3. METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian merupakan penjelasan mengenai informasi yang berhubungan dengan penelitian yang mencakup jenis penelitian, teknik pengukuran variabel, teknik pembuatan kuesioner, desain sampel, metode, dan program analisa data untuk membahas dan menjawab permasalahan dalam penelitian kali ini mengenai pengaruh entrepreneurial orientation terhadap financial performance melalui competitive advantage dan job satisfaction sebagai variabel intervening pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo.
3.1 Model Analisis
Model analisis yang digunakan dalam penelitian tersebut untuk melakukan pengujian atas hipotesis adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1 Model analisis hipotesis
3.2 Definisi Konseptual dan Operasional Variabel
Definisi operasional menurut Cooper & Emory (1996) adalah suatu definsi yang dinyatakan dalam kriteria-kriteria yang dapat diuji secara khusus. Setiap variabel yang muncul dalam sebuah penelitian, harus dapat dijelaskan secara operasional. Dalam penelitian ini terdapat tiga jenis variabel yaitu variabel bebas (independen), variabel intervening, dan variabel terikat (dependen). Variabel-
Competitive Advantage
Job Satisfaction Entrepreneurial Orientation
H6
H5 H4
H3
H2 H1
Financial Performance
variabel tersebut yaitu entrepreneurial orientation, competitive advantage, job satisfaction dan financial performance.
Indikator empirik dirumuskan dari beberapa pendapat para ahli yang dirangkum sehingga membentuk suatu kalimat dalam indikator empirik.
Pernyatan-pernyataan pada indikator empirik ini nantinya akan menjadi dasar bagi pertanyaan kuesioner yang dibuat.
3.2.1 Variabel Bebas (Variable Independent)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab munculnya variabel dependen / terikat (Sugiyono, 2010). Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah entrepreneurial orientation.
- Konsep : Entrepreneurial Orientation (X)
- Definisi Operasional
Entrepreneurial Orientation adalah sejauh mana manajer-manajer tertinggi cenderung mengambil bisnis yang berisiko (risk-taking), mendukung perubahan dan inovasi untuk memperoleh keunggulan kompetitif bagi perusahaan (innovativeness), dan bersaing secara agresif dengan perusahaan lainnya (proactiveness) (Miller, 1983).
- Indikator Empirik:
1. Risk-Taking
P1 : Perusahaan kami menggiatkan perilaku berani mengambil resiko.
(Our firm encourages risk-taking behaviours)
P2 : Perusahaan kami memiliki kecenderungan kuat untuk memilih proyek yang memiliki resiko dan tingkat pengembalian yang tinggi (high-return high-risk).
(Our firm has a strong proclivity for high-return high-risk project) 2. Proactiveness
P3 : Perusahaan kami biasanya memprakarsai tindakan yang dapat memicu pesaing untuk menanggapi.
(Our firm typically initiates actions to which competitors have to respond to)
P4 : Perusahaan kami adalah perusahaan yang proaktif.
(Our firm is proactive).
3. Innovativeness
P5 : Perusahaan kami menggiatkan perilaku dan kegiatan yang inovatif.
(Our firm engages innovative behaviours and activities)
P6 : Perusahaan kami memiliki banyak lini produk baru dalam lima tahun terakhir (atau sejak berdirinya)
(Our firm has many new lines of products in the past five years (or since its establishment)
3.2.2 Variabel Antara (Variable Intervening)
Variabel antara adalah variabel yang mejadi perantara yang letaknya di antara variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat), sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi perubahan variabel dependen (Sugiyono, 2010). Variabel antara yang digunakan dalam penelitian ini adalah competitive advantage dan job satisfaction.
- Konsep : Competitive Advantage (Z1)
- Definisi Operasional
Competitive advantage adalah kemampuan yang memungkinkan suatu perusahaan untuk membedakan dirinya dari para pesaingnya dengan memiliki satu atau lebih dari kemampuan berikut : harga yang lebih rendah, kualitas yang lebih tinggi, keandalan yang tinggi, inovasi produk dan waktu pengiriman yang lebih cepat (Li, Ragu-Nathan, & Rao, 2006).
