• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR ( D P 3 A ) SOLO ISLAMIC SCHOOL (Penggabungan Konsep Dekonstruksi dengan Arsitektur Islam).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TUGAS AKHIR DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR ( D P 3 A ) SOLO ISLAMIC SCHOOL (Penggabungan Konsep Dekonstruksi dengan Arsitektur Islam)."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

( D P 3 A )

SOLO ISLAMIC SCHOOL

(Penggabungan Konsep Dekonstruksi dengan Arsitektur Islam)

Diajukan Sebagai Pelengkap dan Syarat Guna Mencapai

Gelar Sarjana Teknik Arsitektur

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Disusun Oleh :

NAMA : IRFAN SEPTEMNONI NIM : D 300 030 010

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. PENGERTIAN JUDUL

•Solo : Salah satu kota di Jawa Tengah. (sumber : Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988, Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan, Balai Pustaka.)

Islamic School : Merupakan model pendidikan yang memadukan kurikulum Nasional (dari Depdiknas) yang berlaku dengan pendidikan

kurikulum Islam. (sumber : Profil Sekolah Dasar

IslamTerpadu, 2006, Luqman Al- Hakim, Yogyakarta)

Jadi Solo Islamic School merupakan model pendidikan yang memadukan Kurikulum Nasional (dari Depdiknas) yang berlaku dengan pendidikan kurikulum

Islam yang keberadaannya di salah satu kota di Jawa Tengah.

1.2. LATAR BELAKANG

1.2.1 Kebutuhan Sekolah dari Sekolah Dasar Hingga Sekolah Lanjut Sangat Besar.

Pada masa kini, keberadaan dunia pendidikan di Indonesia terus berusaha

memberikan sumbangsihnya dalam perkembangan segala bidang. Sehingga

pendidikan bukan hanya sebagai suatu barang komoditi akan kebutuhan kemajuan

individual melainkan salah satu tolak ukur dalam kemajuan suatu bangsa.

Peranan pendidikan dituntut secara nyata dan aktif dalam menghadapi

masalah dan tantangan dari perkembangan dunia khususnya dalam menciptakan

sumber daya manusia yang lebih bermutu dan tangguh sehingga memaksa dunia

pendidikan menciptakan suatu wadah dengan kualitas dan sistem pendidikan yang

tepat.

Salah satu wadah yang tentu saja sudah sangat kita kenal dalam

melahirkan manusia–manusia berkualitas selama ini adalah sekolah. Sekolah

bukan merupakan satu–satunya jalan keluar namun lebih tepat bila dikatakan

(3)

menjadi individu yang lebih berkualitas dan tangguh menghadapi jaman. Di kota

Solo, kebutuhan akan sekolah sebagai wadah memang sangat besar, hal ini dapat

ditunjukan lewat data dari buku Solo Dalam Angka tahun 2006.

Table 1.1. Penduduk Usia 5 tahun keatas Menurut Pendidikan Tertinggi yang ditamatkan di Kota Surakarta tahun 2006.

Jenis Kelamin Pendidikan tertinggi

yang ditamatkan

Laki-laki perempuan

Jumlah Total

Tidak punya ijasah SD 36.792 38.325 75.117

SD 38.544 47.523 86.067

Madrasah Ibtidaiyah 219 0 219

Smp Umum/Kejuruan 49.713 53.436 103.149

Madrasah Tsanawiyah 219 876 1.095

SMU 51.684 42.048 93.732

Madrasah Aliyah 438 438 876

SMK 27.813 20.805 48.618

D I/II 1.095 1.971 3.006

D III/Sarmud 7.665 7.227 14.892

D IV/S1 15.987 13.140 29.127

S2/S3 1.095 438 1.533

Jumlah 231.264 226.227 457.491

Sumber: BPS Kota Surakarta (Diolah dari SUSENAS 2006)

Table 1.2.Banyaknya sekolah, Ruang kelas dan Kelas SD tiap Kecamatan di Kota SurakartaTahun 2006.

Banyaknya Kecamatan

Sekolah Ruang Kelas Kelas

1. Laweyan 2. Serengan 3. Ps. Kliwon 4. Jebres

Jumlah 283 1892 1549

Tahun 2004/2005 272 1972 1972

(4)

Tabel 1.3.Banyaknya murid SD negeri dan swasta Menurut Kelas dan Kecamatan di Kota SurakartaTahun 2006.

