1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Alquran adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan Allah swt kepada Rasul dan nabi-Nya yang terakhir Muhammad saw, melalui malaikat Jibril untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia sampai akhir zaman. Nama-nama lain
dari kitab suci ini adalah al-Furqȃn (pembeda), al-Zikir (peringatan) dan lain-lain,
tetapi yang paling terkenal adalah Alquran.
Fungsi utama diturunkannya Alquran untuk memberikan petunjuk kepada
seluruh umat manusia,1 Sebagai petunjuk umat manusia Alquran juga
memberikan ruang yang luas dan dorongan bagi pemeluk agama Islam untuk menggunakan akal sehat dan hati nuraninya dalam menerima kebenaran dalam
memahami petunjuk-petunjuk yang dijelaskan dalam Alquran.2 Alquran
menjamin semua kebutuhan manusia, baik dalam masalah agama, akidah, akhlak, ibadah maupun muamalah dan lainnya. Selain itu Alquran juga banyak memuat pesan-pesan para nabi (rasul) yang diutus oleh Allah dari nabi pertama sampai
nabi terakhir.3
Alquran diturunkan selama dua puluh dua tahun, dua bulan, dua puluh dua hari lamanya, ayat-ayat Alquran silih berganti turun dan selama itu pula Nabi
1Abullah Karim, Tafsir Ayat-ayat Aqidah, (Yogyakarta: Pusta Akademika Yogyakarta,
2014), 1.
2Agus S Djamil, Alquran Menyelami Rahasia Lautan,( Bandung: Mizan, 2012), 49. 3Syaikh Muhammad Al-Ghazali Alquran Kitab Zaman Kita Mengaplikasika Pesan Kitab
▸ Baca selengkapnya: yang termasuk hikmah beribadah dan bersyukur kepada allah swt. adalah
(2)Muhammad saw tekun mengajarkan Alquran kepada sahabat serta membimbing umatnya senantiasa berada ada jalan Allah. Dengan kerja keras beliau dan sahabat serta dengan pertolongan Allah sehingga pada Akhirnya Nabi Muhammad berhasil membangun masyarakat yang di dalamnya terpadu ilmu dan iman, nur dan hidayah, keadilan dan kemakmuran di bawah lindungan ridha dan ampunan
Allah SWT.4
Muhammad saw merupakan Rasul yang sangat mulia beliau adalah pemimpin dari umat-umat yang telah diciptakan, beliau merupakan, rahmat
semesta alam, umat manusia yang paling murni, dan penyempurna ajaran Islam,5
beliau juga sebagai penutup para nabi dan rasul, pembenar terhadap para nabi dan rasul terdahulu, penyempurna penyampaian risalah Allah, rasul bagi seluruh umat manusia sampai hari kiamat, beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam
semesta.6
Sebagai seorang Rasul yang kedudukannya paling tinggi di sisi Allah,7
kehidupan Nabi saw penuh dengan suri tauladan yang baik yang harus dicontoh
oleh umatnya.8 Nabi Muhammad saw merupakan pribadi yang akhlaknya paling
mulia beliau merupakan sosok yang santun, berasal dari keturunan kalangan terhormat, beliau juga sangat lemah lembut, ramah, bertanggug jawab penuh rasa
4
M.Quraish Shihab, Wawasan Alquran Tafsir Maudu’i Atas Berbagai Persoalan Umat,
(Bandung: Mizan,1996), 11.
5Seyyed Hossein Nasr, Kekasih Allah Muhammad Kedalaman Spiritual dan Arti Batiniah
Berbagai Episode Kehidupannya, terj. R. Soerjani Djopranoto, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,1997), 1.
6
Seyyed Hossein Nasr, kekasih Allah Muhammad, 2.
7Zaidah Kusuma Wati dkk, Ensiklopedia Nabi Muhammad Sebagai Utusan Allah,
(Jakarta: PT Lentera Abadi, 2011), 161.
