Volume 03 Nomor 02 September 2016 84
PONDOK PESANTREN DALAM UNCERTAINTY
SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA
Gunawan
Program Studi Teknik Grafika, Politeknik Negeri Media Kreatif PSDD Medan e-mail : [email protected]
Abstrak
Pondok pesantren yang dahulunya sistem pengajaran dan materi pengajarannya
terfokus kepada ilmu-ilmu kegamaan, mulai berkembang dengan
mengakomodasi elemen-elemen kurikulum dari sistem pendidikan nasional. Tuntutan sistem pendidikan di Indonesia telah mengharuskan pesantren untuk mengikuti atau menyetarakan standarnya dengan kurikulum pendidikan nasional. Terlepas dari itu, pesantren yang secara umum dapat disebut sebagai pendidikan vokasi keagaam selalu berkomitmen meningkatkan pendidikan akhlak dan ubudiyah dan berupaya selalu mengikuti perkembangan pendidikan yang beragam, karena dunia akan diraih dengan pendalaman ilmu dunia dan akhirat.
Keywords: Pesantren, Pendidikan Vokasi Keagamaan, Sistem pendidikan Indonesia.
1. PENDAHULUAN
Pesantren merupakan lembaga
pendidikan yang mempunyai sejarah
panjang dan unik. Secara historis, pesantren termasuk pendidikan Islam yang paling awal dan masih bertahan sampai sekarang. Berbeda dengan lembaga – lembaga
pendidikan yang muncul kemudian,
pesantren telah sangat berjasa dalam mencetak kader – kader ulama, dan kemudian berperan aktif dalam penyebaran
agama Islam dan transfer ilmu
pengetahuan. Namun, dalam perkembangan pesantren telah mengalami transformasi
yang memungkinkannya kehilangan
identitas jika nilai – nilai tradisonalnya tidak dilestarikan.
Karena keunikannya itu
maka pesantren hadir dalam berbagai situasi dan kondisi dan hampir dapat
dipastikan bahwa lembaga ini, meskipun dalam keadaan yang sangat sederhana dan karekteristik yang beragam, tidak pernah mati. Demikian pula semua komponen yang ada didalamnya seperti kyai atau ustad serta para santri senantiasa mengabdikan diri mereka demi kelangsungan pesantren.tentu saja ini tidak dapat diukur dengan standart system pendidikan modren dimana tenaga
pengajarnya dibayar, karena jerih
payahnya, dalam bayaran dalam bentuk material.
Dengan begitu, pesantren tentu saja
tidak bisa dilepaskan dari sistem
pendidikan nasional Indonesia. Makalah ini menjelaskan tentang pondok pesantren dalam sistem pendidikan nasional yang meliputi kajian tentang: pondok pesantren di antara madrasah dan sekolah, pola pengembangan kurikulum di ponpes dan
Gunawan
Volume 03 Nomor 02 September 2016 85
kebijakan departemen agama dalam
pengembangan ponpes.
2. KAJIAN TEORI
Pondok Pesantren Antara Madrasah dan Sekolah.
Peran pesantren dalam memajukan pendidikan nasional telah membuktikan
eksistensinya. Keperipurnaan pondok
pesantren harus dipahami dan dilihat dari berbagai aspek.
Pada awal tahun70-an, sebagian
kalangan menginginkan pesantren
memberikan pelajaran umum bagi para santrinya. Hal ini melahirkan perbedaan pendapat di kalangan para pengamat dan pemerhati pondok pesantren. Sebagian berpendapat bahwa pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang khas dan
unik harus mempertahankan
ketradisionalannya. Namun pendapat lain menginginkan agar pondok pesantren mulai mengadopsi elemen-elemen budaya dan pendidikan dari luar.
Dari dua pandangan yang berbeda tersebut, terlahir pula keinginan yang berbeda di kalangan para pengelola
pesantren. Kelompok pertama
menginginkan agar pesantren tetap
mempertahankan posisinya seperti semula dengan sistem yang khas. Sedangkan kelompok ke dua menginginkan agar
pesantren mulai mengadopsi atau
mengakodmodasi sistem pendidikan
sekolah atau madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren.
