• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA. 4 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA. 4 Universitas Kristen Petra"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Umum Sofa

Sofa berasal dari istilah sopha, yang berasal dari budaya timur dan memiliki arti sebagai tempat duduk seperti dipan (tempat tidur). Sofa pertama kali digunakan pada tahun 1680. Sedangkan berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, sofa adalah kursi panjang bertangan dan bersandaran, biasanya berlapis karet atau busa yang dibungkus kain, kadang-kadang bisa dipakai sebagai tempat tidur.

Desain sofa berkembang pesat secara evolusioner dari segi model, warna, bentuk mengikuti gaya perkembangan dari arsitek atau desain interior. Pada perkembangannya sofa selain dari model juga dikembangkan ke arah fungsi, sehingga muncul juga sofabed yaitu mebel yang memiliki fungsi selain sebagai tempat duduk juga bisa digunakan sekaligus sebagai tempat tidur.

Kualitas sofa sangatlah beragam, tidak hanya ditentukan dari sisi tampilan luarnya atau bagian upholsterynya saja tetapi juga dari seluruh material penyusunnya mulai dari rangka, busa, pegas, dan juga dakron. Dari keseluruhan aspek itu barulah kita bisa menilai kualitas suatu sofa. Sebagai pabrik sofa kami menyediakan beragam opsi pilihan yang sehingga dari 1 model saja bisa terdiri dari beberapa harga sofa tergantung dari spesifikasi material yang digunakan.

Spesifikasi inilah yang akan mempengaruhi dari harga sofa.

Penampilan sofa yang menarik pantas diletakkan di berbagai ruang karena mempunyai desain yang variatif, bisa difungsikan sebagai formal ataupun non formal. Penggunaan mebel empuk ini selain di rumah juga banyak dimanfaatkan di kantor, ruang tunggu, rumah sakit, restoran dan kafe, hotel dan berbagai keperluan lainnya. Dengan adanya furniture ini maka suasanya yang diciptakan akan menjadi lebih nyaman. (“Pabrik Sofa”,par 1-4)

2.1.1. Jenis – Jenis Sofa

 Sofa Tradisional

Sofa tradisional belum tentu itu berkesan kuno, karena semua tergantung pada penempatan dan tema desainnya. Ciri-ciri sofa tradisional adalah

(2)

mempunyai bahan pelapis yang berwarna cerah atau tegas, terkesan kuat dengan kerangka yang terbuat dari kayu serta busa yang lebih keras.

Umumnya sofa ini digunakan pada ruang tamu yang bernuansa formal. Ada beragam jenis sofa tradisional. Namun, yang dikenal banyak hanya tiga, yakni sofa the cabriole, the lawson, dan the chesterfield. The cabriole memiliki ciri khas berupa bentuk rangka sofa yang berliku dan dibuat dari satu kayu utuh. Jenis sofa seperti the lawson dicirikan dengan pegangan sofa yang lebih rendah dari sandarannya. Sedangkan sofa the chesterfield memiliki sandaran yang berumbai dan dudukan yang lebih sempit dibandingkan dengan sofa jenis lain.

 Sofa Modern (Kontemporer)

Sofa modern banyak perbedaan mendasar dibanding sofa tradisional. Jika sofa tradisional menitik beratkan pada tampilan yang elegan, pada sofa modern titik beratnya adalah kenyamanan penggunanya. Oleh karenanya, pinggiran sofa ini cenderung lebih lembut sehingga sofa ini ideal untuk digunakan pada ruang tamu dengan nuansa santai. Perbedaan mendasar lainnya adalah pada bahannya, tidak seperti sofa tradisional yang banyak menggunakan kerangka dari kayu, pada sofa model ini penggunaan kayu sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.

 Sofa Country

Ide dasarnya, sofa ini ingin memberi nuansa pedesaan di Eropa sana. Sofa country cenderung memiliki desain yang kasual sehingga cocok ditempatkan di ruangan yang bertipe semi santai dan semi formal. Ciri lain dari sofa country adalah lapisan bahan katun atau jenis kain lain yang dapat dicuci. Jadi semisal anak-anak kita bermain dan mengotori sofa ini, jangan ragu untuk mencucinya karena memang bahannya dari kain.

 Sofa Tujuan Spesifik

Dalam era pasar saat ini, tentu saja produksi furnitur dibuat berdasarkan keinginan dari pasar atau konsumen. Dan masing-masing konsumen punya tujuan berbeda-beda dengan pemakaian sofanya. Contohnya ada sofa yang ditujukan untuk dua fungsi, yakni sofa sekaligus tempat tidur. Biasa disebut sofabed atau sleeper sofa, salah satu modelnya seperti gambar di atas.

