• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

7 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Penelitian Terdahulu

Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian yang sedang dilakukan saat ini, Karena terdapat keterkaitan diantaranya. Studi dari penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya merupakan bagian penting untuk menjadi acuan dan membantu peneliti dalam menentukan asumsi dasar, terutama mengenai bagaimana stereotype perempuan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat di lihat dari karakter Bu Tejo.

Penelitian pertama yang pernah dilakukan pada tahun 2015 dengan judul penelitian “Representasi Perempuan Dalam Film Wanita Tetap Wanita (Analisis Semiotika Representasi Perempuan dalam Film Wanita Tetap Wanita)”. Film ini merupakan film omnibus tentang lima tokoh perempuan yang memiliki latar belakang dan sosial yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perempuan menghadapi suatu masalah yang dihadapinya. Dimana kuat nya sistem partiaki membuat perempuan digambarkan lemah, tertindas, dan digolongkan kepada kaum nomor dua. Sehingga penelitian ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes dalam mencari makna denotasi, makna konotasi, dan mitos untuk menganalisis sebuah tanda pada film yang merepresentasikan perempuan di dalam film ini.

Setelah menganalisis setiap pemaknaan tanda yang terdapat dalam film Wanita Tetap Wanita, maka diperoleh hasil bahwa makna-makna yang terdapat di film ini merepresentasikan perempuan sebagai perempuan yang kuat karena perempuan bisa bangkit dari tindasan dan mampu melawan setiap tindasan tersebut, perempuan pintar karena tidak hanya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga saja tetapi juga bisa kreatif terhadap sesuatu, dan perempuan bekerja keras karena kemampuannya bekerja sebagai tulang punggung keluarganya.

(2)

8 Penelitian yang pernah juga dilakukan berjudul “Stereotype Perempuan Dalam Film Get Marrid Analisis Semiotika Roland Bhartes” tahun 2016 yang merupakan Journal Ilmu Administrasi Bisnis, 4(2): 176-185. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tanda-tanda dan pesan yang menstereotipkan perempuan di dalam film ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Dimana hasil yang diperoleh di dalam penelitian ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes dengan menganalisis dua sistem pemaknaan yang dikemukakan Barthes yaitu, makna denotasi dan makna konotasi.

Secara denotasi film Get Married mencerikan tentang 4 orang sahabat yang tidak memiliki pekerjaan dan cerita tentang sorang gadis asal betawi yang sedang mencari jodoh. Sedangkan secara konotasi film ini memperlihatkan tentang sebuah pemahaman yang sempit mengenai pencarian jodoh. Di dalam film Get Married stereotip perempuan hanya diperlihatkan melalui komunikasi yang kebanyakan menggunakan simbol, yang sehingganya membuat stereotip perempuan di dalam film ini bersifat dangkal. Analisis yang dilakukan dalam film ini sangat relevan dengan realitas yang diperlihatkan oleh empat orang sahabat terhadap apa yang terjadi di daerah pinggiran kota. Dimana keadaan masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan memang banyak terlihat pada kehidupan masyarakat yang berada dipinggiran kota. Sedangkan stereotip perempuan yang digambarkan di dalam film ini masih terbatas dengan cara bergaul, berpakaian, dan perilaku yang ditunjukan di dalam film Get Married ini.

Penelitian selanjutnya berjudul “Penermaan Penonton Perempuan Terhadap Stereotip Gender Feminim Pada Film Kartini”, penelitian ini dilakukan pada tahun 2018 yang merupakan Jurnal E-Komunikasi Vol 6. No.2. penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui dan menganalisis penerimaan penonton perempuan terhadap stereotip gender feminism pada film kartini. Dimana penelitian ini menggunakan metode reception analysis dan pradigma encoding-decoding.

(3)

9 Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah penerimaan stereotip gender feminim yang dapat dilihat dari tokoh Mellisa dan Kustivah berada pada posisi dominant. Sedangkan pada tokoh Barbalina penerimaan stereotip perempuan terhadap gender feminim berada pada posisi negotiated. Dimana berdasarkan penerimaan ini dapat dilihat bahwa penerimaan tokoh terhadap stereotip gender feminim di dalam film Kartini sangatlah beragam, yang hal ini di pengaruhi oleh latar belakang yang berbeda-beda baik itu dari konteks budaya, pekerjaan, pendidikan, dan status pernikahan. Yang mana pengalaman dan kebiasaan yang berbeda dari setiap tokoh akan berakibat terhadap perbedaan dalam memaknai stereotip gender feminim yang di tandai dengan kebisaan yang berbeda yang nantinya akan menghasilkan penerimaan yang berbeda pula.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Pengertian Komunikasi

Dalam bahasa lain komunikasi bisa disebut dengan communis (Mulyana, Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar, 2003). Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada kommunikan. Proses komunikasi yang terjadi antara individu akan berkonsekuensi terhadap terjadinya sebuah hubungan. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Carl I. Hovland komunikasi merupakan upaya untuk dapat merumuskan asas penyampaian informasi secara sistematis dan juga merupakan upaya dalam pembentukan pendapat serta sikap (Effendy, 2001).

Proses komunikasi terbagi atas dua tahap yaitu; secara primer dan sekunder. Komunikasi secara primer merupakan proses komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan simbol sebagai media penyampaian pesannya. Sedangkan untuk komunikasi secara sekunder merupakan proses komunikasi yang menggunakan alat sebagai media penyampaian pesannya. Media yang digunakan dalam penyampaian pesan dapat berupa surat, telepon, telegram, radio, surat kabar, dan film (Effendy, 2001).

Wilbur Schrarmm menyatakan komunikasi sebagai salah satu proses berbagi (sharing process), schramm menguraikannya demikian: “Komunikasi berasal dari Bahasa latin communis yang berarti umum (common) atau Bersama. Apabila kita berkomunikasi, sebenarnya kita sedang menumbuhkan suatu kebersamaan (commonness) dengan seseorang, yaitu kita berusaha berbagi imformasi, ide atau sikap. Misalnya, saya sedang berkomunikasi dengan para pembaca untuk

(4)

10 menyampaikan ide bahwa hakikat sebuah komunikasi sebenarnya memiliki pengertian atau pemahaman yang sama terhadap pesan tertentu”. (Drs, 2009)

Proses komunikasi dapat diartikan sebagai ‘transfer informasi’ atau pesan (message) dari pengirim pesan sebagai komunikator dan kepada penerima sebagai komunikan. Dalam proses komunikasi tersebut bertujuan untuk mencapai saling pengertian (mutual understanding) antara kedua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi. Dalam proses komunikasi, komunikator mengirimkan pesan/informasi kepada komunikan sebagai sasaran komunikasi. Berikut adalah beberapa definisi komunikasi menurut para ahli:

1. Menurut Laswell komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakan apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa.

2. Menurut Theodorson dan Thedorson komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol 3. Menurut Charles H. Cooley komunikasi berarti suatu mekanisme suatu hubungan antarmanusia dilakukan dengan mengartikan simbol secara lisan dan membacanya melalui ruang dan menyimpan dalam waktu.

4. Menurut A. Winnet komunikasi merupakan sebuah proses pengalihan suatu maksud dari sumber kepada penerima, proses tersebut merupakan suatu seri aktivitas, rangkaian atau tahap-tahap yang memudahkan peralihan maksud tersebut.

5. Menurut Karlfried Knapp komunikasi merupakan interaksi antarpribadi yang menggunakan sistem simbol linguistic, seperti sistem simbol verbal (kata-kata) dan nonverbal. Sistem ini dapat disosialisasikan secara langsung/tatap muka atau melalui media lain.

Dari beberapa definisi tersebut, maka dapat digolongkan ada tiga pengertian utama dari komunikasi, yaitu pengertian secara etimolodis, terminologis, dan paradigmatis:

1. Secara etimologis, komunikasi dipelajari menurut asal usul kata, yaitu komunikasi berasal dari Bahasa latin ‘communicatio’ dan perkataan ini bersumber pada kalimat ‘comminis’ yang berarti sama makna mengenai sesuatu hal yang dikomunikasikan.

2. Secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.

(5)

11 3. Secara paradigmatic, komunikasi berarti pola yang meliputi sejumlah komponen berkorelasi satu sama lain secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Contohnya adalah ceramah, kuliah, dakwah, diplomasi, dan sebagainya. Demikian pula pemberitaan surat kabar dan majalah, penyiaran radio dan televisi atau pertunjukan film di Gedung bioskop, dan lain-lain. (Drs, 2009)

2.3 Komunikasi Massa

2.3.1 Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah proses penyampaian pesan yang dilakukan antara komunikator dengan komunikan dengan menjadikan media massa sebagai perantara penyampaian pesan. Komunikasi massa berasal dari bahasa lain “media of mass communication” atau media komunikasi massa. Komunikasi massa adalah proses penyampaian informasi, ide, dan sikap kepada banyak orang (biasanya dengan menggunakan mesin atau media yang diklasifikasikan ke dalam media massa). Media massa ini dapat berupa telepon, telegram, film, internet dan media-media sosial seperti; facebook, instagram dan lainnya. (Drs, 2009)

Komunikasi melalui media massa berbeda dengan komunikasi biasanya, dimana komunikasi melalui media massa merupakan proses penyampaian pesan yang disampaikan tidak hanya kepada orang tertentu saja, melainkan disampaikan kepada khalayak banyak dengan jumlah pesan yang berlipat-lipat kepada penerima (receiver). Sehingga komunikasi media massa mempunyai ciri-ciri yang mana komunikasi media massa ini hanya berlangsung satu arah, bersifat heterogen dan umum, dan komunikator pada komunikasi media massa ini melembaga. Massa mengandung pengertian orang banyak, tetapi mereka tidak harus berada di suatu lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama. (Effendy, 2001)

