• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2, 3.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2, 3."

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION) DAN YANG KONVENSIONAL TERHADAP HASIL BELAJAR

MATEMATIKA KELAS IV DI SD WONGAYA GEDE TAHUN PELAJARAN 2012/2013

I Nengah Indra Pramana1, I W. Suwatra, Gede Sedanayasa3

1,2,3

Jurusan PGSD, FIP Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail : [email protected], [email protected], [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mencari perbedaan hasil belajar matematika antara kelas yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization dan kelas yang belajar dengan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment) dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah Post Test Only Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas IV SD di Wongaya Gede tahun pelajaran 2012-2013. Sampel diambil dengan cara random sampling dengan sampel penelitian yaitu 21 siswa di SD 1 Wongaya Gede sebagai kelas eksperimen dan 20 orang sisa di SD 4 Wongaya Gede sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor hasil belajar matematika pada kelas yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization adalah 22,000 yang berkategori sangat tinggi, sedangkan pada kelas yang belajar dengan model pembelajaran konvensional adalah 19,600 yang berkategori tinggi.

Kata kunci : model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization, konvensional, dan hasil belajar.

Abstact

This study aimed to explore the differences in learning outcomes between the mathematics classroom learning with cooperative learning model Team-Assisted Individualization and classroom learning with conventional learning models. This study was a quasi-experimental study (quasi experiment) with a research design that is used is Post Test Only Control Group Design. The population in this study is the fourth grade in the 2012-2013 school year Wongaya Gede. Samples were taken by means of random sampling with a sample of 21 students in elementary school is 1 Wongaya Gede as the experimental class and 20 in the rest of the SD 4 Wongaya Gede as the control class. The results showed the average score on the mathematics learning outcomes classroom learning with cooperative learning model Team-Assisted Individualization is 22,000 categorized very high, whereas in classroom learning with conventional learning models are categorized high 19,600.

(2)

Keywords : cooperative learning model Team-Assisted Individualization, conventional, and learning outcomes.

PENDAHULUAN

Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa bukan dibuat oleh siswa (Isjoni dalam Kholifah, 2009). Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Tujuan pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Pembelajaran merupakan hasil sinergi dari tiga komponen pembelajaran yakni siswa, kompetensi guru, dan fasilitas pembelajaran. Pembelajaran matematika merupakan suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya, yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa tentang matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa (Suyitno, 2004: 2).

Lebih lanjut, lampiran Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 (dalam Supinah dan Agus D. W., 2009:1), menyebutkan bahwa “dalam setiap kesempatan pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi/kontekstual”. Dengan mengajukan masalah kontekstual, siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Sementara itu, dalam Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007 disebutkan bahwa proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dan menengah harus interaktif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi

prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit siswa yang memandang pelajaran matematika sebagai mata pelajaran yang membosankan, menakutkan, dan menyeramkan sehingga di sebagian sekolah hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika cenderung rendah, sebagaimana yang terjadi pada siswa kelas IV di SD No. 1 dan 4 Wongaya Gede. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di sekolah dan wawancara dengan guru mata pelajaran matematika kelas IV di SD No.1 Wongaya Gede pada hari Selasa, 20 Desember 2011, nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah 50, namun ada beberapa siswa yang pencapaian nilainya 45 yang masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Begitu halnya dengan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan guru mata pelajaran matematika kelas IV di SD No. 4 Wongaya Gede yang dilakukan pada hari yang sama yaitu 20 Desember 2011 menyatakan hal yang sama, kriteria ketuntasan minimal juga 50 namun sebagian siswa masih ada yang mendapat nilai 40. Sebagian besar siswa baik di SD No. 1 Wongaya Gede maupun di SD No. 4 Wongaya Gede mengalami kesulitan pada materi pecahan, khususnya dalam operasi hitung pecahan.

