BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Demokrasi
1. Pengertian Demokrasi
Pembahasan tentang peranan negara dan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari telaah tentang demokrasi dan hal ini karena dua alasan.
Pertama, hampir semua negara di dunia ini telah menjadikan demokrasi sebagai asasnya yang fundamental sebagai telah ditunjukkan oleh hasil studi UNESCO pada awal 1950-an yang mengumpulkan lebih dari 100 sarjana Barat dan Timur, sementara di negara-negara demokrasi itu pemberian peranan kepada negara dan masyarakat hidup dalam porsi berbeda-beda (kendati sama-sama negara demokrasi). Kedua, demokrasi sebagai asas kenegaraan secara esensial telah memberikan arah bagi peranan arah esensial telah memberikan arah bagi peranan masyarakat untuk menyelenggarakan neegara sebagai organisasi tertinggginya tetapi ternyata demokrasi itu berjalan dalam jalur yang berbeda-beda.17
17 M. Fadhillah. 2018. Presidential Thershold Dalam Sistem Presidential. Skripsi. Fakultas Hukum. Hlm. 20
Defenisi demokrasi adalah sebuah bentuk kekuasaan (kratein) dari/oleh /untuk rakyat (demos). Menurut konsep demokrasi, kekuasaan menyiratkan arti politik dan pemerintahan, sedangkan rakyat beserta warga masyarakat didefenisikan sebagai warga negara. Ada sebuah fakta menarik tentang demokrasi itu sendiri. Di zaman modern ini hampir semua negara mengklaim menjadi penganut paham demokrasi.
18 Memang harus diakui bahwa istilah demokrasi merupakan bahasa yang paling umum digunakan oleh berbagai negara, sejak zaman yunani kuno istilah demokrasi telah mengalami berbagai perubahan dalam prakteknya. Pemahaman terhadap hakikat demokrasi, sering dijumpai adanya kekeliruan atau anggapan dalam mengartikan maupun memahami demokrasi itu sendiri. Bagi kaum otoriter dan pengkritik lainnya ( yang tidak setuju dengan paham demokrasi), bahwa demokrasi diartikan sebagai bagian dari sistem pemerintahan yang tidak mempunyai kekuasaan menindas dan tidak mempunyai wewenang dalam memerintah. Anggapan semacam ini tentu keliru dan menyesatkan. Pada hakikatnya demokrasi adalah merupakan sistem pemerintahan dalam kerangka untuk membatasi suatu kewenangan pemerintah dengan tujuan dapat menciptakan pemerintahan yang check and balances.
18 Ibid.
Istilah “demokrasi” berasal dari bahasa Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem demokrasi di banyak negara. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos atau cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik dan hukum. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik hukum dalam suatu negara.
Artinya kekuasaan itu pada pokoknya diakui berasal dari rakyat sehingga rakyatlah yang sebenarnya menentukan dan memberi arah serta sesungguhnya menyelenggarakan kehidupan kenegaraan.
Keseluruhan sistem penyelenggaran negara itu juga pada dasarnya diperuntukkan bagi seluruh rakyat itu sendiri, istilah inggris menyebutnya “the goverment of the people, by the people and for the people”. Bahkan, negara yang baik diidealkan juga agar
diselenggarakan bersama-sama dengan rakyat dalam arti dengan melibatkan seluruh rakyat dalam arti seluas-luasnya.19
Menurut International Commission of jurits, sebagaimana dikutip oleh Miriam Budiharjo, dikatakan bahwa demokrasi merupakan suatu bentuk pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil yang dipilih oleh mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas.20
United States Information Agency, sebagaimana dikutip oleh Yudi Widagdo Harimurti, dikatakan bahwa demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dimana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat dan dijalankan langsung oleh mereka atau wakil-wakil yang mereka pilih di bawah sistem pemilihan yang bebas. Dengan kata lain, bahwa demokrasi adalah merupakan pelembagaan kebebasan dalam sistem pemerintahan yang didalamnya mengandung berbagai aspek, baik hal itu berhubungan dengan mekanisme atau prosedur maupun dalam tatanan praktisnya. Di samping itu, bahwa demokrasi sebagai pelembagaan kebebasan bagi setiap warga dapat terwujud manakala didalamnya diimbangi dengan sistem hukum yang kuat. Demokrasi adalah mencerminkan hak kebebasan setiap individu, tetapi didalamnya juga mengandung tanggung jawab yang sangat besar dalam
19 Ibid.
20 Ibid. Hlm. 23
kerangka membentuk masa depan yang lebih baik yang menjaga nilai- nilai dasar kebebasan dalam sistem pemerintahan itu sendiri.21
Menurut Henry B. Mayo, demokrasi dapat dilihat dari nilai-nilai yang mendasari demokrasi itu sendiri. Lebih lanjut dikatakan Mayo bahwa nilai-nilai tersebut tidak berarti bahwa setiap masyarakat demokrasi menganut semia nilai ini. Melainkan sangat bergantung pada perkambangan sejarah serta budaya politik di masing-masing negara.
Nilai-nilai tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: Pertama, menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga (institusionalized peaceful settlement of conflict). Bahwa dalam setiap masyarakat terdapat suatu perselisihan pendapat serta kepentingan, yang dianggap wajar dalam alam demokrasi untuk diperjuangkan.
Perselisihan-perselisihan ini harus dapat diselesaikan melalui perundangan serta dialog terbuka untuk mencapai usaha kompromi, konsensus atau mufakat.
Kudua, menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang sedang berubah (peaceful in a changing society). Dalam setiap masyarakat yang memodernisasikan perubahan sosial, yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti kemajuan teknologi, perubahan- perubahan dalam pola kepadatan penduduk, dalam pola- pola perdagangan dan sebagainya. maka pemerintah harus dapat
21 Ibid.
mesuaikan kebijkannya pada perubahan-perubahan ini, dan sedapat mungkin membinanya jangan sampai tidak terkendali lagi, kalau hal ini terjadi, ada kemungkinan sistem demokratis tidak dapat berjalan, sehingga akhirnya menimbulkan pemerintahan yang diktator.
Ketiga, menyelenggarakan kepemimpinan secara teratur (orderly succession of ruller), pergantian atas dasar keturunan, atau dengan jalan mengangkat diri sendiri ataupun dengan melalui coup d’etat, dianggap tidak wajar dalam sistem pemerintahan demokrasi. Keempat, membatasi penggunaan kekerasan sampai minimun (minimun of coercion). Golongan- golongan minoritas yang sedikit banyak akan kena paksaan akan lebih menerimanya kalau diberi kesempatan untuk turut serta dalam diskusi- diskusi yang terbuka dan kreatif, mereka akan lebih terdorong untuk memberi dukungan sekalipun bersyarat, karena merasa turut bertanggung jawab.
