Pengukur linier oedomete r Pengukur linier plotte r amplifier Layar monitor Komputer Pengukuran Data File Pengukuran Data Data Input Manual untuk Dokumen File Dokumen untuk Laporan Hasil Output komputer

(24)

Gambar 5. Kurva

untuk tekanan 0,8 kg/cm2 (test 1)

Gambar 6. Kurva angka pori – waktu untuk tekanan 0,8 kg/cm2(test 1)

Gambar 7. Kurva

untuk tekanan 0,4 kg/cm2- 1 hari (test 2)

Gambar 8. Kurva angka pori – waktu untuk tekanan 0,4 kg/cm2– 1 hari (test 2)

Gambar 7. Kurva

untuk tekanan 0,4 kg/cm2- 1 minggu (test 2)

Gambar 8. Kurva angka pori – waktu untuk tekanan 0,4 kg/cm2– 1 minggu (test 2)

Gambar 9. Kurva

untuk tekanan 0,8 kg/cm2- 1 hari (test 2)

(25)

Metoda Mikasa-Wilson Dalam Analisis Pemampatan Sekunder Tanah Gambut di Jambi (Tanjung)

Gambar 10. Kurva angka pori – waktu untuk tekanan 0,8 kg/cm2– 1 hari (test 2)

Gambar 11. Kurva

untuk tekanan 0,8 kg/cm2- 1 minggu (test 2)

Gambar 12. Kurva angka pori – waktu untuk tekanan 0,8 kg/cm2– 1 minggu

(test 2)

Tabel 1. Parameter-parameter Mikasa-Wilson untuk tanah gambut Jambi (test 1)

Tekanan (kg/cm2) c 0,05 0,0192 - 1,2859 0,1 0,01422 - 1,1867 0,2 0,0237 - 1,2001 0,4 0,03555 - 1,2148 0,8 0,06635 - 1,2892 1,6 0,0746 - 1,2789

(26)

Tabel 2. Parameter-parameter Mikasa-Wilson untuk tanah gambut Jambi (test 2) Tekanan (kg/cm2) c 0,05 0,04836 - 1,2937 0,1 0,00920 - 0,954 0,2 0,02648 - 1,1186 0,4 0,00691 - 0,8005 0,8 0,03109 - 1,0322 1,6 0,04260 - 1,0966 3,2 0,05757 - 1,1409 7,4 0,07139 - 1,1718

Tabel 3. Parameter-parameter Mikasa-Wilson untuk tanah Gambut Jambi (test 2) dengan masa pembebanan bervariasi

Tekanan (kg/cm2)

Parameter Mikasa-Wilson

Waktu

1 hari 3 hari 7 hari

0,4 c 0,00691 0,00691 0,00691

 - 0,8005 - 0,8181 0,8368

0,8 c 0,03109 0,03109 0,03109

(27)

Metoda Mikasa-Wilson Dalam Analisis Pemampatan Sekunder Tanah Gambut di Jambi (Tanjung)

Pembahasan Metoda Mikasa-Wilson

Gambar 13. Kurva parameter c Parameter c adalah nilai kecepatan perubahan angka pori pada waktu 1 menit. Dari gambar 48 terlihat bahwa analisis data dengan metoda Mikasa-Wilson menunjukkan nilai parameter c bertambah besar sejalan dengan meningkatnya tekanan.

Analisis regangan

Untuk tanah gambut Jambi, persentase pertambahan regangan pada waktu 1 tahun relatif kecil karena nilai  yang sangat kecil (mendekati nol) seperti ditunjukkan oleh grafik untuk  = 0. Penjelasan mengenai masalah ini telah dikemukakan oleh B. Juszkiewicz – Bednarczyk dan M. Werno (1981).

Gambar 14. Grafik (B. Juszkiewicz – Bednarczyk dan M.

Werno,1981).

