TEOLOGI BIBLIKA
RINGKASAN BUKU PURWA PUSTAKA
EKSPLORASI KE DALAM KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA DAN DEUTEROKANONIKA
Bagian II
DOSEN: PDT. DR. DECKY K. LOLOWANG
OLEH :
PRITA MAWITJERE NIM :
20200210048
YAYASAN GMIM DS. A. Z. R. WENAS
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TOMOHON FAKULTAS TEOLOGI
2020
1 BAGIAN II
SEJARAH DAN AGAMA ISRAEL KUNO
A. SEJARAH DAN AGAMA “ISRAEL”: INFORMASI DASAR
1. Premis-Premis: Israel versus Kanaan, YHWH versus Baal, dan Timur Dekat Kuno sebagai Latar Belakang untuk Memahami Teks-Teks Alkitab Para pakar masa kini yang melalui riset etnologis, arkeologi dan historis tidak memulai premis yang menunjukkan penyebab terjadinya perubahan peradaban di Palestina disebabkan oleh gelombang imigrasi dari luar Palestina tetapi anggapan bahwa perubahan tidak hanya terjadi karena dorongan-dorongan dari luar tetapi juga terdapat unsur dari dalam. Dijelaskan bahwa terdapat asumsi terdahulu yang beranggapan bahwa Palestina awalnya ditempati oleh populasi pribumi yang kemudian kelompok etnis baru masuk yakni Kanaan dan selanjutnya Israel.
Dari Perjanjian Lama (PL) menekankan realitas berbedanya Israel dan Kanaan dan bahwa kedua bangsa tersebut tidak menjalin hubungan yang baik berbeda dengan pendapat para pakar ketika merekonstruksi secara historis bahwa secara garis besar orang Israel adalah orang Kanaan sehingga ‘pertentangan’ yang dikatakan dalam PL dilihat sebagai “pola penafsiran” yang mengungkapkan jarak teologis terhadap latar belakang, bahasa dan etnisitasnya terdahulu untuk membekali komunitas keagaman pada periode Pembuangan.
Dalam PL juga menegaskan perbedaan antara YHWH dan Baal tetapi dalam studi sejarah keagamaan menunjukkan bahwa YHWH Israel dan YHWH Yehuda menghasilkan manifestasi yang berbeda dari yang aslinya adalah dewa cuaca sebagai jenis dewa Baal-Hadad yang dapat dinamakan Baal atau YHWH sehingga dari sini dapat memberikan arti bahwa YHWH dan Baal tidak sepenuhnya berbeda bahkan mereka hanya memiliki penyebutan yang berbeda. Tetapi seiring berubahnya peradaban, istilah YHWH meng-kristal.
Selanjutnya dalam periode yang dibahas menunjukkan pentingnya keberadaan Palestina dari letas geografis. Palestina disebut sebagai “negeri ambang pintu", letak geografisnya menarik khalayak yang berkecimpung di berbagai bidang: politik, ekonomi dan militer. Sehingga baik sejarah sekuler maupun sejarah
2
religius Palestina tidak dapat melepaskan keterkaitannya dengan perkembangan politis.
2. Terminologi
2.1 Istilah Kanaan, Israel/Orang Israel, Yehuda/Orang Yudea, Yehuda, Yudea, Yahudi, Samaria dan Palestina
Istilah Kanaan menunjuk pada provinsi Mesir (14-12 SM) yang dapat menjadi identitas diri orang Funisia dan digunakan dalam PL untuk para pemukim terdahulu dari tanah perjanjian.
Istilah Israel awalnya ialah sebuah kumpulan suku yang tinggal di dataran tinggi Palestina tengah atau utara yang paa abad pertama sebelum mesehi bernama Kerajaan Utara yang berpusat di Samaria. Dalam PL istilah tersebut digunakan untuk keseluruhan monarki kesatuan di bawah Daud dan Salomo, meliputi Kerajaan Utara (Israel) dan Kerajaan Selatan (Yehuda).
Istilah Yehuda aslinya adalah kumpulan suku yang berada di dataran tinggi Palestina sebelah selatan. Kemudian pada masa Yunani-Romawi digunakanlah istilah “Yudea”.
Istilah Samaria adalah ibu kota Kerajaan Utara, yang berbeda dengan istilah Samaritan yang merupakan anggota komunitas religius yang berkembang pada masa pasca-pembuangan.
