• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUPATI MALUKU TENGGARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BUPATI MALUKU TENGGARA"

Copied!
264
0
0

Teks penuh

(1)

BUPATI MALUKU TENGGARA

KEPUTUSAN BUPATI MALUKU TENGGARA NOMOR 221 TAHUN 2015

TENTANG

RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI

KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL KABUPATEN MALUKU TENGGARA

2015-2035

(2)

BUPATI MALUKU TENGGARA

KEPUTUSAN BUPATI MALUKU TENGGARA NOMOR 221 TAHUN 2015

TENTANG

RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI

KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL KABUPATEN MALUKU TENGGARA TAHUN 2015-2035

BUPATI MALUKU TENGGARA,

Menimbang : a. bahwa wilayah laut, pulau-pulau, dan pesisir daratan kewenangan pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, maka perlu ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Maluku Tenggara;

b. bahwa dalam rangka rencana pengeloalaan dan rencana zonasi berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomer 30 Tahun 2010 dalam pasal 3, maka wilayah laut, pulau-pulau, dan pesisir daratan kewenangan pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara perlu ditetapkan Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Maluku Tenggara.

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu ditetapkan dengan Keputusan Bupati tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Maluku Tenggara.

Mengingat : 1. Undang-undang Nomer 60 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah- daerah Swantantra Tingkat II dalam Wilayah Daerah Swantantra Tingkat I Maluku (Lembar Negara Tahun 1958 Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1645);

2. Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3647);

(3)

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomoh 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699);

5. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

6. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739);

7. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomo5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355);

8. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4966);

9. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419);

10. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tabun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambaban Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4597);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 833);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 134, Tambaban Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4779);

15. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER/16/MEN/2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;

16. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER/30/MEN/2010 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan;

17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2011 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah;

18. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER/17/MEN/2008 tentang Kawasan Konservvasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;

19. Peraturan Pemerintah Nomer 35 Tahun 2011 tentang Pemindahan Ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara dari Wilayah Kota Tual ke Wilayah

(4)

(Lembaran Negara Tahun 2011 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5227); dan

20. Peraturan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2012-2032.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN BUPATI TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL KABUPATEN MALUKU TENGGARA TAHUN 2015-2035

KESATU : Sebagian Laut, pulau-pulau, dan pesisir daratan kewenangan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara di tetapkan sebagai Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K)

KEDUA : Kawasan Konservasi sebagaimana dimaksud pada diktum KESATU ditetapkan dengan jenis kawasan Taman Pulau Kecil dengan nama KKP3K Taman Pulau Kecil – Kei Kecil.

KETIGA : Kawasan Konservasi sebagaimana dimaksud pada diktum KEDUA ditetapkan dengan luas 150.000 hektar, dengan luas darat 14.693 hektar dan laut 135.307 hektar.

KEEMPAT : Koordinat batas dan zonasi serta peta Kawasan Konservasi sebagaimana dimaksud pada diktum KEDUA tercantum dalam lampiran I dan II Keputusan ini.

KELIMA : Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Maluku Tenggara merupakan panduan operasional pengeloan Kawasan Konservasi Kabupaten Maluku Tenggara.

KEENAM : Rencana Pengelolaan sebagaimana dimaksud pada diktum KELIMA apabila terdapat kekeliruan di dalamnya dapat ditinjau dan diperbaiki sekurang- kurangnya 5 (lima) tahun sekali.

KETUJUH : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

(5)

LAMPIRAN

KEPUTUSAN BUPATI MALUKU TENGGARA NOMOR 221 TAHUN 2015

TENTANG RENCANA ZONASI DAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL KABUPATEN MALUKU TENGGARA TAHUN 2015-2035

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kabupaten Maluku Tenggara merupakan salah satu dari delapan kabupaten di Provinsi Maluku yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1952 tentang Pembubaran Daerah Maluku Selatan dan Pembentukan Daerah Maluku Tengah dan Maluku Tenggara, jo Undang Undang Nomor 60 Tahun 1958 Tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat II dalam Daerah Swatantra Tingkat I Maluku.

Sesuai tuntutan pelayanan pemerintahan dan pembangunan, Kabupaten Maluku Tenggara sejak berdirinya hingga saat ini, telah mengalami 3 (tiga) kali pemekaran wilayah yakni Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Kepulauan Aru yang masing-masing berdasarkan Undang Undang Nomor 46 Tahun 1999 tentang Pembentukan Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat di Provinsi Maluku dan Undang Undang Nomor 46 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat, dan Kabupaten Kepulauan Aru di Provinsi Maluku serta Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku. Dengan demkian, secara administrasi Kabupaten Maluku Tenggara setelah pemekaran Kota Tual terbagi atas 6 (Enam) Kecamatan yang meliputi 1 kelurahan, 87 Ohoi dan 104 Ohoi Soa dengan Ibukota sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Nomor 02 Tahun 2009 Tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Maluku Tenggara dari Wilayah Kota Tual ke Langgur di Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara bertempat di Langgur.

Secara Geografis Kabupaten Maluku Tengara terletak pada koordinat 132° – 133° 5' Bujur Timur dan 5° 32' – 8° 00' Lintang Selatan, secara administrasi Kabupaten Maluku Tenggara berbatasan dengan : Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Papua Bagian Selatan, Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Arafura, Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Tual, Laut Banda dan

(6)

bagian Utara Kepulauan Tanimbar Sebelah Timur berbatasan dengan Kepulauan Aru.

Luas Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara 4.212,51 km2, dengan luas daratan 1.031,81 km2 (24%) dan luas perairannya 3.180,70 km2 (76%).

Kepulauan Maluku Tenggara hanya terdiri atas 1 Gugusan Kepulauan yaitu Gugusan Kepulauan Kei yang terdiri atas Kepulauan Kei Kecil dengan luas seluruhnya 486,17 km2 dan Pulau Kei Besar dengan luas 545.64 km2. Secara Topografi Pulau Kei Kecil lebih datar dengan ketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Beberapa bukit rendah di Tengah dan Utara mencapai 115 m. Pulau Kei Besar berbukit dan bergunung yang membujur sepanjang pulau dengan ketinggian ratarata 500 – 800 m dengan Gunung Dab sebagai puncak tertinggi, dataran rendah merupakan jalur sempit sepanjang pantai. Ohoi- Ohoi pada umumnya tersebar pada ketinggian 0-100 m. Sebaran rata-rata kedalaman (4 mil dari garis pantai) di Kei Kecil (Nuhu Roa) adalah ≤ 100 m atau ratarata slop ≤ 1,5 persen yaitu di Pulau Kei Kecil Bagian Barat. Untuk Pulau Kei Besar (Nuhu Yut), sebaran rata-rata kedalaman ≤ 100 m berada di bagian Barat Laut, sedangkan bagian Barat Daya dan bagian Timur kedalaman rata-rata lebih dari 300 m. Kemiringan daratan pulau (Island Flat) di Pulau Kei Kecil berkisar antara 0 persen – 40 persen, sedangkan untuk Pulau Kei Besar kemiringan daratan pulau adalah curam (15 persen - 40 persen) sampai dengan sangat curam (> 40 persen). Berdasarkan Peta Geologi Indonesia (1965), Pulau/Kepulauan Maluku Tenggara terbentuk/tersusun dari jenis tanah meliputi podzolik, rensina dan lithosol sedangkan jenis batuan meliputi aluvium undak, terumbu coral, seklis habluk, paleogen dan ulagan paleozoikum. Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudra Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di bagian Selatan, sehingga sewaktu-waktu terjadi perubahan.

Kawasan Perairan Kabupaten Maluku Tenggara memiliki nilai konservasi yang tinggi, selain karena lokasi perairannya tepat berada di pusat segitiga keanekaragaman hayati laut dunia (coral triangle), keanekaragaman jenis biota dan pesisirnya sangat tinggi didukung oleh kelengkapan tipe terumbu karang, jenis-jenis bakau dan padang lamun, selain itu perairan ini merupakan tempat perlintasan dan tempat bermain beberapa jenis biota yang dilindungi seperti penyu utamanya penyu belimbing (Dermochelys coriacea) atau yang dikenal dalam istilah lokal ‘Tabob’, jenis lumba-lumba, hiu dan dugong. Dengan kata lain kawasan ini memiliki karakteristik airnya yang unik yaitu selat-selat dengan arus kuat, dengan pantai pasir putih terbaik didunia; Perairan yang subur karena tingginya nilai konsentrasi klorofil-a 1,5-5 mg/l (Citra MODIS); memiliki 3 ekosistem yang cukup baik yaitu ekosistem terumbu karang seluas 7.261,76 ha, dapat hidup di area dominan berpasir, ekosistem padang lamun seluas 5.314,90 ha dan ekosistem mangrove 959,05 ha ; juga memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal seperti aturan “sasi” masih cukup tinggi. Berdasarkan Laporan Kesehatan Karang yang dilakukan WWF Indonesia Inner Banda Arc Subseascape Project tahun 2014 di Kei Kecil bagian Barat, ditemukan Jenis

(7)

ikan karang yang ditemukan berjumlah 35 species ikan herbivora (dari family Acanthuridae, Scaridae dan Siganidae), 58 species ikan piscivora dan 16 species ikan indikator.

