TINJAUAN PUSTAKA
Penambangan Batubara
Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009, pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang. Proses penambangan merupakan salah satu mata rantai dari kegiatan penambangan yang berfungsi untuk menyediakan bahan baku. Agar penyediaan bahan baku tersebut dapat terjamin maka kegiatan penambangan harus ditangani secara baik dan sistematik.
Lebih lanjut Bapedal (2001) mengemukakan bahwa kegiatan pertambangan pada umumnya memiliki tahap-tahap kegiatan sebagai berikut:
1. Eksplorasi
2. Pembangunan infrastruktur, jalan akses dan sumber energi 3. Pembangunan kamp kerja dan kawasan pemukiman 4. Ekstraksi dan pembuangan limbah batuan
5. Pengolahan bijih dan operasional
6. Penampungan tailing, pengolahan dan pembuangannya
Sistem penambangan batubara di Indonesia pada umumnya adalah sistem tambang terbuka dengan metode konvensional yang merupakan kombinasi penggunaan excavator/shovel dan truk. Urutan kegiatan penambangan batubara dengan metode ini meliputi:
1. Pembukaan lahan
2. Pengupasan dan penimbunan tanah tertutup
3. Pengambilan dan pengangkatan batubara serta pengecilan ukuran tanpa proses pencucian batubara (Setyawan, 2004).
Setyawan (2004) juga mengemukakan bahwa sistem penambangan ini belum memungkinkan untuk dilaksanakan pengisian lubang bekas tambang (back
filling) sehingga tanah pucuk yang terkumpul segera disebarkan pada lahan yang
tanah pucuk tersebut harus dikumpulkan keluar batas daerah penimbunan atau diamankan ke tempat kumpulan tanah pucuk. Kemudian lapisan tanah penutup ditimbun di luar areal tambang dengan sistem terasiring dan recountoring. Pada kaki daerah penimbunan (waste dump) dibuat kolam pengendapan (settling pond) untuk menangkap air permukaan dan mengendapkan lumpur yang terangkut.
Lanskap Pascapenambangan
Kegiatan pasca tambang merupakan kegiatan terencana, sistematis dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha penambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan (UU RI No.4 Tahun 2009).
Kegiatan penambangan batubara akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan, terutama terhadap komponen lingkungan :
1. Penurunan kualitas air, bersumber dari adanya erosi tanah
2. Penurunan muka air tanah dangkal, karena dalamnya penggalian lubang tambang
3. Peningkatan pencemaran debu dan kebisingan, karena pengangkutan batubara; 4. Peningkatan erosi tanah, karena hilangnya vegetasi penutup
5. Kehilangan potensi dan struktur vegetasi; karena aktiivitas pembersihan lahan (land clearing) sebelum pertambangan dimulai
6. Kehilangan satwa liar, karena hilangnya habitat
7. Perubahan penggunaan lahan, karena adanya penempatan proyek
8. Peningkatan kesempatan berusaha, karena berkembangnya perekonomian lokal 9. Peningkatan potensi konflik sosial, karena adanya pertentangan kepentingan
dan kecemburuan sosial
Dampak terhadap komponen lingkungan fisik-kimia dan biologi tersebut tidak dapat dihindarkan namun dapat ditekan seminimal mungkin. Selain dampak negatif, proyek pertambangan batubara di wilayah Batulicin akan menimbulkan dampak positif terhadap lingkungan sosial dan ekonomi dalam bentuk terbukanya peluang kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat setempat, serta meningkatkan pendapatan daerah (PT Arutmin, 2003).
