SKRIPSI
RAHMAWATI 105391104916
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 2020
i SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan
Oleh
RAHMAWATI 105391104916
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 2020
iv
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Rahmawati
NIM : 105391104916
Program Studi : Pendidikan Fisika
Judul Skripsi : Analisis Argumentasi Ilmiah Peserta Didik Pada
Pembelajaran Fisika Melalui Pendekatan Open
Ended Learning Di SMAN 13 Makassar
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim
penguji adalah hasil karya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau
dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pertanyaan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan saya
bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, November 2020 Yang Membuat Pernyataan
v
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Rahmawati
NIM : 105391104916
Program Studi : Pendidikan Fisika
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidika
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya
saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan
pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiblakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi.
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia
menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demi perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, November 2020
Yang Membuat Pernyataan
vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS.Al Baqarah:286)
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (QS, Ad Duha:7)
Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. (QS.Al Baqarah:73)
Tuhan tidak menuntut kita untuk sukses, Tuhan menyuruh kita berjuang tanpa henti. (Emha Ainun Nadjib)
Sejenak aku berpikir ketika meneguk segelas kopi hitam tanpa gula bahwa yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu meyedihkan. Jangan lupa minum kopi hari ini !!!
(Wanita Penikmat Kopi, Penulis)
Persembahan Skripsi: Skripsi ini kupersembahkan untuk kedua orang tua saya. Kepada Ayahanda Awaluddin, sosok ayah yang selalu memberikan kasih sayang dan dukungan kepada saya dan beliau telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan saya selama menjalani pendidikan hingga saat ini. Dan yang paling teristimewah kepada Almarhumah Ibunda Bahrah, sosok ibu yang sangat kuat dan tegar, yang telah mengajarkan kepada saya arti kasih sayang dan semangat dalam belajar, meskipun beliau tidak dapat menemani saya hingga penyelesaian pendidikan saya, akan tetapi Edukasi dan kasih sayang beliau akan selalu tertanam dalam diri saya serta senyuman beliau yang tidak akan pernah terlupakan sebagai bentuk kekuatan saya. Saya yakin, saya bisa sampai pada titik ini karena usaha serta dukungan dan iringan do’a dari mereka.
vii ABSTRAK
Rahmawati. 2020. Analisis Argumentasi Ilmiah Peserta Didik Pada Pembelajaran Fisika Melalui Pendekatan Open Ended Learning Di SMAN 13 Makassar. Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. (Dibimbing oleh Khaeruddin dan Ma’ruf).
Kemampuan argumentasi ilmiah sangatlah penting bagi peserta didik, karena dengan kemampuan berargumentasi ilmiah peserta didik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, logis, mampu memecahkan masalah, dan menciptakan argumen menggunakan logika ilmiah, sehingga argumen mereka dapat diterima oleh orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik kelas XII IPA 1 SMAN 13 Makassar. Kemampuan argumentasi ilmiah tersebut diperoleh melalui metode kuantitatif deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan soal dalam bentuk uraian (essay) argumentasi ilmiah pada pembelajaran fisika melalui pendekatan Open Ended Learning.
Berdasarkan data hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa peserta didik kelas XII IPA 1 SMAN 13 Makassar mempunyai kemampuan argumentasi ilmiah yang baik dengan persentase rata-rata 84,64 % diantaranya pada aspek membuat klaim dengan persentase rata-rata 84.93% (baik); aspek memberikan bukti dengan persentase rata-rata 85,00% (sangat baik); aspek membuat alasan ilmiah dengan persentase rata-rata 83,71% (baik). Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa penerapan open ended learning dapat meningkatkan kemampuan argumentasi ilmiahpeserta didik dalam pembelajaran fisika melalui berbagai macam solusi, ide maupun gagasan peserta didik secara ilmiah.
viii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah Subhanahu Wataala
pencipta alam semesta penulis panjatkan kehadirat-Nya, semoga shalawat dan
salam senantiasa tercurah pada Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarga,
sahabat dan orang-orang yang senantiasa istiqamah untuk mencari Ridha-Nya
hingga di akhir zaman.
Skripsi dengan judul “Analisis Argumentasi Ilmiah Peserta Didik
Pada Pembelajaran Fisika Melalui Pendekatan Open Ended Learning Di SMAN 13 Makassar” diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh
gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Berbekal dari kekuatan dan ridha dari Allah SWT semata, maka
penulisan skripsi ini dapat terselesaikan meski dalam bentuk yang sangat
sederhana. Tidak sedikit hambatan dan rintangan yang penulis hadapi, akan tetapi
penulis sangat menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada keberhasilan tanpa
kegagalan.
Teristimewa dan terutama sekali penulis sampaikan ucapan terima kasih
yang tulus kepada kedua oran tua yang tercinta Ayahanda Awaluddin dan
Almarhumah Ibunda Bahra tersayang atas segala pengorbanan dan doa restu
yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu sejak kecil
ix
menjadikan kebaikan dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan diakhirat.
Dengan pertolongan Allah SWT, yang hadir lewat uluran tangan serta dukungan
dari berbagai pihak. Karenanya, penulis menghaturkan terima kasih yang tiada
terhingga atas segala bantuan modal dan spritual yang diberikan dalam
menyelesaikan skripsi ini.
Ucapan terima kasih dan penghargaan istimewa juga penulis sampaikan
kepada Bapak Dr.Khaeruddin, S.Pd., M.Pd dan Bapak Ma’ruf, S.Pd.,M.Pd
selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah meluangkan waktunya dalam
memberikan bimbingan, arahan dan semangat kepada penulis sejak penyusunan
proposal hingga terselesainya skripsi ini.
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-setingginya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag selaku Rektor Universitas
Muhammadiyah Makassar.
2. Bapak Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D, selaku Dekan FKIP Universitas
Muhammadiyah Makassar
3. Ibu Dr. Nurlina, S.Si., M.Pd dan Bapak Ma’ruf S.Pd., M.Pd , selaku Ketua
dan Sekertaris Prodi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Muhammadiyah
Makassar.
4. Bapak dan Ibu dosen Prodi Pendidikan Fisika FKIP Universitas
Muhammadiyah Makassar yang telah mengajar dan mendidik mulai dari
x
ini.
5. Ibu Mashari, S.Pd., M.Si selaku Kepala SMA Negeri 13 Makassar yang
telah memberikan izin penulis mengadakan penelitian sehingga penulis
menyelesaikan skripsiini.
6. Ibu Hj. Nursyamsiah, S.Pd., M.Pdselaku Wakasek Kurikulum dan juga
selaku Guru bidang mata pelajaran fisika SMA Negeri 13 Makassar yang
telah memberikan izin penulis mengadakan penelitian dan sehingga penulis
menyelesaikan skripsiini.
7. Peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 13 Makassar atas kesediaannya
menjadi subjek penelitian sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Saudara dan saudari Kandung saya kakanda M.Bimawan, kakanda
Marhayani, kakanda M.Ramli, kakanda Marni, kakanda Jumriani,
kakanda Darmayanti, kakanda M.Israwan, kakanda Mardiana, dan
kakanda Nur Annisaserta salah satu keponakan saya Sukmah Ramdhani
atas segala bantuannya,saran dan dukungan motivasi dalam menyelesaikan
kuliah saya.
9. Spesial untuk Nur Annisa selaku kakak ke-9 saya yang tidak pernah
menyerah memberikan saya dukungan, dorongan, dan motivasi untuk terus
maju dan sukses, yang telah menjadi pengganti mama saya selama beliau
sakit hingga berpulangnya ke rahmatullah dan sampai saat ini.