Berikut adalah beberapa definisi komunikasi massa menurut para ahli:

1. Definisi komunikasi massa menurut Bittner yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is messages communicated through a mass medium to a large

(6)

12 number of people). Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi mass aitu harus mengguanakan media massa. Sehingga, sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak yang banyak, seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri oleh puluhan ribu orang, jika tidak menggunakan media massa, maka itu bukan komunikasi massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio siaran dan telivisi. (Prof. Dr. Khomsahrial Romli, 2016)

2. Definisi komunikasi massa menurut Gebner (1967) “Mass communication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of messeges in industrial sociates”. (Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi Lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat). Dari definisi Gebner tergambar bahwa komunikasi mass aitu menghasilkan suatu produk berisi pesan-pesan komunikasi. Produk tersebut disebarkan, didistribusikan kepada khalayak luas secara terus menuerus dalam jarak waktu yang tetasp, misalnya harian, mingguan, dwimingguan atau bulanan. Proses memproduksi pesan tidak dapat dilakukan perorangan, melainkan harus oleh Lembaga, dan membutuhkan suatu teknologi tertentu, sehingga komunikasi massa akan banyak dilakukan oleh masyrakat industri. (Prof. Dr. Khomsahrial Romli, 2016) 3. Weight mengemukakan definisinya sebagai berikut: “This the new form can be

distinguished from older types y the following mjor characteristic: it is directed toword relatively large, heterogeneous, anonymous audience: messeges aretransmitted publicly, often times to reach most audience member simultaneously, and are transient in character, the communicator tends to be, or to operate whitin, a complex organization thet may involve great expense”. Menurut weight, bentuk baru komunikasi dapat dibedakan dari corak-corak yang lama karena memiliki karakteristik utama sebagai berikut: diarahkan pada khalayak yang relative besar, heterogeny dan anonym; pesan disampaikan secara terbuka, seringkali dapat mencapaai kebanyakan khalayak secara serentak, berdifat sekilas (khusus untuk media elektrinik, seperti siaran radio dan televisi). (Prof. Dr. Khomsahrial Romli, 2016)

(7)

13 2.3.2 Ciri-Ciri Komunikasi Massa

(Prof. Dr. Khomsahrial Romli, 2016) Ciri komunikasi massa adalah komunikasi yang mengggunakan media massa, baik media audio visual maupun media cetak. Komunikasi massa selalu melibatkan Lembaga, dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks. Berikut adalah beberapa ciri-ciri komunikasi massa:

1. Pesan bersifat umum

Komunikasi massa berdifat terbuka, artinya komunikasi mass aitu ditunjukkan untuk semua orang dan tidak ditunjukkan untuk sekelompok orang tertentu. Oleh karena itu komunikasi massa bersifat umum,

2. Komunikannya anonym dan heterogen

Dalam komunikasi massa komunikator tidak mengenal komunikan (anonym), karena komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka secara langsung. Komunikasi massa adalah heterogeny, karena terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda, yang dapat dikelompokkan berdasarkan faktor usia, faktor jenis kelamin, Pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama, dan tingkat ekonomi.

3. Media massa menimbukan keserempakan

Jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapainya relative banyak dan tidak terbatas, bahkan lebih dari itu, komunikan yang banyak tersebut secara serempak dalam waktu yang bersamaan dan memperoleh pesan yang sama. Effendi (1981) mengartikan keserempakan media mass aitu sebagai keserempakan kontak dengan sejumlah besar penduduk dari jarak jauh dari komunikator, dan penduduk tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah.

4. Komunikasi lebih mengutamakan isi daripada hubungan

Salah satu prinsip komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan. Dimensi isi menunjukkan muatan atau isi komunikasi. Yaitu apa yang dikatakan dan apa yang dilakuka, sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya, yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu.

(8)

14 Karena komunikasinya melalui media massa, yang bersifat satu arah, maka komunikator dan komunikannya tidak dapan melakukan kontak secara langsung

6. Stimulasi alat indra yang terbatas

Dalam komunikasi massa, stimulasi alat indra bergantung pada media massa. Pada surat kabar dan majalah pembaca hanya melihat, pada radio siaran dan rekaman, auditif audience hanya mendengar, sedangkan pada media telivisi dan film audience menggunakan indra mendengaran dan pengelihatan.

7. Umpan balik tertunda dan tidak langsung

Komunikator komunikasi massa tidak dapat segere mengetahui reaksi khalayak terhadap pesan yang disampaikannya. Tanggapan khalayak bisa diterima melalui telepon, e-mail, twitter, facebook, dsb. Dengan demikian, proses penyampaian umpan balik komunikasi massa bersifat indirect.

2.3.3 Fungsi Komunikasi Massa

(Prof. Dr. Khomsahrial Romli, 2016) Komunikasi massa adalah salah satu aktivitas sosial yang berfungsi di masyarakat. Robert K. Merton mengemukakan bahwa fungsi aktifitas memiliki dua aspek, yaitu:

1. Fungsi nyara (manifest function) adalah fungsi nyata yang diinginkan.

2. Fungsi tidak nyata atau tersembunyi (latent function), yaitu fungsi tidak diinginkan. Sehingga pada dasarnya setiap fungsi sosial dalam masyarakat itu memiliki efek fungsional dan disfungsional. Selain fungsi nyata dan fungsi tidak nyata, setiap aktivitas sosial juga berfungsi melahirkan fungsi-fungsi lain, bahwa manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat sempurna. Sehingga setiap fungsi sosial yang dianggap membahayakan dirinya, walau ia akan mengubah fungsi-fungsi suasana yang ada.

2.3.4 Peran Media dalam Kehidupan Manusia

Media massa merupakan sarana komunikasi massa yang berperan sebagai komunikator serta agen of change yakni pelopor perubahan dalam lingkungan publik yang dapat mempengaruhi khalayak melalui pesan berupa informasi, hiburan, pendidikan maupun pesan-pesan lainnya dan dapat dijangkau masyarakat secara luas. Dewasa ini, di era globalisasi yang semakin cepat, peran media massa dalam kehidupan manusia sehari-hari tidak dapat dihindari lagi. Mengingat bahwa posisi media massa dalam kehidupan masyarakat begitu penting maka kesuksesan media massa

(9)

15 dalam menjalankan perannya sebagai komunikator dapat dilihat dari semakin berkembangnya media massa, bertahannya media massa hingga saat ini, dan semakin bertambahnya stasiun, perusahaan hingga website dan program yang disuguhkan oleh pengelola media cetak dan media elektronik. Media massa tidak akan bertahan hingga saat ini apabila tidak ada masyarakat yang menggunakan atau memanfaatkannya dalam kehidupan, karena bagaimanapun media massa tergantung pada banyaknya pemirsa.

Apabila dilihat secara menyeluruh, menurut McQuail terdapat 6 (enam) perspektif dalam melihat peran media massa dalam kehidupan sosial terutama dalam masyarakat modern, antara lain:

1. Melihat media massa sebagai window on event and experience. Media dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi di luar sana, atau media merupakan sarana informasi untuk mengetahui berbagai peristiwa.

2. Media sering dianggap sebagai a mirror of event in socity and the world, implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang merefleksikan apa adanya, karenanya para pengelola media sering merasa tidak bersalah jika media penuh dengan kekerasan, konflik, pornografi dan berbagai keburukan lain. 3. Memandang media massa sebagai filter, atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal

untuk diberi perhatian atau tidak. Televisi senantiasa memilih isu, informasi atau bentuk content yang lain berdasarkan standar para pengelolanya.

4. Media massa sering dipandang sebagai guide, penunjuk jalan atau interpreter, yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian, atau alternatif yang beragam.

5. Melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkinkan tejadinya tanggapan dan umpan balik. 6. Media massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekedar tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.

Tidak jauh berbeda dengan peran media massa itu sendiri, perspektif dalam melihat peran media menurut McQuail di atas pada dasarnya ingin menunjukan bahwa peran media dalam kehidupan sosial bukan hanya sebagai sarana hiburan atau pelepas ketegangan, melainkan isi dan

(10)

16 informasi yang disajikan mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Peran yang signifikan ini seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa media massa berperan mempengaruhi masyarakat melalui beberapa konten, salah satunya adalah pendidikan. Dalam konten pendidikan, media massa mencoba memberikan pencerahan, mencerdaskan dan meluaskan wawasan pendengar, penonton dan pembacanya. Misalnya dalam konteks politik, media massa memberikan pendidikan politik, menyadarkan khalayak akan hak dan kewajiban sebagai warga Negara, dan juga bisa lebih mengenal pemimpin atau calon presiden dan calon wakil presiden melalui debat yang disiarkan.

Isi siaran media massa merupakan konsumsi otak bagi masyarakat, sehingga apa yang ada di media massa akan mempengaruhi realitas subjektif pelaku interaksi sosial, dikarenakan media adalah mata manusia untuk melihat dunia. Hal ini menunjukan peran aktif media dalam menyajikan informasi kepada khalayak, penyajiannya dengan menggunakan teori agenda setting, di mana teori agenda setting menurut Maxwell McCombs dan Donal Shaw adalah “mass media have the ability to transfer the salience of items on their news agendas to the public agenda. We judge as important what the media judge as important” (media massa memiliki kemampuan memindahkan hal-hal penting dari agenda berita mereka menjadi agenda publik. Kita menilai penting apa saja yang dinilai penting oleh media).

