BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Terminologi Judul
Judul dari proyek ini adalah Apartment dan Rumah Susun Kwala Bekala.
Berikut ini merupakan penjelasan terhadap judul kasus proyek tersebut :
1 Rumah
Menurut Lili T.Erwin Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai
tempat tinggal dan berkumpul suatu keluarga. Rumah juga merupakan
tempat seluruh anggota keluarga berdiam dan melakukan aktivitas yang
menadi rutinitas sehari-hari. Sedangkan menurut Diana Tantiko Rumah
adalah tempat untuk pulang, tempat seseorang (atau sebuah keluarga)
memperoleh ketenangan, istirahat, dan perlindungan
2 Rumah Susun
Rumah Susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam
suatu lingkungan, yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan
secara fungsional dalam arah horizontal maupun veritikal dan merupakan
satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara
terpisah, terutama untuk tempat hunian, yang dilengkapi dengan
bagian-bersama, benda bersama dan tanah-bersama. (Rudy Dewanto)
3 Kwala Bekala
Kwala Bekala adalah kelurahan di kecamatan Medan
Tuntungan, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.
bertempat tinggal dan melakukan aktivitas yang menjadi tempat rutinitas
sehari-hari, yang berada di suatu bangunan yang bertingkat tinggi dalam arah horizontal
ataupun vertikal yang setiap keluarganya mempunyai tempat tinggal
masing-masing.
2.2 Lokasi
Kwala Bekala merupakan wilayah kelurahan yang terletak di Medan Johor,
Medan, Sumatera Utara. Kecamatan Medan Tuntungan terletak di ketinggian 6 - 12
m diatas permukaan laut, yang terletak pada:
Peta Kwala Bekala
Lintang Utara : 2º.27’ - 2º.47’
Bujur Timur : 98º.35 - 98º.44’
Kecamatan Medan Tuntungan sendiri berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Kecamatan Medan Johor
Sebelah Timur : Kecamatan Medan Amplas
Sebelah Selatan : Kabupaten Deli Serdang
Sebelah Barat : Kecamatan Medan Selayang
2.2.1. Deskripsi Kondisi Eksisting Lokasi Sebagai Tapak Rancangan
Luas lahan : ± 22.7 ha
Kontur : relatif datar (kontur tanahnya tidak terlalu bergelombang)
KDB/KLB : 60% / 1-5
Luas site : 9654 m2
Batas-batas site :
Barat : Terminal
Timur : Perkebunan
Utara : Pusat pasar
Selatan : Hotel Mixed Used
Pemilik : PTPN II
Bangunan eksisting : Lahan kosong
Keistimewaan site :
1. Posisi site sangat strategis yaitu berada di jalan arteri primer
2. Dapat dicapai dengan berbagai moda transportasi darat (bus, mobil, taksi,
sepeda motor, dsb).
3. Posisi site bersebelahan dengan Pusat Pasar Lau Chi
2.3 Studi Literatur 2.3.1 Mebidangro
Presiden telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2011
tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Medan, Binjai, Deli Serdang dan
Karo (Mebidangro), yang meliputi 52 kecamatan di seluruh Kota Medan, seluruh
Kota Binjai, seluruh Kabupaten Deli Serdang, dan sebagian Kabupaten Karo.
Perpres mengatur mengenai peran dan fungsi Rencana Tata Ruang Kawasan
Perkotaan Mebidangro, cakupan, tujuan, kebijakan, strategi, rencana struktur ruang,
rencana pola ruang, arahan pemanfaatan ruang, dan arahan pengendalian
pemanfaatan ruang, serta peran masyarakat dalam penataan ruang Kawasan
Perkotaan Mebidangro. Selain itu, Perpres juga memuat Peta Rencana Struktur
Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro, Peta Rencana Pola Ruang Kawasan
Perkotaan Mebidangro, dan Indikasi Program Utama Lima Tahunan Arahan
Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro.
Kebijakan Tata Ruang Nasional menempatkan Metropolitan Mebidangro
sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sekaligus sebagai Kawasan Strategis
Nasional (KSN) dengan fokus pengembangan kegiatan ekonomi. Metropolitan
Mebidangro berada di Wilayah Sumatera Bagian Utara yang memiliki kedudukan
strategis terhadap pengembangan Segitiga Ekonomi Regional Indonesia Thailand
-Singapura (IMT-GT). Posisinya yang strategis ini menjadi perhatian penting dalam
pengembangan Metropolitan Mebidangro ke depan. Medan-Binjai-Deli Serdang &
Karo sendiri memiliki visi yang jauh ke depan (visi 2027) yaitu kota yang nyaman
dihuni, memiliki fasilitas kota yang terjangkau, mendorong gairah berakitivitas
sosial, ekonomi maupun kebudayaan, banyak ruang publik yang mudah dicapai
Binjai, Kabupaten Deli Serdang dan sebagian Kabupaten Karo. Pada tahun 2009
total jumlah penduduk metropolitan ini mencapai 4.2 juta Jiwa.
Dengan perkiraan pertumbuhan penduduk selama 20 tahun terakhir sebesar
30,95%, diperkirakan jumlah penduduk Metropolitan Mebidangro pada tahun 2029
akan mencapai 5.5 juta Jiwa. Dilihat dari daya dukung
fisik dasarnya, sekitar 37,55% lahan Metropolitan Mebidangro, yaitu 113.280 ha,
potensial dikembangkan untuk kegiatan perkotaan. Diperkirakan daya tampung
kawasan Metropolitan Mebidangro mencapai 6,8 juta jiwa.Metropolitan
Mebidangro didukung dengan keberadaan Bandara Kualanamu (dalam proses
pembangunan) sebagai pengganti Bandara Polonia. Bandara Kualanamu ditetapkan
sebagai bandara internasional dengan hierarki pusat pengumpul skala primer (KM
11 Tahun 2010, Tatanan Kebandarudaraan Nasional). Bandara Kualanamu
direncanakan memiliki kapasitas pelayanan untuk penerbangan pesawat tipe
B.747400, dengan rencana luas wilayah bandara minimal 1.365 ha. Metropolitan
Mebidangro juga didukung keberadaan pelabuhan laut Belawan dengan status
pelabuhan internasional (PP No. 26 tahun 2008, Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional). Dalam melaksanakan pengelolan Kawasan Metropolitan, penguatan
kelembagaan eksisting melalui
pola kerjasama daerah menjadi perhatian penting terkait implementasi
pengembangan Metropolitan Mebidangro 2030. Penguatan kelembagaan
berorientasi pada sinergi program pembangunan, kepastian hukum dan
perpendekan proses birokrasi sehingga mampu meningkatkan gairah investasi di
wilayah Metropolitan Mebidangro.Kebijakan dalam Penataan Ruang Kawasan
Perkotaan Mebidangro meliputi:
1. Pengembangan dan pemantapan fungsi Kawasan Perkotaan Mebidangro sebagai
pusat perekonomian nasional yang produktif dan efisien serta mampu bersaing
secara internasional terutama dalam kerja sama ekonomi subregional Segitiga
Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand;
2. Peningkatan akses pelayanan pusat pusat kegiatan perkotaan Mebidangro sebagai
pembentuk struktur ruang perkotaan dan penggerak utama pengembangan wilayah
3. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi,
energi, telekomunikasi, sumber daya air, serta prasarana perkotaan Kawasan
Perkotaan Mebidangro yang merata dan terpadu secara internasional, nasional, dan
regional;
4. Peningkatan keterpaduan antarkegiatan budi daya serta keseimbangan antara
perkotaan dan perdesaan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung
lingkungan;
5. Peningkatan fungsi, kuantitas, dan kualitas RTH dan kawasan lindung lainnya di
Kawasan Perkotaan Mebidangro.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, maka diambillah lima langkah strategis
pengembangan Kawasan Metropolitan Mebidangro, yaitu pengembangan koridor
ekonomi internasional Belawan –Kuala Namu, pembangunan pusat-pusat pelayanan kota baru, revitalisasi pusat kota lama Medan dan Kawasan Tembakau
Deli, pembangunan dan pemantapan Koridor Hijau Mebidangro, dan
pengembangan Akses Strategis Mebidangro. Pengembangan Koridor Ekonomi
Internasional Belawan-Kuala Namu dilakukan dengan menata pusat Kota Medan
menjadi pusat kegiatan perdagangan dan jasa, kawasan cagar budaya, dan kegiatan
pariwisata budaya dan buatan. Selain itu, dilakukan pula penataan kawasan
agropolitan tembakau Deli yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau perkotaan,
wisata buatan, dan trade mark perkotaan Mebidangro. Selanjutnya yang dimaksud
dengan pembangunan pusat-pusat pelayanan kota baru adalah membangun pusat
-pusat pelayanan kota baru yang berfungsi sekunder dan menghubungkan mereka
dengan sistem jaringan transportasi massal yang dapat menampung serta melayani
Pembangunan dan pemantapan Koridor Hijau Mebidangro dimaksudkan untuk
memantapkan kawasan hutan di kawasan hulu dan hilir Mebidangro yang berfungsi
sebagai resapan air, perlindungan daerah di bawahnya, dan perlindungan flora
fauna. Selain itu dilakukan pula pembangunan sempadan sungai yang membentang
dari perbukitan Bukit Barisan sampai Selat Malaka, sempadan waduk/danau, dan
sempadan pantai yang berhadapan dengan perairan Selat Malaka sebagai ruang
terbuka hijau. Sedangkan, pengembangan akses strategis Mebidangro berarti
mengembangkan keterhubungan sistem jaringan jalan arteri primer sebagai akses
pergerakan pusat produksi ke pusat distribusi dan koleksi. Termasuk pula di
dalamnya pembangunan sistem jaringan angkutan massal berbasis jalan dan kereta
api yang menghubungkan antar pusat kegiatan sekunder, dan pembangunan
keterpaduan simpul sistem jaringan transportasi yang memadukan transportasi
darat, udara, dan laut di Pelabuhan Belawan, Bandara Kualanamu dan Stasiun
Medan
2.3.2 Transit Oriented Development (TOD)
TOD adalah peruntukan lahan campuran berupa perumahan atau
perdagangan yang direncanakan untuk memaksimalkan akses angkutan umum
dan sering ditambahkan kegiatan lain untuk mendorong penggunaan moda
angkutan umum. Peruntuan lahan sekitar stasiun BRT/MRT dikembangkan
dengan perbedaan tingkat kepadatan.
