• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONSEP RESILIENSI, KONSEP BIMBINGAN KELOMPOK, DAN KONSEP CINEMA THERAPY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KONSEP RESILIENSI, KONSEP BIMBINGAN KELOMPOK, DAN KONSEP CINEMA THERAPY"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KONSEP RESILIENSI, KONSEP BIMBINGAN KELOMPOK, DAN KONSEP CINEMA THERAPY

Bab ini menguraikan pokok bahasan yang berkenaan dengan konsep resiliensi, konsep bimbingan kelompok, dan konsep cinema therapy.

A. Konsep Resiliensi 1. Pengertian Resiliensi

Istilah resiliensi berasal dari kata latin yaitu ‘resilire’ yang artinya melambung kembali. Istilah resiliensi (resiliency) diformulasikan pertama kali oleh Block (Mayasari, 2016: 118) ‘dengan nama ego-resiliency, yang diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal’. Block (Mayasari, 2016: 118) mengatakan ‘a personality resource that allows individual to modify their characteristic level and habitual mode of expression of ego control as the most adaptively encounter, function in and shape their immediate and long term environmental context’. Dari definisi yang dikemukakan di atas, tampak bahwa ego resiliensi merupakan satu sumber kepribadian yang berfungsi membentuk konteks lingkungan jangka pendek maupun jangka panjang, di mana sumber daya tersebut memungkinkan individu untuk memodifikasi tingkat karakter dan cara mengekspresikan pengendalian ego yang biasa mereka lakukan. Resilience menurut Luthar dkk (Hendriani, 2018: 27) merupakan ‘sebuah proses perkembangan dinamis yang melibatkan upaya memelihara koping dan adaptasi positif dalam menghadapi berbagai situasi sulit’. Adapun istilah resilient menurut Block (Hendriani, 2018: 22) yaitu ‘seseorang yang akan berusaha untuk menghadapi dan kemudian bangkit dari berbagai kondisi stres dengan kemampuan yang dimiliki’.

Menurut Masten, Cutuli, Herbers, and Reed (Lopez dkk, 2015: 106) resiliensi adalah ‘a class of phenomena characterized by patterns of positive adaptation in the context of significant adversity or risk’ (sebuah kelas fenomena yang ditandai dengan adanya pola dari adaptasi positif di dalam konteks kesulitan atau resiko yang signifikan). Sedangkan Reivich & Shatte (Hendriani, 2018: 25)

(2)

mendefinisikan ‘resilience is the capacity to respond in healty and productive ways and when adversity or trauma, that it is essential for managing the daily stress of life’ (resiliensi merupakan kemampuan individu untuk merespons dengan cara yang sehat dan produktif ketika berhadapan dengan kesulitan atau trauma yang diperlukan untuk mengelola tekanan dalam kehidupan sehari-hari).

Pengertian tentang resiliensi juga diungkapkan Grotberg (Hendriani, 2018: 25) yang mana ‘resilience is the human capacity to face, overcome, be strengthened by, and even be transformed by experiences of adversity’ (kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi serta kapasitas manusia untuk menghadapi dan memecahkan masalah setelah mengalami kesengsaraan). Resiliensi merupakan mind-set yang mampu meningkatkan seseorang untuk mencari pengalaman baru dan memandang kehidupan sebagai proses yang meningkat. Resiliensi dapat menciptakan dan memelihara sikap positif untuk mengeksplorasi, sehingga seseorang dapat menjadi lebih percaya diri ketika berhubungan dengan orang lain, serta lebih berani mengambil risiko atas tindakannya.

Resiliensi yaitu sebagai kemampuan untuk tetap bertahan dan menyesuaikan kondisi atau situasi pada saat menghadapi problem perlu diketahui, dipertahankan dan ditingkatkan oleh setiap orang. Orang yang resiliensi nya tinggi tahu bagaimana ia harus menghadapi suatu masalah dan dapat menemukan cara penyelesaiannya. Mereka tetap berkembang meskipun lingkungan berubah terus-menerus, karena mereka fleksibel, cerdas, kreatif, cepat beradaptasi serta belajar dari pengalaman. Meskipun sebagai konsep yang abstrak, resiliensi secara genetik bukanlah kapasitas yang merupakan “fixed trait”, oleh karena itu bisa diajarkan dan ditingkatkan. Resiliensi tidak dapat dilihat sebagai atribut tetap dari diri seseorang, ketika situasi berubah, kualitas resiliensi pun terpengaruhi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan, bahwa resiliensi merupakan gambaran individu yang tangguh dan kuat dalam menghadapi serta mengatasi tekanan dengan cara yang sehat dan produktif, seperti mampu beradaptasi, mengendalikan emosi, bersikap tenang walaupun berada di bawah tekanan, membangkitkan pemikiran yang mengarah pada pengendalian

(3)

emosi, bersifat optimis mengenai masa depan yang baik, mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah mereka secara akurat, memiliki empati, memiliki keyakinan diri akan berhasil, dan memiliki kompetensi untuk mencapai sesuatu.

2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Resiliensi

Everall (Ifdil & Taufik, 2012: 118) memaparkan tiga faktor yang mempengaruhi resiliensi, yaitu :

a. Faktor Individu

Faktor individual yang mempengaruhi resiliensi meliputi kemampuan kognitif individu, konsep diri, harga diri, dan kompetensi sosial yang dimiliki individu. Menurut Holaday (Ifdil & Taufik, 2012: 118) ‘keterampilan kognitif berpengaruh penting pada resiliensi individu’. Melalui kemampuan kognitif individu dapat berpikir bahwa sebab terjadinya bencana bukan hanya karena kelalaian namun juga atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, begitu juga akibatnya, individu akan berpikir untuk tidak menyesali apa yang terjadi dan berusaha memaknainya serta berusaha menumbuh kembangkan semangat dan optimalisasi kemampuan berpikir untuk menjadi pulih seperti sedia kala.

Pada diri individu untuk berkembangnya resiliensi sangat terkait erat dengan kemampuan untuk memahami dan menyampaikan sesuatu lewat bahasa yang tepat, melalui kemampuan membaca, dan berkomunikasi secara non verbal.

b. Faktor Keluarga

Faktor keluarga meliputi dukungan orang tua, yaitu bagaimana cara orang tua memperlakukan dan melayani anak. Keterkaitan emosional dan batin antara anggota keluarga sangat diperlukan dalam mendukung pemulihan individu– individu yang mengalami stress dan trauma. Keterikatan para anggota keluarga amat berpengaruh dalam pemberian dukungan terhadap anggota keluarga yang mengalami musibah untuk dapat pulih dan memandang kejadian tersebut secara objektif. Begitu juga dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan resiliensi.

Selain dukungan dari orang tua struktur keluarga juga berperan penting bagi individu. Struktur keluarga yang lengkap terdiri dari ayah, ibu dan anak akan

(4)

mudah menumbuhkan resiliensi dan sebaliknya keluarga yang tidak utuh dapat menghambat tumbuh kembang resiliensi.

c. Faktor Komunitas

Faktor komunitas meliputi kemiskinan dan keterbatasan kesempatan kerja. Delgado (Ifdil & Taufik, 2012: 118) menambahkan dua hal terkait dengan faktor komunitas yaitu :

1) Gender

Gender memberikan kontribusi bagi resiliensi individu. Resiko kerentanan terhadap tekanan emosional, perlindungan terhadap situasi yang mengandung resiko, dan respon terhadap kesulitan yang dihadapi dipengaruhi oleh gender. 2) Keterikatan dengan kebudayaan

Keterikatan dengan budaya meliputi keterlibatan seseorang dalam aktivitas-aktivitas terkait dengan budaya setempat berikut ketaatan terhadap nilai - nilai yang diyakini dalam kebudayaan tersebut

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa resiliensi dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam individu (internal) dan faktor-faktor dari luar individu (eksternal). Faktor internal meliputi, kemampuan kognitif, konsep diri, harga diri, kompetensi sosial yang dimiliki individu, gender, serta keterikatan individu dengan budaya. Faktor eksternal mencakup faktor dari keluarga dan komunitas.