Istilah Palestina aslinya menunjuk pada area pemukiman orang Filistin, yang selanjutnya merujuk pada jalur pantai antara Mesir dan Funisia, dan di tahun 135 M, provincia syria palaestina menjadi nama baru provinsi Roma di Yudea.
2.2. Sejarah, Kisah-kisah, Historiografi dan Pengisahan
Menurut Axel Knauf yang merujuk pada Fernand Braudel, penulisan sejarah harus ditulis dalam beberapa tingkatan yaitu sejarah panjang, sejarah serentak dan kejadian-kejadian sejarah. Dalam tulisan Alkitab, sejarah (historiografi) dan kisah (pengisahan) tidak secara tegas dibedakan. Baik Timur Dekat Kuno maupun PL menceritakan sejarah pun terjadi meski biasanya dalam kerangka penceritaan kisah.
2.3. Istilah Monoteisme, Politesme, Monolatri, Henoteisme dan Poli-Yahwisme
3
Istilah monoteisme berasal dari dunia modern yang muncul dalam karya Henry More tahun 1660 yang mana menggambarkan keyakinan hanya ada satu Tuhan dan hanya Ia yang disembah. Lain halnya dengan politeisme yang muncul bersama Philo dari Aleksandria, menunjukkan anggapan bahwa terdapat banyak dewa yang dapat dijadikan sesembahan. Tapi dalam politeisme dapat saja ditemui jalan yang mengarah pada monoteisme, yaitu monolatri dan henoteisme. Sedangkan Poli-yahwisme relative merupakan istilah baru oleh Herbert Donner yang mengaitkannya dengan teori di Kerajaan Utara dan Yehuda selama periode monarki terdapat berbagai macam manifestasi dewa-YHWH.
3. Bangsa-Bangsa dan Allah-Allah Mereka: Kultus Resmi, Kultus Lokal, Kesalehan Pribadi/Kultus Domestik, Kultus Harian dan Kultus Perayaan Terdapat berbagai kultus atau penyembahan berwujud ibadah yang dilakukan
‘mereka' kepada Allahnya sebagai sebuah bangsa dengan menggunakan simbol- simbol keagamaan; diantaranya kultus resmi, lokal, kesalehan pribadi/domestik, harian dan perayaan. Perbedaan setiap kultus dijelaskan termasuk tempat dan lokasi itu berlangsung secara rinci sehingga dari sumber-sumber arkeologis, ikonografis dan epigrafis menunjukkan kehidupan kultus dari pemerintahan “Israel" dan Yehuda di masa itu itu yakni di Zaman Besi sebagai kelanjutan dari praktik kehidupan di zaman sebelumnya. Penjelasan selanjutnya tiba di masa pasca pembuangan mengenai Bait Suci Kedua di Yerusalem beserta ritus dan kultusnya.
Ketika Bait Suci tersebut diruntuhkan lalu kemudian dibangun kembali pada periode Persia dan Yunani, di Yerusalem timbul berbagai konflik sosial, politik dan teologi salah satunya konflik reformasi pemujaan yang menyebabkan pemberontakan serta timbulnya beberapa kelompok keagamaan maupun kelompok yang menentangnya.
4. Bangsa-Bangsa dan Orang Mati/Nenek Moyang Mereka: Kuburan, Pemakaman/Pengebumian, Perlakuan bagi Orang Mati, Pemanggilan Arwah, Kultus Persemayaman/Sembahyang Nenek Moyang dan Harapan Akan Kebangkitan
4
Praktik ritus terhadap orang mati jelas ditolak oleh PL namun bukti dan kenyataannya juga praktik-praktik tersebut dijumpai baahwa “Israel" dan Yehuda menerimanya bahkan pada periode pra pembuangan menjadikannya suatu kebiasaan. Mengenai teks-teks apokaliptik yang dijumpai dalam PL pun menyajikan pendapat dan perdebatan tentang kebangkitan, misalnya antara Saduki yang menyangkal adanya kebangkitan sedangkan Farisi mempercayai adanya kebangkitan.
