PERAN KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN (1)

Teks penuh

(1)

PERAN KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN

A. Definisi/Pengeretian Kurikulum

Istilah kurikulum (

curriculum

) berasal dari kata

curir

(pelari) dan

curere

(tempat

berpacu), dan pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikuilum diartikan

sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari

start

sampai

finish

untuk

memperoleh medali/penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia

pendidkan menjadi sejumlah mata pelajaran (

subject

) yang harus ditempuh oleh seorang siswaa

dari awal samapai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.

Berdasarkan pengertian diatas, dalam kurikulum terkandung dua hal pokok, yaitu:

1.

Adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa,

2.

Adanya tujuan utama, yaitu untuk memperoleh ijazah.

Dengan demkian, implikasinya terhadap praktik pengajaran, yaitu setiap sswa harus

menguasai seluruh ata pelajaran yang diberikan dan menempatkan guru dalam posisi yang sangat

penting dan menentukan. Keberhasilan siswa ditentukan oleh seberapa jauh mata pelajaran

terssebut dikuasainya dan biasanya disimbolkan dengan beberapa skor yang diperoleh setelah

mengkuti suatu tes atau ujian.

Pengertian kurikulum seperti disebutkan diatas dianggap terlalu sempit atau sangat

sederhana, sehingga perlu dipelajari pula buku-buku dan literature-literatur lainnya tentang

kurikulum terutama yang berkembang di negara-negara maju, maka akan ditemukan banyak

pengerrtian yang lebih luas dan beragam. Istilah kurikulu pada dasarnya tidak hanya terbatas

pada sejulah mata pelajaran saja, tetapi mencakup semua pengalaman belajar (

learning

experiences

) yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya.

(2)

maka secara teoritis akan agak sulit untuk menentukan satu pengertian yang dapat merangkum

semua pendapat.

B. Keterkaitan Kurikulum dengan Berbagai Pengertian Kurikulum

Berdasarkan hasil kajian, diperoleh beberapa dimensi pengertian kurikulum. Menurut

R. Ibrahim (2005), kurikulum dikelompokkan dalam 3 dimensi, yaitu: kurikulum sebagai

substansi, kurikulum sebagai sistem, dan kurikulum sebagai bidang studi. Selain itu, Nana

Syaodih Sukmadinata (2005),

mengemukakan pengertian kurikulum ditinjau dari 3 dimensi,

yaitu kurikulu sebagai ilmu, kurikulum sebagai sistem, dan kurikulum sebaga rencana.

Sementara Said Hamid Hasan (1988), berpendapat bahwa pada saat sekarang istilah kurikulum

memiliki 4 dimensi pengertian, dimana satu dimensi dengan dimensi lainnya saling

berhubungan. Keempat dimensi kurikulum tersebut yaitu:

1.

Kurikulum sebagai suatu ide/gagasan

2.

Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari

kurikulum sebagai suatu ide

(3)

4.

Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konskekuensi dari kurikulum sebagai suatu

kegiatan.

Selanjutnya, bila merujuk pada dimensi pengertian yang terakhir, maka dengan

mudah dapat mengungkapkan keempat dimens kurikulum tersebut dikaitkan dengan pengertian

kurikulum.

a.

Pengertian kurikulum dihubungkan dengan dimensi ide

Pengertian kurikulum sebagai diensi yang berkaitan dengan ide pada dasarnya

mengandung makna bahwa kurikulum itu adalah sekumpulan ide yang akan dijadikan pedoman

dalam pengembangan kurikulum selanjutnya.

b.

Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi rencana

Makna dari dimensi kurikulum ini adalah sebagai seperangkat rencana dan cara

mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan untuk pedoman

penyelenggarakan kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan tertentu.

c.

Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi aktivitas

(4)

d.

Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi hasil

Definisi kurikulum sebagai dimensi hasil memandang kurikulum itu sangat

memperhatikan hasil yang akan dicapai oleh siswa agar sesuai dengan yang telah direncanakan

dan yang telah menjadi tujuan dari kurikulum tersebut.

Adapun pandangan atau anggapan yang sampai saat ini masih lazim digunakan dalam

dunia pendidikan dan persekolahan di negara kita adalah kurkulum merupakan suatu rencana

tertulis yang disusun guna memperlancar proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan rumusan

pengertian kurikulum seperti yang tertera dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional bahwa “kurkulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan

mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

C. Fungsi Kurikulum

(5)

Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam

fungsi kurikulum, yaitu:

a.

Fungsi Penyesuaian (

the adjustive or adaptive function

)

Bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar

memiliki sifat

well adjusted

yaitu mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik

lingkungan fisik maupun lingkungan social.

Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan dan bersifat dinamis. Oleh

karena itu, siswa pun harus memilki keampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang

terjadi di lingkungannya.

b.

Fungsi Integrasi (

the integrating function

)

Bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan

pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat.

Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadan yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan

berintegrasi dengan masyarakat.

c.

Fungsi diferensiasi (

the differentiation function

)

Bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan

terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki perbedaan, baik dari aspek fisik

maupun psikis yang harus dihargai dan dilayani dengan baik.

d.

Fungsi persiapan (

the propaedeutic function

)

Bahwa kurikulum sebagai alat penddikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk

melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain tu,kurikulum juga diharapkan dapat

mempersiapkan siswa untuk dapat mempersiapkan siswa utnuk dapat hidup dalam masyarakat

seandainya karena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya.

(6)

Bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memerikan kesempatan

kepada siswa untuk memilh program-program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan

niatnya. Fungsi pemilihan ini sangat erat hubungannya dengan fungsi diferensiasi, karena

pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula diberinya kesempatan bagi siswa

tersebut untuk memilih yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mewujudkan

kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat fleksibel.

F.

Fungsi Diagnostik (

the diagnostic function

)

Bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan

siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang

dimilikinya. Apabila siswa sudah mampu memahami kekuatan-kekuatan dan

kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan sendiri potensi

kekuatan yang dimilikinya atau memperbaiki kelemahan-kelemahannya.

D. Peranan Kurikulum

Kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah/madrasah memiliki peranan yang

sangat strategis dan menentukan pencapaian tujuan pendidikan. Apabila drinci secara lebih

mendetal terdapat tiga peranan yang dinilai sangat penting, yatu peranan knservatif, peranan

kreatif dan peranan kritis/evaluatif (Oemar Hamalik, 1990).

a.

