MAKALAH ETIKA BISNIS DAN PROFESI
KISRUH BANK GLOBAL
PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TAHUN AJARAN
2014
DISUSUN :
ABDI RAHMAN C1C112040 ANA RISDIANA C1C112136 ANDREA ZULKAPRIADI S C1C112130 BILLY RIBUAN C1C112062 DIMAS NADIARSYAH C1C112132 ELLYTA HERLYA NORTY C1C112222 FAISAL NOR AKBAR C1C112064 GT.WAHYU HIDAYAT C1C112142 ISRO MULLAH C1C112228
MAHMUDI C1C112120
MARTASIAH C1C112232
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Karena atas rahmat dan karunia jualah kami dapat menyeselasikan makalah ini yang berjudul “Kisruh Bank GLobal“ tepat pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini merupakan tugas “ Etika Bisnis dan Profesi“.
Makalah ini merupakan sebuah sarana pembelajaran dan sebuah inovasi pembelajaran dan pengembangan wawasan tentang segala sesuatu yang dapat berguna dan dapat menjadi bahan ajar bagi para mahasiswa.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr.Wahyudin Nor, SE, MSi,Ak selaku dosen pembimbing mata pelajaran Etika Bisnis dan Profesi atas segala bimbingannya dan pengarahannya selama ini hingga terjadinya penyusunan makalah ini. Serta tidak lupa kami mengucapkan kepada seluruh pihak yang ikut membantu dan berperan serta baik tenaga, materil dan moral dan tentunya kepada semua pihak yang telah memfasilitasi dalam pengerjaan makalah ini.
Kami pun juga menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan bahkan penuh dengan kekurangan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan tanggapan, saran, dan kritikan yang membangun kepada kami yang bertujuan agar kami dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam makalah ini agar dimasa datang akan jauh lebih baik lagi.
Banjarmasin, 26 November 2014
DAFTAR ISI
Kata Pengantar……….. Daftar Isi……….……
BAB I
Pendahuluaan………
1.1 Latar Belakang………... 1.2 Rumusan Masalah..……… 1.3 Tujuan Penulisan………
BABII
Tinjauan Pustala………
BAB III Pembahasan
3.1 menjelaskan secara singat tentang Bank Global ………... 3.2 menjelaskan tentang Surat berharga dan manipulasi data Laporan Keuangan ……… 3.3 menjelaskan tentang Bank Global dan pengawasan khusus ……… 3.4 menjelaskan tentang penjualan reksa dana siluman ………. 3.5 menjelaskan tentang pencabutan izin Usaha ……… 3.6 menjelaskan tentang Nasib Nasabah dan Nasib Pemegang Obligasi ……... 3.7 menjelaskan tentang tindakan kepada Auditor Bank Global ……….. 3.8 menjelaskan tentang hukuman untuk karyawan ………...
BAB IV
Simpulan……….
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Unit Khusus Investasi Perbankan (KUIP) Bank Indonesia (BI) pada hari sabtu, 11 Desember 2004, menerima SMS (short message service) dari nomor yang tidak dikenal yang mengabarkan rencana manajemen Bank Global untuk memusnahkan dokumen. Bank Indonesia langsung mengirimkan tiga orang pemeriksa menuju Gedung Menara Global di Jalan Gatot Subroto. Di gedung ini, terdapat kantor pusat Bank Global. Di sana, mereka mengamati gedung tersebut dari jembatan penyeberangan yang berada di depan gedung. Mereka melihat ada hal-hal yang mencurigakan. Gedung yang biasanya gelap gulita tampak terang benderang hingga dini hari. Beberapa mobil keluar masuk kantor sejak Sabtu hingga Minggu keesokan harinya yang menandai kesibukan di kantor tersebut. Puncaknya adalah ketika sebuah mobil pickup dan satu truk memasuki pelataran Menara Global pada hari Minggu.
Menjelang Magrib, beberapa orang terlihat memasukkan tumpukan dokumen ke dalam dua mobil tersebut. Menyaksikan gelagat tidak baik, tim BI mulai mendekat. Sekitar pukul 23.00 WIB, mereka memasuki lobi. Namun tiba-tiba, listrik dipadamkan oleh pihak pengelola.