Hasil Survei Potensi KKPD Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2012, ditemukan bahwa ekosistem terumbu karang seluas 7.261,76 ha, dapat hidup diarea dominan berpasir, memiliki rata-rata 99 jenis karang, 41 genera, dan 15 spesies dengan genus karang yang dominan tumbuh subur adalah jenis acropora, porites, dan montipora. Tutupan karang keras hidup 66,12 % (kategori baik) pada tahun 2012 tapi pada tahun 2014 berdasarkan survei WWF Indonesia Inner Banda Arc tutupan karang kerang keras hidup 39,13% (kategori sedang).

Ekosistem mangrove 959,05 ha; Terdapat 17 jenis mangrove dari 9 famili;

Jenis yang sering terlihat Rhizophora mucronata dan Exoecaria agallocha;

Famili yang sering terlihat dari famili Rhizophoraceae. Menurut Survei Potensi KKPD Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2012, Ekosistem padang lamun seluas 5.314,90 ha, dengan teridentifikasi ada 9 Jenis lamun yang berada dipesisir Barat Kabupaten Maluku Tenggara. Jenis terbanyak yang dijumpai Thalassia hemprichii , Halophila ovalis, dan Halodule uninervis dengan rata- rata persen tutupan lamun, yaitu 43,62% dan memiliki rata-rata kerapatan lamun 16 batang/m2 .

Untuk dapat menjaga nilai konservasi dan keanekaragaman hayati laut tersebut maka diperlukan suatu pengelolaan kawasan secara baik, efektif dan terpadu sehingga dapat meminimalkan dari pengaruh dan ancaman- ancaman terhadap keanekaragaman ekosistem pesisir dan lautan yang dimiliki oleh Kabupaten Maluku Tenggara. Pada Tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara mencadangkan sebagian perairannya seluas 150.000 Hektar menjadi Kawasan Konservasi Perairan (KKP) melalui Keputusan Bupati No. 162 Tahun 2012. Ini adalah momentum dari Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara yang memandang perlunya suatu pengelolaan kawasan laut dan pesisir yang lebih baik, berkelanjutan serta lebih mensejahterahkan masyarakat pesisir kabupaten Maluku Tenggara.

Selama proses diskusi dan konsultasi yang telah dilakukan dari tahun 2014 – 2015 bersama Tim Teknis penyusun Rencana Zonasi Kawasan Konservasi Pesisir Kabupaten Maluku Tenggara bersama Kasubdit Konservasi Kawasan, Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (KKJI) dengan mempertimbangkan keberadaan pulau-pulau kecil yang ada di dalamnya sehingga mengusulkan untuk merubah kategori kawasan dari KKP menjadi Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) dengan jenis Taman Pulau Kecil – Kei Kecil, ini dimaksudkan agar keberadaan sumberdaya alam yang terdapat di pulau-pulau tersebut terlindungi melalui dimasukkanya pulau-pulau tersebut kedalam kawasan konservasi.

Berdasarkan pada hal tersebut, maka perlu disusun Rencana Pengelolaan Taman Pulau Kecil (TPK) Kei Kecil dalam setiap tahapannya yang melibatkan peran serta masyarakat dalam kawasan tersebut, guna menjamin

(8)

terwujudnya Pengelolaan Taman Pulau Kecil – Kei Kecil yang terpadu dan berkelanjutan.

1.2. Maksud dan Tujuan

Rencana Pengelolaan Taman Pulau Kecil (TPK) Kei Kecil dimaksudkan sebagi pedoman atau arahan bagi Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara dalam Pengelolaan TPK Kei Kecil.

Penyusunan Rencana Pengelolaan Taman Pulau Kecil Kei Kecil bertujuan untuk :

a. Mengatasi konflik dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;

b. Arahan skala prioritas agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah;

c. Kerangka prosedur dan tanggungjawab bagi pengambilan keputusan;

d. Keterpaduan pengelolaan antar pemangku kepentingan;

e. Melindungi wilayah pesisir dan pulau-pulai kecil dari pencemaran dan kerusakan lingkungan.

1.3. Dasar Hukum Penyusunan

Penyusunan Rencana Pengelolaan Taman Pulau Kecil (TPK) Kei Kecil mempunyai landasan hukum yaitu:

1. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan;

2. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421)

3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

4. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5214);

5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5490);

6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587)

7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

(9)

8. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal;

9. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan;

11. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Pesisir;

12. Peraturan Presiden/Pemerintah Tahun 2014 Kepulauan Maluku

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

14. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2009 tentang Tatacara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan;

15. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER/30/MEN/2010 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan;

16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah;

17. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 34/PERMEN- KP/2014 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil.

18. Peraturan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Nomor 12 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Maluku Tenggara (Lembaran Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2009 Nomor 12 Seri E, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 137);

19. Peraturan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Nomor 13 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara 2012-2032;

20. Surat Bupati Maluku Tenggara Nomor 162 Tahun 2012 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi Kabupaten Maluku Tenggara

1.4. Keterkaitan dengan Rencana Pembangunan Daerah Lainnya

Rencana Pengelolaan Taman Pulau Kecil (TPK) Kei Kecil adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun namun hanya dalam skala pengelolaan kawasan konservasi Taman Pulau Kecil di Kabupaten Maluku Tenggara. Dokumen ini disusun dalam rangka merencanakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan merupakan amanat Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dokumen rencana pengelolaan ini merupakan kebijakan publik yang dimaksudkan untuk memastikan upaya-upaya pengelolaan kawasan konservasi perairan dan wilayah pesisir dan pulau-pulau keci di Kabupaten Maluku Tenggara dapat menjadi arus utama dalam

(10)

pembangunan di Kabupaten Maluku Tenggara. Dokumen ini memberikan arahan kebijakan lintas sektor untuk perencanaan pembangunan melalui penetapan isu-isu strategis, tujuan, sasaran, strategis serta target pelaksanaan dengan indikator pegelolaan pesisir dan pulau-pulua kecil yang tepat.

Rencana Pengelolaan Taman Pulau Kecil (TPK) Kei Kecil ini adalah dokumen perencanaan pengelolaan Kawasan konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Maluku Tenggara yang mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Maluku Tenggara dan Rencana Strategis SKPD (Renstra SKPD) masing-masing dinas dan badan di Kabupaten Maluku Tenggara.

Rencana pengelolaan ini juga disusun mengacu kepada beberapa landasan hukum dan tujuan untuk mendorong peran serta dan keterpaduan antar stakeholder terkait seperti pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta lainnya secara komprehensif. Diharapkan dokumen yang telah disusun dapat menjadi acuan semua pihak terkait dalam pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Maluku Tenggara dan pembangunan pesisir dan lautan Kabupaten Maluku Tenggara, sehingga dokumen ini dapat menjadi instrumen yang akan dipakai sebagai referensi penyusunan kebijakan dan penyusunan program kegiatan dalam pengelolaan Kawasan Pesisir dan pulau-pulau keceil Kab. Maluku Tenggara secara khusus dan pengelolaan wilayah pesisir kabupaten Maluku Tenggara secara umum.

RTRW KAB. ALOR

RPJMD KAB MALRA

RKPD KAB.

MALRA RPJPD KAB.

ALOR

Renstra SKPD di KAB MALRA

Renja SKPD

RAPBD APBD

RKA DPA

Pedoman Pedoman

Pedoma n Dijabarkan

Pedoma n

Pedoma n

Bahan Bahan Diacu

RENCANA PENGELOLAAN TPK Kei

Kecil

Kompleme Pedoman n

Pedoman

&/ bahan

RPJPD KAB.

MALRA RTRW KAB.

