1 1.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nilai perusahaan dapat digambarkan sebagai harga yang bersedia dibayarkan jika sebuah perusahaan akan dijual dengan melalui mekanisme di pasar modal maupun secara langsung. Ketika seseorang investor bersedia membayarkan lebih guna kepemilikan suatu perusahaan maka perusahaan tersebut bisa dikatakan telah mengalami penambahan nilai yang berujung pada kesejahteraan investor. Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Brigham and Gapenski (2006) kesejahteraan pemegang saham bertambah, jika nilai perusahaan semakin bertambah. Perusahaan ketika hendak menginginkan penambahan nilai menjadi maksimal, maka perusahaan tersebut harus memaksimalkan kekuatan-kekuatan perusahaan serta memperbaiki kekurangan yang ada. Hal ini yang perlu dimaksimalkan adalah profitabilitas perusahaan melalui perbaikan penjualan dan pemanfaatan biaya modal. Berdasarkan kondisi tersebut, dapat diketahui bahwa untuk meramalkan nilai suatu perusahaan dapat dilihat melalui kondisi profitabilitas, struktur modal serta pertumbuhan perusahaan melalui penjualannya.
Beberapa penelitian mengenai nilai perusahaan yang telah diteliti oleh Gultom (2013); Hermuningsih (2013); Kusumajaya (2011) dalam penelitiannya mereka menyampaikan bahwa penelitian yang mereka hasilkan masih memiliki kekuatan generalisir tergolong lemah. Penelitian yang memiliki kekuatan generalisir yang lemah belum bisa dijadikan sebagai rujukan yang valid untuk stakeholders dalam berbagai hal termasuk keputusan investasi. Adanya kondisi tersebut mendorong untuk dilakukannya penelitian ulang tentang bagaimana pengaruh langsung maupun tidak langsung antara struktur modal dan pertumbuhan perusahaan terhadap profitabilitas serta nilainya. Beberapa penyesuaian dilakukan dalam penelitian ini, pertama dengan mengganti populasi indeks yang digunakan sebelumnya dengan indeks kompas 100. Penyesuaian kedua yaitu memasukan time lag 1 tahun dalam menghubungkan antara variabel. Serta penyesuaian ketiga yaitu mepertimbangkan alat ukur variabel dengan tujuan memperoleh hasil yang valid.
Berdasarkan tujuan tersebut pada penelitian ini nilai diukur dengan menggunakan
2
Financial Value Added (FVA), sedangkan pertumbuhan perusahaan diproksikan melalui pertumbuhan penjualan perusahaan.
Berbagai penyesuaian yang dilakukan tersebut tentunya memiliki beberapa tujuan. Tujuan pertama yaitu diperoleh hasil yang tergeneral dengan cara mengganti populasi pada penelitian sebelumnya menggunakan indeks kompas 100.
Indeks Kompas 100 dipilih sebagai objek yang tepat karena pada penelitian sebelumnya, yaitu oleh Gultom (2013); Hermuningsih (2013); Kusumajaya (2011), populasi yang digunakan lebih kecil serta masih berfokus pada sektor tertentu.
Indeks kompas 100 sendiri merupakan indeks tematik dengan jumlah terbesar serta anggota yang terdaftar di dalamnya terdiri atas berbagai sektor sehingga penggunaan indeks ini sebagai variabel akan memberikan hasil yang lebih general.
Dengan hasil yang tergenaral tersebut dapat digunakan sebagai referensi yang valid dalam pengambilan keputusan investasi serta berbagai keperluan lainnya.Tujuan kedua dengan dimasukkannya time lag 1 tahun antara variabel yang diuji yaitu diperolehnya hasil penelitian yang mudah dipahami. Pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan hanya menggambarkan pengaruh variabel pada satu periode yang sama. Hal tersebut menjadikan implikasi dari hasil penelitian tidak relevan sebagai acuan dalam menentukan keputusan investasi.
Serta harapan dilakukannya penyesuaian ketiga bertujuan untuk memberikan hasil yang valid. Guna mencapai tujuan tersebut maka proksi pengukuran variabel pada penelitian sebelumnya ditinjau kembali. Dalam hal ini alat ukur variabel nilai perusahaan yang sebelumnya menggunakan rasio Price to Book Value(PBV) digantikan Financial Value Added (FVA). Penggantian tersebut dikarenakan adanya kelemahan dalam penggunaan rasio keuangan. Menurut Gulo dan Ermawati (2016) rasio keuangan tidak mampu mengukur kinerja sebuah perusahaan dari sisi nilai perusahaan. Rasio keuangan hanya mampu mengukur tingkat profitabilitas, likuiditas dan solvabilitas perusahaan (Sugiyono, 2009).
Dengan adanya kelemahan tersebut maka muncullah pengukuran kinerja atau berdasarkan nilai (value based) yaitu EVA, MVA dan FVA. Menurut Iramani dan Febrian (2005) penggunaan proksi FVA jauh lebih baik dibandingkan EVA, utamanya dalam sinkronisasi pengukuran dengan hasil NPV. Selain alat ukur nilai
3
perusahaan yang disesuaikan, proksi pertumbuhan perusahaan juga mengalami penyesuaian.Pertumbuhan penjualan digunakan sebagai proksi dari pertumbuhan perusahaan menggantikan proksi pertumbuhan aset. Pertimbangan penggunaan pertumbuhan penjualan sebagai proksi dari pertumbuhan perusahaan karena alat ukur pada penelitian sebelumnya yaitu pertumbuhan aset kurang mampu merepresentasikan pertumbuhan perusahaan secara baik. Pertumbuhan aset bisa terjadi ketika salah satu komponen penghitungannya ditambahkan yaitu hutang ataupun modalnya. Perusahaan yang mengalami pertumbuhan negatif pun bisa menjadi seolah bertumbuh positif jika manajemen menambah hutangnya dan hal tersebut bisa mengakibatkan alat ukur tidak valid. Alat ukur variabel yang tetap dipertahankan adalah DER yaitu sebagai proksi dari struktur modal dan profitabilitas perusahaan diproksikan dengan ROE. Dipertahankanya alat pengukuran variabel tersebut karena telah relevan dalam mengukur variabel yang ada.
2.TELAAH PUSTAKA dan PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Kinerja Perusahaan
Analisis kinerja keuangan bagi perusahaan merupakan sesuatu yang memiliki peran sangat penting bagi pihak manajemen dalam usaha menjaga kondisi stabilitas perusahaan dan meningkatkan pangsa pasarnya. Terjadinya peningkatan kinerja perusahaan setiap tahun akan mencerminkan adanya sinyal baik yang diberikan perusahaan. Pengaruh serupa juga berlaku sebaliknya jika sinyal tersebut buruk merupakan indikasi penurunan kinerja suatu perusahaan. Setiap sinyal yang diberikan akan memberikan informasi terkait kondisi kinerja keuangan sebuah perusahaan (Gumanti, 2009).
Selama ini, kinerja keuangan didefinisikan hanya melalui kemampuannya untuk memperoleh keuntungan. Saat ini kinerja keuangan dimaknai secara berbeda tergantung pada perspektif pengguna informasi keuangan. Menurut Valentin (2014) perusahaan dinilai memiliki kinerja baik jika perusahaan mampu memenuhi tujuan atau kepentingan seluruh stakeholders sesuai pada tabel 1.
4 Tabel 1
Tujuan Stakeholders
Stakeholder Tujuan Indikator Kinerja
Keuangan Manajemen • Memperoleh keuntungan
• Kesejahteraan perusahaan
• Pertumbuhan berkelanjutan
Tingkat
pengembalian(ROE,ROA, ROI), net profit margin Pemilik • Memaksimalkan investasi
• Pembangunan berkelanjutan
Profit, EVA, MVA,FVA
Shareholders • Deviden TSR, dividend yield, price earning ratio(PER), CFROI, MBV, Q-Tobin
Kreditur • Pembayaran pinjaman tepat waktu solvabilitas, Cash-flow Karyawan • Keselamatan kerja
• Upah
• Kesempatan berkarir
Stabilitas
Pemerintah • Pembayaran pajak -
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan suatu perusahaan memiliki peranan sangat penting untuk seluruh pemangku kepentingan, terutama bagi investor. Nilai pemegang saham, yang didefinisikan sebagai nilai pasar sebuah perusahaan tergantung pada beberapa faktor: profitabilitas saat ini perusahaan, risikonya, penting pertumbuhan ekonomi untuk pendapatan perusahaan (Branch & Gale, 1983). Pada penelitian ini kinerja keuangan difokuskan pada pengaruh yang dihasilkan antara penggunaan struktur modal dan pertumbuhan yang dialami pada periode t-1 terhadap profitabilitas dan nilai perusahaan di periode t.
5 2.2 Nilai Perusahaan
Tujuan sebuah perusahaan didirikan adalah mensejahterakan pemiliknya (investor) melalui peningkatan nilai sebuah perusahaan. Menurut Husnan (2000) nilai perusahaan dapat digambarkan sebagai harga yang rela dibayarkan jika suatu perusahaan akan dijual. Tentunya dalam penggambaran tersebut investor sebelum membeli atau menanamkan modalnya, investor terlebih dahulu melakukan analisis dan mempertimbangkan berbagai hal. Hal yang dijadikan pertimbangan adalah kondisi atau kinerja perusahaan tersebut baik atau tidak misalnya kondisi kinerja keuangan. Kinerja keuangan perusahaan biasanya diukur melalui rasio-rasio keuangan yang ada sebagai cerminan kondisi perusahaan dan prospek kedepannya, upaya tersebut mereka lakukan guna memperoleh keuntungan serta meminimalisir resiko atas modal yang mereka investasikan(Gulo dan Ermawati, 2016).
Penggunaan rasio keuangan dalam pengukuran ini memiliki kelebihan yaitu kemudahan dalam perhitungannya, karena data tersebut selalu tersedia dalam laporan yang dikeluarkan perusahaan. Sedangkan untuk kelemahannya dari penggunaan rasio keuangan adalah tidak dapat menampilkan hasil secara akurat (Iramani dan Febrian, 2005). Dengan adanya kelemahan tersebut maka muncullah pengukuran kinerja atau nilai yang berdasarkan nilai (value based). Pengukuran tersebut digunakan sebagai acuan oleh pihak manajemen untuk mengelola berbagai kepentingan perusahaan (Tunggal, 2001). Dalam pengukuran tersebut akan diketahui mengenai potensi apa saja yang bisa dimaksimalkan serta perbaikan terhadap kelemahan-kelemahan pada periode saat ini. Salah satu perbaikan tersebut melalui perbaikan penjualan dan penekanan biaya modal. Sehingga guna meramalkan nilai perusahaan untuk kedepannya dapat dilihat kondisi profitabilitas perusahaan, struktur modal serta pertumbuhan perusahaan melalui penjualannya.
2.3 Profitabilitas
Profitabilitas merupakan hasil akhir yang diperoleh perusahaan dari seluruh kegiatan dan kebijakan manajemen perusahaan (Prapaska, 2012). Kegiatan bisnis tersebut diantaranya adalah penjualan produk yang merupakan indikasi pertumbuhan perusahaan karena mampu memenangkan persaingan dalam menjual produknya. Serta efisiensi terhadap biaya operasional yang ada termasuk di dalamnya adalah biaya modal (imbas penggunaan hutang untuk modal). Semakin
6
tinggi profitabilitas yang mampu dihasilkan oleh sebuah perusahaan maka perusahaan tersebut akan diminati oleh investor sebagai tempat berinvestasi.
Profitabilitas perusahaan secara langsung akan berpengaruh terhadap nilai suatu perusahaan. Hal tersebut diperkuat berdasarkan hasil penelitian oleh Analisa dan Wahyudi (2011), Gultom (2013), Hermuningsih (2013), Kusumajaya (2011) dan Mardiyati, Ahmad, dan Putri (2012). Profitabilitas merupakan sinyal positif dari perusahaan yang mampu mensejahterakan pemiliknya, sehingga investor akan tertarik memiliki perusahaan tersebut. Semakin banyak orang yang berminat memiliki kepemilikan atas perusahaan tersebut, perusahaan akan menaikan nilai di mata calon investor sehingga nilainya akan naik karena mekanisme pasar yang ada.
Selain itu profitabilitas yang tinggi menunjukan bahwa pihakmanajemen telah bekerja dengan baik, sehingga mampu memenuhi tujuan pemilik. Berdasarkan uraian yang telah dilakukan mendasari penyusunan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan 2.4 Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan perusahaan merupakan sesuatu yang ditimbulkan karena arus dana perusahaan yang berasal dari perubahan peningkatan maupun penurunan volume usaha (Herfet, 1997). Menurut Sitio dan Tamba (2001) volume usaha yaitu total penerimaan atau penjualan barang dan jasa pada satu waktu periode tertentu.
Menurut penelitian sebelumnya ditemukan adanya pengaruh signifikan positif antara pertumbuhan perusahaan dengan nilai perusahaan (Hermuningsih, 2013; Kusumajaya, 2011; Naimah dan Utama, 2006; Prasetyorini, 2013). Menurut pandangan investor, pertumbuhan suatu perusahaan bisa memberikan sinyal positif untuk perusahaan. Investor selalu mengharapkan pengembalian dari modal yang mereka tanamkan melalui perubahan nilai perusahaan yang tercermin dari pertumbuhan perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut mendasari penyusunan hipotesis sebagai berikut:
H2 : Pertumbuhan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan
7
Sedangkan beberapa penelitian yang menguji pengaruh pertumbuhan terhadap profitabilitas ditemukan hasil bahwa antara pertumbuhan perusahaan berpengaruh signifikan positif pada profitabilitas (Hermuningsih, 2013; Kouser, Bano, dan Azeem, 2012; Memon, Bhutto, dan Abbas, 2012; Prasetyorini, 2013).
