• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN DISERTASI DOKTOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN DISERTASI DOKTOR"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN DISERTASI DOKTOR

PENGEMBANGAN MODEL OPTIMASI

SUPERSTRUCTURE MODEL UNTUK MENDAPATKAN

SKENARIO OPTIMAL SISTEM PENYEDIAAN AIR

MINUM TERINTEGRASI

Oleh:

Evi Afiatun, Ir., MT. (NIDN: 0404096902)

Dibiayai oleh DIPA Kopertis Wilayah IV

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sesuai dengan Surat Perjanjian

Penugasan Penelitian Disertasi Doktor No. 1074/K4/KM/2014 tanggal 5 Mei 2014

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN

UNIVERSITAS PASUNDAN

Desember 2014

REKAYASA (KETEKNIKAN) TEKNIK LINGKUNGAN

(2)

1

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian

: Pengembangan Model Optimasi Superstructure Model untuk

Mendapatkan Skenario Optimal Sistem Penyediaan Air Minum

Terintegrasi

Judul Disertasi

:Optimasi Potensi Sumber Air Melalui Konsep Sistem

Penyediaan Air Minum Terintegrasi dengan Menggunakan

Metode AHP dan Superstructure Model (Studi Kasus Kota

Bandung)

Kode/Nama Rumpun Ilmu:422/Teknik Lingkungan

Peneliti/ Pelaksana

Nama Lengkap

: Evi Afiatun, Ir., MT.

NIDN

: 0404096902

Jabatan Fungsional

: Lektor

Program Studi

: Teknik Lingkungan

Nomor HP

: 0816626049

Alamat surel (e-mail)

:

[email protected]

NIM

: 35311002

PT Penyelenggara

: Institut Teknologi Bandung

Program Doktor

: Teknik Lingkungan

Nama Promotor

: Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D.

NIDN Promotor

: 0009125401

Tahun Pelaksanaan

: Tahun ke 1 dari rencana 1 tahun

Biaya Tahun Berjalan

: Rp 47.500.000

Biaya Keseluruhan

: Rp 47.500.000

Bandung, 15-12- 2014

Mengetahui,

Ketua Lembaga Penelitian

Ketua Peneliti,

Universitas Pasundan

(Dr. Yaya M. Abdul Azis, M.Si)

(EVI AFIATUN, IR., MT..)

NIPY 151 101 56

NIPY: 151 101 79

Menyetujui,

Ketua Lembaga Penelitian

Universitas Pasundan

(Dr. Yaya M. Abdul Azis, M.Si)

NIPY 151 101 56

(3)

2

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

ABSTRAK ... 5

DAFTAR ISI... 1

DAFTAR TABEL ... 3

DAFTAR GAMBAR ... 4

BAB I PENDAHULUAN ... 7

1.1

Latar Belakang ... 7

1.2

Perumusan Masalah ... 11

1.3

Maksud dan Tujuan ... 11

1.4

Hipotesis ... 11

1.5

Ruang Lingkup Penelitian ... 12

1.6

Urgensi dan Kebaruan Penelitian ... 12

1.7

Manfaat Penelitian ... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 13

2.1

Millenium Development Goals (MDGs) ... 9

2.2

Air Minum ... 10

2.3

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) ... 11

2.4

Optimasi Sistem Penyediaan Air Minum ... 17

2.4.1 Optimasi dengan Superstructure Model ... 18

2.4.2 Valuasi Lingkungan ... 23

2.5

Studi Terdahulu dan State of the Art ... 20

2.5.1 Penelitian-Penelitian Mengenai SPAM Perkotaan Terintegrasi ... 20

2.5.2 Penelitian-Penelitian Mengenai Optimasi SPAM Perkotaan ... 21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 28

3.1

Waktu dan Lokasi Penelitian ... 28

3.2

Tahapan Penelitian ... 28

3.3

Variabel dan Parameter yang Digunakan Dalam Penelitian ... 31

3.4

Jenis dan Sumber Data ... 33

(4)

3

BAB IV IDENTIFIKASI POTENSI SUMBER AIR DAN KINERJA IPAM ... 34

4.1

Kebutuhan Air Kota Bandung ... 31

4.2

Sistem Penyediaan Air Minum Eksisting Kota Bandung ... 31

4.2.1 Daerah Pelayanan dan Cakupan Pelayanan PDAM Kota Bandung ... 31

4.2.2 Sistem Air Baku ... 36

4.2.3 Instalasi Pengolahan Air Minum PDAM Kota Bandung ... 37

4.2.4 Kondisi Eksisting IPAM Dago Pakar ... 39

4.2.1.1. Pengukuran Debit Pada Intake Bantar Awi Sungai Cikapundung ... 39

4.2.1.2. Hasil Pemeriksaan Kualitas Air Baku dan Air Hasil Olahan ... 40

4.3

Potensi Sumber Air Baku di Kawasan Cekungan Bandung ... 42

4.3.1. Kawasan Cekungan Bandung... 42

4.3.2. Sumber air yang memiliki potensi sebagai sumber air baku ... 45

4.4

Skema Superstrukture Model ... 50

BAB V KESIMPULAN ... 53

DAFTAR PUSTAKA ... 55

(5)

4

DAFTAR TABEL

Tabel 3. 1 Variabel dan Parameter yang digunakan dalam studi ... 26

Tabel 4. 1 Idle Capacity pada instalasi air permukaan ... 31

Tabel 4. 2 Idle Capacity pada instalasi air tanah dan mata air ... 32

Tabel 4. 3 Potensi Pengembangan Sumber Air Baku dari Sungai-Sungai di Cekungan

Bandung ... 40

Tabel 4. 4 Potensi Pengembangan Sumber Mata Air di Wilayah Cekungan Bandung ... 41

Tabel 4. 5 Potensi pengembangan sumber air baku di Cekungan Bandung ... 42

(6)

5

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Permasalahan yang dihadapi PDAM ... 3

Gambar 2. 1 SPAM Perkotaan : ... 10

Gambar 2. 2 Superstructure model yang digunakan untuk menyatukan dan mengintegrasi

sistem air minum perkotaan. ... 13

Gambar 2. 3 State of the Art Penelitian... 20

Gambar 3. 1 Diagram Alir Penelitian ... 22

Gambar 4. 1 Proyeksi kebutuhan air dan supply air dari PDAM... 28

Gambar 4. 2 Peta daerah pelayanan PDAM Kota Bandung ... 29

Gambar 4. 3 Skema kondisi eksisting sumber air dan IPAM PDAM Kota Bandung ... 32

Gambar 4. 4 Hasil pengukuran debit sumber air dan debit produksi di IPAM Dago Pakar .... 33

Gambar 4. 5 Fluktuasi kekeruhan pada air baku di IPAM Bantar Awi ... 34

Gambar 4. 6 Fluktuasu kekeruhan di air produksi IPAM Bantar Awi ... 35

Gambar 4. 7 Deliniasi Kawasan Cekungan Bandung ... 37

Gambar 4. 8 Peta Lokasi Wilayah Cekungan Bandung pada DAS Citarum Hulu ... 38

Gambar 4. 9 Seluruh potensi air baku di Cekungan Bandung ... 43

Gambar 4. 10 Skema superstructure untuk kondisi eksisting SPAM Kota Bandung ... 44

Gambar 4. 11 Skema Superstructure untuk rencana SPAM Kota Bandung (skenario 1) ... 45

Gambar 4. 12 Skema Superstructure untuk rencana SPAM Kota Bandung (skenario 2)... 46

(7)

6

ABSTRAK

PENGEMBANGAN MODEL OPTIMASI SUPERSTRUCTURE MODEL

UNTUK MENDAPATKAN SKENARIO OPTIMAL

SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM TERINTEGRASI

Pelayanan air minum pada saat ini masih belum mampu mengimbangi

perkembangan kebutuhan masyarakat secara nasional, baik di perkotaan maupun di

perdesaan. Mengacu kepada target Millenium Development Goals (MDGs),

diharapkan pada tahun 2015 tingkat akses terhadap air minum aman dapat mencapai

68,87% dengan komposisi yang terdiri dari sistem perpipaan di perkotaan sebesar

68,32% dan perpipaan di perdesaan sebesar 19,76%. Masalah-masalah yang

dihadapi oleh pengelola air minum, dalam hal ini Perusahaan Daerah Air Minum

(PDAM) terdiri dari 3 (tiga) komponen utama, yaitu : masalah kinerja manajemen,

masalah kinerja keuangan, dan masalah kinerja teknis. Masalah kinerja teknis terdiri

dari 4 (empat) komponen, yaitu : masalah air baku, kebocoran jaringan, illegal

connection, dan masalah infrastruktur yang minim (Perpamsi, 2010). Pada penelitian

ini akan dilakukan optimasi kualitas dan kuantitas dari potensi sumber air baku di

wilayah Cekungan Bandung dan memanfaatkan alokasi air untuk Sistem Penyediaan

Air Minum (SPAM) Kota Bandung dengan menerapkan konsep SPAM terintegrasi.

