1
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
SOLUSI PENGEMBANGAN
PANAS BUMI INDONESIA
BIDANG KEGIATAN :
PKM-GT
Diusulkan oleh :
DHITA SARASWATY
(12208027/2008)
MUHAMMAD FADHIAN AQTHORI
(12208012/2008)
FATKHUR RAHMAN
(12208080/2008)
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2
HALAMAN PENGESAHAN
1. Judul Kegiatan : Solusi Pengembangan Panas Bumi Indonesia
2. Bidang Kegiatan : PKM-GT
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Dhita Saraswaty
b. NIM : 12208027
c. Jurusan : Teknik Perminyakan
d. Perguruan Tinggi : Institut Teknologi Bandung
e. Alamat Rumah dan No. HP : Jl. Kadipaten I No.33; Antapani; Bandung 40291; No. HP 08122422290
f. Alamat email : [email protected]
4. Anggota Pelaksana Kegiatan : 2 orang 5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar : Dr. Ir. Sudjati Rachmat, DEA
b. NIP : 195509021980031005
c. Alamat Rumah dan No. HP :
No. HP 08122333123
Bandung, 28 Februari 2011 Menyetujui
Ketua Program Studi TM ITB Ketua Pelaksana Kegiatan
Ir. Ucok W.R. Siagian, M.Sc., Ph.D. Dhita Saraswaty
NIP. 196009191998031001 NIM. 12208027
Kepala Lembaga Kemahasiswaan Dosen Pendamping
Brian Yuliarto, Ph.D. Dr. Ir. Sudjati Rachmat, DEA
3
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb.
Segala puji dan syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah swt. yang telah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan karya tulis dengan judul “SOLUSI PENGEMBANGAN PANAS BUMI INDONESIA” ini dengan baik. Karya tulis ini disusun untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa bidang PKM-GT (Gagasan Tertulis).
Pada kesempatan ini Penulis tak lupa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan karya tulis ini, terutama kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. Ir. Sudjati Rachmat, DEA, selaku dosen pembimbing, yang telah memberikan saran dan kritik demi kesempurnaan penulisan.
2. Kedua orang tua dan seluruh keluarga tercinta, atas bantuan doa dan material. 3. Teman-teman seperjuangan, atas kerjasama dan motivasinya.
Semoga Allah swt. senantiasa memberikan berkat, imbalan, serta karunia-Nya kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan dan bantuannya yang tidak ternilai.
Penulis menyadari bahwa penyusunan karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat Penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan di kemudian hari. Akhirnya, Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi diri Penulis sendiri, pembaca sekalian, dan masyarakat luas terutama dalam hal menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Yogyakarta, Februari 2011
4
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... 1 HALAMAN PENGESAHAN... 2 KATA PENGANTAR... 3 DAFTAR ISI... 4 RINGKASAN... 5 BAB I PENDAHULUAN... 6 A. LATAR BELAKANG... 6 B. RUMUSAN MASALAH... 6 C. MANFAAT PENULISAN... 6BAB II TELAAH PUSTAKA... 7
A. KEUNGGULAN PENGEMBANGAN PANAS BUMI………….. 7
B. PERMASALAHAN PENGEMBANGAN PANAS BUMI………. 8
BAB III GAGASAN SOLUSI... 10
A. PEMANFAATAN LANGSUNG PANAS BUMI………... 10
B. MINIMALISASI RESIKO EKSPLORASI………. 11
C. INSTITUSI PENDIDIKAN & RISET PANAS BUMI…………... 11
D. PEMBENTUKAN PANDANGAN MASYARAKAT……… 13
E. PEMBENTUKAN IKLIM INVESTASI YANG KONDUSIF…… 13
BAB V KESIMPULAN……….………… 14
5
RINGKASAN
Indonesia memiliki potensi panas bumi 27189 MWe atau sekitar 40% dari seluruh potensi panas bumi dunia. Potensi panas bumi Indonesia mungkin yang terbesar dibanding negara-negara lain. Walaupun usaha panas bumi di Indonesia meningkat 14%/tahun, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 4% dari potensi besarnya. Keterbatasan pemanfaatan tidak langsung panas bumi di Indonesia sebenarnya disebabkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Berikut permasalahan yang muncul untuk menghambat pengembangan panas bumi.
