• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN (P) : , E-ISSN : Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSN (P) : , E-ISSN : Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

172

Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha

Tambak Udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan

Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa

Wahyu Haryadi1, Kurniawansyah2, Rismayanti3

Fakultas Ekonomi & Manajemen Universitas Samawa Program Studi Ekonomi Pembangunan

Email:[email protected]

ABSTRAK

Penelitian Ini Bertujuan melihat keterkaitan variable Benur, pakan, dan Obat- obatan sebagai variabel independen, dan Tingkat Pendapatan usaha udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 10 penambak udang vaname. Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data kuantitatif dan sumber data Primer dan sekunder. Penelitian ini menggunakana teknik pengumpulan data melalui teknik dokumentasi dan wawancara. Metode analisis yang di gunakan adalah regresi linear berganda dengan menggunakan program SPSS 16.0 for Windows.Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, persamaan regresi berganda adalah Y= 0.461 + 4.876x1 + 3.311x2 + 7.654x2 + e. Hasil Koefisien Determinasi sebesar 0.846 atau sebesar 84,6 persen sedangkan sisanya sebesar 15,4 persen di sebabkan oleh variabel lain diluar penelitian. Hasil Secara persial variabel kualitas pelayanan variabel Bibit (X1) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan karna thitung 4,032 > ttabel 1.943, variabel Pakan (X2) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan karna thitung 2,935 > ttabel 1.943, variabel Obat-obatan (X3) tidak memiliki pengaruh yang positif dan signifikan karna thitung 1,050 < ttabel 1.987 dan Secara Simultan variabel Bibit (X1), Pakan (X2), dan Obat-obatan (X3) memiliki pengaruh yang signifikan karna karena nilai Fhitung > Ftabel (11,006 > 4,76).

Kata Kunci: Bibit, Pakan, Obat-obatan dan Pendapatan Usaha

PENDAHULUAN

Harga ekspor udang yang meroket saat ini, telah mendorong upaya penggenjotan produksi udang nasional. Di tengah ancaman serangan penyakit EMS (Early Mortality Syndrome) yang melanda banyak negara produsen udang, produksi udang Indonesia justru mengalami peningkatan. Hal ini memicu optimisme di kalangan pelaku usaha terhadap industri udang, terutama Vaname. Kebanyakan negara produsen udang selama 2014 mengalami penurunan produksi karena serangan penyakit EMS (Early Mortality Syndrome). Tapi hanya Indonesia, India dan Ekuador saja yang mengalami peningkatan. Banyak petambak baru dengan lahan baru yang mulai semangat melakukan budidaya

(2)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

173

udang Vaname. Selain itu beberapa petambak juga memanfaatkan tambak yang mengaggur untuk mengalihfungsikan tambak tradisional menjadi semi intensif atau intensif. Namun dalam memilih lahan tambak udang banyak faktor yang diperhatikan, diantaranya kondisi perairan harus dalam keadaan masih bagus bahkan alami. Selain itu diperhatikan juga perijinan lahannya agar di kemudian hari tidak terjadi masalah sengketa lahan. Berdasarkan data sementara statistik perikanan budidaya tahun 2014, produksi udang Vaname mencapai 592.219 ton yang sekitar 70% adalah udang Vaname dan 30% adalah udang Windu. Angka itu baru mencapai 83,06% dari target produksi udang di 2014 sebesar 713 ribu ton. Beberapa negara yang mengalami penurunan produksi ialah Tiongkok yang turun hingga 600 ribu ton, Thailand merosot 360 ribu ton, dan Vietnam yang turun sebesar 175 ribu ton. Sebaliknya, Indonesia justru mengalami peningkatan produksi 100 ribu ton, bersama India 175 ribu ton dan Ekuador 20 ribu ton. Dari angka tersebut, telah memberi kesempatan kepada Indonesia untuk terus meningkatkan jumlah produksi dan menambah pasar internasional. Pada tahun 2015 lalu, target pertumbuhan jumlah produksi udang sebesar 785.900 ton dengan rincian udang Vaname 518.600 ton, udang windu 189.700 ton dan udang lainnya 77.600 ton dengan total luasan tambak 722.650 Ha (662.650,13 Ha). Angka ini terdiri dari udang vaname sebanyak 518.600 ton, udang windu 189.700 ton, dan jenis udang lain sebesar 77.600 ton.

