• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI. long-term, overall evaluation of a firm s performance. yang dibentuk oleh evaluasi dari keseluruhan kinerja jangka panjang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI. long-term, overall evaluation of a firm s performance. yang dibentuk oleh evaluasi dari keseluruhan kinerja jangka panjang"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Kualitas Pelayanan

Hoffman dan Bateson (2006) memberikan definisi kualitas pelayanan sebagai berikut: “Service quality is an attitude formed by a long-term, overall evaluation of a firm’s performance”.

Arti dari kutipan di atas adalah, kualitas layanan merupakan sikap yang dibentuk oleh evaluasi dari keseluruhan kinerja jangka panjang perusahaan.

Sementara itu Zeithaml dan Bitner dalam Pollack (2009) memberikan definisi kualitas pelayanan sebagai berikut, “Service quality is "the delivery of excellent or superior service relative to customer expectations" ([35] Zeithaml and Bitner, 1996, p. 117)”.

Artinya adalah, penyampaian pelayanan yang terbaik atau unggul dibandingkan dengan harapan pelanggan.

Menurut Kotler dan Keller yang telah diterjemahkan oleh Molan, B. (2009):

“Mutu pelayanan suatu perusahaan diuji dalam setiap pertemuan pelayanan. Jika karyawan-karyawan eceran merasa bosan, tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana, atau saling berkunjung pada saat

(2)

pelanggan sedang menunggu, pelanggan akan berpikir dua kali untuk melakukan bisnis lagi dengan penjual tersebut”.

Lovelock dan Wirtz (2007) berpendapat bahwa, “Marketing’s interest in service quality is obvious when one thinks about it: Poor quality places a firm at a competitive disadvantage, potentially driving away dissatisfied customers”.

Arti dari kutipan tersebut adalah, kepentingan pemasaran dalam kualitas layanan adalah jelas: kualitas buruk menempatkan perusahaan pada kerugian kompetitif, berpotensi menjauhkan pelanggan yang tidak puas.

Kotler dan Armstrong yang telah diterjemahkan oleh Sabran, B. (2008) menyatakan bahwa, “Retensi pelanggan mungkin adalah ukuran kualitas yang paling baik – kemampuan perusahaan pelayanan untuk bergantung pada pelanggannya diukur dari seberapa konsisten perusahaan itu menghantarkan nilai kepada pelanggan.”

Sementara itu Rangkuti (2002) memberikan definisi kualitas pelayanan sebagai berikut, “Kualitas pelayanan didefinisikan sebagai penyampaian pelayanan yang akan melebihi tingkat kepentingan pelanggan”.

Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Kotler dan Keller (2009) merumuskan model mutu pelayanan yang menekankan syarat-syarat utama dalam memberikan mutu pelayanan yang tinggi. Model tersebut

(3)

mengidentifikasi lima kesenjangan yang mengakibatkan ketidakberhasilan penyerahan pelayanan:

1)Kesenjangan antara harapan konsumen dan persepsi manajemen – Manajemen tidak selalu memahami dengan tepat apa yang diinginkan pelanggan. Pengurus rumah sakit mungkin berpikir bahwa pasien menginginkan makanan yang lebih baik, tetapi pasien mungkin lebih memikirkan daya tanggap perawat.

2)Kesenjangan antara persepsi manajemen dan spesifikasi mutu pelayanan – Manajemen mungkin memahami dengan tepat keinginan-keinginan pelanggan, tetapi tidak menetapkan standar kinerja. Pengurus rumah sakit mungkin meminta perawat memberikan layanan yang “cepat” tanpa menguraikan dengan sangat jelas.

3)Kesenjangan antara spesifikasi mutu pelayanan dan penyerahan pelayanan – Karyawan mungkin kurang terlatih, tidak mampu atau tidak mematuhi standar; atau mereka mungkin dihadapkan pada standar yang saling bertentangan, seperti menyediakan waktu untuk mendengarkan pelanggan dan melayani mereka dengn cepat.

4)Kesenjangan antara penyerahan pelayanan dan komunikasi eksternal – Harapan-harapan konsumen dipengaruhi pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan perwakilan dan iklan perusahaan. Jika brosur rumah sakit memperlihatkan kamar yang indah, tetapi

(4)

pasien tiba dan menemukan kamar yang tampak murahan dan kotor, komunikasi eksternal telah melenceng jauh dari harapan pelanggan.

5)Kesenjangan antara persepsi pelayanan dan pelayanan yang diharapkan – Kesenjangan ini terjadi apabila konsumen tersebut memiliki persepsi yang keliru tentang mutu pelayanan tersebut. Dokter mungkin tetap mengunjungi pasien untuk menunjukkan kepeduliannya, tetapi pasien tersebut menafsirkan hal ini sebagai indikasi bahwa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres.