Selain faktor tersebut perusahaan yang memiliki pertumbuhan baik akan menghasilkan profitabilitas yang baik pula karena biasanya perusahaan tersebut sedang berada pada tren bisnis yang positif. Berdasarkan uraian di atas mendasari penyusunan hipotesis sebagai berikut:
H3 : Pertumbuhan berpengaruh positif terhadap profitabilitas 2.5 Struktur Modal
Struktur modal merupakan komposisi antara keseluruhan modal eksternal bersumber dari hutang dengan jumlah modal sendiri (Hermuningsih, 2013).
Penggunaan komposisi struktur modal sangat penting untuk pengelolaan keuangan perusahaan, hal ini dikarenakan dampak yang akan ditimbulkan terhadap tingkat pengembalian modal dan preferensi risiko dari investor (Jaafara, Muhamatb, Ahmadc, & Alwid, 2017). Teori yang mengulas mengenai hal ini diawali munculnya teori Modigliani-Miller dan menjadi salah satu topik yang paling sering diperdebatkan dalam literatur keuangan sejak Modigliani dan Miller memperkenalkan proposisi struktur modal di tahun 1958 dan 1963 (Sofat, 2017).
Menurut teori tersebut dalam pemilihan komposisi penggunaan struktur modal tidak akan mempengaruhi apapun termasuk nilai perusahaan. Pendapat yang dikemukakan tersebut akan relevan apabila suatu perusahaan tidak dikenai pajak dan tidak memiliki risiko kebangkrutan. Semenjak saat itu, banyak teori yang mulai muncul dan menentang teori MM tersebut, antara lain Mayers tahun 1984 yang menghubungkan pemilihan struktur modal dengan risiko kebangkrutan. Tidak hanya Mayers banyak akademisi yang menghubungkan struktur modal dengan efisiensi yang dilakukan oleh pihak manajemen berkaitan dengan agency cost dan berbagai hal lainnya dalam penentuan struktur modalnya (Jaafara, 2017). Teori yang muncul tersebut mendasari penelitian-penelitian yang ada hingga saat ini dan menunjukkan betapa pentingnya keputusan dalam menentukan komposisi struktur modal. Beberapa teori tersebut yaitu teori agensi, pecking order teori(POT), trade
8
off teori, dan struktur modal yang optimum (Nurrohim, 2008). Munculnya kelebihan dan kelemahan dalam penggunaan strategi pemenuhan kebutuhan modal, menjadikannya sebagai permasalahan yang tidak mudah. Komposisi modal yang digunakan saat ini akan mempengaruhi bagaimana nantinya perusahaan akan memperoleh profitabilitas dan meningkatkan nilai guna mensejahterakan investornya.
Struktur modal perusahaan akan berpengaruh positif terhadap tingkat profitabilitas dan nilai perusahaan (Fadilah, 2015; Gultom, 2013; Hermuningsih, 2013; Kusumajaya, 2011; Rinnaya, Andini, dan Oemar, 2016). Berbagai penelitian tersebut menjelaskan bahwa komposisi pemenuhan modal merupakan hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Proporsi dari penggunaan sumber modal tersebut akan mempengaruhi beban dari biaya modal (cost of capital) yang ditanggung perusahaan. Dalam sebuah perusahaan biaya merupakan faktor yang berpengaruh langsung dalam penghitungan profit dan tentunya akan berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Akan tetapi, adanya biaya modal tersebut akan bisa menekan biaya pajak sesuai dengan trade off theory (Brigham dan Houston, 2001).
Selain hal tersebut, tentunya struktur permodalan dengan menggunakan komposisi hutang yang lebih besar meningkatkan efisiensi terhadap manajemen perusahaan.
Kelebihan yang lain apabila pendanaan atau penggunaan modal dengan menggunakan sumber dari hutang akan meminimalisir risiko penyalahgunaan wewenang oleh manajemen, hal tersebut karena dana menganggur pada level manajemen ditekan dan manajemen merasa memiliki tanggung jawab yang lebih selain pada investor juga dengan kreditur sesuai dengan teori agensi. Berdasarkan uraian di atas mendasari penyusunan hipotesis sebagai berikut:
H4 : Struktur modal berpengaruh positif terhadap profitabilitas H5 : Struktur modal berpengaruh positif terhadap nilai
9 2.6 Model Penelitian
Gambar 1 Kerangka Model Penelitian
3.METODA PENELITIAN
3.1 Data dan Metode Pengumpulannya
Pendekatan yang dipilih pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan melakukan pengujian hubungan variabel yang ada. Sedangkan populasinya adalah perusahaan tercatat dalam indeks kompas 100 pada periode 2014-2017. Data dalam penelitian ini berasal dari laporan tahunan yang diterbitkan oleh perusahaan, sedangkan untuk daftar anggota indeks didapat dari web BEI. Dalam menentukan sampel penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu dengan menetapkan kriteria tertentu untuk memperoleh sampel penelitian, kriteria sampel tersebut adalah:
1. Perusahaan yang tercatat secara konsisten dalam indeks kompas 100 pada tahun 2014- 2017.
2. Perusahaan yang dimaksud pada syarat 1 menerbitkan laporan keuangan pada tahun 2014-2017 secara lengkap.
3. Perusahaan melaporkan laporan keuangan dalam bentuk mata uang Rupiah.
Profitabilitas Nilai
Perusahaan
pertumbuhan perusahaan Struktur
Modal
Periode t-1 Periode t
H1+
10
4. Bukan termasuk perusahaan yang bergerak dalam sektor industri perbankan.
5. Memiliki pertumbuhan nilai perusahaan yang positif berdasarkan penghitungan FVA.
Berdasarkan kriteria-kriteria yang sudah dibuat tersebut maka proses pengambilan sampel pada penelitian ini dijelaskan melalui tabel 2.
Tabel 2
Proses Pengambilan Sampel
No Karakteristik Sampel Sampel
Memenuhi
1 Perusahaan anggota indeks kompas 100 100
2. Perusahaan yang tidak secara konsisten tercatat pada indeks kompas 100 periode 2014- 2017
(47)
3. Perusahaan yang telah memenuhi syarat ke-2 tidak menerbitkan laporan tahunan secara lengkap dari tahun 2014 -2017
(5)
4. Perusahaan yang telah lolos memenuhi hingga tahap syarat, ke- 3 menerbitkan Laporan Keuangan dalam mata uang asing
(6)
5. Perusahaan yang lolos memenuhi syarat ke-4 bergerak dalam sektor perbankan
(9)
6. Perusahaan yang lolos memenuhi syarat ke-5, memiliki pertumbuhan nilai FVA negatif selama periode 2015-2017
(18)
Total Perusahaan yang Menjadi Sampel 15 Perusahaan
Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 15 perusahaan yang akan diteliti dalam periode 3 tahun, secara terperinci 15 perusahaan dijelaskan dalam Lampiran 1.
