39 A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pengambilan semple pada tanggal 29 Maret sampai bulan Desember 2016 pada Bursa Efek Indonesia yang menyediakan data laporan keuangan dengan mengakses situs resmi Bursa Efek Indonesia melalui website www.idx.co.id. objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan jasa sub sektor telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2015.
B. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dimana dalam penelitian ini memberikan gambaran tentang objek yang diteliti kemudian dianalisis (Sugiono,2014:207). Penelitian ini menggunakan metode Altman Z Score untuk memprediksi kebangkrutan dan dengan mengetahui hasil tersebut perusahan-perusahaan tersebut tergolong dalam kategori sehat, grey area (abu-abu) atau bahkan terindikasi bangkrut.
C. Definisi dan Operasional Variabel 1. Definisi Variable
Sugiono (2014) mendefinisikan bahwa variable penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio-rasio model Altman Z Score. Adapun komponen dari rasio-rasio model Altman Z Score adalah Net Working Capital to Total Asset, Retained Earnings to Total Assets, Earning Before Interest and Tax to Total Asset, Market Value of Equity to Total Liabilities, dan Sales to Total Asset (Sanobar Anjum,2012)
Agar penelitian ini dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu dipahami berbagai unsure-unsur yang menjadi penelitian ilmiah yang termuat dalam operasionalisasi variable penelitian.
2. Operasionalisasi Variable
Variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio-rasio dari metode Altman Z Score adalah sebagai berikut:
1. Variable X1 (Net Working to Total Asset)
Rasio ini mengukur likuiditas dengan membandingkan asset likuid bersih dengan total asset. Asset likuiditas atau modal kerja didefinisikan sebagai asset lancar dikurangi toal kewajiban lancar (asset lancar-utang lancar). Umumnya bila perusahaan mengalami kesulitan keuangan, modal
kerja akan turun lebih ncepat dibandingkan total asset sehingga menyebabkan rasio turun. Rasio ini menggambarkan tingkat likuiditas suatu perusahaan. secara sederhana dapat diartikan sebagai ukuran kuantitatif dari seberapa cepat perusahaan dapat mengkonversi asset yang dimiliki dan proposinya terhadap total asset perusahaan yang terdiri dari asset lancar dan tetap. Modal kerja yang merupakan numerator dari rasio adalah hasil selisish asset lancar perusahaan dengan kewajiban lancar perusahaan. dengan demikian modal kerja dapat diiterpretasikan sebagai kemampuan perusahaann untuk dapat memenuhi kewajiban jangka pendek dari perusahaan saat jatuh tempo. (Endri:2009)
2. Variable X2 (Retained Earnings to Total Asset)
Rasio ini mengukur kemampuan suatu perusahan dalam memperoleh keuntungan, ditinjau dari kemampuan perusahaan bersangkutan dalam memperoleh laba dibandingkan dengan kecepatan perputaran operating Asset sebagai ukuran efisiensi usaha yang dilakukan perusahaan.
Variable laba ditahan adalah salah satu komponen penting dalam rasio keuangan yang menggambarkan jumlah keseluruhan dari pendapatan perusahaan yang diinvestasikan ke dalam perusahaan.
𝑋1 =𝑎𝑠𝑒𝑡 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 − 𝑘𝑒𝑤𝑎𝑗𝑖𝑏𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
Secara sederhana dapat diartikan bahwa rasio ini dapat memberikan informasi mengenai usia perusahaan secara implisit. Pada umumnya perusahaan baru memiliki rasio laba ditahan terhadap total terhadap total asset yang lebih rendah karena waktu yang digunakannya dalam mengumpulkan laba masih belum terlalu lama. Rasio ini juga mengukur leverage perusahaan karena dari nilai rasio dapat pula diketahui proposi asset dari perusahaan yang dibiayaai dengan menggunakan laba yang dihasilkannya sendiri tanpa menggunakan hutang. (Endri:2009)
3. Variable X3 (Earning Before Interest Tax to Total Asset)
Rasio ini dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak tahunan perusahaan dengan total asset pada neraca akhir tahun. Rasio ini menjelaskan pentingnya pencapaian laba perusahaan terutama dalam memenuhi kewajiban bunga para investor.
EBIT merupakan ukuran dari pendapatan perusahaan yang dihasilkan dari kegiataan operasiona;l inti perusahaan. Nilai dari rasio ini akan menggambarkan besarnya keuntungan perusahaan secara keseluruhan. Semakin besar nilai rasio ini maka tingkat produktivitas asset dalam menghasilkan pendapatan bagi perusahaan semakin meningkat. (Endri:2009)
𝑋2 =𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑑𝑖𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
𝑋3 = 𝐸𝐵𝐼𝑇 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
4. Variable X4 (Market Value of Equity to Total Liabilities)
Rasio ini menunjukan besarnya penurunan nilai dari asset perusahaan yang masih dapat terjadi pada perusahaan sebelumnya kewajiban perusahaan melebihi nilai asset dari perusahaan baik berupa common stock maupun preferred stock. Sedangkan liabilities merupakan kumulatif dari kewajiban jangka panjang dan jangka pendek dari suatu perusahaan. semakin besar nilai dari rasio ini menggambarkan semakin besar batas toleransi penurunan nilai dari asset perusahaan. artinya perusahaan yang memiliki nilai rasio yang besar relative lebih aman dibandingkan dengan nilai rasio yang lebih kecil. (Endri:2009)
5. X5 = Penjualan : Total Aset (Sales to Total Asset)
Rasio ini menggambarkan kemampuan dari asset perusahaan dalam menciptakan penjualan. Dari rasio ini dapat diketahui kapasitas manajemen dalam mengelola aset yang dimiliki dalam menghadapi kompetisi yang ada.
