• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ilmiah Sehat BebayaVol.1 No. 2, Mei 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Ilmiah Sehat BebayaVol.1 No. 2, Mei 2017"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TINDAKAN SUCTION TERHADAP PERUBAHAN SATURASI OKSIGEN PERIFER PADA PASIEN YANG DI RAWAT DIRUANG ICU

RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA

The Influence Of Suction On Changes In The Saturation Oxygen Peripheral On The Patients Treated In The Icu Abdul Wahab Sjahranie Hospital Samarinda

Bayu Irmawan1, Siti Khoiroh Muflihatin 2

1

Mahasiswa Ilmu Keperawatan STIKES muhammadiyah Samarinda

2

Dosen STIKES Muhammadiyah Samarinda

ABSTRAK

Latar Belakang:Tindakan suction dibutuhkan untuk menjaga kepatenan jalan napas, dari obstruksi yang dapat mengakibatkan gagal napas. Gagal napas dapat ditandai dengan terjadinya hipoksemia pada pasien. Cara termudah yang dapat dilakukan untuk mengetahui hipoksemia adalah dengan melihat saturasi oksigen perifer pasien.

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tindakan suction terhadap perubahan saturasi oksigen perifer pada pasien yang di rawat diruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

Metode : Jenis penelitian ini menggunakan Metode Pre Eksperiment dengan rancangan penelitian

One-Group Pretest-Postest Design. Penentuan sampel menggunakan accidental sampling, dengan

jumlah sampel sebanyak 26 orang. Analisis data dilakukan menggunakan uji T-Test Dependent

dengan confidence interval 95% dan nilai α = 0,05.

Hasil Penelitian : Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan adanya perubahan saturasi oksigen perifer sebelum dan sesudah tindakan suction dengan nilai rata-rata -3,446, standar deviasi 0,895 dan nilai p-value = 0,0001 (α<0,05).

Kesimpulan : Terdapat pengaruh tindakan suction terhadap perubahan saturasi oksigen perifer pada pasien yang di rawat diruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

Kata Kunci : Suction, Saturasi Oksigen Perifer.

ABSTRACT

Background : Suctioning has needed to maintain the airway, of obstruction that can lead to

respiratory failure. Respiratory failure can be prefixed to the hipoksemia in patients. An easy way to know of hypoxemia by monitoring of the saturation oxygen peripheral patients.

Objective : This study aimed to determine the influence of suction action against saturation oxygen

pheripheral in patient treated at ICU department of Abdul Wahab Sjahranie Hospital Samarinda.

Methods : This research uses a method of pre experiments using research design One – Group

Pretest – Posttest Design. The samples done by accidental sampling, with total sample of 26 people. Data analysis was performed using Dependent T-Test with 95% confidence interval and the value of α= 0,05.

Research result : The results from this study showed the influence of oxygen saturation peripheral

levels before and after suction where there is a oxygen saturation peripheral mean -3,446, Standard deviations 0,895 and p-value = 0,0001 (α <0,05).

Conclusion : The influence of suction on changes of saturation oxygen pheripheral on the patients

treated in the ICU Abdul Wahab Sjahranie Hospital Samarinda.

Keywords : Suction, Oxygen Saturation Peripheral

(2)

PENDAHULUAN

Intensive Care Unit (ICU) merupakan ruang rawat rumah sakit dengan staf dan perlengkapan khusus ditujukan untuk mengelola pasien dengan penyakit, trauma atau komplikasi yang mengancam jiwa. Peralatan standar di Intensive Care Unit (ICU) meliputi ventilasi mekanik untuk membantu usaha bernapas melalui Endotrakeal Tube (ETT) atau Trakheostomi (TC). Salah satu dari indikasi klinik untuk pemasangan alat ventilasi mekanik adalah gagal napas (Musliha, 2010).

Gagal napas bisa terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbon dioksida dalam paru – paru tidak dapat memelihara laju konsumsi oksigen (O2) dan pembentukan karbon dioksida (CO2) dalam sel-sel tubuh. Hal ini mengakibatkan tekanan oksigen arteri kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbon dioksida lebih besar dari 45 mmHg (Hiperkapnia). Walaupun kemajuan teknik diagnosis dan terapi intervensi telah berkembang dengan pesat, namun gagal napas masih menjadi penyebab angka kesakitan dan kematian yang tinggi di ruang perawatan intensif (Brunner & Suddarth, 2012).

Keberhasilan pengobatan pada penderita dengan gagal napas tidak hanya tergantung pada deteksi keadaan ini sejak dini, tetapi juga dari pemahaman akan mekanisme penyebabnya. Langkah pertama yang penting untuk mengenali bakal terjadinya gagal napas adalah kewaspadaan terhadap keadaan dan situasi yang dapat menimbulkan gagal napas (Price & Wilson, 2005).

Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan gagal napas adalah obstruksi jalan napas, termasuk obstruksi pada Endotrakeal Tube (ETT). Obstruksi jalan napas merupakan kondisi yang tidak normal akibat ketidakmampuan batuk secara efektif, dapat disebabkan oleh sekresi yang kental atau berlebihan akibat penyakit infeksi, imobilisasi, statis sekresi, dan batuk tidak efektif karena penyakit persyarafan seperti cerebrovaskular accident (CVA), efek pengobatan sedatif, dan lain – lain (Hidayat, 2005).

Penangganan untuk obstruksi jalan napas akibat akumulasi sekresi adalah dapat dengan melakukan tindakan penghisapan

lendir (suction) dengan memasukkan selang kateter suction melalui hidung, mulut,

Endotrakeal Tube (ETT) maupun

Tracheostomi (TC) yang bertujuan untuk membebaskan jalan napas, mengurangi retensi sputum dan mencegah infeksi paru. Secara umum pasien yang mengalami obstruksi jalan napas memiliki respon tubuh yang kurang baik untuk mengeluarkan benda asing, sehingga sangat diperlukan tindakan penghisapan lendir (suction) (Nurachmah & Sudarsono, 2000).

Menurut Wiyoto (2010), apabila tindakan suction tidak dilakukan pada pasien dengan gangguan bersihan jalan napas maka pasien tersebut akan mengalami kekurangan suplai oksigen (hipoksemia), dan apabila suplai oksigen tidak terpenuhi dalam waktu 5 menit maka dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen. Cara yang mudah untuk mengetahui hipoksemia adalah dengan pemantauan kadar saturasi oksigen (SpO2) yang dapat mengukur seberapa banyak persentase O2 yang mampu dibawa oleh hemoglobin.

Pemantauan kadar saturasi oksigen (SpO2) dapat dilakukan dengan pemantauan menggunakan alat oksimetri saturasi oksigen perifer. Dengan pemantauan kadar saturasi oksigen perifer yang benar dan tepat saat pelaksanaan tindakan suction, maka kasus hipoksemia yang dapat menyebabkan gagal napas hingga mengancam nyawa bahkan berujung pada kematian bisa dicegah lebih dini. Berdasarkan data peringkat 10 penyakit tidak menular (PTM) yang terfatal menyebabkan kematian berdasarkan Case Fatality Rate (CFR) pada rawat inap rumah sakit pada tahun 2010, angka kejadian gagal nafas menempati peringkat kedua sebesar 20,98% (Kementerian Kesehatan RI, 2012).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Medical Record RSUD. A. W. Sjahranie Samarinda mulai dari bulan Januari - Maret 2016 total pasien yang dirawat di ICU adalah sebanyak 115 pasien dan yang mengalami kejadian gagal napas sebanyak 28 pasien (25,2 %). Rata – rata pasien yang dirawat di ICU adalah 31-41 pasien/bulan dan rata-rata yang mengalami kejadian gagal napas adalah 13-17 pasien/bulan serta 10-11 pasien/bulan meninggal akibat gagal napas. Sedangkan data yang diperoleh dari buku registrasi pasien ICU RSUD Abdul

(3)

Wahab Sjahranie Samarinda dari bulan Januari - Maret 2016 didapatkan bahwa dari 115 pasien sebanyak 34 pasien berumur 15 – 34 tahun, rata – rata pasien yang dirawat di ruang icu adalah laki – laki yang mengalami kejadian gagal napas karena cedera kepala dan penyakit penyakit metabolik.

Mengingat pentingnya pelaksanaan tindakan suction agar kasus gagal napas yang dapat menyebabkan kematian dapat dicegah maka sangat diperlukan pemantauan saturasi oksigen perifer yang tepat. Hal inilah yang

mendorong peneliti untuk melakukan

penelitian tentang sejauh mana perubahan saturasi oksigen perifer pada pasien yang dilakukan tindakan suction di ruang Intensive Care Unit RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tindakan suction terhadap saturasi oksigen perifer pada pasien yang di rawat di ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini adalah Pre-Eksperiment

Design dengan tidak melibatkan kelompok

kontrol disamping kelompok eksperimental. Dalam rancangan ini, dipilih jenis rancangan

pre-eksperiment dengan The One Group

Pretest-Posttest Design.

Populasi dalam penelitian ini adalah responden yang dirawat di ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini

adalah accidental sampling. Dengan jumlah

sampel yang digunakan sebagai subjek penelitian ini berjumlah 26 responden. Variabel dalam penelitian ini ada 2 (dua) variabel, yaitu variabel bebas tindakan suction, sedangkan variabel terikat saturasi oksigen perifer.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari : Lembar carddeck responden ini terdiri dari identitas umum responden serta data – data awal tentang diagnosa medis dan saturasi oksigen perifer. Lembar carddeck ini juga meliputi nilai - nilai dari hasil pemeriksaan penunjang responden dan terapi

medis yang diberikan dokter.Lembar

Observasi terdiri dari kelompok – kelompok nilai bedside monitor / oksimetri saturasi

oksigen merupakan salah satu instrument yang

digunakan peneliti, sebelum peneliti

memberikan tindakan suction atau setelah melakukan tindakan suction, sehingga peneliti bisa mendapatkan data - data mengenai saturasi oksigen perifer dengan pemantauan menggunakan bedside monitor atau oksimetri saturasi oksigen.

Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan pada tanggal 26 September - 28 November 2016 di Ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Pada penelitian ini menggunakan uji normalitas shapiro wilk, pada variabel saturasi oksigen sebelum dan

sesudah tindakan suction diperoleh nilai

signifikan masing-masing pvalue > 0,05,

sehingga data berdistribusi normal. Dimana analisis data bivariat menggunakan uji T-Test Dependent.

HASIL

Karakteristik Responden Tabel 1.

Karakteristik Usia Responden

N Mean Media n SD Mi n Ma x 95% CI 26 33,92 33,00 13,069 14 55 28,64 – 39,20 Sumber : Data Primer, 2016

Tabel 1 menunjukkan bahwa rata rata usia responden adalah 33,92 tahun denga standar deviasi 13,069 tahun, usia terendah responden adalah 14 tahu dan usia tertinggi adalah 55 tahun.

Tabel 2.

Karakteristik Jenis kelamin Responden Jenis

Kelamin Frekuensi Persentase

Laki-laki 20 76,9

Perempuan 6 23,1

Total 26 100,0

Sumber : Data Primer, 2016

Tabel 2 menunjuan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin laki laki yaitu 78,9%.

(4)

Tabel 3.

Karakteristik Tingkat Pendidikan Terakhir Responden

Pendidikan Frekuensi Persentase

SMP 6 23,1

SMA 13 50,0

Perguruan

tinggi 7 26,9

Total 26 100,0

Sumber : Data Primer, 2016

Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 26 responden terdapat 6 (3,1%) responden berpendidikan SMP, 13 responden (50%) berpendidikan SMA dan 7 responden (26,9%) lulysan perguruan tinggi.

Tabel 4.

Karakteristik Diagnosa Medis Responden Diagnosa Medis Frekuensi Persentase

Cedera Kepala 11 42,3

Stroke + Hipertensi 4 15,4

Bedah / Laparatomy 3 11,5

Operasi Cesar +

Eklampsi 3 11,5

Gagal Ginjal Kronik 2 7,7

Tumor Otak 2 7,7

Luka Bakar 1 3,8

Total 26 100,0

Sumber : Data Primer, 2016

Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden dirawat dengan diagnosa medis cidera kepala (42,3%), sedangkan sisanya adalah penderita dengan diagnosa medis yang lain seperti Stroke (15,4%), Bedah Laparotomy (11,5%), Operasi SC (11,5%), GGK (7,7%), Tumor Otak (7,7%) dan luka bakar (3,8%)

Tabel 5.

Pengukuran Saturasi Oksigen Perifer Sebelum Tindakan Suction N Mean Median SD Min Ma

x 95% CI 26 93,65 94,00 1,623 90 96 93,00 – 94,31 Sumber : Data Primer 2016

Tabel 5 menunjukkan bahwa rata-rata

nilai saturasi oksigen perifer sebelum

dilaksanakan tindakan suction adalah 93,65% dengan standar defiasi 1,623%. Nilai saturasi oksien terendah adalah 90% dan tertinggi adalah 96%. Diyakini sebesar 95% bahwa nilai saturasi oksien perifer sebelum tinadakan suction berada pada rentang 93-94,31%.

Tabel 6.

Pengukuran Saturasi Oksigen Perifer Sesudah Tindakan Suction N Mean Media n SD Min Max 95% CI 26 97,46 98,00 1,606 94 100 96,81 – 98,11 Sumber : Data Primer, 2016

Tabel 6 menunjukkan bahwa rata-rata

nilai saturasi oksigen perifer setelah

dilaksanakan tindakan suction adalah 97,46% dengan standar defiasi 1,606%. Nilai saturasi oksien terendah adalah 94% dan tertinggi adalah 100%. Diyakini sebesar 95% bahwa nilai saturasi oksien perifer setelah tindakan suction berada pada rentang 96,81-98,11%.

Analisis Bivariat

Tabel 7.

Pengaruh Tindakan Suction Terhadap Perubahan Saturasi Oksigen Perifer Pada

Responden yang dirawat di Ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda

Tahun 2016 Sebelum -Sesudah Mean SD SE 95% CI p- Valu e -3,808 0,895 0,176 Lower -4,169 Upper -3,446 0,000 Sumber : Data Primer, 2016

(5)

Tabel 7 menunjukan bahwa rata-rata selisih saturasi oksigen perifer sebelum dan

sesudah intervensi suction adalah -3,808

dengan standar deviasi 0,895. Dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% diyakini bahwa rata-rata selisih saturasi oksigen perifer responden berada pada rentang 4,169 sampai dengan -3,446. Dan dari hasil statistik didapatkan nilai p-value sebesar 0,0001 (<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang artinya

secara statistik terdapat pengaruh sebelum dan sesudah intervensi suction yang signifikan pada saturasi oksigen perifer pada responden yang dirawat di ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

PEMBAHASAN Usia

Berdasarkan hasil penelitian

didapatkan hasil bahwa rata-rata usia

responden adalah 33,92 tahun. Usia termuda responden pada penelitian ini adalah 14 tahun dan usia tertua responden penelitian ini adalah 55 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian Sri Hartini (2013) yang menyatakan bahwa kebanyakan responden yang dirawat di Ruang Intensif RSDK Semarang berusia dewasa muda, rata – rata responden berusia 26 – 38 tahun sebanyak 44 orang atau sebesar (63,7%). Sedangkan berdasarkan data yang diperoleh dari buku registrasi pasien ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dari bulan Januari - Maret 2016 didapatkan bahwa dari 115 pasien sebanyak 34 pasien berada pada rentang umur 15 – 34 tahun.

