• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIFITAS IMPLEMENTASI QUANTUM GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM (QGIS) DALAM PEMETAAN TEKANAN AIR DISTRIBUSI PDAM DI KECAMATAN PADANG UTARA KOTA PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEKTIFITAS IMPLEMENTASI QUANTUM GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM (QGIS) DALAM PEMETAAN TEKANAN AIR DISTRIBUSI PDAM DI KECAMATAN PADANG UTARA KOTA PADANG"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIFITAS IMPLEMENTASI QUANTUM GEOGRAPHIC

INFORMATION SYSTEM (QGIS) DALAM PEMETAAN

TEKANAN AIR DISTRIBUSI PDAM DI

KECAMATAN PADANG UTARA

KOTA PADANG

TUGAS AKHIR

Oleh:

REFI MARTHA

YAYASAN MUHAMMAD YAMIN

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI

(STTIND) PADANG

(2)

EFEKTIFITAS IMPLEMENTASI QUANTUM GEOGRAPHIC

INFORMATION SYSTEM (QGIS) DALAM PEMETAAN

TEKANAN AIR DISTRIBUSI PDAM DI

KECAMATAN PADANG UTARA

KOTA PADANG

TUGAS AKHIR

Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik

Oleh:

REFI MARTHA

1410024428010

TEKNIK LINGKUNGAN

YAYASAN MUHAMMAD YAMIN

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI

(STTIND) PADANG

2018

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN TUGAS AKHIR

Judul

:

Efektifitas Implementasi Quantum Geographic

Information System (QGIS) Dalam Pemetaan

Tekanan Air Distribusi PDAM Di Kecamatan Padang Utara Kota Padang

Nama

:

REFI MARTHA

NPM

:

1410024428010

Program Studi

:

Teknik Lingkungan

Padang, Februari 2018 Menyetujui:

Pembimbing I Pembimbing II

Yaumal Arbi, MT Sri Yanti Lisha, ST, M.Si

NIDN: 1007058407 NIDN: 1028017902

Ketua Program Studi, Ketua STTIND Padang,

Yaumal Arbi, MT Riko Ervil, MT

(4)

Efektifitas Implementasi Quantum Geographic Information System (QGIS) Dalam Pemetaan Tekanan Air Distribusi PDAM di Kecamatan Padang Utara

Kota Padang Nama NPM Pembimbing I Pembimbing II : : : : Refi Martha 1410024428010 Yaumal Arbi, MT Sri Yanti Lisha, ST, M.Si

ABSTRAK

Sistem Informasi Geografis adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. SIG bisa membantu memetakan tekanan air di suatu wilayah, contohnya menampilkan informasi tentang peta sebaran tekanan air distribusi PDAM Kota Padang untuk Kecamatan Padang Utara. Peta ini dipergunakan untuk mempermudah pengelompokan data tekanan air distribusi untuk tiap kelurahan yang ada di dalam kecamatan Padang Utara, sehingga dapat diketahui kelurahan dengan tekanan air distribusi paling tinggi dan kelurahan dengan tekanan air distribusi paling rendah.

(5)

Effectiveness Quantum Geographic Information System (QGIS)

Implementation for Mapping Pressure of Water Distribution PDAM in Padang Utara District, Padang City

Name NPM Adviser I Adviser II : : : : Refi Martha 1410024428010 Yaumal Arbi, MT Sri Yanti Lisha, ST, M.Si

ABSTRACT

Geographic Information System is a special information system that manages data that has spatial information (spatial reference). Or in a narrower sense, is a computer system that has the ability to build, store, manage and display geographic information, such as data identified by location, in a database. Geographic Information System Technology can be used for scientific investigation, resource management, development planning, cartography and route planning. GIS can help map the water pressure in a region, for example displays information about the distribution of water distribution map PDAM Padang City for the Padang Utara District. This map is used to facilitate the distribution of distribution water pressure data for each villages in Padang Utara District, so it can be known by the village with the highest water pressure distribution and village with the lowest distribution water pressure.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan judul “Efektifitas Implementasi Quantum Geographic Information System (GIS)

Dalam Pemetaan Tekanan Air Distribusi PDAM Di Kecamatan Padang Utara Kota Padang”. Salawat beserta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga dan sahabatnya, hingga kepada seluruh umatnya, aamiin.

Penulisan tugas akhir ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan dalam jenjang perkuliahan Strata I Teknik Lingkungan Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang.

Terselesaikannya tugas akhir ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak, oleh karena itu, penulis dalam kesempatan ini menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Bapak Antonius, SE selaku Ketua Yayasan Muhammad Yamin Padang; 2. Bapak Riko Ervil, MT selaku Ketua Sekolah Tinggi Teknologi (STTIND)

Padang;

3. Bapak Yaumal Arbi, MT selaku Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang dan juga sebagai Dosen Pembimbing 1 yang telah meluangkan waktu dalam memberikan arahan, petunjuk dalam penyeleseian tugas akhir ini;

4. Ibu Sri Yanti Lisha, ST, M.Si selaku Dosen Pembimbing 2 Program Studi Teknik Lingkungan Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang

(7)

yang telah meluangkan banyak waktu dalam memberikan bantuan moral, spiritual dan material sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tugas akhir ini;

5. Bapak H. Edwar, SE selaku Direktur Utama PDAM Kota Padang;

6. Bapak Jamaris, A.Md dan Bapak Darmadi, A.Md selaku pembimbing lapangan penulis dalam penelitian ini;

7. Istri, saudara-saudara dan keluarga besar yang telah memberikan dukungan yang tidak terhingga mulai dari awal perkuliahan hingga terselesaikannya tugas akhir ini;

8. Teman-teman mahasiswa Teknik Lingkungan Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang yang telah banyak membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini.

Akhirnya, penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga penulis membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang. Maka daripada itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan tugas ini. Terima kasih.

Padang, Februari 2018

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Identifikasi Masalah ... 3 1.3 Batasan Masalah ... 3 1.4 Rumusan masalah ... 4 1.5 Tujuan Penelitian ... 4 1.6 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 6

2.2 Profil PDAM Kota Padang ... 7

2.2.1 PDAM Kota Padang dari masa ke masa ... 8

2.2.2 Aspek Teknis dan Aspek Pelayanan PDAM ... 11

2.3 Sistem Distribusi Air Minum ... 11

2.3.1 Reservoar ... 11

2.3.2 Sistem Distribusi ... 13

2.3.3 Perpipaan Distribusi ... 13

(9)

2.4 Geographic Information System (GIS) ... 17

2.4.1 Pengertian Menurut Para Ahli ... 18

2.4.2 Sejarah Perkembangan GIS ... 19

2.4.3 Komponen GIS ... 21

2.4.4 Manfaat GIS di Berbagai Bidang ... 24

2.4.5 QGIS ... 27

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 35

3.2 Lokasi Penelitian ... 35

3.3 Populasi dan Sampel ... 35

3.3.1 Populasi ... 35

3.3.2 Sampel ... 36

3.4 Variabel Penelitian ... 36

3.5 Data dan Sumber Data ... 36

3.6 Teknik Pengolahan Data ... 37

3.6.1 Prosedur Pengambilan Sampel Tekanan Air ... 37

3.6.2 Penginputan Data Tekanan Air ke GIS ... 39

3.7 Kerangka Metodologi ... 47

BAB IV KONDISI EKSITING DAERAH STUDI 4.1 Kelurahan Air Tawar Barat ... 49

4.2 Kelurahan Air Tawar Timur ... 49

4.3. Kelurahan Ulak Karang Selatan ... 49

(10)

4.5 Kelurahan Lolong Belanti ... 50 4.6 Kelurahan Alai Parak Kopi ... 50 4.7 Kelurahan Gunung Pangilun ... 51 BAB V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB VI ANALISA DAN HASIL PENGOLAHAN DATA BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan ... 77 7.2 Saran ... 77 DAFTAR PUSTAKA

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 5.1 Data Tekanan Hari Pertama ... 59

Tabel 5.2 Data Tekanan Hari Kedua ... 60

Tabel 5.3 Data Tekanan Hari Ketiga... 61

Tabel 5.4 Data Tekanan Hari Keempat ... 62

Tabel 5.5 Data Tekanan Hari Kelima ... 63

Tabel 5.6 Data Tekanan Hari Keenam ... 64

Tabel 5.7 Data Tekanan Hari Ketujuh ... 65

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Sistem Perpipaan Distribusi Pola Cabang ... 14