Keempat, mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman (diversity) dalam masyarakat yang tercermin dalam keanekaragaman pendapat, kepentingan serta tingkah laku. Untuk hal ini, perlu terselenggaranya masyarakat yang terbuka (open society) serta kebebasan- kebebasan politik (political liberty) yang mana akan memungkinkan timbulnya fleksibelitas dan tersedianya alternatif dalam jumlah yang cukup banyak. Dalam hubungan ini, demokrasi sering disebut dengan gaya hidup (way of life).
Kelima, menjamin tegaknya keadilan. Dalam suatu demokrasi umumnya pelanggaran terhadap keadilan tidak akan terlalu sering terjadi, oleh karena golongan-golongan terbesar diwakili dalam lembaga perwakilan, tetapi tidak dapat dihindarkan bahwa beberapa golongan akan merasa diperlakukan tidak adil, maka yang dapat dicapai secara maksimal ialah keadilan yang relatif (relative justice). Keadilan yang dapat dicapai barangkali lebih bersifat jangka panjang.22
Ditinjau dari perkembangan teori maupun praktik, demokrasi terus berkembang, sehingga tepatlah apa yang dikemukan Bagir Manan, bahwa demokrasi merupakan suatu fenomena yang tumbuh, bukan suatu penciptaan. Oleh karena itu praktik demokrasi di setiap negara tidaklah selalu sama. Walaupun demikian, Lilyphard mengatakan bahwa sebuah negara dapat dikatakan demokrasi paling tidak harus memenuhi unsur- unsur sebagai berikut:
a. Ada kebebasan untuk membentuk dan menjadi anggota perkumpulan;
b. Ada kebebasan menyampaikan pendapat;
c. Ada hak untuk memberikan suara dalam pemungutan suara;
d. Ada kesempatan untuk dipilih atau menduduki berbagai jabatan pemerintah atau negara;
e. Ada pemilihan yang bebas dan jujur;
22 Ibid. Hlm. 32.
f. Terdapat berbagai sumber informasi;
g. Semua lembaga yang bertugas untuk merumuskan kebijakan pemerintah harus bergantung kepada keinginan rakyat.23 Selain itu Sargent menyatakan bahwa unsur-unsur yang juga harus dipenuhi demokrasi adalah 1) Citizen invocvement in political decision making; 2) Some degree of equality among citizens; 3) Some degree of liberty or freedom granted to or retained by citizens; 4) A system of representations; dan 5) An electoral system majority role.).
2. Tujuan Demokrasi
Berbicara tujuan, maka tidak terlepas dari apa yang ingin dicapai dalam menjalankan suatu roda ketatanegaraan agar tercapai apa ayang hendak dicapai oleh pemangku kewajiban (pemerintah) yang tentunya mampu dirasakan oleh rakyat di Indonesia yang secara sadar ataupun tidak sadar memberikan rasa percayanya terhadap negara melalui kontak sosial yang terbangun selaras dengan apa yang disampaikan oleh Ni’matul Huda terkait dengan teori rasionalitas yang pada umumnya disebut dengan social contract (kontrak sosial). Di samping itu, saat ini negara di dunia pada umumnya telah memilih demokrasi sebagai salah satu dasarnya yang fundamental. Hasil studi UNESCO pada awal dasawarsa 1950-an yang melibatkan lebih dari 100 sarjana Barat maupun Timur menunjukkan bahwa tidak ada
23 Dipo Septiawan. 2016. Optimalisasi Fungsi Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Skripsi. Fakultas Hukum. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta. Hlm. 24.
satupun tanggapan yang menolak demokrasi dipandang sebagai pegejawantahan yang paling tepat dan idela untuk semua sistem organisasi politik dan sosial modern.24 Demokrasi sebagai dasar hidup bernegara pada umumnya memberikan ketentuan dalam masalah- masalah pokok yang mengenai kehidupannya termasuk dalam menilai kebijaksanaan pemerintah negara oleh karena itu kebijakan tersebut menentukan kehidupan rakyat, atau jika ditinjau dari sudut organisasi berarti sebagai suatu pengorganisasian negara yang dilakukan oleh rakyat karena kedaulatan berada ditangan rakyat.
Meskipun pada umumnya pengertian demokrasi ini dapat dikatakan tidak mengandung kontradiksi karena di dalamnya meletakkan posisi rakyat dalam posisi amat penting, namun pelaksanaanya (perwujudannya) dalam lembaga kenegaraan ternyata prinsip ini telah menempuh berbagai rute yang tidak selalu sama bahkan terkadang bertolak belakang antara idealita dan realitanya. Hal inilah yang menjadi keraguan terbesar terhadap demokrasi yang hingga detik ini banyak yang dijadikan sebagai dasar negaranya. Berangkat dari hal tersebut tentunya dibutuhkan suatu pedoman ataupun syarat yang dianggap penting jika demokrasi ingin berjalan sesuai dengan realitanya.25
24 Ni`matul Huda. 2016. Hukum Tata Negara Indonesia. Rajawali Pers. Jakarta. Hlm. 261.
25 Ibid. Hlm. 42.
Menurut Inu Kencana Syafiie terdapat 20 prinsip-prinsip demokrasi, yakni:26
a. Adanya pembagian kekuasaan;
b. Adanya pemilihan umum;
c. Adanya manajemen yang terbuka;
d. Adanya kebebasan individu;
e. Adanya peradilan yang bebas;
f. Adanya pengakuan hak minoritas;
g. Adanya pemerintahan yang berdasarkan hukum;
h. Adanya pers yang bebas;
i. Adanya beberapa partai politik;
j. Adanya musyawarah;
k. Adanya persetujuan;
l. Adanya pemerintahan yang konstitusional;
m. Adanya ketentuan tentang pendemokrasian;
n. Adanya pengawasan tentang administrasi negara;
o. Adanya perlindungan hak asasi;
p. Adanya pemerintahan yang mayoritas;
q. Adanya persaingan keahlian;
r. Adanya mekanisme politik;
s. Adanya kebijaksanaan negara; dan
26 Ibid.
t. Adanya pemerintah yang mengutamakan musyawarah.