Transit oriented development atau disingkat menjadi TOD merupakan
salah satu pendekatan pengembangan kota yang mengadopsi tata ruang
campuran dan maksimalisasi penggunaan angkutan massal seperti Busway/BRT,
Kereta api kota (MRT), Kereta api ringan (LRT), serta dilengkapi jaringan
pejalan kaki/sepeda. Dengan demikian perjalanan/trip akan didominasi dengan
menggunakan angkutan umum yang terhubungkan langsung dengan tujuan
perjalanan. Tempat perhentian angkutan umum mempunyai kepadatan yang
relatif tinggi dan biasanya dilengkapi dengan fasilitas parkir, khususnya parkir
sepeda.
besar khususnya di kawasan kota baru yang besar seperti Tokyo di Jepang, Seoul
di Korea, Hongkong, Singapura, yang memanfaatkan kereta api kota serta
beberapa kota di Amerika Serikat dan Eropa.
Pengembangan wilayah berbasis TOD belum banyak dilakukan di
perkotaan Indonesia. Rencana TOD di stasiun Manggarai belum terbukti sampai
saat ini, begitu juga dengan stasiun Kota dan Dukuh Atas di Jakarta. Namun,
pengembangan TOD yang masih terbatas sudah banyak dilakukan, namun tidak
berdampak luas karena tidak sinerginya ke-4 faktor, yaitu :
1. Mixed-use
2. High Density
3. Akses Kendaraan Tidak Bermotor
4. Dekat dengan Stasiun MRT/BRT
Kaitan TOD dengan angkutan Massal
TOD harus ditempatkan:
1. Pada jaringan utama angkutan massal
2. Pada koridur jaringan bus/ BRT dengan frekuensi tinggi
3. Pada jaringan penmpan bus yang waktu tempuhnya kurang dari 10
menit dari jaringan utama angkutan massal.
Kalau persyaratan diatas tidak dipenuhi oleh suatu kawasan maka perlu
diambil langkah untuk menghubungkan dengan angkutan massal, disamping itu
yang juga perlu menjadi pertimbangan adalah frekuensi angkutan umum yang
tinggi.
Sumber : Calthrope dalam Wijaya (2009)
Gambar. 2.2
Konsep TOD
Konsep Transit Oriented Development (TOD) ini menawarkan alternative menuju pola pengembangan dengan menyediakan fungsi-fungsi working, living,leisure dalam populasi yang beraneka ragam, dalam kepadatan yang rendahsampai dengan
tinggi, dengan konfigurasi fasilitas pedestrian dan akses transit. Karakteristik
bentuk kota ini bercirikan keragaman dan densitas tinggi dalam skala
lokal/kawasan, dan terhubungkan dengan bagian kota lain oleh sistem transit.
Konsep Transit Oriented Development (TOD) di awali dengan konsep aktivitas pergerakan manusia, baik dengan moda maupun berjalan. Pergerakan sebagai salah
satu aktivitas yang paling banyak dilakukan oleh manusia, diwadahi dengan
penempatan-penempatan pusat-pusat aktivitas yang terintegrasi dengan titik-titik
transit, sehingga diharapkan dapat mendorong penggunaan transportasi publik.
Pusat-pusat aktivitas dihubungkan antara satu dengan yang lain dalam jarak tempuh
berjalan yang nyaman dan aman sebagai upaya untuk mengurangi pergantian antar
2.3.2.2 Struktur Transit Oriented Oriented Development (TOD) Ciri Tata Ruang TOD
Ada beberapa ciri tata ruang campuran yang bisa dicapai dengan mudah cukup
berjalan kaki atau bersepeda. Beberapa ciri penting yang akan terjadi dalam
pengembangan TOD[2] yaitu:
1. Penggunaan ruang campuran yang terdiri dari pemukiman, perkantoran, serta
fasilitas pendukung,
2. Kepadatan penduduk yang tinggi yang ditandai dengan bangunan apartemen,
condominium
3. Tersedia fasilitas perbelanjaan
4. Fasilitas kesehatan,
5. Fasilitas pendidikan
6. Fasilitas hiburan
7. Fasilitas olahraga
8. Fasilitas Perbankan
Pengurangan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi
Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi cenderung meningkat di kota-kota
besar Indonesia, pilihan moda pribadi telah meningkat menjadi 80 persenan, yang
kalau dilihat kembali kondisi tahun 1980an angkanya masih berkisar 50-50 di
Jakarta. Hal ini akan berdampak negatif terhadap lingkungan. Berdasarkan
penerapan TOD di beberapa kota besar menunjukkan penurunan ketergantungan
terhadap kendaraan pribadi, karena adanya pilihan yang cepat, murah dan mudah
mencapai tujuan hanya dengan hanya berjalan kaki, berjalan kaki, menggunakan
transit oriented development atau TOD. Terutama dalam pembangunan 12 stasiun
KABT tahap pertama dengan rute Lebak Bulus–Dukuh Atas. Namun, klasifikasi 12 stasiun itu masing-masing tetap berbeda.
Dari 12 stasiun itu, lima di antaranya akan dijadikan TOD maksimum, yakni
Stasiun Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete, Blok M dan Stasiun Dukuh Atas.
Kemudian tiga stasiun, yakni Senayan, Istora dan Bendungan Hilir akan
dikembangkan dengan pola TOD medium, yakni konsep pengembangan medium.
Sedangkan empat stasiun lainnya, yakni Haji Nawi, Blok A, Sisinga Mangaraja dan
Setiabudi akan dikembangkan dengan konsep TOD minimum.
Strategi
A. Perkuatan Pelayanan Angkutan Umum Berbasis MRT/BRT
Pelayanan angkutan umum massal menjadi daya tarik karena perjalanannya akan
lebih cepat, mudah, hemat energi dan ramah lingkungan. Pengembangan MRT di
Curitiba (Brazil) dan Sengkang (Singapura) adalah salah satu pengembangan TOD
yang sukses.
Jalur Mass Rapid Transit ini merupakan tantangan baru bagi para arsitek yang
diminta untuk mengintegrasikan stasiun transit dengan desainnya.
Namun pengembangan tersebut harus djaga supaya tidak menimbulkan pemekaran
kota (sprawling). Inggris telah membangun green belts dimana menjaga kawasan
tetap 16.000 km2.
B. Penataan Tata guna Lahan
Pendekatan perencanaan perkotaan menuju pada pembentukan kepadatan dan
penggunaan bersama dan mendapatkan kembali ruang untuk pejalan kaki dan
sepeda dengan tujuan untuk mengalihkan permintaan perangkutan ke moda
kendaraan tidak bermotor. Menciptakan kepadatan dan fungsi bersama di daerah
sub-perkotaan yang luas akan mengarah ke sub-pusat dimana terjadi banyak
aktivitas dan kebutuhan sehari- hari masyarakat: perkantoran, permukiman,
pendidikan, hiburan, fasilitas publik, pusat perbelanjaan, dll.