Untuk mendapat gambaran, apabila terdapat lapisan tanah gambut setebal 10 m

maka penurunan yang akan terjadi dalam waktu 1 tahun dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Analisis penurunan pada waktu 1 tahun (cm)

Tekanan Metode Mikasa – Wilson Test 1 Test 2 0.05 21.2157 40.667 0.1 17.624 35.285 0.2 29.304 46.727 0.4 (1 hari) 42.532 92.621 0.4 (3 hari) 80.067 0.4 (7 hari) 69 0.8 (1 hari) 66.059 94.263 0.8 (3 hari) 94.263 0.8 (7 hari) 94.263 1.6 110.94 3.2 140.232 6.4 160.395 KESIMPULAN

1. Bentuk kurva regangan – waktu (skala log) yang diperoleh menyerupai kurva pemampatan tipe I dan II pada hasil studi yang telah dilakukan Lo (1961). 2. Nilai parameter a pada metoda

Gibson-Lo akan mengecil dengan meningkatnya beban. Hal ini disebabkan oleh mengecilnya ruang makropori sehingga aliran air pori dari makropori menjadi semakin sulit untuk keluar.

3. Nilai parameter b pada metoda Gibson-Lo semakin mengecil dengan meningkatnya beban. Hal ini disebabkan oleh mengecilnya ruang makropori dan mikropori sehingga aliran air pori dari mikropori ke makropori semakin sulit.

4. Nilai parameter 1/ pada metoda Gibson-Lo semakin besar dengan meningkatnya beban.

5. Periode pembebanan mempengaruhi nilai parameter a, b, 1/. Dengan makin lamanya periode pembebanan maka nilai a, b, 1/ semakin besar.

(28)

6. Nilai parameter c pada metoda Mikasa-Wilson membesar pada tekanan  0,8 kg/cm2.

7. Analisis regangan baik dengan metoda Gibson-Lo maupun metoda Mikasa-Wilson memberikan nilai regangan yang hampir sama dengan nilai regangan yang diperoleh dari percobaan konsolidasi di laboratorium dengan alat oedometer untuk waktu pembebanan 24 jam dan 7x24 jam. 8. Analisis regangan untuk waktu 1 tahun

menunjukkan bahwa nilai regangan berdasarkan metoda Mikasa-Wilson sedikit lebih besar daripada metoda Gibson-Lo, sebab ada perbedaan waktu konsolidasi primer menurut kedua metoda tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Andersland, O.B. dan Al-Khafaji, A.W.N. (1980), Organic Material and Soil Compressibility, Journal of the Geotechnical Engineering Division, vol 106, no. GT7, pp. 749-758.

2. ASTM, American Society for Testing & Material, Philadelpia, USA.

3. Barden, L. (1968), Primary and Secondary Consolidation of Clay and Peat, Geotechnique, 18.

4. Bednarczyk, J.B. dan Werno, M. (1981), Determination of Consolidation Parameters.

5. Berre, T. & Iversen, K. (1972), Oedometer Tests with Different Speciment Heights on a Clay Exhibiting Large Secondary Compression, Geotechnique, vol. 22, no. 1.

6. Berry, P.L. dan Vickers, B. (1975), Consolidation of Fibrous Peat, Journal of the Geotechnical Engineering Division, vol. 101, no. GT8, pp.741-753. 7. Das, B.M, Advanced Soil Mechanics,

International Student Edition, Singapore.

8. Edil, T.B., Termaat, Ruud, dan Han, Evert den, Advances in Understanding

and Modelling the Mechanical Behavior of Peat, A.A. Balkema, Rotterdam, Brookfield.

9. Edil, T.B., Soft Soil Engineering, Kursus Singkat Geoteknik di Indonesia Menjelang Milenium ke-3.

10. Holtz, R.D., dan Kovacs, W.D., An Introduction to Geotechnical Engineering, Prentice Hall Inc.

11. Irsyam, M., Mekanisme dan Penanggulangan Tanah Mengembang, diktat kuliah Perilaku Tanah.

12. Irsyam M., Studi Kasus Perbaikan Tanah pada Tanah Lunak dan Gambut, Kursus Singkat Geoteknik di Indonesia Menjelang Milenium ke-3.