Peranan Konservatif

(7)

kenyataan bahwa pendidikan [ada hakikatnya merupakan proses social. Salah satu tugas

pendidikan yaitu memengaruhi dan membina perilaku siswa sesuai dengan nilai-nilai social yang

hidup dilingkungan masyarakatnya.

b.

Peranan Kreatif

Bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan

perkembangan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan masa

mendatang. Kurikulum harus mengandung hal-hal yang dapat membantu setiap siswa

mengembangkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk memperoleh

pengetahuan-pengetahuan baru, kemampuan-kemampuan baru, serta cara berfikir baru yang dibutuhkan dalam

kehidupannya.

c.

Peranan Kritis dan Evaluatif

Bahwa nilai-nilai dan budaya yang hidup masyarakat senantiasa mengalami

perubahan,sehingga pewarisan nilai-nilai dan budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan

dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang. Selain itu, perkembangan yang terjadi pada

masa sekarang dan masa mendatang belum tentu sesuai dengan kebutuhan.

(8)

Nilai-nilai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dan tuntutan masa kini dihilangkan dan

diadakan modifikasi atau penyempurnaan-penyempurnaan.

Ketiga peranan kurikulum diatas tentu saja harus berjalan secara seimbang dan harmonis agar

dapat memenuhi tuntutan keadaan. Jika tidak, akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang

menyebabkan peranan kurikulum persekolahan menjadi tidak optimal. Menyelaraskan ketiga

peranan kurikulum tersebut menjad tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses

pendidikan, diantaranya guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, siswa, dan masyarakat.

Denegan demikian, pihak-pihak yang terkait idealnya dapat memahami tujuan dan isi dari

kurikulum yang diterapkan sesuai dengan bidang tugas masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

(9)

FUNGSI DAN PERAN KURIKULUM

BAB I

PENDAHULUAN

Penyelenggaraan system Pendidikan di Indonesia pada umumnya lebih mengarah pada model pembelajaran yang di lakukan secara masal dan klaksikal, dengan berorientasi pada kuantitas agar mampu melayani sebanyak-banyaknya peserta didik, sehingga tidak dapat meng akomodir kebutuhan peserta didik secara individual diluar kelompok, pada hakikatnya Pendidikan hendaknya mampu mengembangkan potensi kecerdasan serta bakat yang di miliki peserta didik secara optimal sehingga peserta didik dapat mengembangkan potensi diri yang di milikinya menjadi suatu prestasi yang punya nilai jual.

Dalam hal ini jelas bahwa system pendidikan di Indonesia sudah mulai di pokuskan pada keberhasilan pada peserta didik dengan jaminan kemampuan yang diarahkan pada life skill yang kelak kemudian hari dapat menopang kesejahtraan peserta didik itu sendiri untuk keluarganya serta masa depannya dengan kehidupan yang layak di masyarakat. Bagian dari tujuan pendidikan nasional adalah pembangunan sumber daya manusia yang mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesuksesan dan kesinambungan pembangunan nasional, oleh karenanya yang menjadi pra syarat utamanya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusianya yang harus benar-benar diperhatikan serta dirancang sedemikian rupa yang diimbangi dengan lajunya perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga selaras dengan tujuan pembangunan nasional yang ingin di capai.

Pendidikan Non Formal merupakan salah satu wadah yang tepat di dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, konsekuensinya pembangunan di bidang pendidikan mutlak harus diutamakan dan dioptimalkan.

Yang harus di ingat adalah bahwa peningkatan kualitas pendidikan harus di mulai dari pendidikan informal, sementara pendidikan non formar merupakan wadah serta pondasi untuk menampung masyarakat dari keluarga pra sejahtera agar memiliki kualitas serta dapat hidup layak dan sejajar dengan masyarakat dari keluarga menengah keatas. pendidikan pada jenjang pendidikan non formal merupakan satuan pendidikan yang membekali dan mempersiapkan warga belajar untuk dapat mengikuti tumbuh kembangnya dunia ilmu pengetahuan dan teknologi agar warga belajar menguasai kecakapan khusus sehingga memiliki bekal yang matang.

Dalam hal in. yang merupakan tantangan bagi tutor atau pamong belajar pada jenjang pendidikan non formal mengenal lebih jauh tentang fungsi dan peran kurikulum pendidikan non formal guna mampu menguasai bahan sehingga dapat memenuhi standar prioritas tingkat keberhasilan warga belajar untuk melangkah pada jenjang pendidikan selanjutnya.

1.1 Latar Belakang

Yang melatar belakang belakangi Penulis mengambil thema “ Fungsi dan Peran kurikulum dalam Proses Pembelajaran ” dari mata kuliah Teori dan Proses Pembelajaran PLS/PNF adalah merupakan kajian dari pengembangan peda pelaksanaan proses pembelajaran bagi warga belajar yang lebih diarahkan pada penggalian kemampuan yang ada pada diri pesrta didik /warga belajar.

1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari Penulis menyajikan Tema diatas adalah sejalan dengan standar pembangunan pendidikan Nasional diarahkan pada komponen penting dalam mencapai target Indek Pembangunan Manusia yang juga merupakan adopsi dari Konsep Comunnity-Based Education yang lebih ditekankan kepada pendekatan dimana masyarakat harus terlibat aktif dalam peningkatan serta

pelaksanaan pendidikan bagi anak-anak. Masyarakat diarahkan serta di ajak untuk terlibat aktif dalam meningkatkan layanan pendidikan bagi generasi muda yang disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi masyarakat yang ada di sekitar wilayahnya masing-masing.

1.3 Dasar Hukum

1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Otonomi Daerah.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2007 tentang Pembagian Kewenangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Otonom.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Nasional Pendidikan.

5. Intrusi Presiden Nomor 5 Tahun 2005 Tentang Gerakan Nasional Percepatan Wajib Belajar Pendidikan dasar 9 Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.

(10)

7. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Provinsi. 8. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemeriharaan Bahasa Sastra dan Aksara Daerah. 9. Keputusan Gubernur Jawa Barat tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

11. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan pendidikan Dasar dan Menengah.

12. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Peraturan Mendiknas Nomor 22 dan 23.

1.4 Hasil Yang Ingin Dicapai.

Secara prioritas dari kajian makalah yang penulis paparkan, ada hal-hal yang ingin di capai dan juga merupakan salah satu dukungan dari akselerasi Program pengembangan dilapangan terkait kompetensi dasar berbasis masyarakat berwawasan luas, dalam upaya meningkatan perluasan akses dan kualitas Pendidikan Non formal sehingga warga belajar memiliki kecakapan hidup untuk kesejahtraan serta

kemandirian generasi muda pada masa yang akan datang dengan mengimbangi lajunya perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi modern dewasa ini.

BAB II

FUNGSI DAN PERAN KURIKULUM DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Pengertian kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Dalam pengertian sederhana, kurikulum dianggap sebagai sejumlah mata pelajaran (subjects) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh ijazah, sedangkan dalam pengertian lebih luas kurikulum mencakup semua pengalaman belajar (learning experiences) yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya.

Kurikulum memiliki peranan yang sangat strategis dalam pencapaian tujuan pendidikan. Terdapat tiga peranan kurikulum yang dinilai sangat penting, yaitu peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif, dan peranan kreatif. Ketiga peranan kurikulum tersebut harus berjalan seimbang dan harmonis untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Pelaksanaan ketiga peranan kurikulum menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses pendidikan.

2.1 Fungsi Kurikulum

Kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah bagi pihak-pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti pihak guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, masyarakat, dan pihak peserta didik itu sendiri. Selain sebagai pedoman, bagi peserta didik, kurikulum memiliki enam fungsi, yaitu fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan/seleksi, dan fungsi diagnostik.

Kurikulum pada dasarnya merupakan suatu sistem (system), artinya kurikulum tersebut merupakan suatu kesatuan atau totalitas yang terdiri dari beberapa komponen, di mana antara komponen satu dengan komponen lainnya saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam rangka mencapai tujuan. Komponen-komponen kurikulum tersebut, yaitu tujuan, isi/materi, strategi pembelajaran, dan evaluasi. Tujuan kurikulum menggambarkan kualitas manusia yang diharapkan terbina dari suatu proses pendidikan. Dengan demikian suatu tujuan memberikan petunjuk mengenai arah perubahan yang dicita-citakan dari suatu kurikulum. Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula terhadap pemilihan isi/bahan ajar, strategi pembelajaran, media, dan evaluasi. Bahkan dalam berbagai model pengembangan kurikulum, tujuan dianggap sebagai dasar, arah, dan patokan dalam menentukan komponen-komponen yang lainnya. Tujuan yang harus dicapai dalam pendidikan di Indonesia bersifat hierarkis, yang terdiri atas Tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional, Tujuan Mata Pelajaran, dan Tujuan Instruksional (Umum dan Khusus).

Isi/materi kurikulum menempati posisi yang penting dan turut menentukan kualitas pendidikan. Secara umum isi/materi kurikulum merupakan pengetahuan ilmiah yang terdiri atas fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan yang perlu diberikan kepada siswa. Pengetahuan ilmiah tersebut jumlahnya sangat banyak dan tidak mungkin semuanya dijadikan sebagai isi kurikulum. Oleh karena itu, perlu diadakan pilihan-pilihan. Untuk menentukan pengetahuan mana saja yang akan dijadikan isi kurikulum, diperlukan berbagai kriteria.

Strategi pembelajaran merupakan bagian integral dalam pengkajian tentang kurikulum. Strategi

(11)

dua jenis strategi pembelajaran, yaitu strategi pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) dan yang berorientasi kepada siswa (student oriented). Strategi pertama disebut model ekspositori atau model informasi, sedangkan strategi kedua disebut model inkuiri atau problem solving. Strategi mana yang digunakan atau dipilih biasanya diserahkan sepenuhnya kepada guru dengan mempertimbangkan hakikat tujuan, sifat bahan/isi, dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.

Komponen evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan kurikulum dan menilai proses implementasi kurikulum secara keseluruhan. Hasil evaluasi kurikulum dapat dijadikan umpan balik untuk mengadakan perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Selain itu, hasil evaluasi dapat dijadikan sebagai masukan dalam penentuan kebijakan-kebijakan pengambilan keputusan tentang kurikulum dan pendidikan. Gambaran yang komprehensif mengenai kualitas suatu kurikulum, dapat dilihat dari komponen program, komponen proses pelaksanaan, dan komponen hasil yang dicapai.

Berbicara Kurikulum berarti berbicara kerangka acuan yang harus di kuasai oleh Tutor/Pamong belajar dalam menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik /warga belajar, di dalam kurikululum terdapat asas-asas kurikulum yang di dalamnya terdapat sejumlah faktor yang harus dipertimbangkan seperti misalnya:

a) Tujuan pendidikan yang biasanya terkandung dalam filsafat suatu negara, yang merupakan dasar filsafat. b) Keadaan masyarakat dengan keaneka ragaman agama, adat istiadat, ekonomi, sosial.politik dan budaya. c) Psikologi anak, seperti perkembangannya, minat, kesanggupan, serta perbedaan antar individu.

d) Organisasi kurikulum seperti bahan pembelajaran, misalnya, mata pelajaran yang di sajikan dalam bentuk tertentu

Sebagai dasar wawasan yang memungkinkan penulis untuk dapat mengembangkan yang berkaitan dengan fungsi dan peran kurikulum, maka terlebih dahulu akan penulis paparkan pengertian dari kurikulum yaitu pedoman atau acuanyang menginformasikan sejumlah pengalaman dalam proses kegiatan pembelajaran yang melibatkan perubahan pada mental dan fisik melalui inter aksi antar peserta didik / warga belajar, peserta didik/warga belajar dengan guru/pamong belajar/tutor, peserta didik/warga belajar dengan lingkungan serta suber belajar lainnya dalam upaya pencapaian kompetensi dasar.