Gambar 2.2 Sistem Perpipaan Distribusi Pola Grid ... 15

Gambar 2.3 Sistem Perpipaan Distribusi Pola Kombinasi ... 16

Gambar 2.4 Tampilan QGIS Dalam Bentuk Vektor dan Raster ... 28

Gambar 2.5 Konversi System Koordinat QGIS ... 31

Gambar 2.6 Setting Layer QGIS ... 32

Gambar 2.7 Editing Data QGIS ... 33

Gambar 2.8 Pencetakan Peta QGIS ... 34

Gambar 3.1 Manometer ... 38

Gambar 3.2 Official Plugins Repository ... 39

Gambar 3.3 OpenLayers Plugins ... 39

Gambar 3.4 OpenLayers Plugins Installed ... 40

Gambar 3.5 Upload Peta dari Google Satellite ... 40

Gambar 3.6 Peta Kota Padang dari Google Satellite ... 41

Gambar 3.7 Menu New Layer ... 41

Gambar 3.8 Layer Kecamatan Padang Utara ... 42

Gambar 3.9 Kolom Sebaran Tekanan ... 42

Gambar 3.10 Polygon Per Kelurahan ... 43

Gambar 3.11 Input Data Tekanan ... 43

(13)

Gambar 3.13 Pengaturan Warna ... 44

Gambar 3.14 Attribute Table ... 45

Gambar 3.15 Tabel Sebaran Tekanan Per Kelurahan ... 45

Gambar 3.16 Setting Print ... 46

Gambar 3.17 Kerangka Metodologi ... 47

Gambar 4.1 Peta Kelurahan Air Tawar Barat ... 52

Gambar 4.2 Peta Kelurahan Air Tawar Timur... 53

Gambar 4.3 Peta Kelurahan Lolong Belanti ... 54

Gambar 4.4 Peta Kelurahan Ulak Karang Utara ... 55

Gambar 4.5 Peta Kelurahan Gunung Pangilun ... 56

Gambar 4.6 Peta Kelurahan Ulak Karang Selatan ... 57

Gambar 4.7 Peta Kelurahan Alai Parak Kopi ... 58

Gambar 5.1 Titik Pengambilan Sampel di Kelurahan Air Tawar Barat ... 67

Gambar 5.2 Titik Pengambilan Sampel di Kelurahan Air Tawar Timur ... 68

Gambar 5.3. Titik Pengambilan Sampel di Kelurahan Lolong Belanti ... 69

Gambar 5.4 Titik Pengambilan Sampel di Kelurahan Ulak Karang Utara .. 70

Gambar 5.5 Titik Pengambilan Sampel di Kelurahan Gunung Pangilun ... 71

Gambar 5.6 Titik Pengambilan Sampel di Kelurahan Ulak Karang Selatan 72 Gambar 5.7 Titik Pengambilan Sampel di Kelurahan Alai Parak Kopi ... 73

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air merupakan material yang menjadi salah satu sumber kehidupan bagi manusia. Air tawar yang digunakan hanya berjumlah 3% dari total air yang terkandung di bumi. Air tersebut terdapat dalam sungai, danau dan di bawah permukaan tanah. Pemanfaatan air tawar harus dilakukan secara berkesinambungan. Kuantitas air yang dimanfaatkan harus mencapai jumlah yang minimal sementara kualitas air yang dimanfaatkan harus memenuhi standar kualitas tertentu (Dharmasetiawan, 2004).

Air bersih merupakan kebutuhan pokok untuk menunjang berbagai kegiatan manusia, yang mencakup air bersih domestik dan non domestik. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih maka sesuai Undang-Undang No.5 Tahun 1962 dibentuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). PDAM berfungsi sebagai perusahaan milik pemerintah daerah yang memberikan jasa pelayanan dalam bidang air minum. PDAM mendistribusikan air bersih dengan sistem perpipaan (Akhmad, 2012).

Kinerja pelayanan PDAM tidak lepas dari sistem distribusi yang merupakan suatu jaringan perpipaan yang tersusun atas sistem pipa, pompa, reservoir, dan perlengkapannya. Kebutuhan air bersih akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Dengan demikian sistem distribusi akan semakin kompleks dan membutuhkan penanganan khusus. Sistem distribusi air bersih sering bermasalah dalam hal kuantitas, tekanan, kontinuitas dan kualitas air (Brebbia dan Ferrante, 1983).

(15)

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang didirikan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Padang No. 05/P.D/1974 tanggal 30 Desember 1974, tentang Pendirian Perusahaan Daerah Air Minum Tingkat II Padang. Tujuan perusahaan adalah turut serta melaksanakan pembangunan daerah khususnya serta pembangunan ekonomi nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan rakyat serta ketenangan kerja dalam perusahaan, menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Untuk terlaksananya tujuan tersebut PDAM Kota Padang mempunyai kegiatan usaha meliputi pengelolaan dan pendistribusian pelayanan air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan kepada masyarakat secara merata, tertib dan teratur. Dalam melaksanakan kegiatan usahanya PDAM Kota Padang memiliki lima cabang yang terdiri dari Cabang Pengambiran, Cabang Paluki, Cabang Kuranji, Cabang Koto Tangah dan Cabang Bungus.

Untuk wilayah pelayanan, PDAM membagi wilayah pelayanan menjadi 3 wilayah, yaitu Wilayah Utara, Wilayah Pusat dan Wilayah Selatan, dan belum ada data tekanan untuk wilayah yang lebih kecil seperti kecamatan dan kelurahan.

Berdasarkan latar belakang diatas, pada penelitian ini penulis mencoba mendapatkan dan mengumpulkan data tekanan air distribusi khususnya wilayah Kecamatan Padang Utara yang mana data-data tersebut dimasukkan kedalam software QGIS dimana outputnya adalah sebuah peta berwarna lengkap dengan data tekanan per kelurahan di wilayah PDAM Kec Padang Utara. Maka penulis berminat untuk mengangkat judul “Efektifitas Implementasi Quantum

(16)

Geographic Information System (QGIS) Dalam Pemetaan Tekanan Air

Distribusi PDAM Di Kecamatan Padang Utara Kota Padang”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidentifikasikan beberapa masalah diantaranya :

1. Tekanan air ditribusi PDAM kota Padang tidak merata disetiap wilayah pelayanan.

2. Perlunya dilakukan pemetaan wilayah tekanan air distribusi PDAM sehingga dapat diketahui wilayah mana saja yang mengalami penurunan tekanan.

1.3 Batasan Masalah

Agar penelitian ini lebih terarah dan terfokus sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka penulis menetapkan batasan permasalahannya mengenai:

1. Pemetaan tekanan air PDAM kota Padang menggunakan software Quantum GIS (QGIS)

2. Pengukuran tekanan air PDAM dilakukan di wilayah pelayanan Kecamatan Padang Utara Kota Padang.

(17)

1.4 Rumusan Masalah

Dari uraian identifikasi dan batasan masalah di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu mengenai :

1. Apakah implementasi QGIS bisa efektif untuk pemetaan tekanan wilayah yang lebih kecil?

2. Bagaimana kondisi tekanan air distribusi PDAM di wilayah Kec Padang Utara?

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Untuk memetakan tekanan air distribusi PDAM khususnya pada wilayah layanan Kec Padang Utara Kota Padang dengan QGIS.

2. Untuk mengetahui berapa range tekanan air distribusi PDAM di wilayah Kec Padang Utara Kota Padang pada setiap kelurahannya.

1.6 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut : 1. Bagi instansi / PDAM Kota Padang

Dapat menjadi bahan masukan bagi PDAM Kota Padang sehingga dapat dipetakan tekanan distribusi air disetiap wilayah dan dapat menjadi acuan dalam perbaikan pelayanan ke masyarakat.

(18)

Penulis dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan kedalam bentuk penelitian, dan meningkatkan kemampuan penulis dalam menganalisa suatu permasalahan serta menambah wawasan penulis khususnya di bidang keilmuan teknik lingkungan.

3. Bagi institusi STTIND Padang

Dapat dijadikan sebagai salah satu masukan untuk pembuatan jurnal dan dapat dijadikan sebagai referensi dan pedoman bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

Air menjadi kebutuhan manusia yang sangat penting, begitu juga dengan seluruh mahluk hidup yang ada di bumi ini. Keberadaan air sangat penting bagi manusia karena manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa air. 65% dari tubuh manusia terdiri dari air. Sebagian dari air setiap harinya dibutuhkan untuk irigasi, pembangkit tenaga listrik, rekreasi, industri dan penggelontoran air buangan.

(Al-Layla, 1978).

Jumlah air sangat banyak di bumi, kira-kira 326 juta kubik mil air di bumi yang berasal dari samudera, laut, sungai, danau, es, dan lain-lain. Tetapi, hanya 3% dari jumlah total air di bumi yang dapat digunakan. Air bersih jumlahnya sangat terbatas, tapi kebutuhan akan air bersih terus meningkat, sering dengan pertumbuhan penduduk dan berkembangnya perindustrian. (Al-Layla, 1978). Dalam pemenuhan air tersebut manusia melakukan berbagai upaya untuk mendapatkannya. Dalam hal ini pemenuhan air bersih untuk dikonsumsi, baik untuk air minum, maupun untuk kebutuhan rumah tangga lainnya. Penanganan akan pemenuhan kebutuhan air bersih dapat dilakukan dengan berbagai cara, disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang ada. Sistem penyediaan air bersih dilakukan dengan sistem perpipaan dan non perpipaan. Sistem perpipaan dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan sistem non perpipaan dikelola oleh masyarakat baik secara individu maupun kelompok. Sistem perpipaan berfungsi untuk mengalirkan zat cair dari satu tempat ke tempat yang lain. Aliran

(20)

terjadi karena adanya perbedaan tinggi tekanan di kedua tempat, yang bisa terjadi karena adanya perbedaan elevasi muka air atau karena adanya pompa. Debit air yang disediakan tergantung pada jumlah penduduk dan sistem jaringan distribusi yang dilayani. Saat ini kualitas dan daya dukung lingkungan semakin menurun, ketersediaan air yang dapat langsung dikonsumsi dari alam juga semakin berkurang. Keadaan ini juga diikuti oleh menurunnya tekanan-tekanan air ke seluruh daerah pelayanan, sehingga konsumen mempergunakan berbagai cara untuk memperoleh air sesuai dengan keinginannya, seperti dengan memasang pompa penghisap pada sambungan langsung di perumahan perumahan, yang mana hal ini tentu akan mengganggu tekanan dan distribusi air PDAM ke tempat pelayanan lainnya.