3. Karakteristik Orang Yang Resilien

Menurut Daniel dan Wessel (Munawaroh, 2018: 97) memaparkan karakteristik remaja yang resilien diantaranya :

a. Faktor Individual

1) Memiliki tanggung jawab. 2) Empati terhadap orang. 3) Memiliki kematangan sosial. 4) Memiliki konsep diri yang positif. 5) Berorientasi pada prestasi.

6) Memiliki kepedulian sosial.

(5)

b. Faktor Keluarga

1) Memiliki kelekatan paling tidak dengan satu orang. 2) Memiliki kepercayaan.

3) Memiliki keluarga yang rukun dan harmoni. 4) Mampu mengekspresikan perasaan.

c. Faktor Komunitas

1) Memiliki dukungan lingkungan sekitar rumah. 2) Memiliki teman sebaya.

3) Memiliki pengalaman yang baik disekolah. 4) Memiliki role model orang dewasa yang positif.

4. Fase-fase Resiliensi

Patterson dan Kelleher (Harahap, 2015: 35) menyebutkan “adanya empat fase resiliensi mungkin terjadi pada individu saat kesulitan datang dalam kehidupannya” yaitu:

a. Deteriorating, adalah fase saat kesulitan muncul, umumnya individu akan mengalami suatu kondisi terburuk (deterior) yang juga merupakan fase awal dari resiliensi.

b. Adapting, fase ini merupakan fase transisi dimana individu mulai tebiasa dengan situasi sulit yang mereka hadapi.

c. Recovering, pada fase ini individu berada pada posisi status quo, netral. d. Growing, fase resiliensi yang paling akhir dimana individu tumbuh menjadi

lebih kuat dari pelajaran yang diambil dari pengalaman-pengalaman yang dihadapi saat kesulitan menerjang. Dengan adanya kesulitan yang muncul, individu belajar bagaimana menghadapi kesulitan itu.

(6)

5. Aspek-Aspek Resiliensi

Reivich & Shatte (Hendriani, 2018: 51) memaparkan mengenai tujuh aspek resiliensi, penjelasannya sebagai berikut:

a. Regulasi Emosi (Emotion Regulation)

Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang dibawah kondisi yang menekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang kurang mampu mengatur emosi akan mengalami kesulitan dalam membangun dan menjaga hubungan dengan orang lain. Sebaliknya, kemampuan yang baik dalam meregulasi akan berkontribusi terhadap kemudahan dalam mengelola respons saat berinteraksi dengan orang lain maupun berbagai kondisi lingkungan.

Terdapat dua buah keterampilan yang dapat memudahkan individu untuk melakukan regulasi emosi, yaitu tenang (calming) dan fokus (focusing) yang akan dijelaskan sebagai berikut :

1) Tenang (calming)

Calming merupakan keterampilan untuk meningkatkan kontrol individu terhadap respons tubuh dan pikiran ketika berhadapan dengan stres dengan cara relaksasi. Melalui relaksasi individu dapat mengontrol jumlah stres yang dialami. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk melakukan relaksasi dan membuat diri berada dalam keadaan tenang, yaitu dengan mengontrol pernapasan, relaksasi otot serta dengan menggunakan teknik positive imagery, yaitu membayangkan suatu tempat yang tenang, damai, dan menyenangkan.

2) Fokus (focusing)

Keterampilan untuk fokus pada permasalahan yang ada memudahkan individu untuk menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Setiap permasalahan yang tidak segera terselesaikan akan berdampak pada timbulnya permasalahan-permasalahan baru. Individu yang mampu fokus pada masalah akan dapat menganalisis dan membedakan masalah yang timbul sebagai akibat dari sumber permasalahan. Pada akhirnya individu juga dapat mencari jalan keluar yang tepat untuk mengatasinya. Dengan demikian, stres

(7)

yang dialami individu dan emosi negatif yang muncul juga berangsur akan berkurang.

b. Pengendalian Impuls (Impulse Control)

Pengendalian impuls adalah kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan serta tekanan yang muncul dari dalam diri. Individu yang mempunyai kemampuan pengendalian impuls yang rendah akan cepat mengalami perubahan emosi ketika berhadapan dengan berbagai stimulasi dari lingkungan. Individu akan cenderung reaktif, menampilkan perilaku mudah marah, kehilangan kesabaran, impulsif, dan berlaku agresif. Tentunya perilaku yang ditampakkan ini akan membuat orang di sekitarnya merasa kurang nyaman sehingga berakibat pada buruknya hubungan sosial individu dengan orang lain.

Individu dapat mengendalikan impulsivitas nya dengan mencegah terjadinya kesalahan pemikiran, sehingga dapat memberikan respons yang tepat pada permasalahan yang ada. Individu dapat melakukan pertanyaan reflektif yang bersifat rasional, ditujukan pada dirinya sendiri, seperti “apakah penyimpulan terhadap masalah yang dihadapi saat ini memang berdasarkan fakta atau hanya menebak?”, “apakah sudah melihat permasalahan secara keseluruhan sebelum menyimpulkan?”. Kemampuan individu untuk mengendalikan impuls sangat terkait dengan kemampuan regulasi emosi yang dimiliki.

c. Optimisme (Optimism)

Individu yang resilien merupakan individu yang optimis. Optimisme yang dimiliki oleh seseorang individu menandakan bahwa ia percaya bahwa dirinya mempunyai kemampuan untuk mengatasi kemalangan yang mungkin terjadi di masa depan. Hal ini juga merefleksikan efikasi diri yang dimiliki, yakni kepercayaan bahwa ia mampu menyelesaikan permasalahan yang ada dan mengendalikan hidup nya.

Optimisme akan menjadi hal yang sangat bermanfaat untuk individu bila diiringi dengan efikasi diri. Optimisme yang dimaksud adalah optimisme yang realistis, yaitu sebuah kepercayaan akan terwujudnya masa depan yang lebih

(8)

dengan diiringi segala usaha untuk mewujudkan hal tersebut. Berbeda dengan unrealistic optimism dimana kepercayaan akan masa depan yang cerah tidak dibarengi dengan usaha yang signifikan untuk mewujudkannya.

d. Analisis Kausal (Causal Analysis)

Faktor keempat ini merujuk pada kemampuan individu untuk mengidentifikasi secara akurat penyebab dari permasalahan yang sedang dihadapi. individu yang tidak mampu mengidentifikasi penyebab dari permasalahan secara tepat akan terus-menerus berbuat kesalahan yang sama.

Individu yang resilien adalah individu yang mempunyai fleksibilitas kognitif. individu mampu mengidentifikasi segala yang menyebabkan kemalangan. individu yang resilien tidak akan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang telah diperbuat demi menjaga harga diri atau membebaskan diri dari rasa bersalah. Individu akan berfokus dan memegang kendali penuh pada pemecahan masalah, sehingga perlahan ia akan mulai mengatasi permasalahan yang ada, mengarahkan energi yang dimiliki untuk bangkit dan meraih kesuksesan.

e. Empati (Empathy)

Empati sangat erat kaitannya dengan kemampuan individu untuk membaca tanda-tanda kondisi emosional dan psikologis orang lain. Beberapa individu mempunyai kemampuan yang cukup mahir dalam menginterpretasikan bahasa-bahasa non verbal yang ditunjukkan oleh orang lain seperti ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh, serta mampu menangkap apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Oleh karena itu, seseorang yang mempunyai kemampuan berempati cenderung mempunyai hubungan sosial yang positif.

Ketidakmampuan berempati berpotensi menimbulkan kesulitan dalam hubungan sosial. Hal ini dikarenakan kebutuhan dasar manusia untuk dipahami dan dihargai. Individu yang tidak membangun kemampuan untuk peka terhadap tanda-tanda nonverbal tersebut, tidak mampu untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain dan memperkirakan

(9)

maksud dari orang lain. Ketidakmampuan individu untuk membaca tanda-tanda nonverbal orang lain, dapat sangat merugikan, baik dalam konteks hubungan kerja maupun hubungan personal. Individu dengan empati yang rendah cenderung menyamaratakan semua keinginan dan emosi orang lain.

f. Efikasi Diri (Self Efficacy)

Efikasi diri mempresentasikan sebuah keyakinan bahwa individu mampu memecahkan masalah yang dialami dan mencapai kesuksesan. Seperti telah disebutkan, efikasi diri merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai resiliensi. Efikasi diri merupakan salah satu faktor kognitif yang menentukan sikap dan perilaku seseorang dalam sebuah permasalahan. Dengan keyakinan dan kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan, individu akan mampu mencari penyelesaian yang tepat dari permasalahan yang ada, dan tidak mudah menyerah terhadap berbagai kesulitan.

g. Pencapaian (Reaching Out)

Resiliensi lebih dari sekedar bagaimana seorang individu memiliki kemampuan untuk mengatasi kemalangan dan bangkit dari keterpurukan, namun juga merupakan kemampuan individu untuk meraih aspek positif dari kehidupan setelah kemalangan yang menimpa. Banyak individu yang tidak mampu melakukan reaching out, hal ini dikarenakan adanya kecenderungan sejak kevil untuk lebih banyak belajar menghindari kegagalan dan situasi yang memalukan dibandingkan berlatih untuk menghadapinya.