3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Penelitian ini menggunakan variabel eksogen yaitu pertumbuhan perusahaan dan struktur modal pada periode t-1, sedangkan sebagai variabel endogennya (mencakup variabel terikat dan perantara) adalah nilai dan
11
profitabilitas perusahaan pada periode t. Secara lebih terperinci alat ukur yang digunakan pada penelitian ini dijelaskan pada tabel 3.
Tabel 3
Pengukuran Variabel
Variabel Alat Ukur RUMUS
Nilai Perusahaan (Y2) FVA NOPAT- (ED- D)
Profitabilitas (Y1) ROE
𝐸𝐴𝑇
𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 x 100%
Struktur Modal (X2) DER
DEBT
EQUITY x 100%
Pertumbuhan (X1) ΔPenjualan
𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠( 𝑇)−𝑠𝑎𝑙𝑒𝑠( 𝑇−1) 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 ( 𝑇−1 x100%
3.2.1 Variabel Endogen 1. Nilai Perusahaan
Dalam penelitian sebelumnya proksi pengukuran variabel nilai perusahaan menggunakan rasio keuangan Price to Book Value (PBV). Menurut Gulo and Ermawati (2016) rasio keuangan tidak mampu mengukur kinerja sebuah perusahaan dari sisi nilai perusahaan. Rasio keuangan hanya mampu mengukur tingkat profitabilitas, likuiditas dan solvabilitas perusahaan (Sugiyono, 2009).
Dengan adanya kelemahan tersebut maka muncullah pengukuran kinerja atau berdasarkan nilai (value based) yaitu EVA, MVA dan FVA. Pengukuran menggunakan FVA menghasilkan hasil yang lebih baik dibanding pengukuran dengan alat ukur EVA dan MVA, khususnya dalam sinkronisasi hasil pengukuran dengan hasil NPV (Iramani dan Febrian, 2005). Dari beberapa pendapat tersebut maka diputuskan variabel nilai diukur menggunakan Financial Value Added (FVA).
2. Profitabilitas Perusahaan
Return on equity adalah rasio penting untuk pemilik perusahaan (the common stockholder), hal tersebut karena ROE dapat menunjukkan tingkat pengembalian yang dihasilkan oleh pihak manajemen dari modal pemilik perusahaan. Dengan kata lain, ROE memperlihatkan keuntungan yang akan
12
dinikmati oleh pemilik saham. Peningkatan ROE dapat mengindikasikan prospek perusahaan yang semakin baik, karena adanya potensi peningkatan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Kondisi tersebut ditangkap oleh investor sebagai sinyal positif dari perusahaanyang akan memberikan keuntungan di masa yang akan datang.
3.2.2 Variabel Eksogen 1.Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan perusahaan merupakan sesuatu yang ditimbulkan karena arus dana perusahaan yang berasal dari perubahan peningkatan maupun penurunan volume usaha (Herfet, 1997). Menurut Sitio dan Tamba (2001) volume usaha yaitu total penerimaan atau penjualan barang dan jasa pada satu waktu periode tertentu.
Berdasarkan pendapat tersebut, diputuskan bahwa pertumbuhan penjualan lebih tepat digunakan dalam mengukur pertumbuhan perusahaan menggantikan pertumbuhan aset pada penelitian sebelumnya.
2.Struktur Modal
Debt to Equity Ratio(DER) tetap dipertahankan sebagai proksi dari struktur modal karena telah mampu mengukur komposisi struktur modal dengan baik serta sudah merepresentasikan kepentingan investor. Beberapa alat ukur lainnya salah satunya adalah Debt to Asset Ratio (DAR) kurang mampu merepresentasikan struktur modal yang dipakai karena komponen penghitungan dari aset adalah modal ditambah hutang itu sendiri.
3.3 Metode Analisis Data
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh langsung antara variabel pertumbuhan (X1), struktur modal (X2) dan Profitabilitas (Y1) dengan nilai perusahaan (Y2) maupun pengaruh tidak langsungnya melalui variabel profitabilitas (Y1) sebagai intervening. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis jalur (path analysis), karena teknis analisis regresi linear berganda tidak dapat menyelesaikan model penelitian dengan penggunaan variabel moderating atau intervening(Ghozali dan Latan, 2014). Program aplikasi yang digunakan adalah SmartPLS versi 3.0, kelebihan dari penggunaan aplikasi ini adalah mampu mengatasi permasalahan hubungan yang kompleks antara variabel
13
yang diuji dengan jumlah sampel kecil yaitu 30 sampai 100. Selama ini dalam mengatasi permasalahan hubungan yang kompleks tersebut kebanyakan penelitian menggunakan Software AMOS (SEM) dengan syarat sampel data minimal 100.
Selain kelebihan tersebut penggunaan SmartPLS memiliki kelebihan khususnya dalam penggunaan teknik analisis jalur (path analisis), aplikasi ini tidak memerlukan pengukuran model (measurement model) untuk menguji reliabilitas dan validitas sehingga bisa langsung dilakukan estimasi model struktural (inner model).
3.3.1 Estimasi Model Struktur (Inner model)
Pengujian ini dilakukan guna menguji hubungan antar konstruk laten. Berikut ini adalah beberapa uji dalam estimasi model struktur ini:
1. R square pada konstruk Endogen merupakan koefisien determinasi yang berada pada konstruk endogen. Menurut Chin (1998) jikaR square menunjukan nilai 0.67, 0.33,dan 0.19 maka hal tersebut dapat di interpretasikan sebagai model kuat, moderate dan lemah.
2. Estimate for path coefficients, adalah nilai yang digunakan untuk mengetahui apakah variabel yang diteliti memiliki pengaruh guna menentukan hipotesis penelitian diterima atau ditolak dengan prosedur bootstrapping.
3.3.2 Iportance Performance Map Analisis (IPMA)
Tujuannya di tambahkan analisis IPMA ini adalah untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan suatu indicator kepentingan relatif atribut.importance performance map analisys (IPMA) yang dikenal pada program SmartPLS secara umum sama dengan analisis Iportance Performance Analisys (IPA).
4 HASIL PENELITIAN 4.1 Diskriptif Statistik
Berikut ini disajikan hasil dari pengujian statistik deskriptif terdiri dari seluruh variabel yang diteliti meliputi mean, standar deviasi, minimum dan maximum. Pembahasan tersebut sesuai dengan tabel 4 yang akan dimulai dari
14
variabel struktur modal yang diukur menggunakan DER hingga nilai diukur dengan FVA.