MALRA

Gambar 1. Keterkaitan Dokumen RPKKP-3K Kabupaten Maluku Tenggara dalam sistem perencanaan dan penganggaran daerah

(11)

1.4.1. Ruang Lingkup disusunnya Rencana Pengelolaan Taman Pulau Kecil (TPK) Kei Kecil

Kawasan Konservasi Perairan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Maluku Tenggara berbatasan dengan wilayah pesisir dan pulau- pulau kecil. Ruang lingkup daerah perencanaan yang dimaksud dalam dokumen ini adalah kawasan konservasi sebagaimana dituangkan dalam rencana zonasi Taman Pulau Kecil (TPK) Kei Kecil dengan melibatkan kawasan pesisir yang berbatasan dengan kawasan konservasi.

Mengacu pada Permen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 34/PERMEN-KP/2014, Rencana Pengelolaan adalah rencana yang memuat susunan kerangka kebijakan, prosedur, dan tanggung jawab dalam rangka pengoordinasian pengambilan keputusan di antara berbagai lembaga/instansi pemerintah mengenai kesepakatan penggunaan sumber daya atau kegiatan pembangunan di zona yang ditetapkan.

Berdasarkan rencana zonasi, Jenis KKWP3K Kabupaten Maluku Tenggara adalah Taman Pulau Kecil dimana zonasi akan terbagi menjadi tiga zona yaitu zona inti (perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan, alur migrasi biota laut; perlindungan ekosistem pesisir yang rentang terhadap perubahan;

perlindungan situs budaya; Penelitian; dan Pendidikan); zona pemanfaatan terbatas (perlindungan habitat dan populasi ikan; pariwisata dan rekreasi;

perikanan tangkap ramah lingkungan; budidaya perairan); dan zona lainnya (perlindungan; hutan lindung; zona pemanfaatan berbasis adat, dan zona area penggunaan lainnya).

(12)

BAB II

POTENSI DAN PERMASALAHAN PENGELOLAAN

2.1. Deskripsi Umum

Kabupaten Maluku Tenggara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Maluku yang secara Geografis terletak pada koordinat 132° – 133° 5' Bujur Timur dan 5° 32' – 8° 00' Lintang Selatan, secara administrasi Kabupaten Maluku Tenggara berbatasan dengan :

o Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Papua Bagian Selatan o Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Arafura

o Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Tual, Laut Banda dan bagian Utara Kepulauan Tanimbar

o Sebelah Timur berbatasan dengan Kepulauan Aru

Luas wilayah Kabupaten Maluku Tenggara 4.212,51 km2, dengan luas daratan 1.031,81 km2 (24%) dan luas perairannya 3.180,70 km2 (76%).

Kepulauan Maluku Tenggara hanya terdiri atas 1 Gugusan Kepulauan yaitu Gugusan Kepulauan Kei yang terdiri atas Kepulauan Kei Kecil dengan Luas seluruhnya 486,17 km2 dan Pulau Kei Besar dengan Luas 545.64 km2. Kabupaten ini memiliki 12 Pulau yang dihuni dan 58 Pulau yang tak berpenghuni.

Secara Topografi Pulau Kei Kecil lebih datar dengan ketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Beberapa Bukit Rendah di Tengah dan Utara mencapai 115 m. Pulau Kei Besar berbukit dan bergunung yang membujur sepanjang pulau dengan ketinggian rata-rata 500 – 800 m dengan Gunung Dab sebagai Puncak tertinggi, dataran rendah merupakan jalur sempit sepanjang pantai.

Ohoi-Ohoi pada umumnya tersebar pada ketinggian 0-100 m. Sebaran rata- rata kedalaman (4 mil dari garis pantai) di Kei Kecil (Nuhu Roa) adalah ≤ 100 m atau ratarata slop ≤ 1,5 persen yaitu di Pulau Kei Kecil Bagian Barat. Untuk Pulau Kei Besar (Nuhu Yut), sebaran rata-rata kedalaman ≤ 100 m berada di bagian Barat Laut, sedangkan bagian Barat daya dan bagian Timur kedalaman rata-rata lebih dari 300 m. Kemiringan Daratan Pulau (Island Flat) di Pulau Kei Kecil berkisar antara 0 persen – 40 persen, sedangkan untuk Pulau Kei Besar kemiringan Daratan Pulau adalah Curam (15 persen - 40 persen) sampai dengan sangat curam (> 40 persen).

Berdasarkan Peta Geologi Indonesia (1965), Pulau/Kepulauan Maluku Tenggara terbentuk/tersusun dari jenis tanah meliputi Podzolik, Rensina dan Lithosol sedangkan jenis batuan meliputi Aluvium Undak, Terumbu Coral, Seklis Habluk, Paleogen dan Ulagan Paleozoikum. Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudra Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di bagian Selatan, sehingga sewaktu-waktu terjadi perubahan.

(13)

2.2. Sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil 2.2.1. Kondisi Biofisik

Perairan Kabupaten Maluku Tenggara memiliki tipe pasang surut campuran mirip harian ganda (predominantly semi diurnal tide) ciri utama tipe pasang surut ini adalah terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dimana pasang pertama selalu lebih besar dari pasang kedua. Tunggang air (Tidal range) maksimum perairan ini umumnya berkisar antara2-3 meter. Tunggang air ini dapat menyebabkan bagian perairan yang lebih dangkal akan muncul ke permukaan seperti perairan pulau-pulau karang kecil seperti Pulau Ngaf, Nai, Hoa, Lea, Wahru, Uhitel, Ohoiwa (Laporan WWF, 2012).

Berdasarkan Kajian Potensi Maluku Tenggara digambarkan kondisi Geomorfologi, Geologi dan Bathymetri Perairan di Kabupaten Maluku Tenggara seperti ditunjukkan pada table dibawah ini.

Tabel 1. Geomorfologi, Geologi dan Bathymetri Perairan

Kecamatan Morfologi Pesisir Batuan Kelandaian Perairan Kei Kecil Pantai berpasir

dan pantai berkarang, teluk dan laguna

Batu gamping terumbu terdiri dari koral,

moluska, ganggang dan brioza

Dangkal (<200m)

Kei Kecil Barat Pantai berpasir dan pantai berkarang, teluk.

Batu gamping terumbu

Landai

Kei Kecil Timur Pantai berpasir dan pantai berkarang

Batu gamping terumbu

Dangkal (<200m) landai Kei Besar Dominan pantai

berbatu dan berbatu terjal

- -sebelah barat : landai- sedang

-sebelah timur

: curam-

sangat curam

(14)

Kei Besar Utara

Timur Dominan pantai

berbatu dan berbatu terjal

- Dangkal-

dalam

Kei Besar

Selatan Dominan pantai berbatu dan berbatu terjal

- Dangkal-

dalam

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan, 2010

Tabel diatas menunjukkan umumnya pesisir kawasan perairan di kabupaten ini merupakan pantai berpasir dan pantai berkarang (coral reef coast). Di Perairan Kei kecil ditemukan beberapa laguna and teluk-teluk semi tertutup.

Di wilayah Kei Besar ditemukan pantai berbatu terjal akibar gempuran ombak.

Arus atau perpindahan massa air di kawasan perairan Kabupaten Maluku Tenggara inimerupakan kombinasi arus angin /Ekman dan arus pasang surut dan arus geotrofik. Arus Ekman disebabkan oleh dorongan angin, arus pasang surut ditimbulkan oleh gaya-gaya pembangkit pasur dan arus geostrofik disebabkan oleh gradient tekanan pada permukaan isobar.

Kecepatan arus Ekman di perairan ini mengalami perubahan arah dan kecepatan secara musiman. Perubahan tersebut disebabkan karena perubahan pola tiupan angin muson. Pada perairan Kecamatan Kei Kecil, kecepatan arus Ekman pada bulan Januari-Februari (musim barat) saat bertiup angin muson barat laut berkisar antara 0,11-0,25 m/det dengan araha timur laut hingga timur. Sedangkan pada kecematan Keci Kecil Barat, arus Ekman dapat mencapai 2,53-2,77 m/det (WWF-Laporan Zonasi, 2010).

