• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS ARGUMENTASI ILMIAH PESERTA DIDIK PADA PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI PENDEKATAN OPEN ENDED LEARNING DI SMA NEGERI 13 MAKASSAR SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS ARGUMENTASI ILMIAH PESERTA DIDIK PADA PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI PENDEKATAN OPEN ENDED LEARNING DI SMA NEGERI 13 MAKASSAR SKRIPSI"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

RAHMAWATI 105391104916

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 2020

(2)

i SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan

Oleh

RAHMAWATI 105391104916

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 2020

(3)
(4)
(5)

iv

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Rahmawati

NIM : 105391104916

Program Studi : Pendidikan Fisika

Judul Skripsi : Analisis Argumentasi Ilmiah Peserta Didik Pada

Pembelajaran Fisika Melalui Pendekatan Open

Ended Learning Di SMAN 13 Makassar

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim

penguji adalah hasil karya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau

dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pertanyaan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan saya

bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, November 2020 Yang Membuat Pernyataan

(6)

v

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Rahmawati

NIM : 105391104916

Program Studi : Pendidikan Fisika

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidika

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya

saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan

pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiblakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia

menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demi perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, November 2020

Yang Membuat Pernyataan

(7)

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS.Al Baqarah:286)

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (QS, Ad Duha:7)

Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. (QS.Al Baqarah:73)

Tuhan tidak menuntut kita untuk sukses, Tuhan menyuruh kita berjuang tanpa henti. (Emha Ainun Nadjib)

Sejenak aku berpikir ketika meneguk segelas kopi hitam tanpa gula bahwa yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu meyedihkan. Jangan lupa minum kopi hari ini !!!

(Wanita Penikmat Kopi, Penulis)

Persembahan Skripsi: Skripsi ini kupersembahkan untuk kedua orang tua saya. Kepada Ayahanda Awaluddin, sosok ayah yang selalu memberikan kasih sayang dan dukungan kepada saya dan beliau telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan saya selama menjalani pendidikan hingga saat ini. Dan yang paling teristimewah kepada Almarhumah Ibunda Bahrah, sosok ibu yang sangat kuat dan tegar, yang telah mengajarkan kepada saya arti kasih sayang dan semangat dalam belajar, meskipun beliau tidak dapat menemani saya hingga penyelesaian pendidikan saya, akan tetapi Edukasi dan kasih sayang beliau akan selalu tertanam dalam diri saya serta senyuman beliau yang tidak akan pernah terlupakan sebagai bentuk kekuatan saya. Saya yakin, saya bisa sampai pada titik ini karena usaha serta dukungan dan iringan do’a dari mereka.

(8)

vii ABSTRAK

Rahmawati. 2020. Analisis Argumentasi Ilmiah Peserta Didik Pada Pembelajaran Fisika Melalui Pendekatan Open Ended Learning Di SMAN 13 Makassar. Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. (Dibimbing oleh Khaeruddin dan Ma’ruf).

Kemampuan argumentasi ilmiah sangatlah penting bagi peserta didik, karena dengan kemampuan berargumentasi ilmiah peserta didik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, logis, mampu memecahkan masalah, dan menciptakan argumen menggunakan logika ilmiah, sehingga argumen mereka dapat diterima oleh orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik kelas XII IPA 1 SMAN 13 Makassar. Kemampuan argumentasi ilmiah tersebut diperoleh melalui metode kuantitatif deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan soal dalam bentuk uraian (essay) argumentasi ilmiah pada pembelajaran fisika melalui pendekatan Open Ended Learning.

Berdasarkan data hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa peserta didik kelas XII IPA 1 SMAN 13 Makassar mempunyai kemampuan argumentasi ilmiah yang baik dengan persentase rata-rata 84,64 % diantaranya pada aspek membuat klaim dengan persentase rata-rata 84.93% (baik); aspek memberikan bukti dengan persentase rata-rata 85,00% (sangat baik); aspek membuat alasan ilmiah dengan persentase rata-rata 83,71% (baik). Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa penerapan open ended learning dapat meningkatkan kemampuan argumentasi ilmiahpeserta didik dalam pembelajaran fisika melalui berbagai macam solusi, ide maupun gagasan peserta didik secara ilmiah.

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah Subhanahu Wataala

pencipta alam semesta penulis panjatkan kehadirat-Nya, semoga shalawat dan

salam senantiasa tercurah pada Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarga,

sahabat dan orang-orang yang senantiasa istiqamah untuk mencari Ridha-Nya

hingga di akhir zaman.

Skripsi dengan judul “Analisis Argumentasi Ilmiah Peserta Didik

Pada Pembelajaran Fisika Melalui Pendekatan Open Ended Learning Di SMAN 13 Makassar” diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh

gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Berbekal dari kekuatan dan ridha dari Allah SWT semata, maka

penulisan skripsi ini dapat terselesaikan meski dalam bentuk yang sangat

sederhana. Tidak sedikit hambatan dan rintangan yang penulis hadapi, akan tetapi

penulis sangat menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada keberhasilan tanpa

kegagalan.

Teristimewa dan terutama sekali penulis sampaikan ucapan terima kasih

yang tulus kepada kedua oran tua yang tercinta Ayahanda Awaluddin dan

Almarhumah Ibunda Bahra tersayang atas segala pengorbanan dan doa restu

yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu sejak kecil

(10)

ix

menjadikan kebaikan dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan diakhirat.

Dengan pertolongan Allah SWT, yang hadir lewat uluran tangan serta dukungan

dari berbagai pihak. Karenanya, penulis menghaturkan terima kasih yang tiada

terhingga atas segala bantuan modal dan spritual yang diberikan dalam

menyelesaikan skripsi ini.

Ucapan terima kasih dan penghargaan istimewa juga penulis sampaikan

kepada Bapak Dr.Khaeruddin, S.Pd., M.Pd dan Bapak Ma’ruf, S.Pd.,M.Pd

selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah meluangkan waktunya dalam

memberikan bimbingan, arahan dan semangat kepada penulis sejak penyusunan

proposal hingga terselesainya skripsi ini.

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang

setinggi-setingginya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag selaku Rektor Universitas

Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D, selaku Dekan FKIP Universitas

Muhammadiyah Makassar

3. Ibu Dr. Nurlina, S.Si., M.Pd dan Bapak Ma’ruf S.Pd., M.Pd , selaku Ketua

dan Sekertaris Prodi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Muhammadiyah

Makassar.

4. Bapak dan Ibu dosen Prodi Pendidikan Fisika FKIP Universitas

Muhammadiyah Makassar yang telah mengajar dan mendidik mulai dari

(11)

x

ini.

5. Ibu Mashari, S.Pd., M.Si selaku Kepala SMA Negeri 13 Makassar yang

telah memberikan izin penulis mengadakan penelitian sehingga penulis

menyelesaikan skripsiini.

6. Ibu Hj. Nursyamsiah, S.Pd., M.Pdselaku Wakasek Kurikulum dan juga

selaku Guru bidang mata pelajaran fisika SMA Negeri 13 Makassar yang

telah memberikan izin penulis mengadakan penelitian dan sehingga penulis

menyelesaikan skripsiini.

7. Peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 13 Makassar atas kesediaannya

menjadi subjek penelitian sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Saudara dan saudari Kandung saya kakanda M.Bimawan, kakanda

Marhayani, kakanda M.Ramli, kakanda Marni, kakanda Jumriani,

kakanda Darmayanti, kakanda M.Israwan, kakanda Mardiana, dan

kakanda Nur Annisaserta salah satu keponakan saya Sukmah Ramdhani

atas segala bantuannya,saran dan dukungan motivasi dalam menyelesaikan

kuliah saya.

9. Spesial untuk Nur Annisa selaku kakak ke-9 saya yang tidak pernah

menyerah memberikan saya dukungan, dorongan, dan motivasi untuk terus

maju dan sukses, yang telah menjadi pengganti mama saya selama beliau

sakit hingga berpulangnya ke rahmatullah dan sampai saat ini.

