PETUNJUK TEKNIS, BANTUAN OPERASIONAL PENDIDIKAN (BOP)'> RAUDHATULATHFAL (RA) Edisi Revisi

51 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PETUNJUK TEKNIS

,

BANTUAN OPERASIONAL PENDIDIKAN (BOP)'

>

RAUDHATULATHFAL

(RA) Edisi Revisi

DIREKTORA T JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM

KEMENTERIAN AGAMA RI

(2)

KATAPENGANTAR

BismiIIahirrahmanirrahim

Dalam rangka mendukung pelaksanaan program pendidikan Pada Usia Dini CPAUD), Kementerian Agama meluncurkan program Bantuan Operasional Pendidikan Raudlatul Athfal (BOP RA) di seluruh Indonesia. Program BOP yang merupakan program utama Pendidikan Anak Usia Dini saat ini diharapkan mampu membantu dalam memenuhi biaya operasional Pendidikan RA dan memberikan layanan pendidikan yang terjangkau dan bermutu.

BOP yang dimaksud yaitu berupa pemberian dana langsung kepada lembaga RA (Raudlatul Athfal) yang besarnya dihitung berdasarkan jumlah siswa masing-masing RA dan satuan biaya bantuan sebesar Rp. 310.000,- Penggunaan dana BOP diutamakan untuk membantu RA dalam memenuhi biaya operasional Pendidikan.

Setelah mendapat masukan dari berbagai pihak dan menyesuaikan dengan adanya Peraturan Menteri Keuangan CPMK)nomor 168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian Negara/Lernbaga maka kami merevisi [uknis BOP RA edisi sebelumnya. [uknis BOP RA edisi revisi ini menetapkan bahwa kebebasan dari kewajiban membayar iuran dan biaya-biaya lain untuk kegiatan ekstrakurikuler siswa hanya diberikan kepada siswa RA dari keluarga tidak mampu saja mengingat BOP RA masih dinilai sangat rendah. Sedangkan mekanisme penyalurannya dan laporan pertanggungjawabannya berdasarkan pada PMKterse but.

Petunjuk teknis edisi revisi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi seluruh pengelola BOP dalam melaksanakan program BOP di raudhatul athfal. Untuk itu, kepada seluruh pengelola BOP baik di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota agar memahami dan mempedomani petunjuk teknis BOP ini dengan sebaik-baiknya dan segera mensosialisasikan ke setiap raudhatul athfal penerima dana BOP.

er 2015

endidikan Islam -'1

I

maruddin Amin,

MAt

PetunjukTeknisBOP RA

(3)

DAFTAR lSI KAT A PENGANT AR . DAFTARISI ii I. PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang... 1 B. Pengertian BOP 2 C. Tujuan BOP... 2

D. Sasaran dan Besar Bantuan BOP 2

E. Waktu Penyaluran Dana 2

F. Dasar Hukum 3

II. IMPLEMENTASI PROGRAM BOP 5

A. Rudhatul Athfal (RA) Penerima Program BOP... 5 B. Peranan Program BOP dalam Pelaksanaan Program Pendidikan... 5 C. Program BOP dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) 5

III. ORGANISASI PELAKSANA 7

A. Tugas dan Tanggungjawab Kemenag Tingkat Pusat... 7 B. Tugas dan Tanggungjawab Kemenag Tingkat Provinsi... 7 C. Tugas dan Tanggungjawab Kemenag Tingkat Kab ZKota 7

D. Tugas dan Tanggungjawab RA 8

IV. MEKANISME PELAKSANAAN BOP 9

A. Mekanisme Alokasi Dana BOP 9

B. Mekanisme Penyaluran Dana BOP 10

1. Mekanisme Penyaluran Dana BOP 10

2. Waktu Penyaluran Dana BOP 13

V. PENGGUNAAN DANA BOP RA 14

A. Komponen Pembiayaan 14

B. Larangan Penggunaan Dana BOP RA 14

C. Mekanisme Pembelian Barang/Iasa di RA 15

VI. MONITORING DAN SUPERVISI PROGRAM BOP RA 16

A. Monitoring oleh Kemenag Tingkat Pusat... 16

B. Monitoring oleh Kanwil Kemenag Provinsi 17

C. Monitoring oleh Kantor Kemenag Kab /Kota 17

VII. PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN 19

A. Pelaporan 19

B. Perpajakan 22

VIII. PENGAWASAN DAN SANKSI 25

A. Pengawasan... 25

B. Sanksi 25

IX. PENGADUAN MASYARAKAT 27

(4)

LAMPIRAN BOP

Formulir BOP-01 Surat Perjanjian Kerjasama...35.... Formulir BOP-02 Rekapitulasi Nama dan Nomor Rekening RA 36 Formulir BOP-03 Surat Pernyataan Pengiriman Nomor Rekening RA 37

Formulir BOP-04 Rencana penggunaan Dana BOP 38

Formulir BOP-OSLaporan Penggunaan Dana BOP...39... Formulir BOP-06 Rencana Kegiatan dan Anggaran RA (RKAM) 40

Formulir BOP-07 Buku Kas Umum 41

Formulir BOP-08 Buku Pembantu Kas 42

Formulir BOP-09 Surat Pernyataan Tanggungjawab Mutlak...43 Formulir BOP-10 Surat Pernyataan Penyelesaian Pekerjaan 44 Formulir BOP-11 Surat Pernyataan Penyimpanan Dokumen...45

Formulir BOP-12 Kuitansi/Bukti Pembayaran 46

Formulir BOP-13 Kuitansi/Bukti Penerimaan 47

(5)

Lampirari Keputusan Direkiur Jenderal Pendidikan Islam Nomor

Tentang Perubahari Atas Keputusan Direktur Jenderal Pendidikari Islam Nomor 421 Tahun 2015 Tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Pendidikan Raudhatul Athfal

BABI

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Raudlatul Athfal (RA) adalah lembaga pendidikan anak usia dini yang diselenggarakan melalui jalur formal. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 Tahun 2003 Bab VI Pasal 28 ayat 3 disebutkan sebagai berikut: "Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudlatul Athfal (RA) atau bentuk lainnya yang sederajat." Sedangkan PAUD diluar jalur pendidikan formal adalah antara lainplaygroup, TPA, TPQ dan sejenisnya.

Kesadaran akan pentingnya penyelenggaraan pendidikan anak usia dini dewasa ini telah tumbuh sebagai sebuah kesadaran kolektif antara masyarakat dan pemerintah. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa hampir seluruh lembaga pendidikan anak usia dini seperti RA dan sejenisnya terselenggara atas prakarsa dan swadaya masyarakat.Pertumbuhan lembaga pendidikan semacam RA semakin meninkat, begitu jugajumlah siswanya semakin bertambah. Dari data yang dimiliki oleh Direktorat [enderal Pendidikan Islam menunjukkan bahwa RA yang berjumlah 245.435,semuanya dikelola masyarakat berstatus swasta. Dimana jumlah siswanya seluruh Indonesia adalah 1.074.131 terdiri dari 538.822 (50.3%) berjenis kelamin laki-laki dan 535.309 (49.7%) merupakan siswa perempuan.

Untuk Rombongan belajarnya ada 25.435dengan jumlah siswa sebanyak 1.074.131 orang, sehingga diketahui ratio rom bel siswa sebanyak 1: 19.

Ketersediaan lembaga pendidikan anak usia dini yang memenuhi standar pelayanan minimal merupakan harapan dan tuntutan zaman yang perlu terus diupayakan. Harapan itu perlu diwujudkan dalam tataran operasional mengingat pelayanan pendidikan bagi anak usia 0-6 tahun adalah usia emas (the golden age).

Pada usia inilah merupakan titik berangkat menuju generasi muda bangsa yang bermutu dan berkualitas.

Sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan yang semakin berkembang dan adanya berbagai keterbatasan yang dimiliki RAsebagai lembaga layanan pendidikan anak usia dini, maka Direktorat [enderal Pendidikan Islam melalui Direktorat Pendidikan Madrasah mengambil langkah kongkrit dengan cara memberikan BOP RA.

Pemberian bantuan ini diharapkan dapat mendorong kreativitas Kepala RA untuk mengelola lembaga pendidikannya menjadi lebih baik sehingga akan tercapaitujuan lembaga pendidikan yang ideal. Proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan akan terwujud apabila didukung oleh program pengembangan kesiswaan dan disertai oleh dukungan sarana prasarana yang menunjang. Diharapkan juga bahwa dengan bantuan operasional tersebut dapat meluluskan

(6)

perserta didik yang berkualitas dan kompetitif sebagai row input calon siswa MI yang bermutu.

Untuk terlaksananya BOP RA dengan tertib, tepat sasaran, tepat guna dan akuntabel perlu disusun suatu petunjuk teknis pelaksanaan yang dapat dipergunakan sebagai acuan dalam melaksanakan program Peningkatan Kompetensi Daya Saing Siswa RA

B. Pengertian BOP

BOP adalah program pemerintah berupa pemberian dana langsung kepada RA yang besarnya dihitung berdasarkan jumlah siswa pada masing-masing RA.

BOP dapat digunakan oleh RA untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional non personalia dengan jenis pengeluaran atau biaya sebagaimana diatur Permendiknas No.69 Tahun 2009. Namun demikian, ada beberapa jenis pembiayaan investasi dan personalia yang diperbolehkan dibiayai dengan dana BOP. Secara detil jenis kegiatan yang boleh dibiayai dari dana BOP dibahas pada bagian penggunaan dana BOP.