13. Lambe, T.W., dan Whitman, R.V., Soil Mechanics, SI Version, John Wiley & Sons, Inc.

14. Lo, K.Y. (1961), Secondary Compression of Clays, Journal of the Soil Mechanics and Foundation Division, vol. 87, No. SM 4, pp 61-87. 15. Mac Farlane, I.C., Muskeg Engineering

Handbook, National Research Council of Canada, University of Toronto, Canada.

16. Pradoto, Suhardjito dan As’ad Munawir, Analisis dan Perilaku Pemampatan Gambut Palembang.

17. Suklje, Lujo, Rheological Aspect of Soil Mechanics, Wiley-Interscience, John Wiley & Sons Ltd.

18. Wahls, H.E. (1962), Analysis of Primary and Secondary Consolidation, Journal of the Soil Mechanics and Foundations Division, vol. 88, no. SM6, pp. 207-231. 19. Yamanouchi, Toyotoshi dan Yasuhara,

Kazuya, (March, 1975), Secondary Compression of Organic Soil, Soils and Foundations, vol. 15, no. 1, pp. 69-79

(29)

Analisis Bekesting Metode Semi Sistem Dan Metode Sistem Pada Gedung (Abdul Muis - Trijeti)

ANALISIS BEKISTING METODE SEMI SISTEM DAN METODE SISTEM PADA BANGUNAN GEDUNG

Abdul Muis Trijeti

Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta Email : [email protected]

ABSTRAK : Bekisting merupakan suatu sarana pembantu untuk mencetak beton dengan ukuran, bentuk

rupa ataupun posisi serta aligment yang dikehendaki. Analisis yang dilakukan adalah membandingkan bekisting metode semi sistem dengan metode sistem pada balok dan plat lantai pekerjaan bangunan gedung di lantai 2 dan 3 terhadap biaya dan waktu. Analisa harga satuan mengacu pada SNI 2008 (Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan Pekerjaan Beton) dengan harga material , alat dan upah tahun 2012. Biaya antara pekerjaan bekisting metode sistem lebih mahal dibandingkan dengan bekisting metode semi sistem. Waktu pekerjaan bekisting metode sistem lebih cepat penyelesaiannya dibandingkan metode semi sistem. Jadi bekisting metode sistem dipakai atau dipilih apabila proyek konstruksi dituntut untuk lebih cepat dan perusahaan mendapatkan proyek yang sama / berulang-ulang.

Kata Kunci : bekisting semi-sistem, bekisting sistem, analisa harga satuan

ABSTRACT: Formwork is a concrete means of helpers to print to the size, shape or appearance and

position of the desired alignment. Analysis is conducted to compare methods of semi formwork system with the method on a system of beams and slab building work on floors 2 and 3 of the cost and time. Analysis unit price refers to the ISO 2008 (Construction Cost Analysis of Building and Housing Concrete Work) at a price of materials, equipment and wages in 2012. Costs between jobs formwork system method is more expensive than the semi method formwork system. Time jobs formwork system faster method than the method of semi-completion system. So formwork system method used or selected if required for construction projects more quickly and the company gets the same project / repetitive.

Keywords: semi-formwork system, formwork system, the unit price analysis PENDAHULUAN

Bangunan gedung bertingkat memiliki karakteristik yang spesifik khususnya dalam teknologi pelaksanaan seperti urutan pekerjaan, jenis pekerjaan, kegiatan pengangkutan vertikal, keselamatan kerja, keterbatasan lokasi dan air tanah. Metode pelaksanaan konstruksi yang terdiri dari pekerjaan persiapan, dewatering, struktur bawah, struktur atas dan finishing perlu

direncanakan sebelum pelaksanaan pekerjaan.

Pelaksanaan struktur atas beton pada dasarnya dapat dilaksanakan dengan berbagai metode :

Cast inplace/cast insitu, komponen struktur dicor ditempatnya. Termasuk metode konvensional ; Campuran precast dan Cast inplace, digunakan dengan berbagai macam kombinasi antara balok, plat dan kolom ; Precast, komponen struktur dicor dipabrik

(30)

(plant), kemudian dibawa kelokasi proyek lalu dipasang.