Melihat situasi semakin memanas, salah seorang “komandan” tim BI maju ke depan, Ia memperkenalkan dirinya sebagai Nur Cahyo, Deputi Pemeriksa Perbankan di BI. Ia ingin bertemu dengan Irawan Salim. Irawan Salim adalah Direktur Utama Bank Global. Taktik itu berhasil, Setelah satpam kontak “ke sana ke sini”, tim BI dipersilahkan masuk gedung. Kedua mobil itu pun mengurungkan rencana mereka untuk pergi.
Pada Senin pagi, Tim BI menelepon Komisaris Bank Global guna meminta dukungan. Setelah komisaris tiba, petugas kepolisian dan Bi dapat masuk ke lantai 3, 26 dan 28. DIlantai 3, mereka menemukan beberapa kantong berisi serpihan dokumen yang sudah dihancurkan teronggok disalah satu pojok, Sayangnya, tidak ada satu pun pejabat Bank Global yang terlihat.
Tim BI lantas menuju lantai 26. Lantai ini hanyalah lantai transisi menuju lantai 28 karena lift digedung tersebut hanya sampai pada lantai 26. Pada saat embuka pintu ruangan yang menyerupai aula di lantai 28, mereka menemukan delapan orang penjabat Bank Global itu. Mereka adalah Direktur Budijono, dan para karyawan, antara lain Demitrius Nugraba Ramaun, Popi Wimanjaya, Iwan Harsono, Lie Hadiyanto, Toni Simanjuntak,Arief Kurniadi, dan Yupiter Budiman. Kedelapannya kemudian ditahan polisi.
dihadapan pejabat BI, Ketiga, telah melakuakn tinfdak pidana dalam bidang perbankan dengan merusak dan berupaya untuk menghilangkan dokumen atau berkas warkat bank.
Selama ini, Bank Global oleh para pengawas dan pemeriksa BI disebut sebagai bank kurang baik. Hal ini karena manajeman bank tersebut melakukan perlawanan atas periksaan BI. Mereka berupaya untuk menghalang-halangi pemeriksaan BI. Mereka bahkan terkesan menekan jika pengawas BI dating untuk memeriksa guna melakukan pengawasan. Pusat pelaporan dan Analisi Transaksi Keuangan (PPATK) juga mengklasifikasikan Bank Global sebagai bank yang tidak kooperatif karena tidak pernah melaporakan transaksi keuangan yang mencurigakan. Keberanian Direksi Bank Global selama ini karena memperoleh perilndungan dari sejumlah pihak penjabat pemerintah.
Keesokoan harinya, Polisi berhasil menangkap dua orang karyawan Bank Global, Abeng dan Maksum, pada saat polisi menyisir Kanotr Bank Global pukul 23.20 WIB. Keduanya ditangkap saat berusaha untuk melarikan uang tunai sebesat Rp16,5 miliar dari sejumlah dokumen penting.
Polisi mengumumkan bahwa mereka masuh memburu Direktur Utama Irawan Salim, Direktur Rico Santoso dan seorang pemimpin bank lainnya dengan jabatan yang belum jelas, yaitu Steven alias Stevanus berhasil ditangkap pada Kamis malam. Ia ternyata adalah salah satu anggota tim audit Bank Global yang diketahui turut menghitung uang sebesar Rp16,5 miliar yang kemudaian disimpan diruang mesin dilantai 28 Gedung Bank Global.
Pada Kamis pagi, polisi menyatakan bahwa Direkur Utama Bank Glonal, Irawan Salim dipastikan telah berada diluar negeri. Kepastian ini berdasarkan hasil sementara penyelidikan poliusi dan keterangan Juan Felix Tampubolon, penasihat hokum Irawan yang datng ke Kantor Bandan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia.
disebuah kanotr travel pada 10 Desember, Ia kemudian berangkat pada hari sabtu, tanggal 11 Desember pukul 06,25 dengan nomor penerbangan SQ 151. Kepolisian menduga bahwa Irawan Salim sudah keluar dari Indonesia. Mereka akan mengupayakan melalui jalur Interpol.
