• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hirarki S~asial Satuan Lahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Hirarki S~asial Satuan Lahan"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

Hirarki S~asial Satuan Lahan

Berdasarkan konsep hirarki satuan lahan yang diajukan pada penelitian ini, maka daerah studi secara lengkap dapat dibagi menurut hirarkinya berturut-turut menjadi 7 Kelompok Fisiografi (Peta 4 ) , 37 Sistem Lahan (Tabel am pi ran 2, dan Peta 5), 125 Kompleks Lahan (Tabel Lampiran 5, dan Peta 8 ) ,

dan 270 Faset Lahan (Tabel Lampiran 6, dan Peta 10).

Berhubung sarana yang tersedia sangat terbatas, seper- ti foto udara yang ada skala 1:100.000, Peta Topografi sakal 1:50.000, maka pada penelitian ini pelaksanaan pemba- gian Faset Lahan menjadi Tapak Lahan tidak dilaksanakan secara lengkap, sehingga pemetaannyapun tidak dilakukan.

Untuk keperluan penilaian kualitas lahan selanjutnya pada satuan Tapak Lahan hanya diambil dan dilakukan pengamatan lapang terhadap 33 Tapak Lahan contoh, seperti tertera pada Tabel Lampiran 8.

Gambaran hirarki bentang alam di daerah studi tertera pada Ganbar 15, dan gambaran hirarki spasial Tapak Lahan contoh tertera pada Gambar 16.

(2)
(3)

(skala 1:250.000), dan foto udara hitam putih tahun 1976 (skala 1:100.000), dibantu dengan penampalan Peta Geologi lembar Tanjungkarang dan Kota Agung skala 1:250.000 (Direk- torat Geologi 1978), serta hasil pengamatan lapang pada daerah pewakil, maka daerah studi dapat dikelompokkan men- jadi 7 kelompok fisiografi. Daerah pewakil tertera pada Ta- be1 Lampiran 1 dan Peta 3. Kelompok ~isiografi yang terda- pat di daerah studi tertera pada Peta 4, yaitu: Vulkan (V), Pegunungan (M), Perbukitan (H), Dataran (P), Dataran Tuf Masam (I), ~luvial (A), dan Marin (B). ~omposisi Kelompok

Fisiografi tertera pada Tabel 6.

Tabel 6. Komposisi Kelompok Fisiografi di Daerah Studi

Kelompok Fisiografi L u a s

Ha %

1. Vulkan

2. Pegunungan

3. Perbukitan

4 . Dataran

5. Dataran Tuf Masam

6. Aluvial 7. Marin

Jumlah 495.000,O 100,OO

(4)

Pengelompokkan fisiografi di atas didasari oleh proses pembentukan landform yang merupakan hasil kegiatan berbagai proses geol~orfik pada berbagai batuan dan bahan induk la- imnya

,

dalam berbagai periode waktu. Proses pembentukan landform secara luas ditentukan oleh iklim, tetapi karena waktu juga masuk di dalamnya, sehingga pengaruh iklim masa kalu sering kali lebih nyata dari pada sekarang. Pengaruh iklim masa lalu dapat dilihat dalam berbagai landform suatu wilayah fisiografi tertentu (Christian dan Stewart, 1968).

Landform yang dihasilkan oleh kegiatan proses pelapuk- an dan erosi pada berbagai macam batuan tergantung pada ti- ga faktor utama, yaitu keadaan iklim, sifat dasar dan su- sunan struktur substratum, dan waktu proses morfogenik. Be- berapa landform yang ada akan menggambarkan salah satu fak- tor tersebut yang sangat kuat mempengaruhi proses pelapukan dan erosi, pada saat faktor yang lain kurang menonjol. Ke- adaan inilah yang mendasari Desaunettes (1977) mengklasi- fikasikan landform menjadi dua kelompok utama, yaitu kelom- pok fisiografi umum, apabila pengaruh iklim dan substratum dalam keadaan seimbang, dan kelompok fisiografi khusus, apabila pengaruh iklim atau substratum lebih menonjol.

Berdasarkan hasil interpretasi foto udara skala

1:100.000, citra radar skala 1:250.000, dan hasil pengu- jian/pengamatan lapang, pengenalan masing-masing kelompok fisiografi di atas seperti dikemukakan berikut ini.

(5)

udara berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut:

(a) Merupakan kompleks gunung-gunung yang tampak jelas ben- tuknya seperti kerucut.

f b ) Kerapatan dan pola drainasenya membedakan satuan le- reng vulkan dan dataran vulkan. Pada lereng vulkan atas dan tengah ditandai oleh kerapatan drainase sedang Sam- pai tinggi dengan pola drainase radial, Pada lereng vulkan bawah dan kaki lereng vulkan kerapatan drainase sedang sampai rendah dengan pola drainase paralel dan dendritik. Pada dataran vulkan kerapatan drainasenya rendah dengan pola drainase dendritik. ~embagian lereng vulkan tersebut dikenali berdasarkan sekuen lereng vul- kan yang ada. Pembedaan lereng vulkan dan dataran vul- )ran dikenali pula berdasarkan tekstur citra, yaitu pada

Lereng vulkan teksturnya lebih kasar daripada yang terdapat di dataran vulkan, dan ha1 ini akan diperkuat lagi dengan melihat sekuen satuan vulkan yang ada, yaitu puncak, lereng atas, lereng tengah, lereng bawah, kaki lereng, dan dataran vulkan.

Kelompok Pegunungan dikenali pada citra radar dan foto udara atas dasar pertimbangan-pertimbangan berikut:

(6)

(a) Pola landform tidak lagi seperti bentuk gunung yang berbentuk kerucut, tetapi merupakan kompleks perbukitan yang lebih besar.

( b ) Xelompok Pegunungan dibedakan atas dasar perbedaan ele-

vasi tertinggi dan terendah lebih besar dari 300 meter {Desaunettes, 1977).

( c ) ~erasosiasi dengan kelompok Perbukitan.

(d) Tekstur citranya lebih kasar dibandingkan dengan tek- stur citra perbukitan dan dataran.

(e) Kerapatan drainasenya sedang sampai tinggi dengan pola drainase paralel dan dendritik.

Perbukitan

Kelompok Perbukitan dikenali pada citra radar dan foto udara atas dasar pertimbangan-pertimbangangan berikut:

(a) Pola landform membentuk perbukitan yang menyebar, tidak mengelompok secara lebih besar seperti sistem pegunung- an, dan kadang-kadang merupakan bukit terisolasi di daerah sistem dataran.

( b ) Berasosiasi dengan pegunungan dan dataran.

( c ) Tekstur citra lebih kasar dibandingkan dengan kelompok Dataran dan lebih halus dibandingkan dengan kelompok Pegunungan.

( d ) Beda elevasi titik tertinggi dan terendah 300 meter atau lebih rendah (Desaunettes, 1977).

(7)

(e) Kerapatan drainase umumnya sedang denqan pola drainase dendritik.

Dataran

Kelompok Dataran dikenali pada citra radar dan foto udara atas dasar pertimbangan-pertimbangan berikut:

(a) Pola landform merupakan dataran.

(b) Tekstur citra agak halus sampai agak kasar, tetapi le- bih halus daripada kelompok Perbukitan dan Pegunungan, dan lebih kasar daripada kelomppk Aluvial.

(c) Kerapatan drainasenya rendah dengan pola drainase den- dritik.

Dataran Tuf Masam LU

Ciri-ciri kelompok Dataran Tuf Masam pada citra radar dan foto udara hampir sama dengan kelompok Dataran. Perbe- daannya pada informasi geologi yang didominasi oleh bahan induk tuf masam (Tuf Lampung). Kelompok Dataran Tuf Masam merupakan sekuen kelompok vulkan, yaitu kelanjutan dataran vulkan.

Kelompok Aluvial dikenali pada citra radar dan foto udara atas dasar pertimbangan-pertimbangan berikut:

(a) Tekstur citranya halus, dan kehalusan tekstur lebih mencolok dibandingkan dengan tekstur di sekitarnya.

(8)

(b) Berasosiasi dengan sungai besar dan kelompok Dataran..

( c ) Pada daerah-daerah eergenang, seperti rawa-rawa umumnya memiliki tone yang lebih gelap.

(d) Sering terletak pada lembah-lembah atau dataran d i an- tara dua bukit, dan umumnya sempit (tidak luas).

Kelompok Marin dikenali pada citra radar dan foto udara atas dasar pertimbangan-pertimbangan berikut:

(a) Berasosiasi dengan laut, muara, dan pantai.

(b) Tekstur citranya halus.

(c) Pada daerah yang pasirnya dominan, umumnya di sepanjang pantai, memiliki tone yang lebih cerah.

Pengelompokkan fisiografi yang dilakukan pada peneli- tian ini sesuai dengan pengelompokkan fisiografi yang dila- kukan Desaunettes (1977) dan Buurman dkk. (1988).

