Pengaruh Pajanan Gelombang Elektromagnetik Telepon Seluler Terhadap Kecepatan Gerak dan Jumlah Spermatozoa Mencit Galur Balb/C.

23 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Maranatha iv

ABSTRAK

PENGARUH PAJANAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK TELEPON SELULER TERHADAP KECEPATAN GERAK DAN JUMLAH

SPERMATOZOA MENCIT GALUR BALB/C

Anna Steven, 2006. Pembimbing I : Sylvia Soeng, dr., M.Kes. Pembimbing II: Teresa Liliana W., S.Si.

(2)

Universitas Kristen Maranatha v

ABSTRACT

THE EFFECT OF CELLULAR PHONE ELECTROMAGNETIC RADIATION ON BALB/C MICE SPERM MOTILITY AND SPERM COUNT

Anna Steven, 2006. Tutor I : Sylvia Soeng, dr., M.Kes. Tutor II : Teresa Liliana W., S.Si.

(3)
(4)
(5)

Universitas Kristen Maranatha

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis ... 4

1.5.1 Kerangka Pemikiran ... 4

1.5.2 Hipotesis ... 6

1.6 Metodologi ... 6

1.7 Lokasi dan Waktu ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Radiasi... 7

2.1.1 Radiasi Pengion (Ionizing Radiation) ... 7

2.1.2 Radiasi Non-Pengion (Non-Ionizing Radiation)... 8

2.1.2.1 Gelombang Elektromagnetik ... 9

2.2 Sistem Reproduksi Pria ... 11

2.2.1 Testis ... 12

2.2.1.1 Spermatogenesis ... 13

2.2.1.2 Spermatozoa ... 14

2.2.2 Saluran Kelamin... 15

2.2.3 Kelenjar Asesoris ... 16

2.2.4 Penis ... 17

2.3 Infertilitas Pria ... 18

2.3.1 Radiasi Gelombang Elektromagnetik dan Infertilitas Pria ... 21

2.3.2 Hormon Melatonin ... 21

2.3.3 Laktat Dehidrogenase C4 (LDH-C4) ... 22

(6)

Universitas Kristen Maranatha ix

BAB III METODE PENELITIAN... 24

3.1 Rancangan Penelitian ... 24

3.2 Hewan Coba ... 25

3.3 Penentuan Besar Sampel ... 25

3.4 Variabel Penelitian ... 26

3.5 Bahan dan Alat ... 26

3.6 Prosedur Kerja ... 26

3.7 Pemeriksaan Kecepatan Spermatozoa Mencit ... 28

3.8 Pemeriksaan Jumlah Spermatozoa Mencit ... 28

3.9 Analisis Statistik ... 29

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30

4.1 Hasil ... 30

4.1.1 Kecepatan Gerak Spermatozoa ... 30

4.1.2 Jumlah Spermatozoa ... 33

4.2 Pengujian Hipotesis Penelitian ... 35

4.3 Pembahasan ... 36

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 44

LAMPIRAN ... 50

(7)

Universitas Kristen Maranatha x

DAFTAR TABEL

Halaman

(8)

Universitas Kristen Maranatha xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

(9)

Universitas Kristen Maranatha xii

DAFTAR DIAGRAM

Halaman

(10)

Universitas Kristen Maranatha xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Data Hasil Percobaan ... 50 Lampiran 2 Hasil Analisis Data ... 72

(11)

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kehidupan yang semakin modern membuat manusia hampir selalu

berhubungan dengan alat-alat elektronik. Penggunaan peralatan elektronik meningkat seiring dengan perkembangan teknologi, baik untuk keperluan pribadi maupun aplikasi dalam industri. Radio, televisi, komputer, telepon seluler, microwave oven sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat urban. Kehidupan

modern menuntut segala sesuatu dilakukan dengan cepat, tepat, dan praktis. Sekarang orang tidak perlu lagi bersusah payah mencatat data secara manual, software dalam perangkat komputer siap digunakan untuk menyimpan, mengolah,

bahkan memunculkan data kapan pun diperlukan. Menonton televisi sudah menjadi rutinitas sehari-hari, bukan hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak. Komunikasi dapat dilakukan dengan mudah kapan pun dan di mana saja melalui telepon seluler, bahkan urusan dapur pun ikut dipermudah dengan adanya microwave oven. Tanpa disadari ada begitu banyak peralatan yang menyebabkan

masyarakat terpajan gelombang elektromagnetik baik di rumah maupun di tempat kerja.

Secara umum setiap bentuk radiasi gelombang elektromagnetik dapat berpengaruh terhadap tubuh manusia. Sel-sel tubuh yang mudah membelah adalah bagian yang paling mudah dipengaruhi oleh radiasi. Tubuh yang sebagian besar berupa molekul air, juga mudah mengalami ionisasi oleh radiasi (Wisnu Arya Wardhana dkk., 1997).

(12)

Universitas Kristen Maranatha 2

kantor pada umumnya termasuk pada kelompok radiasi non pengion (Athena dkk., 2000).

Manusia sebagai suatu sistem biologi selalu terpajan oleh medan listrik dan medan magnet baik di dalam maupun di luar rumah. Keberadaan medan listrik dan medan magnet tidak dapat dirasakan oleh indera manusia kecuali pada intensitas yang cukup besar. Kuat medan listrik dan medan magnet pada tingkat tertentu dan pajanan yang cukup lama diduga akan mempengaruhi kesehatan manusia (Athena dkk., 2000).

Fenomena lain yang ada pada masyarakat dewasa ini adalah terjadinya peningkatan angka kejadian pasangan dengan infertilitas. Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 15% dari pasangan suami istri di Indonesia mengalami infertilitas. Faktor penyebab infertilitas dapat berasal dari suami, istri, atau keduanya. Menurut penelitian yang dilakukan Kardi Suteja pada tahun 2002, faktor penyebab yang berasal dari suami sebesar 40%, faktor penyebab yang berasal dari istri sebesar 40%, faktor penyebab yang berasal dari keduanya sebesar 20%. Studi Protokol Penatalaksanaan dan Efektivitas Pengobatan Infertilitas Pria di Surabaya pada tahun 2000 menyatakan masalah infertilitas pria merupakan masalah yang menunjukkan peningkatan dalam dekade terakhir ini. Observasi di beberapa negara menunjukkan gejala penurunan jumlah dan kualitas sperma yang cukup menyolok di antara pria dewasa muda (Aucky Hinting, 2000).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Arsyad terhadap 246 pasangan infertil di Palembang menunjukkan infertilitas yang disebabkan faktor pria sebesar 48,4% (Hermawanto dan Hadiwidjaja, 2002). Data BKKBN pada tahun 2001 menunjukkan kasus infertilitas pria terjadi pada 40-45% pria dari 10% pasangan yang mengalami infertilitas.

(13)

Universitas Kristen Maranatha 3

Penelitian pada mencit merupakan tahap awal untuk mengetahui pengaruh pajanan gelombang elektromagnetik terhadap proses spermatogenesis. Hong et al.. pada tahun 2003 meneliti pengaruh pajanan gelombang elektromagnetik

sebesar 50 Hz pada mencit selama dua minggu, menunjukkan penurunan kecepatan gerak spermatozoa. Lee et al.. pada tahun 2004 menggunakan pajanan medan elektromagnetik sebesar 60 Hz yang kontinu selama delapan minggu, menunjukkan peningkatan apoptosis germ cell testikuler yaitu dengan ditemukannya penurunan jumlah spermatogonia pada testis mencit.

Sementara itu, perusahaan pengelola jasa telepon seluler akhir-akhir ini menggunakan frekuensi 1.800MHz, jauh lebih tinggi dari frekuensi sebelumnya 900MHz (Persson and Tornevik, 2003). Banyak keuntungan didapatkan pada penggunaan frekuensi tinggi, terutama pada perambatan gelombang. Tetapi apakah banyak dampak negatifnya terhadap kesehatan, khususnya infertilitas pada pria, hal ini kurang mendapat perhatian. Padahal frekuensi gelombang elektromagnetik pada telepon seluler jauh lebih besar dari frekuensi yang digunakan oleh para peneliti.

Kenyataan ini mendorong peneliti untuk mengetahui efek pajanan gelombang elektromagnetik terhadap spermatogenesis; yang peneliti batasi pada kecepatan gerak dan jumlah spermatozoa pada mencit. Kecepatan gerak yang abnormal dan jumlah sperma yang kurang merupakan bukti gangguan spermatogenesis. Meskipun hanya satu sperma yang akan membuahi ovum, namun seorang pria yang memiliki kurang dari dua puluh juta sperma dalam setiap mililiter semen cenderung mengalami infertilitas. Selain itu, kecepatan sperma yang lambat membuat sperma tidak dapat menembus ovum.

1.2 Identifikasi masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, dapat dirumuskan pertanyaan

sebagai berikut:

(14)

Universitas Kristen Maranatha 4

- Apakah gelombang elektromagnetik telepon seluler menurunkan jumlah spermatozoa mencit jantan

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dari penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk mengetahui

bagaimana pengaruh gelombang elektromagnetik terhadap fertilitas.

Tujuan dari penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini untuk mengetahui kecepatan gerak dan jumlah spermatozoa mencit jantan galur BALB/c yang dipajankan terhadap gelombang elektromagnetik dari telepon seluler.

1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah

Manfaat akademis penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah mengungkapkan pengaruh gelombang elektromagnetik khususnya yang dipancarkan telepon seluler terhadap kecepatan gerak dan jumlah spermatozoa dihubungkan dengan kejadian infertilitas pria yang semakin meningkat. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan.

Manfaat praktis penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini untuk menjadi peringatan bagi kaum pria yang lebih suka menyimpan telepon seluler di saku celana agar lebih waspada terhadap bahaya infertilitas.

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

1.5.1 Kerangka Pemikiran

Penggunaan telepon seluler sudah sedemikian luas, sehingga banyak perhatian

(15)

Universitas Kristen Maranatha 5

termasuk frekuensi dan intensitas medan, sifat kelistrikan jaringan tubuh manusia, dan kondisi pajanan (Muhammad Fathony, 2001).

Radiasi elektromagnetik dapat berasal dari jaringan listrik tegangan tinggi, peralatan elektronik di rumah, kantor maupun industri. Telepon seluler dan microwave oven ternyata merupakan sumber radiasi gelombang elektromagnetik yang sangat potensial. Telepon seluler juga menghasilkan energi foton yang sangat besar dan potensi radiasinya lebih besar dibandingkan dengan peralatan elektronik maupun jaringan listrik tegangan tinggi dan ekstra tinggi (Anies, 2005). Potensi gangguan kesehatan yang timbul akibat pajanan medan elektromagnetik dapat terjadi pada berbagai sistem tubuh, antara lain: sistem darah, sistem reproduksi, sistem saraf, sistem kardiovaskular, sistem endokrin, psikologis, dan hipersensitivitas (Riedlinger, 2004).

Penyerapan radiasi gelombang elektromagnetik pada tingkat permukaan dapat dideteksi oleh kulit yang sensitif terhadap temperatur, tetapi hal tersebut tidak dapat membatasi pajanan radiasi elektromagnetik yang merusak (Muhammad Fathony, 2001). Radiasi gelombang elektromagnetik menimbulkan efek yang berbahaya terhadap spermatogenesis yaitu menyebabkan disorganisasi tubulus seminiferus, menurunkan jumlah spermatid, meningkatkan sel apoptosis dan piknotis, serta mengganggu meiosis (North et al., 1998). Pajanan terhadap gelombang elektromagnetik menurunkan jumlah dan kecepatan gerak spermatozoa (Ramadan et al., 2002; Hong et al., 2003).

Cahaya maupun pajanan gelombang elektromagnetik dapat menurunkan produksi hormon melatonin (Anies, 2005). Melatonin berperan dalam modulasi neuroendokrin pada pria. Kadar melatonin yang rendah ditemukan pada semen pria infertil yang berpengaruh menurunkan kecepatan gerak spermatozoa (Awad et al., 2006).

(16)

Universitas Kristen Maranatha 6

and Tkachenko, 1999; Tsujii, 2002; Sawane et al., 2002; Duan and Goldberg, 2003).

1.5.2 Hipotesis

- Gelombang elektromagnetik telepon seluler menurunkan kecepatan gerak spermatozoa mencit jantan.

- Gelombang elektromagnetik telepon seluler menurunkan jumlah spermatozoa mencit jantan.

1.6 Metodologi

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium yang bersifat

longitudinal prospektif, bersifat komparatif, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan hewan coba mencit jantan dewasa galur BALB/c sejumlah enam belas ekor, umur delapan minggu dengan berat badan rata-rata 25 gram. Penelitian ini menilai efek gelombang elektromagnetik telepon seluler terhadap kecepatan gerak dan jumlah spermatozoa hewan coba mencit.

1.7 Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di rumah peneliti.

(17)

Universitas Kristen Maranatha

43

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Pajanan gelombang elektromagnetik telepon seluler pada mencit berefek

menurunkan kecepatan gerak spermatozoa.

2. Pajanan gelombang elektromagnetik telepon seluler pada mencit berefek

menurunkan jumlah spermatozoa.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut apakah dampak penurunan

kecepatan gerak dan jumlah spermatozoa pada mencit akibat pajanan

gelombang elektromagnetik dari telepon seluler bersifat ireversibel atau

reversibel.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak pajanan

gelombang elektromagnetik secara molekuler.

3. Penyimpanan telepon seluler pada saku celana khususnya pada pria perlu

(18)

44 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Afromeev V.I., Tkachenko V.N. 1999. Change in the present of lactate dehydrogenase isoenzyme level in testes of animals exposed to radiation. http:/www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&li st_uids=10757046&query_hl=4&itool=pubmed. 10 Mei 2006.

Aitken R.J., Bennetts L.E., Sawyer D., Wiklendt A.M., King B.V. 2005. Impact of radio frequency electromagnetic radiation on DNA integrity in the male germline. http:/www.blackwell-synergy.com/doi.full/10.1111/j.1365-2605.

Andromeda Andrology Center. 2005. Male infertility. http://www.andrology.com/ maleinfertility.htm. 7 Maret 2006.

Andrology Australia, 2001. Causes of male infertility. http://andrologyaustralia. org/malebody/default/reproductive.htm. 7 Maret 2006.

Anies. 2001. Gangguan kesehatan pada keluarga yang bertempat tinggal di bawah saluran udara tegangan ekstra tinggi 500 kV. Jurnal Kedokteran YARSI 9(2):101-110.

_______. 2005. Gangguan kesehatan akibat radiasi elektromagnetik http://www2.ukdw.ac.id/ukdwnet/pdf.php?id=152. 2 April 2006.

Athena, A. Tri Tugaswati, Sukar, Sri Soewasti Soesanto. 2000. Kuat medan listrik dan medan magnet pada peralatan rumah tangga dan kantor. Buletin Penelitian Kesehatan 27(1):170-77.

Aucky Hinting. 2000. Study protokol penatalaksanaan dan efektivitas pengobatan infertilitas pria. http://digilib.litbang.depkes.go.id/go.php?id=jkpkbppk-gdl-res-2000-aucky-989-infertilit. 19 Maret 2006.

(19)

Universitas Kristen Maranatha 45

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2001. Kemandulan. http://hqweb01.bkkbn. go.id/hqweb/pria/data01-3I.html. 17 Juli 2006.

Berkowitz A.S. 2006 The male reproductive system. http://medic.med.uth.tmc.edu /Main/male1.htm. 7 Maret 2006.

Bonilla E., Valero N., Chacin-Bonilla L., Pons H., Larreal Y., Medina-Leendertz S., Espina L.M. 2003. Melatonin increases interleukin-1beta and decreases tumor necrosis factor alpha in the brain of mice infected with the Venezuelan equine encephalomyelitis virus. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fc gi?cmd=Retrieve&db=PubMed&list_uids=12716016&dopt=Abstract. 17 Juli 2006.

Bujan L., Daudin M., Charlet J.P., Thonneau P., Mieusset R. 2000. Increase in scrotal temperature in car drivers. Human Reproduction 2000;15:1355–7.

Cherry N. 2000. EMR reduces melatonin in animals and people. http://www.feb. se/emfguru/Research/emf-emr/EMR-Reduces-Melatonin.htm. 17 Juli 2006.

Collins D. 2005. Radiation Hazard Sheet. http://www.cpsu.org.au/ohs/news /files/radiation.htm. 8 Maret 2006.

Cooper P.G. 2005. Male infertility. http://www.med.umich.edu/1libr/aha/aha _minfert_crs.htm. 10 Mei 2006.

Dada R., Gupta N.P., Kucheria K. 2003. Spermatogenic arrest in men with testicular hyperthermia. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd= Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=12616614&query_hl=10&it ool=pubmed_DocSum. 13 Mei 2006.

Dorland W.A. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Huriawati Hartanto,ed. Jakarta : EGC. h.2214.

Duan C., Goldberg E. 2003. Inhibition of lactate dehydrogenase C4 (LDH-C4) blocks capacitation of mouse sperm in vitro. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=150 51959&query_hl=6&itool=pubmed_DocSum, 14 Mei 2006.

Erwansyah Lubis. 2002. Radiasi dalam kehidupan sehari-hari. http://www.iatpi .org/view.php?item=artikel. 9 Maret 2006.

(20)

Universitas Kristen Maranatha 46

Gomez K.A, Gomez, A.A. 1995. Prosedur statistik untuk penelitian pertanian. Edisi 2. Jakarta : Universitas Indonesia.h.16.

Guyton A.C., Hall J.E. 1997. Fungsi reproduksi dan hormonal pria. Dalam: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC.h. 1265-7

Hermawanto, Hadiwidjaja. 2002. Analisis sperma pada infertilitas pria. http://www.medika.co.id/arsip/102002/pus-3.htm. 9 Maret 2006.

Ho W., Dowshen S. 2004. Male reproductive system. http://health.org/medical/ body_basics/male_reproductive.html. 23 Maret 2006.

Hong R., Liu Y., Yu Y.M., Hu K., Weng E.Q. 2003. Effects of extremely low frequency electromagnetic fields on male reproduction in mice. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed& dopt=Abstract&list_uids=14761395&query_hl=18&itool=pubmed_docsum. 13 Mei 2006.

Ikatan Dokter Indonesia, 2005. Gangguan kesehatan akibat radiasi elektromagnetik. http://www.idionline.org/infoidi-isi.php?news. 19 Maret 2006.

Irgens, Agot, Kruger, Kirsti, Ulstein, Magnar. 1999. The effect of male occupational exposure infertile couples.. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/ query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=16674008 &query_hl=1&itool=pubmed_docsum. 19 Maret 2006.

Kardi Suteja. 2002. Infertilitas pria bisa disembuhkan. http://pikas.bkkbn.go.id/ gemapria/info-detail.php?infid=4. 17 Juli 2006.

Kumar A. 2004. A review of radiation effects on human operators of handheld radios. Microwaves & RF. p.24.

Lee J.S., Ahn S.S., Jung K.C., Kim Y.W., Lee S.K. 2004. Effects of 60 Hz electromagnetic field exposure on testicular germ cell apoptosis in mice. http://www.asiaandro.com/1008-682X/6/29.htm. 7 Maret 2006.

(21)

Universitas Kristen Maranatha 47

Morehouse D. 2004. Cell phone and remote viewers. http://www.remoteviewing seminars.com/albums/album_image/562314/343771.htm. 13 Mei 2006.

Muhammad Fathony. 2001. Radiasi elektromagnetik dari alat elektronik serta efeknya bagi kesehatan. Elektro Indonesia 38.h.26-31.

Nanan Tribuana. 2000. Pengukuran medan listrik dan medan magnet di bawah SUTET 500kV. http://www.elektroindonesia.com/elektro/ener32a.html. 8 Maret

2006.

North M.O., Laverdure A.M., Surbeck J., Tritto J. 1998. Effects of pulsed electromagnetic radiation emitted by video display terminals on human spermatogenesis. http://www.emf-bioshield.com/emf/experimenttesticular. html. 6 Maret 2006.

O'Flaherty C.M., Beorlegui N.B., Beconi M.T. 2002. Lactate dehydrogenase-C4 is involved in heparin- and NADH-dependent bovine sperm capacitation. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed& dopt=Abstract_uids=11966575&query_hl=6&itool=pubmed_docsum. 14 Mei 2006.

Persson T., Törnevik C. 2003. Mobile communications and health. Ericsson Review 2. p.48-65.

Ponc R.H., Carriazo C.S., Vermouth N.T. 2001. Lactate dehydrogenase activity of rat epididymis and spermatozoa: effect of constant light. http://www.ncbi.nlm. nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_ui ds=11512635&query_hl=6&itool=pubmed_DocSum. 13 Mei 2006.

Ramadan L.A., Abd-Allah A.R., Aly H.A., Saad-al-Din A.A. 2002. Testicular toxicity effects of magnetic field exposure and prophylactic role of coenzyme Q10 and L-carnitine in mice. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query .fcgi?db=pubmed&cmd=Retrieve&dopt=Abstract&list_uids=12361700&quer y_hl=17&itool=pubmed_docsum. 2 Juli 2006.

Riedlinger. 2004. www.rics.org/NR/rdonlyres/ C184EA66-ED72-4597-8497-D02039286652/0/Virtual_environments20051202.pdf. 10 Mei 2006.

(22)

Universitas Kristen Maranatha 48

Sadler T.W. 2001. Gametogenesis: konversi sel-sel benih menjadi gamet pria dan gamet wanita. Dalam: Devi H. Ronardy,ed. Embriologi Kedokteran Langman. Edisi 7. Jakarta : EGC. h. 16-18.

Sawane M.V., Kaore S.B., Gaikwad R.D., Patil P.M., Patankar S.S., Deshkar A.M. 2002. Seminal LDH-C4 isoenzyme and sperm mitochondrial activity: a study in male partners of infertile couples. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez /query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=14510339 &query_hl=4&itool=pubmed_docsum. 14 Mei 2006.

Shaban, Stephen F. 2005. Male infertility overview assessment, diagnosis, and treatment. http://www.ivf.com/male.html. 9 Maret 2006.

Slomianka L. 2004. Blue histology - male reproductive system. http://www.lab. anhb.uwa.edu.au/mb140/CorePages/MaleRepro/malerepro.htm. 25 Maret 2006.

Snell R. 1998. Perineum. Dalam: Jonathan Oswari, ed. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: EGC.h.78-79, 94.

Soehadi K., Arsyad K.M. 1983. Analisis Sperma. Surabaya: Airlangga University Press.

Srinivasan V., Maestroni G.J.M., Cardinali D.P., Miller S. C., Esquifino, Perumal S.R. 2005. Melatonin and aging. http://www.ihop-net.org/UniPub/iHOP/pm/ 9771952.mtl?nr=1&pmid12706106. 17 Juli 2006.

Tateno H., Iijima S., Nakanishi Y., Kamiguchi Y., Asaka A. 1998.No induction of chromosome aberrations in human spermatozoa exposed to extremely low frequency electromagnetic fields. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query. fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=9630495&itool=i conabstr&query_hl=1&itool=pubmed_docsum. 7 Maret 2006.

(23)

Universitas Kristen Maranatha 49

Turniani Laksmiarti. 2002 Alat pemantau perorangan pada tenaga kerja radiasi di bidang kesehatan.http://digilib.litbang.depkes.go.id/go.php?id=jkpkbppk-gdl-grey-2002-turniani-1026-radiasi. 19 Maret 2006.

_______, Herti Maryani. 2002. Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Pemanfaatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit. http://www.medika.co.id/arsip/ 112002/pus-1.htm. 19 Maret 2006.

World Health Organization. 1995. Infertility. http://www.who.int/reproductive health/infertility/index.htm. 13 Maret 2006.

_______. 2006. Electromagnetic fields and public health: mobile telephones and their base stations. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs193/en/. 11 Maret 2006.

Wisnu Arya Wardhana. 2000. Dampak Radiasi Elektromagnetik Ponsel. http://www.elektroindonesia.com/elektro/ut32.html. 19 Maret 2006.

_______, Supriyono, Djiwo Harsono. 1997. Masalah Radiasi Tegangan Tinggi. http://www.elektroindonesia.com/elektro/energi8e.html. 6 Maret 2006.

Wikipedia. 2006. Radiasi elektromagnetik. http://id.wikipedia.org/wiki/Radiasi. 19 Maret 2006.

Yohanis Ngili. 2004. Mengenal DNA mitokondria dan aplikasinya. http://www.cetak/0311/04/inspirasi/664826.htm. 2 Juli 2006.

Zubaidah Alatas, Yanti Lusiyanti. 2003. Efek kesehatan radiasi non pengion pada manusia. Cermin Dunia Kedokteran No. 138, h. 35.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...