Saat ini produksi udang Indonesia sudah menempati posisi kedua di pasar udang Amerika Serikat (AS). Setiap tahun, udang Indonesia yang masuk ke Amerika Serikat terus meningkat. Pada 2013, jumlah ekspor udang ke AS di angka sekitar 80.000 ton. Angka itu meningkat di tahun 2014 yang mencapai 100.000 ton, atau naik sekitar 25%. Kenaikan rata-rata udang selama lima tahun terakhir adalah 13,83% per tahun. Produksi udang vaname terus mengalami peningkatan. Bahkan pada tahun 2014 produksi udang vaname masih meningkat. Sementara produksi udang windu pada tahun 2014, produksinya masih dibawah tahun sebelumnya begitu pula dengan udang lainnya. Sejalan dengan tren produksi udang yang terus naik, volume ekspor udang selama lima tahun terakhir juga menunjukkan trend yang positif. Artinya peningkatan volume produksi udang sejalan dengan peningkatan volume ekspor. Peningkatan volume ekspor udang selama ini juga diikuti dengan peningkatan nilai volume ekspor Indonesia yang terus meningkat (Ditjen Perikanan Budidaya).

Sedangkan pada tahun ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sektor budidaya udang tahun 2016 sebesar kurang lebih 600 ribu ton. Pada 2015, tercatat hingga triwulan ketiga udang yang berhasil diproduksi total 400 ribu ton. Untuk total produksi pada 2015, KKP masih mengumpulkan data dari seluruh kabupaten. Satu upaya yang dilakukan Ditjen Perikanan Budidaya dalam menggenjot target tersebut adalah dengan mengembangkan

(3)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

174

bibit unggul yang tahan segala penyakit di berbagai cuaca. Bibit unggul akan dikembangkan untuk antisipasi iklim Elnino berkepanjangan sehingga benih udangakan tahan dengan cuaca panas.

Harga udang sejak Oktober 2014 hingga Januari 2015 turun 20.000 – 25.000 per kg untuk semua size (ukuran). Sebagai contoh, udang size 50 dihargai Rp. 58.000 – 60.000 per kg, padahal sebelumnya dihargai Rp.90.000 per kg. C Namun Februari 2015 harga untuk size 50 sudah naik ke harga Rp. 70.000 per kg. Diduga turunnya harga udang Vaname yang mencapai 35% karena persoalan pasokan dan pemintaan udang serta nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap rupiah. Juga lesunya perekonomian Amerika Serikat yang berakibat penurunan permintaan udang, sebab yang paling banyak mengkonsumsi udang adalah masyarakat Amerika Serikat.

Pada awal tahun 2016 ini, di Pulau Jawa harga udang Vaname size 50 berkisar Rp. 66.000 – Rp. 70.000 per kg dengan harga pokok penjualan (HPP) di angka Rp. 40.000 per kg (Margin 50% dari omzet produksi). Sedangkan udang Windu masih di angka Rp. 120.000 per kg nya. Petambak biasanya menjual Vaname size 50 tersebut ke pengepul besar yang langsung dibawa ke Cold Storage dan jarang dibawa ke pasar umum. Hal ini karena konsumsi udang Vaname hanya terserap 30% oleh pasar domestic, sisanya 70% di proses untuk menjadi produk HO/ Head Off (udang yang dibekukan dalam keadaan utuh yang dipotong kepalanya) dan ekspor. Pembelian udang langsung ke petambak merupakan nominal yang tergolong besar angkanya.

Beranjak dari hal tersebut dan sesuai dengan latar belakang diatas, maka penulis ingin meneliti tentang tingkat pendapatan udang vaname yang di tuangkan dalam judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan

Usaha Tambak Udang Vaname Di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa”

KAJIAN PUSTAKA Penelitian Sebelumnya

1. Arifianty, S dkk (2008) Melakukan penelitian dengan judul “Optimalisasi Input Produksi Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada UD Jasa Hasil Diri(JHD) Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat”.