Sementara itu, polisi juga menyelidiki Rico Santoso melalui kantor biro perjalanan dan kantor imigrasi Bandar udara. Berdasarkan keterangan beberapa saksi, termasuk tersangka yang ditahan, Rico merencanakan untuk meninggalkan Indonesia. Akna tetapi, dari keterangan saksi ada fakta bahwa tangga 12 Desember, ia masih berada di Jakarta. Jadi pihak kepolisian masih mencari di Jakarta.
Juan Felix Tampubolon mengatakan bahwa Irawan Salim berangkat ke Amerika Serikat pada hari Minggu untuk tujuan menemui investor guna menambah modal di Bank Global. Hal tersebut sudah pernah di bicarkan dengan BI bahwa Bank Global diberi watu selama enam bulan untuk mencari investor. Menutur Irawan, investor itu sudah ada dan sekarang dalam tahrap perundingan.
Irawan, melalui Juan juga membatah tudingan bahwa Bank Global bersikap tidak kooperatif dengan menghilangkan barang bukti. Mereka hanya melakukan pemilahan dokumen lama, yakni dokuneb tahun 200,2001, dan 2002 untuk dipindahkan kekantor cabang Bank Global. Pemilahan dokumen itu merupakan bagian dari pelaksanaan rapa Bank Gloabldengan BI pada hari Jumat, 10 Desember.Keputusan dari Rapatr tersebut adalah Bank Global akan kembali menghadap BI pada hari senin dengan membawa dokumen lengkap. Oleh karena itu, setelah rapat, pihak Bank Global memilah-milah dokumen.
1.2 Rumusan Masalah
Setelah mengetahui akan latar belakang yang terdapat dalam makalah ini, dapat di jelaskan rumusan masalah yang akan disajiakan yaitu sebagai berikut :
1.2.2 Untuk mengetahui tentang Surat berharga dan manipulasi data Laporan Keuangan ?
1.2.3 Untuk Mengetahui tentang Bank Global dan pengawasan khusus ? 1.2.4 Untuk Mengetahui tentang penjualan reksa dana siluman ?
1.2.5 Untuk mengetahui tentang pencabutan izin Usaha ?
1.2.6 Untuk mengetahui tentang Nasib Nasabah dan Nasib Pemegang Obligasi?
1.2.7 Untuk mengetahui tentang tindakan kepada Auditor Bank Global ? 1.2.8 Untuk mengetahui tentang hukuman untuk karyawan ?
1.3 Tujuan Penulisan
Dari Rumusan masalah yang disajikan pada makalah ini, dapat ditarik tujuan akan penulisan makalah ini, yaitu sebagi berikut :
1.2.1 Untuk menjelaskan secara singat tentang Bank Global
1.2.2 Untuk menjelaskan tentang Surat berharga dan manipulasi data Laporan Keuangan
1.2.3 Untuk menjelaskan tentang Bank Global dan pengawasan khusus 1.2.4 Untuk menjelaskan tentang penjualan reksa dana siluman
1.2.5 Untuk menjelaskan tentang pencabutan izin Usaha
1.2.6 Untuk menjelaskan tentang Nasib Nasabah dan Nasib Pemegang Obligasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bank merupakan lembaga yang beroprasi dengan berlandaskan kepercayaan. Fungsi utama dari bank adalah menghimpun dan menyalurkan kembali kepada masyarakat. Oleh karena itu bank sangat berperan dalam pembangunan suatu negara. Tutupnya sebuah bank dapat menyebabkan contalan atau domino effect pada bank lainnya dan menurunkan kepercayaan masyarakat.
PT Bank Global International Tbk merupaan salah satu bank yang dicabut izin usahanya pada tanggal 31 januari 2005 karena penurunan kinerja secara drastic yang ditandai dengan CAR bank sebesar -39,11 % dan bank tidak dapat melakukan langkah-langjah perbaikan untuk meningjatkan CAR menjadi menimal sebesar 8%.
Fungsi pengawasan dan pembinaan bank berada pada Bank Indonesia dan kinerja dari suatu bank sepenuhnya merupakan tanggung jawab dari manajemen bank tersebut. Permasalahn bank Gloabal dapat diketahui melalui pemeriksaan oleh Bank Indonesia dan Bapepam.