8
simpati dan memiliki jiwa sosial yang tinggi9 sehingga orang-orang di sekitar
Rasul pun memberikan gelar ‘al-amîn’ (orang yang terpercaya) kepada beliau.10
Pemuliaan Allah terhadap Rasulullah dapat ditemukan dalam sejumlah firman-Nya yang dinyatakan dalam Alquran yang menegaskan keagungan derajat beliau. Allah memuji akhlak dan perilaku beliau. Allah memerintahkan agar hamba hamba-Nya berpegang teguh dan patuh kepada ajaran yang disampaikan
Rasul,11dan Allah kemudian memerintahkan kepada orang-orang yang beriman
supaya mengucapkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad seperti yang terdapat dalam QS. al-Ahzab 33: 56.
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.
Membaca salawat atas Nabi Muhammad saw mengandung pengertian berdoa kepada Allah swt agar Nabi Muhammad dan keluarganya selalu dilimpahkan kesejahteraan dan keberkatan. Menurut Husin Naparin dalam bukunya, salawat orang beriman untuk Nabi adalah doa mereka untuk beliau,
9Qodi’iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekaish Allah Muhammad saw
Keistimewaan Personal Keteladanan Berisalah, terj. Gufron A. Mas’adi, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2002), 123.
10A’id Abdullah al-Qarni
Alquran Berjalan, terj. Abad Badruzzaman, (Jakarta: Sahara
Publiseris,2008), 257.
11Qodi’iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah Muhammad saw
salawat malaikat untuk Nabi adalah permohonan ampun kepada Allah untuk beliau dan salawat Allah swt adalah rahmat dan sanjungan-Nya untuk Nabi di sisi
Malaikatnya.12
Dikalangan masyarakat muslim kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad diwujudkan dalam tradisi keagamaan yang dikenal dengan tradisi salawat baik yang bersifat perorangan maupun kelompok. Umumnya salawat identik dengan kegiatan membaca doa bersama yang menjadikan Nabi sebagai fokus syafaat dengan membaca salawat atas Nabi dan keluarga beliau. Tradisi pembacaan salawat ini pun terus berkembang di kalangan umat muslim di
berbagai penjuru.13
Tradisi pembacaan salawat kepada Nabi di kalangan muslim telah mengalami banyak perkembangan. Salawat Nabi telah memunculkan banyak variasi dalam bentuk dan fungsinya. Salawat yang pada awalnya merupakan doa, rahmat dan salam kepada Nabi kini berkembang menjadi syair-syair yang berkaitan dengan keagungan pribadi Nabi atau riwayat kehidupan Nabi. Banyak jenis bacaan salawat yang berkembang di kalangan Islam akan tetapi yang lebih populer dan berkembang di kalangan muslim Indonesia berkenaan dengan syair-syair keagungan Nabi Muhammad saw adalah kumpulan salawat yang terhimpun
dalam Majmu’ah Mawȃ lid yaitu kitab Maulid Barjjanji karya Imam Ja’far
al-Barzanji, kitab Maulid Diba’ karya Imam Jalil Abdurrahman adz-Diba’i, kitab
Maulid Burdah karya Syeikh Syarifuddin Abu Abdullah Muhammad Sa’id
12
Husain Naparin, Muhammad Rasulullah, 88.
13Wildana Wargadinata, Siritualitas Salawat Kajian Sosio-Sastra Nabi Muhammad saw
Bushoiri dan kitab Maulid Simtudduror atau Maulid Habsyi karya Habib Ali bin
Muhammad al-Habsyi.14
Di Banjarmasin sendiri perkembangan pembacaan salawat Nabi tidak luput dari peran para ulama Banjarmasin yang giat dalam membangun majelis-majelis pengajian dari majelis-majelis-majelis-majelis itulah para ulama mengajarkan salawat dan dijadikan sebagai amalan masyarakat. Selain itu tradisi salawat juga banyak dipopulerkan oleh kalangan santri di pondok-pondok pesantren yang merupakan pusat pendidikan Islam, setiap aktifitasnya diisi nuansa-nuansa keislaman seperti zikir dan salawat. Misalnya salawat yang dibaca sebagai wirid, dibaca sebagai amalan harian hingga salawat yang mengiringi acara-acara tertentu.