Mengacu pada pendapat Hoffman dan Bateson (2006), pengukuran kualitas pelayanan seringkali dilakukan dengan menggunakan skala SERVQUAL. Berdasarkan riset yang telah dilakukan sebelumnya oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Hoffman et al., SERVQUAL didasarkan oleh lima dimensi kualitas pelayanan, diantaranya adalah:

1)Dimensi tangibles: penilaian SERVQUAL dari kemampuan perusahaan untuk mengelola dimensi bukti fisiknya.

2)Dimensi reliability: penilaian SERVQUAL dari konsistensi perusahaan dan kehandalan dalam kinerja layanannya.

3)Dimensi responsiveness: penilaian SERVQUAL dari komitmen perusahaan untuk memberikan layanan secara tepat waktu. 4)Dimensi assurance: penilaian SERVQUAL dari kompetensi

perusahaan, kesopanan kepada pelanggan, dan keamanan operasinya.

(5)

5)Dimensi empathy: penilaian SERVQUAL dari kemampuan perusahaan untuk menempatkan dirinya pada posisi pelanggan.

2.2. Kepuasan Pelanggan

Irawan (2003) memberikan definisi kepuasan pelanggan sebagai berikut: “Kepuasan pelanggan dapat dianggap sebagai pengukuran kualitatif dari output yang dikonsumsi atau digunakan oleh konsumen atau pelanggan”.

Menurut Gerson yang telah diterjemahkan oleh Widyaningrum (2004), “Kepuasan pelanggan adalah persepsi pelanggan bahwa harapannya telah terpenuhi atau terlampaui”.

Kemudian Gerson (2004) menyatakan bahwa, “Mutu dan pelayanan adalah sarana untuk mencapai kepuasan dan ikatan”.

Sementara itu menurut Hoffman dan Bateson (2006), “The importance of customer satisfaction cannot be overstated. Without customer, the service firm has no reason to exist”.

Artinya adalah, pentingnya kepuasan pelanggan tidak bisa diremehkan. Tanpa pelanggan, perusahaan jasa tidak memiliki alasan untuk berada.

Oliver yang diterjemahkan oleh Tjiptono dan Chandra (2007) mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai, “"The consumer's fulfillment response," yaitu penilaian bahwa fitur produk atau pelayanan, atau produk/pelayanan itu sendiri memberikan tingkat pemenuhan

(6)

berkaitan dengan konsumsi yang menyenangkan, termasuk tingkat under-fulfillment atau over-fulfillment”.

Menurut Kotler yang diterjemahkan oleh Rangkuti (2002) kepuasan pelanggan adalah, “Perasaan senang atau kecewa seseorang sebagai hasil dari perbandingan antara prestasi atau produk yang dirasakan dan yang diharapkannya”.

Irawan (2003) menyatakan bahwa terdapat 5 faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan pelanggan, diantaranya adalah:

1)Kualitas produk

Konsumen atau pelanggan akan merasa puas bila hasil evaluasi menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas. 2)Kualitas pelayanan

Komponen atau driver pembentuk kepuasan pelanggan ini terutama untuk industri pelayanan. Pelanggan akan merasa puas apabila mereka mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan.

3)Faktor emosional

Konsumen yang merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk dengan merek tertentu akan cenderung mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

(7)

Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga yang relatif murah akan memberikan value yang lebih tinggi kepada pelanggannya.

5)Biaya dan kemudahan untuk mendapatkan produk atau suatu pelayanan

Pelanggan yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau pelayanan akan cenderung puas terhadap produk atau pelayanan tersebut.

Kotler yang telah diterjemahkan oleh Tjiptono dan Chandra (2007), mengidentifikasi empat metode untuk mengukur kepuasan pelanggan:

1)Sistem Keluhan dan Saran

Setiap organisasi yang berorientasi pada pelanggan (customer-oriented) perlu menyediakan kesempatan dan akses yang mudah dan nyaman bagi para pelanggannya guna menyampaikan saran, kritik, pendapat, dan keluhan mereka.

2)Ghost Shopping (Mystery Shopping)

Salah satu cara memperoleh gambaran mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang ghost shoppers untuk berperan atau berpura-pura sebagai pelanggan potensial produk perusahaan dan pesaing.

(8)

Sedapat mungkin perusahaan seyogyanya menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan supaya dapat mengambil kebijakan perbaikan/penyempurnaan selanjutnya.

4)Survei Kepuasan Pelanggan

Melalui survei, perusahaan akan memperoleh tanggapan dan balikan secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan kesan positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap para pelanggannya. Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya:

(1)Directly reported satisfaction

Pengukuran dilakukan menggunakan item-item spesifik yang menanyakan langsung tingkat kepuasan yang dirasakan pelanggan.

