• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGENDALIAN MUTU PADA PROSES PRODUKSI TUNA LOIN (Thunnus sp.) MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA. Oleh : DYHART PUTRI MENTARI C

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGENDALIAN MUTU PADA PROSES PRODUKSI TUNA LOIN (Thunnus sp.) MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA. Oleh : DYHART PUTRI MENTARI C"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh :

DYHART PUTRI MENTARI C34070019

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

RINGKASAN

DYHART PUTRI MENTARI. C34070019. Pengendalian Mutu pada Proses

Produksi Tuna Loin (Thunnus sp.) Menggunakan Metode Six Sigma. Dibimbing

oleh. HERU SUMARYANTO dan JOKO SANTOSO.

Tuna merupakan ikan laut yang memiliki nilai komersial tinggi dalam perdagangan nasional maupun internasional. Salah satu produk olahan tuna yang memiliki nilai komersial tinggi adalah tuna loin. Upaya peningkatan ekspor tuna harus didukung oleh peningkatan kuantitas, kualitas, dan nilai tambah tuna. Perusahaan yang ingin bertahan harus dapat menghasilkan produk bermutu sesuai keinginan pembeli. Dalam menjaga mutu produk yang dihasilkan diperlukan

teknik pengdalian mutu dan perbaikan yang terus menerus (quality improvement).

Teknik pengendalian dan peningkatan mutu dapat dianalisis dengan menggunakan

metode six sigma. Metode six sigma merupakan terobosan baru dalam

manajemen peningkatan kualitas untuk menghasilkan peningkatan kualitas menuju tingkat kegagalan nol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kestabilan produksi tuna loin melalui rata-rata berat tuna segar, tuna loin, dan rendemen yang dihasilkan melalui peta kendali mutu serta kemampuan proses dalam menghasilkan produk tuna loin.

Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yang diawali dengan pemahaman proses produksi tuna loin, pengendalian mutu tuna segar dan loin,

perancangan metode DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control),

serta metode analisa data meliputi penentuan nilai rata-rata proses (𝑥 ), standar deviasi (s), batas spesifikasi atas (USL) dan batas spesifikasi bawah (LSL), nilai

DPMO dan nilai sigma, nilai standar deviasi maksimal (Smaks), batas kontrol atas

(UCL) dan batas kontrol bawah (LCL), serta nilai kapabilitas proses (Cpm) dengan

menggunakan software Ms.Excell 2007 dan Minitab15.

Peta kendali mutu pada hasil tahap penerimaan tuna segar dan produksi tuna loin menunjukkan titik kesebelas berada diluar batas kendali atas. Peta kendali mutu rendemen menunjukkan titik kesembilan berada diluar batas kendali atas dan terdapat pelarian panjang 4 titik secara berurutan. Hal ini mengindikasikan ketidaknormalan dalam proses produksi. Nilai kapabilias proses tuna segar, tuna loin, dan rendemen menunjukkan 1,00> Cpm >1,99, sehingga

keadaan proses produksi loin berada dalam keadaan tidak mampu sampai cukup mampu untuk menghasilkan produk sesuai spesifikasi. Keadaaan proses produksi yang tak terkendali dipengaruhi oleh variasi penyebab khusus, seperti bahan baku, manusia, lingkungan, peralatan, dan metode. Proses perbaikan dilakukan dengan menggunakan siklus Deming (PDSA) dan perbaikan terus menerus, serta pengendalian agar proses tetap terjaga.

(3)

PENGENDALIAN MUTU PADA PROSES PRODUKSI TUNA

LOIN (Thunnus sp.) MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA

Oleh :

DYHART PUTRI MENTARI C34070019

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(4)

NRP : C34061419

Departemen : Teknologi Hasil Perairan

Menyetujui,

Pembimbing I, Pembimbing II,

Ir. Heru Sumaryanto, M. Si Dr. Ir. Joko Santoso, M. Si

NIP. 196104091989031003 NIP. 196709221992031003

Mengetahui,

Ketua Departemen Teknologi Hasil Perairan

Dr. Ir. Ruddy Suwandi, MS., Mphil. NIP. 19580511 198503 1 002

(5)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi “Pengendalian Mutu pada

Proses Produksi Tuna Loin (Thunnus sp.) menggunakan Metode Six Sigma”

adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi atau kutipan yang berasal dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juni 2011

Dyhart Putri Mentari C34070019

(6)

KATA PENGANTAR

Penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyusun skripsi dengan judul “Pengendalian Mutu pada Proses Produksi Tuna

Loin (Thunnus sp.) menggunakan Metode Six Sigma”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selama penulis melakukan penelitian dan penyusunan skripsi. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Ir. Heru Sumaryanto, M. Si, selaku dosen pembimbing skripsi atas

segala bimbingan dalam penyusunan skripsi, arahan dan nasihat kepada penulis.

2. Alm. Ibu Ir. Anna C. Erungan, MS, selaku dosen pembimbing atas segala

bimbingan dalam penyusunan skripsi.

3. Bapak Dr. Ir. Joko Santoso, M. Si, selaku dosen pembimbing atas segala

bimbingan dalam penyusunan skripsi.

4. Dr. Ir. Ruddy Suwandi MS, MPhil selaku ketua Departemen Teknologi

Hasil Perairan.

5. Bapak Dr. Agoes M. Jacoeb, Dipl. Biol selaku Ketua Komisi Pendidikan

Departemen Teknologi Hasil Perairan.

6. Pimpinan, seluruh staff dan pegawai PT Madidihang Freshindo yang telah

memberikan kesempatan kepada Penulis untuk melaksanakan penelitian.

7. Pak Fajar selaku QA dan Mbak Rizki selaku pembimbing lapang dan teman

yang telah banyak memberikan informasi, ilmu, bimbingan dan canda tawa kepada Penulis.

8. Papi, Mami, serta adik-adikku (Randi, Richard, Dianda, Diana, Dianita, dan

Reyhandika) atas kasih sayang, dukungan, semangat, dan doa yang selalu menyertai penulis.

9. Ibu, Ita, Kak Dian, Fifi, Netti, dan Vera atas segala dukungan kepada

(7)

10. Nanang Kurnia atas perhatian, semangat, keceriaan, dukungan, dan saran yang diberikan bagi penulis.

11. Teman–teman THP 44 (Gian, Ikma, Nisa, Tiza, Rika, Fitri, Salman, Adi),

43, 45, dan kosan Mega 1 (Icha, Resty, Putri, Wike, Kak tika)yang telah memberikan semangat dan informasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi.

12. Semua Pihak yang telah membantu penulis dalam melaksanakan praktek

lapang yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan. Semoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan informasi yang berguna bagi semua pihak yang

memerlukan.

Bogor, Juni 2011

Dyhart Putri Mentari C34070019

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 18 Mei 1989. Penulis merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara dari pasangan H. Doddy Assaputra, SE dan Alm. Etty Suharti. Penulis memulai jenjang pendidikan formal di TK Gembira tahun (1994-1995) kemudian SD Gembira Bekasi tahun (1995-1999) dan SD Cikuya II Tangerang tahun (1999-2001), selanjutnya penulis melanjutkan pendidikannya di SLTP 252 Jakarta Timur tahun (2001-2004). Pendidikan menengah atas ditempuh penulis di SMAN 71 Jakarta Timur tahun (2004-2007). Pada tahun 2007, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dengan Program Studi Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Selama SMA penulis meraih penghargaan sebagai siswa BTP (Bersih Transparan Profesional) tahun 2005/2006 dan 2006/2007, serta merupakan wakil peserta Olimpiade Kimia tahun 2007 pada tingkat Jakarta Timur. Masa perkuliahan, penulis aktif dalam Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan (Himasilkan) sebagai anggota divisi PSDM periode 2008-2009. Penulis juga aktif sebagai asisten mata kuliah Ekologi Perairan tahun ajaran 2009/2010 serta berbagai kepanitiaan kegiatan kemahasiswaan di Institut Pertanian Bogor. Selain itu, penulis juga pernah meraih medali perunggu di bidang PKM-K pada Pimnas

XXII di Universitas Brawijaya Malang, serta meraih juara 2 pada Banking Goes to

Campus Business Plan Competition yang diadakan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor, penulis melakukan penelitian dengan judul “Pengendalian Mutu

(9)

DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR TABEL ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 3 1.3 Batasan Masalah... 3 1.4 Manfaat Penelitian ... 3 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Deskrpsi Ikan Tuna ... 4

2.2 Komposisi Nilai Gizi Ikan Tuna ... 5

2.3 Tuna Loin ... 6

2.4 Definisi Mutu ... 8

2.5 Pengendalian Mutu... 9

2.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mutu ... 10

2.7 Six sigma ... 12

2.7.1 Metrik dan Pengukuran ... 14

2.7.2 Dasar Statistik Six sigma ... 14

2.7.3 Pemecahan masalah dengan six sigma ... 16

2.8 Statistical Process Control (SPC) ... 17

2.8.1 Metrik SPC ... 19

2.8.2 Lembar Pemeriksaan ... 20

2.8.3 Grafik Kendali ... 20

2.8.4 Diagram Sebab Akibat ... 24

2.8.5 Kapabilitas proses ... 26

2.9 Peranan Statistika dalam Pengendalian Mutu ... 28

3 METODOLOGI ... 30

3.1 Kerangka Pemikiran ... 30

3.2 Metode Pengumpulan Data ... 30

3.3 Tahapan Penelitian ... 31

3.4 Metode Analisis Data ... 35

(10)