Tabel 4 Statistik Diskriptif
Sumber: data diolah dengan SmartPLS 3.0
Berdasarkan tabel hasil statistik deskriptif di atas, variabel DER memiliki nilai minimum 0.02 pada saat tahun 2016 dari United Tractor, sedangkan nilai DER maksimal sebesar2.56 dari Unilever 2016. Nilai rata-rata DER sebesar 0.7842 menunjukan bahwa proporsi penggunaan hutang terhadap modal pada indeks kompas 100 masih cukup baik. Standar deviasi untuk seluruh data LDR kurang dari nilai rata- rata yaitu sebesar 0.638, hal ini menunjukan bahwa simpangan datanya baik dan nilai mean dapat merepresentasikan keseluruhan data penelitian.
Nilai minimum dari variabel Pertumbuhan Perusahaan yang diukur dengan penjualan sebesar 0.23 yang diperoleh dari Lipo Karawaci 2016, sedangkan nilai maksimum dari pertumbuhan penjalan diperoleh oleh Lipo Karawacipada tahun sebelumnya 2015 yaitu sebesar 0.74. Nilai standar deviasi pertumbuhan perusahaan sebesar 0.147 lebih besar dari nilai mean-nya sebesar 0.054, hal ini menunjukan bahwa simpangan baku data tersebut kurang dapat mereprentasikan keseluruhan hasil penelitian.
Variabel profitabilitas yang diukur dengan ROE memiliki nilai minimum sebesar -0.01 yang diperoleh oleh Indosat pada tahun 2015 dan memiliki nilai maksimum sebesar 1.3585 yang diperoleh oleh Unilever pada tahun 2016. Standar deviasi dari keseluruhan variabel profitabilitas lebih besar dari nilai rata-ratanya yaitu sebesar 0.35, hal ini menunjukan bahwa simpangan datanya dapat dikatakan belum dapat merepresentasikan hasil penelitian secara keseluruhan. Namun, kemampuan perusahaan terdaftar pada indeks ini dalam menghasilkan profitabilitas dengan nilai mean sebesar 0.25 dapat dikatakan baik
Variabel Mean Std.
Deviasi
Minimum Maximum DER 0.784209 0.638182 0.020000 2.560000 Δ Penjualan 0.055404 0.147972 -0.235521 0.748425 ROE 0.250882 0.357433 -0.010400 1.358500 FVA 28.99846 1.269352 25.83266 31.42797
15
Variabel nilai perusahaan diukur dengan FVA memiliki nilai minimum sebesar 25.83 yang dimiliki oleh Indocement Tunggal Prakarsa pada tahun 2017 dan nilai maksimum sebesar 31.42 yang dimiliki oleh Telkom pada tahun 2015.
Variabel nilai perusahaan memiliki nilai rata-rata sebesar 28,99 lebih kecil dari nilai standar deviasinya yaitu sebesar 1.26.
4.2Estimasi Model Struktur(Inner model) 4.2.1 R Square
Pada penelitian ini nilai R square yang dihasilkan pada menu PLS Algorithm menunjukan apakah variabel eksogen(independen) yang diteliti mempunyai pengaruh yang substantif terhadap variabel endogen(dependen).
Tabel 5 Nilai R- square
R Square R Square Adjusted
Nilai Perusahaan_FVA t 0.104 0.038
Profitabilitas_ROE t 0.145 0.105
Sumber: data diolah dengan SmartPLS 3.0
Berdasarkan hasil yang ditunjukan tabel 5 diketahui bahwa besarnya pengaruh variabel eksogen (X1,X2) terhadap variabel profitabilitas sebesar 0.145 (lemah), sedangkan besarnya pengaruh variabel struktur modal, pertumbuhan, dan profitabilitas perusahaan terhadap nilai perusahaan sebesar 0.104 (lemah).
4.2.2 Estimate for Path Coef
Untuk menjawab hipotesis dapat membandingkan P values dengan alfa pada Tabel 6 dan Tabel 7 sebagai berikut:
16 Tabel 6
Hasil Antar Variabel Langsung Hipotesis Original
Sample (O)
Sample Mean
(M)
Standard Deviation (STDEV)
P Values
Keputusan
H5 Struktur Modalt-1>
Nilai t -0.056 -0.044 0.157 0.4719 Ditolak
H4 Struktur Modalt-1
> Profit t 0.374 0.336 0.238 0.116 Ditolak H3 Pertumbuhan t-1 >
Profit t 0.040 0.059 0.123 0.746 Ditolak
H2 Pertumbuhan t-1 >
Nilai t 0.151 0.161 0.126 0.229 Ditolak
H1 Profit t > Nilai t 0.290 0.286 0.143 0.043 Diterima
Sumber: data diolah dengan SmartPLS 3.0
Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa dari keseluruhan hipotesis hanya 1 yang diterima yaitu profitabilitas terhadap nilai Perusahaan keduanya ditemukan pengaruh signifikan positif pada level α= 5%. Untuk hipotesis lainnya yaitu variabel dengan perbedaan time lag seluruhnya ditolak. Selain hasil pengaruh langsung, pada penelitian ini juga ikut diamati pengaruh tidak langsung antar variabel pada Tabel 7.
Tabel 7 Hasil antar Variabel Melalui Variabel Intervening Pengaruh Tidak
Langsung Melalui Variabel Profitabilitas
(X3)
Original Sample
(O)
Sample Mean
(M)
Standard Deviation (STDEV)
P Values
Keputusan
Pertumbuhan t-1 > Nilai t 0.012 0.017 0.040 0.770 Ditolak Struktur Modalt-1> Nilai
t
0.109 0.093 0.100 0.276 Ditolak
Sumber: data diolah dengan SmartPLS 3.0
Hasil yang ditunjukan oleh Tabel 7 menunjukkan bahwa tidak ditemukannya pengaruh antara variabel eksogen yaitu pertumbuhan dan struktur modal pada tahun t-1 terhadap nilai perusahaan pada tahun t melalui variabel profitabilitas sebagai variabel intervening.
17
4.3 Iportance Performance Map Analisis (IPMA)
Gambar 2 Hasil Pengujuian IPMA
Sumber: data diolah dengan SmartPLS 3.0
Tabel 8 Hasil Uji IPMA
Construct
Importance (Total Effect) Peformace (Index Value) Nilai Perusahaan_ Profitabilitas_
Nilai Perusahaan_FVA 56.58
Pertumbuhan Perusahaan_Penjualan 1.397 0.097 29.567
Profitabilitas_ROE 1.031 19.087
Struktur Modal_DER 0.104 0.209 30.087
Sumber: data diolah dengan SmartPLS 3.0
Berdasarkan analisa IPMA pada Gambar 2 dan Tabel 8 diperoleh hasil yang menyatakan bahwa variabel pertumbuhan perusahaan terletak pada kuadran satu (I). Sedangkan untuk lainnya yaitu variabel struktur modal di kuadran dua (II) dan profitabilitas pada kuadrant empat (IV).
