27
Faktor-faktor Risiko yang Berpengaruh Terhadap Kinerja Kualitas
Proyek Konstruksi Gedung di Kota Padang Sumatera Barat
Dengan menggunakan Model dan Simulasi Monte Carlo
Oleh:
Idzurnida Isamael*) *) Dosen Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Padang Jalan Gajah Mada Kandis Nanggalo Padang Telp. 0751-7055202
Intisari
Mengurangi risiko akibat keruntuhan bangunan seperti korban jiwa dan kerugian harta benda suatu yang harus dilakukan pada daerah yang rawan bencana seperti gempa di Sumatera Barat, salah satu cara adalah dengan memperhatikan kualitas konstruksi mulai dari factor-faktor risiko yang ditemukan dalam disain maupun dalam pelaksanaan konstruksi. Proses pembangunan proyek konstruksi dalam pelaksanaannya banyak melibatkan berbagai pihak , dan sumberdaya. Menghadapi ketidakpastian dan risiko yang mungkin terjadi, jika terjadi mempunyai dampak terhadap kinerja proyek. Untuk menghindari risiko yang mungkin terjadi diperlukan kajian dan penyebab serta dicarikan tindakan koreksi yang sesuai. Dengan melakukan analisa berbagai factor-faktor risiko yang terjadi dalam pelaksanaan proyek, salah satunya dengan memakai Model dan Simulasi Monte Carlo. Hasil analisa data menunjukkan ada dua faktor risiko utama yang berpengaruh terhadap kualitas proyek konstruksi di Sumatera barat umumnya dan kota padang khususnya, yaitu: Melakukan order untuk perubahan spesifikasi dan Mutu material tidak sesuai dengan spesifikasi. Dari analisa menunjukkan kuatnya korelasi antara kinerja kualitas proyek dengan tingkat pengaruh risiko, factor risiko menurunkan kinerja kualitas proyek.
Kata kunci : Pembangunan konstruksi, Kinerja Kualitas, Risiko proyek. Abstract
Reducing possibility of collapse buildings is a must in order to avoid the loss of life and property, particularly in disaster-prone regions such as in Padang, West Sumatra, Indonesia. Among the steps to mitigating the risks are to assess factors that trigger risks of collapse buildings are to focus and maintain quality of the construction and mitigating risks that found during designing and constructing the buildings. Due to this circumstance, this study tries to investigate factorsthat may trigger collapse building. This study use Monte Carlo simulation to achieve its objective. Results of the analysis of shows there are two major factors that affect the quality of construction projects in the City of Padang, namelychange specifications when ordering material and quality of the material does not comply with specification. Moreover, correlation analysis also shows there isnegative and strong correlation between quality and performance of the project with level of risks.
Keywords: Development, Construction, Quality of Work, Project Risks.
1. Pendahuluan
Sumatera Barat merupakan kawasan yang
tergolong rawan terjadinya gempa bumi.
Khususnya Kepulauan Mentawai dan pantai
barat
Propinsi
Sumatera
Barat
karena
merupakan daerah yang paling dekat dengan
pusat gempa bumi. Akhir-akhir ini kembali di
prediksi oleh para ahli akan terjadi gempa besar
di Sumatera Barat yang mengharuskan setiap
orang harus waspada baik penduduknya
maupun aparat pemerintahnya untuk selalu
waspada dan berusaha untuk mengurangi risiko
yang akan terjadi jika seandainya Gempa besar
itu benar-banar terjadi. Salah satunya untuk
mengurangai risiko adalah kualitas tanah dan
28
kualitas bangunan perlu diperhatikan, sehingga
dampak dari gempa dapat dikurangi baik harta
benda
maupun
jiwa
akibat
keruntuhan
bangunan.
Menurut Heinz Frick (1993), Perencanaan
yang matang, memerlukan pengetahuan tentang
kemungkinan yang akan terjadi pada masa yang
akan
datang.
Pendalaman
permasalahan
konstruksi tidak hanya dilakukan pada tahap
studi, namun pembaharuan terus menerus
terjadi dan cenderung semangkin rumit pada
masa yang akan datang. Pengalaman akan
mendorong untuk memperdalam pengetahuan
dan kemampuannya .
Menurut Akhmad (2008) mengatakan
Proses mitigasi adalah beberapa tindakan yang
seharusnya diambil sebelum terjadinya suatu
bencana, hal ini terkait dengan tindakan secara
structural dan non structural dalam rangka
pengurangan risiko bencana yang terintegrasi
dengan menggunakan sistim pengembangan
yang berkelanjutan/sustainable development.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan
Bencana. Dampak bencana gempa bumi tahun
2009 di Sumatera Barat, terhadap kerusakan
fisik terparah akibat gempa yang terjadi Yaitu
kerusakan bangunan, terutama Bangunan
Konstruksi Gedung. Jika dilihat kerusakan
bangunan, tidak langsung disebabkan oleh
gempa, namun disebabkan oleh kerentanan
bangunan yang mengakibatkan keruntuhan
bangunan, Untuk mengantisipasi pada masa
datang perlu Faktor kerentanan bangunan ,
faktor kualitas tanah dan kualitas bangunan
sebagai kajian resiko yang harus diperhitungkan
dengan menerapkan standar secara baik yang
berkembang mengikuti tuntutan kebutuhan
manusia dan perkembangan teknologi dan ilmu
pengetahuan..