Reklamasi Lahan Pasca Penambangan
Menurut KEPMEN Pertambangan dan Energi No. 1211.K/008/M.PE/1995 yang dimaksud reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan umum, agar dapat berfungsi dan berdayaguna sesuai dengan peruntukkannya. Selanjutnya Feriansyah 2009 menyebutkan bahwa kegiatan reklamasi meliputi dua tahapan, yaitu :
1. Pemulihan lahan bekas tambang untuk memperbaiki lahan yang terganggu ekologinya.
2. Mempersiapkan lahan bekas tambang yang sudah diperbaiki ekologinya untuk pemanfaatan selanjutnya.
Tujuan akhir reklamasi lahan pasca penambangan adalah pilihan optimal dari berbagai keadaan dan kepentingan. Selain itu perlu diingat bahwa reklamasi merupakan kepentingan masyarakat banyak, sehingga tujuan reklamasi tidak boleh hanya ditentukan sendiri oleh perusahaan pertambangan yang bersangkutan. Penetapan tujuan reklamasi dipengaruhi oleh faktor- faktor sebagai berikut : 1. Jenis mineral yang ditambang.
2. Sistem penambangan yang digunakan. 3. Keadaan lingkungan setempat.
4. Keadaan dan kebutuhan sosial-ekonomis masyarakat setempat. 5. Keekonomian investasi mineral.
6. Perencanaan tata ruang yang telah ada.
Tahapan kegiatan reklamasi berdasarkan RPT Arutmin 2008 diawali dengan proses pemindahan dan penimbunan tanah penutup (overburden) lalu diikuti dengan perataan atau regrading. Setelah perataan dilakukan sesuai dengan rencana, tanah pucuk kemudian ditaburkan pada permukaan yang telah diregrade dengan ketebalan minimal 0,5 meter. Penyebaran tanah pucuk kemudian diikuti dengan pengemburan sepanjang kontur atau kontur ripping, check dam bila diperlukan. Peletakan kontur ripping sepanjang kontur dimaksudkan agar air yang mengalir dapat terperangkap dan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman pada usia dini.
Menurut Suprapto (2008), secara umum yang harus diperhatikan dan dilakukan dalam merehabilitasi/reklamasi lahan bekas tambang adalah :
1. Dampak perubahan dari kegiatan pertambangan.
Kegiatan pertambangan dapat mengakibatkan perubahan kondisi lingkungan. Hal ini dapat dilihat dengan hilangnya fungsi proteksi terhadap tanah, yang juga berakibat pada terganggunya fungsi-fungsi lainnya.
2. Rekonstruksi tanah.
Untuk mencapai tujuan restorasi perlu dilakukan upaya seperti rekonstruksi lahan dan pengelolaan tanah pucuk.
3. Revegetasi.
Secara ekologi, spesies tanaman lokal dapat beradaptasi dengan iklim setempat tetapi tidak untuk kondisi tanah. Untuk itu diperlukan pemilihan spesies yang cocok dengan kondisi setempat, terutama untuk jenis-jenis yang cepat tumbuh.
4. Pencegahan air asam tambang.
Pembentukan air asam cenderung intensif terjadi pada daerah penambangan, hal ini dapat dicegah dengan menghindari terpaparnya bahan yang mengandung sulfida pada udara bebas.
5. Pengaturan drainase.
Drainase pada lingkungan pasca tambang dikelola secara seksama untuk menghindari efek pelarutan sulfida logam dan bencana banjir.
6. Tata guna lahan pasca tambang
Lahan bekas tambang tidak selalu dekembalikan ke peruntukan semula. Hal ini tertgantung pada penetapan tata guna lahan wilayah tersebut.
Rekreasi
Gold (1980) mendefinisikan bahwa rekreasi adalah melakukan berbagai aktivitas pada waktu luang yang bertujuan untuk mencapai kepuasan pribadi dan untuk mendapatkan pengalaman pribadi. Sumber daya untuk rekreasi adalah tempat tujuan bagi orang untuk melakukan aktivitas rekreasi. Ketersediaan sumber daya untuk rekreasi merupakan jumlah dan kualitas dari sumber daya yang tersedia di tempat rekreasi yang dapat digunakan pada waktu tertentu.
Permintaan rekreasi dapat dijadikan sebagai suatu ukuran dalam menentukan tapak yang terbaik dan tipe yang paling cocok dengan sumber daya, fasilitas, dan program rencana.