Konsep SPAM terintegrasi merupakan konsep yang akan diterapkan di Kota

Bandung dengan tujuan untuk efisiensi sumber air baku alami. Penelitian dilakukan

dalam 4 (empat) tahap, yaitu tahap 1 (satu) merupakan identifikasi potensi sumber

air baku di wilayah Cekungan Bandung dan evaluasi terhadap kinerja Instalasi

Pengolahan Air Minum (IPAM) PDAM Kota Bandung. Tahap 2 (dua) merupakan

pengembangan

suatu

model

optimasi

(superstructure

model)

dengan

mempertimbangkan kondisi SPAM di Kota Bandung. Tahapan ini diawali dengan

menentukan skenario-skenario awal SPAM terintegrasi, kemudian menyusun

persamaan superstructure model. Pada Tahap 3 (tiga), dilakukan optimasi potensi

sumber air dengan konsep SPAM terintegrasi, terhadap masing-masing skenario

dilakukan pengujian dengan menggunakan software optimasi GAMS. Pada Tahap 4

(empat) skenario-skenario SPAM terintegrasi yang telah dijui menggunakan

software optimasi dilengkapi dengan hasil estimasi terhadap biaya dan reduksi

dampak lingkungan sehingga akan didapatkan skenario SPAM terintegrasi terpilih.

Pada penelitian dengan pendanaan Penelitian Disertasi Doktor ini difokuskan pada

penelitian tahap 2 dari keseluruhan rangkaian penelitian disertasi. Tahapan ini

diawali dengan menentukan skenario-skenario awal SPAM terintegrasi, kemudian

menyusun persamaan superstructure model, melakukan input data sehingga

didapatkan skenario-skenario yang optimal.

Kata-kata kunci : air baku, air minum, kinerja, model optimasi, SPAM terintegrasi,

superstructure model

(8)

7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 2011 beban populasi dunia telah mencapai 7 milyar dan akan terus

meningkat menjadi 9 milyar jiwa pada tahun 2050 (UN, 2011 dalam Kirmanto,

2012). Hal ini mengakibatkan kebutuhan terhadap air, pangan, dan energi akan

menjadi semakin krusial. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya air terbesar

kelima di dunia dengan potensi cadangan sumber daya air yang tersebar di seluruh

tanah air (Kirmanto, 2012). Berdasarkan besarnya potensi sumber daya air serta

jumlah penduduk, secara nasional Indonesia memiliki ketersediaan air per kapita

sebesar 16.600 m

3

/tahun, tetapi secara geografis ketersediaan air per kapita antar

kepulauan Indonesia sangat bervariasi. Setengah dari total penduduk di Indonesia

yang tinggal di Pulau Jawa mendapatkan air 1.210 m

3

/kapita/tahun atau hanya

sekitar 7% terhadap rata-rata ketersediaan air per kapita di Indonesia (Kirmanto,

2012).

Indonesia menghadapi banyak tantangan dalam upaya untuk mencapai Tujuan

Pembangunan Milenium 2015 di bidang penyediaan air minum bagi penduduk.

Pelayanan air minum pada saat ini masih belum mampu mengimbangi

perkembangan kebutuhan masyarakat secara nasional, baik di perkotaan maupun di

perdesaan. Masalah-masalah yang kompleks dan multidimensional dengan tingkat

ketidakpastian yang tinggi masih dihadapi oleh mayoritas pengelola air minum di

Indonesia. Perencanaan dan kebijakan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)

perkotaan yang efektif diperlukan untuk mengatasi permasalahan air yang muncul

akibat pertumbuhan penduduk dan urbanisasi (Lim dkk., 2010). Berdasarkan data

dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya tahun 2011, cakupan pelayanan air

minum perpipaan nasional sebesar 25,56% dengan komposisi 43,96% pelayanan di

perkotaan dan 11,54% pelayanan di perdesaan (Ditjen Cipta Karya, 2011). Mengacu

kepada target Millenium Development Goals (MDGs), diharapkan pada tahun 2015

tingkat akses terhadap air minum aman dapat mencapai 68,87% dengan komposisi

(9)

8

yang terdiri dari sistem perpipaan di perkotaan sebesar 68,32% dan perpipaan di

perdesaan sebesar 19,76%.

Isu dan permasalahan di bidang air minum berdasarkan PerMen PU Nomor :

20/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem

Penyediaan Air Minum (KSNP-SPAM), meliputi :

Peningkatan cakupan dan kualitas

Pendanaan

Kelembagaan dan perundang-undangan

Air Baku

Peran Masyarakat

Dilihat dari sisi lain, masalah-masalah yang dihadapi oleh pengelola air minum,

dalam hal ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terdiri dari 3 (tiga) komponen

utama, yaitu : masalah kinerja manajemen, masalah kinerja keuangan, dan masalah

kinerja teknis, seperti yang tertera pada Gambar 1.1. Masalah kinerja teknis terdiri

dari 4 (empat) komponen, yaitu : masalah air baku, kebocoran jaringan, illegal

connection, dan masalah infrastruktur yang minim (Perpamsi, 2010).

Permasalahan aspek teknis yang berkaitan dengan air baku terdiri dari beberapa

permasalahan utama, yaitu (Perpamsi, 2010) :

1. Sumber air baku, meliputi aspek :

Tidak ada lagi sumber air yang dapat dieksplorasi di wilayah administrasi

Konflik antarwilayah dalam pemanfaatan air baku lintas wilayah

Konflik dengan pengguna Sumber Daya Air (SDA) lainnya (petani,

pengusaha)

2. Debit sumber air yang tidak mencukupi, meliputi aspek :

Konflik dengan pengguna SDA lainnya (petani, pengusaha)

Perubahan musim, khususnya musim kemarau

Kerusakan lingkungan/ gangguan pada catchment area dan Daerah Aliran

Sungai (DAS).

(10)

9

3. Kualitas air baku, meliputi aspek :

Pencemaran limbah industri dan rumah tangga

Sedimentasi akibat erosi/ kerusakan lingkungan di hulu

Gambar 1. 1 Permasalahan yang dihadapi PDAM

Laju pertumbuhan perkotaan di Indonesia selama dekade terakhir jauh lebih cepat

dibandingkan investasi yang masih terbatas dalam infrastruktur air minum. Populasi

perkotaan yang dilayani oleh jaringan air perpipaan telah menurun dari 39 persen

menjadi 31 persen selama sepuluh tahun terakhir. Rendahnya tingkat investasi ini

disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk desentralisasi yang cepat dengan

kecepatan transfer fungsi yang lebih tinggi daripada peningkatan kapasitas

kelembagaan dan kondisi keuangan PDAM yang memburuk sejak terjadinya krisis

keuangan tahun 1997.

Saat ini PDAM Kota Bandung baru mampu melayani ± 72.19 % dari jumlah

penduduk kota Bandung, yaitu sebanyak 1.789.836 jiwa (website PDAM Kota

Bandung, diunduh 17 Juli 2013), sedangkan target nasional pelayanan air bersih

untuk skala kota besar pada tahun 2020 sebesar 85% (Ditjen Cipta Karya, 2011). Hal

ini disebabkan semakin meningkatnya kebutuhan air bersih dari tahun ke tahun yang

dikarenakan adanya pertambahan penduduk, kemajuan teknologi serta peningkatan

ekonomi masyarakat, sementara debit air baku yang diolah PDAM sampai dengan

bulan Juli 2011, hanya sebesar 2.546,14 l/detik dengan besaran yang relatif tetap,

PERMASALAHAN TEKNIS PERMASALAHAN KEUANGAN PERMASALAHAN MANAJEMEN

(11)

10

bahkan dengan air baku yang bersumber dari air tanah dan mata air yang semakin

menurun (Corporate Plan, PDAM Tirtawening Kota Bandung 2007-2011).