5. Wilayah: Ciri-ciri Geografis Palestina
Wilayah yang berbatasan dengan Palestina yakni: di sebelah barat, Mediterania; utara, punggung gunung Lebanon dan Anti-Lebanon dengan Gunung Hermon; timur, Bersyeba; selatan, Wadi Gazze dan Wadi I-’Aris (bnd. Hak. 20:1;
1 Sam. 3:20, dst.). Kondisi geografis Palestina juga menetukan rute-rute lalu lintas dan perdagangannya.
6. Waktu: Kalender, Penetapan Waktu dan Kronologi
Pembagian unit waktu alamiah dan kalender ditentukan oleh fakta astronomis. Mengenai penanggalan peristiwa, penanggalan menurut tahun-tahun monarki dari para raja sering kali digunakan, seperti di Mesir, Babilonia dan dalam PL umum dilakukan. Pada periode sebelum Yunani sendiri tidak ada patokan untuk secara pasti menentukan kronologi yang relatif dengan tanggal yang pasti. Namun umumnya tanggal-tanggal tetap di Palestina harus dihitung dengan variasi-variasi dari satu tahun sampai beberapa tahun untuk tanggal-tanggal pada millennium pertama SM.
B. SEJARAH UMUM DAN RELIGIUS “ISRAEL”: SEBUAH SURVEI HISTORIS
1. Akhir dari Zaman Perunggu Akhir (Zaman PA)
1.1. Masyarakat dan Ekonomi: Akhir dari Dominasi Mesir atas Provinsi Kanaan dan Kerajaan-Kerajaan Negara-Kota
5
Ketika urbanisasi Palestina berada pada puncaknya tapi menjadi tidak seimbang sehingga zaman tersebut juga menjadi akhir dari dominasi Mesir atas provinsi Kanaan dan kerajaan-kerajaan negara-kota baik kemasyarakatannya maupun perekonomiannya.
1.2. Agama dan Peribadahan: Karakter Antarbangsa Para Dewa dan Keunggulan Para Dewa Laki-laki dalam Panteon Kota dan Kuil-kuil Kota
Pada periode ini kompleks kuil dapat ditemukan di kota-kota dan desa-desa.
Area-area peribadahan yang terbuka dan tempat peribadahan privat dibangun di daerah pemukiman. Dengan bentuk bangunannya yang memiliki bentuk arsitektur sakral dan tradisi-tradisi ikonografi yang dipengaruhi oleh pengaruh Mesir. Peranan para dewa laki-laki pada periode ini begitu ditonjolkan yang mempengaruhi kehidupan keagamaan saat itu seperti ketika peribadahan resmi dari kota-kota atau negara-kota ditentukan oleh laki-laki yang menguasai wilayah tersebut.
2. Dari Zaman Besi I ke Zaman Besi IIC (kira-kira 1200/1150-587/6 SM) 2.1. Ekonomi dan Masyarakat: Periode De-Urbanisasi dan Pertumbuhan
Permukiman, Perkembangan Suku-Suku, Kota-Kota, Negara-Negara Teritorial dan Provinsi-Provinsi
Di zaman Besi I (1200/1150 – 1000 SM), ketika negara dibawah Kekaisaran Het mengalami kemerosotan hingga cepat berakhir. Lalu oleh Kerajaan Baru Mesir berupaya menghindari kehancuran periode sebelumnya. Pada zaman besi, kota-kota orang Filisin mendominasi wilayah pesisir bagian selatan Sefela untuk melawan kecenderungan umum atas de-urbaninasasi di pedalaman Zaman Besi I.
Kemunduran-kemunduran yang terjadi umumnya ditandai dengan de-urbanisasi, resesif dan kemiskinan, yang pada periode transisi ini mununjukan perubahan urbanisasi penduduk yang setengah menetap atau tidak menetap dan terbukti dari penyusutan daerah pemukiman.
Zaman Besi IIA (1000-926/900 SM atau 950/900 – 800/785/748 SM) di mana menurut arkeologi Palestina dicirikan umumnya sebagai masa pembaruan peradaban urban (re-urbanisasi), yang dimulai pada pusat tempat tradisi-tradisi urban selama periode transisi terpelihara. Dan yang menjadi “agen” dalam proses
6
peleburan permukiman dan re-urbanisasi di abad ke-10 sampai 9 SM di Palestina adalah suku-suku yang berbeda dari wilayah tersebut dengan kepemimpinan kepala suku muncul dari ikatan kesukuan Zaman Besi I menjadi suatu kerajaan kesukuan.