Koordinasi antara Bank Indonesia dan Bapepam sebagai 2 otoritas pengawas yang berbeda mutlak diperlukan dan perlu ditingkatkan karena perkembangan produk-produk perbankan dan Bapepmam dipasar.Selain itu keuda otoritas tersebut memiliki 2 are kewenangan yang berbeda. Kordinasi tersebut perlu dituangkan dalam suatu kerja sama berupa memorandum of understanding agar proses koordinasi dapat berjalan dengan efektif dan tepat waktu sehingga permasalahan dan tindak lanjut terhdap pihak bank dapat didektesi dan dilakuakn lebih dini
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Bank Global
PT. Bank Global International Tbk, didirikan berdasarkan akta Notaris Misahardi Wilamarta, S.H, nomor 351, tanggal 22 agustus 1992 bergerak dalam bidang usaha jasa perbankan dan mempunyai status sebagai bank umum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No.1212/KMK.017/1992 tanggal 23 november 1992. Bank mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 18 desember 1992, Pemegang saham bank adalah sebagai berikut :
Lawu Budhin 85% Hendra Setiawan 10% Imam Munadar 5%
Bank Global telah memperoleh ISO 9001 dari badan international pada bulan September 1992 sehingga semua prosedur kerja dari operasi sampai dengan kredit telah distandardisasi. Kegiatan Bank Global secara garis besar adalah menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk pemberian kredit. Dalam menghimpun dana masyarakat, perseroan menyediakan sarana investasi melalui rekening giro, tabungan, deposito berjangka, dan sertifikasi deposito. Sementara itu, pemberian kredit dilaksanakan dalam bentuk kredit modal kerja, kredit investasi, kredit usaha kredit (KUK), kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit umum lainnya, serta menyediakan jasa perbankan, seperti Global Gold Personal Banking, kartu ATM Global dan safe deposit box.
Berbeda dengan kebanyakan bank, Bank Global International berhasil melewati krisis ekonomi 1998. Berdasaarkan hasil due diligence dari auditor international, Bank Global masuk dalam kategori A, yaitu bank dengan kecukupan modal yang memenuhi syarat.
Bank Global beberapa kali memanfaatkan pasar modal untuk memperoleh dana. Berturut-turut Bank Global melakukan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD-right issue) pada tahun 1999, menerbitkan obligasi tahun 2000 kembali melakukan HMETD dan obligasi subordinasi tahun 2003. Pada tahun 2003, struktur pemilik saham Bank Global adalah sebagai berrikut:
Publik 78,78%
PT.Interned Pharmatama 11,51% PT Permata Prima Jaya 9,09% Irawan Salim 0,62%
Irawan Salim telah menjadi Direktur Utama Bank Global sejak tahun 1996. Bankir kelahiran 1956 ini lama berkertja untuk Citibank. Ia mengawali kariernya di Kanada tempat ia menempuh pendidikannya pada McGill University dan York University. Ia berkerja sebagai project consultant (konsultan proyek) pada Citibak Kanada tahun 1983. Ia lalu diangkat menjadi vice president (wakil presiden direktur) pada Citibank Jakrta selama tujuh tahun, dari 1985 sampai dengan 1992. Kemudian, ia menjadi konsultan pada bank-bank asin g sebelum akhirnya menjadi Direktur Utama Bank Global.
3.2 Surat Berharga Fiktif dan Manipulasi Laporan Keuangan
Pada tanggal 11 Agustus 2004, Bapepam menyatakan hasil pemeriksaan menunjukan jumlah obligasi pada posisi 31 Desember 2003 hanya sebesar Rp.207 miliar, berbeda dengan laporan keuangan Bank Global tanggal 31 De3sember 2003 yang menyatakan jumlahnya sebesar Rp.1,13 triliun. Perbedaan ini sangat signifikan karena total asset Bank Global sendiri per 31 Desember hanya sebesar Rp.2,27 triliun
Menurut hasil pemeriksaan Bapepam, pelaporan surat berharaga fiktif Bank Global dilakukan dengan melakukan pencatatan berberapa kali atas obligasi yang sama. Sebagai contoh Bank Global saat ini memiliki obligasi sebesar Rp.200 miliar diperusahaan efek A yang juga berlaku seolah-olah sebagai bank kustodian. Kemudian, obligasi tersebut dijual kepada perusahaan efek B yang pembelinya adalah Bank Global juga. Ketioka obligasi A tersebut dijual kepada perusahaan B, catatan kepemilikan obligasi Bank Global di perusahaan efek A tetap dibiarkan sehingga pencatatan obligasinya menjadi Rp.200 miliar diperusahaan A dan Rp.200 miliar diperusahaan efek B.
