TUGAS PROPOSAL METODE PENELITIAN HUKUM
TENTANG HUKUM PERJANJIAN ASAS
PROPORSIONALITAS DALAM KONTRAK
KOMERSIAL
DISUSUN OLEH :
MOCHAMAD IRHANUDIN
NPM : 1141173300022
KELAS/SEMESTER : FH VI SORE A
KATA PENGANTAR
Penulisan proposal skripsi ini adalah merupakan salah satu syarat akhir bagi mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan tingkat Strata-1 (S1) dan guna mencapai gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas
Singaperbangsa Karawang.
Segala Puji dan Syukur Kehadirat Allah SWT, karena atas Ridha-Nya maka penulisan proposal skripsi ini dapat diselesaikan oleh penulis.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, sebab masih banyak kekurangan-kekurangannya. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis.
Tak lupa penulis juga ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak baik yang secara langsung maupun tidak langsung telah terlibat dalam penelitian proposal skripsi ini, khususnya bagi :
1. Bapak Candra Hayatul Iman, S.H., M.H , Selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Singaperbangsa Karawang.
2. Bapak H.Suryana Marta, S.H., M.H , Selaku Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Singaperbangsa Karawang.
3. Bapak Hollyone Singadimedja, S.H., M.H , Selaku Kepala Program Studi Fakultas Hukum Universitas Singaperbangsa Karawang.
4. Seluruh Dosen dan Staff Tata Usaha Fakultas Hukum Universitas Singaperbangsa Karawang.
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya kontrak berawal dari perbedaan atau ketidaksamaan kepentingan diantara para pihak. Perumusan hubungan kontraktual diantara para pihak. Perumusan hubungan kontraktual tersebut pada umumnya senantiasa diawali dengan proses negosiasi diantara para pihak melalui
Fenomena adanya ketidakseimbangan dalam berkontrak sebagaimana
tersebut dapat dicermati dari beberapa model kontrak, terutama kontrak-kontrak konsumen dalam bentuk standar/baku yang didalamnya memuat klausul-klausul yang isinya (cenderung) berat sebelah. Namun demikian untuk kontrak-kontrak komersial harus dikaji secara saksama dan hati-hati agar tidak serta-merta menyatakan klausul kontrak tersebut tidak seimbang atau berat sebelah, semata-mata membaca teks gramatikal substansi kontrak tersebut.
Sering kali terjadi kesalahan persepsi mengenai eksistensi kontrak yang pada akhirnya menjebak dan menyesatkan penilaian yang objektif, khususnya
mengenai pertanyaan, “apakah suatu kontrak itu seimbang atau tidak seimbang berat sebelah”. Banyak pihak dengan mudah terjebak untuk menyatakan suatu kontrak itu berat sebelah atau tidak seimbang, hanya mendasarkan pada
perbedaan status masing-masing pihak yang berkontrak. Pandangan tersebut tidak seluruhnya salah, bahkan dalam beberapa hal harus diakui bahwa dalam suatu kontrak sering terdapat ketidakseimbangan dan ketidakadilan manakala terdapat bargaining position yang berbeda, khususnya apabila terkait dengan kontrak konsumen. Namun demikian, kiranya lebih fair dan objektif apabila menilai keberadaan suatu kontrak terutama dengan mencermati substansinya, serta kategori kontrak yang bersangkutan (kontrak konsumen atau kontrak komersial).
Problematika ini tentunya merupakan tantangan bagi para yuris untuk memberikan jalan keluar terbaik demi terwujudnya kontrak yang saling
menguntungkan para pihak (win-win solution contract), di satu sisi memberikan kepastian hukum dan disisi lain memberikan keadilan. Meskipun disadari untuk memadukan kepastian hukum dan keadilan, konon merupakan perbuatan yang mustahil, namun melalui instrumen kontrak yang mampu mengakomodasi perbedaan kepentingan secara proporsional, maka dilema pertentangan “semu” antara kepastian hukum dan keadilan tersebut akan dapat dieliminasi. Bahkan akan menjadi suatu keniscayaan terwujudnya kontrak yang saling
menguntungkan para pihak (win-win solution contract).
Kontrak komersial yang menjadi fokus penelitian ini, sekedar menyoal ketidakseimbangan kontraktual berdasarkan bunyi klausul kontrak justru bertentangan dengan esensi hubungan kontraktual yang dibangun para pihak. Pada kontrak komersial, tujuan para pihak lebih ditujukan membangun hubungan yang berlangsung fair.
