• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI KOTA KEDIRI APRIL 2016 DEFLASI 0,45 PERSEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI KOTA KEDIRI APRIL 2016 DEFLASI 0,45 PERSEN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1c

No. 05/05/3571/Th.XVII, 2 Mei 2016

P

ERKEMBANGAN

I

NDEKS

H

ARGA

K

ONSUMEN

/I

NFLASI

K

OTA

K

EDIRI

APRIL

2016

DEFLASI

0,45

P

ERSEN

 Pada bulan April 2016 Kota Kediri mengalami deflasi sebesar 0,45 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 120,73 dibanding dengan IHK Maret 2016 sebesar 121,27. Dari 8 kota IHK di Jawa Timur, seluruhnya mengalami deflasi dengan deflasi tertinggi di Banyuwangi, kemudian diikuti oleh Jember. Deflasi Kediri berada pada peringkat ketiga tertinggi setelah Banyuwangi dan Jember.

 Deflasi di Kota Kediri dipengaruhi oleh kenaikan maupun penurunan indeks pada beberapa kelompok pengeluaran. Kenaikan indeks terjadi pada kelompok pengeluaran Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau sebesar 0,70 persen; kelompok Kesehatan dan kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga masing-masing sebesar 0,02 persen. Empat kelompok pengeluaran lainnya mengalami penurunan, antara lain kelompok Bahan Makanan sebesar 0,62 persen; kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar sebesar 0,08 persen; kelompok Sandang sebesar 0,01 persen; serta kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 2,03 persen.

 Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap deflasi di Kota Kediri pada bulan April 2016 adalah Bensin, Beras, Cabai Merah, Cabai Rawit, Tarip Listrik, Solar, Kacang Panjang, Bawang Putih, Bandeng/Bolu, dan Pepaya.

 Komoditas yang memberikan tekanan terbesar terhadap deflasi di Kota Kediri pada bulan April 2016 adalah Apel, Semangka, Tomat Sayur, Rokok Kretek Filter, Wortel, Kue Kering Berminyak, Kelapa, Gula Pasir, Daging Ayam Ras, dan Kembang Kol.

 Inflasi Kota Kediri pada bulan April 2016 sebesar -0,45 persen dan inflasi tahun kalender sebesar -0,21 persen sedangkan inflasi periode “year on year” (April 2016 – April 2015) mencapai 1,92 persen.

(2)

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Mulai Januari 2014, pengukuran inflasi di Indonesia menggunakan IHK tahun dasar 2012=100. Ada beberapa perubahan yang mendasar dalam penghitungan IHK baru (2012=100) dibandingkan IHK lama (2007=100), khususnya mengenai cakupan kota, paket komoditas, dan diagram timbang. Perubahan tersebut didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilaksanakan oleh BPS, yang merupakan salah satu bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya.

Berdasarkan hasil pemantauan dan pencatatan BPS Kota Kediri pada pasar tradisional dan pasar modern dengan menggunakan penghitungan tahun dasar, tahun 2012 (2012=100), terjadi deflasi 0,45 persen atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 121,27 pada bulan Maret 2016 turun menjadi 120,73 pada bulan April 2016. Laju inflasi tahun kalender pada bulan April 2016 sebesar -0,21 persen, sedangkan inflasi ”year on year” (April 2016 terhadap April 2015) adalah 1,92 persen.

Deflasi di Kota Kediri dipengaruhi oleh kenaikan maupun penurunan indeks pada beberapa kelompok pengeluaran. Kenaikan indeks terjadi pada kelompok pengeluaran Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau sebesar 0,70 persen; kelompok Kesehatan dan kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga masing-masing sebesar 0,02 persen. Empat kelompok pengeluaran lainnya mengalami penurunan, antara lain kelompok Bahan Makanan sebesar 0,62 persen; kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar sebesar 0,08 persen; kelompok Sandang sebesar 0,01 persen; serta kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 2,03 persen.

Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap deflasi di Kota Kediri pada bulan April 2016 adalah Bensin, Beras, Cabai Merah, Cabai Rawit, Tarip Listrik, Solar, Kacang Panjang, Bawang Putih, Bandeng/Bolu, dan Pepaya.