Nilai sebagian siswa yang masih rendah dikarenakan siswa tidak memperhatikan guru pada saat mengajar dan ada juga siswa yang terlihat mendengarkan penjelasan dari guru namun siswa tersebut tidak dapat menangkap penjelasan guru dengan

(3)

baik karena mereka masih bingung dalam dalam operasi hitung pecahan. Di samping itu juga siswa yang merasa sudah bisa mengerjakan tugas yang diberikan guru merasa bosan karena siswa sudah mahir mengerjakannya dan menginginkan tugas yang lebih menantang sedangkan siswa yang belum bisa masih dibimbingan oleh guru pengajar.

Diperoleh juga informasi bahwa di kedua sekolah tersebut sudah memberlakukan Kurikulum Tingat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menekankan pada pengembangan kompetensi baik pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Namun guru masih saja menggunakan metode ceramah sebagai andalan dalam pembelajaran, sumber yang digunakan terbatas pada satu buku pegangan saja. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa interaksi kelas masih relatif kurang optimal. Distribusi kemampuan siswa kurang merata, yaitu cenderung memusat pada kelompok-kelompok tertentu, sehingga perlu kiranya untuk ditingkatkan lagi agar dapat mencapai hasil belajar maksimal.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas perlu dicari suatu model pembelajaran yang dapat mendukung proses pembelajaran matematika yang menyenangan, menarik, bervariasi, serta melibatkan peran aktif siswa dan bukan menyeramkan. Salah satu model yang dapat mengatasi masalah tersebut di atas adalah dengan model pembelajaran kooperatif. Menurut Erman dalam Suryati (2008) menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif (cooperative learning)

adalah pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa secara heterogen (dalam hal kemampuan, prestasi, gender, minat dan sikap) agar dalam kerja kelompok menjadi dinamis.

Dasar pembelajaran kooperatif adalah fitrah manusia sebagai makhluk sosial dengan prinsip belajar adalah bahwa hasil pemikiran dan hasil kerja banyak orang relatif lebih baik dari pada hasil sendiri. Metode diskusi yang pada akhirnya berkembang dengan istilah pembelajaran bersama atau pembelajaran kooperatif. Banyak tipe-tipe dari pembelajaran kooperatif ini, salah satunya adalah tipe Team Assisted Individualization (TAI).

Tipe TAI mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Siswa tetap dikelompokkan, tetapi setiap siswa belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing. Setiap anggota kelompok saling membantu dan mengecek (Rahmawati dalam Arwadi, 2010). Astawan (2010) mengungkapkan bahwa Team-Assisted Individualization (TAI) adalah salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok belajar, yang siswanya memiliki keterampilan heterogen atau berbeda tingkat kecepatan menerima pelajaran dan memecahkan permasalahan yang diberikan. Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization (TAI) ini adalah model pembelajaran yang sejenis dengan model pembelajaran kooperatif “ Student Team

Achievement Divisions” (STAD),

bedanya STAD menggunakan satu langkah pengajaran di kelas sedangkan TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan individual. Dalam pembelajaran ini dirancang sebuah bentuk pembelajaran kelompok dengan cara menyuruh para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok pembelajaran kooperatif dan bertanggung jawab dalam memecahkan masalah serta saling memotivasi untuk berprestasi.

(4)

Model pembelajaran kooperatif tipe TAI merupakan model pembelajaran yang membentuk kelompok kecil yang heterogen dengan latar belakang cara berfikir yang berbeda untuk saling membantu terhadap siswa lain yang

membutuhkan bantuan

(Suyitno,2002:9). Dalam model ini, diterapkan bimbingan antar teman yaitu siswa yang pandai bertanggung jawab terhadap siswa yang lemah. Disamping itu dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kelompok kecil. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedangkan siswa yang lemah dapat terbantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu karena tidak semua variabel dikontrol secara ketat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Post Test Only Control Group Design. Rancangan ini dipilih karena eksperimen tidak memungkinkan mengubah kelas yang ada.

