6.1 TINJAUAN UMUM WILAYAH KEGIATAN PENDAMPINGAN KAB SELAYAR
A. GAMBARAN UMUM SULAWESI SELATAN.
1. Geografi Wilayah
Kondisi geografis Provinsi Sulawesi Selatan sangat di pengaruhi oleh kondisi
wilayahnya, Provinsi Sulawesi Selatan memiliki luas wilayah kurang lebih
45.519,24 Km2. Secara administratif dibagi dalam 24 (dua puluh empat) wilayah
kabupaten/kota. Wilayah yang terluas adalah Kabupaten Luwu Utara dengan luas
wilayah kurang lebih 7.502,68 km2 atau 16,48 % dari total luas keseluruhan
wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, sedangkan kabupaten/kota yang memiliki
wilayah terkecil adalah Kota Parepare dengan luas 99,33 km2 atau 0,22 % dari
total luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, secara geografis Provinsi Sulawesi
Selatan berada pada 0º12´ - 8º LS dan 116º48´ - 122º36´ BT dengan batas
administrasi wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat
Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores
Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara
Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar
2. Kondisi Geologi dan Jenis Tanah
Struktur lapisan dan jenis tanah serta batuan di Provinsi Sulawesi Selatan
pada umumnya terdiri atas 3 jenis batuan beku meliputi Batuan metamorf dan
batuan vulkanik serta endapan alluvial yang hampir mendominasi seluruh wilayah
Provinsi Sulawesi Selatan. Batuan beku yang dijumpai secara umum terdiri dari
intrusi batuan beku granit dan gabro serta beberapa intrusi kecil lainnya, juga
dijumpai batuan beku yang merupakan jejak aliran larva yang telah membeku dan
bersusun blastik hingga andesitik. Batuan sedimen yang dijumpai meliputi batu
gamping, batu pasir, dan konglomerat, sedangkan endapan-endapan alluvial terdiri
dari material yang bersusunan brangkal, kerakal, kerikil, pasir hingga lempung.
Kondisi geologi ini akan menunjukkan potensi lahan yang dapat digunakan untuk
mendukung pembangunan di Provinsi Sulawesi Selatan.
3. Hidrologi
Keadaan hidrologi Provinsi Sulawesi Selatan, berdasarkan hasil observasi
lapangan yang dilakukan ditemukan daerah-daerah wialayah kota yang mengalami
di wilayah kab/kota provinsi Sulawesi Selatan. Pada kondisi tertentu terutama pada
saat musim hujan sungai tersebut mempengaruhi sebahagian wilayah kab/kota
provinsi Sulawesi Selatan.
4. Tata Guna Lahan
Kondisi tata guna lahan di Provinsi Sulawesi Selatan secara umum terdiri
atas; sawah, perkebunan, perumahan/permukiman, tambak, fasilitas sosial
ekonomi, dan lahan yang tidak dimanfaatkan (kosong). Pergeseran pemanfaatan
lahan Provinsi Sulawesi Selatan secara umum belum mengalami perubahan yang
cukup siniknifikan hanya pada beberapa bagian wilayah, akibat terjadinya
peningkatan pembangunan yang dilakukan pemerintah,swasta dan masyarakat.
5. Demografi dan Kependudukan
Jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Selatan hingga akhir tahun 2010
berdasarkan registrasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan
sebesar 8.034.776 jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 3.896.635
jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 4.138.141 jiwa.
a. Perkembangan Jumlah Penduduk
Perkembangan jumlah penduduk di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun
2010-2014 untuk masing-masing kabupaten mengalami kenaikan dengan
rata-rata laju pertumbuhan penduduk Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 1,1 % dengan
tingkat laju pertumbahn tertinggi berada di Kota Palopo sebsar 2,7 persen,
kemudian Kabupaten Luwu Timur dengan tingkat pertubuhan 2,5 persen,
Kabupaten Gowa dengan tingkat pertumbuhan 2,0 persen, Kota Makassar dengan
laju pertumbuhan 1,6 persen. Sementara itu kabupaten/kota dengan laju
pertumbuhan penduduk terendah berada pada Kabupaten Soppeng dengan tingkat
pertumbuhan sebesar 0,2 persen, kemudian Kabupaten Wajo dengan 0,4 persen,
Kabupaten Barru dengan 0,4 persen, Kabupaten Bone 0,6 persen, Kabupaten
Tanah Toraja dan Bantaeng dan Bulukumba 0,7 persen, Kabupaten Sinjai dan
Toraja Utara 0,8 persen. Sementara kabupaten lain di Provinsi Sulawesi Selatan
pertumbuhan dan perkembangan penduduk kabupaten/kota di provinsi Sulawesi
Selatan dapat di lihat pada Tabel 6.1.