Desain konstruksi yang baik adalah satu
yang dapat mengurai risiko yang ditimbulkan
akibat gempa, karena menurut James Lewis
(2001), mengatakan ketahanan struktur pada
bangunan yang dirancang, untuk gempa bumi,
tergantung
pada
nilai-nilai
yang
telah
ditentukan.
Menurut Nattapsong (2002), mengatakan
kompleksitas
pada proyek
akan banyak
melibatkan banyak bidang teknis, sehingga
perlu Tim kerja yang kompeten dibidangnya,
dan memerlukan kerja sama sehingga diperoleh
hasil perencanaan (desain) yang berkualitas.
Keberhasilan suatu
konstruksi tergantung
partisipasi “Stakeholder” meliputi : Owner
( Pemberi Tugas), Engineer (konsultan) dan
kontraktor (Pelaksana).
Imam Suharto (2001). Sasaran pengelolaan
proyek disamping biaya dan jadwal, memenuhi
persyaratan mutu. Untuk itu diperlukan
serangkaian tindakan sepanjang siklus proyek
mulai dari penyusunan program, perencanaan,
pengawasan, pemeriksaan, dan pengendalian
mutu . Karena itu, harus dilakukan evaluasi
yang efektif terhadap risiko yang melekat dalam
kegiatan
perencanaan,
pelaksanaan,
pengawasan pembangunan sehari-hari, dan
juga harus diikuti dengan keputusan yang baik
berdasarkan evaluasi, serta melakukan tindakan
yang cocok untuk dilaksanakan sebagai hasil
dari keputusan yang diambil.
Dalam rangka mengurangi risiko dari dampak
gempa pada bangunan konstruksi khusus
bangunan gedung, maka perlu meneliti dan
megkaji factor-faktor yang mempengaruhi
kualitas konstruksi gedung.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah :
1. factor-faktor yang paling mempengaruhi
kualitas proyek konstruksi di Kota
Padang.
2. Menentukan penyebab
faktor-faktor
risiko yang mempengaruhi kualitas
proyek konstruksi.
3. Menentukan tindakan-tindakan yang
perlu diperhitungkan terhadap
factor-faktor risiko yang dapat mempengaruhi
kualitas proyek konstruksi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui hasil akhir penelitian antara lain :
1
Untuk mengetahui factor-faktor yang
mempengaruhi
kualitas
proyek
konstruksi.
2
Untuk menentukan penyebab
faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kualitas
proyek konstruksi.
3
Untuk menentukan tindakan-tindakan
yang perlu diperhitungkan terhadap
factor-faktor
risiko
yang
dapat
mempengaruhi
kualitas
proyek
konstruksi.
2.
Tinjauan Pustaka
29
Dalam Manajemen Konstruksi setiap
proyek sudah tentu mempunyai tujuan, untuk
mencapai tujuan ada metode-metode yang
digunakan dalam mengelola proyek, didalam
pengelolalan mempunyai tahapan – tahapan
yang
harus
dilakukan
dalam
proses
pembangunannya. Dengan tujuan dan harapan
yang ingin dicapai mendapatkan hasil yang
optimal baik dalam biaya, mutu dan waktu.
Yang direncakan dan telah disepakati oleh
kedua pihak.antara lain :
1. Biaya proyek tidak melebihi batas yang
telah direncanakan
2. Mutu pekerjaan, hasil akhirnya memenuhi
standar yang telah ditentukan.
3. Waktu penyelesaian pekerjaan sesuai
dengan batas waktu yang telah direncakan
Menurut Waryanto (1998), Secara umum
Perencanaan dapat didefinisikan sebagai suatu
tahapan yang mencoba meletakkan dasar tujuan
dan sasaran berikut langkah-langkah kegiatan
termasuk menyiapkan segala sumber daya
untuk mencapai tujuan tersebut. Secara khusus
tahapan perencanaan dalam manajemen proyek
mempunyai tujuan tiga (3) tujuan, yaitu secara
bersamaan untuk memenuhi spesifikasi proyek
yang telah ditetapkan dalam batasan biaya dan
waktu yang disediakan.
Selanjutnya proses perencanaan secara
garis besar terdiri atas rangkaian
kegiatan-kegiatan antara lain
1. Mengumpulkan
dan
menganalisis
informasi
2. Mengembangkan alternative - alternatif,
Analisa dan evaluasi alternative-alternatif
dan memilih alternative.
3. Melaksanakan dan menerima umpan balik,
4. Membuat dokumentasi seperti Metode
Analisis dan asumsi.