2. Heru Susilo (2007) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Ekonomi Usaha Budidaya Tambak dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi”. 3. Akhmad Mustafa dan Erna Ratnawati (2007) melakukan penelitian dengan

judul “Faktor-Faktor Dominan yang mempengaruhi Produktivitas Tambak di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan”.

(4)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

175 Teori Pendapatan

Dalam sebuah bisnis, pendapatan merupakan jumlah uang yang didapat atau diterima oleh perusahaan dari suatu aktivitasnya, hampir semua dari penjualan produk ataupun jasa kepada pelanggan. Untuk investor, pendapatan tidak seberapa penting dibanding dengan keuntungan yang merupakan jumlah dari uang yang telah diterima setelah dikurangi pengerluaran.

Dalam pertumbuhan suatu pendapatan adalah indikator yang penting dari penerimaan pasar dari sebuah produk dan jasa perusahaan tersebut. Pertumbuhan pendapatan yang secara konsisten, serta pertumbuhan keuntungan, dianggap penting bagi perusahaan yang dijual kepada pablik lewat saham untuk menarik investor.

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam buku “Standar Akuntansi Keuangan” (2002) Pendapatan merupakan arus masuk bruto dari suatu manfaat ekonomi yang muncul dari aktivitas normal perusahaan dalam waktu satu periode jika arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Penjualan

Menurut Swatha (2003) dalam praktek kegiatan penjulan ada beberapa faktor yang cukup berpengaruh antara lain :

1. Kondisi Dan Kemampuan Penjual

Sebuah perusahaan akan mapan dalam proses penjualan produknya tergantung pada kemampuan perusahaan untuk mengelola perusahaannya. Sebab transaksi jual-beli atau pemindahan hak milik secara komersial atas barang dan jasa itu pada prinsipnya melibatkan dua pihak, yaitu penjualan sebagai pihak pertama dan pembeli sebagai pihak kedua. Disini penjual harus dapat meyakinkan kepada pembelinya agar dapat berhasil mencapai sasaran penjulan yang diharapkan.

2. Kondisi Pasar

Pasar sebagai kelompok pembeli atau fihak yang menjadi sasaran dalam penjualan, dapat pula mempengaruhi kegiatan penjualnya.

3. Modal

Manulang (2005) menjelaskan bahwa setiap usaha yang dilaksanakan, baik untuk memperluas atau mengembangkan sangat dipengaruhi faktor permodalan, pembinaan, pemasaran, dan sumber daya manusia (Skill).

Tinjauan Kebijakan Pemerintah Mengenai Peningkatan Produksi Udang Udang merupakan komoditas unggulan ekpor produk perikanan Indonesia. Udang vaname merupakan salah satu udang yang dibudidayakan di Indonesia dan sebagai komoditas ekspor dan untuk pasar dalam negeri. Program revitalisasi tambak udang yang digulirkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak tahun 2012, berhasil meningkatkan produksi udang secara

(5)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

176

signifikan. Untuk menggenjot produksi udang nasional, KKP melalui program revitalisasi berhasil mengoptimalkan lahan tambak dengan membuat model percontohan berupa demontrasi farm atau demfarm. Hasilnya, produksi udang nasional per September 2013 telah mencapai 480 ribu ton. Jumlah ini telah melebihi capaian produksi tahun 2012 yang mencapai 457 600 ton.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian assosiatif. Assosiatif merupakan penelitian ini yang bertujuan untuk menegetahui pengaruh ataupun hubungan antara dua variabel atau lebih (Sugiyono 2009). Jenis penelitian ini asosiatif karena penelitian ini melihat analisis pengaruh bibit (x1), pakan (x2) dan obat-obatan (x3) terhadap tingkat pendapatan (y) usaha tambak udang Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

Jenis Sumber Data

Menurut Sugiyono, (2003:14) terdapat beberapa jenis data antara lain: data kuantitatif adalah penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. Sedangkan data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, skema, dan gambar.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan data kuantitatif seperti jumlah pendapatan usaha udang vaname dalam bentuk angka-angka dan data kualitatif seperti hasil wawancara dalam bentuk huruf.

Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang berhubungan dengan penelitian ini dilakukan dengan cara :

1. Wawancara

Sugiyono (2013:231) wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini wawancara tertutup yaitu wawancara yang langsung dilakukan pada saat penelitian kepada pemilik tambak udang vaname.