10. Teman sekaligus motivator saya Ade Lin Ostiatas segala bantuan, dukungan
dan perhatiannya dalam penyelesaian skripsi ini yang tak akan
xi
11. Rekan-rekan mahasiswa Prodi Fisika terkhusus angkatan 2016, serta teman-
teman yang tidak sempat saya sebutnamanya yang telah banyak membantu
dalam menyelesaiakan tugas akhirini.
12. Seluruh petugas Perpustakaan Unismuh dan Perpustakaan Wilayah
Provindsi Sul-Sel segela kerjasamanya kepada penulis dalam menyelesaikan
tugas akhirini.
Akhirnya, sebagai penutup penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritikan demi
pengembangan wawasan penulis kedepannya. Semoga Allah SWT melimpahkan
rahmat dan ridha-Nya kepada kita semua, Amin.
Billahi Taufiq Walhidayah
Wassalamu Alaikum Wr. Wb
Makassar, November 2020
Penulis
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK……… vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 4 C. Tujuan Penelitian ... 5 D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ... 6
1. Argumentasi Ilmiah ... 6
2. Pembelajaran Fisika ... 9
3. Open Ended Learning ... 10
4. Hasil Penelitian yang Relevan ... 13
B. Kerangka Pikir ... 14
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 16
B. Lokasi Penelitian dan subjek penelitian ... 16
C. Prosedur Penelitian ... 17
D. Teknik Pengambilan Sampel ... 18
E. Instrumen Penelitian ... 18
F. Teknik Pengambilan Data ... 19
G. Teknik Analisis Data ... 20
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 28
B. Pembahasan ... 36
BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 40
xiii
DAFTAR PUSTAKA ... 41 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 44 RIWAYAT HIDUP
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Kriteria Skor Setiap Indikator ... 19
3.2 Aturan pemberian skor Instrumen ... 21
3.3 Skala Kelayakan Instrumen Argumentasi Ilmiah melalui pendekatan OEL .. 21
3.4 Hasil Validasi Instrumen Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning ... 22
3.5 Kategori Interval Tingkat Reabilitas ... 25
3.6 Haisil Reability Statistics ... 25
3.7 Kriteria Skor Analisis Statistik Deskriptif terhadap Soal Argumentasi Ilmiah berdasarkan setiap indikator ... 26
3.8 Kriteria Skor Analisis Statistik Deskriptif terhadap Soal Argumentasi Ilmiah secara keseluruhan ... 27
4.1 Disribusi Frekuensi Skor Klaim ... 30
4.2 Disribusi Frekuensi Skor Bukti ... 30
4.3 DisribusiFrekuensi SkorAlasan Ilmiah ... 31
4.4 Total Skor Peserta Didik terhadap Soal Argumentasi Ilmiah berdasarkan setiap Indikator ... 32
4.5 Nilai Peserta Didik di SMAN 13 Makassar ... 34
4.6 Distribusi Frekuensi Kriteria Nilai Peserta Didik ... 35
4.7 Statistik Hasil Tes Argumentasi Ilmiah Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning ... 36
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman 2.1 Kerangka Pikir ... 19 3.1 Persentasi Hasil Validasi Instrumen para Ahli ... 23 4.1 Persentase Hasil Total Skor Peserta Didik terhadap Soal Argumentasi Ilmiah
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Wabah pandemik Corona Virus Disease (Covid-19) telah melanda lebih
dari 200 Negara di Dunia salah satunya Indonesia. Pandemi Covid-19 memaksa
kebijakan social distancing, atau di Indonesia lebih dikenalkan sebagai physical
distancing (menjaga jarak fisik) untuk meminimalisir persebaran Covid-19.Jadi,
kebijakan ini diupayakan untuk memperlambat laju persebaran virus Corona di
tengah masyarakat. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)
merespon dengan kebijakan belajar dari rumah, melalui pembelajaran daring dan
disusul peniadaan Ujian Nasional untuk tahun ini. Kondisi ini mengharuskan
warganya untuk tetap stay at home, bekerja, beribadah dan belajar di rumah
(Gogot Suharwoto, 2020). Akibat kondisi tersebut seorang pendidik mengalami
kesulitan untuk melakukan pembelajaran di kelas.
Proses pembelajaran adalah sebuah upaya bersama antara guru dan
siswa untuk berbagi dan mengolah informasi, dengan harapan pengetahuan yang
diberikan bermanfaat dalam diri siswa dan menjadi landasan belajar yang
berkelanjutan. Proses pembelajaran merupakan suatu sistem. Sebuah proses
pembelajaran yang baik akan membentuk kemampuan berpikir kritis, dan
munculnya kreativitas, serta kemampuan untuk berargumentasi. Dengan
demikian, proses pembelajaran ini sangat penting dalam menentukan mutu
pendidikan (ambasari, 2012)
Mutu pendidikan di Indonesia semakin hari dituntut untuk lebih baik
lagi, maka hal yang efektif dilakukan dalam meningkatkan mutu pendidikan
adalah adanya upaya perbaikan kepada proses belajar dan mengajar. Hal itu
sangat erat kaitannya dengan akses untuk menggunakan sarana belajar yang
sesuai dan memadai, kualitas mengajar, strategi pembelajaran yang digunakan,
dan pengembangan sistem penilaian. Upaya perbaikan pada proses belajar dan
mengajar akan mempengaruhi individu secara langsung, terutama untuk melatih
individu memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, sistematis, penalaran yang
mantap, kreatif, dan inovatif, serta kemampuan untuk berargumentasi atau
mengemukakan pendapat (komunikasi).
Rencana atau program yang harus dijadikan sebagai pedoman dalam
pelaksanaan proses belajar mengajar oleh guru adalah kurikulum. Kurikulum dan
pembelajaran, merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa kurikulum
yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran tidak akan berlangsung secara
efektif. Kurikulum merupakan salah satu komponen penting dari sistem
pendidikan, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan
acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara,
khususnya oleh guru dan kepala sekolah (Depdiknas, 2019)
Rendahnya keterlibatan siswa untuk aktif dan kritis dalam proses
saja, namun faktor eksternal juga yang mempengaruhi. Faktor eksternal antara
lain berupa strategi dan model pembelajaran yang diterapkan guru kurang
menarik perhatian siswa, sehingga siswa merasa malas dan kurang aktif dalam
proses pembelajaran. Pembelajaran fisika selama ini hampir sepenuhnya diajarkan
dengan menggunakan metode ceramah dan guru masih mendominasi dalam
proses pembelajaran maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat
diterapkan agar siswa menjadi aktif yaitu sebuah pendekatan yang mampu
memunculkan keterlibatan siswa secara aktif dan kritis. Oleh karena itu perlu
adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir melalui pembelajaran
yang melibatkan langsung siswa dalam pemecahan masalah (Fachruddin, 2012)
Adapun pendekatan yang dapat diterapkan yaitu dengan model
pembelajaran open ended. Pembelajaran dengan open ended merupakan
pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan masalah dengan
berbagai cara dan solusinya juga bisa beragam. Pembelajaran ini melatih dan
menumbuhkan orisinalitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi,
interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dihadapkan pada
permasalahan dimana mereka diminta untuk mengembangkan metode, cara, atau
pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan dan
bukan orientasi pada jawaban akhir.
Model pembelajaran open ended dimulai dengan memberikan
pembelajaran terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus membawa
dengan banyak jawaban sehingga mengundang potensi intelektual dan
pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru (Neny, 2016)
Pentingnya mengungkap kualitas argumentasi yang dibangun siswa
selama pembelajaran online ini berlangsung adalah untuk perbaikan kepada
proses pembelajaran selanjutnya, karena dengan diungkapnya kualitas
argumentasi siswa tersebut maka guru menjadi tahu seberapa besar kemampuan
siswanya dalam berargumentasi, sehingga guru dapat memperbaiki dan
meningkatkan cara mengajar serta proses pembelajaran menjadi lebih baik lagi.