Tidak sedikit individu di masyarakat yang lebih memilih mempunyai kehidupan standar dibandingkan meraih kesempatan untuk sukses namun harus berhadapan dengan risiko yang begitu besar. Dengan kata lain, lebih memilih memperoleh capaian yang biasa saja namun minim risiko daripada capaian tinggi, namun perlu usaha keras untuk mengupayakannya. Hal ini dikarenakan individu yang tidak memiliki faktor reaching out terlalu banyak dan berlebihan dalam memikirkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi di masa mendatang.

(10)

Akibatnya, individu tersebut banyak menunjukkan rasa takut dan justru jauh dari karakter resilien.

6. Langkah Membangun Resiliensi

Menurut American Psychological Association (Munawaroh, 2009: 132) merumuskan 10 langkah untuk membangun resiliensi diantaranya :

a. Menciptakan hubungan yang baik dengan orang sekitar

Hubungan erat dengan teman, tetangga, dan kerabat dekat akan membantu individu meningkatkan resiliensi, dan sebaliknya ketika kita memiliki masalah dengan tetangga atau kerabat maka hal tersebut akan emnimbulkan ketidakpuasan dalam kehidupan individu.

b. Jangan melihat masa krisis sebagai sebuah masalah yang tidak bisa diatasi Kita tidak bisa mengubah sebuah peristiwa yang menyedihkan terjadi pada hidup kita, tetapi kita bisa mengubah cara kita menginterpretasi dan merespon terhadap peristiwa tersebut. Cara merespon peristiwa akan menentukan tindakan yang akan kita lakukan. Individu yang resilien selalu berpikir bahwa masa depan akan lebih baik, dan hidup akan berubah tidak terus menerus berada dalam kesedihan. Dengan pikiran tersebut akan membangkitkan semangat untuk selalu berusaha.

c. Terimalah perubahan sebagai bagian dari hidup d. Perubahan adalah kehidupan itu sendiri

Tujuan yang kita cita-cita kan mungkin tidak tercapai karena kesulitan yang kita hadapi tetapi menerima situasi baru akan membantu kita fokus pada tujuan dan cita-cita yang dapat kita capai.

e. Bergerak ke arah tujuan

Ketika sudah menetapkan tujuan hidup kita harus konsisten berada dalam jalur tersebut. Dengan menetapkan tujuan yang konkrit dan realistis akan memudahkan pencapaian tujuan karena terukur dan menghindarkan dari stress karena tidak tercapainya tujuan.

(11)

Ketika berada dalam situasi sulit maka kita harus secara aktif mencari solusi dengan mencoba berbagai alternative solusi dengan menghitung baik buruk, positif dan negative serta manfaat dan resikonya.

g. Mencari kesempatan pencarian jati diri

Kesulitan yang dihadapi hendaknya menjadi media bagi diri sendiri untuk mengenali kemampuan diri dan mengeluarkan kemampuan optimal diri. h. Memiliki perspektif

Hindari membesarkan masalah. Jika menganalogikan lingkaran sebagai kehidupan, maka masalah hanyalah titik kecil dalam lingkaran kehidupan. i. Memelihara harapan

Harapan akan membuat orang berusaha mencapai tujuan, kehilangan harapan membuat orang malas untuk berusaha.

j. Menjaga diri sendiri

Milikilah aktifitas yang menyenangkan dan berlatih secara rutin, sehingga badan dan pikiran selalu kuat dalam menghadapi berbagai situasi.

B. Konsep Bimbingan Kelompok 1. Pengertian Bimbingan Kelompok

Secara harfiah kata bimbingan berasal dari kata bahasa inggris yaitu ‘Guidance’. Menurut Shertzer dan Stone (Rusmana, 2009: 12) ‘akar kata dari guidance adalah guide yang artinya menunjukkan, menuntun atau mengemudikan’. Brigman & Early, Galdding (Rusmana, 2009: 2) memaparkan bahwa ‘kelompok merupakan suatu komunitas mikrokosmos dan dapat memberikan suatu setting kehidupan nyata dimana siswa dapat mencari jalan keluar dari persoalan dan masalah.’

Bimbingan kelompok menurut Rusmana (2009: 13) yaitu :

Suatu proses pemberian bantuan kepada individu melalui suasana kelompok yang memungkinkan setiap anggota untuk belajar berpartisipasi aktif dan berbagi pengalaman dalam upaya pengembangan wawasan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam upaya mencegah timbulnya masalah atau dalam upaya pengembangan pribadi.

(12)

Gladding (Nashrulloh, 2015: 19) memaparkan konseling kelompok merupakan ‘ada kecenderungan alami bagi orang untuk berkumpul di dalam suatu kelompok untuk tujuan saling menguntungkan. Melalui konseling kelompok, individu mencapai tujuan dan berhubungan dengan orang lain dengan cara-cara inovatif dan produktif’. Sedangkan Winkel (Asmara, 2007: 29) mengemukakan bahwa ‘bimbingan kelompok merupakan salah satu pengalaman melalui pembentukan kelompok yang khas untuk keperluan pelayanan bimbingan’. Pengertian bimbingan kelompok juga dipaparkan menurut Romlah (Asmara, 2007: 29) bahwa ‘bimbingan kelompok adalah proses pemberian bantuan yang diberikan pada individu dalam situasi kelompok, bimbingan kelompok juga ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa’.

Bimbingan kelompok merupakan salah satu bentuk bimbingan yang dilakukan melalui media kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang bertujuan untuk menggali dan mengembangkan diri dan potensi yang dimiliki individu. Dalam kelompok ini semua peserta bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran dan lain sebagainya. Apa yang dibicarakan dalam bimbingan kelompok semuanya bermanfaat untuk diri peserta yang bersangkutan dan untuk semua peserta lainnya. Bimbingan kelompok sangat tepat bagi kelompok remaja karena memberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan, perasaan, permasalahan, melepas keraguan diri, dan pada kenyataanya mereka akan senang berbagi pengalaman dan keluhan-keluhan pada teman sebaya nya.

Menurut Gladding (Eddy, 2005: 62) ‘dinamika kelompok dapat digambarkan dengan kekuatan-kekuatan yang muncul dalam suatu kelompok’. Kekuatan-kekuatan itu bias tampak jelas atau mungkin tersembunyi seperti bagaimana para anggota kelompok merasakan diri mereka sendiri, saling merasakan satu sama lain, dan merasakan pemimpin kelompok mereka, bagaimana mereka berbicara satu sama lain, dan bagaimana pemimpin kelompok mereaksi para anggota. Menurut Cartwright dan Zander (Herlianto, 2013: 22) ‘dinamika kelompok adalah gerak dinamis kelompok dalam mencapai tujuan

(13)

secara efektif’. Dalam suasana seperti ini seluruh anggota kelompok menampilkan dan membuka diri serta memberikan kontribusi bagi suksesnya kegiatan kelompok. Dinamika kelompok merupakan sinergi dari semua faktor yang ada dalam suatu kelompok, artinya merupakan pengerahan secara serentak semua faktor yang dapat digerakkan dalam kelompok itu. Menurut Prayitno (Muslimin, 2016: 31) ‘dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok’.

Kehidupan kelompok yang dijiwai oleh dinamika kelompok akan menentukan arah dan gerak pencapaian tujuan kelompok. Bimbingan kelompok memanfaatkan dinamika kelompok sebagai media untuk membimbing anggota kelompok dalam mencapai tujuan. Media dinamika kelompok ini adalah unik dan hanya dapat ditemukan dalam suatu kelompok yang benar-benar hidup. Kelompok yang hidup adalah kelompok yang dinamis, bergerak, aktif dan berfungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan dan mencapai suatu tujuan tertentu.