Keuntungan lain yang didapat dari hasil interpretasi citra radar (skala 1: 250.000), dan foto udara hitam putih

(skala 1:100.000), yaitu dapat mengenal daerah vulkan tua

dan vulkan muda. Hasil interpretasi menun jukkan bahwa Gu- nung Tanggamus lebih muda dibandingkan dengan Gunung Rin- dingan, Bukit Begelung

,

Gunung Ratai

,

Gunung Betung

,

dan

Gunung Raja Basa. Perbedaan tersebut dikenali atas dasar perbedaan tekstur citra yang lebih halus dan kerapatan drainase lebih rendah pada daerah vulkan muda. Ditinjau

(9)

dari sudut kesuburan tanah, diduga bahwa tinqkat kesuburan tanah di daerah vulkan muda yang tanahnya telah mulai ber- kembang, kesuburan tanahnya lebih tinggi dibandingkan de- ngan daerah vulkan tua.

Informasi karakteristik lahan pada satuan ~isiografi masih terbatas pada kesamaan pola landform, seperti daerah vulkan, daerah pegunungan dan perbukitan, daerah dataran dan aluvial, dan daerah marin. Keadaan karakteristik lain- nya, seperti litologi, tanah, iklim, dan lereng masih sa- ngat brvariasi pada setiap satuan fisiografi yang ditemu- kan. Untuk mengatasi ha1 ini perlu membagi masing-masing satuan fisiografi yang sama menjadi satuan-satuan yang le- bih kecil, sehingga diharapkan masing-masing satuan akan memiliki kesamaan karakteristik lahan yang lebih luas.

Sistem Lahan

Dengan mengelompokkan informasi litologi dan landform (posisi dan bentuk) yang sama atau hampir sama pada masing- masing satuan fisiografi di atas, maka satuan lahan terse- but masing-masing dapat dibagi menjadi beberapa satuan la- han yang lebih kecil. Satuan lahan ini disebut Sistem La- han, seperti tertera pada Tabel Lampiran 2 dan Peta 5. In- formasi litologi didapat dari Peta Geologi lembar Tanjung- karang dan Kota Agung (Dit. Geologi Bandung, 1968) dan Peta Satuan Lahan dan Tanah lembar Tanjungkarang (Junus Dai dkk,

(10)

1989) dan lembar Kota Agung (Hidayat dkk., 1989), sedangkan informasi landform didapat dari hasil interpretasi foto udara dan citra radar.

Daerah studi dapat dikelompokkan menjadi 37 Sistem La- han. Komposisi Sistem Lahan tersebut yaitu: 11 satuan ber- asal dari fisiografi Vulkan, 5 satuan dari fisiografi Pe- gunungan, 7 satuan dari fisiografi Perbukitan, 3 satuan da- ri fiaiografi Dataran, 3 satuan dari fisiografi Dataran Tuf Masam, 5 satuan dari fisiografi Aluvial, dan 3 satuan dari

fisiografi Marin.

Dasar pengelompokkan bentang alam yang dilakukan pada penelitian hampir sama dengan dasar pengelompokkan ncomplex of land catenasw yang dikemukakan Desaunettes (1977) dan

nLand System" yang dilakukan RePPProT (1988). Pada ncomplex of land catenas" tidak memasukkan kesamaan unsur litologi, sedangkan pada "Land Systemw RePPProT (1988) pengelompokkan didasarkan pada kesamaan landform dan litologi untuk daerah lowland, sedangkan untuk daerah u~land berdasarkan kesamaan landform dan batuan. Jumlah "Land Systemw RePPProt di daerah studi sebanyak 28 satuan, seperti tertera pada Tabel Lampiran 3. Hal ini berbeda dengan jumlah Sistem Lahan yang dikemukan dalam penelitian ini, yaitu sebanyak 37 satuan.

Perbedaan Sistem Lahan yang diajukan pada penelitian ini dengan "Land Systemqq RePPProT terjadi karena pada HLand

(11)

Systemw RePPProT pengelompokkan bentang alam menggunakan referensi "Land Systemw yang lebih dulu telah ditemukan pa- da daerah lain secara dominan, sehingga namanya berdasarkan Bama lokal/daerah tempat "Land System" tersebut ditemukan, sedangkan pada penelitian ini pengelompokkan dilakukan ber- dasarkan keadaan spesifik suatu daerah aliran sungai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelompokkan ben- tang alam dengan referensi karakteristik bentang alam di daerah lain yang lokasinya berjauhan akan memberikan satuan

"Land Systemw yang lebih kasar dibandingkan dengan Sistem Lahan yang didasarkan pada pengelompokkan bentang alam yang karakteristik bentang alamnya lebih seragam seperti DAS Se- kampunq, atau daerah aliran sungai lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Buurman dkk. (1988), yang menyatakan bahwa penggunaan nama daerah/lokal tempat ditemukannya "Land Sys- ternw, untuk penggunaan yang luas kurang tepat, karena suatu daerah yang susunan morfologinya sama/hampir sama tetapi keadaan iklimnya berbeda, maka "Land Systemwnya harus berbeda

.

fada Sistem Lahan, karakteristik lahan yang sama atau bampir sama lebih luas daripada satuan fisiografi. Kesamaan karakteristik lahan pada kategori ini mencakup kesamaan Landform dan litologi, sedangkan karakteriktik lahan lain- nya seperti tanah, iklim, dan lereng masih beragam. Kompo- sisi landform tertera pada Tabel 7 dan litologi pada 8.

(12)

No. Candform Ha %

1. Lereng vulkan a t a s 2. Lereng vulkan tengah

3. Lereng vulkan bawah dan k a k i l e r e n g 4. Oataran vulkan d a t a r

5. Dataran vulkan berombak 6. Dataran vulkan bergelombang

7. Oataran vulkan b e r g l b . dgn. b u k i t k e c i l 8. Oataran vulkan daerah a l i r a n l a h a r 9. Oataran vulkan b e r b u k i t k e c i l 14. Pegunungan curam

i1. Oat. a n t a r a pegunungan 19. Pegunungan sangat curam 13. P e r b u k i t a n melandai

14. 8ukit k e c i l berpofa gelombang

15. Bentang lahan b e r g l b . dgn. b u k i t k e c i l 16. .Oat. berombak sampa i bergelombang

17. Oataran bergelombang dengan b u k i t k e c i l 18. Oataran berornbak

19. Oataran d a t a r sampai berombak

20. Oat. b a n j i r meander dan tanggul sungai 21. Oataran b a n j i r sungai besar

22. Oat. a l u v i a l p e r a l i h a n k e marin berrawa 23. Kipas a l u v i a l dan a l u v i a l

24. Lembah a l u v i a l t e r t u t u p

2 5 . Endapan pasang s u r u t sepanjang p a n t a i 26. fndapan pasang s u r u t sepanjang muara 27. Kompleks d a t a r a n dan punggung p a n t a i

J u m l a h 495000 ,O 100,OO

(13)

No. L i t o l o g i L u a s

h a 2

Lava d a n t u f i n t e r m . d a n b a s a Lava b a s a d a n i n t e r m e d i e r B a t u a n metamorf h a l u s B a t u a n metamorf

Campuran b a t u a n metamorf Tuf masam

B a t u a n p l u t o n i k masam Endapan f e l s i k k a s a r d a n tuf masam

Esldapan f e l s i k h a l u s Endapan f e l s i k k a s a r Endapan campuran

Endapan f e l s i k mentah h a l u s Endapan k a s a r d a n h a l u s

-- - - -

J u m l a h 495.000,O 100,OO

B e r d a s a r k a n k e a d a a n l a n d f o r m d i d a e r a h s t u d i

,

s e p e r t i t e r t e r a p a d a T a b e l 7 , t e r l i h a t bahwa 1 3 , 6 1 % a r e a l s t u d i ne- m i l i k i p o t e n s i ancaman k e r u s a k a n l a h a n t i n g g i s a m p a i s a n g a t

t i n g q i , y a i t u p a d a l a n d f o r m l e r e n g w l k a n a t a s , l e r e n g v u l - k a n t e n g a h , pegunungan c u r a m d a n pegunungan s a n g a t c u r a n . H a l imi d i d u g a a k a n t e r j a d i

,

k a r e n a l a n d f o r m t e r s e b u t pzda

(14)

umumnya berlereng curam satupai sangat curam. Selanjutnya terlihat bahwa 28,97% areal studi memiliki aqcaman kerusak- an Lahan tergolong sedang, yaitu pada landform lereng vul- kan bawah dan kaki lereng, dataran vulkan bergelombang dan berbukit kecil, perbukitan melandai, dataran bergelombang denqan bukit kecil, dan bukit kecil berpola gelombang. Si- sanya yaitu 57,42% areal studi memiliki potensi ancaman ke- rusakan lahan rendah sampai sangat rendah. Landform terse- but berupa Dataran Vulkan, Dataran, Dataran Tuf Masam, Aluvial, dan Marin.