Keterkaitan mutu dengan kelangsungan
konstruksi bangunan gedung didaerah rawan
gempa perlu mendapat perhatian serius demi
mengurangi kerugian masyarakat baik moril,
material, dan jiwa akibat dampak dari gempa,
maka diperlukan pengkajian khusus dalam
proses pembangunan konstruksi gedung agar
konstruksi gedung mencapai kualitas konstruksi
yang diinginkan .
Menurut Asiyanto (2005), Faktor-faktor
yang mempengaruhi mutu suatu pekerjaan
konstruksi adalah:
1. Bersifat software, kualitas perencanaan
dan sistim dari proses yang digunakan.
2. Bersifat hardware, kualitas tenaga kerja,
alat
konstruksi
dan
material
yang
digunakan dalam proses produksi.
Perencanaan
konstruksi
baik
dalam
pengelolaan dan pelaksanaan pada
proyek-proyek
konstruksi.
Sangat
menentukan
Keberhasilan proyek-proyek konstruksi itu
sendiri, yang mencangkup antara lain :
1. Dalam pemilihan teknologi.
2. Definisi tugas pekerjaan.
3. Estimasi sumber daya yang diperlukan.
4. Durasi untuk tugas individu.
5. Identifikasi dari setiap interaksi di antara
berbagai tugas pekerjaan.
Rencana pembangunan konstruksi yang
baik adalah dasar untuk mengembangkan
anggaran, jadwal dan mutu pekerjaan. Selain
itu aspek teknis perencanaan konstruksi, juga
diperlukan
untuk
keputusan
organisasi
misalnya tentang penggunaan Sub-kontraktor.
Menurut Syal, M.G (1992), adapun proses
perencanaan konstruksi dapat dilihat seperti
pada di gambar dibawah ini.
Gambar 1. Proses Construction Planning (Sumber : Syah.M.G.1999)
Menurut
Alfa
(1993),
pada
masa
perencanaan konstruksi (construction planning)
perlu adanya Job Schedule, Resources
Schedule, Project Organization Job Planning.
30
Schedule
adalah
perencanaan
kegiatan
berdasarkan waktu. Dalam pelaksanaan proyek,
penjadwalan sangat berpengaruh terhadap mutu
konstruksi. Jika penjadwalan dilakukan oleh
scheduller yang tidak berpengalaman maka
akan terjadi permasalahan, nantinya yang
bertampak atas kualitas proyek.
Menurut Abrar ( 2009) Pada masa
pelaksanaan proyek, biasanya data-data yang
terkumpul sudah cukup lengkap dari berbagai
aspek yang dianggap perlu. Sehingga
langkah-langkah
yang
penentuan
kebijaksanaan
pelaksanaan dan penyusunan rencana kerja
yang lebih detail sudah dapat dilakukan.
Perencanaan yang baik tidak akan
berguna bila tidak digunakan secara efektif
pada proses pengendalian. setelah konsep
perencanaan tersusun, dilakukan persiapan
pelaksanaan selama durasi proyek. Sumber
Daya Manusia diarahkan pimpinan proyek
untuk pencapaian sasaran proyek, dengan
melakukan pengawasan, pemeriksaan, evaluasi
serta tindakan koreksi bila ada penyimpangan
serta melakukan koordinasi lintas wewenang
untuk mengarahkan hierarki SDM di bawahnya
berdasarkan Penjabaran kerja yang telah
disepakati. Selama masa pelaksanaan Proyek,
semua sumber daya seperti biaya, Material,
Peralatan, serta tenaga kerja dikerahkan dalam
pencapaian kinerja yang maksimal demi
kepuasan
pelanggan
serta
keuntungan
perusahaan.
Menurut Winch & Kelsey (2005), adapun
langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
Construction Planning antara lain sebagai
berikut :
1. Identifikasi lokasi keseluruhan program
konstruksi
2. Identifikasi
keseluruhan
program
pengadaan.
3. Identifikasi keterangan desain, tanggal
pengiriman untuk pengadaan.
4. Identifikasi desain program kontraktor.
5. Identifikasi
detailed
design,
tanggal
kebutuhan data dari client’s consultants.
2.1 Manajemen Risiko
Risiko muncul karena ada ketidak pastian.
Ketidak pastian itu sendiri ada banyak
tingkatan dan karakteristiknya, tingkatan
ketidak pastian seperti tabel dibawah ini
Tabel 1: Tingkatan Ketidakpastian
Bramantyo(2008), mengatakan hal yang
paling mendasar adalah risiko bisa diartikan
sebagai ketidakpastian yang telah diketahui
tingkat probabilitas kejadiannya, Pengertian
lain
risiko
dapat
diartikan
sebagai
ketidakpastian yang bisa dikuantifikasikan yang
dapat menyebabkan kerugian atau kehilangan .
Untuk membandingkan antara ketidakpastian
dan Risiko dapat dilihat dati dibawah ini .