- Indikator Empirik:
1. Price/Cost
P1 : Perusahaan kami menawarkan harga produk yang kompetitif.
(We offer competitive prices)
P2 : Perusahaan kami menawarkan harga produk yang sama rendahnya atau bahkan lebih rendah dibandingkan dengan pesaing.
(We are able to offer prices as low or lower than our competitors)
2. Quality
P3 : Perusahaan kami menawarkan produk yang sangat handal atau dapat dipercaya.
(We offer products that are highly reliable)
P4 : Perusahaan kami menawarkan produk yang berkualitas tinggi (We offer high quality products to our customer)
3. Delivery Dependability
P5 : Perusahaan kami melakukan pengiriman barang dengan tepat waktu
(We deliver customer order in time)
P6 : Perusahaan kami menyediakan pengiriman barang yang dapat diandalkan.
(We provide dependable delivery) 4. Product Innovation
P7 : Perusahaan kami menyediakan produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan.
(We provide customized products)
P8 : Perusahaan kami mampu memenuhi keinginan pelanggan.
(We alter our product offerings to meet client needs) 5. Time to market
P9 : Perusahaan kami bergerak cepat dalam mengembangkan produk baru.
(We have fast product development)
P10 : Perusahaan kami merupakan pionir dalam memperkenalkan sebuah produk di pasar.
(We are first in the market in introducing new products)
- Konsep : Job Satisfaction (Z2)
- Definisi Operasional
Job Satisfaction adalah respon emosional karyawan yang dihasilkan dari pemenuhan atas kebutuhan yang telah diberikan oleh perusahaan (Rast and Tourani, 2012).
- Indikator Empirik:
1. Pay
P1 : Saya merasa digaji dengan adil untuk pekerjaan yang saya lakukan (I feel I am being paid a fair amount for the work I do)
2. Promotion
P2 : Dalam pekerjaan saya, promosi jabatan didasarkan pada kemampuan karyawan
(In my work, promotion are based on employee's ability) 3. Supervision
P3 : Atasan saya kompeten dalam melakukan pekerjaannya (My supervisor is competent in doing his / her job)
4. Co-Workers
P4 : Saya merasa nyaman bekerja dengan rekan-rekan lainnya.
(I feel comfortable working with other colleagues) 5. Nature of Work
P5 : Saya merasakan adanya kebanggaan dalam melakukan pekerjaan saya
(I feel a sense of pride in doing my job)
3.2.3 Variabel Terikat (Variable Dependent)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel independen / bebas (Sugiyono, 2010). Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah financial performance.
- Konsep : Financial Performance (Y)
- Definisi Operasional :
Financial Performance merupakan alat ukur posisi keuangan perusahaan selama periode waktu tertentu untuk mengetahui seberapa efisien perusahaan menggunakan sumber dayanya untuk menghasilkan pendapatan (Malik dan Nadeem, 2014).
- Indikator Empirik :
ROA = Laba Bersih Setelah Pajak atau Net Income
Total Aset x 100%
ROE = Laba Bersih Setelah Pajak atau Net Income
Total Equity x 100%
3.3 Skala Pengukuran
Dalam penelitian ini menggunakan skala pengukuran nominal untuk variabel demografis (jenis kelamin dan jabatan). Untuk mengukur umur dan lama bekerja diukur menggunakan skala pengukuran interval. Skala nominal adalah skala yang digunakan hanya untuk memberi tanda pada obyek atau variabel yang bersangkutan sedangkan skala interval adalah skala pengukuran yang memiliki selisih sama antara satu ukuran dengan ukuran lain, namun tidak memiliki nilai nol mutlak.
Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur pendapat atau persepsi seseorang atau sekelompok orang mengenai suatu fenomena yang terjadi. Dalam penelitian ini, skala Likert yang digunakan untuk mengukur Entrepreneurial Orientation, Competitive Advantage, dan Job Satisfaction yaitu dengan menggunakan 5 poin skala Likert sebagai berikut:
1 : Sangat Tidak Setuju 2 : Tidak Setuju
3 : Netral 4 : Setuju
5 : Sangat Setuju
3.4 Jenis Data dan Sumber Data 3.4.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data kuantitatif. Penelitian dengan metode kuantitatif, pada umumnya data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan metode statistika (Sugiyono, 2010).
3.4.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari sumber asli dan dikumpulkan secara khusus untuk menjawab pertanyaan atas penelitian yang dilakukan. Pengumpulan data primer dapat dilakukan melalui observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner.
Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung, misalnya melalui buku, internet, majalah, surat kabar, dan laporan keuangan.
Dalam penelitian ini, data primer diperoleh melalui penyebaran kuisioner kepada beberapa karyawan di beberapa perusahaan manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo yang telah memenuhi syarat sampling. Dan untuk data sekunder berupa pengolahan dari laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat diperoleh dari website www.idx.com.
3.5 Instrumen dan Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Studi Pustaka
Studi Pustaka dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi atau data yang relevan dari literatur, jurnal, media, serta internet untuk merumuskan landasan bagi hipotesis, penyusunan daftar pertanyaan, serta pembahasan teoritis. Studi pustaka membantu peneliti untuk mendapatkan informasi atau data yang bersifat teoritis sehingga penelitian ini memiliki landasan yang kuat.
2. Penyebaran Kuesioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan sekumpulan pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diajukan dan dijawab sesuai dengan persepsi responden. Kuesioner yang telah dibuat disebarkan secara langsung ke perusahaan pubik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo yang telah ditetapkan sebagai sampel.
3.6 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah 141 perusahaan publik sektor manufaktur di Indonesia.
3.7 Sampel dan Teknik Sampling 3.7.1 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2010). Dalam penelitian ini, jumlah sampel yang diambil oleh peneliti adalah 30 perusahaan publik sektor manufaktur, yang memiliki net income positif selama 5 tahun dari 2010 - 2014 di Surabaya dan Sidoarjo. Satu perusahaan diwakiliki oleh 10 orang karyawan dengan jabatan manajer atau staff yang telah bekerja pada perusahaan terkait selama minimal 5 tahun.
3.7.2 Teknik Sampling
Sampel harus dapat mewakili karakteristik dari jumlah. Penelitian ini menggunakan non-probability sampling dengan jenis pemilihan sampel purposive sampling. Non-probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan mempertimbangkan tertentu (Sugiyono, 2010).
Kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel antara lain :
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI);
2. Net Income perusahaan harus positif selama lima tahun terakhir (2010-2014);
3. Terletak atau memiliki cabang di Surabaya dan Sidoarjo.
3.8 Unit Analisis
Unit analasis dalam penelitian ini adalah 30 perusahaan publik sektor manufaktur, yang memiliki net income positif selama 5 tahun dari 2010 - 2014 di Surabaya dan Sidoarjo.
3.9 Rancangan Kuesioner
Kuesioner terbagi dalam dua kelompok pertanyaan dan pernyataan.
a. Kelompok pertanyaan demografi responden:
a. Nama Perusahaan
b. Jenis Kelamin c. Umur
d. Jabatan e. Lama Bekerja
Manfaat dalam kelompok pertanyaan ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan respoden yang diteliti.
b. Kelompok pernyataan yang mewakili variabel intervening dan variabel independen. Dalam kelompok ini, responden akan memberikan respon dalam skala likert yaitu 1 (Sangat Tidak Setuju) - 5 (Sangat Setuju). Kuisioner yang dilampirkan terdiri dari 3 bagian:
a. Variabel Independen :
- Entrepreneurial Orientation yang diadopsi dari Wong (2012).
b. Variabel Intervening :
- Job Satisfaction yang diadopsi dari Rast & Tourani (2012).
