SKRIPSI ANALISIS PENGGUNAAN METODE ACTIVITY BASED COSTING DALAM PEMBEBANAN BIAYA OVERHEAD PABRIK PADA PT. MARUKI INTERNATIONAL INDONESIA

78  Download (0)

Full text

(1)

DALAM PEMBEBANAN BIAYA OVERHEAD PABRIK PADA PT. MARUKI INTERNATIONAL INDONESIA

NURHIDAYAH JAFRI 105730185110

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2014

(2)

DALAM PEMBEBANAN BIAYA OVERHEAD PABRIK PADA PT. MARUKI INTERNATIONAL INDONESIA

NURHIDAYAH JAFRI 105730185110

Untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2014

i

(3)

ii

BASED COSTING DALAM PEMBEBANAN BIAYA

OVERHEAD PABRIK PADA PT MARUKI

INTERNATIONAL INDONESIA Nama Mahasiswa : NURHIDAYAH JAFRI

No. Stambuk/Nim : 105730185110

Fakultas/Jurusan : EKONOMI AKUNTANSI

Perguruan Tinggi : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Makassar, Mei 2014 Menyetujui :

Pembimbing I

H. A. Arman, SE., M. Si., Ak.,CA NBM.

Pembimbing II

Abd. Salam, SE., M. Si,Ak.

NBM. 885533

Mengetahui:

Dekan Fakultas Ekonomi

Dr. H. Mahmud Nuhung, MA.

NBM. 497 794

Ketua Jurusan Akuntansi

Ismail Badollahi, SE., M.Si., Akt.

NBM. 1073428

(4)

iii

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Skripsi ini berjudul “Analisis Penggunaan Activity Based Costing Dalam Pembebanan Biaya Overhead Pabrik Pada PT.Maruki International Indonesia”. Adapun maksud dari penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi, Program Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dalam penulisan skripsi ini penulis tidak terlepas dari bantuan dan peranan semua pihak. Untuk itu, penulis tak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, MA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Ismail Badollahi, SE., M.Si, Ak, selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar

3. Bapak H. A. Arman, SE., M.Si, Ak. Dan Bapak Abd Salam, SE., M.Si, Ak. Selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(5)

iv

5. Pimpinan dan pihak manajemen PT. Maruki International Indonesia yang telah membantu penulis dalam memperoleh data- data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini.

6. Terkhusus buat kedua orang tuaku“Ayah dan Bunda”,Muhammad Jafri, B.Sc. dan Salawati yang memberikan do’a,dan semangat yang sangat besar buat penulis dalam segala hal.

8. Kakak dan adik-adikku Muhammad Rizki Jafri, S.Pd., Nurlailah Jafri, S.pd., Muhammad Rizkan Jafri dan Muhammad Riwayat Jafri terima kasih atas do’a dan dukungannya.

9. Kawan-kawan seperjuangan angkatan 2010 Ak 5:Rara, Ani, Nia, Risna, Rhia, Yeyenk, Fauzy, Emil, Wawan, Indradan seluruh kawan- kawanyang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dan menyemangati penulis selama kegiatan perkuliahan hingga pengerjaan skripsi ini.

Akhirkata dengan kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Atas kritik dan saran yang bersifat membangun, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

(6)

v

Nurhiadayah Jafri. 2014. Analisis Penggunaan Metode Activity Based Coasting Dalam Pembebanan Biaya Over Head Pabrik Pada PT. Maruki Internasional Indonesia. Dibimbing oleh H. Andi Arman dan Abd. Salam

`Untuk dapat selalu survive dalam persaingan bisnis yang semakin ketat, setiap badan usaha berupaya untuk selalu mengembangkan diri,baik dari segi kualitas dan kuantitas maupun perbaikan dan penyempurnaan dalam penentuan biaya produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan system ABC dalam pembebanan biaya overhead pabrik untuk penyempurnaan penentuan biaya produk. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tujuan penerapan system ABC.

Untuk tujuan di atas, telah dilakukan penelitian di PT.Maruki International Indonesia yang berlokasi di Jln Kapasa Raya. Perusahaan ini bergerak di bidang manufaktur. Data telah dikumpulkan dengan melakukan wawancara dengan pejabat-pejabat perusahaan dan juga untuk dokumentasi.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, dalam membebankan biaya overhead pabrik dengan menggunakan activity based costing belum sepenuhnya sesuai dengan konsep activity based costing, disebabkan oleh cost driver yang digunakan kurang beragam sebagai cerminan dari aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya. Oleh karena itu, agar activity based costing dapat sepenuhnya diterapkan maka sangat diperlukan kerjasama yang baikan tarapihak yang terkait.

Kata Kunci: Sumber daya, Aktivitas, Pembebanan Biaya Over head Pabrik

(7)

iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK... v

DAFTAR ISI ... vi

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian... 10

D. Manfaat Penelitian... 10

E. Hipotesis... 11

II. TINJAUN PUSTAKA A. Konsep Biaya dan Klasifikasi Biaya ... 12

B. Biaya overhead Pabrik ... 16

C. Activity Based Costing... 21

D. Kerangka Pikir... 39

III. METODOLOGI PENELITIAN A. Objek Penelitian... 41

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 41

C. Metode Pengumpulan Data ... 41

D. Jenis dan Sumber Data... 42

E. Metode Analisis... 42

F. Defenisi Operasional ... 43

(8)

iv

C. Produk Perusahaan ... 50

V. HASIL PENELITIAN

A. Sistem Akuntansi Biaya Perusahaan... 53 B. Penggunaan Activity Based Costing Dalam Pembebanan

Biaya Overhead Pabrik ... 54 C. Biaya Overhead Dihitung Berdasarkan Metode Activity

Based Costing ... 57 D. Penggunaan Informasi Biaya Activity Based Costing ... 61 V. PENUTUP

A. Kesimpulan ... 62 B. Saran... 63 DAFTAR PUSTAKA... 64

(9)
(10)

vi

`Untuk dapat selalu survive dalam persaingan bisnis yang semakin ketat, setiap badan usaha berupaya untuk selalu mengembangkan diri,baik dari segi kualitas dan kuantitas maupun perbaikan dan penyempurnaan dalam penentuan biaya produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan system ABC dalam pembebanan biaya overhead pabrik untuk penyempurnaan penentuan biaya produk. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tujuan penerapan system ABC.

Untuk tujuan di atas, telah dilakukan penelitian di PT.Maruki International Indonesia yang berlokasi di Jln Kapasa Raya. Perusahaan ini bergerak di bidang manufaktur. Data telah dikumpulkan dengan melakukan wawancara dengan pejabat-pejabat perusahaan dan juga untuk dokumentasi.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, dalam membebankan biaya overhead pabrik dengan menggunakan activity based costing belum sepenuhnya sesuai dengan konsep activity based costing, disebabkan oleh cost driver yang digunakan kurang beragam sebagai cerminan dari aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya. Oleh karena itu, agar activity based costing dapat sepenuhnya diterapkan maka sangat diperlukan kerjasama yang baikan tarapihak yang terkait.

Kata Kunci: Sumber daya, Aktivitas, Pembebanan Biaya Over head Pabrik

(11)
(12)

`BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan bisnis yang semakin pesat, mengakibatkan semakin ketatnya persaingan yang terjadi dalam dunia usaha. Hal tersebut juga mengakibatkan perubahan yang besar dalam dunia usaha, baik di sektor industri maupun di sektor perdagangan barang dan jasa. Ini dapat dilihat dari timbulnya persaingan dalam hal desain produk, kualitas produk, dan pelayanan kepada konsumen untuk dapat meningkatkan pangsa pasar, baik dalam negeri maupun luar negeri. Di samping itu, perkembangan teknologi dan informasi juga berpengaruh pada proses pembuatan produk, sejak saat didesain, dikembangkan dan diproduksi, sampai dengan didistribusikan kepada konsumen.

Persaingan global yang tajam yang dihadapi oleh perusahaan memaksa manajemen perusahaan untuk mencari berbagai alternatif pembuatan produk dengan biaya yang efisien. Untuk itu manajemen memerlukan informasi biaya yang mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas, dengan tujuan agar manajemen dapat mengendalikan biaya dalam menghasilkan produk yang berkualitas baik.