Gambaran tentang realitas yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang kemudian akan mendasari respon dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial. Kesalahan dalam proses pemberitaan akan membuat audience menerima pesan yang tidak lengkap, sehingga menimbulkan gambaran yang salah pula terhadap objek sosial, oleh karenanya media massa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas.

Peran media massa juga tidak bisa terlepas dari fungsi media massa itu sendiri. Ketika menjalankan perannya, media massa harus memperhatikan dan mengingat fungsinya. Berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers, media massa berfungsi untuk menginformasikan, mendidik, menghibur, dan pengawasan sosial (social control)-pengawas perilaku publik dan penguasa.

Keberhasilan media massa dalam berperan sebagai agen of change dapat dilihat dari pengaruh media massa terhadap individu dan masyarakat. Media tidak hanya dapat mempengaruhi apa yang seseorang telah ketehui melainkan juga mempengaruhi bagaiamana seseorang belajar

(11)

17 tentang dunianya dan berinteraksi satu sama lain. Pengaruh media massa meliputi tiga aspek; Pertama, aspek kognitif, yang artinya dari tidak tahu menjadi tahu. Contohnya seseorang yang berada di dalam rumah tidak akan mengetahui sesuatu peristiwa yang terjadi di luar, namun dengan adanya media massa seseorang menjadi tahu peristiwa yang sedang atau telah terjadi di luar rumah, luar daerah, bahkan luar negeri. Seperti gempa di Lombok yang terjadi beberapa bulan yang lalu, seseorang yang berada di Bandung tidak akan tahu mengenai gempa di Lombok jika tidak disiarkan melalui media massa, melalui media massa, seseorang memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah dikunjungi secara langsung.

Kedua, aspek afektif yang berarti dari tidak suka menjadi suka. Pada aspek ini juga dapat meningkatkan atau menurunkan dukungan moral. Contoh dari efek afektif ini seperti iklan peralatan make up yang ada di televisi ataupun internet, seorang wanita yang awalnya tidak menyukai riasan akan tergoda dengan iklaniklan yang ditayangkan di televisi dan internet karena melihat aktrisnya yang cantik, dan gaya bahasa yang digunakan sehingga ada hasrat ingin membeli dan memakainya agar dapat terlihat cantik seperti aktris produk tersebut.

Ketiga, aspek konatif yaitu merubah sikap dan perilaku. Media massa sangat berperan dalam perkembangan bahkan perubahan tingkah laku suatu masyarakat, oleh karena itu kedudukan media massa sangat penting. Perubahan sikap dan perilaku ini seperti anak-anak yang menyukai film Upin dan Ipin, dengan menonton dan mendalami karakter Upin dan Ipin yang sopan, ceria dan rajin beribadah, maka secara tidak langsung hal tersebut mengajarkan pada anak untuk berperilaku sepeti itu. Melalui tayangan Upin dan Ipin beberapa anakpun rajin beribadah. Selain merubah sikap menjadi lebih baik, media massa juga merubah budaya suatu masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dalam peran media massa.

Kemudian media sosial telah berhasil mentransformasi praktik komunikasi searah media siaran dari satu institusi media ke banyak audiens menjadi praktik komunikasi dialogis antara banyak audiens. Peran media sosial dalam kehidupan manusia yakni sebagai alat berdialog atau interaksi antar manusia dengan menggunakan internet dan teknologi web. untuk menjaga tali silaturahmi, saling tukar informasi dan lain sebagainya, namun dewasa ini masyarakat Indonesia pada khususnya telah salah memperlakukan media sosial di mana para netizen (penggua media sosial) menyebarkan berita baik yang benar maupun yang hoax.

(12)

18 Sama halnya dengan media massa, media sosial juga memiliki dampak kepada masyarakat yang merupakan hasil dari peran media sosial, antara lain;

1. Dampak positif yakni mempererat silahturahmi, menyediakan ruang untuk berpesan positif seperti melakukan dakwah agama, mengakrabkan hubungan pertemanan di kala seseorang malu berteman di dunia nyata, menyediakan informasi yang tepat dan akurat seperti informasi lowongan pekerjaan, beasiswa dan sebagainya, menambah wawasan dan pengetahuan seperti pengetahuan praktisi.

2. Dampak negatif yaitu penipuan, menimbulkan rasa malas belajar, pornografi, bebas berbahasa. (Khatimah, 2018)

2.4 Film

2.4.1 Pengertian Film

Film dapat diartikan sebagai gambar hidup yang terkadang disebut dengan movie. Secara kolektif film biasanya disebut dengan sinema. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia film di definisikan sebagai selaput tipis yang terbuat dari seluloid sebagai temoat gambar negative yang nantinya dimainkan di bioskop. Film juga merupakan sebuah cerita singkat yang penampilannya dibuat dalam bentuk gambar dan suara yang kemudian di kemas sebaik mungkin dengan penggunaan kamera, teknik editing dan scenario yang ada. Dalam sebuah film biasanya terdapat informasi yang disajikan, proses yang dipaparkan, dan penjelasan konsep-konsep yang rumit untuk nantinya bisa mempengaruhi sikap seseorang individu. (Arsyad, 2005)

Film dalam pengertian sempit adalah penyajian gambar melalui layar. Adapun pengertian yang lebih luas, gambar yang disiarkan melalui televisi (TV) dapat pula dikategorikan sebagai film. Gambel (1986) berpendapat bahwa film adalah sebuah raangkaian gambar statis yang direpresentasikan di hadapan mata secara berturut-turut dalam kecepatan yang tinggi. Sementara Jean Luc Godard, sineas new wave asal Prancis, mengilustrasikan film sebagai “papan tulis”. Menurutnya sebuah film yang revolusioner dapat mennunjukan bagaimana perjuangan senjata dapat dilakukan. (Wahyuningsih, 2019)

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat dipahami bahwa film merupakan salah satu bagian dari media komunikasi. Dengan kata lain, film merupakan mediunm untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan hanya menjadi medium penyampaian pesan kepada

(13)

19 satu atau dua orang komunikan, melainkan manyarakat yang lebih luas. Dari pengertian seperti ini kemudian film dapat lebih spesifik lagi dikategorikan sebagai sebuah media komunikasi massa. Lebih jauh, penjelasan ini membuat film dapat dimaknai sebagai medium yang menghubungkan komunikator dan komunikan yang berjumlah banyak, berbeda tempat tinggal, heterogeny, dan menimbulkan efek tertentu. (Wahyuningsih, 2019)

2.4.2 Jenis-Jenis Film

Jenis-jenis film dapat dibedakan berdasarkan cara bertutur maupun pengolahannya. Adapun jenis-jenis film yang umumnya dikenal sampai saat ini adalah sebagai berikut:

1. Film cerita (Story film)

Film cerita adalah film yang mengandung suatu cerita, yaitu yang lazim diputar di gedung-gedung bioskop. Film jenis ini dibuat dan didistribusikan untuk publik seperti halnya barang dagangan. Topik yang diangkat dalam film cerita bisa berupa fiktif atau kisah nyata yang domodifikasi, sehingga terdapat unsur menarik, daik dari jalan ceritanya maupun dari segi gambarnya. (Wahyuningsih, 2019)

2. Film dokumenter (Documentary film)

John Grierson mendefinisikan film documenter adalah karya ciptaan mengenai kenyataan (creative treatment of actuality). Dapat disimpulkan bahwa film documenter berpijak pada fakta-fakta. (Wahyuningsih, 2019)

3. Film berita (News reel)

Hampir sama dengan film dokumenter, film berita juga berpijak pada fakta dari sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi. Film berita disajikan harus mengandung nilai berita. Perbedaan mendasar antara film berita dan film dokumenter terletak pada cara penyajian dan durasinya. (Wahyuningsih, 2019)

4. Film kartun (Cartoon film)

Film kartun merupakan seni lukis dan setiap lukisan memerlukan ketelitian. Harus dilukis satu per satu. Hasil pemotretan itu kemudian dirangkai dan diputar dalam proyektor film sehingga memunculkan efek gerak dan hidup. (Wahyuningsih, 2019)

(14)

20 2.4.3 Film Sebagai Media Komunikasi Massa

Dalam UU nomor 33 tahun 2009 tentang perfilman, menyebutkan pengertian film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan. Sebagai salah satu bentuk media komunikasi massa, film digunakan tidak hanya sebagai media yang merefleksikan realitas, namu juga membentuk realitas. Dalam hal ini film memiliki kapasitas untuk memuat pesan yang sama secara serempak dan mempunyai sasaran yang beragam dari agama, etnis, status, umur, dan tempat tinggal.

Bentuk-bentuk pengaruh dan karakteristik film selanjutnya diuraikan oleh Quick dan La Bau dan McQuaill. Menurutnya, film sebagai media komunikasi audio-visual memiliki karakteristik yang unik dan agak berbeda dengan media lain, diantaranya:

1. Memiliki dampak psikologis yang besar, dinamis, dan mampu mempengaruhi penonton. 2. Biasanya lebih dramatis dan lengkap daripa hidup yang sebenarnya.

3. Gambar dan suara yaang terdokumentasikan, 4. Mudah disitribusikan dan dipertunjukan.

5. Mampu membangun sikap dengan memperhatikan rasio dan emosi sebuah film.

6. Terilustrasikan dengan cepat sebagai pengejawatan dari sebuah ide atau sesuatu yang lain. 7. Interpretatif: Mampu menghubungkan sesuatu yang sebelumnya tidak berhubungan. 8. Mampu menjual sebuah produk dan ide (sebuah alat propaganda yang ampuh). 9. Mampu menjembatani waktu: baik masa lalu ataupun masa depan.