Selain prinsip-prinsip di atas juga ada prasyrat tegaknya demokrasi dalam suatu negara menurut Henry B. Mayo: (1) Adanya pemerintahan yang bertanggun jawab. (2) adanya dewan perwakilan rakyat yang dipilih melalui pemilu, mewakili golongan dan kepentingan masyarakat, melakukan pengawasan, memungkinkan melaksanakan oposisi konstruktif, dan menilai kebijakan pemerintah. (3) memiliki sistem dwi atau multi partai. (4) Pers dan media massa yang bebas. (5) sistem peradilan yang bebas untuk menjamin hak asasi dan keadilan.27
Berdasarkan yang telah dirumuskan diatas oleh Inu Kencana Syafiie tentang prinsip-prinsip demokrasi dan juga prasyarat demokrasi oleh Mayo, setidaknya dapat memberikan suatu pandangan bahwa dalam menciptakan keselarasan antara idealita dan realitas dari suatu demokrasi yang menjadi dasar dari suatu negara haruslah mampu mewujudkan kriteria-kriteria di atas sehingga apa yang dicita-citakan tidaklah menjadi hal yang sia-sia, sederhananya demokrasi yang dinilai mampu menguatkan peran rakyat dengan mempertegas kembali kedaulatan rakyat yang ideal sehingga rakyat diberikan peran yang penting, baik dalam hal agenda (memilih masalah apa yang hendak dibahas dan diputuskan) ataupun dalam pengambilan keputusan.
27 Ibid.
3. Demokrasi Konstitusional
Ciri khas dari demokrasi konstitusional adalah gagasan bahwa pemerintah demokratis adalah pemerintah yang terbatas kekuasaannya dan tidak dibenarkan bertindak sewenang-wenang terhadap warga negaranya. Kekuasaan negara dibagi sedemikian rupa sehingga kesempatan penyalahgunaan diperkecil, yaitu dengan cara menyerahkannya kepda beberapa orang atau badan dan tidak memusatkan kekuasaan pemerintahan dalam satu tangan atau satu badan. Perumusan yuridis dari prinsip-prinsip ini terkenal rechstaat (negara hukum) dan rule of law.28
Gagasan bahwa kekuasaan dengan sebutan pemerintah perlu dibatasi pernah dirumuskan oleh seorang ahli sejarah Inggris, Lord Acton, dengan mengingat bahwa pemerintahan selalu diselenggarakan oleh manusia dan bahwa manusia itu tanpa kecuali melekat kelemahan.
Dalilnya yang kemudian menjadi termasyhur berbunyi sebagai berikut:”
manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung menyalahgunakan kekuasaan itu, tetapi manusia yang mempunyai kekuasaan tak terbatas pula pasti akan menyalahgunakannya secara tak terbatas pula (power tends corrupt, but absolute power corrupt absolutely).29
Demokrasi konstitusional muncul sebagai suatu program dan sistem politik yang konkret, yaitu pada abad ke-19, dianggap bahwa
28Dipo Septiawan. Op.Cit. Hlm. 33.
29 Miriam Budiardjo. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta. Pt. Gramedia Pustaka Utama. Hlm.
107
pembatasan atas kekuasan negara sebaiknya diselenggarakan dengan konstitusi tertulis, yang dengan tegas menjamin hak-hak asasi di warga negara. Demokrasi pada akhir ke-19 mencapai wujud yang konkret, teapi ia sebenarnya sudah mulai berkembang di Eropa Barat pada abad ke-15 dan ke-16. Maka dari itu, wajah demokrasi abad ke-19 menonjolkan beberapa asas yang telah susah paya dimenangkannya, seperti misalnya kebebasan manusia dari segala bentuk kekangan dan kesewenang-wenangan baik dibidang agama serta pemikiran bidang politik. Jaminan terhadap hal-hak manusia dianggap paling penting.
Dalam rangka ini, negara hanya dapat dilihat manfaatnya sebagai penjaga malam (Nachtwachtersstaat) yang dibenarkan campur tangan dalam kehidupan rakyatnya dalam batas-batas yang sempit.
B. Negara Hukum
Negara hukum menurut Immanuel kant dalam bukunya Melthaphysiche Ansfangsgrunde der Rechtslehre, mengemukakan mengenai konsep negara hukum liberal. Immanuel kant mengemukakan paham negara hukum dalam arti sempit, yang menempatkan fungsi recht pada staat, hanya sebagai alat perlindungan hak-hak individual dan kekerasan negara diartikan secara pasif, yang bertugas sebagai pemelihara ketertiban dan keamanan masyarakat.
Paham Immanuel Kant ini terkenal dengan sebutan nachtwachkerstaats atau nachtwachterstaats.30
30 M. Tahir Azhary. 1992. Negara Hukum. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm. 73-74.
Dalam negara hukum, hukum merupakan pedoman tertinggi dalam penyelenggaraan suatu negara, yang sesungguhnya memimpin dalam penyelenggaraan negara adalah hukum itu sendiri, sesuai dengan prinsip the rule of law, and not of man. Hal ini sejalan dengan pengertian nomocratie, yaitu kekuasaan yang dijalankan oleh hukum, nomos. Dalam paham negara hukum yang demikian, harus dijadikan jaminan bahwa hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. Karena prinsip- prinsip supremasi hukum dan kedaulatan hukum itu sendiri pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat. Oleh sebab itu, prinsip negara hukum hendaklah dibangun dan dikembangkan menurut prinsip-prinsip demokrasi dan kedaulatan rakyat (democratische rechtstaat)31
Konsep rechtsstaat menurut Philipus M Hardjon lahir dari suatu perjuangan menentang absolutism, sehingga sifatnya revolusioner. Adapun ciri-ciri rechtsstaat sebagai berikut:32
a. Adanya Undang Undang Dasar atau konstitusi yang memuat ketentuan tertulis tentang hubungan penguasa dan rakyat;
b. Adanya pembagian kekuasaan negara;
c. Diakui dan dilindunginya hak-hak kebebasan rakyat.
Frederich Julius Stahl memaparkan empat prinsip yang terdapat dalam Rechtsstaat yakni sebagai berikut:
31 Jimly Asshiddiqie. 2006. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Jakarta: Sekjen dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Hlm. 69.
32 Philipus M Hadjon. 1987. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Di Indonesia. Surabaya: Bina Ilmu.
Hlm. 72.
a. Pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia;
b. Negara didasarkan pada teori trias politica;
c. Pemerintahan diselenggarakan berdasarkan Undang Undang (Wetmatig bestuur);
d. Adanya peradilan administrasi negara yang bertugas menangani kasus perbuatan melanggar hukum oleh pemerintah (onrechtmatige overheidsdaad.)