4.1 Proses Produksi Tuna Loin ... 39

4.2 Pengendalian Mutu... 40

4.2.1 Karakteristik bahan baku tuna ... 41

4.2.2 Kriteria peyimpangan bahan baku tuna... 41

4.2.3 Karakteristik Mutu Tuna Loin dan Standar Penerimaan... 42

4.2.4 Jenis dan Penyebab Penyimpangan Tuna Loin ... 42

4.3 Perancangan Metode DMAIC ... 43

4.3.1 Define (perumusan masalah) ... 43

4.3.2 Measure (Pengukuran) ... 45

4.3.2.1 Pengendalian mutu terhadap rata-rata berat tuna segar ... 45

4.3.2.2 Pengendalian mutu terhadap berat rata-rata tuna loin ... 48

4.3.2.3 Pengendalian mutu terhadap rata-rata rendemen tuna loin ... 50

4.3.3 Analyze (Analisa data)... 52

4.3.3.1 Diagram sebab-akibat tahap penerimaan tuna segar ... 52

4.3.3.2 Diagram sebab-akibat tahap produksi tuna loin ... 55

4.3.3.3 Diagram sebab-akibat proses terhadap rendemen loin ... 56

4.3.4 Improve (Peningkatan/perbaikan) ... 59

4.3.5 Control (Pengendalian) ... 60

5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 62

5.1 Kesimpulan ... 62

5.2 Saran ... 62

(11)

DAFTAR GAMBAR

No Teks Halaman

1. Ikan Tuna (Thunnus sp.) 5

2 . Konsep six sigma dan perbaikan proses 13

3. Kurva pergeseran sigma untuk mengurangi variasi 15

4. Lembar pemeriksaan item cacat 20

5. Diagram alir penggunaan peta-peta kontrol 21

6. Grafik kendali secara umum 24

7. Diagram sebab-akibat 25

8. Kurva indeks kapabilitas proses 27

9. Diagram alir proses produksi tuna loin 32

10. Diagram alir pembuatan grafik kendali proses secara statistik 34

11. Peta SIPOC dalam pembuatan produksi tuna loin 44

12. Peta kendali (X-bar) berat tuna bulan Januari-Maret 2011 di PT Y 46

13. Peta kendali (X-bar) berat loin bulan Januari-Maret 2011 di PT Y 48

14. Peta kendali (X-bar) rendemen bulan Januari-Maret 2011 di PT Y 50

15. Diagram sebab-akibat variasi tahap penerimaan tuna 53

16. Cacat dalam pada daging tuna segar Big eye 53

17. Diagram sebab-akibat variasi dalam produksi loin 55

(12)

DAFTAR TABEL

No Teks Halaman

1. Komposisi gizi beberapa jenis tuna (Thunnus sp.) per 100 gr daging 6

2. Jumlah cacat pergeseran proses dari titik tengah serta tingkat kualitasnya 15

3. Hubungan antara Cp dan kapabilitas proses 28

4. Kriteria penyimpangan bahan baku 42

5. Karakteristik mutu tuna loin dan standar penerimaan 42

6. Jenis dan penyebab penyimpangan tuna loin 43

7. Evaluasi rata-rata penerimaan tuna bulan Januari-Maret 2011 di PT Y 47

8. Evaluasi rata-rata berat tuna loin bulan Januari-Maret 2011 di PT Y 49

9. Hasil evaluasi rata-rata rendemen tuna Januari-Maret 2011 di PT Y 51

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Gambar proses produksi pembuatan loin 68

2. Data berat rata-rata penerimaan tuna segar, tuna loin, dan rendemen 69

3. Tabel peluang nilai z untuk sebaran normal baku dengan =0 dan =1 70

4. Contoh perhitungan evaluasi tahap produksi loin 72

(14)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan merupakan salah satu sumber protein yang banyak dikonsumsi

masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar, salah satunya berasal dari perikanan laut. Hal ini terlihat dari peningkatan volume produksi perikanan laut pada tahun 2004 sampai 2008 dari 4.320.241 ton hingga 4.701.933 ton dengan persentase kenaikan rata-rata yang terjadi mencapai 2,16% (KKP 2010). Selain itu, Indonesia merupakan negara yang berpotensi besar sebagai penghasil tuna. Peluang pasar ikan tuna cukup besar, baik ekspor maupun pasar lokal. Sasaran ekspor tuna yang terbesar adalah Jepang. Menurut Direktur Sumber Daya Ikan, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Agus Apun Budhiman, produksi ikan tuna dan cakalang pada tahun 2009 mencapai 541.303 ton dan mengalami peningkatan sebanyak 5,94% pada tahun 2010 sebesar 577.430 ton (Alamsy 2011). Biasanya tuna yang

diekspor merupakan tuna yang masih segar untuk diolah menjadi sashimi atau

sushi (Mateo et al. 2006).

Upaya peningkatan ekspor tuna harus didukung oleh peningkatan kuantitas, kualitas, dan nilai tambah tuna. Umumnya perusahaan tuna ekspor memiliki beberapa tantangan dalam menjalankan usahanya, antara lain (i) persaingan dengan perusahaan sejenis, terutama perusahaan asing, (ii) tuntutan harus terpenuhinya standar mutu produk yang telah ditetapkan untuk pasar ekspor, (iii) kemampuan mengekspor dengan kuantitas yang sesuai permintaan pembeli. Sehingga perusahaan yang ingin bertahan harus dapat menghasilkan produk bermutu yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan konsumen. Dalam menjaga mutu

produk yang dihasilkan, diperlukan perbaikan yang terus menerus

(quality improvement). Pengendalian mutu dilakukan untuk menghasilkan mutu produk yang konsisten sesuai dengan tuntutan kebutuhan konsumen. Teknik pengendalian dan peningkatan mutu produk dapat dianalisis menggunakan metode six sigma (Ariani 1999).

Six sigma merupakan suatu terobosan baru dalam bidang manajemen kualitas untuk menghasilkan peningkatan kualitas menuju tingkat kegagalan nol.

(15)

Prinsip-prinsip pengendalian dan peningkatan kualitas dengan metode six sigma sudah dibuktikan terlebih dahulu oleh perusahaan Motorola selama kurang lebih 10 tahun, serta implementasinya telah mampu mencapai tingkat kualitas

3,4 DPMO (defects per million opportunities atau kegagalan per sejuta

kesempatan) (Gaspersz 2003). Six sigma memiliki prinsip DMAIC

(Define, Measure, Analyze, Improve, and Control) sebagai suatu sistem manajemen yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kinerja perusahaan, serta menghilangkan faktor-faktor yang dapat menghambat peningkatan

efektivitas suatu sistem produksi. Penerapan teknik pengendalian mutu six sigma

memiliki terobosan yang menambah nilai kepada perusahaan dan pelanggan

melalui pendekatan masalah yang sistematis (Byrne et al. 2007).

Konsep six sigma didasari oleh kepuasan pelanggan apabila mereka

menerima nilai yang diharapkan. Sebagai ilustrasi, apabila produk (barang/jasa)

diproses pada tingkat kualitas six sigma, maka perusahaan boleh mengharapkan

3,4 kegagalan persejuta kesempatan (DPMO) atau mengharapkan bahwa 99,99966 persen dari apa yang diharapkan pelanggan akan ada dalam produk itu. Six sigma dapat dijadikan ukuran target kinerja pada sistem industri serta dipandang sebagai pengendalian proses industri berfokus pada pelanggan dengan memperhatikan kapabilitas proses (Evans dan Lindsay 2007).

Menurut Saulina (2009), pengendalian mutu dengan metode six sigma

telah dilakukan di perusahaan proses pembekuan udang. Konsep six sigma

dilakukan untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi pengendalian mutu pada proses pembekuan udang. Hasil pengendalian mutu memperoleh nilai kapabilitas

proses (Cpm > 2), sehingga keadaan proses produksi berada dalam keadaan mampu

untuk menghasilkan produk sesuai spesifikasi.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penerapan metode six sigma

pada industri tuna loin untuk mengetahui efektivitas dan konsistensi penerapan sistem pengendalian mutu. Pengkajian dilakukan pada data rata-rata berat tuna segar dan tuna loin serta melihat pengaruh besarnya rendemen yang dihasilkan dengan memperhatikan kemampuan prosesnya. Hal ini berkaitan dengan

kestabilan produksi tuna loin, ketidaksesuaian mutu produk (wholesomeness) dan

(16)

1.2 Tujuan

Penelitian analisis pengendalian mutu pada proses produksi tuna loin (Thunnus sp.) menggunakan metode six sigma adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui kestabilan produksi tuna loin melalui rata-rata berat tuna segar, tuna loin, dan rendemen yang dihasilkan melalui peta kendali mutu.

2. Mengetahui kemampuan proses dalam menghasilkan produk tuna loin melalui

pengukuran kapabilitas proses.