3.3 Bank Global Dalam Pengawasan Khusus
Pada tanggal 20 Oktober 2004, Bank Global ditempatkan dalam pengawasan khusus Bank Indonesia (special surveillance unit) selama enam bulan karena rasio kecukupan modal (capital adequancy ratio-CAR)nya menurun dibawah syarat menimal yang ditetapkan oleh BI, yaitu 8%. Penurunan ini begitu tiba-tiba karena sebulan sebelumnya Bank Global masih melaporakan CARnya sebesar 44,8 persen.
3.4 Penjualan Reksa Dana Siluman
Pada akhir bulan November 2004, terjadi keresahan pada nasabah Bank Global baik pemilik deposito maupun reksa dan Prudence Dana Mantap. Mereka tidak dapat mencarikan dananya dan diminta untuk memperpanjang satu bulan karena masalah administrasi Nasabah tidak mempunyai pilihan lain.
Pada tanggal 30 November 2004, manajemen Bank Global akhirnya menyediakan waktu uintuk bertemu para nasabah . Sekitar dua puluh nasabah dating ke Menara Global sejak pagi. pErtemuan yang baru terlaksan menjelang siang berlangsung dengan panas dan tegang. Manajemen menjelaskan bank dalam kondisi sehat. Manajemen kembali mengulang penjelasan bahwa ada masalah administrasi yang menyebabkan nasabah belum dapat mencairkan dananya. Bukan karena bank tidak mempunyai dana, melainkan nasabah menuntut kepastian , kapan pembayaran dilakukan.
Keresahan ini menerik perhatian Bapepam. Mereka melayangkan surat panggilan kepada manajemen Bank Global untuk meminta penjelasan. Panggilan ini tidak dipenuhi oleh Bank Global sehin gga Bapepam meninta penjelasan dari PT prudence Asset Management. Direksi PT Prudence Asset Management kemudain menjelaskan bahwa mereka tidak pernah menjual produk reksa dananya melalui Bank Global.
Direksi Bank Global lalu juga membantah menjual reksa dana. Ada dua dalih yang mereka gunakan. Pertama, penjualan reksa dana dilakukan oleh okmum karyawan Bank. Kedua,Produk tersebut sebenarnya adalah deposito. Mereka menawarkan hadiah handphone kepada nasabah yang bersedia untuk mengundurkan waktu jatuh tempo. Setelah sepakat mengikuti program dan menerima handphone,
nasabah berubah pikiran dan tetap ingin mencairkan dananya. Akibatnya, terjadi perselisihan antar nasabah dan pegawai bank.
terdapat nomor produk dan nama pemilik beserta alamatnya. Disamping kanan blanko produk, tertera tanggal penempatan dana, tingkat pengembalian,. dan jangka waktu produk. Pada bagian bawah ada catatan yang meyebutkan bahwa nota ini adalah bukti penempatan invcestasi yang dilakukan secara elektronik dan ditandatangani. Namun, pada lembar kedua tidak ada kalimat akan menyetorkan dana ke rekening dari manajer investasi tertentu melalui suatu bank kustodin. Justru pada lembar tersebut terdapat pernyataan akan membuka rekening deposito pada Bank Global
Bedasarkan penelusuran Bapepam ditemukan bahwa Bank Global mulai menawarkan produk reksa dana Prudence Dana Mantap pada bulan mei 2004. Produk ini dikemas seperti deposito dengan bunga yang menarik, yaitu sebesar 12% per tahun dengan tenggang waktu jatuh tempo dapat diatur per bulan. Pnerbitan reksa dana tersebut seolah-olah melalui kerja sama dengan PT prudence Asset Management dan Deutsche Bank sebagai bank kustodin. Dana hasil penjualan tersebut diambil alih oleh pemilik atau pihak manajemen bank dan tidak pernah masuk rekening bank kustodin. Pada saat jatuh tempo, reksa dana tersbut kemudian dikonversi menjadi deposito dan medium term note agar masuk ke dalam program penjaminan. Produk reksa dana tersebut diiringi oleh berberapa penyimpangan yang terkait dengan hubungan antara nbank kustodin dan manajemen asset.
