• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemodelan Data Curah Hujan di Kabupaten Simalungun Dengan Metode Arima Box-Jenkins Chapter III IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemodelan Data Curah Hujan di Kabupaten Simalungun Dengan Metode Arima Box-Jenkins Chapter III IV"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

PEMBAHASAN

Data yang dianalisa dalam penelitian ini adalah data curah hujan di Kabupaten

Simalungun pada Juli 2012 – Juni 2017, dapat dilihat pada Tabel 3.1 sebagai berilkut:

Tabel 3.1 Data Curah Hujan di Kabupaten Simalungun

CURAH HUJAN(MM)

Sumber : Badan Pusat Statistika(BPS) Provinsi Sumatera Utara

3.1 Pengujian Data

3.1.1 Uji Musiman

Untuk melihat pengaruh musiman dilakukan uji musiman sesuai pada landasan

(2)
(3)

Untuk mencari nilai JK dalam kelompok digunakan rumus sebagai berikut:

(4)

Untuk mencari jumlah kuadrat dalam kelompok dilakukan perhitungan dengan

(5)

Kemudian akan disusun dalam tabel ANAVA

Dari daftar distribusi F dengan dk pembilang 4 dan dk penyebut 55 untuk α = 0,05 diperoleh F tabel = 2,54 sehingga tolak karena F hit < F tabel artinya data

tidak dipengaruhi musiman.

Diperoleh nilai koefisien autokorelasi data curah hujan sebagai berikut:

(6)

Dengan cara yang sama, nilai –nilai koefisien autokorelasi data curah hujan dapat diperoleh seperti pada lampiran

3.2 Analisa Data Curah Hujan

Model ARIMA mengasumsikan data yang digunakan stasioner terhadap varians

dan means, oleh sebab itu tahap awal pembentukan model ARIMA adalah

memeriksa stasioneritas data terhadap varians dan means. Time series plot data

curah hujan Kabupaten Simalungun ditampilkan pada gambar berikut :

Gambar 3.1 Time seriesplot Data Curah Hujan di Kabupaten Simalungun

Time series plot data curah hujan Kabupaten Simalungun tidak stasioner terhadap

varians. Hal ini terlihat dari fluktuasi data yang tidak stabil. Untuk lebih jelasnya

(7)

Gambar 3.2 Box-Cox Plot Data Curah Hujan Kabupaten Simalungun

Berdasarkan box-cox plot pada Gambar 3.2 diketahui nilai  tidak sama dengan 1

dan batas atas dan batas bawah nilai rounded value () tidak melewati nilai 1,

sehingga disimpulkan bahwa data yang digunakan belum stasioner terhadap

varians. Sebagai penanggulangan terhadap ketidakstasioneran data terhadap

varians, perlu dilakukan transformasi box-cox. Transformasi dilakukan

berdasarkan nilai  yang diperoleh. Nilai  yang diperoleh adalah sebesar 0.50,

sehingga data ditransformasi dengan T(Zt) = (Zt)0.50.

Gambar 3.3 Box-Cox Plot Data Curah Hujan Kabupaten Simalungun

(8)

Setelah melakukan transformasi, ternyata nilai rounded value () masih dibawah

1, sehingga dilakukan transformasi kembali dengan variabel yang digunakan yaitu

nilai dari transformasi pertama. Diperoleh sebagai berikut:

Gambar 3.4 Box-Cox Plot Data Curah Hujan Kabupaten Banyuwangi Setelah

Transformasi Kedua

Gambar 3.5 Time Series Plot Transformasi

Gambar 3.4 Menunjukkan bahwa data yang sudah ditransformasi memiliki

rounded value () sebesar 1 dan batas atas dan batas bawah melewati nilai satu,

sehingga dapat disimpulkan bahwa data sudah stasioner terhadap varians.

Selanjutnya dilakukan pengecekan apakah data stasioner terhadap mean. Dari time

series plot Transformasi terlihat bahwa data tidak memiliki musiman, dapat

dilihat dari grafik yang turun cepat atau naik cepat, tidak terlihat adanya grafik

yang berdekatan atau musiman. Data yang sudah stasioner terhadap mean ditandai

(9)

stasioner ditandai dengan plot ACF yang turun lambat menuju nol. Plot ACF data

in sample ditampilkan pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6 Plot ACF Curah Hujan Kabupaten Simalungun

Pada Gambar 3.5, plot ACF data curah hujan sudah stasioner terhadap mean,

terlihat dari lag yang keluar dari selang kepercayaan lebih kecil dari tiga. Oleh

sebab itu, tidak perlu dilakukan differencing atau pembedaan.

Gambar 3.7 Plot PACF Curah Hujan Kabupaten Simalungun

Dari Gambar 3.6 plot PACF data Curah Hujan sudah stasioner terhadap varians

(10)

3.3 Identifikasi Model Sementara

Dari beberapa model yang telah di coba, didapat 3 model yang diduga signifikan.

Model yang signifikan ditandai dengan nilai Probabilitas < 0,05.

Dengan bantuan software MINITAB, diperoleh estimasi parameter, plot

autokorelasi dan autokorelasi parsial sebagai berikut:

Tabel 3.3 Estimasi model ARIMA (2, 0, 2)

Parameter Estimasi Std.

