• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberian Air Berdasarkan Fase Pertumbuhan Tanaman terhadap Hasil dan Brix Batang Sorgum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pemberian Air Berdasarkan Fase Pertumbuhan Tanaman terhadap Hasil dan Brix Batang Sorgum"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Pemberian Air Berdasarkan Fase Pertumbuhan Tanaman terhadap Hasil dan Brix Batang Sorgum

Suwardi dan Muhammad Aqil Balai Penelitian Tanaman Serealia Jln. Dr. Ratulangi 274 Maros, Sulawesi Selatan

Email: [email protected]

Abstrak

Pertumbuhan tanaman sorgum sangat tergantung dari ketersediaan air yang dapat diserap oleh perakaran tanaman. Tingkat kebutuhan air tanaman sorgum untuk produksi yang optimal berbeda sesuai dengan fase- fase pertumbuhannya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruhi jumlah pemberian air pada berbagai fase pertumbuhan tanaman sorgum terhadap komponen hasil, hasil, volume nira dan kadar gula brix.

Percobaan ini dilaksanakan pada bulan Mei – September 2015 di Kebun Percobaan Bontobili, Gowa, Sulawesi Selatan. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dua faktor dengan 3 (tiga) ulangan. Faktor pertama adalah frekuensi pemberian air pada setiap fase pertumbuhan tanaman (awal, vegetatif, pembungaan, pengkisian bij, dan pemasakan). Faktor kedua adalah jenis varietas yaitu Super 1, Super 2 dan Numbu. Pada setiap fase dilakukan pengamatan karakter tanaman seperti klorofil daun, tinggi tanaman, diameter batang, gula brix, dan hasil biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi frekuensi pemberian air dengan varietas berpengaruh nyata terhadap hasil biji dan kandungnan gula brix batang tanaman sorgum. Perlakuan pemberian air enam kali memberikan hasil 3,51 t/ha, tidak berbeda nyata dengan pemberian delapan kali per musim dengan varietas Numbu dengan hasil 3,77 t/ha. Sementara itu perlakuan pemberian air empat kali per musim dengan varietas Super 2 memberikan nilai kadar gula brix tertinggi yaitu 14,55%.

Kata kunci: pemberian air, fase pertumbuhan, sorgum, hasil, gula brix

Abstract

The growth of Sorghum plant depends on the availability of water that can be absorbed by the roots of plants.

The level of sorghum plant water needs for optimal production differs according to the growth phases. The objective of the study was to determine the effect of the amount of water given to various phases of sorghum plant growth on the components of yield, yield, volume of sap and sugar content of brix. This trial was conducted in May - September 2015 at Bontobili Experimental Farm, Gowa, South Sulawesi. The treatments were arranged in a two-factor randomized completely block design (RCBD) with 3 (three) replications. The first factor was the frequency of giving water at each stage of plant growth (initial, vegetative, flowering, filling, and ripening). The second factor was varieties, namely Super 1, Super 2 and Numbu. In each phase, the character of plants such as leaf chlorophyll, plant height, stem diameter, sugar brix and grain yield were observed. The results showed that the combination of the frequency of giving water with varieties significantly affected the grain yield and the content of sugar brix stem of sorghum plants. Treatment of watering frequency of six times per season (yield =3.51 t/ha) was not significant to eight times per season by using Numbu variety (yield = 3.77 t/ha). Meanwhile the treatment of watering frequency of four times per season on Super 2 variety gave the highest brix sugar content of 14.55%.

Keywords: water supply, growth phase, sorghum, yield, brix sugar.

iklim yang menyebabkan kekeringan perlu diatasi dengan varietas sorgum yang mampu berproduksi tingi pada biomas, biji dan kadar nira, serta volume nira yang optimal. Keunggulan sorgum terletak pada daya adaptasinya yang luas, toleran terhadap kekeringan, produktivitas tinggi, dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit (Andriani dan Isnaini 2013). Tanaman Pendahuluan

Perubahan iklim saat ini menyebabkan tanaman sorgum sering terjadi kelebihan air dan kekurangan air pada fase-fase tertentu, sehinggan menyebabkan produktivitas tanaman menurun baik biomas, biji dan kadar nira serta volume nira tanaman sorgum. Dengan adanya perubahan

(2)

sorgum berpotensi besar untuk dikembangkan di Indonesia terutama lahan kering yang sumber airnya terbatas.