Hasil kajian Dinas Perumahan dan Permukiman menunjukkan bahwa apabila

seluruh pembangunan waduk di Cekungan Bandung terealisasi, maka akan

menghasilkan ketersediaan air baku sebesar 3400 l/detik. Namun penambahan

jumlah ketersediaan air baku tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan

sampai tahun 2015. Untuk penambahan pengambilan air baku selanjutnya perlu

mencari alternatif sumber air baku lainnya. Salah satu alternatif yang memberikan

peluang cukup besar adalah Waduk Saguling. Sebagai sumber air baku, Waduk

Saguling dengan status tercemar sedang mengalami hambatan dari aspek kualitas

sehingga pengendalian air, baik di DAS (watershed) maupun di badan air mutlak

dilakukan agar proses recovery air Waduk Saguling dapat memenuhi laju

permintaan air bersih di Kawasan Strategis Nasional (KSN) Cekungan Bandung

(Marganingrum, 2013).

Permasalahan air baku akan menjadi sorotan utama dalam penelitian ini dikaitkan

dengan optimasi potensi air baku di seluruh kawasan Cekungan Bandung terhadap

SPAM di Kota Bandung. Pada instalasi pengolahan air PDAM Kota Bandung

eksisting masih terdapat idle capacity antara kapasitas produksi IPAM eksisting

dibandingkan dengan kapasitas disain, sehingga membutuhkan tambahan pasokan

air baku.

Permasalahan lain adalah semakin tingginya pemakaian air tanah baik sebagai air

baku PDAM maupun sumber air bagi industri. Air tanah merupakan sumber air yang

tidak terbarukan sehingga perlu dilindungi keberadaannya. Pemakaian air tanah yang

tinggi mengakibatkan terjadinya penurunan muka air tanah, dan lambat laun

mengakibatkan turunnya permukaan tanah sebagai dampak lanjutan.

Optimasi seluruh potensi sumber air di kawasan Cekungan Bandung terhadap SPAM

Kota Bandung diharapkan dapat mengurangi pemakaian air tanah di Kota Bandung

yang semakin meningkat.

(12)

11

1.2 Perumusan Masalah

Dari uraian pada latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yang

hendak diteliti adalah sebagai berikut :

• Pasokan alternatif sumber air baku diperlukan untuk meningkatkan cakupan

pelayanan PDAM Kota Bandung

• Masih terdapat idle capacity pada IPAM eksisting PDAM Kota Bandung.

• Pemakaian air tanah yang semakin tinggi membutuhkan alternatif sumber air

baku yang lain

• Terdapat potensi air limbah terolah dan air hujan sebagai air baku alternatif yang

belum dimanfaatkan

• Perlu dilakukan identifikasi dan optimasi potensi sumber air di Kota Bandung

melalui konsep SPAM terintegrasi dengan mempertimbangkan kebutuhan air

baku yang semakin tinggi, pemakaian air tanah yang semakin meningkat, air

limbah terolah dan air hujan yg belum dimanfaatkan

1.3 Maksud dan Tujuan

Dilihat dari perumusan masalah, maka maksud dari penelitian ini adalah : Mencari

berbagai potensi sumber air baku air minum di Kota Bandung melalui konsep SPAM

terintegrasi dan melakukan optimasi sumber air sehingga dapat meminimasi

pemakaian air dari luar kota Bandung dan air tanah sebagai sumber air yang tidak

terbaharui

Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dengan dilakukannya studi ini adalah optimasi

potensi sumber air minum di Kota Bandung melalui konsep SPAM terintegrasi

untuk meminimasi pemakaian sumber air dari luar Kota Bandung dan air tanah

sebagai sumber air yang tidak terbaharui

1.4 Hipotesis

Optimasi potensi sumber air minum melalui penerapan konsep SPAM terintegrasi

di Kota Bandung dengan mempertimbangkan faktor-faktor kualitas, kuantitas,

kontinuitas, akan meminimasi pemanfaatan sumber air dari luar Kota Bandung.

(13)

12

SPAM terintegrasi yang optimal akan menghasilkan biaya operasi dan

pemeliharaan sistem yang optimal, serta mereduksi dampak lingkungan.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian ini adalah :

Kajian seluruh potensi sumber air dan kinerja instalasi pengolahan air minum

eksisting PDAM Kota Bandung baik kuantitas, kualitas, kontinuitas

Pemetaan kondisi eksisting SPAM Kota Bandung ke dalam konsep

Superstructure Model

Mengembangkan Superstructure Model untuk melakukan optimasi potensi

sumber air dengan konsep SPAM terintegrasi

Melakukan estimasi biaya dan reduksi dampak lingkungan terhadap skenario

SPAM terintegrasi yang paling optimal

Laporan ini akan membahas ruang lingkup penelitian, khususnya tahap ke-2 dari

keseluruhan penelitian, yaitu

Pengembangan Superstructure Model untuk melakukan optimasi potensi sumber air

dengan konsep SPAM terintegrasi

1.6 Urgensi dan Kebaruan Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan memiliki aspek urgensi dan kebaruan yaitu :

optimasi kuantitas, kualitas, dan kontinuitas potensi sumber air minum dengan

menerapkan konsep SPAM terintegrasi di Kota Bandung menggunakan

superstructure model

1.7 Manfaat Penelitian

Manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah dengan melakukan optimasi

potensi sumber air di Kota Bandung melalui konsep SPAM terintegrasi akan

membantu menemukan solusi permasalahan kekurangan air baku, meminimasi

penggunaan air tanah, dan mereduksi biaya SPAM di Kota Bandung.

(14)

13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Millenium Development Goals (MDGs)

MDGs merupakan paradigma pembangunan global yang disepakati secara

internasional oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Millenium PBB pada Bulan September 2000.

Majelis Umum PBB kemudian melegalkannya ke dalam Resolusi Majelis Umum

Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 55/2 tanggal 18 September 2000 Tentang

Deklarasi Millenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (A/RES/55/2. United Nations

Millenium Declaration)

Lahirnya Deklarasi Millenium merupakan buah perjuangan panjang negara-negara

berkembang dan sebagian negara maju. Deklarasi ini menghimpun komitmen para

pemimpin dunia, yang belum pernah terjadi sebelumnya, untuk menangani isu

perdamaian, keamanan, pembangunan, hak asasi, dan kebebasan fundamental dalam

satu paket. Negara-negara anggota PBB kemudian mengadopsi MDGs. Setiap tujuan

MDGs memiliki satu atau beberapa target berikut indikatornya. MDGs

menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus utama pembangunan serta

memiliki tenggat waktu dan kemajuan yang terukur. MDGs didasarkan atas

konsensus dan kemitraan global, sambil menekankan tanggungjawab negara

berkembang untuk melaksanakan pekerjaan rumah mereka, sedangkan negara maju

berkewajiban mendukung upaya tersebut (Laporan Perkembangan Pencapaian

Millennium Development Goals Indonesia, 2007).

Menurut (Slamet 2010), MDGs dapat diartikan sebagai komitmen para pemimpin

dunia untuk dapat mewujudkan perdamaian, keamanan, perkembangan, hak asasi

manusia, dan kebebasan sebagai dasar strategi global yang koheren dengan waktu

dan indikator yang ditentukan.

Berdasarkan komitmen tersebut, ditetapkan 8 tujuan MDGs yang harus

diperjuangkan, yaitu :

(15)

14

Pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial

Peningkatan pendidikan

Kesetaraan gender dan penguatan peran perempuan

Mengurangi angka kematian anak

Perbaikan kesehatan ibu hamil dan menekan kematian ibu melahirkan

Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain

Menjamin kelestarian lingkungan

Mengembangkan kerjasama global untuk kemajuan

Masing-masing tujuan tersebut selanjutnya diejawantahkan dalam target dan sasaran

terukur yang harus dicapai sebelum tahun 2015, yaitu antara lain :

Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan di dalam

kebijakan dan program pemerintahan

Mengurangi setengah dari proporsi penduduk yang tidak memiliki akses

terhadap keamanan, keberlanjutan sumber-sumber air minum dan fasilitas

sanitasi dasar pada tahun 2015

Mencapai kemajuan hidup yang signifikan bagi penduduk miskin yang

tinggal di daerah kumuh pada tahun 2020.