Komoditas yang memberikan tekanan terbesar terhadap deflasi di Kota Kediri pada bulan April 2016 adalah Apel, Semangka, Tomat Sayur, Rokok Kretek Filter, Wortel, Kue Kering Berminyak, Kelapa, Gula Pasir, Daging Ayam Ras, dan Kembang Kol.

(3)

Tabel 1 IHK dan Tingkat Inflasi Kota Kediri Maret 2016, Tahun Kalender 2016, dan Tahun ke Tahun Menurut Kelompok Pengeluaran (2012 = 100)

(4)

Gambar 2 Inflasi Bulanan Kota Kediri 2012-2016

(5)

URAIAN MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN

1. Bahan Makanan

Kelompok Bahan Makanan pada bulan April 2016 mengalami deflasi sebesar 0,64 persen atau terjadi penurunan indeks dari 120,85 pada bulan Maret 2016 menjadi 120,10 pada bulan April 2016.

Dari sebelas sub kelompok yang ada dalam kelompok bahan makanan, lima diantaranya mengalami deflasi dengan penurunan terbesar pada sub kelompok Bumbu-bumbuan sebesar 5,75 persen. Enam sub kelompok lainnya mengalami inflasi dengan kenaikan tertinggi pada sub kelompok Buah-buahan sebesar 4,28 persen dan sub kelompok Sayur-sayuran sebesar 2,40 persen.

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau pada bulan April 2016 mengalami inflasi sebesar 0,70 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 126,45 pada bulan Maret 2016 menjadi 127,33 pada bulan April 2016.

Dari tiga sub kelompok dalam kelompok ini, seluruhnya mengalami inflasi dengan kenaikan harga tertinggi pada sub kelompok Makanan jadi yaitu sebesar 0,61 persen.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar

Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar pada bulan April 2016 mengalami deflasi sebesar 0,08 persen atau terjadi penurunan indeks dari 119,63 pada bulan Maret 2016 menjadi 119,54 pada bulan April 2016.

Dari empat sub kelompok dalam kelompok ini, dua diantaranya mengalami deflasi dengan penurunan tertinggi pada sub kelompok Bahan bakar,penerangan dan air sebesar 0,56 persen. Sub kelompok bahan Biaya tempat tinggal yang mengalami kenaikan tertinggi yaitu sebesar 0,16 persen.

4. S a n d a n g

Kelompok Sandang pada bulan April 2016 mengalami deflasi sebesar 0,01 persen atau terjadi penurunan indeks dari 111,61 pada bulan Maret 2016 menjadi 111,60 pada bulan April 2016.

Dari empat sub kelompok penyusun kelompok ini, tiga diantaranya cenderung stabil. Sementrara sub kelompok Barang Pribadi dan Sandang Lain mengalami penurunan sebesar 0,05 persen.

(6)

5. K e s e h a t a n

Kelompok Kesehatan pada bulan April 2016 mengalami inflasi 0,02 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 120,21 pada bulan Maret 2016 naik menjadi 120,23 pada bulan April 2016.

Pada bulan April 2016, dari empat sub kelompok yang ada dalam kelompok ini tiga diantaranya cenderung stabil,sementara sub kelompok Jasa perawatan jasmani mengalami kenaikan sebesar 0,19 persen.

6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga

Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga pada bulan April 2016 mengalami kenaikan sebesar 0,02 persen. Indeks harga konsumen pada bulan bulan Maret 2016 sebesar 116,63 naik menjadi 116,65 pada bulan April 2016.

Dari lima sub kelompok pada kelompok ini, empat diantaranya cenderung stabil. Sementara sub kelompok Perlengkapan/Peralatan Pendidikan mengalami kenaikan sebesar 0,10 persen.

7. Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan

Kelompok Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan mengalami penurunan indeks sebesar 2,03 persen, dari 123,51 pada bulan Maret 2016 menjadi 121,00 pada bulan April 2016.

Dari empat sub kelompok yang ada di kelompok ini, dua sub kelompok cenderung stabil. Penurunan tertinggi pada sub kelompok Transpor sebesar 2,90 persen.