10. Mampu memperbesar dan memperkecil objek; dapat memperlihatkan sesuatu secara detail. 11. Dapat menunjukkan sesuatu yang kompleks dan terstruktur.

12. Berorientasi untuk ditampilkan kepada publik.

13. Bersifat internasional dan membawa ideologi tertentu.

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa film mampu memberikan pengaruh yang sangat besar bagi para penonton. Pengaruh ini tidak terjadi selama menonton saja, akan tetapi juga bisa sampai waktu yang cukup lama. Pengaruh paling besar yang ditimbulkan film adalah imitasi atau peniruan. Peniruan ini diakibatkan oleh anggapan bahwa apa yang dilihat atau ditonton adalah wajar dan pantas untuk dilakukan setiap orang, seperti misalnya peniruan terhadap cara berpakaian ataupun model rambut. Dengan demikian jika isi film tidak sesuai dengan nilai

(15)

21 dan norma suatu masyarakat tertentu, hal tersebut dapat berdampak negative terhadap keseluruhan aspek kehidupan nyata. (Wahyuningsih, 2019)

Film bermula pada akhir abad ke-19 sebagai teknologi baru, tetapi konten dan fungsi yang ditawarkan masih sangat jarang. Film kemudian menjadi alat presentasi dan distribusi dari tradisi hiburan yang lebih tua, menawarkan cerita, panggung, musik, drama, humor, dan trik teknis bagi konsumsi popular. Film juga hampir menjadi media massa yang sesungguhnya dalam artian bahwa film mampu menjangkau populasi dalam jumlah besar dengan cepat, bahkan di wilayah pedesaan. Sebagai media massa, film merupakan bagian dari respon terhadap penemuan waktu luang, waktu libur dari kerja, dan sebuah jawaban atas tuntutan untuk cara menghabiskan waktu luang keluarga yang sifatnya terjangkau dan (biasanya terhormat). Film memberikan keuntungan budaya bagi kelas pekerja yang telah dinikmati oleh kehidupan sosial mereka yang cukup baik. Disinilah pertumbuhannya yang fenomenal, permintaan yang dipenuhi oleh film sangatlah tinggi. Pencirian film sebagai ‘bisnis pertunjukan’ dalam bentuk baru bagi pasar yang meluas bukanlah keseluruhan ceritanya. Terdapat tiga elemen penting lainnya dalam sejarah film. Pertama, penggunaan film untuk propaganda sangatlah signifikan, terutama jika diterapkan untuk tujuan nasional atau kebangsaan, berdasarkan jangkauan yang luas, sifatnya yang rill, dampak emosional, dan popularitas. Dua elemen ini dalam sejarah adalah munculnya beberapa sekolah seni film (Huaco, 1963) dan munculnya Gerakan film documenter. Film semacam ini berbeda dari yang umum karena memiliki daya tarik bagi minioritas atau memiliki elemen realisme yang kuat atau keduanya. Keduanya memiliki hubungan, Sebagian tidak disengaja dengan film sebagai propaganda karena keduanya cenderung muncul pada saat adanya krisis sosial. (McQuail, 2011)

Televisi mengambil sebagian besar dari khalayak penonton film, terutama khalayak keluarga, dan meninggalkan sedikit khalayak untuk anak muda. Televisi juga mengambil atau mengalihkan aliran dokumenter sosial dari perkembangan film dan memberikannya kepada televisi yang biasanya muncul pada program jurnalistik, laporan khusus, dan program ‘skandal publik’. Bagaimanapun program tersebut tidak memiliki efek yang sama seperti film seni atau estetika film. Walaupun film seni sering diuntungkan dengan adanya ‘demasifikasi’ dan pengkhususan dari media film. Pada dua generasi pertama pada penonton film, pengalaman menonton film tidak dapat dipisahkan dengan jalan-jalan yang biasanya dilakukan dengan teman dan biasanya dilakukan di tempat yang kebih besar dari rumah. Walaupun film telah

(16)

22 dinomorduakan terhadap televisi, film juga menjadi lebih menyatu dengan media lain, terutama penerbitan buku, music pop, dan televisi. Film telah mendapatkan peran yang besar, (Jowet dan Linton,1980) walaupun berkurangnya khalayak mereka sendiri sebagai sebuah pajangan bagai media lain dan sebagai sumber kebudayaan yang darinya menghasilkan buku, kartun strip, lagu dan bintang televisi, serta serial. Oleh karena itu, film adalah pencipta budaya massa. Bahkan, menurunnya penonton film kemudian dikompensasikan oleh para penpnton film domestic yang dijangkau oleh televisi, rekaman digital, kabel, dan saluran satelit. (McQuail, 2011)

2.4.4 Unsur Pesan Dalam Film

Terdapat beberapa pesan yang terdapat dalam film tilik ini yaitu: 1. Keperdulian yang masih melekat di masyarakat desa

Pesan moral yang pertama dalam film Tilik ini adalah tradisi di masyarakat yang masih erat dipegang tentang keperdulian terhadap sesama. Dalam film ini diperlihatkan bagaimana ibu-ibu desa yang rela menyewa truk warga, hanya untuk menjenguk ibu lurah yang sakit. Meski cuaca panas dan harus menempuh jarak yang jauh, mereka masih tetap memperdulikan salah satu warganya yang tengah tertimpa musibah. Bahkan, mereka juga bersama-sama mengumpulkan uang dan membawa hadiah yang semestinya diberikan kepada bu lurah.

2. Jangan cepat percaya informasi yang ada di internet

Terlihat percakapan diantara para rombongan mengenai informasi di internet yang seharusnya gak langsung diterima mentah-mentah, tepatnya pada menit ke 4:56. Sebab, informasi tersebut kadang kala menyesatkan pembaca, terutama yang menyangkut tentang kesehatan. Dalam potongan adegan itu dijelaskan bagaimana salah seorang warga desa yang tertipu akan iklan obat herbal yang dijual di internet. Ini artinya, kita sebagai netizen mesti mengecek keabsahan dari informasi yang diterima, agar kejadian seperti di film Tilik tidak terjadi. Apalagi kini, sudah banyak bermunculan obat herbal dengan iming-iming berkhasiat terlebih jika dipromosikan oleh influencer. Padahal, belum tentu produk yang dipromosikan tersebut benar-benar bagus.

(17)

23 Buat kamu yang sudah menonton film Tilik, pasti sudah enggak asing lagi dengan adegan di mana polisi diancam oleh Bu Tejo. Pada menit ke 22:37 terlihat seorang polisi yang tiba-tiba menilang truk yang tengah membawa rombongan ibu-ibu tersebut. Bukannya mematuhi aturan, sebagian ibu-ibu dalam truk justru memarahi polisi itu. Bahkan karakter Bu Tejo nampak memperlihatkan kekesalannya. Dengan percaya diri, Bu Tejo malah menyerang polisi dan melemparkan kata-kata yang tidak semestinya, “Apa mau saya telfon saudara saya yang polisi dan bintangnya lima berjejer?” tidak hanya itu saja, Bu Tejo bahkan mengancam bakal menggigit polisi jika truk yang ia tumpangi tetap ditilang. Uniknya lagi, ternyata adegan tersebut benar-benar pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

4. Jangan pernah membicarakan aib orang lain

Sepanjang film ini, akan disuguhkan banyak adegan di mana Bu Tejo selalu menghakimi sosok Dian. Sekalipun informasi yang dikatakannya benar. Namun tidak dibenarkan untuk membicarakan aib orang lain. Sebaliknya sebagai wanita yang bermoral dan percaya akan agama, sudah semestinya dia menjaga harga diri wanita lain. Dengan begitu, kita bisa saling menghargai satu sama lain.

5. Punya rencana cadangan dalam hidup itu wajib

Pesan moral dari film Tilik berikutnya yang bisa kamu ambil adalah saat di mana Bu Tejo memberikan solusi akan kondisi yang mereka alami. Dia menyarankan agar rombongannya berkunjung ke Pasar Beringhajo, ketimbang harus menelan kekecewaan karena sudah jauh-jauh ke kota untuk menjenguk bu lurah yang ternyata gagal dilakukan. Meski dibuat kesal akan karakternya, namun ternyata ada sisi positif dari sosok Bu Tejo. Hal ini juga sebetulnya sangat relevan dengan kehidupan nyata. Artinya ketika kita tidak menyukai seseorang, bukan berarti kita juga harus membenci seluruh sifatnya. Karena dibalik kekurangannya, masih ada pula kelebihan yang dia miliki.

(18)

24 2.5 Stereotype

Stereotip merupakan suatu penilaian yang dilakukan terhadap seseorang berdasarkan persepsi dimana seseorang individu bisa dikategorikan. Stereotip merupakan suatu jalan untuk menyederhanakan suatu pemikiran yang kompleks berdasarkan intuitif agar dapat mengambil keputusan yang lebih cepat. Biasanya stereotip ini dapat berupa suatu prasangka yang positif dan negatif yang dijadikan alasan seseorang untuk melakukan deskriminatif. Dimana biasanya stereotip ini dapat terbentuk secara evolutif di dalam kehidupan masyarakat karena stereotip akan muncul sejalan dengan adanya perkembangan pada intuisi dan tradisi masyarakat.