Dari hasil di atas, peneliti berasumsi bahwa responden penelitian ini sedang berada pada usia produktif, dimana aktifitas sehari-hari yang dilakukan menjadi meningkat sehingga mobilitas yang dilakukan pun meningkat pula yang berdampak semakin rentannya kelompok usia ini mengalami kecelakaan baik kecelakaan yang terjadi di lingkungan kerja maupun kecelakaan lalu lintas yang mengharuskan responden dirawat di ruang intensif.

Jenis Kelamin

Dari hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 20 responden atau sebesar (76.9%) adalah laki-laki dan perempuan sebanyak 6 responden atau sebesar (23.1%). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan jumlah antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan,

sehingga dapat dikatakan bahwa responden laki-laki lebih mendominasi ruang perawatan intensif daripada responden perempuan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Hartini (2013) yang menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki.

Menurut asumsi peneliti bahwa

dikarenakan aktifitas yang dilakukan laki-laki lebih banyak dan bervariasi dibandingkan perempuan, laki-laki bergerak lebih aktif dibandingkan perempuan sehingga risiko kecelakaan yang dapat menyebabkan gagal nafas pada laki-laki lebih besar dibanding perempuan. Kebanyakan aktifitas laki-laki sebagai pencari nafkah dan intensitas kegiatan diluar rumah yang lebih tinggi, aktifitas seperti memanjat, mengendarai kendaraan bermotor,

olah raga dan lain-lain yang dapat

meningkatkan resiko cidera dan jatuh sakit.

Pendidikan

Berdasarkan penelitian ini, responden terbanyak adalah berpendidikan SMA yaitu sebanyak 13 responden atau sebesar (50.0%), kemudian berpendidikan perguruan tinggi 7 responden atau sebesar (26.9%) dan responden terkecil adalah berpendidikan SMP sebanyak 6

responden atau sebesar (23.1%). Pada

karakteristik responden berdasarkan

pendidikan didapatkan hasil bahwa pendidikan yang terbanyak adalah SMA. Hal ini sejalan dengan penelitian Sri Hartini (2013) yang menyatakan bahwa kebanyakan responden yang dirawat di ruang Intensif RSDK Semarang menunjukkan bahwa mayoritas karakteristik responden adalah berpendidikan sekolah menengah atas sebanyak 41 orang atau sebesar (59,4%).

Menurut asumsi peneliti bahwa

kejadian responden dirawat di ruang intensif dapat terjadi pada tingkat pendidikan tinggi maupun rendah. Hal ini tergantung pada aktivitas yang dilakukan terutama aktivitas di luar rumah.

Diagnosa Medis

Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa responden terbanyak pada penelitian ini memiliki diagnosa medis atau mengalami cedera kepala sebanyak 11 orang atau sebesar 42,3%. Berdasarkan data yang diperoleh dari buku registrasi pasien di ruang ICU RSUD

(6)

Abdul Wahab Sjahranie Samarinda mulai dari bulan Januari - Maret 2016 total pasien yang dirawat di ICU adalah sebanyak 115 pasien dan yang mengalami kejadian gagal napas sebanyak 28 pasien (25,2 %). Dan dari 28 pasien yang mengalami gagal napas tersebut sebagian besar memiliki diagnosa medis cedera kepala sebanyak 13 pasien atau sebesar 46,4%.

Menurut asumsi peneliti bahwa

keadaan cedera kepala dapat menyebabkan terjadinya perdarahan di bagian arakhoid yang dapat berlanjut ke hematoma cerebral sehingga

berdampak pada terjadinya penurunan

kesadaran yang menyebabkan penekanan pada saluran pernapasan pasien. Penekanan ini menyebabkan transfer oksigen mengalami perhambatan sehingga suplai oksigen ketubuh menjadi berkurang terutama pada area perifer. Selain itu kondisi pasien yang mengalami penurunan kesadaran membuat epiglotis dan lidah menjadi kurang rileks, serta menurunnya respon batuk pasien, sehingga cairan/sekret dari nasofaring menjadi menumpuk dan mengakibatkan obstruksi jalan napas pada pasien yang berdampak pada penurunan suplai oksigen dalam tubuh yang beresiko untuk gagal napas.