Kecepatan arus minimum terjadi di perairan pesisir Rumadian kemudian meningkat pada perairan Ohoililir dan Kloser sementara kecepatan maksimum dijumpai pada perairan Teluk Kelanit pada saat air bergerak surut (DKP, 2010)

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arfura dan Samudera Indonesia juga Pulau Irian bagian Timur dan Benua Australia bagian selatan sehingga dapat saja mengalami perubahan. Keadaan curah hujan antara 2.000-3.000 mm per tahun. Jumlah hari hujan sebanyak 209 hari atau rata-rata 17,4 hari hujan per bulan. Menurut data dari Stasiun Meterologi Dumatubun Langgur- 2009, Suhu rata-rata 27,20 C dengan suhu minum 24,20 C dan maksimum 31,50 C. rata-rata kelembaban udara 85,5%, penyinaran matahari rata-rata 59,5% dan tekanan udara rata-rata 1010,8 milibar.

Berdasarkan klasifikasi Agroklimat menurut Oldeman, Irsal dan Muladi (1981), di Maluku Tenggara terapat Zone Agroklimat, Zone C2 bulan basah 5-6 bulan dan kering 4-5 bulan.

Hasil liputan citra MODIS memperlihatkan bahwa klorofil-a fitoplankton di perairan Kecamatan Kei Kecil memiliki konsentrasi yang tinggi dengan nilai berkisar antara 1,5 – 5 mg/m3. Konsentrasi yang tinggi dijumpai pada perairan pesisir barat dan utara termasuk teluk dan selat sementara

(15)

konsentrasi klorofil-a sedikit menurun pada perairan sekitar outlet Selat Rosemberg sampai di tengah Selat Nerong.

2.2.2. Ekosistem Perairan

Kabupaten Maluku Tenggara memiliki wilayah 4.212, 51 km2 yang terdiri dari daratan sebesar 1.031,81 km2 (24%) dan perairan sebesar 3.180,70 km2 (76%).

Kabupaten Maluku Tenggara memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS) utama yang meliputi:

1. Sungai Nen Mas Il dan Sungai Warwut di Kecamatan Kei Kecil

2. Sungai Wear Semawi dan Sungai Wear Hoarten di Kecamatan Kei Kecil Timur

3. Sungai Jatwav di Kecamatan Kei Kecil Barat

4. Sungai Wear Renfaal dan Sungai Wetuar serta Sungai Erlarang di Kecamatan Kei Besar

5. Sungai Weduar di Kecamatan Kei Besar Selatan

6. Sungai Wear Hollay dan Sungai Ur di Kecamatan Kei Besar Utara Timur Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara juga memiliki satu buah danau yaitu Danau Ablel di Kecamatan Kei Kecil serta beberapa mata air yang berada di Kecamatan Kei Besar.

Perikanan

Produksi perikanan terdiri atas 3 (tiga) jenis yaitu jenis ikan pelagis, ikan domersial dan non ikan.

Gambar 2. Distribusi Klorofil-a Fitoplankton di Kecamatan Kei Kecil

(16)

Ikan Pelagis Besar

Tabel 2. Potensi Ikan Pelagis

Kecamatan

Luas Perairan 0-12 NMI

(km2)

Kepadatan Ikan (ton/km2)

Biomassa (ton/km2)

JTB (ton/km2)

Kei Kecil Barat 2,084.92 455.06 948,77 379.51

Kei Kecil 548.50 455.06 249.61 99.84

Kei Kecil Timur 335.81 455.06 152.82 61.13 Kei Besar 2,031.78 455.06 924.58 369.84 Kei Besar Selatan 1,359.20 455.06 618.51 247.41 Kei Besar Utara

Timur 1,309.36 455.06 595.83 238.34

Ikan Pelagis Kecil

Jenis ikan Pelagis dominan di Kabupaten Maluku Tenggara adalah Ikan Layang (Decapterus spp.), Ikan terbang (Cypsilurus spp.), ikan teri (Stolephorus spp) dan Ikan Selar (Selaroides spp.).

Tabel 3. Potensi Ikan Pelagis Kecil

Kecamatan Luas

Perairan 0-4 NMI

(km2)

Kepadata n Ikan (ton/km2)

Biomassa (ton/km2)

JTB (ton/km2)

Kei Kecil Barat 847.96 2.81 2,383 953

Kei Kecil 432.30 2.83 1,223 489

Kei Kecil Timur 158.39 2.63 417 167

Kei Besar 781.38 2.79 2,180 872

Kei Besar Selatan 510.76 3.63 1,854 742

(17)

Kei Besar Utara

Timur 353.38 2.49 880 352

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan, 2010.

JTB : Jumlah yang diperbolehkan ditangkap.

Ikan Demersal

Ikan demersal yang dominan di Kabupaten Maluku Tenggara adalah Baronang, Sikuda, lencam, bambangan, kerapu dan kakap merah.

Tabel 4. Potensi Ikan Demersal

Kecamatan

Luas Batimetri

0-200m (km2)

Kepadata n Ikan (ton/km2)

Biomassa (ton/km2)

JTB (ton/km2)

Kei Kecil Barat 1,373 3.23 4,435 1,774

Kei Kecil 547 3.01 1,646 658

Kei Kecil Timur 263 3.07 808 323

Kei Besar 745 2.61 1,944 777

Kei Besar Selatan 236 3.12 735 294

Kei Besar Utara

Timur 192 5.53 479 192

2.2.3. Ekosistem Pesisir

Berdasarkan hasil Kajian Potensi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, ditemukan bahwa di semua kecamatan terdapat mangrove, padang lamun dan karang yang bervariasi, Luas ekosistem mangrove terbesar ada di Kecamatan Kei Kecil Barat yaitu 13,54 km2 dan yang terkecil ada di Kecamatan Kei Besar Selatan yaitu 0,20 km2. Luas Ekosistem Lamun terbesar berada di Kecamatan Kei Kecil Barat yaitu 21,38 km2 dan terendah di Kecamatan Kei Besar Utara Timur yaitu 0,93 km2. Luas ekosistem karang terbesar berada di Kecamatan Kei Kecil Barat yaitu 109,53 km2, sedangkan terendah di Kecamatan Kei Besar yaitu 3, 93 km2. Dapat disimpulkan bahwa pada perairan di Kecamatan Kei Kecil Barat sngat potensial dan kaya sehingga perlu dilakukan konservasi agar eksosistem tetap terjaga dan berkelanjutan. Data Luas Eksosistem Mangrove, Lamun dan Karang secara terinci dapat dilihat pada table di bawah ini.

(18)

Tabel 5. Luas Ekosistem Mangrove, Lamun dan Karang Menurut Kecamatan

Kecamatan Luas Ekosistem (km2)

Mangrove Lamun Karang

Kei Kecil 5,16 12,97 88,46

Kei Kecil Barat 13,54 21,38 109,53

Kei Kecil Timur 0,66 1,83 33,78

Kei Besar 0,30 4,13 3,93

Kei Besar Utara

Timur 0,71 0,93 10,33

Kei Besar Selatan 0,20 4,40 21,25

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan, 2010

Ekosistem mangrove bagi masyarakat kawasan memiliki arti penting terutama pada saat musim gelombang dimana nelayan takut untuk melaut, maka kawasan ini dijadikan sebagai tempat untuk mencari kerang-kerangan, ikan kecil, udang atau kepiting untuk pemenuhan konsumsi protein mereka.

Tabel 6. Jumlah Pulau, Luas Daratan, Panjang Garis Pantai dan Luas Perairan

Kecamatan Jumlah

Pulau Luas Daratan

(km2)

Panjang Garis Pantai

(km2)

Luas Perairan

(km2)

Kei Kecil 31 268,70 224, 61 548,50

Kei Kecil Barat 16 93,84 93,84 2.084,92

Kei Kecil Timur 2 105,15 32,63 335,81

Kei Besar 6 291,90 133,17 2.031,78

Kei Besar Utara

Timur 5 112,58 41,68 1.309,36

Kei Besar Selatan 8 144,79 88,04 1.359,20

(19)

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan, 2010

Kondisi Terumbu Karang di Perairan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Kabupaten Mauluku Tenggara dapat dilihat pada table dibawah ini.