Tabel 2: Perbandingan Antara risiko dan ketidakpastian (Sumber : Hasil Olahan)
Gempa termasuk tingkat ketidakpastian
subjektif,
untuk
menghilangkan
atau
mengurangi dari ketidakpastian tentang masa
datang yang harus dihadapi, adalah dengan
perencanaan yang baik pada tahap konsep dari
satu proyek.
2.2 Identifikasi Risiko
Identifikasi risiko adalah rangkaian proses
pengenalan yang seksama atas risiko dan
komponen risiko yang melekat pada suatu
aktivitas atau transaksi yang diarahkan kepada
proses pengukuran serta pengelolaan risiko
yang tepat.
Menurut Iman Suharto (2001), mengatakan
Identifikasi
risiko
adalah
suatu
proses
pengkajian risiko dari ketidakpastian yang
dilakukan secara sistematis dan terus menerus.
Agar risiko dapat dikelola secara efektif maka
31
langkah pertama adalah mengindentifikasi
jenis risiko yang mana bersifat risiko murni.
Risiko proyek diklasifikasikan risiko murni,
kemudian diindentifikasikan lagi berdasarkan
sumber risiko atau berdasarkan dampak
terhadap sasaran proyek.
Menurut Asiyanto (2009), Identifikasi
risiko dapat dilakukan melalui dua
pendekatan, yaitu berdasarkan sumbernya
yang
bersifat
umum
dan
berdasarkan
dampaknya yang ditimbulkannya harus jelas
dengan risiko tertentu.
Identifikasi risiko berdasarkan sumbernya
secara umum:
1. Peraturan-peraturan, Bencana alam dan
efek samping yang ditimbulkannya.
2. Pasar, Operasi, Dampak lingkungan, Inflasi
dan nilai tukar.
3. Manajemen, Schedule, Cost, Cash flow.
4. Teknologi, Citra, Desain, Metode dan
Kompleksitas.
5. Lisensi, Hak patent, Konrtak, Force
Mayoure.
Sedangkan Risiko khusus proyek konstruksi
dapat dikategorikan menjadi beberapa bagian
diantaranya adalah :
1. Ketersediaan pekerja yang terampil,
peraturan dan sertifikasi, pengiriman
peralatan.
2. Kematangan
desain,
ketersediaan
peralatan.
3. Organisasi proyek, administrasi kontrak
4. Lingkungan, geoteknik, geologi.
Identifikasi berdasarkan dampak, harus
jelas risiko tertentunya, seperti : Kecelakaan
kerja, biaya, mutu , waktu. I
dentifikasi risiko
dilakukan kesuksesan proyek.
2.3 Analisa & Evaluasi Risiko
Analisa risiko adalah rangkain kegiatan
yang
dilakukan
dengan
tujuan
untuk
mamahami signifikansi dari akibat yang
ditimbulkan suatu risiko, Pemahaman yang
akurat tentang signifikansi tersebut akan
menjadi dasar bagi pengelolaan risiko yang
terarah.
secara umum terdapat dua metodologi analisa
risiko yaitu :
1. Analisa kualitatif adalah proses menilai
(assesment) impak dan kemungkinan dari
risiko yang sudah diindentifikasi. Dalam
mengevaluasi risiko hasilnya biasanya
diasosiasikan dengan bentuk perhitungan
yang bisa dideskripsikan berdasarkan
kemungkinan dan impaknya. berdasarkan
dua kriteria yaitu :
-
Frekuensi kejadian (probability)
-
Dampak dari kejadian (Impact/severity)
2. Analisa Kuantitatif adalah analisa yang
dalam
keseluruhan
prosesnya
membutuhkan
pengukuran
terhadap
ketidak pastian dan kombinasi probabilitas
dari
ketidakpastian
individu.
Analisa
kuantitatif ini kadangkala membutuhkan
program komputer. Salah satu teknik yang
dipakai untuk analisa risiko secara
kuantitatif dan teknik pemodelan adalah:
Monte Carlo Modeling and Simulation
Simulasi biasanya dilakukan dengan
menggunakan teknik Monte Carlo. Dimana
Simulasi
proyek
dilakukan
dengan
menggunakan
model
yang
dapat
menterjemahkan ketidakpastian / risiko
secara spesifik pada tingkat detail yang
mempunyai
dampak
potensial
pada
sasaran/kinerja proyek.
Pada suatu
simulasi,
model
proyek
dihitung
berulangkali, dengan input secara random
dari suatu probability distribution function
(pdf) yang dipilih untuk masing-masing
pengulangan
dari
distribusi
peluang
masing-masing variabel.
2.4 Kualitas Proyek konstruksi
Menurut Steven Lavender (1996), Kualitas
dapat diartikan sebagai kesesuaian dengan
standar atau persyaratan yang telah ditetapkan
untuk dicapai. Kualitas adalah suatu produk
atau jasa yang sesuai dengan keinginan
pelanggan. Standar kualitas dapat dibuat atas
beberapa tingkatan kualitas (tinggi, sedang,
dan rendah), yang penting adalah menjamim
kualitas produk sesuai yang diharapkan.