Ditinjau dari sudut litologi, seperti tertera pada Ta-

be1 8 , terlihat bahwa litologi yang terdapat di daerah

studi 45,06% berasal dari batuan vulkanik, 7 , 4 6 % berasal dari batuan beku dalam, 8,67% berasal dari batuan metamor- fosis, dan 38,81% berasal dari batuan sediwen. Menilik je- nis litologi yang terdapat di daerah studi, diduga bahwa sebagian besar areal studi memiliki potensi kesuburan tanah cukup baik.

Komleks Lahan

Pengelompokkan jenis tanah yang sama, seperti tertera pada Tabel Lampiran 4, dan Peta 6 (Puslitan 1975, 1983,

1988), dan zone agroklimat yang sama (Oldeman dkk., 1979), seperti tertera pada Peta 7, pada masing-masing Sistem La-

han di atas, akan membagi masing-masing satuan lahan terse-

(15)

Inat nzen j a d i b e b e r a p a s a t u a n l a a n yang lebih -il. Satuan

ini d i s e b u t Kompleks Lahan, s e p e r t i t e r t e r a pada T a b e l Lam- p i r a n 5, dan P e t a 8.

' D a e r a h s t u d i d a p a t d i k e l o a p o k k a n mmjadi 1 2 5 Kompleks Lahan. Komposisi Kompleks Lahan t e r s e b u t y a i t u : 4 4 s a t u a n b e r a s a l d a r i f i s i o g r a f i Vulkan, 13 s a t u a n d a r i f i s i o g r a f i Pegunungan, 20 s a t u a n d a r i f i s i o g r a f i P e r b a i t a n , 10 s a t u a n dari f i s i o g r a f i D a t a r a n , 2 2 s a t u a n d a r i f i s i o g r a f i Dataran Tuf N a s a m , 13 s a t u a n d a r i f i s i o g r a f i A l u v i a l , dan 3 s a t u a n dari f isisgraf i Marin.

Oasar pengelompokkan Kornpleks Lahan pada p e n a l i t i a n i n i hampir sama dengan HLand U n i t w yang dikemukan Buurman d k k . (1988), akan t e t a p i pada @@Land U n i t n t i d a k meniasukkan

umur zone a g r o k l i m a t

.

Xnrformasi k a r a k t e r i s t i k l a h a n yang sama a t a u hampir saaa pada masing-masing s a t u a n Kompleks Lahan, n r e l i p u t i ke- isamaan landform, l i t o l o g i , jenis t a n a h , dan zone a g r o k l i -

mat.

Tanah yang t e r d a p a t d i d a e r a h s t u d i , t e r u t a m y a i t u ( a ) t a n a h - t a n a h yang belum berkembang m e l i p u t i 7,07% luas a r e a l s-tudi, ( b ) t a n a h - t a n a h yang b a r u m u l a i berkembang 26,68% l u a s a r e a l s t u d i , ( c ) t a n a h - t a n a h yang t e l a h berkem- bang l a n j u t m e l i p u t i 65,81% luas a r e a l s t u d i , d a n i d ) tanah o r g a n i k m e l i p u t i 0 , 4 4 % l u a s a r e a l s t u d i . H a l i n i menunjuk-

(16)

k a n bazpwa s e b a g i a n b s a r areal s t u d i terdiri d a r i t a n a h - t a n a h yang t e l a h berkembang l a n j u t . S e c a r a r i n c i j e n i s t a - nah yac9g terdapat d i daiecah s t t l d i brtera pada T a b e l Lam-

piran 4 , seperti dikewkaikan b e r i k u t i n i .

Tanah E n t i s o a s m e l i p u t i a r e a l 34.996,5 ha ( 7 , 0 7 % l u a s a r e a l studi), d i b g i menjadi 6 j e n i s t a n a h ( g r e a t g r o u p ) , yaitu:

a ) T m p o r t h e n t s , s e l u a s 4.999,5 ha (1,01% l u a s a r e a l s t u -

d i ) . K a r a k t e r i s t i k t a n a h i n i , y a i t u t e k s t u r l a p i s a n atas t e r u t a m a t e r d i r i d a r i lempung berdebu, lempung li-

a t b e r d e b u , d a n lempurrg b e r p a s i r ; p H b e r k i s a r a n t a r a

5 , 6 s a m p a i 6 , 5 ; b a i k s a m p a i a g a k b a i k ; d r a i n a s e b a i k sampai agak b a i k .

( b ) T r a p a q u e n t s , seluas S . 2 9 6 , 5 ha (1,07% luas a r e a l s t u - d i )

.

K a r a k t e r i s t i k t a n a h i n i , y a i t u t e k s t u r l a p i s a n

atas t e r u t a m a terdiri &ri l i a t , L i a t lempung bedebu, d i e t berdebu, d a n &bu; pH b e r k i s a r a n t a r a 4 , 6 sampai 6 , 0 ; d r a i n a s i s e d a n g s a m p a i agak buruk.

( c ) T r o p o f l u v e n t s , s e l u a s 8.019,O ha (1,62% l u a s a r e a l s t u - di). X a r a k t e r i s t i k tanah i n i , y a i t u t e k s t u r l a p i s a n atas t e r u t a m a t e r d i r i d a r i lewpung, lerppung l i a t berde- bu, l i a t berdebu, d a n lempung b e r l i a t ; pH t a n a h b e r k i - s a r a n t a r a 3 , 5 s a m p a i 5.5; d r a i n a s e b a i k sampai agak baik.

(17)

di). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari pasir berlempung; pH berki- sar antara 5,6 sampai 6,5; drainase baik sampai agak

buruk

.

(e) Hydraquents, seluas 5.940,O ha (1,20% luas areal stu- di). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari liat, liat berdebu, lempung;

pH berkisar antara 4,5 sampai 6,O; drainase baik.

(f) Fluvaquents, seluas 5.445,O ha (1,10% luas areal stu- di). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dariliat, liat berdebu, lempung;

pH berkisar antara 3,5 sampai 5,5; drainase baik sampai agak baik.

Tanah ~nceptisols meliputi areal 277.694,5 ha (56,10%

luas areal studi). Tanah ~nceptisol mendominasi tanah yang ada di daerah studi. Tanah ini dapat dibagi menjadi:

(a) Dystropepts, seluas 176.814,O ha (35,72% luas areal studi). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari liat berat, liat, liat ber- debu, lempung, lempung berliat, lempung berdebu, lem- pung berpasir; pH berkisar antara 5,l sampai 7,3; drai- nase baik sampai sedang.

( b ) Tropaquepts, seluas 65.884,O ha (12,30% luas areal studi). ~arakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan

(18)

atas terutama terdiri dari liat berat, liat, liat ber- debu, lempung, lempung liat berdebu, lempung berliat, lempung liat berdebu; pH berkisar antara 3,5 sampai 7,3; drainase buruk, agak buruk, sampai sedang.

(c) Eutropepts, seluas 29.056,5 ha (5,87% luas areal stu- di). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari liat, lempung, lempung berliat, lempung berdebu, lempung berpasir; pH berkisar antara 4,6 sampai 7,3; drainase sedang, agak baik, Sam- pai baik.

(d) Humitropepts, seluas 5.940,O ha (1,20% luas areal stu- di). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari liat, lempung berliat, liat berdebu; pH berkisar antara 4 , 4 sampai 7,3; drainase baik sampai agak baik.

Tanah Alfisols meliputi areal seluas 15.394,5 ha

(3,11% luas areal studi). Tanah ini hanya terdapat dua je- nis, yaitu:

(a) Hapludalf, seluas 9.405,O ha (1,90% luas areal studi).

Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari liat, liat berdebu, lempung, lem- pung berliat, lempung berpasir, lempung berdebu; pH berkisar antara 4 , 6 sampai 7,3; drainase baik.

(b) Kandiudalfs, seluas 5.989,5 ha (1,21% luas areal stu- di). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan

(19)

atas terutama terdiri dari liat, lempung, lempung ber- liat, lempung berpasir, lempung berdeu; pH berkisar an- tara 5,l sampai 6,5; drainase agak baik sampai sedang.

Tanah Ultisols meliputi areal seluas 136.620,O ha (27,60% luas areal studi). Tanah ini terbagi menjadi enam janis, yaitu:

(a) Kanhapludults, seluas 54.202,5 ha (10,95% luas areal studi). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari liat, liat berdebu, lempung, lempung liat berdebu, lempung berdebu; pH berkisar an- tara 5,l sampai 6,5; drainase sedang sampai agak baik.

(b) Kandiudults, seluas 27.175,5 ha (5,49% luas areal stu- di). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari liat, liat berdebu, lempung, lempung liat berpasir, lempung berdebu; pH berkisar an- tara 4 , 6 sampai 7,3; drainase sedang, agak baik, sampai baik.

(c) Hapludults, seluas 38.709,O ha (7,82% luas areal stu- di). Karakterisitik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari liat, liat berdebu, lempung, lempung berdebu, lempung liat berdebu; pH berkisar an- tara 5,6 sampai 7,3; drainase sedang, agak baik, sampai baik.