Tanaman sorgum memiliki peluang yang sangat besar sebagai bahan pangan, pakan dan sumber bietanol. Industri bioetanol memerlukan lahan untuk pertanaman sorgum manis yang luas dan harus dilakukan sepanjang tahun dan sebaiknya tidak memanfaatkan lahan-lahan yang merupakan lahan pertanaman pangan seperti jagung, kacang hijau, padi gogo (Samanhudi 2010). Pengembangan tanaman sorgum pada lahan kurang subur/marjinal akibat tergeser dengan tanaman lain seperti padi, jagung dan kacang-kacangan (Kedelai, Kacang hijau). Kendala utama pengembangan pertanian pada kawasan lahan kering yang pada umumnya didominasi oleh tanah ultisol antara lain keterbatasan atau kadar air tanah tersedia rendah.

Pada kondisi keterbatasan air tanaman sorgum dapat mengalami defisit air sehingga sulit memberikan hasil sesuai dengan potensi yang dimilikinya, sehingga berpengaruh secara langsung terhadap berbagai proses fisiologi dalam tanaman, defisit air juga mengurangi daya tanaman dalam menyerap unsur hara (Mapegau 2001). Tanaman sorgum toleran terhadap kekeringan dan genangan air, dapat berproduksi pada lahan marjinal, relatif tahan terhadap hama penyakit, menghasilkan gula terlarut terdapat pada nira batang dan kebutuhan air tanaman sorgum lebih sedikit dibanding tanaman lain seperti 1/3 dari tanaman tebu dan ½ dari tanaman jagung, sehingga lebih efisien penggunaan airnya (Pabendon at al.

2012). Tanaman sorgum manis toleran terhadap kekeringan yang tingkat ketahanan tergantung dari fase pertubuhannya. Dalam mengatasi permasalahan pemanfaatan air khususnya untuk tanaman sorgum perlu adanya cara pemberian yang efisien dan tepat waktu sesuai fase tanaman.

Dengan adanya cara pemberian air yang tepat dan efisien tersebut maka akan memperoleh produksi yang optimal. Ketepatan pengairan sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman sorgum sangat berpengaruh terhadap produksi biji dan gula brix sorgum.

Andriani dan Isnaini (2013) menyatakan bahwa fase-fase pertumbuhan tananam yaitu (1) fase vegetatif pada saat tanaman berumur 1-30 hari yang terdiri dari tahap 0, tanaman berumur 3-10 hari, tahap 1 saat pelepah daun ke-3 mulai terlihat sekitar umur 10 hari, tahap 2 saat daun ke-5 mulai terlihat pada sekitar 20 hst dan tahap ke-3 yaitu tahap deferensial titik tumbuh tanaman berumur sekitar 30 hst, (2) fase generatif yaitu tahap 4 yaitu saat munculnya daun bendera tanaman berumur sekitar 40 hst, tahap 5 yaitu telah menggelembungnya daun bendera tanaman berumur sekitar 50 hst, tahap 6 yaitu tanaman telah berbunga 50% pada saat tanaman bermur sekitar 60 hst, (3) fase pembentukan dan pemasakan biji berlansung 3 tahap yaitu tahap 7 biji masak susu pada saat tanaman berumur sekitar 70 hst, tahap 8 pengerasan biji tanaman berumur sekitar 85 hst, dan tahap 9 biji matang fisiologis pada saat tanaman berumur sekitar 95 hst.