Untuk wilayah pelayanan Padang Utara, permasalahan tekanan air PDAM di konsumen umumnya terjadi pada saat musim kemarau dan saat air banjir atau hulu sungai / intake keruh. Untuk memetakan dan mengetahui sebaran tekanan air distribusi di wilayah Padang Utara, digunakan QGIS (Quantum Geographic

Information System) yang mana QGIS akan memberikan hasil berupa peta

berwarna lengkap dengan data tekanan sehingga pembacaan tekanan lebih mudah.

2.2 Profil PDAM Kota Padang

Jajaran Direksi PDAM Kota Padang Tahun 2017 sebagai berikut: - H. Edwar, SE : Plt. Direktur Utama

- Hendra Pebrizal, S. Sos, MM : Direktur Umum - Andri Satria, ST, MT : Direktur Teknik

(21)

Visi dan Misi Perusahaan Daerah Air Minum Kota Padang (PDAM) Visi

Menjadikan perusahaan yang handal, mandiri, didukung oleh tenaga kerja profesional dalam melaksanakan pelayanan air minum yang prima guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat Kota Padang

Misi

1. Menyelenggarakan pelayanan air minum yang prima kepada masyarakat yang mencakup aspek kuantitas, kualitas dan kontinuitas melalui pengelolaan seluruh aset perusahaan secara optimal dengan sistem manajemen yang handal menuju PDAM yang sehat, mandiri dan profesional.

2. Memberikan kepuasan pelayanan air minum secara berkesinambungan kepada masyarakat.

3. Memperhatikan keterjangkauan masyarakat.

4. Menunjang Otonomi Daerah, dengan memberikan kontribusi dalam bentuk PAD kepada Pemerintah Kota Padang.

5. Meningkatkan Sumber Daya Manusia secara maksimal.

6. Membina hubungan yang serasi dan harmonis di antara keluarga besar PDAM Kota Padang dengan seluruh lapisan masyarakat dan stakeholder lainnya.

2.2.1 PDAM Kota Padang dari masa ke masa

Tahun 1897 : Pembangunan 6 unit sumur bor dengan total kapasitas sebesar 22 liter per detik yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda

(22)

“GemeentelejkWaterleidingBerdijf” atau Perusahaan Air Kota Padang.

Tahun 1957 : Mulai dilaksanakan Pembangunan Proyek Air Bersih IPA Gunung Pangilun dengan sumber air baku dari batang kuranji dan dengan total kapasitas produksi air 250 liter per detik. Proyek Air Bersih IPA Gunung Pangilun dibangun oleh Degremont Perancis.

Tahun 1974 : Berdasarkan Perda Kota Padang Nomor 05/PD/1974, tanggal 30 Desember 1974, dibentuk Perusahaan Daerah Air Minum Kota Padang.

Tahun 1982 : Dibangun kantor pusat PDAM di Jln H. Agus Salim no 10 Padang. Tahun 1989 : Dibangun satu unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Guo Kuranji

dengan kapasitas produksi air sebesar 40 liter per detik.

Tahun 1991 : Pembangunan 1 unit IPA Ulu Gadut dengan kapasitas 80 liter per detik. Diserahterimakan dari PU ke PDAM satu unit instalasi IPA mini dengan kapasitas produksi air sebesar 20 liter per detik didaerah Jawa Gadut.

Pembangunan IPA di Bungus Teluk Kabung dengan kapasitas 40 liter per detik.

Tahun 1993 : Pembagunan IPA di Sungai Latung Lubuk Minturun dengan kapasitas produksi air sebesar 60 lietr per detik.

Pembangunan Fase Ground Water Project yang dilaksanakan mulai tahun 1993 sampai 2005. Dilaksanakan khususnya 8 unit sumur bor.

(23)

Tahun 2000 : Pembangunan 2 unit IPA baru masing-masing dengan kapasitas produksi air sebesar 20 liter per detik dan 10 liter per detik di Latung Lubuk Minturun.

Tahun 2004 : Dibangun Intake baru di Sikayan Balumuik kapasitas air sebanyak 180 liter per detik.

Tahun 2006 : Pembangunan IPA baru di Latung dengan kapasitas Produksi sebesar 200 liter per detik.

Tahun 2007 : Pembangunan kantor wilayah pelayanan utara di Jln Adinegoro Tabing.

Tahun 2008 : Pembangunan 1 unit IPA dengan kapasitas produksi air sebesar 100 liter per detik.

Tahun 2009 : PDAM dihantam gempa, IPA Gunung Pangilun rusak, Intake Sikayan Balumuik dan Ulu Gadut jebol, kantor PDAM pusat roboh. Gudang dan intake Kampung Koto rusak. Kebocoran pipa mencapai 5000.

Tahun 2010 : Pembangunan Intake baru Tanah Laban.

Tahun 2011 : Pembangunan kembali kantor pusat PDAM di Jln. H. Agus Salim Padang

(24)

2.2.2 Aspek Teknis dan Aspek Pelayanan PDAM Kota Padang 2.2.2.1 Aspek Teknis

- Kapasitas Produksi Terpasang : 1.310 liter per detik - Kapasitas Produksi Efektif : 1.234 liter per detik

- Panjang total jaringan pipa transmisi dan distribusi : 1.982.273,8 meter - Jumlah produksi air tahun 2016 : 36.952.523 meter kubik.

- Rata-rata pemakaian air : 22.5 meter kubik - Rata-rata kehilangan air : 27.39%

2.2.2.2 Aspek Pelayanan dan Administrasi - Jumlah Pelanggan Aktif : 91.909 - Jumlah Pelanggan Non Aktif : 16.151 - Cakupan Pelayanan : 74.15%

- Jumlah Karyawan : 280

- Rasio Karyawan dengan Jumlah Pelanggan : 3.05

2.3 Sistem Distribusi Air Minum 2.3.1 Reservoar

Fungsi dari reservoar ini (Al-Layla, 1978) adalah:

1. Pemerataan Aliran;

2. Untuk menyeimbangkan aliran air yang masuk dan keluar; 3. Penyimpanan;

4. Untuk menutupi kebutuhan saat terjadi gangguan, kebutuhan puncak dan kehilangan air. Penyimpanan harus sebanding dengan pemakaian;

(25)

5. Pengatur tekanan;

6. Muka air yang bebas di permukaan reservoar berfungsi untuk menghentikan gradien tekanan. Adanya reservoar ini akan dapat digunakan untuk membatasi tekanan di perpipaan.

Berdasarkan elevasinya reservoar dapat dibedakan menjadi: 1. Ground Reservoar

Jika tinggi muka air lebih rendah dari daerah pelayanan dan diperlukan pompa untuk menaikkan tekanan. Posisi diatur berdasarkan posisi instalasi. 2. Elevated Reservoar

Jika muka air daerah pelayanan lebih tinggi dan tekanan cukup. Elevated

reservoar diletakkan pada posisi tanah yang tinggi atau sebagai menara air.

Penentuan kapasitas reservoar berdasarkan grafik fluktuasi pemakaian air dapat dihitung dengan persamaan (Al-Layla, 1978):

Vkebakaran 86400 . A% . fmaks . Q VR ratarata  ...2.1         2 defisit surplus A% ...2.2

Dimana: VR = volume reservoar (m3)

P = jumlah penduduk (dalam ribuan) Vkebakaran = l/menit

(26)

2.3.2 SistemDistribusi

Sistem distribusi merupakan sistem pengaliran air yang sudah diolah dan telah memenuhi standar ke konsumen dengan volume air yang memenuhi dan tekanan yang cukup melalui suatu jaringan pipa dan reservoar. Sistem distribusi terdiri atas sistem perpipaan, perlengkapan atau peralatan distribusi dan reservoar distribusi atau semua peralatan dan perlengkapan setelah air meninggalkan stasiun pompa atau reservoar distribusi (Al-Layla, 1978).