Banyaknya populasi dalam penelitian ini adalah 55 siswa yang tersebar di 3 sekolah yaitu 21 siswa di SD 1 Wongaya Gede, 16 siswa di SD 3 Wongaya Gede dan SD 4 Wongaya Gede sebanyak 20 siswa. Pemilihan sampel yang digunakan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan dengan cara group random sampling. Teknik ini digunakan sebagai teknik pengambilan sampel karena individu-individu pada populasi telah terdistribusi ke dalam kelas-kelas sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengacakan terhadap individu-individu dalam populasi. Teknik undian digunakan dalam pemilihan kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan data siswa yang diperoleh dari nilai ulangan harian sebelum diberikan perlakuan dan tes akhir (post-test) yang telah dilakukan setelah diberikan perlakuan.

Teknik analisis data deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan persentase, skor rata-rata atau mean

(M), standar deviasi (D), dan skor gain ternormalisasi. Persentase yang dideskripsikan adalah persentase aktivitas dan prestasi belajar sebelum dan sesudah perlakuan. Skor rata-rata (M) dan standar deviasi (SD) yang dideskripsikan adalah skor rata-rata dan standar deviasi aktivitas dan prestasi belajar sebelum dan sesudah diberikan perlakuan.

Sebelum dilaksanakan pengujian untuk memperoleh simpulan, data yang diperoleh harus diuji normalitasnya. Untuk menguji normalitas digunakan uji

Chi-Square (

2) pada taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasandb(k3). Uji normalitas sebaran data juga

mengunakan statistik

Kolmogrov-Smirnov Test dan Shapiro-Wilk Test

(Candiasa, 2004). Uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilkadalah salah satu uji normalitas untuk dua sampel yang independent.Uji

Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk dapat

digunakan untuk sampel besar maupun sampel kecil dan berupa data interval.

Kesamaan asal sampel ini dibuktikan dengan adanya kesamaan variansi kelompok-kelompok yang membentuk sampel tersebut. Jika tidak ada perbedaan variansi antara kelompok-kelompok sampel ini berarti bahwa kelompok tersebut bersifat homogen. Selain diperlukan uji normalitas, juga diperlukan uji homogenitas varians untuk kedua kelompok dengan menggunakan uji F. Sedangkan teknik yang digunakan

(5)

untuk menganalisis data guna menguji hipotesis penelitian adalah uji-t.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi data hasil penelitian memaparkan rata-rata, median, modus,

standar deviasi, varian, minimun, maximum, dan jangkauan dari data hasil belajar matematika siswa baik untuk kelas yang dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe

Team-Assisted Individualization dan Model Pembelajaran Konvensional. Tabel 1 Deskripsi Data Hasil Belajar Siswa

Hasil Analisis Kelas Team-Assisted Individualization Kelas Knvensional Mean 22.000 19.600 Median 22 20 Moduus 24 20 Standar Deviasi 2.302 2.604 Varian 5.300 6.779 Minmum 17 15 Maximum 25 24 Jangkauan 8 9

Dari tabel 1 diatas dapat dilihat vahwa skor hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran

Team-Assisted individualization

berkisar antara 17 sampai 25 dan yang belajar dengan model pembelajaran Konvensional berkisar antara 15

sampai 24. Rata-rata hasil belajar siswa pada kelas yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization lebih besar dari rata-rata hasil belajar siswa pada kelas yang belajar dengan model pembelajaran Konvensional.

Tabel 2 Penggolongan Hasil Belajar Kelas Eksperimen Skor Kualifikasi

Team Assisted Individualization Fo Persentase 21 – 28 Sangat Tinggi 13 61,90% 16 – 21 Tinggi 8 38,10% 11 – 16 Cukup 0 0% 7 – 11 Rendah 0 0% 0 – 7 Sangat rendah 0 0% Jumlah 21 100%

Dari tabel 2 di atas tampak bahwa hasil belajar pada kelas yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization yang berkualifikasi sangat tinggi sbesar 61,90%, yang berkualifikasi tinggi sebesar 38,10%, dan tidak ada siswa yang berkualifikasi cukup, rendah dan sangat rendah.

Grafik 1 Histogram Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen

0 1 2 3 4 5 17 18 19 20 21 22 23 24 25

(6)

Dari grafik 1 di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 1 orang responden memiliki nilai 17, sebanyak 1 orang responden memiliki nilai 18, sebanyak 1 orang responden memiliki nilai 19, sebanyak 2 orang responden memiliki

20, sebanyak 3 orang responden memiliki nilai 21, sebanyak 4 orang responden memiliki nilai 22, sebanyak 2 orang responden memiliki nilai 23, sebanyak 4 orang responden memiliki nilai 24 dansebanyak 3 orang responden memiliki nilai 25.

Tabel 3 Penggolongan Hasil Belajar Kelas Kontrol Skor Kualifikasi

Team Assisted Individualization Fo Persentase 21 – 28 Sangat Tinggi 6 30% 16 – 21 Tinggi 11 55% 11 – 16 Cukup 3 15% 7 – 11 Rendah 0 0% 0 – 7 Sangat rendah 0 0% Jumlah 20 100%

Dari tabel 3 di atas tampak bahwa hasil belajar pada kelas yang belajar dengan model pembelajaran konvensional berkualifikasi sangat tinggi sebesar 30%, yang berkualifikasi tinggi sebesar 55%, yang berkualifikasi cukup sebesar 15%, dan tidak ada siswa yang berkualifikasi rendah dan sangat rendah.

Grafik 2 Histogram Data Hasil Belajar Kelas Kontrol

Dari grafik 2 dapat dilihat bahwa sebanyak 1 orang responden memiliki nilai 15, sebanyak 2 orang responden memiliki nilai 16, sebanyak 2 orang responden memiliki nilai 17, sebanyak 2 orang responden memiliki 18, sebanyak 2 orang responden memiliki nilai 19, sebanyak 4 orang responden memiliki nilai 20, sebanyak 1 orang responden memiliki nilai 21, sebanyak 3 orang responden memiliki nilai 22, sebanyak 2 orang responden memiliki nilai 23 dan sebanyak 1 orang responden memiliki nilai 24.

Tabel 4 Ringkasan Hasil Uji Normalitas dengan SPSS Unit Analisis Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistc Df Sig. Statistic Df Sig. Kelas Team-Assisted Individualization 0,141 21 0,200 0,941 21 0,232 Kelas Konvensional 0,122 20 0,200 0,963 20 0,613 Dari tabel 4 di atas diketahui

bahwa nilai signifikansi berada di atas 0,05 untuk semua unit analisis yang

menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk. Data tabel 4 diatas menguatkan hasil analisis

0 2 4 6

(7)

sebelumnya yang menunjukkan bahwa sebaran data pada kelas

Team-Assisted Individualization dan kelas Konvensional berdistribusi normal. Tabel 5 Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Varian dengan Uji F Sampel Mean SD Varians Fhitung Ftabel Kesimpulan Kelas Team-Assisted Individualization 22,00 2,302 5,300 1,279 2,16 Fhitung < Ftabel Kelas Konvensional 1960 2,604 6,779 Berdasarkan tabel 5, hasil uji homogenitas varians menunjukkan hasil bahwa Fhitung < Ftabel. Ini berati

bahwa varians antar kelas model pembelajaran adalah homogen. Untuk lebih meyakinkan akan hasil yang

didapat mengenai homogenitas varians maka data-data tersebut juga dianalisis dengan menggunakan bantuan proram pengolahan angka SPSS 16 for windows.

Tabel 6 Ringkasan Data Hasil Uji Hipotesis

Kelas Varians n db thitung ttabel kesimpulan Kelas Team-Assisted Individualization 5,300 21 39 3,121 2,02 signifikan Kelas Konvensional 6,779 20 Berdasarkan tabel 6, tampak bahwa thitung lebih besar dari pada ttabel

yaitu 3,121 > 2,02 pada derajat kebebasan 39. Sehingga dengan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H0

yang berbunyi ”tidak terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Konvensional”, ditolak dan H1 yang menyatakan ”terdapat

perbedaan hasil belajar matematika yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Konvensional”, diterima.