K E L A S Kecamatan

I II III IV V VI Jumlah

1. Laweyan 2. Serengan 3. Ps. Kliwon 4. Jebres

Jumlah 7796 7467 7128 7065 7144 6826 43148

Tahun 2004/2005

- - - 1972 1972

(sumber : Dinas Pendidikan dan OR Kota Surakarta, 2006)

Tabel 1.4.Banyaknya Sekolah, Ruang kelas, Kelas dan Guru SLTP Menurut Kecamatan di Kota SurakartaTahun 2006.

Kecamatan Sekolah Ruang Kelas Kelas Guru

1. laweyan 2. Serengan 3. Ps. Kliwon 4. Jebres

Jumlah 71 977 924 2247

Tahun 2004/2005 71 895 895 2490

(sumber : Dinas Pendidikan dan OR Kota Surakarta, 2006)

Tabel 1.5.Banyaknya Sekolah, Ruang kelas, Kelas dan Guru SMU Menurut Kecamatan di Kota SurakartaTahun 2006.

Kecamatan Sekolah Ruang Kelas Kelas Guru

1. laweyan 2. Serengan 3. Ps. Kliwon 4. Jebres

Jumlah 41 605 563 1.457

Tahun 2004/2005 41 558 558 1769

(5)

Tabel 1.6.Banyaknya Sekolah, Ruang kelas, Kelas dan Guru SMK Menurut Kecamatan di Kota SurakartaTahun 2006.

Kecamatan Sekolah Ruang Kelas Kelas Guru

1. laweyan 2. Serengan 3. Ps. Kliwon 4. Jebres

Jumlah 40 647 883 1.703

Tahun 2004/2005 41 604 604 1.819

(sumber : Dinas Pendidikan dan OR Kota Surakarta, 2006)

Tabel 1.7Banyaknya Penduduk Usia Sekolah Menurut Partisipasi Sekolah, dan Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2006

Jenis Kelamin

Tdk/belum pernah Sekolah

Masih Sekolah

Tdk Sekolah Lagi

-Jumlah Penduduk Usia 7-12 27.375 23.652 51.027

Tdk/belum pernah Sekolah

Masih Sekolah

Tdk Sekolah Lagi

-Jumlah Penduduk Usia 13-15 12.045 14.016 26.061

Tdk/belum pernah Sekolah

Masih Sekolah

Tdk Sekolah Lagi

-Jumlah Penduduk Usia 16-18 11.826 13.578 25.404

Tdk/belum pernah Sekolah

Masih Sekolah

Tdk Sekolah Lagi

-Jumlah Penduduk Usia 19-24 29.565 28.689 58.254

(6)

Tabel 1.8Potensi Untuk Kebutuhan Sekolah SD– SMU Masih Besar

Jumlah 85.410 283 425 71 447 81 474

(Sumber : Analisa Penulis, 2008)

Dari tabel potensi diatas menunjukkan bahwa kebutuhan sekolah dari SD

sampai dengan SMU masih sangat besar. Untuk SD masih dibutuhkan 142 (425–

283), untuk SMP dibutuhka 376 (447– 71), dan untuk SMU dibutuhkan 393 (474

– 81). Dari sekolah yang sudah ada, tidak mencukupi untuk kebutuhan jumlah

penduduk yang masih berusia sekolah. Dengan perhitungan untuk SD yaitu 1 : 20,

untuk SMP yaitu 1 : 15 dan untuk SMU yaitu 1 : 10.

(Sumber : SK Mendiknas : Proporsi Guru dan Murid)

1.2. 2. Amoral Sangat Tinggi

Tidak terlalu sulit untuk membuktikan bahwa pergaulan anak–anak masa

kini turut mempuruk kualitas individu yang notabene disebut sebagai pelajar.

Sebagai contoh yaitu 75% pengidap HIV/Aids adalah kelompok usia dibawah

umur 25 tahun dan lebih dari 40% pelaku aborsi illegal adalah kelompok usia

sekolah. Kenyataan ini turut didukung oleh perkembangan perekonomian pada

masa kini. Baik menurut gaya hidup atau kebutuhan ekonomi yang mendesak, tak

sedikit anak yang kedua orang tuanya bekerja sepanjang hari. Hal ini

menyebabkan semakin berkurangnya pengawasan orang tua terhadap anak

mereka. (Sumber : Acara TVKick Andi bulan Desember, 2007).