2. Dokumentasi

Menurut Sugiyono (2013:240) dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan.

(6)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

177 Tehnik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2008), analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel seluruh responden, menyajikan data dari setiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk mengkaji hipotesis yang telah diajukan.

Regresi linear berganda

Analisis regresi linear berganda adalah hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen (X1,X2,…Xn) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing- masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.

Analisis regresi linear berganda dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen bibit (x1), pakan (x2), dan obat-obatan (x3) dengan variabel dependen Tingkat pendapatan (y) usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

Persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

Rumus:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3…. + bnXn

Keterangan:

Y : Tingkat Pendapatan a : Konstanta

b1, b2 : Koefisien Regresi Variabel Bebas

x1 : bibit x2 : Pakan x3 : obat-obatan

Analisis Determinasi (R2)

Menurut Gujarati (2003) koefisien determinasi adalah untuk mengetahui seberapa besar persentase sumbangan variabel bebas terhadap variabel terikat yang dapat dinyatakan dalam persentase. Analisis determinasi ini untuk mengetahui persentase pengaruh yang sudah di uji memakai uji korelasi. Nilai koefisien determinasi (R2) menunjukkan presentase pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen. Analisis determinasi dalam penelitian ini menjelaskan besarnya kontribusi yang diberikan variabel bibit (x1), pakan

(7)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

178

(x2), dan obat-obatan (x3) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y) usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

Rumus koefisien determinasi (R2) dapat ditunjukkan sebagai berikut: Rumus:

KP = r² x 100% Keterangan:

KP = Koefisien penentu atau koefisien

determinasi r² = Koefisien Korelasi.

Nilai R2 yang sempurna adalah satu yaitu apabila keseluruhan variasi dependen dapat dijelaskan sepenuhnya oleh variabel independen yang dimasukkan dalam model.

Jika 0 < R2 < 1 maka kesimpulan yang dapat diambil adalah

1) Nilai R2 yang kecil atau mendekati nol, berarti kemampuan variabel-variabel bebas dalam menjelaskan variasi variabel tidak bebas sangat terbatas.

2) Nilai R2 mendekati satu, berarti variabel-variabel bebas mampu menjelaskan hampir semua informasi yang digunakan untuk memprediksi variasi variabel tidak bebas.

Uji Koefisien Regresi Secara Parsial (Uji t)

Uji t dilakukan untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel bebas secara individual terhadap variabel terikat dengan menganggap variabel bebas lainnya adalah konstan. Pengujian hipotesis dimaksudkan sebagai cara untuk menentukan apakah suatu dugaan hipotesis tersebut sebaiknya diterima atau ditolak. (Sugiyono, 2013) Rumus: t = r √ √ √ Keterangan: t = t hitung r = Koefisien Korelasi n = Jumlah data

Uji t menggunakan hipotesis sebagai berikut (Gujarati,2003):

1. Uji t Variabel Bibit (x1)

- H0 : β1 ≤ 0, yaitu tidak ada pengaruh signifikansi variabel Bibit (x1) terhadap tingkat pendapatan (y) usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

- H1 : β1 > 0, yaitu terdapat pengaruh positif variabel benur (x1) terhadap tingkat pendapatan (y) usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa

(8)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

179

Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa. -

2. Uji t Variabel Pakan (x2)

- H0 : β1 ≤ 0, yaitu tidak ada pengaruh signifikansi variabel Pakan (x2) terhadap tingkat pendapatan (y) usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

- H1 : β1 > 0, yaitu terdapat pengaruh positif variabel Pakan (x2) terhadap tingkat pendapatan (y) usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

3. Uji t Variabel Obat-obatan (x3)

- H0 : β1 ≤ 0, yaitu tidak ada pengaruh signifikansi variabel Obat-obatan (x3) terhadap tingkat pendapatan (y) usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa

- H1 : β1 > 0, yaitu terdapat pengaruh positif variabel Obat- obatan (x3) terhadap tingkat pendapatan (y) usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

Uji Koefisien Regresi Secara Bersama-Sama/Simultan (Uji F)

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui signifikasi atau tidaknya pengaruh variabel bebas secara bersama-sama/simultan terhadap variabel terikatnya. Apabila hasil uji F hitung lebih dari F tabel berarti variabel cukup signifikan untuk menjelaskan variabel terikat. (Agus irianto, 2007).