Hasil-hasil penelitian dan pengujian hipotesis menyangkut pembahasan tentang hasil belajar

matematika siswa, khususnya pada materi pecahan pada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization maupun pada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Konvensional.

Kedua model pembelajaran tersebut menunjukkan pengaruh yag berbeda pada hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari post-test hasil belajar matematika siswa. Secara deskriptif kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization mempunyai nilai hasil belajar matematika yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Konvensional. Tinjauan ini didasarkan pada tingkat rata-rata skor hasil belajar matematika yang disajikan pada tabel 4.1. Pada tabel 4.1 tersebut

(8)

menunjukkan bahwa rata-rata skor hasil belajar matematika kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe

Team-Assisted Individualization adalah

22,000 yang berada pada kualifikasi sangat tinggi sedangkan skor kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Konvensional adalah 19,600 yang berada pada kualifikasi tinggi.

Berdasarkan uji hipotesis yang ditunjukkan pada tabel 4.11 terlihat bahwa nilai thitung lebih besar dari pada

ttabelyaitu 3,121 > 2,02. Secara statistik

hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization dan model pembelajaran Konvensional pada materi pecahan terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar siswa pada taraf signifikansi 5%.

Model pembelajaran kooperatif tipe TAI merupakan model pembelajaran yang membentuk kelompok kecil yang heterogen dengan latar belakang cara berfikir yang berbeda untuk saling membantu terhadap siswa lain yang

membutuhkan bantuan

(Suyitno,2002:9). Dalam model ini, diterapkan bimbingan antar teman yaitu siswa yang pandai bertanggung jawab terhadap siswa yang lemah. Disamping itu dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kelompok kecil. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization (TAI) menjadi penting untuk diterapkan di sekolah (SD) agar siswa dapat meningkatkan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran matematika.

Perbedaan hasil belajar belajar yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization (TAI) dengan

siswa yang dibelajarkan model pembelajaran Konvensional disebabkan oleh langkah-langkah pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted

Individualization menekankan pada

empat hal utama yaitu 1) tahap pelaksanaan tes, 2) tahap penyajian materi, 3) tahap belajar kelompok, 4) penilaian tim, sedangkan model pembelajaran konvensional masih bersifat satu arah yaitu masih terpusat pada guru. Pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization lebih menekankan pada aktivitas belajar dalam kelompok/grup melalui diskusi dengan rekan kelompok sehingga siswa juga dapat mengembangkan sikap social mereka dengan saling bekerja dan berdiskusi dengan baik. Dalam model pembelajaran kooperatif

Team-Assisted Individualization siswa

dipandang sebagai subjek pembelajaran sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan mediator.

Model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization

perlu diterapkan untuk membantu siswa yang memiliki kemampuan yang rendah melalui diskusi-diskusi dengan rekan kelompok/grup. Yang terpenting dalam pembelajaran ini adalah siswa yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dapat menjadi tutor bagi siswa yang memiliki kemampuan yang lebih rendah.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization (TAI) lebih unggul dibandingkan dengan model pembelajaran Konvensional dalam pencapaian hasil belajar siswa.

(9)

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut.

Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvesional pada mata pelajaran matematika materi pecahan, siswa kelas IV semester genap di SD Wongaya Gede Tahun Pelajaran 2012/2013. Hal ini terlihat dari hasil analisis uji-t yaitu harga thitung = 3,121

dengan taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan 39 diperoleh ttabel =

2,02 yang berarti thitung > ttabel dan

didukung oleh perbedaan skor rata-rata hasil belajar yang diperoleh antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization yaitu 22,000 yang berada pada kualifikasi sangat tinggi dan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Konvensional adalah 19,600 yang berada pada kualifikasi tinggi, oleh karena itu hipotesis alternatif diterima.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar matematika yang dicapai oleh siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted Individualization

lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

DAFTAR RUJUKAN

Kholifah, Siti. 2009. “Penerapan Tipe Pembelajaran Kooperatif Think-Pair-Share (TPS) Sebagai Upaya Peningkatan

Penguasaan Ejaan pada SIswa Kelas VIII C SMP Negeri 1 Jekulo, Kudus Tahun Ajaran 2008/2009. Fakultas Keguruan

dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhamadiyah Surakarta”.