Aqil at al. (2001) melaporkan bahwa periode pertumbuhan tanaman dibagi atas 5 fase yaitu fase pertumbuhan awal (selama 15-25 hari), fase vegetatif (25-40 hari), fase pembungaan (15-20 hari), fase pengisian biji (35-45 hari) dan fase pematangan (10-25 hari). Sorgum setelah ditanam sebaiknya diberikan air sesuai kebutuhannya pada fase-fasenya, yaitu pada saat lengas tanah diantara titik layu permanen dan kapasitas lapang, sehingga hasil optimal.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jumlah pemberian air pada berbagai fase pertumbuhan tanaman sorgum terhadap komponen hasil, hasil biji, volume nira dan kadar gula brix.

Bahan dan Metode

Percobaan ini dilaksanakan pada bulan Mei–September 2015 di KP. Bontobili Kabupaten Gowa. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dua faktor dengan 3 (tiga) ulangan. Faktor pertama adalah perlakuan pengairan berdasarkan fase pertumbuhan tanaman. Perlakuan ini menggunakan tiga taraf yaitu P1 (delapan kali pemberian air), P2 (enam kali pemberian air) dan P3 (empat kali pemberian

(3)

air). Faktor kedua jenis varietas yaitu A= varietas Super 1, B= varietas Super 2, dan C= varietas Numbu.

Frekuensi pemberian air pada setiap fase dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perlakuan frekuensi pemberian air berdasarkan fase pertumbuhan tanaman No Fase pertumbuhan Frekuensi pemberian air (kali)

P1 P2 P3

1 2 3 4 5

Pertumbuhan awal Vegetatif

Generatif Pengisian biji Pemasakan

1 1 2 2 1

1 1 1 2 1

1 1 1 1

Total 8 6 4

Hal ini mengindikasikan bahwa ketiga varietas tersebut masih memiliki kecukupan air untuk mendukung pertumbuhannya. Aqil dan Zainuddin (2013) menyatakan bahwa kekurangan air pada fase vegetatif akhir tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dibandingkan fase generatif.

Varietas Super 1 pada 75 hst mengalami penurunan tinggi tanaman seiring berkurangnya jumlah pemberian air. Hal sebaliknya pada varietas Super 2 dimana semakin berkurang frekuensi pemberian airnya namun pertambahan tinggi tanaman terus berlangsung (Tabel 2). Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh sifat genetik setiap varietas yang berbeda-beda walaupun ditanam pada lingkungan yang sama. Pabendon (2013) melaporkan bahwa varietas Super 2 mempunyai karakter fenotifik yang khas dimana tanaman bertambah tinggi hingga 230 cm, lebih tinggi dibandingkan varietas lain yang tingginya umumnya dibawah 180 cm. Tesso (2011) menyatakan bahwa tanaman yang tinggi memiliki jumlah daun lebih banyak dan luas area daun yang lebih besar untuk mendukung produksi yang optimal. Azrai dan Sunarti (2013) juga melaporkan pengaruh genetic lebih dominan dalam mementukan karakter tinggi tanaman sorgum.

Nilai klorofil daun dari berbagai jumlah pemberian air pada 30 dan 75 hst berbeda nyata (Tabel 2). Hal ini menujukkan bahwa dari berbagai varietas memiliki pengaruh terhadap jumlah pemberian air terhadap nilai klorofilnya.

Benih Sorgum varietas Super 1. Super 2 dan Numbu ditanam dengan jarak tanam 75 x 25 cm (3 biji per lubang). Ukuran petak 9 m x 4 m (4 baris/

varietas x 3 total per petak 12 baris. Tiap baris 16 tanaman) dan jumlah 12 petak dengan jarak antar petak 1 meter. pada umur 14 hst dijarangkan menjadi 1 tanaman. Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pemupukkan pertama dilakukan pada 10 hst takaran pupuk 150 kg/ha urea. 100 kg/ha P.

100 kg KCl/ha dan pemupukan kedua dilakukan pada 30 hst dengan pemberian 150 kg/ha urea.

Penyiangan/pembumbunan dilakukan 2 (dua) kali pada umur 10 hst dan 35 hst.