Error t-Value Probabilitas Kesimpulan

AR(1) 0,9416 0,0241 39,11 0,000 Signifikan

AR(2) -1,0039 0,0275 -36,56 0,000 Signifikan

MA(1) 0,8558 0,0960 8,91 0,000 Signifikan

MA(2) -0,9617 0,0909 -10,58 0,000 Signifikan

(11)

Gambar 3.9 Plot Autokorelasi Parsial Residu ARIMA (2, 0, 2)

Tabel 3.4 Estimasi model ARIMA (3, 0, 3)

Parameter Estimasi Std. Error t-Value Probabilitas Kesimpulan

AR(1) 0,8481 0,1785 4,75 0,000 Signifikan

AR(2) -0,9145 0,1855 -4,93 0,000 Signifikan

AR(3) -0,0968 0,1732 -0,56 0,579 Tidak Signifikan

MA(1) 0,7431 0,1154 6,44 0,000 Signifikan

MA(2) -0,8614 0,0305 -28,28 0,000 Signifikan

MA(3) -0,1560 0,0994 -1,57 0,122 Tidak Signifikan

(12)

Gambar 3.11 Plot Autokorelasi Parsial Residu ARIMA (3, 0, 3)

Tabel 3.5 Estimasi model ARIMA (4, 0, 1)

Parameter Estimasi Std. Error t-Value Probabilitas Kesimpulan

AR (1) 1,1418 0,2186 5,22 0,000 Signifikan

AR (2) -0,3084 0,2077 -1,48 0,144 Tidak Signifikan

AR (3) -0,1030 0,2070 -0,50 0,621 Tidak Signifikan

AR (4) 0,2190 0,1469 1,49 0,142 Tidak Signifikan

MA (1) 0,9680 0,2279 4,25 0,000 Signifikan

(13)

Gambar 3.13 Plot Autokorelasi Parsial Residu ARIMA (4, 0, 1)

2.6Memeriksa Residual White Noise dan Berdistribusi Normal

Terdapat asumsi yang harus dipenuhi agar suatu model ARIMA dinyatakan

mampu mewakili pola data, yaitu residual white noise dan residual berdistribusi

normal. Asumsi nilai residual white noise berarti bahwa nilai residual dari model

memiliki dua sifat, yaitu identik dan independen. Sifat identik berarti varians nilai

residual bernilai konstan, semetara sifat independen berarti bahwa nilai residual

dari model tidak berkorelasi. Berdasarkan model yang didapat pada proses

sebelumnya, dihitung nilai residual dari setiap model. Nilai Residual yang

didapat dari model ARIMA dinyatakan sudah memenuhi asumsi white noise

ketika memiliki nilai autokorelasi tidak signifikan atau P-value > (0,05).

Pengujian asumsi residual white noise pada penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan uji Ljung-Box. Hasil dari pengujian nilai residual white noise

(14)

Tabel 3.6 Statistik Ljung-Box Nilai Residual Model ARIMA

Model Lag Chi-Square Df P-Value Kesimpulan

(2, 0, 2 ) 12 7,0 7 0,432 White Noise

24 16,5 19 0,622

36 28,0 31 0,621

48 32,9 43 0,867

(3, 0, 3) 12 7 5 0,185 White Noise

24 17,9 17 0,398

36 28,8 29 0,477

48 33,6 41 0,787

(4, 0, 1) 12 9,9 6 0,103 White Noise

24 26,4 18 0,091

36 40,1 30 0,103

48 45,8 42 0,316

Berdasarkan informasi dari Tabel 3.6 diketahui bahwa model ARIMA

(2,0,2), ARIMA (3,0,3), dan ARIMA (4,0,1) memenuhi asumsi white noise. Hal

ini terlihat dari nilai nilai autokorelasi nilai residual yang tidak signifikan (P-value

< 0,05). Sampai tahap ini semua model yang sudah didapat akan diuji apakah

residualnya berdistribusi normal.

Uji distribusi normal dilakukan dengan Uji Kolmogorov-Smirnov. Plot

dan hasil pengujian ditampilkan pada Gambar 3.14.

(15)

(b)

(c)

Gambar 3.14 Uji Normalitas Nilai Residual (a) ARIMA (2, 0, 2), (b) ARIMA (3,

0, 3) dan (c) ARIMA (4, 0, 1).

