P P P a a a n n n d d d u u u a a a n n n T T T e e e k k k n n n i i i s s s D D D a at a t t u u u m m m d d d a a a n n n S S S i i i s s s t t t e e e m m m K K K o oo o o or r rd d di i i n na n a at t t P P P e e e t t t a a a R R R u u u p p p a a a b b b u u u m m m i i i I I I n n n d d d o o o n n n e e e s s s i i i a a a
BADAN KOORDINASI SURVEI DAN PEMETAAN NASIONAL
www.bakosurtanal.go.id
BADAN KORDINASI SURVEI DAN PEMETAAN NASIONAL www.bakosurtanal.go.id
Jln. Raya Jakarta Bogor Km.46 Cibinong, 16911 Tel. 021 8752062
Fax. 021 8752064
Pusat Pelayanan Jasa dan Informasi Email : [email protected] Tel. 021 8753166
Fax. 021 87916647
BADAN KOORDINASI SURVEI DAN PEMETAAN NASIONAL R.W. Matindas, Kepala
Henni Liliwaty , Deputi Kepala Bidang Infrastruktur Data Spasial Chaerul Hafidin, Deputi Kepala Bidang Pemetaan Dasar
Pusat Geodesi dan Geodinamika Rustandi Poerawiardi
Pusat Pemetaan Dasar dan Tata Ruang Puntodewo, SSO
© Bakosurtanal 2005 Edisi I, 2005
Editor Eddy Priyanto Penyusun Eddy Priyanto
Joni Efendi Susilo
Enjang Samsul Bachri
Teguh Pramuji
Sudjono
Titik Suparwati
Untuk perbaikan dan penyempurnaan, maka kritik dan saran dapat disampaikan melalui Pusat Jasa dan Pelayanan Informasi,
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
DATUM GEODESI NASIONAL 1995 (DGN - 95) SISTEM KOORDINAT PETA RUPABUMI INDONESIA Universal Transvere Mercator (UTM)
Transvere Mercator TM3º
Konversi Koordinat Geodetik ke Koordinat UTM Jarak Meridian
Titik Kaki Lintang/Foot Point Latitude
Jari-jari Lengkung Meridian (Radius of Curvature) Geodetik ke UTM
Koordinat Nol Semu Konvergensi Grid Faktor Skala UTM ke Geodetik Konvergensi Grid Skala Titik
TRANSFORMASI DATUM
Perbedaan Peta RBI dalam datum ID-74 dan DGN-95 Transformasi Datum ID-74 ke DGN-95 Metoda Molodensky PERANGKAT LUNAK APLIKASI SURVEI DAN PEMETAAN
Transformasi Interaktif
Transformasi Koordinat Geografi ke UTM Transformasi Koordinat UTM ke Geografi Transformasi Koordinat Geografi ke TM3°
Transformasi Koordinat TM3° ke Geografi
Transformasi Koordinat Zona UTM yang Berdampingan Transformasi Koordinat dalam ID-74 ke DGN-95
Transformasi Koordinat Pojok Peta dalam ID-74 ke DGN-95 Transformasi Interaktif
Transformasi Koordinat Geografi ke UTM Transformasi Koordinat UTM ke Geografi
Transformasi Koordinat Zona UTM yang Berdampingan Transformasi Proyeksi Peta
PENGERTIAN
1 1 2 3 4 5 6 6 6 7 7 8 8 9 9 9 10 11 11 14 15 15 16 17 18 19 20 21 22 22 23 24 25 26
Pengantar
Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN-95) merupakan referensi tunggal dalam pengelolaan (pengumpulan, penyimpanan dan penggunaan) data geospasial pada strata lokal, regional, nasional bahkan internasional.
DGN-95 adalah datum geodesi yang geosentris dan diberlakukan untuk keperluan survei dan pemetaan di seluruh wilayah NKRI, ditetapkan melalui Surat Keputusan Kepala Bakosurtanal Nomor :
HK.02.04/II/KA/96 tanggal 12 Februari 1996. DGN-95 menggantikan datum yang telah ada seperti Datum Indonesia 1974 (ID-74). Proyeksi Peta Rupa Bumi Indonesia yang digunakan adalah Proyeksi Transvere Mercator dengan sistem koordinat Universal Transvere Mercator yang telah diterima sebagai sistem kordinat peta secara internasional.