(d) Haplohumults, seluas 2.029,5 ha (0,41% luas areal stu- di). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan

(20)

atas terutama terdiri dari liat, liat berdebu, lempung, lempung berdebu, lempung liat berdebu; pH berkisar an- tara 5,6 sampai 7,3; drainase sedang sampai baik,

(e) Rhodudults, seluas 3.267,O ha (0,66% luas areal studi), Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari liat berat, liat, liat berdebu, lempung, lempung berdebu, lempung liat berdebu, lempung liat berpasir; pH berkisar antara 5,6 sampai 7,3; drai- nase baik sampai agak baik.

(f) Paleudults, seluas 11.236,5 ha (2,27% luas areal studi). Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari liat berat, liat, liat ber- debu, lempung, lempung liat berdebu, lempung berliat;

pH berkisar antara 4,6 sampai 7,3; drainase agak baik sampai baik.

Tanah Oxisols meliputi areal seluas 28.116,O ha (5,68% luas areal studi). Tanah ini dijumpai dalam tiga je- nis, yaitu:

(a) Eutrodoxs, seluas 2.475,O ha (0,5% luas areal studi).

Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terdiri dari liat, liat berdebu, lempung, lempung ber- liat, lempung liat berdebu, lempung berdebu; pH berki- sar antara 5 , 6 sampai 7,3; drainase sedang sampai baik.

(b) Hapludoxs, seluas 22.732,O ha ( 4 , 5 9 % luas areal studi).

Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas

(21)

terutama terdiri dari lempung, lempung berliat, liat, liat berpasir; pH berkisar antara 5,l sampai 6,5; drai- nase baik sampai agak baik,

( c ) Haplaquoxs, seluas 2.909.0 ha (0,59% luas areal studi).

Karakteristik tanah ini, yaitu tekstur lapisan atas terutama terdiri dari lempung, lempung berliat, lempung liat berdebu; pH berkisar antara 5,l sampai 6 , 5 ; drai- nase baik sampai agak baik.

Tanah Histosols meliputi areal seluas 2.178,5 ha (0,44% luas areal studi). Perkembangan tanah antara hemik sampai saprik, pH berkisar antara 5,6 sampai 6 , 5 , dan drai- nase buruk.

Keadaan zone agroklimat di daerah studi (Tabel Lampir- an 5 dan Peta 8), menunjukkan bahwa 8,865 areal studi memi- liki zone agroklimat B, yaitu daerah yang memiliki bulan basah 7-9 bulan dan bulan kering 3-5 bulan. Zone agroklimat C memiliki bulan basah 5-6 bulan dan bulan kering 6-7 bulan meliputi 54,89% areal studi. Zone agroklimat D memiliki bu- lan basah 3-4 bulan dan bulan kering 8-9 bulan meliputi 30,13& areal studi, dan zone agroklimat E memiliki bulan basah 0-2 bulan dan bulan kering 10-12 bulan meliputi 6,12%

areal studi,

Gambaran zone agroklimat di atas menunjukkan bahwa se- ' bagian besar daerah studi memiliki bulan basah 5-6 bulan dan bulan kering 6-7 bulan (zone agroklimat C).

(22)

Pada kategori ini telah diketahui pula data curah hu- jan bulanan, hari hujan, curah hujan maksimum selama 24 jam, sehingga didapatkan indeks erosivitas hujan pada ma- sing-masing satuan Kompleks Lahan di daerah studi. Data cu- rah hu jan

,

hari hu jan

,

dan erosivitas hu jan pada berbagai stasiun pengamat tertera pada Tabel Lampiran 7,

Faset Lahan

Dengan mengelompokkan kecuraman lereng menjadi kelas lereng yang sama, seperti tertera pada Peta 9 (hasil pengo- lahan dan interpretasi Peta Topografi skala 1:50.000), je- nis tanah dibagi menjadi beberapa macam tanah (Peta 3 ) , dan zone agroklimat dibagi menjadi beberapa tipe agroklimat (Peta 7) pada masing-masing Kompleks Lahan, maka masing- masing satuan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa satuan lahan yang lebih kecil, Satuan ini disebut Faset Lahan, se- perti tertera pada Tabel Lampiran 6, dan Peta 10.

Masing-masing satuan Faset Lahan memiliki kesamaan ka- rakteristik lahan meliputi kesamaan landform, litologi, ma- can tanah, tipe agroklimat, dan kelas lereng.

Daerah studi dapat dikelompokkan menjadi 270 Faset La- han. Komposisi Faset Lahan yaitu: 116 satuan berasal dari fisiografi Vulkan, 23 satuan dari Pegunungan, 47 satuan da- . ri Perbukitan, 17 satuan dari Dataran, 49 satuan dari Da-

(23)

taran Tuf Masam, 15 satuan dari ~luvial, dan 3 satuan dari Marin.

Pembagian jenis tanah pada satuan Kompleks Lahan men- jadi macam tanah tertera pada Tabel Lampiran 4. Di daerah studi terdapat 33 macam tanah. Daerah studi pada umumnya didominasi oleh macam tanah Typic Dystropepts, Typic Tropa- quepts, dan Typic Kanhapludults.

Secara rinci macam tanah utama di daerah studi, ditin- jau dari sudut proporsi terhadap luas areal studi adalah sebagai berikut:

(1) Entisols terdiri dari:

(a) Typic Troporthents meliputi 1,01 % areal studi.

(b) Tropaquents meliputi 1,07% areal studi.

(c) Tropofluvents meliputi 1,62% areal studi.

(d) Aquic Tropopsamments meliputi 1,07% areal studi.

(e) Typic Kydraquents meliputi 1,20% areal studi.

(f) Typic Fluvaquents meliputi 1,10% areal studi.

(2) Inceptisols terdiri dari:

(a) Typic Dystropepts meliputi 28,10% areal studi.

(b) Andic Dystropepts meliputi 6,22% areal studi.

(c) Lithic Dystropepts meliputi 1,14% areal studi.

(d) Aquic Dystropepts meliputi 0,26% areal studi.

(e) Typic Tropaquepts meliputi 10,82% areal studi.

(f) Histic Tropaquepts meliputi 0,64% areal studi.

(24)

(g) Aeric Tropaquepts meliputi 0 ~ 8 5 % areal studi.

(h) Typic Eutropepts meliputi 4,87% areal studi.

(i) Lithic Eutropepts meliputi 1,00% areal studi.

(j) Typic Humitropepts meliputi 1,20% areal studi.

(3) Alfisols terdiri dari:

(a) Typic Hapludalfs meliputi 1,78% areal studi.

(b) Lithic Hapludalfs meliputi 0,12% areal studi.

(c) Plinthic Kandiudalfs meliputi 1,21% areal studi.

(4) Ultisols terdiri dari:

(a) Typic Kanhapludults meliputi 10,95% areal studi.

(b) Typic Kandiudults meliputi 3,53% areal studi.

(c) Rhodic Kandiudults meliputi O,11% areal studi.

(d) Plinthic Kandiudults meliputi 1,85 areal studi.

(e) Typic Hapludults meliputi 6,92% areal studi.

(f) Aquic Hapludults meliputi 0,90% areal studi.

(g) Typic Haplohumults meliputi 0,41% areal studi.

(h) Typic Rhodudults meliputi 0,66% areal studi.

(i) Typic Paleudults meliputi 2,20% areal studi.

(j) Plinthic Plaeudults meliputi 0,07% areal studi.

(5) Oxfsols terdiri dari:

(a) Typic Eutrodoxs meliputi 0,50% areal studi.

(b) Plinthic Hapludoxs meliputi 4,59% areal studi.

(c) Plinthic Haplaquoxs meliputi 0,59% areal studi.

(25)

(6) Histosols terdiri dari Typic ~ropohemists yang laeliputi 0,44% areal studi.

Berdasarkan hasil pembagian zone agroklimat pada satuan Kompleks Lahan menjadi tipe agroklimat, terlihat bahwa di daerah studi didominasi oleh tipe agroklimat C2 dan D2. Tipe agroklimat C2 memiliki bulan basah 5-6 bulan, bulan kering 6-7 bulan, dan masa tumbuh 9-10 bulan, sedang- kan tipe agroklimat D2 memiliki sifat-sifat bulan basah 3-4 bulan, bulan kering 8-9 bulan, dan masa tumbuh 9-10 bulan.