Saturasi Oksigen Perifer Sebelum Tindakan Suction

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saturasi oksigen perifer responden sebelum diberikan tindakan suction rata-rata adalah 93,65%, dengan nilai saturasi oksigen perifer terendah adalah 90% dan nilai saturasi oksigen perifer tertinggi adalah 96%. Hasil ini menunjukkan adanya penurunan nilai saturasi oksigen perifer responden dibawah batas normal ≥ 95%. Hal ini dapat disebabkan responden mengalami keadaan trauma pada jalan napas, yaitu suatu keadaan dimana jalan nafas responden atau saluran napas penderita mengalami sumbatan, sumbatan ini bisa berupa sumbatan parsial atau sebagian dan total atau secara keseluruhan. Gangguan jalan nafas dapat timbul secara mendadak dan total, perlahan – lahan dan sebagian serta progresif dan atau berulang, Kozier & Erb,( 2014).

Menurut Brunner & Suddarth,

(2010),Hipoksemia adalah penurunan satuarasi

oksigen arteri dalam darah dapat

memunculkan masalah perubahan status

mental (mulai dari gangguan penilaian,

orientasi, kelam pikir, letargi, dan koma),

dyspnea, peningkatan tekanan darah,

perubahan frekuensi jantung, disritmia,

sianosis, diaforesis dan ekstremitas dingin. Kondisi hipoksemia ini biasanya dapat mengarah kepada hipoksia.

Pernyataan ini juga didukung oleh Wiyoto (2010), apabila tindakan suction tidak dilakukan pada pasien dengan gangguan bersihan jalan nafas maka pasien tersebut akan

mengalami kekurangan suplai O2

(hipoksemia), dan apabila suplai O2 tidak terpenuhi dalam waktu 5 menit maka dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen.

Cara yang mudah untuk mengetahui

hipoksemia adalah dengan pemantauan kadar saturasi oksigen (SpO2) yang dapat mengukur seberapa banyak presentase O2 yang mampu dibawa oleh hemoglobin.

Menurut asumsi peneliti bahwa

sebelum responden diberikan tindakan suction mayoritas responden mengalami penurunan saturasi oksigen karena sumbatan jalan napas. Hal ini dapat disebabkan adanya kegagalan organ, kegagalan dalam sistem pernafasan karena bersihan jalan napas, atau karena responden terpasang ventilator mekanik, sehingga memerlukan tindakan suction agar gangguan jalan napas akibat obstruksi dapat dihindari dan daya kembang paru – paru maksimal.

Saturasi Oksigen Perifer Sesudah Tindakan Suction

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saturasi oksigen perifer responden mengalami peningkatan sesudah dilakukan tindakan suction dengan nilai rata-rata saturasi oksigen perifer responden adalah 97,46%. Dengan nilai saturasi oksigen perifer terendah 94% dan tertinggi 100% setelah dilakukan tindakan suction. Hal ini menunjukkan bahwa

tindakan suction pada pasien dengan

penurunan saturasi oksigen dapat

meningkatkan saturasi oksigen perifer

responden dan menjaga responden agar tidak mengalami gangguan jalan napas.

Menurut Smeltzer et al, (2014), indikasi tindakan suction adalah untuk menjaga jalan napas tetap bersih (airway maintenance), apabila : pasien tidak mampu batuk efektif dan diduga terjadi aspirasi serta membersihkan jalan napas (bronchial toilet). Menurut Wiyoto (2010), apabila tindakan

(7)

suction tidak dilakukan pada pasien dengan gangguan bersihan jalan nafas maka pasien tersebut akan mengalami kekurangan suplai O2 (hipoksemia), dan apabila suplai O2 tidak terpenuhi dalam waktu 5 menit maka dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen.

Cara yang mudah untuk mengetahui

hipoksemia adalah dengan pemantauan kadar saturasi oksigen (SpO2) yang dapat mengukur seberapa banyak prosentase O2 yang mampu dibawa oleh hemoglobin.

Menurut asumsi peneliti bahwa seluruh responden wajib diberikan tindakan suction jika didapatkan indikasi untuk tindakan suction karena responden dengan sakit kritis yang dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) sebagian besar menghadapi kematian, mengalami kegagalan multi organ, gagal

napas, menggunakan ventilator, dan

memerlukan support teknologi tinggi

(Menerez, 2012). Berdasarkan data peringkat 10 penyakit tidak menular (PTM) yang terfatal menyebabkan kematian berdasarkan Case Fatality Rate (CFR) pada rawat inap rumah sakit pada tahun 2010, angka kejadian gagal nafas menempati peringkat kedua sebesar 20,98% (Kementerian Kesehatan RI, 2012). Berdasarkan data yang diperoleh dari buku registrasi pasien di ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda mulai dari bulan Januari - Maret 2016 total pasien yang dirawat di ICU adalah sebanyak 115 pasien dan yang mengalami kejadian gagal napas sebanyak 28 pasien (25,2 %). Rata – rata pasien yang dirawat di ICU adalah 31-41 pasien/bulan dan rata-rata yang mengalami kejadian gagal napas adalah 13-17 pasien/bulan serta 10-11 pasien/bulan meninggal akibat gagal napas. Mengingat beberapa kasus yang telah terjadi maka tindakan suction harus dilakukan untuk mengurangi angka mortalitas dan memperbaiki kondisi respirasi pernapasan responden.