Sehubungan dengan keresahan yang terjadi, Bi akhirnya mengumumkan bahwa Bank Global memang sedang menghadapi permasalahan dan masuk dalam pengawasan khusus BI. Irawan semula membantah banknya masuk dalam pengawasan khusus dan CARnya anjlok hingga dibawah delapan persen. Namun, belakangan ia mengaku akan memanfaatkan waktu yang tersedia untuk manambah modal. Ia merencanakan untuk menerbitkan saham baru sebesar Rp500 miliar dan obligasi senilai Rp400 miliar. Tambahan dana sebesar 900 mikliar itu menurut Irawan dapat membuat CAR banknya bertahan di kisaran 30-40 persen.
saham dan obligasinya. Selain itu, pada saat ini, Mayoritas saham bank Global ada ditangan public. Dengan melakukan HMETD dan menerbitkan surat utang, manajeman membebankjan masalah Bank Global kepada publik.
Satu-satunya jalan yang paling masuk akan adalah pengunduran diri Irawan Salim dan penjualan sahamnya kepada orang lain. Jika tidak, lebih baik BI menutup Bank Global sebelum menimbulkan kerugian lebih besar. Namun, Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasab Aulia Pohan, sudah memperingatkan bahwea proses menutup bank sangat berbelit-belit dan memakan biaya yang besar.
3.5 Pencabuatan Izin Usaha
Pada tanggal 13 januari 2005, Bi akhirnya mencabut izin usaha PT Bank Global Internatioanl Tbk melalui Keputusan Gubernur BI Nomor 7/2/KEP-GBI/2005. Bank ini dilikuidasi karena pemiliknya dan pengelolanya tidak mempunyai iktikad baik untuk memperbaiki permodalanbya. Pencabutan izain usaha Bank Global diumumkan oleh Deputi Gubernur BI Bun Bunan Hutapea dalam jumpa pers yang dihadirti oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Lembaga Kauangan Darmin Nasution.
Bi menilai pemilik dan pengelola Bank Global tidak sungguh-sungguh memperbaiki permodalannya. Akibatnya, sejak dibekukan pada tanggal 12 Desember 2004, CAR milik bank ini tetap minus sebesar 39,11%. Penutupan bank ini terpaksa dilakuakn untuk mendukung system perbankan yang sehat yang mampu bersaing dipasar global. Bun Bunanmeminta nasabah tetap tenang karena program penjaminan masih berlaku. Menurut Bun Bunan, stelah penutupan ini , Bi akan menyelesaikan dana simpanan nasabah dan kredit yang ada di Bank Global bekerja sama dengan Unit Pelaksana Penjaminan Pemerintah (UP3), Departemen Keuangan BI pun meminta karyawan bank untuk membantu dalam menangani nasabah bersama-sama UP3.
dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) . Darmin menyartakan bahwa pemerintah hanya akan menjamin dana nasabah yang tidak bermasalah setelah diverifikasi oilehj BPKP.DPK dianggap bermasalah jika bunga yang diberikan melebihi tingakat bunga penjaminan yang dikeluartkan oleh BI atau nasabah mempunyai kredit di bank ini. Selain itu, simpanan pihak terkait dengan bank, seperti pemilik bank, pengurus, dan keluarganya tidak termasuk dalam penjaminan. Reksa dan juga tidak masuk dalam program penjaminan karena bukan produk perbankan. Reksa dana merupakan produk pasar modal melaui manajer investasi.
Berdasarkan data sampai dnegan kemarin, DPK yang dimiliki oleh bank sebear Rp739 miliar. Dana itu terdiri atas gira sebesar Rp3 miliar, tabungan Rp33 m ilair , dan deposito Rp724 milar. Sementara itu,asset dari pihak bank yang sudah berhasil di data oleh BI nilainya masih jauh dibawah DPK. Kekurangan sekitar Rp300 miliar . Oleh karena itu , bank sentral kini terus menerus mengejar aset-aset pribadi pemilik bank.