10. Teman sekaligus motivator saya Ade Lin Ostiatas segala bantuan, dukungan

dan perhatiannya dalam penyelesaian skripsi ini yang tak akan

(12)

xi

11. Rekan-rekan mahasiswa Prodi Fisika terkhusus angkatan 2016, serta teman-

teman yang tidak sempat saya sebutnamanya yang telah banyak membantu

dalam menyelesaiakan tugas akhirini.

12. Seluruh petugas Perpustakaan Unismuh dan Perpustakaan Wilayah

Provindsi Sul-Sel segela kerjasamanya kepada penulis dalam menyelesaikan

tugas akhirini.

Akhirnya, sebagai penutup penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritikan demi

pengembangan wawasan penulis kedepannya. Semoga Allah SWT melimpahkan

rahmat dan ridha-Nya kepada kita semua, Amin.

Billahi Taufiq Walhidayah

Wassalamu Alaikum Wr. Wb

Makassar, November 2020

Penulis

(13)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK……… vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 4 C. Tujuan Penelitian ... 5 D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ... 6

1. Argumentasi Ilmiah ... 6

2. Pembelajaran Fisika ... 9

3. Open Ended Learning ... 10

4. Hasil Penelitian yang Relevan ... 13

B. Kerangka Pikir ... 14

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 16

B. Lokasi Penelitian dan subjek penelitian ... 16

C. Prosedur Penelitian ... 17

D. Teknik Pengambilan Sampel ... 18

E. Instrumen Penelitian ... 18

F. Teknik Pengambilan Data ... 19

G. Teknik Analisis Data ... 20

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 28

B. Pembahasan ... 36

BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 40

(14)

xiii

DAFTAR PUSTAKA ... 41 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 44 RIWAYAT HIDUP

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Kriteria Skor Setiap Indikator ... 19

3.2 Aturan pemberian skor Instrumen ... 21

3.3 Skala Kelayakan Instrumen Argumentasi Ilmiah melalui pendekatan OEL .. 21

3.4 Hasil Validasi Instrumen Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning ... 22

3.5 Kategori Interval Tingkat Reabilitas ... 25

3.6 Haisil Reability Statistics ... 25

3.7 Kriteria Skor Analisis Statistik Deskriptif terhadap Soal Argumentasi Ilmiah berdasarkan setiap indikator ... 26

3.8 Kriteria Skor Analisis Statistik Deskriptif terhadap Soal Argumentasi Ilmiah secara keseluruhan ... 27

4.1 Disribusi Frekuensi Skor Klaim ... 30

4.2 Disribusi Frekuensi Skor Bukti ... 30

4.3 DisribusiFrekuensi SkorAlasan Ilmiah ... 31

4.4 Total Skor Peserta Didik terhadap Soal Argumentasi Ilmiah berdasarkan setiap Indikator ... 32

4.5 Nilai Peserta Didik di SMAN 13 Makassar ... 34

4.6 Distribusi Frekuensi Kriteria Nilai Peserta Didik ... 35

4.7 Statistik Hasil Tes Argumentasi Ilmiah Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning ... 36

(16)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman 2.1 Kerangka Pikir ... 19 3.1 Persentasi Hasil Validasi Instrumen para Ahli ... 23 4.1 Persentase Hasil Total Skor Peserta Didik terhadap Soal Argumentasi Ilmiah

(17)
(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wabah pandemik Corona Virus Disease (Covid-19) telah melanda lebih

dari 200 Negara di Dunia salah satunya Indonesia. Pandemi Covid-19 memaksa

kebijakan social distancing, atau di Indonesia lebih dikenalkan sebagai physical

distancing (menjaga jarak fisik) untuk meminimalisir persebaran Covid-19.Jadi,

kebijakan ini diupayakan untuk memperlambat laju persebaran virus Corona di

tengah masyarakat. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)

merespon dengan kebijakan belajar dari rumah, melalui pembelajaran daring dan

disusul peniadaan Ujian Nasional untuk tahun ini. Kondisi ini mengharuskan

warganya untuk tetap stay at home, bekerja, beribadah dan belajar di rumah

(Gogot Suharwoto, 2020). Akibat kondisi tersebut seorang pendidik mengalami

kesulitan untuk melakukan pembelajaran di kelas.

Proses pembelajaran adalah sebuah upaya bersama antara guru dan

siswa untuk berbagi dan mengolah informasi, dengan harapan pengetahuan yang

diberikan bermanfaat dalam diri siswa dan menjadi landasan belajar yang

berkelanjutan. Proses pembelajaran merupakan suatu sistem. Sebuah proses

pembelajaran yang baik akan membentuk kemampuan berpikir kritis, dan

munculnya kreativitas, serta kemampuan untuk berargumentasi. Dengan

(19)

demikian, proses pembelajaran ini sangat penting dalam menentukan mutu

pendidikan (ambasari, 2012)

Mutu pendidikan di Indonesia semakin hari dituntut untuk lebih baik

lagi, maka hal yang efektif dilakukan dalam meningkatkan mutu pendidikan

adalah adanya upaya perbaikan kepada proses belajar dan mengajar. Hal itu

sangat erat kaitannya dengan akses untuk menggunakan sarana belajar yang

sesuai dan memadai, kualitas mengajar, strategi pembelajaran yang digunakan,

dan pengembangan sistem penilaian. Upaya perbaikan pada proses belajar dan

mengajar akan mempengaruhi individu secara langsung, terutama untuk melatih

individu memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, sistematis, penalaran yang

mantap, kreatif, dan inovatif, serta kemampuan untuk berargumentasi atau

mengemukakan pendapat (komunikasi).

Rencana atau program yang harus dijadikan sebagai pedoman dalam

pelaksanaan proses belajar mengajar oleh guru adalah kurikulum. Kurikulum dan

pembelajaran, merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa kurikulum

yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran tidak akan berlangsung secara

efektif. Kurikulum merupakan salah satu komponen penting dari sistem

pendidikan, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan

acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara,

khususnya oleh guru dan kepala sekolah (Depdiknas, 2019)

Rendahnya keterlibatan siswa untuk aktif dan kritis dalam proses

(20)

saja, namun faktor eksternal juga yang mempengaruhi. Faktor eksternal antara

lain berupa strategi dan model pembelajaran yang diterapkan guru kurang

menarik perhatian siswa, sehingga siswa merasa malas dan kurang aktif dalam

proses pembelajaran. Pembelajaran fisika selama ini hampir sepenuhnya diajarkan

dengan menggunakan metode ceramah dan guru masih mendominasi dalam

proses pembelajaran maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat

diterapkan agar siswa menjadi aktif yaitu sebuah pendekatan yang mampu

memunculkan keterlibatan siswa secara aktif dan kritis. Oleh karena itu perlu

adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir melalui pembelajaran

yang melibatkan langsung siswa dalam pemecahan masalah (Fachruddin, 2012)

Adapun pendekatan yang dapat diterapkan yaitu dengan model

pembelajaran open ended. Pembelajaran dengan open ended merupakan

pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan masalah dengan

berbagai cara dan solusinya juga bisa beragam. Pembelajaran ini melatih dan

menumbuhkan orisinalitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi,

interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dihadapkan pada

permasalahan dimana mereka diminta untuk mengembangkan metode, cara, atau

pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan dan

bukan orientasi pada jawaban akhir.

Model pembelajaran open ended dimulai dengan memberikan

pembelajaran terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus membawa

(21)

dengan banyak jawaban sehingga mengundang potensi intelektual dan

pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru (Neny, 2016)

Pentingnya mengungkap kualitas argumentasi yang dibangun siswa

selama pembelajaran online ini berlangsung adalah untuk perbaikan kepada

proses pembelajaran selanjutnya, karena dengan diungkapnya kualitas

argumentasi siswa tersebut maka guru menjadi tahu seberapa besar kemampuan

siswanya dalam berargumentasi, sehingga guru dapat memperbaiki dan

meningkatkan cara mengajar serta proses pembelajaran menjadi lebih baik lagi.