2.3.3 Perpipaan distribusi

Perpipaan sangat diperlukan dalam sistem distribusi untuk mengalirkan air menuju daerah distribusi. Dalam mendesain sistem distribusi yang baru, ukuran sebuah pipa dapat diasumsikan dan disesuaikan dengan kondisi tekanan yang dihasilkan dari berbagai jenis kebutuhan air. Jika tidak memenuhi maka ukuran pipa dapat diganti sehingga sesuai dengan kondisi tekanan yang diinginkan. Jaringan perpipaan distribusi terdiri dari 2 sistem, yaitu:

a. Feeder System

Sistem ini berfungsi sebagai pipa transmisi yang menggunakan tapping, sistem ini digunakan dari titik ke titik, dari rumah ke rumah. Feeder System ini mempunyai 3 pola, yaitu:

1) Pola Cabang (Branch Pattern)

Pola Cabang (Branch Pattern) disebut juga open system. Pola Cabang (Branch Pattern) ini terdiri dari pipa induk (main feeder) yang disambungkan langsung ke secondary feeder dan disambungkan lagi

(27)

dengan pipa cabang berikutnya. Semakin keujung semakin kecil ukuran diameternya, sehingga kecepatan, dan tekanan air semakin besar, luas daerah pelayanan relatif kecil, dan jalur jalan yang ada tidak berhubungan satu dengan lainnya.

Keuntungan dari pola cabang:

a) Diameternya paling minimum sehingga lebih ekonomis (harganya lebih murah);

b) Perhitungannya mudah dan dihitung percabang. Kerugian dari pola cabang ini:

a) Dari segi operasi banyak ditemui daerah yang mati aliran;

b) Memerlukan pipa penguras (blow off) dan rutin dilakukan, sehingga banyak terjadi kehilangan air;

c) Jika terjadi kebakaran secara bersamaan, aliran air tidak mencukupi karena aliran air yang searah.

Gambar 2.1

Sistem perpipaan distribusi pola cabang

2) Pola Grid (Grid Pattern Loop)

Pola Grid (Grid Pattern Loop) disebut juga closed system. Pola Grid (Grid Pattern Loop) terdiri dari pipa induk dan pipa cabang yang saling

(28)

berhubungan satu dengan yang lain sehingga membentuk loop (lingkaran) tanpa memiliki ujung yang mati. Biasanya digunakan pada daerah yang bentuk dan penyebaran daerah yang merata ke segala arah, jaringan jalan yang saling berhubungan dan elevasi tanah yang relatif datar.

Keuntungan dari pola grid yaitu jika terdapat kerusakan pada suatu bagian jaringan pipa maka pada bagian jaringan yang lain masih mendapat air. Kerugian dari pola grid:

a) Diameter yang digunakan bukan diameter yang minimal; b) Membutuhkan banyak katup;

c) Perhitungannya lebih sulit.

Gambar 2.2

Sistem perpipaan distribusi pola grid

3) Pola Kombinasi (Combination Pattern)

Pola Kombinasi (Combination Pattern) merupakan gabungan pola cabang dengan loop. Pola Kombinasi (Combination Pattern) bisa digunakan pada daerah layanan dengan karakteristik :

a) Kota yang sedang berkembang;

b) Bentuk perluasan/perkembangan kota tidak teratur;

c) Jaringan jalan yang tidak seluruhnya berhubungan satu dengan yang lainnya;

(29)

d) Terdapat daerah pelayanan yang jauh/terpencil; e) Elevasi muka tanah bervariasi.

Gambar 2.3

Sistem perpipaan distribusi pola kombinasi

b. Small Distribution System

Small Distribution System disebut juga dengan sistem pipa pelayanan. Small Distribution System terdiri dari dua pipa pelayanan, yaitu; main distributor

dan secondary distributor.

2.3.4 Pompa

Pompa ini dikelompokkan atas 3 jenis (Morimura, 1993), yaitu:

1. Jenis putar, seperti pompa sentrifugal, mixed flow axial, dan regeneratif; 2. Jenis langkah positif, seperti pompa torak, pompa sudut, dan pompa

tangan;

3. Jenis khusus, seperti pompa vortex, gelembung uap, dan pompa jet.

Jenis pompa yang paling banyak digunakan adalah pompa jenis putar, karena:

a. Ukurannya kecil dan ringan; b. Dapat memompa terus menerus;

(30)

c. Bekerja tanpa gejolak;

d. Konstruksi sederhana dan mudah dioperasikan.

2.4 Geographic Information System ( GIS )

Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini. Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, GIS bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau GIS dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.

(31)

2.4.1 Pengertian menurut para ahli

Menurut para ahli, GIS atau SIG adalah: - Menurut Aronaff (1989)

SIG adalah sistem informasi yang didasarkan pada kerja komputer yang memasukkan, mengelola, memanipulasi dan menganalisa data serta memberi uraian.

- Menurut Burrough (1986)

SIG merupakan alat yang bermanfaat untuk pengumpulan, penimbunan, pengambilan kembali data yang diinginkan dan penayangan data keruangan yang berasal dari kenyataan dunia.

- Menurut Murai (1999)

SIG sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memanggil kembali, mengolah, menganalisis dan menghasilkan data bereferensi geografis atau data geospatial, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya. - Menurut Marble et al (1983)

SIG merupakan sistem penanganan data keruangan. - Menurut Bernhardsen (2002)

SIG sebagai sistem komputer yang digunakan untuk memanipulasi data geografi. Sistem ini diimplementasikan dengan perangkat keras dan perangkat lunak komputer yang berfungsi untuk akusisi dan verifikasi data, kompilasi data, penyimpanan data, perubahan dan pembaharuan data, manajemen dan

(32)

pertukaran data, manipulasi data, pemanggilan dan presentasi data serta analisa data

- Menurut Gistut (1994)

SIG adalah sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan spasial dan mampu mengintegrasikan deskripsi-deskripsi lokasi dengan karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan di lokasi tersebut. SIG yang lengkap mencakup metodologi dan teknologi yang diperlukan, yaitu data spasial perangkat keras, perangkat lunak dan struktur organisasi

- Menurut Berry (1988)

SIG merupakan sistem informasi, referensi internal, serta otomatisasi data keruangan.

- Menurut Calkin dan Tomlison (1984)

SIG merupakan sistem komputerisasi data yang penting. - Menurut Linden, (1987)

SIG adalah sistem untuk pengelolaan, penyimpanan, pemrosesan (manipulasi), analisis dan penayangan data secara spasial terkait dengan muka bumi.

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa SIG / GIS merupakan pengelolaan data geografis yang didasarkan pada kerja komputer (mesin).

2.4.2 Sejarah perkembangan GIS

Tiga puluh lima ribu tahun yang lalu, di dinding gua Lascaux, Perancis, para pemburu Cro-Magnon menggambar hewan mangsa mereka, dan juga garis yang dipercaya sebagai rute migrasi hewan-hewan tersebut. Catatan awal ini sejalan

(33)

dengan dua elemen struktur pada sistem informasi geografis modern sekarang ini, arsip grafis yang terhubung ke database atribut.

Pada tahun 1700-an teknik survey modern untuk pemetaan topografis diterapkan, termasuk juga versi awal pemetaan tematis, misalnya untuk keilmuan atau data sensus.

Awal abad ke-20 memperlihatkan pengembangan "litografi foto" dimana peta dipisahkan menjadi beberapa lapisan (layer). Perkembangan perangkat keras komputer yang dipacu oleh penelitian senjata nuklir membawa aplikasi pemetaan menjadi multifungsi pada awal tahun 1960-an.

Tahun 1967 merupakan awal pengembangan SIG yang bisa diterapkan di Ottawa, Ontario oleh Departemen Energi, Pertambangan dan Sumber Daya. Dikembangkan oleh Roger Tomlinson, yang kemudian disebut CGIS (Canadian GIS - SIG Kanada), digunakan untuk menyimpan, menganalisis dan mengolah data yang dikumpulkan untuk Inventarisasi Tanah Kanada (CLI - Canadian land

Inventory) - sebuah inisiatif untuk mengetahui kemampuan lahan di wilayah

pedesaan Kanada dengan memetakaan berbagai informasi pada tanah, pertanian, pariwisata, alam bebas, unggas dan penggunaan tanah pada skala 1:250000. Faktor pemeringkatan klasifikasi juga diterapkan untuk keperluan analisis.

CGIS merupakan sistem pertama di dunia dan hasil dari perbaikan aplikasi pemetaan yang memiliki kemampuan timpang susun (overlay), penghitungan, pendijitalan/pemindaian (digitizing/scanning), mendukung sistem koordinat national yang membentang di atas benua Amerika, memasukkan garis sebagai arc yang memiliki topologi dan menyimpan atribut dan informasi lokasional pada

(34)

berkas terpisah. Pengembangnya, seorang geografer bernama Roger Tomlinson kemudian disebut "Bapak GIS".