4.4 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah disajikan pada Tabel 7 dan Tabel 8, hasil penelitian menunjukan bahwa variabel dengan time lag waktu 1 tahun secara keseluruhan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan baik pengaruh secara langsung maupun tidak langsung melalui variabel intervening. Hal tersebut memang tidak sesuai dengan hipotesis penelitian, karena dalam hipotesis penyusunannya berdasarkan acuan penelitian sebelumnya yang tidak memasukan time lag antar variabel yang ada. Sedangkan untuk variabel yang terhubung tanpa
18
adanya unsur time lag yaitu profitabilitas terhadap nilai perusahaan ditemukan pengaruh positif sesuai dengan hipotesis. Secara terperinci akan diuraikan sebagai berikut:
4.2.1 Struktur Modal terhadap Profitabilitas dan Nilai
Menurut Brigham and Houston (2001) penggunaan komposisi hutang akan bisa menekan biaya pajak atau yang sering dikenal dengan trade off theory. Hal tersebut disebabkan karena adanya biaya atas modal(bunga modal). Penambahan beban biaya tersebut menyebabkan pengurangan biaya pajak yang ditetapkan oleh pemerintah serta mempengaruhi laba bersih yang meningkat. Penggunaan modal bersumber hutang bukan hanya menghasilkan beban bunga seperti apa yang disinggung dalam trade off teori. Akan tetapi dengan adanya hutang akan membuat manajemen lebih berhati-hati dalam berbagai keputusan dan merasa memiliki tanggung jawab lebih bukan hanya dengan investor tetapi kreditur. Sehingga tata kelola yang baik akan lebih terjadi yang berpengaruh terhadap nilai perusahan.
Dalam penelitian ini ditemukan hasil yang bertolak belakang dengan trade off theori dan terhadap sikap manajemen perusahaan (agen). Teori trade off tidak berlaku karena berlakunya asumsi tidak adanya pengaruh pajak yang disebabkan time lag yang digunakan antara alat ukur DER pada periode t-1 terhadap alat ukur ROE dan FVA pada periode t. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh sebuah kesimpulan bahwa apabila struktur modal tersebut berada pada t-1 digunakan untuk menguji pengaruhnya terhadap profitabilitas dan nilai pada periode selanjutnya maka teori yang berlaku adalah teori Modiglini dan Miller (teori MM). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Fadilah (2015), Hermuningsih (2013), Kusumajaya (2011) dan Rinnaya et al. (2016). Selain melakukan pegujian terhadap hipotesis yang di uji pada penelitian ini ikut dianalisis menggunakan IPMA dengan nilai sebagai laten variabelnya. Hasil dari analisis IPMA tersebut menjelaskan bahwa variabel struktur modal terletak pada kuadran II“Concentrate Here” berarti merupakan elemen kunci untuk perbaikan peningkatan nilai. Meskipun penujian hipotesis menjelaskan tidak ditemukan pengaruhakan tetapi IPMA anasis yang merupakan pengujian tambahan pada penelitian ini menyarankan untuk memaksimalkan penggunaan struktur modal guna meningkatkan nilai perusahaan di periode depan.
19
4.2.2 Pertumbuhan terhadap Profitabilitas dan Nilai
Berdasarkan Tabel 7 dan Tabel 8 diketahui bahwa hasil dari penelitian ini menunjukan tidak ditemukan pengaruh antara variabel pertumbuhan terhadap profitabilitas dan nilai perusahaan. Hal tersebut tidak sesuai dengan hipotesis yang ada dikarenakan perbedaan alat ukur pada penelitian sebelumnya menggunakan pertumbuhan aset sedangkan untuk penelitian ini menggunakan pertumbuhan penjualan. Selain adanya perbedaan alat ukur perbedaan hasil antara penelitian ini dan sebelumnya adalah adanya time lag antar variabel yang diuji sehingga komponen penghitungannya tidak memiliki pengaruh. Dari sisi lain temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi peningkatan/penurunan penjualan di tahun ini tidak bisa menjamin profitabilitas maupun nilai suatu perusahaan untuk tetap konstan pada periode selanjutnya karena adanya risiko dalam dunia bisnis.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh Hermuningsih (2013), Kusumajaya (2011), Memon et al. (2012), Prasetyorini (2013) dan Naimah dan Utama( 2006). Hasil dari analisis IPMA dengan nilai perusahaan sebagai laten variabelnya menjelaskan bahwa variabel struktur modal terletak pada kuadran I, “Keep Up Good Work”
berarti indikasi utuk mempertahaankan kinerja penjualan yang sudah baik saat ini.
Meskipun penujian hipotesis menjelaskan tidak ditemukan pengaruh akan tetapi IPMA anasis yang merupakan pengujian tambahan pada penelitian ini menyarankan untuk meningkatkan atau minimal mempertahaankan pertumbuhan penjualan saat ini guna meningkatkan nilai perusahaan di periode depan.
4.2.3 Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan
Ditemukannya pengaruh langsung signifikan positif antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan dalam penelitian ini menjadikannya sebagai satu-satunya hipotesis yang diterima dalam penelitian ini. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa profitabilitas perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Pengaruh tersebut terjadi karena jika perusahaan mengalami peningkatan profitabilitas maka perusahaan telah menunjukan kinerja yang baik dan mampu meningkatkan nilai perusahaan. Kinerja yang baik dari sebuah perusahaan akan menarik investor untuk menanamkan modalnya. Ketika banyak investor yang tertarik untuk menanamkan modal/membeli saham perusahaan tersebut maka
20
permintaan saham perusahaan tersebut akan naik dan berakibat pada harga saham atau harga kepemilikan perusahaan. Harga atas kepemilikan itulah yang bisa menggambarkan suatu nilai perusahaan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini sesuai dengan penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh Analisa and Wahyudi (2011), Gultom (2013), (Hermuningsih, 2013), Kusumajaya (2011), dan Mardiyati et al. (2012). Selain melakukan pengujian terhadap hubungan langsung antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan, penelitian ini menguji variabel profitabilitas sebagai variabel intervening yang menghubungkan dua variabel bebas lainnya terhadap variabel nilai perusahaan. Hasil yang diperoleh berdasarkan tabel 7 menunjukan bahwa profitabilitas tidak mampu menghubungkan antara variabel eksogen (struktur modal dan pertumbuhan tahun sebelumnya) terhadap variabel nilai perusahaan pada periode ini. Hasil pengujian terhadap pengaruh tidak langsung tersebut menunjukan bahwa kondisi perusahaan saat ini yang diukur melalui pertumbuhan penjualan dan struktur modalnya tidak bisa mencerminkan kondisi perusahaan pada masa yang akan datang diukur dari profitabilitas dan nilai perusahaan. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Kusumajaya (2011). Hasil dari analisis IPMA dengan nilai perusahaan sebagai laten variabelnya menjelaskan bahwa variabel profitabilitas terletak kuadran IV yaitu “Possible Overkill”, dimana perlu memperhatikan variabel lain selain variabel ini, meskipun ditemukan pengaruh antara profitabilitas dan nilai akan tetapi guna meningkatkan nilai perusahaan bukan variabel ini yang harusnya ditingkatkan.