Kurikulum dengan sendiri merupakan seperangkat rencana program dan pengaturan yang di dalamnya terdapat isi serta bahan pengajaran, merupakan panduan bagi guru dalam menginformasikan sejumlah materi pelajaran yang menjadi rambu-rambu dalam pelaksanaan proses pembelajaran secara profesional untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, yang teruang dalam tujuan pendidikan nasional. Kurikulum memiliki dua fungsi, yang terdiri fungsi umum dan fungsi khusus, fungsi umum dalam kurikulum yaitu sebagai penyedia dan pengembang individu peserta didik, sementara yang di maksud dengan fungsi khusus adalah terdiri dari dua hal yang harus di perhatikan yaitu :

a. Fungsi Preventif yaitu, fungsi dimana guru terhindar untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ketetapan kurikulum.

b. Fungsi Korektif yaitu merupakan rambu-rambu sebagai pedoman dalam membetulkan, ketika pelaksanaan menyimpang dari kurikulum.

c. Fungsi Konstruktif, yaitu memberikan yang benar bagi pelaksanaan serta pengembangan dengan berpedoman pada kurikulum yang berlaku.

Dalam fungsi kurikulum ada hal – hal yang harus diperhatikan yang erat kaitannya dengan komponen-komponen dalam fungsi kurikulum yaitu sasaran atau arah yang hendak dituju oleh proses penyelenggaraan yang tertuang dalam Tujuan Pendidikan Nasional yang merupakan tujuan jangka panjang juga merupakan Tujuan Ideal Pendidikan Bangsa Indonesia.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum yang merupakan tuntutan bagi guru/pamong belajar dalam mengembangkan daya nalar serta wawasan dimana seorang guru ataupun pamong belajar untuk pendidikan non formal harus mampu menjabarkan hal – hal seperti :

a) Tujuan Institusional, yang merupakan sasaran pendidikan suatu lembaga pendidikan.

b) Tujuan Kurikuler yaitu tujuan yang ingin di capai oleh suatu program study yang merupakan suatu target yang ingin dicapai oleh suatu mata pelajaran yang masih di bagi menjadi tujuan instruksional umum, dan memerlukan waktu lebih lama (tujuan jangka panjang) memerlukan waktu yang lebih lama serta sukar di ukur, misalnya penekanan pada peri laku peserta didik/warga belajar.

c) Isi Kurikulum, yaitu terdiri dari pengalaman-pengalaman yang aka di peroleh peserta didik/warga belajar, dalam proses kegiatan pembelajaran di sekolah yang didalamnya mencakup : tujuan khusus, bahan ajar, media pembelajaran dan sumber belajar, yang di rancang sedemikian rupa sehingga apa yang diperpleh peserta didik/ warga belajar sesuai dengan tujuan yang ingi di capai.

(12)

memperoleh pengalaman belajar dalam satu kesatuan untuk mencapai tujuan.

e) Evaluasi Kurikulum, adalah media untuk mengetahui apakah sasaran yang ingin di jangkau dapat tercapai atau tidak, evaluasi adalah tolak ukur dari kompetensi belajar peserta didik, apakahmateri pelajara yang telah di sampaikan itu dapat di kuasai oleh peserta didik atau tidak, evaluasi kurikulum juga adalah merupakan upaya untuk mengukur tingkat keberhasilan kurikulum, juga tingkat keberhasilan proses kurikulum.

2.2 Peran Kurikulum

Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan kata lain bahwa kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu pembentukan manusia yang sesuai dengan falsafah hidup bangsa memegang peranan penting dalam suatu sistem pendidikan. Maka kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan harus mampu mengantarkan anak didik menjadi manusia yang bertaqwa, cerdas, terampil dan berbudi luhur, berilmu, bermoral, tidak hanya sebagai mata pelajaran yang harus diberikan kepada peserta didik semata, melainkan sebagai aktivitas pendidikan yang direncanakan untuk dialami, diterima, dan dilakukan.

Kurikulum sekolah merupakan instrumen strategis untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia baik jangka pendek maupun jangka panjang, kurikulum sekolah juga memiliki koherensi yang amat dekat dengan upaya pencapaian tujuan sekolah dan atau tujuan pendidikan. Oleh karena itu perubahan dan pembaruan kurikulum harus mengikuti perkembangan, menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan menghadapi tantangan yang akan datang serta menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Karim (Susilo, 2007:10) bahwa: ‘’Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, salah satunya adalah dengan perubahan kurikulum, sehingga mulai Cawu 2 Tahun Ajaran 2001/2002 sudah diperkenalkan kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan pengembangan dari kurikulum 1994, dan kini dikenalkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang hampir sama dengan kurkulum berbasis kompetensi”. Dasar perlunya perubahan kurikulum menurut Muhadi ((Susilo, 2007:10)) bahwa: “saat terjadi

perkembangan dan perubahan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang perlu segera dianggap dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Di mana peraturan perundang-undangan yang baru telah membawa implikasi terhadap pengembangan kurikulum seperti pembaruan dan diversifikasi kurikulum”.

Kurikulum berbasis kompetensi diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan, dengan mempersiapkan peserta didik, melalui perencanaan pelaksanaan evaluasi terhadap sistem pendidikan secara efektif, efisien dan berhasil guna. Kurikulum berbasis kompetensi dikembangkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakpastian, dan kerumitan dalam kehidupan.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ditujukan, untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam mengemban identitas budaya bangsanya. Kurikulum ini dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman belajar yang membangun integritas sosial serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional. Juga untuk memudahkan guru dalam menyajikan pengalaman belajar yang sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal sebagaimana yang telah dicetuskan oleh UNESCO sejak 1970 yakni: learning to know, learning to do, learning to life together dan learning to be.

KTSP merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Hal tersebut diharapkan dapat dijadikan landasan dalam pengembangan pendidikan di Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan, baik secara makro, meso maupun mikro. Kerangka makro erat kaitannya dengan upaya politik yang saat ini sedang ramai dibicarakan yaitu desentralisasi kewenangan dari pemerintah pusat ke daerah, aspek mesonya berkaitan dengan kebijakan daerah tingkat provinsi sampai tingkat kabupaten sedangkan aspek mikro melibatkan seluruh sektor dan lembaga pendidikan yang paling bawah, tetapi terdepan dalam pelaksanaannya yaitu sekolah.