Tujuan dari Buku Panduan Teknis ini adalah untuk menyediakan perangkat lunak yang biasa digunakan untuk aplikasi survei dan pemetaan secara khusus digunakan untuk mentransformasikan peta dalam datum ID-74 ke peta berbasiskan DGN-95, aplikasi ini
dijalankan pada komputer berbasis operating system windows.
Semoga Buku Panduan Teknis ini dapat bermanfaat.
R.W. Matindas Kepala Bakosurtanal
Perangkat Lunak Aplikasi Survei dan Pemetaan
Buku panduan ini menyertakan satu buah CD yang berisi perangkat lunak aplikasi survei dan pemetaan yang digunakan untuk perhitungan :
• Transformasi Koordinat Geografi ke UTM dan sebaliknya
• Transformasi Koordinat Geografi ke TM3° dan sebaliknya
• Transformasi Koordinat Zona UTM yang berdampingan
• Transformasi Koordinat dalam ID-74 ke DGN-95
• Transformasi Koordinat Pojok Peta dalam ID-74 ke DGN-95
• Transformasi Proyeksi Peta UTM dalam ID-74 ke DGN-95
• Transformasi Proyeksi Peta TM3° ke UTM.
1
PANDUAN TEKNIS
DATUM DAN SISTEM KOORDINAT PETA RUPABUMI INDONESIA
PENDAHULUAN
Sistem koordinat Peta Rupabumi Indonesia (RBI) berdasarkan pada model matematik bidang permukaan bumi yang dikenal sebagai datum geodetic yang mendekati bentuk fisik permukaan bumi.
Sejak jaman penjajahan Belanda sampai sekarang bermacam metoda telah diterapkan untuk menggambarkan bidang permukaan bumi yang menyerupai bola, ada beberapa datum yang telah digunakan untuk mendefinisikan bidang tersebut. Pekerjaan pemetaan telah dilakukan oleh Indonesia sejak dulu berdasarkan pada datum lokal, seperti datum Batavia (gn. Genuk), datum Gn. Sagara dan Datum Indonesia 1974. Saat ini semua pekerjaan pemetaan telah menggunakan sistem kordinat yang baru, yaitu berdasarkan Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN-95).
DATUM GEODESI NASIONAL 1995 (DGN - 95)
Pada tahun 1992, Indonesia turut bagian dalam survei kampain yang dilakukan oleh International GPS Service (IGS), pengamatan GPS dilakukan pada daerah yang mudah dicapai dan pada beberapa pilar- pilar yang telah ada dan masih baik (Pilar Triangulasi, Doppler, Tanda Tinggi Geodesi). Pada survei ini menghasilkan 60 stasiun GPS yang berklasifikasi sebagai orde nol. Jaring Orde nol tersebut adalah
realisasi Datum Geodesi Nasional 1995 di lapangan. Selanjutnya pada tahun yang sama dan berikutnya dilakukan densifikasi jaring dengan orde yang lebih rendah ke seluruh wilayah Indonesia dengan kerapatan 50 km. Jaringan tersebut disebut sebagai Jaring Kontrol Horisontal Nasional (JKHN).
2 Spesifikasi DGN-95
Datum Geosentris
Koordinat Geodesi Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN-95) Koordinat Grid/Peta Universal Transvere Mercator (UTM) Kerangka Referensi International Tereseterial Reference
Frame (ITRF)
Elipsoid World Geodetic System 1984 (WGS-84) Sumbu semi mayor (a) 6.378.137,0 meter
Faktor Pegepengan (1/f) 298,2572223563
DGN-95 adalah sistem koordinat Indonesia yang baru, dimana sistem koordinat ini kompatibel dengan Global Positioning System (GPS) yang berbasiskan World Geodetic System 1984 (WGS-84), DGN-95
merupakan datum geosentris dimana pusat masa bumi merupakan titik awal sistem koordinat. Perbedaan datum DGN-95 dan ID-74 mengakibatkan pergeseran koordinat berkisar 30 meter dan datum DGN-95 dengan datum Jakarta/Genuk, Sagara, Moncongloe berkisar antara 200 meter (dalam komponen utara, timur). Untuk merubah koordinat dari satu sistem ke sistem lainnya adalah proses
matematika yaitu proses transformasi.
