sungguh, akhirnya Laporan Akhir kegiatan Kajian Perencanaan Pemasangan Rambu-Rambu Sungai Kabupaten Kubu Raya Tahun Anggaran 2020 dapat diselesaikan. Pekerjaan ini diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kubu Raya bekerjasama dengan PT. AVISTA PLANOTAMA KONSULTAN selaku Pelaksana Pekerjaan.
Laporan Akhir ini merupakan laporan pertama, yang terdiri dari 5 (lima) bab, yaitu: Bab 1 Pendahuluan, Bab 2 Landasan Teori, Bab 3 Gambaran Umum Wilayah, Bab 4 Metodologi, Bab 5 Pembahasan dan Bab 6 Penutup.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi dan mendorong penyelesaian penyusunan laporan ini, dan mohon maaf jika laporan ini masih banyak kekurangannya. Semoga laporan ini dapat memberikan gambaran pelaksanaan kegiatan Kajian Perencanaan Pemasangan Rambu-Rambu Sungai Kabupaten Kubu Raya.
Pontianak, Desember 2020 PT. AVISTA PLANOTAMA KONSULTAN
ZULHAM EFFENDI, ST, MM Direktur Utama
Kata Pengantar ... 1 Daftar Isi... 2 Daftar Tabel ... 4 Daftar Gambar ... 5 Bab 1. Pendahuluan ... 6 1.1 Latar Belakang ... 6 1.2 Referensi Hukum ... 8
1.3 Maksud dan Tujuan ... 8
1.4 Sasaran ... 9
1.6 Ruang Lingkup ... 10
1.6.1 Ruang Lingkup Wilayah ... 10
1.6.2 Ruang Lingkup Materi ... 10
1.8 Sistematika Pelaporan ... 11
Bab 2. Landasan Teori ... 12
2.1 Rambu Sungai ... 12
2.2 Prioritas Pemasangan Rambu Sungai ... 15
2.3 Pemasangan Rambu Suar dan Traffic Light ... 15
2.4 Gambar Rambu Perairan Daratan ... 16
3.1.1 Topografi ... 47
3.1.3 Jenis Tanah Dan Keadaan Lapisan Tanah ... 47
3.1.4 Geologi ... 50 3.2 Kependudukan ... 50 Bab 4. Metodologi ... 53 4.1 Survey ... 53 4.2 Pengolahan Data ... 53 4.3 Analisis Data ... 53 Bab 5. Pembahsan ... 55 5.1 Tinjauan Kebijakan ... 55
5.2 Manajemen Keselamatan Transportasi Sungai ... 56
5.3 Transportasi Sungai di Kabupaten Kubu Raya ... 62
5.4 Sarana Transportasi Sungai di Kabupaten Kubu Raya ... 66
5.5 Rambu Sungai Pada Jalur Transportasi di Kecamatan Sungai Raya ... 69
Bab 6. Penutup ... 81
6.1 Kesimpulan ... 81
Tabel 3. 1 Luas Wilayah Kabupaten Kubu Raya Menurut Kecamatan ... 45
Tabel 3. 2 Jumlah Penduduk Kabupaten Kubu Raya Tahun 2019 ... 50
Tabel 3. 3 Kepadatan Penduduk Kabupaten Kubu Raya Tahun 2019 ... 51
Tabel 2. 1 Rambu Larangan (Prohibitory Signs)……….16
Tabel 2. 2 Rambu Perintah (Compulsory/ Mandatory Signs) ... 21
Tabel 2. 3 Rambu Peringatan (Warning Signs) ... 24
Tabel 2. 4 Rambu Petunjuk/Penuntun... 30
Tabel 2. 5 Perbedaan Antara Rambu Sungai Dan Rambu Jalan ... 40
Tabel 5. 1 Kebutuhan Rambu……… 69
Tabel 5. 2 Perbandingan jarak pandang dengan tinggi dan lebar rambu ... 78
Gambar 5. 1 Kondisi Sungai di Kabupaten Kubu Raya ... 63 Gambar 5. 2 Angkutan Sungai Kecil ... 67 Gambar 5. 3 Angkutan Sungai Besar ... 68 Gambar 5. 4 (a) Salah satu bagian sungai yang membutuhkan rambu petunjuk belok kiri; (b) Kapal klotok yang melewati jalur sungai di Kecamatan Sungai Raya ... 76 Gambar 5. 5 Dimensi Rambu Berdasarkan Jarak ... 79 Gambar 5. 6 Rambu eksisting yang tertutupi dedaunan ... 80
1.1 Latar Belakang
Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Sungai memiliki beberapa jenis menurut jumlah airnya (Syarifuddin, 2000) yaitu sungai permanennya itu sungai yang debit airnya sepanjang tahun relatif tetap.
Sungai periodik yaitu sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak dan saat musim kemarau airnya sedikit, sungai intermittent atau sungai episodik yaitu sungai yang mengalirkan airnya pada musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau airnya kering, serta jenis sungai ephemeral yaitu sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan.
Provinsi Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi yang terdapat di Negara Republik Indonesia yang merupakan satu bagian wilayah di kepulauan Kalimantan. Kalimantan Barat dialiri oleh ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya masih sering dan dapat digunakan untuk transportasi sungai. Sebagian besar sungai-sungai tersebut sampai saat ini masih sering dimanfaatkan sebagai sarana jalur pengangkutan, baik orang maupun barang. Salah satu daerah/kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang masih memanfaatkan jalur sungai untuk aktivitas pengangkutan (orang/barang) adalah Kabupaten Kubu Raya.
Kabupaten Kubu Raya merupakan suatu daerah bagian dari Provinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari Sembilan kecamatannya itu Batu Ampar, Terentang, Kubu,
ataupun barang dengan rute pelayaran keluar maupun masuk Provinsi Kalimantan Barat.
Dalam menjalani kegiatan sehari-hari, untuk mencari nafkah, menuntut ilmu, berlibur ataupun untuk berkunjung dari satu daerah ke daerah lainnya, masyarakat yang tinggal di Kabupaten Kubu Raya khususnya daerah-daerah yang terbatas aliran sungai untuk menuju daerah perkotaan masih sering memanfaatkan jalur sungai sebagai akses sarana transportasi.
Transportasi sungai sebagai salah satu moda transportasi yang tidak dapat dipisahkan dari moda-moda transportasi lain dalam sistem transportasi nasional yang dinamis dan mampu mengadaptasi kemajuan di masa depan. Jaringan prasarana sungai mempunyai karakteristik yang mampu menjangkau wilayah terpencil dan terisolir yang belum ada jaringan transportasi jalan. Transportasi sungai diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan sungai yang selamat dan aman, sebagai pendorong, penggerak dan penunjang pembangunan wilayah pedesaan dan perkotaan dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat.
Dalam menjalankan moda transportasi sungai keselamatan dan keamanan lalu lintas angkutan sungai dipengaruhi oleh perangkat keras dan perangkat lunak atau peraturan-peraturan yang ada namun sering tidak dipatuhi oleh pelaku transportasi sungai. Tingkat pemahaman ABK kapal sungai tentang perambuan angkutan sungai sangatlah minim serta peran pemerintah pusat dan daerah dalam melakukan sosialisasi perambuan angkutan sungai masih kurang. Perambuan angkutan sungai diciptakan dalam rangka untuk mewujudkan lalu lintas angkutan sungai yang aman dan selamat. Oleh karena itu untuk mengurangi
Raya.
1.2 Referensi Hukum
Beberapa peraturan dan perundang-undangan yang dapat dijadikan referensi hukum dalam pelaksanaan kegiatan ini, antara lain:
1. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM. 52 Tahun 2012 Tentang Alur Pelayaran Sungai dan Danau.
2. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM. 25 Tahun 2015 Tentang Standar Keselamatan Transportasi Sungai, Danau dan Penyebrangan.
1.3 Maksud dan Tujuan
Dengan melihat latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan bahwa maksud dari pekerjaan Kajian Perencanaan Pemasangan Rambu-Rambu Sungai Kabupaten Kubu Raya adalah mengkaji dan menyusun perencanaan pemasangan rambu-rambu sungai yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi/keadaan sungai-sungai di Kabupaten Kubu Raya. Sedangkan tujuan dari pekerjaan ini adalah:
a. Mengidentifikasi kondisi eksisting transportasi sungai dan titik-titk lokasi strategis untuk pemasangan rambu-rambu sungai di daerah Kabupaten Kubu Raya.
b. Menganalisis dan mengkompilasi data kebutuhan rambu-rambu sungai, mulai dari tipe, model/bentuk, ukuran dan jumlah rambu-rambu untuk dipasang pada wilayah sungai yang strategis di daerah Kabupaten Kubu Raya.
rambu-sungai di Kabupaten Kubu Raya.