1. Pelelangan dan penyusunan perda butuh waktu lama. Peraturan selalu berubah-ubah, tumpang-tindih, dan implementasinya belum terwujud sepenuhnya. 2. PLN adalah satu-satunya pembeli listrik sehingga melemahkan pengembang
panas bumi dalam tawar-menawar harga. Harga yang ditetapkan PLN tidak menarik. Harga yang dihasilkan dari lelang tidak otomatis menjadi harga beli sehingga timbul ketidakpastian.
3. Jumlah SDM ahli Indonesia sangat kurang dalam pemanfaatan seluruh potensi. 4. Eksplorasi merupakan kegiatan beresiko karena ketidakpastiannya. Kegagalan
eksplorasi berdampak pada biaya keseluruhan proyek dan harga listrik.
Semua masalah harus segera diselesaikan agar reputasi Indonesia di mata internasional terjaga. Solusi yang direkomendasikan sebagai berikut.
1. Pembentukan iklim investasi yang kondusif dengan peringanan pajak, pemberian insentif
2. Sosialisasi kepada masyarakat sekitar dan pencerdasan masyarakat yang dimulai dari dunia pendidikan.
3. Pendirian pusat riset, pelatihan, dan pendidikan panas bumi di Indonesia untuk membentuk tenaga ahli yang memahami berbagai masalah panas bumi.
4. Minimalisasi resiko eksplorasi dengan memegang kunci eksplorasi yaitu penemuan lapangan bertemperatur tinggi di sistem gunung berapi serta pemahaman karakteristik reservoir berupa temperatur, permeabilitas, dan sifat kimia fluida panas bumi; serta mengaplikasikan metode baru.
6
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Indonesia memiliki potensi panas bumi 27189 MWe (7) atau sekitar 40% dari seluruh potensi panas bumi dunia (2). Potensi ini sebagian besar tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dominasi potensi panas bumi yang dimiliki wilayah tersebut merupakan hal wajar karena panas bumi berasosiasi dengan gunung berapi yang dimiliki wilayah tersebut. Di sisi lain, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Papua yang berada di luar jalur gunung berapi, juga memiliki sedikit potensi tersebut (6). 256 Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi telah ditetapkan. 203 WKP yang berasosiasi dengan jalur gunung api umumnya bertemperatur tinggi. 53 WKP yang berada di luar jalur tersebut umumnya bertemperatur sedang (1).
Potensi panas bumi Indonesia mungkin yang terbesar dibanding negara-negara lain. Banyak pakar berkata bahwa Indonesia akan menjadi center of
excellence di bidang panas bumi di masa depan. Pada kenyataannya, harapan
ini tidak diikuti dengan optimalisasi pemanfaatan panas bumi. Walaupun usaha panas bumi di Indonesia meningkat 14%/tahun, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 4% dari potensi besarnya. Negara tetangga Indonesia, Filipina, telah memanfaatkan 44,5% potensinya yang hanya 4335 MWe (7).
Keterbatasan pemanfaatan panas bumi di Indonesia sebenarnya disebabkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Berbagai permasalahan muncul untuk menghambat pengembangan panas bumi. Pemanfaatan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pemanfaatan panas bumi secara tidak langsung atau pemanfaatan panas bumi dalam pembangkit listrik tenaga panas bumi. Tulisan ini menguraikan berbagai permasalahan dan rekomendasi penanggulangannya. B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah masalah penghambat pengembangan panas bumi di Indonesia? 2. Bagaimanakah solusi penanggulangan masalah tersebut?
C. MANFAAT PENULISAN
Tulisan ini diharapkan memberi tambahan pengetahuan dan kesadaran pentingnya pengembangan panas bumi Indonesia bagi pembaca & pemerintah.
7
BAB II TELAAH PUSTAKA
A. KEUNGGULAN PENGEMBANGAN PANAS BUMI
1. Pengembangan potensi panas bumi Indonesia secara keseluruhan akan memberikan nilai tambah yang cukup besar bagi pemerintah.
2. Panas bumi tidak bisa di-ekspor, melainkan hanya dikonsumsi di dalam negeri sebagai bahan bakar pembangkitan listrik. Panas bumi dapat meningkatkan ekonomi setempat.