Mengapa orang terlibat dalam pemikiran stereotip? Haruskah stereotip dilihat sebagai produk sampingan yang tak terhindarkan dari gaya kognitif yang pelit, misalnya, atau apakah itu hasil dari kepribadian yang tertanam dalam dan variabel motivasi? Apakah stereotip muncul sebagai tanggapan atas frustrasi, atau apakah itu berasal dari kebutuhan untuk melampaui informasi yang diberikan? Apakah stereotip merupakan konsekuensi dari warisan evolusi kita, atau produk dari budaya tertentu kita?

Peneliti mencurahkan sedikit perhatian pada pertanyaan menarik ini tentang mengapa stereotip ada. Peneliti percaya bahwa pemikiran stereotip biasanya melayani berbagai tujuan yang mencerminkan berbagai proses kognitif dan motivasi. Kadang-kadang, misalnya, stereotip muncul sebagai cara untuk menyederhanakan tuntutan pada pengamat. Stereotip membuat pemrosesan informasi lebih mudah dengan memungkinkan penerima untuk mengandalkan pengetahuan yang disimpan sebelumnya sebagai pengganti informasi yang masuk. Stereotipe juga muncul sebagai respons terhadap faktor lingkungan, seperti peran sosial yang berbeda, konflik kelompok, dan perbedaan kekuasaan. Di lain waktu stereotip muncul sebagai cara untuk membenarkan status quo, atau sebagai tanggapan atas kebutuhan akan identitas sosial. Jadi, ketika datang ke pertanyaan "mengapa," kami pikir jawabannya paling sering dapat ditemukan dalam gagasan fungsi yang bergantung pada konteks. Sederhananya, stereotip muncul dalam berbagai konteks untuk melayani fungsi tertentu yang diharuskan oleh konteks tersebut.

Dalam ulasan ini, peneliti membahas pertanyaan yang lebih terbatas tentang "bagaimana" dan "kapan" pemikiran stereotip muncul, mengaturnya menjadi beberapa bagian yang dikhususkan untuk representasi, pembentukan, pemeliharaan, penerapan, dan perubahan stereotip. Penting untuk dicatat bagaimana faktor motivasi, yang secara tradisional dianggap sebagai bahan utama

(19)

25 dalam menjawab "mengapa" dari stereotip, diperlakukan dalam ulasan ini. Peneliti mempertimbangkan motivasi dengan cara yang lebih terbatas, dengan asumsi bahwa stereotip tidak hanya dibentuk dan dipertahankan karena berbagai alasan motivasi tetapi melalui berbagai faktor motivasi juga. Artinya, penelitian yang cukup besar menunjukkan bahwa motivasi dan emosi memainkan peran yang sama pentingnya dalam "kapan" dan "bagaimana" dari stereotip seperti yang mereka lakukan dalam "mengapa" dari stereotip.

Peneliti menyoroti berbagai faktor afektif dan motivasi yang memengaruhi kapan dan bagaimana stereotip memanifestasikan dirinya. Seperti yang akan terbukti, motivasi sering kali menentukan kapan stereotip muncul, tetapi lebih sering daripada tidak proses kognitif berfungsi sebagai mekanisme untuk efek motivasi ini, menentukan bagaimana proses motivasi mempengaruhi persepsi, penilaian, dan perilaku. Misalnya, orang biasanya membutuhkan lebih banyak bukti untuk meyakinkan mereka bahwa orang yang tidak disukai itu cerdas daripada tidak cerdas. Dalam hal stereotip, temuan ini menunjukkan bahwa faktor motivasi dapat menyebabkan konfirmasi cepat namun lambat atau tidak setuju dengan pengharapan negatif, bahkan ketika stereotip tersebut menyangkut dimensi yang tidak relevan dengan akar ketidaksukaan (lihat juga Hilton et al 1991). Sebaliknya, motivasi untuk menyukai orang tertentu dapat memiliki efek sebaliknya, membawa pengurangan umum dalam stereotip negatif mengenai kelompok orang tertentu.

Dalam nada terkait, Spencer & Fein (1994) menunjukkan bahwa motivasi dapat berdampak pada stereotip dengan meningkatkan kemungkinan bahwa proses kognitif tertentu akan berlangsung. Mereka berhipotesis bahwa subjek yang pernah mengalami ancaman terhadap harga diri mereka akan termotivasi untuk mengaktifkan stereotip mereka sebagai cara untuk membuat diri mereka merasa lebih baik melalui perbandingan sosial ke bawah (Crocker & Luhtanen 1990, Fein & Spencer 1993). Konsisten dengan logika ini, subjek yang mengalami ancaman terhadap harga diri mereka menunjukkan bukti aktivasi stereotip bahkan ketika mereka sibuk secara kognitif, suatu keadaan di mana subjek yang tidak terancam tidak menunjukkan bukti aktivasi (lihat bagian tentang Otomatisitas).

Pengaruh juga dapat memiliki efek berlawanan pada stereotip, sebagai fungsi dari jenis pemrosesan informasi yang terkait dengannya. Misalnya, pengaruh dapat menghambat pembentukan stereotipe dengan mengganggu perkembangan korelasi ilusi, atau dapat memfasilitasi pembentukan stereotip, pemeliharaan, dan aplikasi dengan meningkatkan persepsi

(20)

26 homogenitas kelompok, kemungkinan bahwa anggota kelompok yang menyimpang akan berasimilasi dengan stereotip kelompok, dan ketergantungan pada stereotip sebagai jalan pintas kognitif. Dengan demikian, hasil dari proses afektif berbeda secara dramatis sebagai fungsi dari operasi mental di mana pengindera terlibat.

Secara bersama-sama, studi ini menunjukkan bahwa motivasi dan pengaruh memainkan peran penting dalam stereotip melalui dampaknya pada kognisi. Meskipun preferensi memengaruhi penilaian dalam eksperimen Ditto & Lopez, misalnya, mereka melakukannya melalui mekanisme kognitif. Subjek tidak hanya memutuskan bahwa orang yang lebih disukai juga lebih cerdas. Sebaliknya, mereka secara selektif menetapkan standar tinggi atau rendah bukti yang harus diperoleh sebelum mereka dapat diyakinkan tentang siapa orang yang lebih cerdas. Demikian pula, subjek dalam eksperimen Klein & Kunda membiarkan keinginan mereka mempengaruhi keyakinan mereka tentang seseorang dengan mengubah kognisi yang mendasari keyakinan ini. Jadi proses kognitif dimediasi, dan dengan demikian dibenarkan, pengaruh preferensi subjek dalam eksperimen ini. Akhirnya, dalam Spencer & Fein (1994), meskipun ancaman terhadap harga diri subjek menyebabkan mereka membuat stereotip anggota kelompok luar, lagi-lagi mekanismenya adalah mekanisme kognitif: Motivasi memfasilitasi aktivasi stereotip, yang pada gilirannya berfungsi untuk mendukung subjek ' harga diri (Fein & Spencer 1993).

Stereotipe telah didefinisikan dalam berbagai cara. Dalam tinjauan ini peneliti mengadopsi sudut pandang standar bahwa stereotip adalah keyakinan tentang karakteristik, atribut, dan perilaku anggota kelompok tertentu. Lebih dari sekedar kepercayaan tentang kelompok, mereka juga teori tentang bagaimana dan mengapa atribut tertentu bersatu. Sifat dan tujuan dari teori-teori ini kemungkinan besar memainkan peran penting dalam menentukan kapan stereotip diterapkan dan kapan stereotip itu mungkin berubah. Lebih jauh lagi, meskipun stereotip tidak selalu bersifat negatif, stereotip tentang anggota luar kelompok lebih cenderung memiliki konotasi negatif daripada tentang anggota dalam kelompok, bahkan ketika atribut yang mereka masukkan mungkin tampak positif secara objektif. Seperti yang diamati oleh Allport (1954), kualitas kepribadian yang dikagumi dalam Abraham Lincoln disesalkan pada orang Yahudi”. Konsisten dengan sudut pandang ini, stereotip negatif telah terbukti menjadi prediksi sikap antarkelompok bahkan ketika stereotip positif tidak.

(21)

27 Stereotip dapat diartikan sebagai keyakinan tentang kelompok tertentu, tetapi dari manakah keyakinan tersebut berasal? Ada dua sumber. Yang pertama adalah representasi mental dari perbedaan nyata antar kelompok. Artinya, stereotip terkadang merupakan representasi akurat dari realitas, atau setidaknya dari realitas lokal di mana pengamat terpapar. Dalam keadaan ini, stereotip beroperasi seperti skema objek, memungkinkan pemrosesan informasi yang lebih mudah dan lebih efisien tentang orang lain. Seperti skema pada umumnya, stereotip ini dapat menyebabkan pengamat mengabaikan atau gagal memperhatikan perbedaan individu, tetapi sebaliknya, ada sedikit alasan untuk percaya bahwa stereotip ini menyebabkan orang menyimpang dari persepsi yang akurat. Stereotipe ini selektif, bagaimanapun, karena mereka dilokalisasi di sekitar fitur grup yang paling khas (Nelson & Miller 1995), yang memberikan diferensiasi terbesar antara grup, dan yang menunjukkan variasi paling sedikit di dalam grup (Ford & Stangor 1992).