C.

Tujuan BOP

Secara umum program BOP bertujuan untuk mewujudkan layanan pendidikan yang terjangkau dan bermutu bagi semua lapisan masyarakat dalam rangka mendukung Program PAUO

Secara khusus program BOP bertujuan untuk: 1) Membantu biaya operasional RA

2) Mengurangi angka putus sekolah pada RA.

3) Meningkatkan Angka partisipasi Kasar (APK) siswa RA;

4) Mewujudkan keberpihakan pemerintah (affirmative action) bagi siswa RA dari keluarga tidak mampu dengan membantu (discountfee) tagihan biaya sekolah. 5) Memberikan kesempatan yang setara (equal opportunity) bagi siswa kurang

mampu pada RA untuk mendapatkan layanan pendidikan yang terjangkau dan bermutu.

D.Sasaran Program dan Besar Bantuan BOP

Sasaran program BOP adalah semua RA di seluruh Indonesia yang telah memiliki izin operasional.

Besar biaya satuan BOP yang diterima oleh RA dihitung berdasarkan jumlah siswa per RA dengan besaran Rp 310.000,-/siswa/tahun. [umlah besaran tersebut disalurkan dalam satu periode.

E. Waktu Penyaluran

Dana

Pada Tahun Anggaran 2015, dana BOP akan diberikan selama 12 bulan untuk periode [anuari sampai Desernber 2015, dapat dicairkan satu kali tahapan atau lebih dalam setahun.

(7)

F. Dasar Hukum

Dasar hukum pemberian BOP adalah:

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);

2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);

3. Undang-Undang Nomor 27 tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 259, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5593) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 44. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5669);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 45,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 567);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4864);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5105) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelengaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5157);

7. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Iasa Pemerintah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Iasa Pemerintah; 8. Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2015 tentang Kementerian Agama;

9. Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama ;

10. Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Kementerian Agama;

(8)

11. Peraturan Menteri Agama Nomor 90 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah;

12. Peraturan Menteri Agama Nomor 45 Tahun 2014 tentang Pejabat Perbendaharaan pada Kementerian Agama;

13. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168jPMK05j2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian NegarajLembaga;

(9)

BAB II

IMPLEMENTASIPROGRAM

BANTUAN OPERASIONAL PENDIDIKAN RAUDLATUL ATHFAL (RA) A. Raudlatul Athfal (RA) Penerima Program BOP

1. RA penerima dana BOP berkewajiban untuk mengisi data individual secara online ke website EMISatau manual ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi; 2. Sebagai wujud keberpihakan terhadap siswa RA atas pengalokasian dana BOP, RA

penerima program BOP untuk membantu (discount fee) siswa RA dari keluarga tidak mampu dari kewajiban membayar iuran dan biaya-biaya untuk kegiatan ekstrakurikuler lainnya;

3. RA yang menolak menerima dana BOP harus diputuskan melalui persetujuan orang tua siswa melalui Komite dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota serta tetap menjamin kelangsungan pendidikan siswa miskin di RA terse but; 4. Seluruh RA yang menerima program BOP harus mengikuti pedoman yang telah

ditetapkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

B. Peranan Program BOP dalam Pelaksanaan Program Pendidikan

Program BOP merupakan salah satu program utama pemerintah yang bertujuan untuk mendukung keberhasilan program PAUD di Indonesia. Mengingat pentingnya program ini, seluruh pengelola pendidikan RA wajib memperhatikan hal-hal berikut:

1.Program ini memberikan kesempatan yang setara (equal opportunity)

bagi seluruh siswa RA untuk mendapatkan layanan pendidikan yang terjangkau dan bermutu;

2. Program ini menjadi saran a penting untuk meningkatkan akses layanan pendidikan anak usia dini yang terjangkau dan bermutu;

3. Program mi mempersempit gap partisipasi RA antar kelompok penghasilan (kaya-miskin) dan antar wilayah (kota-desa);

4. Program ini menyediakan sumber dana bagi RA untuk mencegah siswa putus sekolah karena alasan tidak mampu membayar iuran pendidikan dan biaya ekstrakurikuler;

5. Program ini mendorong dan memberikan motivasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk memberikan dukungan dalam pengembangan RA.

C. Program BOP dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Program BOP memberikan dukungan kepada RA untuk menyusun perencanaan, pengelolaan, dan pengawasan program yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing RA. Pelaksanaan program ini dilaksanakan secara demokratis, transparan, dan akuntabel yang dilaksanakan secara bersama antara pihak RA, Komite, dan anggota masyarakat.

(10)

Pengelolaan program BOP menjadi kewenangan RA secara mandiri dengan melibatkan Kepala RA, Dewan Guru dan Komite RA. Penggunaan dana BOP semata-mata ditujukan hanya untuk kepentingan peningkatan layanan pendidikan pada lembaga RA.

Melalui program BOP ini, warga RA diharapkan dapat lebih mengembangkan RA dengan memperhatikan hal-hal berikut:

1. RA mengelola dana secara profesional, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

2. BOP harus menjadi sarana penting untuk meningkatkan pemberdayaan RA dalam rangka peningkatan akses, mutu, dan manajemen RA.

(11)

BAB III

ORGANISASIPELAKSANA

Program BOP dikelola secara terpadu oleh Direktorat Pendidikan Madrasah, Kanwil Kemenag Provinsi dan KanKemenag Kota/Kabupaten. Dengan demikian, maka proses pendataan, pencairan, dan penyaluran dana BOP dikelola oleh Kankemenag Kot a/Kabupaten, Kanwil Kemenag Provinsi dan Direktorat Pendidikan Madrasah pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

A. Tugas dan Tanggungjawab Kementerian Agama Tingkat Pusat

1. Menyusun rancangan program;

2. Menetapkan alokasi dana dan sasaran tiap Provinsi;

3. Merencanakan dan melakukan sosialisasi program;

4. Melakukan penyusunan dan sosialisasi petunjuk teknis pelaksanaan program

BOP;

5. Menyusun database RA tingkat nasional;

6. Merencanakan dan melaksanakan monitoring dan evaluasi;

7. Memberikan pelayanan dan penanganan pengaduan masyarakat;

8. Memonitor perkembangan penyelesaian penanganan pengaduan yang

dilakukan oleh Tim Manajemen BOP Provinsi;

9. Melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan kepada instansi terkait.

B. Tugas dan Tanggungjawab Kementerian Agama Tingkat Provinsi

1. Menetapkan alokasi dana BOP pada tingkat kabupaten/kota;

2. Melakukan koordinasi dengan Kasi Pendidikan Madrasah Kabupaten/Kota

dalam rangka penyaluran dana BOP RA;

3. Mempersiapkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) sesuai dengan

dana dan kegiatan yang telah ditetapkan;

4. Mempersiapkan dan menyusun anggaran BOP ke dalam DIPA Kanwil sesuai

dengan Akun dan peruntukannya;

5. Merencanakan dan melakukan sosialisasi program BOP di tingkat provinsi;

6. Melakukan pendataan penerima bantuan;

7. Menyalurkan dana ke RA sesuai dengan kuota yang ditetapkan

8. Merencanakan dan melaksanakan monitoring dan evaluasi;

9. Memberikan pelayanan dan penanganan pengaduan masyarakat;

10. Melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan kepada Direktorat Pendidikan

Madrasah dan instansi terkait.

C. Tugas dan Tanggungjawab Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota

1. Menetapkan alokasi dana BOP untuk setiap raudhatul athfal;

2. Melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada raudhatul athfal penerima

BOP;

3. Melakukan pendataan raudhatul athfal;

4. Melakukan koordinasi dengan Bidang Pendidikan Madrasah/TOS Kanwil

Kemenag Provinsi dan dengan raudhatul athfal dalam rangka penyaluran

dana;

S. Merencanakan dan melaksanakan monitoring dan evaluasi;

(12)

6. Melaporkan pelaksanaan program BOP kepada Bidang Pendidikan Madrasah/TOS Kanwil Kemenag Provinsi;

7. Mengumpulkan data dan laporan dari raudhatul athfal;

8. Memberikan pelayanan dan penanganan pengaduan masyarakat;

9. Bertanggungjawab terhadap kasus penyalahgunaan dana di tingkat kabupaterr/kcta:

10. Melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan kepada Bidang Pendidikan Madrasah/TOS Kanwil Kemenag Provinsi dan instansi terkait;

D. Tugas dan Tanggungjawab

Raudhatul

Athfal

1.

Penanggungjawab

Kepala Raudhatul Athfal

2.