Rumus:

F = R2 (n - k - 1) k (1 - R2)

Keterangan:

R = Koefisien Korelasi berganda

k = Jumlah Koefisien Independent n = Jumlah Data Hipotesis yang digunakan dalam uji F adalah:

- H0 : β1 , β2 , β3 = 0 , yaitu tidak ada pengaruh signifikan variabel Bibit (x1), pakan (x2), dan obat-obatan (x3) secara simultan terhadap tingkat pendapatan (y) usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

- H1 : β1, β2 , β3 ≠ 0, yaitu terdapat pengaruh signifikan variabel Bibit (x1), pakan (x2), dan obat-obatan (x3) secara simultan terhadap variabel tingkat pendapatan (y) usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

Implementasi mental wirausaha dan manajerial bisnis. Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel. Jika nilai

(9)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

180

F hitung lebih besar dari nilai F tabel, maka H0 tidak diterima, artinya variabel bebas secara bersama-sama mempengaruhi variabel terikat.

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Analisis Regresi Linear Berganda

Tabel 4.1 Regresi Linier Berganda

a. Dependent Variable: Tingkat Pendapatan (Sumber data : spss 16 lampiran I)

Analisis regresi linier berganda dapat disusun persamaan sebagai berikut: Y = 0.461 + 4.876x1 + 3.311x2 + 7.657x2 + e

Dimana :

Y = Tingkat Pendapatan X1 = Bibit

X2 = Pakan

X3 = Obat-obatan

Maka dari hasil perhitungan yang disajikan pada tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Nilai konstanta pada persamaan tersebut sebesar 0.461. Ini artinya bahwa jika tidak ada perubahan faktor benur, pakan dan biaya obat- obatan dianggap konstan (tetap), maka akan meningkatkan pendapatan sebesar 0.461 rupiah. 2) Pengaruh variabel Bibit (X1) terhadap Tingkat Pendapatan (Y).

Berdasarkan perhitungan dengan program SPSS, maka diperoleh nilai koefisien regresi variabel jumlah Bibit (X1) adalah sebesar 4.876. Artinya untuk setiap

peningkatan jumlah Bibit (X1) sebanyak 1 ekor maka akan meningkatkan

Jumlah Pendapatan (Y) sebesar 4.876 rupiah dengan asumsi variabel lain tetap. 3) Pengaruh variabel Pakan (X2) terhadap Tingkat Pendapatan (Y).

Berdasarkan perhitungan dengan program SPSS, maka diperoleh nilai koefisien regresi variabel Bibit (X2) adalah sebesar 3.311. Artinya untuk setiap

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .461 4.491 .103 .922 Bibit 4.876 1.209 1.340 4.032 .007 Pakan 3.311 1.128 1.250 2.935 .026 Obat-obatan 7.657 7.294 .372 1.050 .334

(10)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

181

peningkatan jumlah Pakan (X2) sebanyak 1 Kg maka akan meningkatkan

Jumlah Pendapatan (Y) sebesar 3.311 rupiah dengan asumsi variabel lain tetap. 4) Pengaruh variabel Obat-obatan (X3) terhadap Tingkat Pendapatan (Y).

Berdasarkan perhitungan dengan program SPSS, maka diperoleh nilai koefisien regresi variabel Obat-obatan (X3), adalah sebesar 7.657. Artinya untuk setiap

peningkatan jumlah Obat- obatan (X3) sebanyak 1 Liter maka akan

meningkatkan Jumlah Pendapatan (Y) sebesar 7.657 satuan dengan asumsi variabel lain tetap.