Untuk mendorong pembangunan dimasa
datang yang lebih aman menurut Shelia B.Reed
(1995) Untuk mendorong pembangunan
dimasa datang yang lebih aman adalah melalui
: Pengawasan penggunaan tanah,
Undang-undang bangunan dan standar bangunan serta
32
sarana untuk melaksanakan undang-undang
tersebut,
Lokasi-lokasi
yang
baik
dan
penggunaan metode konstruksi yang benar.
Persyaratan kualitas yang ditetapkan
pemilik proyek harus di telaah dengan teliti
oleh kontraktor. Untuk menjalankan kualitas
dari
kontrak
pekerjaan,
persyaratan-persyaratan dipertimbangkan dengan
pendekatan harga dan schedule dalam
pengerjaan proyek.
Untuk
mengatur
m
aterial,
peralatan, engginering dan kontrak konstruksi.
3. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian dilakukan untuk
menganalisis
factor-faktor
risiko
yang
mempengaruhi kualitas Konstruksi di Kota
padang. Penelitian ini menggunakan strategi
penelitian kuantitatif, karena tujuan yang ingin
dicapai adalah menemukan fakta berdasarkan
catatan dari dokumen, serta membutuhkan
pengujian hipotesa penelitian.
Untuk mencapai hasil yang diinginkan perlu
menentukan strategi penelitian yang tepat.
Menurut Robert k.Yin (2005) .Sebelum
menentukan strategi penelitian apa yang akan
dipilih. ada 3 (tiga) kondisi yang perlu
diperhatikan:
- Tipe pertanyaan penelitian yang diajukan
- Luas kontrol yang dimiliki peneliti terhadap
peristiwa yang diteliti
- Fokus terhadap peristiwa yang sedang
berjalan atau baru diselesaikan.
Berpedoman dari hal diatas . metode
Penelitian ini dengan pendekatan survei,
karena pertanyaan penelitian , baik
pertanyaan pertama, kedua dan ketiga dapat
dijawab dengan pendekatan survei, dimana
kuisioner diberikan kepada responden yang
terdiri dari Owner, badan usaha jasa konstruksi
dan konsultan di kota Padang khususnya. Dari
sub bab 1.3 Pertanyaan Penelitian yang
diperlukan untuk mendapatkan hasil yang
diinginkan seperti apa dan berapa besar, dapat
dikelompokkan sebagai berikut :
1. Faktor-faktor “apa” saja yang dapat
mempengaruhi kualitas proyek konstruksi.
2. Apa penyebab faktor-faktor risiko yang
mempengaruhi kualitas proyek konstruksi.
3. “Apa” Tindakan terhadap factor-faktor
risiko yang dapat mempengaruhi kualitas
proyek konstruksi ?
3.1.
Hipotesa
Berdasarkan bagan alir diatas, maka dapat
dirumuskan hipotesa dari penelitian ini sebagai
berikut : ” Ada pengaruh yang signifikan
antara kualitas proyek konstruksi dengan
Pelaksanaan konstruksi ”.
3.2. Strategi Penelitian
Untuk dapat melaksanakan penelitian sesuai
dengan tujuan yang diharapkan, maka proses
penelitian yang dilakukan adalah seperti
gambar dibawah ini.
Gambar 3. Statistical model building process Sumber : Hasil olahan
3.3. Model Penelitian
Dalam
menganalisa
resiko
yang dapat
mempengaruhi kualitas pada
saat perencanaan
dan pelaksanaan proyek konstruksi.
Secara
matematik digambarkan dalam suatu model
penelitian pada penelitiani seperti gambar 3.3
Gambar 2. Hubungan antara kinerja kualitas
dengan analisa risiko
Dari model hubungan tersebut diatas secara
sederhana dapat dinyatakan dalam bentuk
fungsi sebagai berikut: Yk = F ( X ijkl )
33
Keterangan :
Y = Kinerja Proyek
k = Jenis variable terikat ( dependent )
X = Analisa sumber Risiko
i = Jenis variable bebas ( Independent )
risiko proyek
i,k = Jenis variabel k yang mempunyai
keterkaitan terhadap variabel i
j,l = Sampel data l yang mempunyai
keterkaitan terhadap sampel j
Dari model matematik diatas dapat
dinyatakan bahwa melakukan analisa risiko
pada tahap pembangunan konstruksi akan
meningkatkan kinerja kualitas.
a. Alat Penelitian
Pengumpulan data , digunakan kuesioner
yang disusun berdasarkan klsifikasi tujuh
sumber factor risiko. Dengan masing-masing
aspek berisi sejumlah pertanyaan tentang
factor yang mempengaruhi kualitas konstruksi.