3. Panas bumi bebas dari resiko fluktuasi harga bahan bakar fosil.
4. Panas bumi tidak tergantung pada cuaca, supplier, kesediaan fasilitas pengangkutan, dan bongkar muat dalam pasokan bahan bakar.
5. Panas bumi tidak memerlukan lahan yang luas.
6. Tingkat keandalan pembangkit yang tinggi menjadi alternatif bagi PLN 7. Panas bumi ramah lingkungan. Hal ini mendukung komitmen Presiden RI
di Copenhagen untuk menurunkan emisi sebanyak 26% pada 2025.
8. Panas bumi merupakan energi yang berkelanjutan karena fluida yang telah dimanfaatkan memutar turbin diinjeksikan kembali ke reservoir.
9. Pengembangan panas bumi mendukung konservasi bahan bakar fosil. 10. Faktor kapasitas PLTP sekitar 90%. Faktor kapasitas pembangkit listrik
berbahan bakar batu bara hanya 60-70% (2).
Gambar 1 Rasio Pemakaian Lahan Beberapa PLT (103 m3/MWe)
8
Gambar 2 Rasio Emisi CO2 Beberapa Sumber Energi (kg/MWh)
Sumber : http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/02/12987455211283670632_300x260.81871345029.jpg
B. PERMASALAHAN PENGEMBANGAN PANAS BUMI 1. Peraturan dan perizinan
Pelelangan WKP dilakukan pemda setelah Menteri ESDM menetapkan WKP (2). Pelelangan dan penyusunan perda biasanya membutuhkan waktu lama (8). Selain itu, peraturan di Indonesia selalu berubah-ubah, saling tumpang-tindih, dan implementasinya belum terwujud sepenuhnya (2).
UU No.27/2003 secara implisit menyebutkan bahwa usaha panas bumi termasuk usaha pertambangan. Hal ini merupakan bumerang bagi pengembang panas bumi. Pasal 38 ayat 4 UU No.41/1999 melarang penambangan di kawasan hutan lindung. Di sisi lain, sebagian besar potensi panas bumi Indonesia berada di kawasan hutan lindung.
Usaha panas bumi bisa dilaksanakan di kawasan hutan. Pasal 38 ayat 3 UU No.41/1999 menyebutkan penggunaan kawasan hutan untuk pertambangan dilakukan melalui pemberian izin pinjam pakai oleh Menteri dengan mempertimbangkan batasan luas dan jangka waktu tertentu serta kelestarian lingkungan. Akan tetapi, proses perizinan ini sangat rumit (8). 2. Penjualan listrik
Listrik yang dihasilkan dari PLTP tidak bisa langsung dialirkan ke rumah penduduk. Listrik harus masuk terlebih dahulu ke jaringan PLN. Dengan kata lain, PLN merupakan satu-satunya pembeli listrik. Posisi ini melemahkan pengembang panas bumi dalam tawar-menawar harga (8). Harga yang ditetapkan oleh PLN juga tidak menarik bagi investor (2).
9
Selain itu, harga yang dihasilkan dari lelang WKP tidak otomatis menjadi harga beli PLN. Hal ini menimbulkan ketidakpastian waktu start proyek bagi pengembang panas bumi (2). Saat ini, 15 WKP telah selesai dilelang dan sedang menunggu kepastian harga beli (8).
3. Sumber daya manusia
Potensi panas bumi Indonesia yang telah dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik sebesar 1196 MWe (2). Untuk menunjang keberjalanan kapasitas terpasang ini, SDM Indonesia masih memadai. Akan tetapi, mengingat besarnya potensi panas bumi Indonesia, jumlah tenaga ahli Indonesia sangat kurang untuk memanfaatkan potensi tersebut. S2 Panas Bumi di ITB memang telah didirikan. Akan tetapi, Indonesia belum mempunyai fakultas panas bumi. Di Indonesia, yang sering terjadi adalah menyiapkan tenaga terdidik dengan mengikuti pasar.
4. Resiko teknis
Kegiatan yang terkait dengan pemanfaatan panas bumi berturut-turut adalah survei pendahuluan, eksplorasi, studi kelayakan, perencanaan, pengembangan, dan produksi (5). Semua kegiatan yang berkaitan dengan pendirian PLTP pasti mahal. Dari 6 kegiatan tersebut, eksplorasi merupakan kegiatan paling beresiko. Hal ini karena ketidakpastiannya. Kegagalan eksplorasi berdampak pada biaya keseluruhan proyek dan harga listrik (8).