Tipe agroklimat di daerah studi secara lengkap terdiri dari :

(a) Tipe B1 memiliki bulan basah 7-9 bulan, bulan kering 3- 5 bulan, dan masa tanam 11-12 bulan. Tipe ini meliputi 8,86% areal studi,

(b) Tipe C1 memiliki bulan basah 5-6 bulan, bulan kering 6- 7 bulan, dan masa tanam 11-12 bulan. Tipe ini meliputi 17,47% areal studi,

(c) Tipe C2 memiliki bulan basah 5-6 bulan, bulan kering 6- 7 bulan, dan masa tanam 9-10 bulan. Tipe ini meliputi 37,42% areal studi,

(d) Tipe Dl memiliki bulan basah 3-4 bulan, bulan kering 8- 9 bulan, dam masa tanam 11-12 bulan. Tipe ini meliputi 1,11% areal studi,

(26)

(e) Tipe D2 memiliki bulan basah 3-4 bulan, bulan kering 8- 9 bulan, dan masa tanam 9-10 bulan. Tipe ini meliputi 18,69% areal studi,

(f) Tipe D3 memiliki bulan basah 3-4 bulan, bulan kering 8- 9 bulan, dan masa tanam 6-8 bulan. Tipe ini meliputi 10,33% areal studi, dan

(g) Tipe E3 memiliki bulan basah 0-2 bulan, bulan kering 10-11 bulan, dan masa tanam 6-8 bulan. Tipe ini melipu- ti 6,12% areal studi,

Berdasarkan keadaan lereng di daerah studi, seperti tertera pada Tabel 9, terlihat bahwa 47,63% areal studi kecuraman lerengnya <9%, selanjutnya 25,54% areal studi berlereng 9-15%, 7,68% areal studi berlereng 16-40%, dan 19,15% areal studi berlereng >40%. Hal ini menunjukkan bahwa potensi ancaman penurunan kualitas lahan di daerah studi 19,15% tergolong sangat tinggi, 7,68% tergolong tinggi, 2 5 , 5 4 % tergolong sedang, dan 47,63% tergolong rendah sampai sangat rendah.

Daerah yang kecuraman lerengnya <40% terdapat di dae- rah vulkan (24,30%), pegunungan (0,99%), perbukitan (10,39%), dataran (32,05%), aluvial (11,72%), dan di daerah marin (1,40%). Daerah yang lerengnya >40% terdapat di daerah vulkan (10,6%), pegunungan (6,69%), dan di daerah perbukitan (1,868).

(27)

Kelo~pok Lereng 0-3% Lereng 1-81 Lerenq 9-151 Lereng 16-40 Lerenq 41-65% Lerenq >65%

Fisiografi Ha % Ha % Ha % Ha % Ka % Ha %

Vulkanik : 32942,5 6/66 11871,8 2/40 45757,7 9/24 29718,7 6/00 27898,l 5/65 24530,O 1/95 Pegunungan : 786,2 0,16

- -

393,l 0,08 3695,2 0,75 18947,8 3/83 14151,9 2/86 Perbukitan : 16982,l 3/43 4874,5 0,99 25237,2 5/10 4324,l 0,87 9120,2 1/84 78,6 0,02 Dataran : 15567,l 3/15 9670,5 1/95 21620,9 4/31

- - - - - -

Dat.Hasa~ : 53855,8 10,88 24215,5 4/89 33414,2 6/15 314,4 0,06

- - - -

Aluvial : 58022,5 11/72

- - - - - - - - - -

Uarin : 6918,7 1/40

- - - - - - - - - -

Menyimak informasi karakteristik lahan yang terdapat pada Faset Lahan, yaitu kesamaan landform, litologi, macam tanah, tipe agroklimat, dan kelas lereng, maka pada kate- gori ini ternyata bila ingin melakukan penilaian besarnya penurunan kualitas lahan yang mungkin terjadi dengan adanya penggunaan tertentu pada masing-masing satuan Faset Lahan belum dapat dilakukan. Karena untuk menilai besarnya penu- runan kualitas lahan antara lain diduga dengan menilai indeks kerusakan erosi. Hal tersebut sesuai dengan pernya- taan Arsyad dkk. (1985), bahwa kerusakan lahan utama yang terjadi di daerah aliran sungai tropika basah adalah grosi.

Oleh karena itu penilaian penurunan kualitas lahan dapat diduga dengan melakukan prediksi erosi yang mungkin terja di. Prediksi erosi dilakukan dengan menggunakan model USLE

(Wischmeier dan Smith, 1978), yaitu

E = R K L S C P

(28)

Dalam model USLE, untuk memprediksi erosi, diperlukan data indeks erosivitas hujan (R), indeks erodibilitas tanah (K), indeks kecuraman dan panjang lereng ( L S ) , indeks pengelolaan tanaman (C), dan indeks tindakan konservasi tanah dan air (P).

Berdasarkan data yang diperlukan untuk memprediksi erosi di atas, ternyata pada kategori Faset Lahan hanya menyediakan data erosivitas hujan dan kelas lereng, sedang- kan data penggunaan tanah, tindakan konservasi, dan keadaan erodibilitas tanah asih sangat beragam. Nilai erodibilitas tanah sangat dipengaruhi oleh keadaan tekstur tanah, bahan organik, dan permeabilitas tanah, sehingga pada Faset Lahan yang sama nilai erodibilitas tanah tersebut masih sangat beragam.

Sebagai contoh, pada Tabel 10 terlihat bahwa pada ma- cam tanah yang sama ternyata kandungan bahan organik dan teksturnya berbeda, sehingga nilai kepekaan tanah terhadap erosi beragam, Pada tanah Andic Dystropepts nilai kepekaan berkisar antara 0,19 sampai 0,44. Pada tanah ~ y p i c Dystro- pepts nilai kepekaan berkisar antara 0,13 sampai 0'48. Pada tanah Typic Tropaquepts nilai kepekaan tanah berkisar an- tara 0,24 sampai 0,42. Pada tanah Typic Kanhapludults nilai kepekaan tanah berkisar antara 0,18 sampai 0,54.

(29)

Tabel 10. N i l a i Kepekaan Beberapa Macam Tanah (K) d i Daerah Studi

- - - - - -- -

No Lokasi (Kec) C.org. 80 P a s i r Debu L i a t M a b c K

Andic D v s t r o ~ e p t s

1 Talang Padang 0,36 2 Pulau Panggung 0,40

3 Talang Padang 0,25 4 Pulau Panggung 0,38 T v ~ i c D v s t r o ~ e ~ t s

1 Talang Padang 2 Talang Padang 3 Pagelaran 4 Pardasuka 5 Sukoharjo 6 Pulau Panggung 7 Pulau Panggung 8 Pulau Panggung 9 Pagelaran 10 Pagelaran

T v ~ i c T r o ~ a q u e ~ t s

1 Pringsewu 1,40

2 Pardasuka 1,60

3 Kedondong 2,OO

4 Kedondong 1,30

5 Kedondong 1,90

6 Pagelaran 0,80

T v ~ i c K a n h a ~ l u d u l t s

1 Pringsewu 2,37

2 Sukoharjo 1,50

3 Sukoharjo 0,60

4 Pulau Panggung 4,36 5 Talang Padang 1,90

6 Pagelaran 3,20

7 Pagelaran 1,40

8 Pagelaran 1,20

9 Pagelaran 1,lO

10 Talang Padang 0,30 1 1 Pagelaran 3,OO Keterancran

a = indeks bahan organik, c = indeks permeabilitas tanah, b = indeks s t r u k t u r tanah, K = n i la i kepekaan tanah.

M d i h i t u n g dengan asumsi bahwa p a s i r sangat halus = 0.30 x % p a s i r (Hamer

,

1980).

(30)

Kisaran nilai kepekaan tanah tersebut ternyata cukup mencolok. Hal ini membuktikan bahwa pada tingkat macam ta- nah penilaian besarnya penurunan kualitas lahan masih beragam.

Berdasarkan kenyataan di atas, maka dapat dikatakan bahwa pada kategori Faset Lahan belum dapat melakukan pe- nilaian besarnya penurunan kualitas lahan yang mungkin ter- jadi dengan adanya suatu penggunaan tertentu. Oleh karena itu satuan ini masih harus dibagi lagi menjadi satuan lahan yang lebih kecil, yaitu dengan cara membagi macam tanah menjadi beberapa tipe tanah dan kelas lereng menjadi lereng tunggal

.

T a ~ a k Lahan

Tapak Lahan adalah satuan lahan terkecil yang didapat berdasarkan pembagian macam tanah menjadi tipe tanah dan kelas lereng menjadi lereng tunggal. Dengan mengelompokkan data tersebut pada masing-masing Faset Lahan, maka masing- masing satuan Faset Lahan dapat dibagi menjadi beberapa Tapak Lahan. Berhubung adanya keterbatasan waktu dan biaya, sehingga di dalam penelitian ini tidak dimungkinkan untuk melakukan pemetaan Tapak Lahan. Untuk keperluan pengujian selanjutnya dilakukan pengamatan dan analisis terhadap 33 Tapak Lahan contoh, seperti tertera pada Tabel Lampiran 8.

(31)

Dengan adanya informasi tipe tanah dan kemiringan le- reng tunggal pada Tapak Lahan, berarti data tanah dan le- reng sangat detil. Pada tipe tanah yang sama akan menunjuk- kan kesamaan sifat-sifat tanah seperti jenis dan susunan horizon, warna, tekstur lapisan atas, struktur, konsisten- si, reaksi tanah masing-masing horizon, sifat-sifat kimia dan mineral masing-masing horizon. Oleh karena itu pada ka- tegori ini telah dapat dilakukan penilaian besarnya penu- runan kualitas lahan dengan menggunakan model erosi (Wisch- meier dan Smith, 1978), model penurunan produksi (Shah, 1982), dan model aliran permukaan (SCS, dalam Arsyad, 1989).