Bimbingan kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok para anggota kelompok dapat mengembangkan diri dan memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya. Arah pengembangan diri yang dimaksud terutama adalah dikembangkannya kemampuan-kemampuan sosial secara umum yang selayaknya dikuasai oleh individu-individu yang berkepribadian mantap. Keterampilan berkomunikasi secara efektif, sikap tenggang rasa, memberi dan menerima, toleransi, mementingkan musyawarah untuk mencapai mufakat seiring dengan sikap demokratis, memiliki rasa tanggung jawab sosial seiring dengan kemandirian yang kuat, merupakan arah pengembangan pribadi yang dapat dijangkau melalui diaktifkannya dinamika kelompok itu. Dinamika kelompok akan terwujud dengan baik apabila kelompok tersebut benar-benar hidup, mengarah pada tujuan yang ingin dicapai dan membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota kelompok serta sangat ditentukan oleh peranan anggota kelompok.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa layanan bimbingan kelompok adalah salah satu jenis layanan bimbingan dan konseling yang bertujuan untuk memberikan bantuan serta arahan dalam membahas masalah

(14)

atau topik-topik umum yang menjadi kepentingan bersama yang dilaksanakan oleh beberapa orang dalam bentuk kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang ditandai dengan adanya interaksi dalam kelompok berupa saling menyampaikan pendapat, perasaan, permasalahan, tanggapan, kritik, saran, pengalaman, dan sebagainya, dimana pemimpin kelompok sebagai pemandu terlaksana nya kegiatan yang mengarahkan kegiatan layanan bimbingan kelompok serta menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar individu-individu dalam kelompok mencapai perkembangan yang optimal dan mencapai tujuan dari kegiatan layanan bimbingan kelompok.

2. Tujuan Layanan Bimbingan Kelompok

Kesuksesan layanan bimbingan kelompok sangat dipengaruhi oleh sejauh mana keberhasilan tujuan yang akan dicapai dalam layanan bimbingan kelompok yang diselenggarakan. Adapun tujuan bimbingan kelompok menurut Prayitno (Muslimin, 2016: 26) yaitu:

a. Mampu berbicara di muka orang banyak.

b. Mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan, dan lain sebagainya kepada orang banyak.

c. Belajar menghargai pendapat orang lain.

d. Bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukakannya.

e. Mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan yang bersifat negatif).

f. Dapat bertenggang rasa.

g. Menjadi akrab satu sama lainnya.

h. Membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan atau menjadi kepentingan bersama.

Kegiatan bimbingan kelompok memungkinkan kepada individu untuk bisa melatih diri dan mengembangkan dirinya dalam memahami dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Adanya interaksi dan dinamika kelompok yang hidup, memberikan stimulus dan dukungan kepada anggota kelompok untuk bisa mewujudkan kemampuannya dalam menjalin hubungan dengan orang lain,

(15)

melatih diri untuk berbicara di depan teman-temannya dalam ruang lingkup yang berkelompok, memahami dirinya dalam membina sikap yang responsibel dan perilaku yang normatif. Sehingga dengan demikian bimbingan kelompok ini mempunyai tujuan yang praktis dan dinamis dalam mewujudkan potensi individu dan juga dalam mengembangkan dan meningkatkan konsep diri setiap individu.

3. Asas-asas Bimbingan Kelompok

Menurut Prayitno (Muslimin, 2016: 32) menyebutkan ada lima asas bimbingan kelompok diantaranya :

a. Asas Kerahasiaan

Anggota kelompok harus menyimpan dan merahasiakan apa saja, data dan informasi yang didengar dan dibicarakan dalam kelompok, terutama hal-hal yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain.

b. Asas Keterbukaan

Semua peserta bebas dan terbuka mengeluarkan pendapat, ide, saran, dan apa saja yang dirasakan dan dipikirkannya.

c. Asas Kesukarelaan

Semua peserta dapat menampilkan dirinya secara spontan tanpa disuruh-suruh atau malu-malu atau dipaksa oleh teman yang lain atau oleh pemimpin kelompok.

d. Asas Kenormatifan

Semua yang dibicarakan dan yang dilakukan dalam kelompok tidak boleh bertentangan dengan norma-norma dan peraturan yang berlaku.

e. Asas Kegiatan

Asas kegiatan, yaitu partisipan semua anggota kelompok dalam mengemukakan pendapat sehingga cepat tercapainya tujuan bimbingan kelompok.

(16)

4. Peranan Anggota Kelompok dan Pemimpin Kelompok

Menurut Gladding (1994) menyebutkan peranan pemimpin kelompok yang hendaknya dimainkan oleh pemimpin kelompok agar dinamika kelompok benar-benar dapat diwujudkan seperti yang diharapkan adalah sebagai berikut :

a. Pemimpin kelompok harus menyadari adanya kekuatan dan potensi kelompok.

b. Pemimpin kelompok harus merencanakan keberlangsungan kegiatan dan harus peka terhadap tahap pembangunan mental kelompok.

c. Dilengkapi dengan pengetahuan maka pemimpin kelompok dapat memanfaatkan keterampilan yang sesuai untuk membantu anggota kelompok dalam mengembangkan potensi mereka sepenuhnya.

Selanjutnya akan dijabarkan beberapa peranan anggota menurut Prayitno (Muslimin, 2016: 29) sebagai berikut :

a. Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok.

b. Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.

c. Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama. d. Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan

baik.

e. Benar-benar berusaha untuk secara efektif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.

f. Mampu mengkomunikasikan secara terbuka. g. Berusaha membantu anggota lain.

h. Memberikan kesempatan kepada anggota lain untuk juga menjalani perannya. i. Menyadari pentingnya kegiatan kelompok tersebut.

Pada kegiatan bimbingan kelompok setiap individu mendapatkan kesempatan untuk mengutarakan pendapat, mengaktualisasikan diri dan menggali potensinya. Kesempatan memberi dan menerima dalam kelompok akan menimbulkan rasa saling menolong, menerima, dan berbagi pengalaman. Keadaan

(17)

ini membutuhkan suasana yang hangat antar anggota, sehingga mereka akan merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka.

5. Tahap-tahap Kegiatan Bimbingan Kelompok

Bimbingan kelompok dalam pelaksanaan nya melalui beberapa tahap. Pada pelaksanaan eksperimen bimbingan kelompok ini mengacu pada tahap-tahap bimbingan kelompok yang dikemukakan oleh Gladding (Rusmana, 2009: 86) diantaranya :

a. Tahap Awal (beginning a group)

Awal konseling merupakan langkah yang kritis dalam proses konseling kelompok. Dalam konseling kelompok, pembentukan kelompok (forming) merupakan tahap awal yang sangat berpengaruh dalam tahap konseling selanjutnya. Dalam pelaksanaan pembentukan kelompok konselor perlu mempertimbangkan :

1) Tahapan Pembentukan Kelompok

Menurut Gladding (Rusmana, 2009: 87) ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam melaksanakan proses pembentukan kelompok yaitu :

a) Mengembangkan alasan-alasan pembentukan kelompok

Konselor mempertimbangkan alasan yang jelas mengapa kelompok dibentuk, untuk kepentingan apa, siapa anggota nya dan berapa jumlahnya. b) Menentukan format teoritis

Dengan adanya penetapan kerangka teori yang jelas konselor akan memiliki landasan dan kerangka kerja dalam melaksanakan proses konseling.

c) Menentukan kerangka kerja

Konselor perlu mempertimbangkan hal-hal yang sangat sensitif dari konseli seperti limit waktu, fungsi dan peranan pemimpin, kerahasiaan, ukuran kelompok, keanggotaan, dan durasi waktu.

(18)

Dalam melakukan publikasi kelompok konselor perlu menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan jenis layanan, rasional, tujuan, sasaran, pimpinan kelompok, dan topik yang akan dibahas.