1.4 Sasaran
Adapun sasaran kegiatan Kajian Perencanaan Pemasangan Rambu-Rambu Sungai Kabupaten Kubu Raya adalah sebagai berikut :
a. Teridentifikasinya kondisi eksisting transportasi sungai dan titik-titk lokasi strategis untuk pemasangan rambu-rambu sungai di daerah Kabupaten Kubu Raya.
b. Teranalisis dan terkompilasinya data kebutuhan rambu-rambu sungai, mulai dari tipe, model/bentuk, ukuran dan jumlah rambu-rambu untuk dipasang pada wilayah sungai yang strategis di daerah Kabupaten Kubu Raya.
c. Dirumuskannya rekomendasi rencana tentang pemasangan rambu-rambu sungai yang strategis untuk meningkatkan kelancaran arus transportasi sungai dan moda angkutan barang/orang pada wilayah sungai di Kabupaten Kubu Raya.
1.6 Ruang Lingkup
1.6.1 Ruang Lingkup Wilayah
Pelaksanaan kegiatan Belanja Kajian Perencanaan Pemasangan Rambu-Rambu Sungai Kabupaten Kubu Raya ini diselenggarakan di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
1.6.2 Ruang Lingkup Materi
Secara umum lingkup kegiatan Kajian Perencanaan Pemasangan Rambu-Rambu Sungai Kabupaten Kubu Raya adalah :
a. Langkah persiapan, yaitu interpretasi, koordinasi konsultan dengan pihak proyek yang berhubungan dengan kegiatan, agar diperoleh persepsi yang sama tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan.
b. Penyusunan Laporan Pendahuluan (Inception Report).
c. Pengumpulan data sekunder serta data-data pendukung lainnya yang terkait.
d. Analisis dan pemilahan data-data yang diperoleh sesuai dengan keterkaitan antar data atau identifikasi dan verifikasi data.
e. Kajian, analisis dan kompilasi data f. Asistensi hasil análisis/draf laporan akhir
Laporan Akhir Kajian Perencanaan Pemasangan Rambu-Rambu Sungai Kabupaten Kubu Raya disusun dengan sistematika sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Pada bab ini akan diuraikan secara garis besar hal-hal pokok yang akan dibahas dalam kegiatan ini, yaitu meliputi latar belakang masalah, tujuan dan sasaran, manfaat, keluaran serta ruang lingkup yang meliputi ruang lingkup wilayah dan materi.
Bab II Landasan Teori
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendasari pelaksanaan kegiatan ini.
Bab III Gambaran Umum
Pada bab ini diuraikan tentang gambaran umum kegiatan Identifikasi Batas Wilayah Kabupaten Kabupaten Kubu Raya secara administrasi, kondisi fisik, kependudukan.
Bab IV Metodologi
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai pendekatan dan metodologi yang dapat membantu dalam proses pengerjaan laporan kegiatan ini.
Bab V Pembahasan
Dalam bab ini diuraikan mengenai pembahasan berkaitan dengan perencanaan pemasangan rambu sungai.
Bab VI Penutup
2.1 Pengertian Sungai
Sungai adalah aliran air yang besar dan meamnjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Sungai memiliki beberapa jenis menurut jumlah airnya ( Syarifuddin, 2000 ) :
1. Sungai permanen yaitu sungai yang debit airnya sepanjang tahun relative tetap. Biasanya sungai tipe ini ada di Kalimantan dan Sumatera contohnya 2. Sungai Kapuas, Sungai Kahayan, Sungai Barito, Sungai Mahakam
(Kalimantan), dan Sungai Musi, Sungai Indragiri (Sumatera).
3. Sungai periodik yaitu sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak, sedangkan pada musim kemarau airnya sedikit. Contohnya Sungai Progo, Sungai Code, Sungai Opak.
4. Sungai Intermittent atau Sungai episodik yaitu sungai yang mengalirkan airnya pada musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau airnya kering. Contohnya Sungai Bayem.
5. Sungai ephemeral yaitu sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan. Contohnya Sungai Bayem.
2.2 Rambu Sungai
Dalam menentukan jarak penempatan rambu harus memenuhi criteria sebagai berikut :
Rambu sedapat mungkin di tempatkan dekat alur pelayaran pada sisi kiri dan/atau sisi kanan apabila kapal bergerak menuju arah muka rambu;
memperhatikan kondisi tepi sungai sehingga keberadaannya aman dari gangguan alam;
Rambu-rambu harus bebas dari daun dan/atau ranting pepohonan atau benda-benda lain yang menghalangi pandangan dari setiap titik di sepanjang alur yang berada pada jarak sampai 200 m di depannya. Dalam penentuan ketinggian penempatan daun rambu haru memenuhi ketentuan yang telah di atur sebagai berikut :
Daun rambu di pasang pada ketinggian 350 cm di ukur dari permukaan tanah sampai sisi daun rambu bagian bawah;
Ketinggian penempatan daun rambu pada tebing sungai yang curam agar mempertimbangkan ketinggian air maksimum sehingga keberadaannya tidak sampai terendam air;
Pada lokasi dan kondisi tertentu rambu dapat di tempatkan pada pohon kayu dengan ketinggian disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
Dalam pengaturan penempatan rambu ada beberapa hal yang perlu di perhatikan sebagai berikut :
1. Rambu Larangan
Rambu larangan di tempatkan sebelum tempat yang di maksud atau pada awal bagian alur di mana larangan itu di mulai dengan jarak maksimum 30m;
Rambu larangan di tempatkan pada sisi kanan sebelum tempat yang dimaksud dengan jarak 2 m dari tepi sungai di mana berlakunya rambu tersebut;
Rambu wajib ditempatkan sedekat mungkin dimana rambu tersebut berlaku dengan jarak maksimum 20 m;
Rambu wajib pelampung di tempatkan pada jarak 100 m di depan lokasi sebelum berlakunya rambu tersebut.
3. Rambu Peringatan
Rambu peringatan di tempatkan pada sisi kanan pada jarak 100 m sebelum tempat atau lokasi yang dinyatakan berbahaya;
Apabila diperlukan penegasan atau pengulangan rambu peringatan ini dapat di gunakan papan tambahan yang menyatakan jarak.
4. Rambu Petunjuk/Penuntun
Rambu petunjuk/penuntun ditempatkan pada sisi kanan dengan jarak minimum 100 m sebelum tempat daerah atau lokasi yang ditunjuk; Rambu petunjuk dapat di tambah dengan papan tambahan yang
menyatakan jarak lokasi
5. Papan Tambahan
Papan tambahan di tempatkan dibawah rambu dengan jarak 10 cm dari sisi terbawah daun rambu dengan ketentuan sisi vertikal papan tanbahan tidak melebihi sisi vertikal daun rambu;
Penempelan papan tambahan maksimum 2 baris kebawah dengan jarak satu sama lain 10 cm;
Pesan yang termuat dalam papan tambahan harus bersifat khusus, singkat, jelas dan mudah serta cepat di mengerti oleh pemakai alur dengan tinggi huruf 20 cm dan banyak huruf maksimum 12 huruf
mengetahui nama daerah yang dilalui;
Patok kilometer ditempatkan pada sisi kiri apabila posisi pandangan menghadap ke arah hilir;
Perhitungan jarak kilometer di mulai dari muara sungai ke arah hulu; Papan nama daerah dan patok kilometer di buat dengan lembaran plat
alumunium tebal minimal 2 mm atau plat besi galvanis tebal minimum 2 mm dengan ukuran 100 x 40 cm;
Cara pemasangan/penempatan papan nama daerah dan patok kilometer sama dengan pemasangan penempatan rambu pada umumnya.
2.3 Prioritas Pemasangan Rambu Sungai
Skala prioritas pengadaan/pemasangan rambu di dasarkan pada tingkat keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas pelayaran kapal di perairan daratan dan penyeberangan.
Skala prioritas pengadaan dan pemasangan rambu meliputi sebagai berikut :
Prioritas utama mengenai keselamatan dan keamanan penumpang; Prioritas kedua mengenai keselamatan kapal;
Prioritas ketiga mengenai ketertiban pelayaran; Prioritas keempat mengenai kelancaran lalu lintas.
2.3 Pemasangan Rambu Suar dan Traffic Light
Dalam pemasangan rambu suar dan traffic light dapat di berlakukan di tempat atau lolasi sebagai berikut :
Alur pelayaran dengan frekwensi lalu lintas yang tinggi; Lokasi tertentu sesuai dengan perkembangan lalu lintasnya. 2. Traffic Light
Lampu lalu lintas dapat di pasang pada tempat-tempat yang memerlukan pengaturan lalu lntas secara khusus.
Dalam pembinaan dan pengawasan teknis atas penyelenggaraan, pengadaan, penetapan, pemasangan dan pemeliharan rambu di perairan daratan dan penyeberangan di lakukan oleh Direktorat Bina Sistem Prasarana dan Direktorat Jenderal Perhubungan darat.