Tujuh sumber factor risiko. mempengaruhi
kualitas proyek konstruksi adalah:
1. Pencapaian Spesifikasi/Design
2. Ketersedian Material
3. Sumber daya manusia tidak memadai
4. Ketersedian alat
5. Sistim Pengendalian Proyek
6. Pelaksanaan tidak memadai
7. Kebijakan
Skala Pengukuran yang digunakan Skala Likert
dengan angka 5
b. Variabel Penelitian
Ada dua variabel yang yang dianalisis
dalam penelitian ini yaitu :
1. variabel terikat (dependent variable)
sebagai obyek pokok yang difokuskan
berupa
peningkatan
kualitas
proyek
konstruksi.
2.
variabel bebas (Independent variabel)
berupa faktor-faktor yang mempengaruhi
kualitas konstruksi gedung. Dari hasil
studi literature dan survey kepada kepada
pakar, terdapat 33 (tiga puluh tiga)
Variabel dari tujuh Sumber Faktor Risiko
yang akan mempengaruhi variabel terikat
.
X1 : Tidak sesuai disain konstruksi, bangunan tahan gempa X2 : Tidak ada Izin Mendirikan Bangunan Gedung X3 :Melakukan perubahan spesifikasi (Change orders) X4 : Melakukan perubahan terhadap disain (redisign) X5 : Material yang digunakan kurang dari yang dibutuhkan. X6 : Mutu material tidak sesuai dengan spesifikasi X7 :Menempatkan manajer lapangan tidak berpengalaman X8 : Jumlah orang untuk pengawasan mandor kurang X9 : Kontraktor menggunakan tenaga kerja yg tdk Trampil X10: Upah tenaga kerja yang diberikan rendah
X11: Kontraktor tidak menempatkan Pengawas QA dan QC X12: Kont utama memakai sub-kont yg tak berpengalaman. X13: Subkontraktor merekrut para pekerja yang tidak standard
X14:: Subkontraktor tidak menyediakan pelatihan pekerja X15: Menggunakan alat lama yang efesiensinya rendah X16: Alat yang digunakan tidak sesuai spesifikasi X17: Jumlah alat yang digunakan tidak memadai X18: Schedule pelaksanaan pekerjaan proyek tidak tepat X19: Jadwal pengadaan tenaga kerja tidak tepat X20: Jadwal pengadaan alat tidak tepat X21 Jadwal pengadaan material tidak tepat
X22: Metode pelaksanaan pekerjaan proyek tidak tepat. X23: Metode pengoperasian alat tidak tepat.
X24: Kontraktor tidak memiliki biaya utk bergabung pada quality organization.
X25: Kontraktor tidak melakukan pengukuran dan pemeriksaan alat berat
X26: Kontraktor tidak melakukan analisa alat berat X27: Kontraktor tidak memberikan pelatihan Quality Management kepada personalia
X28: Tidak adanya profesional partisipasi kontraktor terhdp Quality System
X29: Tidak adanya biaya perjalanan untuk Quality Sistem X30: Tidak adanya biaya overhead dan lainnya seperti untuk sewa, penerangan, komunikasi, dll.
X31: IMB “hanya” baru diterjemahkan = Iyuran
X32: Penjabat Terkait Belum memiliki keahlian yg memadai, X33: Pelaksanaan Sertifikasi Ahli belum memadai
c.
Obyek penelitian dan Responden
Objek penelitian dilakukan terhadap
proyek pembangunan konstruksi gedung di
Kota Padang Propinsi Sumatera Barat.
Untuk memperoleh data yang cukup andal
Pengumpulan data
dengan cara menyebarkan
kuesioner kepada responden,
dimana mereka
yang secara purposif terpilih menjadi sampel
penelitian. Populasi penelitian ini melibatkan
owner dan konsultan supervise/kontraktor dan
Sampel yang digunakan adalah responden yang
memenuhi kriteria dalam penelitian ini adalah
mereka yang terlibat langsung dalam proses
pembangunan gedung.
Sedangkan kriteria responden/ stakeholder
adalah Owner sebagai Kepala Satker/ Kuasa
34
Pengguna Anggaran, dan Pejabat Pembuat
Komitmen serta Pengendali Teknis. dan
Konsultan Supervisi serta kontraktor memiliki
pengalaman
memimpin
perusahaan
jasa
konstruksi.
3. Analisa Data
Dari hasil output correlation angka
variabel X3 dan X6 menunjukkan kuatnya
korelasi antara kinerja kualitas proyek dengan
tingkat pengaruh risiko
karena > 0,5.
Sedangkan tanda negatif menunjukkan bahwa
semakin sering risiko tersebut terjadi akan
membuat kinerja kualitas proyek konstruksi
akan semakin turun. Seperti tabel dibawah ini.