Pemanenan batang sorgum dan biji sorgum dilakukan setelah masak fisiologis yaitu ditandai biji telah mengeras dengan memotong malai untuk panen biji. Pemanenan brangkasan (batang) dilakukan setelah pemanenan malai dengan cara pemotongan batang ruas pertama diatas permukaan tanah. Pengambilan sampel 10 tanaman setiap petak perlakuan. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, klorofil daun, diameter batang, lebar malai, Panjang malai, produksi biji, kadar air, bobot 1000 biji, volume nira 1 kg batang serta kadar gula brix.

Hasil dan Pembahasan

Hasil uji Anova menunjukkan bahwa frekuensi pemberian air tidak memperlihatkan adanya perbedaan tinggi tanaman pada pengamatan 30 hst. Namun demikian seiring pertambahan umur tanaman, perlakuan memperlihatkan hasil yang berbeda nyata pada umur 75 hst.

(4)

Nilai klorofil daun berdasarkan pengukuran SPAD rata-rata > 40, mengindikasikan bahwa walaupun kondisi lahan kering dan pemberian air terbatas namun system transortasi makanan tetap berjalan dengan baik (Xu et al. 2000; Awala and Wilson

2005). Namun demikian, kandungan klorofil daun akan menurun seiring penuaan tanaman.

Haboudane et al. (2002) menyarankan bahwa tingkat klorofil daun dapat dijadikan indicator untuk menentukan waktu panen sorgum manis.

Tabel 2. Tinggi tanaman. nilai klorofil daun. diamater batang dan jumlah daun dengan jumlah frekuensi pemberian air pada berbagai fase pertumbuhan tanaman.

Perlakuan Tinggi tanaman 30 hst

(cm)

Nilai klorofil daun 30 hst

(unit)

Tinggi tanaman 75 hst

(cm)

Nilai klorofil daun 75 hst

(unit)

Jumlah daun 75 hst

P1A 18,94a 42,82a 194,06ab 50,69a 9,83a

P1B 15,83a 40,14b 160,33b 49,15ab 9,27ab

P1C 19,78a 42,68a 162,44b 49,21ab 9,11ab

P2A 20,50a 42,87a 188,16ab 43,46c 9,11ab

P2B 17,06a 40,04b 213,45ab 45,81bc 8,38b

P2C 24,17a 41,62ab 161,56b 50,21ab 9,33ab

P3A 21,11a 43,32a 183,22ab 46,17bc 9,66ab

P3B 19,00a 39,81ab 247,39a 44,34c 8,44b

P3C 21,17a 41,64ab 159,61b 46,15bc 9,22ab

Keterangan: P1A = pemberian air 8 kali varietas Super 1, P1B = pemberian air 8 kali varietas Super 2, P1C = pemberian air 8 kali varietas Numbu, P2A = pemberian air 6 kali varietas Super 1, P2B = pemberian air 6 kali varietas Super 2, P2C

= pemberian air 6 kali varietas Numbu P3A = pemberian air 4 kali varietas Super 1, P3B = pemberian air 4 kali varietas Super 2, P3C = pemberian air 4 kali varietas Numbu

Hasil analisis hasil biji, karakter malai dan diameter batang menunjukkan hasil yang berbeda nyata anta perlakuan (Tabel 2 dan Gambar 1). Hal ini menunjukkan bahwa total dan fase pemberian air berpengaruh terhadap parameter tersebut.

Produksi tertinggi varietas Super 1 (1,86 t/ha) pada perlakuan P3 (pemberian air 6 kali) lebih tinggi dibanding perklakuan P1 dan P2, varietas Super 1 dengan pemberian air yang sedikit (4 kali) mampu produksi lebih tinggi hal ini menunjukkan varietas tersebut dengan pemberian air yang tinggi kurang berpengaruh terhadap hasil biji.