Pengaruh Tindakan Suction Terhadap Perubahan Saturasi Oksigen Perifer Pada Responden yang dirawat di Ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Tahun 2016

Berdasarkan analisis diketahui bahwa rata-rata selisih saturasi oksigen perifer sebelum dan sesudah intervensi suction adalah -3,808 dengan standar deviasi 0,895. Dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% diyakini

bahwa rata-rata selisih saturasi oksigen perifer responden berada pada rentang -4,169 sampai dengan -3,446. Dan dari hasil statistik didapatkan nilai p-value sebesar 0,0001 (<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang artinya secara statistik terdapat pengaruh sebelum dan sesudah intervensi suction yang signifikan pada saturasi oksigen perifer pada responden yang dirawat di ruang

ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie

Samarinda.

Menurut Smeltzer et al, (2014), indikasi tindakan suction adalah untuk menjaga jalan napas tetap bersih (airway maintenance), apabila pasien tidak mampu batuk efektif dan diduga terjadi aspirasi serta membersihkan jalan napas (bronchial toilet). Menurut Wiyoto (2010), apabila tindakan suction tidak dilakukan pada pasien dengan gangguan bersihan jalan napas maka pasien tersebut akan mengalami kekurangan suplai O2 (hipoksemia), dan apabila suplai O2 tidak terpenuhi dalam waktu 5 menit maka dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen.

Cara yang mudah untuk mengetahui

hipoksemia adalah dengan pemantauan kadar saturasi oksigen (SpO2) yang dapat mengukur seberapa banyak presentase O2 yang mampu dibawa oleh hemoglobin.

Menurut Kozier & Erb,( 2014) komplikasi yang mungkin dapat ditimbulkan pada tindakan suction antara lain adalah Hipoksemia. Hipoksemia adalah keadaan dimana terjadi penurunan konsentrasi oksigen dalam pembuluh darah arteri. Hipoksemia bisa terjadi karena kurangnnya tekanan parsial O2 (PaO2) atau kurangnya saturasi oksigen (SaO2) dalam pembuluh arteri. Seseorang dikatakan hipoksemia bila tekanan darah parsial pada pembuluh darah arterinya kurang dari 50 mmHg.

Trauma jalan napas adalah suatu keadaan dimana airway penderita atau saluran

napas penderita mengalami sumbatan,

sumbatan ini bisa berupa sumbatan parsial atau sebagian dan total atau secara keseluruhan.

Gangguan airway dapat timbul secara

mendadak dan total, perlahan – lahan dan sebagian serta progresif dan atau berulang, Kozier & Erb,( 2014) .

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ozden dan Gorgulu (2014) yang dilakukan di Ruang Intensive Care Bedah Cardiovascular Rumah Sakit Daerah di Turki

(8)

yang mendapatkan hasil dimana rata-rata saturasi oksigen sebelum tindakan suction adalah 97,10 % dan menurun saat dilakukan suction menjadi 96,71 %. Dan mengalami peningkatan setelah 5 menit dilakukan tindakan suction dengan nilai 97,65% atau meningkat 2,11%. Sedangkan setelah 10 menit nilai rata-rata saturasi oksigen pasien kembali meningkat menjadi 98,01 % atau 2,03%.

Asumsi peneliti hasil pada penelitian tersebut diatas sejalan dengan hasil yang didapat oleh peneliti. Dimana terdapat peningkatan saturasi oksigen perifer ini dari nilai rata-rata sebelum tindakan suction sebesar 93,65% meningkat menjadi rata-rata 97,46% sesudah 5 menit dilakukan tindakan suction.

Kesimpulan peneliti seluruh responden yang mengalami trauma jalan napas atau

sumbatan jalan napas dan mengalami

penurunan saturasi oksigen perifer wajib diberikan tindakan suction jika terdapat kriteria untuk dilakukan tindakan suction, karena responden dengan sakit kritis yang dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU)

sebagian besar menghadapi kematian,

mengalami kegagalan multi organ, gagal

napas, menggunakan ventilator, dan

memerlukan support teknologi tinggi

(Menerez, 2012). Berdasarkan data peringkat 10 penyakit tidak menular (PTM) yang terfatal menyebabkan kematian berdasarkan Case Fatality Rate (CFR) pada rawat inap rumah sakit pada tahun 2010, angka kejadian gagal napas menempati peringkat kedua sebesar 20,98% (Kementerian Kesehatan RI, 2012).