10
BAB IV GAGASAN SOLUSI
Semua permasalahan yang telah diuraikan di atas harus segera diselesaikan. Hal ini berkaitan dengan reputasi Indonesia di mata internasional. Indonesia memiliki potensi terbesar namun tidak bisa mengoptimalkannya. Di sisi lain, banyak negara yang telah mengoptimalkan panas bumi walaupun potensi yang dimiliki hanya sedikit. Solusi yang direkomendasikan diuraikan sebagai berikut. A. PEMBENTUKAN IKLIM INVESTASI YANG KONDUSIF
Pemerintah harus sadar bahwa SDM panas bumi Indonesia saat ini belum mampu mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi dalam skala besar secara mandiri. Usaha panas bumi bisa dimulai dari skala atau kapasitas kecil (8). Meskipun begitu, sebagai negara pemilik potensi panas bumi terbesar, Indonesia harus memulai pemanfaatan skala besar. Maka dari itu, Indonesia membutuhkan bantuan investor dan perusahaan asing. Untuk itu, iklim investasi yang kondusif harus diciptakan (2).
Salah satu kegiatan yang membutuhkan dukungan investor adalah eksplorasi. Maka dari itu, iklim investasi yang kondusif harus diciptakan sejak tahap eksplorasi. Di Indonesia, pajak telah dikenakan pada kegiatan eksplorasi. Di sisi lain, kegiatan eksplorasi penuh dengan ketidakpastian. Perusahaan harus membayar biaya eksplorasi dan pajak eksplorasi. Jika eksplorasi gagal, perusahaan mengalami rugi besar. Di negara lain, kegiatan eksplorasi memperoleh insentif. Hal ini membuat investor tertarik. Beberapa negara juga memberikan insentif pembangunan infrastruktur PLTP dan membebaskan pajak bagi PLTP selama beberapa tahun setelah PLTP mulai berproduksi.
Untuk mendukung terciptanya iklim investasi yang kondusif, beberapa hal harus diperbaiki terlebih dahulu, yaitu sebagai berikut.
a. Pelelangan harus segera dilakukan setelah penetapan WKP.
b. Peraturan terkait usaha panas bumi harus diperjelas. Pihak-pihak terkait; seperti Menteri ESDM, Menteri LH, Menteri Kehutanan, dan lain-lain; harus duduk bersama agar tidak ada peraturan yang tumpang tindih.
c. Pemerintah perlu menunjuk petugas pemantau implementasi peraturan. d. Proses perizinan dipermudah.
11
e. Harga listrik dari PLTP harus kompetitif. Jika perusahaan merasa dirugikan oleh PLN, perusahaan harus segera melapor kepada menteri terkait. Untuk itu, pemerintah harus memperjelas menteri yang mengatasi posisi PLN. f. Jaminan harga beli listrik PLN harus segera diperoleh setelah lelang selesai. B. PEMBENTUKAN PANDANGAN MASYARAKAT
Pengembangan usaha panas bumi bisa terhambat karena peraturan-peraturan yang saling tumpang tindih. Keputusan pemberhentian usaha panas bumi biasanya dilakukan menteri terkait setelah menerima laporan dari masyarakat sekitar WKP. Salah satu contoh adalah usaha panas bumi dihentikan Menteri Kehutanan setelah menerima laporan petugas hutan lindung (8). Contoh lain adalah usaha panas bumi dihentikan Menteri LH setelah masyarakat sekitar WKP khawatir lingkungannya terganggu.
Kekhawatiran ini sebenarnya bisa dihindari mengingat berbagai keunggulan yang dimiliki panas bumi. Maka dari itu, pencerdasan terhadap masyarakat perlu dilakukan. Sebelum eksplorasi panas bumi dilakukan, perusahaan terkait harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar. Masyarakat perlu mengetahui keunggulan panas bumi.
Pemerintah juga perlu membuat program pencerdasan masyarakat jangka panjang. Program ini bisa dimulai dari dunia pendidikan. Dunia pendidikan sangat strategis untuk memberi landasan pemahaman bahwa PLTP ramah lingkungan kepada siswa. Pemahaman ini akan ditransformasikan kepada masyarakat karena salah satu peran pendidikan adalah agent of change.