Tabel 7. Kondisi Terumbu di Perairan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Kabupaten Maluku Tenggara

Kecamatan Luas TK (Km2)

Lokasi Jumlah Species

Tutupan (%) Kondisi Terumbu Karang

Batu Abiotik

Kei Kecil 88,46 Ngaf 43 30,90 47,52 Rusak

Tg.Ngadiun 76 75,94 15,04 Sangat Baik

Ohoiwa 87 90,56 8,26 Sangat

Baik Ngur Bloat 41 22,72 69,42 Sangat

Rusak Pulau Nai 74 66,96 27,64 Baik

KK 117 57,42 33,58 Baik

Kei Kecil Timur

75,46 Matur 65 51,24 22,16 Baik

Raat 48 15,74 55,64 Sangat

Rusak

Danar 59 33,56 56,98 Rusak

KKT 70 33,51 44,92 Rusak

Kei Kecil Barat

109,52 Ohoidertutu 79 30,24 49,20 Rusak

Ohoira 63 60,40 26,70 Baik

KKB 86 45,30 37,95 Rusak

Kei Besar

Selatan 21,25 Hako 84 55,28 38,98 Baik

(20)

Kecamatan Luas TK (Km2)

Lokasi Jumlah Species

Tutupan (%) Kondisi Terumbu Karang

Batu Abiotik

Kilwat 71 48,72 47,82 Rusak

Ngafan 67 32,08 64,36 Rusak

KBS 91 45,40 50,39 Rusak

Kei Besar 35,93 Ohoirenan 56 51,84 43,98 Baik

Ad 39 17,78 27,32 Sangat

Rusak P. Kelapa 71 77,96 21,48 Sangat

Baik

Yamtel 48 46,86 48,54 Rusak

Ohoiwait 62 58,04 33,78 Baik

KB 93 50,50 35,36 Baik

Kei Besar Utara Timur

10,33 Ohoifau 56 35,96 62,10 Rusak

Holat 73 60,96 20,78 Baik

KBUT 78 48,46 41,44 Rusak

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan, 2010

Dari 26 lokasi yang diamati terdapat kondisi terumbu karang yang rusak di 13 lokasi. Kondisi sangat rusak di 3 lokasi yaitu Ngur Bloat, Ad dan Raat.

Kondisi Baik di 6 lokasi dan Kondisi sangat baik di 3 lokasi yaitu P. Kelapa, Tg.Ngadiun dan Ohoiwa.

2.2.4. Potensi Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil 2.2.4.1. Pulau Ngaf

a. Letak dan Dimensi Pulau

Secara geografi Pulau Ngaf terletak antara 05º37'32" LS dan 134º35'15" BT, dengan Luas Pulau Ngaf yakni 0,82 km2 serta panjang garis pantai sebesar 5,11 km. Secara administratif Pulau Ngaf termasuk dalam wilayah

(21)

Kecamatan Kei Kecil. Berdasarkan dokumen inisiatif pengusulan kawasan konservasi perairan Kabupaten Maluku Tenggara, maka P. Ngaf merupakan salah satu pulau kecil di bagian Utara kawasan yang ditetapkan sebagai batas kawasan konservasi. Pulau Ngaf adalah pulau yang tidak berpenghuni, terlihat dari aktivitas masyarakat di sekitar yang memanfaatkan sumberdaya di pulau yakni berupa kegiatan budidaya rumput laut, maupun aktivitas penangkapan berupa, pancing, jarring maupun bameti di pesisir pantai pulau ini.

b. Aksesibilitas

Pulau Ngaf dapat dicapai melalui perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dari Ibukota Kabupaten menuju Desa Ohoililir selama kurang lebih 20-30 menit perjalanan, selanjutnya akan menggantikan alat transportasi darat dengan transportasi laut berupa ketinting atau perahu menuju ke Pulau Ngaf dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Kebanyakan masyarakat yang mengakses Pulau Ngaf adalah masyarakat sekitar desa Ohoililir untuk kepentingan kegiatan budidaya rumput laut,memancing dan bameti mencari kerang-kerangan, udang atau kepiting yang ada di perairan pantai P. Ngaf. Sedangkan sebagian kecil masyarakat yang datang dari luar desa, hanya untuk kegiatan wisata berupa menikmati jasa lingkungan.

c. Lingkungan Biofisik c.1. Geomorfologi Pulau

Pulau Ngaf memiliki luasan sebesar 0,822 km2 dengan panjang garis pantai 5,106 km. Pesisir Pulau Ngaf dicirikan oleh pantai berpasir dan pantai berkarang (coral reef coast). Pantai berbatu tersusun oleh batu gamping terumbu yang terdiri atas koral, moluska, ganggang dan briozoa. Umumnya membentuk perbukitan rendah bergelombang medan keras dan berlereng terjal serta selalu mendapat gempuran ombak. Pantai dengan substrat berbatu karang umumnya terdapat pada bagian utara dan selatan pulau sedangkan pantai berpasir umumnya merupakan pasir putih yang mengandung carbonates dan berasal dari terumbu karang (coral reef).

Luasan pantai berpasir di Pulau Ngaf sebesar 0,088 km atau10.70% dari total luasan pulau. Pesisir pantai berpasir terluas terdapat pada bagian barat hingga selatan pulau. Bagian lain dengan luasan yang sempit terdapat pada bagian Timur pulau dan bagian Tenggara pulau. Disepanjang pantai Pulau Ngaf terdapat komunitas mangrove dan area pantai berpasir. Area pantai yang ditumbuhi mangrove terdapat pada bagian teluk dengan luasannya 0,09 km2 atau 10,46% dari total luasan Pulau Ngaf.

c.2. Vegetasi Darat

Sebagian besar daratan P. Ngaf dihiasi dengan vegetasi hutan lahan kering, sedangkan pada zona pantai ditemukanhutan mangrove yang cukup baik perkembangannya. Disamping itu sebagian besar pantai dikelilingi oleh pasir putih yang halus dan putih, sehingga pulau ini dapat dikembangkan bagi kegiatan pariwisata pantai. Jenis-jenis vegetasi pantai yang terdapat di pulau ini antara lain kangkung laut (Ipomea pescapre), Kasuari (Casuarina sp),

(22)

Ketapang (Terminalia catapa), Bintanggor (Canophyllum inophyllum), serta berbagai jenis mangrove ikutan lainnya. Substrat Dasar lahan P.Ngaf terdiri dari tanah berpasir hingga berlumpur. Berkaitan dengan Sebaran vegetasi menurut tanah lahan, maka bagian lahan pesisir didominasi oleh jenis-jenis vegetasi kasuari, ketapang dan pandan, sedangkan bagian tengah didominasi oleh jenis-jenis Semarah dan Madawal (namalokal).

c.3. Hutan Mangrove

Mangrove sebagai salah satu habitat utama di wilayah pesisir merupakan bagian penting yang harus diidentifikasi eksistensinya, karena potensi sumberdaya perikanan dan kelautan yang ada pada hutan mangrove merupakan aset dalam pembangunan perikanan.pada posisi koordinat 05°37'27,65" LS dan132°35'25,63" BT, luas komunitas mangrovenya adalah 0,0287 km2 pada daerah ini dijumpai sepsis mangrove yang tumbuhdan berkembang pada substrat pasir berlumpur maupun lumpur. Jumlah jenis mangrove yang ditemui adalah 10 jenis mangrove dari (delapan) family dan jumlah jenis terbanyak adalah famili Rhizophoraceae yaitu (empat) jenis diikuti family Myrsinaceae (dua) jenis mangrove. Vegetasi pantai yang ada pada lokasi pantai Pulau Ngaf ini diantaranya adalah pandan pantai (Pandanussp) dan tumbuhan merambat.

c.4. Padang Lamun

Panjang paparan lamun di pulau ini cukup panjang hingga mencapai 200 meter dari surut tertinggi. Kondisi substratnya terdiri dari pasir dan patahan karang. Paparan lamun yang ditemukan dengan luasan yang cukup tinggi dikarenakan substrat yang mendukung tetapi juga karena pulau ini merupakan pulau tidak berpenghuni sehingga tekanan akibat aktivitas antropogenik manusia, bisa dikatakan tidak terjadi di pulau ini. Namun demikian, hanya sekitar lima jenis lamun yang ditemukan pada habitat perairan pulau ini yaitu jenis Halodule uninervis, Halophila ovalis, Thalassodendron ciliatum, Cymodocea rotundata dan Thalassia hemprichii.

Jenis Cymodocea rotundata merupakan jenis yang ditemukan dengan jumlah tegakan paling tinggi sementara untuk jenis dengan jumlah tegakan terendah diwakili oleh jenis Halodule uninervis. Sementaramasih senada dengan kondisi jumlah tegakan, kerapatan lamun tertinggi diwakili juga oleh jenis Cymodocea rotundata dengan jumlah kerapatan sebanyak 18,72 tegakan/m2 sedangkan yang terendah ditemukan juga pada jenis Halodule uninervis dengan jumlah kerapatan sebanyak 2,96 tegakan/m2.