Dengan terungkapnya kualitas argumentasi siswa ini maka guru akan mengetahui
seberapa besar kemampuan siswa dalam berpikir rasional, karena seperti yang
telah diketahui bahwa proses argumentasi merupakan dasar dalam berpikir
rasional. Semakin tinggi level argumentasi siswa maka semakin baik pula
pemahaman konsep siswa, karena siswa yang memiliki level argumentasi tinggi
berarti tingkat pemahaman konsep siswa tersebut sangat baik. Berdasarkan uraian di atas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul: “Analisis
Argumentasi Ilmiah Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika Melalui Pendekatan Open Ended Learning di SMAN 13 Makassar”. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat mengungkap kualitas argumentasi peserta didik melalui
pendekatan Open Ended Learning yang terjadi dalam pembelajaran online.
B. Rumsan Masalah
Bagaimana argumentasi ilmiah peserta didik pada pembelajaran Fisika melalui
C. Tujuan Penelitian
Untuk dapat menganalisis argumentasi ilmiah pada pelajaran Fisika melalui
pendekatan Open Ended Learning SMAN 13 Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat, yaitu dapat memperluas wawasan dan mengungkap argumentasi ilmiah
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka
1. Argumentasi Ilmiah
Argumentasi dalam Sains dipandang sebagai hal penting dalam proses
belajar sains karena merupakan aktivitas inti dari ilmuwan. Ada tiga alasan
pentingnya argumentasi dalam pembelajaran, (1) ilmuwan menggunakan
argumentasi dalam mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan ilmiahnya;
(2) masyarakat menggunakan argumentasi dalam perdebatan ilmiah; dan (3) para
siswa dalam pembelajaran membutuhkan argumentasi untuk memperkuat
pemahamannya (Erduran, Osborne, & Simon, 2007).
Argumentasi adalah proses memperkuat suatu klaim melalui analisis
berpikir kritis berdasarkan dukungan dengan bukti-bukti dan alasan yang logis.
Bukti-bukti ini dapat mengandung fakta atau kondisi objektif yang dapat diterima
sebagai suatu kebenaran. Kualitas argumentasi atau kuat lemahnya suatu
argumentasi (klaim) ditentukan oleh pemahaman suatu konsep yang didukung
data/bukti, warant, backing dan bagaimana kita mengkonstruk
komponen-komponen tersebut sehingga dapat meyakinkan.
Berargumentasi dapat meningkatkan hasil belajar dan kinerja siswa.
Penggunaan argumentasi dapat memperkokoh pemahaman konsep,
memungkinkan siswa untuk mendapatkan ide-ide baru yang dapat memperluas
pengetahuan, dan menghilangkan miskonsepsi yang dialami siswa (Cross,
Hendricks, & Hickey, 2008). Dengan membangun argumentasi akan memberikan
suatu pondasi yang kuat dalam memahami suatu konsep secara utuh dan benar.
Kemampuan merepresentasikan konsep secara baik (ilmiah, logis dan
masuk akal) akan sangat membantu peserta didik dalam memahami berbagai
konsep yang diajarkan. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dialami siswa
juga dapat dilihat dari representasi konsep yang mereka miliki. Kemampuan
merepresentasikan konsep akan sangat membantu siswa dalam berargumen secara
ilmiah dalam menyelesaikan masalah-masalah fisika. Fisika merupakan abstraksi
terhadap berbagai sifat alam dalam wujud konsepkonsep, hubungan antara konsep
dan dikomunikasikan dengan berbagai representasi sebagai media argumentasi
agar mudah dipahami dan mudah diajarkan (teachable), ide-ide fisika perlu
mengkomunikasikan dan merepresentasikannya dengan cara tertentu.
Argumentasi dalam Pembelajaran Fisika merupakan salah satu penyebab
kesulitan belajar fisika karena fisika membutuhkan berbagai bentuk representasi
dan kemampuan argumentasi untuk dapat berkomunikasi. Argumentasi adalah
proses yang digunakan seseorang untuk menganalisis informasi kemudian
dikomunikasikan kepada orang lain. Untuk terlibat dalam argumentasi diperlukan
keterampilan penalaran dan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan dengan lebih
baik.
Argumentasi dalam pendidikan memiliki dua perspektif, pertama guru
datang dengan penjelasan ilmiah ke kelas untuk dan membantu melihat suatu
kesepakatan agar klaim diterima. Kedua model tersebut dapat digunakan guru
dalam pembelajaran untuk mengetahui sejauhmana kualitas argumentasi,
diperlukan suatu kerangka analisis argumentasi.
Eduran (2008) mengemukakan bahwa argumen yang kuat memiliki
banyak pembenaran yang relevan dan spesifik untuk mendukung kesimpulan
dengan bukti-bukti konsep yang akurat.Sedangkan ciri-ciri argumentasi yang
lemah ditunjukkan dengan tidak adanya pertimbangan pengetahuan ilmiah, tidak
akurat, tidak spesifik, dan tidak tepat.
Kemandirian belajar siswa adalah suatu langkah yang efektif dan efisein
untuk memaksimalkan kemampuan siswa tanpa terus bergantung pada guru,
untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar (Nuridawani, Munzir dan Saiman,
2015). Dari hasil wawancara dengan guru di sekolah yang akan diteliti diketahui
bahwa kebanyakan siswa belum mampu secara mandiri untuk menemukan,
mengenal, memerinci dan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari
masalahnya, mengolah masalah yang disajikan, tidak fokus dan cenderung hanya
ikut-ikutan dengan teman yang dianggap lebih pandai. Guru masih menjadi pusat
pembelajaran di kelas. Oleh karenanya, kemandirian belajar penting untuk
memunculkan sikap tanggung jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya,
serta dalam mengembangkan kemampuan belajarnya atas kemauan sendiri.
Argumentasi ilmiah dapat diartikan sebagai sebuah pernyataan yang
didukung oleh beberapa bukti yang diukur atau diamati dan menghubungkan itu
Argumentasi ilmiah memiliki tiga komponen penting yang mana klaim didukung
oleh bukti-bukti dan dipahami melalui fakta-fakta ilmiah (alasan atau penalaran)
yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Klaim merupakan pernyataan tentang fenomena atau kejadian.
b. Bukti merupakan fakta dari pengkuran dan pengamatan yang dikumpulkan
selama investiasi ang mendkng klaim.
c. Alasan ilmiah adalah fakta atau pengetahuan yang menjelaskan hubungan
antara bukti dan klaim.
Dari penjelasan diatas diketahui bahwa argumentasi ilmiah harus memiliki klaim,
bukti, dan alasan penalaran yang kuat dan persuasif.
2. Pembelajaran Fisika
Fisika adalah pelajaran tentang gejala alam yang dipecahkan
menggunakan rumusrumus untuk membuktikan suatu kejadian alam tersebut.
Sehingga dalam pembelajaran fisika guru akan menjelaskan rumus-rumus,
memberikan contoh-contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dan
melakukan praktikum di laboratorium. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa “fisika merupakan sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha menguraikan serta menjelaskan hukum alam dan kejadian-kejadian dalam alam dengan gambaran
menurut pemikiran manusia” (Druxes, 2017:12).
Adanya pendapat demikian menunjukkan bahwa fisika menjelaskan
adalah bagian dari pelajaran ilmu alam. Ilmu alam secara klasikal dibagi menjadi
dua bagian, yaitu (1) ilmu-ilmu fisik (physical sciences) yang objeknya zat,
energi, dan transformasi zat dan energi, (2) ilmu-ilmu biologi (biological sciences) yang objeknya adalah makhluk hidup dan lingkungannya” (Kemble, 1966:7). Maka dari itu pembelajaran fisika akan meningkatkan kemampuan
berpikir siswa untuk mengembangkan nalarnya dalam melakukan eksperimen.