Dengan terungkapnya kualitas argumentasi siswa ini maka guru akan mengetahui

seberapa besar kemampuan siswa dalam berpikir rasional, karena seperti yang

telah diketahui bahwa proses argumentasi merupakan dasar dalam berpikir

rasional. Semakin tinggi level argumentasi siswa maka semakin baik pula

pemahaman konsep siswa, karena siswa yang memiliki level argumentasi tinggi

berarti tingkat pemahaman konsep siswa tersebut sangat baik. Berdasarkan uraian di atas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul: “Analisis

Argumentasi Ilmiah Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika Melalui Pendekatan Open Ended Learning di SMAN 13 Makassar”. Hasil penelitian ini

diharapkan dapat mengungkap kualitas argumentasi peserta didik melalui

pendekatan Open Ended Learning yang terjadi dalam pembelajaran online.

B. Rumsan Masalah

Bagaimana argumentasi ilmiah peserta didik pada pembelajaran Fisika melalui

(22)

C. Tujuan Penelitian

Untuk dapat menganalisis argumentasi ilmiah pada pelajaran Fisika melalui

pendekatan Open Ended Learning SMAN 13 Makassar.

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan

manfaat, yaitu dapat memperluas wawasan dan mengungkap argumentasi ilmiah

(23)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka

1. Argumentasi Ilmiah

Argumentasi dalam Sains dipandang sebagai hal penting dalam proses

belajar sains karena merupakan aktivitas inti dari ilmuwan. Ada tiga alasan

pentingnya argumentasi dalam pembelajaran, (1) ilmuwan menggunakan

argumentasi dalam mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan ilmiahnya;

(2) masyarakat menggunakan argumentasi dalam perdebatan ilmiah; dan (3) para

siswa dalam pembelajaran membutuhkan argumentasi untuk memperkuat

pemahamannya (Erduran, Osborne, & Simon, 2007).

Argumentasi adalah proses memperkuat suatu klaim melalui analisis

berpikir kritis berdasarkan dukungan dengan bukti-bukti dan alasan yang logis.

Bukti-bukti ini dapat mengandung fakta atau kondisi objektif yang dapat diterima

sebagai suatu kebenaran. Kualitas argumentasi atau kuat lemahnya suatu

argumentasi (klaim) ditentukan oleh pemahaman suatu konsep yang didukung

data/bukti, warant, backing dan bagaimana kita mengkonstruk

komponen-komponen tersebut sehingga dapat meyakinkan.

Berargumentasi dapat meningkatkan hasil belajar dan kinerja siswa.

Penggunaan argumentasi dapat memperkokoh pemahaman konsep,

memungkinkan siswa untuk mendapatkan ide-ide baru yang dapat memperluas

pengetahuan, dan menghilangkan miskonsepsi yang dialami siswa (Cross,

(24)

Hendricks, & Hickey, 2008). Dengan membangun argumentasi akan memberikan

suatu pondasi yang kuat dalam memahami suatu konsep secara utuh dan benar.

Kemampuan merepresentasikan konsep secara baik (ilmiah, logis dan

masuk akal) akan sangat membantu peserta didik dalam memahami berbagai

konsep yang diajarkan. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dialami siswa

juga dapat dilihat dari representasi konsep yang mereka miliki. Kemampuan

merepresentasikan konsep akan sangat membantu siswa dalam berargumen secara

ilmiah dalam menyelesaikan masalah-masalah fisika. Fisika merupakan abstraksi

terhadap berbagai sifat alam dalam wujud konsepkonsep, hubungan antara konsep

dan dikomunikasikan dengan berbagai representasi sebagai media argumentasi

agar mudah dipahami dan mudah diajarkan (teachable), ide-ide fisika perlu

mengkomunikasikan dan merepresentasikannya dengan cara tertentu.

Argumentasi dalam Pembelajaran Fisika merupakan salah satu penyebab

kesulitan belajar fisika karena fisika membutuhkan berbagai bentuk representasi

dan kemampuan argumentasi untuk dapat berkomunikasi. Argumentasi adalah

proses yang digunakan seseorang untuk menganalisis informasi kemudian

dikomunikasikan kepada orang lain. Untuk terlibat dalam argumentasi diperlukan

keterampilan penalaran dan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan dengan lebih

baik.

Argumentasi dalam pendidikan memiliki dua perspektif, pertama guru

datang dengan penjelasan ilmiah ke kelas untuk dan membantu melihat suatu

(25)

kesepakatan agar klaim diterima. Kedua model tersebut dapat digunakan guru

dalam pembelajaran untuk mengetahui sejauhmana kualitas argumentasi,

diperlukan suatu kerangka analisis argumentasi.

Eduran (2008) mengemukakan bahwa argumen yang kuat memiliki

banyak pembenaran yang relevan dan spesifik untuk mendukung kesimpulan

dengan bukti-bukti konsep yang akurat.Sedangkan ciri-ciri argumentasi yang

lemah ditunjukkan dengan tidak adanya pertimbangan pengetahuan ilmiah, tidak

akurat, tidak spesifik, dan tidak tepat.

Kemandirian belajar siswa adalah suatu langkah yang efektif dan efisein

untuk memaksimalkan kemampuan siswa tanpa terus bergantung pada guru,

untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar (Nuridawani, Munzir dan Saiman,

2015). Dari hasil wawancara dengan guru di sekolah yang akan diteliti diketahui

bahwa kebanyakan siswa belum mampu secara mandiri untuk menemukan,

mengenal, memerinci dan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari

masalahnya, mengolah masalah yang disajikan, tidak fokus dan cenderung hanya

ikut-ikutan dengan teman yang dianggap lebih pandai. Guru masih menjadi pusat

pembelajaran di kelas. Oleh karenanya, kemandirian belajar penting untuk

memunculkan sikap tanggung jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya,

serta dalam mengembangkan kemampuan belajarnya atas kemauan sendiri.

Argumentasi ilmiah dapat diartikan sebagai sebuah pernyataan yang

didukung oleh beberapa bukti yang diukur atau diamati dan menghubungkan itu

(26)

Argumentasi ilmiah memiliki tiga komponen penting yang mana klaim didukung

oleh bukti-bukti dan dipahami melalui fakta-fakta ilmiah (alasan atau penalaran)

yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Klaim merupakan pernyataan tentang fenomena atau kejadian.

b. Bukti merupakan fakta dari pengkuran dan pengamatan yang dikumpulkan

selama investiasi ang mendkng klaim.

c. Alasan ilmiah adalah fakta atau pengetahuan yang menjelaskan hubungan

antara bukti dan klaim.

Dari penjelasan diatas diketahui bahwa argumentasi ilmiah harus memiliki klaim,

bukti, dan alasan penalaran yang kuat dan persuasif.

2. Pembelajaran Fisika

Fisika adalah pelajaran tentang gejala alam yang dipecahkan

menggunakan rumusrumus untuk membuktikan suatu kejadian alam tersebut.

Sehingga dalam pembelajaran fisika guru akan menjelaskan rumus-rumus,

memberikan contoh-contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dan

melakukan praktikum di laboratorium. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa “fisika merupakan sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha menguraikan serta menjelaskan hukum alam dan kejadian-kejadian dalam alam dengan gambaran

menurut pemikiran manusia” (Druxes, 2017:12).

Adanya pendapat demikian menunjukkan bahwa fisika menjelaskan

(27)

adalah bagian dari pelajaran ilmu alam. Ilmu alam secara klasikal dibagi menjadi

dua bagian, yaitu (1) ilmu-ilmu fisik (physical sciences) yang objeknya zat,

energi, dan transformasi zat dan energi, (2) ilmu-ilmu biologi (biological sciences) yang objeknya adalah makhluk hidup dan lingkungannya” (Kemble, 1966:7). Maka dari itu pembelajaran fisika akan meningkatkan kemampuan

berpikir siswa untuk mengembangkan nalarnya dalam melakukan eksperimen.