5.Penutup: Kesimpulan, Keterbatasan dan Saran 5.1 Kesimpulan
Penelitian ini berusaha memberikan jawaban atas permasalahan pada penelitian yang sebelumnya telah terjawab secara belum tergeneral. Dengan objek penelitian yaitu perusahaan yang terdaftar pada indeks kompas 100 pada periode 2015-2017, diperoleh sampel sebanyak 15 perusahaan yang memenuhi kriteria dan diteliti selama 3 tahun. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa hanya variabel profitabilitas terhadap nilai yang memiliki pengaruh positif sesuai hipotesis yang ada. Sedangkan untuk variabel lain tidak ditemukan pengaruh secara langsung
21
maupun tidak langsung serta bertolak belakang dengan hipotesis yang ada karena adanya time lag. Serta untuk peningkatan perbaikan nilai perusahaan dalam penelitian ini diperlukan konsentrasi pada pemaksimalan penggunaan struktur modal serta mempertahankan atau meningkatkan penjualan.
5.2 Keterbatasan
Keterbatasan penelitian ini adalah penggunaan alat ukur nilai perusahaan yang diukur melalui penghitungan FVA memaksa untuk melakukan banyak eliminasi terhadap jumlah sampel. Hal tersebut dikarenakan pada penghitungan FVA yang dihasilkan menggunakan skala dengan jumlah besar mengharuskan menggunakan fungsi log atau LN pada Microsoft Excel. Pada fungsi Log atau LN tidak dapat membaca data yang bersifat negatif sehingga terpaksa harus mengeliminasi banyak sampel. Selain hal tersebut pada penelitian ini belum mempertimbangkan karakter masing masing perusahaan sampel misalnya perusahaan dengan tingkat depresiasi yang tinggi dan rendah belum dipisahkan sehingga hasil yang diperoleh bisa saja rancu. Selain kedua keterbatasan tersebut berdasarkan hasil pengukuran R square pada SmartPLS 3.0 menunjukkan bahwa pengaruh variabel eksogen terhadap profitabilitas dan nilai perusahaan hanya kurang dari 0.2 (tergolong lemah) yang berarti kurang lebih 80% dipengaruhi faktor lain.
5.3 Saran
5.3.1 Saran untuk Penelitian Selanjutnya
Berdasarkan keterbatasan penelitian tersebut maka disarankan untuk menggantikan penggunakan FVA sebagai alat ukur dari nilai perusahaan dengan EVA karena selain penggunaannya menyebabkan banyak sampel yang tereliminasi, pertimbangan mengenai karakteristik perusahaan dengan depresiasi tinggi akan menjadikan pengukuran nilai menggunakan FVA dalam penelitian ini banyak mendapatkan keritikan dari para akademisi. Selain mempertimbangkan penggunaan FVA, disarankan pula untuk mengganti atau menambah variabel pada tahun t-1 yang lebih mempengaruhi profitabilitas dan nilai pada periode t.
22 5.3.2 Saran untuk Investor
Berdasarkan penelitian ini disarankan untuk investor yang ingin menginvestasikan uangnya untuk jangka lebih dari satu tahun agar tidak hanya melihat dari pertumbuhan penjualan dan struktur modal saat ini. Hal tersebut terbukti melalui penelitian ini yang menunjukkan hasil yang berbeda dari kebanyakan penelitian dengan menambahkan time lag 1 tahun.
5.3.3 Saran untuk Perusahaan
Pertumbuhan perusahaan yang positif menunjukkan kemampuan perusahaan dalam bersaing dengan industri sejenis belum menjadi jaminan untuk menjamin profitabilitas dan nilainya di tahun yang akan datang. Perusahaan harus tetap melakukan berbagai upaya dalam memenangkan persaingan. Saran tersebut sesuai dengan analisis IPMA pada gambar 2 hasil analisis IPMA.
23
DAFTAR PUSTAKA
Analisa, Y., dan Wahyudi, S. (2011). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, Profitabilitas dan Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek indonesia tahun 2006-2008). Universitas Diponegoro,
Branch, B., Gale, B. (1983). Linking corporate stock price performance to strategy formulation. Journal of Business Strategy, 4(1), 40-50.
Brigham, and Gapenski. (2006). Intermediate Financial Management ( 7th ed.).
SeaHarbor Drive: The Dryden Press.
Brigham, dan Houston, J. F. (2001). Manajemen Keuangan. Buku 1 edisi 8.
Jakarta: Erlangga.
Chin. (1998). The Partial Least Squares Approach for Structural Equation Modelling. Modern Method for Business Research. In: London: Lawrence Erlbaum Associates.
Fadilah, A. (2015). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan: Studi Kasus pada Perusahan Sektor Pertambangan yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia, 2005-2011. Kajian Ekonomi dan Keuangan, 16(1), 26.
Ghozali, I., dan Latan, H. (2014). Partial Least Squares :Konsep Teknik dan Aplikasi Menggunakan Program SmartPLS 3.0 M3 ( 2 ed.). Semarang:
Universitas Diponegoro.
Gulo, W. A., dan Ermawati, W. J. (2016). Analisis Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan PT SA. Jurnal Manajemen dan Organisasi, 2(2), 123-133.
Gultom, R. (2013). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Perusahaan pada Perusahaan Farmasi di Bursa Efek Indonesia. JWEM (Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil), 3(1), 51-60.
Gumanti, T. A. (2009). Teori sinyal dalam manajemen keuangan. Manajemen Usahawan Indonesia, 38(6), 4-13.
Herfet. (1997). Teknik Analisis Keuangan (H. Wibowo, Trans. Delapan ed.).
Jakarta: Airlangga.
Hermuningsih, S. (2013). Pengaruh Profitabilitas, Growth Opportunity, Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Publik di Indonesia.
Buletin ekonomi moneter dan perbankan, 16(2), 127-148.
Husnan. (2000). Manajemen Keuangan-Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang). Yogyakarta: BPFE
Iramani, dan Febrian, E. (2005). Financial Value Added: Suatu Paradigma dalam Pengukuran Kinerja dan Nilai Tambah Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 7(1), pp. 1-10.
24
Jaafara, M. N., Muhamatb, A. A., Ahmadc, I., and Alwid, S. F. S. (2017).
Determinants of Capital Structure: Empirical Evidence From Shariah Compliant Plantation Firms in Malaysia. Journal of Emerging Economies and Islamic Research, 5(4), 1-9.
Kouser, R., Bano, T., and Azeem, M. (2012). Inter-relationship Between Profitability, Growth and Size: A Case of Non-financial Companies from Pakistan. Pakistan Journal of Commerce and Social Sciences, 6(2), 405.