3. Open Ended Learning
Pembelajaran terbuka atau yang sering dikenal dengan istilah open
ended merupakan proses pembelajaran yang di dalamnya tujuan dan keinginan
individu/siswa dibangun dan dicapai secara terbuka. Open ended adalah suatu
model pembelajaran yang diformulasikan memiliki multi jawaban (mempunyai
beberapa penyelesaian) atau sering disebut juga learning tak lengkap atau learning
terbuka. Pembelajaran dengan pendekatan open ended biasanya dimulai dengan
memberikan learning terbuka pada siswa dan selanjutnya kegiatan pembelajaran
harus membawa siswa dalam menjawab permasalahan dengan banyak cara dan
mungkin juga jawaban (yang benar) sehingga mengundang potensi intelektual dan
pengalaman siswa dalam proses menentukan sesuatu yang baru. (Witoko, 2019).
Pembelajaran dengan open ended merupakan pembelajaran yang
menyajikan permasalahan dengan pemecahan masalah dengan berbagai cara dan
solusinya juga bisa beragam. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan
orisinalitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi, interaksi, sharing,
Tujuan dari model pembelajaran open ended menurut Nohda (dalam
Suhandri, 2013) ialah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola
pikir matematis siswa melalui learning solving secara simultan. Hal yang dapat
digarisbawahi adalah perlunya memberi kesempatan siswa untuk berpikir bebas
sesuai dengan minat dan kemampuannya sehingga aktivitas kelas penuh dengan
ideide dan akan memacu kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa berupa
kemampuan berpikir kritis.
Berdasarkan penjelasan beberapa ahli mengenai model pembelajaran
open ended yang menggunakan keberagaman cara penyelesaian dan berbagai
jawaban sebagai intinya maka hal ini dapat memberikan kebebasan kepada siswa
dalam menyelesaikan masalah. Siswa dapat menggali pengetahuan ataupun
sumber-sumber yang dibutuhkan untuk membuat rencana dan memilih cara atau
metode dalam menyelesaikan masalah. Selain itu siswa dapat serta melatih
kemampuan berpikir mereka sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan
melalui pengalaman menemukan sesuatu yang baru dalam suatu proses
penyelesaian masalah.
Langkah-langkah model pembelajaran open ended adalah: 1)
Menghadapkan siswa pada pembelajaran terbuka. 2) Membiarkan siswa
memecahkan masalah dengan berbagai penyelesaian dan jawaban yang beragam.
3) Siswa diberikan kebebasan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan
berbagai macam cara atau strategi dengan jawaban yang beragam sehingga
diharapkan dapat melatih dan memunculkan sikap berpikir kritis siswa dengan
Pembelajaran dengan open ended memiliki keunggulan dan kelemahan
sebagai berikut:
1. Keunggulan dari model pembelajaran open ended antara lain: a) Siswa
berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan ide
b) Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan
pengetahuan dan ketrampilan matematis secara komprehensif c) Siswa dari
kelompok lemah sekalipun tetap memiliki kesempatan untuk menyelesaikan
masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri d) Siswa secara intrinsik
termotivasi untuk memberi bukti atau penjelasan e) Siswa memiliki
pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab
permasalahan.
2. Kelemahan dari model pembelajaran open ended antara lain: a) Membuat atau
menyajikan situasi masalah fisika yang bermakna bagi siswa bukanlah
pekerjaan mudah b) Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami
siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan
bagaimana merespon permasalahan yang diberikan c) Siswa dengan
kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka d)
Mungkin ada sebagian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka
tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.
Pokok pikiran pembelajaran dengan open ended yaitu pembelajaran
yang membangun kegiatan saling interaktif antara pelajaran yang diajarkan
(fisika) dan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan
Kegiatan fisika dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga
aspek berikut: 1) Kegiatan siswa harus terbuka adalah kegiatan pembelajaran
harus memberi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas
sesuai kehendak mereka. 2) Kegiatan fisika adalah ragam berpikir Kegiatan fisika
adalah kegiatan yang didalamnya terjadi proses penggambaran dari pengalaman
nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam dunia fisika dan sebaliknya. 3)
Kegiatan siswa dan kegiatan fisika merupakan satu kesatuan Kegiatan siswa dan
kegiatan fisika dikatakan terbuka secara simultan dalam pembelajaran, jika
kebutuhan dan berpikir siswa diperhatikan guru melalui kegiatan-kegiatan fisika
yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan lainnya.
4. Hasil Penelitian yang Relevan
Berdasarkan peneliti sebelumnya dengan penelitian Handayani (2015)
yang menyatakan, bahwa argumentasi seseorang tidak hanya berbentuk secara
teori namun harus dibuktikan kebenarannya, jadi peserta didik tidak hanya
mampu mengungkapkan apa saja teori yang diketahuinya namun peserta didik
harus mampu membuktikan kebenarannya juga. Ternyata, hasil penelitian
menunjukan bahwa peserta didik hanya mampu mengungkapkan teori saja namun
tidak bisa membuktikan kebenarannya. Selain itu, hasil analisis data menunjukan
bahwa peserta didik mampu mengeluarkan bentuk pendapatnya secara tertulis
namun tidak dapat menuliskan bukti-bukti atau pendukung yang membuat
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Sandoval (2005) penelitian
yang menunjukan bahwa siswa sering tidak menggunakan pembuktian yang
cukup atau mencoba untuk membenarkan pilihan mereka atau penggunaan bukti
dalam argumen yang dihasilkan. Sandoval (2005) menyatakan bahwa kualitas
argumentasi tergantung pada fitur tugas dan kadangkadang terdapat miskonsepsi,
instuisi atau pengalaman pribadi dan pengalaman umum. Akhirnya, siswa tersebut
sering tidak mengevaluasi keabsahan atau penerimaan penjelasan untuk sebuah
fenomena yang diberikan dengan cara cepat.
B. Kerangka Pikir
Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 13 Makassar ditemukan
keadaan proses pembelajaran fisika yang kurang efektif dilihat dari keterampilan
menggagas Argumentasi Ilmiah peserta didik. Hal ini dikarenakan karena
beberapa hal yaitu tidak antusiasnya peserta didik menerima pembelajaran,
peserta didik tidak dapat memahami pembelajaran dengan baik, sebagian peserta
didik hanya bisa diam dan tidak mampu mengeluarkan ide atau gagasanya sendiri.
Sehingga Argmentasi Ilmiah diperlukan sebagai konsep yang dapat membantu,
menumbuhkan keterampilan berpikir yang mandiri sehingga peserta didik lebih
aktif dan termotivasi dalam proses pembelajaran.
Setelah menerapkan Argumentasi Ilmiah maka dapat diharapkan peserta
didik mengalami peningkatan dalam pembelajaran Fisika melalui pendekatan
Gambar 2.1. Bagan Kerangka Pikir
Peneliti melakukan observasi di SMAN 13 Makassar
Peneliti mengamati peranan Argumentasi Ilmiah di kelas Online
Proses pembelajaran fisika
Peserta Didik
1. Kurang antusias dalam mengembangkan
keterampilan berargumentasi ilmiah
2. Hanya diam dan tidak mampu mengemukakan pendapatnya.
3. Belum mampu mengasa cara berpikir yang berkaitan dengan fenomena alam. Guru
1. Guru lebih banyak menyampaikan informasi kepada peserta didik. 2. Strategi pembelajaran yang masih konvensional.
Penerapan Argumentasi Ilmiah pada peserta didik melalui pendekatan open ended learning
Peserta didik diharapkan dapat mengalami peningkatan kemampuan berargumentasi ilmiah dalam pembelajaran Fisika
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif,
yaitu suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa
angka-angka sebagai alat untuk menemukan keterangan mengenai apa yang ingin
kita ketahui dengan analisis menggunakan statistik. Penelitian kuantitaif deskriptif
merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi
mengenai status gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada
saat penelitian dilakukan (Sugiono, 2017). Sehingga yaitu peneliti ingin
mengetahui tingkat kemampuan argumentasi peserta didik dan mendeskripsikan
tingkat argumentasi peserta didik berdasarkan persentase yang dianalisis.
B. Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi penelitian merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas yang
ada di Kota Makassar yaitu SMA Negeri 13 Makassar yang terletak di Jl.
Tamangapa Raya 3 No.37, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Kota
Makassar, Sulawesi Selatan dengan no telpon (0411) 492953. Sekolah ini adalah
salah satu sekolah yang sudah terakreditasi A di Kota Makassar. Peminatan yang
ada di sekolah tersebut terdiri dari dua yaitu Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu
Pengetahuan Sosial.
Subjek Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah peserta
didik kelas XII di SMAN 13 Makassar yang mengikuti kelompok pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) yang berjumlah 35 orang siswa.
C. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui 3 tahap, yakni : tahap persiapan, tahap
pelaksanaan, dan tahap akhir.
1. Tahap Persiapan
Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu peneliti melakukan beberapa
persiapan, yaitu :
a. Melakukan observasi ke sekolah dan berkonsultasi dengan guru mata
pelajaran Fisika guna mengetahui tentang keadaan peserta didik di masa
pandemik Covid-19 .
b. Membuat instrumen penelitian berupa tes soal essay untuk mengetahui
kemampuan argumentasi ilmiah terhadap Pembelajaran Fisika melalui
Pembelajaran Online. Melakuakan uji coba disalah satu sekolah yang telah
ditentukan.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Sebelum membagikan instrumen penelitian kepada peserta didik, peneliti
b. Memberikan instrumen tes kemampuan argumentasi ilmiah terhadap
Pembelajaran Fisika.
3. Tahap akhir
Setelah semua pelaksanaan penelitian selesai, maka selanjutnya penelitian
menganalisis semua data yang telah terkumpul untuk mengetahui bagaimana
kemampuan argumentasi ilmiah terhadap Pembelajaran Fisika melalui
pendekatan Open Ended Learning.
D. Teknik Pengambilan Sampel
Penelitian ini menggunakan Purposive sampling yaitu teknik
pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, misalnya orang
tersebut dianggap paling tahu tentang hal yang akan diteliti (Sugiyono, 2009:300).
Adapun yang menjadi sampel pada penelitian ini yaitu kelas XII MIPA 1 di SMA
Negeri 13 makassar dengan jumlah peserta didik yang akan menjadi rujukan
yaitu 35 peserta didik.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes uraian (essay)
argumentasi ilmiah sebanyak 10 butir soal yang diberikan kepada peserta didik
dengan tiga indikator yaitu klaim, bukti, dan alasan ilmiah. Adapun kriteria dalam
pemberian skor dari setiap indikator untuk setiap soal argumentasi ilmiah yaitu
Tabel 3.1 Kriteria Skor Setiap Indikator
Skor KLAIM BUKTI ALASAN ILMIAH
1 Pernyataan tidak tepat,
tidak dapat diterima
Bukti salah, penjelasan salah
Alasan kabur dan tidak sesuai antara klaim dan bukti
2 Pernyataan kurang
tepat, dapat diterima
Bukti benar , penjelasan salah
Alasan benar secara ilmiah tetapi tidak sesuai antara klaim dan bukti
3 Pernyataan cukup
relevan, dapat diterima
Bukti benar, penjelasan kurang tepat
Alasan benar secara ilmiah dan cukup sesuai antara klaim dan bukti
4 Pernyataan relevan,
dapat diterima
Bukti benar, penjelasan benar
Alasan benar secara ilmiah dan sesuai antara klaim dan bukti
Sumber : Jurnal Penerapan LKPD berbasis kemampuan argumentasi
ilmiah siswa (kurdaningsih, 2016)
Untuk menghitung nilai peserta didik, digunakan persamaan sebagai
berikut :
Nilai = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑘𝑜𝑟 x 100%
F. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan cara
observasi dan pemberian tes uraian (essay) argumentasi ilmiah. Observasi dalam
penelitian ini dilakukan melalui wawancara dengan guru fisika terkait
pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Sedangkan untuk tes menggunakan
klaim atau pernyataan, bukti atauu data pendukung, dan alasan ilmiah atau
penalaran.
G. Teknik Analisis Data
1. Uji Validitas Para Ahli
Data validitas instrumen dilakukan oleh dua orang validator (pada aspek
yang sama) diperoleh melalui uji validitas dengan menggunakan sebagai Skala
Likert berikut:
Rumus untuk menghitung presentase sebagai berikut:
𝑋𝑖 = ∑𝑆
𝑆𝑚𝑎𝑥 x 100%
Keterangan
𝑆𝑚𝑎𝑥 = Skor Maksimal ∑𝑆 = Jumlah Skor
𝑋𝑖= Nilai kelayakan angket tiap aspek
Angket respon terhadap penggunaan instrumen terdapat 4 sesuai dengan
konten pertanyaan. Yang meliputi format, isi, bahasa dan manfaat instrumen
kemampuan berpikir kreatif. Dengan ketentuan pemberian skor pada tabel 3.4.
Tabel 3.2 Aturan Pemberian Skor
Kategori Skor
Tidak Baik 1
Baik 3
Sangat Baik 4
Sumber : Jurnal Penerapan LKPD berbasis kemampuan argumentasi
ilmiah siswa (kurdaningsih, 2016)
Hasil skor presentase yang diperoleh dari hasil penelitian
diinterpretasikan dalam kriteria Tabel 3.3
Tabel 3.3 Skala Kelayakan Instrumen Argumentasi Ilmiah melalui
Pendekatan Open Ended Learning
Presentase Kriteria
81%-100% Sangat Layak
61%-80% Layak
41%-60% Cukup Layak
21%-40% Kurang Layak
0%-20% Sangat Kurang Layak
Sumber : Jurnal Penerapan LKPD berbasis kemampuan argumentasi
ilmiah siswa (kurdaningsih, 2016)
Sumber : Jurnal Erni Zakia, dkk. 2016 (Penerapan LKPD berbasis
kemampuan argumentasi ilmiah siswa)
Tabel kriteria kelayakan dianalisis presentasenya digunakan sebagai
acuan melihat presentase uji coba produk dikategorikan sangat layak jika X > 81%; layak jiak 61<X≤80%; cukup jika 41%<X≤60%; kurang jika 21%<X≤40% dan sangat kurang jika X ≤ 20%
Setelah dilakukannya validasi oleh dua orang ahli, maka akan diberikan
oleh pendidik di sekolah SMAN 13 Makassar untuk mengetahui respon pendidik
mengenai instrmen yang diuji cobakan dengan menggunakan skala likert pada
maksimum (N) dikali angka presentasi (%) yakni 100%. Berdasrkan dengan hasil
penilaian kelayakan dari para ahli dapat dijabarkan dalam pembahasan berikut :
Data hasil penilaian kelayakan oleh 2 dosen ahli instrumen dengan
menggunakan lembar validasi untuk menilai instrumen Argumentasi Ilmiah
Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended
Learning di SMA Negeri 13 Makassar dengan hasil penilaian sebagai berikut.
