UJI KOEFISIEN KORELASI PERAN SERTA MASYA

13 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

UJI KOEFISIEN KORELASI PERAN SERTA MASYARAKAT ANTARA PERAN SERTA MASYARAKAT, URBANISASI DAN PERKEMBANGAN

KOTA

� �� � �� �� ��� � � ���

Mahasiswa Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Pasundan,shifashafira96@gmail.com

Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota – Universitas Pasundan Bandung. Jl. Dr. Setiabudi. No. 193, Kota Bandung.

I. Pendahuluan

Dalam suatu negara negara berkembang, masih menghadapi permasalahan besar dalam menatata perkembangan dan pertumbuhan wilayah di kota-kotanya. Fenomena perkembangan kota yang terlihat jelas adalah bahwa pertumbuhan kota yang pesat terkesan meluas terdesak oleh kebutuhan masyarakat, menjadi kurang serasi dan terkesan kurang terencana. Kehidupan kota besar di Indonesia, semakin tidak nyaman akibat dari meningkatnya kepadatan penduduk, kurangnya wilayah hijau dan ruang-ruang terbuka, dan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dengan cepat.

Sedangkan hipotesis pada dasarnya merupakan suatu proposisi atau anggapan yang mungkin benar, dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan/pemecahan persoalan ataupun untuk dasar penelitian lebih lanjut. Hipotesis statistik ialah suatu pernyataan tentang bentuk fungsi suatu variabel atau tentang nilai sebenarnya suatu parameter. Suatu pengujian hipotesis statistik ialah prosedur yang memungkinkan keputusan dapat dibuat, yaitu keputusan untuk menolak atau tidak menolak hipotesis yang sedang dipersoalkan/diuji.

Hipotesis (atau lengkapnya hipotesis statistik) merupakan suatu anggapan atau suatu dugaan mengenai populasi. Sebelum menerima atau menolak sebuah hipotesis, seorang peneliti harus menguji keabsahan hipotesis tersebut untuk menentukan apakah hipotesis itu benar atau salah. H0 dapat berisikan tanda kesamaan (equality sign)seperti : = , ≤ , atau ≥. Bilamana H0 berisi tanda kesamaan yang tegas (strict equality sign) = , maka Ha akan berisi tanda tidak sama ( not-equality sign). Jika H0berisikantanda ketidaksamaan yang lemah (weak inequality sign) ≤ , maka Ha akan berisi tanda ketidaksamaan yang kuat (stirct inequality sign) > ; dan jika H0 berisi ≥, maka Ha akan berisi <.

Sebagai contoh : � : � = � ��: � = �

� : � � ��: � > � � : � � ��: � < �

Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata hupo dan thesis.

Hupo artinya sementara, atau kurang kebenarannya atau masih lemah

(2)

Hipotesis dapat diartikan sebagai pernyataan statistik tentang parameter populasi. Dengan kata lain, hipotesis adalah taksiran terhadap parameter populasi, melalui data-data sampel. Dalam statistik dan penelitian terdapat dua macam hipotesis, yaitu hipotesis nol dan alternatif. Pada statistik, hipotesis nol diartikan sebagai tidak adanya perbedaan antara parameter dengan statistik, atau tidak adanya perbedaan antara ukuran populasi dan ukuran sampel. Dengan demikian hipotesis yang diuji adalah hipotesis nol, karena memang peneliti tidak mengharapkan adanya perbedaan data populasi dengan sampel.selanjutnya hipotesis alternatif adalah lawan hipotesis nol, yang berbunyi ada perbedaan antara data populasi dengan data sampel.

II. Teori

A. Urbanisai

Pengertian urbanisasi menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia adalah, suatu proses kenaikan proporsi jumlah penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Selain itu dalam ilmu lingkungan, urbanisasi dapat diartikan sebagai suatu proses pengkotaan suatu wilayah. Proses pengkotaan ini dapat diartikan dalam dua pengertian. Pengertian pertama, adalah merupakan suatu perubahan secara esensial unsur fisik dan sosial-ekonomi-budaya wilayah karena percepatan kemajuan ekonomi. Contohnya adalah daerah Cibinong dan Bontang yang berubah dari desa ke kota karena adanya kegiatan industri. Pengertian kedua adalah banyaknya penduduk yang pindah dari desa ke kota, karena adanya penarik di kota, misal kesempatan kerja.