Sekolah berbasiskan agama merupakan salah satu alternatif untuk

(7)

pengajaran sekolah berbasis Islam berbeda dari sekolah umum. Pada sekolah

berbasiskan agama perkembangan pribadi setiap individu baik mental maupun

spiritual diperhatikan dan dituntut dengan tepat. Karena dalam suatu pendidikan,

yang baik adalah lembaga yang sepenuhnya bertanggung jawab terhadap

pendidikan siswa secara utuh dan menyeluruh, dimana didalamnya terdapat

pendidikan intelektual serta sosial yang sejalan dengan tujuan pendidikan yang

hendak dicapai. Dengan demikian masalah salah satu perhatian penting, dimana

berpengaruh pada prestasi siswa itu sendiri.

1.2. 3. Sekolah–Sekolah Berbasis Islam Belum Berkualitas

Sekolah berbasis Islam merupakan suatu konsep pendidikan sekolah Islam

berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang menerangkan bahwa tujuan manusia

diciptakan salah satunya adalah untuk menjadi Khalifah (pemimpin) di muka bumi. Oleh karena itu sekolah Islam memprioritaskan 3 pokok materi dalam

konsep pendidikannya.

a. Akhlakul Karimah (sikap hidup), metode keutamaan adalah keteladanan. b. Falsafah ilmu pengetahuan (logika berfikir), metode keutamaan adalah belajar

dengan cara diskusi.

c. Latihan kepemimpinan (leadership), mendidik kreatifitas anak dengan program out bond training supaya tidak terkukung dalam suatu ruangan saja. Dengan begitu kreatifitas anak akan berkembang, tentunya dengan tanggung

jawab dan pengawasan yang sesuai dengan aqidah agama Islam.

Pada kenyataannya dunia pendidikan masa kini semakin menurun

kualitasnya. Banyak sekolah baru bermunculan berbasiskan kurikulum luar negeri

berlabelkan sekolah internasional. Sekolah – sekolah ini kini menjadi harapan

menanjaknya kembali mutu pendidikan di Indonesia. Harus kita akui tidak sedikit

sekolah yang ada di Indonesia mulai kehilangan mutu dan kedisiplinan dalam

sistem pengajarannya. Sistem pembelajaran yang diterapkan masih monoton

kualitas siswa baik dari segi moral maupun intelegensinya masih ketinggalan.

(8)

diharapkan mampu menghasilkan siswa yang mampu bersaing di era globalisasi

tetapi tidak meninggalkan kaidah– kaidah Islam di dalam kehidupannya.

Contoh– contoh tampilan bangunan sekolah Islam yang ada di Surakarta :

Gambar I.1. SD Al-Islam 2 Jamsaren ( Sumber: Survey Lapangan, 2007)

Gambar I.2. Pondok Pesantren Jamsaren ( Sumber: Survey Lapangan, 2007)

(9)

1.3. RUMUSAN PERMASALAHAN 1.3. 1. Permasalahan Umum :

a. Bagaimana mewadahi kegiatan pendidikan SD – SMU yang berkualitas dengn

menggabungkan konsep dekonstruksi dengan arsitektur Islam.

1.3. 2. Permasalahan Khusus :

a. Site atau lokasi untuk pembangunan Solo Islamic School ini terletak di kota Surakarta.

b. Gubahan massa atau tata letak bangunan yang diletakkan sesuai dengan

fungsinya.

c. Penataan ruang yang terkonsep akan membantu jalannya kegiatan dan

menimbulkan kenyamanan

Gambar I.4. Sekolah Yayasan Aisyiyah TK, SD, SMP, SMA Muhammadiyah

( Sumber: Survey Lapangan, 2007)

(10)

d. Teknologi yang diterapkan pada bangunan sehingga bangunan bisa berfungsi

maksimal.

e. Tampilan bangunan yang bernuansa Islami akan memberikan image baru

dengan menggabungkan konsep dekonstruksi dengan konsep arsitektur Islam.

1.4. TUJUAN DAN SASARAN 1.4. 1. Tujuan

a. Menyediakan sarana pendidikan formal di Surakarta tanpa mengesampingkan

pendidikan agama Islam sebagai bekal moral.

b. Menyediakan fasilitas penunjang yang cukup, yang digunakan sebagai sarana

pelengkap fasilitas sekolah.

c. Mewujudkan suatu konsep perancangan sekolah Islam dengan

menggabungkan konsep arsitektur Islam dengan konsep Dekonstruksi yang

sesuai dengan perilaku pengguna sehingga baik bentuk maupun tata letak

ruang dan bangunan dapat digunakan secara maksimal dan sesuai dengan

kaidah– kaidah Islam.

1.4.2. Sasaran

a. DesainSolo Islamic School.

b. Konsep pendidikan yang mampu menggabungkan 3 Kurikulum yaitu,

KurikulumNasional, Departemen Agama, dan Lokal.