Berdasarkan Gambar 3.14, nilai residual ketiga model yang telah lolos uji

residual white noise juga berdistribusi normal. Hal ini diketahui dari nilai

signifikansi (P-value) yang lebih besar dari nilai (0,05). Karena ketiga model

sudah memenuhi asumsi pada model ARIMA, maka ketiga model tersebut

dinyatakan baik untuk digunakan memodelkan curah hujan di Kabupaten

(16)

3.5 Pemilihan Model ARIMA Terbaik

Pemilihan model terbaik dalam penelitian ini menggunakan kriteria MSE, RMSE

dan MAPE. Model terbaik adalah model dengan nilai MSE, RMSE, dan MAE

terkecil yang dihitung dari data out sample. Dari perbandingan nilai MSE dari

ketiga model, didapat model terbaik yaitu ARIMA (2, 0, 2)karena memiliki nilai

MSE terkecil pada data out sample. Perbandingan nilai MSE, RMSE, dan MAPE

data outsample dari ketiga model dijelaskan pada Tabel 3.7

Tabel 3.7 Perbandingan Kebaikan Model-Model ARIMA

Model ARIMA MSE RMSE MAPE

(2, 0, 2) 0,0334 0,1828 -0,0080

(3, 0, 3) 0,0433 0,2081 -0,0106

(4, 0, 1) 0,0645 0,2540 -0,0210

Berdasarkan kriteria kebaikan model yang digunakan, yaitu MSE, RMSE, MAPE,

maka diketahui bahwa model ARIMA (2, 0, 2)menghasilkan nilai MSE, RMSE,

(17)
(18)

2. Nilai RMSE

ARIMA (2, 0, 2)

ARIMA (3, 0, 3)

ARIMA (4, 0, 1)

(19)
(20)

Persamaan matematis yang dibangun dari model ARIMA (2, 0, 2) adalah sebagai

berikut:

Gambar 4.9 adalah visualisasi perbandingan hasil peramalan dan data out sampel

curah hujan di Kabupaten Simalungun.

Berdasarkan perhitungan rumus, didapatkan nilai ramalan jumlah curah hujan di

Kabupaten Simalungun pada periode ke 61 atau pada bulan Juli 2017 sebesar 141

(21)

curah hujan untuk periode 62 sampai 72 atau sampai bulan Juni 2018. Hasil

peramalan yang diperoleh ditampilkan pada Tabel 3.8.

Tabel 3.8 Nilai-nilai Ramalan Curah Hujan di Kabupaten Simalungun untuk

(22)

BAB 4

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1Kesimpulan

Dari uraian pada bab pembahasan sebelumnya penggunaan metode

Box-Jenkins dalam meramalkan curah hujan di Kabupaten Simalungun

dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Data curah hujan di kabupaten Simalungan bulan Juli 2012 sampai

Juni 2017 yang digunakan untuk meramalkan curah hujan 12 periode

ke depan memperlihatkan sifat-sifat berikut:

a. Plot data memperlihatkan bahwa data tidak stasioner

b. Plot autokorelasi parsial memperlihatkan bahwa data sudah

stasioner dengan adanya trend yang turun cepat menuju nol.

c. Dari plot time series menunjukkan dahwa data tidak memiliki

musiman, terlihat dari grafik yang tidak memiliki periode setiap lag

nya.

2. Model peramalan yang dipilih untuk meramalkan curah hujan di

Kabupaten Simalungun untuk 12 periode ke depan adalah model

ARIMA (2, 0, 2) yang mempunyai persamaan peramalan sebagai

(23)

Peramalan Curah Hujan di Kabupaten Simalungun periode Juli 2017 – Juni 2018

1. Penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan model lain yang dapat merangkum pengaruh variabel-variabel lain yang mempengaruhi curah hujan di Kabupaten Simalungun, mengingat Kabupaten Simalungun sebagai salah satu lumbung padi.

Gambar

Tabel 3.1 Data Curah Hujan di Kabupaten Simalungun
Tabel 3.2 Perhitungan Anava Uji Musiman
Gambar 3.1 Time series plot Data Curah Hujan di Kabupaten Simalungun
Gambar 3.3 Box-Cox Plot Data Curah Hujan Kabupaten Simalungun
+7

Referensi

Dokumen terkait

Peramalan Curah Hujan Dengan Menggunakan Metode Arima Box-Jenskins Sebagai Pendukung Kalender Tanam Padi di Kabupaten Bojonegoro. Surabaya : Institut Teknologi

Berdasarkan tabel 4.14 dapat disimpulkan residual data pada semua model telah memenuhi asumsi distribusi normal, karena nilai Kolmogorov-Smirnov lebih kecil dari

Berdasarkan tabel 4.14 dapat disimpulkan residual data pada semua model telah memenuhi asumsi distribusi normal, karena nilai Kolmogorov-Smirnov lebih kecil dari

19 AVHRR Dengan Data Curah Hujan Lapangan. Pengolahan curah hujan menggunakan citra NOAA-19 AVHRR dan curah hujan lapangan memberikan hasil nilai yang berbeda.Citra NOAA AVHRR

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka permasalahan yang diambil dalam penelitian ini adalah bagaimana peramalan curah hujan di Kabupaten Bojonegoro

Di sini nilai autokorelasi lag-6 berbeda secara signifikan sehingga ordo AR(1), untuk nilai koefisien autokorelasi parsial yang melebihi confidence limit yaitu pada lag-6 sehingga

Pada tugas akhir ini hanya meramalkan curah hujan bulanan yang akan datang (bulan Januari 2011–Desember 2011) dengan menggunakan data curah hujan bulanan pada bulan

Dari uji stasioner dengan ADF terhadap data curah hujan pada masing-masing event hujan diperoleh bahwa curah hujan dapat bersifat stasioner dan tidak stasioner. Pada uji