Anggota

a. Pendidik yang ditugaskan oleh Kepala Raudhatul Athfal untuk bertanggung jawab dalam mengelola dana BOP

b. Satu orang dari unsur Komite RA

Adapun tugas dan tanggungjawab raudhatul athfal

1. Memberitahukan kepada Kantor Kemenag Kab/Kota setelah dana BOP diterima;

2. Bersama-sama dengan Komite RA, mengidentifikasi siswa miskin yang akan dibebaskan dari segala jenis iuran;

3. Mengelola dana BOP secara bertanggungjawab dan transparan;

4. Mengumumkan daftar komponen yang boleh dan yang tidak boleh dibiayai oleh dana BOP serta rencana penggunaan dana BOP di raudhatul athfal menurut komponen dan besar dananya di papan pengumuman madrasah;

5. Mengumumkan besar dana BOP yang digunakan oleh raudhatul athfal di papan pengumuman raudhatul athfal yang ditandatangani oleh Kepala raudhatul athfal, Bendahara, dan Komite RA;

6. Membuat laporan bulanan pengeluaran dana BOP dan barang-barang yang dibeli oleh raudhatul athfal yang ditandatangani oleh Kepala raudhatul athfal, Bendahara, dan Komite RA (lihat pertanggungjawaban keuangan BOP);

7. Bertanggungjawab terhadap penyimpangan penggunaan dana di raudhatul athfal;

8. Memberikan pelayanan dan penanganan pengaduan masyarakat;

9. Menyampaikan laporan penggunaan dana BOP kepada Kantor Kemenag Kab/Kota.

(13)

BABIV

MEKANISME PELAKSANAAN BOP

A. Mekanisme Alokasi Dana BOP

Pengalokasian dana BOP dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

8. Direktorat Pendidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

mengumpulkan data jumlah siswa raudhatul athfal pada tiap Provinsi yang telah dikirimkan melalui EMIS Kanwil Kementerian Agama dengan format yang dilengkapi nama, tempat tanggal lahir, alamat, dan data lainnya sebagaimana format isian yang disediakan oleh EMIS Direktorat Jenderal Pendidikan Islam;

b. Atas dasar data jumlah siswa raudhatul athfal pada tiap provinsi berbasis

EMIS Direktorat Jenderal Pendidikan Islam tersebut, Direktorat

Pendidikan Madrasah menetapkan alokasi dana BOP untuk madrasah

pada tiap provinsi yang dituangkan dalam DIPA Kanwil Kementerian

Agama Provinsi atau Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota;

c. Setelah menerima alokasi dana BOP dari Direktorat Jenderal Pendidikan

Islam, Bidang Madrasah/TOS Kanwil Kementerian Agama Provinsi dan

Seksi Madrasah/TOS Kantor Kementerian Agama Kabupaterr/Kota

melakukan verifikasi ulang data jumlah siswa tiap raudhatul athfal sebagai dasar dalam menetapkan alokasi dana BOP di tiap raudhatul ath-fal;

Dalam menetapkan alokasi dana BOP tiap raudhatul athfal perlu

dipertimbangkan bahwa dalam satu tahun anggaran terdapat dua periode tahun pelajaran yang berbeda, sehingga perlu acuan sebagai berikut:

a. Alokasi dana BOP untuk periode Januari-Juni 2015 didasarkan pada jumlah siswa semester kedua tahun pelajaran 2014/2015.

b. Alokasi dana BOP untuk periode [uli-Desernber 2015 didasarkan pada da-ta jumlah siswa semester pertama tahun pelajaran 2015/2016. Oleh ka-rena itu setiap raudhatul athfal harus segera menyerahkan Surat Perjan-jian Pemberian Bantuan kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kanwil Kementerian Agama Provinsi atau Kantor Kementerian Agama Kabupat-en /Kota setelah masa pendaftaran siswa baru tahun 2015 selesai.

(14)

--- ---- ---

---B.Mekanisme Penyaluran Dana BOP RA 1.Mekanisme Penyaluran Dana BOP

Penyaluran dana BOP RA dilakukan oleh Kanwil Kementerian Agama Provinsi atau Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota. Pencairan dana BOP RA dapat dilakukan melalui mekanisme pembayaran langsung (LS) ke rekening RA sebagai penerima bantuan operasional, atau dengan pembayaran Uang Persediaan (UP).

1.1. Penetapan Pejabat Perbendaharaan

a. Dalam hal DIPA dana BOP RA dialokasikan pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi:

- Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atas DIPA dimaksud dapat menetapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) khusus pencairan dana BOP pada masing-masing Kantor Kementerian Agama Kabupaten /Kcta melalui Surat Keputusan.

- Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi selaku kepala satuan kerja (satker) dapat mengangkat Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) pada masing-masing Kantor Kementerian Agama Kabupateri/Kota melalui Surat Keputusan. b. Dalam hal DIPA dana BOP RA dialokasikan pad a Kantor

Kementerian Agama Kabupaterr/Kota:

- Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atas DIPA dimaksud dapat menetapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) khusus pencairan dana BOP lebih dari 1 (satu) orang sesuai kebutuhan melalui Surat Keputusan.

- Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota selaku kepala satuan kerja (satker) dapat mengangkat Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) khusus pencairan dana BOP lebih dari 1 (satu) orang sesuai kebutuhan melalui Surat Keputusan. 1.2. Syarat penyaluran dana BOP RA adalah:

a. Dalam pengajuan pencairan dana BOP, lembaga RA menyampaikan Rencana Kegiatan dan Anggaran RA (RKARA);

b. Laporan pertanggungjawaban penggunaan dana BOP yang telah diterima oleh RA pada tahap sebelumnya, seluruhnya harus sudah diserahkan kepada PPK sebagai dokumen laporan;

c. Diterbitkannya Surat Keputusan PPK tentang Penetapan Penerima Bantuan Operasional RA yang disahkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran;

d. Atas nama KPA, PPK membuat Surat Perjanjian Kerjasama (For-mulir BOP-Ol) dengan Kepala RA sebagai penerima dana BOP, yang memuat hak dan kewajiban antara kedua belah pihak;

e. PPK mengesahkan/menyetujui pengiriman dana BOP kepada RA yang dituangkan dalam bentuk kuitansi/bukti penerimaan;

f. Kepala RA menyerahkan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) kepada PPK;

(15)

1.3. Peyaluran dana BOP RA dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi atau Kantor Kemenag KabupatenjKota dengan tahap-tahap sebagai berikut :

1.3.1. Pembayaran Langsung (LS)

a. Mekanisme pencairan BOP RA dapat menggunakan mekanisme pembayaran langsung (LS) dalam bentuk uang kepada RA melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN);

b. PPK melakukan pengujian dokumen permohonan pencairan dana BOP yang diajukan RA sesuai dengan Petunjuk Teknis;

c. PPK menerbitkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) setelah Surat Perjanjian Kerjasama ditandatangani oleh kedua belah pihak, menerbitkan SK PPK tentang penerima bantuan, menerima SPTJM dari Kepala RA, dan kuitansi bukti penerimaan telah ditandatangani oleh Kepala RA dan disahkan oleh PPK;

d. Dalam hal pengujian tidak sesuai dengan Petunjuk Teknis BOP RA, PPK menyampaikan informasi kepada RA untuk melengkapi dan memperbaiki dokumen permohonan;

e. Kuasa Pengguna Anggaran menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM) yang ditujukan kepada KPPN berdasarkan pengajuan SPP dari PPK;

1.3

.

2.

Pembayaran Uang Persediaan (UP)

a. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) mengajukan permintaan UPjTUP kepada Kepala KPPN setempat;

b. Dalam hal dibutuhkan, KPA dapat mengajukan persetujuan besaran UP melampaui besaran yang ditetapkan sesuai pa-gu DIPA kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan berdasarkan pengajuan rekapitulasi RKARA dari BPP kepada BP;

c. Pembayaran sampai dengan Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) kepada satu penyedia barangjjasa dapat menggunakan mekanisme UPjTUP melalui PPK dan BPP khusus dana BOP;

d. Dalam hal pembayaran kepada satu penyedia barangjjasa

melebihi Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) tidak dapat dilakukan dengan LS, dapat dilakukan dengan UP oleh PPK setelah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Perbendaharaan atas permintaan KPA;

e. Bendahara Pengeluaran mentransfer dana UPjTUP kepada BPP khusus BOP melalui rekening sesuai kebutuhan mengacu pada RKARA;

f. Penyaluran dana UP kepada BPP oleh BP dilakukan ber-dasarkan Surat Perintah Bayar (SPBy) yang ditandatangani PetunjukTeknisBOP RA

(16)

--

---

---oleh PPK atas nama KPA yang dilampiri rincian kebutuhan dana masing-masing BPP;

g. Setiap BPP mengajukan penggantian UP melalui BP apabila UP yang dikelolanya telah dipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen) sehingga BP dapat melakukan penggantian (revolving) UP yang telah digunakan sepanjang dana yang dapat dibayarkan dengan UP masih tersedia dalam DIPA;

h. Untuk BP yang dibantu oleh beberapa BPP, dalam pengajuan UP ke KPPN harus melampirkan daftar rincian yang menyatakan jumlah uang yang dikelola oleh masing-masing BPP;

i, Setiap pembayaran UP/TUP oleh BPP berdasarkan Surat Perintah Bayar (SPBy) yang ditandatangani oleh PPK atas nama KPA. SPBy tersebut harus dilampiri bukti-bukti pengeluaran berupa kuitansi/bukti pembelian, faktur pajak dan SSP, dan nota/buktt penerimaan barang /jasa atau dokumen pendukung lainnya yang diperlukan yang disetujui/disahkan oleh PPK;

j. KPA dapat mengajukan TUP kepada kepala KPPN dalam hal sisa UP pada BP tidak cukup tersedia dengan syarat digunakan dan dipertanggungjawabkan paling lama satu bulan sejak tanggal SP2 0 diterbitkan;

k. Apabila penggunaan dan pertanggungjawaban TUP tidak dapat dilakukan dalam waktu 1 (satu) bulan, KPA dapat mengajukan perpanjangan waktu pertanggungjawaban kepada kepala KPPN hingga satu bulan berikutnya;

I. Jika diperlukan dapat dilakukan mekanisme uang muka dengan menyalurkan dana UP/TUP oleh BP/BPP kepada pihak RA berdasarkan Surat Perintah Bayar (SPBy) yang ditandatangani oleh BP/BPP, Kepala RA, dan PPK atas nama KPA dengan memperhatikan batas waktu pertanggungjawaban.

m. Lembaga RA dapat membelanjakan sendiri atas uang muka tersebut sesuai RKARA yang telah diajukan dengan mern-perhatikan akuntabilitas laporan pertanggungjawaban.

n. Dalam rangka pelaksanaan mekanisme pencairan dana BOP dengan uang muka tersebut berdasarkan SPBy dilampiri:

Rencana pelaksanaan kegiatan/pembayaran. Rincian kebutuhan dana.