Akhirnya terjadilah persentuhan antara pondok pesantren dengan madrasah dan sekolah. Dalam sejarah perkembangan
pesantren, disebutkan bahwa pondok
pesantren, masih berbentuk surau, yang pertamakali membuka pendidikan formal adalah Tawalib di Padang Panjang pada tahun 1921, sedangkan di Jawa adalah pesantren Tebu Ireng Jombang pada tahun 1919 menyusul pondok modern Darussalam Gontor pada tahun 1926.
Pondok pesantren yang memiliki kreteria tertentu dianggap telah mapan, didukung oleh persyaratan yang cukup mapan, seperti bangunan, tanah, guru yang berkompeten, murid-murid yang banyak serta tersedianya tenaga administrasi. Pondok pesantren yang seperti inilah yang dianggap layak untuk mengakomodasi sistem pendidikan formal atau elemen pendidikan lainnya yang berasal dari luar. Sebaliknya, pondok pesantren yang tidak memiliki dan memenuhi kriteria di atas tentu saja tidak bisa memaksakan kehendak untuk mengadopsi sistem pendidikan dari luar.
Selain itu ada beberapa alternatif yang juga dikembangkan di lingkungan
pesantren. Ada yang mengakomodasi
sistem pendidikan formal ala sekolah
umum atau madrasah dengan tetap
mempertahankan sistem pendidikan
pesantren, dengan memisahkan area untuk sekolah madrasah atau sekolah umum dengan area khusus untuk pesantren. Murid-murid yang bersekolah di sekolah
umum pesantren tersebut mengikuti
kurikulum pendidikan nasional, seperti mengikuti uas dan uan. Mereka tidak tinggal di asrama, akan tetapi tinggal di rumah masing-masing. Sementara santri yang mengikuti pendidikan pesantren tinggal di asrama dan mengikuti program
pendidikan pesantren yang relatif
independen dari kebijakan-kebijakan
departemen agama dan pendidikan. Guru-guru yang mengajar di pondok pesantren dengan sistem seperti ini secara umum dikategorikan kepada dua kelompok yakni guru-guru yang berasal dari pesantren dan yang berasal dari luar. Umumnya, guru-guru tersebut mengjar pelajaran umum. Contoh pesantren seperti ini adalah Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor.
Bentuk atau opsi ke dua adalah pesantren yang menggabungkan sistem pendidikan formal ala madrasah atau sekolah umum lainnya dengan system
Volume 03 Nomor 02 September 2016 86
pendidikan pesantren tanpa memisahkan kelas-kelas atau area untuk ke dua sistem pendidikan yang berbeda ini. Para santri tetap tinggal di asrama, mengikuti uas dan uan dan juga mengikuti agenda-agenda kepesantrenan yang tidak terdapat di madrasah atau sekolah lainnya. Guru-guru yang mengjar di pesantren ini relatif sama dengan di atas. Bentuk pesantren yang seperti inilah yang sekarang banyak ditemui.
Akomodasi pesantren terhadap
sistem atau elemen pendidikan luar ini tentu saja membawa pengaruh negatif terhadap pesantren itu sendiri:
1. kehadiran para siswa sekolah atau
madrasah di lingkungan pondok
pesantren sedikit banyak akan
mengganggu aktifitas dan agenda-agenda kepesantrenan. Para santri yang memang ingin mengecap pendidikan pesantren akan merasa tidak betah dengan kondisi yang demikian.
2. kemungkinan terjadinya kesenjangan antara murid, guru dan pengelola
pesantren dengan madrasah atau
sekolah umum pesantren besar peluang terjadi.
3. ada juga kemungkinan bahwa
pesantren akan terkucilkan.
Permasalahan status pesantren di antara pesantren, madrasah dan sekolah umum tampaknya dipicu oleh sistem pendidikan nasional yang terlalu lamban mengakui ijazah pesantren yang tidak mengikuti program pendidikan nasional.