Dalam era persaingan global yang semakin ketat, perusahaan- perusahaan berusaha agar tetap unggul dengan memberikan perhatian khusus terhadap mutu produk, proses, dan kualitas sumber daya yang

1

(13)

merupakan elemen kunci strategi perusahaan yang ingin ikut dalam persaingan tingkat dunia. Persaingan tingkat dunia memaksa manajemen perusahaan untuk memperhitungkan dengan cermat biaya produksi mereka agar dapat mencapai tujuan perusahaan yang diinginkan.

Pada umumnya perusahaan manufaktur masih menggunakan akuntansi biaya tradisional dalam mengalokasikan semua biaya berdasarkan ukuran volume. Padahal tidak semua biaya berhubungan dengan volume atau jumlah unit yang diproduksi sehingga pembebanan biaya tersebut ke produk dengan menggunakan cost driver (pemicu biaya) berdasarkan jumlah unit dapat menimbulkan distorsi dalam perhitungan biaya atau subsidi silang. Subsidi silang ini dapat terjadi karena tiap produk tersebut sebenarnya tidak mengkonsumsi biaya secara proporsional berdasarkan volume produksi. Oleh karena itu diperlukan pembebanan biaya secara tepat.

Demi menjaga kelangsungan hidup perusahaan, visi mempertahankan dan meningkatkan prestasi dan prestise sangat dibutuhkan. Untuk itu setiap perusahaan akan berorientasi pada peningkatan perolehan laba yang optimal sebagai visi pengembangan usahanya.

Iklim kompetitif mengharuskan perusahaan untuk mampu bersaing.

Untuk dapat bersaing dalam pasar bebas, maka manajemen perusahaan harus mampu mengelola seluruh potensi yang ada pada perusahaan secara efektif dan efisien.

(14)

Tidak banyak orang yang memahami bahwa harga pokok produk dan jasa merupakan refleksi kemampuan suatu organisasi dalam memproduksi barang dan jasa. Semakin tinggi kemampuan mengelola biaya (cost), maka akan semakin baik produk dan jasa yang ditawarkan pada pelanggan baik dari sisi harga maupun kualitas.

Salah satu usaha yang mungkin dapat ditempuh oleh perusahaan adalah dengan mengendalikan faktor-faktor dalam perusahaan, seperti mengurangi dan mengendalikan biaya, tanpa harus mengurangi kualitas dan kuantitas produk yang telah ditetapkan. Pengendalian biaya akan lebih efektif bila biaya-biaya diklasifikasikan dan dialokasikan dengan tepat.

Semakin menjamurnya perusahaan manufaktur, menyebabkan semakin ketatnya persaingan diantaranya. Keberhasilan dalam memenangkan persaingan tersebut ditentukan oleh beberapa hal antara lain quality, services dan price.

Services adalah kuantitas atau ragam pelayanan yang disediakan pihak perusahaan terhadap pelanggannya. Quality merupakan kualitas pelayanan terhadap konsumen, hal ini lebih menekankan pada kepuasan konsumen terhadap suatu jenis produk yang dihasilkan. Selain quality dan services, price merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam perebutan hati para konsumen maupun calon konsumen. Price adalah jumlah nominal yang harus dibayarkan oleh konsumen atas produk yang diinginkan. Jika ada perbandingan antara beberapa perusahaan dengan quality dan services yang sama dalam hal penentuan harga dan mengabaikan faktor loyalitas

(15)

konsumen terhadap produsen , konsumen akan cenderung memilih produk yang lebih terjangakau dan berkualitas.

Untuk mencapai hal tersebut, maka perusahaan dituntut untuk bisa menjalankan manajemen perusahaannya agar menjadi efisien dan kompetitif.

Semakin tinggi tingkat persaingan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri yang sama, maka tingkat persaingan akan semakin tinggi.

Oleh karena itu diperlukan strategi-strategi perusahaan yang bisa memenangkan perusahaan dalam persaingan. Salah satu strategi yang digunakan untuk bisa memenangkan dalam persaingan adalah penekanan harga jual produk. Dengan harga jual yang semakin rendah, maka tingkat penjualan produk menjadi tinggi.

Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan dimuka. Alasan penggunaan tarif yang ditentukan di muka untuk memperhitungkan biaya overhead pabrik ke dalam harga pokok produksi yang tidak di pengaruhi oleh adanya perubahan tingkat kegiatan produksi yang bersifat sementara, perubahan tingkat efisiensi produksi, terjadinya biaya overhead pabrik yang bersifat sporadik. Dengan demikian, penggunaan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka untuk membebankan jenis biaya tertentu kepada produk merupakan suatu keharusan (Mulyadi, 2012 :213).

Dalam sistem akuntansi tradisional, pembebanan biaya produksi dilakukan atas biaya langsung dan tidak langsung yang berhubungan dengan

(16)

produk. Secara tradisional, pembebanan biaya atas biaya tidak langsung dilakukan dengan menggunakan dasar pembebanan secara menyeluruh atau per departemen. Hal ini akan menimbulkan banyak masalah karena produk yang dihasilkan tidak dapat mencerminkan biaya yang sebenarnya diserap untuk menghasilkan produk tersebut. Sebagai akibatnya akan muncul produk under costing dan produk over costing.

Pembebanan biaya overhead pabrik dalam sistem tradisional dilakukan dengan menggunakan tarif overhead pabrik tunggal atau tarif departemen berdasarkan volume output. Tarif ini menghasilkan biaya produk yang tidak akurat apabila sebagian besar biaya overhead pabrik tidak berhubungan dengan volume, dan jika perusahaan menghasilkan produk yang bermacam-macam dengan volume, ukuran yang berbeda-beda.

Pembebanan biaya overhead pabrik dilakuka n dengan menggunakan alokasi yang bersifat sembarang, sehingga harga pokok produk yang dihasilkan tidak akurat.

Saat ini sebagian perusahaan masih menggunakan metode konvensional dalam menentukan cost of goods manufactured, yang mengalokasikan biaya overhead berdasarkan perubahan volume, berbasiskan jam mesin dan jam kerja langsung. Metode perhitungan konvensional dalam perusahaan yang menghasilkan lebih dari satu jenis produk akan menimbulkan kesulitan dalam menyajikan biaya produksi yang akurat. Hal ini terjadi karena pembebanan biaya overhead dilakukan berdasarkan unit produksi, dari tiap jenis produk, sedangkan proporsi sumber

(17)

daya yang diserap oleh tiap jenis produk berbeda. Karena itu, metode konvensional dapat mendistorsi biaya produksi per unit, dimana produk dengan tingkat pengerjaan yang lebih rumit dikenai biaya yang sama atau bahkan lebih rendah dari produk dengan tingkat pengerjaan yang tidak terlalu rumit. Sehingga metode ini kurang mampu memberikan informasi yang akurat dalam pembuatan keputusan. Biaya overhead pabrik dalam product cost menjadi lebih tinggi dari prime cost dan perhitungan biaya secara konvensional dianggap tidak dapat mengalokasikan biaya overhead ke product cost secara adil.

Activity Based Costing dikembangkan untuk menjawab keterbatasan metode konvensional dari kebutuhan manajemen akan informasi cost of goods manufactured yang mampu mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas untuk menghasilkan cost of goods manufactured secara akurat. Penerapan Activity Based Costing akan relevan bila biaya overhead pabrik merupakan biaya yang paling dominan dan multiproduk.

Activity Based Costing dapat menelusuri aktivitas yang memberi nilai tambah dan aktivitas yang tidak memberi nilai tambah yang ditakutkan dalam menghasilkan suatu produk. Sehingga perusahaan dapat meminimalisasi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi produk, yang akhirnya akan menghasilkan produk bernilai tinggi dengan biaya seminimal mungkin. Hal ini dikarenakan perhitungan metode ABC benar- benar mencerminkan konsumsi sumber daya yang digunakan dalam proses

(18)

produksi (Martusa et al., 2010)

Inilah yang mendasari dikembangkannya metode Activity Based Costing (ABC). Metode Activity Based Costing (ABC) adalah suatu sistem pendekatan perhitungan biaya yang dilakukan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada di perusahaan. Sistem ini dilakukan dengan dasar pemikiran bahwa penyebab timbulya biaya adalah aktivitas yang dilakukan dalam perusahaan, sehingga wajar bila pengalokasian biaya-biaya tidak langsung dilakukan berdasarkan aktivitas tersebut (Hongren, 2005).