Pada masyarakat umum pun tradisi salawat banyak diamalkan dalam berbagai aktivitasnya seperti pembacaan salawat pada acara perkawinan, kematian (tahlilan), aqiqah, pemberangkatan haji, menghuni rumah baru dan pembacaan
salawat dalam peringatan hari-hari besar seperti Maulid Nabi, Isra’mi’raj, tahun
baru hijriah, acara-acara yasin salawat dan lainya, juga salawat yang diamalkan saat upacara adat Banjar, salawat sebagai amalan perorangan baik yang bertujuan
untuk dzikrullȃh, mencari syafaat di hari kiamat dan tawassul kepada Nabi, juga
sebagai pelindung, pengabulan doa dan hajat tertentu.
Banyaknya pengamalan tradisi salawat yang mengakar di masyarakat
Banjarmasin ini tak jarang menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat muslim
seperti ada yang mengaitkan pembacaan salawat Nabi dengan bid’ah karena ada
14
Khalid Mawardi, Salawat Pembelajaran Akhlak, Jurnal Pemikiran Alternatif
unsur-unsur penyimpangan yang menurut pendapat mereka mengundang kesyirikan. Ulama sebagai tokoh panutan masyarakat memiliki peranan sangat penting dalam menjawab permasalahan umat muslim. Termasuk dalam hal pengamalan salawat di Bnajarmasin yang mana perintah bersalawat atas Nabi terdapat dalam Alquran surah al-Ahzab ayat 56. Berdasarkan latar belakang di atas penulis berminat untuk meneliti lebih lanjut bagaimana pemahaman Ulama terhadap surah al-Ahzab ayat 56 hasilnya dihimpun dalam sebuah skripsi yang
berjudul Pemahaman Ulama Kota Banjarmasin Terhadap Ayat Salawat Atas
Nabi (QS. al-Ahzab ayat 56). B. Rumusan Masalah
Berangkat latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan penelitian ini, yang memfokuskan dalam menjawab pokok permasalahan ini adalah: Bagaimana pemahaman ulama Kota Banjarmasin terhadap ayat salawat atas Nabi (QS. al-Ahzab ayat 56) ?
1. Apa makna QS. al-Ahzab ayat 56 menurut ulama Kota Banjarmasin?
2. Apa makna salawat atas Nabi berdasar ayat tersebut ?
3. Apa makna salawat Allah, malaikat dan manusia berdasar ayat
tersebut?
Sebagai upaya untuk menghindari adanya kesalah pahaman terhadap masalah dalam penelitian ini, penulis merasa perlu mengemukakan definisi operasional sebagai berikut:
1. Pemahaman
Pemahamanberasal dari kata paham yang artinya pengetahuan banyak.
Secara istilah pemahaman yaitu proses, cara, perbuatan memahami atau
memahamkan.15 Pemahaman yang dimaksud dalam penenelitan ini adalah
pemahaman menurut ulama Kota Banjarmasin.
2. Ulama Banjarmasin
Ulama adalah orang yang ahli dalam pengetahuan agama Islam.16 Ulama
adalah orang yang tahu atau yang memiliki pengetahuan ilmu agama yang dengan pengetahuannya tersebut akan menumbuhkan rasa takut dan tunduk kepada Allah.
Kata ulama merupakan bentuk jamak dari kata “‘âlim”, yang berarti “orang yang
mengetahui” atau yang mempunyai pengetahuan. Ulama yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ulama dalam arti sempit yaitu orang-orang yang memiliki pengetahuan agama yang luas dan mendalam serta diakui oleh masyarakat Banjarmasin sebagai tokoh agama. Kemudian ulama tersebut adalah ulama yang tergabung di dalam lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin.
3. Salawat atas Nabi
15Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga,
(Jakarta: Balai Pustaka, 2005), 811.
