BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Kondisi Awal
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini dimulai pada tanggal 20 sampai d e n g a n 30 Agustus 2013. Sebelumnya penulis terlebih dahulu melakukan observasi awal dengan tujuan mengetahui tingkat hasil belajar siswa tentang operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas VI SD Negeri Jolosekti. Untuk mengetahui tingkat hasil belajar siswa tersebut, maka penulis mengumpulkan data hasil belajar siswa. Dari hasil data tersebut dapat diketahui bahwa dari 27 siswa hanya 12 siswa (44%) yang mencapai tingkat penguasaan materi. Jadi 15 siswa atau 56% siswa belum tuntas, dengan KKM yang ditetapkan sebesar 70. Hasil belajar digambarkan dalam grafik sebagai berikut:
Gambar 4.1
Hasil Belajar Matematika Prasiklus
Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi ini, dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang telah dilaksanakan kurang berhasil.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Tuntas Belum Tuntas
Hasil Belajar Matematika Prasiklus
Tuntas Belum Tuntas
23
4.1.2. Deskripsi Hasil Siklus I 4.1.2.1 Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini, peneliti dengan pertimbangan dosen pembimbing menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), LKS, serta soal tes siklus yang akan digunakan untuk menguji kemampuan siswa. Peneliti juga menyusun instrumen penelitian lainnya yang berupa pedoman observasi selama siklus 1 berlangsung.
4.1.2.2 Pelaksanaan Tindakan
Tindakan pada siklus I direncanakan selama 6 jam pelajaran dengan 3 kali pertemuan. Setiap pertemuan alokasi waktu 2 jam pelajaran. Pada pertemuan ketiga siswa melaksanakan tes akhir siklus. Setiap kali pertemuan proses pembelajaran dibagi menjadi lima tahap. Pada tahap pertama, yakni tahap engagement, guru memberikan pertanyaan yang dapat menarik minat siswa, sehingga siswa termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang akan berlangsung. Tahap kedua, yakni exploration, di mana siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi dalam kelompok kecil mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang telah disiapkan. Tujuan pengerjaan LKS ini adalah untuk membangun konsep yang akan dipelajari, dalam hal ini KPK dan FPB. Selanjutnya tahap ketiga, explanation yaitu guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan konsep yang mereka peroleh melalui presentasi kelompok. Dilanjutkan dengan tahap elaboration, siswa menerapkan konsep yang mereka peroleh. Pada tahap akhir, evaluation, dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tahap-tahap sebelumnya.
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum mereka pahami. Apabila siswa sudah paham, maka guru membimbing siswa membuat kesimpulan tentang pokok bahasan yang telah dipelajari. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk mempelajari materi yang akan dibahas pada pembelajaran selanjutnya dan pada pertemuan berikutnya pembelajaran masih akan menerapkan model Learning Cycle “5E”.
4.1.2.3 Pengamatan
Berdasarkan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran model Learning Cycle “5E”, diperoleh informasi bahwa pada ketiga pertemuan yang telah
dilaksanakan pada siklus 1, semua komponen Learning Cycle “5E” telah terlaksana.
Pada tiga pertemuan tersebut telah dilaksanakan. Walaupun semua tahapan Learning Cycle “5E” telah terlaksana, namun masih terdapat beberapa keterbatasan dalam pelaksanaannya, sesuai yang tertera dalam lembar observasi.
Keberhasilan tindakan pada siklus I yang terdiri dari tiga pertemuan adalah meningkatnya ketuntasan hasil evaluasi siswa, dimana pada kondisi awal hanya 44%.
yang mencapai ketuntasan belajar, sedangkan pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 70% yang sudah mencapai ketuntasan belajar yaitu sejumlah 19 siswa yang mencapai ketuntasan belajar, dan 8 siswa atau 30% yang belum tuntas.
4.1.2.4 Refleksi
Dari data tersebut 19 siswa sudah tuntas dan yang belum tuntas 8 siswa. Bila dibandingkan dengan kondisi sebelum diadakan kegiatan perbaikan sudah ada peningkatan hasil belajar, yang sebelumnya hanya 12 siswa yang mencapai ketuntasan belajar menjadi 19 siswa yang mencapai ketuntasan belajar, yaitu terjadi peningkatan sebesar 26 %.