1.3 Batasan Masalah

Fokus kajian analisis pengendalian mutu dilakukan terhadap rata-rata berat tuna segar, tuna loin serta rendemen yang diperoleh selama produksi tuna loin pada bulan Januari sampai dengan Maret 2011 di PT Y. Kajian ini dilakukan mulai tahap penerimaan bahan baku, pemotongan kepala, sirip, dan ekor, pembuatan loin, pembuangan daging gelap, kulit dan perapihan, serta penimbangan berat tuna loin sesuai keinginan pembeli.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini antara lain:

1. Penulis

Meningkatkan kemampuan penulis dalam mengidentifikasi masalah, menganalisis, dan menemukan solusi yang terkait dengan pengendalian mutu pada

proses produksi tuna loin menggunakan konsep analisis six sigma yang

terintegrasi dengan Statistical Process Control (SPC).

2. Perusahaan

Penelitian ini dapat memberikan evaluasi dan masukan mengenai pengendalian mutu pada proses produksi tuna loin selama bulan Januari sampai dengan Maret 2011.

3. Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber ilmiah bagi

perkembangan ilmu pengetahuan dan referensi penelitian, khususnya

pengendalian mutu menggunakan six sigma. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan penelitian selanjutnya.

(17)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskrpsi Ikan Tuna

Tuna adalah ikan laut yang terdiri dari beberapa famili Scombridae,

terutama genus Thunnus. Tuna merupakan ikan perenang handal (pernah diukur

mencapai 77 km/jam). Daging yang dimiliki berwarna merah muda sampai merah

tua. Hal ini karena otot tuna lebih banyak mengandung myoglobin dari pada ikan

lainnya (Mc Afee et al. 2009). Beberapa spesies tuna yang lebih besar, seperti tuna sirip biru (bluefin tuna), dapat menaikkan suhu darahnya di atas suhu air dengan aktivitas ototnya. Hal ini menyebabkan mereka dapat hidup di air yang

lebih dingin dan dapat bertahan dalam kondisi yang beragam

(Lennert-cody 2008). Tuna adalah ikan yang memiliki nilai komersial tinggi. Tubuh ikan tuna tertutup oleh sisik kecil berwarna biru tua dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya. Sebagian besar mempunyai sirip tambahan yang berwarna

kuning cerah dengan pinggiran berwarna gelap (Burhanuddin et al. 1984).

Klasifikasi ikan tuna (Saanin 1984) adalah sebagai berikut :

Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Teleostei Subkelas : Actinopterygi Ordo : Perciformes Subordo : Scombridei Family : Scombridae Genus : Thunnus

Spesies : Thunnus obesus (bigeye, tuna mata besar)

Thunnus alalunga (albacore, tuna albacore) Thunnus tonggol (longtail, tuna ekor panjang) Thunnus albacore (yellowfin, madidihang)

Thunnus macoyii (southern bluefin, tuna sirip biru selatan) Thunnus thynnus (northern bluefin, tuna sirip biru utara) Thunnus atlanticus (blackfin, tuna sirip hitam)

(18)

Sumber: Anonim (2010)

Ikan tuna yang terdapat di perairan Indonesia terdiri dari beberapa jenis, untuk memudahkannya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tuna kecil yang

diwakili oleh skipjack dan tuna besar yang meliputi madidihang, tuna mata besar,

tuna albacore, tuna sirip biru dan tuna abu-abu. Beberapa jenis tuna yang merupakan komoditi ekspor adalah madidihang, tuna mata besar, albacore, tuna sirip biru, dan cakalang.

Tuna terdapat di perairan laut mana saja, terutama yang mempunyai kadar garam tinggi. Di Samudra Hindia penyebaran meluas dari 30° lintang selatan ke utara dan dari timur Australia hingga benua Afrika dan di nusantara selain di kedua lautan yang mengelilingi negara kepulauan juga terdapat di laut yang dalam diantaranya laut Bali, laut Flores, laut Arafuru serta laut Banda (Stansby 1963).

2.2. Komposisi Nilai Gizi Ikan Tuna

Ikan tuna adalah jenis ikan dengan kandungan protein yang tinggi dan lemak yang rendah serta mengandung protein antara 22,6-26,2 g/100 g daging, lemak antara 0,2-2,7 g/100 g daging. Ikan tuna mengandung mineral (kalsium, fosfor, besi, sodium), vitamin A (retinol), dan vitamin B (thiamin, riboflavin, dan niasin) (Department of Health Education and Walfare 1972).

Secara umum bagian tuna yang dapat dimakan (edible portion) berkisar

antara 50-60 % dari tubuh ikan (Stansby 1963). Kadar protein daging putih ikan tuna lebih tinggi daripada daging merah, namun kadar lemak daging putih lebih rendah daripada daging merah. Daging merah kaya akan lemak, suplai oksigen,

(19)

dan mioglobin, sehingga memungkinkan untuk berenang pada kecepatan tetap (Kawamura 2003).

Menurut Roy et al. (2009), mioglobin dan hemoglobin yang terkandung

dalam daging merah bersifat prooksidan serta kaya akan lemak sehingga menyebabkan mudahnya terjadi ketengikan. Komposisi nilai gizi beberapa jenis ikan tuna dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi gizi beberapa jenis Tuna (Thunnus sp.) per 100 gram daging

Sumber : Departemen of Health, Education an Welfare 1972

2.3 Tuna Loin

Tuna loin adalah produk yang dibuat dari tuna segar yang mengalami perlakuan penyiangan, pembelahan membujur menjadi 4 bagian (loin),

pembuangan daging gelap (dark meat), pembuangan lemak, pembuangan kulit,

perapihan dan pembekuan cepat serta suhu pusatnya maksimum -18°C (BSN 2006).

Cara penanganan dan pengolahan ikan tuna loin berdasarkan ketentuan SNI 7530.3:2009 meliputi:

1. Penerimaan bahan baku

Penerimaan bahan baku bertujuan untuk mendapatkan bahan baku yang

bebas dari kontaminasi bakteri patogen Bahan baku tuna yang diterima di unit pengolahan diuji secara organoleptik dan uji histamin untuk mengetahui mutunya. Penanganan dilakukan secara cepat, cermat, dan saniter dengan suhu produk

(20)

0–4,4 oC. Bahan baku diidentifikasi dan diberi kode untuk kemudahan penelusuran dan dipertahankan sampai tahapan produk akhir.

2. Penyiangan

Penyiangan bertujuan untuk mendapatkan ikan yang bersih, tanpa kepala, dan isi perut serta mereduksi kontaminasi bakteri patogen. Apabila ikan yang diterima masih dalam keadaan utuh, ikan disiangi dengan cara membuang kepala dan isi perut. Penyiangan dilakukan secara cepat, cermat, dan saniter sehingga tidak menyebabkan pencemaran pada tahap berikutnya dengan suhu pusat produk 0–4,4 oC.

3. Pencucian

Pencucian bertujuan untuk menghilangkan sisa kotoran dan darah yang menempel di tubuh ikan agar bebas dari kontaminasi bakteri patogen. Ikan dicuci dengan hati-hati menggunakan air bersih dingin yang mengalir secara cepat,

cermat, dan saniter untuk mempertahankan suhu pusat produk 0–4,4 oC.

4. Pembuatan loin

Pembuatan loin bertujuan untuk mendapatkan bentuk loin sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Pembuatan loin dilakukan dengan cara membelah ikan menjadi empat bagian secara membujur. Proses pembuatan loin dilakukan secara

cepat, cermat, dan saniter dan tetap mempertahankan suhu pusat produk 0–4,4 oC.

5. Pembuangan kulit dan perapihan

Pembuangan kulit dan perapihan bertujuan untuk mendapatkan loin yang rapi dan bebas dari tulang, daging gelap (dark meat), dan kulit serta

terhindar dari kontaminasi bakteri patogen. Tulang, daging gelap (dark meat), dan

kulit yang ada pada loin dibuang hingga bersih. Pembuangan kulit dan perapihan dilakukan secara cepat, cermat, dan saniter dan tetap mempertahankan suhu pusat produk 0–4,4 oC.

6. Sortasi mutu

Sortasi mutu bertujuan untuk mendapatkan loin dengan mutu sesuai spesifikasi. Sortasi mutu dilakukan dengan mengelompokkan produk sesuai spesifikasi secara hati-hati cepat, cermat, dan saniter dengan suhu pusat produk 0–4,4 oC.

(21)

7. Pembungkusan (wrapping)

Pembungkusan (wrapping) bertujuan untuk mendapatkan loin dalam

kemasan yang sempurna dan terhindar dari kontaminasi bakteri patogen. Loin

yang sudah rapi selanjutnya dikemas dalam plastik vacuum dan tidak vacuum

secara individual, dengan cepat, cermat, dan saniter serta tetap mempertahankan suhu pusat produk 0–4,4 oC.

8. Penimbangan

Penimbangan bertujuan untuk mendapatkan berat loin yang sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan dan bebas dari kontaminasi bakteri patogen. Loin ditimbang satu per satu dengan menggunakan timbangan yang sudah dikalibrasi, dengan cepat, cermat, dan saniter serta tetap mempertahankan suhu pusat produk 0–4,4 oC.

9. Pengepakan

Pengepakan dilakukan untuk melindungi produk dari kontaminasi dan kerusakan selama transportasi serta penyimpanan sesuai dengan label. Loin yang telah dilepaskan dari pan pembeku, kemudian dikemas dengan plastik dan dimasukkan dalam master karton secara cepat, cermat,dan saniter.