2) Tugas-tugas Pembentukan Kelompok

Tugas pertama dalam memulai suatu kelompok adalah para anggota melakukan kesepakatan tentang permasalahan apa yang akan dibahas. Kemudian menetapkan tujuan dan melakukan kontrak seperti apa yang akan mereka capai, berapa lama proses kegiatan berlangsung, menetapkan aturan sebelum dan selama proses kelompok berlangsung, dan menetapkan tugas dari pemimpin kelompok.

3) Prosedur Pembentukan Kelompok

Ada beberapa hal yang dapat dijadikan pegangan dalam memulai suatu kelompok yaitu kerjasama (joining), kesepadanan (linking), menghentikan atau memutuskan pembicaraan (cutting off), lebih menjelaskan (drawing out), memperjelas maksud (clarifying the purpose).

b. Tahap Transisi (Transition Stage)

Tahap transisi merupakan masa setelah proses pembentukan dan sebelum tahap kerja. Tahap ini merupakan proses dua bagian, yang ditandai dengan ekspresi sejumlah emosi dan interaksi anggota. Masa transisi ditandai dengan adanya tahapan storming dan norming.

Pada tahap storming disebut masa badai/ periode pancaroba/ kacau yaitu masa terjadinya konflik dalam kelompok, yang mana adanya kekhawatiran anggota kelompok dalam memasuki proses konseling. Oleh karena itu konselor perlu melakukan upaya diantaranya:

1) Peningkatkan Hubungan Anggota Kelompok

Konselor perlu mengembangkan kepemimpinan dan menunjukan kekuasaan yang terbuka yang diharapkan anggota kelompok lebih fokus pada isi dan pesan kelompok sehingga bisa saling pengertian.

2) Resistensi

Resistensi didefinisikan sebagai perilaku kelompok untuk menghindari daerah yang tidak nyaman dan situasi konflik seperti ketika seseorang dalam

(19)

kelompok mendominasi melalui pembicaraan ataupun tindakan yang berlebihan, melawan pemimpin merupakan salah satu bentuk dari resistensi dalam kelompok yang akan menyebabkan kesulitan bagi perkembangan kelompok.

3) Task Processing

Cara yang dapat dilakukan untuk membantu anggota kelompok mengatasi kekacauan yaitu dimotivasi untuk berinteraksi secara terbuka, menyadarkan anggota bahwa kekacauan dalam kelompok merupakan hal yang wajar.

Tahap berikut nya dalam transisi adalah norming. Selama periode norming beberapa perubahan penting terjadi dalam hubungan antar teman yang digambarakan sebagai berikut :

1) Identifikasi

Pada tahap ini individu memandang dirinya sama dengan orang lain. Kemudian muncul rasa keterikatan emosional para anggota kepada pemimpin kelompok.

2) Variabel Eksistensial

Pemimpin dan anggota kelompok dapat merefleksikan kejadian masa lalu untuk dihubungkan dengan kejadian masa kini dan mengambil hikmah nya.

3) Harapan

Harapan adalah keyakinan bahwa apa yang diinginkan dan kejadian terbaik akan terjadi.

4) Kerjasama

Kerjasama terjadi ketika anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai tujuan.

5) Kolaborasi

Saat para anggota bekerjasama secara harmonis, mereka juga dapat saling berbagi pengalaman dan perasaan mengenai diri maupun masalah lain.

6) Kohesi

Saat kekompakan tumbuh kelompok beekrja sebagai satu unit dimana semangat, rasa percaya, dan solidaritas meningkat sehingga menumbuhkan keharmonisan.

(20)

c. Tahap Kerja (Performing Stage)

Tahap kerja sering disebut juga sebagai tahap kegiatan dan tahap pertengahan yang merupakan inti kegiatan konseling kelompok, sehingga memerlukan alokasi waktu yang terbesar dalam keseluruhan kegiatan konseling kelompok. Tahap ini merupakan tahap kehidupan yang sebenarnya dari konseling kelompok, yaitu para anggota memusatkan perhatian terhadap tujuan yang akan dicapai, mempelajari materi-materi baru, mendiskusikan berbagai topik, menyelesaikan tugas, dan mempraktekkan perilaku-perilaku baru.

Pada tahap ini perasaan empati, keharuan, perhatian penuh, dan kedekatan emosional kelompok berangsur-angsur tumbuh. Hal ini sebagai akibat interaksi antar anggota kelompok dan pemahaman masing-masing anggota kelompok yang lebih baik. Menurut Rusmana (2009: 96) “tahap kerja adalah produktivitas kerja yang dapat dicapai melalui saling memuji keunggulan masing-masing anggota kelompok, role playing, home work, dan beberapa strategi seperti modeling, brainstorming, written projections, dan lain-lain”.

Tahap kegiatan bertujuan membahas suatu masalah atau topik yang relevan dengan kehidupan anggota secara mendalam dan tuntas. Dalam tahap ini pemimpin kelompok mengumumkan suatu masalah atau topik tanya jawab antara anggota dan pemimpin kelompok tentang hal-hal belum jelas yang menyangkut masalah atau topik tersebut secara tuntas dan mendalam. Adapun peranan pemimpin kelompok adalah sebagai pengatur lalu lintas yang sabar dan terbuka, aktif tetapi tidak banyak bicara. Tahap ini ditandai adanya eksplorasi masalah-masalah yang nampak dengan tindakan yang efektif untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang dikehendaki.

d. Tahap Terminasi (Termination Stage)

Kegiatan suatu kelompok tidak mungkin berlangsung terus menerus tanpa berhenti. Setelah kegiatan kelompok memuncak pada tahap kerja, kegiatan kelompok ini kemudian menurun, dan selanjutnya kelompok akan mengakhiri kegiatan. Penghentian terjadi pada dua tingkatan dalam kelompok, yaitu pada akhir masing-masing sesi, dan pada akhir dari keseluruhan sesi kelompok. Tahap

(21)

terminasi atau pengakhiran sama pentingnya seperti tahap permulaan pada sebuah kelompok. Selama pembentukan awal pada sebuah kelompok, anggota datang untuk saling mengenali satu sama lain dengan baik. Selama masa penghentian, para anggota kelompok memahami diri mereka sendiri pada tingkat yang lebih mendalam. Penghentian memberi kesempatan pada anggota kelompok untuk memperjelas arti dari pengalaman mereka, untuk mengkonsolidasi hasil yang mereka buat, dan untuk membuat keputusan mengenai tingkah laku mereka yang ingin dilakukan di luar kelompok dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika kelompok memasuki tahap pengakhiran, kegiatan kelompok hendaknya dipusatkan pada pembahasan dan penjelajahan tentang apakah para anggota kelompok akan mampu menerapkan hal-hal yang telah mereka pelajari dalam suasana kelompok, pada kehidupan nyata mereka sehari-hari. Peranan konselor disini ialah memberikan penguatan (reinforcement) terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh anggota kelompok dan oleh kelompok, khususnya terhadap keikutsertaan secara aktif para anggota kelompok dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh masing-masing anggota kelompok.

Pengakhiran konseling kelompok hendaknya membuat kesan yang positif bagi anggota kelompok, jadi jangan sampai anggota kelompok mempunyai ganjalan-ganjalan. Untuk itu perlu diadakan evaluasi. Evaluasi merupakan bagian dari keseluruhan proses konseling itu sendiri, bukan suatu kegiatan yang terlepas, yang dilakukan pada tahap akhir. Di dalam pelaksanaan konseling kelompok, konselor mempunyai tanggung jawab untuk mengevaluasi kesuksesan perilaku kerja dan mengadakan tindak lanjut. Tahap evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah konseling kelompok yang telah dilaksanakan mencapai hasil, dan tindakan apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh konselor.

Kegiatan akhir dari kelompok adalah postgroup yang berupa follow up (tindak lanjut). Follow up dapat dilaksanakan secara kelompok maupun secara individu. Pada kegiatan tindak lanjut ini para anggota kelompok dapat membicarakan tentang upaya-upaya yang telah di tempuh. Mereka dapat melaporkan tentang kesulitan-kesulitan yang mereka temui, berbagai kesukacitaan dan keberhasilan dalam kelompok. Anggota kelompok menyampaikan

(22)

pengalaman-pengalaman mereka dan hasilnya selama mengikuti kegiatan konseling kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Sesi tindak lanjut ini menjadi bagian penting karena memberikan kesempatan anggota kelompok untuk menangani terselesaikannya isu dan menerima dukungan atau dorongan dari kelompok. Rusmana (2009: 101) mengatakan “sesi tindak lanjut itu penting untuk memberikan kesempatan anggota untuk menangani terselesaikannya isu dan menerima dukungan dan dorongan dari kelompok”. Kritik utama jangka pendek dari kelompok intensif adalah kegagalan konselor untuk menyediakan semacam sesi tindak lanjut.