2.4 Gambar Rambu Perairan Daratan
Rambu perairan daratan yang terbagi dalam empat jenis meliputi : (rambu larangan, rambu wajib, rambu peringtan bahaya dan rambu petunjuk/penuntun) dapat dilihat pada tabel gambar rambu berikut ini :
Tabel 2. 1 Rambu Larangan (Prohibitory Signs)
No Gambar Arti
A.1
Dilarang melewati dan mendahului (kapal di depanAnda) Do not overtake
A.2
Dilarang melewati (mendahului) bagi kapal-kapal yang sedang menggandeng/mendorong kapal lain. Tidak berlaku bila gandengannya adalah pendorong kapal (tug boat) yang panjangnya tidak lebih dari 110 meter dan lebarnya tidak lebih dari 12 m
Do not overtake in case ship is coupled to or pushed by another ship. This rule does not apply if the “coupled” ship is “pusher” not more than 110 meters long and 12 meters wide
A.3
Dilarang (saling) berpapasan dan melewati (mendahului) Meeting side by side and overtaking prohibited
A.4
Dilarang memasuki kapal Do not enter into ship Entering into prohibited
A.5
Dilarang merokok Smoking prohibited Do not smoke, please
A.6
Dilarang bertambat di pinggir jalan air, dimana rambu dipasang
Do not moor at side of waterways where a sign is put up
A.7
Dilarang membuang jangkar/berlabuh (tambat,) dimana rambu dipasang
Anchoring/mooring prohibited where a sign stands
A.8
Dilarang menambatkan kapal, dimana rambu dipasang Do not tie ship where a sign stands
A.9
Dilarang berlabuh (tambat) dalam jarak 25 meter dari rambu ini
Mooring prohibited within 25 meters from this sign
A.10
Dilarang berputar Turning prohibited
A.11
Dilarang berlayar dengan kecepatan penuh (full speed) untuk menghindari adanya pukulan gelombang
Sailing at full speed prohibited to avoid beating of the waves A.12
A.13
Dilarang menebang kayu, sepanjang angka (pada jarak) yang tertera di rambu tersebut (dalam km)
Cutting or telling trees prohibited within area indicated in sign (in kilometers)
A.14
Dilarang menguliti kayu
A.15
Dilarang membakar hutan Burning of forest prohibited
A.16
Dari tempat berlabuh, 30 m dihitung dari letak rambu harus dikosongkan dan tidak boleh dipergunakan untuk tempat berlabuh
30 meters space from sign should not used for mooring
A.17
Dari tempat berlabuh, 60 m dihitung dari letak rambu harus dikosongkan dan tidak boleh dipergunakan untuk tempat berlabuh
60 meters space from sign should be kept free and should not be used for mooring
A.18
Dilarang berlayar di luar batas rambu yang telah ditentukan
Do not sail outside limit indicated by signs
A.19
Dilarang masuk No entrance
Tabel 2. 2 Rambu Perintah (Compulsory/ Mandatory Signs)
No Gambar Arti
B.1 Kapal tetap berjalan mempertahankan haluannya pada sisi/arah panah yang bergaris tebal
Keep sailing in direction of thick lined arrow
B.2
B.3 Kapal harus berhenti untuk suatu keperluan yang ditujukan pada papan yang tertera di bawahnya
B.4 Kecepatan maksimum yang diizinkan menurut angka yang tertera pada rambu (dalam km)
The maximum speed is permitted as indicated on the this sign (in kilometers)
B.5 Supaya mengeluarkan tanda isyarat bunyi (peluit) Please sound signal
B.6 Supaya berlayar berhati-hati
Please sail cautiously (carefully)
B.7 Daerah yang diawasi. Keterangan ditulis di dalam gambar lingkaran (misal : kecepatan 5 km/jam; dilarang buang jangkar dll)
Controlled area. Caution is indicated in the circle (eg. 5 kph; no anchoring)
B.8 Bahaya. Keadaan yang membahayakan ditulis di dalam gambar belah ketupat (misal batu; rangka kapal; gosong dll)
Danger. The nature of danger may be indicated in side of the diamond shape (eg. Rock; wreck; sandbar etc)
B.9 Kapal harus menjauhi (menghindari). Keterangan ditulis di luar belah ketupat yang bersilang (misal : tempat pemandian; bendungan; penderasan/arus deras/riam dll) Boats keep out. Explanation may be placed outside the crossed diamond shape (eg. Swim area; dam; rapid etc)
B.10 Penerangan. Untuk menunjukkan suatu jarak, tempat dsb
Information. For displaying information such as distance, location etc.
B.11 Untuk menunjukkan tanda-tanda pengaturan bahaya-bahaya tetap (misal : tempat pemandian; bendungan; arus deras/riam dll)
To display regulatory markers (eg. Swim area; dam; rapid etc)
B.12 Kapal dilarang berlayar antara pelampung dan daratan yang terdekat
Boat should not pass between buoy and nearest shore
Tabel 2. 3 Rambu Peringatan (Warning Signs)
No Gambar Arti
C.1 Tinggi (ruang bebas udara) maksimum dari
permukaan air terbatas (angka tertera
menunjukkan maksimum dari permukaan air, ukuran dalam meter)
Maximum height from surface of water limited (figure in sign indicated maximum height from surface of water, in meters)
C.2 Dalam alur terbatas (angka yang tertera
menunjukkan dalamnya air, ukuran dalam meter)
of water, in meters)
C.3 Supaya memberikan semboyan bunyi
Please sound signal
C.4 Lebar perairan yang dapat dilayari terbatas (angka yang tertera menunjukkan lebar maksimum, ukuran dalam meter)
Width of sailable waters limited (figure on sign indicated maximum width of water, in meters)
C.5 Rambu untuk menempatkan suatu
pembatasan/peringatan pelayaran
Sign or pillar for indicating boundary/warning regarding sailing
C.6 Alur pelayaran sebelah kanan menyempit,
angka dalam rambu menunjukkan jarak dalam meter dengan maksud supaya kapal itu sendiri harus mengambil antara tepi tersebut
Right-hand side channel narrowing. Figure in sign indicated distance in meters that ship’s captain
C.7
Harus berlayar lebih dari 30 m dari tepi sungai, ada bahaya (batu, snag dsb)
Sail more than 30 meters away from side to avoid danger (stone, snag etc.)
C.7a
C.8 Pembatasan pelabuhan dangkal
Restriction shallow waters
C.9
Harus berlayar lebih dari 10 m dari tepi sungai, ada batu
C.9a stone
C.10
Harus berlayar lebih dari 20 m dari tepi sungai, ada batu
Sail more than 20 meters away from side, there is stone
C.10a
C.11 Arahkan haluan ke rambu ini dan segera
tinggalkan rambu ini dan arahkan haluan ke tanda berikutnya
Aim/fix direction towards this sign then leave this sign immediately and aim direction toward
C.11a next sign
C.12
Terus berlayar menyelusuri pinggiran sungai menurut arah panah
Sail ahead along side of river according to direction of arrow
C.12a
C.13
Berlayarlah di tengah-tengah alur pada arah panah
Sail in the middle according to direction of arrow C.13a
C.14
Selusuri tepi sungai pada arah panah Sail along side of river in direction of arrow
C.14a
C.15 Tahan kiri bagi kapal-kapal yang berlayar ke hulu. Tahan kanan, bagi kapal-kapal yang berlayar ke muara
Leave the signal on the left when sailing upstream. Leave the signal on the right when sailing downstream
C.16 Tahan kanan bagi kapal-kapal yang berlayar ke hulu. Tahan kiri, bagi kapal-kapal yang berlayar ke muara
Leave the signal on the right when sailing upstream. Leave the signal on the left when sailing downstreamTo display regulatory markers (eg. Swim area; dam; rapid etc)
C.17 Pusaran air Eddies
Tabel 2. 4 Rambu Petunjuk/Penuntun
No Gambar Arti
D.1
(Ikuti arah panah) Berlayarlah dalam arah panah
Follow direction of arrow D.1a
D.2
(Hati-hati, anda sedang) Melintasi saluran listrik dengan tekanan tinggi
D.2a high voltage/tension
D.3 Pada jarak 1500 m – di depan anda - (angka di rambu menunjukkan jarak dalam meter), ada - lintasan - penyeberangan ferry
At 1500 m (figure indicates distance in meters), there is a ferry crossing
D.4
Diijinkan untuk berlabuh (buang jangkar) di pinggiran dalam perairan dimana rambu dipasang
Anchoring/mooring allowed here
D.5 Diijinkan berlabuh (buang jangkar) di pinggir jalan perairan dimana rambu dipasang
Anchoring/mooring at side of these waterways allowed
D.6 Diijinkan bertambat pada tepi jalan perairan dimana rambu dipasang
Ship allowed to tie up at side of these waterways
D.7 Petunjuk dan tempat berputar
Sign and place for turning
D.8 Lebar dari tempat berlabuh (dalam meter) -
yang bisa - digunakan untuk berlabuh Area for anchoring/mooring (in meters)
D.9 Alur pelayaran bercabang dan dapat dilayari. Alur utama/penting digambarkan lebih lebar (tebal)
Sailable channel and subdivisions.