Pengertian urbanisasi ini pun berbeda-beda, sesuai dengan interpretasi setiap orang yang berbeda-beda. Ir. Triatno Yudo Harjoko (2010) pengertian urbanisasi diartikan sebagai suatu proses perubahan masyarakat dan kawasan dalam suatu wilayah yang non-urban menjadi urban. Secara spasial, hal ini dikatakan sebagai suatu proses diferensiasi dan spesialisasi pemanfaatan ruang dimana lokasi tertentu menerima bagian pemukim dan fasilitas yang tidak proporsional.

(3)

Pengertian lain dari urbanisasi, dikemukakan oleh Dr. PJM Nas (2010), pengertian pertama diutarakan bahwa urbanisasi merupakan suatu proses pembentukan kota, suatu proses yang digerakkan oleh perubahan struktural dalam masyarakat sehingga daerah-daerah yang dulu merupakan daerah pedesaan dengan struktur mata pencaharian yang agraris maupun sifat kehidupan masyarakatnya lambat laun atau melalui proses yang mendadak memperoleh sifat kehidupan kota. Pengertian kedua dari urbanisasi adalah, bahwa urbanisasi menyangkut adanya gejala perluasan pengaruh kota ke pedesaan yang dilihat dari sudut morfologi, ekonomi, sosial dan psikologi.

Dari beberapa pengertian mengenai urbanisasi yang diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian urbanisasi adalah merupakan suatu proses perubahan dari desa ke kota yang meliputi wilayah/daerah beserta masyarakat di dalamnya dan dipengaruhi oleh aspek-aspek fisik atau morfologi, sosial, ekonomi, budaya, dan psikologi masyarakatnya.

Dampak Urbanisai

Di Indonesia, persoalan urbanisasi sudah dimulai dengan digulirkannya beberapa kebijakan ”gegabah” orde baru. Pertama, adanya kebijakan ekonomi makro (1967-1980), di mana kota sebagai pusat ekonomi. Kedua, kombinasi antara kebijaksanaan substitusi impor dan investasi asing di sektor perpabrikan (manufacturing), yang justru memicu polarisasi pembangunan terpusat pada metropolitan Jakarta. Ketiga, penyebaran yang cepat dari proses mekanisasi sektor pertanian pada awal dasawarsa 1980-an, yang menyebabkan kaum muda dan para sarjana, enggan menggeluti dunia pertanian atau kembali ke daerah asal.

Arus urbansiasi yang tidak terkendali ini dianggap merusak strategi rencana pembangunan kota dan menghisap fasilitas perkotaan di luar kemampuan pengendalian pemerintah kota. Beberapa akibat negatif tersebut akan meningkat pada masalah kriminalitas yang bertambah dan turunnya tingkat kesejahteraan. Dampak negatif lainnnya yang muncul adalah terjadinya “over urbanisasi” yaitu dimana prosentase penduduk kota yang sangat besar yang tidak sesuai dengan perkembangan ekonomi negara. Selain itu juga dapat terjadi “under ruralisasi” yaitu jumlah penduduk di pedesaan terlalu kecil bagi tingkat dan cara produksi yang ada.

Pada saat kota mendominasi fungsi sosial, ekonomi, pendidikan dan hirarki urban. Hal ini menimbulkan terjadinya pengangguran dan under employment. Kota dipandang sebagai inefisien dan artificialproses “pseudo-urbanisa stion”. Sehingga urbanisasi merupakan variable dependen terhadap pertumbuhan ekonomi.