Pemberian otonomi pendidikan yang luas pada sekolah merupakan kepeduliaan pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan kurikulum yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif, guna mendukung kemajuan dan sistem yang ada di sekolah. Dalam kerangka inilah, KTSP tampil sebagai alternatif kurikulum yang ditawarkan.

(13)

sekolah dalam rangka meningkatkan mutu, dan efisien pendidikan agar dapat memodifikasikan keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat, industri, dan pemerintah dalam membentuk pribadi peserta didik. Hal tersebut dilakukan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan serta tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat. Partisipasi masyarakat dituntut agar lebih memahami pendidikan

membantu, serta mengontrol pengelolaan pendidikan. Dalam konsep ini sekolah dituntut memiliki tanggung jawab yang tinggi, baik kepada orang tua, masyarakat, maupun pemerintah.

Otonomi dalam pengelolaan pendidikan merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para staf, menawarkan partisipasi langsung kepada kelompok terkait dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan. Otonomi sekolah juga berperan dalam menampung konsensus umum tentang

pemberdayaan sekolah, yang meyakini bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan sedapat mungkin keputusan dan seharusnya dibuat oleh mereka yang berada di garis depan (line staf) yang bertanggung jawab secara langsung terhadap pelaksanaan kebijakan, dan terkena akibat dari kebijakan tersebut, baik guru maupun kepala sekolah.

Keterlibatan kepada sekolah dan guru dalam pengambilan keputusan sekolah juga mendorong rasa

kepemilikan yang lebih tinggi terhadap sekolah yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan sumber daya yang ada efisien untuk mencapai hasil yang optimal. Tujuan utama KTSP adalah

memandirikan dan memberdayakan sekolah dalam mengembangkan kompetensi yang akan disampaikan kepada peserta didik, sesuai dengan kondisi lingkungan. Pemberian wewenang (otonomi) kepada sekolah diharapkan dapat mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif. Di samping lulusan yang kompeten, peningkatan mutu dalam KTSP antara lain akan diperoleh melalui reformasi sekolah (school reform), yang ditandai dengan peningkatan partisipasi orang tua, kerjasama dengan dunia industri, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat menumbuhkembangkan budaya mutu dalam suasana yang kondusif. Pemerataan pendidikan akan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggung jawab pemerintah.

Penetapan standar proses pendidikan merupakan kebijakan yang sangat penting dan strategis untuk pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan. Melalui standar proses pendidikan setiap guru dan atau pengelola sekolah dapat menentukan bagaimana seharusnya proses pembelajaran berlangsung. Proses pembelajaran adalah merupakan suatu sistem. Dengan demikian, pencapaian standar proses untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama proses pembelajaran dapat dimulai dari menganalisis setiap komponen yang dapat membentuk dan mempengaruhi proses pembelajaran. Begitu banyak komponen yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan, namun demikian, tidak mungkin upaya meningkatkan kualitas dilakukan dengan memperbaiki setiap komponen secara serempak. Hal ini selain komponen itu

keberadaannya terpencar, juga kita sulit menentukan kadar keterpengaruhan setiap komponen.

Namun demikian, komponen yang selama ini dianggap sangat mempengaruhi proses pendidikan adalah komponen guru. Hal ini memang wajar, sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa sebagai subyek dan obyek belajar. Bagaimanapun bagus dan idealnya kurikulum pendidikan, bagaimanapun lengkapnya sarana dan prasarana pendidikan, tanpa diimbangi dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikan, maka semuanya akan kurang bermakna. Oleh sebab itu, untuk mencapai stndar proses pendidikan, sebaiknya dimulai dengan menganalisis komponen guru. Meyakinkan setiap orang khususnya pada setiap guru bahwa pekerjaannya merupakan pekerjaan profesional merupakan upaya pertama yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian standar proses sesuai dengan harapan.

Mengapa demikian, sebab banyak orang termasuk guru sendiri yang meragukan bahwa guru merupakan jabatan profesional. Ada yang beranggapan setiap orang bisa menjadi guru walaupun mereka tidak memahami ilmu keguruan dapat saja dianggap sebagai guru, asal paham materi pelajaran yang akan diajarkannya. Apabila mengajar dianggap hanya sebagai proses penyampaian materi pelajaran, pendapat seperti itu ada benarnya. Konsep mengajar yang demikian, tuntutannya sangat sederhana, yaitu asal paham informasi yang akan diajarkannya kepada siswa, maka ia dapat menjadi guru. Tetapi, mengajar tidak sesederhana itu. Mengajar bukan hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi suatu proses mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Oleh sebab itu, dalam proses mengajar terdapat kegiatan membimbing siswa agar bisa berkembang sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya, melatih keterampilan baik intelektual maupun motorik sehingga sisiwa dapat dan berani hidup di

(14)

memiliki kemampuan inovatif dan kreatif, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, seorang guru perlu memiliki kemampuan merancang dan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang dianggap cocok dengan minat dan bakat serta sesuai dengan taraf

perkembangan siswa termasuk di dalamnya memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran untuk menjamin efektivitas pembelajaran.

Dengan demikian seorang guru perlu memiliki kemampuan khusus, kemampuan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang bukan guru. Menurut James M .Cooper (1990:64): “A teacher is person charged with the responsibility of helping others to learn and to behave in new different ways”. Itulah sebabnya guru adalah pekerjaan profesional yang membutuhkan kemampuan khusu hasil proses pendidikan yang

dilaksanakan oleh lembaga pendidikan keguruan. Menurut Dr. Wina Sanjaya, M.Pd. (2007:15) bahwa syarat-syarat pokok dari pekerjaan profesional antara lain:

A. Pekerjaan profesional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam yang hanya mungkin diperoleh dari lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai, sehingga kinerjanya didasarkan kepada keilmuan yang dimilikinya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah;

B. Suatu profesi menekankan kepada suatu keahlian dalam bidang tertentu yang spesifik sesuai dengan jenis profesinya, sehingga antara profesi yang satu dengan yang lainnya dapat dipisahkan secara tegas;

C. Tingkat kemampuan dan keahlian suatu profesi didasarkan kepada latar belakang pendidikan yang dialaminya yang diakui oleh masyarakat, sehingga semakin tinggi latar belakang pendidikan akademis sesuai dengan profesinya, semakin tinggi pula tingkat keahliannya, dengan demikian semakin tinggi pula tngkat penghargaan yang diterimanya;

D. Suatu profesi selain dibutuhkan oleh masyarakat juga memiliki dampak terhadap sosial kemasyarakatan, sehingga masyarakat memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap setiap efek yang ditimbulkannya dari pekerjaan profesinya itu.