D.10 Alur pelayaran bercabang dan dapat dilayari. Alur utama/penting digambarkan lebih lebar (tebal)
Sailable channel and subdivisions.
Main/important channel painted wider in picture D.11 Alur pelayaran bercabang dan dapat dilayari.
Alur utama/penting digambarkan lebih lebar (tebal)
Sailable channel and subdivisions.
Main/important channel painted wider in picture
D.12 Perairan yang dipergunakan (juga) berlaku
sebagai samping jalan (jalan pintas/alternatif) pelayaran yang menuju ke muara
Waterways used also serve as by-pass leading to estaury/mouth of river/sea
D.13 Perairan yang dipergunakan (juga) berlaku
sebagai samping jalan (jalan pintas/alternatif) pelayaran yang menuju ke muara
Waterways used also serve as by-pass leading to estaury/mouth of river/sea
D.14
Berlayarlah dalam batas rambu Sail within limit of sign
D.15 Penerangan (informasi). Untuk menunjukkan
arah suatu tempat, menunjukkan jarak dan sebagainya
Information.For displaying information such as distance, location etc
D.16 Angka yang tertera dalam rambu tersebut
menunjukkan jarak untuk mencapai kota yang tertera dalam rambu tersebut (dalam km) Figure in sign indicate distance in kilometers to town named on sign
D.17 Pada arah (yang ditunjukkan oleh) bagian
merah/hitam dari papan/tanda (rambu) ini akan terdapat rambu merah atau hitam
In the direction of red/black of this board/sign is found a red or black sign
D.18
Menunjukkan adanya rambu yang hanya dapat dilihat satu jurusan
Indication the existence of a sign which is visible from one direction only
D.18 a
D.19 Menunjukkan garis/bagian alur yang aman
untuk dilayari. Garis ini ditunjukkan oleh garis lurus yang ditarik dari kedua titik tertinggi dari segitiga
Indicates a line/part of the channel safe for sailing. This part is shown by a straight line drawn from two extreme heights of triangles D.20
Supaya mendekati tikungan/belokan sungai pada jarak kurang lebih ⅓ (sepertiga) dari lebar sungai tersebut dan langsung menuju
D.20 a
tanda/rambu berikutnya
Start to approach the curves/turns of river from a distance of approximately ⅓ (a third) the width of the river and sail directly towards the next sign
D.21 Tikungan ke kiri
Left bend
D.22 Tikungan ke kanan
Right bend
D.23 Tikungan tajam (dan berbahaya) ke kiri
D.24 Tikungan tajam (dan berbahaya) ke kanan Dangerous right bend
D.25 Banyak tikungan Many bends D.26 Banyak tikungan Many bends D.27 Banyak tikungan Many bends
D.28 Banyak tikungan Many bends
D.29 Penyempitan kiri-kanan
Channel ahead is narrower
D.30 Penyempitan kiri
Left channel ahead is narrower
D.31 Penyempitan kanan
D.32 Jembatan angkat Swing (movable) bridge
D.33 Persimpangan. Alur utama/penting
digambarkan lebih lebar (tebal)
Sailable channel and subdivisions (forks).
Main/important channel painted wider in picture
D.34 Persimpangan. Alur utama/penting
digambarkan lebih lebar (tebal)
Sailable channel and subdivisions (forks).
Main/important channel painted wider in picture
D.35 Persimpangan. Alur utama/penting
digambarkan lebih lebar (tebal)
Sailable channel and subdivisions (forks).
D.36 Persimpangan. Alur utama/penting digambarkan lebih lebar (tebal)
Sailable channel and subdivisions (forks).
Main/important channel painted wider in picture
D.37 Persimpangan. Alur utama/penting
digambarkan lebih lebar (tebal)
Sailable channel and subdivisions (forks).
Main/important channel painted wider in picture
Dari gambar rambu perairan daratan di atas dan dari ukuran rambu perairan daratan serta ketentuan tentang tata cara penempatan rambu peraiaran daratan dapat kita bedakan antara rambu yang berlaku di jalan dengan rambu untuk perairan daratan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table beda rambu perairan daratan dengan rambu di jalan :
Tabel 2. 5 Perbedaan Antara Rambu Sungai Dan Rambu Jalan
No Uraian Rambu Jalan Rambu Sungai
1 Ukuran Lebih kecil Lebih besar (rata-rata 140 x 100 cm)
3 Rambu pelampung Tidak ada Ada
4 Rambu cahaya Tidak ada Ada
5 Rambu S Stop Sinyal suara
6 Letak Pinggir kiri Pinggir kanan
7 Bahan Lebih tipis Lebih tebal
8 Rangka Silang (+) Persegi panjang
9 Jenis Lebih banyak Lebih sedikit
2.5 Penempatan Rambu Sungai
Jarak Penempatan Rambu
Rambu sedapat mungkin ditempatkan dekat pada alur pelayaran, pada sisi kiri dan/atau sisi kanan apabila kapal bergerak menuju arah muka rambu. Penempatan rambu harus diatur sedemikian rupa dengan memperhatikan kondisi tepi sungai sehingga keberadaannya aman dari gangguan alam. Rambu harus bebas dari daun dan/atau ranting pepohonan atau benda-benda lain yang menghalangi pandangan dari setiap titik di sepanjang alur yang berada pada jarak sampai dengan 200 m di depannya.
Ketinggian Penempatan Daun Rambu
Daun rambu dipasang pada ketinggian 350 cm diukur dari permukaan tanah sampai sisi daun rambu bagian bawah. Ketinggian penempatan
pohon kayu dengan ketinggian disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
Penempatan Rambu larangan
Rambu larangan ditempatkan sebelum tempat yang dimaksud atau pada awal bagian alur dimana larangan itu dimulai dengan jarak maksimum 30 m. Rambu larangan ditempatkan pada sisi sebelah kanan sebelum tempat yang dimaksud dengan jarak 2 m dari tepi sungai dimana berlakunya rambu tersebut. Penempatan daun rambu tegak lurus terhadap alur dan dapat kelihatan dengan jelas dari jarak 200 m
Penempatan Rambu Wajib
Rambu wajib ditempatkan sedekat mungkin dimana rambu tersebut berlaku dengan jarak maksimum 20 m. Rambu wajib pelampung ditempatkan pada jarak 100 m di depan lokasi sebelum berlakunya rambu tersebut.
Penempatan Rambu Peringatan
Rumbu peringatan ditempatkan pada sisi kanan pada Jarak 100 m sebelum tempat atau lokasi yang dinyatakan berbahaya. Apabila diperlukan penegasan atau pengulangan rambu peringatan ini dapat digunakan papan tambahan yang menyatakan Jarak.
Penempatan Rambu Petunjuk/Penuntun
Rambu petunjuk/penuntun ditempatkan pada sisi kanan dengan Jarak minimum 100 m sebelum tempat atau lokasi yang ditunjuk. Rambu Petunjuk dapat ditambah dengan papan tambahan yang menyatakan jarak lokasi.
makaimum 2 baris ke bawah dengan jarak satu sama lain 10 cm. Pesan yang termuat dalam papan tambahan harus bersifat khusus. Singkat, jelas dan mudah serta cepat dimengerti oleh pemakai alur dengan tinggi huruf 20 cm, tebal 5 cm dan banyak huruf maksimum 12 huruf.
Papan Nama Daerah dan Patok Kilometer
Papan nama daerah dapat dipasang pada lokasi tertentu untuk mengetahui nama daerah yang dilalui. Patok kilometer ditempatkan pada sisi kiri apabila posisi pandangan menghadap ke arah kearah hilir Perhitungan jarak kilometer dimulai dari muara sungai ke arah hulu. Papan nama daerah dan patok kilometer dibuat dengan lembaran plat aluminium tebal mininum 2 mm atau plat besi galvania tebal minimum 2 mm dengan ukuran 100 x 40 cm. Cara pemasangan / penempatan papan nama daerah dan patok kilometer sama dengan pemasangan / penempatan rambu pada umumnya.
Bab 3.Gambaran Umum
3.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Kubu Raya
3.1.1 Keadaan Geografis
Kabupaten Kubu Raya merupakan Kabupaten yang memiliki wilayah daratan dan perairan atau kepulauan yang tersebar menjadi beberapa wilayah kecamatan pesisisr. Kabupaten Kubu Raya terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2007 dengan luas wilayah 698.524 Ha yang terbagi dalam 9 (sembilan) wilayah kecamatan dengan jumlah 120 desa.