3.6 Nasib Nasabah
Verifikasi rekening tabungan, giro dan deposito nasabah Bank Global ternyata jauh lebih sulit dari yang diperkirakan karena diduga ada rekayasa atas rekening tersebut oelh pemilik bank. Rekening nasabah tersebut dilalui aliran dana dari berberapa rekening giro nasabah lain, tanpa disertai dengan aliran dana masuk ke bank. Oleh karena itu, tim likuidasi haruis memeriksa dan mengurutkan satu persatu kebenaran setiap catatan pemondahbukuan tersebut.
dengan niulai Rp274,50 miliar dan bukan simnpanan non-DPK sebanyak 123 rekening dengan nilai sebesar Rp503,67 miliar.
`Darmin Nasution menjelaskan bahwa ada tiga model aliran dana dalam kewajiban Bank Global yang tidak dapat disimpulkan. Pertam, aliran dana tidak normal dimana ada keterlibatan nasabah dalam modus operandinya, terutama untuk mengeluarkan dana dari rekeningnya kemudian disalurkan untuk kepentingan investasi pada produk bukan bank. Kedua, aliran daa yang merupakan variasi modus operadi pertama, yaitu hanya sebagian dana rekening yang ditarik untuk investasi pada produk bukan bank itu(reksa dana). Ketiga, aliran dana terkait degan setoran sertifikasi deposito. Darmin Nasuion selanjutnya menjelaskan bahwa department keunagan akan menerima arahan Presiden untuk usulan penyelesaian kewajiban Bank Global yang dianggap memperluka upya penyelesain lebih lanjut terkait dengan aliran dan tidak normal.
Setelah lebih dari setahun berusah tanpa hasil, sebanyak 136 orang nasabah menggunakan jalur hukum untuk memperjuangkan haknya. Mereka menggugat Kemenkeu melalui pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta pada tanggal 2 Maret 2007. Gugatan tersebut sebagain dikabulkan melalui putusan tanggal 12 Juli 2007 yang mewajbkan Kemenkue mengeluarkan Surat Keputusan untuk melakukan pembayaran berdasarkan Program Penjaminan Pemerintah atas seluruh dana dimpanan sebanyak 136 orang penggugat tersebut dengan besaran jumlah sebagaiman tercantum dalam buku tabungan, bilyet deposito berjangka , dan giro rekening atas nama mereka dikabulkan. Pada akhirnya setelah menempuh seluruh upaya hokum dan menemui kegagalan, Kemenkue tetap tidak membayar dana simpanan para nasabah Bank global.
Nasib Pemegang Obligasi
demikian kewajiban terhadap kreditur junior terpenuhi. Oelh karena itu, pemilik obligasi Bank Global harus siap-siap kehilangan investasinya.
Sebagiman halnya dengan nasabah Bank global, permasalhan obligasi subdinasi Bank global masih bertlanjut hingga tahun 2007 pada saat muncul gugatan dari empat investor obligasi, yaitu PT Insight Investments, PT Insight Investments Managemnet, Dana Pensiun Perumas dan Dana Pensiun Krakatau Steel.Mereka menggugat Bank Global dan enam belas pihak lainnya, yaitu Komisaris dan Direksi Bank Global, Kauntan Publik, Lembaga Pemerikat Efek, Konsultan hokum, notaries, penjamin pelaksana emisi efekm hingga PT Bank Niaga, Tbk sebagai wakil amanat.
Setelah menjalani persidangan selama dua tahun, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akhirnya memenangkan gugatan empat perusahaan pemegang obligasi subordinasi terhadap PT Bank Global Internatioan Tbk, Bank yang sudah likuidasi ini harus membayar ganti rugi secara tanggng rentan sebesar Rp7 miliar kepada para penggugat.
Majelis hakim memutuskan bawwa Bank Global berserta jajaran direksi, komisaris dan akuntan publik telah menyampaikan informasi tidak benar tentang peringkat Bank Global dan obigasi yang diterbitkannya yang menimbulkan kerugian bagi para pemegang obligasi. Namun, majelis hakim menilai, lima gugatan lainnya tidak terbukti melakuakn perbuatan melawan huku, Kelima gugatan tersebut itu yakni, dua kantor konsultant hukum, notaries, pemeringkat Moodys Indonesia, dan Bank Niaga selakuy wakil amanat. Majelis hakim menganggap bahwa kelima gugatan sudah bertindak professional dan melakukan perkerjaan sesuai dengan kapsitasnya.