CGIS bertahan sampai tahun 1970-an dan memakan waktu lama untuk penyempurnaan setelah pengembangan awal, dan tidak bisa bersaing denga aplikasi pemetaan komersil yang dikeluarkan beberapa vendor seperti Intergraph. Perkembangan perangkat keras mikro komputer memacu vendor lain seperti ESRI, CARIS, MapInfo dan berhasil membuat banyak fitur SIG, menggabung pendekatan generasi pertama pada pemisahan informasi spasial dan atributnya, dengan pendekatan generasi kedua pada organisasi data atribut menjadi struktur database. Perkembangan industri pada tahun 1980-an dan 1990-an memacu lagi pertumbuhan SIG pada workstation UNIX dan komputer pribadi. Pada akhir abad ke-20, pertumbuhan yang cepat di berbagai sistem dikonsolidasikan dan distandarisasikan menjadi platform lebih sedikit, dan para pengguna mulai mengekspor menampilkan data GIS lewat internet, yang membutuhkan standar pada format data dan transfer. Indonesia sudah mengadopsi sistem ini sejak Pelita ke-2 ketika LIPI mengundang UNESCO dalam menyusun "Kebijakan dan Program Pembangunan Lima Tahun Tahap Kedua (1974-1979)" dalam pembangunan ilmu pengetahuan, teknologi dan riset.

2.4.3 Komponen Geographic Information System

John E. Harmon, Steve J. Anderson ( 2003 ) berpendapat bahwa komponen GIS terdiri dari lima komponen yang bekerja secara terintegrasi yaitu perangkat

(35)

keras (hardware), perakat lunak (software), data, manusia, dan metode yang dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Perangkat Keras (hardware)

Perangkat keras GIS adalah perangkat-perangkat fisik yang merupakan bagian dari sistem komputer yang mendukung analisis geografi dan pemetaan. Perangkat keras GIS mempunyai kemampuan untuk menyajikan citra dengan resolusi dan kecepatan yang tinggi serta mendukung operasioperasi basis data dengan volume data yang besar secara cepat. Perangkat keras GIS terdiri dari beberapa bagian untuk menginput data, mengolah data, dan mencetak hasil proses. Berikut ini pembagian berdasarkan proses :

- Input data: mouse, digitizer, scanner

- Olah data: harddisk, processor, RAM, VGA Card - Output data: plotter, printer, screening.

b. Perangkat Lunak (software)

Perangkat lunak digunakan untuk melakukan proses menyimpan, menganalisa, memvisualkan data-data baik data spasial maupun non-spasial. Perangkat lunak yang harus terdapat dalam komponen software SIG adalah: - Alat untuk memasukkan dan memanipulasi data SIG

- Data Base Management System (DBMS) - Alat untuk menganalisa data-data

(36)

c. Data

Pada prinsipnya terdapat dua jenis data untuk mendukung SIG yaitu : Data Spasial:

Data spasial adalah gambaran nyata suatu wilayah yang terdapat di permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan berupa grafik, peta, gambar dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x,y (vektor) atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.

Data Non Spasial (Atribut):

Data non spasial adalah data berbentuk tabel dimana tabel tersebut berisi informasi- informasi yang dimiliki oleh obyek dalam data spasial. Data tersebut berbentuk data tabular yang saling terintegrasi dengan data spasial yang ada.

d. Manusia

Manusia merupakan inti elemen dari SIG karena manusia adalah perencana dan pengguna dari SIG. Pengguna SIG mempunyai tingkatan seperti pada sistem informasi lainnya, dari tingkat spesialis teknis yang mendesain dan mengelola sistem, sampai pada pengguna yang menggunakan SIG untuk membantu pekerjaannya sehari-hari.

e. Metode

Metode yang digunakan dalam SIG akan berbeda untuk setiap permasalahan. SIG yang baik tergantung pada aspek desain dan aspek realnya.

(37)

2.4.4 Manfaat GIS di berbagai bidang 2.4.4.1 Manajemen tata guna lahan

Pemanfaatan dan penggunaan lahan merupakan bagian kajian geografi yang perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan dari berbagai segi. Tujuannya adalah untuk menentukan zonifikasi lahan yang sesuai dengan karakteristik lahan yang ada. Misalnya, wilayah pemanfaatan lahan di kota biasanya dibagi menjadi daerah pemukiman, industri, perdagangan, perkantoran, fasilitas umum,dan jalur hijau. SIG / GIS dapat membantu pembuatan perencanaan masing-masing wilayah tersebut dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan untuk pembangunanutilitas-utilitas yang diperlukan. Lokasi dari pembangunanutilitas-utilitas-pembangunanutilitas-utilitas yang akan dibangun di daerah perkotaan (urban) perlu dipertimbangkan agar efektif dan tidak melanggar kriteria-kriteria tertentuyang bisa menyebabkan ketidakselarasan. Contohnya, pembangunan tempat sampah. Kriteria-kriteria yang bisa dijadikan parameter antara lain: di luar area pemukiman, berada dalam radius 10 meter dari genangan air, berjarak 5 meter dari jalan raya, dan sebagainya. Dengan kemampuan SIG yang bisa memetakan apa yang ada di luar dan di dalam suatu area, kriteria-kriteria ini nanti digabungkan sehingga memunculkan irisan daerah yang tidak sesuai, agak sesuai, dan sangat sesuai dengan seluruh kriteria. Di daerah pedesaan (rural) manajemen tata guna lahan lebih banyak mengarah ke sektor pertanian. Dengan terpetakannya curah hujan, iklim, kondisi tanah, ketinggian, dan keadaan alam, akan membantu penentuan lokasi tanaman, pupuk yang dipakai, dan bagaimana proses pengolahan lahannya. Pembangunan saluran irigasi agar dapat merata dan minimal biayanya dapat dibantu dengan peta sawah ladang, peta pemukiman

(38)

penduduk, ketinggian masing-masing tempat dan peta kondisi tanah. Penentuan lokasi gudang dan pemasaran hasil pertanian dapat terbantu dengan memanfaatkan peta produksi pangan, penyebaran konsumen, dan peta jaringan transportasi. Selain untuk manajemen pemanfaatan lahan, GIS juga dapat membantu dalam hal penataan ruang. Tujuannya adalah agar penentuan pola pemanfaatan ruang disesuaikan dengan kondisi fisik dan sosial yang ada, sehingga lebih efektif dan efisien. Misalnya penataan ruang perkotaan, pedesaan, permukiman, kawasan industri, dan lainnya.

2.4.4.2 Inventarisasi sumber daya alam

Secara sederhana manfaat GIS dalam data kekayaan sumber daya alam ialah sebagai berikut:

- Untuk mengetahui persebaran berbagai sumber daya alam, misalnya minyak bumi, batubara, emas, besi dan barang tambang lainnya.

- Untuk mengetahui persebaran kawasan lahan, misalnya: Kawasan lahan potensial dan lahan kritis;

Kawasan hutan yang masih baik dan hutan rusak; Kawasan lahan pertanian dan perkebunan;

Pemanfaatan perubahan penggunaan lahan; Rehabilitasi dan konservasi lahan.

(39)

2.4.4.3 Untuk pengawasan daerah bencana alam

Kemampuan GIS untuk pengawasan daerah bencana alam, misalnya: - Memantau luas wilayah bencana alam.

- Pencegahan terjadinya bencana alam pada masa datang;

- Menyusun rencana-rencana pembangunan kembali daerah bencana; - Penentuan tingkat bahaya erosi;

- Prediksi ketinggian banjir; - Prediksi tingkat kekeringan.

2.4.4.4 Bagi perencanaan wilayah dan kota

- Untuk bidang sumber daya, seperti kesesuaian lahan pemukiman, pertanian, perkebunan, tata guna lahan, pertambangan dan energi, analisis daerah rawan bencana.

- Untuk bidang perencanaan ruang, seperti perencanaan tata ruang wilayah, perencanaan kawasan industri, pasar, kawasan permukiman, penataan sistem dan status pertahanan.

- Untuk bidang manajemen atau sarana-prasarana suatu wilayah, seperti manajemen sistem informasi jaringan air bersih, perencanaan dan perluasan jaringan listrik.

- Untuk bidang pariwisata, seperti inventarisasi pariwisata dan analisis potensi pariwisata suatu daerah.

- Untuk bidang transportasi, seperti inventarisasi jaringan transportasi publik, kesesuaian rute alternatif, perencanaan perluasan sistem jaringan jalan, analisis kawasan rawan kemacetan dan kecelakaaan.