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dikemuka- kan terdahulu, terlihat bahwa bentang alam secara hirarki dapat dikelompokkan berturut-turut dari karegori tinggi ke rendah menjadi Kelompok Fisiografi, Sistem Lahan, Kompleks Lahan, Faset Lahan, dan Tapak Lahan. Satuan terkecil dari bentang alam tersebut adalah Tapak Lahan.

Fisiografi Vulkan di daerah studi dapat dibagi menjadi 11 Sistem Lahan, 4 4 Kompleks Lahan, dan 116 Faset Lahan.

Fisiografi Pegunungan dapat dibagi menjadi 5 Sistem Lahan, 13 Kompleks Lahan, dan 23 Faset Lahan. Fisiografi Perbukit- an dapat dibagi menjadi 7 Sistem Lahan, 20 Kompleks Lahan,

dan 4 7 Faset Lahan. Fisiografi Dataran dapat dibagi menjadi

3 Sistem Lahan, 10 Kompleks Lahan, dan 17 Faset Lahan.

(32)

Fisiograf i Dataran Tuf Masam dapat dibagi men jadi 3 Sistem Lahan, 22 Kompleks Lahan, dan 49 Faset Lahan. Fisio- grafi Aluvial dapat dibagi menjadi 5 Sistem Lahan, 1 3 Kompleks Lahan, dan 15 Faset Lahan. Fisografi Marin dapat dibagi menjadi 3 Sistem Lahan, 3 Kompleks Lahan, dan 3 Faset Lahan.

Berdasarkan ketersediaan data yang sama pada berbagai kategori satuan lahan, terlihat bahwa penilaian besarnya penurunan kualitas lahan pada masing-masing satuan lahan tertentu dengan menggunakan model-model erosi, penurunan produksi, dan aliran permukaan, hanya dapat dilakukan pada kategori Tapak Lahan. Karena pada kategori inilah data yang diperlukan untuk penilaian tersebut tersedia secara homo- gen

.

Kesesuaian lahan merupakan gambaran kecocokan suatu penggunaan pada bidang lahan tertentu. Kelas kesesuaian suatu areal dapat berbeda-beda, tergantung pada kecocokan kualitas lahan dengan persyaratan penggunaan tertentu.

Tingkat kesesuaian lahan dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu (1) Order, menggambarkan macam kesesuaian, (2) Kelas, menggambarkan tingkat kesesuaian dalam kelas, (3) Sub Kelas, menggambarkan macam-macam pembatas atau macam-macam perbaikan yang diperlukan dalam tingkat kelas,

(33)

macam-macam perbaikan yang diperlukan dalam tingkat kelas,

dan ( 4 ) Unit, menggambarkan sifat tambahan yang diperlukan

untuk pengelolaan dalam tingkat sub kelas (FAO, 1976).

Berdasarkan hasil penelitian, seperti telah dibahas di muka, bahwa bentang alam dapat dibagi menjadi beberapa sa- tuan lahan dari ketegori tinggi ke rendah. Pengelompokkan satuan lahan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi karakteristik lahan secara berjenjang. isa am ping itu diha- rapkan pula dapat digunakan untuk melakukan evaluasi kese- suaian lahan pada masing-masing satuan tersebut sesuai de- ngan informasi karakteristik lahan yang tersedia secara se- ragam pada masing-masing satuan lahan.

Berdasarkan informasi kesamaan karakteristik lahan pa- da masing-masing satuan lahan, didapatkan hubungan kese- suaian lahan dengan satuan lahan seperti tertera pada Tabel 9, dan secara rinci dikemukakan berikut ini.

Berdasarkan pola landform yang terdapat di daerah stu- di, maka di daerah studi didapatkan satuan fisiografi yang terdiri dari fisografi Vulkan, Pegunungan, Perbukitan, Da- taran, Dataran Tuf Masam, Aluvial, dan Marin. Pada masing- masing satuan fisiografi tersebut terdiri dari beberapa ke- mungkinan bentuk lahan (landform) yang sangat mempengaruhi kesesuaian lahannya.

(34)

Kesesuaian Lahan

No. Satuan Lahan Kategori Skala Peta Kesesuaian Lahan

1. Fisiograf i

-

1:250.000

2. Sistem Lahan

-

1:250.000

3. Kompleks Lahan Order

4. Faset Lahan Kelas s.d Subkelas

5. Tapak Lahan unit Pengelolaan 1:10.000 s.d 1:5.000

Ditinjau dari sudut pola landform satuan fisiografi di daerah studi dapat dibagi dua kelompok, yaitu (1) fisiogra- fi Vulkan, Pegunungan, dan Perbukitan. Satuan-satuan ini memiliki pola landform yang lebih kasar dengan tingkat kecuraman dari sangat curam sampai datar. (2) fisiografi Datasan, Dataran Tuf Nasam, Aluvial, dan ~ a r i n . Satuan- satuan ini memiliki pola landform yang lebih halus, dan umumnya berbentuk dataran datar sampai bergelombang, dengan tingkat kecuraman ~ 1 6 % .

Ditinjau dari sudut tingkat kesesuaian lahan, dan tingkat potensi penurunan kualitas lahan, dapat dikemukakan bahwa pada fisiogarfi Vulkan, Pegunungan, dan Perbukitan

(35)

belum dapat digolongkan secara spesifik untuk suatu penggu- naan tertentu. Karena pada satuan lahan tersebut kese- suaiannya bervariasi dari sesuai sampai tidak sesuai. Demi- kian halnya dengan potensi ancaman penurunan kualitas lahan bervariasi dari sangat tinggi sampai sangat rendah.

Untuk kelompok fisiogarfi Dataran, Dataran Tuf Masam, Aluvial, dan Marin, dapat dikemukakan bahwa, pada fisiogra- fi Dataran telah dapat ditentukan kategori kesesuaian lahan tingkat order, yaitu sesuai untuk tanaman tahunan, tanaman semusim, dan peternakan. Pada fisiografi Aluvial dan ~ a r i n kesesuaian lahan tingkat order masih bervariasi. Fisografi Aluvial sesuai untuk persawahan dan perikanan darat pada daerah-daerah yang tergenang, dan sesuai untuk tanaman se- musim untuk daerah-daerah yang tidak tergenang dan drainase baik sampai agak baik. Fisiografi Marin sesuai untuk persa- wahan dan perikanan darat pada daerah tergenang (pasang surut), dan tidak sesuai untuk pertanian pada daerah beting pantai, dan beting pasir.

Pesesuaian Fisioarafi Vulkan

Menurut Desaunettes (1977) dan Buurman dkk (1988), pada fisiografi vulkan dapat dibagi menjadi kerucut vulkan dan dataran vulkan. Kerucut vulkan terdiri dari kaldera, lereng vukan atas, lereng vulkan tengah, lereng vulkan ba- wah dan kaki lereng. Akan tetapi menurut hasil penelitian

(36)

ternyata di daerah studi ditemukan beberapa landform, yaitu lereng vulkan atas, lereng vulkan tengah, lereng vulkan ba- wah dan kaki lereng, dan dataran vulkan.

Menilik beberapa kemungkinan landform yang dapat ditemui pada satuan fisiografi ini, maka kesesuaian lahan pada satuan lahan inipun menjadi tidak spesifik. Pada sa- tuan lahan ini sebagian tidak sesuai untuk pertanian, teta- pi sebaiknya untuk kawasan lindung, seperti kaldera, lereng vulkan atas. Sebagian lagi dari satuan lahan ini sesuai un- tuk tanaman tahunan, seperti pada lereng vulkan tengah, dan lereng vulkan bawah dan kaki lereng, sedangkan sebagian yang lain sesuai untuk tanaman semusin, yaitu pada dataran vulkan

.

Ditinjau dari sudut ancaman penurunan kualitas lahan, ternyata satuan lahan ini memiliki potensi ancaman penurun- an kualitas lahan yang berbeda-beda, yaitu sangat tinggi, pada lereng vulkan atas, tinggi pada lereng vulkan tengah, sedangkan pada lereng vulkan bawah dan kaki lereng, rendah sampai sangat rendah pada dataran vulkan.

Berdasarkan bahasan di atas dapat terlihat bahwa pada satuan fisiografi Vulkan belum dapat ditentukan tingkat kesesuaian lahan secara spesifik, karena masih terdapat berbagai kemungkinan kesesuaian yang mencolok, seperti ada yang sesuai untuk pertanian dan ada pula yang tidak sesuai

(37)

untuk pertanian. Demikian pula halnya dengan potensi ancam- an penurunan kualitas lahan ternyata masih sangat beragam.

Pesesuaian Fisioarafi Peaununaan

Berdasarkan landform yang mungkin didapatkan pada fi- siografi Pegunungan, maka satuan lahan dapat dibagi menjadi pegunungan agak curam, pegunungan curam, pegunungan sangat curam, dan dataran antar pegunungan. Di daerah studi dida- patkan beberapa satuan, yaitu pegunungan curam, pegunungan sangat curam, dan dataran antar pegunungan.