3. Open Ended Learning

Pembelajaran terbuka atau yang sering dikenal dengan istilah open

ended merupakan proses pembelajaran yang di dalamnya tujuan dan keinginan

individu/siswa dibangun dan dicapai secara terbuka. Open ended adalah suatu

model pembelajaran yang diformulasikan memiliki multi jawaban (mempunyai

beberapa penyelesaian) atau sering disebut juga learning tak lengkap atau learning

terbuka. Pembelajaran dengan pendekatan open ended biasanya dimulai dengan

memberikan learning terbuka pada siswa dan selanjutnya kegiatan pembelajaran

harus membawa siswa dalam menjawab permasalahan dengan banyak cara dan

mungkin juga jawaban (yang benar) sehingga mengundang potensi intelektual dan

pengalaman siswa dalam proses menentukan sesuatu yang baru. (Witoko, 2019).

Pembelajaran dengan open ended merupakan pembelajaran yang

menyajikan permasalahan dengan pemecahan masalah dengan berbagai cara dan

solusinya juga bisa beragam. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan

orisinalitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi, interaksi, sharing,

(28)

Tujuan dari model pembelajaran open ended menurut Nohda (dalam

Suhandri, 2013) ialah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola

pikir matematis siswa melalui learning solving secara simultan. Hal yang dapat

digarisbawahi adalah perlunya memberi kesempatan siswa untuk berpikir bebas

sesuai dengan minat dan kemampuannya sehingga aktivitas kelas penuh dengan

ideide dan akan memacu kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa berupa

kemampuan berpikir kritis.

Berdasarkan penjelasan beberapa ahli mengenai model pembelajaran

open ended yang menggunakan keberagaman cara penyelesaian dan berbagai

jawaban sebagai intinya maka hal ini dapat memberikan kebebasan kepada siswa

dalam menyelesaikan masalah. Siswa dapat menggali pengetahuan ataupun

sumber-sumber yang dibutuhkan untuk membuat rencana dan memilih cara atau

metode dalam menyelesaikan masalah. Selain itu siswa dapat serta melatih

kemampuan berpikir mereka sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan

melalui pengalaman menemukan sesuatu yang baru dalam suatu proses

penyelesaian masalah.

Langkah-langkah model pembelajaran open ended adalah: 1)

Menghadapkan siswa pada pembelajaran terbuka. 2) Membiarkan siswa

memecahkan masalah dengan berbagai penyelesaian dan jawaban yang beragam.

3) Siswa diberikan kebebasan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan

berbagai macam cara atau strategi dengan jawaban yang beragam sehingga

diharapkan dapat melatih dan memunculkan sikap berpikir kritis siswa dengan

(29)

Pembelajaran dengan open ended memiliki keunggulan dan kelemahan

sebagai berikut:

1. Keunggulan dari model pembelajaran open ended antara lain: a) Siswa

berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan ide

b) Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan

pengetahuan dan ketrampilan matematis secara komprehensif c) Siswa dari

kelompok lemah sekalipun tetap memiliki kesempatan untuk menyelesaikan

masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri d) Siswa secara intrinsik

termotivasi untuk memberi bukti atau penjelasan e) Siswa memiliki

pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab

permasalahan.

2. Kelemahan dari model pembelajaran open ended antara lain: a) Membuat atau

menyajikan situasi masalah fisika yang bermakna bagi siswa bukanlah

pekerjaan mudah b) Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami

siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan

bagaimana merespon permasalahan yang diberikan c) Siswa dengan

kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka d)

Mungkin ada sebagian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka

tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.

Pokok pikiran pembelajaran dengan open ended yaitu pembelajaran

yang membangun kegiatan saling interaktif antara pelajaran yang diajarkan

(fisika) dan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan

(30)

Kegiatan fisika dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga

aspek berikut: 1) Kegiatan siswa harus terbuka adalah kegiatan pembelajaran

harus memberi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas

sesuai kehendak mereka. 2) Kegiatan fisika adalah ragam berpikir Kegiatan fisika

adalah kegiatan yang didalamnya terjadi proses penggambaran dari pengalaman

nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam dunia fisika dan sebaliknya. 3)

Kegiatan siswa dan kegiatan fisika merupakan satu kesatuan Kegiatan siswa dan

kegiatan fisika dikatakan terbuka secara simultan dalam pembelajaran, jika

kebutuhan dan berpikir siswa diperhatikan guru melalui kegiatan-kegiatan fisika

yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan lainnya.

4. Hasil Penelitian yang Relevan

Berdasarkan peneliti sebelumnya dengan penelitian Handayani (2015)

yang menyatakan, bahwa argumentasi seseorang tidak hanya berbentuk secara

teori namun harus dibuktikan kebenarannya, jadi peserta didik tidak hanya

mampu mengungkapkan apa saja teori yang diketahuinya namun peserta didik

harus mampu membuktikan kebenarannya juga. Ternyata, hasil penelitian

menunjukan bahwa peserta didik hanya mampu mengungkapkan teori saja namun

tidak bisa membuktikan kebenarannya. Selain itu, hasil analisis data menunjukan

bahwa peserta didik mampu mengeluarkan bentuk pendapatnya secara tertulis

namun tidak dapat menuliskan bukti-bukti atau pendukung yang membuat

(31)

Hasil penelitian ini mendukung penelitian Sandoval (2005) penelitian

yang menunjukan bahwa siswa sering tidak menggunakan pembuktian yang

cukup atau mencoba untuk membenarkan pilihan mereka atau penggunaan bukti

dalam argumen yang dihasilkan. Sandoval (2005) menyatakan bahwa kualitas

argumentasi tergantung pada fitur tugas dan kadangkadang terdapat miskonsepsi,

instuisi atau pengalaman pribadi dan pengalaman umum. Akhirnya, siswa tersebut

sering tidak mengevaluasi keabsahan atau penerimaan penjelasan untuk sebuah

fenomena yang diberikan dengan cara cepat.

B. Kerangka Pikir

Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 13 Makassar ditemukan

keadaan proses pembelajaran fisika yang kurang efektif dilihat dari keterampilan

menggagas Argumentasi Ilmiah peserta didik. Hal ini dikarenakan karena

beberapa hal yaitu tidak antusiasnya peserta didik menerima pembelajaran,

peserta didik tidak dapat memahami pembelajaran dengan baik, sebagian peserta

didik hanya bisa diam dan tidak mampu mengeluarkan ide atau gagasanya sendiri.

Sehingga Argmentasi Ilmiah diperlukan sebagai konsep yang dapat membantu,

menumbuhkan keterampilan berpikir yang mandiri sehingga peserta didik lebih

aktif dan termotivasi dalam proses pembelajaran.

Setelah menerapkan Argumentasi Ilmiah maka dapat diharapkan peserta

didik mengalami peningkatan dalam pembelajaran Fisika melalui pendekatan

(32)

Gambar 2.1. Bagan Kerangka Pikir

Peneliti melakukan observasi di SMAN 13 Makassar

Peneliti mengamati peranan Argumentasi Ilmiah di kelas Online

Proses pembelajaran fisika

Peserta Didik

1. Kurang antusias dalam mengembangkan

keterampilan berargumentasi ilmiah

2. Hanya diam dan tidak mampu mengemukakan pendapatnya.

3. Belum mampu mengasa cara berpikir yang berkaitan dengan fenomena alam. Guru

1. Guru lebih banyak menyampaikan informasi kepada peserta didik. 2. Strategi pembelajaran yang masih konvensional.

Penerapan Argumentasi Ilmiah pada peserta didik melalui pendekatan open ended learning

Peserta didik diharapkan dapat mengalami peningkatan kemampuan berargumentasi ilmiah dalam pembelajaran Fisika

(33)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif,

yaitu suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa

angka-angka sebagai alat untuk menemukan keterangan mengenai apa yang ingin

kita ketahui dengan analisis menggunakan statistik. Penelitian kuantitaif deskriptif

merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi

mengenai status gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada

saat penelitian dilakukan (Sugiono, 2017). Sehingga yaitu peneliti ingin

mengetahui tingkat kemampuan argumentasi peserta didik dan mendeskripsikan

tingkat argumentasi peserta didik berdasarkan persentase yang dianalisis.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi penelitian merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas yang

ada di Kota Makassar yaitu SMA Negeri 13 Makassar yang terletak di Jl.