Sesi tindak lanjut dapat memberikan kesempatan yang sangat baik untuk anggota kelompok dalam hal mengidentifikasi tujuan-tujuan baru untuk diri mereka sendiri, mengeksplorasi sumber untuk pertumbuhan lanjutan terhadap tujuan-tujuan baru, serta untuk bekerja pada setiap masalah yang belum terselesaikan. Evaluasi dan sesi tindak lanjut merupakan langkah penting dalam proses bimbingan kelompok dan tidak boleh dipandang sebagai pelengkap yang akan ditambahkan ke pengalaman kelompok.

C. Konsep Cinema Therapy

1. Sejarah Perkembangan Cinema Therapy

Awalnya terapi film (cinema therapy) dikenal dengan nama biblioterapi dimana berasal dari sekolah Menninger pada tahun 1030. Biblioterapi adalah bentuk asli dari terapi film (cinema therapy). Banyak cerita dan juga dongeng telah digunakan untuk media terapi dalam waktu yang cukup lama. Menurut Demir (Jasmine, 2016: 12) “biblioterapi merupakan media bacaan yang dapat memudahkan proses penyembuhan dalam terapi”.

2. Pengertian Cinema Therapy

Secara harfiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Powell (Wicaksono, 2018: 305) mendefinisikan ‘terapi film (cinema therapy) adalah

(23)

proses menggunakan film dalam terapi sebagai metafora untuk meningkatkan pertumbuhan dan wawasan klien’. Gregerson, (2010: 89) mengungkapkan “cinema therapy merupakan alat atau teknik dalam terapi, konseling, dan pembinaan untuk membantu individu atau sekelompok orang agar menjadi sadar dan dapat mengatasi masalah dalam kehidupan nyata”. Cinema therapy dilakukan dengan merefleksi dan berdiskusi tentang karakter, gaya bahasa, atau arketipe dalam film atau video.

Alfred Hitchcock (Wolz, 2004: 56) menjelaskan bahwa ‘movie atau film adalah ilusi kehidupan yang dilakukan dengan menghilangkan bagian tertentu dalam kehidupan tersebut’. Senada dengan Hitchcock, Graeme Turner (Jasmine, 2016: 8) menjelaskan ‘film sebagai media untuk menghadirkan kembali realita berdasarkan kode-kode, konvensi serta idelogi dari kebudayaan’. Film dijadikan media untuk melihat kembali realita yang pernah terjadi di suatu tempat dengan menyesuaikan ideologi atau kebudayaan yang ada di lingkungan tersebut. Menurut Suwasono (Jasmine, 2016: 8) ‘film adalah media komunikasi seseorang kepada audiens yang sering diyakini mempunyai power untuk menghipnotis manusia sehingga dapat menerima nilai budaya tertentu, atau bahkan secara tidak sadar audiens akan menginternalisasikan nilai ideologi yang terkandung dalam sebuah film’.

Demer & Hutchings (Portadin, 2006: 5) mengatakan bahwa ‘cinema therapy sebagai teknik terapeutik yang melibatkan pemilihan film untuk klien untuk menonton secara individual atau dalam kelompok yang bertujuan untuk mencapai tujuan terapeutik tertentu’. Menurut Solomon (Ningsih, 2016: 2) ‘terapi film adalah terapi yang memiliki efek positif pada seseorang kecuali orang yang memiliki gangguan psikotik’. Tema dari film yang ditayang beragam mulai dari pemecahan masalah, PTSD, depresi, hubungan dengan orang lain, motivasi atau kebutuhan klien’.

Berdasarkan pendapat para ahli yang sudah dijelaskan, maka dapat disimpulkan terapi film (cinema therapy) merupakan media komunikasi pada audiens yang memiliki kekuatan untuk memberi pengaruh positif pada penonton

(24)

sehingga penonton dapat menginternalisasikan nilai yang terkandung di dalam film dan meniru peran yang dilakukan oleh tokoh utama.

3. Proses Cinema Therapy

Menurut Ulus (Gregerson, 2010: 93) proses cinema therapy dipaparkan ke dalam tiga macam yaitu :

a. Fase Proyeksi

Dalam fase proyeksi, pikiran, pengaruh, dan keyakinan penonton dipicu oleh peristiwa dan karakter dalam film.

b. Fase Identifikasi

Dalam fase identifikasi, penonton menerima atau menolak karakter yang berkaitan dengan diri sendiri, merasa seperti karakter di film tanpa memerlukan kesadaran fisik.

c. Fase Introjeksi

Dalam fase introjeksi, penonton melihat pengalaman dalam film ke dalam dunia nya sendiri.

4. Tahapan Cinema Therapy

Tahapan cinema therapy ini dikembangkan oleh Michael Lee Powell yang merupakan hasil adaptasi dari Dermer, S. B., & Hutchings, J. B., (Ningsih dkk, 2016: 2) yaitu:

a. Tahap Asesmen

1) Mengidentifikasi permasalahan dan menentukan tujuan dalam terapi.

2) Menilai dan mengetahui konseli dari segi kemampuan, keingintahuan, kematangan, ketertarikan, kepentingan, kegiatan, aktivitas.

3) Menelaah kapasitas mental dan perkembangan emosi konseli dalam memahami isi film, menangkap makna, serta mengenali persamaan dan perbedaan antara konseli dan karakter.

4) Dalam pemilihan film, pertimbangkan isu-isu yang berkaitan dengan budaya, ras, etnis, status sosial, ekonomi dan gender.

(25)

5) Setelah mendapatkan data asesmen, konselor dapat menggunakan film yang sesuai, tepat dan cocok berdasarkan asesmen yang telah dilakukan.

b. Tahap Persiapan

1) Tontonlah terlebih dahulu film yang akan digunakan dalam terapi, agar konselor mengetahui dimana bagian-bagian penting dalam film yang dapat ditelaah nantinya. Selain itu, kebanyakan film memiliki adegan-adegan yang kurang pantas atau kurang penting seperti konten seksual. Pada saat inilah konselor dapat mempersiapkan untuk melakukan penanganan berupa mempercepat film agar adegan tidak terlihat, atau langsung melompati ke bagian selanjutnya.

2) Rencanakan penampilan dengan mempertimbangkan waktu, lokasi, siapa saja yang boleh ikut menonton, apakah semua bagian film akan ditampilkan atau hanya memerlukan beberapa scene saja, apakah membutuhkan persepsi dari konseli yang lain sehingga dalam bentuk kelompok akan lebih baik. 3) Meyakinkan konseli untuk siap mengikuti terapi dengan cara

memberitahukan cinema therapy, menjelaskan mengenai cara kerja dan keuntungannya bagi konseli sehingga konseli nantinya dapat berpartisipasi hingga akhir.

c. Tahap Implementasi 1) Tetapkan film.

2) Jadwalkan sesi di kemudian hari untuk proses menonton dalam terapi. d. Tahap Mengelola Pengalaman

1) Setelah menonton film, konselor harus memproses reaksi konseli, yaitu dengan mendiskusikan kesan keseluruhan dari konseli terhadap film. Pada umumnya banyak orang yang menyenangi pembicaraan mengenai film, khususnya film yang memang menarik untuk dibicarakan, karena mereka dapat berbicara mengenai perasaan dan persepsi dari karakter dalam film. Melalui diskusi ini diharapkan dapat membantu menjembatani pertanyaan konselor mengenai perasaan dan persepsi mereka sendiri.