Batas waktu pertanggungjawaban penggunaan uang muka kerja.

o. Pengajuan pembayaran UP/TUP tahap berikutnya, BPP

harus menyiapkan bukti-bukti laporan

pertanggungjawaban kepada BP terhadap UP/TUP yang telah dibayarkan sebelumnya;

(17)

p. Atas penyaluran dana UP/TUP kepada BPP oleh BP, harus disertai kuitansi/bukti penerimaan atas penyaluran dana UP/TUP (bukti transfer) sebanyak 2 (dua) lembar dengan ketentuan lembar kesatu disampaikan kepada BPP sebagai bukti bahwa dana UP/TUP telah diterima oleh BPP dan lembar kedua disimpan oleh Bendahara Pengeluaran.

2.

Waktu Penyaluran

dana BOP

RA:

Penyaluran dana BOP RA tahun Anggaran 2015 yang ada di Satuan Kerja, penyalurannya dapat dilakukan dalam satu tahap atau lebih. [ika pada akhir tahun anggaran terdapat sis a dana BOP yang ada di rekening RA harus disetorkan ke kas negara.

(18)

BAB V

PENGGUNAAN DANA BOP RA

A. Komponen

Pembiayaan

Dana BOP RA yang diterima oleh RA dapat digunakan untuk membiayai komponen kegiatan-kegiatan sebagaimana berikut:

1. Pengembangan perpustakaan 2. Pembelian alat peraga edukatif 3. Pembelian bahan habis pakai

4. Kegiatan pembelajaran dan ekstra kurikuler siswa 5. Langganan daya dan jasa lainnya

6. Kegiatan penerimaan siswa baru

7. Biaya pemantauan/pendeteksian tumbuh kembang anak 8. Biaya Peningkatan gizi anak atau pemberian makan tambahan 9. Penyusunan dan pelaporan

10. Pembelian perangkat pengolahan data 11. Perawatan sarana dan prasarana RA 12. Pengembangan profesi guru

Dalam menggunakan dana BOP,RA harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Prioritas utama penggunaan dana BOP adalah untuk kegiatan operasional RA; 2. Bagi RA yang telah menerima dana bantuan yang lain, tidak diperkenankan

menggunakan dana BOP untuk peruntukan yang sarna. Sebaliknya jika dana BOP tidak mencukupi untuk pembelanjaan yang diperbolehkan, maka RA dapat mempertimbangkan sumber pendapatan lain yang diterima oleh lembaganya;

3. Biaya transportasi dan uang harian bagi guru yang bertugas di luar jam mengajar harus mengikuti peraturan yang berlaku.

B. Larangan

Penggunaan

Dana

BOP RA

1. Disimpan dengan maksud dibungakan;

2. Dipinjamkan kepada pihak lain; 3. Membeli Lembar Kerja Siswa (LKS);

4. Membeli software /perangkat lunak untuk pelaporan keuangan BOP atau software sejenis;

5. Membiayai kegiatan yang tidak menjadi prioritas madrasah dan memerlukan biaya besar, misalnya studi banding, studi tour (karya wisata) dan sejenisnya;

6. Membayar bonus dan transportasi rutin untuk guru;

7. Membeli pakaian/seragam/sepatu bagi

gu

r

u/siswa

untuk kepentingan pribadi (bukan inventaris raudhatul athfal), kecuali untuk siswa miskin; 8. Digunakan untuk rehabilitasi sedang dan berat;

(19)

- -

--

---9. Membangun gedung/ruangan baru; 10. Membeli baharr/peralatan yang

pembelajaran;

11. Menanamkan saham;

12. Membiayai kegiatan yang telah dibiayai dari sumber dana pemerintah pusat atau pemerintah daerah secara penub /wajar:

13. Membiayai kegiatan dalam rangka mengikuti

pelatihan/sosialisasi/pendampingan terkait program BOP/perpajakan program BOP yang diselenggarakan lembaga di luar Kementerian Agama.

tidak mendukung proses

C.

Mekanisme

Pembelian

Barang/Jasa

di RA

Pembelian barang /jasa dilakukan oleh RA dengan ketentuan:

1. Menggunakan prinsip keterbukaan dan ekonomis dalam menentukan barang dan tempat pembeliannya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, dengan cara membandingnkan harga penawaran dari penyedia

barang/jasa

dengan harga pasar dan melakukan negosiasi; 2. Memperhatikan kualitas

barang/jasa,

ketersediaan, dan kewajaran harga

serta tepat guna;

3. Membuat laporan singkat tertulis tentang penetapan penyedia barang/jasa:

4. Diketahui oleh Komite RA;

(20)

BAB VI

MONITORING DAN SUPERVISI PROGRAM BOP

Bentuk kegiatan monitoring dan supervisi adalah melakukan pemantauan, pembinaan dan penyelesaian masalah terhadap pelaksanaan program BOP. Secara umum tujuan kegiatan ini adalah untuk meyakinkan bahwa dana BOP diterima oleh yang berhak dalam jumlah, waktu, cara, dan penggunaan yang tepat.

Komponen utama yang dimonitor antara lain:

1.Alokasi dana BOP pada RA penerima bantuan; 2. Penyaluran dan penggunaan dana BOP;

3. Pelayanan dan penanganan pengaduan masalah BOP; 4. Administrasi keuangan BOP;

5. Pelaporan serta pengumuman rencana penggunaan dana BOP.

Selain itu juga dilakukan monitoring terhadap pelayanan dan penanganan pengaduan, sehingga pelayanan pengaduan dapat ditingkatkan. Dalam pelaksanaannya, monitoring pengaduan dapat dilakukan bekerjasama dengan lembaga-lembaga terkait. Kegiatan ini dilakukan dengan mencari fakta, menginvestigasi, menyelesaikan masalah, dan mendokumentasikan.

Pelaksanaan kegiatan monitoring dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Madrasah dan Kanwil Kementerian Agama Provinsi dan Kantor Kementerian Agama KabupatenjKota.

A.Monitoring oleh Kementerian Agama Tingkat Pusat 1. Monitoring Pelaksanaan Program

a. Monitoring ditujukan untuk memantau: 1) Penyaluran dan penyerapan dana BOP

2) Kinerja Kanwil Kementerian Agama Provinsi

b. Responden adalah Kanwil Kementerian Agama Provinsi;

c. Monitoring dilaksanakan pada saat persiapan penyaluran dana, pada saat penyaluran dana dan pasca penyaluran dana;

d. Merencanakan dan membuat jadual monitoring dengan mempertimbangkan monitoring yang telah dilaksanakan oleh Kanwil Kementerian Agama Provinsi.

2. Monitoring Kasus Pengaduan dan Penyelewengan Dana

a. Monitoring kasus pengaduan ditujukan untuk melakukan fact finding, investigasi, menyelesaikan masalah yang muncul di lapangan dan mendokumentasikannya;

b. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pelayanan dan penanganan pengaduan masalah BOP;

(21)

c. Kerjasama dengan lembaga-Iembaga terkait dalam menangani pengaduan dan penyimpangan yang akan dilakukan sesuai kebutuhan; d. Responden disesuaikan dengan kasus yang terjadi;

e. Kegiatan monitoring kasus pengaduan akan dilaksanakan sesuai dengan masalah dan kebutuhan di lapangan.

Pengaduan ke Kementerian Agama BOPkemenagpusat@gmail.com

Pusat melalui email

B. Monitoring oleh Kanwil Kementerian

Agama Provinsi

1. Monitoring Pelaksanaan

Program

a. Monitoring ditujukan untuk memantau:

1) Penyaluran dan penyerapan dana BOP di raudhatul athfal 2) Penggunaan dana BOP di tingkat raudhatul athfal

b. Responden terdiri dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, raudhatul athfal, murid dan/atau orang tua murid penerima bantuan; c. Monitoring dilaksanakan pada saat persiapan penyaluran dana, pada

saat penyaluran dana dan pasca penyaluran dana;

d. Merencanakan dan membuat jadual monitoring dengan mempertimbangkan monitoring yang telah dilaksanakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupateri/Kota atau oleh Kementerian Agama Tingkat Pusat.

2. Monitoring Kasus Pengaduan dan Penyelewengan

Dana

a. Monitoring kasus pengaduan ditujukan untuk melakukan fact finding, investigasi, menyelesaikan masalah yang muncul di lapangan dan mendokumentasikannya;

b. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pelayanan dan penanganan pengaduan masaah BOP;

c. Kerjasama dengan lembaga terkait dalam menangani pengaduan dan penyimpangan yang akan dilakukan sesuai kebutuhan;

d. Responden disesuaikan dengan kasus yang terjadi;

e. Kegiatan monitoring kasus pengaduan akan dilaksanakan sesuai dengan masalah dan kebutuhan di lapangan.