(7)

PERBANDINGAN INFLASI TAHUNAN

Selama kurun waktu tahun 2010-2016, terjadi deflasi periode bulanan bulan April pada empat periode dengan deflasi tertinggi pada periode April 2016 sebesar 0,45 persen, sedangkan tiga periode lainnya mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi pada periode April 2015 sebesar 0,31 persen.

Pada periode year on year, inflasi tertinggi sebesar 6,76 persen terjadi pada bulan April 2014. Sementara inflasi year on year terendah terjadi pada periode April 2010 yaitu sebesar 4,09 persen.

Tabel 3 Inflasi Bulanan, Tahun Kalender, year on year Kota Kediri Tahun 2010-2016

Inflasi 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

1.April 0,26 -0,31 0,05 -0,09 -0,23 0,31 -0,45

2.Tahun Kalender 0,89 -0,46 0,58 2,43 1,12 -0,43 -0,21

3.Tahun ke Tahun 4,09 5,37 4,71 6,55 6,76 5,84 1,92

(8)

PERBANDINGAN INFLASI 8 KOTA DI JAWA TIMUR

Dari 8 kota IHK di Jawa Timur, seluruhnya mengalami deflasi, dengan deflasi tertinggi pertama dan kedua di Banyuwangi dan Jember yaitu masing-masing sebesar 0,61 dan 0,46 persen. Deflasi di Kota Kediri berada peringkat ketiga setelah Banyuwangi dan Jember yaitu sebesar 0,45 persen.

Inflasi yoy pada bulan April 2016 tertinggi terjadi di Surabaya sebesar sebesar 3,20 persen. Inflasi

yoy terendah terjadi di Kota Kediri sebesar 1,92 persen.

Tabel 4 Inflasi Bulanan, Tahun Kalender dan year on year 8 Kota di Jawa Timur (persen)

Kota April 2016 Tahun Kalender year on year

[1] [2] [3] [4] MADIUN -0,08 0,52 3,18 SURABAYA -0,15 0,53 3,20 PROBOLINGGO -0,16 0,09 2,46 SUMENEP -0,39 -0,03 3,04 MALANG -0,40 0,06 3,09 KEDIRI -0,45 -0,21 1,92 JEMBER -0,46 0,16 2,94 BANYUWANGI -0,61 0,21 2,86 Jawa Timur -0,25 0,34 3,05 Nasional -0,45 0,16 3,80 Kediri, 2 Mei 2016 A/n Kepala BPS Kota Kediri

Kasi Statistik Distribusi

LULUS HARYONO, S.ST

Gambar

Gambar 1  Laju Inflasi Kota Kediri  Maret 2015 sampai dengan Maret 2016
Gambar 2  Inflasi Bulanan Kota Kediri 2012-2016
Tabel 3  Inflasi Bulanan, Tahun Kalender, year on year  Kota Kediri Tahun  2010-2016
Tabel 4  Inflasi Bulanan, Tahun Kalender dan year on year 8 Kota di Jawa Timur (persen)

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Mengingat Sumbar punya potensi petani organik yang tinggi, maka sangat perlu mereka dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi pengelolaan hama yang ramah lingkungan

Total efisiensi irigasi untuk padi diambil sebesar 65% (dengan asumsi 90% efisiensi pada saluran primer, 90% efisiensi pada saluran sekunder, dan 80% efisiensi pada

Saat memasukkan teks menggunakan papan ketik pada layar atau Papan tombol telepon, Anda dapat mengakses menu setelan input yang membantu Anda menetapkan opsi untuk prediksi teks,

1. Prabowo, MBA, Ph.D, sebagai dosen pembimbing I atas segala yang telah diberikan baik kritik, saran, petunjuk, pengarahan, dan kesabarannya dalam membimbing,

Sebaliknya,Meyer dan DeSisto bukan hanya memiliki posisi yang menantang danmenguntungkan dengan perusahaan internet yang telah selamat, namum mereka juga merupakan bagian dari

Namun dalam pembuatannya tersebut diperlukan suatu analisa yang mana diperlukan untuk mengetahui kelayakan produk melalui beberapa pengujian terkait produk pangan