(26)

5. Manfaat Cinema Therapy

Menurut Solomon (Jasmine, 2016: 12) ‘film bermanfaat untuk memberikan efek positif pada individu yang bermasalah’. Sedangkan menurut Wolz (2004: 3) menjelaskan bahwa “film memiliki kekuatan besar sebagai alat untuk menceritakan sebuah cerita, mengkomunikasikan informasi, dan memberi pengaruh budaya”. Banyak orang merasa lega dengan menonton film pada saat terapi (psicotheraphy). Selain itu film dapat memberikan kesehatan emosi serta dapat meningkatkan pengetahuan seseorang terhadap nilai yang terkandung dalam sebuah film sehingga penonton dapat meniru perilaku yang diperankan oleh tokoh dalam film tersebut dan dapat menjalankan pengetahuan baru yang diperoleh dari cerita dalam sebuah film.

Adapun menurut Sturdevant (Wolz, 2004: 31) berhipotesis bahwa menonton film dapat melibatkan sebagian besar kecerdasan diantaranya :

b. Plot film melibatkan kecerdasan logis kita. c. Dialog skrip melibatkan kecerdasan linguistik.

d. Gambar, warna, dan simbol pada layar menggunakan kecerdasan visual-spasial.

e. Suara dan musik melibatkan kecerdasan musikal kita. f. Bercerita melibatkan kecerdasan interpersonal. g. Gerakan melibatkan kecerdasan kinestetik.

h. Refleksi diri atau bimbingan batin, seperti yang ditunjukkan khususnya dalam film-film inspirasional, melibatkan kecerdasan intrapsikis.

(27)

D. Bimbingan Kelompok Berbasis Cinema Therapy Untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa

Melalui bimbingan kelompok berbasis cinema therapy, siswa dapat mencoba untuk mengekspolarasikan dirinya atau pemahaman tentang dirinya dan hubungan antar individu yaitu dengan cara menonton, menyimak, menemukan makna, menambah wawasan, mendiskusikan nya sehingga secara bersama-sama siswa dapat mengeksplorasikan perasaannya, sikapnya, nilai, persepsi, dan berbagai strategi pemecahan masalah yang sedang dihadapinya.

Sebagai suatu layanan bimbingan kelompok berbasis cinema therapy berakar pada dimensi pribadi dan sosial. Dari dimensi pribadi, layanan ini berusaha membantu siswa menemukan makna, menambah wawasan, mengembangkan persepsi dari film yang ditonton nya yang bermanfaat bagi dirinya dan siswa diajak untuk belajar mengembangkan potensi diri nya dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan teman-teman sebaya nya. Dari dimensi sosial, layanan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dalam menganalisis situasi sosial, bertukar pendapat, saling memunculkan ide, yang menyangkut dengan hubungan antar pribadi siswa.

Konselor yang kreatif senantiasa mencari pendekatan baru dalam memecahkan masalah dan tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton, melainkan memilih variasi lain yang sesuai. Bimbingan kelompok berbasis cinema therapy merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh. Bimbingan kelompok berbasis cinema therapy berusaha membantu individu untuk mengeksplorasi potensi, perasaan, dan menambah pengalaman yang bisa dilihat dan diambil menjadi pengalaman pribadi dari alur sebuah film.

Berkaitan dengan kemampuan resiliensi rendah, bimbingan kelompok berbasis cinema therapy dapat dijadikan sebagai salah satu layanan untuk membantu meningkatkan resiliensi siswa. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan need assessment terlebih dahulu untuk memperoleh gambaran resiliensi pada siswa yang teridentifikasi mempunyai resiliensi rendah sehingga dalam hal ini siswa yang memiliki kategori resiliensi sangat tinggi, tinggi, cukup,

(28)

rendah, dan sangat rendah dapat diberikan layanan dengan bimbingan kelompok berbasis cinema therapy.

Melalui pelaksanaan bimbingan kelompok berbasis cinema therapy, siswa dapat mengembangkan potensi nya, mengeksplorasikan perasaan nya, menambah wawasan, menemukan makna yang terkandung di dalam film untuk dijadikan sebuah cerminan dalam kehidupan nya. Selain itu dengan bimbingan kelompok berbasis cinema therapy, siswa dapat menjalin hubungan sosial dengan baik, saling bertukar pikiran dan perasaan, menambah wawasan dari pengalaman hidup seseorang, saling menghargai, mengendalikan dirinya, menjadi individu yang bertanggung jawab, serta dapat menjaga tingkah lakunya. Dengan demikian diharapkan dengan diberikan nya layanan bimbingan kelompok berbasis cinema therapy dapat dijadikan salah satu layanan bimbingan konseling yang dikatakan berhasil untuk meningkatkan resiliensi siswa di sekolah.

Berikut penjelasan gambaran setiap sesi bimbingan kelompok berbasis cinema therapy yang dikembangkan sesuai dengan tahapan bimbingan kelompok menurut Gladding (Rusmana, 2009: 86) dan tahapan cinema therapy menurut Michael Lee Powell yang merupakan hasil adaptasi dari Dermer, S. B., & Hutchings, J. B., (Ningsih, 2016: 2) :

1. Sesi 1

Sesi pertama ini digunakan untuk kegiatan persiapan diantaranya konselor melakukan asesmen (pretest) yang bertujuan untuk memperoleh gambaran umum mengenai resiliensi siswa sebelum dilakukan layanan. Kemudian pada tahap persiapan konselor terlebih dahulu menonton dan memilih film yang sesuai dengan materi yang akan diberikan yaitu mengenai regulasi emosi dan pengendalian impuls yang akan digunakan dalam layanan bimbingan kelompok berbasis cinema therapy.

2. Sesi 2

Sesi kedua bimbingan kelompok berbasis cinema therapy yang berjudul The Billionaire ini bertujuan agar siswa mampu menghadapi segala kesulitan dengan cara yang positif. Pada tahap awal konselor membentuk anggota ke dalam beberapa kelompok, menjelaskan waktu kegiatan, jumlah pertemuan, jumlah

(29)

anggota kelompok, peranan pemimpin, konselor menetapkan tujuan dan kontrak dengan konseli. Pada tahap transisi konselor mengembangkan kepemimpinan terbuka untuk meningkatkan hubungan antar anggota, menjelaskan aturan kegiatan, melakukan ice breaking selamat pagi tepuk tangan. Pada tahap kerja seluruh anggota kelompok menonton film The Billionaire, konselor menjelaskan isu-isu yang berkaitan dengan resiliensi di dalam film, setelah selesai menonton film melakukan sesi diskusi mengenai bagaimana karakter tokoh di dalam film, ada permasalahan apa didalamnya. Tahap terminasi konselor memberikan penguatan, follow up kegiatan, dan evaluasi berupa makna apa yang terkandung didalam film, bagaimana perasaannya setelah melakukan kegiatan, hal apa yang ingin dicapai setelah melakukan kegiatan ini. Melalui sesi ini siswa diharapkan dapat bersikap tenang ketika mengalami permasalahan, tidak pantang menyerah ketika gagal, serta siswa mampu fokus pada permasalahan yang ada untuk mendapatkan sebuah solusi.

3. Sesi 3

Sesi ketiga bimbingan kelompok berbasis cinema therapy yang berjudul “Anger Management” Sesi ini bertujuan agar siswa mampu mengendalikan emosi di dalam diri nya. Pada tahap awal konselor membentuk anggota ke dalam beberapa kelompok, menjelaskan waktu kegiatan, jumlah anggota kelompok, peranan pemimpin, konselor menetapkan tujuan. Pada tahap transisi konselor mengembangkan kepemimpinan terbuka untuk meningkatkan hubungan antar anggota, menjelaskan aturan kegiatan, melakukan ice breaking darat laut udara. Pada tahap kerja seluruh anggota kelompok menonton film Anger Management, konselor menjelaskan isu-isu yang berkaitan dengan resiliensi di dalam film, setelah selesai menonton film melakukan sesi diskusi mengenai bagaimana karakter tokoh di dalam film, ada permasalahan apa didalamnya. Tahap terminasi konselor memberikan penguatan, follow up kegiatan, dan evaluasi berupa makna apa yang terkandung didalam film, bagaimana perasaannya setelah melakukan kegiatan, hal apa yang ingin dicapai setelah melakukan kegiatan ini. Melalui sesi ini siswa diharapkan dapat menyalurkan segala bentuk emosi dengan baik dan wajar.