Dalam artian tertentu para kepala suku dengan negara-negara kesukuan atau konfederasi negara-negara kesukuan mereka yang berpusat di kediaman mereka menghidupkan kembali tradisi-tradisi negara-negara kota Zaman PA dengan para tentara bayaran Habiru mereka. kitab 1 Samuel 14:52; 22:6, dengan henghadirkan Saul di Gibea dan sebagai kepala suku Benyamin, Efraim dan Gilead (2 Sam. 2:9) mungkin mengandung kenangan dari kondisi-kondisi yang mirip. Tetapi tidak ditemukan adanya informasi secara historis mengenai orang yang bernama Salomo dan kerajaan Salomo sebagaimana juga kerajaan Daud.
Zaman Besi IIB (926/900 – 722/700 SM atau 800/785/748 – 722/700) ketika wilayah bagian barat Yordan secara arkeologis menunjukkan pembagian Palestina utara dan selatan kian jelas. Dalam PL menunjukkan hubungan yang awalnya penuh konflik terjadi antara “Israel” dan Yehuda (1 Raj. 14:30; 15:6, 16), namun selanjutnya situasi berubah mana kala dinasti Omri berlangsung (sekitar 880-843 SM) di mana mereka hidup damai ketika berdampingan (1 Raj. 22:45). Selanjutnya keduanya mengalami perubahan dan perkembangan yang berbeda-beda. Di Selatan, menurut 1 Raja-raja 12:20, Yehuda diperkecil menjadi sebuah negara-mini yang terdiri dari Yerusalem dan suku Yehuda, sementara suku-suku yang tersisa mengikuti Yerobeam I. berkenaan dengan perbatasan utara, narasi Alkitab mencerminkan konflik-konflik yang melebar di sekitar wilayah suku Benyamin.
Berdasarkan riser arkeologi terbaru mencatat bahwa perkembangan kea rah kenegaraan yang sesungguhnya mencapai Yehuda hanya dengan penangguhan yang cukup lama, sehingga tidak ada relik-relik material ditemukan dari abad ke- 10-9 SM yang menunjukkan adanya wilayah supraregional yang dikelola secara sentral. Tapi apa pun perkaranya, setelah permulaan yang berlainan di mulai dari abad ke-9 SM dst, perkembangan sosio-ekonomi menjadi kenegaraan teritorial akhirnya mencapai Yehuda pada pertengahan pertama abad ke-8 SM yang menunjukkan keunggulan dari utara. Sampai akhir Imperium Asyur, Yehuda tetap menjadi negara bawahan yang setia, sehingga generasi-generasi yang hidup di
7
bawah Manasye menikmati suatu periode yang stabil dan makmur, meski hal ini tidak di hargai selayaknya penafsiran historis para Deuteronomis.
Zaman Besi IIC (722/700 – 587/586 SM) ditandai dengan berakhirnya kerajaan-kerajaan di Utara dan Selatan secara politis. Selama masa-masa ini mencatat periode re-urbanisasi dan adanya pertumbuhan permukiman, perkembangan suku, kota, negara teritorial dan provinsi. Pada kerajaan Utara sebelumnya, setelah penaklukan Asyur telah diintegrasikan ke dalam sistem provinsi Asyur yang mengartikan akhir otonominya dan menampilkan pejabat- pejabat resmi Asyur yang untuknya tempat-tempat kediaman dibangun di ibu kota- ibu kota provinsi sehingga mengakibatkan orang-orang Asyur secara khusus mengembangkan tempat-tempat seperti Megido dan Samaria, dan dari sana administrasi provinsi di atur. Sedangkan di Yehuda, setelah upaya pemberontakan Hizkia yang sia-sia, tetap menjadi negara bawahan Asyur. Tetapi pada abad ke-7 SM terjadi kemajuan karena perdagangan besar-besaran dengan orang-orang Edom dan Arab. Yehuda tetap makmur selama Zaman Besi IIC terlepas dari hilangnya wilayah yang secara agrikutural dan ekonomi penting ini dan terlepas dari situasinya yang terasing adalah karena pragmatisme politik dari para rajanya dan kesempatan-kesempatan ekonomi dari pax assyriaca.
2.2. Agama dan Kultus: Panteon-Panteon Lokas, Tempat Suci Terbuka, Ilah-ilah Negara dan Kuil-Kuil Kota yang Jarang
Bangunan-bangunan pemujaan dari Zaman Besi I menunjukkan titik masa dari percampuran peradaban, di mana elemen-elemen dari berbagai asal-usul dikombinasikan, dan menunjukkan masa transisi. Hanya terdapat beberapa bangunan pemujaan yang diketahui dan bertempat entah di wilayah pesisir atau di kantong-kantong pedalaman dengan tradisi Zaman PA yang masih bertahan.