2.2 Air Minum

Sebelum diterapkannya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

(Permenkes RI) nomor 492/Menkes/PER/IV/2010, terminologi air minum yang

dipakai dalam kaitannya dengan air layak minum, belum merupakan istilah resmi

bagi Pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia saat ini masih menggunakan

terminologi air bersih sebagai pengganti terminologi air minum, walaupun standar

teknis dan standar kesehatan hanya mengenal standar air minum dan tidak mengenal

standar air bersih.

Pengertian air minum tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

(PPRI) nomor 16 Tahun 2005 pasal 1 ayat 2, dimana disebutkan air minum adalah

air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses

pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

Sedangkan air bersih (clean water) adalah air yang digunakan untuk keperluan

(16)

15

sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila

telah dimasak. Pengertian air minum tercantum pula dalam Permenkes RI nomor

492/Menkes/PER/IV/2010, dimana air minum (drinking water) didefinisikan sebagai

air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi

syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

Permenkes

RI

nomor

492/Menkes/PER/IV/2010

mengharuskan

setiap

penyelenggara air minum untuk menjamin air minum yang diproduksinya aman bagi

kesehatan. Air minum dikatakan aman bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan

fisik, mikrobiologis, kimiawi dan radioaktif yang dimuat dalam parameter wajib dan

parameter tambahan. Demikian juga segala bentuk Sistem Penyediaan Air Minum di

negara ini wajib memproduksi air minum yang memenuhi standar dan parameter

dimaksud.

2.3 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)

Tujuan utama sistem penyediaan air adalah untuk menyediakan air yang cukup, ke

tempat-tempat yang dikehendaki dengan tekanan yang cukup. Tetapi pada masa kini

ada pembatasan dalam jumlah air yang dapat diperoleh karena pertimbangan

penghematan dan adanya keterbatasan sumber air (Noerbambang dkk., 1993). Pada

kondisi ideal, sumber air dengan kualitas air yang baik dialokasikan untuk sumber

air minum dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan manusia, sedangkan

sumber air yang memiliki kualitas relatif rendah dapat dialokasikan untuk kebutuhan

industri dan pertanian (Lim dkk., 2010).

Dilihat dari sudut bentuk dan tekniknya, sistem penyediaan air bersih dapat

dibedakan atas 2 macam sistem, yaitu : (Chatib 1996).

Sistem penyediaan air bersih individual, yaitu merupakan sistem penyediaan

air bersih untuk penggunaan individual dan untuk pelayanan terbatas.

Sumber air yang digunakan dalam sistem ini umumnya berasal dari air tanah.

Sistem penyediaan air bersih komunitas/perkotaan, yaitu merupakan sistem

penyediaan air bersih untuk masyarakat umum atau skala kota, dan untuk

pelayanan yang menyeluruh, termasuk untuk keperluan rumahtangga

(domestik), sosial, maupun industri.

(17)

16

Kebutuhan air minum di perkotaan saat ini dapat dipenuhi melalui dua sistem yaitu

sistem perpipaan dan sistem non-perpipaan. Sistem perpipaan adalah sistem dimana

penyediaan air minum dilakukan melalui pengelolaan air dari sumbernya sampai ke

wilayah pelayanan (pelanggan) yang biasanya dilakukan oleh PDAM. Sedangkan

sistem non-perpipaan adalah sistem penyediaan air minum yang dapat diperoleh

secara alamiah baik langsung maupun tidak langsung seperti air sumur, air danau, air

sungai, air hujan ataupun sumber-sumber air permukaan lainnya atau bahkan

membeli air dari pedagang air keliling.

SPAM perkotaan konvensional terdiri atas sumber air, sistem pengolahan air sesuai

dengan peruntukannya, dan instalasi pengolahan air buangan, yang selanjutnya air

olahan dari sistem pengolahan air buangan ini dibuang begitu saja ke badan air.

SPAM perkotaan yang terintegrasi menggabungkan seluruh komponen infrastruktur

air minum yang berkaitan dengan penyediaan air, saluran air hujan, dan sistem air

buangan ke dalam suatu sistem untuk efisiensi dan efektivitas pengelolaan air

(Anderson dan Iyaduri, 2003). Sistem air minum perkotaan yang terintegrasi dapat

mereduksi pemakaian sumber air, mengurangi pembuangan air buangan terolah ke

badan air, dan mengembalikan nutrien di dalam air buangan (Otterpohl dkk., 1997;

Terpstra, 1999; Maher dan Lustig, 2003; Rosemarin, 2005; Speers dkk., 2005;

Brown dkk., 2006; Wan Alwi dkk., 2008). Pemanfaatan kembali air buangan dalam

rangkaian sistem air minum perkotaan menjadi suatu sistem yang terintegrasi akan

mendukung menjadi suatu sistem pengelolaan air yang berkelanjutan (Lim dkk.,

2010). SPAM perkotaan baik yang konvensional maupun terintegrasi dapat dilihat

pada Gambar 2.1.

Gambar 2. 1 SPAM Perkotaan :

a. SPAM perkotaan yang linier (konvensional),

b. SPAM perkotaan yang terintegrasi (Lim dkk., 2010)

(18)

17

Berdasarkan Gambar 2.1, perbedaan antara SPAM konvensional dan SPAM

terintegrasi adalah adanya pemanfaatan kembali air hasil olahan air buangan pada

SPAM terintegrasi sebagai salah satu alternatif air baku, sedangkan pada SPAM

konvensional air hasil olahan air buangan langsung dibuang ke badan air.

Pemanfaatan kembali air hasil olahan air buangan pada sistem air minum perkotaan

yang terintegrasi akan menyebabkan adanya parameter-parameter lain yang perlu

dikaji yang bersifat tidak terukur (intangible), seperti persepsi, pola pemakaian air,

dan kepuasan pelanggan terhadap sistem ini.

2.4 Optimasi Sistem Penyediaan Air Minum

Terdapat beberapa penelitian mengenai optimasi SPAM perkotaan yang sudah

dilakukan dengan berbagai metode. Optimasi kehandalan sistem air minum

perkotaan dilakukan dengan metode valuasi dan kontingensi (Howe 1994).

Kehandalan merupakan unsur yang penting dari suatu sistem air perkotaan. Dengan

biaya yang kecil, pelanggan berharap mendapatkan kehandalan yang tinggi.

Tuntutan terhadap kehandalan dapat diukur dengan metode valuasi kontingensi,

sedangkan biaya pemenuhan berbagai tingkat kehandalan dapat diperkirakan melalui

simulasi hidrologi. SPAM perkotaan kini mulai mempertimbangkan tingkat resiko

untuk setiap jenis penggunaan air yang berbeda, misalnya kehandalan SPAM yang

tinggi untuk penggunaan-penggunaan yang esensial yang berkaitan dengan

kesehatan masyarakat, dan tingkat yang lebih rendah untuk pemenuhan kebutuhan

penyiraman taman. Pada kota dengan tingkat kehandalan yang rendah, nilai WTP

(Willingness to Pay) diperkirakan tidak dapat mencukupi biaya untuk meningkatkan

kehandalan, sementara di kota dengan kehandalan sangat tinggi, penghematan biaya

untuk menurunkan kehandalan lebih dari cukup untuk membayar nilai WTA

(Willingness to Accept) melalui pengurangan tagihan air.

Sistem penyediaan air minum yang terdesentralisasi lebih ekonomis dibandingkan

dengan sistem yang terpusat (Chung 2008, Lim 2010). Penelitian optimasi juga

dilakukan terhadap kriteria kualitas air sebagai panduan perencanaan dan

pengelolaan SPAM (Rygaard 2011). Penelitian ini memperkenalkan suatu metode

untuk menilai potensi dalam merencanakan komposisi kualitas air minum yang

optimal dengan menggunakan desalinasi membran dan remineralisasi. Metode ini

(19)

18

meliputi pemodelan dari pencampuran berbagai kualitas air dari sumber air yang

berbeda-beda.

2.4.1. Optimasi dengan Superstructure Model

Superstructrure model dibangun untuk mewujudkan konsep sistem air minum

perkotaan yang terintegrasi. Model ini mengkombinasikan seluruh komponen

infrastruktur air minum perkotaan, yang meliputi komponen sumber-sumber air,

sistem kebutuhan air, dan instalasi pengolahan air buangan (Lim dkk., 2010).

Sumber air meliputi sungai, danau, bendungan, air tanah, dan air hujan (diasumsikan

bahwa beberapa sumber daya air berasal dari daerah lain). Sistem pelayanan air

bersih meliputi lahan pertanian dan rekreasi, serta instalasi pengolahan air minum

dan industri yang terhubung ke konsumen di perumahan, komersial, dan industri.