Posisi geografis Kabupaten Kubu Raya terletak disisi Barat Daya Provinsi Kalimantan Barat atau berada pada koordinat 00 13’ 27” Lintang Utara sampai dengan 10 00’ 15” Lintang Selatan dan 1090 02’ 47” sampai dengan 1090 58’ 17” Bujur Timur. Batas -batas administratif Kabupaten Kubu Raya :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Landak
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Ketapang
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kayong Utara d. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Karimata
Secara administratif Kabupaten Kubu Raya terdiri dari 9 kecamatan dan 120 desa (dua desa pemekaran lainnya sudah mendapatkan persetujuan DPRD,
pada Tabel 3.1 di bawah ini
Tabel 3. 1 Luas Wilayah Kabupaten Kubu Raya Menurut Kecamatan
Sumber: Kubu Raya Dalam Angka, BPS 2019
Dari perspektif geostrategis Kabupaten Kubu Raya memiliki posisi yang sangat strategis. Dalam rencana tata ruang Pontianak Metropolitan Area,, beberapa cluster rencana yang akan dikembangkan bersingungan secara langsung dengan wilayah administratif kecamatan yang merupakan wilayah hinterland Kota Pontianak. Rencana pengembangan Ring Road Tol Laut, serta rencana pergudangan di wilayah pesisir desa Sungai Rengas, akan menjadikan daerah-daerah tersebut menjadi daerah tujuan investasi baru. Selain itu, rencana pengembangan koridor jalan Ahmad Yani 3 yang menghubungkan wilayah
Kakap-No Kecamatan Ibukota Jumlah
Desa
Luas
(Km2) Persentase (%)
1 Batu Ampar Padang Tikar 15 2.002,70 28,67
2 Terentang Terentang 10 786,40 11,26
3 Kubu Kubu 20 1.211,60 17,35
4 Teluk Pakedai Teluk Pakedai 14 291,90 4,18
5 Sungai Kakap Sungai Kakap 13 453,17 6,49
6 Rasau Jaya Rasau Jaya 6 111,07 1,59
7 Sungai Raya Arang Limbung 20 929,30 13,30
8 Sungai Ambawang Ambawang Kuala 15 726,10 10,39
9 Kuala Mandor B Kuala Mandor 5 473,00 6,77
Desa Persiapan 5
Sementara itu, di wilayah Timur Kabupaten Kubu Raya, aktivitas trasportasi di jalan Trans Kalimantan, secara bertahap mempu mendorong berkembangnya wilayah tersebut, sebagai salah satu pusat pemukiman dan kegiatan perdagangan serta jasa termasuk pergudangan.
Sebagai Kabupaten yang memiliki wilayah daratan dan pesisir/kepulauan, aktivitas pembangunan di Kabupaten Kubu Raya secara umum masih terpusat di wilayah Kecamatan. Wilayah pesisir sebagai daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut, relatif jauh dari pusat pembangunan sehingga menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk lebih memgedepankan pembangunan di wilayah terluar tersebut. Karakteristik wilayah pesisir Kabupaten Kubu Raya sebagai berikut :
Pantai pesisir Kabupaten Kubu Raya, di sebelah Barat berbatasan dengan Laut Natuna, meliputi 4 (empat) Kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Kakap (12 Desa), Kecematan Kubu (19 Desa), Kecamatan Teluk Pakedai (14 Desa) dan Kecamatan Batu Ampar (14 Desa) dengan panjang pantai 194 Km;
Parairan wilayah, sampai 4 (emapt) mil atau 7.408 Km dari garis surut terendah dikali dengan panjang pantai 194 Km = 1.630 K2 ( 7.408 Km x 194 Km = 1.630.68 Km2);
Perairan Selat dalam wilayah Kabupaten (Selat Padang Tikar, Sebagian Selat Maya dan Perairan sekitar Tanjung Bunga) dengan kondisi perairan Estaurina, (pertemuan air asin dari Laut Natuna dengan air Tawar dari Sungai Kapuas dan Sungai Landak) dengan luas perairan Estaurina tersebut = 42.260 Ha. Hutan Mangrove yang berada disepanjang selat dan pesisir terdiri dari luas
63.362.20 tersebar di 4 (empat) kecamatan
Pesisir, berlokasi di sebelah Utara Kecamatan Batu Ampar, sebelah utara sampai barat Kecamatan Kubu dan pada pantai Barat Kecamatan Teluk Pakedai dan Kecamatan Sungai Kakap; kawasan hutan selengkapnya dapat dilihat sebagaimana tabel 3 berikut ini.
Pulau-pulau Kecil di Kebupaten Kubu Raya, berdasarkan Berita Acara Verifikasi Penamaan Pulau di Provinsi Kalimantan Barat Tanggal 28 Juni 2008 oleh Direktotarat Jendral Pemerintahan Umum Departemen Dalam Negeri RI, berjumlah 39 (tiga puluh sembilan) buah Pulau-pulau Kecil.
3.1.1 Topografi
Secara keseluruhan wilayah Kabupaten Kubu Raya terdiri dari dataran rendah, umumnya datar, sebagian bergelombang dan sebagian kecil berbukit dengan kemiringan 0% - 60%. Meskipun hampir seluruh wilayah Kubu Raya berupa dataran rendah dan rawa-rawa dengan ketinggian 10 m dan kemiringan < 2%.
3.1.3 Jenis Tanah Dan Keadaan Lapisan Tanah
Jenis tanah yang ditemui di Kabupaten Kubu Raya yaitu jenis tanah aluvial, gleisol, organosol, regoso, podsolik dan kombisol.
1. Aluvial
Jenis tanah Aluvial disebut juga sebagai tubuh tanah endapan. Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan, berasal dari bahan induk aluvium. Secara keseluruhan tanah aluvial mempunyai sifat fisika kurang baik sampai sedang, tekstur beraneka ragam, struktur tanahnya pejal atau tanpa struktur, serta konsistensinya keras waktu kering dan
pada bahan induknya, kesuburan tanahnya sedang sampai tinggi. Penyebarannya di daerah dataran aluvial sungai (hasil dari lumpur yang mengendap), dataran aluvial pantai, dan daerah cekungan (depresi). 2. Gleisol
Tanah yang selalu jenuh air sehingga berwarna kelabu atau menunjukkan sifat-sifat hidromorfik lain.
3. Organosol Gley Humus atau Tanah Gambut atau Tanah Organik
Jenis tanah ini berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rerumput rawa, dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas, ketebalan lebih dari 0.5 meter, warna coklat hingga kehitaman, tekstur debu lempung, tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat-agak lekat, kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya bersifat sangat asam (pH 4.0), kandungan unsur hara rendah.
Berdasarkan penyebaran topografinya, tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa, mempunyai ketebalan 0.5-16 m, terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa, hampir selalu tergenang air, bersifat sangat asam;
b. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). c. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara
rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan rawa, mempunyai ketebalan 0.5-6 m, bersifat agak asam, kandungan unsur hara relatif lebih tinggi; dan
biasanya selalu tergenang air;
b. gambut eutrop, bersifat agak asam, kandungan O2 serta unsur haranya lebih tinggi;
c. mesotrop, peralihan antara eutrop dan oligotrop.
4. Regosol
Tanah bertekstur kasar dengan kadar pasir lebih dari 60%, hanya mempunyai horison penciri ochrik, histik atau sulfurik.
5. Podsolik
Jenis tanah podsolik pada umumnya terdapat pada berbagai jenis bahan induk seperti tufa masam, batuan pasir (sandstones) atau endapan kuarsa. Tanah ini memiliki solum tanah yang paling tebal yaitu 90 – 180 cm, warna merah hingga kuning, tekstur tanahnya lempung hingga berpasir, struktur gumpal, konsistensinya gembur di bagian atas dan teguh di lapisan bawah (aerasinya buruk), kandungan bahan organiknya kurang dari 5%, kandungan unsur hara (fosfor, nitrogen, kalium, kalsium, magnesium, belerang, seng) rendah, reaksi tanah (pH) sangat masam sampai agak masam yaitu 4 – 5,5. Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tuf vulkanik, bersifat asam. Tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, curah hujan lebih dari 2.500 mm/tahun. Tanah mineral telah berkembang, kejenuhan basa rendah.
Secara keseluruhan tanah ini memiliki sifat kimia kurang baik, dapat terjadi keracunan alumunium dan mangan untuk lahan kering dan keracunan besi
6. Kombisol
Tanah dengan horisin kambik, atau epipedon umbrik atau molik. Tidak ada gejala-gejala hidromorfik (pengaruh air).