(4)

Gmelch dan Zenner (1980) membahas mengenai dampak sosial yang ditimbulkan oleh urbanisasi dengan menggunakan pendekatan tiga teori urbanisasi yaitu :

1. Determinist Theory atau dikenal jugadengan theory of urban anomie. Writh (1938) sebagai salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam teori ini memulai analisasnya dengan mendefinisikan “kota” sebagai sebuah wilayah yang relatif besar, padat, dan tempat tinggal permanen dari individu yang secara sosial sangat beragam. Writh menganalisis bagaimana urbanisasi menghasilkan disorganisasi sosial dan gangguan kepribadian. Argumen yang digunakan Writh berdasarkan argument psikologi dan struktur sosial. Argumen psikologi Writh didasarkan pada pemikiran George Simmel yang juga gurunya dalam tulisan “TheMetropolis and Mental Life”. Simmel memusatkan perhatiannya pada cara hidup di kota yang mengubah cara berfikir dan kepribadian individu. Bagaimana stimulasi yang cepat dan terputus dirubah oleh stimulasi yang datang dari dalam dan luar individu. Stimulasi yang paling berpengaruh menurut Simmel antara lain adalah pemandangan, suara, bau, tindakan orang lain, sehingga individu merespon untuk melindungi diri dan beradaptasi dengan fikiran dan hati. Dengan adanya stimulasi dan cara individu merespon tersebut menjadikan individu lebih intelek, rasional, dan berjarak secara emosional dengan orang lain. Suara klakson, telepon, pantulan cahaya, pandangan dan perilaku orang asing, berita surat kabar mempengaruhi perilaku individu dengan reaksi yang berbeda-beda. Hal ini sangat memungkinkan bagi individu untuk mengalami gangguan kepribadian. Analisa struktur sosial dalam teori ini tidak jauh berbeda dengan argumen psikologi, tetapi dalam proses yang berbeda. Dalam kompetisi ekonomi, spesialisasi pekerjaan, meraih keunggulan, dan kemajemukan kota menghasilkan keberagaman aktivitas kehidupan sosial, seperti di dunia pekerjaan, kehidupan bertetangga, rumah tangga, dan sebagainya. Sehingga waktu dan perhatian inidividu terpecah dan terputus pada tempat dan orang yang berbeda. Sebagai contoh, seorang pengusaha; sarapan pagi dengan keluarga, rapat dengan rekan kerja di kantor, makan siang dengan kolega, rapat dengan klien, bermain golf dengan teman-teman, dan akhirnya makan malam dengan tetangga. Keberagaman aktivitas ini membuat inidividu terisolasi dari kehidupan sosialnya dan inilah yang memberi peluang terjadinya anomi karena hilangnya ikatan-ikatan sosial yang berisi nilai-nilai.

2. Compositional theory.

Tidak seperti Determinist Theory, teori ini menganggap bahwa urbanisasi tidak berdampak secara langsung terhadap individu atau

(5)

individu dapat terpengaruh oleh urbanisasi karena tergantung pada atribut-atribut yang dimilikinya. Sebagai contoh, seseorang yang tidak menikah bukan disebabkan oleh ketidak mampuan secara pribadi tetapi lebih dikarenakan oleh perbandingan antara laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang.

3. Subculture theory.

Teori ini sebagai hasil sintesa dari Determinist Theory dan Compositional theory, melihat bahwa urbanisasiberdampak langsung terhadap individu dan masyarakat tetapi tidak mengintervensi. Asumsinya didasarkan pada pada dua hal yaitu; pertama, banyaknya migran yang datang ke kota dengan membawa budaya dan nilai yang beragam sehingga memberikan kontribusi terhadap bentuk keberagaman kehidupan sosial. Kedua, tekanan-tekanan struktur yang beragam seperti spesialisasi pekerjaan, tuntutan institusi, dan sebagainya yang menghasilkan subkultur-subkultur baru. Sebagai contoh subkultur mahasiswa, etnisCina-Amerika,criminal professional, homoseksual, artis, misionaris, dan lain-lain.

Dampak negatif lainnya yang ditimbulkan oleh tingginya arus urbanisasi di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan. Pertambahan penduduk kota yang begitu pesat, sudah sulit diikuti kemampuan daya dukung kotanya. Saat ini, lahan kosong di daerah perkotaan sangat jarang ditemui. ruang untuk tempat tinggal, ruang untuk kelancaran lalu lintas kendaraan, dan tempat parkir sudah sangat minim. Bahkan, lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) pun sudah tidak ada lagi. Lahan kosong yang terdapat di daerah perkotaan telah banyak dimanfaatkan oleh para urban sebagai lahan pemukiman, perdagangan, dan perindustrian yang legal maupun ilegal. Bangunan-bangunan yang didirikan untuk perdagangan maupun perindustrian umumnya dimiliki oleh warga pendatang. Selain itu, para urban yang tidak memiliki tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong sebagai pemukiman liar mereka. hal ini menyebabkan semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan.