Sistem pengolahan air buangan meliputi buangan domestik perkotaan dan industri.

Model Superstruktur ini bertujuan untuk memanfaatkan semua peluang sumber air

dan juga menerapkan konsep daur ulang limbah.

Model optimasi ini meliputi:

Fungsi tujuan, yaitu meminimisasi pemakaian air yang berasal dari luar kota

Mass Balance untuk memperlihatkan interkoneksi yang dtunjukkan dalam

superstructure model

Faktor pembatas yang dibutuhkan dalam merepresentasikan kondisi real,

misalnya faktor pembatas dalam menjaga adanya interkoneksi dari Wastewater

Treatment Plant (WWTP) ke Water Demand System (WDS) yang digunakan

untuk air minum, dan membatasi pemakaian air tanah sebagai non renewable

source.

Ilustrasi dari penggunaan superstructure model terhadap sistem penyediaan air

minum perkotaan seperti pada Gambar 2.2 (Lim dkk., 2010)

(20)

19

Gambar 2. 2 Superstructure model yang digunakan untuk menyatukan dan

mengintegrasi sistem air minum perkotaan.

Keterangan :

wr = water resources

wds = water demand system

wwtp = wastewater treatment plant

tww = treated wastewater

dis = discharge

Pada penelitian Lim dkk.(2010), sistem penyaluran air buangan tidak diformulasikan

ke dalam neraca massa karena menyatukan sistem penyediaan air minum dan sistem

penyaluran air buangan pada kenyataannya sangat kompleks. Model matematis juga

tidak mempertimbangkan variabilitas dan ketidaktentuan ketersediaan sumber air

dan kualitasnya, karena penelitian ini menekankan kepada pengelolaan kebijakan

dan perencanaan sistem air bersih perkotaan secara umum.

Rumusan model optimasi superstructure model seperti berikut:

Sebagai fungsi tujuan adalah meminimumkan penggunaan sumber air yang

diambil dari luar wilayah perkotaan.

(21)

20

Minimumkan

(2. 1)

= Debit dari sumber air yang berasal dari luar wilayah perkotaan (imported)

= debit yang mengalir ke wds dari sumber di luar kota

wr = water resources ke-r, dengan r = 1,2,3,dst.

WR = water resources ke-R, dengan R = nilai terakhir dari r

wds = water demand system ke-ds , dengan ds = 1,2,3,dst.

WDS = water demand system ke-DS, dengan DS = nilai terakhir dari ds

Fungsi tujuan ini merupakan persamaan yang melibatkan seluruh sumber air yang

berasal dari luar wilayah perkotaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan

kota. Penjabaran dari fungsi tujuan adalah sebagai berikut :

Neraca Massa pada inlet sistem kebutuhan air

Neraca massa pada inlet sistem kebutuhan air ini terdiri dari 2 (dua) persamaan,

persamaan pertama merupakan neraca massa debit (kuantitas) dari seluruh sumber

air baik yang berada di dalam wilayah perkotaan maupun di luar wilayah perkotaan,

termasuk air hasil olahan WWTP sebagai alternatif air baku dan seluruh sistem

kebutuhan air. Persamaan kedua melibatkan debit (kuantitas) dan kualitas dari

seluruh sumber air dan seluruh sistem kebutuhan air. Persamaan (2) dan (3) ini dapat

diartikan bahwa parameter debit atau pun parameter debit dan konsentrasi kualitas

air dari seluruh sumber air yang akan memenuhi seluruh sistem kebutuhan, sama

dengan debit atau pun debit dan konsentrasi parameter kualitas air yang diperlukan

oleh seluruh sistem kebutuhan.

= 0

(2. 2)

(22)

21

(2. 3)

Penjabaran dari persamaan di atas adalah :

wwtp = waste water treatment plant ke-1,2,3,dst.

WWTP = waste water treatment plant yang terakhir

C = konsentrasi parameter kualitas air

Neraca Massa pada outlet wastewater treatment plant

Neraca massa ini menjelaskan bahwa seluruh air yang keluar dari WWTP

merupakan jumlah air dari WWTP yang disalurkan ke seluruh sistem kebutuhan

ditambah dengan air yang dibuang ke badan air.

(2. 4)

dis = discharge

Sebagai pembatas debit maksimum di sumber air :

(2. 5)

Debit maksimum di sumber air dibatasi oleh jumlah air yang memang dialokasikan

untuk memenuhi sistem kebutuhan (berdasarkan Surat Ijin Pengambilan dan

Pemanfaatan Air)

Sebagai pembatas debit dan konsentrasi sistem kebutuhan air.

Debit minimum pemenuhan kebutuhan merupakan faktor pembatas sistem

kebutuhan, sedangkan konsentrasi maksimum yang menjadi batasan disesuaikan

dengan baku mutu yang berlaku untuk setiap sistem kebutuhan.

(23)

22

(2. 6)

(2. 7)

Sebagai pembatas debit maksimum di wastewater treatment plant :

(2. 8)

Debit maksimum dari WWTP yang dapat dimanfaatkan sebanyak lebih besar atau

sama dengan seluruh debit dari WWTP yang digunakan untuk melayani seluruh

sistem kebutuhan ditambah dengan debit yang dibuang ke badan air.

Sebagai pembatas pencegahan interkoneksi dari WWTP ke dalam sistem air

minum

(2. 9)

Wds

D

= water demand system for drinking water

Pengertian persamaan di atas adalah tidak boleh ada interkoneksi antara sistem

WWTP dan sistem kebutuhan air yang diperuntukkan sebagai air minum.

Sebagai pembatas pencegahan pemakaian air tanah yang tidak terbaharui,

(2. 10)

Pengertian persamaan di atas adalah tidak ada lagi pemanfaatan air tanah.

Sebagai pembatas rata-rata minimum konsentrasi kontaminan pada influen sistem

air minum,

(2. 11)

= konsentrasi kontaminan dari sistem air minum

(24)

23

Pengertian persamaan di atas adalah konsentrasi kontaminan yang masuk ke dalam

sistem kebutuhan air minum dibatasi oleh rata-rata minumum konsentrasi

kontaminan pada influen sistem air minum

Kelebihan model optimasi superstructure model :

1. Dapat dipergunakan dengan berbagai data debit dan konsentrasi kontaminan

sumber air baku, baik air baku alami maupun air baku alternatif, seperti air

limbah terolah

2. Menerapkan faktor-faktor pembatas yang cukup banyak dan detail.

Kekurangan model optimasi superstructure model :

Persamaan–persamaan yang dibentuk hanya melibatkan parameter kuantitas dan

kualitas air, baik pada sumber air maupun pada sistem kebutuhannya, sehingga

faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh terhadap model optimasi tidak

diperhitungkan.

2.4.2. Valuasi Lingkungan

Valuasi lingkungan merupakan bagian dari ekonomi lingkungan, yang bertujuan

untuk melakukan valuasi terhadap sumberdaya alam dan lingkungan. Valuasi

ini bertujuan untuk memberikan penilaian moneter terhadap sumberdaya

lingkungan. Terdapat beberapa metode valuasi komoditas lingkungan, misalnya

travel cost method, preference method, contingent valuation method, dll. Namun

yang memiliki penerapan lebih luas adalah contingent valuation method. (Tresnadi,

H., 2000). Metode valuasi lingkungan ini merupakan metode penelitian terhadap

komoditas lingkungan yang akan memberikan masukan-masukan kepada pembuat

kebijakan dalam mengelola lingkungan berdasarkan partisipasi masyarakat, berupa

pajak yang mereka bayar, karena eksternalitas negatif yang mereka lakukan.

Walaupun demikian ternyata metode ini dapat menimbulkan berbagai bias yang

timbul dari desain kuesioner, elisitasi yang dilakukan, proses penyampaian

kuesioner, agregasi respon kuesioner, dan sebagainya. Hal yang dapat dilakukan

untuk mengurangi bias yang timbul dalam penelitian ini adalah dengan melakukan

eksperimental desain terhadap sampel populasi yang akan diambil responnya.

(25)

24

2.5 Studi Terdahulu dan State of the Art

Pada sub bab ini dikaji mengenai studi yang pernah dilakukan sebelumnya. Kajian

terhadap studi terdahulu sangat penting untuk mengetahui posisi dari penelitian yang

akan dilakukan terhadap penelitian-penelitian terdahulu.