(40)

- Untuk bidang sosial dan budaya, seperti untuk mengetahui luas dan persebaran penduduk suatu wilayah, mengetahui luas dan persebaran lahan pertanian serta kemungkinan pola drainasenya, pendataan dan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan dan pembangunan pada suatu kawasan, pendataan dan pengembangan pemukiman penduduk, kawasan industri, sekolah, rumah sakit, sarana hiburan dan perkantoran. ( https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi_geografis )

2.4.5 QGIS

Quantum GIS merupakan salah satu perangkat lunak open source yang dapat digunakan untuk pengelolaan data spasial dan pengembangan aplikasi Sistem Informasi Geografik. Quantum GIS dikembangkan di bawah bendera Open Source

Geospatial Foundation (OSGeo), dengan sifat pengembangan terbuka, sehingga

siapapun yang berkompeten dapat berkontribusi terhadap pengembangan aplikasi ini. Quantum GIS dikembangkan dengan bahasa pemrograman C++ dan bersifat multi platform, dapat dijalankan pada berbagai sistem operasi. Saat ini, versi binary

(installer) Quantum GIS tersedia untuk sistem operasi Microsoft Windows, Linux

(berbagai varian distro), FreeBSD dan MacOS X. Belakangan bahkan sudah mulai dicoba dijalankan di sistem operasi Android yang banyak digunakan di perangkat mobile (smartphone/tablet). Saat ini versi stabil Quantum GIS adalah 1.8.0, dan sedang dalam tahap pengembangan untuk mencapai versi mayor 2.0. Berikut ini beberapa bagian dari Quantum GIS:

(41)

1. User Interface

Gambar di bawah ini menampilkan tampilan Quantum GIS, dengan data berbentuk vektor dan raster di dalamnya:

Gambar 2.4 Tampilan QGIS dalam bentuk Vektor dan Raster

Pada gambar di atas, dapat kita lihat beberapa bagian penting tampilan Quantum GIS, antara lain:

- Muka peta

Digunakan untuk menampilkan dan editing data peta, baik berupa data vektor maupun raster.

(42)

Berisi daftar layer yang sekarang sedang terbuka, dan dapat digunakan sebagai salah satu jalan pintas untuk pengelolaan suatu layer peta tertentu.

- Menu dan toolbar

Digunakan untuk menjalankan fitur-fitur dan fungsi-fungsi tertentu dari Quantum GIS. Pada proses pengelolaan dan analisis data peta, kita akan menjalankan berbagai fitur dan fungsionalitas yang disediakan melalui berbagai menu dan toolbar yang tersedia. Susuna toolbar dan menu sendiri bersifat dinamis dalam Quantum GIS. Baik posisi maupun konten bisa diubah. Posisi sebuah toolbar misalnya diubah dengan menggeser-geser toolbar menggunakan mouse, atau sebuah menu bisa berubah kontennya karena adanya sebuah plugin yang terpasang, dan seterusnya.

- Status bar

Digunakan untuk melihat berbagai status dari Quantum GIS (koordinat kursor, sistem proyeksi peta yang sedang digunakan dan sebagainya). 2. Elemen Pembentuk Quantum GIS

Saat ini Quantum GIS telah menjadi sebuah aplikasi yang sangat kompleks, dengan berbagai elemen diintegrasikan ke dalamnya. Basis pengembangan Quantum GIS menggunakan Qt (www.qt-project.org), sebuah framework terbuka untuk pengembangan aplikasi dengan bahasa pemrograman C++. Sesuai dengan prinsip modularitas dalam pengembangan software, Quantum GIS juga tidak membuat lagi modul-modul atau library yang sudah ada.

(43)

Beberapa library open source penting yang digunakan oleh Quantum GIS antara lain:

- GDAL dan OGR

GDAL digunakan untuk keperluan baca tulis format data raster, sedangkan OGR digunakan untuk keperluan baca tulis format data vektor.

- GEOS

GEOS (Geometry Engine Open Source) digunakan dalam berbagai keperluan operasi dan analisis spasial, seperti misalnya dalam proses editing data vektor.

- Proj

Proj merupakan library yang digunakan untuk menangani berbagai sistem koordinat dan proyeksi peta, termasuk dalam hal konversi antar sistem koordinat dan proyeksi peta.

- SpatialIndex

Library ini digunakan untuk pengindeksan data spasial, agar diperoleh performa yang tetap baik ketika menggunakan data dalam volume besar. Library-library di atas sudah terbukti berjalan dengan baik dan digunakan pada berbagai perangkat lunak SIG, termasuk perangkat lunak komersial (seperti GDAL yang juga digunakan oleh ArcGIS, produk dari ESRI, Inc).

(44)

3. Fitur Dasar Quantum GIS Dalam Pengelolaan Data Vektor dan Raster

Sebagai perangkat lunak Sistem Informasi Geografik, Quantum GIS memiliki kapabilitas untuk menampilkan, mengolah dan menyajikan data. Secara garis besar, Quantum GIS memiliki kemampuan sebagai berikut: - Membaca dan mengedit data dalam format vektor dan raster, termasuk data

atribut.

Quantum GIS dapat membaca dan mengolah data dalam banyak format, baik dalam bentuk raster maupun vektor. Sebagian diantara format data yang bisa diolah Quantum GIS, didukung oleh library GDAL dan OGR. Beberapa format data vektor yang umum digunakan dan bisa diolah Quantum GIS.

- Konversi sistem koordinat dan proyeksi peta

Konversi sistem koordinat dan proyeksi peta dapat dilakukan dengan mudah di Quantum GIS, dengan memilih opsi CRS ketika menyimpan data, seperti gambar berikut:

(45)

- Navigasi peta

Pada Quantum GIS, navigasi peta bisa dilakukan melalui toolbar khusus, dengan fungsi navigasi yang bisa digunakan antara lain:

Perbesar (zoom in) tampilan peta, Perkecil (zoom out) tampilan peta, Penggeseran (pan) tampilan peta, Zoom ke layer yang aktif/terpilih, Zoom ke objek yang terseleksi, Zoom ke seluruh tampilan peta, Zoom previous/next, untuk kembali ke tampilan sebelumnya atau sesudahnya. - Setting tampilan peta

Tampilan peta dapat diatur melalui menu Layer > Properties. Hal-hal yang dapat diatur antara lain: warna dan pola arsiran, warna dan ketebalan garis, bentuk dan ukuran simbol, dan sebagainya. Tampilan setting layer seperti berikut:

(46)

- Digitasi dan editing data peta

Quantum GIS juga memiliki toolbar khusus untuk keperluan digitasi dan editing data peta. Fitur editing yang dapat dilakukan dengan fitur dasar Quantum GIS, antara lain: Penambahan objek peta baru, Pemindahan objek peta, Perubahan bentuk objek peta, dengan melakukan penambahan, pemindahan, pengurangan verteks/node baru, Penyalinan (copy & paste) objek peta, Pemotongan (clipping) objek peta vektor dan raster, Penggabungan (merge/union) objek peta, Konversi raster ke vektor dan vektor ke raster dll

(47)

- Analisis Spasial

Analisis spasial dalam Quantum GIS tidak banyak tersedia sebagai fungsionalitas bawaan. Fitur-fitur analisis spasial, baik untuk data vektor maupun raster, lebih banyak disediakan dalam bentuk plugin atau tambahan fitur eksternal (lihat poin 5 di bawah).

- Layout dan Pencetakan Peta

Pembuatan layout dan pencetakan peta dalam Quantum GIS dilakukan melalui modul Print Composer, seperti tampilan berikut:

(48)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh atau suatu perlakuan / tindakan / treatment terhadap suatu objek atau menguji hipotesis tentang ada atau tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding kelompok yang lainnya yang menggunakan perlakuan yang berbeda (Sumadi, 1998).

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di kawasan atau wilayah pelayanan PDAM Kecamatan Padang Utara. Waktu penelitian dilaksanakan pada Oktober – November 2017.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu, ditetapkan oleh peneliti untuk

(49)

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. (Sugiyono, 2008). Populasi dari penelitian ini adalah tekanan air PDAM di rumah penduduk.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2008). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tekanan air distribusi PDAM di wilayah pelayanan PDAM Kecamatan Padang Utara Kota Padang.

3.4 Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah parameter yang akan dikaji didalam melakukan penelitian. Adapun variabel penelitian yang dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain menghitung berapa range tekanan air PDAM yang didapatkan dari wilayah pelayanan di Kec Padang Utara yang dibagi per kelurahan. Hasil dari pengukuran ini diinputkan kedalam CGIS untuk mendapatkan sebuah gambaran berupa peta mengenai tekanan air rata-rata di kelurahan Padang Utara. Range tekanan yang didapat akan diinput dan juga dibedakan warnanya sehingga pada peta akan tampil warna yang berbeda untuk setiap range tekanan.

3.5 Data dan Sumber Data

Dalam penelitian ini data yang akan diambil adalah data primer dan data sekunder. Untuk data primer yang penulis gunakan berasal dari data tekanan air distribusi PDAM di wilayah kelurahan-kelurahan Padang Utara, sedangkan untuk

(50)

data sekunder yang digunakan dalam pengolahan data ini adalah data tekanan air PDAM Wilayah Utara, Pusat dan Selatan yang berasal dari data PDAM bulan Agustus 2017.

3.6 Teknik Pengolahan Data

Untuk mendapatkan hasil yang merupakan tujuan penelitian yang dimaksud diatas, maka dilakukanlah metoda seperti berikut untuk mendapatkan data - data penelitian yang sesuai. Adapun metoda yang dilakukan untuk mengetahui berapa tekanan air distribusi rata-rata PDAM di wilayah Padang Utara per kelurahannya adalah dengan mengukur tekanan air pada pipa masuk kawasan pengukuran ( kelurahan ) dan pada titik kritis atau pipa paling jauh di kawasan ( kelurahan ) atau dilihat berdasarkan elevasi paling tinggi.