Sub-pusat ini memiliki prioritas paling tinggi untuk dihubungkan dengan distrik
/ MRT atau jalur BRT.Berkembangnya aktivitas di sekitar kawasan stasiun
Pertambahan jumlah penumpang Volume lalu lintas berkurang
Fasilitas Pejalan kaki lebih baik Biaya tiap penumpang semakin rendah Biaya
infrastruktur rata-rata berkurang
Peningkatan keamanan di dekat stasiun Image lebih baik Meningkatnya nilai
properti
C. Perbaikan Fasilitas NMT
Mobilitas warga kota akan ditingkatkan dengan penerapan konsep pejalan kaki
yang intensif, dengan menyediakan trotoar luas, nyaman, terlindung, dan aman dari
banjir. Kemudian akan ditinggikan lagi pada masa yang akan datang, berpindah dari
satu gedung ke gedung lainnya, sepanjang atau melalui kota-kota modern di
Indonesia yang akan memiliki ruang publik tingkat dua dan tingkat tiga yang berada
di atas jalan-jalan penuh sesak dan rawan banjir menjadi tempat transit pejalan kaki.
Alun-alun kota dan tempat-tempat semi-publik pada beberapa tingkat terlindung
lanskap yang lebih tinggi atau taman gantung akan menjadi fitur arsitektur yang
terkenal untuk pusat kota karena mampu menghubungkan bangunan dengan
masyarakat, jalan, dan struktur lingkungan.
D. Investasi Lahan TOD
Pada perkembangan selanjutnya sektor swasta dan publik ditingkatkan dekat
dengan akses transportasi umum, yang berada di sepanjang koridor dan stasiun
moda transportasi, terkonsentrasi dan kepadatan di sekitar yang menghubungkan
stasiun.
Pengembang dan investor akan setuju untuk menyediakan dana tambahan karena
yang membuat gedung tersebut mampu menghasilkan adalah terhubungnya gedung
Jembatan pejalan kaki – hal ini mencirikan elemen kota masa depan – menyediakan jalur pejalan kaki dari satu gedung ke gedung lain pada saat yang sama sebagai
tempat bertemu, area peristirahatan, tempat observasi, dan pusat perbelanjaan.
Jembatan pejalan kaki – hal ini mencirikan elemen kota masa depan – menyediakan jalur pejalan kaki dari satu gedung ke gedung lain pada saat yang sama sebagai
tempat bertemu, area peristirahatan, tempat observasi, dan pusat perbelanjaan.
TAHAPAN-TAHAPAN PENERAPAN TOD
Tahap 1 : Memperkuat investasi publik dalam angkutan umum dengan memastikan
bahwa pengembangan angkutan umum berpusat pada stasiun
Tahap 2 : Mengetahui bahwa area stasiun adalah daerah khusus dan seluruh wilayah
yang berada di sekitarnya berkesempatan untuk mengembangkan pembangunn
tradisional.
Tahap 3 : Mengambil kesempatan yang diberikan oleh angkutan umum untuk
mempromosikan TOD sebagai bagian dari strategi manajemen pertmbuhan yang
lebih luas
Tahap 4 : Rezoning daerah-daerah yang berpengaruh di sekitar stasiun untuk hanya
menggunakan moda angkutan umum dalam melakukan perjalanannya
Tahap 5 : Fokus pada investasi instansi publik dan uapaya perencanaan di daerah
stasiun dengan peluang pembangunan terbesar
Tahap 6 : Membangun broad-based core untuk mendukung TOD melalui
pejabat-pejabat terpilih, staf pemerintah daerah, pemilik tanah, dan lingkungan
Tahap 7 : Menyiapkan kerangka kerja mandiri untuk lebih mempromosikan TOD
setelah perencanaan selesai.
2.3.2.3 Tipologi Transit Oriented Development
Terdapat dua model pengembangan didalam TOD menurut Calthorpe yakni:
1. NeighorhoodTOD
jangkauan 10 menit berjalan (tidak lebih dari 3 mil) dari titik transit.
NeigborhoodTOD harus berada pada lingkungan hunian dengan densitas menengah, fasilitas umum, servis, retail, dan rekreasi. NeigborhoodTOD ini dirancang dengan fasilitas publik dan ruang terbuka hijau serta
memberi kemudahan akses bagi pengguna moda pergerakan.
2. UrbanTOD
Merupakan TOD dengan skala pelayanan kota berada pada jalur sirkulasi utama kota seperti halte bus antar kota dan stasiun kereta api baik light rail maupun heavy rail. Urban TOD harus dikembangkan bersama fungsi komersial yang memiliki intensitas tinggi, blok perkatoran, dan hunian
dengan intensitas menengah tinggi. Setiap TOD pada kota, memiliki karakter tersendiri sesuai dengan karakter lingkungannya.
Sumber : Calthrope, 1993
Gambar. 2.3
penggunanya sehingga tercipta lingkungan yang walkable, aman dan nyaman, dimana dapat diuraikan :
Tujuan Lingkungan
1. Meningkatkan kualitas udara, menghemat penggunaan energi dan
membuat lingkungan yang berkelanjutan.
2. Mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor pada lingkungan
yang didominasi oleh kendaraan bermotor.
Tujuan Perencanaan/Transportasi
1. Menciptakan pola pembangunan kota untuk pengembangan kawasan
secara terintegrasi.
2. Menciptakan variasi perumahan dengan berbagai kepadatan dari rendah
sampai dengan tinggi dalam radisu tertentu dari lokasi transit (Calthrope)
Di area komersial, fungsi retail dapat dikombinasikan dengan residensial dan
perkantoran, namun intensitas retail itu sendiri tidak boleh berkurang. Jumlah
parkir harus ditambah untk fungsi-fungsi tambahan tersebut. Pertimbangan
khusus harus dilakukan agar tercipta privasi untuk fungsi residensial. Entrance
kedua fungsi harus dipisah. Penambahan fungsi tersebut sebaiknya dilakukan
secara vertikal. Hasil adalah ketinggian bangunan bertambah, menciptakan
kemenarikan visual dan karakter urban yang lebih kuat.
Sumber : Buku “The Next American Metropolis”, Peter Calthorpe Gambar.2.4
a.) Area Residensial
Tujuan TOD adalah mengurangi tingkat penggunaan mobil pribadi. dengan perancangan dan lokasi area residensial yang tepat tujuan ini dapat dicapai.
Residensial sebaiknya berdekatan dengan area komersial dan dan transit.
Kepadatan area residensial dirancang untuk mendukung pengguna
transit. Tipe permukiman bervariasi terdiri dari tipe single family, tipe townhouse, dan apartemen.
Sumber : Buku “The Next American Metropolis”, Peter Calthorpe Gambar.2.5
Sumber : Buku “The Next American Metropolis”, Peter Calthorpe Gambar.2.6
Zona antara sidewalk dan rumah
b.) Pedestrian
Jalan di kawasan TOD merupakan elemen paling vital dalam menentukan kualitas ruang publik. Jalan di kawasan TOD harus dibuat pedestrian-friendly. Untuk menciptakan ruang jalan yang demikian harus dipikirkan berapa luas yang
diperlukan untuk pedestrian untuk menciptakan ruang publik yang aktif,sementara
tetap menjaga keseimbangan dengan ruang parkir, jalur bersepeda dan pergerakan
kendaraan.
Lebar jalan dan jumlah lajur kendaraan harus dikurangi tanpa
mengorbankan parkir paralel dan akses sepeda. Jalan harus dirancang untuk dilalui
dengan kecepatan mobil tak lebih dari 24 km/jam. Jalan yang lebih sempit dapat
mengurangi lebar jalan dan jumlah lajur memberikan ruang yang lebih besar untuk
penataan lansekap. Dimensi jalan yang relatif kecil ditujukan untuk menciptakan
Sumber : Buku “The Next American Metropolis”, Peter Calthorpe Gambar.2.7
Dimensi ideal ruang jalan di area TOD
Sidewalk secara virtual terbagi atas beberapa zona yaitu; zona tepi yang berbatasan langsung dengan jalur mobil (minimal 1,2 meter untuk kawasan TOD, untuk menyediakan ruang menunggu), zona furnishing yang mengakomodasi perletakan street furnitureseperti pohon atau fasilitas transit, zona ‘melintas’ yaitu jalur yang dapat dilalui tanpa gangguan, dan zona ‘frontage’ yaitu ruang bersih antara fasad bangunan (tempat pejalan kaki melakukan window shopping, area keluar dan masuk dari dalam bangunan) dan zona ‘melintas’. Lebar sidewalk minimum yang disarankan adalah 3 meter (pada area komersial minimum 4 meter),
Sumber : Buku “Planning and Designing for Pedestrians” San Diego’s Regional Planning Agency
Gambar.2.8
Pembagian zona pada sidewalk
Lebar zona sidewalk minimal untuk dilalui pejalan kaki adalah 1,5 meter (dapat dialui dua orang sekaligus). Dimensi sidewalk lebar di area komersial dimana aktivitas pedestrian lebih besar dan seating luar sangat direkomendasikan (1,8 meter -2,5 meter). Jalur pedestrian yang nyaman akan
mengurangi penggunaan mobil dan menambah efisiensi penggunaan transit.