2.5.1. Penelitian-Penelitian Mengenai SPAM Perkotaan Terintegrasi

Penelitian Anderson dan Iyaduri, 2003, menerangkan mengenai SPAM perkotaan

yang terintegrasi dengan konsep menggabungkan seluruh komponen infrastruktur

yang berkaitan dengan penyediaan air minum, sistem penyaluran air hujan, dan

sistem air buangan ke dalam suatu sistem yang bertujuan untuk efisiensi sumber air

baku dan efektivitas pengelolaan air. Pada sistem ini terdapat suatu tahapan

pemanfaatan kembali hasil olahan air buangan sebagai salah satu alternatif sumber

air baku untuk SPAM. Penelitian yang lain menerangkan bahwa sistem air minum

perkotaan yang terintegrasi dapat mereduksi pemakaian sumber air, mengurangi

pembuangan air buangan terolah ke badan air, dan mengembalikan nutrien di dalam

air buangan (Otterpohl dkk., 1997; Terpstra, 1999; Maher dan Lustig, 2003;

Rosemarin, 2005; Speers dkk., 2005; Brown dkk., 2006; Wan Alwi dkk., 2008).

Pada penelitian Lim, dkk., 2010, dkatakan bahwa pemanfaatan kembali air buangan

dalam rangkaian sistem air minum perkotaan menjadi suatu sistem yang terintegrasi

akan mendukung menjadi suatu sistem pengelolaan air yang berkelanjutan. Pada

penelitian-penelitian yang sudah dilakukan, konsep SPAM terintegrasi lebih

difokuskan kepada pemanfaatan ulang air buangan perkotaan sebagai alternatif

sumber air alami, tetapi tidak menganalisis mengenai potensi-potensi sumber air

lainnya, seperti pemanfaatan air hujan dan pemanfaatan ulang dari air limbah

industri. Konsep SPAM terintegrasi yang akan diterapkan di lokasi studi selain

mempertimbangkan pemanfaatan ulang air buangan perkotaan, juga menganalisis

kemungkinan pemanfaatan potensi air buangan industri dan potensi pemanfaatan air

hujan sebagai alternatif sumber air baku. Penerapan konsep SPAM terintegrasi di

Kota Bandung erat kaitannya dengan permasalahan kelangkaan air baku yang timbul

di Kota Bandung.

(26)

25

2.5.2. Penelitian-Penelitian Mengenai Optimasi SPAM Perkotaan

Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan optimasi di bidang SPAM perkotaan

telah banyak dilakukan, seperti pada penelitian mengenai optimasi kehandalan

sistem air minum perkotaan yang dilakukan dengan metode valuasi dan kontingensi

(Howe 1994). Penelitian optimasi juga dilakukan terhadap kriteria kualitas air

sebagai panduan perencanaan dan pengelolaan SPAM (Rygaard 2011). Penelitian

ini memperkenalkan suatu metode untuk menilai potensi dalam merencanakan

komposisi air minum yang optimal dengan menggunakan desalinasi membran dan

remineralisasi. Metode ini meliputi pemodelan dari pencampuran berbagai kualitas

air dari sumber air yang berbeda-beda. Penelitian-penelitian optimasi ini akan

menguatkan penelitian yang dilakukan dalam melakukan optimasi kualitas dan

kuantitas pada SPAM di Kota Bandung, karena pada SPAM di Kota Bandung

terdapat beberapa instalasi pengolahan air minum yang memanfaatkan berbagai

sumber air baku.

Penelitian mengenai optimasi SPAM perkotaan juga dilakukan oleh Lim, dkk., 2010

dengan melakukan optimasi SPAM menggunakan Superstructrure model yang

dibangun untuk mewujudkan konsep sistem air minum perkotaan yang terintegrasi.

Model ini mengkombinasikan seluruh komponen infrastruktur air minum perkotaan,

yang meliputi sumber-sumber air, sistem kebutuhan air, dan instalasi pengolahan air

buangan (Lim dkk., 2010). Penelitian ini menerapkan konsep SPAM terintegrasi,

tetapi tidak menganalisis lebih jauh potensi sumber air lainnya seperti pemanfaatan

air hujan dan hanya melakukan 1 (satu) skenario optimasi yang digunakan untuk

keseluruhan sistem perkotaan. Gap yang akan diisi pada penelitian ini adalah bahwa

pada penelitian ini dilakukan pengembangan terhadap superstructure model yang

disesuaikan dengan kondisi yang ada pada SPAM di Kota Bandung, yaitu dengan

memasukkan komponen instalasi pengolahan air baku ke dalam sistem persamaan.

Kemudian gap lainnya yang akan diisi adalah dengan memasukkan komposen

potensi air hujan sebagai salah satu potensi air baku, kemudian dibuat beberapa

skenario SPAM perkotaan terintegrasi dan pada skenario yang optimal dilakukan

kajian estimasi biaya dan reduksi dampak lingkungan. Beberapa studi terdahulu

yang pernah dilakukan dan berkaitan dengan penelitian digambarkan pada Gambar

2.3.

(27)

26

Gambar 2. 3 State of the Art Penelitian

• SPAM perkotaan yang terintegrasi memiliki

konsep

menggabungkan

seluruh

komponen

infrastruktur air minum yang berkaitan dengan

penyediaan air, sistem penyaluran air hujan, dan

sistem air buangan ke dalam suatu sistem yang

bertujuan untuk efisiensi sumber air baku dan

efektivitas pengelolaan air

Anderson dan

Iyaduri, 2005

• Sistem air minum perkotaan yang terintegrasi

dapat

mereduksi

pemakaian

sumber

air,

mengurangi pembuangan air buangan terolah ke

badan air, dan mengembalikan nutrien di dalam

air buangan

(Speers dkk., 2005;

Brown dkk., 2006;

Wan Alwi dkk.,

2008).

• Optimasi kehandalan sistem air minum perkotaan

dilakukan

dengan

metode

valuasi

dan

kontingensi , melalui parameter WTP dan WTA

Howe, 1994

• Penelitian optimasi juga dilakukan terhadap

kriteria

kualitas

air

sebagai

panduan

perencanaan

dan

pengelolaan

SPAM,

pemodelan dilakukan terhadap pencampuran

berbagai kualitas air dari sumber air yang

berbeda-beda

(Rygaard, 2011)

• Superstructure model dibangun untuk

mewujudkan

konsep

sistem

air

minum

perkotaan

yang

terintegrasi.

Persamaan

dibangun dengan komponen sumber air,

kebutuhan air, wwtp, air hasil olahan, dan

discharge

Lim, dkk., 2010

Penelitian yang dilakukan : optimasi SPAM melalui konsep SPAM

terintegrasi dengan melakukan pengembangan model optimasi superstructure

model, yaitu memasukkan komponen IPAM dan pemanfaatan potensi air hujan,

menggunakan parameter kuantitas, dan parameter kualitas air yang spesifik

yaitu kekeruhan.

(28)

27

Dari rangkaian penelitian-penelitian yang sudah dilakukan, penelitian ini mencoba

menggali lebih dalam permasalahan optimasi di dalam SPAM perkotaan, dengan

lebih memfokuskan penelitian kepada berbagai potensi sumber air, instalasi

pengolahan air minum eksisting, jenis pengguna air, dan IPAL perkotaan. Kajian

dilakukan terhadap berbagai aspek, yaitu aspek kualitas air baku dan kualitas air

produksi, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan baik dari potensi sumber air

maupun dari instalasi pengolahan air minum eksisting.

Berdasarkan Gambar 2.3 dapat dilihat bahwa terdapat kesenjangan dalam rangkaian

penelitian yang sudah dilakukan, sehingga memungkinkan diisi oleh suatu penelitian

baru, sbb :

1 Konsep SPAM perkotaan terintegrasi merupakan suatu solusi yang dapat

diterapkan dalam SPAM Kota Bandung dengan memanfaatkan berbagai

potensi sumber air termasuk pemanfaatan ulang air limbah industri, air

limbah perkotaan, dan air hujan dengan tujuan untuk mengurangi

pemanfaatan sumber air baku alami terutama air tanah.

2 Pengembangan superstructure model yang disesuaikan dengan kondisi

eksisting SPAM Kota Bandung dengan berbagai skenario belum pernah

dilakukan dan sesuai dengan konsep SPAM terintegrasi.