2.4 Definisi Mutu

Pesatnya perkembangan pasar-pasar jenis baru,terutama pasar perikanan baik yang belum pernah ada sebelumnya sampai yang sudah ada menambah ketatnya persaingan dalam dunia perdagangan. Persaingan tersebut terlihat dari volume, keragaman, serta mutu produk yang dihasilkan oleh tiap produsen. Oleh karena itu, banyak produsen yang berusaha meningkatkan serta mengendalikan mutu produk yang dihasilkan.

Mutu merupakan sesuatu yang diputuskan oleh pelanggan serta didasarkan oleh pengalaman aktual pelanggan terhadap produk atau jasa, dan diukur berdasarkan persyaratan pelanggan yang cenderung bersifat subyektif. Oleh karena itu, mutu produk dan jasa dapat didefinisikan sebagai keseluruhan gabungan karakteristik produk dan jasa dari pemasaran, rekayasa, pembikinan, dan pemeliharaan yang membuat produk dan jasa digunakan untuk memenuhi harapan-harapan pelanggan (Feingenbaum 1989).

(22)

Menurut Montgomery (1990), ada dua segi umum tentang mutu, yaitu rancangan mutu dan kecocokan mutu. Semua barang dan jasa dihasilkan dalam berbagai tingkat mutu. Variasi dalam tingkat mutu memang disengaja, sehingga teknik ini disebut dengan istilah rancangan mutu. Kecocokan mutu merupakan seberapa baik suatu produk sesuai dengan spesifikasi dan kelonggaran yang diisyaratkan oleh rancangan tersebut. Kecocokan mutu dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pemilihan proses pembuatan, latihan dan pengawasan angkatan kerja, jenis sistem jaminan mutu (pengendalian proses, uji, aktivitas pemeriksaan, dan lain-lain) yang digunakan untuk memantau seberapa jauh jaminan mutu diikuti beserta motivasi angkatan kerja untuk mencapai mutu.

Tiap produk yang dihasilkan mempunyai sejumlah unsur yang secara bersama-sama menggambarkan kecocokan penggunaannya. Ciri-ciri mutu terdiri dari beberapa sifat berikut (Gasperz 1998):

1. Fisik: panjang, berat, dan diameter.

2. Sensori (berkaitan dengan panca indera): rasa, penampilan, warna, bentuk,

model, dan lain-lain.

3. Orientasi waktu: keandalan, kemampuan pelayanan, kemudahan

pemeliharaan, ketepatan waktu penyerahan produk.

4. Orientasi biaya: berkaitan dengan dimensi biaya yang menggambarkan harga

dari suatu produk yang harus dibayarkan oleh konsumen.

2.5 Pengendalian Mutu

Pengendalian mutu adalah aktivitas keteknikan dan manajemen sehingga ciri-ciri kualitas produk dapat diukur, dibandingkan dengan spesifikasi atau persyaratannya, serta pengambilan tindakan yang sesuai jika terdapat perbedaan antara penampilan sebenarnya dengan standarnya (Montgomery 1990).

Prosedur untuk mencapai sasaran mutu diistilahkan dengan

pengendalian mutu. Menurut Feigenbaum (1989), secara umum ada empat langkah dalam penerapan pengendalian mutu, yaitu:

1. Menetapkan standar, yaitu menentukan standar mutu, standar mutu prestasi

kerja, standar mutu keamanan, dan standar mutu keterandalan yang diperlukan produk.

(23)

2. Menilai kesesuaian, yaitu membandingkan kesesuaian dari produk dan jasa yang dihasikan terhadap suatu standar.

3. Mengambil tindakan korektif bila perlu, yaitu mengkoreksi masalah dan

penyebabnya melalui faktor-faktor yang mencakup pemasaran, rekayasa, produksi, dan pemeliharaan yang mempengaruhi kepuasan pemakai.

4. Merencanakan perbaikan, yaitu mengembangkan suatu upaya yang kontinu

tuntuk memperbaiki standar-standar biaya, prestasi, keamanan, dan keterandalan.

Tujuan utama pengendalian mutu adalah menjaga kepuasan pelanggan. Identifikasi semua kebutuhan pelanggan merupakan suatu hal yang mendasar bagi kendali mutu efektif. Keuntungan yang didapat dari pengendalian mutu adalah sebagai berikut (Feigenbaum 1989):

1. Meningkatkan mutu dan desain produk.

2. Meningkatkan aliran produksi.

3. Meningkatkan moral tenaga kerja dan kesadaran mengenai mutu

4. Meningkatkan pelayanan produk.

5. Memperluas pangsa pasar.

2.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mutu

Menurut Montgomery (1990) pertumbuhan persaingan yang nyata mengenai mutu produk dipengaruhi oleh Sembilan bidang dasar “9M”sebagai berikut :

1. Market (Pasar), jumlah produk baru dan lebih baik yang ditawarkan di pasar terus bertumbuh pada laju yang eksplosif. Kebanyakan produk ini adalah hasil perkembangan teknologi baru, sehingga konsumen meminta dan memperoleh produk yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan. Akibatnya, bisnis harus lebih fleksibel dan mampu berubah arah dengan cepat.

2. Money (Uang), meningkatnya persaingan di dalam banyak bidang bersamaan

dengan fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan batas (margin) laba. Akan

tetapi, kebutuhan mekanisasi telah mendorong pengeluaran biaya yang besar untuk proses dan perlengkapan yang baru. Selain itu, biaya-biaya mutu yang dikaitkan dengan pemeliharaan dan perbaikan mutu telah mencapai ketinggian yang tak terduga. Hal ini membuat fokus perhatian manajer pada bidang

(24)

biaya-mutu sebagai salah satu “titik lunak” tempat biaya operasi dan kerugian dapat diturunkan untuk memperbaiki laba.

3. Management (Manajemen), tanggung jawab mutu telah didistribusikan antara beberapa kelompok khusus, seperti terdapatnya bagian pemasaran, produksi, dan kendali mutu. Sehingga mutu pelayanan produk sampai kepada konsumen menjadi bagian yang semakin penting dari “paket produk” total. Hal ini telah

manambah beban manajemen puncak, khususnya dipandang dari

bertambahnya kesulitan dalam mengalokasikan tanggung jawab yang tepat untuk mengkoreksi penyimpangan dari standar mutu.

4. Men (Manusia), pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan teknis dan

penciptaan seluruh bidang baru telah menciptakan permintaan yang besar akan pekerja dengan pengetahuan khusus. Meskipun spesialisasi memiliki keuntungan, kerugiannya adalah memecah tanggung jawab mutu produk kedalam beberapa bagian. Oleh karena itu, banyak aspek sistem operasi bisnis telah menjadi fokus manajemen modern.

5. Motivation (Motivasi), meningkatkan kerumitan dalam membawa mutu produk kedalam pasar telah memperbesar makna kontribusi setiap karyawan terhadap mutu. Hal ini membimbing kearah kebutuhan yang tidak pernah ada sebelumnya, sehingga tercipta kesadaran akan pendidikan dan komunikasi mutu.

6. Materials (Bahan), disebabkan oleh biaya produksi dan persyaratan mutu, sehingga para ahli memilih bahan dengan batasan yang lebih ketat daripada sebelumnya dan bahan yang terdapat menjadi lebih beraneka ragam.

7. Machines and Mechanization (Mesin dan mekanisasi), merupakan upaya penurunan biaya dan volume produksi untuk memuaskan pelanggan dalam pasar yang bersaing ketat. Mutu yang baik menjadi sebuah faktor yang kritis dalam memelihara waktu kerja mesin agar dapat dimanfaatkan sepenuhnya. 8. Modern information methods (Metode informasi modern), memberikan

kemampuan untuk manajemen informasi yang lebih bermanfaat, lebih akurat, tepat waktu, dan bersifat ramalan dengan mendasari keputusan yang membimbing masa depan.

(25)

9. Mounting product requirements (Persyaratan proses produksi), meyakinkan bahwa tidak ada faktor-faktor yang diketahui ataupun tidak yang memasuki proses untuk menurunkan keterandalan komponen atau sistem.

2.7 Six sigma

Six sigma merupakan metode peningkatan proses bisnis yang bertujuan utnuk menemukan dan mengurangi faktor-faktor penyebab kecacatan dan kesalahan, mengurangi waktu siklus dan biaya operasi, meningkatkan produktivitas, memenuhi kebutuhan pelanggan dengan lebih baik, mencapai tingkat pendayagunaan aset yang lebih tinggi, serta mendapatkan imbalan hasil atas investasi yang lebih baik dari segi produksi maupun pelayanan. Metode ini disusun berdasarkan sebuah metodologi penyelesaian masalah sederhana-DMAIC,

yang merupakan singkatan dari Define (merumuskan), Measure (mengukur),

Analyze (menganalisis), Improve (meningkatkan/memperbaiki), dan Control (mengendalikan) yang menggabungkan bermacam-macam perangkat statistik serta perbaikan proses lainnya (Gimenez 2005).