Tabel 3.4 Hasil Validasi Instrumen Argumentasi Ilmiah Pada Pembelajaran Fisika
Melalui Pendekatan Open Ended Learning
Kriteria validator 1 validator 2
1 3 3 2 3 4 3 3 4 4 3 3 5 3 4 6 3 3 7 4 3 8 3 4 9 3 4 10 3 4 11 4 3 12 3 3 13 4 4 14 3 3 ∑ Skor 45 49 Kelayakan 80.36% 87.50%
Sumber Data : Diolah dari hasil angket penilaian validasi kelayakan instrumen materi yang terlampir
Tabel 3.4 menujukan presentase hasil validasi oleh 2 dosen ahli pada 14
komponen penilaian terhadap instrumen Argumentasi Ilmiah Pada Pembelajaran
masing-masing validator mendapatkan hasil yang berbeda-beda begitu pun juga
mengenai saran perbaikan oleh validaor. Hasil validasi diatas juga disajikan
dalam bentuk grafik.
Sumber Data : Diolah dari hasil angket penilaian validasi kelayakan
instrumen materi yang terlampir
Keterangan grafik :
Grafik balok hijau = untuk validator I Grafik balok merah = untuk validator II
Setelah melakukan analisis terhadap validasi oleh dosen para ahli
instrumen dapat diketahui bahwa kelayakan mencapai 83,93%. Hasil ini
menunjukan bahwa Instrmen layak digunakan, walaupun demikian masih perlu
adanya perbaikan sesuai dengan saran dari masing-masing validator.
2. Uji Reliabilitas Instrumen Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisiska melalui Pendekatan Open Ended Learning
1 2 Series1 80.36% 87.50% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00% P er se ntase
Grafik 3.1. PersentaseValidasi Instrumen Argumentasi Ilmiah Pada Pembelajaran Fisika
Relibilitas merupakan tingkat atau derajat konsistensi dari suatu
instrumen (Arifin, 2013:258). Relibilitas sama dengan konsistensi atau keajekan.
Suatu instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai relibilitas yang tinggi,
apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur
(Sukardi, 2014 : 127) dengan demikian reliabilitas dapat diartikan sebagai
keterpercayaan. Untuk mencari relibilitas, terlebih dahulu varians skor tiap soal.
Perhitungan variansi skor tiap soal digunakan rumus.
𝜎𝑡2 = (∑ 𝑥) 2 − (∑𝑥2)𝑁 𝑁 (Arikunto, 2010 :110) Keterangan 𝜎𝑡2= Varians total N = Jumlah peserta tes X = skor total
Rumus Cronbach’s Alpha (𝛼) menggunakan rumus sebagai berikut. r11 = ( 𝑛 𝑛−1 ) ( 1-∑𝜎12 𝜎12 ) (Hamzah, 2014 :223) Keterangan
r11 = Reliabilitas tes yang dicari
∑𝜎12 = Jumlah varians skor tiap item 𝜎12 = Varians total
n = Banyaknya soal
Tabel 3.5 Kategori Interval Tingkat Reliabilitas Besarnya nilai r Interpretasi
0,00-0,20 Reliabilitas sangat rendah
0,20-040 Reliabilitas rendah
0,40-0,60 Reliabilitas sedang
0,60-0,80 Reliabilitas sedang
0,80-1,00 Reliabilitas sangat tinggi
Sumber : Jurnal Penerapan LKPD berbasis kemampuan argumentasi
ilmiah siswa (kurdaningsih, 2016)
Uji reliabilitas ini berdasarkan hasil uji coba lapangan (field test) yang
melibatkan peserta didik kelas XII IPA 1 yang terdiri 35 peserta didik. Peserta
didik akan menyeleseikan 10 butir soal uraian dalam waktu 2 x 60 menit.
Berdasarkan hasil pekerjaan peserta didik tersebut maka dapat dihitung tingkat
reliabilitas tes. Berikut data hasil perhitungan uji coba reliabilitas ditunjukan pada
tabel berikut:
Tabel 3.6 Reliability Statistics
Cronbach’s Alpha N of Item
0,714 10
Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning
Berdasarkan Tabel 3.6 dapat diketahui bahwa tingkat reliabilitas
instrumen tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan
Open Ended Learning dengan interpretasi “tinggi”. Hal ini menunjukkan bahwa
instrumen tes dikatakan reliable.
Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk
menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang
telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan
secara umum atau generalisasi. (Sugiyono, 2017). Untuk menentukan skor
rata-rata peserta didik dengan menggunakan rumus:
M = ∑𝑋
𝑁
Keterangan:
M = Skor rata-rata
∑X = Jumlah skor total peserta didik
N = Jumlah responden
Tabel 3.7 Kriteria Skor Analisis Staistik Deskriptif Peserta Didik terhadap
Soal Argumentasi Ilmiah Berdasarkan Setiap Indikator
Interval Skor/Nilai Keterangan
X > 85% Sangat Baik
65,5 % -85% Baik
55%-65,5% Cukup
X < 40% Sangat Kurang
Sumber : Jurnal analisis kemampuan berargumentsi ilmiah siswa SMA pada Konsep Termodinamika (Amalia, Nata, dkk. 2018)
Tabel 3.8 Kriteria Skor Analisis Statistik Deskriptif Peserta Didik terhadap
Soal Argumentasi Ilmiah Secara Keseluruhan
Interval Skor/Nilai Keterangan
X > 85% Sangat Tinggi
70% -85% Tinggi
55%-70% Sedang
40%-55% Rendah
X < 40% Sangat Rendah
Sumber : Jurnal analisis kemampuan berargumentsi ilmiah siswa SMA pada Konsep Termodinamika (Amalia, Nata, dkk. 2018)
Data yang di kumpulkan berupa tulisan argumentasi peserta didik. Dari
hasil tulisan peserta didik, di analisis melalui hasil skor masing-masing peseta
didik berdasarkan indikator pencapaian yang telah ditentukan.
Setelah data dikumpulkan, maka dilakukan teknik analisis data
menggunakan teknik analisis statistik deskriptif. Analisis data ini dilakukan untuk
mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul mengenai
kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik, yang diukur menggunakan rubrik
penilaian kemampuan argumentasi ilmiah. Teknik analisis datanya sebagai
hasil penilaian pada setiap aspek kemampuan argumentasi ilmiah. 2). Menentukan
rata-rata kemampuan peserta didik pada setiap aspek kemampuan menyertakan
membuat klaim, menggunakan data, menuliskan alasan dengan menggunakan
sumber internal dan eksternal. 3). Mengubah hasil skor keseluruhan dan hasil skor
setiap aspek menjadi nilai kualitatif dengan kriteria penilaian sebagaimana dapat
dilihat pada tabel 3.7 dan tabel 3.8. (widyoko, 2009). 4). Mengubah skor rata-rata
menjadi bentuk persen (%) dengan rumus: Persentase = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 X 100 %
5). Menginterpretasikan data secara deskriptif berdasarkan skor nilai (persentase)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan guru
bidang studi fisika dan wali kelas XII IPA 1 di SMAN 13 Makassar. Diketahui
bahwa sekolah tersebut telah menerapkan kurikulum (K13). Dengan model,
metode maupun strategi pembelajaran yang heterogen atau bervariasi yang
menjadi salah satu agar tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan, untuk
mencapai hal tersebut untuk mengetahui tercapainya indikator pembelajaran,
maka guru memberikan penugasan yang berupa instrumen tes kepada peserta
didik. Artinya dalam hal ini sekolah tersebut memiliki potensi untuk
dikembangkan jenis penelitian yang merujuk pada kemampuan peserta didik
dalam memecahkan soal fisika berdasarkan argumentasi ilmiah melalui
pendekatan Open Ended Learning sehingga peserta didik dapat mengembangkan
pengeahuan secara luas.