(3)

(“Macam-Macam Jenis Sofa Ruang Tamu yang Perlu Kamu Ketahui”,par.10-13)

2.1.2. Material Sofa

Menentukan sofa untuk dibeli dan digunakan didalam rumah bukan hanya sekedar melihat faktor harga dan keindahan tampilannya saja. Sebab jenis bahan sofa sangat penting untuk kamu perhatikan sebelum membeli.

Jenis bahan sofa tersebut nantinya akan mempengaruhi kenyamanan dan tingkat keawetan sofa yang telah dibeli. Lalu seperti apa jenis bahan sofa yang bisa kamu pilih?

Berikut beberapa jenis bahan sofa :

 Katun

Jenis bahan katun yang menjadi material yang sering kali digunakan pada kebanyakan furnitur salah satunya adalah sebagai lapisan sofa. Sofa yang memiliki bahan katun memiliki tekstur yang halus dan juga lembut, namun meskipun demikian tetap taham lama dan kuat untuk kamu gunakan.

Kualitas katun dipengaruhi juga dari kerapatan jalinan benangnya, semakin rapat maka semakin baik juga kualitas katun tersebut. Kelemahan bahan katun, adakah? Tentu saja ada, jenis bahan sofa yang terbuat dari katun tidak mampu tahan terhadap kusut, api, dan juga tanah. Dikarenakan hal itulah bahan katun pada sofa sering kali dikombinasikan dengan bahan yang lainnya agar mampu menutupi kekurangan yang ada.

 Polyester

jenis bahan sofa yang merupakan serat buatan manusia dan tidak tersedia di alam yang bernama polyester. Kelebihan dari jenis bahan ini adalah lebih awet, tidak mudah kusut, dan juga tidak mudah sobek. Jenis bahan polyester juga sering kali dikombinasikan dengan jenis bahan yang lain atau disebut sebagai polyester campuran. Polyester tersebut sering kali dicampur dengan jenis bahan seperti wool dan juga rayon.

 Rayon (Viscose)

Jenis bahan sofa yang berasal dari serat yang dihasilkan dari regenerasi selulosa. Dipilihnya rayon sebagai bahan pelapis sofa dengan tujuan agar

(4)

menyerupai katun, linen, dan juga sutra. Namun, Rayon memiliki harga yang jauh lebih murah dan juga tahan lama dibandingkan dengan jenis bahan tersebut. Kekurangannya adalah jenis bahan sofa yang satu ini mudah mengkerut dan juga mudah terbakar.

 Nilon

Nilon merupakan jenis bahan sofa yang berasal dari serat buatan. Nilon banyak digunakan sebagai bahan pelapis sofa dikarenakan keunggulannya yang elastis, tidak mudah robek, tahan terhadap air, tahan terhadap jamur, ringan, dan mudah untuk dicuci. Meskipun memiliki banyak kelebihan jenis bahan sofa yang terbuat dari Nilon dapat terdegradasi akibat sinar matahari.

 Linen

jenis bahan sofa yang kuat, tidak mudah robek, tidak mudah pudar, dan lembut sebagai bahan pelapis sofa. Linen merupakan serat alami yang lebih sulit untuk menyerap tinta dibandingkan dengan jenis bahan yang lainnya.

Oleh karena inilah, sofa yang berbahan linen seringkali tampil tanpa motif atau polos. Kekurangannya, jenis bahan yang satu ini dapat kotor dan mengkerut.

 Chennile

Dalam bahasa Perancis chennile memiliki arti ulat bulu. Jenis bahan sofa yang satu ini mendapatkan nama demikian dikarenakan terlihat layaknya rajutan dan memiliki tekstur pilinan benang yang cukup tebal.Kelebihan jenis bahan sofa ini adalah bahan yang tidak mudah robek, kuat, dan juga tahan lama. Namun, jenis ini sukar untuk dibersihkan jika terkena noda.Jika kamu menginginkan sofa dengan gaya yang klasik, maka jenis bahan sofa yang terbuat dari Chennile dapat kamu pertimbangkan untuk dimiliki.

 Velvet

Pada awalnya jenis bahan sofa yang satu ini dibuat dari sutera, namun seiring berjalannya waktu velvet dibuat dengan menggunakan bahan sintetis. Hal ini membuat bahan nilon, viscose, dan polyester banyak digunakan. Tampilan yang mewah dapar kamu rasakan saat memilih jenis bahan ini sebagai pelapis sofa. Hal ini dikarenakan velvet memiliki tekstur yang lebih halus dan mengkilap. Meskipun demikian, velvet ternyata lebih

(5)

sulit untuk dibersihkan saat terkena kotoran dan juga memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan jenis bahan yang lain.