C. INSTITUSI PENDIDIKAN & RISET PANAS BUMI
Hal yang sering terjadi di Indonesia adalah menyiapkan tenaga terdidik dengan mengikuti pasar. Hal ini berbeda dengan kondisi negara lain. Pemerintah seharusnya menyiapkan tenaga kerja terlebih dahulu. Tenaga kerja terdidik selanjutnya membuka lapangan kerja baru. Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Maka dari itu, pemerintah seharusnya mendidik banyak tenaga ahli untuk memanfaatkan panas bumi.
Gambar 3 menunjukkan kebutuhan energi Indonesia meningkat setiap tahun. Di sisi lain, Indonesia masih kekurangan pasokan listrik. Kondisi ini tidak boleh terjadi terus-menerus. Panas bumi adalah solusi dari masalah ini.
12
Generasi masa depan Indonesia harus memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelangsungan bangsa. Salah satu caranya adalah mengelola panas bumi.
Gambar 3 Proyeksi Permintaan Energi per Sektor (juta SBM)
Sumber : http://3.bp.blogspot.com/_u8TASJZ_ta4/TN54JU9Fx6I/AAAAAAAAAp0/ilaRa6V18oE/s1600/Indonesia%2BEnergy%2BOutlook-gambar2.jpg
Selandia Baru, Italia, Meksiko, dan Masedonia telah memiliki perguruan tinggi panas bumi. Jepang telah memiliki pusat riset panas bumi. Pusat pelatihan panas bumi juga telah berdiri di Selandia baru, Eslandia, Meksiko, Masedonia, dan Jepang (4).
Dalam World Geothermal Congress tanggal 26 April 2010 di Bali International Conventional Center, delegasi New Zealand Geothermal Association terdiri dari ilmuwan, insinyur, konsultan, dan wakil perusahaan. Hal ini memperlihatkan berpadunya berbagai pihak yang terkait dalam pengembangan panas bumi di Selandia Baru yang didukung pemerintah setempat (4). SDM Selandia Baru telah siap mengembangkan panas buminya.
Indonesia harus mencontoh negara-negara tersebut. Pusat riset, pelatihan, dan pendidikan panas bumi harus didirikan di Indonesia. Tujuannya adalah terbentuknya tenaga ahli panas bumi Indonesia yang memahami berbagai masalah dari hulu (terkait keilmuan dan teknologi) sampai hilir (terkait manajemen, suplai, bisnis, dan penjualan). Setelah institusi riset, pelatihan, dan pendidikan panas bumi didirikan; SDM yang dihasilkan harus dikoordinasikan oleh pemerintah. Hal ini penting dilakukan agar tercipta kesepahaman dalam mengembangkan panas bumi. Panas bumi Indonesia di masa depan harus dikuasai oleh bangsa Indonesia sendiri, bukan lagi oleh perusahaan asing.
13
D. MINIMALISASI RESIKO EKSPLORASI
Sasaran eksplorasi panas bumi adalah identifikasi fenomena panas bumi, estimasi cadangan, menentukan tipe lapangan panas bumi, lokalisasi zona produktif dan calon lapangan, penentuan kandungan panas fluida panas bumi, dan memperoleh karakteristik lapangan yang akan memunculkan masalah (3).
Selain sasaran eksplorasi di atas, beberapa hal yang harus dipegang dalam eksplorasi untuk meminimalisasi resiko eksplorasi diuraikan sebagai berikut. a. Sebagian besar PLTP beroperasi membutuhkan temperatur > 2250C.
b. Sistem panas bumi bertemperatur tinggi berhubungan dengan sistem konveksi, dalam hal ini sistem gunung berapi (3).
Pengembangan panas bumi di Indonesia harus memperhatikan faktor keekonomian dan ukuran PLTP. Maka dari itu, eksplorasi harus diarahkan untuk menemukan lapangan dengan temperatur tinggi di sistem gunung berapi. Kunci dalam resiko eksplorasi panas bumi adalah penaksiran temperatur, permeabilitas, dan sifat kimia fluida panas bumi (3). Karakteristik reservoir yang berkaitan dengan parameter ini harus dipahami. Metode baru seperti 3D MT modeling, micro-earthquake, & microgravity-leveling bisa diaplikasikan. E. PEMANFAATAN LANGSUNG PANAS BUMI
PLTP biasanya membutuhkan sistem panas bumi dengan temperatur tinggi untuk membangkitkan listrik. Di sisi lain, panas bumi Indonesia juga tersedia dalam temperatur sedang (1). Sektor-sektor yang dapat memanfaatkan panas bumi bertemperatur sedang secara langsung ditunjukkan Gambar 4.