16
Salawat secara bahasa yaitu lafadh jamak dari kata shalât ( صةلا ). Salawat
merupakan bahasa arab, yang artinya adalah doa rahmat dari Tuhan, memberi
berkah dan ibadah.17 Membaca salawat untuk Nabi, dimaksudkan mendoakan atau
memohonkan berkah kepada Allah Swt.18 Yang dimaksud salawat atas Nabi
dalam hal ini adalah sesuai perintah salawat atas Nabi yang terdapat dalam QS. al-Ahzab ayat 56.
4. Surah al-Ahzab ayat 56
Surah artinya bagian atau bab dalam Alquran. Sedangkan ayat artinya alamat atau tanda yaitu beberapa kalimat yang merupakan kesatuan maksud
sebagai bagian surah dalam kitab suci Alquran.19 Surah al-Ahzab adalah surah
ke-90 dari segi peruntutan turunnya, surah ini turun sebelum surah al-Maidah dan sesudah surah al-Anfal. Surah tersebut terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk surah-surah Madaniyah. Surah ini dinamakan al-Ahzab yang berarti “Golongan yang bersekutu” karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat yang menceritakan
peperangan al-Ahzab.20 Surah al-Ahzab yang dibahas dalam penelitian ini adalah
ayat 56 ayat tersebut menjelaskan tentang perintah bersalawat kepada Nabi. Tegasnya yang dimaksud dalam judul di atas adalah pemahaman para ulama yang tergabung dalam MUI Kota Banjarmasin terhadap perintah bersalawat atas Nabi Muhammad saw, berdasar ayat 56 surah al-Ahzab.
D. Tujuan dan Signifikansi penelitian
17Fachruddin, Ensiklopedia Alquran jilid 2, (Jakarta: P.T. Meltons Putra, 1992), 361. 18M.Ali Chasan Umar, Kumpulan Salawat Nabi Lengkap Dengan Khasiatnya,
(Semarang: P.T Karya Toha Putra,1981), 11.
19Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1109.
20M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Miabah Pesan, Kesan dan Keserasian Alquran jilid.
1. Tujuan penelitian
Sebagaimana pemaparan rumusan di atas maka tujuan penelitian ini secara rinci adalah:
a. Untuk mengetahui makna QS. al-Ahzab ayat 56 menurut ulama Kota
Banjarmasin.
b. Untuk mengetahui makna salawat berdasar ayat tersebut.
c. Untuk mengetahui makna salawat Allah, malaikat dan manusia
berdasar ayat tersebut. 2. Signifikansi penelitian
Adapun hasil penelitian ini diharapkan memberikan kegunaan sebagai berikut:
a. Sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan terkait
kandungan surah al-Ahzab ayat 56.
b. Sebagai bahan tambahan khazanah kepustakaan dari kajian lapangan
terkait kandungan surah al-Ahzab ayat 56 bagi penelitian dalam ruang lingkup yang lebih luas dan mendalam.
c. Secara sosial, penelitian ini menginformasikan kepada masyarakat
terkait kajian kritis terhadap al-Ahzab ayat 56 khususnya di kalangan ulama Banjarmasin yang memiliki keahlian dibidang tersebut.
E. Tinjauan Terhadap Kajian Sebelumnya
Dari penelusuran yang peneliti lakukan tidak ditemukan penelitian skripsi yang membahas secara khusus terkait pemahaman Ulama Kota Banjarmasin
terhadap ayat salawat atas Nabi (QS. al-Ahzab ayat 56), kecuali ada beberapa penelitian yang mengambil tema dan lokasinya mirip seperti :
Pertama skripsi yang ditulis Rafi’i Hamdi tahun 2013, melakukan
penelitian berjudul “Ayat-ayat Alquran Sebagai Pekasih Menurut Ulama di
Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin” Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Insitut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Skripsi tersebut menjelaskan tentang penelitian mengenai ayat-ayat Alquran yang dijadikan ulama Banjarmasin, baik berupa bacaan maupun tulisan yang diberikan kepada orang-orang yang meminta amalan agar lekas berjodoh yang disebut ayat pekasih. Skripsi ini tidak sama dengan yang dilakukan penulis, meski tema yang di bahas sama yaitu pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran dan objek kajiannya juga ulama Banjarmasin.