Meskipun berbagai stereotip didasarkan pada perbedaan kelompok yang nyata (misalnya, stereotip budaya tentang preferensi makanan), peneliti percaya bahwa stereotip yang didasarkan pada karakteristik yang relatif bertahan lama dari orang tersebut (seperti ras, agama, dan jenis kelamin) memiliki potensi kesalahan yang sangat besar. Dengan demikian, jalur kedua menuju stereotip terjadi ketika stereotip terbentuk tentang berbagai kelompok yang tidak bergantung pada perbedaan kelompok nyata. (James L. Hilton, 1996)

2.6. Perempuan

2.6.1 Pengertian Perempuan

Dalam kamus Bahasa indonesia disebutkan bahwa perempuan memiliki arti jenis kelamin yakni orang atau manisia yang memiliki rahim, mengalami menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Sedangkan untuk kata wanita biasanya ditujukan kepada perempuan yang lebih dewasa. Dalam ensiklopedi islam, perempuan berasal dari Bahasa arab al-mar’ah, jamaknya an-nisa’ sama dengan wanita, perempuan dewasa atau putri dewasa atau lawan jenis pria. Hal senada diungkapkan oleh Nasaruddin Umar, kata an-nisa’ berarti gender perempuan, sepadan dengan kata araba ar-rijal yang berarti gender laki-laki. Padanannya dalam bahasi inggris adalah woman atau lawan kata dari man.

Menurut Fakih (2012: 8) perempuan merupakan manusia yang memiliki sifat lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sedangkan berdasarkan pendapat Zulkarnaini Abdullah perempuan merupakan makhluk yang lembut sera memiliki perasaan yang berbeda dengan

(22)

laki-28 laki yang memiliki sifat keras dan cenderung berfikir dengan lebih rasional. Selain itu perempuan juga diartikan sebagai seorang individu yang lebih suka bicara dan lebih peka terhadap sesuatu hal yang terjadi dilingkungannya. Yang sehingganya perempuan lebih cenderung berfikir, bertindak, dan menilai sesuatu berdasarkan perasaan dan emosional.

Pengertian perempuan secara etimologis berasal dari kata empu yang berarti “tuan”, yaitu orang yang mahir atau berkuasa, kepala, hulu, yang paling besar. Namun menurut Zaitunah Subhan (2004:19) kata perempuan berasal dari kata empu yang artinya dihargai. Lebih lanjut Zaitunah menjelaskan pergeseran istilah dari perempuan ke wanita. Kata wanita dianggap berasal dari bahasa Sansekerta, dengan dasar kata Wan yang berarti nafsu, sehingga kata wanita mempunyai arti yang dinafsui atau merupakan objek seks.

Tetapi dalam bahasa Inggris wan ditulis dengan kata want, atau men dalam bahasa Belanda, wun dan schendalam bahasa Jerman. Kata tersebut mempunyai arti like, wish,desire, aim. Kata want dalam bahasa Inggris bentuk lampaunya adalah wanted (dibutuhkan atau dicari). Jadi, wanita adalah who is being wanted (seseorang yang dibutuhkan) yaitu seseorang yang diingini. Para ilmuwan seperti Plato, mengatakan bahwa perempuan ditinjau dari segi kekuatan fisik maupun spiritual dan mental lebih lemah dari laki-laki, tetapi perbedaan tersebut tidak menyebabkan adanya perbedaan dalam bakatnya. (Muliadi, 2012).

Kalangan feminis dalam konsep gendernya mengatakan, bahwa perbedaan suatu sifat yang melekat baik pada kaum laki-laki maupun perempuan hanya sebagai bentuk stereotipe gender. Misalnya, perempuan itu dikenal lemah lembut, penuh kasih sayang, anggun, cantik, sopan, emosional, keibuan dan perlu perlindungan. Sementara laki-laki dianggap kuat, keras, rasional, jantan, perkasa, galak dan melindungi. Padahal sifat-sifat tersebut merupakan sifat yang dapat dipertukarkan. Berangkat dari asumsi inilah kemudian muncul berbagai ketimpangan diantara laki-laki dan perempuan. (Muliadi, 2012)

Seorang perempuan dalam sejarah bangsa Indonesia adalah hal yang masih menarik untuk dituliskan dan sangat penting untuk dipelajari oleh generasi selanjutnya, mengingat selama ini perempuan selalu disudutkan baik secara politik maupun budaya. Munculnya stereotip-stereotip yang tidak baik di tengah masyarakat sangat merugikan kaum perempuan itu sendiri. Citra perempuan yang dianut para laki-laki, bahwa perempuan itu harus abar, tabah, penyayang, keibuan, patuh, suka mengalah, sumber kedamaian dan keadilan, pandai mengurus suami,

(23)

anak-29 anak dan rumah tangga, selalu cantik, langsing, awet muda, bersih, tidak boleh capek, harus selalu siap melayani siapa saja, tidak boleh mengeluh, tidak boleh bergosip, tidak ada kebebasan, dan sebagainya. Singkat kata harus sempurna tanpa cela.

Citra lain yang menjadi stereotype perempuan adalah: bodoh, dungu, tidak punya otak, emosional, dan tidak bisa diajak bicara. Entah bagaimana caranya, citra tersebut dikatakan sebagai kodrat perempuan. Hal ini diajarkan secara turun-menurun dan dijadikan teladan, terang-terangan ataupun terselubung. Secara sengaja ataupun tidak, media massa juga berpean besar dalam penanaman citra ini. Berita mengenai perempuan hanya berupa sensasi, lelucon murahan, sebagai ratu kecantikan, atau bagaimana perempuan diperkosa, menderita dengan segala kesedihannya. Jarang media massa memberitakan tentang keberhasilan perempuan. Dahulu surat kabar menyediakan rubik wanita, seolah hanya rubik tersebutlah yang pantas dibaca kaum perempuan. (Siregar, 2001)

Kita turut menganggap perempuan itu bodoh di satu pihak. Sering bila perempuan yang berbicara kita tidak mendengarkan, tetapi begitu laki-laki yang berbicara semuanya diam, dan pendapatnya selalu dianggap benar. Bila ada perempuan yang dapat membuktikan bahwa dirinya pandai, berhasil, berkedudukan, kita tidak mengaggapnya sebagai suatu prestasi. Hal tersebut dianggap biasa-biasa saja. Kita juga memanggil perempuan cukup dengan namanya saja. Akan tetapi bila yang memangku jabatannya itu lelaki, maka dengan hormat kita memanggilnya bapak. Tentu dengan sendirinya istrinya pun kita sebut ibu, meski usianya lebih muda dari kita. Istri ikut kehormatan suami meskipun belum tentu ia berprestasi. (Siregar, 2001)

2.6.2 Perempuan Jawa

Jawa merupakan daerah yang sangat istimewa. Keistimewaan Jawa salah satunya terletak pada kekayaan warisan budaya dan kearifan lokal yang dianggap membawa pengaruh besar pada perkembangan masyarakatnya yang dianggap lebih maju dan berkembang pesat dibanding daerah lain. Pulau Jawa merupakan pulau yang sangat padat penduduk. Kepadatan penduduk di Jawa disebabkan karena Jawa mempunyai keistimewaan dalam menarik minat orang-orang di daerah untuk datang dengan berbagai macam tujuan yang berbeda. Penduduk dari daerah lain datang ke Jawa untuk belajar, mencari nafkah untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi atau sekedar berkunjung dengan melihat hasil kebudayaan dari masyarakat Jawa. Dengan banyaknya pendatang di pulau Jawa menyebabkan daerah ini menjadi multietnis dan multikultural. Berbagai macam adat

(24)

30 dan kebiasaan juga ditinggalkan oleh nenek moyang yang dahulunya datang ke tanah Jawa dengan berbagai kepentingan yang berbeda. Kekayaan warisan budaya yang ada di Jawa juga meninggalkan banyak nilai-nilai yang menjadi kearifan lokal dan bisa diambil nilai-nilai positif serta dapat memberikan kemanfaatan bagi masyarakatnya.

Kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Jawa masih banyak yang melekat dan bertahan sampai sekarang. Kebudayaan dan kearifan lokal yang ada di Jawa tidak bisa terlepas dari budaya Islam. Karena pengaruh budaya Islam sangat kental, terutama pada kehidupan di lingkungan Kraton Yogyakarta. Kraton Yogyakarta mempunyai kedudukan istimewa dalam kehidupan masyarakat Jawa dimana kekuasaan dan kepemimpinan rajanya diakui dan aturan-aturannya dipatuhi oleh masyarakat Yogyakarta. Kraton Yogyakarta merupakan warisan budaya dari kerajaan Mataram Islam. Sehingga sebagian besar kegiatan budayaannya juga merupakan hasil akulturasi antara ajaran Islam dan budaya asli Jawa. Beberapa kebiasaan atau adat yang ada di Kraton Yogyakarta sangat terkait dengan ajaran Agama Islam. Kearifan lokal masyarakat Jawa juga identik dengan sifat perempuan dalam pemahaman masyarakat Islam yang penuh kelembutan dan sabar tetapi tetap mempunyai kecerdasan dan kemampuan secara intektual.