Gold (1980) juga menekankan bahwa sangat mendasar untuk memahami berbagai teknik pendekatan dalam merencanakan rekreasi. Hal ini menghindari konflik yang muncul akibat perbedaan dalam teknik pendekatan. Beberapa pendekatan yang dipakai adalah :
1. Pendekatan sumberdaya, penentuan tipe-tipe serta kemungkinan-kemungkinan rekreasi dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi sumber dayanya.
2. Pendekatan aktivitas, dilakukan dengan menyeleksi aktivitas pada masa lalu untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang dapat disediakan pada masa yang akan datang.
3. Pendekatan ekonomi, dasar ekonomi atau sumber fiskal dari masyarakat digunakan untuk menetukan jumlah, tipe dan kemungkinan-kemungkinan rekreasi
4. Pendekatan perilaku, perilaku manusia dan kejadian-kejadian di waktu luang mempengaruhi pemilihan tentang bagaimana, dimana dan kapan orang-orang menggunakan waktu luangnya.
Selanjutnya menurut Gold (1980), jenis-jenis rekreasi luar lapangan adalah sebagai berikut :
1. Mengendarai mobil untuk bersenang-senang 2. Berenang
3. Berjalan untuk bersenang-senang 4. Bermain (olahraga)
5. Melihat pemandangan 6. Piknik
7. Memancing 8. Bersepeda
9. Menonton pertandingan olahraga 10. Berperahu
12. Berburu 13. Berkemah 14. Berkuda 15. Bermain ski air 16. Gerak jalan
17. Menonton konser atau drama
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan rekreasi adalah distribusi musiman, periode waktu luang atau jumlah waktu yang dimiliki seseorang, distribusi penggunaan sumber daya, dan partisipasi masyarakat terhadap aktivitas tertentu. Selain faktor yang berkaitan dengan pengguna, faktor yang berhubungan dengan tempat rekreasi juga mempengaruhi permintaan terhadap rekreasi. Faktor-faktor tersebut adalah daya tarik yang diinginkan pengunjung, tingkat pengelolaan tempat rekreasi tersebut, keberadaan tempat rekreasi lain di sekitarnya, daya dukung dan iklim mikro daerah rekreasi, serta karakteristik fisik dan karakter alami tempat rekreasi tersebut.
Perencanaan Lanskap
Perencanaan adalah suatu alat yang sistematis dan dapat digunakan untuk menentukan awal suatu keadaan, dan merupakan cara terbaik untuk mencapai keadaan tersebut (Gold, 1980) sedangkan Chiara dan Koppelman (1989) mengemukakan bahwa proses perancangan tapak dimulai dengan pengumpulan data dasar yang berkaitan secara khusus dengan tapak tersebut dan daerah sekitarnya. Data ini harus meliputi hal-hal seperti rencana induk dan penelaahannya, peraturan penzonaan, peta dasar dan udara, survey, data topografi, informasi geologi, hidrologi dari daerah tersebut, tipe tanah, vegetasi dan ruang terbuka yang ada.
Menurut Laurie (1986), perencanaan tapak dapat dipikirkan sebagai suatu kompromi antara penyesuaian pada tapak untuk mencocokkan dengan program dan adaptasi pada program dikarenakan tapaknya. Program dengan tapak dipikirkan sebagai dua kumpulan pengaruh: satu, yaitu tapaknya, yang berusaha keras mencerminkan wujudnya, kekhasannya; lainnya, yaitu kegunaan yang
terkandung dalam program, yang juga mempunyai suatu proses pemberian bentuk umumnya sendiri.
Proses perencanaan lanskap kawasan rekreasi menurut Gold (1980) terdiri dari persiapan, inventarisasi, analisis, sintesis, dan perencanaan.
Persiapan merupakan tahap perumusan tujuan dan program serta informasi lain tentang berbagai keinginan yang dilanjutkan dengan membuat persetujuan kerja sama antara perencana dan pemberi tugas. Inventarisasi merupakan tahap pengumpulan data keadaan awal tapak yang diperoleh dari survei lapang, wawancara, pengamatan, dan sebagainya. Analisis merupakan tahap untuk mengetahui masalah, kendala, potensi dan kemungkinan pengembangan lain dari tapak. Pada tahap ini dibuat program pengembangan yang menyeluruh dengan menyusun tujuan, metode, daftar kebutuhan, deskripsi proyek, dan hubungan antar komponen tersebut. Sintesis merupakan tahap pemecahan masalah dan pemanfaatan potensi dari suatu tapak yang disesuaikan dengan tujuan perencanaan. Setelah dilakukan pemecahan masalah dan pemanfaatan potensi akan diperoleh alternatif-alternatif perencanaan (Gold, 1980).
Lanskap Area Rekreasi
Menurut Simonds (1983), bentukan-bentukan penampakan dan kekuatan lanskap alam yang dominan, sangat sedikit yang dapat diubah. Beberapa elemen lanskap alami yang tidak dapat diubah adalah bentukan topografi seperti pegunungan, lembah, danau, sungai, pantai, penampakan presipitasi, embun, dan kabut. Selanjutnya Simonds (1983) menyatakan bahwa lanskap alami memiliki hubungan dengan bentukan-bentukan lain secara tersendiri, karena lanskap alami mempunyai sesuatu yang harmonis, dengan setiap bentuk merupakan pernyataan dari topografi, iklim, pertumbuhan, dan energi alami.
Kawasan area rekreasi merupakan ruang terbuka yang menyediakan sarana wisata atau rekreasi yang sangat penting bagi kesenangan, kesehatan, dan kebahagiaan manusia. Suatu area rekreasi harus mempunyai ciri khas keunikan tertentu, yakni mempunyai karakteristik yang khusus sesuai keinginan masyarakat di sekitar kawasan tersebut.
Salah satu yang perlu dipertimbangkan dalam lanskap area rekreasi adalah fasilitas rekreasi, yaitu segala sesuatu yang sengaja dibuat atau disediakan pada suatu kawasan rekreasi untuk menjalankan fungsi kawasan sebagai kawasan rekreasi, dimana setiap orang harus memiliki akses untuk memiliki akses untuk menikmati fasilitas tersebut (Gold, 1980). Fasilitas ini dapat digunakan sebagai salah satu standar dalam proses perencanaan yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Perbedaan ini dipengaruhi oleh :
1. Orientasi manusia, terutama pengguna
2. Dapat diterapkan di masyarakat dan sesuai dengan waktu dan biaya perencanaan yang ada
3. Kemudahan pengaplikasian 4. Relevansi
Beberapa sumberdaya alam menjadi unsur penting bagi lanskap area rekreasi. Chiara dan Koppelman (1989) mengemukakan bahwa jenis dan pola vegetasi merupakan sumberdaya rekreasi, visual dan ekologi yang penting. Pada unsur hidrologi dikemukakan bahwa jenis dan kualitas air pada suatu tapak merupakan sumberdaya visual dan rekreasi yang penting. Selanjutnya Chiara dan Koppelman (1989) juga mengemukakan bahwa bentuk dasar permukaan tanah atau struktur topografi suatu tapak merupakan sumberdaya visual dan estetika yang sangat mempengaruhi lokasi dari berbagai tataguna tanah serta fungsi rekreasi. Hal ini sangat penting apabila segi visual dari tapak akan dipertimbangkan.
Teori rekreasi berkaitan erat dengan destinasi. Menurut Lewwis dan Chambers 1990, destinasi terdiri dari berbagai elemen. Dalam membuat strategi terhadap sebuah destinasi terdapat beberapa faktor yang harus dianalisis terlebih dahulu di dalam pasar. Faktor-faktor tersebut antara lain :
1. Sumber daya alam di suatu destinasi antara lain adalah iklim, tanah, vegetasi, kehidupan binatang, air, pantai, ketersediaan air minum, sumber daya energi dan keindahan alam sekitar destinasi.
2. Infrastruktur yang masuk ke dalamnya antara lain water supply, sistem pembuangan, listrik dan gas, sistem komunikasi, jalan, bandar udara, terminal, stasiun kereta api, tempat parkir dan transportasi publik.