 Kain Fabric

Selanjutnya ada kain fabric yang merupakan jenis bahan sofa yang cukup banyak digunakan oleh pabrikan. Jenis bahan ini memiliki ciri berupa pori- pori yang cukup besar yang akhirnya kemungkinan untuk dimasuki debu dan hewan kecil dapat terjadi. Oleh karena itu, jenis bahan ini sangat tidak cocok kamu gunakan jika memiliki masalah berupa gangguan pernafasan akibat paparan debu. Namun, jika kamu masih tetap ingin menggunakan jenis bahan ini, kami menyarankan untuk membersihkan sofa secara rutin minimal satu minggu sekali menggunakan vacuum cleaner atau penyedot debu. Kelebihan yang dimiliki oleh jenis bahan ini adalah lebih dingin dan sangat nyaman untuk kamu gunakan dalam waktu yang lama. Hal ini dikarenakan jenis bahan yang memiliki pori-pori yang lebih besar dari biasanya. Saat akan menjemur sofa yang berbahan kain fabric usahakan tidak langsung menjemurnya di bawah sinar matahari langsung. Sebab hal ini akan menjadikan sofa yang ada lebih mudah memudar warnanya.

 Oscar/ Semi Kulit

Jenis bahan sofa yang terakhir adalah Oscar yang memiliki karakteristik mirip dengan kulit. Kelebihan dari jenis bahan yang satu ini adalah lebih mudah untuk dibersihkan jika terkena tumpahan kotoran. Cukup menggunakan lap basah, setiap noda seperti tumpahan minuman dan debu dapat kamu hilangkan dengan mudah. Dengan kelebihannya inilah Oscar bisa kamu jadikan pilihan jika memiliki anak-anak yang masih kecil dan sangat aktif bermain. Sehingga saat mereka bermain di dekat sofa dan tidak sengaja menumpahkan kotoran dapat dibersihkan dengan mudah. Namun disamping kelebihan yang dimilikinya, jenis bahan yang satu ini tidak terlalu nyaman untuk digunakan untuk duduk dalam waktu yang relatif lama. Sebab Oscar tidak memiliki pori-pori, sehingga akan terasa panas jika digunakan dalam waktu yang lama. (“10 Jenis Bahan Sofa Terpopuler”par.

3-12)

(6)

2.2 Tinjauan Umum Kafe 2.2.1 Definisi Kafe

Kafe atau Coffee Shop (kedai kopi) adalah suatu tempat (kedai) yang menyajikan olahan kopi espreso dan kudapan kecil. Seiring perkembangan jaman coffee shop menyediakan makan kecil dan makanan berat. (Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departement Pendidikan dan Kebudayaan,Jakarta: Balai Pustaka, 1988) (Leonita Clara, par.1)

2.2.2 Fungsi Kafe

Fungsi penting dari kafe pada adalah yaitu sebagai tempat dimana orang- orang pergi untuk berkumpul, bercengkrama, makan dan minum, menulis, membaca, bermain atau ketika menghabiskan waktu baik dalam kelompok maupun secara individu, penulis Hasrullah (20).

2.3 Tinjauan Umum Ergonomi 2.3.1 Definisi Ergonomi

Ada berbagai macam pengertian atau definisi dari ergonomi atau

sebenarnya lebih tepatnya ergonomika (dalam bahasa inggris disebut ergonomics) diantaranya: (“Definisi Ergonomi”par.1-7)

 Ergonomi merupakan istilah yang berasal dari Bahasa Yunani. Ergonomi terdiri dari dua suku kata, yaitu: ‘ergon‘ yang berarti ‘kerja‘ dan ‘nomos‘

yang berarti ‘hukum‘ atau ‘aturan‘. Dari kedua suku kata tersebut, dapat ditarik kesimpulan bawa ergonomi adalah hukum atau aturan tentang kerja atau yang berhubungan dengan kerja. Secara singkat bisa disebut bahwa ergonomi adalah ilmu kerja.

 Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan dan elemen-elemen lain dalam suatu sistem dan pekerjaan yang

mengaplikasikan teori, prinsip, data dan metode untuk merancang suatu sistem yang optimal, dilihat dari sisi manusia dan kinerjanya. Ergonomi memberikan sumbangan untuk rancangan dan evaluasi tugas, pekerjaan, produk, lingkungan dan sistem kerja, agar dapat digunakan secara

(7)

harmonis sesuai dengan kebutuhan, kempuan dan keterbatasan manusia (International Ergonomics Association / IEA, 2002).

 Ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi- informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia (Chapanis, 1985).

 Ergonomi merupakan disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya (Wignjosoebroto, 2003).

 Ergonomi merupakan studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain atau perancangan (Nurmianto, 2003).

Sedangkan bidang-bidang lainnya yang sangat terkait diantaranya teknik industri (karena ergonomi merupakan bagian dari teknik industri), teknik mesin (karena sering berkaitan dengan desain fisik walaupun tidak selalu fisik), safety engineering dan occupational safety health / K3 (karena fokus utama ergonomi adalah keselamatan dan kesehatan kerja), SDM (karena produktivitas dan kualitas kerja menjadi salah satu sasarannya), bioteknologi, kedokteran okupasi, psikologi (karena selain fisik manusia, ergonomi juga concern terhadap karakteristik atau kapasitas non fisik manusia dalam desain misalnya kognitif).

2.3.2 Ruang Lingkup Ergonomi

Ergonomi adalah ilmu dari pembelajaran multidisiplin ilmu lain yang menjembatani beberapa disiplin ilmu dan professional, serta merangkum

informasi, temuan, dan prinsip dari masing-masing keilmuan tersebut. Keilmuan yang dimaksud antara lain ilmu faal, anatomi, psikologi faal, fisika, dan teknik.

Ilmu faal dan anatomi memberikan gambaran bentuk tubuh manusia, kemampuan tubuh atau anggota gerak untuk mengangkat atau ketahanan terhadap suatu gaya yang diterimanya. Ilmu psikologi faal memberikan gambaran terhadap fungsi otak dan sistem persyarafan dalam kaitannya dengan tingkah laku,

sementara eksperimental mencoba memahami suatu cara bagaimana mengambil sikap, memahami, mempelajari, mengingat, serta mengendalikan proses motorik.

(8)

Sedangkan ilmu fisika dan teknik memberikan informasi yang sama untuk desain lingkungan kerja dimana pekerja terlibat.

Kesatuan data dari beberapa bidang keilmuan tersebut, dalam ergonomi dipergunakan untuk memaksimalkan keselamatan kerja, efisiensi, dan

kepercayaan diri pekerja sehingga dapat mempermudah pengenalan dan

pemahaman terhadap tugas yang diberikan serta untuk meningkatkan kenyamanan dan kepuasan pekerja penulis Arya Rantika (30-31).

2.3.3 Jenis Ergonomi

Ergonomi bisa diklasifikasikan ke dalam disiplin-disiplin ilmu yang lebih spesifik. Permasalahannya, pengklasifikasian ergonomi berbeda-beda antara satu sumber dengan sumber lainnya sehingga sering membingungkan. Ada yang mengklasifikasikannya berdasarkan objek kajian yang dipelajari (ergonomi fisik, ergonomi kognitif dsb), ada yang berdasarkan tempat pengaplikasiannya (ergonomi industri, ergonomi perkantoran dsb), ada yang berdasarkan luas lingkupnya (ergonomi makro, ergonomi mikro), ada yang berdasarkan latar belakang pendidikan (K3, antropometri, dsb), ada yang berdasarkan mata kuliah yang diambil saat kuliah (perancangan sistem kerja, usabilitas, dsb), dan bahkan ada yang tanpa dasar dan hanya mengambil dari istilah-istilah yang ada (ergonomi desain, ergonomi parsitipasi, dsb). pengklasifikasian disiplin ilmu ergonomi yang pas adalah sebagai berikut :

 Ergonomi fisik (physical ergonomics)

Berkaitan dengan aktifitas fisik manusia kerja. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi fisik antara lain: anatomi tubuh manusia, antropometri, karakteristik fisiologi dan biomekanika, kekuatan fisik manusia kerja, postur kerja, beban fisik kerja, pemindahan material, studi gerakan dan waktu kerja, MSD, tata letak tempat kerja, keselamatan kerja, kesehatan kerja, ukuran / dimensi tempat atau alat kerja, fungsi indra dalam kerja, control & display dsb. Sampai saat ini dan mungkin untuk masa yang akan datang, ergonomi fisik merupakan aspek terbesar dalam keilmuan atau profesi ergonomi.

 Ergonomi kognitif (cognitive ergonomics)

(9)

Berkaitan dengan proses mental manusia kerja. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi kognitif antara lain: persepsi dalam kerja, ingatan dalam kerja, reaksi dalam kerja, beban kerja, pengambilan keputusan, performa kerja, human-computer interaction, kehandalan manusia, motivasi kerja, stres kerja dsb.

 Ergonomi organisasi (organizational ergonomics)

Berkaitan dengan sosioteknik dalam sistem kerja. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi organisasi antara lain: sturktur organisasi kerja, kebijakan dan proses, komunikasi kerja, manajemen SDM, alokasi fungsi kerja, task analysis, perancangan waktu kerja, teamwork, participatory approach, komunitas kerja, kultur organisasi, organisasi virtual, produktivitas kerja tim / individu dsb.

 Ergonomi lingkungan (environmental ergonomics)

Berkaitan dengan hal-hal di sekitar orang berkerja, biasanya berupa lingkungan fisik. Topik yang relevan dalam ergonomi organisasi antara lain:

pencahayaan di tempat kerja, temperatur di tempat kerja, kebisingan di tempat kerja, getaran di tempat kerja, desain interior tempat kerja termasuk bentuk dan warna dsb.

Gambar 2.1. Macam – macam ergonomi (Sumber: ritaelfianis.com)

(10)

Gambar 2.2. Pemahaman macam ergonomi (Sumber: ritaelfianis.com)

Pengklasifikasian di Gambar juga sejalan dan semakna dengan pengklasifikasian ergonomi berdasarkan empat komponen teknologi:

 Human-machine interface technology (hardware ergonomics) Teknologi ini menitik beratkan pada fisik manusia, karakteristik perseptual manusia, aplikasi ilmu untuk analisa, disain, evaluasi dari control, display, workspace arrangements.

(11)

 Human-environment interface technology (enviromental technology) Teknologi ini menitik beratkan pada kemampuan, keterbatasan manusia dengan berbagai kondisi lingkungan (Seperti : pencahayaan, panas, bising, vibrasi, dll).

 Human-software interface technology (Cognitive Ergonomics) Teknologi ini menitik beratkan pada bagaimana manusia memberikan konsep dan mengolah suatu informasi.

 Human-organization interface technology (Macro Ergonomics) Teknologi ini menitik beratkan pada operator individual, tim operator atau sub sistem.

Selain pengklasifikasian di atas ada juga pengklasifikasian lain yang sering dipakai yakni. Dari bentuk objek yang dikaji, ada yang membagi ergonomi menjadi dua jenis yakni ergonomi fisik dan ergonomi informasi / non fisik (kognitif). Dari lingkup objek yang dikaji, ergonomi dibagi menjadi ergonomi makro dan ergonomi mikro. (“Macam Ergonomi”par.1-7)

2.3.4 Tujuan dan Prinsip Ergonomi

Terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai dari penerapan ilmu ergonomi.

Tujuan-tujuan dari penerapan ergonomi adalah sebagai berikut (Tarwaka, 2004):

 Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

 Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial dan mengkoordinasi kerja secara tepat, guna meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.

 Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis, dan antropologis dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

Memahami prinsip ergonomi akan mempermudah evaluasi setiap tugas atau pekerjaan meskipun ilmu pengetahuan dalam ergonomi terus mengalami kemajuan dan teknologi yang digunakan dalam pekerjaan tersebut terus berubah. Prinsip

(12)

ergonomi adalah pedoman dalam menerapkan ergonomi di tempat kerja. Menurut Baiduri dalam diktat kuliah ergonomi terdapat 12 prinsip ergonomi, yaitu sebagai berikut:

a) Bekerja dalam posisi atau postur normal.

b) Mengurangi beban berlebihan.

c) Menempatkan peralatan agar selalu berada dalam jangkauan.

d) Bekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh.

e) Mengurangi gerakan berulang dan berlebihan.

f) Minimalisasi gerakan statis.

g) Minimalisasikan titik beban.

h) Mencakup jarak ruang.

i) Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman.

j) Melakukan gerakan, olah raga, dan peregangan saat bekerja.

k) Membuat agar display dan contoh mudah dimengerti.

2.3.5 Pendekatan Penerapan Ergonomi

Permasalahan yang berkaitan dengan faktor ergonomi umumnya disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian antara pekerja dan lingkungan kerja secara menyeluruh termasuk peralatan kerja yang digunakan oleh pekerja tersebut.

Penerapan ergonomi dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu

 Pendekatan Kuratif

Dilakukan pada suatu proses yang sudah atau sedang berlangsung.

Kegiatannya berupa intervensi, perbaikan, atau modifikasi proses yang sedang atau sudah berjalan. Sasaran kegiatan ini adalah kondisi kerja dan lingkungan kerja dan dalam pelaksanaannya harus melibatkan pekerja yang terkait dengan proses kerja yang sedang berlangsung.

 Pendekatan Konseptual

Dikenal sebagai pendekatan sistem dan akan sangat efektif dan efisien bila dilakukan pada saat perencanaan. Bila berkaitan dengan teknologi, maka sejak proses pemilihan dan alih teknologi, prinsip-prinsip ergonomi sudah sewajarnya dimanfaatkan bersama-sama dengan kajian lain yang juga perlu, seperti kajian teknis, ekonomi, sosial budaya, hemat energi dan

(13)

melestarikan lingkungan. Pendekatan ini dikenal dengan pendekatan Teknologi Tepat Guna (Manuaba, 1997). Pendekatan ergonomi secara konseptual dilakukan sejak awal perencanaan dengan mengetahui kemampuan adaptasi pekerja sehingga dalam proses kerja selanjutnya, pekerja berada dalam batas kemampuan yang dimiliki. (“Model Kontrol Pengendalian Bahaya pada Ruang Produksi Semen”,par.9-11)

2.3.6 Penerapan Ergonomi

Ergonomi dapat diterapkan pada beberapa aspek dalam bekerja. Penerapan ergonomi antara lain dapat dilakukan pada posisi kerja, proses kerja, tata letak tempat kerja, dan cara mengangkat beban.

 Posisi Kerja

Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.

 Proses Kerja

Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.

 Tata Letak Tempat Kerja

Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja.

Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

 Mengangkat Beban

Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yaitu, dengan kepala, bahu, tangan, punggung, dan sebagainya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.

 Menjinjing Beban

Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO sebagai berikut:

(14)

- Laki-laki dewasa 40 kg - Wanita dewasa 15-20 kg - Laki-laki (16-18 th) 15-20 kg - Wanita (16-18 th) 12-15 kg

 Organisasi Kerja

Pekerjaan harus diatur dengan berbagai cara:

- Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun - Frekuensi pergerakan diminimalisasi - Jarak mengangkat beban dikurangi

- Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan mengangkat tidak terlalu tinggi.

- Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.

 Metode Mengangkat Beban

Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetik dari pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip:

- Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung

- Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum berat badan.

 Metoda ini termasuk 5 faktor dasar : - Posisi kaki yang benar

- Punggung kuat dan kekar

- Posisi lengan dekat dengan tubuh - Mengangkat dengan benar

- Menggunakan berat badan

 Supervisi Medis

Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur.

- Pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya.

- Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan.

(15)

- Nasehat harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita muda dan yang sudah berumur. (“Ergonomi Dalam Lingkungan Kerja”,par.3-13)

2.4 Tinjauan Umum Antropometri 2.4.1 Definisi Antropometri

Antropometri berasal dari “anthro” yang memiliki arti manusia dan “metri”

yang memiliki arti ukuran. Antropometri adalah sebuah studi tentang pengukuran tubuh dimensi manusia dari tulang, otot dan jaringan adiposa atau lemak (Survey, 2009). Menurut (Wignjosoebroto, 2008), antropometri adalah studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Bidang antropometri meliputi berbagai ukuran tubuh manusia seperti berat badan, posisi ketika berdiri, ketika merentangkan tangan, lingkar tubuh, panjang tungkai, dan sebagainya.

Data antropometri digunakan untuk berbagai keperluan, seperti perancangan stasiun kerja, fasilitas kerja, dan desain produk agar diperoleh ukuran- ukuran yang sesuai dan layak dengan dimensi anggota tubuh manusia yang akan menggunakannnya.(“Definisi Antrometri”,par.1-2)

2.4.2 Tabel Antropometri Tubuh Manusia

Data Antropometri Masyarakat Indonesia serta Dimensionalnya (Nurmianto, 1991)

Gambar 2.3. Gambar antropometri tubuh manusia

(Sumber: https://www.slideshare.net/bangkitbayu/antropometri-34717699)

(16)

Gambar 2.4. Hasil uji antropometri masyarakat Indonesia serta dimensionalnya (Nurmianto, 1991)

(17)

2.5 Definisi Konstruksi Perancangan Sofa

Konstruksi perancangan sofa ini menggunakan material besi karena besi akan lebih kuat dari pada konstruksi kayu yang biaya digunakan pada berbagai sofa dipasaran. Besi yang akan digunakan adalah besi hollow, karena besi hollow mempunyai kualitas yang cukup bagus dan mempunyai harga terjangkau.

Besi hollow adalah besi yang berbentuk pipa kotak atau lingkaran. Besi hollow biasanya terbuat dari besi galvanis,stainless atau besi baja. Sering digunakan dalam konstruksi bangunan, terutama dalam konstruksi acessoris seperti pagar, railling, atap kanopi dan pintu gerbang. Besi hollow juga dapat digunakan untuk

support pada pemasangan plafon.

Dibawah ini beberapa pilihan Ukuran dan variatif ketebalan Besi Hollow / Besi Kotak :

Dimensi 16 x 36 ;tersedia tebal ; 0.7 mm,0.8 mm,0.9 mm,1.2 mm

Dimensi 20 x 20 ;tersedia tebal ; 0.6 mm,0.7 mm,0.8 mm,0.9 mm,1.0 mm,1.2 mm Dimensi 30 x 30 ;tersedia tebal ; 0.7 mm,0.8 mm,0.9 mm,1.0 mm,1.1 mm,1.2 mm Dimensi 36 x 36 ;tersedia tebal ; 0.8 mm,1.2 mm

Dimensi 40 x 60 ;tersedia tebal ; 1.2 mm,1.4 mm Dimensi 45 x 75 ;tersedia tebal ; 1.7 mm

Dimensi 50 x 100 ;tersedia tebal ; 1.3 mm,1.7 mm Dimensi 60 x 60 ;tersedia dengan ketebalan ; 1.2 mm

 Catatan:

Tebal 1.2 mm setara dengan tebal 1.6 mm dipasaran.

Tebal 1.0 mm setara dengan tebal 1.4 mm dipasaran.

Tebal 0.8 mm setara dengan tebal 1.2 mm dipasaran.

 Jenis Besi Hollow :

BesiHollow Galvanise

Besi ini merupakan sebutan untuk pelapisan finishing yang terdiri dari 97%

unsur coating zinc ( besi ), ± 1% unsur coating alumunium dan sisanya adalah unsur bahan lain. Dengan komposisi bahan seperti ini, akan membuat besi hollow jenis ini menjadi korosif, terlebih lagi jika besi ini tergesek maupun terpotong. Oleh karena itu, pada penerapannya hollow ini harus

(18)

diberikan anti karat dan jenis cat yang bagus agar tahan lebih lama meskipun diterpa hujan dan panas.

BesiHollowGalvalume

Galvalume merupakan sebutan untuk Zinc-Alume yang pelapisannya mengandung unsur Alume ( Aluminium ) dan Zinc ( besi ). Untuk bahan Galvalume yang paling baik terdiri dari unsur coatingnya 55% Aluminium, unsur besi 43,5% dan unsur lapisan silicon 1,5%. Dilihat dari komposisi bahannya, hollow galvalume ini memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap korosi dibandingkan hollow galvanise. Dengan kualitas yang bagus, otomatis harga dari pada galvalume lebih mahal daripada galvanise Produk besi hollow yang dikeluarkan setiap pabrik akan berbeda-beda kualitasnya, oleh karena itu harganyapun juga akan berbeda-beda. Semakin bagus kualitasnya, harga pasti akan semakin mahal pula. Meskipun demikian, besi hollow tetap mempunyai standard ukuran.

Berikut dimensi / ukuran besi hollow:

No. p(mm) l(mm)

1 16 36

2 20 20

3 30 30

4 36 36

5 40 60

6 45 75

7 60 60

8 50 100

Panjang dari besi hollow sendiri berukuran 6 meter. Dari semua dimensi di atas, besi hollow juga mempunyai ketebalan yang berbeda-beda, yaitu dimulai dari 0.6 mm, 0.7 mm, 0.8 mm, 0.9 mm, 1.0 mm, 1.2 mm, 1.3 mm, 1.4 mm, sampai dengan 1.7 mm. (“Spesifikasi Besi Hollow Kotak untuk Konstruksi Pagar”,par.5- 9)

(19)

2.5.1 Perancangan Material Sofa

Perancangan Produk Sofa ini menggunakan beberapa material di antaranya seperti:

 Spons Berkulitas Bagus (ketebalan 5cm)

 Konstruksi menggunakan Besi Hollow

 Kain / Kulit Sintetis Oscar

 Konstruksi Kain/Kulit menggunakan Velcro

 Dakron tebal dan dakron lembaran

 Karet untuk bawahan kaki sofa

Spon busa memiliki banyak variasi tingkat kelembutan. Mulai dari yang sangat lembut sampai yang kaku. Tingkat kelembutan dari spon busa ini jugalah yang menentukan lamanya garansi. Semakin lama garansi busa yang dibeli, artinya semakin bagus pula busanya, dan harganya pun tentu lebih mahal, jenis spon :

Soft – Spon busa ini memiliki tingkat keempukan dan tetap mampu memberikan penopang yang baik untuk tubuh.

Medium Soft – Tingkat keempukan spon busa empuk namun tetap seimbang. spon tidak akan terlalu terbenam ketika kamu berbaring di atasnya.

Medium – Keempukan spon ini cocok untuk kamu yang kesulitan menentukan pilihan antara spon yang empuk dan keras. spon jenis ini juga cocok untuk kamu yang berbagi kasur dengan pasangan dan masing-masing memiliki preferensi tingkat keempukan spon yang berbeda.

Medium Firm – Tingkat keempukan spon ini sudah terbilang keras. Kamu hanya akan sedikit terbenam ketika berbaring di atasnya.

Firm – spon ini keras dan tidak mengikuti bentuk tubuh saat digunakan.

Tingkat keempukan inilah yang paling banyak menjadi rekomendasi untuk posisi tidur telentang atau tengkurap.

Extra Firm – spon ini sangat keras dan hampir tidak terbenam sama sekali.

spon ini memiliki dorongan yang kuat sehingga permukaannya akan tetap rata ketika kamu berbaring.

(20)

Gambar 2.5. Gambar macam – macam spon (Sumber: en.indotrading.com)

Kulit Sintetis Oscar digunakan pada perancangan sofa ini karena, mempunyai banyak keunggulan, dari pada material kain-kain lain yang sering digunakan pada sofa. Sofa dengan penutup berbahan Oscar banyak diminati karena alasan nya harga relative murah, perawatannya sangat mudah, untuk membersihkan sofa Oscar, cukup digunakan sikat gigi halus atau kain lap basah yang diberi sedikit sabun cuci tangan. Tetapi dibalik kelebihannya yang membuatnya banyak diminati, bahan oscar untuk sofa juga memiliki kelemahan yang mesti diketahui. kelemahan Oscar sebagai bahan pelapis atau penutup sofa adalah sebagai berikut:

Akan terasa panas jika diduduki dalam waktu yang lama

Kurang awet, bahan ini cepat menjadi pecah-pecah dna rontok

Pelapis Oscar mungkin hanya dapat bertahan dalam waktu beberapa tahun dan setelah itu memerlukan pengganti pelapisnya.

Kaku sehingga ketika digunakan untuk model lekukan biasanya akan berkerut.

Menggunakan bahan oscar untuk sofa dengan model minimalis tentunya sangat cocok dengan konsep minimalis elegan. Model tarikan pada gian dudukan yang dipadu dengan warna yang kontras membuat ruangan tampil semarak.

(21)

Gambar 2.6. Gambar kulit oscar (Sumber : kulitimitasi.weebly.com)

Velcro digunakan untuk konstruksi kain / kulit sofa , agar dapat dilepas pasang. Velcro adalah peranti populer untuk mengikat dua sisi kain, pertama kali diciptakan pada tahun 1948 oleh Insinyur Listrik bernama George de Mestral. Ia mematenkannya pada tahun 1955 dan dibuat secara praktikal sampai

diperkenalkan secara komersial pada akhir tahun 1950-an. Kata Velcro adalah lakuran dari dua kata Perancis velours dan crochet yang berarti "kait". Velcro terdiri dari dua komponen: terdiri dari dua lembar Velcro (satu lembar yang bundar atau kotak dan satu lembar pengait) dijahit atau ditempelkan ke kain secara berlawanan. Komponen pertama memiliki pengait, sementara yang lainnya memiliki benang seperti lingkaran atau kotak. Ketika disatukan, benang bentuk lingkaran atau kotak akan mengait pada pengait – dan dua bagian tersebut menempel sementara. Ketika dipisahkan, dengan cara ditarik atau memotong, Velcro akan menghasilkan suara sobekan yang khas. Velcro pertama yang dibuat dari kapas yang tidak praktis, kemudian diubah dan dibuat dari bahan nilon dan poliester.

(22)

Gambar 2.7. Gambar velcro (Sumber: www.seattlefabrics.com)

Dakron digunakan untuk udukan sofa agar empuk dan nyaman, menggunakan dakron yang tebal dan lembaran. Dacron adalah sebuah bahan sintetis yang sedang populer dalam kebutuhan tekstile sebagai bahan untuk pengisian boneka, guling dan juga bantal. Dacron merupakan nama merek dagang dari serat tekstile yang di buat oleh perusahaan dari inggris sebagai merek dagang , Dacron sendiri memiliki nama asli yaitu Polietilena tereftalat yaitu suatu resin polimer plastik termoplast dari kelompok polyester kini sedang naik daun dan banyak digunakan untuk keperluan tekstil sebagai bahan isi bantal, guling, dan juga boneka. Dacron merupakan nama dagang dari serat tekstil yang terdiri dari Polyester fiber Sintetis yang dibuat oleh perusahaan Du-Pont dari Inggris. Setelah itu kelebihan lain dari bahan dacron bila bahan dacron Anda press atau vakum maka setelah dilepas akan kembali ke seperti semula. Inilah mengapa bahan dacron sangat di rekomendasikan oleh berbagai produk bantal, boneka dan berbagai media yang tadinya berbahan dari bahan dasar kapuk yang beralih ke bahan dacron.

(“Mengenal Lebih Dekat Kasur Busa”,par.1-2)

Gambar 2.8. Gambar dakron (Sumber: www.indotrading.com)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengembangan instrumen penelitian pembelajaran matematika realistik pada materi Aljabardi kelas VII SMP ini berupa: (1) Lembar Penilaian Validator terhadap

Berdasarkan pendapat di atas diketahui variasi pembelajaran bertujuan untuk memberikan ruang kesempatan bagi siswa yang luas untuk dapat mengeksplorasi diri dengan baik

Agar petunjuk teknis ini dapat tepat guna dan sesuai dengan pencapaian indikator kinerja kegiatan DAK Bidang Sarana Perdagangan Tahun Anggaran 2011,

Bank Royal Indonesia telah memiliki kebijakan dan prosedur kerja sebagai pedoman kerja yang memungkinkan Satuan Kerja Kepatuhan dapat menetapkan langkah-langkah yang diperlukan

Diagram lingkaran di bawah menyajikan jenis ekstrakuri- kuler di suatu SMK yang diikuti oleh 500 orang siswa.. Banyak siswa yang tidak mengikuti ekstrakurikuler

Adalah ukuran yang menunjukkan sebaran/penyimpangan tiap observasi data terhadap suatu harga tengah. a) Rentang/Range b)

Dari hasil perhitungan CROPWAT 8, air irigasi padi yang dibutuhkan umumnya jauh lebih rendah dari KP-01, karena hujan efektif yang terjadi (dengan metode CROPWAT

Benih berkecambah terbanyak diperoleh pada perlakuan cara penanganan benih, buah diekstraksi dengan cara perendaman dalam air selama 5 hari kemudian diberi pematahan