Sumber : Buku “The Next American Metropolis”, Peter Calthorpe Gambar 2.9
Street furniture pada pedestrian sangat diperlukan bagi pejalan kaki. Jika ruang jalan tidak memiliki fasilitas ini maka pemakaian ruang jalan mnjadi tidak nyaman.
Misalnya jika tidak ada lampu jalan menyebabkan ketidaknyaman dan tidak
tersedianya tempat sampah membuat jalan jadi kotor dan membuat orang enggan
berjalan kaki. Untuk menciptakan sense of community dapat melalui pemilihan desain street furniture yangmencerminkan karakter lokal.
Pepohonan untuk peneduh diperlukan disepanjang jalan. Jarak antara
pohon-pohon tersebut tidak boleh lebih dari 9 meter. Jenis pohon dan teknik
penanaman harus diseleksi dengan seksama untuk menciptakan kesan meyatu
pada ruang jalan, menyediakan naungan yang efektif, dan menghindari
kerusakan trotoar. Banyak ruang jalan yang dikenang orang karena deretan
pepohonan di sepanjang jalan. Keberadaan pohon penting untuk kenyamanan
pejalan kaki karena menyediakan naungan dari cuaca dan mengurangi suhu
panas yang dihasilkan permukaan aspal dan menciptakan iklim mikro yang lebih
sejuk. Selain itu pepohonan juga memberikan keindahan pada ruang jalan.
Backbone pada kawasan siteplan adalah inti dari kawasan tersebut dikarenakan
kawasan tersebut berpanutan pada sistem TOD, pada sistem TOD harus adanya
bagian untuk pejalan kaki yang nyaman dan juga aman diantara satu point ke
point lain, dikawasan kwala bekala ini point tersebut adalah dari terminal kwala
bekala sampai point stasiun kwala bekala. Backbone pada kawasan kwala bekala
ini di fasilitasi pedestrian yang nyaman dan juga banyaknya street furniture untuk
para pejalan kaki merasa nyaman dan tidak terasa jauh pada saat berjalan dari
point ke point lain. Backbone tersebut di fasilitasi adanya retail tempat berbelanja
dan juga retail makanan, di tambah dengan banyak nya taman-taman yang
2.3.3 Masterplan
Berikut merupakan hasil pengembangan kawasan dari masterplan PTPN II
dimana pada masterplan ini terdapat 7 macam fungsi bangunan yang dapat
mendukung kawasan ini menjadi kawasan TOD antara lain :
1. Stasiun Kereta Api
2. Convention Hall
3. Pusat Kreativitas
4. Hotel Bisnis dan Pusat Kuliner
5. Kantor dan Eco Park
6. Hotel Mixed-use
Gambar 2.11 Masterplan kawasan yang dikembangkan Terminal
Komersil
Ruang Terbuka Hijau
Ruang Terbuka Hijau Danau Ruang Terbuka
Non Hijau
Perumahan Komersil
Komersil
Komersil Komersil
Komersil
Pendidikan
2.3.4 Teori Minamalis Modern 2.3.4.1 Pengembangan Teori
Minimalis Modern muncul pada pertengahan tahun 70-an. Teori Minimalis
Modern didasarkan pada analisis, definisi, klasifikasi dari sang arsitek, serta budaya
dan latar belakang. Debat berlangsung untuk sebagian besar di jurnal Italia, Spanyol
dan Inggris. Jurnal arsitektur Lotus International, El Croquis dan Desain Arsitektur,
mengikuti contoh Rassegna, mencetak isu tematik. Pada pertengahan tahun 90-an
monograf muncul untuk pertama kalinya. (Carmagnola, Pasca, 1996; Savi,
Montaner, 1996; Pawson, 1996; YPMA, 1996).
Montaner (1993) menyatakan karakteristik minimalis yaitu: 1) indah,
geometris, etika pengulangan, presisi teknis dan materialitas, kesatuan dan
kesederhanaan, distorsi skala, dan dominasi bentuk struktual. Dari London muncul
beberapa definisi minimalis: pada dasarnya arsitektur reduksionis yang terdiri
kesederhanaan, linearitas, warna, dan kontemplasi (Wakil 1994, 15); 2)
kesempurnaan dan kualitas obyek mencapai sekali tidak bisa lagi diperbaiki dengan
pengurangan dan ketika semua komponen, rincian menjadi esensi (Pawson, 1996,
7) dan; 3) arsitektur dengan konsep primordial ruang, cahaya dan massa (Murray,
1999, 8).
Pada 90-an beberapa arsitek baru muncul. Mereka juga mempelajari
minimalis, bersama-sama dengan para penulis yang karyanya dikenal sudah pada
tahun 1988, namun tidak disebutkan dalam Rassegna. Ini merupakan indikasi
bahwa tidak ada lagi minimalis London dalam publikasi Italia dan Spanyol, di mana
kita bisa mendengar dari lokal-Mediterania, Swiss dan minimalisme Jepang. Alasan
minimalis dalam perkembangan arsitektur. Sebagai tokoh terkemuka Swiss
essentialists Buchenan (1991) menegaskan Herzog dan DeMeuron. Di wilayah
Mediterania, di Semenanjung Iberia menyebutkan Souto de Moura dan Baeza.
Melhuish (1994) sebagai fitur minimalis Mediterania mengalokasikan sehubungan
dengan lokasi. Wakil (1994) menemukan bahwa iklim Jepang, tradisi dan gaya
hidup yang diterima untuk rumus minimalis. Pertimbangan pertanyaan terbuka
pada asal dan afiliasi minimalis dalam hal tradisi, yang menyebabkan beberapa teori
untuk tepat minimalis dengan budaya mereka sendiri. YPMA (1996) menarik garis
reduksionis Inggris: dari arsitektur Victoria yang elegan menahan diri dan
penggunaan sederhana dari bahan berkualitas tertinggi, lebih dari teknologi
standardisasi dalam keadaan revolusi industri. Di sisi lain, Ranzo (Carmagnola,
Pasca 1996, 149) menemukan pola dasar minimalis dalam arsitektur Mediterania
vernakular. Media presentasi dengan gaya baru di pertengahan transfer 90-an dari
Eropa ke Amerika, berupa pameran yang diselenggarakan. Di New York MoMA,
pameran disebut konstruksi Cahaya (1995) dikuratori oleh Riley, menunjukkan
karya arsitektur dari volume persegi panjang, yang menyadari sensibilitas arsitektur
baru. Pada tahun yang sama, di Pittsburgh, Machado dan el-Khoury mengatur
pameran arsitektur monolitik. Monolitik adalah objek yang terlihat seperti
seolah-olah mereka dibuat dalam sepotong tunggal, padat, struktur besar dari besar
kefasihan terlepas dari cara formal terbatas (Machado, el-Khoury, 1995). Periode
konstitusional ini pembangunan teoritis diikuti oleh kritis Ulasan teori minimalis
didirikan. Topik utama diatur dalam Rassegna masih tetap: garis sejarah, aspek
etika, hubungan dengan modernisme, seni minimal dan postmodernisme.
2.3.4.2 Kontemplasi
Studi Jepang terkait minimalis dalam arsitektur mengatakan pengantar
menyoroti unsur teologi dan tteoritis. Setelah Taki (1984) dan Avon dan Vragnaz
(1988),nilai kontemplatif yang ditunjukkan oleh Auer (1988, 100). Dia mengerti
minimalisme Jepang sebagai ide untuk kekosongan, dorongan moril dan panggilan
untuk rendah hati dan realisasi diri. Yang paling berpengaruh Inggris arsitek
minimalis, Pawson, harus tahu yang ideal langsung selama empat tahun tinggal di
(1996). Berikut konsep kesederhanaan, pengurangan dan esensi direpresentasikan
sebagai kunci pemahaman, negara diperlukan dan dasar kualitas minimalis, dan
yang paling penting - ideal umum dari banyak perbedaan budaya. Sebagai arsitektur
sederhana, berdasarkan proses selektif pengurangan, membantu orang menemukan
mereka yang sebenarnya keinginan dan kebutuhan penting dari kehidupan. Dengan
cara ini, minimalis berfungsi sebagai fenomena universal penolakan materialitas
dan orientasi terhadap spiritualitas dan esensi. Kontras antara tenang dan keras
dalam hal visualitas arsitektur diwakili sebagai kemenangan minimalis
kecanggihan lebih konsumerisme. Untuk alasan yang sama Ympa (1996)
melakukan tidak melihat minimalis sebagai gaya, lebih melihatnya sebagai filsafat
hidup, yang menawarkan perdamaian visual dalam kekacauan hidup perkotaan.