C.

Monitoring oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota

1. Monitoring Pelaksanaan

Program

a. Monitoring ditujukan untuk memantau:

(22)

-_

---1) Penyaluran dan penyerapan dana di raudhatul athfal 2) Penggunaan dana di tingkat raudhatul athfal

b. Responden terdiri dari raudhatul athfal, murid dan/atau orangtua murid;

c. Monitoring dilaksanakan pada saat penyaluran dana dan pasca penyaluran dana;

d. Merencanakan dan membuat jadwal monitoring dengan mempertimbangkan monitoring yang telah dilaksanakan oleh Kanwil Kementerian Agama Provinsi atau oleh Kementerian Agama Tingkat Pus at;

e. Monitoring dapat melibatkan Pengawas Madrasah secara terintegrasi dengan kegiatan pengawasan lainnya oleh Pengawas Madrasah.

2. Monitoring

Penanganan

Pengaduan

a. Monitoring penanganan pengaduan bertujuan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang muncul di raudhatul athfal.

b. Kerjasama dengan lembaga terkait dalam menangani pengaduan dan penyimpangan yang akan dilakukan sesuai kebutuhan.

c. Responden disesuaikan dengan kasus yang terjadi.

(23)

BAB VII

PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN

Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban dalam pelaksanaan program BOP RA,masing-masing pengelola program di tiap tingkatan (pusat, Provinsi/Kabupaten/Kota diwajibkan untuk melaporkan hasil kegiatannya kepada pihak terkait.

A. Pelaporan

1.Tingkat RA

a. Rencana Kegiatan dan Anggaran RA(RKARA)

Rencana Kegiatan dan Anggaran RA (RKARA) harus memuat rencana penerimaan dan rencana penggunaan uang dari semua sumber dana yang diterima RA. RKARA ini harus ditandatangani oleh Kepala RA dan diketahui oleh Ketua Yayasan atau Komite RA. Dokumen ini dis imp an di RA dan diperlihatkan kepada pengawas, Kepala Seksi RA, dan para pemeriksa lainnya apabila diperlukan.

RKARA dibuat setahun sekali pada awal tahun pelajaran, namun demikian perlu dilakukan revisi pada semester kedua. Oleh karena itu, RA dapat membuat Formulir tahunan yang dirinci per semester sebagaimana Formulir BOP-06.

RKARA perlu dilengkapi dengan rencana penggunaan secara rinci yang dibuat tahunan dan semesteran untuk setiap sumber dana yang diterima RA.

b. Pembukuan

RA diwajibkan membuat pembukuan dari dana yang diperoleh RA khusus untuk program BOP. Buku yang digunakan adalah sebagai berikut:

1) Buku Kas Umum (Formulir BOP-a?)

Buku Kas Umum disusun untuk masing-masing rekening bank yang dimiliki oleh RA. Pembukuan dalam Buku Kas Umum meliputi semua transaksi eksternal, yaitu yang berhubungan dengan pihak ketiga yang meliputi:

i) Kolom Penerimaan: dari penyalur dana (BOP atau sumber dana lain), penerimaan dari pemungutan pajak, dan penerimaan jasa giro dari bank.

i) Kolom Pengeluaran: pembelian barang dan jasa, biaya administrasi bank, pajak atas hasil dari jasa giro dan setoran pajak.

Buku Kas Umum ini harus diisi pad a tiap transaksi (segera setelah transaksi tersebut terjadi dan tidak menunggu terkumpul satu minggu/bulan). Transaksi yang dicatat dalam Buku Kas Umum juga harus dicatat dalam buku pembantu, yaitu Buku Pembantu Petunjuk Teknis BOP RA

(24)

Kas, Buku Pembantu Bank, dan Buku pembantu Pajak. Formulir yang telah diisi ditandatangani oleh Bendahara BOP dan Kepala RA.

Dokumen ini disimpan di RA dan diperlihatkan kepada pengawas RA, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kah/Kota, dan para pemeriksa lainnya apabila diperlukan.

2) Buku Pembantu Kas (Formulir BOP-08)

Buku Pembantu Kas mempunyai fungsi untuk mencatat transaksi penerimaan dan pengeluaran yang dilaksanakan secara tunal. Buku Pembantu Kas ini harus mencatat tiap transaksi dan ditandatangani oleh Bendahara dan Kepala RA. Dokumen ini disimpan di RA dan diperlihatkan kepada pengawas,Seksi RA Kan-tor Kementerian Agama Kab /Kota, dan para pemeriksa lainnya apabila diperiukan.

Terkait dengan pembukuan dari dana yang diperoleh RA untuk program BOP, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Pembukuan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran dapat dilakukan dengan tulis tangan atau menggunakan komputer. Dalam hal pembukuan dilakukan dengan komputer, bendahara wajib mencetak Buku Kas Umum dan buku-buku pembantu sekurang-kurangnya sekali dalam satu bulan dan menatausahakan hasil cetakan Buku Kas Umum dan buku-buku pembantu bulanan yang telah ditandatangani Kepala RA dan Bendahara RA;

2) Semua transaksi penerimaan dan pengeluaran dicatat dalam Buku Kas Umum dan Buku Pembantu yang rei evan sesuai dengan urutan tanggal kejadiannya;

3) Setiap akhir bulan, Buku Kas Umum dan Buku Pembantu ditutup oleh Bendahara dan diketahui oleh Kepala RA;

4) Uang tunai yang ada di Kas Tunai tidak lebih dari Rp 10 juta;

5) Apabila ada kesalahan atas penulisan angka/huruf, maka yang salah agar dicoret dengan dua garis rapih, sehingga tulisan yang semula salah masih dapat dibaca kemudian diparaf;

6) Apabila dalam satu bulan berjalan tidak/belum terjadi transaksi pengeluaran/ penerimaan, maka tetap ada pembukuan dalam bulan tersebut dengan uraian NIHIL dan ditandatangani oleh Bendahara dan diketahui oleh Kepala RA;

7) Apabila bend ahara meninggalkan tempat kedudukannya atau berhenti dari jabatannya, Buku Kas Umum dan buku pembantunya serta bukti-bukti pengeluaran harus diserahterimakan kepada pejabat yang baru dengan Berita Acara Serah Terima.

(25)

c. Bukti Pengeluaran

i. Setiap transaksi pengeluaran harus didukung dengan bukti kwitansi yang sah;

ii. Bukti pengeluaran uang dalam jumlah tertentu harus dibubuhi materai yang cukup sesuai dengan ketentuan bea materai. Untuk transaksi dengan nilai sampai Rp 250.000,- tidak dikenai bea meterai, sedang transaksi dengan nilai nominal antara Rp 250.000,- sampai dengan Rp 1.000.000,- dikenai bea meterai dengan tarif sebesar Rp 3.000,- dan transaksi dengan nilai nominal lebih besar dari Rp 1.000.000,- dikenai bea meterai dengan tarif sebesar Rp 6.000,-;

iii. Uraian pembayaran dalam kuitansi harus jelas dan terinci sesuai dengan peruntukannya;

iv. Uraian tentang jenis barang/jasa yang dibayar dapat dipisah dalam bentuk faktur sebagai lampiran kuitansi;

v. Setiap bukti pembayaran harus disetujui Kepala RA dan lunas dibayar oleh Bendahara;

vi. Segala jenis bukti pengeluaran harus disimpan oleh RA sebagai bahan bukti dan bahan laporan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh Tim Manajemen BOP:

a. Rekapitulasi penggunaan dana BOP harus dilaporkan oleh setiap RA ke Tim Manajemen BOPKemenag Provinsi, Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kab /Kota. Laporan lengkap penggunaan dana BOP disimpan di RA untuk bahan pemeriksaan, tetapi dapat juga dijadikan sebagai syarat pencairan pada semester berikutnya sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh masing-masing Tim Manajemen BOP Provinsi.

b. Laporan kegiatan dan pertanggungjawaban selama satu tahun anggaran disampaikan kepada Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kemen-terian Agama Kabupaten/Kot a paling lambat tanggal 15 Januari tahun berikutnya.

2. Tingkat Provinsi / Seksi Pendidikan Madrasah Kabupaten/Kota

Hal-hal yang perlu dilaporkan dari Tim Manajemen BOP provinsi Seksi Pendidikan Madrasah Kabupaten/Kota adalah:

a. Rekapitulasi penggunaan dana BOP dari sisi pembelajaan (expenditure) barang atau kegiatan yang diperbolehkan digunakan dari dana BOP pada tiap kabupaterr/kota.

b. Rekapitulasi penggunaan dana BOP dari sisi penerimaan (revenue) siswa RA terhadap dana BOP pada tiap kabupaterr/kcta sebagaimana.

(26)

3.

Tingkat Pusat

Hal-hal yang perlu dilaporkan dari Direktorat Pendidikan Madrasah adalah:

a. Rekapitulasi penggunaan dana BOP dari SISI pembelanjaan

(expenditure) barang atau kegiatan yang diperbolehkan digunakan dari dana BOP pada tiap provinsi.

b. Rekapitulasi penggunaan dana BOP dari sisi penerimaan (revenue) siswa RA terhadap dana BOP pada tiap provinsi.