Terbengkalainya agenda-agenda
kepesantrenan sering bermula dari
keinginan untuk menggabungkan sistem
pendidikan nasional dengan sistem
pendidikan pesantren. Pesantren yang begitu padat aktifitas kepesantrenan mau tidak mau harus memikirkan nasib para santri setelah lulus dari pesantren tersebut, sementara ijazah pesantren pada umumnya (kecuali akhir-akhir ini) tidak diakui di perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini tentu
memaksa pengelola pesantren untuk tetap mengikuti agenda departemen pendidikan dan departemen agama.
Contoh yang sangat mudah di temui adalah agenda ujian di pesantren, pada umumnya, di pesantren modern yang
telah menggunakan sistem kelas
mengagendakan dua ujian kepesantrenan
dalam setahun. Ujian ini kemudian
ditambahi dengan dua agenda ujian dalam setahun yang berasal dari dinas pendidikan atau departemen lainnya.
Contoh lain adalah sistem
pesantren yang tidak membagi jenjang pendidikan kepada dua tsanawiyah atau smp dan aliyah atau smu. Santri yang pindah dari pesantren tanpa menyelesaikan pendidikan hingga jenjang terakhir, ketika mendaftar ke madrasah atau sekolah umum, jika ia tidak memiliki ijazah sah nasional, maka ia harus mengulang dari kelas awal.
Akhir-akhir ini, peluang pesantren untuk bisa mengembangkan diri secara independen tampaknya mulai terbuka. Sebut saja seperti lahirnya undang-undang yang mewajibkan pendidikan sembilan tahun, beberapa dekade ke depan besar kemungkinan diwajibkannya pendidikan hingga jenjang SMU dan sederajat.
3. POLA PENGEMBANGAN
KURIKULUM DI PESANTREN
Pada awalnya berdirinya, pesantren merupakan media pembelajaran yang sangat simple. Tidak ada klasifikasi kelas, tidak ada kurikulum, juga tidak ada aturan yang baku di dalamnya. Sebagai media pembelajaran keagamaan, tidak pernah ada kontrak atau permintaan santri kepada kiai untuk mengkajikan sebuah kitab, apalagi mengatur secara terperinci materi-materi
yang hendak diajarkan. Semuanya
bergantung pada kiai sebagai poros sistem pembelajaran pesantren. Mulai dari jadwal,
metode, bahkan kitabyang hendak
diajarkan, semua merupakan wewenang seorang kiai secara penuh.
Gunawan
Volume 03 Nomor 02 September 2016 87
Dua model pembelajaran yang terkenal pada awal mula berdirinya
pesantren adalah model sistem
pembelajaran wetonan non klasikal dan sistem sorogan. Sistem wetonan/bandongan adalah pengajian yang dilakukan oleh seorang kiai yang diikuti oleh santrinya dengan tidak ada batas umur atau ukuran tingkat kecerdasan. Sistem pembelajaran model ini, kabarnya merupakan metode yang diambil dari pola pembelajaran ulama Arab. Sebuah kebiasaan pengajian yang dilakukan di lingkungan Masjid al-Haram. Dalam sistem ini, seorang kiai membacakan kitab, sementara para santri masing-masing
memegang kitab sendiri dengan
mendengarkan keterangan guru untuk mengesahi atau memaknai Kitab Kuning.
Lain dengan pengajian wetonan, pengajian sorogan dilakukan satu persatu,
dimana seorang santri maju satu persatu membaca kitab dihadapan kiai untuk dikoreksi kebenaannya. Pada pembelajaran sorogan ini, seorang santri memungkinkan untuk berdialo dengan kiai mengenai
masalah-masalah yang diajarkan.
Sayangnya banyak menguras waktu dan tidak efesien sehingga diajarkan pada santri-santri senior saja.
Pada dasarnya, dalam pesantren tradisional, tinggi rendahnya ilmu yang diajarkan lebih banyak tergantung pada keilmuan kiai, daya terima santri dan jenis kitab yang digunakan. Kelemahan dari sistem ini adalah tidak adanya perjenjangan yang jelas dan tahapan yang harus diikui oleh santri. Juga tidak ada pemisahan antara santri pemula dan santri lama. Bahkan seorang kiai hanya mengulang satu kitab saja untuk diajarkan pada santrinya.