Dalam sistem activity based costing proses pembebanan biaya overhead pabrik dilakukan dengan menelusuri biaya ke driver sumber daya yang dibebankan ke pusat aktivitas. Kemudian tarif overhead pabrik dihitung untuk setiap aktivitas berdasarkan driver aktivitas, dan akhirnya biaya overhead pabrik dibebankan ke setiap produk dengan cara mengalikan tarif overhead pabrik dengan kuantitas driver aktivitas yang dikonsumsi oleh produk.

Sistem Activity Based Costing dapat menyediakan informasi perhitungan biaya yang lebih baik dan dapat membantu manajemen mengelola perusahaan secara efisien serta memperoleh pemahaman yang lebih baik atas keunggulan kompetitif, kekuatan, dan kelemahan perusahaan. Sehingga dengan metode Activity Based Costing dapat menyajikan informasi secara cermat dan akurat bagi kepentingan manajemen.

(19)

ABC menghitung biaya produk dan membebankan biaya produk sesuai dengan objek biayanya. Oleh karena itu, penerapan ABC akan mendukung proses pengambilan keputusan-keputusan strategi dalam perusahaan, seperti:

keputusan tentang harga dan proses efisiensi yang dilakukan perusahaan karena penerapan ABC mengharuskan perusahaan untuk melakukan identifikasi dan perbaikan atas seluruh kegiatan yang dilakukan pada sebuah perusahaan (Ahmad,Abdullah, 2012:319).

ABC system merupakan sistem informasi biaya yang mengubah cara yang digunakan oleh manajemen dalam pengelolaan bisnis. Jika dalam manajemen tradisional, pengelolaan bisnis di dasarkan pada fungsi, dengan ABC system, pengelolaan bisnis diubah menjadi pengelolaan berbasis aktivitas.

Konsep sistem Activity based Costing merupakan alternatif solusi yang ditempuh oleh perusahaan untuk mendapatkan informasi akuntansi yang relevan dalam keragaman kondisi dan sistem ABC ini menurut harapan, dapat diterapkan pada PT Maruki tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi manajemen perusahaan. Manajemen memerlukan informasi untuk memungkinkan mereka melakukan pengelolahan terhadap berbagai aktivitas dalam menghasilkan cost object. Oleh karena itu manajemen harus mampu mengelola sumber daya dengan melakukan perancangan kembali sistem akuntansi manajemen yang mampu mencerminkan sumber daya dalam aktivitas produk.

(20)

Activity based costing merupakan suatu pendekatan penentuan biaya produk atau jasa berdasarkan pada konsumsi sumber daya yang didasarkan atas aktivitas. Dasar pemikiran pendekatan penentuan biaya ini adalah bahwa dalam menghasilkan produk atau jasa perusahaan dilakukan oleh aktivitas. Aktivitas yang dibutuhkan tersebut tentunya mengkonsumsi sumber daya yang menyebabkan timbulnya biaya. Jadi dalam hal ini aktivitaslah yang menyebabkan timbulnya biaya.

Biaya produksi terdiri atas tiga unsur yaitu bahan langsung, pekerja langsung dan overhead pabrik. Activity based costing menekankan penelusuran langsung dan menekankan penelusuran hubungan sebab akibat.

Pembebanan yang lebih akurat, tentunya akan menghasilkan informasi yang lebih akurat guna mencegah kekeliruan dalam pengambilan keputusan.

Dalam skripsi ini, penulis membatasi bahasannya hanya pada biaya overhead pabrik.

PT Maruki International Indonesia sebagai perusahaan yang bertaraf internasional sangat mengedepankan kualitas dari produksi yang dihasilkan.

Produk utama perusahaan adalah furniture untuk budaya masyarakat jepang yang disebut Butsudan.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul “Analisis Penggunaan Metode Activity Based Costing Dalam Pembebanan Biaya Overhead Pabrik Pada PT Maruki International Indonesia”.

(21)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan maka adapun rumusan masalahnya adalah : Apakah alokasi perhitungan biaya overhead pabrik dengan pendekatan activity based costing memberikan nilai biaya overhead pabrik yang lebih tepat?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui ketepatan penggunaan activity based costing oleh perusahaan dalam pembebanan biaya overhead pabrik.

D. Manfaat Penelitian

Penulisan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai kalangan yaitu, sebagai berikut :

1. Menambah pengetahuan dan pemahaman penulis tentang penggunaan activity based costing dalam pembebanan biaya overhead pabrik secara tepat dengan membandingkan antara teori -teori yang diterima dalam perkuliah an dengan praktek yang sebenarnya terjadi di dalam perusahaan .

2. Menambah pengetahuan penulis tentang manfaat dari penggunaan activity based costing dalam pembebanan biaya overhead pabrik.

3. Sebagai bahan bacaaan atau literatur bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan penelitian ini.

(22)

E. Hipotesis

Diduga bahwa pembebana biaya overhead sudah tepat/efektif menggunakan metode Activity Based Costing pada PT. Maruki International Indonesia.

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Biaya dan Klasifikasi Biaya 1. Konsep Biaya

Dalam melaksanakan tanggung jawab perencanaan dan pengendalian manajemen membutuhkan pemahaman akan arti biaya dan terminologi yang berkaitan dengan biaya. Pembebanan biaya atas produk, jasa, pelanggan dan objek lain yang merupakan kepentingan manajemen, adalah salah satu tujuan dasar sistem informasi akuntasi manajemen. Peningkatan keakuratan pembebanan biaya menghasilkan informasi yang lebih bermutu tinggi yang kemudian dapat digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik. Memperbaiki penentuan biaya telah menjadi pengembangan utama dalam bidang manajemen biaya. Sebelum membicarakan proses penentuan biaya, baiknya menentukan mengenai definisi biaya (cost).

Biaya (cost) dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu : aktiva atau aset dan beban atau expense. Biaya akan dicatat sebagai aktiva atau aset apabila memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Sedangkan biaya akan dikategorikan sebagai beban atau expense jika memberikan manfaat pada periode akuntansi berjalan.

Aktiva atau aset juga dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu :aktiva atau aset dan beban atau expense. Jika aktiva atau aset tersebut belum terpakai, maka tetap dicatat sebagai aktiva atau aset.

12

(24)

Sedangkan apabila aktiva atau aset tersebut telah digunakan, maka akan dicatat sebagai beban.

Hansen dan Mowen (2006) mendefinisikan biaya sebagai berikut : Biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa datang bagi organisasi.

Dikatakan sebagai ekuivalen kas karena sumber nonkas dapat ditukar dengan barang atau jasa yang diinginkan. Sebagai contoh, menukar peralatan dengan bahan yang digunakan untuk produksi. Dalam usaha menghasilkan manfaat saat ini dan di masa depan, manajemen suatu organisasi harus melakukan berbagai usaha untuk meminimumkan biaya yang dibutuhkan dalam mencapai keuntungan tertentu. Mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk mencapai manfaat tertentu memiliki arti bahwa perusahaan menjadi lebih efisien. Biaya tidak harus ditekan, tetapi juga harus dikelola secara strategis.

Adapun definisi biaya menurut Ahmad dan Abdullah (2012:22), yaitu: Biaya (cost) adalah pengeluaran-pengeluaran atau nilai pengorbanan untuk memperoleh barang atau jasa yang berguna untuk masa yang akan datang atau mempunyai manfaat melebihi satu periode akuntansi.

2. Klasifikasi Biaya

klasifikasi biaya diperlukan untuk menyampaikan dan menyajikan data biaya agar berguna bagi manajemen dalam mencapai berbagai tujuannya.

Menurut Ahmad dan Abdullah (2012:23), pengklasifikasian biaya dapat dilakuakan atas dasar:

(25)

a. Objek biaya (cost object) merupakan suatu dasar yang digunakan untuk melakukan perhitungan biaya. Oleh karena itu, dalam sebuah perusahaan terdapat banyak hal yang dijadikan objek biaya diantaranya adalah:

1. Berdasarkan produk

a. Biaya bahan langsung merupakan biaya perolehan dari seluruh bahan langsung yang menjadi bagian yang integral yang membentuk barang jadi.

b. Biaya tenaga kerja langsung adalah upah dari semua tenaga kerja langsung yang secara fisik baik menggunakan tangan maupun mesin ikut dalam proses produksi untuk menghasilkan suatu produk atau barang jadi.

c. Biaya overhead pabrik adalah semua biaya untuk memproduksi suatu produk selain dari bahan langsung dan tenaga kerja langsung.