~ p a b i l a ditinjau dari sudut landform yang ~aungkin ditemukan pada fisiografi pegunungan di atas, maka pada sa- tuan ini, kesesuaian lahannya masih beragam, seperti halnya pada fisiografi vulkan. ~ e m i k i a n halnya bila ditinjau dari sudut potensi ancaman penurunan kualitas lahan sama dengan satuan vulkan di atas.

Pesesuaias Fisioarafi perbukitan

Berdasarkan landform yang dapat ditemukan pada satuan fisiografi Perbukitan, maka satuan ini dapat dibagi menjadi perbukitan melandai, perbukitan curam, perbukitan sangat curam, dan dataran antar perbukitan. Pada dasarnya satuan ini hampir sama dengan fisiografi Pegunungan, dan perbeda- annya dengan pegunungan hanya pada ketinggian yang dapat dicapai masing-masing satuan. Pegunungan memiliki beda

(38)

titik tertinggi dan terendah >300 meter, sedangkan perbuki- tan perbedaanya I 300 meter.

Nenilik karakteristik lahan pada fisiografi Perbuki- tan, maka pada satuan ini belum dapat membedakan kesesuaian lahan secara spesifik, seperti halnya pada fisiografi Vul- kan dan Pegunungan.

Kesesuaian Fisioarafi Dataran dan Batara~ Tuff Masan

Berdasarkan landform yang dapat ditemukan pada satuan fisiografi Dataran dan Dataran Tuf Masam, maka satuan ini dapat dibagi menjadi dataran datar, dataran datar sampai berombak, dataran berombak, dataran berombak sampai berge- lombang, dataran bergelombang, dataran berombak dan berbu- kit kecil, dataran bergelombang dan berbukit kecil.

Menilik keadaan landform yang mungkin ditemui pada fi- siografi Dataran dan Dataran Tuf Masam, dapat dikemukakan bahwa pada satuan ini telah dapat ditentukan kategori kese- suaian lahan tingkat order, yaitu sesuai untuk pertanian, baik berupa tanaman tahunan, tanaman semusim, hutan produk- si, maupun untuk peternakan.

Pesesuaiaq disioarafi, Aluvial

Berdasarkan kemungkinan landform yang dapat ditemui pada Aluvial, maka satuan ini dapat dibagi menjadi dataran aluvial, lembah aluvial (jalur meander dan rawa belakang),

(39)

kipas aluvial, dan koluvial. Di daerah studi hanya didapat- kan landform Dataran banjir meander dan tanggul sungai, dataran aluvial peralihan ke marin dan berawa, kipas aluvi- a1 dan koluvial.

Menyimak kemungkinan landform yang dapat ditemui pada fisiografi Aluvial, maka dapat dikatakan bahwa pada satuan lahan ini telah dapat ditentukan kategori kesesuaian lahan tingkat order, yaitu sesuai untuk tanaman semusim pada dae- rah yang tidak tergenang, dan sesuai untuk persawahan dan perikanan darat pada daerah-daerah yang tergenang.

Berdasarkan kemungkinan landform yang ditemui pada fisiografi Marin, maka satuan ini dapat dibagi menjadi be- ting pantai, tanggul pantai, beting pasir, beting karang, dataran pasang surut, dan rawa belakang. Didaerah studi di- temui Dataran pasang surut sepanjang pantai dan muara, dan kompleks dataran dan punggung pantai.

Menyimak keadaan landform yang mungkin ditemukan pada satuan fisiografi Marin, maka pada satuan ini kategori ke- sesuaian lahan tingkat orderpun masih bervariasi, yaitu se- suai untuk persawahan dan perikanan darat pada daerah pa- sang surut, dan tidak sesuai untuk pertanian pada pada fisiografi beting pantai.

(40)

Sistem Lahan merupakan satuan lahan yang memiliki ke- samaan karakteristik lahan berupa kesamaan pola landform dan litologi. Di daerah studi didapatkan 27 j&is landform, dan 13 jenis litologi. Berdasarkan kesamaan tersebut maka daerah studi dapat dibedakan menjadi 37 Sistem Lahan.

Karakteristik Sistem lahan tertera pada Tabel Lampiran 2.

Ditinjau dari kesamaan karakteristik satuan ~ i s t e m Lahan, ternyata pada kategori ini belum dapat menentukan tingkat kesesuaian lahannya. Pada ketergori ini jenis tanah yang ditemui masih sangat beragam, sehingga kemungkinan tingkat kesesuaian lahannya sangat beragam. Pada dasarnya satuan Sistem Lahan merupakan detilisasi Satuan Fisiografi dengan menambahkan kesamaan litologi. Namun demikian dengan penambahan tersebut ternyata belum dapat digunakan untuk menilai tingkat kesesuaian lahan secara spesifik untuk masing-masing Sistem Lahan seperti halnya pada satuan Fisiografi.

Kompleks Lahan merupakan satuan lahan yang dibedakan berdasarkan kesamaan landform, litologi, jenis tanah, dan zone agroklimat. Di daerah studi didapatkan 125 Kompleks

-

Lahan seperti telah dibahas di muka.

(41)

Ditinjau dari sudut kesesuaian lahan dan kesamaan ka- rakteristik lahan pada masing-masing satuan Kompleks Lahan, dapat dikemukakan bahwa evaluasi kesesuaian lahan belum da- pat dilakukan sampai pada ketegori kelas. Faktor pembatas untuk dapat melakukan evaluasi sampai kategori kelas, yaitu informasi kedalaman tanah dan kelas lereng masih sangat beragam.

Sehubungan dengan faktor pembatas di atas, dan keter- sediaan informasi kesamaan karakteristik lahan pada satuan Kompleks Lahan, maka pada satuan ini evaluasi kesesuaian lahan hanya dapat dilakukan pada ketegori order. Hasil evaluasi kesesuaian Kompleks Lahan, yaitu 9,02% areal studi tidak sesuai untuk pertanian, 2 8 , 0 7 % areal studi sesuai untuk tanaman tahunan, 50,63% areal studi sesuai untuk tanaman semusim, 6,15% sesuai untuk persawahan, dan 6,13%

sesuai untuk persawahan dan perikanan darat, Secara lengkap hasil evaluasi tertera pada Tabel Lampiran 5 ,

Faset Lahan merupakan satuan lahan yang dibedakan ber- dasarkan kesamaan landform, litologi, macam tanah, tipe agroklimat, dan kelas lereng. Di daerah studi didapatkan 270 Faset Lahan seperti telah dibahas di muka,

.

Ditinjau dari sudut kesesuaian lahan dan kesamaan ka- rakteristik lahan pada masing-masing satuan Faset Lahan,

(42)

dapat dikemukakan bahwa evaluasi kesesuaian lahan untuk ke- lompok padi sawah, tanaman pangan lahan kering, dan tanaman tahunan, telah dapat dilakukan sampai tingkat kelas dan sub kelas.

Berdasarkan persyaratan penggunaan lahan untuk padi sawah, tanaman pangan lahan kering, dan tanaman tahunan yang dikemukakan Puslittan (1983), didapatkan hasil evalua- si kesesuaian lahan untuk tanaman tersebut pada masing- masing Faset Lahan, seperti tertera pada Tabel Lampiran 6.

Berdasarkan hasil evaluasi kelas kesesuaian Faset Lahan untuk penggunaan padi sawah, tanaman pangan lahan kering, dan tanaman tahunan, seperti tertera pada Tabel lampiran 6, terlihat bahwa untuk penggunaan padi sawah ter- nyata 28,71% areal studi tidak sesuai permanen (N2), 24,63%

areal studi tidak sesuai saat ini (Nl), 9,28% areal studi sesuai marginal (S3), 0,14% areal studi cukup sesuai (S2), dan 37,24% areal studi sangat sesuai (Sl).

Kelas kesesuaian Faset Lahan untuk penggunaan tanaman pangan lahan kering, yaitu 22,28% areal studi tidak sesuai permanen (N2), 30,33% areal studi tidak sesuai saat ini (Nl), 0,06% areal studi cukup sesuai (S2), dan 47,33% areal studi sesuai marginal (S3). Untuk kelas kesesuaian Faset Lahan untuk tanaman tahunan, ternyata 11,448 areal studi tidak sesuai permanen (N2), 11,53% areal studi tidak sesuai

(43)

saat ini (Nl), 8 , 4 9 % areal studi sesuai marginal (S3), 23,73% cukup sesuai (S2), dan 44,81% areal studi sangat sesuai (Sl).

Henyimak hasil evaluasi kelas kesesuaian lahan di atas terlihat bahwa sebagian besar areal studi merupakan areal yang berpotensi untuk dikembangkan bagi usaha pertanian baik untuk sawah, maupun untuk tanaman pangan lahan kering dan tanaman tahunan.