Gambar 4 Persentase Pemanfaatan Langsung Panas Bumi
14
Pemanfaatan langsung panas bumi di Indonesia belum variatif. Selama ini, hanya obyek wisata dan pemandian air panas yang memanfaatkannya. Salah satu kendalanya adalah belum ada regulasi yang mengatur pemanfaatan langsung panas bumi di Indonesia. Hal ini mengakibatkan investasi di bidang ini belum berkembang. Masih banyak sektor yang bisa didukung oleh pemanfaatan langsung panas bumi, di antaranya adalah pertanian dan perikanan. Kondisi ini memberi peluang dan tantangan bagi Indonesia untuk mengembangkannya secara optimal (1).
BAB IV KESIMPULAN
1. Masalah yang menghambat pengembangan panas bumi di Indonesia adalah proses lelang lama, peraturan selalu berubah dan saling tumpang-tindih, usaha tidak bisa dilaksanakan di kawasan hutan lindung, proses perizinan rumit, PLN satu-satunya pembeli, harga tidak menarik, kepastian harga tidak bisa langsung diperoleh, jumlah tenaga ahli sangat kurang, dan resiko eksplorasi tinggi. 2. Solusi penanggulangan masalah tersebut sebagai berikut.
a. Pembentukan iklim investasi kondusif dengan peringanan pajak, pemberian insentif, pelelangan cepat, peraturan dan stakeholder diperjelas, penunjukan pemantau implementasi peraturan, perizinan dipermudah, harga listrik dibuat kompetitif, dan jaminan harga beli segera ditetapkan setelah lelang. b. Pembentukan pandangan masyarakat dengan sosialisasi kepada masyarakat
sekitar WKP dan pencerdasan masyarakat mulai dari dunia pendidikan. c. Pembentukan institusi pendidikan, pelatihan, dan riset panas bumi untuk
membentuk tenaga ahli yang terkoordinasi dan memahami masalah.
d. Minimalisasi resiko eksplorasi dengan memegang kunci eksplorasi dan mengaplikasikan metode baru.
15
DAFTAR PUSTAKA
(1) Dahlan, dkk. Prospek Pengembangan Sumber Daya Panas Bumi di
Indonesia. Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi
(2) Darma, Surya. Current Outlook on Geothermal Sector in Indonesia
(3) Kusumah, Yudi Indra. Geothermal Exploration Risk and Application of
Advanced Method : A Case in Wayang Windu Geothermal Field
(4) Sanny, Teuku Abdullah. Membangun Institusi Pendidikan dan Riset
Geotermal Bertaraf Internasional.
(5) Saptadji, Nenny. Catatan Kuliah Teknik Panas Bumi
(6) Saptadji, Nenny. Penentuan Sumber Daya dan Cadangan Panas Bumi
(7) Saptadji, Nenny. Sumber Daya Panas Bumi : Energi Andalan yang Masih
Tertinggalkan
(8) Sukhyar, R. Pengembangan Panas Bumi di Indonesia : Menanti Pembuktian
Biodata Ketua
Nama : Dhita Saraswaty (12208027)
TTL : Bandung, 4 September 1990
Alamat : Jl. Kadipaten I No.33; Antapani; Bandung 40291
Karya yang pernah dibuat : -
Penghargaan yang pernah diraih : - Biodata Anggota
Nama : Muhammad Fadhian Aqthori (12208012)
TTL : Jakarta, 6 Oktober 1991
Alamat : Jl. Cisitu Indah 5 No.13; Bandung 40135
Karya yang pernah dibuat : -
Penghargaan yang pernah diraih : -
Nama : Fatkhur Rahman (12208080)
TTL : Semarang, 9 September 1989
Alamat : Jl. Kp. Pasirkaliki Barat 42; Sadang Serang; Bandung 40133 Karya yang pernah dibuat : Biji Nyamplung sebagai Energi Alternatif Penghargaan yang pernah diraih : Juara I LKTI IPTEK Nasional Menristek 2007.