Untuk Toy (1999, 7). Sejalan teoritis ini, desainer Italia Vignelli (Bertoni 1999,
226) adalah yang paling sombong. Dia menunjukkan bahwa minimalisme tidak
gaya, itu adalah perilaku, cara makhluk, reaksi dasar untuk suara visual, gangguan
dan vulgar. Minimum secara signifikan mempengaruhi teori Spanyol dan Italia. Di
cara Pawson, Zabalbeascoa dan Marcos (2000) dan Bertoni (2002) menyediakan
peta kronologis siklus dalam budaya reduktif dan sederhana. Pendekatan Bertoni
ini berikut manifestasi dari reduksi, ekspresif kejelasan, esensialitas ketat,
kemurnian mental dan kesederhanaan formal; terlepas dari konteks sosial-historis
dan apakah itu arsitektur atau pola pikir di daerah lain budaya. baris teori
sejarah-asosiatif ini berorientasi eksklusif terhadap pencarian prekursor minimalis. Itu
Kriteria adalah setiap kebetulan, dan tujuannya untuk membangun sebanyak
sewenang-wenang hubungan dengan tradisi minimalis mungkin. Sintesis
spiritualitas transendensi dan ketidakpuasan dengan waktu di mana pemuliaan aset
dasar dan fisik nilai-nilai, seperti waktu, ruang dan keheningan, membuka dialog
dengan spiritual dimensi dan; 2) mental, tata ruang dan abadi kekosongan
memungkinkan untuk jeda untuk refleksi dan perspektif yang berbeda dari realitas.
Tujuannya adalah untuk mendapatkan tahu gaya hidup yang lebih damai, lebih
bermartabat dan berharga, di mana di atas piramida terdapat kualitas universal yang
milik biasa, hal-hal sederhana dan sehari-hari. Minimalis adalah manifestasi dari
ini gaya hidup dan prevalensi etis antara: 1) mengalahkan materialisme, berat badan
kepemilikan dan semua yang autentik, berlebihan, penipu dan tidak relevan dan; 2)
pencarian spiritualitas, nilai-nilai nyata dalam kehidupan dan esensi. Penekanan dan
penolakan pertama dan konsentrasi untuk yang kedua, menurut untuk Bertoni,
menghilangkan noise modern dan menetapkan dasar-dasar baru prinsip kemajuan.
Transfer paradoks ide dari budaya tradisional dan agama untuk budaya komoditas
massal adalah inspirasi untuk para kritikus teori ini. Itu hubungan antara aspek
metafisis dan ekonomi ditekankan dalam Jenks, yang mengerti istilah minimalis
sebagai versi borjuis akhir-akhir gerakan modern. Melalui minimalis pepatah nya
cocok spiritualitas, tetapi juga cocok untuk belanja (Murray, 1999, 16), Jenks
menyinggung bahwa spiritualitas dimanifestasikan dalam materialitas paling mahal
arsitektur komersial London. skeptisisme serupa diungkapkan Wakil (1994),
membandingkan kesederhanaan sukarela dan terkondisi, yaitu, minimalis untuk
desain dan minimalis untuk kebutuhan yang dikenakan oleh kemiskinan ekonomi.
2.4 Tinjauan Fungsi
Berikut ini akan diuraikan beberapa tinjauan fungsi seperti pengguna,
kegiatan, kebutuhan ruang, dan persyaratan ruang.
2.4.1. Deskripsi Pengguna dan Kegiatan
Pelaku kegiatan yang terlibat dalam “Rumah Susun Kwala Bekala” secara umum adalah:
1. Penghuni
Merupakan kelompok pemilik/penyewa bangunan yang berdomisili
serta menggunakan fasilitas dengan cara menyewa kavling yang telah di
- Datang
- Masuk ke ruangan
- Melakukan aktifitas
- Menggunakan fasilitas
2. Pengelola
Merupakan kelompok yang bertugas memanajemen seluruh areal rumah
susun serta melakukan perawatan secara berkala pada seluruh areal baik
ruang terbuka maupun bangunan.
- Datang
- Masuk ke ruangan
- Bekerja
- Istirahat, makan, minum, sholat, ke toilet dll
- Pulang
3. Pengunjung
Yang beraktifitas dengan penyewa rumah susun dan menggunakan
fasilitas – fasilitas yang ada, bagi pengunjung perorangan maupun kelompok
- Datang
- Beraktifitas dengan para penyewa
- Pulang
2.4.1.2 Deskripsi Perilaku
3. Pada proses perencanaan bangunan “Rumah Susun Kwala Bekala”, user (pengguna) dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :
4. 1. Pengelola dan karyawan hotel
5. 2. Penghuni / Penyewa
6. 3. Pengunjung
7. 4. Servis
Kegiatan Pengelola dan Karyawan Rumah Susun
8.
Diagram 2.1 Kegiatan Pengelola dan Karyawan Rumah susun
Kegiatan Penghuni Rumah susun
9.
Diagram 2.2 Kegiatan Penghuni Rumah susun Datang
Parkir
Entrance/ Side Entrance
Loker
Karyawan K. Pengelola
Kegiatan Pengunjung Rumah susun
Diagram 2.3 Kegiatan Pengunjung Rumah susun
Kegiatan Servis
Diagram 2.4 Kegiatan Servis
2.4.2 Deskripsi Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang
Dari deskripsi kegiatan, pengguna, dan perilaku, dapat disimpulkan Datang
Parkir
Entrance Lobby/Pusat Informasi
Berkunjung
Rekreasi
Pulang
Servis Parkir Servis Loading
Dock Entrance Registrasi
Unit hunian dalam kondominium
Tipe hunian yang menempati kondominium yang direncanakan adalah
single, pasangan muda, keluarga dengan anak-anak kecil, keluarga dengan anak
remaja, dimana dalam setiap unitnya1-5 orang sasaran pakai. Penghuni
kondominium ini diperuntukan bagi golongan menengah keatas.
Dalam tipe hunian majemuk, ruang unit hunian dapat dibedakan berdasarkan
jumlah penghuni atau komposisi dalam keluarga, yakni sebagai berikut:
a. Tipe 1 kamar tidur : Untuk 1 penghuni atau bagi keluarga tanpa anak, atau
keluarga dengan 1 penghuni dengan 1 anak.
b. Tipe 2 kamar tidur : Untuk keluarga dengan 4-5 penghuni, atau pasangan
dengan 2 anak.
c. Tipe Penthouse : Dengan 3-4 kamar tidur, tipe ini dapat dikatakan debagai
unit paling mewah (unit khusus), dimana terdapat ruang-ruang esktra luas
dan juga terdapat ruang tambahan seperti study room, laundry, ruang tamu
dan ruang makan.
Penghuni kondominium dimana kebutuhan ruang dalam tiap hunian ditentukan
berdasarkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
Aktifitas yg dilakukan pemakai kondominium dan penyewa:
Bersantai, istirahat, makan dan lain sebagainya ruang yg dibutuhkan:
1) Ruang tidur
2) Ruang kerja
3) Ruang keluarga
4) Ruang pembantu
5) Balkon
6) Kamar mandi
7) KM/WC pembantu
Aktifitas Pemakai
Ibu 05.00-06.00
07.00-17.00
17.00-21.00
21.00-pagi
Bangun pagi
Mandi
Menyiapkan
sarapan
Berolahraga Berbelanja Masak
Bekerja sambilan
Mandi
Makan malam
Acara bersama
keluarga
Istirahat malam
R.tidur utama
KM/WC
Dapur
Fasilitas Olahraga Market
Dapur Semua ruang
KM/toilet
R.makan
R.keluarga
R.tidur
Anak
Pembantu 04.00-06.00
Permasalahan
Bagaimana menciptakan suasana dan susunan ruang yang sesuai dengan aktifitas
penghuni?
Tujuan
Mendapatkan suasana dan susuna ruang yang sesuai dengan aktifitas penghuni.
Landasan teori
Pada awal proses mendesain hunian, aktifitas dan karakter penghuni sangat penting
untuk menciptakan rancangan hunian yg fungsional dan nyaman.
Analisa
1. Ada beberapa anggota keluarga yang melakukan 2 kegiatan sekaligus,
seperti ayah atau anak yang memiliki kebiasaan menonton TV sambil
makan.
2. Luas unit kondominium yang terbatas mengharuskan penyusunan ruang yg
kompak dan bersifat multifungsi. Seperti kamar tidur anak yang dapat
menjadi ruang istirahat, bermain dan belajar.
Sintesa
1. Ruang makan dan ruang keluarga dapat dikoneksikan untuk memenuhi
kebiasaan penghuni yangmenonton sambil makan. Dengan menyatukan 2
ruang tersebut, kesan ruang yg diperoleh akan menjadi lebih luas.