Dengan deikian, guru yang profesional berarti dituntut memiliki ilmu yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah; memiliki keahlian sesuai dengan bidang yang ditekuninya; keahliannya harus sesuai dengan latar belakang pendidikan yang didapatnya dan profesi guru yang profesional memiliki dampak sosial kemasyarakatan, baik kepada siswa, keluarga maupun masyarakat.

KESIMPULAN

Kurikulum pada dasarnya merupakan suatu sistem (system), artinya kurikulum tersebut merupakan suatu kesatuan atau totalitas yang terdiri dari beberapa komponen, di mana antara komponen satu dengan komponen lainnya saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam rangka mencapai tujuan. Komponen-komponen kurikulum tersebut, yaitu tujuan, isi/materi, strategi pembelajaran, dan evaluasi Fungsi Preventif yaitu, fungsi dimana guru terhindar untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ketetapan kurikulum.

Fungsi Korektif yaitu merupakan rambu-rambu sebagai pedoman dalam membetulkan, ketika pelaksanaan menyimpang dari kurikulum.

Fungsi Konstruktif, yaitu memberikan yang benar bagi pelaksanaan serta pengembangan dengan berpedoman pada kurikulum yang berlaku.

Dalam fungsi kurikulum ada hal – hal yang harus diperhatikan yang erat kaitannya dengan komponen-komponen dalam fungsi kurikulum yaitu sasaran atau arah yang hendak dituju oleh proses penyelenggaraan yang tertuang dalam Tujuan Pendidikan Nasional yang merupakan tujuan jangka panjang juga merupakan Tujuan Ideal Pendidikan Bangsa Indonesia. Yang berorientasi pada pengertian kurikulum dalam arti luas, maka fungsi kurikulum mempunyai arti sebagai berikut:

1. Sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan pada suatu tingkatan lembaga pendidikan tertentu dan untuk memungkinkan pencapaian tujuan dari lembaga pendidikan tersebut.

2. Sebagai batasan daripada program kegiatan (bahan pengajaran) yang akan dijalankan pada suatu semester, kelas, maupun pada tingkat pendidikan tersebut.

3. Sebagai pedoman guru dalam menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar, sehingga kegiatan yang dilakukan guru dengan murid terarah kepada tujuan yang ditentukan.

Dengan demikian fungsi kurikulum pada dasarnya adalah program kegiatan yang tercantum dalam

kurikulum yang akan mempengaruhi atau menentukan bentuk pribadi murid yang diinginkan. Oleh karena itu pengembangan kurikulum perlu memperhatikan beberapa hal:

a) Tuntutan pembangunan daerah dan nasional. b) Tuntutan dunia kerja.

(15)

d) Dinamika perkembangan global.

e) Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Dalam melakukan pengembangan kurikulum, jika memperhatikan hal-hal tersebut di atas, maka akan menghasilkan peserta didik yang memiliki kepribadian sebagai seorang muslim dan mampu menyesuaikan diri di mana mereka hidup di tengah-tengah masyarakat

Kurikulum memiliki peranan yang sangat strategis dalam pencapaian tujuan pendidikan. Terdapat tiga peranan kurikulum yang dinilai sangat penting, yaitu peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif, dan peranan kreatif. Ketiga peranan kurikulum tersebut harus berjalan seimbang dan harmonis untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Pelaksanaan ketiga peranan kurikulum menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses pendidikan. Berdasarkan beberapa uraian tentang Fungsi dan Peran kurikulum, maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini:

Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan kata lain bahwa kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu pembentukan manusia yang sesuai dengan falsafah hidup bangsa memegang peranan penting dalam suatu sistem pendidikan. Maka kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan harus mampu mengantarkan anak didik menjadi manusia yang bertaqwa, cerdas, terampil dan berbudi luhur, berilmu, bermoral, tidak hanya sebagai mata pelajaran yang harus diberikan kepada peserta didik semata, melainkan sebagai aktivitas pendidikan yang direncanakan untuk dialami, diterima, dan dilakukan. Fungsi kurikulum identik dengan pengertian kurikulum itu sendiri yang berorientasi pada pengertian kurikulum dalam arti luas, maka fungsi kurikulum mempunyai arti sebagai berikut:

1. Sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan pada suatu tingkatan lembaga pendidikan tertentu dan untuk memungkinkan pencapaian tujuan dari lembaga pendidikan tersebut.

2. Sebagai batasan daripada program kegiatan (bahan pengajaran) yang akan dijalankan pada suatu semester, kelas, maupun pada tingkat pendidikan tersebut.

3. Sebagai pedoman guru dalam menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar, sehingga kegiatan yang dilakukan guru dengan murid terarah kepada tujuan yang ditentukan.

Dengan demikian fungsi kurikulum pada dasarnya adalah program kegiatan yang tercantum dalam

kurikulum yang akan mempengaruhi atau menentukan bentuk pribadi murid yang diinginkan. Oleh karena itu pengembangan kurikulum perlu memperhatikan beberapa hal:

a) Tuntutan pembangunan daerah dan nasional. b) Tuntutan dunia kerja.

c) Aturan agama, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. d) Dinamika perkembangan global.

e) Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Dalam melakukan pengembangan kurikulum, jika memperhatikan hal-hal tersebut di atas, maka akan menghasilkan peserta didik yang memiliki kepribadian sebagai seorang muslim dan mampu menyesuaikan diri di mana mereka hidup di tengah-tengah masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar. 2007. Profil Baru Guru & Dosen Indonesia: Idealis, Profesional, Sejahtera. Jakarta: Pustaka Indonesia.

Cooper, James M. (ed.) 1990. Classroom Teaching Skill. Lexington, Massachusetts Toronto: D.C. Heath and Company.

Nurdin, Muhamad. 2004. Kiat menjadi Guru Profesional. Jogjakarta: Prismasophie.

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.

Susilo, Muhammad Joko. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyajarta: Pustaka Pelajar Offset.