Berdasarkan data yang diperoleh dari buku registrasi pasien di ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda mulai dari bulan Januari - Maret 2016 total pasien yang dirawat di ICU adalah sebanyak 115 pasien dan yang mengalami kejadian gagal napas sebanyak 28 pasien (25,2 %). Rata – rata pasien yang dirawat di ICU adalah 31-41 pasien/bulan dan rata-rata yang mengalami kejadian gagal napas adalah 13-17 pasien/bulan serta 10-11 pasien/bulan meninggal akibat gagal napas. Mengingat beberapa kasus yang telah terjadi maka tindakan suction harus dilakukan untuk mengurangi angka mortalitas dan memperbaiki kondisi respirasi responden serta mencegah terjadinya gagal napas pada pasien. Pada

penelitian ini terdapat kelemahan yang

disebabkan karena keterbatasan peneliti

sehingga belum dapat memperoleh hasil yang maksimal, yaitu antara lain pengukuran saturasi oksigen perifer menggunakan bed side

monitor atau oximetri portabel, tidak

dilakukan dengan pengukuran saturasi oksigen arteri untuk menunjukkan hasil saturasi oksigen yang maksimal.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Karakteristik responden yang dirawat di Ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda menunjukkan, responden pada penelitian ini berusia rata-rata 33,92 tahun. Usia responden termuda adalah 14 tahun dan usia responden tertua adalah 55 tahun. Pada 26 responden yang diteliti sebanyak 20 orang berjenis kelamin laki-laki (76,9%) dan berjenis kelamin perempuan 6 orang

(23,1%). Dan pendidikan responden

terbanyak pada penelitian ini adalah

berpendidikan terakhir SMA yaitu

sebanyak 13 responden atau sebesar 50.0% dari 26 responden. Serta diagnosa medis responden terbanyak dalam penelitian ini adalah cedera kepala yang diderita 11 responden atau sebanyak 42,3%.

2. Saturasi oksigen perifer responden sebelum dilakukan tindakan suction rata-rata adalah 93,65%, dengan nilai saturasi oksigen perifer paling rendah 90% dan tertinggi 96%.

3. Saturasi oksigen perifer responden sesudah dilakukan tindakan suction rata-rata adalah 97,46%, dengan nilai saturasi oksigen perifer paling rendah 94% dan tertinggi 100%.

4. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa terdapat peningkatan saturasi oksigen perifer pada responden antara sebelum dan

sesudah dilakukan tindakan suction.

Dengan nilai saturasi oksigen perifer

rata-rata sebelum suction yaitu 93,65%

meningkat menjadi rata-rata 97,46%

sesudah tindakan suction.

5. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa rata-rata selisih saturasi oksigen perifer sebelum dan sesudah intervensi suction adalah -3,808 dengan standar deviasi 0,895. Dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% diyakini bahwa rata-rata selisih saturasi oksigen perifer responden berada pada

(9)

rentang -4,169 sampai dengan -3,446. Dan dari hasil statistik didapatkan nilai p-value

sebesar 0,0001 (<0,05) maka dapat

disimpulkan bahwa Ho ditolak yang artinya secara statistik terdapat pengaruh sebelum dan sesudah intervensi suction yang signifikan pada saturasi oksigen perifer pada responden yang dirawat di ruang ICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

Saran

1. Bagi Instansi Rumah Sakit

Diharapkan memberikan pendidikan dan pelatihan dalam pelaksanaan manajemen jalan napas khususnya tindakan suction, perawatan secara berkala alat-alat suction dan pembuatan SOP tindakan suction yang baik sehingga dapat meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan pada pasien.

2. Bagi Perawat

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadikan tindakan suction sebagai salah satu tindakan yang dapat dilakukan dalam memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif pada masalah penurunan saturasi oksigen akibat obstruksi jalan napas yang dialami pasien.

3. Bagi Institusi Pendidikan

Bagi institusi pendidikan dapat menjadi bahan masukan dalam proses belajar mengajar dan menjadi referensi tambahan, sehingga tindakan suction dapat dijadikan

prioritas pembelajaran sebelum

melaksanakan asuhan keperawatan dengan pendekatan keperawatan kritis.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan

melakukan penelitian berkelanjutan dengan variabel dependen yang berbeda seperti pengukuran pada saturasi oksigen arteri

maupun efek hiperoxigenasi sebelum

tindakan suction.

KEPUSTAKAAN

Arikunto, S (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (6th eds). Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, A., dkk.,(2003). Metodelogi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat: Binarupa Awan Batam Centre.

Burnside, & Glynn, MC, (1995). Diagnosis Fisik, (17th eds). Jakarta: EGC

Carpenito, L.J (2001). Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada praktek klinis, (6th eds). Jakarta: EGC.

Departemen Kesehatan Indonesia (2012), Penyakit Tidak Menular, diperoleh dari http:www.depkes.go.id. Diunduh tanggal 25 Juni 2016.

Guyton, A.C., (1995). Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, (3rd eds). Jakarta : EGC.

Harahap, I,. (2010). Oksigenasi dalam Suatu Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.

Hariyanto, G.,(2013). Rancang Bangun

Oksimeter Digital Berbasis

Mikrokontroler. Jurnal. Dipublikasikan. Universitas Airlangga. Surabaya.

Hartini,S.,(2013), Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Perawat dalam Melakukan Tindakan Hisap Lendir pada Saturasi Pasien yang Terpasang Ventilator di Ruang Intensif RSDK Semarang. Jurnal,

dipublikasikan. Universitas

Muhammadiyah Semarang. Semarang. Hasan, I.M., (2002). Metodologi Penelitian

dan Aplikasinya. Jakarta: Ghalia

Indonesia.