2. Menambah polusi di daerah perkotaan. Masyarakat yang melakukan urbanisasi baik dengan tujuan mencari pekerjaan maupun untuk memperoleh pendidikan, umumnya memiliki kendaraan. Pertambahan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang membanjiri kota yang terus menerus, menimbulkan berbagai polusi atau pemcemaran seperti polusi udara dan kebisingan atau polusi suara bagi telinga manusia. Ekologi di daerah kota tidak lagi terdapat keseimbangan yang dapat menjaga keharmonisan lingkungan perkotaan. Sebagian besar kota di Indonesia mengalami persoalan polusi sebagai akibat dari proses urbanisasi, baik oleh semakin banyaknya jumlah kendaraan maupun oleh industri-industri yang tumbuh.

(6)

ini tentunya akan membuat lingkungan tersebut yang seharusnya bermanfaat untuk menyerap air hujan justru menjadi penyebab terjadinya banjir. daerah aliran sungai sudah tidak bisa menampung air hujan lagi. 4.Pencemaran yang bersifat sosial dan ekonomi. Kepergian penduduk desa ke

kota untuk mengadu nasib tidaklah menjadi masalah apabila masyarakat mempunyai keterampilan tertentu yang dibutuhkan di kota. Namun, kenyataanya banyak diantara mereka yang datang ke kota tanpa memiliki keterampilan kecuali bertani. Oleh karena itu, sulit bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Mereka terpaksa bekerja sebagai buruh harian, penjaga malam, pembantu rumah tangga, tukang becak, masalah pedagang kaki lima dan pekerjaan lain yang sejenis. Hal ini akhitnya akan meningkatkan jumlah pengangguran di kota yang menimbulkan kemiskinan dan pada akhirnya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, orang-orang akan nekat melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, merampok bahkanmembunuh.Adajuga masyarakat yang gagal memperoleh pekerjaan sejenis itu menjadi tunakarya, tunawisma, dan tunasusila.

5.Penyebab kemacetan lalu lintas. Padatnya penduduk di kota menyebabkankemacetan dimana-mana, ditambah lagi arus urbanisasi yang makin bertambah. Para urban yang tidak memiliki tempat tinggal maupun pekerjaan banyak mendirikan pemukiman liar di sekitar jalan, sehingga kota yang awalnya sudah macet bertambah macet. Selain itu tidak sedikit para urban memiliki kendaraan sehingga menambah volum kendaraan di setiap ruas jalan di kota.

6. Merusak tata kota. Pada negara berkembang, kota-kotanya tdiak siap dalam menyediakan perumahan yang layak bagi seluruh populasinya. Apalagi para migran tersebut kebanyakan adalah kaum miskin yang tidak mampu untuk membangun atau membeli perumahan yang layak bagi mereka sendiri. Akibatnya timbul perkampungan kumuh dan liar di tanah-tanah pemerintah.

B. Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau menyebutkan kewajiban pihak Pemerintah Daerah untuk melakukan pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) dalam rangka menjaga keberadaan dan keberlangsungan RTH. Pengelolaan RTH dilakukan berlandaskan pada asas manfaat, selaras, seimbang, terpadu, keberlanjutan, keadilan, perlindungan, dan kepastian hukum.

Pengaturan pengelolaan RTH dimaksudkan untuk memberikan pedoman dan arahan dalam rangka tertib pengelolaan RTH, serta menyelenggarakan pengelolaan RTH secara secara terencana, sistematis, dan terpadu. Pengaturan tersebut juga bertujuan menjamin kepastian hukum dalam menjaga dan melindungi ketersediaan RTH dari alih fungsi lahan serta meningkatkan peran dan tanggung jawab aparatur dan masyarakat dalam mengelola RTH.