Untuk menganalisis secara lebih cermat mengenai seluk-beluk hubungan para pihak dalam kontrak komersial diperlukan suatu metode pengujian terhadap eksistensi suatu kontrak sebagai proses yang sistematis dan padu. Keterpaduan asas-asas hukum kontrak, termasuk didalamnya asas
lebih difokuskan pada bagaimana perbedaan kepentingan para pihak dapat diatur sedemikian rupa secara proporsional.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, maka dalam penelitian ini terdapat isu sentral, yaitu :
“ASAS PROPORSIONALITAS SEBAGAI LANDASAN PERTUKARAN HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK DALAM KONTRAK KOMERSIAL”.
Untuk menganalisis dan memecahkan problematika pada isu sentral tersebut diatas, maka dalam penelitian ini diperinci lebih lanjut kedalam dua subisu hukum, sebagai berikut :
a. Makna dan fungsi asas proporsionalitas dalam kontrak komersial.
b. Penerapan asas proporsionalitas dalam kontrak komersial yang meliputi seluruh proses kontrak mulai dari tahapan para kontraktual, pembentukan, pelaksanaan kontrak bahkan apabila terjadi sengketa kontrak.
3. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini terkandung tujuan sebagai berikut :
a. Untuk menganalisis landasan filosofis, makna dan fungsi asas
proporsionalitas serta kaitannya dengan teori keadilan sebagai landasan hubungan kontraktual. Dasar keterikatan kontraktual yang melandasi hubungan para pihak ditinjau dari perspektif proporsionalitas, penentuan isi, dan bentuk kontrak dimaksud. Kesetaraan hubungan kontraktual antara para pihak haruslah dikaji dari sudut pandang nilai keadilan yang bermakna proporsional.
b. Untuk menganalisis penerapan asas proporsionalitas pada seluruh proses tahapan kontrak, baik pada tahap perundingan (pre-contractual phase), pembentukan kontrak (contractual phase), serta kemungkinan timbulnya sengketa kontrak. Kesetaraan hubungan kontraktual akan terwujud apabila pembagian hak dan kewajiban berlangsung secara proporsional.
4. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini ada dua manfaat yang dapat diperoleh, yaitu : a. Dari sisi teoritis, penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan
asas dalam bidang hukum kontrak, khususnya yang terkait dengan asas-asas hukum kontrak. Hukum kontrak diharapkan mampu tampil dalam wujudnya yang akomodatif, artinya mampu mendukung serta
mengombinasikan kebutuhan dunia dengan bidang hukum, sejalan dengan ungkapan “Setiap langkah adalah langkah hukum”. Asas proposionalitas ini diharapkan menjadi salah satu asas pokok yang
mendasari hubungan kontraktual, serta melengkapi mata rantai asas-asas hukum kontrak lainnya dalam menganalisis eksistensi kontrak.
b. Dari sisi praktis, asas proporsionalitas menjadi asas yang dapat diterapkan dalam praktik, artinya pelaku senantiasa mengakomodasi asas ini dalam aktivitas kegiatannya. Dengan demikian diharapkan akan terwujud kontrak yang secara proporsional mampu memberikan keadilan dan kepastian bagi para pihak. Melalui model kontrak ini diharapkan akan terwujud pola hubungan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).
5. Kerangka pemikiran
a. Keabsahan Kontrak
Pada dasarnya senantiasa dilandasi aspek hukum terkait, ibaratnya sebuah kereta api hanya akan dapat berjalan menuju tujuannya apabila ditopang dengan rel yang berfungsi sebagai landasan geraknya. Dengan demikian bagaimana agar mereka berjalan sesuai tujuan akan berkorelasi dengan struktur kontrak yang dibangun bersama. Kontrak akan
melindungi proses para pihak, apabila pertama-tama dan terutama, kontrak tersebut dibuat secara sah karena hal ini menjadi penentu proses hubungan hukum selanjutnya.
Menyikapi tuntutan dinamika tersebut diatas, pembuat undang-undang telah menyiapkan seperangkat aturan hukum sebagai tolak ukur bagi para pihak untuik menguji standar keabsahan kontrak yang mereka buat. Perangkat aturan hukum tersebut sebagaimana yang diatur dalam sistematika Buku III BW yaitu :
a. Syarat sahnya kontrak yang diatur dalam Pasal 1320 BW, dan
b. Syarat sahnya kontrak yang diatur diluar pasal 1320 BW (vide Pasal 1335, Pasal 1337, Pasal 1339 dan Pasal 1347).
Pasal 1320 BW merupakan instrumen pokok untuk menguji keabsahan kontrak yang dibuat para pihak. Dalam pasal 1320 BW tersebut terdapat empat syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu kontrak, yaitu :
a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya (de toestemming van degenen die zich verbinden);
b. Kecakapan untuk membuat perikatan (de bekwaamheid om eene verbintenis aan te gaan);
c. Suatu hal tertentu (een bepaald onderwerp);
Dalam sistem common law untuk sahnya suatu kontrak juga mensyaratkan dipenuhinya beberapa elemen. Secara garis besar elemen penting
pembentuk kontrak,meliputi :
a. Intention to create a legal relationship, para pihak yang berkontrak
memang bermaksud bahwa kontrak yang mereka buat dapat dilaksanakan berdasarkan hukum.
b. Agreement, artinya harus ada kesepakatan diantara para pihak. c. Consideration, merupakan janji diantara para pihak untuk saling
berprestasi.