Tradisi kuil-kuil kota juga terus diikuti meski terdapat beberapa perubahan.
Berkaitan dengan ciri masyarakat pada zaman ini, panteon-panteon surgawi dari kota-kota tetap terikat pada tradisi Zaman Perunggu, sementara suatu situasi yang berbeda harus dikemukakan untuk peradaban pedesaan Palestina.
Zaman Besi IIA, meski harus dilihat sebagai suatu masa pengelompokkan permukiman dan bangkitnya ke,bali peradaban urban, kuil-kuil kota, seperti yang
8
dikenal dari negara-negara kota Zaman PA, sebagian besar tidak ada. Tradisi-tradisi religius dari negara-negara kota Zaman PA mengalami keterputusan ke dalam Zaman Besi II dan bahwa tradisi-tradisi dari dataran tinggi Zaman PA dan Besi I kini masuk ke dalam kota-kota baru bersama dengan orang-orang yang bermukim disana. Hal itu mengakibatkan tradisi peribadahan local dan keluarga yang berbeda- beda keluarga, klan dan suku terus dipraktikkan oleh para pemimpin dari kelompok-kelompok ini di rumah-rumah mereka atau pada tempat-tempat suci lokal.
Pada zaman Besi IIB dengan kebangkitan kenegaraan, perkembangan atas ilah-ilah lokal sebelumnya dari klan dan suku individual menjadi ilah-ilah dinasti, kemudian menjadi ilah-ilah residensi perkotaan, dan akhirnya menjadi ilah-ilah negara mencapai tujuannya. Ini terjadi selayaknya pada evolusi religio-historis dari YHWH. Kultus resmi YHWH di Kerajaan Utara sebagian besar dilaksanakan di tempat-tempat suci di luar kota yang mana berdasarkan temuan arkeologis dari Zaman Besi IIB merujuk pada kuil-kuil dari beberapa kota. Di Selatan sendiri terdapat sebuah kuil negara di Yerusalem (sebagai pusat urban) menjadi tempat YHWH disembah sebagai ilah negara dari negara-mini dataran tinggi.
Zaman Besi IIC di Palestina menjadi waktu dari perubahan hagemoni yang meninggalkan jejak mereka dalam sistem simbolis religius, tanpa adanya prasangka terhadap tradisi lokal yang tidak perlu atau mesti ditinggalkan. Ini mengahasilkan ilah-ilah dari provinsi-provinsi sayang sangat berbeda sering kali disembah bedampingan di satu tempat.
3. Periode Babilonia-Persia (587/586-333/332 SM)
3.1. Masyarakat dan Ekonomi: Masa-Masa Pembungan, Kembali Sebagian, Permulaan-Permulaan Baru dan Konflik-Konflik dengan Para Penduduk Negeri
Dari sosio-ekonomi masa ini ditandai dengan masa pembuangan ke Babel, kembalinya sebagian penduduk dari pembuangan, permulaan-permulaan baru serta berbagai konflik yang terjadi dengan para penduduk negeri. Di mulai dengan takhluknya Yerusalem di bawah Nebukadnezar II sebagai penguasa Babilonia, selanjutnya masuk pada periode Neo-Babilonia, masa yang setelah kemunculan
9
pertama orang-orang Babel di barat, Palestina menjadi panggung konflik antara orang-orang Babel dan Mesir untuk peninggalan Asyur yang menyebabkan Yehuda menjadi merdeka secara politis. Karena terjadi invasi berulang-ulang antara tahun 604 dan 587/586 SM, yang pada satu sisi dimaksudkan untuk mengusir orang-orang Mesir, dan pada sisi lain untuk mengangkut barang-barang rampasan, wilayah- wilayah Bebel di barat tidak mampu mendapatkan stabilitas ekonomi. Peristiwa- peristiwa yang tejadi di sekitar tahun 600 SM menyebabkan Yehuda mengalami kehilangan teritorial secara signifikan, diantaranya Negeb, Safela dan Yudea. PL hanya menceritakan bagaimana sampai terjadi Pembuangan paksa Babel dan diaspora Mesir secara sukarela dan bagaimana Pembuangan itu berakhir, sehingga catatan yang tidak diberikan oleh PL mengenai kelajutan periode Pembuangan mencolok.