Walaupun hasil belajar meningkat namun beberapa tahap dalam pembelajaran Learning Cycle “5E” perlu ditingkatkan. Tahap-tahap tersebut di antaranya tahap exploration, explanation dan elaboration.
Perbaikan pada tahap exploration dilakukan dengan mengoptimalkan kegiatan diskusi kelompok. Selama kegiatan diskusi, guru memotivasi siswa agar aktif terlibat dalam diskusi pembangunan konsep yang diajarkan. Apabila ada anggota kelompok yang mengalami kesulitan, guru menganjurkan untuk mendiskusikan kesulitan tersebut dengan anggota kelompok yang lain terlebih dahulu sebelum meminta bimbingan dari guru. Jika kesulitan tersebut belum dapat diselesaikan, maka guru baru memberikan bimbingan yang diperlukan. Sedangkan perbaikan pada tahap explanation dilakukan dengan mengoptimalkan diskusi kelas. Pada tahap ini guru juga dapat menambahkan penjelasan lebih lanjut tentang konsep yang diajarkan. Dengan perbaikan pada tahap exploration dan explanation diharapkan pengetahuan sebagai bekal siswa dalam merencanakan penyelesaian masalah dapat meningkat. Tahap elaboration ditingkatkan melalui penambahan soal-soal latihan yang teradapat dalam
Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Latihan soal disusun menurut tingkat kesulitannya.
Dengan penambahan soal latihan ini diharapkan siswa dapat berlatih dengan lebih baik dan dapat menginterpretasikan penyelesaian yang mereka hadapi.
4.1.3. Deskripsi Siklus II
Tindakan pada siklus 2 hampir sama dengan tindakan yang dilakukan pada siklus 1, namun dilakukan dengan memperhatikan hasil refleksi siklus 1 dan diadakan perbaikan sebagai berikut:
a. Tahap exploration dan explanation selama pembelajaran lebih dimaksimalkan. Hal ini dilakukan dengan mengefektifkan diskusi siswa serta memberikan tamhaban penjelasan secara klasikal untuk memperkuat konsep yang telah diperoleh siswa.
b. Tahap elaboration dioptimalkan dengan menambah soal-soal yang terdapat dalam LKS dengan memperhatikan tingkat kesulitan soal, sehingga dapat mengingkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.
c. Pada saat latihan soal, guru meningkatkan bimbingan agar siswa dapat menyelesaikan soal yang diberikan sesuai dengan prosedur pemecahan masalah.
d. Guru memotivasi siswa agar terlibat aktif dalam kelompok dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi.
4.1.3.1 Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus 2, peneliti kembali menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta LKS. Selain itu peneliti juga menyiapkan lembar observasi.
4.1.3.2 Pelaksanaan Tindakan 1) Pertemuan Pertama
Kegiatan pembelajaran diawali dengan salam oleh guru, selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan, yakni menentukan akar pangkat tiga suatu bilangan.
a) Tahap Engagement
Siswa diberi motivasi dengan mengemukakan masalah kontekstual, yakni Sebuah bak berbentuk kubus, jika panjang rusuknya 45 dm. Berapa volume bak tersebut?
Beberapa siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan jawabannya.
Siswa diarahkan pada materi bilangan kubik.
Siswa dikondisikan untuk melakukan diskusi kelompok membahas materi bilangan kubik.
b) Tahap Exploration
Siswa dalam kelompok masing-masing bekerjasama untuk menyelesaikan permasalahan yang terdapat pada LKS menentukan bilangan kubik.
Guru mengawasi jalannya diskusi kelompok dan memberikan bimbingan terhadap beberapa kelompok yang membutuhkan.
c) Tahap Explanation
Setelah masing-masing kelompok selesai mengerjakan isian pada LKS, guru meminta salah satu siswa untuk menuliskan hasil diskusinya di papan tulis. Siswa yang menuliskan jawabannya merupakan perwakilan dari kelompok. Kemudian, guru bersama-sama dengan siswa membahas jawaban yang telah dituliskan.
Dari pembahasan yang dilakukan diketahui bahwa siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan isian pada LKS
d) Tahap Elaboration
Kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan latihan soal yang berkaitan dengan bilangan kubik. Siswa dikondisikan kembali untuk melakukan kegiatan diskusi dengan kelompoknya masing- masing. Guru mempersilakan siswa untuk mengerjakan soal latihan pada LKS secara diskusi kelompok.