1.5. LINGKUP PEMBAHASAN DAN BATASAN 1.5.1. Lingkup Pembahasan

a. Disesuaikan dengan tujuan dan sasaran yang akan dicapai.

b. Pembahasan dalam lingkup disiplin arsitektur, sedangkan disiplin ilmu lain

dibahas sejauh berpengruh dan diperlukan.

c. Hasil penelitian, data literature, wawancara dan kutipan– kutipan dari sumber

tertulis tidak dibahas dan kebenarannya dianggap dapat dipertanggung

(11)

1.5.2. Batasan

Sekolah yang direncanakan adalah sebuah sekolah yang berbasis agama

Islam yaitu sekolah yang terbuka bagi siswa yang beragama Islam. Dan juga

sekolah yang direncanakan merupakan sekolah yang diusahakan yaitu sekolah

dalam binaan Pemerintah Daerah yang sesuai kondisi, kemampuan, dan

pengembangan potensinya, diusahakan atas nama hukum perusahaan.

1.6 METODE PEMBAHASAN 1.6.1. Metode Pengumpulan Data

a. Survey di lapangan

Mengadakan pengamatan langsung di sekolah – sekolah Islam yang ada di

Surakarta untuk dijadikan referensi.

b. Wawancara

Melakukan wawncara secara langsung kepada pihak nara sumber yaitu ke

sekolah– sekolah Islam yang ada di Surakarta.

c. Studi Literatur

Mencari landasan teori yang ada hubungannya dengan teori – teori dari

referensi dan beberapa media seperti TV, buku, internet, dll.

1.6.2. Metode Pengolahan Data

Berdasarkan pengertian permasalahan yang ada, data dari survey,

wawancara dan literature, kemudian penulis menyimpulkan dan menganalisa

landasan konsepsual perencanaan dan perancangan yang nantinya akan

diwujudkan dalam bentuk fisik arsitektural.

1.7. SISTEMATIKA PEMBAHASAN BAB I PENDAHULUAN

Berisi pengertian judul, latar belakang, rumusan permasalahan,

tujuan dan sasaran, lingkup pembahasan dan batasan, metode

(12)

BAB II TINJAUAN KOTA SURAKARTA DAN TEORI

Berisi gambaran umum tentang Kota Solo, sekolah Islam, konsep

arsitektur Islam dan konsep dekonstruksi

BAB III ANALISISSOLO ISLAMIC SCHOOL

Berisi tentang Lokasi, Besaran Ruang, Teknologi serta EstetikaSolo Islamic School.

BABIV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SOLO ISLAMIC SCHOOL

Gambar

Table 1.2. Banyaknya sekolah, Ruang kelas dan Kelas SD tiap Kecamatan di Kota
Tabel 1.6. Banyaknya Sekolah, Ruang kelas, Kelas dan Guru SMK Menurut Kecamatan
Tabel 1.8 Potensi Untuk Kebutuhan Sekolah SD – SMU Masih Besar
Gambar I.1.  SD Al-Islam 2 Jamsaren( Sumber: Survey Lapangan, 2007)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Gedung Parkir + CBD (Central Business District) -Solo dengan sistem tradisional ini yang dimaksud adalah sistem yang dilakukan secara manual, dengan cara memarkirkan

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia- Nyalah laporan Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (PPA) yang berjudul Solo Sky City ini dapat

Akhir yang berjudul Solo Creative Art and Culture Centre ini dapat terselesaikan dengan baik, sehingga dapat menjadi pedoman dalam penyusunan desain pada

raket di Kota Solo, untuk mewadahi kegiatan olahraga yang bersifat edukasi,. rekreatif, dan profesional dengan memperhatikan beberapa aspek

Potensi Kawasan Segitiga SBG Sebagai Bangunan Konservasi Posisi letak strategis Stasiun Solo Kota, Benteng Vastenburg, dan Pasar Gede dahulunya sangat memberikan dampak yang

Solo Creative Art and Culture ini adalah suatu bangunan yang berfungsi sebagai tempat berinterkasi antara masyarakat Kota Solo dalam mengekspresikan kreatifitas dalam seni

Pasar wisata budaya di Solo dengan pendekatan arsitektur jawa merupakan suatu pasar (tempat jual beli barang ataupun jasa) yang bersifat rekreatif (wisata)

Dahulu di Solo Baru mempunyai sebuah gedung Bioskop Atrium akan tetapi sejak terjadinya kerusuhan yang berakibat gedung tersebut rusak karena di bakar pada tahun 1998, sekarang