Tamangapa Raya 3 No.37, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Kota

Makassar, Sulawesi Selatan dengan no telpon (0411) 492953. Sekolah ini adalah

salah satu sekolah yang sudah terakreditasi A di Kota Makassar. Peminatan yang

ada di sekolah tersebut terdiri dari dua yaitu Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu

Pengetahuan Sosial.

(34)

Subjek Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah peserta

didik kelas XII di SMAN 13 Makassar yang mengikuti kelompok pelajaran Ilmu

Pengetahuan Alam (IPA) yang berjumlah 35 orang siswa.

C. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui 3 tahap, yakni : tahap persiapan, tahap

pelaksanaan, dan tahap akhir.

1. Tahap Persiapan

Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu peneliti melakukan beberapa

persiapan, yaitu :

a. Melakukan observasi ke sekolah dan berkonsultasi dengan guru mata

pelajaran Fisika guna mengetahui tentang keadaan peserta didik di masa

pandemik Covid-19 .

b. Membuat instrumen penelitian berupa tes soal essay untuk mengetahui

kemampuan argumentasi ilmiah terhadap Pembelajaran Fisika melalui

Pembelajaran Online. Melakuakan uji coba disalah satu sekolah yang telah

ditentukan.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Sebelum membagikan instrumen penelitian kepada peserta didik, peneliti

(35)

b. Memberikan instrumen tes kemampuan argumentasi ilmiah terhadap

Pembelajaran Fisika.

3. Tahap akhir

Setelah semua pelaksanaan penelitian selesai, maka selanjutnya penelitian

menganalisis semua data yang telah terkumpul untuk mengetahui bagaimana

kemampuan argumentasi ilmiah terhadap Pembelajaran Fisika melalui

pendekatan Open Ended Learning.

D. Teknik Pengambilan Sampel

Penelitian ini menggunakan Purposive sampling yaitu teknik

pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, misalnya orang

tersebut dianggap paling tahu tentang hal yang akan diteliti (Sugiyono, 2009:300).

Adapun yang menjadi sampel pada penelitian ini yaitu kelas XII MIPA 1 di SMA

Negeri 13 makassar dengan jumlah peserta didik yang akan menjadi rujukan

yaitu 35 peserta didik.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes uraian (essay)

argumentasi ilmiah sebanyak 10 butir soal yang diberikan kepada peserta didik

dengan tiga indikator yaitu klaim, bukti, dan alasan ilmiah. Adapun kriteria dalam

pemberian skor dari setiap indikator untuk setiap soal argumentasi ilmiah yaitu

(36)

Tabel 3.1 Kriteria Skor Setiap Indikator

Skor KLAIM BUKTI ALASAN ILMIAH

1 Pernyataan tidak tepat,

tidak dapat diterima

Bukti salah, penjelasan salah

Alasan kabur dan tidak sesuai antara klaim dan bukti

2 Pernyataan kurang

tepat, dapat diterima

Bukti benar , penjelasan salah

Alasan benar secara ilmiah tetapi tidak sesuai antara klaim dan bukti

3 Pernyataan cukup

relevan, dapat diterima

Bukti benar, penjelasan kurang tepat

Alasan benar secara ilmiah dan cukup sesuai antara klaim dan bukti

4 Pernyataan relevan,

dapat diterima

Bukti benar, penjelasan benar

Alasan benar secara ilmiah dan sesuai antara klaim dan bukti

Sumber : Jurnal Penerapan LKPD berbasis kemampuan argumentasi

ilmiah siswa (kurdaningsih, 2016)

Untuk menghitung nilai peserta didik, digunakan persamaan sebagai

berikut :

Nilai = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑘𝑜𝑟 x 100%

F. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan cara

observasi dan pemberian tes uraian (essay) argumentasi ilmiah. Observasi dalam

penelitian ini dilakukan melalui wawancara dengan guru fisika terkait

pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Sedangkan untuk tes menggunakan

(37)

klaim atau pernyataan, bukti atauu data pendukung, dan alasan ilmiah atau

penalaran.

G. Teknik Analisis Data

1. Uji Validitas Para Ahli

Data validitas instrumen dilakukan oleh dua orang validator (pada aspek

yang sama) diperoleh melalui uji validitas dengan menggunakan sebagai Skala

Likert berikut:

Rumus untuk menghitung presentase sebagai berikut:

𝑋𝑖 = ∑𝑆

𝑆𝑚𝑎𝑥 x 100%

Keterangan

𝑆𝑚𝑎𝑥 = Skor Maksimal ∑𝑆 = Jumlah Skor

𝑋𝑖= Nilai kelayakan angket tiap aspek

Angket respon terhadap penggunaan instrumen terdapat 4 sesuai dengan

konten pertanyaan. Yang meliputi format, isi, bahasa dan manfaat instrumen

kemampuan berpikir kreatif. Dengan ketentuan pemberian skor pada tabel 3.4.

Tabel 3.2 Aturan Pemberian Skor

Kategori Skor

Tidak Baik 1

(38)

Baik 3

Sangat Baik 4

Sumber : Jurnal Penerapan LKPD berbasis kemampuan argumentasi

ilmiah siswa (kurdaningsih, 2016)

Hasil skor presentase yang diperoleh dari hasil penelitian

diinterpretasikan dalam kriteria Tabel 3.3

Tabel 3.3 Skala Kelayakan Instrumen Argumentasi Ilmiah melalui

Pendekatan Open Ended Learning

Presentase Kriteria

81%-100% Sangat Layak

61%-80% Layak

41%-60% Cukup Layak

21%-40% Kurang Layak

0%-20% Sangat Kurang Layak

Sumber : Jurnal Penerapan LKPD berbasis kemampuan argumentasi

ilmiah siswa (kurdaningsih, 2016)

Sumber : Jurnal Erni Zakia, dkk. 2016 (Penerapan LKPD berbasis

kemampuan argumentasi ilmiah siswa)

Tabel kriteria kelayakan dianalisis presentasenya digunakan sebagai

acuan melihat presentase uji coba produk dikategorikan sangat layak jika X > 81%; layak jiak 61<X≤80%; cukup jika 41%<X≤60%; kurang jika 21%<X≤40% dan sangat kurang jika X ≤ 20%

Setelah dilakukannya validasi oleh dua orang ahli, maka akan diberikan

oleh pendidik di sekolah SMAN 13 Makassar untuk mengetahui respon pendidik

mengenai instrmen yang diuji cobakan dengan menggunakan skala likert pada

(39)

maksimum (N) dikali angka presentasi (%) yakni 100%. Berdasrkan dengan hasil

penilaian kelayakan dari para ahli dapat dijabarkan dalam pembahasan berikut :

Data hasil penilaian kelayakan oleh 2 dosen ahli instrumen dengan

menggunakan lembar validasi untuk menilai instrumen Argumentasi Ilmiah

Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended

Learning di SMA Negeri 13 Makassar dengan hasil penilaian sebagai berikut.

Tabel 3.4 Hasil Validasi Instrumen Argumentasi Ilmiah Pada Pembelajaran Fisika

Melalui Pendekatan Open Ended Learning

Kriteria validator 1 validator 2

1 3 3 2 3 4 3 3 4 4 3 3 5 3 4 6 3 3 7 4 3 8 3 4 9 3 4 10 3 4 11 4 3 12 3 3 13 4 4 14 3 3 ∑ Skor 45 49 Kelayakan 80.36% 87.50%

Sumber Data : Diolah dari hasil angket penilaian validasi kelayakan instrumen materi yang terlampir

Tabel 3.4 menujukan presentase hasil validasi oleh 2 dosen ahli pada 14

komponen penilaian terhadap instrumen Argumentasi Ilmiah Pada Pembelajaran

(40)

masing-masing validator mendapatkan hasil yang berbeda-beda begitu pun juga

mengenai saran perbaikan oleh validaor. Hasil validasi diatas juga disajikan

dalam bentuk grafik.