Tabel 6.1. Jumlah dan Pekembangan Penduduk di Provinsi Sulawesi Selatan Dirinci Berdasarkan Kabupaten Tahun 2010-2014
Sumber : Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka, 2015
Pada Tabel 2.2 tersebut, menunjukkan bahwa jumlah penduduk terbesar
berada di Kota Makassar dengan jumlah penduduk 1.369.606jiwa. Sedangkan
penduduk terendah berada di Kepulauan Selayar dengan jumlah penduduk
sebanyak 122,055 jiwa.
b. Distribusi dan Kepadatan Penduduk
Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2014 berjumlah 8,034,776
jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 176 jiwa/km2. Penduduk Provinsi No Kabupaten/Kota Perkembangan Jumlah Penduduk (Jiwa) PertumbuLaju
han (%)
22 Makassar 1.216.746 1.235.239 1.365.000 1.387.000 1.408.100
23 Parepare 115.008 116.309 131.500 133.400 135.200
24 Palopo 133.293 137.595 152.600 156.600 160.800
Sulawesi terdistribusi pada 24 (dua puluh empat) wilayah kabupaten/kota, untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3, menunjukkan bahwa kepadatan penduduk terbesar berada di
Kota Makassar dengan kepadatan penduduk sebesar 761jiwa/km2, sedangkan
kepadatan penduduk terendah berada di Kabupaten Luwu Timur dengan
kepadatan penduduk sebesar 4 jiwa/km2.
Tabel 6.2. Distribusi Penduduk dan Kepadatan Penduduk di Provinsi Sulawesi Tahun
6. Fasilitas Sosial Ekonomi
Fasilitas diartikan sebagai wadah atau tempat manusia melakukan berbagai
aktifitas, berfungsi melayani kebutuhan masyarakat di dalam suatu unit
lingkungan. Jenis aktifitas pada dasarnya terbagi atas dua kelompok besar, yaitu
fasilitas ekonomi dan fasilitas sosial. Fasilitas sosial diartikan sebagai wadah
aktifitas yang melayani kebutuhan penduduk yang bersifat memberi kepuasan
sosial, mental, dan spiritual dalam bentuk; perumahan, peribadatan, pendidikan,
kesehatan, olah raga dan rekreasi. Fasilitas ekonomi diartikan sebagai wadah
untuk melakukan aktifitas ekonomi dalam bentuk fasilitas perdagangan, industri,
dan aktifitas ekonomi lainnya.
a. Perumahan dan Permukiman
Klasifikasi perumahan di Provinsi Sulawesi Selatan pada dasarnya dilihat
dari segi; luas kavling, tipe perumahan, kondisi perumahan, dan pola pembentukan
permukiman. Kondisi perumahan di Provinsi Sulawesi Selatan dibedakan atas tiga
jenis, antara lain; rumah permanen, semi permanen, dan darurat/temporer. Hasil
survey dilapangan secara umum menunjukkan bahwa kondisi bangunan/rumah
yang ada mayoritas termasuk dalam klasifikasi permanen, semi permanen dan
sebagian kecil temporer. Pembangunan perumahan yang dilakukan oleh
masyarakat/ perorangan, masih bersifat alami. Pola perumahan yang terbentuk
cenderung mengelompok (concentric) pada suatu kawasan, dan berkembang
secara linear mengikuti jaringan jalan dan garis pantai. Hasil survey lapangan yang
dilakukan menunjukkan perkembangan perumahan di Provinsi Sulawesi Selatan
menganut pola konsentrik dan linier. Jumlah rumah di Provinsi Sulawesi Selatan
hingga akhir tahun 2014 sebanyak 2.008.696 unit yang tersebar pada 24 wilayah
kabupaten/kota. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 6.3 Jumlah Unit Rumah di Provinsi Sulawesi Selatan
No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk
3 Bantaeng 181.000 44.173 2,19
Sumber : Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka, 2015
Tabel di atas, menujukkan bahwa jumlah rumah terbanyak berada di Kota
Makassar, jumlah rumah sebanyak 334.666 unit atau 16,66 %. Sedangkan jumlah
rumah terkecil berada di Kepulauan Selayar sebanyak 30.514 unit atau 1,52 %.
b. Pendidikan
Ketersediaan sarana pendidikan diperlukan untuk meningkatkan wawasan
dan pengetahuan masyarakat baik melalui pendidikan sekolah maupun pendidikan
luar sekolah. Ketersediaan sarana tersebut merupakan indikator untuk menilai
tingkat pendidikan dan wawasan berpikir masyarakat, termasuk partisipasi
masyarakat dalam pembangunan. Jumlah dan jenis fasilitas pendidikan di Provinsi
Tabel 6. 4. Jumlah dan Jenis Fasilitas Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan
No Kabupaten/Kota Jumlah Fasilitas Pendidikan (Unit)
TK SD SLTP SMU PT
Sumber : Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka, 2015
Tabel di atas, menunjukkan bahwa jumlah fasilitas pendidikan terbanyak
berada di Kota Makassar, dengan total jumlah sarana pendidikan sebanyak 1.348
unit mulai dari tingkat TK sampai Perguruan SMU sederajat. Sedangkan jumlah
fasilitas pendidikan terkecil berada di Kota Parepare, dengan jumlah sarana
pendidikan sebanyak 222 unit mulai dari tingkat TK sampai SMU sederajat.
c. Kesehatan
Ketersediaan fasilitas kesehatan merupakan indikator peningkatan kualitas
hidup masyarakat. Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat akan membantu
terjangkau akan pelayanan kesehatan. Jumlah dan jenis fasilitas kesehatan di
Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6.5 Jumlah dan Jenis Fasilitas Kesehatan di Provinsi Sulawesi Selatan
No Kabupaten/
Sumber : Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka, 2015
Tabel di atas, menunjukkan bahwa jenis fasilitas kesehatan di Provinsi
Sulawesi Selatan yang dominan adalah Posyandu dengan jumlah 8.944 unit,
sedangkan fasilitas kesehatan yang minimum adalah Rumah Sakit dengan jumlah
72 unit. Untuk fasilitas kesehatan pada tiap kabupaten/kota, yang terbanyak
berada di Kota Makassar dengan jumlah 1.102 unit dan fasilitas kesehatan yang
paling sedikit berda di Kota Parepare dengan jumlah sebanyak 146 unit.
Fasilitas peribadatan merupakan sarana penunjang yang dibutuhkan untuk
melakukan kegiatan keagamaan dan ritual bagi masyarakat. Jumlah dan jenis
fasilitas peribadatan di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Tabel di bawah
ini.
Tabel 6.6. Jumlah dan Jenis Fasilitas Peribadatan di Provinsi Sulawesi Selatan
No Jenis Fasilitas
4 Gereja Katholik & Gereja Protestan 2.436 14,16
5 Pura 2.065 12,01
6 Vihara 26 0,15
Jumlah 17.197 100,00
Sumber : Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka, 2015
7. Prasarana Wilayah
Aspek prasarana merupakan komponen yang sangat penting dalam suatu
wilayah. Prasarana yang dimaksud meliputi; prasarana jalan, jaringan irigasi,
jaringan listrik dan jaringan telepon dipergunakan untuk mendukung kelancaran
aktifitas atau kegiatan dalam rangka peningkatan pertumbuhan suatu wilayah.
a. Karakteristik dan Fungsi Jaringan Jalan
Jaringan jalan merupakan sarana penghubung antar wilayah atau kawasan
yang berfungsi sebagai prasarana trasnportasi, disamping fungsi tersebut jaringan
jalan dapat digunakan sebagai transformasi aliran barang dan penumpang yang
mempunyai komposisi sebagai pembuka keterhubungan antar kawasan. Dengan
demikian kondisi tersebut memerlukan pemikiran dengan penataan jaringan agar
tidak terjadi tumpang tindih fungsi setiap jalan.
Hubungan utama antar kawasan internal dan eksternal lokasi perencanaan
dilakukan dengan menggunakan transportasi darat dengan dukungan ketersediaan
jaringan jalan. Sediaan sistem jaringan jalan menurut jenis permukaan di lokasi
tanah. Kondisi jaringan jalan menurut jenis permukaan di wilayah perencanaan
untuk masing-masing kabupaten umumnya dalam kondisi aspal, jalan perkerasan,
jalan tanah dan sebahagian menggunakan jalan paving blok.
b. Kondisi Jaringan Drainase
Fungsi jaringan drainase digunakan sebagai sarana untuk mengalirkan air
buangan baik yang bersumber dari air hujan, air buangan rumah tangga dan air
yang bersumber dari jalan. Jaringan drainase di wilayah perencanaan terdiri dari
drainase primer, sekunder dan tersier dengan kondisi permanen dan temporer
(tanah).
c. Kondisi Jaringan Air Bersih
Air bersih merupakan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi, oleh karena
itu air bersih yang dijadikan sebagai sumber kebutuhan utama harus bebas dari
rasa, bau dan tidak berwarna. Sumber air bersih yang digunakan masyarakat
diwilayah perencanan bersumber dari PDAM dan air tanah dalam (artesis). Dari
hasil survey lapangan, kondisi air bersih yang ada sampai saat ini masih aman
untuk dikomsumsi dan belum mengalami pencemaran, baik yang disebabkan oleh
kegiatan industri rumah tangga maupun kegiatan-kegiatan yang sifatnya
menggunakan air.
d. Kondisi Jaringan Listrik
Jaringan listrik merupakan salah satu prasarana yang dibutuhkan untuk
menunjang penerangan rumah tangga, kegiatan industri dan kegiatan lainnya, oleh
karena itu listrik memegang peranan sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan
penerangan. Pemenuhan kebutuhan akan jaringan listrik di wilayah perencanaan
dewasa ini umumnya sudah terlayani jaringan listrik.
e. Kondisi Jaringan Telepon
Salah satu prasarana yang efisien dan cepat untuk mendapatkan akses
pelayanan informasi dan komunikasi adalah penyediaan prasarana jaringan
telepon. Penggunaan jaringan telepon sangat penting dalam penerimaan informasi
berinteraksi. Ketersediaan prasarana telepon yang ada saat ini berupa telepon
rumah tangga, warung telekomunikasi (wartel) dan penggunaan telepon seluler.
f. Kondisi Sistem Pelayanan Persampahan
Sampah merupakan sumber bibit penyakit yang memerlukan penanganan.
Kondisi sistem pelayanan persampahan di wilayah perencanaan perlu ditingkatkan
dengan penyediaan tempat pembuangan sementara maupun pembuangan akhir,
sehingga umumnya pola pengolahan sampah saat ini menggunakan sistem
pewadahan dengan tersedianya countainer dan armada pengangkutan ke lokasi
TPA.
g. Kondisi Pengelolaan Air Limbah
Air limbah merupakan air hasil buangan yang memerlukan pewadahan dan
tempat, baik yang bersumber dari limbah domestik (rumah tangga) maupun dari
industri. Kondisi pengolahan air limbah di wilayah perencanaan untuk jangka
pendek tidak membahayakan lingkungan oleh karena produksi limbah umumnya
berasal dari aktifitas limbah hasil rumah tangga, namun untuk jangka panjang
diperlukan suatu pewadahan untuk mengalirkan dan membuang hasil limbah
tersebut. Sedangkan limbah yang berasal dari industri besar umumnya sudah
tersedia tempat penampungan atau pengelolaan limbah yang dikelola oleh unit-unit
industri.
B. GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN JENEPONTO
6.1 Kondisi Umum
6.1.1 Profil geografi
6.1.1.1 Letak Geografis dan Kondisi Wilayah
Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi
Selatan.Apabila dilihat bentang alamnya secara makro, wilayah Kabupaten
Jenepontoterdiri dari daerah dataran yang terletak pada bagian tengah dan daerah
perbukitan yangterletak pada bagian utara, serta kawasan pantai di sebelah
selatan. Kabupaten Jenepontoterletak di ujung selatan bagian barat dari wilayah
Kota Bontosunggu, berjarak sekitar 91 km dari Makassar sebagai Ibu Kota Propinsi
SulawesiSelatan. Secara geografis terletak antara 5o16’13” – 5o39’35” LS dan
antara 12o40’19”-12o7’31” BT. Secara administrasi Kabupaten Jeneponto berbatasan:
- Sebelah Utara dengan Kabupaten Gowa dan Takalar
- Sebelah Selatan dengan Laut Flores
- Sebelah Barat dengan Kabupaten Takalar
- Sebelah Timur dengan Kabupaten Bantaeng
Kabupaten Jeneponto memiliki wilayah seluas 74.979 ha atau 749,79 km2, secara
administrasi terbagi dalam 11 kecamatan yaitu Kecamatan Bangkala, Bangkala
Barat,Tamalatea, Bontoramba, Binamu, Turatea, Batang, Arungkeke, Kelara,
Rumbia danTarowang. Kabupaten Jeneponto mempunyai panjang pantai berkisar
114 km, mencakup 6kecamatan pesisir, yakni Kecamatan : Arungkeke, Bangkala,
Batang, Binamu dan Tamalateadan Tarowang dan terdiri dari 35 desa/kelurahan
pesisir.
Kondisi topografi wilayah Kabupaten Jeneponto pada umumnya memiliki
permukaanbervariasi, ini dapat dilihat bahwa bagian utara terdiri dataran tinggi dan
bukit – bukityang membentang dari barat ke Timur dengan ketinggian 500 sampai
dengan 1.400 meterdi atas permukaan laut, sehingga daerah ini cocok bila
dijadikan sebagai arealpengembangan tanaman hortikultura dan sayur-sayuran.
Dibagian tengah KabupatenJeneponto meliputi wilayah-wilayah dataran dengan
ketinggian 100 sampai dengan 500meter di atas permukaan laut, daerah ini
memiliki nilai ekonomi yang cukup potensial untukpengembangan tanaman
perkebunan dan pertanian. Pada bagian selatan meliputi wilayahwilayahpesisir
dengan ketinggian 0 sampai 150 meter di atas permukaan laut, daerah inimemiliki
nilai ekonomi yang cukup baik bila dijadikan sebagai areal pengembangan industril
penggaraman dan daerah ini telah tumbuh usaha penggaraman rakyat.
6.1.1.2 Kondisi Meteorologi
Kondisi Meteorologi Kabupaten Jeneponto sangat dipengaruhi adanya dua musim
yangsilih berganti seperti halnya dengan keadaan musim di kabupaten lain dalam
wilayahpropinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Jeneponto mengalami 2 musim yaitu
sampai Bulan April dan musimkemarau terjadi antara Bulan Mei sampai dengan
Bulan Oktober.Jika dilihat dari curahhujan di wilayah Kabupaten Jeneponto maka
umumnya tidak merata, hal ini menimbulkanadanya wilayah basah dan wilayah
semi kering.Ditinjau dari klasifikasi iklim, maka Kabupaten Jeneponto memiliki type
iklim,yaitu :_ Type iklim D3 dan E4 yaitu wilayah tipe iklim yang mempunyai bulan
kering secarakeseluruhan berkisar 5-6 bulan sedangkan bulan basah 1-3 bulan.
Tipe iklim inimeliputi seluruh wilayah kecamatan, kecuali wilayah kecamatan Kelara
bagian
utara._ Type iklim C2 yaitu type iklim yang memiliki bulan basah 5-6 bulan dan
bulanlembab 2-4 bulan.Type ini dijumpai pada daerah ketinggian 700-1.727 m di
ataspermukaan laut (dpl) yakni pada wilayah Kecamatan Kelara dan Rumbia.
Jumlah rata – rata curah hujan pertahun di Kabupaten Jeneponto selama 5 (lima)
tahunterakhir mencapai 1.535 mm dengan rata – rata hari hujan 92 hari. Curah
hujan tertinggijatuh pada bulan Januari dan Februari sedang curah hujan terendah
yakni pada bulan Juli,Agustus, dan September.
6.1.1.3 Kondisi Geologis
Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Jeneponto terdiri dari 6 golongan jenis
tanahyaitu :_ Jenis Tanah Alluvial, jenis tanah ini terdapat di Kecamatan Bangkala
dan BangkalaBarat. Jenis Alluvial Coklat Kelabu terdapat di Kecamatan Binamu,
Turatea, danTamalatea._ Jenis Tanah Gromosal, Jenis tanah Gromosal Kelabu
terdapat di Kecamatan Bangkaladan Bangkala Barat.Jenis Gromosal Kelabu Tua
dan Hitam terdapat di KecamatanTamalatea, Bontoramba, Binamu dan Batang._
Jenis Tanah Mediteren, jenis tanah ini terdapat di Kecamatan Bangkala,
Batang,Rumbia dan Kelara.Jenis Mediteren Coklat Kemerah-merahan terdapat di
KecamatanBangkala, Tamalatea, Bontoramba, Binamu dan Kelara._ Jenis Tanah
Lotosal, di Kecamatan Bangkala, Bangkala Barat, Tamalatea dan Kelaraterdapat
Jenis Lotosal Coklat Kekuning-kuningan sedang jenis Lotosal
Kemerahmerahanterdapat di Kecamatan Kelara dan Rumbia._ Jenis Tanah Andosil
Kelabu terdapat di Kecamatan Kelara._ Jenis Tanah Regonal Kelabu terdapat di
sepuluh kecamatan dalam wilayah Kabupaten
6.1.1.4 Kondisi Penggunaan Lahan
Bila dilihat dari jenis penggunaan tanahnya (Land use) pada tahun 2009,
makapengunaan tanah yang terluas adalah lahan kering yaitu seluas 40,701 ha
atau 50,91 %. Luastanah menurut jenis penggunaannya tahun 2009 dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Luas setiap jenis penggunaan lahan di setiap kecamatan Kabupaten Jeneponto.
Sumber : RTRW kabupaten jeneponto tahun 2010-2030
6.1.2 Profil demografi
6.1.2.1 Struktur Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Struktur Umur
Penduduk merupakan salah penentu dalam meningkatkan pembangunan suatu
daerah.Jumlah penduduk kabupaten Jeneponto berdasarkan data terakhir tahun
2009 berjumlah334.175 jiwa yang tersebar di 11 kecamatan terdiri dari
perempuan sebanyak 172.761 jiwadan laki-laki sebanyak 161.414 jiwa, dengan
jumlah penduduk terbesar di KecamatanBinamu yaitu sebanyak 48.878 jiwa dan
jumlah penduduk terkecil di kecamatan Arungkekesebanyak 17.811 jiwa. Secara
Tabel 2.2
Penduduk kabupaten jeneponto menurut struktur penduduk tahun 2015
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Jeneponto, 2015
6.1.3 Profil Ekonomi
Kondisi umum perekonomian Kabupaten Jeneponto dapat diukur dalam hasil-hasil
pembangunan secara fisik maupun nonfisik, khususnya pembangunan di bidang
ekonomi.
Salah satu indikator penting yang digunakan untuk mengamati hasil pembangunan
diKabupaten Jeneponto dapat dilihat dari nilai Produk Domestik Regional Bruto (
PDRB )dengan tujuan untuk mengetahui kondisi struktur perekonomian suatu
daerah atau wilayahtertentu.
Dengan hasil perhitungan PDRB atas dasar harga yang berlaku di
KabupatenJeneponto, maka dapat dilihat hasil-hasil kontribusi yang dihasilkan oleh
beberapa sectorseperti pertanian, pertambangan dan galian, Industri pengolahan,
angkutan dan komunikasi, keuanganpersewaan & jasa perusahaan serta jasa-jasa