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar

Belakang

Masalah

Penilaian tentang kinerja individu guru semakin penting ketika lembaga akan melakukan

reposisi. Artinya bagaimana lembaga harus mengetahui faktor-faktor apa saja yang

mempengaruhi kinerja. Hasil analisis akan bermanfaat untuk membuat program

pengembangan SDM sacara optimum. Pada gilirannya kinerja individu akan

mencerminkan derajat kompetisi suatu lembaga.

Maju dan mundurnya suatu lembaga sangat dipengaruhi oleh kinerja dari individu guru

yang ada di lembaga tersebut. Begitu juga dengan kualitas pendidikannya tidak terlepas

dari peran kinerja individu guru dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Peran kinerja individu sangat diperlukan untuk memajukan mutu pendidikan. Tanpa

kinerja yang baik maka tujuan akan sangat jauh tercapai bak jauh api dari panggang.

Maka kinerja individu guru sangat diperluan dalam dunia pendidikan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan beberapa

permasalahan dalam peran kinerja individu guru dalam meningkatkan kualitas

pendidikan sebagai berikut:

A. Pengertian Kinerja

B. Faktor-faktor kinerja guru

C. Strategi

(17)

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran tentang peran kinerja

individu guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Lebih khusus lagi di negeri

Indonesia yang tercinta ini.

BAB II

KINERJA INDIVIDU GURU

A. Pengertian Kinerja

Apakah sebenarnya arti kinerja itu? Dalam buku “Performance Appraisal”,

karangan Veithzal Rivai Ahmad Fawzi MB, 2005, Rajagrafindo Persada disebutkan

bahwa kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama

periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai

kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah

ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.

Jika dilihat dari asal katanya, kata kinerja adalah terjemahan dari kata

performance

, yang menurut

The Scribner-Bantam English

Distionary,

terbitan Amerika

Serikat dan Canada (1979), berasal dari akar kata “

to perform

” dengan beberapa “

entries

yaitu: (1) melakukan, menjalankan, melaksanakan (

to do or carry out, execute

); (2)

memenuhi atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar (

to discharge of fulfill; as

vow

); (3) melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab (

to execute or complete

an understaking

); dan (4) melakukan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang atau mesin

(

to do what is expected of a person machine

).

Pengertian kinerja yang lain yaitu sebagai berikut:

(18)

2. Kinerja merupakan salah satu kumpulan total dari kerja yang ada pada diri pekerja

(Griffin: 1987).

3. Kinerja dipengaruhi oleh tujuan (Mondy and Premeaux: 1993).

4. Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk menyelesaikan

tugas atau pekerjaan, seseorang harus memliki derajat kesediaan dan tingkat

kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif

untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan

dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya( Hersey and Blanchard: 1993).

5. Kinerja merujuk kepada pencapaian tujuan karyawan atas tugas yang diberikan (Casio:

1992).

6. Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta

kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja dinyatakan baik

dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik (Donnelly, Gibson

and Ivancevich: 1994).

7. Pencapaian tujuan yang telah ditetapkan merupakan salah satu tolok ukur kinerja

individu. Ada tiga kriteria dalam melakukan penilian kinerja individu, yakni: (a) tugas

individu; (b) perilaku individu; dan (c) ciri individu (Robbin: 1996).

8. Kinerja sebagai kualitas dan kuantitas dari pencapaian tugas-tugas, baik yang

dilakukan oleh individu, kelompok maupun perusahaan (Schermerhorn, Hunt and

Osborn: 1991).

9. Kinerja sebagai fungsi interaksi antara kemampuan atau

ability

(A), motivasi atau

motivation

(M) dan kesempatan atau

opportunity

(O), yaitu kinerja = ƒ (A x M x O).

Artinya: kinerja merupakan fungsi dari kemampuan, motivasi dan kesempatan

(Robbins: 1996).

(19)

motivasi dan kesempatan. Kesempatan kinerja adalah tingkat-tingkat kinerja yang tinggi

yang sebagian merupakan fungsi dari tiadanya rintangan-ringtangan yang mengendalakan

karyawan itu. Meskipun seorang individu mungkin bersedia dan mampu, bisa saja ada

rintangan yang menjadi penghambat.

Sehubungan dengan itu, kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang

untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung

jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan. Jika dikaitkan dengan

performance

sebagai kata benda (

noun

) di mana salah satu entrinya adalah hasil dari sesuatu pekerjaan

(

thing done

), pengertian

performance

atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai

oleh seseorng atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang

dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara

legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral atau etika.

B. Elemen Teknologi Kinerja

Kinerja dapat dilihat dari sudut pandang “individu, tim, organisasi” yang berarti hasil

terkait dengan masukan (input) dalam kaitan elemen teknologi yang terdiri dari :

people,

procesess, resources

dan

tools

.

Keadaan elemen teknologi untuk pemecahan masalah atau menjawab kebutuhan

dapat digambarkan sebagai berikut :

a. People - Knowledge (cognitife), keahlian/skill(psycomo- toric), motivasi, disiplin,

pengalaman (affectif); Ada dua pengetahuan (knowledges) yaitu knowledge expleasite

dan knowledge tacit.

b. Procesess - metode, cara, peraturan mau pun prosedur kerja yang diperlukan dalam

melaksanakan program yang sudah ditetapan untuk dikerjakan dan dicapai hasilnya

sesuai tujuan/sasaran.

(20)

d. Tools - Peralatan kerja yang mendukung dan dapat digunakan oleh people, melalui

metode untuk mengolah resources yang ada. Prestasi kerja maupun bagaimana proses

kerja berlangsung yang menghasilkan sesuatu sesuai tujuan, yang diukur secara

kuantitatif maupun kualitatif.