Sumber Data : Diolah dari hasil angket penilaian validasi kelayakan

instrumen materi yang terlampir

Keterangan grafik :

Grafik balok hijau = untuk validator I Grafik balok merah = untuk validator II

Setelah melakukan analisis terhadap validasi oleh dosen para ahli

instrumen dapat diketahui bahwa kelayakan mencapai 83,93%. Hasil ini

menunjukan bahwa Instrmen layak digunakan, walaupun demikian masih perlu

adanya perbaikan sesuai dengan saran dari masing-masing validator.

2. Uji Reliabilitas Instrumen Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisiska melalui Pendekatan Open Ended Learning

1 2 Series1 80.36% 87.50% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00% P er se ntase

Grafik 3.1. PersentaseValidasi Instrumen Argumentasi Ilmiah Pada Pembelajaran Fisika

(41)

Relibilitas merupakan tingkat atau derajat konsistensi dari suatu

instrumen (Arifin, 2013:258). Relibilitas sama dengan konsistensi atau keajekan.

Suatu instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai relibilitas yang tinggi,

apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur

(Sukardi, 2014 : 127) dengan demikian reliabilitas dapat diartikan sebagai

keterpercayaan. Untuk mencari relibilitas, terlebih dahulu varians skor tiap soal.

Perhitungan variansi skor tiap soal digunakan rumus.

𝜎𝑡2 = (∑ 𝑥) 2 − (∑𝑥2)𝑁 𝑁 (Arikunto, 2010 :110) Keterangan 𝜎𝑡2= Varians total N = Jumlah peserta tes X = skor total

Rumus Cronbach’s Alpha (𝛼) menggunakan rumus sebagai berikut. r11 = ( 𝑛 𝑛−1 ) ( 1-∑𝜎12 𝜎12 ) (Hamzah, 2014 :223) Keterangan

r11 = Reliabilitas tes yang dicari

∑𝜎12 = Jumlah varians skor tiap item 𝜎12 = Varians total

n = Banyaknya soal

Tabel 3.5 Kategori Interval Tingkat Reliabilitas Besarnya nilai r Interpretasi

(42)

0,00-0,20 Reliabilitas sangat rendah

0,20-040 Reliabilitas rendah

0,40-0,60 Reliabilitas sedang

0,60-0,80 Reliabilitas sedang

0,80-1,00 Reliabilitas sangat tinggi

Sumber : Jurnal Penerapan LKPD berbasis kemampuan argumentasi

ilmiah siswa (kurdaningsih, 2016)

Uji reliabilitas ini berdasarkan hasil uji coba lapangan (field test) yang

melibatkan peserta didik kelas XII IPA 1 yang terdiri 35 peserta didik. Peserta

didik akan menyeleseikan 10 butir soal uraian dalam waktu 2 x 60 menit.

Berdasarkan hasil pekerjaan peserta didik tersebut maka dapat dihitung tingkat

reliabilitas tes. Berikut data hasil perhitungan uji coba reliabilitas ditunjukan pada

tabel berikut:

Tabel 3.6 Reliability Statistics

Cronbach’s Alpha N of Item

0,714 10

Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning

Berdasarkan Tabel 3.6 dapat diketahui bahwa tingkat reliabilitas

instrumen tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan

Open Ended Learning dengan interpretasi “tinggi”. Hal ini menunjukkan bahwa

instrumen tes dikatakan reliable.

(43)

Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk

menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang

telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan

secara umum atau generalisasi. (Sugiyono, 2017). Untuk menentukan skor

rata-rata peserta didik dengan menggunakan rumus:

M = ∑𝑋

𝑁

Keterangan:

M = Skor rata-rata

∑X = Jumlah skor total peserta didik

N = Jumlah responden

Tabel 3.7 Kriteria Skor Analisis Staistik Deskriptif Peserta Didik terhadap

Soal Argumentasi Ilmiah Berdasarkan Setiap Indikator

Interval Skor/Nilai Keterangan

X > 85% Sangat Baik

65,5 % -85% Baik

55%-65,5% Cukup

(44)

X < 40% Sangat Kurang

Sumber : Jurnal analisis kemampuan berargumentsi ilmiah siswa SMA pada Konsep Termodinamika (Amalia, Nata, dkk. 2018)

Tabel 3.8 Kriteria Skor Analisis Statistik Deskriptif Peserta Didik terhadap

Soal Argumentasi Ilmiah Secara Keseluruhan

Interval Skor/Nilai Keterangan

X > 85% Sangat Tinggi

70% -85% Tinggi

55%-70% Sedang

40%-55% Rendah

X < 40% Sangat Rendah

Sumber : Jurnal analisis kemampuan berargumentsi ilmiah siswa SMA pada Konsep Termodinamika (Amalia, Nata, dkk. 2018)

Data yang di kumpulkan berupa tulisan argumentasi peserta didik. Dari

hasil tulisan peserta didik, di analisis melalui hasil skor masing-masing peseta

didik berdasarkan indikator pencapaian yang telah ditentukan.

Setelah data dikumpulkan, maka dilakukan teknik analisis data

menggunakan teknik analisis statistik deskriptif. Analisis data ini dilakukan untuk

mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul mengenai

kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik, yang diukur menggunakan rubrik

penilaian kemampuan argumentasi ilmiah. Teknik analisis datanya sebagai

(45)

hasil penilaian pada setiap aspek kemampuan argumentasi ilmiah. 2). Menentukan

rata-rata kemampuan peserta didik pada setiap aspek kemampuan menyertakan

membuat klaim, menggunakan data, menuliskan alasan dengan menggunakan

sumber internal dan eksternal. 3). Mengubah hasil skor keseluruhan dan hasil skor

setiap aspek menjadi nilai kualitatif dengan kriteria penilaian sebagaimana dapat

dilihat pada tabel 3.7 dan tabel 3.8. (widyoko, 2009). 4). Mengubah skor rata-rata

menjadi bentuk persen (%) dengan rumus: Persentase = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎

𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 X 100 %

5). Menginterpretasikan data secara deskriptif berdasarkan skor nilai (persentase)

(46)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan guru

bidang studi fisika dan wali kelas XII IPA 1 di SMAN 13 Makassar. Diketahui

bahwa sekolah tersebut telah menerapkan kurikulum (K13). Dengan model,

metode maupun strategi pembelajaran yang heterogen atau bervariasi yang

menjadi salah satu agar tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan, untuk

mencapai hal tersebut untuk mengetahui tercapainya indikator pembelajaran,

maka guru memberikan penugasan yang berupa instrumen tes kepada peserta

didik. Artinya dalam hal ini sekolah tersebut memiliki potensi untuk

dikembangkan jenis penelitian yang merujuk pada kemampuan peserta didik

dalam memecahkan soal fisika berdasarkan argumentasi ilmiah melalui

pendekatan Open Ended Learning sehingga peserta didik dapat mengembangkan

pengeahuan secara luas.

A. Hasil Penelitian

1. Analisis Skor Peserta Didik terhadap Soal Argumntasi Ilmiah

Data hasil penelitian ini diperoleh dari skor penilaian soal argumentasi

ilmiah peserta didik melalui pendekatan Open Ended Learning. Temuan

penelitian yang diperoleh berupa hasil penilaian pada aspek kemampuan membuat

klaim, memberikan data berupa bukti, dan menuliskan alasan ilmiah dengan

menggunakan sumber internal dan eksternal.