Perubahan datum lama ke datum DGN-95 bervariasi sesuai dengan skala peta dan mengakibatkan pergeseran posisi garis grid peta dan posisi detilnya.
Perbedaan antara datum DGN-95 dan sebelumnya
3 SISTEM KOORDINAT PETA RUPABUMI INDONESIA
Koordinat Geodesi (lintang dan bujur) adalah representasi suatu posisi titik pada peta secara matematis dengan memproyeksikan pada suatu bidang datar.
Sistem Transvere Mercator
memproyeksikan koordinat geodesi ke dalam silinder yang bersinggungan dengan ekuator dan memotong pada satu meredian.
Untuk memperkecil distorsi, bumi
dirotasikan di dalam silinder yang menyebabkan meredian yang berbeda menyinggung silinder pada area yang berbeda. Ini
menghasilkan bidang utara-selatan, yang dinamakan sebagai zona.
Titik asal (true origin) setiap zona adalah perpotongan antara ekuator dan meredian tengah (perpotongan antara meredian dengan silinder) Biasanya untuk menghindari nilai negatif pada koordinat digunakan koordinat semu (false origin). Pada tahun 1947, Amerika Serikat mengadopsi satu proyeksi Transverse Mercator dengan faktor skala, koordinat semu, lebar zona dan penomoran zona dan diterima sebagai Universal Transverse Mercator (UTM). Sistem proyeksi ini kemudian digunakan oleh Indonesia dengan datum ID-74 untuk memproduksi peta rupabumi berbagai skala dan sekarang dengan mengunakan datum DGN-95 untuk memproduksi peta rupabumi dijital.
Universal Transvere Mercator (UTM)
Ketentuan Proyeksi Universal Transverse Mercator :
• Proyeksi adalah Transverse Mercator.
• Lebar zona 6º
• Titik awal setiap zona adalah perpotongan meredian tengah dan ekuator.
4
• Faktor skala pada meredian tengah ko = 0.9996.
• Timur (T) didefinisikan dengan penambahan 500.000 meter kepada nilai x yang dihitung dari meredian tengah.
• Utara (U) didefinisikan dengan penambahan 10.000.000 meter kepada nilai y yang dihitung dari ekuator ke selatan.
• Zona 1 dimulai dari bujur 180º barat sampai dengan bujur 174º barat dan seterusnya ke arah Timur sampai zone 60 untuk bujur 174º timur sampai dengan bujur 180º timur.
• Satuan dalam meter.
• Batas Lintang 84º Utara dan Lintang 80º Selatan.
• Notasi koordinat UTM, Timur (T) diletakan di depan Utara (U).
• Datum DGN - 95
Penomoran Zona dalam UTM di Wilayah Indonesia No Zona UTM Batas Zona Meredian Tengah
46 090 – 096 º 093 º
47 096 – 102 º 099 º
48 102 – 108 º 105 º
49 108 – 114 º 111 º
50 114 – 120 º 117 º
51 120 – 126 º 123 º
52 126 – 132 º 129 º
53 132 – 138 º 135 º
54 138 – 144 º 141 º
Transvere Mercator TM 3º
Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional
mengeluarkan peraturan tentang pengukuran dan pemetaan untuk penyelenggraan pendaftaran tanah dengan SK PMNA/Kepala BPN No.3 tahun 1997.
Ketentuan Proyeksi Transverse Mercator 3º :
• Proyeksi adalah Transverse Mercator.
• Lebar zona 3º.
• Titik awal setiap zona adalah perpotongan meredian tengah dan ekuator.
• Faktor skala pada meredian tengah ko = 0.9999.
• Timur (T) didefinisikan dengan penambahan 200.000 meter kepada nilai x yang dihitung dari meredian tengah.