International Commission of Jurist dalam konferensinya di Bangkok tahun 1965 memperluas konsep the rule of law dengan menekankan apa yang dinamakan “the dynamic aspects of The Rule Of Law in the modern age”, dikemukakan syarat-syarat dasar untuk terselenggaranya pemerintahan yang demokratis di bawah Rule Of Law sebagai berikut:33
a. Perlindungan konstitusional, dalam arti bahwa konstitusi selain dari menjamin hak-hak individu, harus menentukan juga cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin;
b. Badan kehakiman yang bebas;
c. Pemilihan umum yang bebas;
d. Kebebasan untuk menyatakan pendapat;
e. Kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi;
f. Pendidikan kewarganegaraan.
33 Muhammad Tahir Azhari. 1992. Negara Hukum Suatu Studi Tentang Prinsip-Prinsipnya Dilihat Dari Segi Hukum Islam, Implementasinya Pada Periode Negara Madinah Dan Masa Kini. Jakarta:
Bulan Bintang. Hlm. 45-49.
Menurut Bagir Manan, konspesi negara hukum modern merupakan perpaduan antara konsep negara hukum dan negara kesejahteraan. Di dalam konsep ini tugas negara atau pemerintah tidak semata-mata sebagai penjaga keamanan atau ketertiban masyarakat saja, tetapi memikul tanggung jawab mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan umum dan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.34
Frans Magnis Suseno berpendapat bahwa negara hukum berarti kekuasaan negara terikat pada hukum. Negara merupakan cerminan dari negara hukum, dapat dirinci dalam lima ciri, meliputi:35
a. Fungsi-fungsi kenegaraan dijalankan oleh lembaga -lembaga sesuai dengan ketetapan-ketetapan sebuah Undang Undang Dasar;
b. Undang Undang Dasar menjamin hak asasi manusia yang merupakan unsur yang paling penting;
c. Badan-badan negara yang menjalankan kekuasaan masing-masing selalu dan hanya atas dasar hukum yang berlaku;
d. Terhadap tindakan badan negara, masyarakat dapat mengadu ke pengadilan dan putusan pengadilan dilaksanakan oleh badan negara;
e. Badan kehakiman bebas dan tidak memihak.
34 Ni’matul Huda. 2007. Lembaga Negara Masa Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Penerbit UII Press. Hlm. 56.
35 Zakaria Bangun. 2007. Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945. Medan:
Bina Media Perintis. Hlm. 136.
C. Tinjauan Umum Pemilihan Umum 1. Pengertian Pemilihan Umum
Pemilihan umum (Pemilu) dalam teori demokrasi liberal adalah penghubung antara prinsip kedaulatan rakyat dan praktik pemerintahan oleh sejumlah kecil pejabat. Warga negara memilih pemimpinnya dan melalui mereka diputuskan isu-isu harian substansif. Pemilu pada zaman sekarang menjadi sebuah niscaya sabagai penyalur kehendak rakyat. Asas-asas pemilu telah diterapkan di dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 yang meliputi asas langsung, asas umum, asas bebas, asas rahasia, asas jujur, dan asas adil yang dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali.
Pemilihan umum presiden dan wakil presiden dijelaskan dalam Pasal 1 Undang Undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden yang berbunyi :
“Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, selanjutnya disebut
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, adalah pemilihan umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.”
2. Fungsi Pemilihan Umum
Pemilihan umum (pemilu merupakan instrumen penting dalam negara demokrasi yang menganut sistem perwakilan. Pemilu berfungsi sebagai alat penyaring bagi “politikus-politikus” yang akan mewakili dan membawa suara rakyat di dalam lembaga perwakilan. Mereka yang terpilih dianggap sebagai orang atau kelompok yang mempunyai
kemampuan atau kewajiban untuk bicara dan bertindak atas nama suatu kelompok yang lebih besar melalui partai politik (parpol). Oleh sebab itu adanya partai politik merupakan keharusan dalam kehidupan politik modern yang demokratis. Hal itu dimaksud untuk mengaktifkan dan memobilitas rakyat, mewaikili kepentingan tertentu, memberikan jalan kompromi bagi pendapat yang berlawanan, serta menyediakan sarana suksesi kepemimpinan politik secara sah dan damai. Dengan demikian, parpol adalah komponen penting dari negara demokrasi. Perlu ditegaskan pembahasan hukum pemilu tidak dapat dilepaskan dari pembahasan sistem yang mengatur tentang susunan dan kedudukan lembaga perwakilan, sebab pemilu diselenggarakan dalam rangka mengisi lembaga perwakilan. Pemilu mutlak diperlukan oleh negara yang menganut paham demokrasi.36
3. Asas-Asas Pemilhan Umum
Asas pemilu yang paling mendasar adalah Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil. Maksud dari asas tersebut adalah:37 a) Langsung
Seorang pemilih memilih suaranya tanpa perantara orang lain sehingga terhindar dari kemungkinan manipulasi kehendak oleh perantara, siapapun perantara itu. Rakyat sebagai pemilih mempunyai hak kehendak hati nuraninya, tanpa perantara.
36 Moh Mahfud. 2009. Politik Hukum Di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers. Hlm. 60.
37 B. Hestu Cipto Handoyo. 2013. Hukum Tata Negara Indonesia, Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Hlm. 254.
Berkaitan dengan hal ini, penyimpangan asas tersebut bisa saja dilakukan apabila pemilih mempunyao keterbatasa fisik pada saat akan melakukan pemberian suara.38
b) Umum
Setiap warga negara tanpa memandang latar belakang apakah kaya ataupun miskin, suku, ras, agama, kasta, jenis kelamin, tingkat pendidikannya, dimanapun tempat tinggalnya, cacat tubuh apapun yan disandang, apapun status perkawinan, apapun jenis pekerjaan, apapun ideologi yang diperjuangkan dalam bingkai dasar negara Pancasila, sepanjang telah memenuhi persyaratan obyektif seperti umur minimal, tidak hilang ingatan, hak pilihnya, sedang tidak dicabut berdasarkan putusan pengadilan, dan tidak sedang menjalani hukuman penjara lima tahun atau lebih, memiliki hak pilih dan dipilih.