2. Untuk penghuni singel dan pasangan muda untuk memberikan kepraktisan
aktivitas makan dapat dilakukan diarea meja pantry.
3. Menggunakan perabotan yang multifungsi untuk mengurangi pemborosan
ruang dari penggunaan perabotan yang beragam. Seperti meja dan kursi
yang dibagian bawahnya dapat dijadikan laci sebagai tempat penyimpanan.
4. Agar tidak menggangu aktifitas penghuni lainnya, kamar pembantu
diletakkan dekat dengan ruang cuci, pantry/dapur.
5. Untuk penghematan ruang yang digunakan, ruang tamu dan ruang keluarga
dapat dijadikan satu.
6. Ruang keluarga dalam satu unit kondominium tidak boleh berdampingan
dilakukan pada ruang keluarga dapat mengganggu ketenangan dan
kenyamanan beristirahat penghuni lainnya.
7. Sebagian besar penghuni, pulang disore atau dimalam hari setelah
bekerja/beraktifitas seharian penuh akan beristirahat di ruang keluarga
maupun dikamar tidur. Untuk memberikan kenyamanan pada penghuni
kamar tidur maupun ruang keluarga dapat dihubungkan dengan balkon,
sehingga saat beristirahat, penghuni dapat sambil menikmati keindahan
pemandangan kota di malam hari.
Standart Luasan Ruang (Ernst Neuvert) Ruang Type unit hunian (M2)
1 Kamar tidur 2 Kamar tidur 3 Kamar tidur
R. tidur utama 12,8 12,8 12,8
KM/WC utama - 4,5 4,5
R.Ganti - 3,2 3,2
R.Tidur 1 - 8,5 8,5
R.Tidur 2 - - 8,5
R.Tidur 3 - - -
KM/WC 3,5 3,5 3,5
R.Keluarga 17,2 17,2 17,2
R.Makan - - -
R.Study/Kerja 2,2 2,2 3,3
Dapur - 3 4
K.Pembantu - 2,5 2,5
Tabel Aktifitas Pengelola Pada Kantor Pengelola
Pengelola Aktifitas Ruang
1) Pemimpin
pengaduan dan informasi
dari penghuni
kesehatan, rekreasi, dan
kebutuhan sehari-hari.
-Bertanggung jawab atas
pemeliharaan dan
perbaikan dari seluruh
unsur ME bangunan.
Standart
R.Pengelola (data dari
internet)
Ruang pengelola
R. Manager 5,2 m2/org
Bag.Keuangan 4,6 m2/org
Bag. Admin 4,6 m2/org
Bag.Pemasaran 4,6 m2/org
Bag.Personalia 4,6 m2/org
Ruang Rapat 0,93 m2/org
R.PABX dan operator 0,93
m2/org
Toilet 0,60 m2/org
R. Tunggu tamu 0,93 m2/org
Data kebutuhan fungsi
7) Security
Bertanggung jawab atas
pengaturan kegitatan
kerumah tanggan seperti
celaning dan laundry.
Bertanggung jawab atas
R.Kegiatan Service
Ruang(m2) Kapasitas
Luas
ME
20,00
Housekeeping 52x0,4
20,8
Gudang 60
Laundry 52x0,4
20,8
Keamanan
12,00
Makan Karywn 30%x100
177,00
X5,90
Istirahat Karywn 25%x100
19,25
X0,77
R.Ganti/locker 100x0,8
80
Dapur 60
Sirkulasi 20%
93,97
Total
563
,82
Rumah susun Unit hunian type 18
Kegiatan Perabotan minimal Standart
ruang
Bak mandi, kloset 3m2 Memiliki
Unit hunian type 36
Kegiatan Perabotan
minimal
Tidur, istirahat Tempat tidur,
mini,lemari
Unit hunian type 54
Kegiatan Perabotan
minimal
Tidur, istirahat Tempat tidur,
Dapur/pant
Meja dan kursi 0,2m2/org Luas memadai
dan sirkulasi
yang baik
Tempat
ibadah
Beribadah 0,2m2/unit Dapat digunakan
warga diluar
15m2/unit Hemat dalam
utilitas,sirkulasi
udara baik, dapat
digunakan
warga diluar
rusun
Kios/pasar Jual beli Lemari
penyimpanan
9m2/unit Dapat digunakan
warga diluar
Fasilitas
60m2/unit Dapat digunakan
warga di luar
24m2/unit Dapat digunakan
warga penghuni
Lapangan Dapat digunakan
warga penghuni
Lapangan 0,8m2/org Dapat digunakan
warga penghuni
rusun untuk
Lapangan Dapat digunakan
warga penghuni
Tabel 2.4 Unit dan fasilitas
Fasilitas rumah susun
Fasilitas lingkungan rumah susun harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut menurut Standar Nasional
Indonesia (SNI 03-7013-3004)
1. Memberi rasa aman, ketenangan hidup, kenyamanan dan sesuai dengan
budaya setempat
2. Menumbuhkan rasa memiliki dan merubah kebiasaan yang tidak sesuai
3. Mengurangi kecenderungan untuk memanfaatkan atau menggunakan
fasilitas lingkungan bagi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu
4. Menunjang fungsi-fungsi aktivitas penghuni yang paling pokok bagi dan
segi besaran maupun jeni sesuai dengan keadaan lingkungan yang ada
5. Menampung fungsi-fungsi yang berkaitan dengan penyelenggaraan dan
pengembangan aspek-aspek ekonomi dan sosial budaya. Fasilitas
lingkungan yang ditempatkan pada lantai bangunan rumah susun harus
memenuhi kebutuhan sebagai berikut(Standar Nasional Indonesia) :
6. Maksimal 30% dari jumlah luas lantai bangunan
7. Tidak ditempatkan lebih dari lantai 3 (tiga) bangunan rumah susun. Luas
lahan yang diperuntukan sebagai fasilitas lingkungan harus memenuhi
ketentuan :
8. Luas lahan untuk fasilitas rumah susun seluas-luasnya 30% dari luas
seluruhnya
9. Luas lahan untuk fasilitas ruang terbuka, berupa taman sebagai penghijauan,
tempat bermain anak, dan atau lapangan olah raga seluas-luasnya 20% dari
luas lahan fasilitas lingkungan rumah susun.
Tabel aktifitas penghuni sehari-hari
Penghuni Aktifitas Ruang
Pedagang Bangun pagi
Olahraga
Mandi
Sarapan
Pergi ke pusat pasar
R.tidur utama
Fasilitas olahraga
KM/WC
R.makan
Tabel fasilitas Niaga/Tempat Kerja
Fasilitas Pengguna Kegiatan
Warung Penghuni rumah susun Berinteraksi dan
beristirahat
Toko dagang Penguhuni rumah susun Berinteraksi dalam hal
jual beli
Pusat Perbelanjaan Penghuni dan
pengunjung rumah susun
Melakukan interaksi jual
beli barang/jasa
Tabel Fasilitas Pendidikan
Fasilitas Pengguna Kegiatan
Ruang belajar untuk pra
belajar
Penghuni rumah susun Melakukan kegiatan
belajar
Fasilitas Pengguna Kegiatan
Posyandu Anak-anak penghuni
rumah susun
Melakukan kegiatan
BKIA dan rumah
bersalin
Penghuni rumah susun Melakukan persalinan
Puskesmas Penghuni rumah susun Melakukan perobatan
Praktek dokter Penghuni rumah susun Berinteraksi / konsultasi
dengan dokter spesialis
Apotek Penghuni rumah susun Membeli obat
Tabel Fasilitas Pelayanan umum
Fasilitas Pengguna
Kantor RT Penghuni rumah susun
Kantor/balai/RW Penghuni rumah susun
Post hansip/siskamling Penjaga siskamling
Pos polisi Para anggota kepolisian
Telepon umum Penghuni rumah susun
Gedung serba guna Penghuni rumah susun
Ruang duka Penghuni rumah susun
Tabel 2.5 Aktifitas dan Fasilitas
2.4.3 Deskripsi Persyaratan dan Kriteria Ruang
1. Persyaratan Kenyamanan Ruang Gerak dalam Bangunan Gedung
1. Persyaratan Kenyamanan Ruang Gerak dan Hubungan Antarruang
Untuk mendapatkan kenyamanan ruang gerak dalam bangunan gedung, harus
mempertimbangkan:
fungsi ruang, jumlah pengguna, perabot/peralatan, aksesibilitas ruang, di dalam
bangunan gedung; dan
persyaratan keselamatan dan kesehatan.
Untuk mendapatkan kenyamanan hubungan antarruang harus mempertimbangkan:
2. fungsi ruang, aksesibilitas ruang, dan jumlah pengguna dan
perabot/peralatan di dalam bangunan gedung;
4. persyaratan keselamatan dan kesehatan.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum
mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
2. Persyaratan Kenyamanan Kondisi Udara Dalam Ruang
1. Persyaratan Kenyamanan Termal Dalam Ruang
2. Untuk kenyamanan termal dalam ruang di dalam bangunan gedung harus
mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara.
3. Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kenyamanan termal dalam
ruang harus memperhatikan letak geografis dan orientasi bangunan,
penggunaan bentuk masa yang menimbulkan shading (bayangan), ventilasi alami dan penggunaan bahan bangunan.
4. Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalam
ruangan dapat dilakukan dengan alat pengkondisian udara yang
mempertimbangkan: (1) prinsip-prinsip penghematan energi dan ramah
2.5. Studi Banding Arsitektur Yang Mempunyai Fungsi Sejenis
2.5.1 Easton Park Apartment Serpong
Easton Park Apartment Serpong adalah proyek apartemen baru di Serpong
BSD yang akan dibangun oleh Kalmar Land developer yang telah sukses
mengembangkan proyek-proyek perumahan seperti Mitra Residence, Casa de Esta
(Antapai), Casa Blanca (Cimahi), Cluster Rancamanyar, Kampung Dago dll.
Kalmar Land mulai melebarkan proyek propertinya dengan mempersembahkan
apartemen Easton Park Residence Jatinangor dan Easton Park Apartment Serpong.
Gambar 2.12 Easton park apartmen
(Sumber : Google Images)
Lokasi apartemen Easton Park Serpong cukup strategis. Anda dapat menggunakan
2 jalan tol utama dari Pondok Indah – BSD City atau Kebun Jeruk – BSD City. Jumlah Tower Easton Park Apartment Serpong adalah 3 Tower, yang terdiri dari :
1. Tower De Paris, dimana terdiri dari 16 lantai dan total unit apartemen 250 unit.
2. Tower La Marine, terdiri dari 18 lantai dan total unit apartemen 365 unit.
3. Tower Louvre, terdiri dari 18 lantai dan total unit apartemen 375 unit.
yang menjadikan keseluruhan total unit apartemen Easton Park Serpong ini
Gambar 2.13 Zoning area easton park
(Sumber : Google Images)
Total lift ditower A&B=3 lift passenger, 1 barang Tower C = 2 lift passenger , 1
barang. Area parkir kendaraan terdapat 3 basement dengan kapasitas parkir mobil
yang hanya 240 unit dan parkir motor 278 unit akan menjadikan tidak semua
pemilik unit apartemen dapat memarkirkan kendaraannya di dalam kawasan
apartemen Easton Park Serpong ini. Tipe unit Easton Park Apartment
Serpong terdiri dari :
1. Unit Studio, ada 2 pilihan unit yaitu ;
a. Donatello, luas unit 21,10 m2
b. Michaelangelo, luas unit 24,10 m2
2. Unit 1 Bedroom Picasso dengan luas 31,24 m2
3. Unit 2 Bedroom Rubens, luas unit 47,52 m2
Gambar 2.14 Denah Kamar Easton Park
(Sumber : Google Images)
Fasilitas dalam Easton Park Apartment Serpong sangat lengkap, seperti :
a. Mushola
b. Parking Area c. Cafe
d. Minimarket e. ATM Centre f. Fitness Area g. Kantin
h. Kolam renang
i. Nursery
j. Lapangan Basket 3 on 3
k. Jogging Track
l. Taman Refleksi
m. Area Perkantoran dll.
Tidak ketinggalan fasilitas sekitar Easton Park Apartment Serpong yang sudah
berkembang dimana terdapat :
a. Sekolah St. Ursula, National Plus School, German Centre, Al-Azhar,
b. Academy Simar Mas
c. Rumah Sakit Eka Hospital
e. Pusat Perbelanjaan : Pasar Modern BSD, Giant.
f. Track mountain bike dan jalur pipa gas.
g. Stasion Kereta dan Terminal
Easton Park Apartment Serpong ini patut dipertimbangkan sebagai salah satu
investasi properti di tahun 2013 ini. Dengan lokasi yang strategis di kawasan
Serpong BSD dan fasilitas yang lengkap disekitar apartemen, dapat menjadikan
nilai investasi yang terus berkembang.
2.5.2 Rumah susun Machida,Jepang
Terletak di daerah Machida, sekitar 1 jam-an dari Tokyo dan sekitar 30 menit dari
stasiun Machida ke area ini, daerah yang satu ini memang terkenal dengan
rusun-rusunnya yang sangat banyak (sekitar ratusan gedung) dan para penghuni tidak
hanya para mahasiswa tetapi juga orang tua, rusun ini dihuni oleh orang dengan
Pembagian ini otomatis akan membedakan ukuran ruangan yang mereka tempati.
– Bagi orang jompo, mereka akan ditempatkan di lantai paling bawah (maksiumal lantai 2) mengingat rusun tidak punya lift sehingga para orang jompo akan lebih
mudah masuk ke rumah mereka
- Parkir mobil sangat terbatas tetapi bukan karena masalah lahan melainkan
namanya untuk orang menengah ke bawah maka mobil tentu bukan benda yang
banyak dimiliki oleh mereka, lagipula sistim transportasi sudah sangat nyaman.
Tetapi di satu sisi disediakan tempat parkir mobil umum dimana kita harus
menyewa dan membayarnya setiap bulan.
Gambar 2.16 Situasi Parkir Rumah Susun
Buang sampah, di rumah susun ini ada waktunya untuk buang sampah jenis
tertentu misalnya buang sampah plastik setiap hari Senin dan lainnya. Seperti ini
Gambar 2.17 Tempat pembuangan sampah
Di setiap sisi bangunan terdapat lahan parkir untuk mobil, motor, dan sepeda
tetapi setiap sisi bangunan hanya beberapa lahan parkir saja yang dapat di gunakan
Gambar 2.19 area pedestrian
Di rumah susun ini sangat banyak orang tua yang tinggal disini, dengan
banyaknya orang tua yang berada di rumah susun ini, pemilik rusun membuat
fasilitas yang sangat baik seperti adanya tombol darurat yang berada di ruang tamu
maupun di kamar mandi setiap hunian., tombol darurat ini terhubung ke sebuah
ruangan yang akan menangani hal-hal darurat.
Di rumah susun ini juga terdapat banyak taman bermain untuk anak-anak
yang di titipkan oleh orang tuanya karena bekerja di kantor.
Ini adalah beberapa foto sekitaran rumah susun
Gambar 2.21 Halte sepeda untuk para pengguna sepeda
Perbedan Apartmen dan Rumah Susun
Apartmen dibangun untuk memenuhi kebutuhan hunian masyarakat menengah
keatas, sedangkan rumah susun dibangun untuk kebutuhan rumah kelas ekonomi
menengah kebawah. Jika dilihat dari tingkat privasi di unit rumah susun masih
sangat rendah.
Aturan untuk penghuni apartmen sangat jelas dan dibuat dalam bentuk peraturan
tertulis, sedangkan aturan rumah susun tidak jelas dan pada umumnya hanya berupa
etika dan moral saja. Harga apartmen jauh lebih mahal dibandingkan harga rumah
susun yang relatif murah sehingga terjangkau oleh semua masyarakat.
Fasilitas apartmen sangat lengkap, dari mulai tempat parkir, sara bermain anak,
tempat olahraga, mall, hingga kolam renang pun tersedia. Sedangkan fasilitas
rumah susun sangat terbatas, walaupun ada maka hanya seadanya dan anda jangan
berharap banyak dari fasilitas rusun ini. Apapun pilihan anda maka harus
disesuaikan dengan fungsi dan kemampuan finansial anda sehingga bermanfaat.
Fasilitas Apartmen Rumah Susun
Parkir Basement -
Kolam renang -
Area bermain
Taman
Mini market
Masjid
Ruang serba guna
Klinik
Sekolah
2.6 Elaborasi Tema 2.6.1 Pengertian Tema
Tema yang di terapkan pada proyek ini adalah Arsitektur Minimalis
Modern, yang memiliki pengertian sebagai berikut :
1. Arsitektur
Arsitektur adalah ruang tempat hidup manusia, yang lebih dari sekedar fisik, tapi
juga menyangkut pranata-pranata budaya dasar. Pranata ini meliputi tata atur
kehidupan sosial dan budaya masyarkat, yang diwadahi dan sekaligus
memperngaruhi arsitektur (Amos Rappoport, 1981).
Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura, arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara unsur keindahan/estetika (venustas),
kekuatan (firmitas), dan kegunaan/fungsi (utilitas), dan tidak ada satu unsur yang
melebihi unsur lainnya.