B. Perpajakan

Ketentuan peraturan perpajakan dalam penggunaan dana BOP diatur sebagai berikut.

1. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOP untuk pembelian ATK/bahan/penggandaan dan lain-lain pada kegiatan penerimaan siswa baru; kesiswaan; laporan hasil belajar siswa; pembelian bahan-bahan habis pakai, seperti buku tulis, kapur tulis, pensil dan bahan praktikum; pengembangan profesi guru; pembelian

perawatari/perbaikan ringan gedung sekolah.

Bendaharawan/pengelola dana BOP tidak termasuk bendaharawan pemerintah bahan-bahan untuk

sehingga tidak termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22 dan atau PPN. Kewajiban perpajakan bagi bendaharawan/pengelola dana BOP pada raudhatul athfal yang terkait atas penggunaan dana BOP untuk belanja barang sebagaimana tersebut di atas adalah:

i. Tidak mempunyai kewajiban memungut PPh Pasal 22, karena tidak termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22.

ii. Membayar PPN yang dipungut oleh pihak penjual (Pengusaha Kena Pajak).

2. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOP untuk pernbelian/penggandaan buku teks pelajaran dari/atau mengganti buku teks yang sudah rusak.

Bendaharawan/pengelola dana BOP pada raudharul athfal adalah tidak termasuk bendaharawan pemerintah sehingga tidak termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai Pemungut PPh Pasal 22 dan atau PPN. Dengan demikian kewajiban perpajakan bagi bendaharawari/pengelola dana BOP pada raudhatul

(27)

athfal yang terkait dengan pembelian/penggandaan buku teks pelajaran dan/atau mengganti buku teks yang sudah rusak adalah:

i. Tidak mempunyai kewajiban memungut PPh Pasal 22, karena tidak termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasa! 22. ii. Atas pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku

pelajaran agama, PPN yang terutang dibebaskan.

iii. Membayar PPN yang dipungut oleh pihak penjual (Pengusaha Kena Pajak) atas pembelian buku

yang bukan

buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama.

3. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan pemberian honor pada kegiatan penerimaan siswa baru, kesiswaan, pengembangan profesi guru, dan penyusunan laporan BOP. Bendaharawan/penanggung jawab dana BOP pada raudhatul athfa! adalah:

a. Bagi gunr/pegawai non PNS sebagai peserta kegiatan, harus dipotong PPh Pasal 21 dengan menerapkan tarif Pasal 17 UU PPh sebesar 5 %dari jumlah bruto honor.

b. Bagi guru/pegawal PNS diatur sebagai berikut : i. Golongan I dan II dengan tarif 0% (nol persen).

ii. Golongan III dengan tarif 5% (lima persen) dari penghasilan bruto. iii. Golongan IV dengan tarif 15% (lima belas persen) dari penghasilan

bruto.

4. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOP dalam rangka membayar honorarium guru honorer raudhatul athfal yang tidak dibiayai dari Pemerintah Pusat dan atau Daerah yang dibayarkan bulanan diatur sebagai berikut:

a. Penghasilan rutin setiap bulan untuk guru tidak tetap (GTT), Pegawai Tidak Tetap (PTT), untuk jumlah sebulan sampai dengan Rp 2.025.000,- (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tidak terhutang PPh Pasa! 21.

b. Untuk jumlah lebih dari itu, PPh Pasal 21 dihitung dengan menyetahunkan penghasilan sebulan. Dengan perhitungan sebagai berikut:

i. Penghasilan sebulan XX ii. Penghasilan netto setahun (x 12) .. XX iii. Dikurangi PTKP*) ... XX

iv. Penghasilan Kena Pajak ... XX

v. PPh Pasal 21 terutang setahun 5% (jumlah s.d. Rp 50 juta) dst XX Petunjuk Teknis BOP RA

(28)

vi. PPh Pasal21 sebulan (:12) XX

*) Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), adalah: a. Status sendiri __.Rp 24,3 juta

b. Tambahan status kawin Rp 2,025 juta

c. Tambahan tanggungan keluarga, maksimal 3 orang @,._Rp2,025 juta 5. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOP, pada raudhatul athfal, untuk membayar honor kepada tenaga kerja lepas orang pribadi yang melaksanakan kegiatan perawatan atau pemeliharaan raudhatul athfal harus memotong PPh Pasal 21 dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, dalam hal penghasilan sehari atau rata-rata penghasilan sehari belum melebihi Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah).

b. Dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, dalam hal penghasilan sehari atau rata-rata penghasilan sehari melebihi Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah), dan jumlah sebesar Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) tersebut merupakan jumlah yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

CONTOH PERHITUNGAN PPh PASAL 21 UNTUK HONOR GTT/PTT

Seorang guru tidak tetap di raudhatul athfal A memperoleh honor bulanan sebesar Rp. 2.500.000,- perbulan, dia memiliki istri tapi belum memiliki anak, maka perhitungan PPh Pasal 21 adalah sbb:

1) Penghasilan sebulan Rp. 2.500.000,-2) Penghasilan netto setahun (x12) Rp. 30.000.000,-3) Dikurangi PTKP c. Guru non PNS Rp. 24.300.000,-Rp. 2.025. 000.-Rp. 26.325.000, -d. Istri [umlah PTKP

4) Penghasilan Kena Pajak

Rp. 30.000.000,- - Rp. 26.325.000,-

=

Rp. 3.675. 000,-5) PPh Pasal 21 terutang setahun

6) PPh Pasal 21 sebulan (:12)

(5% x Rp.3.675.000,-

=

Rp. 183.750,-) Rp. 15.313,- /bulan

(29)

BAB VIII

PENGAWASANDAN SANKSI

A.

Pengawasan

Kegiatan pengawasan yang dimaksud adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi atau menghindari masalah yang berhubungan dengan penyalahgunaan wewenang, kebocoran dan pemborosan keuangan negara, pungutan liar dan bentuk penyelewengan lainnya.

Pengawasan program BOP meliputi pengawasan melekat (Waskat), pengawasan fungsional dan pengawasan masyarakat.

1.

Pengawasan

Melekat

Pengawasan melekat adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan masing-masing instansi kepada bawahannya, baik di tingkat pusat, Provinsi, kah/kota maupun RA. Prioritas utama dalam program BOP adalah pengawasan yang dilakukan oleh Kantor Wilyah Kementerian Agama Provinsi dan Kantor Kementerian Agama Kabupaterr/Kota kepada RA.

2. Pengawasan

Fungsional

Internal

Instansi pengawas fungsional yang melakukan pengawasan program BOP secara internal adalah Inspektorat Jenderal KementerianAgama RI. Instansi tersebut bertanggungjawab untuk melakukan audit sesuai dengan kebutuhan lembaga tersebut atau permintaan instansi yang akan diaudit.

3.

Pengawasan Eksternal

Instansi pengawas eksternal yang melakukan pengawasan program BOP adalah Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (B PKP). Instansi ini

bertanggungjawab untuk melakukan audit sesuai dengan kebutuhan lembaga

tersebut atau permintaan instansi yang akan diaudit.

4. Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sesuai dengan kewenangannya dapat

melakukan pemeriksaan terhadap program BOP.

5. Pengawasan

Masyarakat

Dalam rangka transparansi pelaksanaan program BOP, program ini juga

dapat diawasi oleh unsur masyarakat dan unit-unit pengaduan masyarakat

yang terdapat di RA, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. Lembaga tersebut

melakukan pengawasan dalam rangka memotret pelaksanaan program BOP di

RA, namun tidak melakukan audit. Apabila terdapat indikasi penyimpangan

dalam pengelolaan BOP, agar segera dilaporkan kepada instansi pengawas

fungsional atau lembaga berwenang lainnya.

B.

Sanksi

Sanksi terhadap penyalahgunaan wewenang yang dapat merugikan

negara danj'atau RA darr/atau siswa, akan dijatuhkan oleh apatat /pejabat

yang berwenang. Sanksi kepada oknum yang melakukan pelanggaran dapat

diberikan dalam berbagai bentuk, misalnya:

(30)

1. Penerapan sanksi kepegawaian sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku (pemberhentian, penurunan pangkat, mutasi kerja); 2. Penerapan tuntutan perbendaharaan dan ganti rugi, yaitu pengembalian

dana BOP yang terbukti disalahgunakan ke kas negara;

3. Penerapan proses hukum, yaitu mulai proses penyelidikan, penyidikan dan proses peradilan bagi pihak yang diduga atau terbukti melakukan penyimpangan dana BOP;

4. Pemblokiran dana dan penghentian sementara seluruh bantuan pendidikan yang bersumber dari APBN pada tahun berikutnya kepada kabupaterr/kota dan provinsi, bilamana terbukti pelanggaran tersebut dilakukan secara sengaja dan tersistem untuk memperoleh keuntungan pribadi, kelompok atau golongan.