Hasil Uji-t

Uji-t digunakan untuk melihat signifikansi pengaruh masing- masing variabel (secara parsial) antara variabel Bibit (X1), Variabel Pakan (X2), dan

Variabel Obat-obatan (X3) signifikan terhadap Tingkat Pendapatan (Y). Berikut

hasil perhitungan thitung serta tingkat signifikansi masing-masing variabel X

terhadap variabel Y

Tabel 4.2 Uji-t

Variabel T hitung T tabel Keterangan

Bibit 4.032 1.943 t-hitung > t-tabel Pakan 2.935 1.943 t-hitung > t-tabel Obat-obatan 1.050 1.943 t-hitung < t-tabel (Sumber : SPSS 16 lampiran II)

Untuk lebih jelasnya, berikut akan diuraikan makna dari hasil analisis masing-masing variabel Bibit (X1), Variabel Pakan (X2), dan Variabel

Obat-obatan (X3) signifikan terhadap Tingkat Pendapatan (Y).

a) Tingkat signifikansi pengaruh variabel Bibit (X1) terhadap Tingkat Pendapatan

(Y).

Dari hasil perhitungan data dengan SPSS diperoleh thitung untuk variabel

Bibit (X1) sebesar 4,032 dengan nilai signifikan 0,007. Sedangkan nilai ttabel pada

tingkat derajat kebebasan df = 10 – 4 = 6 pada α = 5 % (0,05) adalah 1,943. Apabila thitung sebesar 4.032 dibandingkan dengan nilai ttabel sebesar sebesar

1,943, maka nilai thitung tersebut lebih besar dari pada ttabel (4,032 > 1,943) yang

berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini dapat dilihat dari nilai perbandingan antara nilai signifikan yang dicapai sebesar 0,007 yang berarti tingkat kesalahan lebih kecil dari 5%. Uji t dilakukan uji dua arah (2 tailed) sehingga cara baca t tabelnya sedikit berbeda, t tabel dibaca pada t ½ α atau t ½ (0,05) atau t 0,025. Dengan demikian variabel Bibit (X1) memiliki pengaruh yang signifikan

(11)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

182 α = 0.025 α = 0.025 -4,032 0 1.943 4,032 k HO ditola HO ditolak α = 0.025 α = 0.025 -2,935 0 1.943 2,935 k HO ditola HO ditolak Gambar 4.3 Hasil Destribusi t (Variabel

X1)

b) Tingkat signifikansi pengaruh variabel Pakan (X2) terhadap Tingkat

Pendapatan (Y).

Dari hasil perhitungan data dengan SPSS diperoleh thitung untuk variabel

Benur (X2) sebesar 2,935 dengan nilai signifikan 0,026. Sedangkan nilai ttabel

pada tingkat derajat kebebasan df = 10 – 4 = 6 pada α = 5 % (0,05) adalah 1,943. Apabila thitung sebesar 2,935 dibandingkan dengan nilai ttabel sebesar sebesar

1,943, maka nilai thitung tersebut lebih besar dari pada ttabel (2,935 > 1,943) yang

berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini dapat dilihat dari nilai perbandingan antara nilai signifikan yang dicapai sebesar 0,026 yang berarti tingkat kesalahan lebih kecil dari 5%. Uji t dilakukan uji dua arah (2 tailed) sehingga cara baca t tabelnya sedikit berbeda, t tabel dibaca pada t ½ α atau t ½ (0,05) atau t 0,025. Dengan demikian variabel Pakan (X2) memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap Tingkat Pendapatan (Y).

Gambar 4.4 Hasil Destribusi t (Variabel

X2)

c) Tingkat signifikansi pengaruh variabel Obat-obatan (X3)

(12)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

183 α = 0.025 α = 0.025 -1,050 0 1,050 1,943 k HO ditola HO ditolak

Dari hasil perhitungan data dengan SPSS diperoleh thitung untuk variabel

Benur (X3) sebesar 1.050 dengan nilai signifikan 0,334. Sedangkan nilai ttabel

pada tingkat derajat kebebasan df = 10 – 4 = 6 pada α = 5 % (0,05) adalah 1,943. Apabila thitung sebesar 2,935 dibandingkan dengan nilai ttabel sebesar sebesar

1,943, maka nilai thitung tersebut lebih kecil dari pada ttabel (1,050 < 1,943) yang

berarti Ha ditolak dan Ho diterima. Hal ini dapat dilihat dari nilai perbandingan antara nilai signifikan yang dicapai sebesar 0,334 yang berarti tingkat kesalahan lebih besar dari 5%. Uji t dilakukan uji dua arah (2 tailed) sehingga cara baca t tabelnya sedikit berbeda, t tabel dibaca pada t ½ α atau t ½ (0,05) atau t 0,025. Dengan demikian variabel Obat-obatan (X3) tidak memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap Tingkat Pendapatan (Y).