Kedua Jurnal Pemikiran Alternatif Kependudukan oleh Khalid Mawardi Dosen Tarbiyah STAIN Purwokerto berjudul “Salawat Pembelajaran Akhlak”. Dalam jurnalnya berisikan praktek-praktek pengamalan salawat yang diamalkan dan berkembang di masyarakat serta pengaruhnya terhadap pembelajaran akhlak. Berbeda dengan judul yang peneliti lakukan terkait pemahaman ulama Kota Banjarmasin terhadap surah Al-Ahzab ayat 56 yang ayatnya menjelaskan perintah bersalawat kepada Nabi.
Ketiga buku yang ditulis oleh DR H. Wildana Wargadinata. IC,M.AG. berjudul “Spiritualitas Salawat Kajian Sosio Sastra Nabi Muhammad”, buku tersebut berisikan praktek pengamalan salawat dan tujuan dari berbagai aspek secara sosio-historis. Dalam Buku tersebut berisikan pembahasan praktek shlawat
dalam sosio sastra yang ada di Indonesia sedangkan tema pembahasan yang penulis lakukan mengarah kepada pemahaman ulama Banjarmasin terhadap ayat perintah bersalawat kepada Nabi yaitu QS. al-Ahzab ayat 56.
F. Metode Penelitian
Sebagai karya ilmiah, tidak lepas dari penggunaan metode, karena metode
merupakan pedoman dari kegiatan penelitian terlaksana dengan sistematis.21
Dengan demikian, metode merupakan pijakan dasar agar penelitian mencapai hasil maksimal. Maka Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat penelitian lapangan (field research), yaitu penulis
turun langsung ke lapangan untuk menghimpun data berupa pendapat ulama Kota Banjarmasin tentang pemahaman mereka terhadap kandungan QS. al-Ahzab ayat 56. Merupakan kualitatif mengingat fokus penelitianya adalah persepsi orang terhadap objek tertentu. Pendekatan penelitian ini bersifat deskriptif yaitu meneliti suatu pemahaman ulama di Kota Banjarmasin kemudian di deskripsikan apa adanya.
21
Anton Bekker dan Ahmad Charis Zubair, Metodoligi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1999), 10.
2. Lokasi, subjek dan objek penelitian
a. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian adalah wilayah Kota Banjarmasin. Daerah ini dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan bahwa Kota Banjarmasin merupakan pusat kota di Kalimantan Selatan di samping banyaknya ulama-ulama besar yang ada di daerah ini, baik ulama yang tergabung di Majelis Ulama maupun ulama yang berkecimpung di dunia intelektual. Ulama yang di kehendaki dalam penelitian ini adalah ulama yang tergabung dalam lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin, para ulama tersebut dimintai pendapatnya terkait masalah penelitian yang ingin diteliti penulis.
b. Subjek penelitian
Yang menjadi subjek penelitian ini adalah ulama yang berada di wilayah Kota Banjarmasin yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin. Dipilihnya ulama dalam MUI karena MUI merupakan lembaga
yang mewadahi para ulama, zu’ama dan cendikiawan muslim untuk membimbing
membina dan mengayomi kaum muslim di wilayah Kota Banjarmasin.
c. Objek penelitian
Objek penelitian ini adalah pemahaman para ulama Kota Banjarmasin terhadap QS. al-Ahzab ayat 56.
3. Data dan Sumber data
a. Data primer
Data primer yaitu data yang diperoleh dari sumber pertama/objek penelitian. Data ini diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Datanya meliputi identitas responden dan pendapat mereka tentang pemahaman terhadap kandungan QS. al-Ahzab ayat 56.
b. Data sekunder
Data sekunder penelitian ini meliputi buku-buku yang berkaitan dengan QS. al-Ahzab ayat 56 dan buku-buku yang berkaitan dengan salawat atas Nabi Muhammad saw.