Dalam mengukur kinerja individu-lazim disebut produktivitas kerja, sedangkan

produktivitas itu sendiri adalah nilai hasil kerja (output) selama waktu tertentu.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja individu. Kinerja dalam menjalankan

fungsinya tidak berdiri sendiri, tapi berhubungan dengan kepuasan kerja dan tingkat

imbalan, dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan dan sifat-sifat individu. Oleh

karena itu, menurut model

partner-lawyer

(Donnelly, Gibson and Invancevich: 1994),

kinerja individu pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor-faktor; (a) harapan mengenai

imbalan; (b) dorongan; (c) kemampuan; kebutuhan dan sifat; (d) persepsi terhadap

tugas; (e) imbalan internal dan eksternal; (f) persepsi terhadap tingkat imbalan dan

kepuasan kerja. Dengan demikian, kinerja pada dasarnya ditentukan oleh tiga hal,

yaitu: (1) kemampuan, (2) keinginan dan (3) lingkungan.

Oleh karena itu, agar mempunyai kinerja yang baik, seseorang harus mempunyai

keinginan yang tinggi untuk mengerjakan serta mengetahui pekerjaannya. Tanpa

mengetahui ketiga faktor ini kinerja yang baik tidak akan tercapai. Dengan kata lain,

kinerja individu dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara pekerjaan dan

kemampuan. Kinerja individu dipengaruhi oleh kepuasan kerja. Kepuasan kerja itu

sendiri adalah perasaan individu terhadap pekerjaannya. Perasaan ini berupa suatu hasil

penilaian mengenai seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan mampu memuaskan

kebutuhannya.

(21)

individu semakin tinggi kepuasan kerjanya; (d) kepuasan individu dalam hidupnya, yaitu

individu yang mempunyai kepuasan yang tinggi terhadap elemen-elemen kehidupannya

yang tidak berhubungan dengan kerja, biasanya akan mempunyai kepuasan kerja yang

tinggi.

D. GURU/PENDIDIK

Pendidik atau di indonesia lebih dikenal dengan istilah pengajar, adalah tenaga

kependidian yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan dengan tugas

khusus sebagi profesi pendidik.

pendidik adalah orang-orang yang dalam melaksanakan tugasnya akan

berhadapan dan berinteraksi langsung dengan para peserta didiknya dalam suatu

proses yang sistematis, terencana, dan bertujuan. Penggunaan istilah dalam kelompok

pendidik tentu disesuaikan dengan lingkup lingkungan tempat tugasnya

masing-masing. Guru dan dosen, misalnya, adalah sebutan tenaga pendidik yang bekerja di

sekolah dan perguruan tinggi. Guru adalah salah satu tenaga kependidikan yang

mempunyai peran sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan tujuan pendidikan,

karena guru yang langsung bersinggungan dengan peserta didik, untuk memberikan

bimbingan yang akan menghasilkan tamatan yang diharapkan. Guru merupakan

sumber daya manusia yang menjadi perencana, pelaku dan penentu tercapainya

tujuan organisasi.

(22)

E. PERAN KINERJA INDIVIDU GURU

Seorang guru harus memiliki kepribadian sejati. Kepribadian sejati berhubungan

dengan kepribadian yang ditunjang oleh penemuan visi, kepemimpinan dan

pengelolaan diri yang baik.

Kepribadian berhubungan dengan potret diri yang dilandasi mentalitas, moralitas

dan spriritualitas yang baik. Visi berhubungan dengan ekpresikeinginan tujuan, dan

makna hidup pribadi. Kepemimpinan pribadi berhubungan dengan jiwa dan sika serta

perjuangan yang memiliki nilai-nilai dan prinsip hidup. Pengelolaan pribadi

berhubungan dengan aktifitas diri yang terkendali untuk mencapai efektifitas pribadi

yang fokus pada visi dan tujuan hidup.

Visi misi pribadi adalah suatu pernyatan ekspresi pribadi yang menyatakan tujuan

dan makna hidup pribadi.

Contoh visi misi guru

Setiap pengajaran yang saya berikan mengalir bagai air menyatu dengan alam.

Niat saya semata-mata mendapat ridha Allah untuk mengkader peserta didik menjadi

generasi qur’ani melalui perubahan paradigma dan penanaman aqidah. Dan lebih

berarti sehingga tugas ibadah dan kekhalifahan saya adalah mampu menguak rahasia

sunnatullah dan saya bermanfaat untuk umat melalui peserta didik saya atau

masyarakat binaan saya.

Setelah visi misi dan tujuan jelas, sebagai guru harus meningkatkan kualitas

iman dan Islam, kualitas pola pikir, kualitas proses pengajaran, kualitas hasil

pengajaran dan kualitas hidup pribadi.

(23)

Visi, menjadi mujtahid melalui profesi guru. Untuk itu saya harus

mewujudkan secara lebih ekpresif

BAB III

PENUTUP

A.KESIMPULAN

Dengan memperhatikan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa peran kinerja

individu guru itu memiliki peran yang luar biasa terhadap dunia pendidikan. Maju dan

mundurnya dunia pendidikan ditentukan oleh kinerja para guru.

Guru-guru yang hebat akan menghasilkan (output) yang hebat pula. Kinerja individu guru

sangat dipelukan guna meningkatkat kualitas pendidikan.

B.SARAN

Setelah mengetahui betapa pentingnya kinerja itu, maka penulis menyarankan kepada

semua pihak, terutama kepada guru supaya menerapkan dan meningkatkan kinerjanya

sebagai guru.

Daftar Rujukan/Daftar Pustaka

1. Gibson, James L., John M. Ivancevich dan James H. Donnelly, Jr. (1996).

Organisasi,

Perilaku, Struktur, Proses,

(Alih Bahasa Nunuk Adiarni), Penerbit Binarupa Aksara,

Jakarta.

2. Hasibuan, Malayu SP. (2001).

Manajemen Sumber Daya Manusia.

Jakarta: Bumi Aksara.

3. Mangkunegara, Anwar Prabu. (2000).

Manajemen Sumber Daya Manusia.

Bandung:

Rosdakarya

4.

Rahardja, Alice Tjandralila. (2004). “Hubungan Antara Komunikasi antar Pribadi Guru

dan Motivasi Kerja Guru dengan Kinerja Guru SMUK BPK PENABUR Jakarta.

Jurnal

Pendidikan Penabur

. III (3). [Online]. Tersedia:

www.bpkpenabur.or.id/jurnal

. [20

(24)

5. Rivai, Veithzal, (2004).

Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan

, Jakarta,

PT. Raja Grafindo Persada

6. Robbins, Stephen P., (2001),

Organizational Behavior

, New Jersey: Pearson Education

International.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...