Selama diskusi berlangsung, guru berkeliling memantau diskusi siswa.
e) Tahap Evaluation
Setelah pembahasan hasil diskusi selesai, kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan mengadakan evaluasi
Menjelang jam pelajaran berakhir, guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilakukan.
2) Pertemuan Kedua
Kegiatan belajar telah dimulai oleh guru dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
a) Tahap Evaluation
Setelah pembahasan hasil diskusi selesai, kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan mengadakan evaluasi materi luas permukaan limas. Evaluasi dilakukan dengan mengadakan soal secara individu. Guru mengkondisikan siswa untuk mengerjakan soal secara individu dan membagikan lembar soal pada masing-masing siswa.
Siswa diberi waktu 10 menit untuk mengerjakan soal tersebut. Selama soal berlangsung, guru berkeliling memantau pekerjaan siswa. Beberapa siswa dapat mengerjakan soal tersebut dengan mudah, namun sebagian masih ada siswa yang mengalami kesulitan dan melakukan kesalahan dalam menjawab soal yang diberikan.
Setelah waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal-soal habis, guru meminta siswa untuk mengumpulkan hasil pekerjaannya masing-masing. Mengingat masih ada beberapa siswa yang melakukan kesalahan dalam menjawab soal, maka guru bersama-sama dengan siswa membahas soal tersebut.
Setelah pembahasan soal selesai, guru mempersilakan siswa untuk menanyakan materi yang belum mereka pahami.
b) Tahap Engagement
Siswa dikondisikan untuk melakukan kegiatan diskusi bersama-sama kelompok masing-masing.
c) Tahap Exploration
Siswa berdiskusi dengan kelompoknya masing-masing untuk mengerjakan isian yang terdapat pada LKS. Selama kegiatan diskusi berlangsung, guru berkeliling memantau jalannya diskusi. Dari pengamatan tersebut, terlihat bahwa beberapa kelompok masih melakukan kesalahan. Setelah mendapat bimbingan dan arahan dari guru, kelompok tersebut dapat mengejakannya dengan benar.
d) Tahap Explanation
Setelah beberapa saat, semua kelompok telah selesai mengerjakan isian
pada LKS. Guru mempersilakan perwakilan
siswa untuk menuliskan jawaban hasil diskusinya di papan tulis.
Dari jawaban yang telah dituliskan di papan tulis, guru bersama-sama dengan siswa membahasnya.
Menjelang jam pelajaran usai, guru mempersilakan siswa untuk menanyakan materi yang belum mereka pahami. Selanjutnya guru membimbing siswaq untuk menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Pembelajaran diakhiri dengan salam.
3) Pertemuan Ketiga
Pembelajaran diawali dengan salam dan dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran oleh guru.
a) Tahap Elaboration
Pada tahap elaborasi, siswa dikondisikan untuk melakukan diskusi dengan kelompoknya masing-masing.
Setelah siswa tersebut selesai menuliskan jawabannya, guru bersama- sama dengan siswa membahas jawaban soal yang telah dituliskan. Hampir semua siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal tersebut.
b) Tahap Evaluation
Guru mengkondisikan siswa untuk mengerjakan soal secara individu dan membagikan lembar soal untuk masing-masing siswa. Selama pengerjaan soal berlangsung, guru berkeliling untuk memantau pekerjaan siswa.
Setelah waktu pengerjaan soal selesai, guru meminta siswa untuk mengumpulkan pekerjaan mereka masing-masing. Kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan soal. Karena waktu yang tersedia sedikit, maka guru memutuskan untuk membahas bersama soal tersebut. Seusai pembahasan soal soal, guru mempersilakan siswa untuk menanyakan hal yang belum mereka pahami terkait penyelesaian soal. Karena tidak ada siswa yang bertanya, maka pembahasan soal diakhiri.
Menjelang jam pelajaran usai, guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan dari pembelajaran. Guru kembali mempersilakan siswa untuk
menanyakan materi yang belum mereka pahami. Selanjutnya pembelajaran diakhiri dengan salam.