- Competitive Advantage yang diadopsi dari Li, Ragu-Nathan, &
Rao (2006).
3.10 Teknik Analisis Data
Pemilihan teknik analisis statistik merupakan bagian yang penting dalam menguji dalam sebuah penelitian. Salah satu alat analisis yang mulai banyak digunakan adalah SEM (Structural Equation Modelling). Penelitian ini menggunakan PLS (Partial Least Square) yang merupakan bagian dari SEM (Structural Equation Modelling). SEM ini adalah suatu teknik statistika untuk menguji dan memberikan estimasi hubungan kasual dengan mengintegrasikan analisa faktor dan analisa jalur. Penelitian ini menggunakan analisa Partial Least Square (PLS) yang merupakan bagian dari SEM dengan alat bantu berupa aplikasi software smart PLS.
3.10.1 Partial Least Square (PLS)
Analisis PLS adalah teknik statistika multivarian yang melakukan pembandingan antara variable dependen berganda dan variable independen
berganda. Tujuan PLS untuk memprediksi pengaruh variable X terhadap Y dan menjelaskan hubungan teoritikal diantara kedua variable tersebut. PLS memiliki kelebihan yaitu tidak mendasarkan pada berbagai asumsi, dapat digunakan untuk memprediksi model dengan landasan teori yang lemah, dapat digunakan pada data yang tidak berdistribusi normal, dan dapat digunakan untuk mengukur ukuran sampel yang kecil (Jogiyanto dan Abdillah, 2009).
Menurut Jogiyanto dan Abdillah (2009), PLS sebagai model prediksi, tidak mengasumsikan distribusi tertentu untuk mengestimasi parameter dan memprediksi hubungan kausalitas. Oleh karena itu teknik parametrik untuk menguji signifikasi parameter tidak diperlukan, dan model evaluasi untuk prediksi sifat non-parametrik, sehingga pengevaluasian model PLS dapat dilakukan dengan mengevaluasi outer model dan inner model.
3.10.2 Konstruksi Diagram Path
Diagram path menunjukan hubungan terhadap alur kausal antar variabel eksogen dan endogen. Hubungan-hubungan kausal yang ada merupakan justifikasi dari teori yang telah ada kemudian konsep tersebut divisualisasikan ke dalam gambar sehingga lebih mudah dipahami. Diagram path dari penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini :
3.10.3 Model Pengukuran (Outer Model)
Outer model merupakan model pengukuran untuk menilai validitas dan reliabilitas model (Jogiyanto & Abdilah, 2009). Uji validitas digunakan untuk mengetahui kemampuan instrumen penelitian dalam mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan, uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi alat ukur yang digunakan dalam mengukur suatu konsep dan mengukur konsistensi responden penelitian dalam menjawab item pertanyaan yang disajikan dalam kuesioner.
3.10.3.1 Uji Validitas
Jogiyanto dan Abdillah (2009) mengemukakan bahwa validitas terdiri dari validitas eksternal dan validitas internal. Validitas eksternal menunjukkan bahwa hasil dari suatu penelitian adalah valid dan dapat digeneralisasikan ke semua obyek, situasi dan waktu yang berbeda. Di sisi lain, validitas internal menunjukkan kemampuan dari instrumen penelitian dalam mengukur apa yang seharusnya diukur dari suatu konsep. Validitas internal sendiri terbagi lagi menjadi validitas kualitatif dan validitas konstruk.
Validitas kualitatif terbagi menjadi validitas tampang dan validitas isi.