KSEI. (2017). Berita Pers KSEI Terus Upayakan Kemudahaan Pembukaan Rekening Investasi [Press release]. Retrieved from http://www.ksei.co.id/files/uploads/press_releases/press_file/id-
id/135_berita_pers_ksei_terus_upayakan_kemudahaan_pembukaan_rekeni ng_investasi_20170816154208.pdf
Kusumajaya, D. K. O. (2011). Pengaruh Struktur Modal dan Pertumbuhan Perusahaan terhadap Profitabilitas dan Nilai Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Universitas Udayana.
Mardiyati, U., Ahmad, G. N., dan Putri, R. (2012). Pengaruh kebijakan dividen, kebijakan hutang dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2010. JRMSI- Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia, 3(1), 1-17.
Memon, F., Bhutto, N. A., and Abbas, G. (2012). Capital Structure and Firm Performance: A Case of Textile Sector of Pakistan. Asian Journal of Business and Management Sciences, 1(9), 9-15.
Naimah, Z., dan Utama, S. (2006). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan, dan Profitabilitas Perusahaan terhadap Koefisien Respon Laba dan Koefisien Respon Nilai Buku Ekuitas: Studi pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi IX, 1, 26.
Nurrohim, H. (2008). Pengaruh Profitabilitas Fixed Asset Ratio, Kontrol Kepemilikan dan Struktur Aktiva terhadap Struktur Modal pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia. Sinergi: Kajian Bisnis dan Manajemen, 10(1).
OJK. (2016). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016. Retrieved from https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-
pers/Documents/Pages/Siaran-Pers-OJK-Indeks-Literasi-dan-Inklusi- Keuangan-
Meningkat/17.01.23%20Tayangan%20%20Presscon%20%20nett.compres sed.pdf
Prasetyorini, B. F. (2013). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, Price Earning Ratio dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Ilmu Manajemen (JIM), 1(1).
Rinnaya, I. Y., Andini, R., dan Oemar, A. (2016). Pengaruh Profitabilitas, Rasio Aktivitas, Keputusan Pendanaan Keputusan Investasi terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2010-2014). Journal Of Accounting, 2(2).
Sitio, dan Tamba. (2001). Koperasi: Teori dan Praktik. Jakarta: Airlangga.
Sugiyono. (2009). Manajemen Keuangan untuk Praktisi Keuangan. Jakarta:
Gramedia Widiasarana Indonesia.
Tunggal, A. W. (2001). Memahami Konsep Economic Value Added (EVA) dan Value Based Management (VBM). Jakarta: Harvarindo, 1.
25
Valentin, C. (2014). Determinants of corporate financial performance. Retrieved online from www. dafi. asce. ro/revista/6/costea valentin. pdf on 13th May.
1 Lampiran
Lampiran 1 Tabel Daftar Sampel
No Kode Perusahaan Nama Perusahaan
1 AKRA PT AKR Corporindo Tbk
2 ASII PT Astra Inter Tbk
3 EXCL PT XL Axiata Tbk
4 GGRM PT Gudang Garam
5 ICBP PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 6 INTP PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
7 ISAT PT Indosat Tbk
8 JPFA PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk
9 LPKR PT Lippo Karawaci Tbk
10 LSIP PT PP London Sumatra Indonesia Tbk
11 MAPI PT Mitra Adiperkasa Tbk
12 SMGR PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
13 TLKM PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk
14 UNTR PT United Tractors Tbk
15 UNVR PT Uniliver Indonesia Tbk
Lampiran 2 Tabel Data Penelitian
NO Kode
Perusahaan Tahun (t)
Kodisi periode T-1 Kondisi periode T Pertumbuhan
Penjualan DER ROE FVA
1 AKRA 2015 0.0058 1.48 0.17 28.07549
2 AKRA 2016 -0.12033 1.09 0.148 27.09246
3 AKRA 2017 -0.23032 0.96 0.159 26.81927
4 ASII 2015 0.04 0.96 0.12 31.22406
5 ASII 2016 -0.086 0.94 0.13 29.1636
6 ASII 2017 -0.0169 0.87 0.15 29.7385
7 EXCL 2015 0.103 2.1 -0.002 29.91058
8 EXCL 2016 -0.024 1.9 0.018 29.65505
9 EXCL 2017 -0.067 0.7 0.017 29.7912
2
10 GGRM 2015 0.172317 0.758 0.17 30.06115
11 GGRM 2016 0.085293 0.671 0.1698 29.96119
12 GGRM 2017 0.085098 0.591 0.184 26.14063
13 ICBP 2015 0.196 0.62 0.1784 29.31447
14 ICBP 2016 0.057 0.72 0.1963 28.06295
15 ICBP 2017 0.082987 0.56 0.1534 28.02788
16 INTP 2015 0.033 0.18 0.18 29.40174
17 INTP 2016 0.035 0.16 0.155 29.0715
18 INTP 2017 0 0.15 0.073 25.83266
19 ISAT 2015 0.0096 0.73 -0.0104 29.88374
20 ISAT 2016 0.1114 0.76 0.086 30.0105
21 ISAT 2017 0.0903 0.72 0.083 26.62868
22 JPFA 2015 0.142 1.4 0.086 29.66748
23 JPFA 2016 0.023 1.11 0.232 27.7267
24 JPFA 2017 0.081 0.6 0.113 29.00442
25 LPKR 2015 0.748425 1.14 0.0541 28.92773
26 LPKR 2016 -0.23552 1.18 0.0556 29.67325
27 LPKR 2017 0.230303 1.07 0.0329 29.37875
28 LSIP 2015 0.1434 0.24 0.087 29.88377
29 LSIP 2016 -0.1136 0.21 0.079 28.4714
30 LSIP 2017 -0.0816 0.24 0.097 27.0126
31 MAPI 2015 0.214 1.15 0.0101 27.92538
32 MAPI 2016 0.085 0.71 0.065 28.67631
33 MAPI 2017 0.102 0.294 0.083 28.04087
34 SMGR 2015 0.101 0.1049 0.1458 29.68702
35 SMGR 2016 -0.0014 0.1049 0.2048 29.11326
36 SMGR 2017 0.0021 0.1416 0.3292 28.02485
3
37 TLKM 2015 0.081 0.273 0.968 31.42797
38 TLKM 2016 0.142 0.37 0.878 30.74406
39 TLKM 2017 0.135 0.301 0.931 30.62867
40 UNTR 2015 0.004 0.04 0.099 29.6564
41 UNTR 2016 -0.071 0.04 0.122 29.57362
42 UNTR 2017 -0.077 0.02 0.164 29.472
43 UNVR 2015 0.122 2.11 1.2122 29.43504
44 UNVR 2016 0.057 2.26 1.3585 29.44479
45 UNVR 2017 0.0978 2.56 1.354 29.46728