Sedangkan untuk memetakan tekanan air di wilayah Padang Utara dari data tekanan yang didapat dilapangan, data yang didapat diinput kedalam QGIS sehingga didapatkan hasil berupa peta tekanan per kelurahan di Kec Padang Utara yang dibedakan berdasarkan warna. Satu warna mewakili satu range tekanan.

3.6.1 Prosedur Pengambilan Sampel Tekanan Air a. Alat dan Bahan

(51)

Gambar 3.1 Manometer

b. Prosedur Pengukuran Tekanan

1. Pasang manometer pada titik pantau kawasan yang akan diukur (kelurahan).

2. Ukur tekanan pada pipa masuk kawasan ( sekunder atau tertier ) dan pada sambungan rumah titik kritis atau pipa paling jauh atau elevasi paling tinggi.

3. Ukur tekanan secara periodik, pagi, siang dan malam sehingga didapatkan hasil berupa range tekanan.

(52)

3.6.2 Penginputan data tekanan air ke QGIS

1. Buka QGIS yang sudah diinstall. Klik menu bar Plugins, pilih manage and Install Plugins.

2. Koneksikan ke QGIS Official Plugins Repository.

Gambar 3.2 Official Plugins Repository

3. InstallOpenLayers Plugin untuk menampilkan menu bar Web

(53)

4. Setelah ter install, lalu close

Gambar 3.4 OpenLayers Plugin installed

5. Lanjutkan ke menu bar Web, pilih OpenLayer Plugin, pilih Google Maps, dan pilih Google Satellite untuk pencitraan peta lengkap.

(54)

6. Tentukan / cari peta kota Padang

Gambar 3.6 Peta Kota Padang dari Google Satellite

7. Buat Layer pada menu New Temporary

(55)

8. Isi nama layer, misal Kec Padang Utara

Gambar 3.8 Layer Kec Padang Utara

9. Buat kolom baru dari New Field ( sebaran tekanan ) pada layer Kec Padang Utara

(56)

10. Buat polygon per kawasan / per kelurahan yang akan diukur

Gambar 3.10 Polygon Per Kelurahan

11. Input data tekanan yang didapatkan dari lapangan.

(57)

12. Buat Layer Tekanan pada New Saphefile Layer, isi dengan nama Tekanan

Gambar 3.12 Layer Tekanan

13. Isikan data hasil pengukuran tekanan di lapangan, dan atur warna untuk membedakan tekanannya, misal untuk tekanan max 0.1 warna merah, dst.

(58)

14. Klik kanan pada layer Tekanan, klik Open attribute Table untuk melihat field sebaran tekanan yang telah ditambahkan.

Gambar 3.14 Attribute Table

15. Hasil sebaran tekanan di Kec Padang Utara untuk tiap kelurahan

(59)

16. Save datanya. 17. Atur settingan print.

Gambar 3.16 Setting Print

(60)

3.7 KerangkaMetodologi

Adapun kerangka metodologi penelitian yang akan dilakukan dari proposal penelitian ini adalah yang terlihat pada Gambar :

Gambar 3.17 Kerangka Metodologi

Mulai

Kesimpulan

Studi Literatur

IdentifikasiMasalah 1. Tekanan air wilayah kelurahan Padang Utara belum dipetakan

2. Belum adanya pengelompokan data konsumen berdasarkan tekanan air pada wilayah yang dipetakan.

3. Dibutuhkan sebuah peta tekanan per kelurahan.

RumusanMasalah

1. Apakah data tekanan air diwilayah kelurahan Padang Utara bisa dipetakan?

2. Apakah QGIS bisa digunakan untuk memetakan tekanan air di Kelurahan-kelurahan Padang Utara?

3. Bagaimana hasil dari peta yang dihasilkan oleh QGIS dengan menampilkan data tekanan saja?

Teknik dan Pengolahan Data 1. Penentuan titik pengambilan sample 2. Pengambilan data lapangan

3. Membandingkan dengan data sekunder 4. Penginputan data ke QGIS

Selesai Batasan Masalah

1. Data tekanan diambil pada wilayah kelurahan Padang Utara Kota Padang 2. Data tekanan diambil dua titik mewakili satu wilayah kelurahan.

3. Data dimasukkan ke QGIS yang merupakan software yang digunakan oleh PDAM kota Padang.

(61)

BAB IV

KONDISI EKSISTING DAERAH STUDI

Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kecamatan Padang Utara Kota Padang, dengan data-data sebagai berikut:

1. Data Geografis: 00.58’ LS 100o.21”11’ BT 2. Batasan Daerah :

- Utara : Kecamatan Koto Tangah dan Nanggalo - Selatan : Kecamatan Padang Barat dan Padang Timur - Timur : Kecamatan Kuranji

- Barat : Samudera Indonesia 3. Luas Daerah : 8,08 Km2

4. Jumlah Kelurahan sebanyak 7 kelurahan yang terdiri dari :

No Kelurahan Luas Wilayah ( Km2)

1 Air Tawar Timur 0,63

2 Air Tawar Barat 1,12

3 Ulak Karang Selatan 1,39

4 Lolong Belanti 1,62

5 Ulak Karang Utara 1,53

6 Alai Parak Kopi 1,37

7 Gunung Pangilun 0,42

(62)

4.1 Kelurahan Air Tawar Barat

Untuk Kelurahan Air Tawar Barat, dilakukan pengambilan sample tekanan pada 3 titik, yaitu:

1. Jln. Hamka, pada pipa DN 50 PVC 2. Jln. Parkit, pada pipa DN 50 PVC 3. Jln Belibis, pada pipa DN 100 PVC

4.2 Kelurahan Air Tawar Timur

Untuk Kelurahan Air Tawar Timur, dilakukan pengambilan sample tekanan pada 3 titik, yaitu:

1. Jln. Hamka, pada pipa DN 50 PVC 2. Batalyon AD, pada pipa DN 50 PVC 3. Jln Sentani, pada pipa DN 100 PVC

4.3 Kelurahan Ulak Karang Selatan

Untuk Kelurahan Ulak Karang Selatan, dilakukan pengambilan sample tekanan pada 3 titik, yaitu:

1. Jln. S. Parman, pada pipa DN 80 PVC 2. Jln. Hiu, pada pipa DN 50 PVC 3. SP. Transito, pada pipa DN 150 PVC

(63)

4.4 Kelurahan Ulak Karang Utara

Untuk Kelurahan Ulak Karang Utara, dilakukan pengambilan sample tekanan pada 3 titik, yaitu:

1. Pasar Ulak Karang, pada pipa DN 200 DI 2. Jln. Bunda, pada pipa DN 50 PVC

3. Jln. Bangka, pada pipa DN 50 PVC

4.5 Kelurahan Lolong Belanti

Untuk Kelurahan Lolong Belanti, dilakukan pengambilan sample tekanan pada 3 titik, yaitu:

1. Jln. S. Parman, pada pipa DN 80 PVC 2. Jln. Pramuka, pada pipa DN 50 PVC 3. Jln. Beringin, pada pipa DN 100 DI

4.6 Kelurahan Alai Parak kopi

Untuk Kelurahan Alai Parak Kopi, dilakukan pengambilan sample tekanan pada 3 titik, yaitu:

1. SP. Alai, pada pipa DN 80 PVC

2. Cendana Parak Kopi, pada pipa DN 50 PVC 3. Aspol Alai, pada pipa DN 50 PVC

(64)

4.7 Kelurahan Gunung Pangilun

Untuk Kelurahan Gunung Pangilun, dilakukan pengambilan sample tekanan pada 3 titik, yaitu:

1. SP. Setiong, pada pipa DN 600 DI 2. Jln Penjernihan, pada pipa DN 600 Steel 3. Jln. Ibnu Sina, pada pipa DN 100 PVC

(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)

BAB V

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Data tekanan diambil pada tiga titik acak selama satu minggu, mulai dari tgl 30 Oktober 2017 sampai dengan 5 November 2017 dengan data sebagai beriktu:

Hari : 1

Tanggal : 30 Oktober 2017 Cuaca : cerah

No Kelurahan Lokasi pengukuran tekanan Tekanan ( atm )

Jam 9:00 Jam 13:00 Jam 17:00

1 Air Tawar Barat 1. Jln. Hamka depan Basko 0.05 0.1 0.03

2. Jln. Parkit 0.02 0.03 0.05

3. Jln Belibis 0.05 0.05 0.05

2 Air Tawar Timur 1. Jln. Hamka depan Basko 0.05 0.1 0.03

2. Jln. Sentani 0.05 0.1 0.05

3. Batalyon 0.1 0.2 0.1

3 Ulak Karang Selatan 1. Jln. S. Parman 0.2 0.35 0.2

2. Jln. Hiu Asrama Transito 0.05 0.15 0.05

3. Simpang Transito 0.05 0.15 0.05

4 Ulak Karang Utara 1. PS Ulak Karang 0.1 0.2 0.1

2. Jln. Bunda UBH 0.25 0.4 0.3

3. Jln Bangka 0.05 0.05 0.05

5 Lolong Belanti 1. Jln. S. Parman 0.2 0.35 0.2

2. Jln. Pramuka 0.05 0.15 0.1

3. Jln. Beringin SMA 1 0.05 0.1 0.1

6 Alai Parak Kopi 1. SP Alai 0.1 0.35 0.1

2. Cendana Parak Kopi 0.05 0.1 0.05

3. Aspol Alai 0.2 0.5 0.2

7 Gunung Pangilun 1. Simpang Setiong 1 0.7 1.2

2. Jln. Penjernihan 1 1.5 1

3. Jln. Ibnu Sina 0.2 0.2 0.1

(73)