Kedua belah pihak tidak puas dengan putusan hakim dan meyatakan banding. Pihak Bank Global mempermasalahkan putusan hakim yang tidak mempertimbangkan soal bukti piutang obligasi. Sementara itu, pihak penggugat tidak puas karena hokum menyatrakan dua tergutat, yaitu Moody’s Indonesia dan Bank NIaga tidak bersalah.
Tidak lama seteklah pencabutan izin Usaha Bank Global, Darmin Nasution mengumumkan pembekuan izin Akuntan Punblik Drs.Joseph Susilo beserta Kantor Akuntan Publiknya selam 24 bulan terhitung mulai tanggal 14 Januari 2005,. Akuntan Publik yang melakuakn audit terhhadap laporan keuangan Bank Global tahun 2003 tersebut dinyatakan bersalah.Darmin menjelaskan “dari hasil pemeriksaan, akuntan public ini menyalahi prosedur standar audit seluruhnya. Namun, dia melakuakan beberapa kesalahan sehingga tidak dicabut izinnya, hanya dibekukan sementara sekitar dua tahun.
Menurut Darmin, setiap akuntan public yang melakuakn penyimpangan prosedur namun masih mengikuti beberapa standar prosedur tidak akan dicabut izinnya. Namun apabila akuntan public akuntan public yang bersangkutan benar-benar tidak memedulikan standar keuanagn maka, akan di cabut izinnya.
Darmin Mengatakan bahwa saai ini pihaknya sedang memeriksa akuntan public yang menaangani laporan keuanagn Bank Global tahun 2002. Ia menjelaskan, “sebenarnya tidak ada laporan untuk melakuakn pemeriksaan terhadap akuntan public laporan keuangan Bank Gloabal tahun 2002, akuntan public diperiksa dalam rangka pemeriksaan regular yang dilakuakn oleh Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan.
Tiga tahun kemudian, pada tahun 2008, menteri Keuangan membekukan izin kauntan Publik Drs. Thomas Igumna selama du belas bulan, Thoimas Iguna dinilai telah melakuakn pelanggaran terhadap Standar Auditing dan Datnadr Profesional Akuntan Publik dalam pelaksanaan audit atas laporan keuanagn PT.Bank Global International Tbk, untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2002.
3.8 Hukuman Untuk Karyawan
BAB IV SIMPULAN
PT Bank Global International Tbk, berdiri berdasarkan akta Notaris Misahardi Wilamarta, SH. Pada tanggal 22 Agustus 1992 yang bergerak di bidang usaha jasa perbankan. Bulan agustus 2004, hasil pemeriksaan Bapepam menunjukkan bahwa posisi jumlah obligasi akhir tahun 2003 hanya sebesar Rp207 miliar berbeda dengan laporan keuangan Bank Global tanggal 31 Desember 2003 sebesar Rp1,13 triliun. Perbedaan ini sangat mengejutkan karena total asset Bank Global per 31 Desember hanya sebesar Rp2,27 triliun. Hasil pemeriksaan Bapepam juga mneyebutkan bahwa Bank Global telak melakukan berberapa kali pencatatan atas obligasi yang sam dengan memberiarkan bahwa nilai obligasi masih dalm kepemilikan si pemilik.
Pada bulan November 2004, nasabah Bank Global mengalami keresahan baik pemilik deposito maupun reksa dan Prudence Dana Mantap karena nasabah tidak bias mencairkan dananya serta diminta pihak Bank Global untuk memperpanjang satu bulan. Manajemen Bank Global menjelaskan bahwa pihak bank ada masalah administrasi sehingga pencairan dana masih belum terlaksana, bukan karena Bank Global tidak ada dana. Akhirnya pihak Bapepam mengeluarkan suart panggilan untuk manajemen Bank Global guna meminta keterangan tetapi panggilan tersebut tidak juga dipenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
apbusinessecthic.blogspot.com/2014/03/tugas-1-kelas ppak 2014 kasus.html? m=1#comment-form.