4.1.3.3 Pengamatan
Pada siklus II pembelajaran dapat belangsung sesuai dengan rencana. Guru melakukan variasi dalam pembelajaran dengan cara siswa berkelompok untuk maju ke depan mengerjakan soal. Dengan cara demikian siswa terlihat senang dan lebih fokus dalam mengerjakan soal dan cepat-cepat ingin menyelesaikan soal tersebut dengan benar supaya tidak ketinggalan dengan kelompok lain. Tiap kelompok secara bergiliran maju ke depan untuk menyelesaikan soal.
4.1.3.4 Refleksi
Setelah guru melakukan proses pembelajaran, maka yang menjadi refleksi pada siklus ini adalah tercapainya kriteria ketuntasan minimal, pembelajaran menjadi lebih optimal dengan adanya kerja kelompok dan siswa maju secara berkelompok untuk mengerjakan soal, sehingga pemahaman siswa meningkat, hasil belajar siswa pun menjadi meningkat.
4.1.4 Hasil Penelitian
Hasil penelitian disajikan dengan penjelasan prasiklus, siklus I dan siklus II.
Adapun hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
4.1.4.1 Kondisi awal (Prasiklus)
Deskripsi prasiklus disajikan sesuai dengan data tes formatif siswa yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Paparannya sebagai berikut:
Tabel 4.1
Ketuntasan Belajar Matematika Pada Prasiklus
No Kategori Jumlah Siswa Persentase (%)
1 Tuntas dengan nilai ≥ 70 12 44
2 Tidak tuntas dengan skor < 70 15 56
Dari tabel tersebut dapat dilihat hasil evaluasi matematika tentang operasi hitung bilangan bulat kelas VI semester I sebelum kegiatan yang mendapat nilai memenuhi KKM hanya 12 siswa (44%), sedangkan 15 siswa (56%) belum mencapai ketuntasan yaitu belum mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 70.
Hasil evaluasi matematika sebelum kegiatan perbaikan pembelajaran dilakukan bila disajikan pada gambar 4.2 adalah sebagai berikut.
Gambar 4.2
Hasil Tes Formatif Matematika Prasiklus
Dari gambar 4.2 tersebut dapat dilihat hasil evaluasi matematika dari 27 siswa yang memperoleh nilai 0 – 69 ada 15 siswa, nilai 70 - 100 ada 12 siswa.
4.1.4.2 Siklus I
Setelah perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan, maka hasil evaluasi yang diperoleh pada akhir siklus I mengalami peningkatan yang dapat dilihat pada pada tabel 4.2.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
0 - 69 70 - 100
15
12
Hasil Tes Formatif Matematika Prasiklus
0 - 69 70 - 100
Tabel 4.2
Ketuntasan Belajar Matematika Pada Siklus I
No Kategori Jumlah Siswa Persentase (%)
1 Tuntas dengan nilai ≥ 70 19 70
2 Tidak tuntas dengan skor < 70 8 30
Hasil evaluasi matematika tentang operasi hitung bilangan bulat pada kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I bila disajikan pada gambar 4.3 adalah sebagai berikut.
Gambar 4.3
Hasil Tes Formatif Matematika Siklus I
Dari gambar 4.3 tersebut dapat dilihat hasil evaluasi matematika tentang KPK dan FPB kelas VI semester 1 pada kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I, dari 27 siswa yang memperoleh nilai 50 ada 1 siswa, nilai 60 ada 7 siswa, nilai 70 ada 12 siswa, nilai 80 ada 5 siswa, nilai 90 ada 1 siswa , nilai 100 ada 1 siswa.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
40 50 60 70 80 90 100
1
7
12
5
1 1
Hasil Tes Formatif Matematika Siklus I
40 50 60 70 80 90 100
4.1.4.3 Siklus II
Setelah selesai perbaikan pembelajaran siklus II, maka hasil evaluasi pada akhir siklus II mengalami peningkatan, seperti yang ada pada tabel 4.3 berikut.
Dari tabel 4.3 tersebut dapat dilihat hasil evaluasi matematika tentang dengan meminjam kelas VI semester 1 pada kegiatan perbaikan pembelajaran siklus II, dari 27 siswa yang memperoleh nilai 60 ada 1 siswa, nilai 70 ada 3 siswa, nilai 80 ada11 siswa dan nilai 90 ada 7 siswa, nilai 100 ada 5 siswa.
Hasil evaluasi matematika kegiatan perbaikan pembelajaran siklus II bila disajikan dalam gambar 4.4 adalah sebagai berikut.