Kearifan lokal dalam kehidupan perempuan dapat dilihat dari kehidupan masyarakat Jawa yang mempunyai ciri khas yang menarik. Kekuatan wanita jawa tidak dirasakan sebagai ancaman ataupun kekerasan baik bagi suami maupun masyarakat luas, tetapi justru sebailknya kekuatannya selalu dirasakan orang lain sebagai kelembutan, kehangantan, kesabaran dan kepenuh pengertian. Hingga pada akhirnya suamilah yang justru sangat tergantung kepada istri terutama secara emosional, entah disadari atau tidak, disukai maupun tidak oleh pihak suami. Pada posisi inilah wanita Jawa akan banyak menentukan keputusan-keputusan dunia publik melalui suaminya. Berdasarkan konsep yang berkembang di dalam kultur Jawa, bahwa ibu adalah simbol moralitas yang spiritnya hidup dalam diri suami dan anak-anaknya serta kekuatan feminitasnya yang luar biasa untuk menopang, melindungi dan sumber inspirasi bagi suami dan anak-anaknya maka wajarlah jika peran wanita demikian besar.5 Menjaga warisan budaya juga merupakan salah satu peran seorang perempuan. Ketika seorang suami sibuk bekerja mencari nafkah, maka tugas istri adalah menjaga harta milik suami dan keluarga. Dasar inilah yang menjadikan seorang perempuan juga menunjukkan perannya dalam menjaga adat dan kebudayaan yang ditinggalkan suaminya ataupun lebih luas lagi adalah mempertahankan warisan dari suatu kelompok masyarakat.

(25)

31 Kearifan lokal sangat identik dengan kebudayaan suatu daerah atau tempat dimana terdapat masyarakat yang mempunyai kebiasaan atau adat istiadat yang secara turun temurun diakui dan dilaksanakan sebagai sebuah tradisi serta meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal yang membawa kemanfaatan. Perempuan mempunyai andil besar dalam mempertahankan dan mengembangkan kearifan lokal agar tidak pudar dan tetap mengakar dalam diri generasi muda sebagai pewaris kebudayaan dari suatu kelompk masyarakat. Perempuan mempunyai peran yang besar dalam mempertahankan adat istiadat karena dalam beberapa kegiatan budaya khususnya di Jawa, dimana perempuan merupakan tokoh utama. (Inawati, 2014)

Filosofi perempuan Jawa yang terkait dengan perilaku kehidupan sebagai seorang wanita pendamping kehidupan. Wanita dalam tatanan budaya Jawa sebagai pendamping hidup dalam keluarga. Pada kehidupan keluarga perempuan memiliki warna dan bahkan mewarnai kehidupan keluarga Jawa. Peran perempuan Jawa dapat dianalogikan sebagai strudara dari sebuah film. Sebuah film menjadi hebat dan luar biasa peran aktornya tidak dapat dilepaskan dari peran studaranya. Begitu juga bahwa kehidupan keluarga menjadi sukses tidak dapat dilepaskan dengan peran perempuan Jawa sebagai pendamping hidup dalam kehidupan berkeluarga. Kekuatan nilai filisofi diibaratkan lima jari tangan yang siap bekerja sama sesuai dengan fungsinya masing-masing. (Suryadi, 2018)

2.6.3 Karakter Perempuan Jawa

Perempuan Jawa memiliki lima karakter utama dalam kedudukannya sebagai wanita Jawa, yakni ayu, lembut, kuat, empati, dan mesra. Di samping itu, potret karakter perempuan Jawa juga dipaparkan dalam Serat Centhini (1981), yakni diibaratkan seperti lima jari tangan, sebagai berikut:

1. Jempol ‘ibu jari’, mengandung filososfi bahwa perempuan berkedudukan sebagai istri harus pol ‘total’ mengabdi kepada suami.

2. Telunjuk ‘jari telunjuk’, mengandung filosofi bahwa perempuan sebagai istri harus mentaati perintah suami.

3. Panunggul ‘jari tengah’ mengandung filosofi bahwa perempuan berkedudukan sebagai istri harus bangga akan keadaan suami, baik kelebihan maupun kekuarangan suami.

4. Manis ‘jari manis’ memiliki nilai filosofi bahwa perempuan berkedudukan sebagai istri harus selalu bersikap manis terhadap suaminya.

(26)

32 5. Jejenthik ‘jari kelingking’ memiliki nilai filosofi bahwa perempuan berkedudukan sebagai istri harus selalu berhati-hati, teliti, rajin dan terampil dalam melayani suami serta anak-anaknya. (Suryadi, 2018)

2.6.4 Nilai-Nilai Kearifan Perempuan Jawa 1. Rukun

Rukun berarti “dalam keadaan selaras”, “tenang dan tentram””, ‘tanpa perselisihan”, “bersatu dalam maksud untuk saling membantu”. Sikap hidup inilah yang dijunjung tinggi perempuan Jawa untuk menciptakan masyarakat selaras, serasi dan seimbang, tanpa pertikaian dan perselisihan. Prinsip ini diperkuat dengan petuah “ Rukun agawe santosa crah agawe bubrah”. Prinsip ini terlihat dalam suasana, bekerja sama, dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Rukun adalah keadaan ideal, yang diharapkan dapat dipertahankan dalam semua hubungan sosial, termasuk di dalam keluarga. Kata rukun juga menunjuk pada cara bertindak. Berlaku rukun berarti saling menghilangkan tanda-tanda ketegangan dalam masyarakat atau antara pribadi-pribadi. Dalam Serat Candrarini dikemukakan secara eksplisit bahwa perempuan harus selalu menghargai kepada sesama, hidup berdampingan dengan rukun dan damai (Sri Suhandjati Sukri, 2001:63). Prinsip ini dipegang teguh oleh perempuan dalam kondisi apapun. Perempuan akan selalu berusaha berusaha tenang, tidak memunculkan sikap-sikap menimbulkan perselisihan dan keresahan (Magnis Suseno, 1991:40). Rukun berarti usaha untuk menghindari pecahnya konflik, jika konflik terbuka antara suami dan istri sudah terjadi maka yang terjadi adalah disharmoni. Untuk menghindari terjadinya konflik secara terbuka, perempuan Jawa memiliki beberapa strategi ketika menyatakan menghadapi persoalan dengan laki-laki atau suami. Pertama melalui diplomasi dalam bentuk rembugan , dengan cara ini diskusi dilakukan dengan halus, tidak dengan kasar bahkan pemberontakan. Kedua, perempuan memilih diam untuk menyatakan ketidaksetujuannya. Bagi perempuan Jawa berbicara keras untuk mempertahakan argumentasi dan memaksakan kemauan dianggap sebagai tindakan yang tidak pantas. Hal ini terkait dengan strategi diplomasi masyarakat Jawa, yang mengadopsi huruf Jawa yaitu mati jika dipangku. Demikian juga dengan manusia, jika diemong, dihadapi dengan halus, tidak memberontak, diterima dengan pasrah, dipangku, maka pihak yang berseberangan pendapat akan menyerahkan tanpa sadar semua kepentingannya (Christina, 2004:150). Terdapat satu argumentasi yang dipegang oleh perempuan Jawa bahwa untuk dapat “menundukkan” pendapat suami perempuan Jawa memilih untuk diam, karena terdapat ungkapan umum bahwa seseorang yang dilarang melakukan sesuatu, jusru penasaran dan

(27)

33 akan melakukan perbuatan yang dilarang atau tidak disetujui tersebut, namun jika disuruh maka orang Jawa justru enggan melaksanakannya (Nek dikon kaya dielikake, nek dielikake kaya dikon (kalau disuruh seperti dilarang, kalau dilarang seperti disuruh) (Christina, 2004:152). Hal serupa seperti diungkapkan dalam Serat Yadnyasusila bahwa perempuan yang baik adalah yang memiliki sikap luluh, artinya “cair”, mengalir, dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi, tidak seperti batu yang keras dan kaku. Hal ini penting sebagai bekal bagi tugas merumat segala sesutau dalam lingkungan kewajibannya (Sumaatmaka, 1929: 53). Tidak jauh berbeda diungkapkan dalam Serat Wulang Jayalengkara, bahwa seorang pemimpin yang baik haruslah memiliki watak “Wong Catur” pertama, retna atau permata, wataknya adalah pengayom dan pengayem, karena khasiat batu-permata adalah untuk memberikan ketentraman dan melindungi diri. Kedua, watak estri atau wanita, adalah berbudi luhur, bersifat sabar, bersikap santun, mengalahkan tanpa kekerasan atau pandai berdiplomasi. Ketiga, watak curiga atau keris, seorang pemimpin haruslah memiliki ketajaman olah-pikir, dalam menetapkan policy dan strategi di bidang apa pun. Keempat, watak paksi atau burung, mengisyaratkan watak yang bebas terbang kemana pun, agar dapat bertindak independen tidak terikat oleh kepentingan satu golongan, sehingga pendapatnya pun bisa menyejukkan semua lapisan masyarakat (Poerbatjaraka,1952:34). Mengamati ungkapan tersebut di atas jelas terlihat bahwa watak yang diharapkan dari seorang pemimpin salah satunya adalah watak seperti yang dimiliki oleh perempuan bersifat sabar, bersikap santun, dan mengalahkan tanpa kekerasan atau pandai berdiplomasi.

Untuk mewujudkan kerukunan, terdapat prinsip lain yang harus dipegang manusia Jawa, yaitu gotong royong. Gotong royong artinya saling membantu dan bersama-sama dalam melakukan pekerjaan. Prinsip ini mengandaikan bahwa manusia pada dasarnya tidak dapat hidup sendiri, selalu bergantung pada sesamanya, oleh karena itu harus berusaha menjaga hubungan baik dan selalu bersedia membantu sesamanya. Demikian juga dalam kehidupan berumah tangga, dilakukan pembagian pekerjaan bagi semua anggota keluarga dan semua dilakukan dengan gotong royong. Perempuan sebagai istri tahu persis apa yang harus dilakukan dalam keluarga, demikian juga dengan suami. Dalam praktek hidup sehari-hari, peran dan posisi suami istri saling menggantikan. Jika istri hendak bepergian untuk suatu keperluan, maka suami harus menjaga anak di rumah. Demikian pula sebaliknya. Semua dilakukan dengan menjunjung tinggi prinsip gotong royong dan bekerja sama.