Gambar 4.5 Hasil Destribusi t (Variabel

X3)

Hasil Uji-F

Untuk menguji ada tidaknya peran variabel bebas (independent) secara bersama-sama terhadap variabel terikat (dependent) dapat diketahui dengan menggunakan uji-F. Berikut akan disajikan hasil perhitungan uji F dengan menggunakan SPSS:

Tabel 4.6 Uji-F

ANOVAb

Model Sum of

Squares

df Mean Square F Sig.

1 Regression 181.621 3 60.540 11.006 .007a

Residual 33.004 6 5.501

(13)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

184

a. Predictors: (Constant), Obat-obatan, Bibit, Pakan b. Dependent Variable: Tingkat Pendapatan

(Sumber : SPSS 16 lampiran I)

Dari diatas dapat diketahui Fhitung sebesar 11.006 dengan tingkat signifikan

0.007. Sedangkan jika dibandingkan dengan Ftabel ditentukan berdasarkan tabel

dengan tingkat signifikan 5 % (0,05) dan df1 = (k-1) = 3 serta df2 = (n-k) = 6. Sehingga diperoleh nilai Ftabel sebesar 4,76 karena nilai Fhitung > Ftabel (11,006 >

4,76) maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya variabel bebas yang terdiri dari Obat- obatan, Bibit, dan Pakan secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Pendapata.

Gambar 4.7 Hasil Distribusi F

4,76 11,006 Interpretasi Hasil Analisis

Hasil pengujian Regresi Linier Berganda di temukan persamaan Regresi sebagai berikut : Tingkat Pendapatan = 0.461 + 4.876x1 + 3.311x2 + 7.654x2 + e

Sedangkan hasil pengujian hipotesis Uji-t variabel Obat-obatan (X3) membuktikan bahwa Obat-obatan tidak berpengaruh positif signifikan secara parsial terhadap Tingkat Pendapatan sedangkan variable Benur dan Pakan memiliki pengaruh positif signifikan secara parsial terhadap Tingkat Pendapatan yang berarti semakin banyak benur dan pakan maka dapat meningkatkan Tingkat Pendapatan usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

Dan hasil pengujian hipotesi Uji-F Variabel Bibit, Pakan, dan Obat-obatan secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pendapatan usaha tambak udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan analisis penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1) Secara persial variabel Bibit (X1) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan HO diterima

(14)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

185

terhadap tingkat pendapatan (Y) usaha tambak udang Vaname Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

2) Secara persial variabel Pakan (X2) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap tingkat pendapatan (Y) usaha tambak udang Vaname Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa. 3) Secara persial variabel Bibit (X3) tidak memiliki pengaruh yang positif dan

signifikan terhadap tingkat pendapatan (Y) usaha tambak udang Vaname Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa. 4) Secara Simultan variabel Bibit (X1), Pakan (X2), dan Bibit (X3) memiliki

pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pendapatan (Y) usaha tambak udang Vaname Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa.

Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian maka penulis memberikan saran sebagai berikut:

1) Pemilik udang Vaname di Dusun Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa bila ingin meningkatkan kembali tingkat pendapatan usaha udang sebaiknya lebih meningkatkan lagi jumlah benur yang di tebar, semakin banyak benur yang ditebar maka hasil panen akan semakin banyak. Serta slalu menjaga kesehatan udang vename dengan memberikan obat-obatan agar udang tetap sehat sampai masa panen.