Gambar 4.4
Hasil Tes Formatif Matematika Siklus II
Dari gambar 4.4 tersebut dapat dilihat hasil evaluasi matematika pada kegiatan perbaikan pembelajaran siklus II, dari 22 siswa yang memperoleh nilai 60 ada 1 siswa, nilai 70 ada 3 siswa, nilai 80 ada 11 siswa dan nilai 90 ada 7 siswa nilai 100 ada 5 siswa.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
40 50 60 70 80 90 100
1
3
11
7
5
Hasil Tes Formatif Matematika Siklus II
40 50 60 70 80 90 100
4.1.4.4 Perbandingan Hasil Belajar Tiap Siklus Tabel 4.3
Perbandingan Hasil Belajar Tiap Siklus
Uraian Prasiklus Siklus I Siklus II
Ketuntasan Belajar 44% 70% 96%
Dari tabel 4.3 dapat dilihat perbandingan tingkat ketuntasan belajar matematika tentang operasi hitung bilangan bulat dari kondisi prasiklus yaitu 44% pada siklus I 70%
sehingga terjadi peningkatan 26% dan siklus II 96%, hal ini berarti meningkat 26% dari siklus I. Hasil tersebut dilihat pada gambar 4.5 sebagai berikut.
Gambar 4.5
Perbandingan Keadaan Prasiklus, Siklus I dan Siklus II
4.2. Pembahasan Tiap Siklus 4.2.1 Siklus I
Pada pembelajaran sebelum perbaikan yang hanya mengandalkan metode ceramah dengan menyisipkan sedikit tanya jawab, kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga hasil yang dicapai pada pembelajaran tersebut siswa yang tuntas belajar atau memperoleh nilai > 70 hanya 44%.
Dari hasil tersebut penulis bermaksud untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas VI SD Negeri Jolosekti dengan melaksanakan perbaikan pembelajaran dengan model learning cycle pada pembelajaran berikutnya.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I penulis melaksanakannya dari menyusun rencana perbaikan pembelajaran menggunakan model learning cycle. Dalam
Prasiklus Siklus I Siklus II
44
70
96
Perbandingan Keadaan Prasiklus, Siklus I dan Siklus II
metode kerja kelompok guru dapat membimbing dan mendidik siswa untuk hidup dalam suasana yang penuh tanggung jawab, setiap orang berusaha untuk mengemukakan pendapat harus berdasarkan prinsip-prinsip tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan model learning cycle pembelajaran akan lebih efektif dan efiseien, setelah pelaksanaan tes formatif kami nilai dan kami analisis, ternyata proses perbaikan pembelajaran siklus I dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa yaitu siswa yang mengalami tuntas belajar yaitu 70%.
4.2.2 Siklus II
Setelah melakukan kegiatan pembelajaran siklus I maka penulis mendiskusikan kepada pengamat mengenai berbagai kelemahan dari pembelajaran tersebut. Dari lembar pengamatan tersebut didapat diantaranya adalah dengan model pembelajaran learning cycle siswa menjadi lebih aktif sehingga siswa banyak yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, keberanian siswa dalam bertanya sehingga kegiatan pembelajaran terasa lebih bermakna.
Setelah guru melaksanakan kegiatan pembelajaran, maka yang menjadi refleksi pada siklus II ini adalah tercapainya ketuntasan belajar, pembelajaran lebih bermakna, banyak siswa yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, siswa lebih bersemangat dalam kegiatan pembelajaran, dengan model pembelajaran learning cycle siswa menjadi aktif sehingga hasil belajar meningkat.
Berpijak dari refleksi dan observasi, kami melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II dengan mengoptimalkan pelaksanaan model pembelajaran learning cycle. Setelah evaluasi pembelajaran siklus II kemudian kami nilai dan kami analisis ternyata hasilnya meningkat lagi, dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh yaitu 70,37 pada siklus I meningkat menjadi 84,44 pada siklus II sedangkan siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebanyak 96% (26 siswa) yaitu meningkat sebesar 26% pada perbaikan, sedangkan 4% siswa tidak tuntas. Hal ini diduga karena siswa tersebut adalah anak baru pindah dari sekolah lain dimana belum bisa beradaptasi dengan teman barunya.
Dengan mengamati nilai ketuntasan diatas berarti hasil yang dicapai pada proses perbaikan pembelajaran siklus II sudah mencapai hasil yang diinginkan.