(28)

34 2. Hormat

Prinsip ini mengatakan bahwa setiap orang dalam cara berbicara dan membawa diri selalu harus menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Perempuan Jawa memegang prinsip ini dalam hubungan baik dengan suami maupun dengan orang lain. Prinsip hormat didasari pendapat bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hierarkhis, bahwa keteraturan itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib untuk mempertahankan dan membawa diri sesuai dengannya (Magnis Suseno, 1991:61).

Terdapat tiga perasaan yang dipelajari manusia Jawa dalam pendidikan sejak mulai balita hingga dewasa :

1. Wedi artinya takut terhadap akibat yang ditimbulkan dari suatu tindakan. Termasuk di sini adalah wedi terhadap orang yang harus dihormati.

2. Isin artinya rasa malu, merasa bersalah. Isin dan sikap hormat merupakan satu kesatuan. Manusia Jawa merasa isin apabila tidak dapat menunjukkan sikap hormat yang tepat terhadap orang yang pantas dihormati.

3. Sungkan merupakan rasa isin dan malu sekaligus dalam arti lebih positif. Rasa sungkan ini berhubungan erat dengan rasa hormat penuh kesopanan kepada orang yang lebih tua, atau sesama yang belum dikenal sebagai bentuk pengekangan halus terhadap kepribadian sendiri demi hormat kepada pribadi orang lain

Dalam kaitannya dengan perasaan hormat ini, perempuan Jawa dituntut untuk memiliki perasaan wedi lan bekti ing laki (takut dan berbakti kepada suami). Seperti yang diungkap dalam Serat Centhini, bahwa tiga hal yang harus diingat istri dalam perkawinan adalah, gemi (hemat), wedi (takut) dan gumati (kasih sayang) kepada suami dan anak-anaknya (Kamajaya,1988:61). Sebagai bentuk sikap hormat istri terhadap suami dapat dicontohkan adanya nasihat untuk tidak membuka rahasia dan aib suami (aja miyak ing wewadine wong kakung). Jika perempuan berani membuka aib suami, itu berarti mempermalukan dirinya sendiri (Sri Suhandjati Sukri, 2001:47). Sikap hormat ini terutama ditujukan kepada suami, karena suami dianggap sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap nasib istri. Ungkapan ekstrim yang memperlihatkan posisi perempuan Jawa dengan terhadap suami adalah swarga nunut, neraka katut. (Ungkapan tersebut pada perkembangannya akan mendapatkan reinterpretasi baru oleh

(29)

35 perempuan itu sendiri). Jika istri tidak hormat terhadap suami maka akibat yang ditimbulkan sangatlah besar, karena hal tersebut akan mendatangkan ketidakharmonisan.

3. Pengendalian Diri

Pengendalian diri yang dimaksud adalah kemampuan untuk membatasi dan mengekang segala bentuk kehendak dalam rangka menjaga keseimbangan dan keselarasan hidup. Sebuah nilai yang dipandang penting dan berhubungan dengan pengendalian diri ini, dapat dilihat pada ungkapan sak madya dan sak cukupe. Artinya yang sedang-sedang saja, yang menengah, cukupan, tidak terlalu dan tidak ekstrim. Sebagai contoh adalah urip sak madya, artinya hidup yang sedang-sedang saja, tidak terlalu kaya atau tidak terlalu miskin. Inilah nilai yang dianggap ideal oleh manusia Jawa. Manusia Jawa juga harus selalu bersifat konform terhadap sesamanya, artinya harus selalui diingat bahwa seseorang tidak boleh kelihatan lebih menonjol, melebihi orang lain dalam masyarakat (Magnis Suseno, 1991:51). Erat terkait dengan prinsip pengendalian diri ini, manusia Jawa selain harus sak madya juga harus prasojo (sederhana). Bahkan secara lebih ekstrim, manusia Jawa dituntut untuk andhap asor, bersedia menganggap diri lebih rendah daripada orang lain.

Perempuan Jawa dituntut memiliki kemampuan pengendalian diri. Perempuan harus bersikap sak madya. Misalnya dalam pergaulan perempuan dituntut untuk prasojo dan andhap asor. Sebagai contoh, tidak terlalu memamerkan harta kekayaan yang dimiliki dan tidak terlalu banyak bicara. Bagi manusia Jawa, derajat dan harga diri seseorang ditentukan oleh budi pekerti dan ucapan yang keluar dari mulut (Ajining diri, ana ing lathi lan pekerti). Manusia Jawa juga meyakini bahwa dengan pengendalian diri akan diperoleh kematangan pribadi, maksudnya, ketika seseorang telah mampu menyerap sifat-sifat yang bertentangan dalam diri serta mampu membatinkan perasan-perasaan yang bertentangan tersebut dapat dikatakan sebagai pribadi matang.

4. Sabar, Nrima, Rila dan Sumarah

Sabar di sini diartikan sebagai kemampuan diri untuk menerima segala apa yang mendatangi diri tanpa protes dan pemberontakan. Sikap sabar selalu diiringi dengan kesadaran dan keyakinan bahwa pada waktunya nasib yang baik pun akan tiba. Sifat lain yang berhubungan dengan sifat sabar adalah nrima, ikhlas dan sumarah.

Nrima diartikan sebagai sikap hidup yang positif, yang diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menerima, bereaksi secara rasional dan tidak membabi buta jika kecewa karena

(30)

36 mengalami kesulitan dan kegagalan. Sikap nrima menuntut kekuatan untuk menerima apa yang tidak dapat dielakkan tanpa membiarkan diri dihancurkan olehnya. Sikap nrima memberi daya tahan untuk juga menanggung nasib buruk” seseorang tetap gembira dalam penderitaan dan prihatin dalam kegembiraan” (Magnis Suseno, 1991:143). Sikap Nrima ini sering kali muncul dalam ungkapan “Urip iku ora gampang, diarani gampang yo gampang, diarani angel yo angel”, (Hidup itu tidak mudah, disebut mudah ya mudah, disebut sulit ya sulit). Dengan sikap nrima, seseorang dapat memulai sesuatu yang baru, bangkit lagi untuk maju ke depan tanpa dibebani oleh kenangan lama dan hal-hal negatif yang pernah terjadi. “Tiyang menika kedah nrimah”, “nrima ing pandum” (sikap menerima). Sikap lain yaitu rila, yaitu kesediaan untuk melepaskan hak milik, hasil-hasil pekerjaan sendiri, apabila hal tersebut merupakan tuntutan nasib.

Sikap sabar, nrima dan rila, seringkali dipahami sebagai kesediaan untuk menelan segala-galanya secara apatis. Hal ini jelas salah. Sabar, nrima dan rila mempunyai makna lebih positif, bukan menyerah dalam arti jelek, melainkan sebagai tanda penyerahan otonomi dan individualitas sendiri untuk mencocokkan diri dengan keselarasan agung dalam alam semesta sebagaimana sudah ditentukan oleh Tuhan. Kemampuan sabar, nrima dan rila bukanlah pasif, tetapi realistis, tetap berusaha dan terus menerus bersyukur dan berserah diri kepada Tuhan. Inilah yang disebut prinsip sumarah.

Di antara sekian banyak kearifan yang dimiliki perempuan Jawa, kearifan inilah yang proporsinya paling besar dimiliki oleh perempuan Jawa. Perempuan Jawa dikenal mempunyai daya tahan tinggi terhadap penderitaan. Hal ini seperti tertera dalam Serat Candrarini bahwa perempuan harus memiliki sifat sabar rela dan narima (menerima) semua hal penuh dengan rasa syukur (Sri Suhandjati Sukri, 2001:72).

Hal ini karena prinsip sabar, nrima, rila dan sumarah ditanamkan kepada perempuan Jawa sejak usia belasan. Perempuan memiliki kekuatan tersembunyi ketika memegang teguh nilai-nilai tersebut. Perempuan Jawa percaya bahwa ketika perempuan sabar, nrima, rila dan sumarah terhadap penderitaan dan nasib buruk, maka suatu saat nanti, pastilah nasib baik akan menghampiri. (Nugroho, 2012)

Referensi

Dokumen terkait

Terkait dengan permasalahan kognitif tentang mengenal lambang bilangan anak usia empat sampai lima tahun, maka penelitian ini tentang pengaruh media menara kardus angka

Program Magister Teknik Sipil akan menjamin, bahwa sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung proses bisnis dalam penyediaan jasa layanan di bidang Teknik Sipil tersedia

Mata Diklat ini membekali peserta dengan kemampuan menyusun tata naskah dan persuratan dinas dalam pelaksanaan tugas jabatan di instansinya melalui pembelajaran pengertian

Kapitalisasi beban pinjaman tersebut dihentikan pada saat unit real estat tersebut secara substansial siap untuk digunakan sesuai dengan tujuannya atau jika bagian yang telah

--- Menimbang, bahwa “yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain” menurut Majelis ditafsirkan sebagai milik orang lain, dalam arti bukan milik terdakwa dan

Kegagalan ACPC untuk memulihkan harga kopi membuat organisasi ini diyakini oleh para anggotanya tidak layak lagi untuk dipertahankan sehingga ACPC resmi dibekukan pada akhir

Perilaku Miiko juga terbentuk dengan proses belajar melalui perkuatan sosial seperti perilakunya dalam menghargai pekerjaan ibunya yang semula dianggapnya terlalu sibuk

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, menunjukkan bahwa perkawinan yang dilakukan di bawah umur tergolong ke dalam perkawinan yang tidak sah di mata