Selanjutnya ketika Palestina pada periode Persia yang menjadi masa kejatuhan Babilonia pada tahun 539 SM yang tidak menjadi keterputusan penentu seperti terindikasi oleh 2 Tawarikh 36:22-23. Palestina hanya merupakan sebuah wilayah pinggiran dalam provinsi Babilonia dan Trans-Efrat dan ia barulah menjadi penting secara strategis hanya pada tahun 525 SM ketika Kambyses menyerang Mesir. Palestina merupakan warisan dari Imperium Neo-Babilonia dan menjadi bagian dari daerah kekuasaan gubernur Babilonia dan Trans-Efrat yang dilahirkan dari Imperium Neo-Babilonia itu. Pada periode Persia sebagai masa sesudah pembuangan, ditandai oleh izin dari raja Persia untuk kembali ke Palestina, pembangunan kembali Bait Suci Yerusalem dan penyuciannya kembali pada tahun 250-515 SM, pembangunan tembok kota pada tahun 445-444 SM, reformasi- reformasi sosial, dan reformasi-reformasi religius. Semua itu adalah bagian dari program untuk mengembalikan Yehuda sebagai bagian dari Imperium Persia.
3.2. Agama dan Kultus: Tradisi dan Inovasi
Di bidang keagamaan termasuk kultus menunjukkan terdapat suatu realitas yang berlainan, misalnya di wilayah pesisir, Galilea Samaria pada periode Persia menyajikan tradisi-tradisi asli yang masih bertahan serta ilah-ilah Mesir. Di mana pada pesisir Funisia di barat, pada pedalaman-pedalaman Funisia, Galilea, di utara, pada wilayah Edom/Arab di selatan, dan pada Transyordan di timur, penduduk
10
membudayakan tradisi-tradisi religius yang sang berlainan. Mengenai kompleks kuil, temuan-temuan Palestina sederhana saja. Periode Babilonia secara keseluruhan buruk, dan bahkan bagi periode Persia hampir tidak ada rancangan dasar yang meyakinkan dapat diperlakukan sebagai contoh dari bangunan sakral.
Di Mesir/Elefantin, ada agama koloni Yahudi di Elefantin yang politeistis juga terdapat pandangan yang menghubungkan YHWH dengan dewa Mesir.
Terlepas dari semua persetujuan dalam hal elemen-elemen kultus YHWH seperti digambarkan dalam PL terdapat perbedaan.
Di Babilonia realitas multikultural dan multireligius terjadi. Orang-orang Babilonia tidak mencampuri agama orang buangan di sana atau agama penduduk di wilayah taklukan. Bagi komunitas-komunitas buangan yang bermukim di wilayah-wilayah khusus bagi mereka, kemungkinan untuk melaksanakan agama personal dan pembangunan tempat-tempat suci umum lokal untuk pelaksaan kultus ilah-ilah tradisional terus ada. Di hadapan keunggulan kekuasaan Babilonia dan ilah-ilah Babilonia, konsep tentang monoteisme berisi potensi kritik terhadap dominasi seperti itu karena mengingkari dasar religius dari Imperium Neo- Babilonia dan menempatkannya dalam sebuah rancangan sejarah universal yang direncanakan oleh YHWH sehingga penguasa politis dari orang-orang Babel hanya dilihat sebagai salah satu bangunan dalam rancangan universal YHWH dan batu benjuru bangunan itu diharapkan pada suatu hari nanti dinantikan oleh batu penjuru bangunan lain. Dalam pembuangan, keagamaan personal dari tiap individu dan kelompok keluarganya dianggap berfungsi sebagai pemeliharaan identitas kelompok, yang ditentukan oleh aturan ritual-religius.
Di Yehuda di mana tradisi-tradisi religius lokal tetap dilakukan dan polemik yang dihadapi mengenai nubuat keselamatan yang mengarah pada eskatologi.
Pengahncuran-penghancuran yang dilakukan oleh orang Babel tidak berarti memengaruhi Palestina, sehingga keterputusan tradisi hanya terjadi secara lingkup terbatas. Hal ini berlaku khususnya bagi wilayah-wilayah dan tempat-tempat di Yerusalem bagian utara.