(2)Derived satisfaction

Setidaknya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menyangkut dua hal utama, yaitu (1) tingkat harapan atau ekspektasi pelanggan terhadap kinerja produk atau perusahaan pada atribut-atribut relevan, dan (2) persepsi pelanggan terhadap kinerja aktual produk atau perusahaan bersangkutan (perceived performance).

(9)

Dalam teknik ini, responden diminta mengungkapkan masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan produk atau pelayanan perusahaan dan saran-saran perbaikan.

(4)Importance-performance analysis

Dalam teknik ini, responden diminta untuk menilai tingkat kepentingan berbagai atribut relevan dan tingkat kinerja perusahaan (perceived performance) pada masing-masing atribut tersebut.

2.3. Loyalitas Pelanggan

Griffin (2005) memberikan definisi loyalitas pelanggan sebagai wujud perilaku dari unit-unit pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian secara terus-menerus terhadap barang atau pelayanan suatu perusahaan yang dipilih.

Loyalitas pelanggan menurut Lovelock dan Wirtz (2007) menyatakan bahwa, “More recently, it has been used in a business context to describe a customer’s willingness to continue patronizing a firm over the long term, preferably on an exclusive basis, and recommending the firm’s products to friends and associates”.

Arti dari kutipan di atas yaitu, baru-baru ini loyalitas pelanggan telah digunakan dalam konteks bisnis untuk menggambarkan kemauan pelanggan untuk terus berlangganan dalam jangka panjang, dan merekomendasikan produk perusahaan kepada teman dan rekan.

(10)

Menurut Peter dan Olson dalam Hadiyati (2010), “Pendekatan atas pengukuran loyalitas pelanggan terhadap suatu merk didasarkan pada bangunan loyalitas yang terdiri biaya peralihan, kepuasan, rasa suka, dan komitmen”.

Kotler dan Armstrong yang telah diterjemahkan Sabran (2008) menyatakan bahwa, “Bahkan sedikit penurunan kepuasan pelanggan dapat menciptakan penurunan kesetiaan yang cukup besar”.

Mengacu pada Griffin yang diterjemahkan oleh Yahya (2005), loyalitas dapat didefinisikan berdasarkan perilaku membeli. Pelanggan yang loyal adalah orang yang:

1)Melakukan pembelian berulang secara teratur 2)Membeli antarlini produk dan pelayanan 3)Mereferensikan kepada orang lain

4)Menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing

Mengacu pada pendapat Kotler dan Keller (2009), terdapat 5 jenis kegiatan pemasaran yang sering digunakan perusahaan untuk meningkatkan loyalitas dan retensi pelanggan yaitu:

1)Pemasaran dasar

Wiraniaga menjual produknya begitu saja. 2)Pemasaran reaktif

Wiraniaga menjual produknya dan mendorong pelanggan untuk menghubunginya jika mempunyai pertanyaan, komentar, atau keluhan.

(11)

3)Pemasaran bertanggung jawab

Wiraniaga menelepon pelanggan untuk menanyakan apakah produknya memenuhi harapan pelanggan. Wiraniaga tersebut juga meminta saran perbaikan produk atau pelayanan dan menanyakan apa saja kekecewaannya.

4)Pemasaran proaktif

Wiraniaga menghubungi pelanggan dari waktu ke waktu untuk menyarankan penggunaan produk yang sudah diperbaiki atau produk baru.

5)Pemasaran kemitraan

Perusahaan terus bekerja sama dengan pelanggan utuk menemukan cara-cara penghematan bagi pelanggan atau membantu pelanggan memperbaiki kinerjanya.

2.4. Hubungan Antar Variabel

2.4.1. Hubungan Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan Pelanggan Menurut Aryani dan Rosinta (2010), hubungan kualitas pelayanan dengan kepuasan pelanggan adalah sebagai berikut:

Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang kuat dan positif antara variabel kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebesar 72,9% variabel kepuasan pelanggan dapat dijelaskan oleh

(12)

variabel kualitas layanan, sedangkan sisanya sebesar 27,1% dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel kualitas layanan.

2.4.2. Hubungan Kualitas Pelayanan dengan Loyalitas Pelanggan Menurut Hadiyati (2010), hubungan kualitas pelayanan dengan loyalitas pelanggan adalah sebagai berikut:

Hasil-hasil analisis menyatakan kesimpulan sebagai berikut. Variabel kualitas pelayanan yang meliputi bukti langsung (tangibles), kehandalan (reliability), tanggapan (responsiveness), jaminan (assurance) dan perhatian (emphaty), terbukti berpengaruh signifikan, baik secara simultan maupun secara parsial, terhadap loyalitas pelanggan.