Frekuensi kehadiran tertinggi diwakili oleh jenis Cymodocearotun data dengan nilai frekuensi kehadiran sebesar 0,88 diikuti oleh jenisThalassia hemprichii dengan nilai 0,76. Sementara frekuensi kehadiran terendah diwakili oleh jenis Halodule uninervis dengan nilai frekuensi kehadiran sebesar 0,16. Yang menarik dari kondisi lamun di pulau ini adalah persen tutupan lamun tertinggi ditemukan pada jenis Thalassodendron ciliatum dengan nilai persen tutupan sebesar70%. Tipe substrat yang terdiri dari pasir dan patahan karang merupakan tipe substrat yang disenangi oleh jenis lamun ini untuk tumbuh dan berkembang. Penyebarannya yang

(23)

berkelompok dan ditemukan dalam jumlah yang sangat banyak,menyebabkan lamun jenis ini memiliki persen tutupan yang tinggi.

c.5. Terumbu Karang

Melalui hasil analisis data citra satelit dan pengecekan lapangan, diperoleh panjang terumbu karang kawasan konservasi mencapai 235,46 km, dengan luas terumbu karang mencapai 95,22 km2. Secara spasial, ternyata panjang terumbu karang Pulau Ngaf mencapai 7,78 km, dengan luas terumbu sekitar 3,71 km2. Berdasarkan hasil pengamatan, ternyata terumbu karang Pulau Ngaf memiliki 81spesies karang batu yang termasuk dalam 40 genera dan 15 famili. Famili karang Acroporidae dan Faviidae memiliki kekayaan spesies karang tergolong relatif tinggi dibanding 13 Family karang batu lainnya.

Persen tutupan karang batu pada terumbu karang Pulau Ngaf tergolong rendah dan kondisi terumbu karangnya termasuk kategori rusak

(Fair). Konsekuensi dari persen tutupan karang batu yang rendah tersebut berkorelasi dengan nilai persen tutupan komponen abiotik yang tinggi, dimana patahan karang mati(rubbles) memiliki persen tutupan yang besar (23,84%).

Nilai persen tutupan karang batu kategori Non-Acropora di terumbu karang Pulau Ngaf ini relatif lebih tinggi (20,22%) dibanding karang batu kategori Acropora (14,90%). Pada bagian lain, spesies karang batu dengan nilai persen penutupan Termasuk tinggi adalah Acroporanobilis dan Porites cylindrical.

c.6. Ikan Karang

Hasil penelitian dan analisis menunjukan terumbu karang kawasan konservasi memiliki 320 spesies ikan karang, yang termasuk dalam 122 genera dan 41 famili. Rata-rata kekayaan spesies ikan per terumbu karang pulau-pulau dalam kawasan konservasi mencapai 124 spesies. Famili ikan karang dengan jumlah spesies terbanyak adalah Pomacentridae (58 spesies), Labridae (46 spesies), Chaetodontidae (31 spesies), Acanthuridae (22 spesies), Serranidae (18 spesies) dan Scaridae (17 spesies). Ternyata family ikan dengan jumlah spesies terbanyak itu adalah penghuni permanen ekosistem terumbu karang dan sangat terikat dengan terumbu karang sebagai habitat hidup utamanya. Selain itu, sebanyak 31 spesies ikan famili Chaetodontidae sebagai spesies ikan indikator sehat atau tidak sehatnya suatu terumbu karang ditemukan hadir pada areal terumbu karang dalam kawasan konservasi. Rata-rata kekayaan spesies ikan karang kategori spesies ikan indikator mencapai 15 spesies per terumbu karang dari pulau-pulau dalam kawasan konservasi.

Sebanyak 10 spesies ikan karang memiliki sebaran tergolong luas atau ditemukan Menempati semua areal terumbu karang dalam kawasan konservasi,yaitu Zebrasoma scopas, Cheilodipterus quenquelineatus, Balistapus undulatus, Chaetodon baronessa, Chaetodon kleinii, Labroides

(24)

dimidiatus, Lethrinus harak, Lutjanus decussatus, Centropygevrolikii Amblglyphidodoncuracao, Scarusghobban dan Zancluscornutus.

Pada bagian lain,sebanyak 14 spesies ikan karang tergolong menyebar terbatas atau ditemukan hanya pada salah satu areal terumbu karang dalam kawasan konservasi, yaitu Acanthurusnigricans, Apogon hartzfeldii, Atulemate, Psammoperca vaigiensis, Heniochus singularis, Herklotsichthys quadrimaculatus, Amblglyphidodon batunai, Chromis scotochilopterus, Chrysiptera sp., Hemilgyphidodon plagiometopon, Labracinus sp., Hipposcaru slongiceps, Scarushyp selopterus dan Scarus prasiognathus.

Terumbu karang Pulau Ngaf memiliki kekayaan spesies dan variasi taksa ikan karang tergolong moderat, yaitu 123 spesies yang termasuk dalam 64 genera dan 24 famili. Kekayaan spesies ikan karang tersebut tergolong moderat dan relative sama dengan nilai rata-rata kekayaan spesies ikan per terumbu karang (124 spesies) dalam kawasan konservasi,walaupun kondisi terumbu karangnya telah termasuk kategori rusak. Terumbu karang ini memiliki variasi spesies ikan indicator tergolong relative rendah (12 spesies) karena berada dibawah nilai rata-rata kekayaan spesies ikan kategori spesies indicator (15 spesies) per terumbu karang. Kepadatan (ind/m2) dan potensi ikan karang (ind/ha) tergolong rendah disbanding terumbu karang lainnya di dalam kawasan konservasi, sekaligus memperjelas telah rusaknya ekosistem terumbu karang sebagai habitat hidup ikan karang tersebut.

Spesies ikan karang yang memberi kontribusi cukup besar terhadap kepadatan individu dan potensi ikan karang di areal terumbu karang Pulau Ngaf adalah Amblglyphidodon curacao, Melichthys vidua, Amblglyphidodon leucogaster dan Cheilodipterus quenquelineatus. Berdasarkan hasil analisis, ternyata nilai sediaan Cadang ikan karang di areal terumbu karang Pulau Ngaf tergolong rendah dalam kawasan konservasi ini.Fakta hasil analisis tersebut disebabkan oleh dua hal utama, yaitu areal terumbu karangnya tergolong tidak panjang dengan kondisi terumbu kategori rusak. Spesies ikan karang yang memiliki sediaan cadang tinggi pada areal terumbu karang ini adalah Amblglyphidodon curacao, Melichthysvidua dan Amblglyphidodon leucogaster.

2.2.4.2. Pulau Vatkaat a. Letak dan Dimensi Pulau

Secara geografi Pulau Vatkaat terletak antara 05º42'37" LS dan 132º34'16"

BT, dengan luas pulau adalah sebesar 0,0001 km2 dan panjang garis pantai sejauh 6,95 km. Secara administratif Pulau Vatkaat termasuk dalam wilayah Kecamatan Kei Kecil. Pulau ini merupakan pulau kecil yang tidak berpenghuni. Namun demikian, perairan Pulau Vatkaat sering diakses oleh masyarakat untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan.

b. Aksesibilitas

Pulau Vatkaat dapat dicapai melalui perjalanan darat dengan menggunakan Kendaraan roda dua atau roda empat dari Ibukota Kabupaten menuju Desa

(25)

Namar dusun Selayar selama kurang lebih 20-30 menit perjalanan, selanjutnya akan menggantikan alat transportasi darat dengan transportasi laut berupa ketinting atau perahu menuju ke Pulau Vatkaat dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit.

Kebanyakan masyarakat yang mengakses Pulau Vatkaat adalah masyarakat desa Debut dan Dian Pulau dan juga oleh sebagian masyarakat dari desa- desa di kawasan konservasi perairan Kabupaten Maluku Tenggara untuk kepentingan kegiatan budidaya rumput laut, penangkapan (pancing, jaring, bubu, sero dan bameti) mencari kerang-kerangan, udang atau kepiting di perairan pantai P. Vatkaat.

c. Lingkungan biofisik c.1. Geomorfologi Pulau

Pulau Vatkaat merupakan pulau karang dengan substrat pantai berbatu karang. Pantai berbatu tersusun oleh batu gamping terumbu, membentuk perbukitan rendah bergelombang, medan keras, dan berlereng terjal serta selalu mendapat gempuran ombak dengan lereng terjal. Luas Pulau Vatkaat 0,0001 km2 dengan panjang garis pantai 0,03885 km.

c.2. Vegetasi Darat

Vegetasi terestrial di lingkungan ekosistem P. Vatkaat ditunjukkan dengan adanya kawasan hutan alam yang memiliki tingkat heterogenitas tumbuhan dan satwa. Jenis-jenis tumbuhan yang teridentifikasi mendominasi daratan P. Vatkaat yakni vegetasi semak belukan (0,06 km2), hutan lahan kering (1,1 km2) dan sisanya pasir putih sebesar 0,02 km.