(31)

BABIX

PENGADUAN MASYARAKAT

1. Apabila masyarakat menemukan masalah atau hal-hal yang perlu diklarifikasi, maka dapat menyampaikannya melalui:

Telepon Faksimil Email Website 021 - 3811523 021- 3859117 bopkemenagpusat@gmail.com http://madrasah.kemenag.go.id

2. Provinsi dan Kabupateri/Kota diharapkan juga menyediakan nomor telepon/email untuk menampung pertanyaan/pengaduan masyarakat di masing-masing wilayah yang menjadi tanggungjawabnya.

ndidikan Islam

(32)

LAMPIRAN BOP RA

(33)

Formulir BOP-01

Ditandatangani oleh Kepala RA dan PPK

(Logo Kanwil/Kankemenag)

(Logo Raudhatul Athfal)

SURAl PERJANJIAN KERJASAMA

NOMOR : (Kemenag)

NOMOR : (Raudhatul Athfal)

I. TENTANG

PEMBERIAN DANA BANTUAN OPERASIONAL RAUDHATUL ATHFAL ANTARA

KANTOR WILAY AH KEMENTERIAN AGAMA PROVINSI IKANTOR KEMENTERIAN

AGAMA KABUPATEN ... 1KOTA .. DENGAN

RAUDHATUL ATHFAL ...

Pada hari ini tanggal bulan tahun Dua Ribu Lima Belas, kami yang bertanda tangan di bawah ini :

1. Nama NIP Jabatan

NIP .

Pejabat Pembuat Komitmen berdasarkan Keputusan Kuasa

Pengguna Anggaran No tanggal .

Alamat

Yang bertindak untuk dan atas nama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi .

IKantor Kementerian Agama Kabupaten I Kota dan untuk selanjutnya

disebut PIHAK PERTAMA.

2. Nama

Jabatan Kepala Raudhatul Athfal berdasarkan Surat Ketua

Yayasan No: tanggal .

Alamat

Yang bertindak untuk dan atas nama Raudhatul Athfal dan untuk selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.

(34)

PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEOUA secara bersama-sama disebut PARA PIHAK, dan

masing-masing disebut PIHAK. PARA PIHAK menerangkan terlebih dahulu bahwa

berdasarkan:

1. Undang - undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara(Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2003 No. 47, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia No. 4286);

2. Undang - undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2003 No.70, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia No.4297);

3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Oaerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004

Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)

sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12

Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No.5, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia No. 4355);

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara

Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Oaerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 4496);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik

Negara/Oaerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan

Antara Pemerintah, Pemerintahan Oaerah Provinsi, dan Pemerintahan Oaerah

Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Oaerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 4741);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4863);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 4864);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan

Pendidikan(LembaranNegara Republik IndonesiaTahun 2010 Nomor 23,TambahanLembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 5105) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan PemerintahNomor 66 Tahun 2010 (LembaranNegara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 112, Tambahan LembaranNegara Republik IndonesiaNomor 5157);Undang- undang No.1

(35)

Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara(Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2004 No.5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4355);

13. Peraturan Pemeritah No. 45 Tahun 2013 tentang Tatacara Pelaksanaan Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara;

14. Peraturan Menteri Keuangan NO.168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan

Anggaran Bantuan Pemerintah Pada Kementerian NegaralLembaga;

15. Peraturan Menteri Agama No tentang Pedoman Umum .

16. Akte Pendirian Raudhatul Athfal beserta perubahannya;

17. Keputusan Pejabat Pembuat Komitmen Nomor tang gal Tentang

Penunjukan Penerima Dana Bantuan Operasional Sekolah;

18. DIPA Satker Tahun Anggaran 2015 Nomor: SP DIPA- tanggal .

revisi ke- tang gal .

PARA PIHAK menyatakan bahwa :

1. PIHAK PERTAMA memberikan Dana Bantuan Operasional Raudhatul Athfal kepada

PIHAK KEDUA untuk melaksanakan program wajib belajar pendidikan dasar 9

(sembilan) tahun sebagaimana diatur dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bantuan

Operasional Raudhatul Athfal;

2. PIHAK KEDUA menerima tugas yang diberikan PIHAK PERTAMA sebagaimana

dimaksud butir 1 di atas ;

3. PARA PIHAK sepakat dan setuju untuk menandatangani Surat Perjanjian ini dengan

ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum dalam pasal-pasal tersebut di bawah ini.

Pasal 1

MAKSUD DAN TUJUAN

(1) Maksud dibuatnya perjanjian ini adalah untuk mengatur pelaksanaan penyaluran

Dana Bantuan Operasional Raudhatul Athfal yang dananya berasal dari DIPA Satker ... Tahun Anggaran 2015.

(2) Tujuan dibuatnya perjanjian ini adalah agar pelaksanaan penyaluran Dana Bantuan

Operasional Raudhatul Athfal dilakukan secara lebih efektif, efisien dan akuntabel.

Pasal2

NILAI BANTUAN OPERASIONAL RAUDHATUL ATHFAL

(1) Nilai Bantuan Operasional Raudhatul Athfal yang dituangkan dalam perjanjian In!

adalah sebesar sisa dana Bantuan Operasional Raudhatul Athfal yang belum

disalurkan kepada Raudhatul Athfal yaitu sebesar Rp (dengan huruf).

(2) Nilai bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam daftar

perhitungan sebagaimana lampiran perjanjian ini yang merupakan satu kesatuan dan

menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan perjanjian ini.

(36)

Pasal 3

PEMBEBANAN DANA BANTUAN OPERASIONAL RAUDHATUL ATHFAL

Penyaluran Dana Bantuan Operasional Raudhatul Athfal dibebankan pada DIPA Satker Tahun Anggaran 2015 dengan kode pembebanan .

Pasal 5

TATA CARA PENYALURAN

( 1) Penyaluran Dana Bantuan Operasional Raudhatul Athfal dilakukan dengan

pengajuan Surat Perintah Membayar kepada KPPN Jakarta II oleh PIHAK

PERTAMA untuk selanjutnya diterbitkan Surat Perintah Pencairan Dana yang

ditujukan langsung kepada Rekening PIHAK KEDUA melalui Bank Rekening

No atas nama Raudhatul Athfal .

(2) Pencairan pembayaran dilakukan sekaligus setelah PIHAK KEDUA mengajukan

Rencana Kegiatan dan Anggaran Raudhatul Athfal kepada PIHAK PERTAMA dengan dilampiri:

1. Rencana pengeluaran dana bantuan operasional yang akan dicairkan secara sekaligus;

2. Perjanjian kerja sarna yangtelah ditandatangani oleh penerirna bantuan;

3. Kuitansi bukti penerirnaan uang yang telah ditandatangani oleh penerima bantuan;

4. Surat Pemyataan Tanggungjawab Mutlak (SPTJM).

(3) PIHAK PERTAMA memproses tagihan dan menerbitkan Surat Perintah Membayar

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah diterima tagihan dari PIHAK KEDUA secara benar dan lengkap.

Pasal6

HAK DAN KEWAJIBAN

(1) Hak dan Kewajiban PIHAK PERTAMA meliputi :

a. PIHAK PERTAMA berhak melakukan monitoring penggunaan Dana Bantuan

Operasional Raudhatul Athfal yang dilaksanakan oleh PIHAK KEDUA;

b. PIHAK PERTAMA berhak meminta laporan secara periodik mengenai

pelaksa-naan layanan kesehatan yang dilakukan oleh PIHAK KEDUA;

c. PIHAK PERTAMA berkewajiban menyalurkan Dana Bantuan Operasional Seko

-lah kepada PIHAK KEDUA sete-lah dipenuhi syarat-syarat penyaluran dana ban

-tuan; dan

(2) Hak dan berkewajiban PIHAK KEDUA meliputi :

a. PIHAK KEDUA berhak untuk menerima Dana Bantuan Operasional Raudhatul

Athfal sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 2 dalam hal telah menyampaikan

syarta-syarat penyaluran dana bantuan kepada PIHAK PERTAMA;

b. PIHAK KEDUA berkewajiban menggunakan Dana Bantuan Operasional

Raudhatul Athfal sesuai Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bantuan Operasional

Raudhatul Athfal;

(37)

c. PIHAK KEDUA berkewajiban melaporkan penggunaan Dana Bantuan

Operasional Raudhatul Athfal secara periodik kepada PIHAK PERTAMA;

d. PIHAK KEDUA berkewajiban menyetorkan ke Kas Negara sisa dana Bantuan

Operasional Raudhatul Athfal yang tidak digunakan sampai dengan akhir tahun

anggaran 2015 paling lambat tanggal 31Desember 2015;dan

e. PIHAK KEDUA berkewajiban memberikan keterangan-keterangan yang

diperlukan untuk pengawasan/pemeriksaan yang dilakukan oleh PIHAK

PERTAMA.

Pasal7

PERNYATAAN KESANGGUPAN

Dengan menandatangani perjanjian ini,PIHAK KEDUA menyatakan kesanggupan untuk:

1. Menggunakan Bantuan Operasional Raudhatul Athfal sesuai dengan Petunjuk Teknis

Pelaksanaan Bantuan Operasional Raudhatul Athfal;

2. Menyetorkan ke Kas Negara sisa dana Bantuan Operasional Raudhatul Athfal yang tidak

digunakan sampai dengan akhir tahun anggaran 2015 paling lambat tanggal 31 Desem

-ber2015.

Pasal 8 SANKSI

Dalam hal PIHAK KEDUA tidak melaksanakan sebagian atau seluruhnya isi perjanjian ini,

P1HAK PERTAMA akan mengenakan Sanksi berupa sanksi administratif sampai dengan sanksi penghentian penyaluran dana Bantuan Operasional Raudhatul Athfal pada tahun

berikutnya termasuk melaporkan kepada pihak yang berwajib apabila ditemukan unsur

tindak pidana.

