II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1. Tinjauan Pustaka

Pertanian merupakan sektor terbesar dari hamper setiap sektor perekonomian negara berkembang. Sektor ini menyediakan pangan bagi hamper seluruh angkatan kerja yang ada, menghasilkan bahan mentah, bahan baku atau penolong bagi industri dan menjadi sumber terbesar penerimaan devisa negara. (Silitonga, dkk, 1994;53)

Tanah (land) sebagai salah satu faktor merupakan pabrik hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dari mana hasil produksi keluar. Faktor produksi tanah mempunyai kedudukan paling penting. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya. (Mubyarto 1989:hlm.76)

Peningkatan jumlah penduduk akan menyebabkan terjadinya pengangguran sumber daya alam, peningkatan standar hidup akan meningkatkan lebih tinggi lagi kebutuhan sumber daya alam baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui. Semakin banyak penghasilan, manusia akan semakin banyak membeli, menggunakan dan membuang sumber daya alam. (Soegianto, 2005).

Jumlah penduduk yang terus meningkat serta belum tertibnya pelaksanaan tata guna lahan menyebabkan tekanan terhadap pemanfaat lahan makin besar. Kompetisi diantara berbagai kepentingan terhadap lahan makin ketat. Atas nama pembangunan seringkali (lahan) pertanian yang menjadi korban atau dikorbankan. (Anonimous, 2006)

(2)

Berdasarkan ketersedian lahan, Indonesia tergolong Negara agraris yang miskin, karena hanya memiliki rasio lahan penduduk sebesar 354 m2/kapita,

bandingkan dengan Thailand yang mencapai 5.230 m2/kapita. Sementara itu rata-rata pengusaha lahan sawah hanya 0,3 hektare/keluarga petani. Karena sempitnya lahan menyebabkan usaha pertanian menjadi tidak efisien. Dengan asumsi hasil panen 5 ton GKP dan biaya produksi Rp 27 juta/hectare, maka tiap keluarga akan memperoleh pendapatan tidak lebih dari Rp 297.500,00/bulan. Pendapatan tersebut pada akhirnya akan semakin kecil karena lahan sawah yang sudah sempit akan dibagikan kepada anggota keluarga melalui sistem waris sehingga melahirkan generasi yang super miskin. (Syahbudin, 2005)

Kebanyakan negar di Asia yang pertaniannya masih menjadi sektor dominan, terjadinya alih fungsi lahan pada dekade terakhir menjadi salah satu isu penting dalam kaitannya dengan pembangunan pertanian dan pedesaan. Menurut Asian Productivity Organization (APO) dalam Kustiawan (1997) permasalahan ini terkait erat dengan tidak sesuainya perencanaan, implementasi yang kurang, dan kegagalan dalam manajemen penggunaan lahan. (Ashari, 2003) Manfaat pertanian terhadap berbagai aspek kehidupan dapat dirasakan secara optimal bila didukung oleh ketersediaan sumber daya yang memadai. Selain sumber daya manusia, faktor utama dalam bidang pertanian adalah sumber daya lahan. Lahan merupakan modal dasar dalam usaha dan kegiatan pertanian sekaligus sebagai indikator tingkat kesejahteraan. Semakin luas lahan semakin besar manfaat yang dapat diraih, semakin sejahtera pula masyarakat. Sebaliknya, makin sempit lahan, bukan saja fungsinya makin terbatas namun juga berpotensi mendatangkan bencana. Peningkatan pengangguran, turunnya perolehan devisa,

(3)

krisis pangan, serta rendahnya kualitas gizi dan kesehatan masyarakat akan marak terjadi. Kasus gizi buruk dan busung lapar yang banyak ditemukan di beberapa daera ditengarai sebagai dampak tidak langsung dari makin terbatasnya lahan pertanian. (Anonimous, 2006)

2.2 Landasan Teori

Setiap orang mempengaruhi lingkungan hidupnya. Makin besar jumlah orang semakin besar pula potensi dampaknya. Penelitian didalam dan di luar negeri menunjukkan bahwa hal ini terjadi juga pada masyarakat tradisional. Dengan pertumbuhan penduduknya mereka melakukan eksploitasi lebih pada sumber daya alamnya sehingga terjadi kerusakan. (Soemarwoto, 2001)

Kepemilikannya lahan rata-rata perkapita semakin menurun, jika penurunan ini diikuti juga dengan penurunan produktifitas lahan (akibat degredasi) maka umat manusia akan menemui kesulitan besar dalam memenuhi kebutuhan akan bahan pangan maupun lahan untuk tempat tinggal.(Suripin, 2002)

Lahan yang terbatas dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi mengakibatkan sedikitnya lahan yang tersedia bagi setiap orang petani (land/man ratio yang rendah). Akibat harga lahan tinggi, skala usaha kecil sehingga efesiensi usaha tani rendah. Akibat pertumbuhan penduduk tinggi dan lambatnya pengembangan lapangan kerja di sektor lain mengakibatkan rendahnya pendapatan di sektor pertanian dan timbulnya pengangguran terselubung (disquised unemployment). (Simanjuntak, 2004)

Alih fungsi lahan sawah dapat menimbulkan dampak berupa kerugian, terutama hilangnya lahan produktif penghasil beras, di samping tidak dipungkiri membawa manfaat-manfaat secara ekonomi. Dengan demikian, sesungguhnya

(4)

tidak mudah untuk membuat perhitungan tentang manfaat dan kerugian akibat konversi lahan sawah ini, apalagi cukup banyak juga manfaat dan kerugian yang sifatnya intangible. (Ashari, 2006)

Proses alih fungsi lahan secara langsung maupun tidak langsung ditentukan oleh dua faktor besar, yaitu (1) sistem kelembagaan yang dikembangkan masyarakat dan (2) sistem non-kelembagaan yang berkembang secara alamiah dalam masyarakat, baik akibat proses pembangunan atau sebagai proses internal yang ada dalam masyarakat dalam kaitannya dengan memanfaatkan sumber daya lahan. (Kristianto, 2003)

Sumaryanto et al. (1994) menyatakan dampak negatif (kerugian) akibat konversi lahan terutama adalah pada sisi hilangnya peluang memproduksi hasil pertanian di lahan sawah yang terkonversi, yang besarnya berbanding lurus dengan luas lahannya. Jenis kerugian tersebut mencakup produksi pertanian dan nilainya, pendapatan usaha tani, dan kesempatan kerja pada usaha tani. Selain itu juga hilangnya peluang pendapatan dan kesempatan kerja pada kegiatan ekonomi yang tercipta secara langsung maupun tidak langsung dari kaitan ke depan (forward linkage) maupun ke belakang (backward linkage) dari kegiatan usaha tani tersebut, misalnya usaha traktor dan penggilingan padi. (Ashari, 2006)

(5)

2.3 Kerangka Pemikiran

Petani adalah orang yang mengusahakan lahan pertanian. Dimana lahan pertanian yang diusahakan tidak tergantung dari jenis komoditi pertanian yang diusahakan, maksudnya adalah pertanian secara keseluruhan.

Petani mamiliki lahan pertaniannya sendiri. Lahan pertanian semakin menyusut akibat adanya pengaruh dari meningkatnya populasi penduduk. Dimana populasi penduduk yang terus bertambah akan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan manusia untuk lahan yang akan digunakan untuk membuat pemukiman-pemukiman baru. Dalam pembangunan pemukiman-pemukiman tersebut maka lahan-lahan pertanian menjadi diahlifungsikan menjadi lahan untuk membuat pemukiman tersebut.

Perkebunan juga merupakan bagian sub sekrtor pertanian yang masih cukup memegang peranan penting dalam pertanian Kabupaten Langkat. Dengan perkembangan populasi penduduk maka secara langsung juga dapat mengakibatkan terjadinya pengurangan lahan perkebunan itu sendiri. Atau juga dapat menambah jumlah luas lahannya karena alih fungsi lahan pertanian masyarakat ke bidang perkebunan karena anggapan masyarakat sekarang ini yang berfikir bahwa perkebunan terutama sawit lebih menguntungkan dari pada mengusahakan lahannya untuk pertanian pangan, palawija dan hortikultura.

Dengan semakin pesatnya perkembangan industri dan populasi penduduk maka akan membuat terjadinya konversi lahan-lahan pertanian. Dengan meningkatnya konversi lahan pertanian tersebut maka mempengaruhi tingkat perbandingan antara luas lahan dengan manusia (land man ratio). Semakin rendah tingkat land man ratio maka semakin besar pula konversi lahan yang terjadi

(6)

sehingga banyak lahan pertanian yang akan dialihfungsikan. Hal ini akan membuat petani kehilangan lahannya, sehingga petani dapat menjadi buruh di lahannya

Dengan semakin rendahnya land man ratio maka lahan akan semakin berkurang terutama lahan pertanian itu sendiri sehingga akan membuat petani kehilangan penghasilan utamanya. Dengan demikian maka pendapatan petani akan terus berkurang karena jumlah lahan yang diusahakan berkurang juga.

Disamping itu dengan berkurangnya lahan pertanian maka secara otomatis akan mempengaruhi jumlah Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). Hal ini karena lahan pertanian yang semakin menyusut sehingga pendapatan asli daerah yang berasal dari produk-produk pertanian akan terpengaruh.

Berdasarkan konsep pemikiran di atas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar skema kerangka pemikiran berikut:

(7)

Gambar 1. Gambar Skema Kerangka Pemikiran Populasi Penduduk Lahan Pertanian Tingkat Land man ratio Tingkat Pendapatan perkapita Perkembangan Land Man Ratio PDRB bidang Pertanian Lahan Perkebunan

(8)

2.4 Hipotesis Penelitian

1. Perkembangan land man ratio di Kabupaten Langkat mengalami penurunan dari tahun 1996-2005

2. Ada pengaruh populasi penduduk terhadap luas lahan pertanian di daerah penelitian.

3. Ada pengaruh populasi penduduk terhadap lahan perkebunan di Kabupaten Langkat.

4. Ada pengaruh land man ratio terhadap tingkat pendapatan perkapita penduduk.

5. Ada pengaruh Land man ratio terhadap PDRB bidang pertanian Kabupaten Langkat.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :