PERBEDAAN PSYCHOLOGYCAL WELL-BEING PADA INDIVIDU DEWASA AWAL YANG BERPACARAN DAN TIDAK BERPACARAN
Nikodemus Wisnu Pradana
ABSTRAK
Penelitian deskriptif komparatif kuantitatif ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan psychological well-being antara individu yang berpacaran dan tidak berpacaran pada usia dewasa awal berdasarkan dimensi Ryff. Hipotesis menyatakan bahwa individu dewasa awal yang berpacaran mempunyai psychological well-being lebih tinggi dibanding dengan yang tidak berpacaran. Desain penelitian menggunakan Independent Sample t-test. Subjek penelitian adalah kelompok berpacaran dan tidak berpacaran masing-masing 100 responden. Analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kesejahteraan psikologis antara dewasa awal kelompok yang berpacaran dan tidak berpacaran pada dimensi penerimaan diri, otonomi dan pertumbuhan pribadi. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kesejahteraan psikologis antara dewasa awal kelompok yang berpacaran dan tidak berpacaran pada dimensi relasi positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan, dan tujuan hidup.
DIFFERENCES IN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING AT THE BEGINNING OF THE INDIVIDUAL ADULT DATING AND DATING
Nikodemus Wisnu Pradana
ABSTRACT
This deskriptif comparative quantitative study aimed to determine differences in psychological well-being among individuals who are dating and not dating at early adulthood based on the dimensions of Ryff. The hypothesis states that adult individuals start dating has psychological well-being higher than those who did not dating. The study design using independent sample t-test. The subjects were a group of dating and not dating each 100 respondents. Analysis of the data shows that there are differences in psychological well-being among young adult group dating and not dating the dimensions of self-acceptance, autonomy and personal growth. The analysis also showed that there was no difference in psychological well-being among young adult group dating and not dating on the dimensions of positive relationships with others, environmental mastery, and purpose in life.
PERBEDAAN PSYCHOLOGYCAL WELL-BEING PADA INDIVIDU DEWASA AWAL YANG BERPACARAN DAN TIDAK BERPACARAN
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Disusun oleh : Nikodemus Wisnu Pradana
109114093
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING
SKRIPSI
PERBEDAAN PSYCHOLOGYCAL WELL-BEING PADA INDIVIDU DEWASA AWAL YANG BERPACARAN DAN TIDAK BERPACARAN
Disusun oleh: Nikodemus Wisnu Pradana
109114093
Telah disetujui oleh:
Dosen Pembimbing Skripsi,
HALAMAN PENGESAHAN
SKRIPSI
PERBEDAAN PSYCHOLOGYCAL WELL-BEING PADA INDIVIDU DEWASA AWAL YANG BERPACARAN DAN TIDAK BERPACARAN
Dipersiapkan dan ditulis oleh: Nikodemus Wisnu Pradana
NIM: 109114093
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Pada tanggal
Dan dinyatakan telah memenuhi syarat
Susunan Panitia Penguji:
Nama Lengkap Tanda Tangan
Penguji 1 Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. ... Penguji 2 ... Penguji 3 ...
Yogyakarta, Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma Dekan,
HALAMAN MOTTO
Segalanya itu relatif maka jadilah diri sendiri
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya ini saya persembahkan untuk
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 6 Desember 2015 Penulis,
PERBEDAAN PSYCHOLOGYCAL WELL-BEING PADA INDIVIDU DEWASA AWAL YANG BERPACARAN DAN TIDAK BERPACARAN
Nikodemus Wisnu Pradana
ABSTRAK
Penelitian deskriptif komparatif kuantitatif ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan psychological well-being antara individu yang berpacaran dan tidak berpacaran pada usia dewasa awal berdasarkan dimensi Ryff. Hipotesis menyatakan bahwa individu dewasa awal yang berpacaran mempunyai psychological well-being lebih tinggi dibanding dengan yang tidak berpacaran. Desain penelitian menggunakan Independent Sample t-test. Subjek penelitian adalah kelompok berpacaran dan tidak berpacaran masing-masing 100 responden. Analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kesejahteraan psikologis antara dewasa awal kelompok yang berpacaran dan tidak berpacaran pada dimensi penerimaan diri, otonomi dan pertumbuhan pribadi. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kesejahteraan psikologis antara dewasa awal kelompok yang berpacaran dan tidak berpacaran pada dimensi relasi positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan, dan tujuan hidup.
DIFFERENCES IN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING AT THE BEGINNING OF THE INDIVIDUAL ADULT DATING AND DATING
Nikodemus Wisnu Pradana
ABSTRACT
This deskriptif comparative quantitative study aimed to determine differences in psychological well-being among individuals who are dating and not dating at early adulthood based on the dimensions of Ryff. The hypothesis states that adult individuals start dating has psychological well-being higher than those who did not dating. The study design using independent sample t-test. The subjects were a group of dating and not dating each 100 respondents. Analysis of the data shows that there are differences in psychological well-being among young adult group dating and not dating the dimensions of self-acceptance, autonomy and personal growth. The analysis also showed that there was no difference in psychological well-being among young adult group dating and not dating on the dimensions of positive relationships with others, environmental mastery, and purpose in life.
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Nikodemus Wisnu Pradana
Nomor Mahasiswa : 109114093
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :
Perbedaan Psychological Well-Being Pada Individu Dewasa Awal yang Berpacaran dan Tidak Berpacaran
beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal : 6 Desember 2015 Yang menyatakan,
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan kebaikan-Nya sehingga skripsi ini terselesaikan dengan baik. Skripsi ini selesai berkat dukungan dan bantuan dari banyak pihak. Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si, Dekan Fakultas Psikologi sekaligus pembimbing skripsi. atas waktu, perhatian, motivasi, bimbingan dan kesabaran.
2. Ibu Ratri Sunar Astuti, M, Si, Kepala Program Studi Psikologi. 3. Ibu Dewi Soerna Anggraeni, M.Psi, dosen pembimbing akademik.
4. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma ilmu dan wawasan psikologis.
5. Seluruh staf Fakultas Psikologi, atas keramahan dan kesabaran dalam pelayanannya.
6. Papa dan Mama, orang tua yang selalu kucintai, Nenekku dan Adikku Dessy. Terimakasih atas segalanya.
7. Keluarga besar Papa dan Mama yang senantiasa menunggu dan mendukung segala upaya saya hingga karya ini terselesaikan.
9. Semua sahabat terdekat yang tak pernah berhenti dan menyerah untuk mengingatkan hingga karya ini dapat terselesaikan. Chusnul, Ciputra, Enda, Yohan, Jeruk, Nindi, Delly, dan Nurul.
10. Semua orang yang mencintaiku.
11. Semua rekan yang telah membantu dalam penyebaran skala dan semua responden yang telah meluangkan waktunya, terimakasih atas bantuannya. 12. Semua sahabat dan teman-teman seperjuangan di Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma Angkatan 2010 yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis,
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... HALAMAN PENGESAHAN ... HALAMAN MOTTO ... HALAMAN PERSEMBAHAN ... HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... ABSTRAK ... ABSTRACT ... HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... KATA PENGANTAR ... DAFTAR ISI ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR LAMPIRAN ...
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Psychological Well-Being (Kesejahteraan Psikologis) ... 1. Definisi Psychological Well-Being ... 2. Dimensi Psychological Well-Being ... 3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Psychological
Well-Being ...
B. Dewasa Awal ... 1. Definisi Dewasa Awal ... 2. Perkembangan Masa Dewasa Awal ... C. Pacaran ... D. Kerangka Pemikiran ... E. Hipotesis Penelitian ...
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
G. Metode Analisis Data ...
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian ... B. Hasil Penelitian ... 1. Uji Asumsi ... 2. Uji Hipotesis ... C. Pembahasan ...
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... B. Saran ...
DAFTAR PUSTAKA ... LAMPIRAN ...
30
34 34 35 38 40
44 44
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Skor Skala Likert Alat Ukur……….. Tabel 3.2 Blue Print Alat Ukur (Sebelum Try Out)……….. Table 3.3 Alat Ukur Dimensi Psychological Well Being ... Table 3.4 Blue Print Alat Ukur (Sesudah Try Out)……… Tabel 4.1 Subjek penelitian pada kelompok berpacaran……… Table 4.2 Subjek penelitian pada kelompok tidak berpacaran………….. Table 4.3 Hasil Uji Normalitas ... Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas ... Tabel 4.5 Ringkasan Hasil Uji Hipotesis ...
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Data Kelompok Berpacaran... Lampiran 2. Data Kelompok Tidak Berpacaran ... Lampiran 3. Hasil Uji Normalitas ... Lampiran 4. Hasil Uji Homogenitas (Levene Test) ... Lampiran 5. Hasil Uji Independent Sampel T-Test ...
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada usia 20-an seorang individu mulai dituntut untuk memiliki pasangan oleh lingkungan sosial dan keluarganya. Usia ini dianggap sebagai usia matang menuju jenjang pernikahan sehingga pacaran dianggap sebagai hubungan yang penting dan serius. Pacaran adalah satu tugas perkembangan yang perlu dilalui oleh seseorang (Hardjana, 2002). Beberapa individu yang telah memasuki periode perkembangan dewasa awal namun belum berpacaran merasa mendapat tekanan dari lingkungan di sekitarnya karena banyak yang menanyakan tentang pacar atau pasangannya. Menurut Santrock (2002) masa dewasa awal merupakan masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang masa ini merupakan masa pemilihan pasangan, belajar hidup secara akrab, memulai keluarga dan mengasuh anak-anak.
melalui suatu hubungan dengan orang lain yang disebut pacaran (Rice & DeGenova, 2005).
Sebuah artikel yang dikutip dari www.vemale.com menyebutkan bahwa pacaran dianggap penting dan bahkan berdampak besar bagi masa depan pernikahan pelakunya. Salah satu alasan kegagalan pernikahan adalah tidak mengenal secara mendalam calon mempelai. Proses pemilihan calon pasangan hidup dapat disebut dengan proses penjajakan untuk saling mengenal satu sama lain. Kurangnya penjajakan sebelum menikah dianggap sebagai penyebab pasangan belum siap menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya sehingga menimbulkan tekanan batin ketika sudah menikah. Hal ini dialami salah satu individu yang tidak berpacaran sebelum menikah, “Y”.
Dari hasil wawancara dengan “Y”,
“Saya dulu ga pacaran. Kenalnya sama suami ya pas dekat dengan waktu pernikahan, dikenalin temen jadi ga kenal sendiri. Saya bener-bener tahu baik buruknya ya setelah nikah. Kadang kecewa karena perbedaan antara kami sangat jauh. Banyak sifatnya yang tidak saya suka. Tapi mau ga mau ya saya terima kekurangan meskipun kadang menyakitkan. Ya karena saya tidak mengenalnya terlebih dahulu.”
Kekecewaan dalam pernikahan tanpa mengenal calon pasangan terlebih dahulu dapat menimbulkan ketidakharmonisan hubungan rumah tangga. Mengatasi hal tersebut, banyak orang tua yang memperbolehkan pacaran dengan atau tanpa pengawasan orang tua.
merasa memiliki dukungan yang lebih kuat dalam berbagai hal dari pasangannya sehingga lebih sehat dan terhindar dari berbagai resiko buruk. Dilansir dari www.solopos.com, seorang siswa menuturkan bahwa dirinya merasa sepi apabila tidak berpacaran, dan seorang siswi menganggap bahwa pasangannya dapat dijadikan sarana mencurahkan isi hati dan sebagai teman dekat dalam melakukan hal-hal yang positif sehingga memperoleh kelegaan.
Adapun hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu responden dewasa awal yang berpacaran. Hasil wawancara dengan seorang mahasiswa, “D” yang telah berpacaran selama hampir 9 tahun memperlihatkan bahwa
dalam berpacaran seseorang akan banyak mengalami masalah, tetapi di saat yang sama berpacaran dapat menjadi sarana untuk belajar lebih memahami diri sendiri dan orang lain. Berikut hasil wawancaranya,
“Saya sudah pacaran hampir 9 tahun dan memang banyak pengalaman baik dan buruk yang terjadi. Tidak hanya sekali kami memutuskan hubungan namun menjalin hubungan kembali. Saya banyak belajar dari pacar saya dan dari berbagai pengalaman baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Saya belajar untuk lebih memahami orang lain karena kami sering berbeda pendapat, belajar menyelesaikan masalah, saya juga menjadi lebih mengenal diri saya sendiri dan bahkan memperoleh banyak bantuan baik moril maupun material dari pacar saya”.
pasangannya. Hal yang sama mungkin juga dialami oleh individu-individu lainnya yang sedang berpacaran.
Pacaran tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga dapat memberikan dampak negatif. Hasil wawancara dengan salah satu individu, “A” yang pernah mengalami masa pacaran dan sekarang sudah putus,
mengemukakan bahwa,
“Dulu pacaran sih enak pada awal-awalnya, tapi seiring waktu bosen juga karena pasanganku gak suka aku berkumpul dengan teman-temanku jadi sosialku juga terbatas. Selain itu aku banyak dikekang dan harus selalu mendampinginya kalau dia mau pergi kemana gitu, aku kan juga banyak kegiatan yang harus kuselesaikan. Kalau ga dituruti ngambek, tapi kalau dituruti kerjaanku banyak terbengkelai. Jadinya yang harusnya support malah bisa bikin stres”
Ada beberapa hal positif yang dirasakan oleh “A”. “A” mengatakan
bahwa setelah putus justru kehidupannya bisa lebih stabil. “A” bisa fokus bekerja dan berkumpul bersama teman-temannya tanpa ada yang mengekang. Menurutnya pacaran memang tidak terlalu penting karena jika memang berniat untuk komitmen dan melanjutkan ke jenjang pernikahan, memilih calon pasangan bisa dilihat dan menanyakan kepada orang-orang yang mengenalnya dengan baik misalnya teman-temannya, lingkungan sosialnya dan masukan dari sahabat.
Kesehatan psikologis merupakan gambaran kesejahteraan psikologis individu. Ryff menjelaskan bahwa secara teoritis, kesejahteraan psikologis meliputi aspek multidimensional yang terdiri dari 6 aspek yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi diri, penguasaan lingkungan, memiliki tujuan hidup dan pengembangan diri. Di sisi lain, beberapa peneliti menemukan bahwa kesejahteraan psikologis berkaitan dengan kepuasan hidup seseorang (Neugarten, Havinghurst, & Tobin dalam Ryff, 1989).
Setiap hubungan antar manusia maupun antar kelompok sosial selalu terdapat otoritas (Soekanto, 2007). Hubungan berpacaran tidak hanya belajar untuk memahami pasangannya tetapi juga belajar untuk memahami dirinya sendiri melalu otoritasnya dalam proses berpacaran. Menurut Dahrendorf (dalam Dwi, 2008), otoritas adalah pengaruh atau kekuasaan yang dimiliki individu untuk mempengaruhi pikiran, gagasan, pendapat, maupun perilaku seseorang atau suatu kelompok. Otoritas ini merupakan kesempatan yang dimiliki seseorang atau kelompok orang untuk menyadarkan orang lain akan kemampuannya sendiri dan menerapkannya terhadap tindakan atau perlawanan dari orang atau golongan yang lain menurut Weber (dalam Soekanto, 2007). Otoritas ini berkaitan dengan kepuasan yang disampaikan Ryff mengenai kesejahteraan psikologis.
pelakunya. Melihat hal ini, peneliti menganggap bahwa penting untuk diteliti lebih mendalam apakah pacaran atau tidak pacaran memang ada hubungannya dengan kesejahteraan psikologis seseorang. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melihat apakah terdapat perbedaan kesejahteraan psikologis antara individu dewasa awal yang berpacaran dan tidak berpacaran berdasarkan dimensi yang dikemukakan Ryff.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan psychological well-being antara individu yang berpacaran dan tidak berpacaran pada usia dewasa awal berdasarkan dimensi Ryff?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan psychological well-being antara individu yang berpacaran dan tidak berpacaran pada dewasa usia awal berdasarkan dimensi Ryff.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian terbagi menjadi dua macam, yaitu manfaat praktis dan manfaat teoretis.
1. Manfaat Praktis
b. Sebagai pertimbangan bagi individu dewasa awal yang ingin berpacaran.
c. Memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa pacaran tidak selalu negatif.
d. Bagi subjek penelitian, selama pengisian kuisioner subjek berefleksi mengenai 6 dimensi psychologycal well-being sehingga sadar dan menjaga seimbangnya dimensi psychologycal well-being dalam dirinya.
e. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya yang mengambil topik yang sama yaitu mengenai psychological well being individu yang menjalin hubungan dan yang tidak menjalin hubungan.
2. Manfaat Teoretis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.Psyhological Well Being (Kesejahteraan Psikologis)
1. Definisi Psyhological Well Being
Konsep kesejahteraan psikologis berkembang dari tulisan Aristoteles dalam Etika Nichomacea. Aristoteles menjelaskan bahwa terdapat dua macam pandangan untuk menjalani hidup, yaitu pandangan hedonis dan pandangan eudemonia (Magnus-Suseno, 2009). Pandangan hedonis menjadi dasar bagi konsep subjective well-being dalam psikologi dan menekankan dengan menghindari rasa sakit dan dengan mengusahakan rasa nikmat maka kepuasan dapat tercapai, sedangkan pandangan eudemonia menjadi dasar bagi konsep psychological well-being atau kesejahteraan psikologis dengan menekankan pemaksimalan potensi yang dimiliki maka seseorang dapat menjadi unggul.
hidupnya. Hal ini didasarkan pada salah satu perspektif yakni perspektif
eudamonik yang memandang bahwa well-being merupakan hal yang tidak
dapat disamakan dengan kebahagiaan. Meskipun suatu kepuasan dan hasil dapat diperoleh, namun hal tersebut belum tentu akan mendatangkan
well-being. Psychological well-being bukan hanya tentang kepuasan hidup dan
keseimbangan antara afek positif dan afek negatif, namun juga melibatkan persepsi dari dalam menghadapi tantangan-tantangan selama hidup.
Ada beberapa pendapat ahli dalam menjelaskan pengertian
psychological well-being. Psychological well-being merupakan keadaan
ketika seseorang menjadi pribadi yang utuh dengan mengembangkan potensi dan mengatasi tantangan dalam hidupnya (Ryff, 2013). Nathawat (dalam Phronesis, 2008) menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis merupakan reaksi evaluatif seseorang mengenai kenyamanan hidupnya. Snyder dan Lopea (dalam Phronesis, 2008) mengutarakan bahwa kesejahteraan psikologis bukan hanya sekedar ketiadaan penderitaan namun juga meliputi keterikatan aktif di dalam dunia, memahami arti dan tujuan hidup serta hubungan seseorang pada objek ataupun orang lain.
Berdasarkan beberapa teori di atas, dapat disimpulkan bahwa
psychological well-being adalah kesejahteraan psikologis seseorang sebagai
2. Dimensi Kesejahteraan Psikologis
Ryff (1989) mengemukakan bahwa konsep well-being terbagi dalam enam dimensi. Enam dimensi tersebut yaitu penerimaan diri, hubungan yang positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi. Konsep well-being bersifat multidimensional menurut Ryff (2013). Hal ini berarti terdapat tingkatan dalam dimensi-dimensi tersebut dan dimiliki setiap individu.
a. Penerimaan diri
Dimensi ini merupakan bagian sentral dari kesehatan mental. Ryff menyimpulkan bahwa penerimaan diri mengandung arti sebagai sikap yang positif terhadap diri sendiri. Sikap positif ini adalah mengenali dan menerima berbagai aspek dalam dirinya, baik yang positif maupun negatif serta memiliki perasaan positif terhadap kehidupan masa lalu.
b. Hubungan positif dengan orang lain
Ryff mendefinisikan hubungan positif dengan orang lain sebagai dimensi yang mencerminkan kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang hangat, saling percaya dan saling mempedulikan kebutuhan serta kesejahteraan pihak lain. Menurut Ryff, kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang positif dicirikan dengan adanya empati, afeksi dan keakraban, serta adanya pemahaman untuk saling memberi dan menerima.
Individu yang memiliki kehangatan, puas akan dirinya sendiri, jujur dalam menjalin hubungan, individu yang memikirkan well-being orang lain, memiliki kemampuan untuk berempati, afeksi dan keakraban, serta adanya pemahaman untuk saling memberi dan menerima merupakan individu yang tinggi dalam dimensi ini (Ryff dan Keyes, 1995), sedangkan individu individu yang tertutup, tidak jujur dalam menjalin hubungan dengan orang lain, sulit merasa hangat, sulit terbuka dan tidak memikirkan well-being orang lain. Lalu individu merasa terisolasi dan frustrasi dengan hubungan sosialnya. Individu yang seperti ini tidak ingin menjalin komitmen penting dengan orang lain merupakan individu yang rendah dalam dimensi ini (Ryff dan Keyes, 1995).
c. Otonomi diri
dengan standar personal. Oleh karena itu individu tidak memiliki harapan-harapan dan penilaian orang lain terhadap dirinya. Individu yang otonom juga tidak menggantungkan diri pada penilaian orang lain untuk membuat keputusan penting.
Individu yang mampu mengambil keputusan sendiri, tidak tergantung dan mampu mengevaluasi diri dengan standar personal merupakan individu yang tinggi dalam dimensi ini (Ryff dan Keyes, 1995), sedangkan individu yang fokus pada harapan orang lain, ketergantungan pada orang lain dan memberikan penilaian sebelum memutuskan hal penting merupakan individu yang rendah dalam dimensi ini (Ryff dan Keyes, 1995).
d. Penguasaan lingkungan
Individu berkompeten dan memiliki penguasaan yang baik dalam mengontrol lingkungan dan aktivitas di luar diri serta mampu memilih dan menciptakan lingkungan yang selaras dengan kondisi jiwanya merupakan individu yang tinggi dalam dimensi ini (Ryff dan Keyes, 1995), sedangkan individu yang merasa sulit untuk mengatur hidupnya sehari-hari, merasa tidak mampu untuk mengubah atau meningkatkan situasi di sekelilingnya, tidak peduli pada sekitar dan kehilangan kontrol diri merupakan individu yang rendah dalam dimensi ini (Ryff dan Keyes, 1995).
e. Tujuan hidup
Menurut Ryff, individu yang memiliki tujuan hidup adalah individu yang memiliki keterarahan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam hidupnya. Individu memiliki keyakinan dan pandangan tertentu yang dapat memberikan arah dalam hidupnya. Individu juga menganggap bahwa hidupnya itu bermakna baik di masa lalu, kini maupun yang akan datang. Selain itu individu juga memiliki perasaan menyatu, seimbang dan terintegrasi.
masa lalu, kini dan yang akan datang serta mempunyai perasaan menyatu, seimbang dan terintegrasi merupakan individu yang rendah dalam dimensi ini (Ryff dan Keyes, 1995).
f. Pertumbuhan pribadi
Pertumbuhan menjadi optimal bukan hanya individu dapat mencapai kualitas-kualitas yang telah disebutkan sebelumnnya, tetapi juga membutuhkan perkembangan potensi-potensi yang berkesinambungan. Pertumbuhan pribadi merupakan kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan dalam hidup yang berlangsung dalam dirinya dan mampu mengembangkan potensi.
Individu yang memiliki pandangan bahwa dirinya selalu berkembang, beradaptasi pada pengalaman baru, memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi diri merupakan individu yang tinggi dalam dimensi ini (Ryff dan Keyes, 1995), sedangkan individu yang merasa hidupnya berhenti (stagnation), tidak mampu berkembang, tidak mampu beradaptasi pada pengalaman baru dan tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi diri merupakan individu yang rendah dalam dimensi ini (Ryff dan Keyes, 1995).
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan Psikologis
a. Usia
Individu yang berada pada kelompok usia muda dan tua diperkirakan memliki skor kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang berada pada usia tengah (e.g. Blanchflower & Oswald, 2008; Clark & Oswald, 1994). Individu pada kelompok usia dewasa awal, menunjukkan skor yang lebih tinggi pada dimensi tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi jika dibandingkan dengan subjek kelompok usia dewasa akhir (Ryff, 1989; Clarke, 2001). Selain itu, individu pada kelompok usia dewasa awal juga memandang diri mereka mengalami peningkatan dalam hidup (Ryff, 1989).
b. Genetik
Dimungkinkan tidak ada lagi keraguan bahwa genotip individu juga berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan psikologis dan kekuatan individu untuk menghadapi stress. Sebuah peneltian mengungkapkan bahwa long and short allele variant of the serotonin
transporter (gen 5-HTT) ditemukan berdampak pada aktivitas otak yang
berkaitan pada pemprosesan emosi. Selain itu, sebuah observasi mengemukakan bahwa kelemahan genetic akan mempengaruhi fungsi otak sehingga juga akan mengakibatkan kekacauan suasana hati (Rao et
al., 2007).
c. Status sosial ekonomi
kesejahteraan psikologis dan lebih rendah dalam pengalaman kekacauan mental (e.g. Dolan et al., 2008; Ryff & Singer, 1998b). Ryff, Magee, dkk (1999) menemukan pengaruh status sosial ekonomi terhadap pencapaian kesejahteraan pikologis. Status sosial ekonomi yang rendah atau kemiskinan berpengaruh pada dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan dan pertumbuhan pribadi.
d. Dukungan sosial
Davis (dalam Robinson & Andrew, 1991) menemukan bahwa orang-orang yang memperoleh dukungan sosial memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi. Bahwa dukungan sosial dari lingkungan sekitar individu akan sangat mempengaruhi psychological well-being yang dirasakan oleh individu tersebut. Dukungan sosial dapat membantu perkembangan pribadi yang lebih positif maupun memberikan dukungan pada individu dalam berhadapan dengan masalah-masalah di kehidupannya.
e. Sikap penuh kesadaran
perhatian penuh terhadap sesuatu dan sadar akan apa yang sedang terjadi pada saat situasi yang sedang berlangsung.
f. Sikap konsistensi
Cross, dkk (2003) faktor pendukung lain dalam pencapaian kesejahteraan psikologis adalah sikap konsistensi yang terdapat dalam diri individu. Individu yang mampu menunjukan kekonsistensian dalam situasi dan kondisi peraturan yang berbeda memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi dari pada individu yang kurang konsisten atau memiliki konsep diri yang cenderung kurang jelas. Konsistensi individu ditandai dengan adanya kematangan, integritas kepribadian dan kesatuan yang berarti pula berasosiasi dengan dimensi positif dari kesejahteraan psikologis.
B. Dewasa Awal
1. Definisi Dewasa Awal
Menurut Santrock (2002) masa dewasa awal (early adulthood) merupakan salah satu tahap dalam perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau usia 20-an dan berakhir pada usia 30-an. Pada masa awal ini, individu akan mengalami pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, perkembangan karir, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak-anak.
empat puluh tahun. Masa tersebut dialami individu sekitar dua puluh tahun dan dapat dikatakan dimulai pada usia 20 tahunan.
Seseorang yang memasuki usia dewasa awal akan menemui tugas penemuan intimasi atau akan menghadapi isolasi (Erikson dalam Monks, Knoers dan Haditono, 2002). Tugas perkembangan dewasa awal adalah pembentukan relasi intim dengan orang lain. Keintiman digambarkan sebagai penemuan diri sendiri dalam diri orang lain. Saat seorang dewasa awal mampu membentuk relasi akrab yang intim dengan orang lain, ia akan mencapai keintiman. Disisi lain, apabila tidak terjadi keintiman maka seseorang akan mengalami isolasi (Erikson dalam Santrocks, 2002).
2. Perkembangan Masa Dewasa Awal
dan jelas setelahnya, khususnya tahap suara yang melengking (Papalia, 1995).
Masa dewasa awal juga mengalami perkembangan kognitif. Piaget (dalam Papalia, 1995) menyatakan bahwa perkembangan kognitif dari bayi sampai pubertas menghasilkan kombinasi kematangan dan pengalaman. Dalam masa dewasa awal, pengalaman memainkan peranan penting dalam fungsi intelektual.
Pengalaman dengan orang dewasa menjadikan mereka untuk mengevaluasi ulang kriteria mereka dalam menentukan apa yang benar dan adil. Pengalaman pula yang memiliki peranan penting seorang dewasa dalam memecahkan masalahnya. Karena pengalaman setiap orang dewasa berbeda-beda, maka efek yang ditimbulkan dalam perkembangan kognitifnya pun berbeda. Dalam masa perkembangan kognitif usia 20 samapi pertengahan 30 tahun, kebanyakan orang dewasa akan berubah peran dan tanggung jawab menunju kematangan, belajar berbisnis, memilih pekerjaan atau memiliki tujuan karir, mengejar pendidikan yang lebih tinggi dan menikah (Havighurst dalam Wrightsman, 1994).
tersebut menyebabkan individu dewasa awal memperoleh kepuasan dalam sebuah kedudukan yang pantas, merupakan usia banyak masalah dikarenakan makin besarnya tanggung jawab dan persoalan yang diterima, usia dewasa awal ini juga merupakan usia tegang dalam hal emosi yang sering ditampakkan pada kekhawatiran dalam pekerjaan maupun yang berhubungan dengan pemilihan teman hidup.
C. Pacaran
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015) pacar adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Allen (2003) mengartikan pacar sebagai fiance yang merupakan laki-laki atau perempuan yang kepadanya kita akan menikah sedangkan boyfriend atau girlfriend merupakan teman dalam hubungan romantis yang memiliki komitmen (kesepakatan) jangka panjang yang mengarah pada pernikahan.
Landis dan Landis (1963) menyebutkan fungsi pacaran adalah sarana belajar kemampuan sosial, pengembangan pemahaman diri dan pengertian terhadap orang lain, kesempatan untuk mencari dan mencoba pengertian tentang peran jenis serta untuk melihat cara-cara yang biasa dilakukan untuk mengatasi permasalahan. Di dalam berpacaran, individu belajar berkomunikasi secara heteroseksual, membangun kedekatan emosi, kedekatan fisik, dan mengalami proses pendewasaan kepribadian (Gambit, 2000).
Pacaran merupakan tahap dimana pasangan mencoba untuk memadukan dua pribadi yang berbeda dengan tujuan agar terjadi kesesuaian, kecocokan, kepaduan hati, pikiran, kehendak, cita-cita dan perilaku. Dengan hal tersebut diharapkan pasangan yang berpacaran dapat saling memahami, menerima, mendukung, membantu dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan bersama, serta mengatasi kesulitan dan masalah yang mereka jumpai saat berpacaran (Hardjana, 2002). Pacaran merupakan salah satu tugas perkembangan yang memang perlu dilalui oleh seseorang. Melalui pacaran seseorang diharapkan dapat mengenal lawan jenisnya agar dapat memperluas pergaulan, sebagai masa persiapan untuk mendapatkan pasangan hidup, membentuk komitmen, serta membangun tanggung jawab pribadi (Hurlock, 1999).
D.Kerangka Pemikiran
Berpacaran Tidak Berpacaran
1. Mendapat dukungan sosial dari pasangan
2. Memiliki motivasi untuk mengembangkan diri
3. Refleksi dan evaluasi pengalaman dan konflik bersama pasangan 4. Belajar penguasaan lingkungan
melalui otoritasnya dalam berpacaran
5. Belajar membangun hubungan yang berkualitas bersama pasangan
6. Mencari dan mencoba pengertian peran jenis
1. Hanya mendapatkan dukungan sosial dari lingkungan sekitar
2. Belum mendapatkan motivasi dari pasangan
3. Belum ada pengalaman dan konflik dalam membina hubungan dengan pasangan
4. Belum belajar penguasaan lingkungan dalam hubungan bersama pasangan 5. Belum belajar membangun hubungan
yang berkualitas bersama pasangan 6. Belum mencoba pengertian peran
jenis
3. Relasi positif dengan orang lain 4. Penguasaan lingkungan 5. Otonomi diri
6. Pertumbuhan pribadi
Faktor psychological well-being
1. Dukungan sosial dan status sosial ekonomi
2. Sikap penuh kesadaran, sikap konsistensi dan status sosial ekonomi
3. Sikap konsistensi
4. Usia dan ststus sosial ekonomi 5. Status sosial ekonomi dan sikap
konsistensi
E.Hipotesis Penelitian
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif komparatif kuantitatif. Penelitian deskriptif komparatif kuantitatif digunakan untuk membandingkan dua kelompok atau lebih. Karakteristik penelitian deskriptif komparatif kuantitatif adalah peneliti melakukan identifikasi dan deskripsi mengenai suatu fenomena tanpa berusaha menggambarkan hubungan sebab akibat. Penelitian kuantitatif adalah metode dengan data penelitian berupa angka-angka dan analisis yang menggunakan statistik. Metode ini disebut sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis (Sugiyono, 2013).
B.Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Variabel independen (variabel bebas) yaitu status berpacaran pada individu dewasa awal
2. Variabel dependen (variabel terikat) yaitu Psychological Well-Being. C.Definisi Operasional
1. Status Berpacaran
seorang individu dengan lawan jenisnya berdasarkan cinta kasih. Pacaran merupakan tahap dimana pasangan mencoba untuk memadukan dua pribadi yang berbeda dengan tujuan agar terjadi kesesuaian, kecocokan, kepaduan hati, pikiran, kehendak, cita-cita dan perilaku (Hardjana, 2002). Pacaran pada usia dewasa awal yaitu pacaran yang dijalani pada usia 20-an dan berakhir pada usia 30-an. Pada masa awal ini, individu akan mengalami pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, perkembangan karir, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak-anak (Santrock, 2002). Individu yang berpacaran pada usia dewasa awal yaitu individu yang menjalin hubungan jangka panjang dengan lawan jenisnya pada usia 20-an hingga 30-an tahun, sedangkan individu dewasa awal yang tidak berpacaran yaitu individu yang tidak menjalin hubungan jangka panjang dengan lawan jenisnya pada usia 20-an hingga 30-an tahun.
2. Psychological Well Being
Psychological Well Being adalah kesejahteraan psikologis seseorang
sebagai bentuk evaluasi terhadap segala sesuatu yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Aspek yang digunakan untuk mengukur
Psychological Well Being berasal dari 6 dimensi Psychological Well Being
D.Subjek Penelitian
Peneliti menggunakan subjek penelitian ini dilakukan dengan metode
sampling purposive yaitu pengambilan subjek dengan pertimbangan tertentu.
Pertimbangan yang diambil berdasarkan karakteristik subjek dalam penelitian ini yaitu:
1. Subjek berusia dewasa awal antara 20-30 tahun 2. Subjek sedang menjalin hubungan (berpacaran)
3. Subjek sedang tidak menjalin hubungan (tidak berpacaran)
E.Teknik Pengumpulan Data
1. Metode dan Alat Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket/kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2013). Kuesioner cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar luas. Kuesioner berisi daftar pertanyaan dengan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2012). Skala Likert dalam penelitian ini menggunakan 6 skala yaitu :
Tabel 3.1 Skor Skala Likert Alat Ukur
Respon Skor Favorable Skor Unfavorable
SS = Sangat Setuju 6 1
S = Setuju 5 2
CS = Cukup Setuju 4 3
KS = Kurang Setuju 3 4
TS = Tidak Setuju 2 5
2. Alat Ukur
Alat ukur ini disusun dalam bentuk kuesioner yang berisikan 54 pernyataan, responden diminta untuk memilih salah satu dari enam kemungkinan jawaban yakni sangat setuju (SS), setuju (S), Cukup Setuju (CS), Kurang Setuju (KS), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Setiap pernyataan dalam kuesioner ini diberi penilaian untuk positif bergerak dari enam sampai dengan satu sedangkan negatif bergerak dari satu sampai dengan enam. Kemudian akan diperoleh nilai total yang menggambarkan derajat dimensi Psychological Well Being. Kuesioner ini terdiri dari enam dimensi yakni: Self Acceptance, Positive Relation with
Others, Autonomy, Environmental mastery, Purpose In Life dan Personal
Tabel 3.3 Kisi-kisi Alat Ukur Dimensi Psychological Well Being
Dimensi Indikator
Penerimaan diri
a. Memiliki sikap yang positif terhadap dirinya
b. Mengakui dan menerima aspek-aspek diri termasuk hal-hal yang baik dan buruk dalam dirinya
c. Memandang positif pengalaman di masa lalunya Hubungan
positif dengan orang lain
a. Adanya sikap hangat, puas, dan percaya terhadap hubungannya dengan orang lain
b. Mempunyai sikap empati, afeksi dan keakraban terhadap orang lain
c. Memahami akan arti memberi dan menerima dalam hubungannya dengan orang lain
Otonomi a. Mampu dalam mengatur perilakunya sendiri b. Mandiri
c. Mampu melawan tekanan sosial yang diterima dan bertindak dengan cara-cara tertentu
d. Memiliki prinsip diri e. Mampu mengevaluasi diri Penguasaan
lingkungan
a. Mampu mengelola lingkungan
b. Mampu mengontrol susunan yang kompleks yang ada diluar diri
c. Mampu memanfaatkan segala kemungkinan yang ada dilingkungan sekitar secara efektif
d. Mampu untuk menciptakan dan mengelola keadaan yang cocok bagi kebutuhan dan nilai-nilai pribadi
Tujuan hidup
a. Memiliki tujuan hidup yang terarah
b. Merasa bahwa segala kejadian baik yang akan datang maupun yang telah terjadi memiliki makna penting dalam dirinya c. Memegang keyakinan yang memberikan tujuan hidup d. Memiliki tujuan dan sasaran untuk hidup
Pertumbuhan pribadi
a. Adanya keinginan untuk terus berkembang
b. Melihat dirinya sebagai pribadi yang sedang bertumbuh dan berkembang
c. Terbuka terhadap pengalaman-pengalaman yang baru d. Melihat peningkatan dalam diri dan perilakunya setiap saat e. Mengubah sikap-sikap dengan cara berefleksi dari
F. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas
Menurut Mustafidah dan Taniredja (2011), sebuah alat ukur dalam penelitian perlu memiliki validitas. Validitas adalah ketepatan atau kesesuaian alat ukur untuk mengukur sebuah variabel penelitian. Validitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah validitas isi, yaitu validitas alat ukur yang ditentukan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi keilmuan yang berkaitan dengan variabel yang hendak diteliti (Profesional Judgment). 2. Reliabilitas
Dalam penelitian ini, reliabilitas diukur dengan seleksi aitem berdasarkan try out untuk menentukan aitem yang benar-benar tepat untuk mengukur variabel penelitian ini. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan Reliability Statistics Cronbach’s Alpha. Penggunaan metode analisis tersebut untuk melihat reliabilitas konsistensi internal, dimana dihitung berdasarkan varians masing-masing item tes dan pada dasarnya merupakan estimasi dari rata-rata koefisien belah dua (Azwar dalam Supratiknya, 1998).
Menurut Azwar (2009), reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx’) yang angkanya berada dalam rentang 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas. Sebaliknya koefisien yang semakin rendah mendekati 0 berarti semakin rendah reliabilitas.
3. Seleksi Aitem
melakukan uji coba (try out) skala yang telah dibuat kemudian menghitung korelasi antara distribusi skor aitem dengan distribusi skor skala itu sendiri (rix). Setelah uji coba alat ukur dilaksanakan, peneliti melakukan perubahan
blue print skala kesejahteraan psikologis. Hal ini disebabkan beberapa aitem
dalam skala tersebut kurang memenuhi syarat reliabilitas sehingga perlu digugurkan. Begitu selanjutnya hingga terbebas dari aitem dengan korelasi atotal (r-it) yang rendah. Analisis tersebut dinamakan corrected
item-total correlation (Azwar, 1997). Sebuah item dikatakan memiliki
konsistensi internal yang baik apabila memiliki koefisien alpha cronbach yang berada diatas batas minimal yaitu 0,60 (Aron, Coups & Aron, 2013). Selain itu, item yang memiliki korelasi aitem-total (r-it) lebih kecil dari 0,30 juga harus digugurkan karena dikhawatirkan dapat merusak konsistensi internal dari skala yang telah dibuat.
Tabel 3.4 Blue Print (setelah try out)
G.Metode Analisis Data 1. Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
Uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk mengecek data penelitian berasal dari populasi yang seharusnya (Santoso, 2013). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 18.0.
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas menunjukkan bahwa dua atau lebih kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki varians yang sama (Santoso, 2013). Uji homogenitas dilakukan untuk menguji perbedaan varian antara dua kelompok
2. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis penelitian akan dilakukan menggunakan teknik uji
Independent sampel t-tes dengan menggunakan program SPSS versi 18.0.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode uji coba tidak terpakai yang dilaksanakan pada 28 Agustus 2015 sampai dengan 28 September 2015. Subjek penelitian berjumlah 200 responden dewasa awal yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok berpacaran dan kelompok tidak berpacaran. Jumlah responden dalam kelompok berpacaran sebanyak 100 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 50 orang dan perempuan sebaanyak 50 orang. Kelompok yang berpacaran pun berjumlah 100 orang yang terdiri dari 50 orang laki-laki dan 50 orang perempuan.
B.Hasil Penelitian
1. Deskripsi Subjek Penelitian a. Kelompok Berpacaran
Tabel 4.1 Subjek penelitian pada kelompok berpacaran Jenis
Kelamin
Usia (tahun) Total
20 21 22 23 24 25 26 27 28 30
L 8 15 5 6 3 5 1 4 1 2 50
P 15 9 8 13 4 1 0 0 0 0 50 Total 23 24 13 19 7 6 1 4 1 2 100
yang paling banyak berpacaran yaitu subjek dengan usia 20 tahun yaitu laki-laki sebanyak 8 orang dan perempuan sebanyak 15 orang. Sedangkan subjek yang paling sedikit yaitu pada usia 26, 28 dan 30 tahun.
b. Kelompok Tidak Berpacaran
Tabel 4.2 Subjek penelitian pada kelompok tidak berpacaran Jenis
Tabel di atas menunjukkan karakter subjek penelitian pada kelompok tidak berpacaram berdasarkan usia. Pada usia dewasa awal, subjek yang berpacaran pada penelitian ini berusia antara 20-29 tahun. Subjek yang paling banyak berpacaran yaitu subjek dengan usia 20 tahun yaitu laki-laki sebanyak 18 orang dan perempuan sebanyak 19 orang. Sedangkan subjek yang paling sedikit yaitu pada usia 20 dan 29 tahun. 2. Uji Asumsi
Asumsi yang harus dipenuhi untuk dapat melakukan uji beda dengan
independent sampel t-test adalah uji normalitas dan uji homogenitas varian.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui sebaran skor pada kedua sampel mengikuti distribusi normal (Santoso, 2013). Cara untuk mengujinya adalah dengan melihat nilai probabilitas (sig.) pada
Uji normalitas dengan menggunakan Kolmogrov-Smirnov Test memiliki kriteria pengujian yaitu, nilai probabilitas (sig.) lebih besar dari 0,05 maka sebaran skor dinyatakan mengikuti distribusi normal, sedangkan jika nilai probabilitas (sig.) lebih kecil dari 0,05 maka sebaran skor dinyatakan tidak mengikuti distribusi normal.
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas
No Dimensi Kelompok Sig.
Kolmogorov-Smirnov Keterangan 1
Self Acceptance Tidak berpacaran 0,195 Normal
Berpacaran 0,673 Normal
2 Positive Relations with Other
Tidak berpacaran 0,089 Normal
Berpacaran 0,592 Normal
3
Autonomy Tidak berpacaran 0,120 Normal
Berpacaran 0,487 Normal
4 Environmental Mastery
Tidak berpacaran 0,370 Normal
Berpacaran 0,481 Normal
5
Purpose in Life Tidak berpacaran 0,541 Normal
Berpacaran 0,637 Normal
6 Personal Growth
Tidak berpacaran 0,470 Normal
Berpacaran 0,475 Normal
Berdasarkan tabel 4.1 di atas, semua dimensi Personal
Well-Being yang meliputi self acceptance (penerimaan diri), positive relations
with others (hubungan/ baik dengan orang lain), autonomy (otonomi),
environmental mastery (penguasaan lingkungan), purpose in life (tujuan
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas menunjukkan bahwa dua atau lebih kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki varians yang sama (Santoso, 2013). Cara untuk mengujinya adalah dengan melihat nilai probabilitas (sig.) pada Levene Test. Uji homogenitas dengan menggunakan Levene Test memiliki kriteria pengujian yaitu, nilai probabilitas (sig.) lebih besar dari 0,05 maka data berasal dari populasi yang mempunyai varian sama, sedangkan jika nilai probabilitas (sig.) lebih kecil dari 0,05 maka data berasal dari populasi yang mempunyai varian tidak sama.
Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas
No Dimensi Kelompok Levene Test Sig.
1
Self Acceptance Tidak berpacaran 2,305 0,006
Berpacaran 1,730 0,061
2 Positive Relations with Other
Tidak berpacaran 0,633 0,847
Berpacaran 0,953 0,508
3
Autonomy Tidak berpacaran 1,583 0,090
Berpacaran 3,005 0,000
4 Environmental Mastery
Tidak berpacaran 1,162 0,322
Berpacaran 1,286 0,227
5
Purpose in Life Tidak berpacaran 0,692 0,785
Berpacaran 1,253 0,256
6
Personal Growth Tidak berpacaran 1,492 0,115
Berpacaran 2,095 0,026
berpacaran dalam penelitian ini diambil dari populasi yang memiliki varian tingkat enam dimensi yang sama.
3. Uji Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan
psychological well-being pada individu dewasa awal yang berpacaran dan
yang tidak berpacaran. Uji hipotesis dilakukan pada total skor seluruh dimensi psychological well-being yang telah didapatkan dan juga skor pada masing-masing dimensi psychological well-being yang telah didapatkan.
Tabel. 4.5 Ringkasan hasil uji hipotesis
BERDASARKAN TOTAL SKOR 6 DIMENSI PSYCHOLOGYCAL WELL-BEING
Rerata
Signifikansi Keterangan
Berpacaran Tidak Berpacaran
36,50 35,78 0,731 > 0,05 (tidak
signifikan)
BERDASARKAN MASING-MASING DIMENSI PSYCHOLOGYCAL WELL-BEING
Dimensi
Rerata
Signifikansi Keterangan Berpacaran Tidak Berpacaran
C.Pembahasan
Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata psychological well-being individu dewasa awal yang berpacaran adalah 35,78 sedangkan individu dewasa awal yang tidak berpacaran adalah 36,50. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan psychological well-being yang signifikan antara individu dewasa awal yang berpacaran dan tidak berpacaran berdasarkan total skor 6 dimensi psychological well-being. Hipotetsis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan psychological well-being antara individu dewasa awal yang berpacaran dan tidak berpacaran tidak terbukti.
Psychological well-being individu dewasa awal yang berpacaran (M=36,50)
berpacaran lebih rendah yaitu sebesar 31,82 dibandingkan dengan yang tidak berpacaran sebesar 33,05. Pada dimensi pertumbuhan pribadi, kelompok dewasa awal yang berpacaran memiliki peluang yang lebih tinggi untuk berkembang dibandingkan yang tidak berpacaran yang ditunjukkan dengan nilai Mean kelompok dewasa awal yang berpacaran lebih tinggi yaitu sebesar 38,72 dibandingkan dengan yang tidak berpacaran sebesar 37,18.
Tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil uji hipotesis bedasarkan total skor 6 dimensi psychological well-being. Hal tersebut disebabkan oleh kemungkinan bahwa individu dewasa awal baik yang berpacaran maupun tidak berpacaran tetap dapat memiliki psychological well-being yang tinggi dengan mengembangkan potensi yang dimiliki dan menghadapi tantangan dalam hidupnya, namun pada individu dewasa awal yang berpacaran memiliki dukungan yang lebih dari orang yang dicintai yaitu pacar sehingga memiliki rerata yang lebih tinggi walaupun tidak signifikan.
Disisi lain, hasil uji hipotesis berdasarkan masing-masing dimensi
psychological well-being menunjukkan hasil yang berbeda. Terdapat
perbedaan yang signifikan antara kelompok individu dewasa awal yang berpacaran dengan tidak berpacaran pada dimensi penerimaan diri, otonomi diri dan pertumbuhan pribadi sedangkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada dimensi relasi positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan dan tujuan hidup.
dikarenakan individu dewasa awal yang berpacaran mampu melakukan evaluasi dan berefleksi mengenai kehidupannya dari caranya mengatasi permasalahan yang dialaminya dalam menjalani masa berpacaran. Hal tersebut mengakibatkan individu yang berpacaran lebih peka dalam memahami dirinya sendiri dan dapat menerima dirinya sendiri beserta kehidupannya dengan lebih positif.
Pada dimensi otonomi, kelompok dewasa awal yang tidak berpacaran memiliki otonomi yang lebih tinggi dibandingkan yang berpacaran, hal ini dapat dikarenakan individu yang terikat hubungan dengan orang lain seperti berpacaran tidak sepenuhnya mampu mengambil keputusan dengan mandiri karena harus melibatkan pasangannya baik meminta pendapat, persetujuan atau saran agar sesuai dengan harapan bersama. Hal tersebut berpengaruh terhadap otomi diri individu dikarenakan menurut Ryff (1989), pribadi yang otonom adalah pribadi yang mandiri dan yang dapat menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri tanpa mencari persetujuan orang lain melainkan mengevaluasi dirinya dengan standar personal.
dan saling bertukar pengalaman dan bahkan mencoba pengalaman baru bersama-sama.
Pada dimensi relasi positif dengan orang lain tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara individu dewasa awal yang berpacaran dan tidak. Hal tersebut dapat dikarenakan individu dewasa awal baik yang berpacaran maupun tidak berpacaran tetap dapat menjalin relasi yang hangat dengan orang lain di sekitarnya dan mampu memahami kebutuhan orang lain berdasarkan pengalamannya dalam bersosialisasi.
Pada dimensi penguasaan lingkungan juga tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara individu dewasa awal yang berpacaran dan tidak. Hal tersebut dapat dikarenakan individu dewasa awal baik yang berpacaran maupun tidak berpacaran dapat belajar mengenai kemampuan untuk mengendalikan lingkungannya maupun berbagai kegiatan yang kompleks secara efektif berdasarkan pengalaman dalam bergaul dan berorganisasi di lingkungan sosialnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Hasil uji-t berdasarkan total skor 6 dimensi psychological well-being menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan psychological well-being yang signifikan antara individu dewasa awal kelompok yang berpacaran dan tidak berpacaran.
2. Hasil uji-t berdasarkan masing-masing dimensi psychological well-being juga menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan psychological well-being yang signifikan antara individu dewasa awal kelompok yang berpacaran dan tidak berpacaran pada dimensi relasi positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan, dan tujuan hidup sedangkan terdapat perbedaan psychological
well-being yang signifikan pada dimensi penerimaan diri, otonomi dan
pertumbuhan pribadi. B.Saran
1. Bagi kelompok dewasa awal yang berpacaran
Manfaatkan kesempatan berpacaran untuk belajar dan mempersiapkan masa depan dengan bijak.
2. Bagi kelompok dewasa awal yang tidak berpacaran
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Azwar, S. (20011). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dwi, R. (2008). 20 Tokoh Sosiologi Modern. Yogyakarta: Arruzz Media.
Fina/Novi/Shinta-Wasis. (2015, 08 Februari). Pergaulan Remaja: Pacaran? Ortu
Gimana, Ya? Diperoleh 22 Maret 2015, dari http://www.solopos.com/2015/02/08/pergaulan-remaja-pacaran-ortu-gimana-ya-575230
Gambit. (2000). Pacaran Remaja dan Perilaku Seksualnya. Buletin Embrio Edisi
10 September 2000. Yogyakarta: Pusat Studi Seksualitas (PSS)
PKBI-DIY.
Hardjana, A.M. (2002). Kiat Berpacaran. Yogyakarta: Kanisius.
Hurlock, B.E. (1999). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Ikhsan, A.S.R. (2003). Agenda Cinta Remaja Islam. Yogjakarta: Diva Press.
Landis, J.T. & Landis, M.G. (1963). Building a Successful Marriage. Edisi keempat. Englewood Cliffs, New York: Prentice Hall Inc.
Magnis-Suseno, F. (2009). Menjadi Manusia Belajar dari Aristoteles. Yogyakarta: Kanisius.
Monk. F.J. & A.M.P. Knoers (2002). Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam
Berbagai Bagiannya. Terjemahan. Cetakan kesebelas. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada.
Human Development Ninth Edition. New York: McGraw-Hill Companies,
Inc.
Reardon, K.K. (1987). Where Mind Meet : Interpersonal Comunication. California: Wadsworth Publishing
Rice, P.S., de Genova, M.K. (2005). Intimate Relationship, Marriage, and
Families. Edisi keenam. New York: McGraw- Hill
Ryff, C.D. (1989). Beyond Ponce de Leon and Life Satisfaction: New Directions in Quest of Successful Ageing. International Journal of Behavioral Development, 12(1), 35-55.
Ryff, C.D. (1989). Happiness Is Everything or Is It? Explorations on the Meaning of Psychological Well-Being. Journal of Personality and Social
Psychology, Vol. 57, No.6, 1069-1081.
Ryff, C.D. (2013). Psychological Well-Being Revisited: Advances In the Science and Practice of Eudaimonia. Psychother Psychosom, 83, 10-28.
Ryff, C.D., Keyes, C.L.M. (1995). The Structure of Psychological Well-Being Revisited. Journal of Personality and Sosial Psychology, Vol 69, No.4, 719-727.
Ryff, C.D., Keyes, C.L.M. & Shmotkin, D. (2002). Optimizing Well-Being: The Empirical Encounter of Two Traditions. Journal of Personality and Social
Psychology, Vol. 82, No. 6, 100-1022.