Tujuan pengelolaan RTH adalah sebagai berikut:

1.Menjaga keberadaan dan keberlangsungan RTH yang telah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

(7)

3.Mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan di perkotaan;

4.Meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih, aman dan nyaman; dan

5.Meningkatkan optimalisasi pemanfaatan RTH.

Pengelolaan RTH diarahkan untuk meningkatkan fungsinya, baik fungsi ekologis, sosial budaya, ekonomi, dan estetika, sebagai berikut:

1.Fungsi Ekologis, terdiri dari:

 pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan;

 tempat perlindungan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati;  pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara pengendali

tata air.

2. Fungsi Sosial dan Budaya, terdiri dari:

 sarana bagi warga kota untuk berinteraksi;  tempat rekreasi;

 sarana pengembangan budaya daerah;

 sarana peningkatan kreativitas dan produktivitas warga kota sarana pendidikan, penelitian dan pelatihan.

3. Fungsi Ekonomi, terdiri dari:

 sarana ekonomi dalam rangka transaksi komoditas produktif;  sarana dalam rangka penambahan nilai dari lingkungan. 4. Fungsi Estetika, terdiri dari:

 sarana dalam rangka meningkatkan kenyamanan dan keindahan lingkungan;

 sarana dalam rangka meningkatkan harmonisasi dan keseimbangan antara ruang terbangun dan ruang tidak terbangun.

C. Perkembangan Kota

Menurut Marbun (1992), kota merupakan kawasan hunian dengan jumlah penduduk relatif besar, tempat kerja penduduk yang intensitasnya tinggi serta merupakan tempat pelayanan umum. Kegiatan ekonomi merupakan hal yang penting bagi suatu kota karena merupakan dasar agar kota dapat bertahan dan berkembang (Jayadinata, 1992:110). Kedudukan aktifitas ekonomi sangat penting sehingga seringkali menjadi basis perkembangan sebuah kota. Adanya berbagai kegiatan ekonomi dalam suatu kawasan menjadi potensi perkembangan kawasan tersebut pada masa berikutnya.

Istilah perkembangan kota (urban development) dapat diartikan sebagai suatu perubahan menyeluruh, yaitu yang menyangkut segala perubahan di dalam masyarakat kota secara menyeluruh, baik perubahan sosial ekonomi, sosial budaya, maupun perubahan fisik

(Hendarto, 1997).

(8)

berarti ada peningkatan permintaan yang meningkat. Sedangkan perkembangan kota mengacu pada kualitas, yaitu proses menuju suatu keadaan yang bersifat pematangan. Indikasi ini dapat dilihat pada struktur kegiatan perekonomian dari primer kesekunder atau tersier. Secara umum kota akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan melalui keterlibatan aktivitas sumber daya manusia berupa peningkatan jumlah penduduk dan sumber daya alam dalam kota yang bersangkutan (Hendarto, 1997).

Pada umumya terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kota, yaitu:

1.Faktor penduduk, yaitu adanya pertambahan penduduk baik disebabkan karena pertambahan alami maupun karena migrasi.

2.Faktor sosial ekonomi, yaitu perkembangan kegiatan usaha masyarakat 3.Faktor sosial budaya, yaitu adanya perubahan pola kehidupan dan tata cara

masyarakat akibat pengaruh luar, komunikasi dan sistem informasi.

Perkembangan suatu kota juga dipengaruhi oleh perkembangan dan kebijakan ekonomi. Hal ini disebabkan karena perkembangan kota pada dasarnya adalah wujud fisik perkembangan ekonomi (Firman, 1996). Kegiatan sekunder dan tersier seperti manufaktur dan jasa-jasa cenderung untuk berlokasi di kota-kota karena faktor “urbanization economics” yang diartikan sebagai kekuatan yang mendorong kegiatan usaha untuk berlokasi di kota sebagai pusat pasar, tenaga kerja

ahli, dan sebagainya.