Motorola adalah perusahaan yang pertama menggunakan konsep six

sigma sebagai metode untuk mengukur kualitas produk dan jasa. Istilah six sigma (sigma enam) berasal dari ukuran statistik yang berarti tingkat kesalahan atau cacat sejumlah 3,4 atau lebih kecil per satu juta kejadian. Salah satu tujuan jangka

panjang penerapan six sigma adalah dapat melakukan semua proses penting

apapun wilayah fungsionalnya pada tingkat kemampuan sigma enam, sehingga dapat meningkatkan kinerja bisnis dari segi kualitas produktivitas dan biaya

profitabilitas (Gaspersz 2003). Gambaran konsep six sigma dapat dilihat pada

Gambar 2.

(26)

Gambar 2. Konsep six sigma dan perbaikan proses Proses Bisnis yang Sudah ada Metodologi Six Sigma

Kinerja Bisnis yang

Meningkat Kualitas Produktivitas Biaya Profitabilitas

Sumber: Evans dan Lindsay (2007)

Menurut Evans dan Lindsay (2007), inti dari filosofi six sigma bertumpu

pada beberapa konsep penting, yaitu:

1. Selalu berpikir dalam kerangka proses bisnis utama serta kebutuhan

pelanggan, dengan tetap fokus pada tujuan strategis perusahaan.

2. Memusatkan perhatian pada para pendukung perusahaan yang bertanggung

jawab menyukseskan proyek-proyek penting, mendukung kerja kelompok, membantu mengatasi hambatan untuk berubah, dan menggalang sumber daya.

3. Menekankan sistem pengukuran yang bisa dikuantifikasi, seperti cacat per

satu juta kemungkinan (dpmo) yang bisa diterapkan disetiap bagian perusahaan.

4. Memastikan bahwa sistem pengukuran yang tepat teridentifikasi di awal setiap

proses serta memastikan bahwa sistem tersebut berfokus pada penerapan bisnis, sehingga dapat memberikan sistem insentif dan akuntabilitas.

5. Menyediakan pelatihan menyeluruh yang diikuti dengan penugasan tim

proyek untuk meningkatkan profitabilitas, mengurangi aktivitas yang tak bernilai tambah, serta mencapai pengurangan waktu siklus.

6. Menciptakan ahli-ahli peningkatan proses berkualifikasi tinggi yang dapat

menerapkan alat-alat untuk dapat meningkatkan kinerja serta dapat memimpin tim.

7. Mencanangkan tujuan jangka panjang untuk perbaikan.

Pemasok Input Proses

Produksi dan Jasa

(27)

2.7.1 Metrik dan Pengukuran

Metrik adalah cara untuk mengukur karakter tertentu yang dapat diverifikasi, dinyatakan baik secara numerik (misal persentasi kecacatan) ataupun kualitatif (misal tingkat kepuasan). Penggunaan metrik penting dalam penerapan six sigma karena memberikan keputusan berdasarkan fakta. Dalam terminologi six sigma, cacat (defect) atau ketidaksesuaian (nonconformance) merupakan suatu kekeliruan atau kesalahan yang diterima pelanggan (Evans dan Lindsay 2007).

Metrik dpmo merupakan cara pengukuran yang biasa diterapkan dalam six sigma,

sebagai tingkat kecacatan per juta kemungkinan (defects per million

opportunities-dpmo):

Dpmo = (Jumlah cacat yang ditemukan/kemungkinan kesalahan) x 1.000.000

2.7.2 Dasar Statistik Six sigma

Tingkatan kualitas sigma enam adalah tingkat yang setara dengan variasi sejumlah proses sejumlah setengah dari yang ditoleransi oleh tahap desain dan dalam waktu yang sama memberi kesempatan agar rata-rata produksi bergeser 1,5 deviasi standar dari target. Pergeseran kurva tersebut menandakan bahwa tidak ada proses yang dapat dipertahankan pada tahap sempurna (Gaspersz 2003).

Wilayah dibawah ekor kurva yang bergeser diluar wilayah sigma enam hanya berukuran seluas 0,0000034 atau 3,4 per satu juta. Hal ini menandakan rata-rata suatu proses dapat dikontrol agar bergeser paling banyak 1,5 deviasi standar dari target. Sehingga diharapkan cacat yang terjadi hanya 3,4 per satu juta kejadian. Jika rata-rata tersebut dapat dijaga tepat sesuai target, maka kemungkinan terjadinya cacat diluar sigma enam kearah dua ekor hanya satu per satu miliar kejadian. Jika pergeseran terjadi kedua arah, maka kemungkinan cacat pada tingkatan sigma enam paling banyak hanya 6,8 per satu juta kejadian, dan jika pergeseran terjadi pada target distribusi, maka jumlah cacat hanya dua per satu miliar (Evans dan Lindsay 2007). Jumlah cacat (per satu juta) dan beberapa pergeseran proses dari titik tengah serta tingkat kualitasnya (satu ekor saja) dapat dilihat pada Tabel 2.

(28)

Tabel 2. Jumlah cacat (per satu juta) dan beberapa pergeseran proses dari titik tengah serta tingkat kualitasnya (satu ekor saja)

Tingkat Kualitas

Pergeseran 3-sigma 3,5-sigma 4-sigma 4,5-sigma 5-sigma 5,5-sigma 6-sigma

0 1350 233 32 3,4 0,29 0,017 0,001 0,25-sigma 3577 666 99 12,8 1,02 0,1056 0,0063 0,5-sigma 6440 1382 236 32 3,4 0,71 0,019 0,75-sigma 12288 3011 665 88,5 11 1,02 0,1 1-sigma 22832 6433 1350 233 32 3,4 0,39 1,25-sigma 40111 12201 3000 577 88,5 10,7 1 1,5-sigma 66803 22800 6200 1350 233 32 3,4 1,75-sigma 105601 40100 12200 3000 577 88,4 11 2-sigma 158700 66800 22800 6200 1300 233 32 Sumber: Takadimalla (1994) diacu dalam Evans dan Lindsay (2007)

Tabel 2 menunjukkan bahwa tingkatan kualitas dengan jumlah cacat 3,4 per satu juta kesempatan dapat dicapai melalui berbagai cara, yaitu dengan pergeseran sigma dari target sebanyak 0,5 dan kualitas 5-sigma, pergeseran sigma dari target sebanyak 1 dan kualitas 5,5-sigma, serta pergeseran sigma dari target sebanyak 1,5 dan kualitas 6-sigma. Pengendalian sebuah proses agar sesuai dengan target merupakan pilihan yang lebih murah dibandingkan mengurangi

variabilitas proses (Kwak et al. 2003). Kurva pergeseran sigma untuk mengurangi

variasi dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Kurva pergeseran sigma untuk mengurangi variasi

Sumber: Kapadia (2010)

Tingkatan sigma dapat dihitung dengan Ms.Excel menggunakan formula sebagai berikut:

(29)

Meskipun demikian tidak semua proses harus beroperasi pada tingkatan sigma enam. Tingkatan yang tepat bergantung seberapa penting suatu proses secara strategis serta biaya perbaikan jika dibandingkan dengan keuntungan yang dihasilkan (Goffnet 2004).

Menurut Gaspersz (2003), ada 6 aspek yang perlu diperhatikan dalam

penerapan konsep six sigma di bidang manufaktur, yaitu:

1. Identifikasi karakteristik produk yang sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi

pelanggan.

2. Klasifikasikan semua karakteristik kualitas sebagai CTQ (Critical to Quality)

individual

3. Tentukan apakah setiap CTQ dapat dikendalikan melalui pengendalian

material, mesin, proses kerja, dan lain-lain.

4. Menentukan nilai USL (upper specific limit- nilai batas spesifikasi atas) dan

LSL (lower specific limit- nilai batas spesifikasi bawah) dari setiap CTQ.

5. Menentukan nilai maksimum standar deviasi untuk setiap CTQ.

6. Mengubah desain produk/proses sedemikian rupa agar mampu mencapai nilai

target six sigma (Cp > 2).

2.7.3 Pemecahan masalah dengan six sigma

Pemecahan masalah (problem solving) merupakan aktivitas yang

melibatkan perubahan aktivitas suatu keadaan yang sedang berlangsung agar berlangsung sebagaimana seharusnya. Perbaikan kinerja bisnis dan kualitas yang sukses bergantung pada kemampuan perusahaan untuk mengidentifikasi dan

memecahkan masalah. Kemampuan dari landasan filosofi six sigma adalah

perbaikan terobosan yang menambah nilai kepada perusahaan dan pelanggan melalui pendekatan masalah yang sistematis (Cheng 2010). Hal ini diterapkan dalam lima tahap metodologi DMAIC (Evans dan Lindsay 2007), yaitu:

1. Define (Perumusan), mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi, menganalisis data dan asumsi yang mendasari data tersebut, serta menelaah masalah untuk mendapatkan perspektif baru agar memperoleh definisi masalah yang dapat diperbaiki.