Formwork atau cetakan beton sering juga disebut bekisting merupakan suatu sarana pembantu untuk mencetak beton dengan ukuran, bentuk rupa ataupun posisi serta aligment yang dikehendaki. Bekisting terdiri dari beberapa bagian yang dirangkai menjadi suatu kesatuan konstruksi tertentu dengan system yang praktis. Artinya sesuai dengan sifatnya hanya merupakan struktur sementara yang mendudukung beratnya sendiri dan berat beton basah, konstruksi bekisting harus mudah dikerjakan dan mudah pula untuk dibongkar serta tidak mudah rusak sehingga dapat dipakai berulang kali. Hal yang perlu diperhitungkan adalah bekisting harus mampu menahan beban-beban yang ada. Bekisting semi sistem adalah bekisting yang bahan dasarnya disesuaikan dengan konstruksi beton, sehingga pengulangannya dapat dilakukan lebih banyak apabila konstruksi beton itu sendiri tidak terjadi perubahan bentuk maupun ukuran.

Adapun bekisting sistem adalah bekisting yang mengalami perkembangan lebih lanjut kesebuah bekisting universal yang dengan segala kemungkinannya dapat digunakan

pada berbagai macam bangunan,

penggunaan bekisting sistem bertujuan untuk penggunaan ulang pakai.

LANDASAN TEORI

Dalam menghitung anggaran biaya, perlu memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : Semua bahan untuk penyusunan anggaran biaya dikumpulkan dan diatur dengan rapih ; Gambar-gambar rencana/gambar bestek dan penjelasan atau keterangan yang tercantum dalam

peraturan dan syarat-syarat ; Membuat catatan sebanyak mungkin yang penting, baik mengenai gambar.; Menentukan system yang tepat dan teratur yang akan dipakai dalam perhitungan.

Penyusunan anggaran biaya dilaksanakan dengan cara pembuatan daftar-daftar sebagai berikut :

Waktu pelaksanaan proyek konstruksi merupakan salah satu elemen hasil perencanaan, yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan proyek konstruksi dalam hal kinerja sumber daya berupa biaya, tenaga kerja, peralatan, dan material serta rencana durasi proyek dan progress waktu untuk penyelesaian proyek konstruksi.

Bekisting disebut juga acuan dan perancah. Acuan yaitu bagian dari konstruksi bekisting yang berfungsi untuk membuat cetakan beton sesuai yang diinginkan. Suatu konstruksi acuan yang telah dibuat dan akan dipakai harus kuat untuk menahan beban yang masih basah dan liat. Konstruksi acuan sendiri terdiri dari papan cetakan dan pengaku cetakan.

Dalam sebuah konstruksi acuan dibagi dalam 2 (dua) macam :Acuan tetap adalah acuan yang dipasang untuk tidak dibongkar lagi dan acuan tersebut tidak mengurangi kekuatan dan tidak berpengaruh buruk

Daftar Harga Bahan Daftar Upah Tenaga Analisa Koefisien Harga Satuan Pekerjaan X Harga Satuan Pekerjaan Volume Pekerjaan Harga Pekerjaan X =

(31)

Analisis Bekesting Metode Semi Sistem Dan Metode Sistem Pada Gedung (Abdul Muis - Trijeti)

pada konstruksi bangunan. Acuan tidak Tetap adalah acuan yang dipasang dan dapat dibongkar setelah beton cukup kuat untuk menahan bebannya sendiri. Contoh bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan acuan sementara adalah papan kayu, kayu balok, plywood, panel-panel baja, fiberglass, dan lain-lain.