2. Berdasarkan departemen

a. Departemen produksi merupakan unit organisasi dari suatu perusahaan manufaktur dimana proses produksi dilaksanakan secara langsung atas produk, baik dengan tangan maupun dengan menggunakan mesin.

b. Departemen pendukung merupakan suatu unit organisasi yang secara tidak langsung terlibat dalam proses produksi.

b. Perilaku biaya

Ditinjau dari perilaku biaya terhadap perubahan dalam tingkat kegiatan atau volume maka biaya-biaya dapat dikategorikan dalam tiga jenis biaya, yaitu: biaya variabel, biaya tetap, dan biaya semi variabel.

(26)

1. Biaya variabel adalah biaya-biaya yang dalam total berubah secara langsung dengan adanya perubahan tingkat kegiatan atau volume, volume produksi ataupun volume penjualan.

2. Biaya tetap adalah biaya-biaya yang secara total tetap tidak berubah dengan adanya perubahan tingkat kegiatan atau volume dalam batas- batas dari tingkat kegiatan yang relevan atau dalam periode waktu tertentu.

3. Biaya semi variabel adalah biaya-biaya yang mempunyai atau mengandum unsur tetap dan unsur variabel.

3. Berdasarkan periode Akuntansi

Dalam pengklasifikasian biaya sehubungan dengan periode akuntansi, biaya-biaya dibedakan berdasarkan waktu atau kapan biaya- biaya tersebut dibebankan terhadap pendapatan. Sehubungan dengan periode akuntansi ada dua kategori kelompok biaya sebagai berikut:

a. Biaya produk adalah biaya yang sama dengan biaya produksi yaitu bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Biaya- biaya ini pada saat terjadinya dicatat dan dialokasikan sebagai persediaan, tetapi apabila terjadi penjualan atas persediaan atau produk, maka biaya dari persediaan akan menjadi harga/beban pokok penjualan yang akan dibandingkan dengan pendapatan yang telah terealisasi dari penjualan tersebut.

(27)

b. Biaya periode adalah biaya-biaya yang tidak berhubungan dengan persediaan atau produk tetapi berhubungan dengan periode waktu atau periode akuntansi.

4. Menurut fungsi manajemen atau jenis kegiatan fungsional

Berdasarkan pada jenis kegiatan fungsional maka biaya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Biaya produksi, biaya yang terjadi untuk menghasilkan produk hingga siap untuk dijual.

b. Biaya penjualan, biaya-biaya yang terjadi untuk menjual suatu produk atau jasa.

c. Biaya umum/administrasi, biaya-biaya yang terjadi untuk memimpin, mengendalikan, dan manjalankan suatu perusahaan

B. Biaya Overhead Pabrik

1. Pengertian Biaya Overhead Pabrik

Biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) biaya overhead pabrik variabel, (2) biaya overhead pabrik tetap, dan (3) biaya overhead pabrik campuran. Biaya overhead pabrik variabel adalah biaya overhead pabrik yang jumlah totalnya akan berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya overhead pabrik variabel adalah biaya bahan penolong. Biaya overhead pabrik tetap adalah biaya overhead pabrik yang jumlah totalnya (dalam kisaran tertentu) tidak berubah walaupun terjadi perubahan volume kegiatan.

(28)

Contoh biaya overhead pabrik tetap adalah pajak bumi dan bangunan, biaya penyusutan aktiva tetap, dan biaya sewa gedung pabrik. Biaya overhead pabrik campuran dapat dibedakan menjadi biaya overhead pabrik semivariabel, misalnya biaya listrik pabrik dan biaya telepon pabrik, dan biaya overhead pabrik bertahap, misalnya gaji supervisor dan gaji inspektur.

Biaya overhead pabrik tidak dapat diidentifikasi secara langsung kepada produk yang menggunakannya atau mengkonsumsinya. Biaya overhead pabrik umumnya dikonsumsi oleh lebih dari satu departemen produksi. Oleh karena itu diperlukan satu prosedur distribusi biaya untuk membebankan biaya overhead pabrik ini kepada tiap produk yang mengkonsumsinya.

Overhead pabrik adalah bahan baku tidak langsung dan tenaga kerja tidak langsung serta biaya tidak langsung lainnya yang tidak dapat ditelusuri secara langsung ke produk selesai atau tujuan akhir biaya. Istilah lain yang dapat digunakan untuk overhead pabrik adalah biaya produksi tifak langsung.

2. Karakteristik Biaya Overhead Pabrik

Pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk perlu dipertimbangkan guna mengetahui jumlah biaya yang sewajarnya dibebankan kepada produk. Dua karakteristik yang perlu dipertimbangkan tersebut adalah:

a. Hubungan overhead pabrik dengan produk atau volume produksi.

Pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk perlu diperhitungkan karena overhead pabrik adalah bagian dari biaya produk, tetapi

(29)

pembebana overhead pabrik sulit diperhitungkan karena biaya tersebut tidak dapat ditelusuri secara langsung kepada produk selesai seperti pembebanan biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.

b. Overhead pabrik berurusan dengan elemen-elemen biaya yang berhubungan dengan perubahan biaya overhead pabrik terhadap perubahan volume produksi. Apabila overhead pabrik tersebut dihubungkan dengan perubahan volume produksi makan biaya overhead pabrik dapat dipisahkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel.

3. Penggolongan Biaya Overhead Pabrik

Menurut Mulyadi (2012:193), biaya overhead pabrik dapat digolongkan dengan tiga cara penggolongan:

1. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya.

Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik dikelompokkan menjadi beberapa golong berikut ini:

Biaya Bahan Penolong. Biaya bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil dibanding dengan harga pokok produksi tersebut.

Biaya Reparasi dan pemeliharaan. Biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan

(30)

habis pakai (factory suplies) dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplasemen, perumahan, bangunan pabrik, mesin-mesin dan ekuiplen, kendaraan, perkakas laboratorium, dan aktiva tetap lain yang digunakan untuk keperluan pabrik.

Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung. Biaya tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja pabrik yang upahnya tidak dapat diperhitungkan secara langsung secara langsung kepada produk atau pesanan tertentu.

Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap. Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik, bangunan pabrik, mesin dan ekuipmen, perkakas loboratarium, alat kerja, dan aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik.

Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu. Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya asuransi gedung dan emplasemen, asuransi mesin dan ekuipmen, asuransi kendaraan, asuransi kecelakaan karyawan, dan biaya amortisasi kerugian trial-run.

Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai. Biaya overhead pabrik yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya reparasi yang

(31)

diserahkan kepada pihak luar perusahaan, biaya listrik PLN dan sebagainya.

2. Penggolongan Biaya Overhead Pabrik Menurut Perilaku dan Hubungannya dengan Perubahan Volume Produksi

Ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi tiga golongan:

a. Biaya overhead pabrik tetap adalah biaya overhead pabrik yang tidak berubah dalam kisar perubahan volume kegiatan tertentu.

b. Biaya overhead pabrik variabel adalah biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

c. Biaya overhead pabrik semivariabel adalah biaya overhead pabrik yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

3. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan departemen.

Ditinjau dari hubungannya dengan departemen-departemen yang ada dalam pabrik, biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi dua kelompok :

1. Biaya overhead langsung departemen adalah biaya overhead pabrik yang terjadi dalam departemen tertentu dan manfaatnya hanya dinikmati oleh departemen itu sendiri. Contoh biaya ini

(32)

adalah gaji mandor departemen produksi, biaya depresiasi mesin, dan biaya bahan penolong.

2. Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen adalah biaya overhead pabrik yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Contoh biaya overhead pabrik ini adalah biaya depresiasi, biaya pemeliharaan dan asuransi gedung pabrik.

C. Activity Based Costing (ABC)

1. Pengertian Activity Based Costing

Sistem Activity Based Costing (ABC) merupakan salah satu upaya meningkatkan akurasi informasi biaya dari sistem akuntansi biaya konvensional.

Activity Based Costing adalah sistem akuntansi yang terfokus pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk atau jasa.

Activity Based Costing menyediakan informasi perihal aktivitas-akrivitas dan sumber-sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut (Islahuzzaman, 2011:39).

ABC (Activity Based Costing) sebagai suatu sistem pendekatan perhitungan biaya yang dilakukan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada di perusahaan Hongren (2008).

` Sistem ABC timbul sebagai akibat dari kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi yang mampu mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk secara akurat. Hal ini didorong oleh:

(33)

1. Persaingan global yang tajam yang memaksa perusahaan untuk cost effective

2. Advanced manufacturing technology yang menyebabkan proporsi biaya overhead pabrik dalam product cost menjadi lebih tinggi dari primary cost.

3. Adanya strategi perusahaan yang menerapkan market driven strategy Sistem ini dilakukan dengan dasar pemikiran bahwa penyebab timbulnya biaya adalah aktivitas yang dilakukan dalam suatu perusahaan, sehingga wajar bila pengalokasian biaya-biaya tidak langsung dilakukan berdasarkan aktivitas tersebut.

Activity Based Costing memiliki perbedaan dengan sistem akuntansi biaya tradisional, menurut Garrison dan Noreen (2000 : 343) perbedaan activity based costing dengan sistem akuntansi biaya tradisional antara lain :

1) Biaya produksi dan non-produksi dibebankan ke produk.

Dalam akuntansi tradisional, hanya biaya produks i yang dibebankan ke produk. Beban penjualan, administrasi dan umum diperlakukan sebagai beban periodik dan tidak dibebankan ke produk.

Komisi tenaga penjualan dapat dengan mudah ditelusuri ke produk, oleh karena itu dalam activity based costing biaya non produksi tersebut dibebankan ke produk.

2) Beberapa biaya produksi tidak dimasukkan ke biaya produk.

Dalam akuntansi tradisional semua biaya produksi dibebankan ke produk bahkan biaya produksi yang tidak disebabkan oleh produk.

Sebagai contoh, upah untuk keamanan pabrik dialokasikan ke produk meskipun upah penjaga keamanan tersebut tidak terpengaruh apakah

(34)

perusahaan berproduksi atau tidak. Dalam activity based costing hanya biaya yang mempengaruhi produk yang akan dibebankan ke produk

3) Ada sejumlah pool biaya overhead, setiap pool dialokasikan ke produk dan objek costing lainnya dengan menggunakan ukuran aktivitas masing- masing yang khususus.

Dalam activity based costing setiap pool dialokasikan ke produk dengan menggunakan ukuran aktivitas yaitu dengan mengidentifikasi aktivitas utama seperti batch set up, pemrosesan order pembelian dan aktivitas lainnya yang mengkonsumsi overhead pabrik.

4) Basis alokasi biasanya berbeda dengan basis alokasi dalam sistem akuntansi biaya tradisional.

Dalam akuntansi biaya tradisional pembebanan biaya overhead pabrik menggunakan cost driver yang berbasis volume atau cost driver berlevel unit seperti jam kerja langsung, jam mesin dan unit output.

Sedangkan dalam activity based costing, sumber daya yang digunakan untuk aktivitas yang dilakukan dihubungkan ke objek biaya seperti produk.

5) Tarif overhead atau tingkat aktivitas disesuaikan dengan kapasitas aktivitas dan bukannya dengan kapasitas yang dianggarkan.

Dalam akuntansi biaya tradisional, tarif overhead yang ditentukan di muka dihitung dengan membagi anggaran biaya overhead dengan ukuran aktivitas yang dianggarkan. Hal ini akan mengakibatkan pembebanan kapasitas yang menganggur ke produk dan juga akan menyebabkan biaya produksi per unit yang tidak stabil. Berbeda dengan

(35)

activity based costing, dimana produk hanya dibebani biaya dari kapasitas yang digunakan dan tidak dibebani oleh biaya kapasitas yang tidak digunakan. Pendekatan ini menyebabkan biaya per unit yang lebih stabil dan konsisten dengan tujuan pembebanan biaya ke produk yang menyebabkan aktivitas

Garrison menambahkan ABC biasanya digunakan sebagai pelengkap bukan sebagai pengganti sistem biaya yang biasa dipakai perusahaan.

Kebanyakan perusahaan yang menggunakan ABC memiliki dua sistem biaya, sistem biaya resmi yang disiapkan untuk laporan keuangan eksternal dan ABC yang digunakan untuk pengambilan keputusan internal dan untuk menjalankan aktivitas.

Penerapan ABC sistem akan relevan bila biaya overhead pabrik merupakan biaya yang paling dominan dan multiproduk. Dalam merancang ABC sistem, aktivitas untuk membuat dan menjual produk digolongkan dalam 4 kelompok, yaitu:

a. Facility sustaining activity cost - biaya yang berkaitan dengan aktivitas mempertahankan kapasitas yang dimiliki perusahaan. Misal biaya depresiasi, biaya asuransi, biaya gaji pegawai kunci

b. Product sustaining activity cost - biaya yang berkaitan dengan aktivitas penelitian dan pengembangan produk dan biaya untuk mempertahankan produk untuk tetap dapat dipasarkan. Misal biaya pengujian produk, biaya desain produk.

(36)

c. Bacth activity cost - biaya yang berkaitan dengan jumlah bacth produk yang diproduksi. Misal biaya setup mesin.

d. Unit level activity cost - biaya yang berkaitan dengan besar kecilnya jumlah unit produk yang dihasilkan. Misal biaya bahan baku, biaya tenaga kerja.

Dari definisi-definisi diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Activity-Based Costing (ABC) merupakan suatu sistem informasi akuntansi yang mengidentifikasi berbagai aktivitas yang dikerjakan dalam suatu organisasi dan mengumpulkan biaya dengan dasar dan sifat yang ada dan perluasan dari aktivitasnya. ABC memfokuskan pada biaya yang melekat pada produk berdasarkan aktivitas untuk memproduksi, mendistribusikan atau menunjang produk yang bersangkutan.

2. Kriteria Penerapan Activity Based Costing System Pada Perusahaan a. Prosedur Activity Based Cosring

Dalam penerapannya, terdapat beberapa kriteria penerapan Activity Based Costing pada perusahaan, antara lain :

1. Product diversity

Menunjukkan jumlah dan keanekaragaman product families yang ditawarkan. Dalam hal ini semakin banyak produk yang dihasilkan, maka semakin cocok menggunakan analisis ABC. Hal ini dikarenakan jika semakin banyak beragam produk yang dihasilkan akan berakibat semakin beragam pula aktivitasnya sehingga semakin tinggi pula tingkat distorsi biaya.

(37)

2. Support diversity

Menunjukkan jumlah dan keanekaragaman aktivitas yang mengakibatkan tingginya pengeluaran biaya overhead. Hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam pengalokasian biaya overhead.

Jadi, semakin banyak jumlah dan keanekaragaman aktivitas maka semakin cocok menggunakan analisis ABC.

3. Common processes

Menunjukkan tinggi rendahnya tingkat kegiatan yang dilakukan secara bersama untuk menghasilkan produk-produk tertentu sehingga biaya periode masing-masing produk sulit dipisahkan.

Kegiatan bersama tersebut misalnya : kegiatan manufacturing, engineering, marketing, distribution, accounting, material handling dan sebagainya. Banyaknya departemen yang diperlukan dalam menjalankan operasi perusahaan akan menyebabkan banyaknya common cost. Hal itu berdampak pada sulitnya alokasi biaya per produk. Jadi, semakin tinggi tingkat common processes maka semakin cocok menggunakan analisis ABC.

4. Period cost allocation

Menunjukkan kemampuan sistem akuntansi biaya yang ada mengalokasikan biaya periode secara akurat. Biaya periode merupakan biaya uang diidentifikasi dengan interval waktu tertentu karena tidak diperlukan untuk memperoleh barang atau produk yang akan dijual.

Untuk dapat memperkecil biaya produk maka lebih disarankan biaya

(38)

agar biaya periode menjadi proporsi yang paling besar dalam produk. Perusahaan yang telah menerapkan hal tersebut maka cocok untuk menggunakan analisis ABC.

5. Rate of growth of period costs

Menunjukkan tingkat kecepatan pertumbuhan biaya periode sepanjang tahun. Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan biaya periode yang pesat akan akan sulit untuk mengalokasikan biaya, dan sehingga tingkat kemungkinan untuk terjadinya distorsi biaya menjadi tinggi. Maka perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan biaya periode yang pesat, cocok dalam penggunaan analisis ABC.

6. Pricing freedom

Menunjukkan tingkat independensi perusahaan dalam menentukan harga sehingga menghasilkan product profitability.

Perusahaan yang memiliki ketidakbebasan dalam menentukan harga biasanya disebabkan adanya persaingan dengan kompetitor dalam pasar. Persaingan tersebut berdampak pada penentuan biaya yang tepat bagi perusahaan. Maka perusahaan yang tidak memiliki tingkat independensi untuk menentukan harga maka perusahaan tersebut cocok dengan menggunakan analisis ABC.

7. Period expense ratio

Menunjukkan kemungkinan terjadinya distorsi biaya produk secara material. Ini berkaitan dengan seberapa tingkat pengaruh penurunan ataupun kenaikan biaya dengan proporsi laba. Jika laba

(39)

perusahaan tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan maka perusahaan cocok menggunakan analisis ABC.

8. Strategic considerations

Menunjukkan seberapa penting informasi biaya dimanfaatkan dalam proses pengambilan keputusan manajemen.

Keputusan yang diambil oleh manajemen berkaitan dengan strategi yang diterapkan oleh perusahaan, tidak hanya terbatas pada strategi pemasaran. Sehingga semakin penting informasi biaya dalam pengambilan keputusan maka perusahaan cocok menggunakan analisis ABC.

9. Cost reduction effort

Menggambarkan seberapa penting akurasi pelaporan alokasi biaya periode untuk pengambilan keputusan internal manajemen.

Adanya keakuratan pelaporan alokasi biaya periode juga berkaitan dengan evaluasi bagi internal manajemen. Pihak manajemen dapat menggunakan informasi yang disajikan dalam laporan tersebut untuk membuat kebijakan yang lebih tepat pada kemudian hari. Jadi, semakin tinggi tingkat kepentingan akurasi maka semakin cocok menggunakan analisis ABC.

10. Analysis of frequency

Menunjukkan tinggi rendahnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis biaya pada produk. Banyak kegiatan berkaitan dengan frekuensi kebutuhan informasi biaya. Semakin tinggi

(40)

tingkat frekuensinya maka tingkat keakuratan alokasi biaya pun juga semakin dibutuhkan. Maka semakin tinggi tingkat frekuensinya, perusahaan semakin cocok menggunakan analisis ABC.

1. Cost drive dan cost pool

Cost driver merupakan faktor yang dapat diukur dan digunakan untuk membebankan biaya ke aktivitas dan dari aktivitas ke aktivitas lainnya, produk, atau jasa. Cost driver menurut Rudianto (2006 : 275) adalah faktor –faktor yang menyebabkan perubahan biaya aktivitas. Dua jenis pemicu biaya yang dikenal adalah :

a. Pemicu sumber daya (resource driver)

Adalah ukuran kuantitas sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas. Pemacu sumber daya digunakan untuk membebankan biaya sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas ke cost pool tertentu.

b. Pemicu aktivitas (activity driver)

Adalah ukuran frekuensi dan intensitas permintaan terhadap suatu aktivitas terhadap objek biaya. Pemicu biaya aktivitas digunakan untuk membebankan biaya dari cost pool ke objek biaya.

Ada dua hal mendasar yang harus dipahami sebelum kemungkinan penerapan metode ABC, yaitu :

a. Biaya berdasarkan non unit harus merupakan prosentase yang signifikan dari biaya overhead. Jika hanya terdapat biaya overhead yang dipengaruhi hanya oleh volume produksi dari keseluruhan

(41)

overhead pabrik maka jika digunakan akuntansi biaya tradisional pun informasi biaya yang dihasilkan masih akurat sehingga penggunaan sistem ABC kehilangan relevansinya. Artinya, Activity Based Costing akan lebih baik diterapkan pada perusahaan yang biaya overheadnya tidak hanya dipengaruhi oleh volume produksi saja.

b. Rasio konsumsi antara aktivitas berdasarkan unit dan berdasarkan non unit harus berbeda. Jika rasio konsumsi antar aktivitas sama, itu artinya semua biaya overhead yang terjadi bisa diterangkan dengan satu pemicu biaya. Pada kondisi ini penggunaan sistem ABC justru tidak tepat karena sistem ABC hanya dibebankan ke produk dengan menggunakan pemicu biaya baik unit maupun non unit (memakai banyak cost driver). Apabila berbagai produk rasio konsumsinya sama, maka sistem akuntansi biaya tradisonal atau sistem ABC membebankan biaya overhead dalam jumlah yang sama.

Jadi, perusahaan yang produksinya homogen (diversifikasi paling rendah) mungkin masih dapat menggunakan sistem tradisional tanpa ada masalah.

b. Manfaat, Kelebihan dan Keterbatasan Sistem Activity Based Costing 1. Manfaat Sistem Activity Based Costing

Manfaat sistem activity based costing sebagai berikut :

- Membantu mengidentifikasikan ketidakefisienan yang terjadi dalam

(42)

proses produksi, baik per departemen, per produk ataupun per aktivitas. Hal ini mungkin dilakukan dengan dengan proses Activity Based Costing, mengingat penerapan sistem Activity Based Costing harus dilakukan melalui analisis atas aktivitas yang terjadi diseluruh perusajaan. Sehingga perusahaan/manager dapat mengetahui dengan jelas tentang biaya yang seharusnya dikeluarkan dan biaya yang seharusnya tidak di keluarkan.

- Membantu pengambilan keputusan dengan lebih baik karena perhitungan biaya asas suatu objek biaya menjadi lebih akurat, hal ini, disebabkan karena perusahaan lebih mengenalperilaku biaya overhead pabrik dan dapat membantu mengalokasikan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk objek biaya yang lebih menguntukan.

- Membantu mengendalikan biaya (terutama biaya overhead pabrik) kepada level individual dan level departemental. Hal ini dapat dilakukan mengingat Activity Based Costing lebih fokus pada biaya per unit dibandingkan biaya total.

2. Kelebihan Sistem Activity Based Costing

Kelebihan dari sistem Activity Based Costing sebagai berikut :

- Biaya produk yang lebih akurat, baik pada industri manufaktur maupun industri jasa lainnya khususnya jika memiliki proporsi

(43)

biaya overhead pabrik yang lebih besar.

- Biaya activity based costing memberikan perhatian pada semua aktivitas, sehingga semakin banyak biaya tidak langsung yang dapat ditelusuri pada objek biayanya.

- Sistem activity based costing mengakui bahwa aktivitas penyeban timbulya biaya sehingga manajemen dapat menganalisis aktivitas dan proses produksi tersebut dengan lebih baik (fokus pada aktivitas yang memiliki nilai tambah) yang pada akhirnya dapat melalukan efesiensi dan akhirnya menurunkan biaya.

- Sistem activity based costing memberi pengukuran yang lebih akurat atas biaya-biaya pemacu aktivitas, yang membantu manager memperbaiki produk dan proses menilai dengan keputusan desain produk yang lebih baik, pengendalian biaya yang lebih baik dan membantu mempertinggi berbagai nilai prijek.

- Sistem Activity based costing membantu manjer lebih mudah mengakses informasi tentang biaya-biaya yang relevan dalam membuat keputusan bisnis.

3. Keterbatasan Sistem Activity Based Costing

Walaupun Activity Based Costing memberi penelususran biaya yang lebih baik untuk produk-produk individu, tetap mempunyai keterbatasan : - Pengalokasian. Sekalipun data aktivitas tersedia, banyak biaya- biaya mungkin perlu alokasi ke produk-produk yang didasarkan atas ukuran volume berubah-ubah karena secara praktis tidak dapat

(44)

ditentukan suatu aktivitas khusus yang menyebabkan timbulnya biaya-biaya tidak menjadi muda. Misalnya, beberapa dari biaya facility-sustaining seperti membersihkan pabrik dan mengatur proses produksi.

- Biaya-biaya yang diabaikan. Banyak biaya produk-produk khusus yang dihilangkan dari analisis. Aktivitas-aktivitas tersebut menyebabkan biaya-biaya seperti pemasaran, pengiklanan, riset dan pengembangan, teknik produk dan klaim jaminan. Biaya-biaya tambahan sederhana dapat ditelusuri ke produk individual dan ditambahkan pada biaya-biaya manufaktur untuk menentukan biaya total produk.

- Biaya dan waktu yang digunakan. Sistem Activity Based costing sangat mahal untuk dikembangkan dan diterapkan. Hal ini juga sangat memakan waktu. Seperti kebanyakan manajemen inovasi atau sistem akuntansi, seringkali memerlukan lebih dari setahun untuk mengembangkan dan melaksanakan activity based costing.

c. Pembebanan Biaya Overhead pada Activity-Based Costing

Pada Activity-Based Costing meskipun pembebanan biaya-biaya overhad pabrik dan produk juga menggunakan dua tahap seperti pada akuntansi biaya tradisional, tetapi pusat biaya yang dipakai untuk pengumpulan biaya-biaya pada tahap pertama dan dasar pembebanan dari

(45)

pusat biaya kepada produk pada tahap kedua sangat berbeda dengan akuntansi biaya tradisional.

Dengan ABC, biaya overhead pabrik dibebankan keobjek biaya seperti produk atau jasa dengan mengidentifikasikan sumber daya, aktivitas dan biayanya serta kuantitas aktivitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi output (Islahuzzaman, 2011:40).

Activity-Based costing menggunakan lebih banyak cost driver bila dibandingkan dengan sistem pembebanan biaya pada akuntansi biaya tradisional.

Sebelum sampai pada prosedure pembebanan dua tahap dalam Activity-Based Costing perlu dipahami hal-hal sebagai berikut:

1. Cost Driver adalah suatu kejadian yang menimbulkan biaya. Cost Driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biaya-biaya overhead. Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama tingkat aktivitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktivitas-aktivitas selanjutnya.

2. Rasio Konsumsi adalah proporsi masing-masing aktivitas yang dikonsumsi oleh setiap produk, dihitung dengan cara membagi jumlah aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk dengan jumlah keseluruhan aktivitas tersebut dari semua jenis produk.

3. Homogeneous Cost Pool merupakan kumpulan biaya dari overhead yang variasi biayanya dapat dikaitkan dengan satu pemicu biaya saja. Atau untuk dapat disebut suatu kelompok biaya yang homogen, aktivitas-

(46)

aktivitas overhead secara logis harus berhubungan dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk.

Sistem biaya Activity Based Costing (ABC) merupakan suatu sistem biaya yang pertama kali menelusuri biaya ke aktivitas dan kemudian ke produk yang dihasilkan. Dalam sistem biaya Activity Based Costing juga dikenal adanya prosedur pembebanan biaya aktivitas kepada produk berdasarkan aktivitas- aktivitas yang dikonsumsi oleh produk yang dihasilkan tersebut.

Pembebanan sumber daya ke aktivitas dilakukan dengan cara : 1. Direct tracing

Sumber daya yang dikonsumsi langsung oleh suatu aktivitas dibebankan ke aktivitas yang bersangkutan dengan menggunakan direct tracing.

Misalkan supplies kantor yang digunakan untuk aktivitas desain dan pengembangan dibebankan langsung ke aktivitas tersebut berdasarkan bill of materials.

2. Alokasi

Sumber daya yang dikonsumsi tidak langsung mempunyai hubungan sebab akibat dengan perubahan aktivitas dibebankan ke aktivitas dengan basis sembarang (arbitary).

3. Driver tracing

Sumber daya yang dikonsumsi dan mempunyai hubungan sebab akibat dengan perubahan aktivitas tertentu dibebankan ke

(47)

aktivitas yang bersangkutan dengan menggunakan driver tracing.

Untuk membebankan sumber daya tersebut dengan driver tracing perlu ditempuh langkah berikut :

a. Pengidentifikasian resource driver sumber daya sebagai basis pembebanan sumber daya ke aktivitas

b. Penghitungan total resource yang akan dibebankan ke aktivitas c. Penghitungan resource driver quantity

d. Penghitungan resource driver rate

Pembebanan sumber daya ke aktivitas ditujukan untuk menghasilkan pembebanan sumber daya secara adil, sesuai dengan konsumsi aktivitas atas sumber daya yang bersangkutan. Sumber daya yang secara langsung dikonsumsi oleh suatu aktivitas dibebankan kepada aktivitas yang bersangkutan dengan direct tracing. Sedangkan untuk membebankan konsumsi sumber daya tidak langsung dikonsumsi oleh suatu aktivitas dapat dibebankan dengan menggunakan driver tracing atau alokasi.

Prosedure pembebanan biaya overhead dengan sisitem ABC melalui dua tahap kegiatan:

a. Tahap Pertama

Pengumpulan biaya dalam cost pool yang memiliki aktifitas yang sejenis atau homogen, terdiri dari 4 langkah :

(48)

1. Mengidentifikasi dan menggolongkan biaya kedalam berbagai aktifitas .

2. Mengklasifikasikan aktifitas biaya kedalam berbagai aktifitas, pada langkah ini biaya digolongkan kedalam aktivitas yang terdiri dari 4 kategori yaitu: Unit level activity costing, Batch related activity costing, product sustaining activity costing, facility sustaining activity costing.

Level tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Aktivitas Berlevel Unit (Unit Level Activities)

Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unit bersifat proporsional dengan jumlah unit produksi. Sebagai contoh, menyediakan tenaga untuk menjalankan peralatan, karena tenaga tersebut cenderung dikonsumsi secara proporsional dengan jumlah unit yang diproduksi.

b. Aktivitas Berlevel Batch (Batch Level Activities)

Aktivitas dilakukan setiap batch diproses, tanpa memperhatikan berapa unit yang ada pada batch tersebut. Misalnya, pekerjaan seperti membuat order produksi dan pengaturan pengiriman konsumen adalah aktivitas berlevel batch.

c. Aktivitas Berlevel Produk (Produk Level Activities)

Aktivitas berlevel produk berkaitan dengan produk spesifik dan biasanya dikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau

(49)

unit yang diproduksi atau dijual. Sebagai contoh merancang produk atau mengiklankan produk.

d. Aktivitas Berlevel Fasilitas (Fasility level activities)

Aktivitas berlevel fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses operasi perusahaan namun banyak sedikitnya aktivitas ini tidak berhubungan dengan volume. Aktivitas ini dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produk yang berbeda. Kategori ini termasuk aktivitas seperti kebersihan kantor, penyediaan jaringan komputer dan sebagainya.

3. Mengidentifikasikan Cost Driver

Dimaksudkan untuk memudahkan dalam penentuan tarif/unit cost driver.

4. Menentukan tarif/unit Cost Driver

Adalah biaya per unit Cost Driver yang dihitung untuk suatu aktivitas.

b. Tahap Kedua

Pada tahap kedua ini, biaya setiap kelompok biaya (cost pool) ditelusuri ke produk. Hal ini dilakukan dengan menggunakan tarif kelompok yang dihitung pada tahap pertama dan dikalikan dengan jumlah sumber daya yang dikonsumsi oleh setiap produk. Tolak ukur ini merupakan kuantitas pemacu biaya yang digunakan oleh setiap produk.

(50)

D. Kerangka Pikir

Untuk dapat meraih keunggulan dalam berkompetisi perusahaan harus dapat berproduksi dengan mengkonsumsi sumber daya secara efektif dan efisien sehingga akan tercipta tingkat produktivitas yang tinggi. Untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah, terlebih pada perusahaan yang sudah menggunakan teknologi manufaktur yang sudah maju/modern, yang ditandai dengan adanya kegiatan otomatisasi dan komputerisasi yang dominan.

Kondisi seperti ini mengakibatkan kegiatan dikonsentrasikan pada perencanaan produksi yang semakin memperkecil keterlibatan tenaga kerja langsung diproduksi yang sebagai konsekuensinya proporsi biaya overhead akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Pada prinsipnya, proses perhitungan biaya overhead pada produk menggunakan dua tingkatan. Tingkatan pertama menentukan biaya overhead ke departemen-departemen produksi berdasarkan beberapa pengukuran aktivitas yang memadai seperti lokasi dan jumlah karyawan.

Setelah seluruh biaya overhead terdistribusi ke departemen-departemen produksi, maka tingkatan kedua adalah membebankan biaya overhead tersebut ke produk-produk dimana pada sistem biaya konvensional yang digunakan sebagai satuan pengukuran adalah volumenya.

Pendekatan volume tersebut mungkin masih memadai untuk industri- industri yang menggunakan fasilitas tradisional dahulu, dimana direct labor merupakan komponen pokok biaya manufaktur. Tetapi kini di era otomatisasi atau komputerisasi yang mengakibatkan adanya penurunan direct labor cost

(51)

dari produk dan jasa secara dramatis dan peningkatan indirect labor cost sebagai pendukung otomatisasi. Maka apabila tidak segera diadakan perbaikan metode biaya overhead, maka perhitungan biaya menjadi tidak tepat.

Sebagai solusi dari permasalahan tersebut di atas, untuk saat ini adalah dengan menerapkan sistem Activity Based Costing (ABC).

Gambar 3.1 Kerangka PT.MARUKI INTERNATIONAL

INDONESIA

BOP TETAP

ACTIVITY BASED COSTING PEMBEBANAN

BIAYA

BOP PABRIK BOP CAMPURAN

(52)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Objek Penelitian

Pada penelitian ini, yang menjadi objek penelitian adalah penggunaan metode Activity Based Costing dalam pembebanan biaya overhead pabrik pada PT Maruki International Indonesia.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Pada Penelitian ini penulis melakukan penelitian di PT Maruki International Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri Makassar (KIMA). Waktu penelitian adalah kurang lebih dua bulan yaitu dimulai dari Maret-April 2014.

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Penelitian Kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan bahan-bahan kepustakaan, dan literatur-literatur yang ada kaitannya dengan penulisan skripsi ini.

b. Penelitian Lapangan (Field Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan teknik :

1. Pengamatan secara langsung dalam perusahaan untuk mend.

Observasi, yaitu teknik penelitian yang dilakukan dengan 41

(53)

mengadakan apatkan data-data yang berhubungan dengan pembahasan penelitian yang dilakukan.

2. Wawancara, yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengadakan wawancara atau tanya-jawab dengan pihak perusahaan yang ditunjuk atau pejabat berwenang yang ada hubungannya dengan data- data proses produksi dan biaya produksi yang dibahas dalam penelitian ini.

D. Jenis dan Sumber Data

Adapun jenis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah:

1) Data Kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari dalam perusahaan yang bukan dalam bentuk angka-angka tetapi dalam bentuk lisan maupun tertulis seperti gambaran umum perusahaan, prosedur-prosedur perusahaan, dan pembagian tugas masing-masing departemen dalam perusahaan.

2) Data Kuantitatif, yaitu data atau informasi yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk angka-angka, seperti laporan jumlah pelanggan, laporan biaya-biaya yang terkait, dan lain-lain.

Sedangkan sumber data yang digunakan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah :

a) Data primer, yaitu data yang diperoleh dengan mengadakan pengamatan secara langsung pada perusahaan serta melakukan wawancara langsung dengan pihak pimpinan dan sejumlah personil yang ada kaitannya dengan penelitian ini.

(54)

b) Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dengan jalan mengumpulkan dokumen-dokumen serta arsip-arsip perusahaan yang ada kaitannya dengan dengan penulisan ini.

E. Metode Analisis

Untuk menganalisis data yang diperoleh, maka telah digunakan metode deskriptif kuantitatif yaitu metode yang tahapan aktivitasnya berdasarkan keputusan pada penilaian obyektif yang didasarkan pada model matematika yang dibuat.

F. Defenisi Oerasional

Untuk memudahkan pemahaman terhadap istilah dari variabel yang digunakan pada penelitian ini, maka berikut ini dijelaskan perihal batasan operasional variabel dalam penelitian.

1. Biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi selain biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung.

2. Activity based costing adalah suatu sistem pendekatan perhitungan biaya yang dilakukan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada di perusahaa

(55)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Perusahaan

PT. Maruki Internasional Indonesia berdiri pada tanggal 18 juni 1997 dengan nama PT. Tokai Material Indonesia dan pada tanggal 14 Januari 2003 berubah nama menjadi PT. Maruki Internasional Indonesia.

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Yukihiro Kitagawa selaku Presiden Direktur.

PT Maruki International Indonesia yang bertaraf internasional sangat mengedepankan kualitas dari produksi yang dihasilkan. Produk utama perusahaan adalah furniture untuk budaya masyarakat Jepang yang disebut Butsudan. Butsudan berfungsi sebagai tempat untuk menghormati dan berkomunikasi dengan para leluhur yang telah wafat. Terdapat berbagai macam jenis dan tipe Butsudan, namun umumnya berbentuk lemari. Butsudan produksi PT Maruki Internasional Indonesia berasal dari bahan baku Kayu. Butsudan yang diproduksi harus selesai tanpa cacat sedikitpun, mulai dari pemilihan kayu, pengolahan, pembuatan sampai pengiriman barang diawasi dengan tepat.

Lokasi Perusahaan berada di Kawasan Industri Makassar (KIMA) dengan luas sekitar 6 Ha. Areal perusahaan berdampingan dengan pemukiman penduduk. Oleh karena itu sebagai bagian dari masyarakat, perusahaan sangat memperhatikan kegiatan dan program Coorporate

44

(56)

Social Responsibility ( CSR ) yang sudah berlangsung dan terus berlanjut, diantaranya adalah Program Beasiswa, Penghijauan, Taman baca, Klinik kesehatan untuk masyarakat dan berbagai kegiatan sosial lainnya. CSR berhubungan dengan tanggung jawab sosial perusahaan ke masyarakat.

Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), saat ini tercatat 515 orang karyawan. Terdiri dari 398 orang laki-laki dan 120 orang perempuan.

Hampir 60% dari jumlah karyawan merupakan warga sekitar areal perusahaan. Fasilitas-fasilitas Perusahaan yang disediakan untuk karyawan antara lain : Klinik kesehatan, Bus Karyawan, Asuransi Kesehattan, Jamsostek, sarana ibadah, kantin dan ruang makan.

B. Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan suatu kerangka yang menunjukkan hubungan antara fungsi-fungsi, bagian-bagian ataupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda dalam suatu organisasi perusahahaan. Jika ditinjau secara teoritis, struktur organisasi PT. Maruki International Indonesia menggunakan struktur organisasi garis dimana garis kekuasaan dan tanggung jawab bercabang pada setiap tingkat mulai dari pimpinan paling tinggi sampai kepada buruh sehingga kalau diperhatikan hubungan setiap orang buruh sampai kepada pimpinan atau sebaliknya merupakan garis lurus. Pada sistem ini terdapat kesatuan perintah yang menjamin disiplin kerja. Berikut Job Describtion dari PT. Maruki International Indonesia.

(57)

1. Presiden Komisaris

Presiden komisaris adalah merupakan pimpinan tertinggi memerintah (to govern) organisasi dengan menetapkan kebijakan- kebijakan dan tujuan-tujuan luas dari perusahaan tersebut, memilih, mengangkat, mendukung dan menilai kinerja dewan eksekutif, memastkan keberadaan dab kecukupan sumber keuangan, mengesahkan anggaran tahunan, bertanggung jawab atas kinerja perusahaan kepada para anggota pemegang saham, menentukan gaji kompensasi mereka sendiri.

2. Presiden Direktur

Presiden direktur merupakan pemimpin tertinggi setelah presiden komisaris dalam perusahaan. Direktur memimpin, mengarahkan dan mengkoordinasi seluruh kegiatan yang ada dalam perusahaan agar tujuan perusahaan dapat tercapai dengan efisien dan efektif. Presiden direktur menentukan kebijakan perusahaan baik yang bersifat intern maupun ekstern terutama pada kegiatan operasional.

3. General Manager

General Manager adalah meneger puncak yang membawahi beberapa orang manager. Generar Manager bertugas mengkoordinasi semua kegiatan manager bagian yang berada dibawah pengawasannya dan berwewenang untuk mengatur dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan kegiatan tiap sub manager.

(58)

4. Divisi Desain

Bertugas mendesain suatu model butsudan 5. Divisi Produksi

Divisi Produksi terdiri dari 6 factory dimana masing-masing factory terdiri dari kepala pabrik yang tugasnya mengontrol kerja karyawan dalam ukuran, kualitas dan kuantitas produksi laporan keputusan Asisten Manager.

6. Devisi Quality Control

Devisi ini bertugas mengontrol kualitas, menjamin pemeliharaan hubungan dari spesifikasi dan standarisasi suatu produk dari penganangannya. Prosesnya, persiapan sampai dengan kemasannya dengan menjamin atau mempertahankan kelayakannya sampai ketahap penyimpanan, proses persiapan sampai pada pengiriman.

7. Departemen PPIC

PPIC terdiri dari 4 divisi yaitu inventory, perencanaan produksi, material dan Hori, masing-masing divisi saling terkait satu sama lain.

a. Inventory

Bertugas mengontrol barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual dalam operasi perusahaan maupun barang-barang yang sedang di dalam proses pembuatan.

Figure

Updating...

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in