Pada abad ke tujuh belasan, materi
pembelajaran pesantren didominasi
olehmateri-materi ketahuidan. Memang
pada waktu itu ajaran ketauhidan dan ketasaufan menduduki urutan yang paling dominant. Belakangan, sejalan dengan banyaknya para ulama yang berguru ketanah suci, materi yang diajarkannya pun bervariasi.
Dari sekian banyak tipe pondok
pesantren, dalam menyelenggarakan
pendidikan dan pengajaran bagai para
santrinya, secara garis besar dapat
dikelompokkan ke dalam dua bentuk pondok pesantren:
1. Pondok Pesantren Salafiyah, yaitu yang menyelenggarakan pengajaran Alquran dan ilmu-ilmu agama Islam,
serta kegiatan pendidikan dan
pengajarannya sebagaimana yang
berlangsung sejak awal
pertumbuhannya.
2. Pondok Pesantren Khalafiyah, yaitu
pondok pesantren yang selain
menyelenggarakan kegiatan
pendidikan kepesantrenan, juga
menyelenggarakan kegiatan
pendidikan formal (sekolah atau madrasah).
Pada mulanya kiai merupakan fungsionaris tunggal dalam pesantren. Semenjak berdirinya madrasah dalam lingkungan pesantren inilah, diperlukan sejumlah guru-guru untuk mengajarkan berbagai macam jenis pelajaran baru yang
tidak semuanya dikuasai oleh kiai.
Sehingga peran guru menjadi penting karena kemampuan yang dimilikinya dari pendidikan diluar pesantren. Dan sejak saat itu kiai tidak menjadi fungsionaris tunggal dalam pesantren.
Mengikuti perkembangan zaman, beberapa pesantren mulai memasukkan pelajaran keterampilan sebagai salah satu materi yang diajarkan. Ada keterampilan
berternak, bercocok tanam, menjahit
berdagang dan lain sebagainya. Disisi lain
ada juga pesantren yang cenderung
mengimbangi dengan pengetahuan umum. Seperti tercermin dalam madrasah yang
disebut dengan “modern” dengan
menghapuskan pola pembelajaran wtonan,
sorogan dan pembacaan kitab-kitab
Volume 04 Nomor 02 September 2017 88
modern, pesantren yang terakhir ini lebih mengutamakan penguasaan aspek bahasa.
Pada masa sekarang ini, banyak pesantren yang melaksanakan kurikulum
Depdiknas dengan rasio 70% mata
pelajaran umum dan 30% pelajarana agama.
4. KEBIJAKAN PEMERINTAH
DALAM PENGEMBANGAN PONDOK PESANTREN.
Pada awal abad kedua puluhan, unsur baru berupa sistem pendidikan klasikal mulai memasuki pesantren. Sejalan dengan perkembangan dan perubahan bentuk pesantren, Menteri Agama RI. Mengeluarkan peraturan
nomor 3 tahun 1979, yang
mengklasifikasikan pondok pesantren
sebagai berikut:
1. Pondok Pesantren tipe A, yaitu dimana para santri belajar dan bertempat tinggal di Asrama
lingkungan pondok pesantren
dengan pengajaran yang
berlangsung secara tradisional
(sistem wetonan atau sorogan). 2. Pondok Pesantren tipe B, yaitu
yang menyelenggarakan
pengajaran secara klasikal dan pengajaran oleh kyai bersifat aplikasi, diberikan pada waktu-waktu tertentu. Santri tinggal di
asrama lingkungan pondok
pesantren.
3. Pondok Pesantren tipe C, yaitu
pondok pesantren hanya
merupakan asrama sedangkan
para santrinya belajar di luar (di madrasah atau sekolah umum lainnya), kyai hanya mengawas dan sebagai pembina para santri tersebut.
4. Pondok Pesantren tipe D, yaitu yang menyelenggarakan sistem pondok pesantren dan sekaligus sistem sekolah atau madrasah.