Bekisting semi sistem

Bekisting semi sistem adalah bekisting yang bahan dasarnya disesuaikan dengan konstruksi beton, sehingga pengulangannya dapat dilakukan lebih banyak apabila konstruksi beton itu sendiri tidak terjadi perubahan bentuk maupun ukuran. Pertimbangan penggunaan bekisting semi sistem adalah pada konstruksi yang cukup tinggi pengulangan penggunaan bekisting pada suatu pekerjaan cetakan sistem ini terbuat dari material kayu lapis atau plat, sedangkan perancah penopangnya terbuat dari baja yang dipabrikasi. Bekisting semi sistem merupakan perkembangan dari bekisting konvesional, peningkatan kualitas dari bekisting konvesional menjadi bekisting semi sistem terletak pada penggunaan ulang bekisting itu sendiri. Material yang dibutuhkan untuk bekisting semi sistem adalah : Scaffolding (perancah)

,U-Head , Vertical support tube , Horizontal support tube , Jack base , Joint pin , Alat-alat pendukung

Bekisting sistem

Bekisting sistem atau disebut juga bekisting

full system adalah bekisting yang mengalami perkembangan lebih lanjut kesebuah bekisting universal yang dengan segala kemungkinannya dapat digunakan

pada berbagai macam bangunan,

penggunaan bekisting sistem bertujuan untuk penggunaan ulang pakai. Pelaksanaan bekisting sistem lebih cepat

dibandingkan dengan bekisting

konvensional dan semi sistem karena komponen-komponen bekisting sistem sudah ada ukuran standarnya. Pembiayaan bekisting sistem pada awalnya dapat dikatakan mahal, tetapi dengan adanya pelaksanaan yang relatif singkat dan

penggunaan berulang kali, maka

penambahan biaya tidak terlalu mengikat.

Alat bekisting balok : Hollow 50.50 , Double siku Tie rod T dan Wing nut , Suri Hollow , Batang horizontal, Jack base, Double wing Komponen bekisting plat lantai : Plywood phenolic 15 mm, Hollow 50.50, U-head, Batang horizontal , Batang vertical , Batang vertikal joint , Jack base.

(32)

Rakapitulasi Material & Peralatan. NO Material Peralatan Bekisting metode semi sistem Bekisting metode sistem Bekesting semis sistem & sistem

1 Kaso 5/7 Plywood phenolic 15

mm Excavator

2 Plywood 9 mm Kaso 5/7 Theodolite

3 Plywood 12 mm Hollow 50.50 Waterpass

4 Kawat baja/bendrat Balok 6/12 Tower Crane 5 Minyak Bekisting Double siku Air

compressor 6 Paku 5 cm - 12 cm Tie rod T

7 Scaffolding standart Suri Hollow

8 Balok 6/12 Double wing

9 Sekur horizontal Batang horizontal 10 Sekur vertikal Batang vertikal

11 Jack base Jack base

12 U-head 13 Sekur joint

PEMBAHASAN

Perhitungan kuantitas pekerjaan bekisting balok metode semi sistem dan metode system yang ditinjau pada bangunan gedung lt.2 dan lt.3.

Perhitungan kuantitas bekisting balok metode sistem, lantai satu dan lantai dua sama atau tipikal. Metode perhitugan kuantitas bekisting balok :

Tipe balok dalam mili meter (mm) , Ukuran balok dalam mili meter (mm) : Lebar x Tinggi , Lebar balok dalam meter (m) , Tinggi balok dalam meter (m) : Tinggi – Tebal pelat lantai , Panjang balok dalam meter (m), Jumlah balok, Kuantitas pengecoran dalam meter kubik (m³) , Luas dalam meter persegi (m²) :

(33)

Analisis Bekesting Metode Semi Sistem Dan Metode Sistem Pada Gedung (Abdul Muis - Trijeti) Perhitungan kuantitas pekerjaan bekisting balok metode semi sistem lt.2.

N o Beam Type Measuremen t (mm) Widt h High (m) Lengt h Tota l Wide Informatio n (m) (t1) (t2) (m) (m2) 1 G-1 350 × 600 0.35 0.4 8 0.4 8 7.6 3 29.87 Main Beam .. ... 30 B-10 150 × 600 0.15 0.4 8 0.4 8 1.441 2 3.20 716.3 5

Perhitungan kuantitas bekisting balok metode semi sistem lt. 3.