Kesesuaian T a ~ a k Lahan

Tapak Lahan merupakan satuan lahan yang dibedakan berdasarkan kesamaan landform, litologi, tipe tanah, tipe agroklimat, dan kecuraman lereng. Di daerah studi dilakukan pengamatan dan analisis terhadap 33 Tapak Lahan contoh.

Ditinjau dari sudut kesesuaian lahan dan kesamaan ka- rakteristik lahan pada masing-masing satuan Tapak Lahan, seperti tertera pada Tabel Lampiran 7 , 8, 9, 10, dan 11, dapat dikemukakan bahwa evaluasi kesesuaian lahan telah da- pat dilakukan sampai tingkat unit pengelolaan untuk berba- gai jenis tanaman.

Pada kategori ini penilaian besarnya penurunan kuali- tas lahan telah dapat dilakukan secara detil, sehingga te- lah dapat ditentukan jenis pengelolaan yang harus dilakukan untuk mengatasi kerusakan lahan yang mungkin terjadi dengan

(44)

adanya suatu penggunaan tertentu, baik saat ini maupun di masa datang.

Berdasarkan hasil penilaian kelas kesesuaian lahan un- tuk beberapa jenis tanaman, antara lain padi sawah, jagung, kedelai, kopi, dan lada, seperti tertera pada Tabel Lampir- an 12, terlihat bahwa sebagian besar Tapak Lahan contoh yang dievaluasi penggunaannya saat ini termasuk dalam kelas sangat sesuai sampai cukup sesuai. Penggunaan lahan terse- but berupa sawah (Tapak Lahan 3-6, dan 11-12), hutan alam (tapak Lahan 1)

,

perkebunan karet (Tapak lahan 19, 25, dan 29), Semak/belukar (Tapak Lahan 9, 15, dan 18), kebun lada (Tapak Lahan 17 dn 22), dan kebun campuran (Tapak Lahan 2, 30, dan 31).

Penggunaan lahan berupa sawah, perkebunan karet, kebun lada, dan kebun campuran yang dilaksanakan pada Tapak Lahan di atas, merupakan pengelolaan lahan yang selama ini telah dilaksanakan, dan kecocokannya sangat sesuai sampai cukup sesuai, sehingga pengelolaan selanjutnya yang harus tetap dilakukan seperti ntempertahankan kesuburan tanah dengan pe- mupukan dan atau penambahan bahan organik ke dalam tanah dengan menambahkan atau mempertahankan sisa-sisa tanaman di areal pertanaman.

' .

Kecocokan penggunaan hutan alam pada Tapak Lahan 1, terutama karena Tapak Lahan ini lerengnya sangat terjal

(45)

sehingga tidak sesuai untuk diusakan bagi usahatani, se- dangkan kecocokan untuk semak/belukar pada Tapak Lahan 9, 15, dan 18 karena Tapak Lahan ini terdapat kontak litik, pada kedalaman kurang dari 25 cm, sehingga pada areal ini harus dibiarkan berupa tanaman permanen.

Metode p p Encaman Kerusakas Lahan Terkomnuter

Hasil penelitian hirarki spatial satuan lahan, menun- jukkan bahwa Tapak Lahan merupakan satuan lahan terkecil yang secara detil menyediakan data untuk penilaian besarnya ancaman kerusakan lahan. Penilaian tersebut diperlukan un- tuk menentukan tindakan pengelolaan lahan dalam usaha me- ngatasi ancaman kerusakan lahan tersebut.

Sistem penilaian ancaman kerusakan lahan terkomputer merupakan wujud Pendekatan ~ i s t e m dengan ~ i s t e m ~enunjang Keputusan. Penilaian dilakukan secara terprogram dengan dua pengelolaan dasar, yaitu pengelolaan data dasar dan penge- lolaan model dasar. Program ini disebut Sistem Pemantauan dan Evaluasi Sumberdaya Lahan (SIPESDAL). Penilaian ancaman kerusakan lahan terkomputer dimaksudkan untuk melakukan pe- nilaian secara cepat dan akurat terhadap kemungkinan keru- sakan lahan dengan adanya suatu penggunaan tertentu. Peni-

L

laian tersebut dimaksudkan pula untuk mengetahui tindakan pengelolaan yang diperlukan untuk menekan ancaman kerusak-

(46)

an, sehingga pemilihan program pengelolaan lahan yang akan diterapkan dapat lebih tepat.

Keterangan dan petunjuk umum penggunaan program kom- quter SIPESDAL untuk penilaian ancaman kerusakan lahan ter- tera pada Lampiran halaman 250 sampai 269, sedangkan peng- gunaan program tersebut digunakan untuk menilai ancaman ke- rusakan erosi, penurunan produksi, dan aliran permukaan, seperti dikemukakan berikut ini.

Penilaian Ancaman Kerusakag Erosi

Penilaian ancaman kerusakan erosi dapat diwujudkan dalam bentuk indeks kerusakan erosi. ~ i l a i ini sangat di- pengaruhi oleh laju erosi yang terjadi dan laju erosi yang masih dapat dibiarkan (EDB) pada Tapak Lahan contoh yang dievaluasi. Karena pada keadaan laju erosi yang sama tetapi EDBnya berbeda maka indeks kerusakan erosi akan berbeda.

Semakin kecil EDB, indeks kerusakan erosi akan semakin be- sar. Nilai EDB sangat dipengaruhi oleh umurguna yang dite- tapkan. Umurguna yaitu waktu yang diperlukan untuk memeli- hara kelestarian tanah (Arsyad, 1989).

Dalam penilaian ancaman kerusakan lahan digunakan umurguna 100 tahun. Penentuan umurguna tersebut didasarkan pada hasil penelitian ~ a r d j o w i g e n o dkk (1993) di Pulau

.

Karakatau yang menunjukkan bahwa laju pembentukan tanah selama 100 tahun (1983-1993) sedalam 25 cnt, atau 2 , 5 mm

(47)

tiap tahun. Dengan pertimbangan hasil pembentukan tanah dari bahan induk hasil letusan gunung api tersebut maka to- leransi maksimum kehilangan tanah tiap tahun adalah 2,5 mm, atau umurguna 100 tahun.

Hasil perhitungan kemungkinan besarnya erosi yang da- pat terjadi pada Tapak Lahan contoh, dengan kondisi penggu- naan lahan yang ada saat ini, seperti tertera pada Tabel Lampiran 13, memberikan gambaran tingkat ancaman kerusakan lahan yang dapat terjadi, seperti tertera pada Tabel 12.

Tingkat ancaman kerusakan lahan pada Tabel 12, menunjukkan bahwa 2 4 , 2 % Tapak Lahan contoh tergolong sangat tinggi, 18,2% tergolong tinggi, 3 , 0 % tergolong sedang, dan 5 4 , 6 %

tergolong sangt rendah. Keadaan ini menun jukkan bahwa sebagian besar Tapak Lahan contoh ( 5 7 , 6 % ) kemungkinan erosi yang terjadi tergolong rendah.

Laju erosi yang rendah pada sebagian besar Tapak Lahan contoh dikarenakan pola penggunaan lahan saat ini berupa sawah (padi sawah, Orvza sativa), hutan, perkebunan karet (Heva braslliens

. .

is) dengan tanaman penutup tanah permanen (Calo~oaoniurq wcunoides, pueraria javanica, P-DUS

s. C e n t r o c e m pubescens) kerapatan tinggi, dan kebun campuran pada lereng < 7 % . Tingkat ancaman kerusakan erosi tinggi sampai sangat tinggi terjadi pada Tapak Lahan contoh dengan pola penggunaan lahan tegalan, seperti jagung

( mavs), kedelai (Sovbeaq spp.), kacang tanah

Gambar

Tabel  6.  Komposisi Kelompok Fisiografi di Daerah Studi
Tabel  10.  N i l a i  Kepekaan  Beberapa  Macam  Tanah  (K)  d i  Daerah  Studi
Tabel  13.  Indeks Pengelolaan Tanaman/Penggunaan Lahan
Tabel  20.  Data  IKE,  IPP,  dan  IAP  Tapak  Lahan  Contoh
+2

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk kesalahan penggunaan bahasa Indonesia yang meliputi kesalahan ejaan, diksi, kalimat, dan

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan anugerah dan berkat yang memampukan penulis dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul

Grafik Nilai Akurasi Tertinggi dengan RMSE untuk Setiap Persentase Data Train dan Test Kondisi peramalan dengan nilai terendah yang dihasilkan dalam penelitian adalah persentase data

intensitas yang relatif cukup dan memberikan korelasi yang positif bagi perubahan perilaku dan akses

Data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu dilakukan dengan teknik

Secara rambang, kita boleh mengatakan perpecahan Syiah kepada Ithna Ashari, Zaidi serta Ismaili dan beberapa mazhab lain yang akan dibincang kelak adalah berunsur

Ketika anjing bisa belajar dari pemiliknya untuk mengerti lalu patuh, taat dan setia, kita seharusnya bisa lebih baik lagi menerima pengajaran-pengajaran Tuhan, mengerti