Hastono, S.P., (2001). Analisis Data. Jakarta:

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Indonesia.

Hidajat, S.R., & De Jong, W., (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah, (2nd eds). Jakarta: EGC. Hidayat, A.A., (2007). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, (1st eds). Jakarta: Salemba Medika.

Hudak, C.M., & Gallo, B.M., (1996).

Keperawatan Kritis & Pendekatan

Holistik, (6th eds). Jakarta: EGC.

Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, S.,

(2004). Fundamentals of Nursing,

Concepts, Process, and Practice, (7th eds). Upper Saddle: Prentice Hall.

Medical Record RSUD AWS, (2016). 10

Besar Penyakit, diperoleh dari

http://rsudaws.com/10-besar.html, diunduh tanggal 30 Juni 2016.

Menerez, Fernanda de Souza., Heitor Pons Leite., Paulo Cesar Koch Nogueira. 2011. Malnutrition as An Independent Predictor Of Clinical Outcome In Critically III Children. Journal of Nutrition 28 (2012). Moorhead, S., Johnson, M., Mass, M.L., &

Swanson, E., (2008). Nursing Outcomes Classification, (4th eds). ST Louis: Mosby Elsevier.

(10)

Musliha,(2010). Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta : Nuha Medika.

Nasution, S (2008). Metode Research. Jakarta : Bumi Aksara.

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi

Penelitian Kesehatan, (Eds.Revisi).

Bandung: Rineka Cipta.

Nofiyanto, M. (2013). perbedaan nilai saturasi

oksigen (Spo2) berdasarkan ukuran

kateter suction pada tindakan open suction di ruang General Intensive Care Unit Rsup Dr. Hasan Sadikin Bandung. Jurnal. Dipublikasikan. Universitas Padjajaran. Bandung.

Nursalam, (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam, & Pariani, S., (2001). Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan, (1st eds). Jakarta: Infomedika.

Nurachmah, Elly. (2010). Buku Saku Prosedur Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.

Nurachmah, E., Sudarsono, R.S. (2000). Buku Saku Prosedur Keperawatan Medical Bedah. Jakarta : EGC.

Ozden, D., & Gorgulu, R.S., (2014). Effect of Open and Close Suction System on The Haemodynamic Parameters In Cardiac Surgery Patients. Jurnal. Dipublikasikan. Fakultas Keperawatan Univesitas Dokuz Eylul : Turki.

Potter, P.A., & Perry, A.G., (2009).

Fundamentals of Nursing, (7th eds). ST Louis: Mosby Elseveir.

Potter Perry, (2010) (Fundamentals of

Nursing) Fundamental Keperawatan;

Prosedur pengisapan lender (Suction). Salemba Medika

Riwidikdo, H., (2007). Statistik Kesehatan, Belajar mudah teknik analisis data dalam

Penelitian Kesehatan, (2nd eds).

Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.

Sekaran,U.,(2006). Metode Penelitian Bisnis. Jakarta : Salemba Empat.

Smeltzer, S.C., Bare, B.G., Hinkle, J.L., & Cheever, K.H., (2010). Brunner and Suddarth’s Texbook of Medical-Surgical

Nursing, (12th eds). Philadelphia:

Lipincott Willian and Wilkins.

Swidarmoko, Boedi & Agus Dwi,S,. (2010). Pulmonologi Intervensi Gawat Darurat Napas. Jakarta : Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Welch, J. (2010). Pulse Oximeters. Biomedical Instrumentation and Technology, 125-130.

Wiyoto. (2010). Hubungan Tingkat

Pengetahuan Perawat Tentang Prosedur Suction Dengan Perilaku Perawat Dalam Melakukan Tindakan Suction di ICU Rumah Sakit dr. Kariadi Semarang. Jurnal. Dipublikasikan.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji statistik menggunakan chi-square dengan taraf signifikansi 95% didapatkan p value = 0,606 (p value &lt; 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan

Berdasarkan hasil penelitian terhadap tingkat kesukaan donat ubi jalar yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa perlakuan penambahan surimi lele dumbo pada donat ubi

Pers yang ter ena tinda an anti pers pada umumnya adalah Pers-Pers yang independen dan tida menyata an diri sebagai aliran atau pembawa politi yang diper enan an oleh

Tiap piringan terdapat lubang kecil ditengah untuk jalannya umpan, sedangkan piringan mangkok membentuk celah sebagai jalan keluar untuk masing-masing cairan yang mengandung berat

Piutang merupakan pos yang sangat penting bagi suatu perusahaan dan merupakan bagian dari pos aktiva lancar yang sesuai dalam pernyataan standar akuntansi

Metode penelitian ini pustaka (library research). Objek dalam penelitian ini kesalahan tulis pada teks Suluk Ulam Loh dan ajaran kesempurnaan hidup yang

Kualitas sel telur yang dihasilkan dengan metode ini, hampir sama dengan sel telur yang berasal donor hidup, akan tetapi kelemahan dari metode ini adalah potensi genetik induk