Perkembangan kota menurut Raharjo dalam Widyaningsih (2001), bermakna perubahan yang dialami oleh daerah perkotaan pada aspek-aspek kehidupan dan penghidupan kota tersebut, dari tidak ada menjadi ada, dari sedikit menjadi banyak, dari kecil menjadi besar, dari ketersediaan lahan yang luas menjadi terbatas, dari penggunaan ruang yang sedikit menjadi teraglomerasi secara luas, dan seterusnya. Dikatakan oleh Beatley dan Manning (1997) bahwa penyebab perkembangan suatu kota tidak disebabkan oleh satu hal saja melainkan oleh berbagai hal yang saling berkaitan seperti hubungan antara kekuatan politik dan pasar, kebutuhan

politik, serta faktor-faktor sosial budaya.

Teori Central Place dan Urban Base merupakan teori mengenai perkembangan kota yang paling populer dalam menjelaskan perkembangan kota-kota. Menurut teori central place seperti yang dikemukakan oleh Christaller (Daldjoeni, 1992), suatu kota berkembang sebagai akibat dari fungsinya dalam menyediakan barang dan jasa untuk daerah sekitarnya. Teori Urban Base juga menganggap bahwa perkembangan kota ditimbulkan dari fungsinya dalam menyediakan barang kepada daerah sekitarnya juga seluruh daerah di luar batas-batas kota tersebut. Menurut teori ini, perkembangan ekspor akan secara langsung mengembangkan pendapatan kota. Disamping itu, hal tersebut akan menimbulkan pula perkembangan industri-industri yang menyediakan bahan mentah dan jasa-jasa untuk industri-industri yang memproduksi barang ekspor yang selanjutnya akan mendorong pertambahan pendapatan kota lebih lanjut (Hendarto, 1997).

D. Uji Koefisien Korelasi

(9)

asosiasi merupakan istilah umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam statistik bivariat yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel. Diantara sekian banyak teknik-teknik pengukuran asosiasi, terdapat dua teknik korelasi yang sangat populer sampai sekarang, yaitu Korelasi Pearson Product Moment dan Korelasi Rank Spearman. Selain kedua teknik tersebut, terdapat pula teknik-teknik korelasi lain, seperti Kendal, Chi-Square, Phi Coefficient, Goodman-Kruskal, Somer, dan Wilson.

Pengukuran asosiasi mengenakan nilai numerik untuk mengetahui tingkatan asosiasi atau kekuatan hubungan antara variabel. Dua variabel dikatakan berasosiasi jika perilaku variabel yang satu mempengaruhi variabel yang lain. Jika tidak terjadi pengaruh, maka kedua variabel tersebut disebut independen.

Korelasi bermanfaat untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel (kadang lebih dari dua variabel) dengan skala-skala tertentu, misalnya Pearson data harus berskala interval atau rasio; Spearman dan Kendal menggunakan skala ordinal; Chi Square menggunakan data nominal. Kuat lemah hubungan diukur diantara jarak (range) 0 sampai dengan 1. Korelasi mempunyai kemungkinan pengujian hipotesis dua arah (two tailed). Korelasi searah jika nilai koefesien korelasi diketemukan positif; sebaliknya jika nilai koefesien korelasi negatif, korelasi disebut tidak searah. Yang dimaksud dengan koefesien korelasi ialah suatu pengukuran statistik kovariasi atau asosiasi antara dua variabel. Jika koefesien korelasi diketemukan tidak sama dengan nol (0), maka terdapat ketergantungan antara dua variabel tersebut. Jika koefesien korelasi diketemukan +1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) positif.

Jika koefesien korelasi diketemukan -1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) negatif.

Dalam korelasi sempurna tidak diperlukan lagi pengujian hipotesis, karena kedua variabel mempunyai hubungan linear yang sempurna. Artinya variabel X mempengaruhi variabel Y secara sempurna. Jika korelasi sama dengan nol (0), maka tidak terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut.

Dalam korelasi sebenarnya tidak dikenal istilah variabel bebas dan variabel tergantung. Biasanya dalam penghitungan digunakan simbol X untuk variabel pertama dan Y untuk variabel kedua. Dalam contoh hubungan antara variabel remunerasi dengan kepuasan kerja, maka variabel remunerasi merupakan variabel X dan kepuasan kerja merupakan variabel Y.