Berdasarkan asas umum inilah pengaturan seluruh proses penyelenggaraan pemilu khususnya yang menyangkut tata cara pendaftaran pemilih dan pemungutan suara harus memungkinkan semua warga negaraa yang berhak mempergunakan hak pilihnya. Pemilihan yang bersifat umum mengandung makna menjamin kesempatan yang berlaku menyeluruh bagi semua warga negara, tanpa
38 Ibid.
diskriminasi berdasarkan susku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, kedaerahan, pekerjaan, status sosial.39
c) Bebas
Mengandung dua dimensi, yakni Bebas Untuk dan Bebas Dari.
Bebas untuk adalah setiap warga negara yang berhak memili mempunyai kebebasan menyatakan pendapat, aspirasi, dan pilihanyya, serta bebas untuk manghadiri atau tidak mendengar suatu kampanye partai politik.
Bebas dari adalah bahwa setiap warga negara harus terbebas oleh intimidasi dan paksaan dalam bentuk apapun, serta bebas dari perlakuan sewenang-wenang dari pihak manapun dalam menentukan pilihannya. Bagi partai politik peserta pemilu, asas bebas ini yaitu bebas untuk menyatakan pendapat secara lisan maupun tertelis, bebas berkumpul berserikat, serta bebas dari intimidasi, paksaan, dan perlakuan sewenang-wenang dari pihak manapun. Bebas yang dipergunakan oleh partai politik tentunya harus tetap dalam koridor sistem moral dan etik bangsa Indonesia.
Hal ini perlu dipahami karena pada umumnya partai politik jika sudah dibebaskan melakukan tindakan apapun. Cenderung anarkis dan berbau premanisme.40
39 Ibid. Hlm. 255.
40 Ibid.
d) Rahasia
Rahasia Adalah asas yang menunjukan pada situasi dimana setiap pemilih memberikan suaranya tanpa diketahui oleh sipapaun. Jika ada orang lain yang mengetahui pilihan seseorang, maka hal itu semata-mata hanya terjadi karena persetujuan dari pemilih yang bersangkutan, misalnya seseorang yang memerlukan bantuan orang lain pada waktu memberikan suara, karena umur lanjut atau menyandang cacat tertentu.41
Asas rahasia ini juga tidak berlaku apabila atas dasar kesadaran sendiri pemilih menyatakan pilihannya kepada orang lain, asalkan pernyataan atau pemberitahuan itu tidak bermaksud mempengaruhi pilihan orang lain. Oleh sebab itu penyelenggara pemilu harus menentukan tatacara pemberian suara, agar tidak memungkinkan orang lain mengetahui apa pilihan yang diambil oleh setiap orang.42
e) Jujur
Setiap tindakan pelaksanaan pemilu harus sesuai dengan peraturan perUndang Undangan yang berlaku, sesuai dengan etika dan moralitas masyarakat, serta bebas dari praktek-praktek intimidasi, paksaan, manipulasi, penipuan, pembelian suara dan korupsi. Hal ini tidak hanya berlaku bagi Penyelenggara Pemilu
41 B. Hestu Cipto Handoyo, Op.cit. Hlm. 256.
42 Ibid.
(KPU), tetapi juga peserta pemilu (Partai Politik), kandidat, pemantau pemilu, para pemilih dan penegak hukum.43
Asas kejujuran ini juga diperuntukan kepada lembaga-lembaga survey yang mulai marak menjelang pemilu terutama menjelang melaksanakan quick count (hitung cepat). Asas kejujuran ini begitu penting sehingga tidak hanya peserta pemilu mengutus wakilnya untuk menjadi saksi dalam perhitungan suara, tetapi juga dibuka kesempatan yang luas bagi lembaga pemantau pemilu dari luar negeri, bagi para pemilih untuk memantau atau menyaksikan seluruh proses pelaksanaan pemilu.
f) Adil
Setiap warga negara yang berhak memilih dan dipilih, setiap partai politik peserta pemilu atau kandidat dan setiap daerah, diperlakukan sama dan setara oleh setiap unsur penyelenggara pemilu, sepetti KPU, Panwas dan instansi penegak hukum.
Pemilu memerlukan sikap fair dari semua pihak baik dari masyarakat, pemilih, partai politik maupun penyelenggara, pemilu. Sikap adil ini dilakukan agar tetap menjaga kualitas pemilu yang adil dan tidak berpihak kepada kepentigan individu dan kelompok tertentu yang menyebabkan hasil pemilu tidak memiliki kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
43 Ibid.
Asas adil melakukan proses yang sama untuk kasus yang sama, menjamin hasil yang sama untuk kasus yang sama, dan berbagai pihak yang terlibat dalam suatu kasus mendapat kesempatan yang sama untuk di dengar versinya mengenai kasus tersebut. Agar stiap warga negara yang berhak memilih memiliki kesempatan dan sarana yang sama untuk mempengaruhi hasil pemilu, dan agar setiap partai politik peserta pemilu dan/atau kandidat memiliki kesempatan dan sarana yang sama untuk berkompetisi mendapat simpati prmilih, maka adil juga berarti secara aktif ditempuh upaya pencegahan dominasi sesrorang atau perusahaan yang kaya terhadap suatu partai atau kandidat, dan mencegah keberpihakan pemerintah dan birokrasi sipil dan tentaea kepada salah satu partai politik/kandidat. Tentang dana kampanye, misalnya merupakan upaya untuk menjamin asas tersebut.
langsung, umum, bebas, rahasia dipergunakan pada saat pemungutan suara. Sedangkan asas jujur dan asas adil dipergunakan untuk seluruh rangkaian proses pentahapan penyelenggara pemilu, yang meliputi:
1) Pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih 2) Pendaftaran peserta pemilu
3) Penetapan peserta pemilu
4) Penetepan jumlah kursi dan penetapan daerah pemilihan
5) Pencalonan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota
6) Masa kampanye 7) Masa tenang
8) Pemungutan dan perhitungan suara 9) Penetapan hasil pemilu
4. Presiden Dan Wakil Presiden
Presiden dan wakil presiden adalah satu intitusi yang tidak dapat dipisahkan. Mereka dipilih dalam satu paket pemilihan. Keduanya tidak dapat diberhentikan karena alasan politik, apabila diberhentikan karena alasan politik maka kedua-duanya haruslah berhenti secara bersama- sama. Tetapi jika alasan yang bersifat hukum pidana maka pertanggungjawaban pidana pada pokoknya bersifat individual. Siapa saja di antara keduanya yang bersalah secara hukum maka diberhentikan secara prosedur yang telah ditentukan oleh konstitusi.44 5. Pemilihan Presiden Secara Langusung
Pertama, model first past the post dimana calon presiden/wakil presiden yang berhasil meraih suara tebanyak berapapun jumlahnya adalah presiden/wakil presiden yang terpilih. Kedua, model two round system, adalah model pemilihan yang dilakukan karena jumlah calon presiden /wakil presiden terpilih dengan jumlah suara terbanyak dalam
44 Jimly Asshiddiqie, 2006. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. Jakarta Pusat: Konstitusi Press. Hlm. 209
puturan pertama berhak maju untuk perebutkan jumlah suara mayoritas mutlak.45
Ketiga, Model prefrential voting adalah pemilihan memberikan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya terhadap calon-calon presiden yang ada pada saat pemilihan. Seorang calon akan secara otomatis memenangkan pemilihan dan menjadi presiden terpilih jika perolehn peringkat pertama yang terbesar. Sistem ini juga dikenal sebagai mengakomodasi sistem mayoritas sederna namun metode ini dapat membingungkan proses perhitungan suara disetiap TPS sehingga perhitungan suara mungkin harus dilakukan dengan terpusat.
6. Pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Pesiden
Pelaksanaan pemilu presiden dan wakil presiden dalam Undang Undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden dengan jelas menjelaskan bahwa pelaksaan dari pemilu tersebut ada tertuang dalam Pasal 3 ayat (1) hingga ayat (7) yang berbunyi:46
1. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dilaksankan setiap 5 tahun (lima) tahun sekali
45 Triwahyuningsih. 2001. Pemilihan Presiden Langsung Dalam Kerangka Negara Demokrasi Indonesia. Yogyakarta: Tiara Wacana. Hlm. 132.
46 Pasal 3, Undang Undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
2. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan di seluruh wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai satu kesatuan daerah pemilihan.
3. Pemungutan saura dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan.
4. Hari, tanggal, dan waktu pemungutan suara pemilu Presiden dan Wakil Presiden di tetapkan dengan keputusan KPU.
5. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan setelah pelaksanaan pemilihan umum anggota DPR, DPD dan DPRD.
6. Tahapan penyelenggaraan pemilu Presiden dan Wakil Presiden meliputi :
a) Penyusunan daftar pemilih
b) Pendaftaran bakal pasangan calon c) Penetapan pasangan calon
d) Masa kampanye dan masa tenang e) Pemungutan dan perhitungan suara
f) Penetapan hasil pemilu Presiden dan Wakil Presiden g) Pengucapan sumpah/janji Presiden dan Wakil Presiden 7. Penetapan pasangan calon terpilih paling lambat 14 (empat
belas) hari sebelum berakhirnya masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden.
D. Konsep Pemilihan Serentak
Pemilihan Umum Serentak atau yang disebut dengan “concurrent elections” oleh Benny Geys didefinisikan sebagai sistem pemilu yang melangsungkan beberapa pemilihan pada satu waktu yang bersamaan.47 Sistem Pemilu ini selain di pelopori oleh Amerika Serikat, juga banyak diterapkan dinegara-negara dengan Demokrasi yang sudah maju seperti di Eropa Barat. Di Asia Tenggara sendiri, Pemilu Serentak belum terlalu dikenal, namun pelaksanannya dapat dilihat di Filipina. Meskipun sistem Pemilu ini identik dengan negara Demokrasi maju, namun di Amerika Latin, sistem ini cukup populer diterapkan dinegara-negara basis sosialis, seperti Brazil, Bolivia, Peru, dan Venezuela.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka pemilu serentak digagas oleh Aliansi Masyarakat Sipil dengan suatu maksud perubahan penyelenggaraan Pemilu yang lebih efektif dan efisien.48 Keputusan ini dikeluarkan melalui Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) No 14/PUU-11/2013 Tentang Pemilihan Umum Serentak. Keputusan Hukum ini dihasilkan dari proses pengabulan usulan menguji materi Undang Undang No. 42 Tahum 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang diajukan oleh Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia Dr. Effendi Gazali bersama Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Serentak. Berdasarkan pertimbangan MK, penyelenggaraan Pemilu dua kali, yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilu
47 Billy Hans Pranata Pasaribu. 2019. Pemilihan Umum Serentak Dalam Penguatan Sistem Presidensial Dan Efisiensi Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia. Hlm. 94.
48 Ibid.
Presiden yang diselenggarakan secara terpisah bertentangan dengan UUD 1945, dimana pasal 22E menyebutkan bahwa pemilu secara berkala, 5 tahun sekali dilakukan untuk memilih anggota DPR, DPR, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden.
Secara akademis, konsep pemilu serentak hanya berlaku dalam sistem pemerintahan presidensial. Penyelenggaraan Pemilu selama ini memisahkan waktu pelaksanaan antara Pemilukada, Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden harus diselenggarakan secara bersama-sama. Permohonan ini dilakukan Aliansi Masyarakat Sipil sebagai wujud atas keresahan penyelenggaraan Pemilu yang selama ini dinilai tidak mampu menghadirkan perubahan yang signifikan. Selain itu, Pemilu di Indonesia justru menghadirkan keterwakilan politik yang dekat dengan korupsi. Akibatnya, penyelenggaraan Pemilu menjadi kegiatan politik formalitas yang sarat akan kepentingan individu atau kelompok. Respons yang kemudian muncul dari upaya penerapan Sistem Pemilu yang terbilang baru di Asia ini, diantaranya adalah anggapan bahwa Pemilu serentak akan meminimalisir pembiayaan negara. Bahwa Pemilu serentak akan berdampak kepada menguatnya Komitmen Partai Politik dalam berkoalisi secara permanen demi memperkuat basis kekuatannya di Lembaga tinggi negara, hingga hipotesis bahwa Pemilu serentak dapat mempermudah pembenahan Sistem Presidensial di Indonesia yang masih “setengah matang”.
Untuk membenahi pelaksanaan sistem pemerintahan presidensial di Indonesia, diperlukan berbagai macam upaya, yang diantaranya adalah meninjau kembali format sistem perwakilan, sistem kepartaian, hingga sistem
dan penyelenggaraan Pemilu. Dalam hal penyelenggaraan Pemilu, penataan ulang tidak hanya berkaitan pada sistem pemilihan anggota legislatif, melainkan juga menyelaraskan skema penyelenggaraan antara pemilu legislatif dan pemilu presiden. Selain itu efisiensi anggaran yang selama ini memerlukan biaya yang tinggi dalam pagelaran pemilu juga menjadi perhatian. Hal- hal tersebutlah yang akhirnya mengarah kepada urgensi Pemilu serentak dilakukan, selain sebagai amanat UUD 1945 pasca amandemen.