Varietas Super 2 nilai produksi tertinggi (1,84 t/ha) dengan pemberian air 4 kali lebih tinggi dibanding perlakuan air, hal ini menunjukkan bahwa varietas Super 2 juga kurang berpengaruh yang siknifikan terhadap pemberian air tinggi.

Varietas Numbu (3,77 t/ha) dengan perlakuan P1 (total pemberian air 8 kali) dibanding perlakuan (P2 dan P3), hal ini menunjukkan bahwa varietas Numbu dengan pemberian air tersebut akan memberikan hasil yang optimal/

tinggi. Pada Varietas numbu, pengurangan frekuensi pemberian air signifikan menurunkan produksi biji. FAO (2001) menyatakan bahwa defisit air pada fase vegetatif akhir dan fase pemasakan relatif tidak mempengaruhi hasil panen. Penurunan hasil terbesar terjadi apabila kekurangan air terjadi pada fase pembungaan dan pengisian biji yang dapat menurunkan hasil panen sampai 50%. Hal ini disebabkan karena penyerbukan tidak terjadi dan mengeringnya sebagian besar malai.

(5)

Tabel 3. Produksi biji. panjang dan lebar malai serta diameter batang pada berbagai frekuensi pemberian air pada berbagai fase pertumbuhan tanaman.

Perlakuan Produksi biji (t/

ha) Panjang malai

(cm) Lebar malai

(cm)

Diameter batang (cm)

P1A 1,73c 22,08a 4,83ab 9,83a

P1B 1,53c 19,80abc 5,16ab 9,27ab

P1C 3,77a 16,16de 6,16a 9,11ab

P2A 1,55c 18,91bcd 5,83a 9,11ab

P2B 1,52c 20,36ab 4,00b 8,38b

P2C 3,51a 17,00cde 5,00ab 9,33ab

P3A 1,86c 20,79ab 5,00ab 9,66ab

P3B 1,84c 18,21bcd 4,66ab 8,44b

P3C 2,68b 14,83e 5,83a 9,22ab

berbagai varietas dan jumlah pemberian air tidak berbeda nyata, namun jumlah daun berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa dari berbagai jumlah pemberian air pada berbagai varietas kemampuan tanaman terhadap pembentukan diameter batang memiliki kemampuan yang sama, meskipun ketersediaan air dalam tanah berbeda.

Analisis panjang dan lebar malai menunjukkan bahwa dari berbagai varietas dan total pemberian air berbeda nyata. Nilai tertinggi diperoleh pada varietas Super 1 (22,08 cm) dengan frekuensi pemberian air 8 kali, sedangkan terendah pada varietas Numbu (14,83 cm) pada P3 (pemberian air 4 kali). Lebar malai tertinggi varietas Numbu (6,16 cm) pada pemberian air 8 kali dan terendah varietas Super 2 (4,00 cm). Diameter batang dari

Gambar 1. Pengaruh frekuensi pemberian air terhadap hasil tiga varietas sorgum manis.

Kadar air panen nilai tertinggi varietas Super 2 (11,20%) perlakuan P1 (8 kali pemberian air) dan terenda varietas Numbu (8,53%). Bobot 1000 biji nilai tertinggi varietas Numbu (38,30 g) pada perlakuan P1 (pemberian air 8 kali)

dan nilai terendah varietas Super 2 ( 25,53 g) pada perlakuan P2 (pemberian air 6 kali). Pada berbagai perlakuan pemberian air kadar air dan bobot 1000 biji sangat bervariasi antar varietas.

(6)

Tabel 4. Kadar air, bobot 1000 biji. volume nira. kadar gula brix pada berbagai perlakuan pemberian air

Perlakuan Kadar Air (%)

Bobot 1000 biji (g)

Volume Nira 1 kg

Batang Kadar Gula Brix (%)

P1A 8,53c 29,00cd 310,00a 11,47ab

P1B 9,90abc 24,93d 170,00bcd 12,17ab

P1C 11,20a 38,30a 230,00abc 10,44b

P2A 8,70c 26,16d 226,67abc 11,17ab

P2B 9,90ab 25,53d 103,33d 13,04ab

P2C 10,33ab 32,83bc 260,00ab 11,19ab

P3A 9,16bc 29,556cd 300,00a 13,71ab

P3B 9,43bc 26,83d 118,33cd 14,55a

P3C 10,56ab 35,96ab 266,67ab 10,44b

brix batang. Perlakuan pemberian air sebanyak empat kali per musim dengan varietas Super 2 memberikan nilai kadar gula brix tertinggi yaitu 14,55%. Penambahan frekuensi pemberian air tidak menaikkan gula brix batang sorgum manis.

Diperlukan analisis lanjutan pengaruh waktu panen (pagi/sore) serta musim (hujan/kemarau) terhadap dinamika gula brix batang.

Daftar Pustaka

Almodares, R. Taheri, and S. Adeli. 2008. Stalk yield and carbohydrate composition of sweet sorghum (Sorghum bicolor L. Maoench) cultivars and lines at different growth stages.

Journal of Malesian Applied Biology, vol. 37, pp. 31–36, 2008.

Andriani A. dan M. Isnaini. 2013. Morfologi dan fase pertumbuhan sorgum. Bunga Rampai. Sorgum Inovasi Teknologi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. 47-68.

Aqil M, dan B. Zainuddin. 2013. Pengelolaan air tanaman sorgum. Bunga Rampai Sorgum:

Inovasi Teknologi dan Pengembangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan,Bogor

Aqil M, A. Prabowo, U. F. Imam, Riyadi dan Suwardi. 2001. Rekayasa irigasi sederhana berbahan lokal untuk tanaman pangan dan hortikulutura. Prosiding Seminar Regional.

Volume nira dalam 1 (satu) kilo gram nilai tertinggi varietas Super 1 (310 ml) pada perlakuan P1 (pemberian air 8 kali) dan terendah varietas Super 2 (103,33 ml) pada perlakuan P2 (pemberian air 6 kali). Kadar gula brix tertinggi varietas Super 2 (14,55) pada perlakuan P3 (pemberian air 4 kali), Hal ini menunjukkan bahwa varietas Super 2 dengan pemberian air 4 kali menghasilkan kadar gula brix lebih tinggi dibanding varietas Super 1 dan Numbu. Oiyer et al.

(2017) dan Almodares et al. (2008) menyatakan bahwa waktu panen dan genotype merupakan dua faktor utama yang mempengaruhi volume nira. Lebih lanjut, volume nira dan kandungan gula brix berpengaruh terhadap produksi etanol.

Puncak volume nira tertinggi terjadi antara 20-25 hari setelah pembungaan.

Kesimpulan

Tingkat kebutuhan air tanaman sorgum berbeda berdasarkan fase pertumbuhan tanaman dan jenis varietas. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi frekuensi pemberian air dengan varietas berpengaruh nyata terhadap hasil biji.

Varietas Numbu dengan perlakuan pemberian air sebanyak enam dan delapan kali secara statistic tidak berbeda nyata dengan hasil biji masing -masing 3,51 t/ha dan 3,77 t/ha. Oleh karena itu direkomendasikan untuk pemberian air optimal enam kali dengan varietas Numbu untuk produksi biji. Sementara itu, frekuensi pemberian air tidak berkorelasi linier dengan tingkat kemanisas/

(7)

Pengembangan Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi di Sulawesi Tengah. Palu. Hal. 164.

Awala, S.K. and J.P. Wilson. 2005. Expression and segregation of Stay-Green in pearl millet. Int.

Sorghum and Millets Newsl., 46: 97-100.

Azrai, M. dan S. Sunarti. 2013. Pembentukan varietas unggul baru sorgum. Bunga Rampai Sorgum: Inovasi Teknologi dan Pengembangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan,Bogor FAO. 2001. Crop Water Management-Maize. Land

and Water Development Division (www.fao.

org). p. 3-8.

Haboudane, D., J. R. Miller, N. Tremblay, P. J. Zarco- Tejada, and L. Dextraze. 2002. “Integrated narrow-band vegetation indices for prediction of crop chlorophyll content for application to precision agriculture,” Remote Sensing of Environment, vol. 81, no. 2-3, pp. 416–426, 2002.

Mapegau. 2001. Pengaruh pupuk kalium dan kadar air tanah tersedia terhadap serapan hara tanaman jagung kultivar Arjuna. Jumal Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 3, No. 2, 2001. 107-110.

Moses Owuor Oyier,1 James O. Owuoche. 2017.

Effect of harvesting stage on sweet sorghum (Sorghum bicolor L.) genotypes in Western Kenya. Hindawi Scientific World Journal Volume 2017.

Pabendon M. B, S. Mas’ud, Rosalla S., S. Sarungallo dan Amin Nur. 2012. Penampilan fenotipik dan stabilitas sorgum manis untuk bahan baku bioetanol. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. Vol 31 No. 1.

Pabendon, MB, Santoso SN dam Subekti NA, 2013. Prospek sorgum manis sebagai bahan baku bioetanol. Bunga Rampai Sorgum:

Inovasi Teknologi dan Pengembangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan,Bogor

Samanhudi. 2010. Pengujian cepat ketahanan tanaman sorgum manis terhadap cekaman kekeringan. Agrosains 12; 9-13.

Tesso, T.A, Tirfessaand H. Mohammed. 2011.

Association between morphological traits and yield components in the Durra sorghums in Ethiophia. Hereditas 148:98-109.

Xu, W., D.T. Rosenow and H.T. Nguyen. 2000. Stay green trait in grain sorghum: Relationship between visual rating and leaf chlorophyll concentration. Plant Breed., 119: 365-367.

Gambar

Tabel 1. Perlakuan frekuensi pemberian air berdasarkan fase pertumbuhan tanaman No Fase pertumbuhan Frekuensi pemberian air (kali)
Tabel 2. Tinggi tanaman. nilai klorofil daun. diamater batang dan jumlah daun dengan jumlah  frekuensi pemberian air pada berbagai fase pertumbuhan tanaman.
Gambar 1. Pengaruh frekuensi pemberian air terhadap hasil tiga varietas sorgum manis.
Tabel 4. Kadar air, bobot 1000 biji. volume nira. kadar gula brix pada berbagai perlakuan  pemberian air

Referensi

Dokumen terkait

menyelesaikan persoalan hidupnya dengan lebih maslahat. Partai Kebangkitan Bangsa berketetapan bahwa kekuasaan yang hakekatnya adalah amanat itu haruslah dapat

Hasil refleksi yang dilakukan dari hasil pada siklus pertama didapatkan beberapa hal yang perlu diperbaiki pada tahap berikutnya yaitu guru berusaha agar penjelasan yang

Hasil penelitian menunjukkan penerapan model pembelajaran scramble dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa, di mana pada siklus I ketuntasan siswa masih rendah

Secara keseluruhan proses pelaksanaan belajar mengajar pada aktivitas guru, dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam membuat desain ragam

PENGARUH PERAN TUTOR DAN PELATIHAN KERAJINAN ANYAMAN ECENG GONDOK TERHADAP PENGEMBANGAN BERWIRAUSAHA DI PKBM BINA MANDIRI CIPAGERAN (Study Deskriptif di PKBM Bina Mandiri Cipageran

Didapati bahawa kategori PAB menyumbang kepada peratusan yang agak tinggi berbanding dengan kategori pengundi lain dan antara isu yang mencatatkan peratusan yang

Tujuan dari penelitian ini yaitu menghitung profitabilitas pelanggan atau pasien pada Rumah Sakit Bhayangkara Tk.II dengan menggunakan sistem perhitungan biaya yaitu Activity

Parameter yang diamati meliputi komponen bunga (tipe, warna, bentuk seludang, panjang seludang, dan panjang bunga, dilakukan saat bunga mekar penuh), komponen buah (jumlah,