Validitas isi menunjukkan kemampuan item-item pada suatu instrumen mewakili konsep yang diukur. Validitas tampang menunjukkan bahwa item-item mengukur suatu konsep apabila dari penampilan tampangnya seperti mengukur konsep tersebut. Validitas konstruk menunjukkan seberapa baik hasil yang didapatkan dari penggunaan suatu pengukuran sesuai dengan teori-teori yang digunakan untuk mendefinisikan suatu konstruk. Validitas konstruk disini terbagi lagi menjadi validitas konvergen dan validitas diskriminan.
a. Validitas Konvergen (Convergent Validity)
Validitas konvergen merupakan pengukuran hubungan antar skor indikator dengan skor variabel latennya. Validitas konvergen berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-pengukur dari suatu konstruk seharusnya berhubungan tinggi. Validitas konvergen tersebut terjadi jika skor yang diperoleh dari dua instrumen berbeda yang mengukur konstruk yang sama mempunyai korelasi yang tinggi.
Dalam PLS, uji validitas konvergen dengan indikator reflektif dinilai berdasarkan loading factor indikator-indikator yang mengukur konstruk tersebut. Loading factor adalah korelasi antara skor item atau skor komponen dengan skor konstruk. Dalam validitas konvergen, rule of thumb yang dipakai adalah outer loading lebih besar dari 0.5, communality lebih besar dari 0.5 dan average variance extracted (AVE) lebih besar dari 0.5. Semakin tinggi nilai dari loading factor maka semakin penting peranan loading dalam menginterpretasikan matrik faktor. Rumus untuk menghitung AVE adalah sebagai berikut:
𝐴𝑉𝐸 = 𝑖 2
𝑖2+ 𝜎𝑖 2 𝑒𝑖
Dimana 𝜆𝑖 = faktor loading dan 𝜀𝑖 − 1 − 𝜆𝑖2
b. Validitas Diskriminan (Discriminant Validity)
Validitas diskriminan adalah pengukuran indikator dengan variabel latennya. Validitas diskriminan berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-pengukur konstruk yang berbeda seharusnya tidak berkorelasi dengan tinggi. Uji validitas diskriminan dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruknya.
Metode lain yang dapat digunakan untuk menilai validitas diskriminan adalah dengan cara membandingkan akar AVE (average variance extracted) setiap konstruk dengan korelasi antar konstruk tersebut terhadap konstruk lainnya dalam model. Apabila nilai akar AVE setiap konstruk lebih besar dibandingkan dengan nilai korelasi antar konstruk dengan konstruk lainnya dalam model maka dapat disimpulkan bahwa model mempunyai validitas diskriminan yang cukup.
3.10.3.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas menunjukkan akurasi, konsistensi dan ketepatan suatu alat ukur dalam melakukan pengukuran. Menurut Jogiyanto dan Abdillah (2009), uji reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan 2 metode yaitu Cronbach’s alpha dan Composite reliability. Cronbach’s alpha mengukur batas bawah nilai reliabilitas suatu konstruk sedangkan di sisi lainnya composite reliability
mengukur nilai sesungguhnya reliabilitas suatu konstruk. Dalam uji reliabilitas tersebut, composite reliability dinilai lebih baik dalam mengestimasi konsistensi internal suatu konstruk. Rumus untuk menghitung composite reliability adalah sebagai berikut:
𝜌𝑐 = (Σ𝜆𝑖)2 (Σ𝜆𝑖)2+ Σ𝑖𝑣𝑎𝑟(𝜀𝑖)
Dimana 𝜆𝑖 = faktor loading dan 𝜀𝑖 − 1 − 𝜆𝑖2
Rule of thumb nilai composite reliability harus lebih besar dari 0.7.
walaupun angka 0.6 masih bisa diterima. Tetapi uji konsistensi internal tidak mutlak untuk dilakukan apabila validitas konstruk telah dilakukan atau terpenuhi.
Hal ini dikarenakan konstruk valid adalah konstruk yang reliable dan sebaliknya konstruk yang reliable belum tentu valid.