Tersedia pada

http://etd.eprints.ums.ac.id/4598/ 1/a310050207.pdt(diakses tanggal 11 Februari 2012). Suyitno, Amin. 2002. Dasar-dasar dan

Proses Pembelajaran

Matematika 1. Semarang:

FMIPA UNNES.

Supinah dan Agus D. W. 2009. Strategi Pembelajaran Matematika

Sekolah Dasar. Yogyakarta: Depdiknas, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, PPPPTK Matematika.

Suryati, Atit. 2008. “Penerapan

Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Kemampuan Kreativitas Siswa”. Tersedia pada http://pkab.wordpress.com/2008/ 04/29/penerapan-pendekatan- kontekstual-untuk- meningkatkan-kemampuan-kreativitas-siswa. (diakses tanggal 12 April 2012). Arwadi, Fajar. 2010. “Pembelajaran

Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI)”. Tersedia pada http:blog.unsri.ac.id/fajar/miscell aneous/pembelajaran- kooperatif-tipe-team-assisted- individualization-tai/mrdetail/12770/ (diakses tanggal 28 maret 2012) Astawan, I G.2010. Model-model

Pembelajaran Inovatif. Buku Ajar.JurusanPendidikan Guru SekolahDasar, FIP UNDIKSHA.

(10)

Candiasa, I. M. 2004.

Statistikmultivariatdisertaiaplikas i SPSS. IKIP NegriSingaraja

Gambar

Tabel 2 Penggolongan Hasil Belajar Kelas Eksperimen  Skor  Kualifikasi
Tabel 3 Penggolongan Hasil Belajar Kelas Kontrol  Skor  Kualifikasi
Tabel 5 Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Varian dengan Uji F  Sampel  Mean  SD  Varians  Fhitung  Ftabel  Kesimpulan  Kelas  Team-Assisted  Individualization  22,00  2,302  5,300   1,279  2,16  F hitung  &lt;  F tabel Kelas  Konvensional  1960  2,604  6,779

Referensi

Dokumen terkait

SEGMEN BERITA REPORTER A Walikota Award Penghargaan Pemkot Bagi Media. Apa Kabar Jogja RBTV Menerima 2

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan kerapu yang tertangkap di Teluk Lasongko terdiri dari empat spesies yaitu ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis), kerapu macan

Halim (2012:232) menyatakan bahwaProduk Bersama (Joint Products) yaitu beberapa produk yang dihasilkan dari suatu rangkaian atau seri proses produksi secara

maka Pokja Pengadaan Barang, Jasa Konsultansi dan Jasa Lainnya Pada Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Aceh Barat Daya Tahun Anggaran 2014 mengumumkan Paket tersebut di

Analisis Audit Sistem Informasi menggunakan Framework COBIT 5 Pada Domain DSS (Studi Kasus: PT INTI)?. EKD GAW DJN

86 Siti Arbainah 4052760662210113 Sejarah Kebudayaan Islam MIS DURIAN LUNJUK Hulu Sungai Tengah ASRAMA HAJI BANJARBARU. 87 Ichsan Sugiharto 8460758659200012 Sejarah Kebudayaan Islam

Melalui pengembangan metode pembelajaran berbasis proyek ini terlihat seberapa besar minat mahasiswa terhadap pengembangan kewirausahaan yang ditunjukkan dalam

In order to obtains a distribution to interpret all kind of roughness regions, the paper combining the G0 distribution and Wishart distribution. For multilook polarmetric SAR data,