Menurut Donny Gahral Adian “politik demokrasi bukan lagi pembangunan proyek-proyek kolektif” (kesejahteraan umum), melainkan festival individualisme dan proseduralisme belaka.”49
Pemilu Serentak 2019 telah berhasil dilaksanakan dan akan menjadi sejarah Indonesia untuk pertama kalinya pemilu dilaksanakan secara bersamaan. Banyak negara-negara lain dan media asing yang menyoroti dan mengapresiasi pemilihan umum serentak yang dilaksanakan di Indonesia.
E. Presidential Thesrhold
1. Pengertian Presidential Thershold
Threshold adalah bahasa Inggris, yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia dapat berarti ambang batas. Sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambang batas diartikan sebagai tingkatan batas yang masih dapat diterima atau ditoleransi. Threshold
49 Ibid. Hlm. 96.
atau ambang batas ini diadopsi dalam sistem Pemilihan Umum, sebagai formulasi perhitungan suara dan kursi pada sistem perwakilan proporsional.
Threshold awalnya dipergunakan dalam hal melihat tingkat kompetisi partai untuk menduduki kursi di daerah pemilihan dalam sistem pemilihan umum proporsional. Konsep ini mengaitkan besaran daerah pemilihan (district magnitude) dan formula perolehan kursi partai dengan metode kuota. Hubungan matematika berlaku dalam konsep ini, semakin besar besaran daerah pemilihan, maka semakin kecil persentase perolehan suara untuk mendapatkan kursi, sebaliknya semakin kecil besaran daerah pemilihan, maka semakin besar persentase perolehan suara untuk mendapatkan kursi.
Threshold bisa dipahami juga sebagai sistem perwakilan proporsional, angka dan proporsi minimum, dari jumlah pemilih untuk menjadi perwakilan/utusan di parlemen. Istilah Threshold juga diistilahkan dengan minimum barrier (batas minimum). Istilah ini sering digunakan untuk mengatur ambang batas parlemen (Parliamentary Threshold) dan ambang batas presiden untuk bisa ikut pemilihan umum.50
Ambang batas pemilihan umum (Electoral Threshold) umumnya dibagi ke dalam dua klasifikasi, yaitu ambang batas efektif (Effective
50 Matthew Justin. 2016. Law and Election Politics. Hlm. 135.
Theshold) dan ambang batas formal (Formal Threshold). Andrew Reynolds menjelaskan bahwa ambang batas efektif merupakan pengaturan yang lahir dari perhitungan matematis di dalam sistem Pemilihan Umum (mathematical by product of features of electoral systems). Ambang batas efektif diterjemahkan pula sebagai ambang batas terselubung (Hidden Threshold) atau ambang batas alami (Natural Threshold) dikarenakan Undang Undang tidak mencantumkan secara tegas persentase suara minimal yang harus dipenuhi. Ambang batas efektif menempatkan besaran daerah pemilihan (district magnitude) sebagai aspek matematis yang penting dalam penentuan perolehan kursi.51
Sebenarnya Threshold secara matematika selalu ada, sehingga rumus Threshold itu disebut Threshold tersembunyi atau ambang batas efektif. Para ahli memberikan rumusan terkait ambang batas efektif ini, yakni seperti: ambang batas adalah 100% dibagi besaran daerah pemilihan ditambah satu (Threshold = 100%: besaran daerah pemilihan + 1), contoh, besaran daerah pemilihan adalah 19 kursi, maka ambang batasnya adalah 5 persen. Inilah yang disebut sebagai Threshold.
Bedanya dengan ambang batas formal, ambang batas efektif memang tidak dituliskan dalam aturan hukum tentang persentasenya secara tegas, namun hanya bersifat alamiah atau muncul secara alamiah.
51 Ibid
Sementara ambang batas formal, besaran persentasenya dicantumkan dengan jelas dan tegas di dalam aturan hukumnya. Ambang batas tersebut dipaksakan untuk dilaksanakan dalam Pemilihan Umum berdasarkan aturan PerUndang Undangan yang berlaku, sehingga partai yang tidak mendapatkan suara mencapai ambang batas, tidak berhak mendapatkan kursi atau tidak berhak diikutkan dalam penghitungan kursi. Dalam sistem pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pemilihan Umum 2019), berarti partai politik atau koalisi partai politik yang tidak mencapai ambang batas, tidak berhak mengajukan calon Presiden dan Wakil Presiden.
2. Dasar Hukum Presidential Thershold
Dalam pemilihan umum di Indonesia, kata Threshold dijumpai dalam tiga kasus pengaturan sistem pemilihan umum. Ambang batas (Threshold) yang pertama kali diterapkan di Indonesia adalah saat menjelang Pemilihan Umum 2004, yakni Electoral Treshold yang ditetapkan pada tahun 1999. Ambang batas ini dimaknai sebagai syarat perolehan suara maupun kursi bagi partai untuk bisa ikut kembali di pemilihan umum mendatang. Hal ini tertuang dalam Undang Undang Nomor 3 Tahun 1999 Tentang Pemilihan Umum. Pasal 39 Undang Undang Nomor 3 Tahun 1999 menyatakan: “Untuk dapat mengikuti Pemilihan Umum berikutnya, Partai Politik harus memiliki sebanyak 2% (dua per seratus) dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau memiliki sekurang-kurangnya 3% (tiga per seratus) jumlah kursi
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah I atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah II yang tersebar sekurang-kurangnya di 1/2 (setengah) jumlah provinsi dan di 1/2 (setengah) jumlah kabupaten/kotamadya seluruh Indonesia berdasarkan hasil Pemilihan Umum”. Ketentuan ini dicantumkan Mahkamah Konstitusi kembali pada Pasal 143 ayat (1) Undang Undang Nomor 12 Tahun 2003. Inilah yang disebut Electoral Threshold, yaitu batas minimal porelahan kursi partai agar dapat mengikuti pemilihan umum berikutnya.52
Pasal 5 ayat (4) Undang Undang Nomor 23 Tahun 2013 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden disebutkan bahwa:
"Pasangan Calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memperoleh sekurang-kurangnya 15% (lima belas persen) dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau 20% (dua puluh persen) dari perolehan suara sah secara nasional dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat". Dengan demikian, Pasal 5 UndangUndang Nomor 23 Tahun 2013 ini mengatur tentang pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diajukan oleh partai atau gabungan partai yang memiliki sedikitnya 15 persen kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau 20 persen suara Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat. Ketentuan ini dinaikkan menjadi 20 persen kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau
52 Takhasasu Adkha. 2019. Urgensi Presidential Thershold Dalam Sistem Pemerintahan Indonesia.
Skripsi. Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Magelang. Hlm. 67.