Substrat dasar lahan P. Vatkaat terdiri dari tanah berpasir hingga berlumpur. Berkaitan dengan sebaran vegetasi menurut tanah lahan, maka bagian lahan pesisir didominasi oleh jenis-jenis vegetasi kasuari, dan pandan. Jenis vegetasi lainnya adalah Kayu Mata Ikan,Kayu Sesel Pantai, Kayu Kakoya dan terbesar adalah Kayu Kasuari. Data vegetasi teresterial memberikan indikasi bahwa bila ada gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem teresterial, dibutuhkan waktu yang relative lama untuk pemulihan. Untuk kategori pohon,pemulihan jenis kayu besi akan berlangsung lama karena jumlahnya lebih sedikit dan memiliki pertumbuhan yang lama.Selain itu jenis-jenis vegetasi yang dominan itu,dijumpai beberapa jenis tumbuhan khas pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya diantaranya pohon kayu besi, pohon kayu nani dan lain-lain.

c.3. Terumbu Karang

Terumbu karang Pulau Vatkaat memiliki kekayaan spesies karang batu tergolong rendah, yaitu hanya108 spesies,serta termasuk dalam 44 genera dan 16 famili. Famili karang Acroporidae dan Faviidae memiliki kekayaan spesies karang tergolong tinggi dibanding14 famili karang lainnya. Persen tutupan karang batu di terumbu karang Pulau Vatkaat mencapai 67,28%

dan kondisi terumbu karangnya termasuk kategori Baik (Good), dengan nilai persen tutupan komponen abiotik sebesar 23,64%. Persen Tutupan karang batu kategori Non-Acropora lebih tinggi (46,04%) dibanding karang batu

(26)

kategori Acropora (21,24%). Spesies karang batu dengan nilai persen penutupan tinggi di terumbu karang Pulau Nai ini adalah Porites lutea, Porites cylindrica, Acroporapalifera dan Acroporanobilis.

c.4. Ikan Karang

Kekayaan spesies dan variasi taksa ikan karang di terumbu karang P.

Vatkaat Tergolong tinggi, yaitu sebanyak 160 spesies yang termasuk dalam 84 genera dan 30 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini berada diatas nilai kekayaan spesies karang per terumbu karang (109 spesies) dari pulau-pulau dalam kawasan konservasi ini.

Selain itu, kekayaan spesies ikan karang kategori spesies ikan indikator juga tergolong tinggi (23 spesies), yang sekaligus mengindikasikan terumbu karang ini termasuk kategori sehat. Hal ini terbukti dengan nilai persen tutupan karang batu yang tinggi pada areal terumbu karang P. Vatkaat dengan kondisi terumbu yang termasuk kategori sangat baik.Kepadatan (ind/m2) dan potensi (ind/ha) ikan karang di terumbu karang ini tergolong tinggi disbanding sebagian terumbu karang lainnya di dalam kawasan konservasi. Hal ini menunjukan bahwa secara fungsional, terumbu karang P. Vatkaat memberi kontribusi besar terhadap kekayaan spesies, kepadatan individu dan besaran potensi ikan karangnya.

Spesies ikan karang yang memberi kontribusi besar terhadap nilai kepadatan dan Potensi ikan karang di P. Vatkaat adalah Rastrelliger kanagurta, Pterocaesiotile dan Caesio caerulaurea yang termasuk kategori ikan ekonomis penting, serta Amblglyphidodon curacao, Amblglyphidodon ternatensis, Chromis ternatensis, Pseudanthi ashuchtii, Chromisatri pectoralis dan Cheilodipteru squenquelineatus yang merupakan jenis-jenis ikan karang kelompok ikan hias. Sesungguhnya ketersediaan cadang ikan karang pada areal terumbu karang P. Vatkaat ini tergolong cukup besar (12.665.800ind.) karena memiliki terumbu karang tergolong panjang. Spesies ikan Karang yang memiliki nilai sediaan cadang yang tinggi pada areal terumbu karang P.

Vatkaat adalah Rastreliger kanagurta dan Pterocaesiotile, dimana kedua spesies ikan karang ini termasuk kelompok ikan ekonomis penting.

2.2.4.3. Pulau Nai

a. Letak dan Dimensi Pulau

Secara geografis Pulau Nai terletak antara 05º42'48" LS dan 134º34'06" BT, dengan Luas Pulau Nai adalah sebesar 1,16 km2 dan panjang garis pantai sejauh 6,95 km. Secara administratif Pulau Nai termasuk dalam wilayah kecamatan Kei Kecil. Pulau yang bentuknya seperti dinosaurus inimerupakan pulau kecil yang dihuni secara musiman oleh masyarakat desa Dian pulau maupun masyarakat Desa Debut yang mengusahakan sumber daya darat maupun laut yang ada di Pulau. Terdapat lokasi pemukiman yang cukup besar di Pulau Nai, kebanyakan masyarakat yang tinggal pada bulan tertentu, mereka akan kembali ke desa-desa mereka, namun ada yang sudah menetap cukup lama di pulau. Mereka yang tinggal umumnya adalah

(27)

nelayan yang mengusahakan budidaya rumput laut, dan petani yang juga berkebun dan membuat kopra (kelapa) untuk selanjutnya dijual ke Ibukota Kabupaten, atau kepada para pedagang pengumpul yang datang langsung ke Pulau Nai untuk membeli hasil produksi mereka. Pulau Nai adalah pulau kecil yang diakses cukup tinggi oleh masyarakat, terlihat dari aktivitas masyarakat di sekitar yang memanfaatkan sumberdaya di pulau.

b. Aksesibilitas

Pulau Nai dapat diakses melalui perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dari Ibukota Kabupaten menuju Desa Namar dusun Selayar selama kurang lebih 20-30 menit perjalanan, selanjutnya akan menggantikan alat transportasi darat dengan transportasi laut berupa ketinting atau perahu menuju ke Pulau Nai dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit. Kebanyakan masyarakat yang mengakses Pulau Nai adalah masyarakat desa Debut dan Dian pulau dan juga oleh sebagian masyarakat dari desa-desa di kawasan konservasi perairan Kabupaten Maluku Tenggara untuk kepentingan kegiatan budidaya rumput laut, penangkapan (pancing, jaring, bubu, Sero dan bameti) mencari kerang- kerangan udang atau kepting yang ada di perairan pantai P. Nai. Sedangkan sebagian masyarakat yang bekerja sebagai petani mengusahakan lahan darat untuk berkebun,membuat kopra, menanam tanaman dan sayur-sayuran untuk dijual ke desa-desa sekitar maupun di Ibukota Kabupaten atau Kota Tual.

c. Lingkungan Biofisik c.1. Geomorfologi Pulau

Pulau Nai memiliki luas 1,16 km2 dengan panjang garis pantai 6,95067 km.

Sebagian besar wilayah perairan pesisir pantai Pulau Nai bersubstrat karang, dangkal dengan kemiringan landai. Umumnya pantai Timur, Utara dan Selatan bersubstrat karang (cadas dan keras) berlereng terjal. Pantai barat didominasi pantai berpasir. Di Pulau Nai terdapat area pantai berpasir.

Luasan tutupan lahan pasir pada wilayah pesisir Pulau Nai sebesar 1,77%

atau 0,02 km2. Substrat pasir di Pulau Nai umumnya merupakan pasir putih yang mengandung carbonates dan berasal dari terumbu karang. Perairan pesisir dibagian selatan pulau cederung lebih dalam bila disbanding dengan bagian lainnya. Terdapat satu alur dengan kedalaman perairan yang lebih dalam dibagian Barat pulau. Bagian Tenggara pulau memiliki substrat dasar karang yang sempit bila dibandingkan dengan wilayah lainnya.

c.2. Vegetasi Darat

Vegetasi terestrial di lingkungan ekosistem P. Nai ditunjukkan dengan adanya kawasan hutan alam yang memiliki tingkat heterogenitas tumbuhan dan satwa. Jenis jenis tumbuhan yang teridentifikasi mendominasi daratan P. Nai yakni vegetasi semak belukar (0,06 km2), hutan lahankering (1,1 km2) dan sisanya pasir putih sebesar 0,02 km.