4. Periode Yunani/Helenistik (333/332-63 SM)
11
4.1. Masyarakat dan Ekonomi: Antara Asimilasi dan Revolusi
Mulainya periode Yunani, provinsi Persia yang sebelumnya Yehuda kemudian disebut Yudea. Aleksander Agung memberi orang-orang Yahudi kebebasan religius dan mengandalkan keberlanjutan di wilayah Persia sebelumnya yang ia ambil ahli tanpa perubahan yang berarti. Setelah kematian Aleksander (323 SM) di Babel terjadi berbagai konflik dan pergulatan. Setelah itu pesisir Palestina, Funisia dan Yerusalem berada dibawah kekuasaan Ptolomeus, yang pada masa itu Yerusalem tetap menjadi komunitas tertutup dan makmur tapi juga tidak ditemukan adanya bangunan berjenis Yunani dibangun di sana. Dinasti Ptolomeus kemudian jatuh ke tangan Seleukia pada Antiokhus III Megas yang ingin menentramkan wilayah-wilayah barunya di Palestina karena sedang berhadapan dengan Romawi dan berjanji untuk hak-hak istimewa keagamaan atas Yerusalem di samping itu pula terjadi perubahan kebijakan karena kaum Seleukia berjuang untuk meyunanikan dominasi-dominasi mereka denganlebih gigih daripada kaum Ptolomeus dan hanya di bawah kondisi ini mereka bersedia memberikan otonomi lokal. Kepentingan- kepentingan politis masih terjadi pada pengusasa-penguasa kala itu, termasuk keinginan terhadap perampasan kekayaan Bait Suci hingga kepada kemunculan pemberontakan Makabe yang menggabungkan motif-motif religius dan sosial sebagai bentuk pemberontakan rakyat pedesaan yang tradisionalistik melawan kelas atas kota yang terakulturasi secara Yunani.
4.2. Agama dan Kultus: Dewa-Dewa Yunani dan Interpretatio Graeca atas Dewa- Dewa Pribumi (Autochthonous)
Sejarah religius periode Yunani ditandai oleh kehadiran yang kuat dari dewa- dewa dan para pahlawan Yunani di Palestina dan oleh penafsiran berdasarkan model-model Yunani (interpretation graeca) atas dewa-dewa asli lokal, dan pada sisi lain ditandai oleh praktik kultus terhadap Kaisar Yunani. Di mana dalam kebijakan keagamaan mereka para penguasa Helenistik adalah toleran, asalkan pajak-pajak dibayar. Kegiatan yunanisasi pun dilakukan sebagai respons dari kondisi-kondisi politik internal dan eksternal yang khusus dan hanya terbatas secara lokal. Periode Yunani tidak hanya terjadi secara politis tetapi juga pada hal sejarah religius sebagai sebuah zaman yang penuh aneka warna terjadi di Yudea.
12
Orang-orang Makabe dan kaum Hasmonia dalam wilayah yang mereka taklukkan memperjuangkan suaut kebijakan pertobatan ke Yudaisme dengan paksaan mengklaim berkuasa untuk menentukan apa itu Yudaisme normatif seperti monoteisme ekslusif, larangan keras untuk patung-patung, sunat, pemeliharaan tradisi Sabat, pemberlakuan hukum makanan dan perayaan hari-hari besar. Oleh kaum Hasmonia menjadikan aturan Taurat sebagai alat dominasi untuk merestrukrisasi wilayah yang diklaim mereka san memberinya karakter baru. Bagi orang-orang Makabe, ideologi perang bela diri menjadi bagian dari agama YHWH, membuat mereka yang membangkang memilih bertobat atau mati. Selain itu, dalam tradisi teologis kebijaksanaan pandangan-pandangan tentang kesucian yang ditentukan secara religius yang meresapi kehidupan keseharian rakuat ditafsir kembali, kesucian di sini diidentikan dengan keadilan.
Penilaian terhadap buku
Seperti yang diketahui buku ini merupakan kumpulan tulisan dari beberapa pengarang; dan dalam babnya kedua secara utuh ditulis oleh seorang penulis. Dari penjelasan yang digambarkan penulis, dapat dimengerti oleh para pembaca. Bahkan ada penjelasan tambahan yang memperdalam konsep dari sebuah topik yang dibahas, baik itu latar belakang maupun konteksnya. Terlepas dari buku terjemahan sebenarnya orang awam (yang tidak menempuh studi teologi) pun dapat membaca buku ini, meski tak dapat dipungkiri masih ada tata bahasa yang membentuk suatu kalimat yang masih cukup sulit dimengerti.