(30)

4. Sesi 4

Sesi keempat bimbingan kelompok berbasis cinema therapy yang berjudul “5 Elang”. Sesi ini bertujuan agar siswa dapat mengenali emosi diri. Pada tahap awal konselor membentuk anggota ke dalam beberapa kelompok, menjelaskan waktu kegiatan, jumlah anggota kelompok, peranan pemimpin, konselor menetapkan tujuan. Pada tahap transisi konselor mengembangkan kepemimpinan terbuka untuk meningkatkan hubungan antar anggota, menjelaskan aturan kegiatan, melakukan ice breaking berhitung bernafas bertepuk. Pada tahap kerja seluruh anggota kelompok menonton film 5 Elang, konselor menjelaskan isu-isu yang berkaitan dengan resiliensi di dalam film, setelah selesai menonton film melakukan sesi diskusi mengenai bagaimana karakter tokoh di dalam film, ada permasalahan apa didalamnya. Tahap terminasi konselor memberikan penguatan, follow up kegiatan, dan evaluasi berupa makna apa yang terkandung didalam film, bagaimana perasaannya setelah melakukan kegiatan, hal apa yang ingin dicapai setelah melakukan kegiatan ini. Melalui sesi ini siswa dilatih untuk mengelola dan mengendalikan emosi negatif, mengendalikan segala keinginan dalam diri, berkemampuan untuk mengenali emosi orang lain, kemampuan membina hubungan baik dengan orang lain. Maka dari itu diharapkan siswa dapat mengelola emosinya agar perilaku nya terkontrol dengan baik dan tidak mudah putus asa ataupun marah ketika dihadapkan pada situasi yang sulit.

5. Sesi 5

Sesi kelima bimbingan kelompok yang berjudul “konsep resiliensi”. Sesi ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan siswa mengenai konsep resiliensi. Pada tahap awal konselor membentuk anggota ke dalam beberapa kelompok, menjelaskan waktu kegiatan, jumlah anggota kelompok, peranan pemimpin, konselor menetapkan tujuan. Pada tahap transisi konselor mengembangkan kepemimpinan terbuka untuk meningkatkan hubungan antar anggota, menjelaskan aturan kegiatan, melakukan ice breaking marina menari. Pada tahap kerja seluruh anggota kelompok menyimak materi konsep resiliensi, setelah selesai materi melakukan sesi diskusi mengenai bagaimana pengertian resiliensi, factor yang mempengaruhi, langkah untuk membangun resiliensi.

(31)

Tahap terminasi konselor memberikan penguatan, follow up kegiatan, dan evaluasi berupa makna apa yang bisa diambil dari pemaparan materi, setelah melakukan kegiatan aspek mana yang dirasa harus ditingkatkan dalam diri kalian, hal apa yang ingin dicapai setelah melakukan kegiatan ini.

6. Sesi 6

Sesi keenam ini digunakan untuk kegiatan posttest. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran peningkatan resiliensi siswa setelah diberikan layanan serta untuk mengetahui keefektifan program bimbingan kelompok berbasis cinema therapy untuk meningkatkan resiliensi siswa. Instrumen yang digunakan sama dengan instrumen pada saat kegiatan pretest.

E. Penelitian Terdahulu

Berdasarkan telaah pustaka dan kajian penulis ditemukan penelitian yang relevan dengan penelitian penulis yaitu :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Novitasari (2013) dengan judul “Efektivitas Pengunaan Cinema Therapy untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa SMK”. Subjek penelitian adalah siswa SMK kelas X yang berjumlah delapan siswa. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan cinema therapy efektif untuk meningkatkan resiliensi siswa SMK. Artinya, resiliensi dapat ditingkatkan melalui cinema therapy.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Muthi’ah (2013) dengan judul “Keefektifan Cinema Therapy untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa SMP Kelas Akselerasi”. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP kelas akselerasi yang memiliki resiliensi rendah dan sangat rendah sebanyak 7 siswa. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan tingkat resiliensi sebelum dan sesudah pemberian treatment secara berulang dengan nilai z = -2,366 pada tingkat signifikansi 0,018 < 0,05, artinya H0 ditolak. Artinya, cinema therapy efektif untuk meningkatkan resiliensi siswa SMP kelas akselerasi.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Sembel (2016) dengan judul “Peningkatan Resiliensi Siswa melalui Bimbingan Kelompok dengan Teknik Peer Group pada Siswa Kelas VIIIA SMP 2 Sukolilo Pati Tahun Pelajaran 2014/2015.

(32)

Siswa yang menjadi subjek penelitian ini adalah 9 siswa kelas VIII SMP 2 Sukolilo Pati Tahun Pelajaran 2014/2015. Hasil penelitian pada siklus I pertemuan pertama peneliti mendapatkan skor 36 kategori (Kurang), pertemuan kedua mendapatkan skor 47 kategori (Kurang), pertemuan ketiga 51 kategori (Cukup). Aktivitas siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok pada siklus I pertemuan pertama 15,6 (39%) kategori (Kurang), pertemuan kedua 19,8 (49%) kategori (Kurang), pertemuan ketiga 22,6 (56%) kategori (Cukup). Aktivitas siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok pada siklus II pada pertemuan pertama 26,7 (67%) kategori (Cukup), pertemuan kedua 30 (76%) kategori (Baik), pertemuan ketiga 36 (89%) kategori (Sangat Baik). Artinya, resiliensi siswa dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok teknik Peer group dapat diterima karena telah mencapai indikator keberhasilan.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Machshushoh (2018) dengan judul “Efektivitas Teknik Cinema Therapy Dalam Bimbingan Kelompok Untuk Meningkatkan Perilaku Prososial Pada Siswa Kelas XI Smk Al Asyariyah Prambon Tahun Pelajaran 2018/2019”. Subjek penelitian 8 orang siswa kelas XI SMK Al Asyariyah Prambon yang memiliki perilaku prososial rendah. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji-t dengan bantuan software IBM SPSS 23.0, hasil uji-t menunjukan nilai sig. (2-tailed) 0,000 < 0,005 dan nilai thitung sebesar 16,717 > ttabel 2,365. Artinya, cinema therapy dalam bimbingan kelompok efektif untuk mengatasi perilaku prososial rendah pada siswa kelas XI SMK Al Asyariyah Prambon.

F. Hipotesis

Menurut Sugiyono (2016: 64) “hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian”. Adapun hipotesis yang dirumuskan adalah:

1. Hipotesis Penelitian

“Bimbingan kelompok berbasis cinema therapy efektif untuk meningkatkan resiliensi pada siswa”.

(33)

Hipotesis statistik disebut juga hipotesis nol (Ho). hipotesis nol menyatakan tidak adanya pengaruh X terhadap Y. sedangkan hipotesis alternatif (Ha) menyatakan adanya pengaruh X terhadap Y. Rumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ho : μ 1 = μ2 Bimbingan kelompok berbasis cinema therapy tidak efektif untuk meningkatkan resiliensi siswa.

Ha : μ 1 ≠ μ2 Bimbingan kelompok berbasis cinema therapy efektif untuk meningkatkan resiliensi siswa.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pemahaman diri itu mereka lebih rela menerima dirinya sendiri dan lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya, selain itu dalam layanan bimbingan

12 Prinsip tersebut penting dalam sebuah pembuatan film animasi, dalam film animasi pendek ”Oejank Boxing”, tidak semua prinsip akan digunakan, tetapi prinsip yang dirasa

Relawan Demokrasi melakukan sosialisasi politik yang merupakan bagian dari upaya peningkatan partisipasi pemilu, dimana pemilu merupakan bagian penting dalam sistem

Berdasarkan hasil pengamatan, peneliti dapat melakukan refleksi karena bagian ini sangat penting dimana seorang peneliti bisa mengamati, mengetahui, menganalisis semua

Bagian penting lain yang mendukung program adalah perangkat lunak yang digunakan dalam mengeksekusi program aplikasi serta sistem operasi yang akan digunakan

Merode eksperimen dengan one group pre-test and post-test design digunakan untuk melihat pengaruh dari pemanfaatan cinema therapy dalam bimbingan kelompok untuk

SMASH adalah alat yang digunakan untuk mengetahui detak jantung dan suhu tubuh dari pengguna dimana digunakan untuk mengetahui kondisi dari pemakai tersebut

Dalam konteks layanan helping, konseling itu merupakan suatu bantuan yang diberikan oleh seorang konselor yang terlatih pada individu (bisa 1 orang atau lebih) yang mengalami