25 persen suara Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat oleh Pasal 9 Undang Undang Nomor 42 Tahun 2008 yang mengatakan: "Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik peserta Pemilihan Umum yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau memperoleh 25% dari suara sah nasional dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sebelum pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Aturan tentang Pemilihan Umum ini kemudian diatur kembali dalam Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Inilah yang disebut Presidential Threshold, yaitu batas minimal perolehan kursi atau suara partai atau koalisi partai agar bisa mengajukan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden.53
Pasal 202 ayat (1) Undang Undang Nomor 10 Tahun 2008 menyatakan bahwa partai politik peserta pemilihan umum harus memenuhi ambang batas perolehan suara minimal 2,5 persen suara dari jumlah suara sah secara nasional dan hanya diterapkan dalam penentuan perolehan kursi Dewan Perwakilan Rakyat dan tidak berlaku untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota nasional. Saat Pemilihan Umum 2014, dalam Undang Undang Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Pemilihan
53 Ibid.
Umum, ambang batas parlemen yang awalnya 2,5 persen ditetapkan menjadi sebesar 3,5 persen dan berlaku nasional untuk semua anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah namun Undang Undang tersebut digugat oleh 14 partai politik ke Mahkamah Konstitusi.54
Pada akhirnya Mahkamah Konstitusi menetapkan ambang batas 3,5% tersebut hanya berlaku untuk Dewan Perwakilan Rakyat dan ditiadakan untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Inilah yang dimaksud Parliamentary Threshold, yakni ambang batas perolehan suara minimal partai politik dalam pemilihan umum untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat.
Threshold pertama kali diformalkan (ditegaskan presentasenya) dalam aturan yang berlaku adalah pada tahun 1999, yang kemudian menjadi salah satu dasar hukum pelaksanaan Pemilihan Umum tahun 2004. Dengan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa Threshold (ambang batas) antara Electoral, Parliamentary dan Presidential memiliki pengertian yang berbedabeda. Electoral dan presidential adalah syarat bagi partai peserta pemilihan umum untuk dapat mengikuti pemilihan umum, sedangkan Parliamentary adalah syarat untuk mendapatkan kursi di parlemen.
54 Ibid. Hlm. 68.
Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yang menjadi acuan Pemilihan Umum 2019, merupakan penyederhanaan dan penggabungan dari 3 (tiga) buah UndangUndang sebelumnya, yakni Undang Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pilpres, Undang Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum dan Undang Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Alasan penyederhanaan dan penggabungan ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemilihan umum yang adil dan berintegritas, menjamin konsistensi pengaturan sistem pemilihan umum, mencegah duplikasi pengaturan dan ketidakpastian hukum pengaturan pemilihan umum dan menemukan masalah-masalah pengaturan penyelenggara dan peserta pemilihan umum, sistem pemilihan, manajemen pemilihan umum dan penegakan hukum dalam satu Undang Undang pemilihan umum.55
Setidaknya dalam Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 ini terdapat 5 poin penting, sebagaimana yang telah dibahas di bab sebelumnya. Salah satunya adalah pengaturan ketentuan Presidential Threshold. Presidential Threshold adalah ambang batas bagi partai politik atau gabungan partai politik untuk mengajukan calon Presiden atau Wakil Presiden. Pasal 222 Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017,
55 Ibid.
menyatakan: “Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah secara nasional pada Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sebelumnya.” Ambang batas itulah yang akan dijadikan syarat untuk mengajukan calon Presiden pada Pemilihan Umum masal 2019. 56
3. Presidential Thershold Dalam Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017
Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yang menjadi acuan Pemilihan Umum 2019, merupakan penyederhanaan dan penggabungan dari 3 (tiga) buah UndangUndang sebelumnya, yakni Undang Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pilpres, Undang Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum dan Undang Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Alasan penyederhanaan dan penggabungan ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemilihan umum yang adil dan berintegritas, menjamin konsistensi pengaturan sistem pemilihan umum, mencegah duplikasi
56 Ibid. Hlm. 69.
pengaturan dan ketidakpastian hukum pengaturan pemilihan umum dan menemukan masalah-masalah pengaturan penyelenggara dan peserta pemilihan umum, sistem pemilihan, manajemen pemilihan umum dan penegakan hukum dalam satu Undang Undang Pemilihan Umum.
Setidaknya dalam Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 ini terdapat 5 poin penting, sebagaimana yang telah dibahas di bab sebelumnya. Salah satunya adalah pengaturan ketentuan Presidential Threshold. Presidential Threshold adalah ambang batas bagi partai politik atau gabungan partai politik untuk mengajukan calon Presiden atau Wakil Presiden. Pasal 222 Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017, menyatakan: “Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah secara nasional pada Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sebelumnya.” Ambang batas itulah yang akan dijadikan syarat untuk mengajukan calon Presiden pada Pemilihan Umum masal 2019.
4. Pelaksanaan Presidential Thershold Secara Historis
Awal mula dari adanya Presidential Threshold adalah pengunaan dari Electoral Threshold yang muncul dalam Undang Undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang pemilihan umum. Pada Pasal 39 disebutkan bahwa Partai Politik dapat mengikuti Pemilihan Umum berikutnya jika
memiliki 2% dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau sekurang-kurangnya 3% jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah I atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah II yang tersebar sekurang-kurangnya disetengah jumlah provinsi dan setengah jumlahKabupaten/Kotamadya.
a) Presidential Thershold dalam Pemilihan Umum 2004-2009 Pada Pemilihan Umum tahun 2004 mulai disingung mengenai ambang batas untuk pencalonan Presiden dan Wakil Presiden setelah diundangkannya Undang Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden Pasal 5 ayat 5 yang berbunyi “Pasangan Calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memperoleh sekurang-kurangnya 15% (lima belas persen) dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau 20% (dua puluh persen) dari perolehan suara sah secara nasional dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat”.
b) Presidential Thershold dalam Pemilihan Umum 2009-2014 Pada Pemilihan Umum tahun 2009 berdasarkan Pasal 9 Undang Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden adalah Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik peserta Pemilihan Umum yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit
20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sebelum pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
c) Presidential Thershold dalam Pemilihan Umum 2014-2019 Pada Pemilihan Umum tahun 2014 berdasarkan Pasal 9 Undang Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden adalah Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik peserta Pemilihan Umum yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sebelum pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.