3. Sarana suprastruktur terdiri dari fasilitas-fasilitas seperti hotel/motel, restoran/rumah makan, toko-toko, tempat-tempat hiburan, dan sektor bisnis lainnya yang menyediakan barang dan jasa kepada konsumen.
4. Sarana transportasi yang tersedia bagi pengunjung ketika berkunjung ke tapak seperti mobil, pesawat udara, kereta api, bus dan kapal laut.
5. Masyarakat lokal mempunyai keinginan dalam memberikan jasanya kepada pengunjung yang datang ke daerah mereka. Keinginan tersebut tidak hanya meliputi keinginan di dalam pelayanan namun masyarakat lokal juga harus dapat menerima budaya dan motivasi yang dibawa oleh pengunjung ke daerah mereka. Intinya adalah penyesuaian antara budaya masyarakat lokal dengan budaya pendatang yang berasal dari pengunjung.
6. Memperhatikan apakah destinasi yang akan dipasarkan tersebut mempunyai pesaing lain yang potensi produk sejarah dan budayanya sama dengan yang dipasarkan destinasi tersebut kepada konsumen.
7. Menentukan jenis pengunjung yang datang ke suatu destinasi yang dapat memberikan nilai wawasan yang nantinya akan masuk ke dalam daur hidup produk. Apakah pengunjung yang datang menyukai jenis rekreasi petualangan atau jenis lainnya.
8. Keterlibatan pemerintah terhadap rekreasi yang berkembang pada suatu destinasi. Keterlibatan tersebut bisa dalam bentuk tindakan langsung dari pemerintah pada perkembangan rekreasi atau pemerintah yang ada di destinasi tersebut hanya sebagai fasilitator dan pemberi kebijakan saja. Keterlibatan lain yang dapat dilakukan pemerintah di dalam pengembangan rekreasi di suatu destinasi dapat dilakukan dengan melakukan promosi yang akan meningkatkan jumlah kunjungan ke suatu destinasi.
METODOLOGI
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin, tepatnya di Desa Mangkalapi, Kecamatan Kusan Hulu, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian dilakukan selama empat bulan, dimulai pada Mei sampai dengan Agustus 2010 dan penyusunan skripsi hingga Maret 2011.
Gambar 1. Peta lokasi penelitian
Batasan Penelitian
Penelitian ini dibatasi hingga tahap perencanaan tapak dan diwujudkan berupa gambar site plan dan beberapa gambar penunjang lain.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan adalah metode survei dengan mengikuti proses perencanaan yang dikemukakan oleh Gold (1980). Perencanaan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kekhasan tambang. Tahapan perencanaan meliputi kegiatan persiapan, pengumpulan data, analisis dan sintesis, konsep dan perencanan lanskap.
Gambar 2. Tahapan perencanaan lanskap (Gold, 1980)
Tahapan Perencanaan Lanskap
Proses perencanaan lanskap area rekreasi pada lahan pasca tambang batubara di Pit 1 Mangkalapi PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin, Kalimantan Selatan adalah sebagai berikut :
1. Persiapan
Pada tahap ini dilakukan perumusan masalah dan tujuan penelitian sebagai tahap awal untuk melakukan perencanaan lanskap pasca tambang Pit 1 Mangkalapi sebagai kawasan rekreasi. Kemudian dilakukan pengumpulan informasi awal mengenai lokasi dan topik penelitian. Pada tahap ini dihasilkan proposal penelitian.