(47)

Pada bagian analisis data akan diuraikan mengenai masing-masing aspek

kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik dan dari uraian setiap aspek

kemampuan argumentasi ilmiah tersebut dapat ditarik kesimpulan mengenai nilai

rata-rata aspek kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik. Selanjutnya dari

nilai rata-rata tersebut dapat ditarik kesimpulan mengenai tingkat kemampuan

argumentasi ilmiah peserta didik.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Skor Klaim

Skor Keterangan Frekuensi

1 Pernyataan tidak tepat, tidak dapat diterima 0

2 Pernyataan kurang tepat, dapat diterima 10

3 Pernyataan cukup relevan, dapat diterima 191

4 Pernyataan relevan, dapat diterima 149

JUMLAH 350

Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning

Berdasarkan tabel 4.1, diketahui bahwa terdapat frekuensi sebanyak 149 yang dapat menjawab klaim dengan kriteria pernyataan relevan dan dapat diterima dengan skor 4, sebanyak 191 dengan kriteria pernyataan cukup relevan dan dapat diterima dengan skor 3 sedangkan frekuensi 0 untuk skor 2 dengan kriteria pernyataan kurang tepat dan dapat diterima dan jga untuk skor 1 dengan kriteria pernyataan tidak tepat dan tidak dapat diterima.

(48)

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Skor Bukti

Skor Keterangan Frekuensi

1 Bukti salah, penjelasan salah 0

2 Bukti benar, penjelasan salah 17

3 Bukti benar, penjelasan kurang tepat 176

4 Bukti benar, penjelasan benar 157

JUMLAH 350

Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning

Berdasarkan tabel 4.2, diketahui bahwa terdapat frekuensi sebanyak 157 yang dapat memberikan bukti dengan kriteria bukti benar dan penjelasan benar dengan skor 4, sebanyak 176 dengan kriteria bukti benar dan penjelasan kurang tepat dengan skor 3, sebanyak 17 dengan kriteria bukti benar dan penjelasan salah dengan skor 2, sedangkan frekuensi 0 untuk skor 1 dengan kriteria bukti salah dan penjelasan salah.

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Skor Alasan Ilmiah

Skor Keterangan Frekuensi

1 Alasan kabur dan tidak sesuai antara klaim dan bukti

0

2 Alasan benar secara ilmiah tetapi tidak sesuai antara klaim dan bukti

15

3 Alasan benar secara ilmiah dan cukup sesuai antara klaim dan bukti

198

(49)

klaim dan bukti

JUMLAH 350

Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning

Berdasarkan tabel 4.3, diketahui bahwa terdapat frekuensi sebanyak 137 yang dapat memberikan bukti dengan kriteria alasan benar secara ilmiah dan sesuai antara klaim dan bukti dengan skor 4, sebanyak 198 dengan kriteria alasan benar secara ilmiah dan cukup sesuai antara klaim dan bukti dengan skor 3, sebanyak 15 dengan kriteria alasan benar secara ilmiah tetapi tidak sesuai antara klaim dan bukti dengan skor 2, sedangkan frekuensi 0 untuk skor 1 dengan kriteria alasan kabur dan tidak sesuai antara klaim dan bukti.

Tabel 4.4 Total Skor Peserta Didik terhadap Soal Argumentasi Ilmiah

berdasarkan setiap Indikator

No Soal Klaim Bukti Alasan Ilmiah

1 107 113 124 2 122 123 111 3 122 117 108 4 121 116 121 5 121 115 118 6 120 123 120 7 117 124 118 8 116 122 118 9 120 121 119 10 123 116 115 Jumlah 1189 1190 1172 X (rata-rata) 33.97 34.00 33.49 Persentase Skor 84.93% 85.00% 83.71%

Kategori Baik Sangat Baik Baik

Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning

(50)

Tabel 4.4 yang disajikan berikut adalah data hasil penilaian peserta didik

terhadap soal argumentasi ilmiah melalui pendekatan Open Ended Learning yang

kemudian dirata-ratakan untuk mengetahui tingkat kemampuan argumentasi

ilmiah peserta didik berdasarkan aspek penilaian yakni membuat klaim,

menyertakan bukti, dan membuat alasan ilmiah. Adapun hasil persentase total

skor peserta didik yang disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut :

Keterangan grafik :

Grafik balok jingga = untuk indikator klaim Grafik balok merah = untuk indikator bukti/data Grafik balok biru = untuk indikator alasan ilmiah

Berdasarkan grafik 4.1, dapat diketahui bahwa rata-rata perolehan skor

berdasarkan aspek pada hasil penilaian kemampuan argumentasi ilmiah melalui

pendekatan Open Ended Learning adalah untuk aspek dalam membat klaim yaitu

84,93 % dengan kriteria baik. Untuk membuat bukti atau data di peroleh sebesar

1 2 3 Series1 84.93% 85.00% 83.71% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00% p er se n tase

Grafik 4.1. Total Skor Peserta Didik terhadap Soal Argumentasi Ilmiah berdasarkan setiap aspek

(51)

85,00% dengan kriteria sangat baik. Sedangkan dalam membuat alasan ilmiah

diperoleh sebesar 83,71% dengan kriteria baik.

Setelah menentukan skor dari masing-masing indikator argumentasi

ilmiah peserta didik, langkah selanjutnya yaitu menghitung nilai dari hasil tes soal

argumentasi ilmiah peserta didik yang dapat dilihat pada tabel 4.5.

Tabel 4.5 Nilai Peserta Didik Di SMA 13 Makassar No Peserta didik Presentase Nilai Kategori

1 PD 1 87,50 Sangat Tinggi 2 PD 2 85,83 Sangat Tinggi 3 PD 3 83,33 Tinggi 4 PD 4 84,17 Tinggi 5 PD 5 90,00 Sangat Tinggi 6 PD 6 86,67 Sangat Tinggi 7 PD 7 87,50 Sangat Tinggi 8 PD 8 92,50 Sangat Tinggi 9 PD 9 87,50 Sangat Tinggi 10 PD 10 88,33 Sangat Tinggi 11 PD 11 83,33 Tinggi 12 PD 12 84,17 Tinggi 13 PD 13 85,00 Tinggi 14 PD 14 83,33 Tinggi 15 PD 15 83,33 Tinggi 16 PD 16 80,00 Tinggi 17 PD 17 89,17 Sangat Tinggi 18 PD 18 81,67 Tinggi 19 PD 19 85,00 Tinggi 20 PD 20 83,33 Tinggi 21 PD 21 83,33 Tinggi 22 PD 22 85,83 Sangat Tinggi 23 PD 23 83,33 Tinggi 24 PD 24 84,17 Tinggi 25 PD 25 80,83 Tinggi 26 PD 26 88,33 Sangat Tinggi 27 PD 27 70,00 Sedang 28 PD 28 78,33 Tinggi

(52)

29 PD 29 80,00 Tinggi 30 PD 30 86,67 Sangat Tinggi 31 PD 31 85,00 Tinggi 32 PD 32 84,17 Tinggi 33 PD 33 85,83 Sangat Tinggi 34 PD 34 94,17 Sangat Tinggi 35 PD 35 80,83 Tinggi Rata-Rata 84,64

Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Kriteria Nilai Peserta Didik Interval Skor/Nilai Frekuensi Keterangan

X > 85% 14 Sangat Tinggi 70% -85% 20 Tinggi 55%-70% 1 Sedang 40%-55% 0 Rendah X < 40% 0 Sangat Rendah Jumlah 35

Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning

Berdasarkan data pada tabel 4.5, terlihat bahwa kemampuan dari peserta

didik bervariasi atau berbeda-beda. Dari 35 peserta didik yang menyelesaikan soal

argumentasi ilmiah pada pembelajaran fisika melalui pendekatan open ended

learning terdapat 14 peserta didik yang memiliki nilai yang sangat tinggi, 20

(53)

kriteria sedang sedangkan tidak ada peserta didik yang mendapatkan kriteria

rendah dan sangat rendah.

Dari data yang didapatkan, nilai rata-rata yang didapatkan oleh peserta

didik secara keseluruhan 84,64% yang masuk pada rentang nilai dengan kategori

baik.

2. Analisis Statistik

Data yang di peroleh dalam penelitian ini kemdian dianalisis dengan

menggunakan bantuan program pengolah data Microsoft Excel 2007 sehingga di

peroleh hasil perhitungan analisis statistik deskriptif yang dapat di lihat pada tabel

sebagai berikut.

Tabel 4.7 Statistik Hasil Tes Argumentasi Ilmiah Peserta Didik pada

Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning Di SMAN 13 Makasar

Statistik Nilai

Jumlah Sampel 35

Jumlah Kelas Interval 6

Panjang Kelas Interval 4

Skor Maksimum Ideal 100

Skor Minimum Ideal 0

Skor Maksimum 94.17 Skor Minimum 70.00 Rentang Skor 24.17 Skor Rata-Sata 84.64 Standar Deviasi 4.25 Modus 83,33

Sumber data: Diolah dari Instrumen Tes Argumentasi Ilmiah pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning

(54)

Berdasarkan tabel 4.7, diketahui nilai statistik untuk jumlah kelas

interval adalah 6 dengan panjang kelas interval adalah 4. Untuk skor maksimum

yaitu 94,17, skor minumm adalah 70,00 dengan rentang skor yaitu 24,17, untuk

modus atau nilai yang sering muncul yaitu 83,33, sedangkan untuk standar deviasi

yaitu 4,25

B. Pembahasan

Penelitian ini berjudulkan ”Analisis Argumentasi Ilmiah Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika melalui Pendekatan Open Ended Learning di SMAN 13 Makassar” diawali dengan melakukan observasi terhadap sekolah dan proses belajar mengajar dalam kelas secara online pada mata pelajaran fisika kelas XII

IPA 1. Dalam melakukan observasi, secara bersamaan peneliti juga melakukan

waancara pada salah satu guru mata pelajaran fisika terkait kondisi peserta didik

dalam kelas saat menjalani mata pelajaran fisika.

Berdasrkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan kepada guru

dan peserta didik di SMA Negeri 13 Makassar bahwa jarang di terapkan

penyelesaian dalam pembelajaran fisika berdasarakan argumentasi ilmiah peserta

ddik. Sehingga perlu adanya perhatian dalam menerapkan proses pembelajaran

fisika dengan kemampuan berargumentasi ilmiah karena perlu diketahui bahwa

dalam pembelajaran fisika tidak hanya mengarah pada teori tetapi juga harus di

buktikan berdasarkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian

(55)

Setelah menganalisis potensi dan masalah yang didapatkan di sekolah,

selanjutnya peneliti berkonsultasi kepada dosen pembimbing dan bertukar

pendapat dengan landasan temuan disekolah sehingga dituangkan dalam bentuk

gagasan untuk selanjutnya merancang instrumen soal argumentasi ilmiah pada

pembelajaran fisika melalui pendekatan Open Ended Leraning. Dimana dalam

soal pada instrumen ini berupa pernyataan-pernyataan yang sering ditemukan

dalam kehidupan sehari-hari sehingga diharapkan pada peserta didik dapat

menyelesaikan soal tersebut berdasarkan argumentasi ilmiah yang sesuai dengan

indikator penilaian pada penelitian ini yakni klaim, bukti dan alasan ilmiah

melalui pengetahuan-pengetahuan yang lebih luas atau multi jawaban.

Setelah membuat instrument, kemudian dilakukan validasi instrumen

yang dilakukan oleh dua orang validator untuk mengetahui kriteria kelayakan

penggunaan instrumen dalam melakukan penelitian. Setelah melakukan analisis

terhadap validasi oleh dosen para ahli instrumen dapat diketahui bahwa kelayakan

mencapai 83,93%. Hasil ini menunjukan bahwa Instrmen layak digunakan,

walaupun demikian masih perlu adanya perbaikan sesuai dengan saran dari

masing-masing validator.

Setelah melakukan uji validasi instrumen, maka selanjutnya yaitu

melakukan penelitian. Hasil dari analisis data penelitian menunjukkan bahwa

kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik tergolong dalam kategori tinggi,

dibuktikan dengan skor rata-rata kemampuan memberikan klaim dengan

persentase 84,93%, menyertakan data atau bukti dengan persentase 85,00%, serta

(56)

Dimana skor tertinggi yang didapatkan oleh peserta didik untuk pencapaian skor

secara keselurhan yaitu 94,17 yang masuk dalam kriteria sangat tinggi sedangkan

skor terendah yang didapat peserta didik yaitu 70,00 yang masuk dalam kriteria

sedang sehinga diperoleh skor rata-rata secara keseluruhan peserta didik yaitu

84,64%. Hal ini menunjukan adanya peningkatan terhadap peserta didik dalam

memecahkan pembelajaran fisika secara argumentasi ilmiah melalui pendekatan

oepen ended atau pemikiran terbuka dan tidak terbatas.

Berdasarkan penjelasan di atas menunjukkan bahwa kemampuan

argumentasi ilmiah peserta didik pada pembelajaran fisika melalui pendekatan

open ended learning tergolong dalam kategori baik. Artinya, pendekatan Open Ended Learning akan dapat meningkatkan kemampuan argumentasi ilmiah,

karena dengan memiliki kemampuan berargumentasi ilmiah peserta didik akan

lebih mudah untuk memberikan pernyataan, bukti dan alasan-alasan ilmiah dalam

memecahkan soal fisika.

Dalam penelitian ini penulis menyadari bahwa dalam terdapat banyak

keterbatasan pembahasan. Penelitian ini hanya terbatas pada kemampuan

argumentasi ilmiah dengan aspek kemampuan argumentasi ilmiah yang diteliti

diantaranya kemampuan menyertakan membuat klaim, memberikan data atau

bukti, serta menuliskan alasan yang dilakukan dengan pendekatan open ended

(57)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SMAN 13 Makassar

mengenai analisis argumentasi ilmiah peserta didik pada pemebelajaran Fisika

melalui pendekatan Open Ended Learning kelas XII IPA 1 dapat disimpulkan

bahwa kualitas kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik secara

keseluruhan adalah baik dengan persentase rata-rata 84,64%.

2. Analisis argumentasi ilmiah peserta didik pada setiap aspek indikator dapat

dideskripsikan sebagai berikut: aspek kemampuan membuat klaim tergolong

baik dengan persentase 84,93, aspek kemampuan memberikan bukti atau data

tergolong sangat baik dengan persentase 85,00% sedangkan aspek

kemampuan membuat alasan ilmiah tergolong baik dengan persentase

83,71%.

3. Melalui penelitian ini dapat diungkap bahwa penerapan argumentasi ilmiah

dengan pendekatan open ended learning pada pembelajaran fisika dapat

memberikan motivasi kepada peserta didik untuk dapat menemukan ide dalam

menjawab permasalahan dalam pembelajaran fisika.

B. Saran

Saran yang dapat diberikan terkait dengan penelitian ini adalah:

1. argumentasi ilmiah agar dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam

memberikan argument atau ide.

(58)

2. Perlunya penggunaan instrumen yang lebih lengkap dalam penelitian

selanjutnya yaitu pedoman wawancara, agar data penelitian yang diperoleh

Gambar

Gambar                                                                                                        Halaman   2.1 Kerangka Pikir ...............................................................................................
Gambar 2.1. Bagan Kerangka Pikir Peneliti  melakukan  observasi
Tabel  3.1 Kriteria Skor Setiap Indikator
Tabel 3.2 Aturan Pemberian Skor
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sarkoidosis juga dapat diartikan sebagai retikulosis granulomatosa sistemik yang kronik progresif tanpa sebab yang jelas, ditandai dengan tuberkel keras pada hampir semua organ atau

Tema yang diangkat yaitu tentang kehidupan percintaan (love life). Pemasalahan yang dibahas dalam Tugas Akhir ini, diantaranya: 1) Apakah yang dimaksud dengan love life ? 2)

After the cleaning process complete the data is processed using CloSpan algorithm to forming frequent closed sequences.. Flowchart of the CloSpan can be seen in

I didn’t know what had been happening, it couldn’t have been pleasant what with Anji and the Doctor looking like they did, but it couldn’t be any worse than what was lurking

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja guru. Motivasi kerja yang tinggi akan memberikan dorongan yang

peserta didik untuk mengoreksi hasil diskusi yang telah mereka lakukan, 11) Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka, 12) Guru memberi

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam uji adsorpsi logam Cu(II) menggunakan silika termodifikasi APTS sebagai adsorben dengan metode batch, diperoleh