2) Bagi peneliti selanjutnya dengan tema yang sama diharapakan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam terkait dengan jumlah benur, jumlah pakan, dan obat-obatan terhadap tingkat pendapatan dengan metode penelitian yang sama dan tempat serta referensi waktu yang berbeda guna mendapat sudut pandang (aspek) dan keberlakuan temuan ini secara lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

Agus irianto.2007. Statistika Konsep Dasar Dan Aplikasinya. Kencana Prenada Media Group. Jakarata

Akhmad Mustafa dan Erna Ratnawati (2007). Faktor-Faktor Dominan yang

mempengaruhi Produktivitas Tambak di Kabupaten Pinrang. Sulawesi

Selatan

Arifianty, S dkk (2008). Optimalisasi Input Produksi Budidaya Udang Vaname

(Litopenaeus vannamei) pada UD Jasa Hasil Diri(JHD) Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu. Jawa Barat

Boone, Kurtz. 2004.Manajemen Biaya. Saleba Empat. Jakarta

Ghufran. 2011. Buku Pintar Akuabisnis. Gema Buku Nusantara. Bandung Gujarati.2003. Ekonometrika Dasar. Erlangga. Jakarata

(15)

ISSN (P) : 2089-1210, E-ISSN : 2580-7285

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 2, Agustus 2017

186

Haryoko.2003. Pengaruh Kepemimpinan Dan Motivasi Kerja Terhadap

Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta

Heru Susilo (2007). Analisis Ekonomi Usaha Budidaya Tambak dan Faktor-

Faktor yang Mempengaruhi Produksi. Kabupaten Kutai

Kusnadi. 2006.Akuntansi Keuangan Menengah. Salemba Empat. Jakarta

Lungan.2006. Aplikasi Statistik dan Hitungan Peluang. Graha Ilmu. Yogyakarta Manulang.2006. Dasar Dasar Manajemen. Gadja Mada. Yogyakarta

Mulyani.2007. Sitem Akuntansi. UGM. Jakarta

Murti Sumarni.2008. Dasar Dasar Ekonomi Perusahaan. Lapak Toko Sibukmainbuku. Jakarta.

Swastha.2003. Manajemen Pemasaran Modern. Graha Ilmu. Yogyakarta

Sofjan Assauri.2007. Manajemen produksi dan operasi. Lembaga penerbit FEUI. Yogyakarta

Sugiono.2009. Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabet. Bandung Sugiono.2013. Metode Penelitian Manajemen : Pendekatan Kuantitatif Kualitatif.

Alfabet. Bandung

Suharsimi.2006. Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan. Aneka Cipta. Jakarta Sukirno.2000. Makro Ekonomi Modern. PT. Raja Grafindo Perkasa. Yogyakarta Theodurus M.Tuanakotta. 2000. Teori Akuntansi. Salemba Empat. Jakarta

Gambar

Tabel 4.1  Regresi Linier Berganda
Tabel 4.2 Uji-t
Gambar 4.4  Hasil Destribusi t (Variabel
Gambar 4.5  Hasil Destribusi t (Variabel
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil perhitungan juga menunjukkan bahwa untuk konsentrasi hingga sekitar 30 % maka rapat daya pada bagian elemen C-MA masih lebih rendah dari nilai pada ring di bagian luar,

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode dan konsentrasi pemberian asap cair pada bakso ikan tenggiri yang memiliki tingkat kesukaan paling tinggi,

Sehingga 6-sigma otomatis lebih baik daripada 4-sigma, 4-sigma lebih baik daripada 3-sigma.Six Sigma juga dapat dianggap sebagai strategi terobosan yang memungkinkan

Rineka Cipta. Teori-teori belajar dan aplikasi pembelajaran motorik deskripsi dan tinjauan kritis. Bandung: Nusa Media. Analisa faktor-faktor penyebab peserta didik

Multiple Channel Single Phase atau jalur ganda satu tahap pelayanan yaitu sistem yang hanya terdapat satu jalur antrian dengan dua atau lebih fasilitas pelayanan..

Tulisan ini merupakan studi literatur dengan mengidentifikasi tanaman fitotelmata yang berpotensi sebagai tempat perindukan nyamuk. Sumber pustaka yang digunakan adalah artikel

Meskipun hilangnya penglihatan ini bersifat reversibel saat etambutol diturunkan dosisnya atau dihentikan, beberapa pasien mengalami gangguan penglihatan permanen

Suatu aspek penting dalam prsedur konsultasi GATT dan WTO merupakan ciri khas yang berbeda dari prosedur negosiasi pada umumnya adalah ciri transparansi yang