2. Pengumpulan Data
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data keadaan awal dan penghayatan tapak. Pengambilan data meliputi data primer yang diperoleh
dengan pengamatan langsung di lapang, baik berupa survei maupun wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari studi pustaka. Data yang digunakan terdiri dari data fisik (lokasi dan aksesibilitas tapak, tata guna lahan, topografi, iklim, kualitas visual lanskap) dan biofisik (tanah, hidrologi, vegetasi) serta data sosial (demografi dan perilaku serta keinginan penduduk). Pengumpulan data ini dilakukan untuk menentukan potensi dan kendala pada tapak lokasi penelitian.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara survei lapang dan studi pustaka (Tabel 1). Survei lapang dilakukan untuk dapat lebih memahami kondisi tapak yang sebenarnya dilakukan dengan cara observasi langsung ke tapak dengan mengambil data-data yang diperlukan dalam penelitian. Peralatan yang digunakan dalam pengumpulan data seperti alat tulis, GPS, meteran, papan jalan, Horiba (alat untuk mengukur pH dan tingkat kekeruhan). Studi pustaka diperlukan untuk mendapatkan data standar perencanaan lanskap yang diperlukan, seperti fasilitas yang direncanakan. Studi pustaka ini diperoleh dari buku acuan, laporan-laporan pendahuluan, dan bacaan lain yang berhubungan dan mendukung pelaksanaan studi. Hasil dari tahap ini berupa peta eksisting.
Tabel 1. Jenis, sumber dan cara pengambilan data
No. Jenis Data Sumber Data Cara Pengambilan Data
1. Aspek Fisik dan Biofisik
a. Lokasi dan Aksesibilitas Tapak
PT Arutmin dan Survei Lapang
Studi Pustaka dan Survei
b. Tata Guna Lahan PT Arutmin dan Survei
Lapang
Studi Pustaka dan Survei
c. Tanah PT Arutmin dan Survei
Lapang
Studi Pustaka dan Survei
d. Topografi PT Arutmin dan Survei
Lapang
Studi Pustaka dan Survei
e. Hidrologi PT Arutmin dan Survei
Lapang
Studi Pustaka dan Survei
f. Iklim BMKG, PT Arutmin Studi Pustaka dan Survei
g. Kualitas Visual Lanskap Seurvei Lapang Survei
h. Vegetasi & Satwa PT Arutmin dan Survei
Lapang
Studi Pustaka dan Survei
2. Aspek Sosial
a. Demografi
b. Perilaku dan Keinginan Penduduk PT Arutmin Survei Lapang Studi Pustaka Wawancara dan Kuisioner
3. Analisis
Tahap analisis dilakukan setelah data dan informasi yang dibutuhkan terkumpul. Kegiatan analisis dilakukan untuk menentukan potensi dan kendala serta pemecahan masalah pada tapak. Kegiatan analisis juga dikaitkan dengan mempelajari berbagai kebijakan dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan sumber daya dan penggunaannya yang dapat dijadikan pertimbangan dalam perencanaan lanskap.
Data dan informasi yang diperoleh dianalisis baik secara kualitatif maupun kuantitatif untuk menentukan pengembangan program yang akan digunakan sebagai acuan dalam konsep pengembangan tapak. Hasil dari tahap analisis data ini berupa peta tematik, peta analisis tata guna lahan, peta analisis topografi dan kemiringan lahan dan peta analisis hidrologi.
4. Sintesis
Tahap sintesis merupakan tahap pemecahan masalah dan pengembangan potensi dari suatu tapak yang akan dikembangkan sesuai dengan tujuan perencanaan. Pada tahap ini peta tematik dioverlay untuk mendapatkan program ruang yang sesuai dengan tapak.
Pada tahap sintesis ditetapkan konsep perencanaan tapak yang merupakan kebijakan yang akan dihadirkan pada tapak. Konsep dituangkan dalam konsep dasar, dilanjutkan dengan konsep ruang, sirkulasi, vegetasi, aktivitas dan fasilitas. Hasil dari tahap ini berupa peta-peta konsep.
5. Perencanaan Lanskap
Pada tahap ini, konsep yang telah ditetapkan dikembangkan dalam bentuk perencanaan lanskap yang menggambarkan fasilitas yang dapat dikembangkan untuk mendukung aktivitas, tata letaknya dan elemen lanskap yang mendukung keberadaan obyek (danau, high wall dan area tanaman reklamasi) sesuai dengan tujuan yang diinginkan, yaitu mewujudkan kawasan pasca tambang sebagai area rekreasi. Hasil dari tahap ini berupa siteplan.