Santrock, John W. (2002). Life Span Development Perkembangan Masa Hidup
Soekanto, Soerjono. (2007). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sugiyono, 2013, Metode Penelitian Kombinasi, Bandung: Penerbit Alfabeta
Tenggara, H., Zamralita dan Suyasa, P.T.Y.S. (2008). Kepuasan Kerja dan Kesejahteraan Psikologis Karyawan. Jurnal Ilmiahhhh Psikologi Industri dan Organisasi, 10, 96-115.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1989).
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Vem/Hws. (2015, 11 Juli), Mengapa Mempunyai Hubungan Percintaan Itu
LAMPIRAN 1
Skala Kesejahteraan Psikologis
Petunjuk Pengisian
Inisial :
Umur :
Jenis kelamin : Lama berpacaran* : * bagi yang berpacaran
Petunjuk pengisian
Berikan jawaban atas pernyataan berikut dengan memberikan tanda centang (√) pada salah satu kolom yang sesuai dengan pendapat Anda!
Keterangan: 1 Ketika saya melihat kisah hidup saya, saya
senang dengan banyak hal yang telah berubah
2 Saya merasa orang lain mendapatkan lebih banyak dalam hidup dibandingkan yang saya miliki
3 Kebanyakan orang melihat saya sebagai pribadi yang penuh kasih sayang
meskipun kadang bertentangan dengan pendapat banyak orang
5 Saya sering khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentang saya
6 Saya merasa saya bertanggung jawab atas situasi di mana saya tinggal
7 Saya cukup mampu mengelola banyak tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari saya
8 Tuntutan kehidupan sehari-hari sering membuat saya putus asa
9 Saya tidak merasa cocok dengan orang-orang dan masyarakat di sekitar saya 10 Saya menikmati dalam membuat rencana
untuk masa depan dan bekerja agar rencana saya menjadi kenyataan
11 Saya menjalani hidup hari demi hari dan tidak benar-benar berpikir tentang masa depan
12 Saya berpikir sangat penting mencoba pengalaman baru yang menantang untuk melihat bagimana saya berpikir tentang diri saya dan dunia luar
13 Saya tidak tertarik pada kegiatan yang akan memperluas pengetahuan saya
14 Dalam banyak hal, saya merasa kecewa tentang prestasi saya dalam hidup
15 Saya sering merasa percaya diri dan positif tentang diri sendiri
16 Saya menikmati percakapan pribadi dan saling menguntungkan dengan anggota keluarga atau teman-teman
17 Sikap saya tentang diri saya mungkin tidak sebaik kebanyakan orang tentang diri mereka
18 Saya sering kesulitan dan frustasi menjaga kedekatan hubungan
20 Saya cenderung terpengaruh oleh orang-orang dengan pendapat yang kuat
21 Saya tidak ingin mencoba cara-cara baru dalam melakukan sesuatu karena saya merasa hidup saya baik-baik saja dengan cara sekarang
22 Saya dapat melakukan pekerjaan dengan baik dalam mengurus keuangan dan urusan pribadi saya
23 Saya sering merasa kewalahan dengan tanggung jawab saya
24 Saya orang yang aktif dalam melaksanakan rencana yang saya tetapkan untuk diri sendiri
25 Saya cenderung untuk fokus pada saat ini, karena masa depan hampir selalu
membawa saya dalam masalah
26 Kegiatan sehari-hari saya tampak sepele dan tidak penting bagi saya
27 Saya merasa bahwa saya telah berkembang banyak dari waktu ke waktu
28 Ketika saya memikirkan sesuatu, selama bertahun-tahun ini saya merasa belum benar-benar menjadi orang yang baik 29 Saya suka sebagian besar aspek
kepribadian saya
30 Saya sering merasa kesepian karena saya hanya memiliki beberapa teman dekat yang mau berbagi dengan saya
31 Orang-orang menggambarkan saya sebagai orang yang perhatian, bersedia untuk membagi waktu saya dengan orang lain 32 Saya tidak memiliki banyak teman yang
mau mendengarkan ketika saya ingin bercerita.
33 Saya merasa bahwa orang lain lebih banyak memiliki pertemanan dibandingkan dengan saya
merupakan yang terbaik
35 Saya sulit untuk mengemukakan pendapat saya sendiri tentang hal-hal yang bertentangan dengan yang lain
36 Saya pandai mengatur waktu sehingga saya dapat melakukan segala sesuatu yang perlu dilakukan
37 Bagi saya,lebih penting bahagia menjadi diri sendiri dibandingkan menjadi
seseorang yang sesuai keinginan orang lain 38 Beberapa orang berjalan tanpa tujuan
hidup, tapi saya bukan salah satu dari mereka
39 Saya merasa tidak memiliki pencapaian yang baik dalam hidup
40 Bagi saya, hidup merupakan proses pembelajaran berkelanjutan, perubahan, dan pertumbuhan
41 Saya tidak menikmati berada dalam situasi baru yang mengharuskan saya untuk menyesuaikan dengan hal-hal yang baru 42 Masa lalu memiliki pasang surut, tetapi
saya tidak ingin mengubahnya
43 Saya kadang-kadang merasa seolah-olah saya sudah melakukan semua yang ada untuk menjalani hidup
44 Saya tahu bahwa saya bisa mempercayai teman-teman saya, dan mereka tahu bahwa mereka dapat mempercayai saya
45 Saya tidak memiliki banyak hubungan yang hangat dan saling percaya dengan orang lain
46 Saya yakin dengan pendapat saya, bahkan jika bertentangan dengan kesepakatan bersama
waktu
49 Saya menyerah berusaha untuk melakukan perbaikan atau perubahan besar dalam hidup saya
50 Saya sependapat bahwa tidak bisa mengajar anjing tua dengan trik baru 51 Ketika saya membandingkan diri saya
dengan teman-teman dan kenalan, membuat saya merasa lebih baik tentang diri saya
52 Saya menilai diri saya dengan apa yang saya anggap penting, bukan oleh nilai-nilai yang orang lain anggap penting
53 Saya kesulitan mengatur hidup saya 54 Saya mampu membangun rumah dan gaya
LAMPIRAN 2
Skala Kesejahteraan Psikologis
FORM PERSETUJUAN
Dengan hormat,
Dalam rangka penelitian untuk penulisan skripsi, saya mahasiswa akhir Fakultas Psikologii Universitas Sanata Dharma memohon bantuan Anda untuk mengisi kuisioner yang sudah disediakan di bawah ini.
Penelitian ini mengenai perbedaan kesejahteraan psikologis, yang dikenal juga dengan nama psychological well-being, pada individu dewasa awal yang berpacaran dan tidak berpacaran.
Sebelum memulai pengerjaan, isilah Identitas Diri dan bacalah petunjuk pengisian terlebih dahulu.
Saya menyadari bahwa jawaban yang Anda berikan bersifat pribadi. Semua informasi yang didapat hanya akan digunakan untuk penyusunan penelitian.
Dalam pengerjaan kuisioner ini Anda dapat berefleksi atau melihat kembali kehidupan masa lalu Anda dan mungkin Anda merasa tidak nyaman dalam mengisi kuisioner ini, tetapi saya berharap Anda tetap dapat sepenuhnya berpartisipasi. Anda juga bebas untuk mengajukan pertanyaan kepada saya melalui email [email protected]
Atas waktu dan perhatian Saudara, saya mengucapkan terimakasih.
Yogyakarta,……… 2015
(………..) (………)
IDENTITAS DIRI
Inisial :
Usia :
Suku :
Daerah Asal : Pendidikan Terakhir :
Pekerjaan :
Agama :
Jenis Kelamin : Laki-Laki / Perempuan*
Status : Berpacaran / Tidak Berpacaran* Lama Berpacaran ** :