Sedangkan menurut Robert Gutman (1976), arsitektur sesungguhnya merupakan
kulit ketiga manusia. Arsitektur merupakan lingkungan buatan yang bukan saja
menjembatani antara manusia dengan lingkungan melainkan sekaligus merupakan
wahana ekspresi kultural untuk menata kehidupan jasmaniah,psikologis dan sosial
manusia.
2. Minimalis Modern
Istilah Minimalis muncul di akhir 70-an, Tema tersebut memiliki arti tentang
arsitektur minimal sebagai tentang tren yang ada di akhir 80-an, tetapi bentuk
monograf pertama kali muncul di pertengahan 90-an (Stevanovic, 2013).
Jencks berpendapat bahwa minimalis adalah versi borjuis modernisme,
menekankan hilangnya komponen ideologis dan komersialisasi spiritualitas
3. Arsitektur Modern
Perihal arsitektur modern.
Ada beberapa pengertian mengenai konsep modern :
1. Bangunan modern adalah bersifat singular, seragam dan tunggal. Pengertian ini
lahir dikarnakan dampak sejarah munculnya revolusi industri di eropa pada saat itu
yang secara tidak langsung mempengaruhi pola perkembangan arsitektur. Dari
kemajuan teknologi industri tersebut molailah berpengaruh pada proses rancangan,
konstruksi, struktur dan efisiensi. Arsitektur molai diproduksi dengan cara masal
seperti halnya mobil yang di produksi secara masal, seragam dan tunggal.
2. Gaya modern adalah gaya yang simple, bersih, fungsional, stylish, trendy,
up-to-date. Pengertian ini lahir berkaitan dengan perkembangan gaya hidup penikmat
karya arsitektur yang semakain modern, serba cepat, mudah, berkualitas dan
fungsional, didukung dengan teknologi industri yang canggih.
3. Gaya modern merupakan perencanaan konsep yang mengusung fungsi ruang
sebagai titik awal desain. Pengertian ini sejalan dengan pemahaman bahwa Prinsip arsitektur modern ini sebenarnya mengikuti prinsip arsitektur ‘form follow function’ atau bentuk mengikuti fungsi.
Salasatu arsitek pendahulu yang memakai konsep ini adalah Le Corbusier dari
Perancis yang terkenal dengan system Le modular- nya, satu konsep rancangan
dengan pendekatan perulangan unit-unit bangunan untuk kemudahan penyusunan
standar fungsional dan modulasi sistem struktur serta kecepatan pembangunan yang
memungkinkan sistem konstruksi dengan material bangunan fabrikasi.
Berbincang tentang arsitektur modern kita bias menemukan cabang atau
pengembangan dari konsep moderen diantaranya adalah minimalis, postmodern
4. Arsitektur Minimalis
Perihal arsitektur minimalis.
Konsep minimalis sebenarnya sebuah konsep yang berdiri sendiri sebagai respon
kejenuhan dari sebuah gaya arsitektur-arsitektur terdahulu. Hal ini bisa kita lihat
kemunculannya pada tahun 1980 yang condong berdasar pada gaya arsitektur art
deco.
Tetapi pada saat ini kita melihat minimalis lahir kembali dari biground gaya modern
sehingga kita bisa memahami bahwa pada dasarnya istilah minimalis merupakan
modifikasi desain bergaya modern. Sehingga para asritek sering menamakan
turunan dari arsitektur modern.
Ada juga yang mengartikan bahwa arsitektur minimalis merupakan arsitektur
modern tetapi arsitektur modern belum tentu arsitektur minimalis maka dari
pernyataan itu kita akan mendapati istilah gaya arsitektur lain yang memiliki unsure
modern seperti : klasik modern, arsitektur modern etnik, arsitektur tradisional
modern, arsitektur bali modern, dan sebagainya yang tidak masuk dalam klasifikasi
arsitektur minimalis tapi memiliki pendekatan modern.
Pada gaya minimalis ini permainan unsur garis tegas, tegak lurus dan bidang, serta
pewarnaan yang cenderung lebih berani.
Adapun bangunan modern minimalis bisa kita simpulkan bangunan yang bersifat
singular, seragam dan tunggal, esensial, fungsi ruang sebagai titik awal desain
(functionalism) atau form follow function, clarity (kejelasan) dan minimum sebagai
tujuan dan nilai estetika (simplicity), menggunakan unsur garis, tegak lurus dan
bidang. Penghindaran dari elemen arsitektur ornament dll.
butik untuk mencapai kesederhanaan. Dimana desainnya banyak menggunakan
elemen putih, pencahayaan dingin, ruangan yang besar dengan pemakaian sedikit
furnitur. Arsitektur minimalis menyederhanakan ruang hidup untuk
mengungkapkan kualitas penting dari bangunan dan menyampaikan kesederhanaan
dalam sikap terhadap kehidupan.
Desain minimalis digunakan untuk menggambarkan tren dalam desain dan
arsitektur dimana subjek direduksi menjadi elemen yang diperlukannya. Kata-kata
"gaya minimalis" cenderung menyulap pikiran ruang kosong tanpa kepribadian dan
gaya. Gaya minimalis jauh lebih dari itu. Ini adalah gaya dekorasi dan hidup di
mana tujuannya adalah untuk mengexpose fitur-fitur elemen yang paling mendasar.
Dalam dekorasi, itu berarti menghilangkan unsur yang tidak perlu dan menemukan
keindahan dalam kesederhanaan. Inovasi berbagai material seperti baja, beton, dan
kaca, standardisasi, dan efisiensi memberi tantangan baru dalam dunia desain.
Berbagai pemikiran tentang desain minimalis telah banyak dikemukakan oleh
arsitek lokal di Eropa dan Amerika. Pada saat itu mereka telah berusaha untuk
menemukan format arsitektur baru yang mencerminkan semangat untuk mencoba
meninggalkan pengaruh arsitektur klasik. Minimalis dalam arsitektur menekankan
hal-hal yang bersifat esensial dan fungsional. Bentuk geometris elementer tanpa
ornamen atau dekorasi menjadi karakternya. Mengacu pada pendapat Carlos Rego
itu, dapat dikatakan arsitektur minimalis dikenal sebagai abad modern, abad yang
diramaikan berbagai kemajuan sebagai hasil dari revolusi industri.
Konsep dan Elemen desain
Konsep arsitektur minimalis adalah pencapaian ke kualitas yang esensial untuk
menghasilkan kesederhanaan. Idenya adalah tidak sepenuhnya tanpa ornamen,
tetapi bahwa semua bagian, detail dan pemakaian bahan dari kayu dikurangi ke
tahap di mana tidak ada yang dapat menghapus apa-apa lagi untuk meningkatkan
desain. Pertimbangan untuk 'esensi' ringan, bentuk, detail dari materi, ruang, tempat
dan kondisi manusia. arsitek minimalis tidak hanya mempertimbangkan kualitas
fisik bangunan. Selain itu, mereka melihat secara mendalam ke dimensi spiritual
dan tak terlihat, dengan memperhatikan detail, ruang, alam dan bahan. Yang
sifat-sifat yang tak terlihat. Seperti cahaya alami, langit, bumi dan udara. Selain itu,
mereka membuka dialog dengan lingkungan sekitarnya untuk menentukan bahan
yang paling penting untuk pembangunan dan menciptakan hubungan antara
bangunan dan lingkungan sekitarnya. Dalam arsitektur minimalis, elemen desain
menyampaikan pesan kesederhanaan. Bentuk-bentuk dasar geometris, unsur tanpa
hiasan, bahan-bahan sederhana dan pengulangan struktur mewakili rasa ketertiban
dan kualitas penting pemakaian cahaya alami pada bangunan mengungkapkan
ruang yang sederhana dan bersih.
Bentuk dan Ruang dalam Arsitektur Modern.
Guide to Modern Architecture, Rayner Banham, tentang bentuk dan ruang.
Perkembangan Arsitektur Modern meliputi perkembangan pemikiran mengenai
konsep bentuk, ruang, fungsi, dan konstruksi. Penekanan disini lebih pada
pembahasan bentuk dan ruang. Ciri pokok dari bentuk adalah ”ada dan nyata atau terlihat atau teraba”, sedangkan ruang memiliki ciri khas “ada dan tak terlihat atau tidak nyata”. Ditinjau dari segi bentuk, bangunan Arsitektur Modern memungkinkan untuk menghasilkan bentuk-bentuk yang tidak biasa karena
perkembangan teknologi struktur dan konstruksi serta perkembangan teknologi
bahan. Sedangkan dilihat dari segi ruang bangunan Arsitektur Modern bersifat lebih
mengalir berdasarkan proses sirkulasi dan berkegiatan (step to step).
Dari segi konstruksi, perkembangan Arsitektur Modern ditandai oleh penggunaan
konstruksi beton bertulang, baja dan bahan-bahan bangunan yang ringan. Dilihat
dari segi fungsi, bentuk bangunan Arsitektur Modern menggunakan modul manusia