Sumber data penelitian ini meliputi:
a. Responden, yaitu para ulama di wilayah Kota Banjarmasin yang
memberikan pemahamannya terhadap surah al-Ahzab ayat 56 yang dalam hal ini adalah Ulama yang tergabung dalam MUI Kota Banjarmasin.
b. Informan yaitu instansi terkait seperti pegawai di Badan Pusat Statistik
Kota Banjarmasin, pegawai kantor Kementrian Agama Kota, staf MUI Kota Banjarmasin dan orang-orang yang mungkin bisa memberikan informasi tentang kondisi wilayah yang diteliti.
4. Teknik Pengumpulan data
Untuk menghimpun dan memperoleh data yang diperlukan, penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. Paling tidak ada tiga teknik yang dilakukan, yaitu:
a. Interview atau wawancara adalah teknik pengumpulan data yang akan penulis lakukan melalui pengajuan sejumlah pertanyaan secara lisan maupun tertulis kepada responden dan informan mengenai masalah yang diteliti. Dalam hal ini penulis akan mengajukan pertanyaan secara mendalam kepada ulama terkait pemahamannya terhadap kandungan ayat salawat atas Nabi QS. al-Ahzab ayat 56.
b. Observasi adalah teknik pengamatan dan pencatatan secara
sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Observasi yang digunakan adalah observasi sistematik, yakni teknik pengumpulan yang terlebih dahulu menentukan apa yang akan diamati secara sistematis. Artinya wilayah dan ruang lingkup observasi telah dibatasi secara tegas sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian. Untuk itu penulis langsung turun ke lapangan.
c. Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data melalui informasi
yang didokumentasikan berupa dokumen tertulis maupun rekaman. Penulis mengumpulkan dokumen yang berhubungan dengan penelitian khususnya data gambaran umum lokasi penelitian yaitu wilayah Kota Banjarmasin.
5. Pengolahan dan analisis data
Setelah data terkumpul, proses selanjutnya adalah mengolah data yang ada dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Editing, yaitu memeriksa menyaring dan mengoleksi data yang terkumpul untuk menyempurnakan kekurangannya.
b. Kategorisasi, yaitu mengklasifikasikan data yang telah
terkumpul sesuai dengan jenis dan permasalahan sehingga mudah mengurai penyajian data.
c. Interpretasi yaitu memberikan penafsiran dan penjelasan
terhadap data yang dianggap perlu penjelasan agar mudah dimengerti dan dipahami maksudnya.
d. Setelah menempuh tahapan-tahapan dalam pengolahan data dan
disajikan dalam bab III, maka penulis menganalisis data tersebut pada bab IV dengan metode deduktif yaitu analisis yang bersifat umum terhadap hal-hal yang bersifat khusus. Jenis analisis yang digunakan adalah analisis deduktif sesuai permasalahan yang diteliti, maupun pendapat peneliti sendiri, setelah itu baru disimpulkan.
G. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang sistematis mengenai penelitian ini, maka pembahasanya disusun dalam sistematika pembahasan menjadi empat bab sebagai berikut;
Bab pertama, Pendahuluan yang berisi penjelasan tentang seluk beluk penelitian yang akan dilakukan meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, deskripsi operasional, tujuan penelitian dan signifikansi penelitian, tinjauan terhadap kajian sebelumnya, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab kedua merupakan Landasan teori, memuat penafsiran klasik dan modern terhadap surah al-Ahzab ayat 56 meliputi Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Jalalin, Tafsir Imam Syafi’i dan tafsir modern meliputi Tafsir Misbah, Tafsir al-Azhar dan Tafsir al-Maraghi serta penjelasan mengenai bentuk dan keutamaan salawat.
Bab ketiga berisi Laporan hasil penelitian mengemukakan gambaran umum lokasi penelitian, meliputi gambaran umum lokasi penelitian dan pemahaman ulama terhadap QS. al-Ahzab ayat 56 terkait penafsiran makna ayat, makna salawat dalam ayat tersebut, dan makna salawat Allah, malaikat, dan manusia secara deskriptif.
Bab keempat, berisikan analisis penulis terhadap pemaparan yang disampaikan ulama Kota Banjarmasin.
Bab Kelima, penutup menyajikan kesimpulan yang berisi penegasan jawaban atau temuan terhadap masalah yang diteliti menyusul saran-saran penulis.