3.10.4 Evaluasi Inner Model
Inner model atau model struktural dilakukan dengan melihat presentase varian yang dijelaskan yaitu dengan melihat R2 untuk konstruk laten dependen, Stone-Geisser Q-square test (Ghozali, 2011) dan juga melihat besarnya jalur koefisien jalur strukturalnya. Stabilitas dari estimasi ini dievaluasi dengan uji t- statistik. Skor koefisien inner model yang ditunjukkan oleh nilai t-statistic, harus di atas 1,96 untuk hipotesis dua ekor (two tailed) dan di atas 1,64 untuk hipotesis satu ekor (one tailed) untuk pengujian hipotesis pada alpha 5% dan power 80%.
Nilai R² digunakan untuk mengukur tingkat variasi perubahan variabel independen terhadap variabel dependen. R-square mengartikan keragaman konstruk endogen yang mampu dijelaskan oleh konstruk-konstruk eksogen secara serentak. Semakin tinggi R² berarti semakin baik model prediksi dari model penelitian yang diajukan.
Sedangkan untuk mengukur model konstruk digunakan Q-square predictive relevance. Q-square dapat mengukur seberapa baik nilai observasi yang dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Jika Q-square > 0 berarti menunjukkan bahwa model memiliki predictive relevance, sebaliknya jika nilai Q-square < 0 menunjukkan model kurang memiliki predictive relevance (Ghozali, 2011). Perhitungan Q-square dapat dilakukan dengan rumus :
𝑄2− 1 − 1 − 𝑅12 1 − 𝑅22 … (1 − 𝑅𝑝2) Dimana R12
, R22
... Rp2
adalah R-square variabel endogen dalam model.
3.11 Rumusan Hipotesis dan Uji Hipotesis Penelitian 3.11.1 Rumusan Hipotesis
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas, maka hipotesis yang akan diuji dirumuskan sebagai berikut:
1. Pengaruh antara entrepreneurial orientation terhadap competitive advantage
H10: Entrepreneurial orientation tidak berpengaruh positif terhadap competitive advantage pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo.
H11: Entrepreneurial orientation berpengaruh positif terhadap competitive advantage pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo.
2. Pengaruh antara entrepreneurial orientation terhadap job satisfaction H20: Entrepreneurial orientation tidak berpengaruh terhadap job
satisfaction pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo
H21: Entrepreneurial orientation berpengaruh terhadap job satisfaction pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo 3. Pengaruh antara entrepreneurial orientation terhadap financial
performance
H30: Entrepreneurial orientation tidak berpengaruh terhadap financial performance pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo
H31: Entrepreneurial orientation berpengaruh terhadap financial performance pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo
4. Pengaruh antara competitive advantage terhadap financial performance
H40: Competitive advantage tidak berpengaruh terhadap financial performance pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo
H41: Competitive advantage berpengaruh terhadap financial performance pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo 5. Pengaruh antara job satisfaction terhadap financial performance
H50: Job satisfaction tidak berpengaruh terhadap financial performance pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo H51: Job satisfaction berpengaruh terhadap financial performance pada
perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo 6. Pengaruh antara job satisfaction terhadap competitive advantage
H60: Job satisfaction tidak berpengaruh terhadap competitive advantage pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo.
H61: Job satisfaction berpengaruh terhadap competitive advantage pada perusahaan publik sektor manufaktur di Surabaya dan Sidoarjo.
3.11.2 Uji Hipotesis Penelitian
Setelah merumuskan hipotesis penelitian, maka perlu dilakukan uji statistik untuk menentukan daerah penolakan H0 sehingga dapat diperoleh kesimpulan hasil hipotesis penelitian. Uji statistik yang digunakan adalah uji t dan original sample estimate yang ditunjukkan oleh tabel result for inner model pada output PLS. Daerah penolakan H0 adalah: Tolak H0 jika [T-statistic] > TTabel yaitu sebesar 1,64 dan original sample estimate positif. Masing-masing nilai T-statistik variabel eksogen terhadap variabel endogen dilihat untuk dapat diambil kesimpulan pengaruh tiap variabel tersebut secara parsial.