Semakin besar nilai yang diperoleh dari rasio ini menggambarkan efektifitas manajemen dalam pengolahan asset yang berarti menurunkan profitabilitas default perusahaan. (endri:2009)
𝑋4 = 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔
𝑋5 = 𝑝𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
D. Pengukuran Variable
Pengukuran kebangkrutan perusahaan dengan menggunakan Analisis Altman Z Score. Rasio-rasio keuangan memberikan indikasi tentang kekuatan keuangan dari suartu perusahaan dan penelitian menentukan perusahaan tergolong kepada kategori yang ada. Hal menarik dari Altman Z Score adalah keandalannya sebagai alat analisis tanpa memperhatikan bagaimana ukuran perusahaan. meskipun seandainya perusahaan yang sudah sangat besar dan makmur, namun apabila kriteria dari Z score menurun, hal ini menjadi early warning atau peringatan awal untuk perusahaan dalam mengevaluasi atau memperbaiki kinerja dan upaya-upaya perusahaan.
Tujuan dari analisis menggunakan metode Altman Z Score yaitu untuk mengingatkan akan masalah keuangan yang mungkin membutuhkan perhatian lebih serius dan pengambilan langkah yang tepat dan cepat. Apabila nilai atau score lebih rendah dari hasil yang dihrapkan oleh manajemen, maka harus dianalisis dan diamati laporan keuangannya untuk mencari penyebabnya dan apa solusi yang terbaik.
Penelitian ini dengan menghitung Z Score dari periode-periode sebelumnya dan dibandingkan dengan score sekarang. Apabila terjadi penurunan, sebaiknya pos-pos mana yang berubah sehingga menghasilkan rasio-rasio yang berubah pula dan menyebabkan score perusahaan menurun. Dan apabila terjadi peningkatan atau kenaikan score, juga dapat dipantau pos-pos mana yang meningkat dan menyebabkan peningkatan score tersebut dan
dan dapat dipertahankan dalam menjaga dan memelihara kekuatan perusahaan. metode analisis Altman Z Score perusahaan yang satu dengan yang lain.
E. Populasi dan Sample Penelitian 1. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2012:90). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2015. 2. Sample Penelitian
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono,2012). Metode pengambilan sample yang digunakan adalah purposive sampling. Sample dalam penelitian ini ada 6 perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010 sampai dengan tahun 2015.
Adapun kriteria- kriteria yang dipilih dalam penentuan sample adalah : 1. Perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) sejak tahun 2010-2015 secara terus menerus.
2. Perusahaan menggunakan satuan mata uang rupiah dalam laporan keuangan.
3. Mempublikasikan laporan keuangn secara lengkap yang telah di audit selama periode 2010-2015
TABEL 3.1
KRITERIA PEMILIHAN SAMPLE
No. Kriteria Jumlah
1. Perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 2010-2015 secara terus menerus.
6
2. Perusahaan menggunakan satuan mata uang rupiah dalam laporan keuangan
6
3. Mempublikasikan laporan keuangan secara lengkap, selama periode 2010-2015
5
Jumlah Sample 5
Sumber : www.idx.co.id (data dioleh peneliti)
Berikut adalah perusahaan yang menjadi sample dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
TABEL 3.2
DAFTAR SAMPLE PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI YANG TERDAFTAR DI BEI
N0. Kode Saham Nama Emiten 1 BTEL Bakrie Telcom Tbk 2 EXCL XL Axiata Tbk 3 FREN Smartfren Tbk 4 ISAT Indosat Tbk
5 TLKM Telekomunikasi Indonesia Tbk Sumber : www.idx.co.id
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:
1. Dokumentasi
Mengumpulkan, mencatat, dan mengkaji data sekunder yang berupa laporan keuangan yang dipublikasikan oleh BEI melalui situs resmi www.idx.co.id.
2. Studi Kepustakaan
Mempelajari dan membaca buku-buku, karya ilmiah dan literature untuk mengkaji secara teoritis.
G. Metode Analisis
Analisi Z Score adalah metode untuk memprediksi keberlangsungan suatu perusahaan dengan mengkombinasikan beberapa rasio keuangan yang umum dan pemberian bobot yang berbeda pada masing-masing rasio. Dalam penelitian ini akan digunakan beberapa tahapan analisis data yaitu:
1. Melakukan perhitungan terhadap rasio-rasio keuangan Altman pada masing-masing Perusahaan Telekomunikasi yang tercatat di BEI pada tahun 2010-2015 yang menjadi sample penelitian.
a. X1 = Working Capital / Total Asset b. X2 = Retained Earnings / Total Asset
c. X3 = Earning Before Interest and Tax / Total Asset d. X4 = Market Value of Equity / Total Liabilitis e. X5 = Sales/ Total Asset
2. Menghitung nilai Z Score masing-masing perusahaan yang dijadikan obejek penelitian, dengan rumus Altman Z Score. Rumus ini dapat digunakan untuk perusahaan public dan manufaktur, karena memerlukan market value dari ekuitas
Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5
3. Melakukan klasifikasi perusahaan berdasarkan nilai Z Score yang didapatkan, menggunakan titik cut off yaitu sebagai berikut:
Metode Altman dengan kriteria sebagai berikut
Bila Z < 1,81 Perusahaan yang Bangkrut Bila 1,81 < Z < 2,99 Perusahaan Grey Area Bila Z > 2,99 Perusahaan Tidak Bangkrut