3.1.4 Geologi
Peta geologis, Kabupaten Kubu Raya sebagian besar terdiri dari endapan aluvial, pasang surut, danau, rawa dan undak dengan formasi aluvium dan endapan rawa (Qa) yang merupakan formasi paling muda. Formasi ini terdiri dari kerikil, pasir, lanau, lumpur dan gambut. Endapan ini menutupi dataran aluvial dan pasang surut di bagian barat, lembah sungai kapuas dan lembah-lembah sungai besar lainnya yang mengalir ke terain perbukitan yang terpotong-potong dan kedalam dataran aluvial.
Bagian barat dan selatan terdiri dari endapan-endapan laut dan sungai baru berumur paling muda dan menempati seluruh zona pertanian bagian barat Kabupaten Kubu Raya. Zona pantai terdiri dari cekungan liat yang tertutup oleh rawa-rawa gambut dan dilintasi danau-danau dangkal dan rawa yang terkena banjir secara periodik yang berada diantara teras-teras tertutup gambut.
3.2 Kependudukan
Penduduk Kabupaten Kubu Raya yang luas wilayahnya 6.985,20 km2 atau 4,76 persen dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat, berdasarkan hasil proyeksi penduduk tahun 2010, berjumlah 500.970 jiwa. Tahun 2016 jumlah penduduk adalah 554.811 jiwa. Adapun total jumlah penduduk hasil proyeksi tahun 2019 adalah 579.331 jiwa dengan rincian penduduk laki-laki 293.643 jiwa dan
Laki-Laki Perempuan Jumlah 1 BatuAmpar 18.988 18.253 37.241 104 2 Terentang 5.998 5.502 11.500 109 3 Kubu 19.592 19.394 38.986 101 4 Teluk Pakedai 10.624 10.313 20.937 103 5 Sungai Kakap 59.844 59.241 119.085 101 6 Rasau Jaya 13.915 13.775 27.690 101 7 Sungai Raya 109.932 106.711 216.643 103 8 Sungai Ambawang 41.649 39.701 81.395 105 9 Kuala Mandor-B 13.056 12.793 25.854 102 Jumlah 293.643 285.688 579.331 103
Sumber: Badan Pusat Statistik Kubu Raya, 2020
Jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Sungai Raya sebagai ibukota Kabupaten Kubu Raya yang jumlahnya 216.643 jiwa dari total jumlah penduduk di Kabupaten Kubu Raya. Mayoritas penduduk yang berada di Kabupaten Kubu Raya adalah laki-laki.
Tabel 3. 3 Kepadatan Penduduk Kabupaten Kubu Raya Tahun 2019
No Kecamatan Luas Wilayah (Km2) Penduduk (Jiwa) Kepadatan (Jiwa/Km2) 1 BatuAmpar 2.002,70 37241 19 2 Terentang 786,40 11500 15 3 Kubu 1.211,60 38986 32 4 Teluk Pakedai 291,90 20937 72
7 Sungai Raya 929,30 216643 233 8 Sungai Ambawang 726,10 81395 112 9 Kuala Mandor-B 473,00 25854 55 Jumlah 6.985,24 579331 83
Sumber: Badan Pusat Statistik Kubu Raya, 2020
Penyebaran penduduk Kabupaten Kubu Raya tidak merata antara kecamatan satu dengan lainnya. Dengan kepadatan penduduk 83 jiwa per km, kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terpadat adalah Kecamatan Sungai Kakap, yaitu 263 jiwa per km2. Sedangkan kecamatan yang jarang penduduknya adalah Kecamatan Terentang, yang hanya 15 jiwa per km2. Dilihat dari penyebaran penduduk di Kabupaten Kubu Raya, Kecamatan Sungai Raya yang terletak di Ibukota Kabupaten Kubu Raya menduduki urutan ketiga dari segi kepadatan penduduk namun terbanyak dengan jumlah penduduk 216.643 jiwa. Hal ini mengindikasikan Kecamatan Sungai Raya memiliki luas yang cukup besar namun penduduknya yang banyak tidak tersebar merata.
Metodologi yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini meliputi :
4.1 Survey
Pengumpulan data dan informasi yang diperlukan dalam pekerjaan ini dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Survey Institusional/Instansional, yang ditujukan untuk mendapatkan data sekunder yang dimiliki oleh institusi/ lembaga, instansi-instansi terkait, baik pemerintah maupun swasta,
Observasi Lapangan, yang berupa pengamatan atau peninjauan langsung terhadap kondisi wilayah studi/kajian.
Teknik Wawancara dan atau Kuesioner, umumnya teknik ini dilakukan apabila data dan atau informasi sebagai bahan masukan tidak terdapat dalam data sekunder.
4.2 Pengolahan Data
Mempersiapkan data mentah (row data) menjadi data yang siap dianalisis dan menentukan metode pengolahan data untuk mencapai tujuan dan sasaran kegiatan kajian ini.
4.3 Analisis Data
a. Pengumpulan data sekunder dan data-data terkait yang akan dianalisis secara lebih komprehensif.
b. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan dan sasaran kegiatan kajian ini.
5.1 Tinjauan Kebijakan
Dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran pada Pasal 119 ayat (1) menyebutkan bahwa untuk menjamin keselamatan dan keamanan angkutan perairan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (1) Pemerintah melakukan perencanaan, pengadaan, pengoperasian, pemeliharaan, dan pengawasan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) dan Telekomunikasi Pelayaran sesuai dengan ketentuan internasional, serta menetapkan alur pelayaran dan perairan pandu. Pasal 172 ayat (3) menyatakan bahwa penyelenggaraan SBNP sesuai dengan perkembangan teknologi wajib memenuhi persyaratan dan standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pada ayat (4) menyebutkan bahwa dalam keadaan tertentu, pengadaan SBNP sebagai bagian dari penyelenggaraan dapat dilaksanakan oleh badan usaha. Pasal 190 ayat (1) disebutkan bahwa untuk kepentingan keselamatan dan kelancaran berlayar pada perairan tertentu, pemerintah menetapkan sistem rute yang meliputi:
1. skema pemisah lalu lintas di laut, 2. rute dua arah,
3. garis haluan yang dianjurkan, 4. rute air dalam,
5. daerah yang harus dihindari, 6. daerah lalu lintas pedalaman, dan 7. daerah kewaspadaan.
2. pertimbangan kepadatan lalu lintas.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM.3/L/PHB-77 tentang Perambuan Lalu Lintas Perairan Pedalaman di Indonesia tanggal 18 Mei 1977 memuat tentang bentuk dan keterangan rambu larangan, rambu wajib, rambu peringatan, dan rambu petunjuk/penuntun. Dalam surat keputusan tersebut dijelaskan bahwa rambu larangan berjumlah 19 (sembilan belas) buah, rambu wajib sebanyak 12 (dua belas) buah, rambu peringatan berjumlah 24 (dua puluh empat) buah, rambu petunjuk/penuntun sebanyak 41 (empat puluh satu) buah.
Dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor: HK.206/1/20/ DPRD/93 tentang Pedoman Teknis Perambuan di Perairan Daratan dan Penyeberangan tanggal 29 September 1993 mengatur tentang:
1. BAB I Ketentuan Umum
2. BAB II Bentuk, Ukuran, Warna, dan Spesifikasi Rambu 3. BAB III Penempatan Rambu
4. BAB IV Pemasangan Rambu 5. BAB V Penyelenggaraan Rambu 6. BAB VI Ketentuan Penutup
5.2 Manajemen Keselamatan Transportasi Sungai
Setiap kapal mempunyai suatu sistem manajemen keselamatan dalam rangka menciptakan suatu lingkungan kerja yang berwawasan keselamatan dalam mengoperasikan dan menjalankan pelayaran. Keselamatan pelayaran tidak hanya dilihat dari kondisi kapalnya, sebab banyak faktor lain yang memengaruhi. Salah
galangan.
Sistem manajemen keselamatan harus memastikan : ketaatan pada aturan dan peraturan wajib, dan bahwa penerapan ketentuan, garis panduan dan rekomendasi standar dari Organisasi, Administrasi, lembaga klasifikasi, dan organisasi industri maritim dilakukan sebagai bahan pertimbangan.