Peraturan Pemerintah, dalam hal ini Menteri Agama yang mengelompokkan pesantren menjadi empat tipe tersebut, bukan suatu keharusan bagi pondok pesantren tersebut. Namun, pemerintah menyikapi dan menghargai perkembangan serta perubahan yang terjadi pada pondok pesantren itu sendiri, walaupun perubahan dan perkembangan pondok pesantren tidak hanya terbatas pada empat tipe saja, namu akan lebih beragam lagi. Dari tipe yang sama akan terdapat perbedaan-perbedaan tertentu yang menjadikan satu sama lain akan berbeda.
Populasi pondok pesantren ini semakin bertambah dari tahun ke tahun, baik pondok pesantren tipe salafiyah maupun khalafiyah yang kini tersebar di penjuru tanah air. Pesatnya pertumbuhan pesantren ini akan sekan mendorong pemerintah untuk melembagakannya secara
khusus. Sehingga keluarlah surat
keputusan Menteri Agama Republik
Indonesia nomor 18 tahun 1975 tentang
susunan organisasi dan tata kerja
Departemen agama yang kemudian diubah dan disempurnakan dengan keputusan Menteri Agama RI nomor 1 tahun 2001.
Dengan keluarnya surat keputusan
tersebut, maka pendidikan pesantren
dewasa ini telah mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah terutama Departemen Agama. Saat ini telah menjadi direktorat tersendiri yaitu direktorat
pendidikan keagamaan dan pondok
pesantren yang bertujuan untuk
meningkatkan pelayanan pondok pesantren secara optimal terhadap masyarakat.
Data yang diperoleh dari kantor Dinas Pendidikan, Departemen Agama serta Pemerintahan Daerah, sebagaian besar anak putus sekolah, tamatan sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, mereka tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, namun mereka tersebar di pondok pesantren dalam jumlah yang relatif banyak. Kondisi pondok pesantren yang
Diah Amelia, Muhammad Rizky Kertanegara
Volume 04 Nomor 02 September 2017 89
demikian akhirnya direspon oleh
pemerintah. Sehingga lahirlah kesepakatan bersama antara departemen Agama dan departemen Pendidikan dengan nomor 1/U/KB/2000 dan MA/86/2000 tentang pedoman pelaksanaan pondok pesantren salafiyah sebagai pola pendidikan dasar.
Secara eskplisit, untuk
operasionalnya, setahun kemudian keluar
surat keputusan Direktur Jendral
Kelembagaan Agama Islam, nomor
E/239/2001 tentang panduan teknis
penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan dasar pada pondok pesantren salafiyah.
Lahirnya UU nomor 02 tahun 1989, yang disempurnakan menjadi UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 30 ayat 1 sampai ayat 4 disebutkan pendidikan keagamaan, pondok pesantren termasuk bagian dari sistem pendidikan nasional. Merupakan dokumen yang amat penting untuk menetukan arah
dan kebijakan dalam penanganan
pendidikan pada pondok pesantren di masa yang akan datang.
5. KESIMPULAN
Dilema status pondok pesantren antara madrasah dan sekolah umum merupakan dilema yang sudah lama dihadapi pesantren. Ada beberapa penyebab munculnya dilema ini termasuk faktor sistem pendidikan nasional.
Pondok pesantren yang dahulunya
sistem pengajaran dan materi
pengajarannya terfokus kepada ilmu-ilmu kegamaan, mulai berkembang dengan mengakomodasi elemen-elemen kurikulum dari sistem pendidikan nasional. Tuntutan sistem pendidikan di Indonesia telah mengharuskan pesantren untuk mengikuti atau menyetarakan standarnya dengan kurikulum pendidikan nasional.
Seiring dengan tuntutan tersebut,
departemen yang berkaitan dengan
pesantren juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang turut memajukan dan memberikan peluang bagi pesantren untuk mengembangkan diri.
6. DAFTAR PUSTAKA
Haedani, H. Amin M.Pd dkk,2004.
Panorama, Pesantren Dalam
Cakrawala Modern. Jakarta: Diva Pustaka.
Madjid, Nurcholish, 1985. Bilik-Bilik
Pesantren. Jakarta: P3M.
Nata, Abudin, 2001. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga – Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT Grafindo persada.
Noor, Mahpuddin, 2006. Potret Dunia Pesantren. Bandung: Humaniora. Zuhairini, 1992. Sejarah Pendidikan Islam.