2. Measure (Pengukuran), bagaimana cara mengukur proses internal yang

(30)

akan hubungan sebab akibat antara kinerja proses dan nilai pelanggan. Metodologi ini menggunakan istilah fungsi dalam ilmu matematika yang menggambarkan hubungan sebagai berikut:

Y = f (X) dimana: Y= variabel respon yang penting (CTQ)

X= variabel input penting yang mempengaruhi Y

3. Analyze (Analisis), fase analisis dari metode DMAIC berfokus pada pertanyaan mengapa cacat, kesalahan, atau variasi yang berlebihan terjadi. Setelah variabel yang terkumpul dan diukur, dilakukan eksperimen untuk memverifikasi hubungan yang telah dihipotesiskan sebelumnya, yaitu apakah faktor X benar-benar mempengaruhi faktor Y. Eksperimen dilakukan dengan cara memformulasikan beberapa hipotesis untuk menyelidiki data yang dikumpulkan atau melakukan percobaan lain, sehingga dapat disimpulkan secara beralasan serta dapat didukung secara statistik sebagai akar permasalahan yang sebenarnya.

4. Improve (Peningkatan), setelah akar permasalahan dapat dipahami selanjutnya dilakukan pengumpulan ide untuk menghilangkan atau memecahkan masalah serta memperbaiki kinerja variabel X sehingga memperbaiki CTQ. Seperangkat ide yang telah diajukan, perlu dilakukan evaluasi dan ide yang paling menjanjikan yang dipilih.

5. Control (Pengendalian), berfokus pada bagaimana menjaga perbaikan agar terus berlangsung. Bentuk pengendalian dapat dilakukan dengan membuat daftar periksa (checklist) atau pemeriksaan berkala untuk meyakinkan bahwa prosedur yang benar telah diikuti, atau penerapan diagram pengendalian proses statistik untuk memonitor kinerja cara pengukuran yang terpenting.

2.8 Statistical Process Control (SPC)

Statistika merupakan metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna. Metode statistik memberikan cara-cara pokok dalam pengambilan sampel produk, pengujian serta evaluasinya, dan informasi dalam data digunakan untuk mengendalikan dan meningkatkan proses pembuatan (Montgomery 1990).

(31)

Penggunaan ilmu statistika dalam pengawasan proses produksi, pengendalian mutu produksi, dan sistem manajemen mutu memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknik manajemen yang hanya mengandalkan pemikiran tim manajerial perusahaan. Beberapa kelebihan penggunaan statistika dalam pengendalian mutu (Urdhwareshe 2000), antara lain:

1. Sebagai alat yang telah terbukti untuk dapat meningkatkan produktivitas.

2. Sebagai alat efektif untuk mencegah penyimpangan.

3. Dapat mencegah penyesuaian yang tidak perlu.

4. Memberikan informasi bagi operator untuk membuat suatu perubahan pada

proses yang dapat meningkatkan produktivitas.

Statistical process control (SPC) merupakan metode statistika yang memisahkan variasi yang dihasilkan sebab khusus dari variasi alamiah untuk menghilangkan sebab khusus, mengusahakan dan mempertahankan konsistensi dalam proses, serta memantapkan proses perbaikan (Goetsch dan David 2003). Dalam proses produksi, variabilitas merupakan ketidakseragaman dalam proses operasional sehingga menimbulkan perbedaan mutu produk (barang atau jasa) yang dihasilkan. Hal ini dihasilkan oleh pengaruh kumulatif dari banyak sebab-sebab kecil yang pada dasarnya tidak terkendali (Montgomery 1990).

Macam-macam variabilitas terkadang dapat timbul dari hasil suatu proses. Menurut Gaspersz (2002), terdapat dua sumber penyebab timbulnya variasi yang diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Variasi penyebab khusus (special-causes variation) adalah kejadian-kejadian

diluar sistem industri yang mempengaruhi variasi dalam sistem industri tersebut. Penyebab khusus dapat bersumber dari faktor-faktor, seperti: manusia, peralatan, material, lingkungan, metode kerja, dll. Penyebab khusus ini mengambil pola non acak (nonrandom pattern) yang dapat diidentifikasi, sebab tidak selalu aktif dalam proses tetapi memiliki pengaruh lebih kuat pada proses sehingga menyebabkan variasi. Dalam pengendalian proses statistik menggunakan peta kontrol (control chart), jenis variasi ini sering ditandai dengan titik-titik pengamatan yang melewati batas pengendalian yang didefinisikan (defined control limit).

(32)

2. Variasi penyebab umum (Common-cause variation) adalah faktor-faktor didalam sistem industri atau yang melekat pada proses industri sehingga menimbulkan variasi dalam sistem tersebut. Penyebab umum disebut juga

penyebab acak (random causes) atau penyebab sistem (system cause).

Penyebab ini selalu melekat pada sistem, maka untuk menghilangkannya dilakukan penelusuran pada elemen-elemen dalam sistem dan hanya pihak manajemen industri yang dapat memperbaikinya. Dalam pengendalian proses statistik menggunakan peta kontrol (control chart), jenis variasi ini sering ditandai dengan titik-titik pengamatan yang berada dalam pengendalian yang didefinisikan (defined control limit).

2.8.1 Metrik SPC

Metrik SPC merupakan indikator yang digunakan dalam perhitungan

SPC (statistical process control), terbagi menjadi dua kategori, yaitu data atribut

dan variabel. Data atribut (atribute) adalah karakteristik kinerja yang ada atau tidak ada dalam produk atau jasa yang menjadi pusat perhatian. Data atribut bersifat tersendiri dan dapat memberitahu apakah suatu karakteristik mematuhi spesifikasi atau tidak. Pengukuran atribut diekspresikan dalam proporsi atau tingkat, misalnya proporsi ketidakpatuhan dalam sekelompok barang, jumlah

cacat per unit, atau tingkat kesalahan pada setiap kesempatan

(Committee E-11 on Quality and Statistic 2002).

Tipe kategori yang kedua disebut data variabel (variable). Data variabel

bersifat kontinu (misalnya panjang atau berat). Pengukuran varibel berkenaan dengan derajat ketidakpatuhan terhadap spesifikasi. Pengukuran variabel biasanya diekspresikan dengan angka-angka statistik, seperti rata-rata dan deviasi standar. Mengumpulkan data atribut biasanya lebih mudah daripada mengumpulkan data variabel. Karena pemeriksaan dapat dilakukan dengan lebih cepat melalui inspeksi atau perhitungan sederhana, sedangkan data variabel membutuhkan penggunaan alat pengukuran. Dalam pengertian statistik inspeksi atribut kurang efisien dibandingkan dengan inspeksi variabel, karena tidak memberikan informasi yang sama banyak. Hal ini dikarenakan, inspeksi atribut membutuhkan sampel yang lebih besar daripada inspeksi variabel untuk mendapatkan informasi statistik yang sama banyaknya (Evans dan Lindsay 2007).

(33)

2.8.2 Lembar Pemeriksaan

Dasar pengendalian mutu secara statistik adalah pemanfaatan sepenuhnya setiap teknik dan data yang dihasilkan dengan teknik ini. Statistik menyatakan data, data merefleksikan fakta, sehingga bila pengendalian tergantung pada data, data tersebut harus benar. Data harus dikumpulkan secara hati-hati dan teliti, serta tujuan pengumpulan data pun harus jelas. Lembar pemeriksaan mempunyai banyak tujuan, tetapi yang terutama adalah memudahkan pengumpulan data dalam bentuk yang mudah digunakan dan dianalisis secara otomatis. Adapun fungsi dari lembar pemeriksaan yaitu, pemeriksaan distribusi proses produksi, pemeriksaan item cacat, pemeriksaan lokasi cacat, pemeriksaan penyebab cacat, pemeriksaan konfirmasi pemeriksaan, dan lain-lain (Ishikawa 1988). Lembar pemeriksaan dirancang dalam bentuk yang komunikatif agar mudah dipahami, sehingga dapat menunjukkan lokasi penyimpangan. Contoh lembar pemeriksaan dapat dilihat pada Gambar 4.

Lembar pemeriksaan

Produk: Tanggal:

Tahap manufakturing: Pabrik: Seksi:

Tipe rusak Nama:

Pemeriksa: Jumlah total diperiksa Lot no:

Order no: Catatan:

Tipe Pemeriksaan Sub total Goresan permukaan Tidak Lengkap Tidak jadi Lain-lain Total Total rusak

Gambar 4. Lembar pemeriksaan item cacat

Sumber: Ishikawa (1988)

2.8.3 Grafik Kendali

Grafik kendali pertama kali diperkenalkan oleh W. A Shewhart dari Bell

Telephone laboratories, Amerika Serikat dengan tujuan untuk menghilangkan ragam tidak normal melalui pemisahan ragam yang disebabkan oleh penyebab

(34)

khusus dan penyebab umum. Grafik kendali digunakan untuk mengetahui apakah suatu proses berada dalam keadaan terkendali secara statistik dan menentukan kapabilitas proses, yang selanjutnya digunakan untuk mengendalikan proses secara terus-menerus (Gasperz 2001).

Selain itu, grafik kendali juga digunakan untuk menetapkan karakteristik mutu secara kontinu, menetapkan mutu proses, menetapkan saat mulai dan berakhirnya proses, dan menghilangkan penyebab dari penolakan produk atau mutu marginal produk. Keuntungan menggunakan grafik kendali, yaitu memonitor setiap waktu, membedakan ragam yang disebabkan oleh penyebab khusus dan penyebab umum, mengkaji efektivitas perubahan dalam usaha untuk meningkatkan proses, serta memberikan informasi mengenai proses dalam periode tertentu. Diagram alir penggunaan grafik kendali dapat dilihat pada Gambar 5.

TIDAK TIDAK YA YA YA TIDAK YA TIDAK YA YA YA

Gambar 5. Diagram alir penggunaan grafik kendali

Sumber: Ishikawa (1988)

Keterangan : * = Jenis-jenis grafik kendali

TIDAK Tentukan karakteristik mutu

sesuai keinginan pelanggan

Apakah data peubah? Apakah data atribut berbentuk proporsi atau presentase? Apakah data atribut berbentuk banyaknya ketidaksesuaian? Apakah proses homogeny atau proses batch seperti industri

Gunakan peta control individual: X-MR Gunakan peta kontrol X-Bar* Apakah ukuran contoh konstan? Gunakan peta kontrol p atau np* Gunakan peta kontrol p* Apakah ukuran contoh konstan? Gunakan peta kontrol c dan u* Gunakan peta kontrol u*

(35)

Menurut Ishikawa (1988), langkah-langkah dasar yang harus diambil dalam menggunakan grafik kendali proses produksi adalah sebagai berikut:

1. Pilih item apa yang akan dikendalikan. Tentukan permasalahan apa yang

berkaitan dan apa tujuannya, serta data apa yang diperlukan.

2. Tentukan peta kendali apa yang digunakan. Tentukan apabila peta

𝑥 -R, p, pn, u, atau c yang cocok.

3. Buatlah peta kendali untuk analisis proses. Ambilah data untuk selang waktu

tertentu atau gunakan data dalam pembuatan peta. Bila terdapat titik yang abnormal, selidiki penyebabnya dan ambillah tindakan.

4. Susunlah peta kendali untuk pengendalian proses. Apabila telah dilakukan

tindakan yang berhubungan dengan penyebab perubahan mutu dan proses produksi dikendalikan. Lihatlah apakah produk memenuhi standar untuk keadaan ini. Dengan dasar kesimpulan ini, standarkan metode kerja. Perluas garis kendali di peta pada situasi stabil dan lanjutkan menggambar data harian.

5. Kendalikan proses produksi. Bila metode yang distandarkan tetap dijaga, peta

kendali harus menunjukkan keadaan terkendali. Jika ketidaknormalan muncul pada peta, selidiki penyebabnya segera dan lakukan tindakan yang tepat. 6. Hitung kembali garis kendali. Bila peralatan atau garis kerja diubah, garis

kendali harus dihitung kembali. Apabila pengendalian selama proses produksi dilakukan dengan lancar, tingkatan mutu pada peta kendali akan lebih baik.

Berikut ini aturan yang harus diamati dalam menghitung kembali garis kendali, yaitu:

i. Data pada titik-titik yang menunjukkan ketidaknormalan dan penyebab

yang telah ditemukan dan dibetulkan, harus tidak dimasukkan dalam penghitungannya kembali.

ii. Data pada titik-titik tidak normal yang penyebabnya tidak ditemukan

atau tidak ada tindakan yang diambil, harus dimasukkan.

Menurut Montgomery (1990), berdasarkan sifat atribut dan peubah dari parameter mutu yang diukur, terdapat dua macam grafik pengendalian proses yaitu grafik pengendalian atribut dan grafik pengendalian peubah. Grafik pengendalian peubah digunakan secara luas serta merupakan prosedur pengendali yang lebih efisien dan memberikan informasi tentang penampilan proses yang

(36)

lebih banyak daripada grafik pengendali sifat. Data peubah menunjukkan karakteristik mutu yang mempunyai dimensi kontinu yang dapat mengambil nilai-nilai kontinu dalam kemungkinan yang tidak terbatas, seperti panjang, kecepatan, bobot, volume, dan sebagainya. Data atribut hanya memiliki dua nilai yang berkaitan dengan YA atau TIDAK, seperti sesuai atau tidak sesuai, berhasil atau gagal, lulus atau tidak lulus, dan sebagainya (Gasperz 1998).

Grafik kendali X-bar (rataan ) dan R (range) digunakan untuk memantau

proses yng mempunyai karakteristik berdimensi kontinu, sehingga peta control bar dan R sering disebut sebagai peta kontrol untuk data peubah. Peta kontrol X-bar menjelaskan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam ukuran titik pusat (central tendency) atau rataan suatu proses. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti peralatan yang dipakai, peningkatan suhu secara gradual, perbedaan metode yang digunakan dalam shift, material baru, tenaga kerja baru yang belum dilatih, dan lain-lain. Peta kontrol R (range) menjelaskan mengenai perubahan-perubahan telah terjadi dalam ukuran ragam, sehingga berkaitan dengan perubahan homogenitas produk yang dihasilkan melalui suatu proses. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti bagian peralatan yang hilang, minyak pelumas bensin yang tidak mengalir dengan baik, kelelahan pekerja, dan lain-lain (Gasperz 2001)

Pembuatan peta kontrol individual X dan MR (Moving Range)

diterapkan pada peta proses yang menghasilkan produk relatif homogen, misalnya cairan kimia, kandungan mineral dari air dan makanan. Selain itu, dapat pula diterapkan pada kasus inspeksi 100% untuk proses produksi yang sangat lama (Gasperz 2001).

Peta kontrol p digunakan untuk mengukur proporsi ketidaksesuaian (penyimpangan) dari item-item dalam kelompok yang sedang diinspeksi. Sehingga peta kontrol p digunakan untuk mengendalikan proporsi dari item-item yang tidak memenuhi syarat spesifikasi mutu atau produk cacat yang dihasilkan dari suatu proses. Proses yang tidak memenuhi syarat diidentifikasikan sebagai rasio banyaknya item yang tidak memenuhi syarat dalam suatu kelompok terhadap total banyaknya item dalam kelompok tersebut. Karakteristik mutu dari item diperiksa dan diuji secara simultan oleh pemeriksa. Jika item tersebut tidak

(37)

memenuhi standar pada satu atau lebih karakteristik mutu, maka item tersebut digolongkan tidak memennuhi syarat spesifikasi atau cacat. Peta kontrol c didasarkan pada titik spesifik yang tidak memenuhi syarat dalam suatu produk, sehingga suatu produk dapat saja dianggap memenuhi syarat meskipun mengandung satu atau beberapa titik spesifik cacat (Gasperz 2001).

Menurut Gasperz (1998), pada dasarnya setiap grafik kendali memiliki karakteristik, seperti:

1. Sumbu x yang melambangkan nomor contoh

2. Sumbu y yang melambangkan mutu luaran

3. Garis tengah (GT)

4. Sepasang batas pengendali, dimana satu batas pengendali ditempatkan diatas

garis tengah yang dikenal sebagai batas pengendali atas (BPA) serta satu batas pengendali ditempatkan dibawah garis tengah yang dikenal dengan batas pengendali bawah (BPB). Grafik kendali secara umum dapat dilihat pada Gambar 6.

Nomor Contoh

Gambar 6. Grafik kendali secara umum

Sumber: Kapadia (2010)

2.8.4 Diagram Sebab Akibat

Penyebab yang terjadi dalam permasalahan mutu hampir tidak terhitung. Diagram sebab-akibat merupakan diagram yang dapat mengilustrasikan dengan jelas bermacam-macam penyebab yang mempengaruhi mutu produk melalui pemilihan dan mengembangkan penyebab-penyebabnya. Pengendalian mutu yang ingin kita perbaiki dan dikendalikan secara jelas disajikan dengan angka-angka yang menunjukkan panjang, kekerasan, persentase cacat, dsb yang disebut dengan karakteristik mutu. Sedangkan komposisi kimia, diameter, pekerja, dst yang menyebabkan penyebaran disebut faktor. Diagram sebab akibat berguna untuk

Karakte

(38)

membantu kita dalam memilih penyebab penyebaran dan mengorganisasikan hubungannya (Oakland 2003).

Menurut Ishikawa (1988) secara garis besar langkah-langkah pembuatan diagram sebab-akibat adalah sebagai berikut:

1. Tentukan karakteristik mutu (gerakan tidak tetap selama putaran mesin).

Karakteristik ini yang akan kita perbaiki dan kendalikan, sehingga harus ditentukan penyebabnya.

2. Tulislah karakteristik mutu pada sisi kanan. Gambarlah panah besar dari sisi kiri ke sisi kanan dan tempatkan pernyataan masalah dalam kotak.

3. Tulislah faktor utama yang mungkin mempengaruhi masalah kualitas,

mengarahkan panah cabang ke panah utama. Faktor penyebab yang mempunyai kemungkinan, seperti manusia, mesin, material, metode kerja, dan lingkungan. Setiap faktor akan membentuk sebuah cabang.

4. Tulislah faktor rinci yang dapat dianggap sebagai penyebab kepada setiap item

cabang seperti menyerupai ranting. Setiap rantingnya dapat ditulis faktor yang lebih rinci dengan membuat cabang yang lebih kecil. Penentuan faktor rinci dari setiap faktor utama memiliki pengaruh nyata terhadap karakteristik kualitas. Faktor-faktor rinci tersebut dapat dikembangkan melalui metode brainstorming.

5. Pastikan bahwa semua item yang mungkin menjadi penyebab telah masuk

kedalam diagram. Pencatatan informasi yang perlu didalam diagram sebab akibat, seperti judul, nama produk, dan proses. diagram sebab-akibat ditunjukkan pada Gambar 7.