Tabel 3. Signifikan hubungan hasil analisa
Pearson terhadap kinerja
Selanjutnya dilakukan analisa factor untuk
menguji apakah angka korelasi yang didapat
benar-benar signifikan atau dapat digunakan
untuk analisa regresi. Ternyata Dari Rotated
Component Matrik mengeluarkan 2(dua)
Variabel. Yang artinya Analisa faktor sudah
benar. Interpretasi hasil analisa factor , Muncul
2 (dua) factor yang mempengaruhi kinerja
kualitas proyek konstruksi di Kota Padang
adalah sebagai berikut :
-
Faktor Kualitas Sumber Daya
-
Faktor Kualitas Pelaksanaan
Analisa Regresi
Untuk memprediksi nilai dari variabel
terikat apakah mengalami kenaikan atau
penurunan.
Variabel-variabel
X
yang
berkorelasi dimasukkan ke variabel terikat Y.
Dalam analisis ini dilakukan analisis regresi tiap
variabel bebas hasil analisa factor berupa nilai
Adjusted R Sguare yang terbesar. Metoda
analisa regresi yang dilakukan adalah metoda
Stepwise. Tujuan dari analisis regresi adalah
untuk mendapatkan suatu model statistik dan
dapat pula digunakan sebagai mencari variabel
X yang dominan yang mempengaruhi kualitas
proyek konstruksi. Yaitu dengan melihat
variabel X yang ada pada model persamaan
yang didapat.
Untuk mendapatkan tingkat kepercayaan
yang tinggi, maka ada sampel yang direduksi
karena out layer. Pada masing-masing tahapan
pembuangan sampel pada analisa regresi ini,
adapun nilai tingkat kepercayaan (Adjusted R
Square) yang di dapat sebagai berikut :
Dari
hasil
Output
Summary
Hasil
pembuangan tahap 21 yakni variabel 17
ternyata didapatkan nilai R
2terakhir 0.791.
dengan nilai Condition Index 7,336 < 17 .
Dari Tabel diatas nilai adjustedR
2dengan
tingkat kepercayaan 79,10 %, dikatakan suatu
persamaan dari model regresi yang terbentuk
dikatakan sempurna apabila mempunyai nilai
koeffisien
penentu
atau
coefficient
of
determination R
2=1 atau R
2≈ 1, dengan
demikian masih ada nilai koeffisien penentu
21.90 % yang belum terindentifikasi.
Identifikasi variabel Penentu dengan Variabel
Dummy
Identifikasi terhadap variabel penentu
lain,dengan
cara
menggunakan
variabel
dummy, dilakukan dengan memperhatikan
scatter plot yang dihasilkan dari grafik model
regresi .
Dari input Dummy Variabel didapat
nilai coefficient of determination R
2 =0,934
dan nilai Condition Index (12,276) < 17. Tabel
di atas menggambarkan tingkat kepercayaan
model 93,40 % dan jumlah model yang
mungkin dapat dibentuk.
Pada tabel nilai Collinearity indeks, yang
menunjukkan bahwa model yang dibuat
terdapat multicollinearity atau tidak. Dengan
kata lain bahwa variabel-variabel X yang ada
pada model tersebut memiliki hubungan yang
kuat diantara sesama variabel X. Collinaerity
indeks (CI) disyaratkan harus < 17, jika ada
variabel X yang mempunyai CI > 17 maka
variabel tersebut sebaiknya dihilangkan. Ada
kemungkinan variabel X dengan CI > 17 tetap
dipertahankan jika hubungan diantara variabel
X yang terdapat dalam model tersebut lebih
kecil dari nilai korelasi terkecil antara variabel
Y dengan variabel X.
35
Tabel 4. Koefisien Model
Sumber : Hasil olahan SPSS
Dari hasil output tabel di atas maka dapat
dibuat model persamaan sebagai berikut :
Y = 5,658–0,70X3 – 0,330X6 – 0,393XDummy
Dimana :
Y = Kinerja Kualitas Proyek Konstruksi
X3
= Melakukan Perubahan Spesifikasi
X6= Mutu material tidak sesuai dengan
spesifikasi
X Dummy
Uji Validitas Model Statistik
Uji model dilakukan untuk meyakinkan
persamaan yang terpilih. Untuk mengukur
kestabilan model .
Uji Multikolinearitas
Model regresi yang baik tidak boleh ada
multikolinearitas. Uji ini dapat dapat dilihat
dari nilai VIF untuk masing-masing prediktor
dan dari nilai Condition Index. nilai VIF
masing-masing prediktor pada tabel coeffisien < dari
10 yaitu : X3 = 1.535, X6 = 1.520 dan XDummy
= 1.015.jadi terbebas dari multicollinearitas.
Hasil Coefficient of Determination Test
(Adjusted R
2test)
Uji validitas untuk model statistik yang
telah diperoleh, pertama dilakukan dengan
menggunakan Ajusted R
2yaitu untuk menilai
apakah model yang terbentuk tersebut dapat
mewakili populasinya. Dimana nilai Adjusted R
2= 0,926, yang artinya variabel X3, X6 dan
XDummy memberikan konstribusi tingkat
kepercayaan terhadap model sudah 92,6 %.
Sedangkan untuk mengetahui apakah
model regresi pada penelitian sudah benar
atau salah dilakukan juga uji F dan uji t.