A. Hasil Penelitian
1. Analisis Skor Peserta Didik terhadap Soal Argumntasi Ilmiah
Data hasil penelitian ini diperoleh dari skor penilaian soal argumentasi
ilmiah peserta didik melalui pendekatan Open Ended Learning. Temuan
penelitian yang diperoleh berupa hasil penilaian pada aspek kemampuan membuat
klaim, memberikan data berupa bukti, dan menuliskan alasan ilmiah dengan
menggunakan sumber internal dan eksternal.
Pada bagian analisis data akan diuraikan mengenai masing-masing aspek
kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik dan dari uraian setiap aspek
kemampuan argumentasi ilmiah tersebut dapat ditarik kesimpulan mengenai nilai
rata-rata aspek kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik. Selanjutnya dari
nilai rata-rata tersebut dapat ditarik kesimpulan mengenai tingkat kemampuan
argumentasi ilmiah peserta didik.
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Skor Klaim
Skor Keterangan Frekuensi
1 Pernyataan tidak tepat, tidak dapat diterima 0
2 Pernyataan kurang tepat, dapat diterima 10
3 Pernyataan cukup relevan, dapat diterima 191
4 Pernyataan relevan, dapat diterima 149
JUMLAH 350
Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning
Berdasarkan tabel 4.1, diketahui bahwa terdapat frekuensi sebanyak 149 yang dapat menjawab klaim dengan kriteria pernyataan relevan dan dapat diterima dengan skor 4, sebanyak 191 dengan kriteria pernyataan cukup relevan dan dapat diterima dengan skor 3 sedangkan frekuensi 0 untuk skor 2 dengan kriteria pernyataan kurang tepat dan dapat diterima dan jga untuk skor 1 dengan kriteria pernyataan tidak tepat dan tidak dapat diterima.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Skor Bukti
Skor Keterangan Frekuensi
1 Bukti salah, penjelasan salah 0
2 Bukti benar, penjelasan salah 17
3 Bukti benar, penjelasan kurang tepat 176
4 Bukti benar, penjelasan benar 157
JUMLAH 350
Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning
Berdasarkan tabel 4.2, diketahui bahwa terdapat frekuensi sebanyak 157 yang dapat memberikan bukti dengan kriteria bukti benar dan penjelasan benar dengan skor 4, sebanyak 176 dengan kriteria bukti benar dan penjelasan kurang tepat dengan skor 3, sebanyak 17 dengan kriteria bukti benar dan penjelasan salah dengan skor 2, sedangkan frekuensi 0 untuk skor 1 dengan kriteria bukti salah dan penjelasan salah.
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Skor Alasan Ilmiah
Skor Keterangan Frekuensi
1 Alasan kabur dan tidak sesuai antara klaim dan bukti
0
2 Alasan benar secara ilmiah tetapi tidak sesuai antara klaim dan bukti
15
3 Alasan benar secara ilmiah dan cukup sesuai antara klaim dan bukti
198
klaim dan bukti
JUMLAH 350
Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning
Berdasarkan tabel 4.3, diketahui bahwa terdapat frekuensi sebanyak 137 yang dapat memberikan bukti dengan kriteria alasan benar secara ilmiah dan sesuai antara klaim dan bukti dengan skor 4, sebanyak 198 dengan kriteria alasan benar secara ilmiah dan cukup sesuai antara klaim dan bukti dengan skor 3, sebanyak 15 dengan kriteria alasan benar secara ilmiah tetapi tidak sesuai antara klaim dan bukti dengan skor 2, sedangkan frekuensi 0 untuk skor 1 dengan kriteria alasan kabur dan tidak sesuai antara klaim dan bukti.
Tabel 4.4 Total Skor Peserta Didik terhadap Soal Argumentasi Ilmiah
berdasarkan setiap Indikator
No Soal Klaim Bukti Alasan Ilmiah
1 107 113 124 2 122 123 111 3 122 117 108 4 121 116 121 5 121 115 118 6 120 123 120 7 117 124 118 8 116 122 118 9 120 121 119 10 123 116 115 Jumlah 1189 1190 1172 X (rata-rata) 33.97 34.00 33.49 Persentase Skor 84.93% 85.00% 83.71%
Kategori Baik Sangat Baik Baik
Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning
Tabel 4.4 yang disajikan berikut adalah data hasil penilaian peserta didik
terhadap soal argumentasi ilmiah melalui pendekatan Open Ended Learning yang
kemudian dirata-ratakan untuk mengetahui tingkat kemampuan argumentasi
ilmiah peserta didik berdasarkan aspek penilaian yakni membuat klaim,
menyertakan bukti, dan membuat alasan ilmiah. Adapun hasil persentase total
skor peserta didik yang disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut :
Keterangan grafik :
Grafik balok jingga = untuk indikator klaim Grafik balok merah = untuk indikator bukti/data Grafik balok biru = untuk indikator alasan ilmiah
Berdasarkan grafik 4.1, dapat diketahui bahwa rata-rata perolehan skor
berdasarkan aspek pada hasil penilaian kemampuan argumentasi ilmiah melalui
pendekatan Open Ended Learning adalah untuk aspek dalam membat klaim yaitu
84,93 % dengan kriteria baik. Untuk membuat bukti atau data di peroleh sebesar
1 2 3 Series1 84.93% 85.00% 83.71% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00% p er se n tase
Grafik 4.1. Total Skor Peserta Didik terhadap Soal Argumentasi Ilmiah berdasarkan setiap aspek
85,00% dengan kriteria sangat baik. Sedangkan dalam membuat alasan ilmiah
diperoleh sebesar 83,71% dengan kriteria baik.
Setelah menentukan skor dari masing-masing indikator argumentasi
ilmiah peserta didik, langkah selanjutnya yaitu menghitung nilai dari hasil tes soal
argumentasi ilmiah peserta didik yang dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Nilai Peserta Didik Di SMA 13 Makassar No Peserta didik Presentase Nilai Kategori
1 PD 1 87,50 Sangat Tinggi 2 PD 2 85,83 Sangat Tinggi 3 PD 3 83,33 Tinggi 4 PD 4 84,17 Tinggi 5 PD 5 90,00 Sangat Tinggi 6 PD 6 86,67 Sangat Tinggi 7 PD 7 87,50 Sangat Tinggi 8 PD 8 92,50 Sangat Tinggi 9 PD 9 87,50 Sangat Tinggi 10 PD 10 88,33 Sangat Tinggi 11 PD 11 83,33 Tinggi 12 PD 12 84,17 Tinggi 13 PD 13 85,00 Tinggi 14 PD 14 83,33 Tinggi 15 PD 15 83,33 Tinggi 16 PD 16 80,00 Tinggi 17 PD 17 89,17 Sangat Tinggi 18 PD 18 81,67 Tinggi 19 PD 19 85,00 Tinggi 20 PD 20 83,33 Tinggi 21 PD 21 83,33 Tinggi 22 PD 22 85,83 Sangat Tinggi 23 PD 23 83,33 Tinggi 24 PD 24 84,17 Tinggi 25 PD 25 80,83 Tinggi 26 PD 26 88,33 Sangat Tinggi 27 PD 27 70,00 Sedang 28 PD 28 78,33 Tinggi
29 PD 29 80,00 Tinggi 30 PD 30 86,67 Sangat Tinggi 31 PD 31 85,00 Tinggi 32 PD 32 84,17 Tinggi 33 PD 33 85,83 Sangat Tinggi 34 PD 34 94,17 Sangat Tinggi 35 PD 35 80,83 Tinggi Rata-Rata 84,64
Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Kriteria Nilai Peserta Didik Interval Skor/Nilai Frekuensi Keterangan
X > 85% 14 Sangat Tinggi 70% -85% 20 Tinggi 55%-70% 1 Sedang 40%-55% 0 Rendah X < 40% 0 Sangat Rendah Jumlah 35
Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning
Berdasarkan data pada tabel 4.5, terlihat bahwa kemampuan dari peserta
didik bervariasi atau berbeda-beda. Dari 35 peserta didik yang menyelesaikan soal
argumentasi ilmiah pada pembelajaran fisika melalui pendekatan open ended
learning terdapat 14 peserta didik yang memiliki nilai yang sangat tinggi, 20
kriteria sedang sedangkan tidak ada peserta didik yang mendapatkan kriteria
rendah dan sangat rendah.