Pasal 9

LAPORAN BERKALA PENGGUNAAN DANA

PIHAK KEDUA berkewajiban melaporkan penggunaan dana Bantuan Operasional

Raudhatul Athfal setiap bulan kepada PIHAK PERTAMA

Pasal10

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN AKHIR TAHUN

PIHAK KEDUA pada akhir tahun anggaran berkewajiban menyampaikan laporan

pertanggungjawaban penggunaan dana Bantuan Operasional Raudhatul Athfal Tahun

Anggaran 2015 kepada P1HAK PERTAMA paling lambat pada tanggal8 Januari 2016.

Pasal11

PENGAKHIRAN PERJANJIAN KERJASAMA

(1) Perjanjian ini berakhir sesuai dengan masa jangka waktu pelaksanan perjanjian

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Surat Perjanjian ini.

(38)

(2) Surat Perjanjian dapat diakhiri oleh salah satu pihak sebelum jangka waktu Perjanjian berakhir atas terjadinya salah satu kondisi antara lain:

a. Ada ketentuan perundang-undangan dan/atau kebijakan Pemerintah yang tidak

memungkinkan berlangsungnya Surat Perjanjian ini; dan

b. Salah satu Pihak mengakhiri Surat Perjanjian ini karena adanya Peristiwa

Wanprestasi terhadap ketentuan Hak dan Kewajiban sebagaimana diatur

pa-da Pasal 6 Surat Perjanjian ini.

(3) PIHAK yang berkehendak untuk mengakhiri Surat Perjanjian ini sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) b.dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Harus memberitahukan secara tertulis kepada PIHAK lainnya dalam waktu 30

(tiga puluh) hari kalender sebelum tanggal pengakhiran yang dikehendaki;

b. Tidak menghapuskan hak, kewajiban dan tanggung jawab masing-masing pihak

yang masih harus dilakukan dan/atau diselesaikan terhadap pihak lainnya

berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam Surat Perjanjian ini;

c. PARA PIHAK sepakat dan setuju untuk mengenyampingkan ketentuan Pasal

1266 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, sehingga pengakhiran Surat

Perjanjian dengan alasan sebagaimana diatur dalam Surat Perjanjian ini secara sah cukup dilakukan dengan pemberitahuan tertulis dari masing-masing pihak

dan tidak memerlukan penetapan atau putusan Pengadilan; dan

d. Pihak yang akan mengakhiri surat perjanjian setelah terlebih dahulu melaporkan

kepada Menteri Keuangan selaku wakil pemerintah yang memberikan

penugasan.

Pasal 12

PENYELESAIAN PERSELISIHAN

(1) Para Pihak berkewajiban untuk berupaya sungguh-sungguh menyelesaikan secara

damai semua perselisihan yang timbul dari atau berhubungan dengan Surat

perjanjian ini atau interpretasinya selama atau setelah pelaksanaan pekerjaan ini.

Penyelesaian secara damai dapat dilakukan melalui musyawarah secara langsung

antara PARA PIHAK atau melalui perantaraan pihak ketiga yang disepakati oleh

Para Pihak dalam bentuk mediasi.

(2) Apabila penyelesaian perselisihan tidak dapat dilakukan oleh PARA PIHAK secara

musyawarah, PARA PIHAK menetapkan Pengadilan Negeri ... sebagai tempat

penyelesaian perselisihan.

Pasal13 PENUTUP

(1) PARA PIHAK menyatakan telah menyetujui untuk melaksanakan perjanjian ini

sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(39)

(2) Perjanjian ini terdiri dari 7 (tujuh) halaman yang merupakan satu kesatuan dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan Perjanjian ini yang dibubuhi paraf pada setiap halaman kecuali pada halaman terakhir dan halaman lampiran yang ditandatangani oleh PARA PIHAK.

(3) Perjanjian ini dibuat dalam rangkap 2 (dua) terdiri dari 2 (dua) asli bermaterai cukup untuk PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.

(4) Perjanjian ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan memiliki daya laku surut sejak

tanggal 2015.

Ditetapkan di Tanggal

Jakarta

... 2015

Untuk dan atas nama

Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi

...IKantor Kementerian Agama

Kabupaten IKota .

Untuk dan atas nama

Raudhatul Athfal .

PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN, KEPALA RAUDHATUL ATHFAL,

NIP ..

....

.

...

.

...

(40)

FORMULIR BOP·02 REKAPITULASI NAMA DAN NOMOR REKENING RA PENERIMA DANA BOP TlNGKAT KAB/KOTA

Dibuat oleh Kasi Madrasah Kab/Kota Dikirim ke Tim Manaiemen BOP Provinsi

Kabupaten/Kota Provinsi

Nama Rekening

Nomor

No NSM Nama RA Bank Cabang (Nama Lembaga tidak Rekening Penandatangan {2 orang) Boleh Rekening Pribadi)

1 2 1 2 1 2 Mengetahui,

Kepala Subbagian Tata Usaha

Kantor Kementerian Agama Kab/Kota ..

... tanggal, ..

Kepala Seksi Madrasah

Kantor Kementerian Agama Kab/Kota ...

... " , , , ,.,.., , " "..,.." .., , ,., , .

(41)

Fonnulir BOP-03

Dibuat oleh RA

Dikirim ke Tim Manajemen BOP Kab/Kota

SURAT PERNYATAAN PENGIRIMAN NOMOR REKENINGR,A

Pada hari lnl,tanggal _...kami kirimkan salinan halarnan pertama Buku Tabungan Bank alamat Bank

..._... atas namaRA: NamaRA NSM AlamatRA [alan _ . KeIfDesa . Kecamatan _ _ . KabJKota . No Rekenlng

Atas Nama :1. [abatan _ _ _ _ .

2.[abatan _ ..

Nomor telepon yang bisa dihubungi jikafaxyang kami kirimkan kurang jelas :

1. No _ __ Telp _ .

2.No _ _ _ Telp _ _.._ _ _ ..

3. No Telp _ _ ..

Yang Mengirimkan

(.._ _ )

(42)

FORMULIR BOP-04

Dibuat oleh RA Ditempel di Papan Pengumuman

CONTOH

RENCANA PENGGUNAAN DANA BOP PERlODE. s/d••.•... [umlah Slswa :...•.•...Siswa

[umlah Dana BOP: Rp••..•.•..

Rencana Penggunaan Dana BOP di RA

NO KOnloonen Iumlah Dana rRp)

TOTAL

Kepala RA Bendahara

( ) ( )

(43)

FORMULIR BOP·OS

Dibuat oleh RA Ditempel di Papan Pengumuman

CONTOH

LAPORANPENGGUNAANDANABOPPERIODE s/d .

A. Pengeluaran

No Ienls Penfreiuaran Tanggal/Bulan lumiah-ffiii)

B. Pembelian Barang/Iasa

No BarangfJasa yang dibeli TanggalfBulan Penvedla [asaNama Toko/ Jumlah (Rp)

Kepala RA Bendahara

( ) ( )

(44)

RINCIAN RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN RA (RKRA) TAHUN PELAJARAN . NamaRA Desa/Kecam alan Kabupaten/Ko!a Provinsi Triwulan

Surn b e r Dana ' BOP

FORMULIR BOP·6

Diisi oleh RA

Dikirim ke Tim Manajemen BOP Kab/Kota No. U rut No. Kode U ra ia n Ju m la h Sem ester (dalam Rp.) I II 1 2 3 4 5 6 Kepala RA (

(45)

Formullr BOP-07

Diisi oleh Bendahara Simpan dlRA

BUKU KASUMUM

NamaRA Desa/Kecamatan Kabupaten Provlnsi

Tanggal No.Kode No. Bukti Uraian Penerimaan (Debit) Pengeluaran(Kredit) Saldo

1 2 3 4 5 6 7

Mengetahui DibuatOleh

Kepala RA Bendahara

(.-...•...) (...•...)

(46)

Formulir BOP-DB

Diisi oleh Bendahara/Guru SimpandiRA

BUKU PEMBANTU !{AS

NamaRA

Desa/Kecamatan

Kabupaten Provinsi

Tanggal No.Kode No.Buktl Uraian Penerimaan (Debit) Pengeluaran Saldo (Kredit)

1 2 3 4 5 6 7

...•...20...

Mengetahui Dibuat Oleh

Kepala RA Bendahara

( -...•...) (..- )

NIP. NIP.

(47)

---

--- ..---~---

-Formulir BOP-09 Dibuat oleh Kepala Madrasah

Dikirim ke PPK

SURA T PERNYAT AAN TANGGUNG fA WAB MUTLAK

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama

[abatan Kepala RA ..

Alamat

dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa saya bertanggungjawab penuh atas penggunaan dana Bantuan Operasional Pendidikan. Apabila dikemudian hari, atas penggunaan dana Bantuan Operasional Pendidikan tersebut di atas mengakibatkan keru-gian negara maka saya bersedia dituntut penggantian kerugian negara dimaksud sesuai dengan ketentuan peraturan perudang-undangan.

Bukti-bukti pengeluaran terkait penggunaan dana Bantuan Operasional Pendidikan disimpan sesuai dengan ketentuan pada penerima bantuan untuk kelengkapan admin-istrasi dan keperluan pemeriksaan aparat pengawas fungsional.

Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sesungguhnya .

... 2015 Kepala RA

Tandatangan, stempel Materai Rp.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :