13
LANDASAN TEORI
2.1. Semiotika
Untuk mengungkapkan makna konotasi warna hitam dalam shuugi bukuro pada upacara pemakaman atau di Jepang disebut dengan soushiki (葬 式), maka penulis menggunakan analisis semiotika. Semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda (sign) dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, segala sesuatu yang ada di kehidupan manusia dapat dilihat sebagai tanda.
Benny H.Hoed (2008) menulis dalam bukunya “Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya”, bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia.
Semua tanda yang ada di kehidupan manusia memiliki makna atau arti, dengan kata lain ilmu semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang makna yang ada dalam sebuah tanda.
2.1.1 Ferdinand de Saussure (1857-1913)
Awal mulanya ilmu yang mempelajari tanda (semiotika) dikemukan oleh ahli linguistik Swiss yang bernama Ferdinand de Saussure (1857-1913). Ferdinand de Saussure telah membagi tanda (sign) menjadi dua bagian yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda (signifier) adalah bentuk yang tercitra dalam kognisi seseorang, sedangkan petanda (signified) adalah makna yang dipahami oleh pemakai tanda. De Saussure melihat tanda (sign) sebagai sesuatu yang menstruktur yaitu proses pemaknaan berupa kaitan antara petanda dan penanda serta terstruktur yaitu hasil proses tersebut dalam kognisi manusia. Oleh karena itu, teori yang dikemukankan oleh de Saussure dikenal sebagai teori semiotika struktural atau dikotomis. Struktural tersebut merupakan sebuah wujud dari relasi signifier-signified.
Seperti yang dikatakan oleh Benny H.Hoed (2011,29), struktur adalah sebuah bangun abstrak yang terdiri atas sejumlah komponen yang berkaitan satu sama lain untuk membentuk struktur itu.
Berikut ini adalah ilustrasi mengenai teori dikotomis de Saussure:
Tabel 2.1 Ilustrasi teori dikotomis de Saussure
Dari ilustrasi tersebut dapat dilihat bahwa bentuk bintang dan kata (B-I-N-T-A-N-G) memiliki relasi. Bentuk bintang dibaca dalam pikiran pengguna tanda sebagai B-I-N-T- A-N-G bukan pohon maupun kursi. Bentuk bintang sebagai signified sudah terkognisi dalam pikiran manusia sebagai bentuk dari yang bernama B-I-N-T-A-N-G.
De Saussure telah mengemukakan empat konsep teoretis, yakni konsep langue-parole, signifier-signified, sintagmatik-paradigmatik, dan sinkroni-diakroni. (Dalam buku
“Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya”, 10) a. Konsep langue-parole
Menurut De Saussure, bahasa (langage) memiliki dua aspek yaitu, aspek langue dan parole.
Langue adalah sistem abstrak yang secara kolektif diketahui dan disadari oleh suatu masyarakat dan menjadi panduan bagi praktik berbahasa, sedangkan parole adalah praktik berbahasa di dalam kehidupan bermasyarakat atau bersifat individual.
Berikut ini adalah ilustrasi mengenai langue dan parole.
Gambar 2.1 : ilustrasi hubungan langue-parole B-I-N-T-A-N-G
Signifier (penanda)
Signified (petanda)
langue parole
Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa parole merupakan sebuah ruang lingkup yang lebih kecil daripada langue. Parole lebih bersifat individual dan langue lebih bersifat kolektif. Dari berbagai parole akan menghasilkan sebuah langue. Berikut ini contoh dari langue-parole.
Tabel 2.2 Contoh langue-parole
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa langue (struktur bahasa secara umum) terdiri atas beberapa parole (praktek bahasa). Contoh tersebut dapat digunakan dalam bahasa Jepang, dimana languenya adalah struktur bahasa Jepang yang terdiri dari subjek-objek- predikat sedangkan parolenya adalah praktek-praktek bahasa Jepang dari pembelajar bahasa Jepang yang akhirnya menghasilkan struktur bahasa Jepang (S-O-P) yang sudah dikenal secara umum (langue).
b. Konsep signifier-signified
De Saussure melihat tanda terdiri dari dua sisi, yakni signifier sebagai penanda yang merupakan bentuk yang tercitra dalam kognisi masyarakat dan signified sebagai petanda yang merupakan makna yang sudah dipahami oleh pengguna tanda.
Contoh signifier-signified dapat dilihat pada tabel 2.1.
c. Konsep sintagmatik-paradigmatik
Sintagmatik adalah hubungan antartanda yang dapat teramati secara langsung dalam susunan bersifat linear, yakni tanda-tanda yang ditempatkan mengikuti urutan tertentu, sehingga bila urutannya berubah maknanya pun dapat berubah. Analisis sintagmatik berfungsi untuk melihat sebuah tanda merupakan signifikan atau tidak.
Individu Praktek bahasa
Individu Praktek bahasa
Individu Praktek bahasa
Langue
(struktur bahasa secara umum)
parole
Paradigmatik adalah hubungan antartanda yang tidak bersifat langsung, secara ingatan atau asosiatif, yakni hubungan satu tanda dengan yang lain tidak bersifat langsung (tidak berada dalam ruang yang sama)
Berikut ini adalah contoh dari relasi sintagmatik-paradigmatik pada struktur kalimat bahasa Indonesia.
Pola kalimat Subjek Predikat Objek
1 Saya Makan Nasi
2 Kamu Telan Nasi
3 Dia Gigit Nasi
4 Nasi Gigit Dia
Tabel 2.3 Contoh relasi sintagmatik-paradigmatik
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa kalimat-kalimat tersebut telah dibentuk dari sebuah pola kalimat, yaitu subjek-predikat-objek (pola kalimat bahasa Indonesia). Relasi sintagmatik adalah pola kalimat tersebut, jadi jika terjadi pergantian komponen yang berbeda atau tidak bersifat subjek ke dalam kolom pola kalimat subjek, maka makna kalimatnya akan berubah (kalimat ke-4). Relasi paradigmatic tidak mengalami
perubahan makna walaupun mengalami perubahan komponen dalam kalimat tersebut.
d. Konsep Sinkroni-diakroni
De Saussure melihat gejala bahasa dari dua segi, yakni segi sinkroni dan segi diakroni.
Segi sinkroni adalah melihat gejala bahasa pada tataran atau kurun waktu tertentu tanpa melihat proses perkembangan, sedangkan segi diakroni adalah suatu gejala bahasa yang dapat dipandang dari segi proses perkembangan.
Contoh dari sinkroni adalah kajian bahasa Indonesia prakemerdekaan sedangkan contoh dari diakroni adalah perkembangan bahasa Indonesia yang dari awal hingga sekarang.
Relasi Paradigmatik (y)
Relasi sintagmatik (x)
2.1.2 Ronald Barthes (1915-1980)
Teori struktural De Saussure telah didukung dan dikembangkan oleh para pengikutnya, salah satunya adalah Ronald Barthes (1915-1980) yang mengembangkan konsep-konsep de Saussure, yakni konsep hubungan sintagmatik-paradigmatik dan konsep denotasi-konotasi.
2.1.2.1 Relasi Sintagmatik-Paradigmatik
Barthes (1964) mengembangkan pandangan analisis dengan sintagmatik dan paradigmatik de Saussure. Barthes (1964) membicarakan tentang sintagme dan sistem sebagai dasar untuk menganalisis gejala kebudayaan sebagai tanda. Sintagme adalah suatu susunan yang didasari hubungan sintagmatik. Susunan berhubungan erat dengan sebuah relasi.
Seperti yang dikatakan juga oleh Benny H. Hoed (2008,30), “struktur tersusun dari sejumlah komponen yang mempunyai relasi (hubungan) satu sama lain secara tertentu.”
Hal ini dapat melihat contoh dari sistem busana yang dijadikan sebagai tanda dan dianalisis melalui konsep sintagmatik. Dalam mengamati sistem busana, Barthes membedakan antara sintagme dan sistem. Jadi busana dilihat sebagai mencakupi perangkat unsur-unsur busana yang masing-masing mempunyai tempat tertentu pada tubuh manusia.
Sistem busana Tutup kepala
Pelindung tubuh bagian
atas
Pelindung tubuh bagian
bawah
Alas kaki
1 Topi Baju Celana panjang Sepatu
2 Pet Blus Celana pendek Sandal
3 Peci Jas Sarung Selop
4 Kerudung Kaus oblong sarung terompah
Tabel 2.4 Contoh sistem busana dengan relasi sintagmatik
Dari 1-4 merupakan urutan sintagmatis. Setiap bagian atau gabungan merupakan sintagme (susunan). Keseluruhan urutan ini membentuk satu struktur memakai busana dari kepala sampai kaki. Dalam contoh ini, setiap unsur sudah mempunyai tempat sendiri serta saling membedakan sehingga membentuk “makna” (fungsi) masing-masing dan karenanya, unsur-unsur itu berada dalam suatu relasi paradigmatik. Dalam contoh ini, seperti sudah dikemukakan, setiap unsur itu dalam praktik busana tersusun sesuai dengan tempatnya pada tubuh manusia. Jika terjadi pergantian urutan unsur maka akan menghasilkan makna yang berbeda juga.Unsur-unsur ini terjukstaposisi dalam suatu susunan yang disebut dengan susunan sintagmatik.
Seperti sifat utama struktur yang dikemukakan oleh Benny H.Hoed (2008,29) yang menyatakan bahwa struktur mempunyai tiga sifat utama, yakni :
1) Struktur merupakan satu totalitas
Sebuah struktur harus dilihat sebagai sebuah totalitas. Meskipun strukturnya terbentuk dari sejumlah struktur “bawahan” yang lebih kecil, seluruhnya membentuk suatu totalitas dalam struktur yang lebih besar. Jadi, struktur-struktur bawahan berkaitan satu sama lain dan membentuk struktur yang lebih besar.
2) Struktur dapat bertransformasi (susunannya dapat berubah)
Struktur juga bukanlah sesuatu yang statistis, melainkan sesuatu yang dapat bertranspormasi karena konsep struktur bukan hanya “terstruktur” suatu keadaan, tetapi
“menstruktur” sesuatu yang berproses. Jadi, sebuah struktur berkembang baik dari dalam maupun akibat pengaruh dari luar.
3) Struktur dapat mengatur dirinya sendiri (otoregulatif) bila terjadi perubahan pada susunan komponen-komponennya
Sebagai suatu bangun, struktur tersusun dari sejumlah komponen yang membentuknya. Jika ada komponen yang hilang atau berubah tempatnya, maka struktur akan mengatur dirinya sendiri
Struktur tersusun dari sejumlah komponen yang mempunyai relasi satu sama lain secar tertentu. Relasi tersebut merupakan suatu jaringan yang secara keseluruhan disebut sistem. Seperti juga struktur, sistem juga dapat terdiri atas sistem-sistem yang lebih kecil, tetapi berkaitan satu sama lain,untuk membentuk sistem yang lebih besar.
Struktur dan sistem memiliki sedikit perbedaan, yakni struktur merupakan suatu bangun, sadangkan sistem adalah jaringan relasi antar komponen. Relasi dalam suatu sistem dapat merupakan relasi intrastruktur (di dalam struktur) yang disebut sebagai relasi sintagmatik. Relasi antara komponen suatu struktur dengan unsur di luar struktur yang bersangkutan disebut sebagai relasi paradigmatik.
Konsep Sintagmatik dan paradigmatik menyangkut pada sifat relasi antar komponen dalam struktur dan sistem. Sintagmatik adalah relasi antarkomponen dalam struktur yang sama, sedangkan paradigmatic adalah relasi antarkomponen dalam suatu struktur dan komponen lain di luar struktur itu (bersifat asosiatif). Contoh relasi sintagmatik dapat dilihat sebagai berikut ini.
a. Anjing menggigit saya b. Saya menggigit anjing
Dalam contoh a di atas, relsi antara saya, menggigit, dan anjing sudah tertentu sesuai dengan urutannya dan mempunyai makna tertentu. Relasi tersebut disebut dengan relasi sintagmatik. Jika urutannya berubah seperti contoh b, maka mkananya juga akan berubah. Dalam contoh tersebut, komponen anjing, menggigit dan saya berada dakam sebuag struktur.
Dalam contoh di atas, anjing merupakan satu dari sejumlah kata yang bermakna maknawi, seperti kucing, ular atau harimau. Menggigit juga memiliki relasi asosiatif dengan memakan, menerkam, atau melukai. Dan saya berkaitan langsung secara
relasional asosiatif dengan dia, kamu, atau Anda. Hubungan in absentia dan asosiatif ini disebut relasi paradigmatik dan terjadi dengan komponen diluar struktur.
Contoh di atas dapat ditampilkan dengan tabel struktur pola kalimat berikut.
Pola kalimat Subjek Predikat Objek
1 Anjing Menggigit Saya
2 Kucing Memakan Dia
3 Ular Melukai Kamu
4 Harimau Menerkam Anda
Tabel 2.5 Relasi sintagmatik paradigmatik
2.1.2.2 Makna Denotasi dan Konotasi
Semiotik melihat berbagai gejala dalam suatu kebudayaan sebagai tanda yang dimaknai oleh masyarakat. seperti yang dikatakan oleh De Saussure, tanda terdiri dari signifier (penanda) dan signified (petanda). Signifier (penanda) adalah bentuk atau citra yang ditangkap oleh pengguna tanda, sedangkan signified (petanda) adalah makna dari tanda tersebut.
Seperti contoh yang dikemukakan oleh de Saussure yang melihat permainan catur sebagai sebuah tanda. Menurut de Saussure, anak catur sebagai penanda dan jalan yang dibolehkan oleh setiap anak catur adalah sebagai petandanya.
Tabel 2.6 Ilustrasi “permainan catur” dilihat sebagai tanda (sign) Anak catur
Jalan yang diperbolehkan oleh
setiap catur
C at u r
Relasi Paradigmatik (y)
Relasi sintagmatik (x)
Barthes (1957) menggunakan teori signifier-signified sebagai dasar teori, tetapi ada sedikit berbedanya dengan teori signifier-signified de Saussure yaitu Barthes mengatakan bahwa antara signifier dan signified harus ada relasi tertentu, sehingga terbentuk tanda. Barthes merumuskan tanda sebagai sistem yang terdiri dari expression [E] (sama dengan signifier atau penandanya de Saussure), content [C] (sama dengan signified atau petandanya de Saussure) dan di antara expression dengan content harus ada relation [R]. Menurut Barthes bahwa [E][R][C] adalah sistem tanda dasar dan umum, sehingga teori tersebut dikembangkan dan memperoleh teori denotasi dan konotasi.
Denotasi adalah pemaknaan awal yang dikenal secara umum dalam setiap tanda yang kemudian disebut oleh Barthes sebagai “sistem primer”. Menurut Barthes (dalam buku Benny H.Hoed;2011,45), content dapat dikembangkan, yang menyebabkan tanda pertama (penulis sebut sebagai E1 R1 C1) berkembang menjadi E2 sehingga menjadi tanda kedua, yaitu E2 (E1 R1 C1) R2 C2. Pengembangan tersebut disebut sebagai makna konotasi atau “sistem sekunder”. Barthes menggambarkan kedua makna tersebut sebagai berikut :
Sistem kedua (Konotasi) E2
(E1 + C1) C2
E1 C1
Sistem pertama (Denotasi)
Tabel 2.7 Ilustrasi pemaknaan denotasi konotasi
Dalam buku Benny H.Hoed (2012,46) terdapat contoh yang telah menerapkan teori denotasi konotasi Roland Bathes, yaitu sebagai berikut :
Bagi kelompok masyarakat tertentu, bendera Amerika Serikat bukan sekadar bendera sebuah negara. Relasi [R] antara [E] (konsep bendera AS) da [C] (salah satu lambang yang mewakili negara AS) pada sistem primernya memang demikian. Akan tetapi, untuk kalangan tertentu, dalam sistem sekundernyaf terjadi perkembangan C, yakni “lambang
negara aggressor” atau “lambang negara teroris”. Dengan demikian, R anara Edan C berubah dalam sistem sekunder. Ini adalah suatu gejala konmotasi yang semakin mkengemuka pascaperistiwa penghancuran gedung WTC di New York bulan September 2001 dan serangan AS ke Afganistan.
Pada contoh di atas, jika digambarkan sesuai dengan skema teori konotasi Bathes maka akan menjadi seperti di bawah ini :
Sistem kedua (Konotasi)
Sistem Pertama (Denotasi)
Tabel 2.8 Ilustrasi pemaknaan denotasi konotasi terhadap Bendera AS 2.2 Goshiki
Goshiki (五色) adalah lima unsur warna dalam ajaran agama Buddha, yaitu terdiri dari warna merah, biru, kuning, hitam dan putih.
Ketua Himpunan Daruma Jepang atau di bahasa Jepang disebut dengan nihon daruma kai kaichou (日 本 達 磨 会 会 長), Sano Taigi (佐野大 義, 1918-2007) dalam
goshiki nekake daruma no yurai( 五 色 願 か け 達 磨 の 由 来 ) yang menyatakan bahwa goshiki ini berhubungan dengan lima harapan.
(sumber :http://darumadera.jp/daruma.html Akses 07-07-2014) C1
Bendera sebuah negara E1
Bendera AS
C2
Lambang negara aggressor atau lambang negara teroris E2
Bendera negara AS
Menurut Sano (佐野),
“仏教徒を象徴する旗がある。世界中どこでも青、黄、赤、白、黒の五色で す。”
Terjemahan :
“Di dunia ini terdapat bendera Buddis yang melambankan para murid-murid ajaran Buddha. Berdera tersebut terdiri dari lima warna yang ada di dunia ini, yakni hijau, kuning, merah, putih dan hitam.”
Di dunia ini terdapat lima warna yang bisa melambangkan elemen-elemen yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari .
Seperti yang dikatakan oleh Sano (佐野),
“青は空を、黄は風を、赤は火を、白は水を、黒は地を象徴する。これを五 大とも言ふ。宇宙生成、発展、消滅の五大要素です。”
Terjemahan:
“Warna telah melambangkan lima elemen terpenting di dunia ini, yakni biru melambangkan langit, kuning melambangkan angina, merah melambangkan api, putih melambangkan air, dan hitam melambangkan bumi. Kelima elemen tersebut dapat mempengaruhi semesta dalam masa generasi, pengembangan dan penghancuran.”
Selain kelima elemen yang membentuk semesta, goshiki atau lima warna ini juga berhubungan dengan tubuh manusia. Dalam kontek ini dikaitkan dengan lima elemen dunia, yakni langit, angin, api, air dan bumi.
Menurut Sano (佐野),
“この五大は人間の身体にもたとえられる。頭は空、咽喉は風、胸は火、腹 は水、足は地と人間生きて立つ姿をあらす。”
Terjemahan :
“Kelima elemen dunia ini disamakan dengan tubuh manusia, yaitu kepala dengan langit, tenggorokan dengan angin, dada dengan api, perut dengan air, serta kaki dengan bumi sebagai sosok berdiri dan tempat tinggal manusia.”
Jadi, goshiki bukan hanya sekedar warna tetapi juga memiliki arti tertentu dan dapat melambangkan unsur-unsur yang ada di dunia ini.
2.3 Semiosphere
Budaya adalah tanda yang sangat luas, segala macam budaya dapat dimengerti sebagai tanda. Budaya biasanya berada dalam proses perubahan yang konstan. Oleh karena itu, penulis menggunakan teori semiosphere untuk menyatukan ciri-ciri yang sama sehingga penulis dapat mendapatkan makna yang sama dengan ciri-ciri tersebut.
Seperti pengertian semiosphere yang dikatakan oleh Juri Lotman (1990;125),
Semiosphere is a semiotic space that is necessary for the existence and functioning of languages and other sign systems. All semiotic systems are “immersed” in a semiotic space and “can only function by interaction with that space”
Terjemahan :
“Semiosphere adalah ruang semiotik yang diperlukan untuk keberadaan dan fungsi bahasa serta sistem tanda lainnya. Semua sistem semiotik dapat “diletakkan” dalam sebuah ruang dan mampu menjelaskan interaksi fungsi tanda dalam ruang tersebut.”