N o Beam Type Measureme nt (mm) Widt h High (m) Lengt h Tota l Wide Inform ation (m) (t1) (t2 ) (m) (m2) 3 3 G-1 350 × 600 0.35 0.48 0.4 8 7.6 3 29.87 Main Beam 6 7 B-32 350 × 600 0.35 0.48 0.4 8 19.874 1 26.03 988.5 0

Perhitungan kuantitas bekisting balok lt. 2 atau lt. 3 metode sistem.

No Beam Type

Measurement (mm)

Width High (m) Length

Total Wide Information

(m) (t1) (t2) (m) (m2)

1 B1 350 × 700 0.35 0.58 0.58 86.331 1 130.36 ... ....

21 BW2 250 × 400 0.25 0.28 0.28 9.845 1 7.97 1,015.25

Perhitungan kuantitas pekerjaan bekisting pelat lantai metode semi sistem dan metode sistem lt.2 dan lt.3.

(34)

Perhitungan kuantitas bekisting pelat lantai lt. 2 metode semi sistem. No Pelat lantaie Type Dimension (m) Length Total Wide Information (m) (m²) 1 S-1 2.83 x 0.12 3 8 47.56 Floor Pelat lantaie 2 S-1 2.9 x 0.12 7.6 9 95.58 t = 120 mm .. .... 35 S-2 1.2 x 0.12 2.8 1 4.12 557.83

Perhitungan kuantitas bekisting pelat lantai lt. 3 metode semi sistem.

No Pelat lantaie Type Dimension (m) Length Total Wide Information (m) (m²) 36 S-1 2.95 x 0.12 7.6 18 192.06 Pelat lantai Lantai 37 S-1 2.95 x 0.12 7.1 2 20.34 t = 120 mm .. .... 55 S-2 1.2 x 0.12 2.8 1 4.12 579.03

Perhitungan kuantitas bekisting pelat lantai metode sistem zone 1.

No Tipe plat Dimensi (mm) Jumlah (buah) Luas pekerjaan (m²) p l 1 S1 5850 2625 5 76.78 .. .. S4 800 3172 1 2.54 JUMLAH 373.82

Perhitungan kuantitas bekisting pelat lantai metode sistem zone 2.

No Tipe plat Dimensi (mm) Jumlah (buah) Luas pekerjaan (m²) p l 1 S1 2625 5850 5 76.78 .. .... S4 1434 700 1 1 JUMLAH 617.6

Jadi jumlah kuantitas bekisting pelat lantai, lt.2 atau lt.3 metode sistem adalah 991,4 m².

Analisa harga satuan per-m2 pekerjaan bekisting balok dan pelat lantai metode semi sistem dan metode sistem lt.2 dan lt.3.

Referensi

Dokumen terkait

Evaluasi validitas klaster dengan menggunakan Partition Coeficient (PC), Classification Entropy (CE) dan Xie-Beni Index, juga membuktikan bahwa gravitational search

Pada penelitian ini, dilakukan percoba- an berat pengendara dari 60 kg (minimal) hingga 120 kg (maksimal) secara bertahap dengan penambahan nilai 10 Kg pada setiap

Penilaian yang sistematik bagi kebutuhan dan peluang untuk menyusutkan beban pada lingkungan yang berkaitan dengan penggunaan energi dan bahan serta pengeluaran limbah selama

¾ Mencari kadar air contoh tanah dan kemudian mencampur contoh tanah dengan air gambut yaitu air suling dan tanah gambut yang telah dicampur dalam wadah kurang lebih 14 hari

Tanah gambut memiliki sifat-sifat fisik yang tidak baik untuk pembangunan suatu konstruksi,mengingat tanah gambut memiliki kuat geser yang rendah dan mempunyai

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas akhir Skripsi dengant judul “ Perbedaan

Untuk mengembangkan program pembelajaraN anak berkebutuhan khusus, informasi tentang perilaku awal ini menjadi semakin penting karena program yang dikembangkan

Hasil dari penelitian ini yang di- lakukan dalam satu siklus budidaya rumput laut secara terintegrasi (IMTA) dengan ikan kerapu telah menunjukkan secara signifikan tingkat