2.4.3. Hubungan Kepuasan Pelanggan dengan Loyalitas Pelanggan Menurut Mohsan, Nawaz, Khan, Shaukat, dan Aslam (2011), hubungan kepuasan pelanggan dengan loyalitas pelanggan adalah:

Based on the views and research done by numerous researchers and academicians, it can be concluded that customer satisfaction is very important. Thus, though customer satisfaction does not guarantee repeat purchases on the part of the customers but still it plays a very important part in ensuring customer loyalty and retention. However this point has been echoed by lots of organizational critics when they said that customer satisfaction is a direct determining factor in customer loyalty which in turn prevent them to switch to other financial service providers. Therefore

(13)

organizations should always strive to ensure that their customers are very satisfied. Customer loyalty and retention is potentially one of the most powerful weapons that financial institutions of 21st century can employ in their fight to gain a strategic advantage and survive in today’s ever-increasing competitive environment.

Maksud dari kutipan tersebut adalah kepuasan pelanggan sangat penting, meskipun tidak menjamin terjadi pembelian berulang tapi masih berperan penting dalam memastikan loyalitas dan retensi pelanggan.

2.4.4. Hubungan Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Pelanggan dengan Loyalitas Pelanggan

Menurut Safitri dan Pratito (2012), hubungan kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan dengan loyalitas pelanggan adalah:

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan untuk menguji apakah terdapat pengaruh kualitas layanan dan kepuasan pelanggan terhadap loyalitas pelanggan maka dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:

1) Terdapat pengaruh yang signifikan positif antara kualitas layanan terhadap loyalitas pelanggan, artinya apabila kualitas layanan meningkat maka loyalitas pelanggan akan meningkat. 2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara kepuasan pelanggan

(14)

pelanggan meningkat maka loyalitas pelanggan akan meningkat.

2.5. Kerangka Teoritis

Sumber: Penulis, 2012

Gambar 2.1 Kerangka Teoritis

2.6. Hipotesis Untuk T – 1:

• H0: Tidak ada hubungan antara kualitas pelayanan (X1) dengan kepuasan pelanggan (X2) PT. ABC.

Kualitas Pelayanan (X1): • Tangibles • Reliability • Responsiveness • Assurance • Empathy Kepuasan Pelanggan (X2): • Kualitas produk • Kualitas pelayanan • Faktor emosional • Harga

• Biaya dan kemudahan

Loyalitas Pelanggan (Y): • Melakukan

pembelian ulang secara teratur • Mereferensikan

kepada orang lain • Menunjukkan

kekebalan terhadap tarikan dari pesaing

(15)

• H1: Ada hubungan antara kualitas pelayanan (X1) dengan kepuasan pelanggan (X2) PT. ABC.

Untuk T – 2:

• H0: Tidak ada pengaruh antara kualitas pelayanan (X1) terhadap loyalitas pelanggan (Y) PT. ABC.

• H1: Ada pengaruh antara kualitas pelayanan (X1) terhadap loyalitas pelanggan (Y) PT. ABC.

Untuk T – 3:

• H0: Tidak ada pengaruh antara kepuasan pelanggan (X2) terhadap loyalitas pelanggan (Y) PT. ABC.

• H1: Ada pengaruh antara kepuasan pelanggan (X2) terhadap loyalitas pelanggan (Y) PT. ABC.

Untuk T – 4:

• H0: Tidak ada pengaruh antara kualitas pelayanan (X1) dan kepuasan pelanggan (X2) terhadap Loyalitas Pelanggan (Y) PT. ABC.

• H1: Ada pengaruh antara kualitas pelayanan (X1) dan kepuasan pelanggan (X2) terhadap loyalitas pelanggan (Y) PT. ABC.

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Teoritis

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana penggunaan teknik capital budgeting untuk menilai kelayakan rencana

menyatakan bahwa suku bunga Sertifikat BankIndonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit pada bank umum di Indonesia.Ketika SBI naik maka

Karena mungkin sulit untuk membedakan tumor Bartholin dari kista Bartholin yang jinak hanya Karena mungkin sulit untuk membedakan tumor Bartholin dari kista Bartholin yang jinak

Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut (RSKGM) Kota Bandung yang mengkhususkan diri pada pelayanan gigi dan mulut merupakan Rumah Sakit Khusus tipe C, rumah sakit ini

Penulis melaksanakan (PEH) di Kawasan Danau Lau Kawar Kabupaten Karo, Sumatera Utara dan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Pekanbaru, di akhir

Bank Penerus ( Advising Bank ) Bank Penerbit L/C ( Issuing Bank ) Penjual ( Eksportir ) Pembeli ( Importir ).. 2) Pembeli (Importir) harus memiliki dana cukup untuk

Hal ini menunjukkan bahwa domain magnetik pada sampel sebagian besar terdiri dari bulir superparamagnetik antara 10% sampai dengan 75% yang merupakan campuran antara

Metode lain yang dapat digunakan untuk mengekstraksi emas dari sumber sekunder ialah adsorpsi yang memiliki beberapa keunggulan yaitu proses yang mudah, harga relatif