Gambar 7. Diagram sebab-akibat

Sumber: Ishikawa (1988)

Material Mesin Lingkungan

Manusia Material

Karakteristik Mutu

(39)

2.8.5 Kapabilitas proses

Kapabilitas proses merupakan kemampuan proses dalam menghasilkan produk yang diinginkan. Kapabilitas proses berkaitan dengan variasi alami sehingga menggambarkan performansi terbaik dari proses tersebut. Pemahaman terhadap kapabilitas suatu proses dapat digunakan untuk memprediksi secara kuantitatif, seberapa baik suatu proses dapat memenuhi spesifikasi, serta menentukan kebutuhan peralatan yang digunakan dalam proses pengendalian (Oakland 2003).

Menurut Evans dan Lindsay (2007), enam tahapan yang dibutuhkan dalam studi kapabilitas proses adalah sebagai berikut:

1. Memilih mesin atau segmen yang representatif dari suatu proses.

2. Menentukan kondisi proses.

3. Memilih operator yang representatif.

4. Menyediakan bahan baku bertingkat standar dengan jumlah yang cukup.

5. Menentukan alat ukur atau metode pengukuran yang harus digunakan.

6. Mempersiapkan metode untuk mencatat pengukuran dan kondisi, secara

berurutan untuk semua unit produksi.

Analisis kapabilitas proses merupakan bagian penting dari keseluruhan program pengendalian mutu. Manfaat dari analisis kapabilitas proses (Montgomery 1990) adalah:

a. Menduga seberapa baik proses akan memenuhi toleransi.

b. Membantu pengembang atau perancang produk dalam memilih atau

mengubah proses.

c. Membantu dalam pembentukan selang antara penarikan contoh untuk

pengawasan proses.

d. Menentukan persyaratan penampilan bagi alat baru.

e. Memilih diantara pemasok yang bersaing.

f. Merencanakan urutan proses produksi bilamana ada pengaruh interaksi proses

dengan toleransi.

g. Mengurangi keragaman dalam proses produksi.

Hubungan antara variasi dan spesifikasi alami diukur menggunakan indeks kapabilitas proses sehingga sering disebut sebagai indeks potensial proses

(40)

(Cpm). Indeks kapabilitas proses merupakan variasi natural suatu proses dengan spesifikasi desain dalam tolak ukur yang kuantitatif (Evans dan Lindsay 2007).

Dalam bahasa numeriknya, rumusnya adalah:

Cpm = (USL – LSL)

6𝝈

Dimana, USL = upper specification limit

LSL = lower specification limit 𝝈 = standar deviasi proses

Penilaian yang digunakan untuk indeks kapabilitas proses (Cpm)

(Gaspersz 2003), yaitu:

Cpm ≥ 2,0 : keadaan proses industri berada dalam keadaan stabil dan

mampu, artinya proses mampu untuk menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi pelanggan.

1 > Cpm ≥ 1,99 : keadaan industri proses berada dalam keadaan stabil dan tidak

mampu, artinya proses berada dalam keadaan tidak mampu sampai cukup mampu untuk menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi pelanggan.

Cpm < 1,0 : keadaan proses industri berada dalam keadaan tidak mampu

untuk menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi pelanggan.

Persyaratan penggunaan rumus ini, yaitu distribusi proses harus menyebar normal dengan nilai target (T) yang berarti rata-rata proses ( ) harus tepat berada ditengah nilai USL dan LSL. Kurva indeks kapabilitas proses ditunjukkan pada Gambar 9.

Gambar 8. Kurva indeks kapabilitas proses

Sumber: O‟neill (2002)

Jika persyaratan ini sudah dipenuhi maka, dapat digunakan tabel nilai kapabilitas proses yang ditunjukkan pada Tabel 3.

Lower

Spec U pper Spec

C

p < 1

Lower

Spec Upper Spec C

p = 1

Lower

Spec Upper Spec

C

(41)

Tabel 3. Hubungan antara Cpm dan kapabilitas proses Cpm Kapabilitas Proses 0,33 1,0 sigma 0,5 1,5 sigma 0,67 2,0 sigma 0,83 2,5 sigma 1,00 3,0 sigma 1,17 3,5 sigma 1,33 4,0 sigma 1,5 4,5 sigma 1,67 5,0 sigma 1,83 5,5 sigma 2,00 6,0 sigma 2,17 6,5 sigma 2,33 7,0 sigma Sumber: Gaspersz (2007)

Menurut Evans dan Lindsay (2007), Cpm dengan nilai 1,00 mensyaratkan

bahwa proses berada ditengah rata-rata kisaran toleransi untuk mencegah adanya unit yang diproduksi diluar batas. Mencapai unit produksi yang berada dalam

spesifikasi Cpm = 1,33 lebih mudah dicapai, dan lebih mudah lagi jika Cpm bernilai

2,00. Beberapa pengalaman praktisi menyarankan batas bawah yang aman berada pada nilai Cpm sebesar 1,5. Karena nilai diatas Cpm = 1,5 akan menjamin bahwa

semua unit yang diproduksi oleh suatu proses terkendali akan berada dalam batas spesifikasi.

2.9 Peranan Statistika dalam Pengendalian Mutu

Statistika dalam pengendalian mutu adalah suatu sistem yang dikembangkan untuk menjaga agar hasil produksi memiliki mutu yang seragam pada tingkat biaya minimum dan merupakan bantuan untuk mencapai efisiensi perusahaan. Pengendalian mutu yang dilakukan oleh suatu manajemen yang

terintegrasi dan membentuk suatu pengendalian mutu terpadu (total quality

control) dapat meningkatkan mutu dan hasil kerja. Peningkatan mutu dapat memberikan kepuasan pada konsumen serta dapat meningkatkan produktivitas sumberdaya manusia dan perusahaan (Mutiara dan Kuswadi 2004).

Dalam pengendalian mutu, statistika digunakan sebagai bagian dari pola kendali mutu terpadu, tetapi bukan merupakan pola itu sendiri. Metode statistik memiliki pengaruh mendalam pada keseluruhan bidang kendali mutu. Hal ini

(42)

terlihat dari empat perangkat statistik yang digunakan secara terpisah atau dalam gabungan pekerjaan kendali mutu (Feingenbaum 1989):

1. Distribusi frekuensi, digunakan sebagai gambaran dari mutu sampel untuk

memperlihatkan secara sekilas rata-rata mutu, bentangan mutu, dan pembandingan mutu dengan persyaratan spesifikasi. Perangkat ini digunakan pada analisis mutu dari proses atau produk tertentu.

2. Bagan kendali, metode grafis untuk mengevaluasi apakah sebuah proses

berada dalam „kendali statis‟. Jika kurva grafis mendekati atau melebihi batas, maka beberapa perubahan diusulkan dalam proses tersebut. Perangkat ini digunakan untuk mempertahankan kendali pada sebuah proses setelah distribusi frekuensi menunjukkan bahwa proses berada dalam kendali.

3. Tabel penarikan sampel, serangkaian prosedur spesifik yang terdiri atas

rencana penarikan sampel penerimaan yang berkaitan dengan ukuran lot, ukuran sampel, dan kriteria penerimaan, atau banyaknya pemeriksaan 100%. Perangkat ini digunakan jika diinginkan penjaminan atas mutu bahan yang diproduksi ataupun diterima.

4. Metode-metode khusus, menyertakan teknik-teknik seperti analisis toleransi,

korelasi, dan analisis varians. Metode ini digunakan untuk kendali mutu industri, diluar dari bentuk umum statistika. Perangkat ini digunakan untuk analisis khusus tentang rancangan kerekayasaan dan gangguan proses.

Gambar

Gambar 1. Ikan tuna (Thunnus sp.)
Tabel 1. Komposisi gizi beberapa jenis Tuna (Thunnus sp.) per 100 gram daging
Gambar 2. Konsep six sigma dan perbaikan proses Proses  Bisnis yang Sudah ada Metodologi Six Sigma
Tabel  2.  Jumlah  cacat  (per  satu  juta)  dan  beberapa  pergeseran  proses  dari  titik  tengah serta tingkat kualitasnya (satu ekor saja)
+7

Referensi

Dokumen terkait

The aim of the study is to describe the student’s mastery of reading of the seventh year students of SMP N 2 Trucuk in Academic Year 2014/20152. The number of

Dari Gambar 9 teramati bahwa grafik kenaikan temperatur pada komponen sistem transmisi kotak roda gigi yang dioperasikan selama 120 menit menunjukkan bagian yang penting seperti

Dalam melakukan komunikasi dengan komputer atau jaringan lain, kemungkinan dapat terjadi gangguan yang berasal dari dalam maupun luar jaringan. Untuk mencegah

[r]

 Melakukan permainan kasti dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi dengan menerapkan gerak fundamental permainan kasti (melambungkan bola, melempar bola, menangkap

KONVENSI MENGENAI PELARANGAN DAN TINDAKAN SEGERA UNTUK PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK Konferensi Umum Organisasi Ketenagakerjaan Internasional,

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil analisis, perancangan dan pembuatan Sistem Pendukung Keputusan Penerima Bantuan Pangan Non Tunai di Desa Makamhaji

Dengan meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat maka tuntutan pengelolaan program keselamatan kerja di puskesmas semakin tinggi, karena Sumber