UPICC dan RUU Kontrak (ELIPS) merumuskan keabsahan kontrak secara a-contrario, sebagaimana terdapat dalam pasal 3 ayat 1 yang menyatakan bahwa : “Undang-undang ini tidak mengatur mengenai ketidakabsahan yang timbul dari :
(a) Tidak adanya kemampuan; (b)Tidak adanya kewenangan;
(c)Bertentangan dengan kesusilaan yang baik atau bertentangan dengan hukum”.
Dari rumusan pasal tersebut sahnya kontrak harus memenuhi syarat, sebagai berikut :
a. Kemampuan b. Kewenangan
c. Berdasar hukum dan kesusilaan
Suatu kontrak yang tidak memenuhi syarat sah sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1320 BW, baik syarat subjektif maupun syarat objektif akan mempunyai akibat-akibat, sebagai berikut :
a. “noneksistensi”, apabial tidak ada kesepakatan maka tidak timbul kontrak; b. Vernietigbaar atau dapat dibatalkan, apabila kontrak tersebut lahir karena
adanya cacat kehendak atau karena ketidakcakapan. Hal ini terkait dengan unsur subjektif, sehingga berakibat kontrak tersebut dapat dibatalkan; dan
c. Nietig atau batal demi hukum, apabila terdapat kontrak yang tidak memenuhi syarat objek tertentu atau tidak mempunyai causa atau causanya tidak diperbolehkan. Hal ini terkait dengan unsur subyektif, sehingga berakibat kontrak tersebut batal demi hukum.
B. kesepakatan
a. Dasar keterikatan kontraktual dan penentuan saat lahirnya Kontrak
perjanjian atau pernyataan pihak yang satu atau bersesuaian dengan
pernyataan pihak yang lain. Pernyataan kehendak tidak selalu harus dinyatakan secara tegas namun dapat dengan tingkah laku atau hal-hal lain yang
mengungkapkan pernyataan kehendak para pihak.
Kesepakatan yang merupakan pernyataan kehendak para pihak dibentuk oleh dua unsur, yaitu unsur penawaran dan penerimaan. Penawaran diartikan sebagai pernyataan kehendak yang mengandung usul untuk mengadakan
perjanjian. Usul ini mencakup esensialia perjanjian yang akan ditutup, sedangkan penerimaan merupakan pernyataan setuju dari pihak lain yang ditawari.
Syarat kesepakatan yang merupakan pencerminan asas konsensualisme, dimana dengan adanya kata sepakat telah lahir kontrak, ternyata dalam lalu lintas hukum yang demikian kompleks juga menimbulkan problem pelik
mengenai pertanyaan “Kapan kontrak itu lahir?” penentuan sat lahirnya kontrak menjadi kendala, terutama apabila penawaran dan penerimaan dilakukan
melalui korespondensi atau surat-menyurat. Hal ini mempunyai implikasi penting dalam hal :
a. Penentuan risiko;
b. Kesempatan penarikan kembali penawaran;
c. Saat mulai dihitungnya jangka waktu kadaluwarsa; dan d. Menentukan tempat terjadinya kontrak.
6. Metode Penelitian
6.1Pendekatan Masalah
Penelitian hukum merupakan suatu proses ilmiah untuk mencari
pemecahan atas isu hukum yang muncul dengan tujuan untuk memberikan preskripsi mengenai apa yang muncul tersebut. Penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, pilihan terhadap satu atau beberapa metode penelitian terkait era dengan perumusan masalah, objek yang diteliti serta tradisi keilmuan itu sendiri. Pilihan terhadap metode yang digunakan untuk melakukan analisis terkait dengan keperluannya, yaitu keperluan akademis dan keperluan praktis. Mengingat penelitian ini merupakan penelitian untuk kepentingan akademis (disertasi), maka terkait dengan substansinya, penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif.
Dalam penelitian hukum diperlukan metode pendekatan yang
dimaksudkan untuk mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu hukum yang sedang dicoba untuk dicari jawabnya. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan untuk menganalisis permasalahan dalam penelitian ini meliputi :
b. Pendekatan kasus
c. Pendekatan perbandingan
Pendekatan konseptual beranjak dari pendapat ahli (doktrin) yang terkait dengan materi hukum kontrak, pendekatan kasus dilakukan untuk menganalisis kasus-kasus yang diputus oleh pengadilan. Pendekatan perbandingan