Dari data yang didapatkan, nilai rata-rata yang didapatkan oleh peserta
didik secara keseluruhan 84,64% yang masuk pada rentang nilai dengan kategori
baik.
2. Analisis Statistik
Data yang di peroleh dalam penelitian ini kemdian dianalisis dengan
menggunakan bantuan program pengolah data Microsoft Excel 2007 sehingga di
peroleh hasil perhitungan analisis statistik deskriptif yang dapat di lihat pada tabel
sebagai berikut.
Tabel 4.7 Statistik Hasil Tes Argumentasi Ilmiah Peserta Didik pada
Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning Di SMAN 13 Makasar
Statistik Nilai
Jumlah Sampel 35
Jumlah Kelas Interval 6
Panjang Kelas Interval 4
Skor Maksimum Ideal 100
Skor Minimum Ideal 0
Skor Maksimum 94.17 Skor Minimum 70.00 Rentang Skor 24.17 Skor Rata-Sata 84.64 Standar Deviasi 4.25 Modus 83,33
Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning
Berdasarkan tabel 4.7, diketahui nilai statistik untuk jumlah kelas
interval adalah 6 dengan panjang kelas interval adalah 4. Untuk skor maksimum
yaitu 94,17, skor minumm adalah 70,00 dengan rentang skor yaitu 24,17, untuk
modus atau nilai yang sering muncul yaitu 83,33, sedangkan untuk standar deviasi
yaitu 4,25
B. Pembahasan
Penelitian ini berjudulkan ”Analisis Argumentasi Ilmiah Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning di SMAN 13 Makassar” diawali dengan melakukan observasi terhadap sekolah dan proses belajar mengajar dalam kelas secara online pada mata pelajaran fisika kelas XII
IPA 1. Dalam melakukan observasi, secara bersamaan peneliti juga melakukan
waancara pada salah satu guru mata pelajaran fisika terkait kondisi peserta didik
dalam kelas saat menjalani mata pelajaran fisika.
Berdasrkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan kepada guru
dan peserta didik di SMA Negeri 13 Makassar bahwa jarang di terapkan
penyelesaian dalam pembelajaran fisika berdasarakan argumentasi ilmiah peserta
ddik. Sehingga perlu adanya perhatian dalam menerapkan proses pembelajaran
fisika dengan kemampuan berargumentasi ilmiah karena perlu diketahui bahwa
dalam pembelajaran fisika tidak hanya mengarah pada teori tetapi juga harus di
buktikan berdasarkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian
Setelah menganalisis potensi dan masalah yang didapatkan di sekolah,
selanjutnya peneliti berkonsultasi kepada dosen pembimbing dan bertukar
pendapat dengan landasan temuan disekolah sehingga dituangkan dalam bentuk
gagasan untuk selanjutnya merancang instrumen soal argumentasi ilmiah pada
pembelajaran fisika melalui pendekatan Open Ended Leraning. Dimana dalam
soal pada instrumen ini berupa pernyataan-pernyataan yang sering ditemukan
dalam kehidupan sehari-hari sehingga diharapkan pada peserta didik dapat
menyelesaikan soal tersebut berdasarkan argumentasi ilmiah yang sesuai dengan
indikator penilaian pada penelitian ini yakni klaim, bukti dan alasan ilmiah
melalui pengetahuan-pengetahuan yang lebih luas atau multi jawaban.
Setelah membuat instrument, kemudian dilakukan validasi instrumen
yang dilakukan oleh dua orang validator untuk mengetahui kriteria kelayakan
penggunaan instrumen dalam melakukan penelitian. Setelah melakukan analisis
terhadap validasi oleh dosen para ahli instrumen dapat diketahui bahwa kelayakan
mencapai 83,93%. Hasil ini menunjukan bahwa Instrmen layak digunakan,
walaupun demikian masih perlu adanya perbaikan sesuai dengan saran dari
masing-masing validator.
Setelah melakukan uji validasi instrumen, maka selanjutnya yaitu
melakukan penelitian. Hasil dari analisis data penelitian menunjukkan bahwa
kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik tergolong dalam kategori tinggi,
dibuktikan dengan skor rata-rata kemampuan memberikan klaim dengan
persentase 84,93%, menyertakan data atau bukti dengan persentase 85,00%, serta
Dimana skor tertinggi yang didapatkan oleh peserta didik untuk pencapaian skor
secara keselurhan yaitu 94,17 yang masuk dalam kriteria sangat tinggi sedangkan
skor terendah yang didapat peserta didik yaitu 70,00 yang masuk dalam kriteria
sedang sehinga diperoleh skor rata-rata secara keseluruhan peserta didik yaitu
84,64%. Hal ini menunjukan adanya peningkatan terhadap peserta didik dalam
memecahkan pembelajaran fisika secara argumentasi ilmiah melalui pendekatan
oepen ended atau pemikiran terbuka dan tidak terbatas.
Berdasarkan penjelasan di atas menunjukkan bahwa kemampuan
argumentasi ilmiah peserta didik pada pembelajaran fisika melalui pendekatan
open ended learning tergolong dalam kategori baik. Artinya, pendekatan Open Ended Learning akan dapat meningkatkan kemampuan argumentasi ilmiah,
karena dengan memiliki kemampuan berargumentasi ilmiah peserta didik akan
lebih mudah untuk memberikan pernyataan, bukti dan alasan-alasan ilmiah dalam
memecahkan soal fisika.
Dalam penelitian ini penulis menyadari bahwa dalam terdapat banyak
keterbatasan pembahasan. Penelitian ini hanya terbatas pada kemampuan
argumentasi ilmiah dengan aspek kemampuan argumentasi ilmiah yang diteliti
diantaranya kemampuan menyertakan membuat klaim, memberikan data atau
bukti, serta menuliskan alasan yang dilakukan dengan pendekatan open ended
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SMAN 13 Makassar
mengenai analisis argumentasi ilmiah peserta didik pada pemebelajaran Fisika
melalui pendekatan Open Ended Learning kelas XII IPA 1 dapat disimpulkan
bahwa kualitas kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik secara
keseluruhan adalah baik dengan persentase rata-rata 84,64%.
2. Analisis argumentasi ilmiah peserta didik pada setiap aspek indikator dapat
dideskripsikan sebagai berikut: aspek kemampuan membuat klaim tergolong
baik dengan persentase 84,93, aspek kemampuan memberikan bukti atau data
tergolong sangat baik dengan persentase 85,00% sedangkan aspek
kemampuan membuat alasan ilmiah tergolong baik dengan persentase
83,71%.
3. Melalui penelitian ini dapat diungkap bahwa penerapan argumentasi ilmiah
dengan pendekatan open ended learning pada pembelajaran fisika dapat
memberikan motivasi kepada peserta didik untuk dapat menemukan ide dalam
menjawab permasalahan dalam pembelajaran fisika.
B. Saran
Saran yang dapat diberikan terkait dengan penelitian ini adalah:
1. argumentasi ilmiah agar dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam
memberikan argument atau ide.
2. Perlunya penggunaan instrumen yang lebih lengkap dalam penelitian
selanjutnya yaitu pedoman wawancara, agar data penelitian yang diperoleh