Substrat dasar lahan P. Nai terdiri dari tanah berpasir hingga berlumpur.

Berkaitan dengan sebaran vegetasi menurut tanah lahan, maka bagian lahan

(28)

pesisir di dominasi oleh jenis-jenis vegetasi kasuari, dan pandan. Jenis vegetasi lainnya adalah Kayu Mata Ikan, Kayu Sesel Pantai, Kayu Kakoya dan terbesar adalah Kayu Kasuari. Datavegetasi teresterial memberikan indikasi bahwa bila ada gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem teresterial, dibutuhkan waktu yang relative lama untuk pemulihan.

Untuk kategori pohon, pemulihan jenis Kayu Besi akan berlangsung lama karena jumlahnya lebih sedikit dan memiliki pertumbuhan yang lama. Selain itu jenis-jenis Vegetasi yang dominan itu, dijumpai beberapa jenis tumbuhan khas pesisir dan pulau pulau kecil lainnya di antaranya pohon kayu besi, pohon kayunani dan lain-lain. Didasarkan pada jumlah pohon vegetasi untuk kategori pohon yang demikian besar, dapat dikatakan komunitas teresterial Pulau Nai memiliki kecenderungan untuk berkembang bila dikelola secara baik.

Kondisi flora yang terdapat di lingkungan ekosistem daratan maupun pesisir di duga mempengaruhi keanekaragaman jenis fauna di kawasan ekosistem tersebut. Lingkungan teresterial P. Nai memiliki beberapa jenis fauna. Jenis fauna dimaksud adalah beberapa jenis fauna liar dari kelompok burung (termasuk burung laut), serta salah satu reptilian yang termasuk kategori dilindungi yaitu biawak endemik Maluku (Varanusindicu) dan penyu hijau.

c.3. Padang Lamun

Di Pulau Nai, terdapat lima jenis lamun pada perairan pulau ini. Jenis-jenis dimaksud yaitu Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, Thalassodendron ciliatum, Halodule uninervis dan Halophila ovalis. Kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Cymodocea rotundata yaitu 25,85 teg/m2 sementara nilai kepadatan terendah ditemukan pada jenis Halodule uninervis yang hanya ditemukan sebanyak 4,25 teg/m2. Pada saat survey dilakukan, kondisi perairan dengan substrat dasar berpasir ini adalah cukup tenang namun diduga kuat sedang terjadi pengayaan nutrien. Hal ini diobservasi melalui kondisi daun-daun lamun, khususnya jenis Cymodocea rotundata dan Thalassia hemprichii yang dipenuhi atau padanya melekat sejumlah nutrien/unsur hara.

Frekuensi kehadiran tertinggi pada jenis Thalassodendron ciliatum dengan nilai 0,98. Namun demikian letak spasial distribusi jenis ini biasanya berada paling depan dari sebaran vertikal padang lamun dari arah laut. Sementara jenis Halodule uninervis merupakan jenis dengan frekuensi kehadiran terendah yaitu 0,14. Untuk persentase tutupan karang, jenis Thalassodendron ciliatum masih merupakan jenis dengan persen tutupan tertinggi pada perairan ini, yang mencapai 73%. Sementara persentase tutupan terendah yaitu pada jenis Thalassia hemprichii dan Halodule uninervis dengan masing-masing memiliki persen tutupan sebesar 45%.

c.4. Terumbu Karang

Panjang terumbu karang Pulau Nai mencapai 13,82 km, dengan luas terumbu sekitar 9,15 km2. Hasil pengamatan menunjukan bahwa terumbu karang Pulau Nai memiliki kekayaan spesies karang batu tergolong rendah, yaitu hanya 108 spesies, serta termasuk dalam 44 genera dan 16 famili.

(29)

Famili karang Acroporidae dan Faviidae memiliki kekayaan spesies karang tergolong tinggi dibanding 14 famili karang lainnya. Persen tutupan karang batu di terumbu karang PulauNai tergolong dan kondisi terumbu karangnya termasuk kategori baik (Good). Nilai persen tutupan komponen abiotik tergolong relative rendah dan didominasi oleh patahan karang mati(rubbles).

Persen tutupan karang batu kategori Non-Acropora di terumbu karang Pulau Nai lebih tinggi (46,04%) dibanding karang batu kategori Acropora (21,24%).

Selain itu, spesies karang batu dengan nilai persen penutupan tinggi adalah Poriteslutea, Porite scylindrica, Acropora palifera dan Acroporanobilis.

c.5. Ikan Karang

Terumbu karang Pulau Nai memiliki variasi taksan ikan karang serta jumlah spesies Ikan karang tergolong relative tinggi, yaitu sebanyak 139 spesies yang termasuk dalam 73 genera dan 28 famili,serta berada diatas kekayaan spesies ikan karang rata-rata per terumbu karang (124 spesies) pulau-pulau di dalam kawasan konservasi.

Kekayaan spesies ikan karang kategori spesies ikan indikator tergolong moderat karena sama dengan nilai rata-rata kekayaan spesies ikan indikator (15 spesies) di dalam kawasan konservasi. Pada bagian lain, kepadatan (ind/m2) dan potensi ikan karang (ind/ha) pada areal terumbu karang Pulau Nai tergolong tinggi. Hal ini berkaitan sangat erat dengan kondisi terumbu karang Pulau Nai yang masih termasuk kategori baik, sehibgga secara fungsional memberi pengaruh positif terhadap tingginya nilai kepadatan serta potensi ikan karang tersebut.

Hasil analisis menunjukan spesies ikan karang memberi kontribusi besar terhadap Nilai kepadatan individu dan potensi ikan karang yang tinggi di terumbu karang Pulau Nai adalah Spratelloides sp., Pterocaesio tile dan Rastrelliger kanagurta merupakan kelompok ikan ekonomis penting, serta Amblglyphidodon curacao dan Cheilodipterus quenquelineatus yang tergolong ikan hias.Nilai sediaan cadang ikan karang tergolong sangat tinggi (31.288.480 ind.) di terumbu karang Pulau Nai, karena terumbu karangnya termasuk panjang. Spesies ikan karang yang memiliki nilai sediaan cadang (standing stock) yang tinggi di terumbu karang Pulau Nai ini adalah Spratelloidessp, Rastrelliger kanagurta dan Pterocaesiotile.

2.2.4.4. Pulau Verkukur a. Letak dan Dimensi Pulau

Secara geografi Pulau Verkukur terletak antara 05º43'35" LS dan 132º33'18"

BT, Dengan luas Pulau Verkukur sebesar0,07km2 dan panjang garis pantai sejauh1,72 km. Secara administrative Pulau Verkukur juga termasuk dalam wilayah kecamatan Kei Kecil. Pulau yang tidak berpenghuni ini juga diakses oleh masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas perikanan mereka.Letak pulau yang agak terlindung karena di depannya berada Pulau Hoat yang bentuknya memang lebih besar, memungkinkan vegetasi

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana halnya wilayah lain dalam lingkup kawasan Asia Tenggara, pemahaman atas laut ini diwujudkan lewat jejak budaya bahari yang di Kepulauan Maluku Tenggara ditampilkan

Wilayah pesisir dan laut yang ada di Kabupaten Maluku Tenggara Barat sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sentra produksi rumput laut, namun karena saat

Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Berau dan Taman Pesisir Teluk Nusalasi- Van Den Bosch di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat..

Peraturan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Nomor 04 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi Dan Tata Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Inspektorat, Dan

KETIGA : Membebankan Biaya Konsultasi dan Koordinasi Hasil Evaluasi Dokumen Teknis Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud dalam

Guru menurut Kecamatan di Kabupaten Maluku Tenggara, 2018 107 Number of Vocational Senior High School, Pupils and Teacher by Subdistrict in Maluku Tenggara Regency, 2018 ....

Sosialisasi Perda Rencana Zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terkait kawasan konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil APBN APBD 300.000 DKP Prov,

bahwa berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Barat Nomor 02 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Nomor 03 Tahun 2008