Hasil Uji F-Test
Uji hipotesis yang digunakan pada tahap ini
adalah menggunakan nilai F yang terbentuk
seperti pada tabel berikut :
Tabel 5. Anova
Sumber : Hasil olahan SPSS
Interpretasinya adalah, ada pengaruh
faktor dominan terhadap kualitas proyek
konstruksi. Sedangkan dari nilai Signifikansi
0,000 < 0,01 , maka model dapat diterima.
Hasil Uji T-Test
Langkah selanjutnya melakukan t- test
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
kepercayaan tiap variabel bebas dalam
persamaan atau model regresi yang digunakan
dalam memprediksi nilai kinerja Y.
Tabel 6. Coeficients
Sumber : Hasil olahan SPSS
Analisa Nilai t :
Tingkat signifikansi, α
= 0,05
DF (Responden - variabel) = 51 - 3 = 48
Nilai t tabel (two tailed)
= 1,68
Nilai t hitung
= 39,093
Nilai signifikansi terhadap variabel = 0,000
Selanjutnya adalah menentukan kriteria uji
hipotesis sebagai berikut :
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa angka t
penelitian sebesar 39,093 > t tabel
sebesar
1,68.
Maka H0 ditolak dan Hi diterima.
36
Artinya, ada hubungan linier antara faktor
dominan terhadap kualitas proyek konstruksi.
Jika dilihat dari angka Beta maka variabel
tersebut berpengaruh negatif terhadap kualitas
proyek konstruksi. Sedangkan dari nilai
Signifikansi 0,000 < 0,01
, maka model dapat
diterima.
Hasil Uji Durbin Watson (d-test)
Uji auto korelasi dilakukan untuk mengukur
ada tidaknya autokorelasi antara variabel pada
sampel yang berbeda. Adapun untuk mengukur
ada tidaknya autokorelasi pada variabel dalam
model yang diuji digunakan batasan nilai du<2
yang menunjukkan bahwa tidak adanya
autokorelasi antara variabel. Dari tabel 4.40
Tabel 7. Model Summary
Sumber : Hasil olahan SPSS
Karena DW terletak antara dL dan dU,Atau
nilai DW 1.10<1.405<1.54 seperti pada Tabel
d, maka di Interpretasikan adalah tidak
menghasilkan kesimpulan yang pasti.
Uji Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini menyatakan
bahwa “ Ada pengaruh yang signifikan antara
kualitas proyek konstruksi dengan Pelaksanaan
konstruksi ”. Berdasarkan model-model yang
telah diperoleh dilakukan pengujian terhadap
hipotesis tersebut , yaitu model hubungan
antara faktor risiko pelaksanaan konstruksi
dengan kinerja kualitas proyek konstruksi.
dinyatakan berdasarkan uji model ( Uji F, t dan
Durbin Wilson) yang telah dilakukan .
Model ini mempunyai dua variabel bebas
dengan koeffisien (-) negatif, dari model ini
dapat dinyatakan bahwa : semangkin sering
melakukan perubahan spesifikasi (X3) dan
semangkin sering Mutu material tidak sesuai
spesifikasi (X6), maka akan semangkin rendah
kinerja kualitas proyek konstruksi.
Simulasi Variabel dengan Crystall Ball 7.3
Model yang terbentuk dari hasil analisis
regresi linier disimulasi dengan metode yang
dikembangkan oleh monte carlo dengan
bantuan perangkat lunak program Crystal Ball,
Maksud simulasi dan modeling digunakan
untuk mendapatkan penyelesaian masalah
yang rumit bila digunakan analisa biasa.
Hasil Analisis faktor dan regresi telah
mengeluarkan
model
matematis
yang
menggambarkan hubungan antara variabel
dominan terhadap kualitas proyek konstruksi.
Variabel penentu yang dihasilkan, digunakan
untuk melakukan simulasi dengan Crytal ball
yang bertujuan untuk mengetahui probabilitas
terjadinya variabel penentu dengan skala
penilaian 1 sampai 5, di dalam populasinya.
Proses simulasi pada penelitian ini dilakukan
terhadap variabel terikat Y. dalam melakukan
simulasi dengan crystal ball Data diambil dari
hasil out put Cooefficients, Penyusun skenario
yang mungkin terjadi seperti dibawah ini.
37
Tabel 8. Skenario Pada Simulasi
Dengan menyusun data yang akan diinput
ke Software Crystal Ball seperti pada tabel 9.
Tabel 9. Data Input Crystal Ball
Setelah nilai Define Assumtion dan jumlah
nilai
Forecaste
Perormance
telah
diisi
seluruhnya hasil out put seperti grafik-grafik
berikut :
Gambar 4. Frequency View Sumber : Hasil olahan Crystall Ball
Gambar 4. Menunjukkan sebaran frekuensi
yang mungkin terjadi pada berbagai kondisi.
Gambar 5. Commulative Frequency View Sumber : Hasil olahan Crystall Ball