Hari : 2

Tanggal : 31 Oktober 2017 Cuaca : cerah

No Kelurahan Lokasi pengukuran tekanan Tekanan ( atm )

Jam 9:00 Jam 13:00 Jam 17:00

1 Air Tawar Barat 1. Jln. Hamka depan Basko 0.03 0.02 0.05

2. Jln. Parkit 0.02 0.03 0.02

3. Jln Belibis 0.05 0.05 0.05

2 Air Tawar Timur 1. Jln. Hamka depan Basko 0.03 0.02 0.05

2. Jln. Sentani 0.05 0.1 0.1

3. Batalyon 0.1 0.2 0.1

3 Ulak Karang Selatan 1. Jln. S. Parman 0.2 0.3 0.2

2. Jln. Hiu Asrama Transito 0.03 0.15 0.05

3. Simpang Transito 0.05 0.15 0.05

4 Ulak Karang Utara 1. PS Ulak Karang 0.1 0.2 0.1

2. Jln. Bunda UBH 0.2 0.3 0.3

3. Jln Bangka 0.05 0.05 0.05

5 Lolong Belanti 1. Jln. S. Parman 0.2 0.35 0.25

2. Jln. Pramuka 0.05 0.1 0.1

3. Jln. Beringin SMA 1 0.05 0.1 0.1

6 Alai Parak Kopi 1. SP Alai 0.1 0.35 0.2

2. Cendana Parak Kopi 0.05 0.1 0.05

3. Aspol Alai 0.2 0.4 0.3

7 Gunung Pangilun 1. Simpang Setiong 1 1.3 1

2. Jln. Penjernihan 1 1.3 1.5

3. Jln. Ibnu Sina 0.1 0.2 0.1

(74)

Hari : 3

Tanggal : 01 November 2017 Cuaca : cerah

No Kelurahan Lokasi pengukuran tekanan Tekanan ( atm )

Jam 9:00 Jam 13:00 Jam 17:00

1 Air Tawar Barat 1. Jln. Hamka depan Basko 0.03 0.05 0.05

2. Jln. Parkit 0.02 0.05 0.04

3. Jln Belibis 0.05 0.05 0.05

2 Air Tawar Timur 1. Jln. Hamka depan Basko 0.03 0.05 0.05

2. Jln. Sentani 0.1 0.1 0.05

3. Batalyon 0.1 0.15 0.1

3 Ulak Karang Selatan 1. Jln. S. Parman 0.2 0.35 0.2

2. Jln. Hiu Asrama Transito 0.05 0.1 0.05

3. Simpang Transito 0.05 0.1 0.05

4 Ulak Karang Utara 1. PS Ulak Karang 0.1 0.2 0.1

2. Jln. Bunda UBH 0.25 0.25 0.3

3. Jln Bangka 0.05 0.05 0.05

5 Lolong Belanti 1. Jln. S. Parman 0.2 0.35 0.2

2. Jln. Pramuka 0.05 0.1 0.1

3. Jln. Beringin SMA 1 0.05 0.1 0.1

6 Alai Parak Kopi 1. SP Alai 0.15 0.35 0.1

2. Cendana Parak Kopi 0.05 0.1 0.05

3. Aspol Alai 0.3 0.5 0.2

7 Gunung Pangilun 1. Simpang Setiong 1 1 1.1

2. Jln. Penjernihan 1 1.5 1.5

3. Jln. Ibnu Sina 0.2 0.35 0.2

(75)

Hari : 4

Tanggal : 02 November 2017 Cuaca : cerah

No Kelurahan Lokasi pengukuran tekanan Tekanan ( atm )

Jam 9:00 Jam 13:00 Jam 17:00

1 Air Tawar Barat 1. Jln. Hamka depan Basko 0.04 0.02 0.03

2. Jln. Parkit 0.05 0.03 0.05

3. Jln Belibis 0.05 0.01 0.05

2 Air Tawar Timur 1. Jln. Hamka depan Basko 0.04 0.02 0.03

2. Jln. Sentani 0.05 0.1 0.1

3. Batalyon 0.2 0.1 0.25

3 Ulak Karang Selatan 1. Jln. S. Parman 0.2 0.3 0.2

2. Jln. Hiu Asrama Transito 0.03 0.15 0.05

3. Simpang Transito 0.05 0.15 0.05

4 Ulak Karang Utara 1. PS Ulak Karang 0.1 0.2 0.1

2. Jln. Bunda UBH 0.2 0.35 0.3

3. Jln Bangka 0.05 0.05 0.05

5 Lolong Belanti 1. Jln. S. Parman 0.2 0.35 0.25

2. Jln. Pramuka 0.05 0.1 0.1

3. Jln. Beringin SMA 1 0.05 0.1 0.1

6 Alai Parak Kopi 1. SP Alai 0.1 0.35 0.2

2. Cendana Parak Kopi 0.05 0.1 0.05

3. Aspol Alai 0.2 0.4 0.3

7 Gunung Pangilun 1. Simpang Setiong 1 1.3 1

2. Jln. Penjernihan 1.2 1.3 1.5

3. Jln. Ibnu Sina 0.2 0.5 0.2

(76)

Hari : 5

Tanggal : 03 November 2017 Cuaca : cerah

No Kelurahan Lokasi pengukuran tekanan Tekanan ( atm )

Jam 9:00 Jam 13:00 Jam 17:00

1 Air Tawar Barat 1. Jln. Hamka depan Basko 0.03 0.01 0.05

2. Jln. Parkit 0.02 0.05 0.04

3. Jln Belibis 0.05 0.05 0.05

2 Air Tawar Timur 1. Jln. Hamka depan Basko 0.03 0.01 0.05

2. Jln. Sentani 0.1 0.1 0.05

3. Batalyon 0.1 0.1 0.1

3 Ulak Karang Selatan 1. Jln. S. Parman 0.2 0.35 0.2

2. Jln. Hiu Asrama Transito 0.05 0.1 0.05

3. Simpang Transito 0.05 0.1 0.05

4 Ulak Karang Utara 1. PS Ulak Karang 0.1 0.2 0.1

2. Jln. Bunda UBH 0.25 0.25 0.3

3. Jln Bangka 0.05 0.05 0.05

5 Lolong Belanti 1. Jln. S. Parman 0.2 0.35 0.2

2. Jln. Pramuka 0.05 0.1 0.1

3. Jln. Beringin SMA 1 0.05 0.1 0.1

6 Alai Parak Kopi 1. SP Alai 0.15 0.35 0.1

2. Cendana Parak Kopi 0.05 0.1 0.05

3. Aspol Alai 0.3 0.5 0.2

7 Gunung Pangilun 1. Simpang Setiong 1 1 1.1

2. Jln. Penjernihan 1 1.5 1.5

3. Jln. Ibnu Sina 0.2 0.35 0.3

Gambar

Gambar  di  bawah  ini  menampilkan  tampilan  Quantum  GIS,  dengan  data  berbentuk vektor dan raster di dalamnya:
Gambar 2.5 Konversi System Koordinat QGIS
Gambar 2.6 Setting Layer QGIS
Gambar 2.7 Editing Data QGIS
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah laporan audit, reputasi auditor, pengalaman auditor, manajemen laba, Audit Report Lag (ARL) dan fee audit

Rumah adat suku bugis baik saoraja maupun bola terdiri atas tiga bagian : Awa bola ialah kolong yang terletak pada bagian bawah, yakni antara lantai dengan tanah. Kolong ini biasa

terhadap ROA pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa adalah ditolak. Variabel FBIR secara parsial mempunyai pengaruh positif yang signifikan. terhadap ROA pada Bank Umum

Kawasan wisata ini terdiri dari beberapa lokasi antara lain: 1) lokasi Perpustakaan Bung Karno yang merupakan Perpustakaan Riwayat Perjuangan Bung

kami sampaikan Peringkat Teknis Peserta Penawaran E-Seleksi Umum Pengawasan Teknik Pekerjaan Peningkatan Kapasitas Transaksi Gerbang Tol Cikarang Utama dan Penambahan

Mohon agar hadlr 30 menit sebelum jadwal presentasi masing-masing peserta... Jika Personil Tenaga Ahli lnti dan Manajemen Tidak had irlTerlam bat,

JURUSAN TASAWUF DAN PSIKOTERAPI FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG... PENYESUAIAN DIRI SANTRI PONDOK PESANTREN TK- SDI SUNAN

Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu bahwa kebanyakan siswa SMU PGRI I Jombang bersikap positifterhadap pelaksanaan model pembelajaran KBK di sekolah.. Tetapi