Dari kesenjangan yang ditemukan, dapat dinyatakan bahwa kebaruan dari penelitian

ini adalah : optimasi kuantitas, kualitas, dan kontinuitas potensi sumber air minum

dengan menerapkan konsep SPAM terintegrasi di Kota Bandung menggunakan

superstructure model

(29)

28

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Keseluruhan penelitian dilakukan pada Bulan Juni 2013 sampai dengan Bulan Juni

2015. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilakukan di kawasan

Cekungan Bandung dan Kota Bandung. Pemilihan Kota Bandung sebagai lokasi

studi karena permasalahan SPAM yang berkaitan dengan kondisi ketersediaan air

baku dan kinerja IPAM juga terjadi di Kota Bandung. Diharapkan Kota Bandung

dapat mewakili karakteristik kota di negara tropis dan berkembang yang memiliki

parameter-parameter spesifik dalam SPAM.

3.2. Tahapan Penelitian

Tahapan penelitian digambarkan dalam diagram alir seperti yang tertera pada

Gambar 3.1, meliputi sbb :

(30)

29

(31)

30

Tahap I

Tahap I merupakan identifikasi terhadap potensi sumber air baku di kawasan

Cekungan Bandung dan kinerja IPAM eksisting PDAM Kota Bandung.

Identifikasi sumber air di kawasan Cekungan Bandung dilakukan terhadap sumber

air eksisting PDAM Kota Bandung dan berbagai potensi air baku yang ada di

seluruh kawasan Cekungan Bandung baik berupa sungai, waduk, air tanah, dan mata

air. Data-data yang diperlukan berupa data sekunder yang meliputi antara lain

kuantitas (debit minimum, debit maksimum, dan debit andal), kualitas air baku,

lokasi sumber air, dan peruntukan masing-masing sumber air. Berdasarkan data-data

tersebut akan didapatkan neraca air, jumlah air yang dapat dimanfaatkan, dan jumlah

air yang dapat dialokasikan untuk sistem SPAM Kota Bandung. Data-data tersebut

dapat diperoleh dari PDAM, Pusat Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Barat,

Puslitbang Air, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, BPLH Kota

Bandung, BPLHD Propinsi Jawa Barat.

Identifikasi terhadap kinerja IPAM PDAM Kota Bandung, dilakukan dengan

menganalisis data sekunder seluruh IPAM yang dikelola PDAM Kota Bandung.

Kinerja IPAM dapat ditentukan melalui data-data kapasitas disain, kapasitas

produksi, hasil pemantauan kualitas air baku dan kualitas air produksi, teknologi

pengolahan yang digunakan, efisiensi pengolahan, daya listrik yang digunakan.

Berdasarkan identifikasi terhadap potensi air baku dan kinerja IPAM eksisting Kota

Bandung, dilakukan analisis deskriptif sehingga dapat menggambarkan secara detail

kondisi eksisting SPAM di Kota Bandung, termasuk dalam pemilihan potensi

sumber air yang masih memungkinkan untuk dimanfaatkan. Hasil analisis ini

kemudian digambarkan sehingga menghasilkan sebuah pemetaan kondisi eksisting

SPAM Kota Bandung yang akan menjadi dasar dalam pembuatan skenario-skenario

pengembangan SPAM Kota Bandung.

Tahap II

Tahap II merupakan tahapan pengembangan model optimasi. Model optimasi yang

digunakan adalah superstructure model. Tahapan ini diawali dengan menyusun

(32)

31

skema SPAM terintegrasi Kota Bandung berdasarkan hasil pemetaan kondisi

eksisting. Kemudian disusun persamaan-persamaan superstructure model yang

sesuai dengan skenario yang dibuat dengan melakukan pengembangan persamaan

dari persamaan yang sudah pernah dibuat berdasarkan literatur. Tahap II ini

merupakan penelitian yang dilakukan juga untuk penelitian hibah disertasi.

Tahap III

Berdasarkan persamaan yang telah dikembangkan pada Tahap II, dilakukan input

data-data yang diperlukan seperti data debit pada sumber air, debit pada

masing-masing IPAM, debit yang dibutuhkan, debit waste water treatment plant, dan

data-data kualitas air baku maupun air hasil produksi IPAM. Penyelesaian model

optimasi akan dibantu dengan sebuah software, yaitu GAMS/MINOS/LINGO. Hasil

dari tahapan ini adalah didapatkan SPAM terintegrasi yang optimal yang akan dikaji

lebih jauh estimasi biaya dan reduksi dampak lingkungannya.

Tahap IV

Tahap IV merupakan tahapan estimasi terhadap biaya dan reduksi dampak

lingkungan dari SPAM eksisting dan SPAM terintegrasi.

Berdasarkan skenario-skenario yang dihasilkan pada tahapan II, akan dilakukan

kajian estimasi terhadap biaya yang diperlukan untuk setiap skenario dan dampak

lingkungan yang ditimbulkannya. Perhitungan biaya dilakukan dengan metode

Present Value sedangkan estimasi terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan

masing-masing skenario dilakukan dengan metode valuasi. Hasil dari tahapan ini

akan didapatkan SPAM terintegrasi optimal dengan kajian estimasi biaya yang

dibutuhkan dan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

3.3. Variabel dan Parameter yang Digunakan Dalam Penelitian

Setelah mengkaji teori-teori tentang Sistem Penyediaan Air Miinum, maka

variabel-variabel yang akan digunakan dalam studi ini, dan akan dianalisis sehingga dapat

memberikan masukan dalam membangun suatu model matematis dalam melakukan

optimasi potensi sumber air terhadap instalasi air minum eksisting di kota Bandung

dapat dillihat pada Tabel 3.1 di bawah ini.

(33)

32

Tabel 3. 1 Variabel dan Parameter yang digunakan dalam studi

Parameter untuk Superstructure Model

No Variabel Sub Variabel Parameter

1. SUMBER AIR

Kualitas Kekeruhan (parameter spesifik), BOD, TSS, DHL (Lim., dkk., 2010)

Kuantitas Debit

Kontinuitas Debit minimum, Debit maksimum, Debit andal

2.

Kapasitas Instalasi Pengolahan Air Minum

(IPAM)

Kualitas Kekeruhan, E Coli Kuantitas Debit produksi

Kontinuitas Debit produksi minimum Debit produksi maksimum

3. Sistem Penyediaan Air Minum

Kualitas Kekeruhan (parameter spesifik) BOD, TSS, DHL (Lim., dkk., 2010)

Kuantitas Debit ptoduksi

Kontinuitas Debit minimum dan maksimum

4.

IPAL

Kualitas Kekeruhan, E.Coli Kuantitas Debit produksi

Kontinuitas Debit produksi minimum dan maksimum Parameter untuk analisis estimasi biaya dan reduksi dampak lingkungan

No Variabel Sub Variabel Parameter

1.

SUMBER AIR Keterjangkauan

Lokasi, jarak, elevasi

Daya listrik (Stokes and Horvath, 2006; Lim and Park, 2007, 2008)

2.

Kapasitas Instalasi Pengolahan Air Minum

(IPAM)

Kinerja IPAM

Reduksi kontaminan Teknologi Pengolahan

Daya listrik (Stokes and Horvath, 2006; Lim and Park, 2007, 2008)

3. Sistem Penyediaan Air

Minum Keterjangkauan

Jarak, elevasi

Daya listrik (Stokes and Horvath, 2006; Lim and Park, 2007, 2008)

4. IPAL Kinerja IPAL

Reduksi kontaminan Teknologi pengolahan

Daya listrik (Stokes and Horvath, 2006; Lim and Park, 2007, 2008)

(34)

33

Jenis dan Sumber Data

Menurut jenis data yang dibutuhkan, penelitian ini dirancang dengan menggunakan

Data Kuantitatif dan Data Kualitatif. Berdasarkan sumber data, mencakup data

primer dan data sekunder.

Data primer, yaitu data yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan berupa

observasi langsung.

Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi/lembaga yang terkait

dengan tema penelitian dan memiliki dokumentasi yang dibutuhkan. Data

sekunder dapat diperoleh misalnya dari PDAM Kota Bandung, Dinas

Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, BPLHD Provinsi Jawa

Barat, maupun sumber-sumber data lain.