Yang dimaksud dengan Keselamatan Kapa adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan material konstruksi, bangunan, permesinan dan pelistrikan, stabilitas, tata susunan serta perlengkapan termasuk radio dan elektronika kapal yang dibuktikan dengan sertifikat setelah dilakukan pemeriksaan dan pengujian yang pelaksanaan penilikannya dilakukan secara terus menerus sejak kapal dirancang bangun, dibangun, beroperasi sampai dengan kapal tidak digunakan lagi oleh Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal.
awak/kelasi kapal termasuk latihan-latihan kerja yang perlu dijadwalkan secara teratur, bendera kapal, Asosiasi yang dalam hal ini bisa INSA ataupun GAPASDAP, Asuransi/lembaga penjaminan, lembaga keuangan, galangan tempat membuat atau merawat kapal. Persyaratan fungsional untuk Sistem Mana Setiap perusahaan perlu mengembangkan, menerapkan dan mempertahankan Sistem Manajemen Keselamatan yang meliputi persyaratan fungsional berikut:
kebijakan keselamatan dan perlindungan lingkungan;
petunjuk dan prosedur untukmemastikan keselamatan operasi kapal dan perlindungan lingkungan dalam mentaati peraturan internasional maupun perundangan negara bendera kapal yang bersangkutan;
menentukan tingkat otorita dan garis komunikasi antara dan antar personil darat dan di kapal;
prosedur pelaporan kecelakaan dan penyimpangan dari ketentuan Code ini;
prosedur untuk siap dan tanggap dalam keadaan darurat, dan prosedur untuk internal audit dan tinjau ulang manajemen.
Verifikasi manajemen keselamatan kapal sebagaimana diatur dalam keputusan Menteri Perhubungan cq Direktur Jenderal Perhubungan Laut dalam rangka sertifikasi bagi kapal bendera Indonesia baik untuk pelayaran Internasional maupun pelayaran dalam Negeri dilaksanakan oleh BKI. Verifikasi manajemen keselamatan kapal yang dilaksanakan oleh BKI adalah :
Verifikasi terhadap perusahaan yang mengoperasikan kapal bendera Indonesia, yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah dinilai mampu melaksanakan segala aktivitas sesuai dengan sistem manajemen
Manajemen Keselamatan (Document Of Compliance/DOC)
Verifikasi terhadap kapal yang dioperasikan oleh perusahaan yang menunjukkan bahwa sistem manajemen perusahaan dan sistem manajemen dikapal disusun dan dilaksanakan sesuai dengan sistem manajemen keselamatan serta memenuhi ketentuan-ketentuan sebagaimana disyaratkan oleh ISM-CODE yang untuk itu akan diterbitkan Sertifikat Manajemen Keselamatan (Safety Management Certificate/SMC). Verifikasi konfirmasi sewaktu-waktu dapat dilaksanakan oleh Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut,apabila dianggap perlu.
Laporan pelaksanaan verifikasi seperti disampaikan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut c/q. Direktorat Perkapalan dan Pelayaran pada kesempatan pertama.
Setelah dilakukan penelitian atas laporan verifikasi sertifikat pertama dan pembaharuan, baik DOC maupun SMC diterbitkan oleh Kepala Direktorat Perkapalan dan Perlayaran atau Pejabat yang ditunjuk.
Sertifikat sementara dengan masa laku paling lama 5 bulan diterbitkan oleh BKI atas nama Pemerintahan Indonesia, jika manajeman keselamatan kapal telah dipenuhi oleh perusahaan maupun kapal yang bersangkutan sesuai dengan ISM-CODE.
Sertifikat sementara hanya dapat diterbitkan 1 (satu) kali saja.
Pelaksanaan verifikasi manajeman keselamatan berkala dan pengukuhan sertifikat (endorsement) dapat dilaksanakan oleh BKI atas nama Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Perusahaan. Tips untuk manajemen keselamatan kapal adalah:
Membentuk Komite Keselamatan Menejemen Kapal di kantor Pusat Perusahaan untuk meneliti semua prosedur keselamatan bersama dengan Perwira Keselamatan dan meneliti bahwa semua tindakan dan prosedur keselamatan yang telah disetujui diperbaiki dan dilaksana-kan/diimplementasikan.
Mempertimbangkan untuk memperkenalkan suatu sistem tanggap darurat atas stress dan stabilitas kapal yang sedang mengalami kecelakaan.
Mendorong pemikiran untuk memenuhi standard standard (keselamatan) tertinggi yang ada.
Meneliti suatu prosedur pelatihan bagi awak kapal dan Manajemen, khususnya untuk para Nakhoda dan Kepala Kamar Mesin.
Mencari tahu dan membuat kesepakatan dengan Perwira Keselamatan atau para konsultan kemungkinan memperbaiki mutu pelatihan dan latihan bersama (exercise) diatas kapal dengan melakukan serangkaian latihan keselamatan tertentu secara bersama saat kapal sedang berlayar di lautan, setiap tahun sekali untuk setiap kapal.
Mempertimbangkan untuk menggunakan VCD/DVD/file movie dengan menggunakan komputer yang ditampilkan dengan proyektor kelayar untuk mempermudahan pelatihan awak kapal. Memperkenalkan “Buku Catatan di kantor mengenai kejadian
tindakan serta kejadiannya sendiri.
Buku ini akan menjadi sebuah catatan/laporan yang lengkap dan akurat dari manejemen perusahaan mengenai kecelakaan di laut, Setiap laporan/catatan yang ada dalam buku ini harus ditanda tangani oleh (para) ketua tim komando dan Direktur Pelaksana (Managing Director) .
Menunjuk sebuah konsultan media untuk menetapkan suatu kebijakan perusahaan dalam menangani setiap kejadian yang menarik perhatian umum/publik dan untuk mengatur pelatihan bersama bagi pegawai-pegawai staff kunci dari perusahaan mengenai hal - hal yang boleh diliput oleh media masa.
Menetapkan sebuah ruang tanggap kejadian (incident response room) di kantor pusat, yang dilengkapi dengan alat - alat untuk menangani pengelolaan (manajemen) dari suatu kecelakaan laut. Ruang ini harus dilengkapi dengan : Perabot kantor : Meja tulis, meja rapat, kursi-kursi, fasilitas penyegar ruangan dan sebuah lemari pendingin. Peralatan komunikasi : telepon (hubungan langsung dan sambungan), mesin fax, telex dan mesin foto copy. Gambar gambar kapal/plans, buku buku mengenai stabilitas dan penjelasan lengkap mengenai semua kapal dalam perusahaan. Peta peta, buku panduan mengenai pelabuhan (port guides) dan daftar pasang surut (tide tables), tempat/perairan. Panjang route pelayaran kapal. Buku alamat alamat penting dan daftar keagenan. Melengkapi setiap kapal dan ruang tanggap kejadian dengan
dokumen ini harus setidaknya meliputi salinan salinan dari gambar gambat kapal yang diperlukan/relevan, data data mengenai stabilitas, daftar rinci mengenai cargo, bahan bakar dan minyak lumas serta muatan muatan berbahaya (dangerous cargo) di atas kapal.
Mempertimbangkan keuntungan keuntungan yang bisa didapat dengan menjalin hubungan dengan kelompok kelompok atau organisasi organisasi keselamatan dan pelindungan lingkungan laut.
5.3 Transportasi Sungai di Kabupaten Kubu Raya
Kabupaten Kubu Raya merupakan suatu daerah bagian dari Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki luas wilayah mencapai 6.985,24 km2 dan terbagi atas sembilan kecamatan yaitu Batu Ampar, Terentang, Kubu, Teluk Pakedai, Sungai Kakap, Rasau Jaya, Sungai Raya, Sungai Ambawang, dan Kuala Mandor B. Dari kesembilan kecamatan tersebut, ratarata tiap kecamatannya dilalui oleh jalur sungai besar yang biasa dilewati oleh kapal-kapal penumpang ataupun barang yang hendak berlayar keluar maupun masuk Provinsi Kalimantan barat. Dalam menjalani kegiatan sehari-hari, baik itu untuk mencari nafkah, menuntut ilmu, berlibur ataupun untuk berkunjung dari satu daerah ke daerah lainnya, masyarakat yang tinggal di Kabupaten Kubu Raya khususnya daerah pedalaman yang belum terjamah oleh infrastruktur jalan raya masih sering memanfaatkan jalur sungai sebagai akses sarana transportasi.
Gambar 5. 1 Kondisi Sungai di Kabupaten Kubu Raya Sumber: Hasil Dokumentasi Lapangan, 2020
Transportasi/pengangkutan dapat didefinisikan sebagai kegiatan pemindahan barang dan manusia dari tempat asal (darimana kegiatan angkutan dimulai) ke tempat tujuan (kemana kegiatan pengangkutan diakhiri) (Nasution, 2004:15). Menurut Winaya (2014), transportasi dapat diartikan sebagai sebuah kebutuhan turunan dikarenakan kemunculan transportasi/alat pengangkutan disebabkan adanya maksud atau tujuan yang ingin dicapai melalui transportasi. Menurut Ballou (1992:159) konsep dasar transportasi didasarkan pada adanya perjalanan (trip) antara tempat asal (origin) dan tujuan (destination).
Selain itu, para pengusaha yang mengetahui kondisi area Kabupaten Kubu Raya juga sering memanfaatkan jalur-jalur sungai sebagai sarana untuk mendistribusikan barang-barang dagangannya. Dalam melakukan aktivitas kegiatan logistik melalui jalur sungai (inland water way) terdapat beberapa
oleh kemacetan lalu lintas pada saat proses pendistribusian berlangsung, serta ongkos yang dikeluarkan untuk proses distribusi dan bongkar muat dapat diminimalisir (low cost) (Retna, Inland Port And Waterways In The SLC Member States, 2016).
Mewujudkan terlaksananya aktivitas kegiatan logistik pada jalur-jalur sungai yang melalui setiap kecamatan di Kabupaten Kubu Raya, perlu adanya suatu sumber informasi yang menjelaskan mengenai sistem logistik sungai di Kabupaten Kubu Raya yang saat ini masih belum ada keberadaannya. Selain itu, mengetahui potensi jalur sungai yang sangat besar manfaatnya dalam hal aktivitas kegiatan logistik. Menurut Ballou (1992:4) logistik adalah suatu proses yang dimulai dari perencanaan, penyimpanan barang atau jasa dengan tujuan memenuhi kebutuhan pelanggan dengan biaya yang minimum. Berdasarkan dokumen resmi instansi pemerintahan (BNPB) mengenai “Pedoman Manajemen Logistik dan Peralatan Penanggulangan Bencana” tahun 2008, kelancaran aktivitas logistik dipengaruhi beberapa faktor, yaitu kemampuan infrastruktur, ketersediaan alat transportasi, jumlah transportasi dan fasilitas pendukung serta pusat distribusi.
Pada umumnya kecamatan di Kabupaten Kubu Raya beraktivitas melalui akses jalur sungai. Setiap kecamatan yang ada umumnya memiliki karakteristik gambaran umum masyarakat, jenis transportasi, interaksi antar jenis transportasi, objek logistik, mekanisme logistik yang relatif sama. Akan tetapi, kecamatan yang terletak di dekat muara (Kubu, Teluk Pakedai dan Batu Ampar) memiliki karakteristik yang agak sedikit berbeda. Secara umum, masyarakat Kabupaten Kubu Raya berprofesi sebagai petani. Persawahan dan perkebunan memenuhi
dilakukan dengan menggunakan transporasi darat (sepeda, motor, tosa dan pick up) dan transportasi sungai kecil (sampan kayuh, robin, kato dan motor klotok).
Untuk penggunaan motor air reguler yang beroperasi dari Kota Pontianak ke kecamatan-kecamatan yang ada di Kab. Kubu Raya dan sebaliknya singgah terlebih dahulu di dermaga-dermaga umum yang terdapat di sepanjang jalur sungai pada kecamatan yang dituju. Motor barang ekspedisi yang memiliki rute operasi ke kecamatan-kecamatan yang ada di Kab. Kubu Raya berlabuh di dermaga Kapuas Indah Kota Pontianak. Motor barang ekspedisi tersebut beroperasi secara langsung ke kecamatan-kecamatan yang dituju tanpa singgah terlebih dahulu di dermaga-dermaga yang terdapat di sepanjang rute operasinya. Diantara ketiga kecamatan di Kab. Kubu Raya yang berbatasan langsung dengan muara (Kubu, Teluk Pakedai dan Batu Ampar), Kec. Batu Ampar memiliki mekanisme pengangkutan hasil laut yang unik yang berbeda dengan dua kecamatan lainnya.
Akses menuju ibu kota provinsi dari wilayah Kabupaten Kubu Raya dapat dicapai langsung menggunakan jejaring sungai. Jalan darat menuju ibu kota provinsi baru dapat diakses oleh lima kecamatan saja. Empat kecamatan yang lain masih terisolasi oleh sungai sehingga harus dibantu menggunakan sarana penyeberangan sungai. Bahkan masih terdapat tiga kecamatan dimana sarana penyeberangan berupa kapal motor tradisional hanya dapat mengakomodir kendaraan roda dua.
Sumber: Sofitra, M0hammad (2017)
Permasalahan pada jejaring transportasi sungai di Kabupaten Kubu Raya pada umumnya sama yaitu keterbatasan panjang, kapasitas serta mutu jalan dan masih kurangnya fasilitas pendukung dan perawatan jejaring transportasi sungai. Di Kabupaten Kubu Raya dimana jejaring jalan telah mulai dikembangkan – meskipun masih belum sepenuhnya dapat diandalkan, banyak sungai kecil dan kanal yang terbengkalai karena tidak terawat, terhalang oleh jembatan, ataupun telah dipasangi pintu air sehingga tidak dapat lagi dipakai sebagai jalur transportasi.
5.4 Sarana Transportasi Sungai di Kabupaten Kubu Raya
motor air kecil dapat mengangkut beban hingga dua ton. Pemanfaatannya adalah untuk mengangkut penumpang, dan objek logistik dalam jarak pendek antar desa dalam kecamatan.
Gambar 5. 2 Angkutan Sungai Kecil
Jenis angkutan sungai besar terdiri dari sarana transportasi yang hanya dapat melayari sungai utama dengan lebar > 10 meter dan kedalaman > 3 meter. Termasuk dalam katagori ini adalah kapal motor barang, kapal express, kapal
dalam kabupaten. Komoditas inbound logistik yang diangkut utamanya adalah barang dagangan semisal beras, gula pasir, semen, pupuk, pakaian, peralatan elektronik hingga kendaraan roda dua. Sedangkan outbound logistik yang diangkut utamanya adalah produk hasil pertanian dan perikanan, seperti ikan kering/segar, arang, gula merah, ubi, keladi, jagung, termasuk hewan ternak seperti sapi, kambing dan babi. Diangkut pula hasil industri pengolahan dan perkebunan seperti kayu, kopra, karet mentah dan kelapa sawit.
yang sudah cukup tua meskipun masih dinilai layak oleh instasi berwenang. Alat/prosedur keselamatan dan kesadaran akan keselamatan dalam bertransportasi masih sangat rendah.
5.5 Rambu Sungai Pada Jalur Transportasi di Kecamatan Sungai Raya
Kebutuhan rambu sungai pada jalur transportasi sungai di Kecamatan Sungai Raya terdiri dari rambu larangan, rambu wajib, rambu peringatan dan rambu petunjuk atau penuntun. Berikut adalah beberapa kebutuhan rambu berdasarkan jenisnya.
Tabel 5. 1 Kebutuhan Rambu
NO Jenis
Rambu Titik Koordinat Keterangan Rambu
Keterangan Peta 1 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 318382 Y: 9993535
Alur pelayaran bercabang dan dapat dilayari. Alur
utama/penting digambarkan lebih lebar (tebal)
Rambu Peta 2 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 321724 Y: 9990028 Tikungan ke kiri Detail 2 3 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 322598 Y: 9989664
Tikungan tajam (dan
berbahaya) ke kanan Detail 2 4 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 323462 Y: 9988585 Detail 2
Rambu Peta 5 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 324003 Y: 9984161 Tikungan ke kiri Detail 3 6 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 324869 Y: 9983832
Tikungan tajam (dan
berbahaya) ke kanan Detail 3 7 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 325347 Y: 9983511 Detail 3
Rambu Peta berbahaya) ke kiri 8 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 327786 Y: 9980069 Tikungan ke kiri Detail 4 9 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 329692 Y: 9978013 Banyak tikungan Detail 4 10 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 329972 Y: 9977435 Detail 4
Rambu Peta Banyak tikungan 11 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 333572 Y: 9975484 Banyak tikungan Detail 5 12 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 334826 Y: 9974255
Alur pelayaran bercabang dan dapat dilayari. Alur
utama/penting digambarkan lebih lebar (tebal)
Rambu Peta 13 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 335708 Y: 9973516 Banyak tikungan Detail 5 14 Rambu Penunjuk/ Penuntun X: 339048 Y: 9968623 Banyak tikungan Detail 6 15 Rambu Petunjuk/ Penuntun X: 340669 Y: 9969550 Detail 7
Rambu Peta 16 Rambu Petunjuk/ Penuntun X: 341272 Y: 9969100
Tikungan tajam (dan
berbahaya) ke kiri Detail 7 17 Rambu Petunjuk/ Penuntun X: 341639 Y: 9968570 Banyak tikungan Detail 7 18 Rambu Petunjuk/ Penuntun X: 342294 Y: 9964538 Detail 8
Rambu Peta utama/penting digambarkan
lebih lebar (tebal) Sumber: Hasil Analisis, 2020
Berdasarkan hasil survei lapangan terdapat 18 titik lokasi rencana pemasangan rambu sungai. Seluruh rambu yang direkomendasikan adalah rambu penuntun/petunjuk. Kondisi ini disesuaikan dengan hasil survei lapangan. Transportasi sungai di Kecamatan Sugai Raya masih cukup sepi, kapal kapal yang melintas juga didomnasi kapal kecil yang terbuat dari material kayu.
(a)
(b)