Koefesien Korelasi

(10)

interpretasi mengenai kekuatan hubungan antara dua variabel penulis memberikan kriteria sebagai berikut (Sarwono:2006):

 0 : Tidak ada korelasi antara dua variabel  >0 – 0,25: Korelasi sangat lemah

 >0,25 – 0,5: Korelasi cukup  >0,5 – 0,75: Korelasi kuat

 >0,75 – 0,99: Korelasi sangat kuat  1: Korelasi sempurna

III. Aplikasi Dalam SPSS A. Signifikansi :

1. Berkenaan dengan besaran angka, jika 0, maka artinya tidak ada korelasi sama sekali dan jika korelasi 1 berarti korelasi sempurna, hal ini berarti bahwa semakin mendekati 1 atau -1 maka hubungan dua variabel semakin kuat. Sebaliknya, jika r (koefisien korelasi) mendekati 0 maka hubungan dua variabel semakin lemah. Sebagai standarisasi, angka korelasi diatas 0,5 menunjukkan korelasi yang cukup kuat, sedangkan dibawah 0,5 korelasi lemah.

2. Selain besarnya korelasi, tanda korelasi juga berpengaruh pada penafsiran hasil. Tanda negatif (-) pada output menunjukkan adanya arahan yang berlawanan, sedangkan tanda positif (+) pada output menunjukkan adanya arahan yang sama.

B. Dasar Pengambilan Keputusan pada Uji Koef. Korelasi :

1. Berdasarkan nilai signifikansi : Jika nilai signifikansi > dari 0,05, maka kesimpulannya tidak terdapat korelasi, sedangkan jika < dari 0,05, maka terdapat korelasi.

2. Berdasarkan tanda bintang (*) yang diberikan SPSS. Jika terdapat tanda bintang pada pea rson correlation maka antara variabel yang dianalisis terjadi korelasi, sebaliknya jika tidak terdapat tanda bintang pada pea rson correlation maka antara variabel yang dianalisis tidak terjadi korelasi.

IV. Hasil dan Pembahasan

Berikut merupakan langkah – langkah dalam menggunakan Uji Koefisien Korelasi pada SPSS, diantaranya :

1. Buka SPSS

2. Klik Variabel View, kemudian pada bagian Name tulis saja Urbanisasi, kemudian di baris kedua Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau dan dibaris ketiga Perkembangan Kota, selanjutnya pada kolom Type ubah menjadi

Numeric. Pindah ke Data View dan lengkapi data sampai seperti

(11)

3. Klik menu Analyze, kemudian pilih Correlate, dan klik Bivariate

(12)

5. Klik OK, maka akan keluar hasil sebagai berikut.

Dalam pengambilan keputusan, dapat dilihat dari nilai siginifikansi dan nilai Pearson pada Tabel Correlation. Maka dapat dilihat 2 pertimbangan :

a. Berdasarkan nilai signifikansi : dari output diatas, diketahui antara Urbanisasi dengan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau , nilai signifikansi 0,002 < 0,05 yang berarti terdapat korelasi yang signifikan. Selanjutnya antara Urbanisasi dengan Perkembangan Kota nilai signifikansinya 0,717 > 0,05 yang berarti terdapat korelasi yang tidak signifikan. Terakhir antara Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau dengan Perkembangan Kota nilai signifikan 0.520 > 0,05 yang berarti terdapat korelasi yang tidak signifikan.

b. Melihat nilai Pearson Correlation : dari output diatas, diketahui bahwa Nilai Pearson Correlation yang dihubungkan antara masing – masing variabel mempunyai tanda bintang, ini berarti terdapat korelasi yang signifikan antara variabel yang dihubungkan.

V. Daftar Pustaka

(13)

Sudjana. (1996). Metoda Statistika.Bandung: “TARSITO” Bandung

Astriani, Nadia. (2015). Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (Rth) Di Kota Bandung. Verita s et Justitia, 1, 274-297.

WWW user survey. (n.d). Maret 13,2018.

perencanaankota.blogspot.co.id

Burhanuddin, Muhammad. (2006). Koefisien Korelasi, Signifikansi,

& Determinasi. Retrieved Maret 14 , 2018 from

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...