Metode Pengolahan Data

Metode pengolahan data dilakukan dengan menggunakan 3 alat uji, yaitu analisis

statistik deskriptif, yang digunakan untuk mengetahui kondisi eksisting SPAM di

Kota Bandung dan potensi sumber air baku di kawasan cekungan Bandung. Model

optimasi, yaitu dengan superstructure model digunakan untuk melakukan optimasi

terhadap parameter-parameter yang sudah ditentukan pada tahap sebelumnya dengan

menggunaan bantuan software. Metode Cost Benefit Analysis dan valuasi

lingkungan yang digunakan untuk menganalisis SPAM terintegrasi yang optimal

hasil pemodelan optimasi melalui estimasi terhadap biaya dan dampak terhadap

lingkungan sehingga didapatkan skenario terpilih.

(35)

34

BAB IV

IDENTIFIKASI POTENSI SUMBER AIR DAN KINERJA IPAM

4.1 Kebutuhan Air Kota Bandung

Kebutuhan air di Kota Bandung dihitung berdasarkan proyeksi pertambahan

penduduk Kota Bandung sampai dengan 20 tahun yang akan datang. Kebutuhan air

per orang per hari adalah 150 L/o/hari (PDAM, 2013). Proyeksi pertambahan

penduduk dihitung dengan menggunakan metode aritmatika, dan didapatkan jumlah

penduduk Kota Bandung pada Tahun 2033 adalah

2.985.765 jiwa.

Hasil perhitungan kebutuhan air di Kota Bandung pada 20 tahun yang akan datang,

yaitu pada Tahun 2033, dengan mempertimbangkan kenaikan kebutuhan air per

orang per hari adalah 7018 L/detik. Proyeksi kebutuhan air sampai dengan 20 tahun

mendatang dan supply air dari PDAM dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4. 1 Proyeksi kebutuhan air dan supply air dari PDAM

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 2012 2017 2022 2027 2032 2037

(36)

35

4.2 Sistem Penyediaan Air Minum Eksisting Kota Bandung

4.2.1. Daerah Pelayanan dan Cakupan Pelayanan PDAM Kota Bandung

Sistem pelayanan pendistribusian kepada pelanggan dibagi ke dalam 4 Wilayah

Pelayanan seperti pada Gambar 4.2, yaitu :

- Wilayah Bandung Utara

- Wilayah Bandung Tengah Selatan

- Wilayah Bandung Barat

- Wilayah Bandung Timur

Adapun pendistribusiannya melalui sistem :

1. Jaringan pipa adalah sistem pendistribusian air melalui jaringan pipa dengan

cara gravitasi ke daerah pelayanan.

2. Pelayanan air tangki adalah armada tangki siap beroperasi melayani

kebutuhan masyarakat secara langsung selama 24 Jam.

3. Kran Umum dan Terminal Air adalah merupakan sarana pelayanan air bersih

untuk daerah pemukiman tertentu yang dinilai cukup padat dan sebagian

penduduknya belum mampu menjadi pelanggan air minum melalui

sambungan rumah, tarif yang digunakan adalah tarif sosial.

Gambar 4. 2 Peta daerah pelayanan PDAM Kota Bandung

Sumber : Business Plan 2008-2012 PDAM Kota Bandung

PETA DAERAH PELAYANAN PDAM KOTA BANDUNG

PETA DAERAH PELAYANAN PDAM KOTA BANDUNG

Cipanjalu Cisurupan

(37)

36

Pada Tahun 2012 PDAM Tirtawening Kota Bandung baru mampu melayani + 72,19

% penduduk Kota Bandung yaitu sebanyak 1.789.836 jiwa. Sedangkan target

nasional pelayanan air minum untuk kota besar sebesar 80 %, hal ini disebabkan

semakin meningkatnya kebutuhan air minum dari tahun ke tahun. (PDAM, 2013)

4.2.2. Sistem Air Baku

PDAM Kota Bandung pada saat ini memanfaatkan 3 sumber air yaitu :

1. Air Permukaan

Sungai Cisangkuy, debit yang diambil + 1400 l/dtk diolah di Instalasi

Pengolahan Badaksinga dari rencana ± 1800 l/dtk

Sungai Cikapundung, debit yang diambil + 840 l/dtk, 200 l/dtk diolah di

Instalasi Pengolahan Badaksinga, 600 l/dtl diolah di Instalasi Pengolahan

Dago Pakar dan 40 l/dtk diolah di Mini Plant Dago Pakar

Sungai Cibeureum, debit yang diambil 40 l/dtk diolah di Mini

Treatment Cibeureum

Sungai Cipanjalu, debit yang diambil ± 20 l/dtk diolah di Mini

Treatment Cipanjalu

2. Mata Air

Sumber air ini diambil dari beberapa mata air di daerah Bandung Utara dengan total

debit 190 l/dtk dan diolah di Resevoir XI Ledeng.

Ada pun mata air-mata air tersebut adalah :

Mata air Cigentur I

Mata air Cigentur II

Mata air Ciliang

Mata Air Cilaki

Mata air Ciwangun

Mata air Cisalada I & II

Mata air Cicariuk

(38)

37

Mata air Cirateun

Mata air Cikendi

Mata air Ciasahan

Mata air Legok Baygon

Mata air Citalaga

Mata air Panyairan

Mata air Ciwangi

3. Air Tanah

Pengolahan air baku yang berasal dari air tanah dalam digunakan

sistem aerasi, filtrasi dan desinfeksi dengan menggunakan gas chlor kaporit.

Kualitas air baku ini pada umumnya memiliki kandungan Fe dan Mn diatas standar

yang ditetapkan. Air tanah ini sebagian dimanfaatkan untuk membantu daerah yang

tidak terjangkau oleh pelayanan dari instalasi induk PDAM. Jumlah sumur air

tanah dalam yang dimanfaatkan oleh PDAM sebanyak 32 buah dengan sistem

pendistribusian secara langsung ke konsumen melalui proses pengolahan.

4.2.3. Instalasi Pengolahan Air Minum PDAM Kota Bandung

Pada Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) PDAM Kota Bandung masih terdapat

idle capacity. Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa di IPAM dengan sumber

air permukaan terdapat idle capacity sebesar 200 L/dtk. Hal ini memungkinkan

IPAM tersebut menerima tambahan air baku untuk diolah di instalasi ini.

Tabel 4. 1 Idle Capacity pada instalasi air permukaan

No.

IPAM

Kapasitas Terpasang

Supply Air Baku

Idle Capacity

1.

IPA Badaksinga

1800 L/dtk

1600 L/dtk

200 L/dtk

2.

IPA Dago Pakar

600 L/dtk

600 L/dtk

-

3.

MP Dago Pakar

40 L/dtk

40 L/dtk

-

4.

MP Cibeureum

40 L/dtk

40 L/dtk

-

5.

MP Cipanjalu

20 L/dtk

20 L/dtk

-

Total

2500 L/dtk

2300 L/dtk

200 L/dtk

Gambar

Gambar 1. 1 Permasalahan yang dihadapi PDAM
Gambar 2. 1 SPAM Perkotaan :  a.  SPAM perkotaan yang linier (konvensional),  b. SPAM  perkotaan yang terintegrasi (Lim dkk., 2010)
Gambar 2. 2 Superstructure model yang digunakan untuk menyatukan dan  mengintegrasi sistem air minum perkotaan
Gambar 2. 3 State of the Art Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyusun laporan Tugas Akhir ini dengan judul “Kajian Kuat Tekan

Karyawan yang dari awal bekerja sudah memiliki perencanaan karir harus lebih aktif di dalam perusahaan, dengan cara mengikuti perkembangan apa saja yang ada pada

Selain faktor status gizi yang merupakan faktor internal, prestasi belajar juga dipengaruhi oleh faktor ekternal.Faktor eksternal terdiri dari faktor fisik dan faktor

Dari uraian di atas, penulis sangat tertarik untuk melakukan suatu penelitian di LPP RRI Banten, karena penulis ingin mengetahui bagaimana proses siaran radio

Proses reduksi di atas adalah reduksi ke-1, yang belum memberikan hasil yang optimal yaitu apabila ditinjau dari densitas sejati yang diperoleh yang masih rendah

Namun demikian, bila terdapat permasalahan yang sama dengan karakteristik yang sama pada subjek lain, maka hasil penelitian kualitatif ini dapat pula menjadi

Terkait dengan penelitian ini, variabel-variabel yang ingin diuji pembuktian hipotesisnya adalah ada atau tidak ada pengaruh terpaan Soompi.com (X) terhadap sikap komunitas Jogja

(1) Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud dalam pasal 35 huruf h meliputi upaya untuk pengembangan pertanian melalui sektor agribisnis, Pemerintah Kota Parepare